Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan dalam prosesnya untuk bertahan dan unggul dalam persaingan
bisnis selalu berusaha untuk meningkatkan nilai perusahaanya. Berbagai strategi
bisnis baik jangka pendek maupun jangka panjang digunakan, termasuk
diversifikasi. Keputusan untuk melakukan diversifikasi dapat murni berasal dari
inisiatif manajer untuk meningkatkan nilai perusahaan atau untuk memenuhi
keinginan pribadi para manajer yang diberikan kekuasaan untuk membuat
keputusan. Modigliani-Miller dalam teori Perfect Capital Markets (1788),
menyatakan bahwa diversifikasi tidak relevan terhadap nilai perusahaan. Pemilik
perusahaan yang ingin meminimalkan unsystematic risk tidak akan melakukan
diversifikasi perusahaan jika mereka dapat langsung melakukan diversifikasi di
dalam portfolio mereka sendiri. Seiring perjalanan waktu, sejumlah teori dan
penelitian disusun untuk menjelaskan tujuan diversifikasi dan keuntungan terkait
keputusan diversifikasi antara lain teori keagenan atau agency theory (Jensen dan
Meckling, 1976), the theory of internal capital markets (Wulf 1998), the debt coinsurance effect (Han Kim dan McConnell 1976), corporate diversification, dan
value-maximization models and organizational capabilities (Matsusaka 2001).
Sejumlah penelitian seperti Lang dan Stulz (1994), Berger dan Ofek (1996),
dan Servaes (1996) menyatakan bahwa perusahaan terdiversifikasi mengalami
penurunan nilai (discount) yang signifikan dibandingkan perusahaan yang
beroperasi secara fokus. Hasil penelitian tersebut konsisten dengan dua hipotesa

terdahulu. Pertama, yaitu bahwa diversifikasi dan penurunan nilai dapat


diasosiasikan dengan struktur tata kelola perusahaan yang tidak efisien yang
memungkinkan manajer memiliki posisi istimewa dalam struktur pengelolaan
perusahaan dan menerima keuntungan pribadi (private benefits) yang dibayarkan
oleh

pemilik

perusahaan.

Hal kedua

adalah

dalam

perusahaan

yang

terdiversifikasi manajer dapat memanfaatkan struktur tata kelola yang luar biasa,
terutama divestasi, yaitu dapat memilih untuk tidak melalukan diversifikasi jika
biaya transaksi terkait kegagalan atas diversifikasi yang diadopsi lebih besar
daripada biaya untuk mengoperasikan perusahaan tersebut dengan cara yang lebih
terkonsentrasi atau fokus.
Lamont (1997), Shin dan Stulz (1998), Rajan, Servaes, dan Zingales (2000),
dan Ozbas dan Scharfstein (2010) memberikan bukti atas sebuah pola investasi
yang tidak efisien, bahwa perusahaan konglomerasi yang mendistribusikan dana
di antara berbagai divisi yang ada menyebabkan sejumlah unit bisnis mengalami
kekurangan pendanaan dan sebagian lagi mengalami kelebihan pendanaan.
Graham, Lemmon, dan Wolf (2002) menyatakan bahwa dalam strategi
pengambilalihan perusahaan cenderung untuk membeli aset yang bernilai rendah
dalam industri lain. Mereka berargumentasi bahwa tambahan atas unit bisnis
yang sudah mengalami penurunan nilai (discount) akan mengurangi tambahan
nilai atas perusahaan yang dibeli bahkan jika diversifikasi itu sendiri tidak
menghancurkan nilai perusahaan.
Sejumlah penelitian menunjukkan pengaruh terhadap keputusan diversifikasi
terkait dengan tata kelola perusahaan. Bushman, Engel, dan Smith (2004) meneliti

adanya transparasi yang kurang atas data akuntansi yang dilaporkan oleh
perusahaan konglomerasi. Kesulitan untuk menerapkan kompensasi insentif yang
efisien terhadap para manajer divisi dalam perusahaan terdiversifikasi dibuktikan
melalui penelitian oleh Wulf (2002). Vijh (2002) menyatakan bahwa kesulitan
yang dihadapi pemegang saham di perusahaan konglomerat semakin meningkat
dalam usahanya untuk menciptakan portofolio aset yang efisien dibandingkan
dengan berinvestasi pada perusahaan yang beroperasi dalam satu industri.
Anderson, et al (2000) membuktikan bahwa struktur tata kelola perusahaan
sensitif terhadap tingkat diversifikasi. Studi tersebut meneliti apakah struktur tata
kelola perusahaan secara signifikan berbeda antara perusahaan yang fokus dan
terdiversikasi, dan apakah perbedaan tersebut, jika ada, konsisten dengan
penjelasan biaya keagenan terkait diversifikasi. Hasil penelitian ini juga
menyatakan

bahwa

CEO

pada

perusahaan

terdiversifikasi

memperoleh

kompensasi lebih besar daripada CEO pada perusahaan yang fokus dan bahwa
kompensasi tersebut tidak sensitif terhadap performa perusahaan. Penelitian ini
juga menunjukkan bukti empiris bahwa perusahaan terdiversikasi rata-rata
memiliki 5% direktur eksternal lebih banyak daripada perusahaan fokus. Dimulai
pada tahun 1985 dengan jumlah sampel sebanyak 199 perusahaan, dan dilanjutkan
dengan perusahaan yang berhasil bertahan selama tahun 1994, penelitian tersebut
menguji hubungan antara diversifikasi perusahaan dengan (1) tingkat sensitivitas
kompensasi CEO (2) struktur kepemilikan perusahaan, termasuk kepemilikan
CEO, pengelola dan direktur, dan outside blockholdings, (3) sensitivitas
perputaran (turnover) CEO terhadap performa perusahaan, (4) serta ukuran

