Anda di halaman 1dari 10

BAB V

PEMBAHASAN
1.

Analisis Hipotesis
1.1.

Hasil analisis dengan SPSS 11.5


Status anemia tenaga kerja wanita didapatkan dari hasil pengukuran

secara langsung sampel darah responden menggunakan hemometer dengan


metode sahli. Kemudian dilihat hubungan antara status anemia dengan
beberapa faktor yang memungkinkan menjadi penyebab anemia seperti umur,
tingkat pendidikan, status perkawinan, status paritas, dan jumlah pendapatan
keluarga yang diperoleh dengan kuesioner yang dibagikan kepada 75 sampel
yang telah ditentukan secara acak. Sedangkan tingkat produktivitas tenaga
kerja wanita dinilai dengan observasi dan wawancara secara langsung,dan
pengisian kuesioner mengenai produktivitas kerja yang dibantu oleh foremen,
yaitu orang yang bertugas sebagai pengawas setiap shift kerjanya kemudian
membandingkan antara hasil kerja dari tenaga kerja wanita pada bagian
winding dan ring spinning dengan target kerja yang ditentukan oleh
perusahaan.
Untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana hubungan antara
variabel status anemia (X) terhadap variabel tingkat produktivitas (Y) pada
tenaga kerja wanita di unit produksi spinning. Maka data hasil penelitian di
analisis menggunakan metode chi square test for independence dengan
program bantuan SPSS 11.5

Tabel 32: Tabel Case Processing Summary Status Anemia dan


Produktivitas Kerja

Cases
Valid
N
status anemia *

Percent
75

produktivitas kerja

Missing
N

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
75

100.0%

Tabel 33: Tabel Crosstabulation Status Anemia Dengan Produktivitas


Kerja
produktivitas kerja
tinggi
status

normal

anemia

Count
Expected
Count

anemia

Count
Expected
Count

Total

Count
Expected
Count

rendah

Total

37

10

47

25.7

21.3

47.0

24

28

15.3

12.7

28.0

41

34

75

41.0

34.0

75.0

Tabel 34: Hasil Tes Chi Square Antara Status Anemia Dengan
Produktivitas Tenaga Kerja Wanita
Chi-Square Tests

Asymp. Sig.
Value
Pearson Chi-Square

df

(2-sided)

29.399(b)

.000

Continuity Correction(a)

26.856

.000

Likelihood Ratio

31.697

.000

29.007

.000

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

75

a Computed only for a 2x2 table


b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
12.69.

1.2.

Analisis nilai probabilitas


Pengujiannya disajikan sebagai berikut:

Ho

tidak ada hubungan yang signifikan antara dua variabel;

Ha

ada hubungan yang signifikan antara dua variabel;

Uji dilakukan dua sisi karena akan dicari ada atau tidaknya suatu hubungan
dan bukan mencari lebih besar atau lebih kecil suatu hubungan. Pengambilan
keputusan berdasarkan probabilitas:
a. Jika probabilitas > 0,05; maka Ho diterima dan Ha ditolak;
b. Jika probabilitas 0,05; maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Keputusan:
Hasil output (kolom Pearson Chi-Square (Asymp. Sig. (2-sided)))
didapatkan nilai 0,000; terlihat bahwa probabilitas (p) antara status anemia
dengan tingkat produktivitas tenaga kerja wanita yaitu 0,000; dan nilai
tersebut 0,05;
Berdasarkan hasil kuesioner yang didapat, dapat disimpulkan antara Status
Anemia dengan Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja Wanita

di Unit

Produksi Spinning PT. Southern Cross Textile Industry Jakarta adalah ada
hubungan secara signifikan dan Ho ditolak.
2.

Analisis Univariat Berdasarkan Teori


2.1.

