Anda di halaman 1dari 3

Dalam kehidupan kita sehari-hari pasti kita pernah mendengar istilah atau kata egois, egois

secara umum dapat di artikan sebagai terlalu mementingkan diri sendiri.atau seseorang
yang tak bisa mengontrol egonya. nyaris hampir semua orang di zaman sekarang pasti pernah
mengatakan tentang egois, seperti kamu egois atau kenapa aku egois? .hal ini biasanya di
ucapkan dalam dua situasi, pertama saat menyadari kesalahan sendiri dan kedua saat
menyadari kesalahan orang lain.dan biasanya ini di katakan kepada seseorang yang
berpengaruh dalam hidupnya seperti saudara atau munkin pacar. hal itu merupakan hal yang
lumrah pada zaman sekarang ini dan secara tidak langsung ini menunjukan kalau egois itu
telah menjadi sifat dasar manusia di zaman sekarang ini. Sebagai contoh lain adalah para
koruptor yang sedang meraja rela di negeri ini yang hanya memperkaya diri sendiri tanpa
memikirkan orang lain yang berharap pada apa yang bisa dia berikan, dan tanpa menyadari
untuk apa dia di jadikan.
Dalam setiap peralatan pasti mempunyai apa yang namanya software atau bisa di bilang
sebagai sesuatu yang mengontrol suatu program di dalam peralatan itu agar peralatan dapat
berjalan seperti apa yang kita inginkan. Nah semua itu sama halnya dengan diri ini, jika ingin
menjadi yang terbaik bagi diri dan orang lain maka kontrollah diri kita sendiri (do be the
best). Kita telah ketahui bahwa egois itu merupakan bagian dari pengendalian diri,maka cara
mengatasinya adalah belajarlah untuk mengetahui diri kita dan dan kalau kita tahu maka kita
akan bisa untuk mengendalikannya dengan kedua hal itu kita bakal tau apa yang harus kita
lakukan untuk menjadi yang lebih baik. karena walau bagaimana pun jika kita pandai untuk
mengontrol diri maka semua akan baik-baik saja all is well.
Uraian di atas adalah dasar yang mendorong kami untuk mengetahui lebih jauh tentang apa
yang di namakan tentang sifat egois itu sendiri
Apa itu egois ?
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang
hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan
serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang
dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois".
Hal ini berkaitan erat dengan, atau "mencintai diri sendiri," dan kecenderungan mungkin
untuk berbicara atau menulis tentang diri sendiri dengan rasa sombong dan panjang lebar.
Egoisme dapat hidup berdampingan dengan kepentingannya sendiri, bahkan pada saat
penolakan orang lain.
Egoisme berbeda dari altruisme, atau bertindak untuk mendapatkan nilai kurang dari yang
diberikan, dan egoisme, keyakinan bahwa nilai-nilai lebih didapatkan dari yang boleh
diberikan. Berbagai bentuk "egoisme empiris" bisa sama dengan egoisme, selama nilai
manfaat individu diri sendirinya masih dianggap sempurna.
Istilah "egoisme" berasal dari bahasa Yunani yakni yang berarti "Diri" atau "Saya", danyang
digunakan untuk menunjukkan filsafat. Dengan demikian, istilah ini etimologis berhubungan
sangat erat dengan egoisme.
Dalam berinteraksi dengan orang lain, di sekitar kita banyak terdapat beranekaragam type,
karakter, kepribadian manusia yang memberikan warna tersendiri dalam kehidupan ini.
Ketika berinteraksi itu tak jarang terjadi gesekan yang bisa membuat salah satu atau semua

pihak merasa tersakiti. Efeknya dapat menimbulkan rasa kecewa, kesal dan marah. Hal ini
mungkin disebabkan karena ucapan, tulisan atau perbuatan kita yang bagi orang lain serasa
telah menyinggung. Pada saat seseorang merasa tersakiti atau kecewa, bisa saja seketika itu
juga dia bisa memaafkan orang yang menyakitinya, namun belum tentu dia bisa melupakan
(secara langsung) kejadian itu.
Seperti kata petuah bijak, "Berbuat kebaikan itu bagaikan guyuran hujan disaat kemarau,
segarnya bisa dirasakan oleh semua orang. Namun berbuat keburukan ibarat
menancapkan paku pada sebuah kayu, andai sudah dicabut pakunya tapi bekasnya akan
selalu ada
Para ahli psikologi klinis dan eksperimental, setelah meneliti ribuan kasus orang yang
sesungguhnya dengan segala macam masalahnya, sampai pada kesimpulan bahwa dahaga
akan ego juga bersifat universal danalami seperti kelaparan akan makanan. Dan makanan
bagi ego memenuhi tujuan yang sama seperti makanan bagi tubuh. Tubuh memerlukan
makanan untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidup. Ego, atau kepribadian setiap
individu yang unik, memerlukan penghargaan dan persetujuan serta rasa puas karena telah
mencapai sesuatu.
Ego yang lapar adalah ego yang jahat. Memperbandingkan ego dengan perut sangat tepat
untuk menjelaskan mengapa orang bertindak sebagaiman yang mereka lakukan. Seseorang
yang makan kenyang tiga kali sehari tidak terlalu memikirkan perutnya. Tetapi seseorang
yang tidak makan satu atau dua hari menjadi benar-benar lapar dan seluruh kepribadiannya
tampak berubah, dari orang yang pemurah, periang dan baik hati, dia cenderung akan menjadi
suka bertengkar dan jahat. Dia jadi lebih suka mencela. Tidak ada suatu apapun yang
memuaskannya. Tidak ada gunanya bagi teman-teanyang beritikad baik untuk
menghampirinya dan mengatakan bahwa masalahnya hanyalah bahwa dia terlalu
pemperhatikan perutnya dan bahwa dia harus mengalihkan pikiran dari perutnya.
Demikian pula tidak ada manfaatnya mengatakan kepadanya bahwa dia akan bisa mengatasi
sifat memntingkan perutnya sendiri dan bahwa itu berarti menyesuaikan diri dengan
tuntutan alam akan kelestarian. Alam telah menempatkan insting dalam setiap makhluk hidup
yang mengatakan Anda dan kebutuhan dasar Anda didahulukan. Singkatnya dia harus
makan, dan memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, sebelum dia bisa memberikan perhatian
kepada hal-hal lainnya.
Demikian pula halnya dengan orang yang mementingkan diri sendiri. Bagi pribadi yang sehat
jasmani dan rohani serta normal, alam menuntut takaran tertentu penerimaan diri dan
persetujuan diri. Dan tidak ada manfaatnya mengecam orang yang mementingkan diri sendiri
dan menyuruhnya mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengalihkan
pikiran dari dirinya sebelum dahaganya akan ego belum terpuaskan. Setelah itu, dia pasti
akan mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri, dan memberikan perhatiannya kepada
pekerjaannya, serta kepada orang lain dan kebutuhan mereka.