komposisi dewan komisaris. Sampel diambil dari daftar perusahaan yang terdaftar
di New York Stock Exchange dengan kriteria diversifikasi pada industri yang tidak
berhubungan atau konglomerasi.
Hoechle, et al (2011) melakukan penelitian apakah penurunan harga
(discount) akibat diversifikasi muncul sebagai bentuk tata kelola yang tidak
memadai. Penelitian tersebut dilakukan pada sejumlah perusahaan manufaktur
yang mewakili 14 segmen berbeda yang terdaftar di So Paulo Stock Exchange
selama perioda 1997 sampai dengan 2001. Penelitian ini membuktikan bahwa
perusahaan terdiversifikasi memiliki sensitivitas kompensasi CEO berdasarkan
kinerja yang lebih rendah. Hasil penelitian lainnya juga membuktikan bahwa
kepemilikan CEO, kepemilikan non CEO dan direksi pada perusahaan
terdiversifikasi lebih rendah dibandingkan perusahaan yang fokus.
Merujuk kepada sejumlah penelitian terdahulu yang dilakukan pada sejumlah
perusahaan di Amerika Serikat dan Sao Paulo, penulis ingin melakukan
pengembangan penelitian dengan menguji kembali apakah terdapat perbedaan
struktur tata kelola perusahaan antara perusahaan yang fokus dengan perusahaan
yang terdiversifikasi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia dan apakah
terdapat pengaruh antara dengan diversifikasi perusahaan dengan struktur tata
kelola.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah-masalah yang berusaha dijawab melalui penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat perbedaan kompensasi CEO antara perusahaan yang


fokus dan terdiversifikasi?
2. Apakah terdapat perbedaan struktur kepemilikan direksi antara perusahaan
yang fokus dan perusahaan terdiversifikasi?
3. Apakah terdapat perbedaan komposisi dewan komisaris antara perusahaan
yang fokus dan perusahaan terdiversifikasi?
4. Apakah diversifikasi perusahaan mempengaruhi kompensasi CEO,
struktur kepemilikan direksi, dan komposisi dewan komisaris?

1.3 Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini menggunakan sampel yang terbatas pada data yang terdapat
pada laporan tahunan (annual report) perusahaan-perusahaan terbuka dalam
industri non-keuangan yang tercatat dalam Bursa Efek Indonesia dan masuk ke
dalam daftar indeks Kompas 100 selama perioda 1 Januari 2009 sampai dengan
31 Desember 2011.

1.4 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menemukan bukti empiris bahwa terdapat perbedaan kompensasi CEO
antara perusahaan yang fokus dan terdiversifikasi.
2. Menemukan bukti empiris bahwa terdapat perbedaan struktur kepemilikan
direksi antara perusahaan yang fokus dan terdiversifikasi.

3. Menemukan bukti empiris bahwa terdapat perbedaan komposisi dewan


komisaris antara perusahaan yang fokus dan terdiversifikasi.
4. Menemukan bukti empiris bahwa diversifikasi perusahaan mempengaruhi
kompensasi CEO, struktur kepemilikan direksi, dan komposisi dewan
komisaris.

1.5 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, yaitu:
1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris
mengenai perbedaan tata kelola yang diproksikan dengan kompensasi
CEO, struktur kepemilikan direksi, dan komposisi dewan komisaris antara
perusahaan fokus dan terdiversifikasi. Penulis berharap hasil penelitian
dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teori serta menambah
referensi terhadap penelitian di masa mendatang.
2. Bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan kepada
investor perbedaan tata kelola antara perusahaan yang fokus dan yang
terdiversifikasi sehingga dapat membantu investor dalam pembuatan
keputusan investasi.

1.6 Sistematika Penulisan


Laporan ini akan disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan tentang hal-hal pokok
yang berhubungan dengan penulisan skripsi, meliputi: latar belakang masalah,
perumusan masalah, ruang lingkup, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB 2: LANDASAN TEORI
Bab ini mengenai tinjauan pustaka tentang landasan teori yang menjadi dasar
penulisan skripsi yaitu teori normatif dan penelitian-penelitian sebelumnya
yang meliputi: teori keagenan, teori strategi manajemen, teori tata kelola
perusahaan, kerangka teoritis, dan pengembangan hipotesis penelitian.
Bab 3: METODA PENELITIAN
Bab ini menjelaskan metoda-metoda penelitian yang digunakan dalam
penulisan skripsi, meliputi: kerangka pemikiran, populasi dan prosedur
penentuan sampel, jenis dan sumber data, model penelitian, definisi dan
operasional variabel, serta metoda analisis.
Bab 4: ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang analisis data, temuan empiris yang diperoleh
dalam penelitian, hasil pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian.
Bab 5: PENUTUP
Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan,
dan keterbatasan penelitian serta saran bagi penelitian selanjutnya.