Status Anemia

Menurut WHO (1972) anemia merupakan suatu keadaan dimana


kondisi Hb menurun atau kurang dari batas normal. Untuk wanita batasan
seorang wanita dikatakan mengalami anemia adalah jika kadar Hb dibawah 12
gr/ dl. Dalam penelitian ini ketentuan kadar Hb dilakukan dengan
menggunakan metode sahli. Penulis mengkategorikan status anemia tenaga
kerja wanita menjadi dua kategori, yaitu dikatakan anemia jika kadar Hb < 12
gr/dl dan tidak anemia jika kadar Hb 12 gr/ dl.
Sebagian besar tenaga kerja wanita mempunyai status anemia. Cukup
besarnya tenaga kerja wanita yang mengalami anemia dibandingkan dengan
tenaga kerja wanita yang tidak anemia kemungkinan disebabkan karena status
gizi tenaga kerja wanita yang pada umumnya kurang baik dan pola konsumsi
tenaga kerja wanita khususnya sumber heme kurang baik. Kemampuan tenaga
kerja wanita dalam mengkonsumsi makanan sumber heme ini diperkirakan
karena ditunjang pendapatan tenaga kerja wanita yang rendah.
Junadi (1998) juga menyatakan salah satu penyebab anemia adalah
karena kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan pola
makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi dan menu yang kurang
beranekaragam. Konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering < 2/3
kecukupan konsumsi yang dianjurkan (AKG).
2.2.

Produktivitas Kerja
Pada penelitian ini produktivitas kerja dilihat pada bagian winding dan

ring spinning dimana pada masing-masing unit dilakukan pengamatan tentang


kemampuan tenaga kerja wanita menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu
normal ( 7 jam).
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar tenaga kerja wanita
mempunyai produktivitas kerja yang tinggi (54, 7%). Kemungkinan
disebabkan karena suasana kerja yang mendukung, motivasi kerja yang baik
dari tenaga kerja wanita dan sebagian besar mempunyai masa kerja yang
cukup sehingga pengalaman mengerjakan pekerjaan pabrik cukup banyak.
Selain itu karena pendapatan tenaga kerja wanita yang cukup dari rata-rata
upah minimum kota Jakarta. Sehingga tenaga kerja wanita mampu bekerja
dengan baik.

3.

Analisis Bivariat Berdasarkan Teori


3.1.

Hubungan umur dengan status anemia


Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara

umur dengan status anemia ( p > 0,05) dimana prevalensi anemia lebih tinggi
terdapat pada nakerwan yang berusia 30 tahun sebesar 40 % dibandingkan
dengan nakerwan yang berusia > 30 tahun sebesar 33, 3%, kemungkinan hal
tersebut disebabkan

ada hal-hal lain yang dalam penelitian ini lebih

berpengaruh terhadap status anemia seperti pendapatan keluarga, konsumsi zat


besi dan konsumsi vitamin C.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Sulasiah (1999). Yang
menyatakan bahwa kadar Hb orang dewasa tidak menunjukkan perubahan
dengan meningkatnya umur, kecuali dalam usia lanjut setelah umur 60 tahun
dimana kadar Hb makin lama makin menurun.
Namun penelitian Sarimawar (1986) menunjukkan hasil yang berbeda,
dimana dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur
wanita dengan anemia. Prevalensi anemia pada golongan umur < 20 tahun dan
> 30 tahun lebih tinggi.
3.2.

Hubungan tingkat pendidikan dengan status anemia


Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara

tingkat pendidikan dengan status anemia tenaga kerja wanita ( p 0,05)


tenaga kerja wanita dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi diperkirakan
memiliki informasi yang lebih banyak, lebih mudah menerima informasi dan
mempunyai pengetahuan yang lebih baik, sehingga lebih mendukung perilaku
mereka dalam pemilihan makanan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi
khususnya zat besi.
Hasil penelitian Sihombing (1994) yang menunjukkan bahwa penderita
anemia pada kelompok yang mempunyai pengetahuan rendah adalah 50%
dibandingkan dengan kelompok yang mempunyai pengetahuan gizi baik
adalah 39%. Artinya pendidikan seseorang mendukung tingkat pengetahuan
seseorang dalam pemenuhan kebutuhan mereka terhadap gizi.
3.3.

Hubungan status perkawinan dengan status anemia

Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan


antara status perkawinan dengan status anemia (p > 0,05). Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Sulasiah (1999) yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang bermakna antara status perkawinan dengan status anemia
tenaga kerja wanita.
Hasil tersebut kemungkinan disebabkan karena pola makan dan jenis
makanan yang dikonsumsi oleh tenaga kerja wanita di pabrik pada wanita
menikah dan wanita yang belum menikah hampir sama yaitu kurang
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi terutama sumber
heme atau mengkonsumsi buah yang membantu penyerapan Fe. Kemungkinan
lain adalah kejadian anemia pada wanita menikah, umumnya sudah
menggunakan alat kontrasepsi.

Dimana alat

kontrasepsi ini

sangat

berpengaruh terhadap pola haid. Wanita yang menggunakan oral kontrasepsi


mengeluarkan darah haid lebih sedikit dibandingkan dengan wanita yang
menggunakan alat kontrasepsi IUD. Dan umumnya IUD lebih banyak
digunakan oleh tenaga kerja wanita di pabrik tersebut.
3.4.

Hubungan paritas dengan status anemia


Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan

antara status perkawinan dengan status anemia (p > 0,05). Prevalensi anemia
pada proporsi tenaga kerja wanita yang belum pernah melahirkan sebesar 38, 6
% dan yang sudah pernah melahirkan sebesar 35, 5 %.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Junadi (1998) yang
menyatakan salah satu penyebab yang dapat mempercepat kejadian anemia
adalah jumlah anak yang dilahirkan (paritas). Semakin tinggi paritas maka
akan semakin besar kemungkinan terjadinya anemia gizi atau anemia yang
telah terjadi akan semakin berat.
Tidak ada hubungan yang signifikan antara paritas dengan status
anemia gizi besi pada penelitian ini kemungkinan disebabkan karena jumlah
anak yang dimiliki pada wanita menikah tidak terlalu banyak, atau jarak
kelahiran yang cukup jauh, atau juga disebabkan karena tingkat pendapatan
yang cukup tinggi yang menyebabkan wanita menikah maupun belum
menikah dapat mengkonsumsi bahan makanan sumber Fe yang baik.

3.5.

Hubungan pendapatan keluarga dengan status anemia


Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara

pendapatan keluarga dengan status anemia (p 0,05). Penelitian ini sesuai


dengan penelitian Junadi (1998) yang menyatakan semakin tinggi pendapatan
seseorang, maka ia dapat mengkonsumsi makanan dengan cukup baik atau
bahkan

berlebihan.

Dengan

mengkonsumsi

makanan

yang

cukup

memungkinkan cadangan zat-zat gizi terutama zat besi dalam tubuh akan
terpenuhi. Karyadi (1974) mengungkapkan adanya peranan faktor-faktor
pendapatan yang sebagian besar diperuntukkan bagi makanan.
Menurut Depkes RI (1996) diungkapkan bahwa salah satu sebab
mendasar adalah ekonomi yang menurun, dimana pada golongan ini menjadi
kurang mampu membeli makanan sumber zat besi dan umumnya mereka
kurang mempunyai akses pelayanan kesehatan yang tersedia.
3.6.

Hubungan Frekuensi Makan (FFQ) Dengan Status Anemia


A. Hubungan Frekuensi Makan Sumber Heme Dengan Status
Anemia
Sumber heme merupakan bahan makanan yang banyak
mengandung Fe dan lebih mudah diserap oleh tubuh yang banyak
terdapat pada bahan makanan hewani seperti daging, ikan, telur,
hati, dan sebagainya.
Hasil Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang
signifikan dan prevalensi anemia banyak ditemukan pada proporsi
tenaga kerja wanita dengan kebiasaan mengkonsumsi heme setiap
hari

dibandingkan

dengan

yang

mempunyai

kebiasaan

mengkonsumsi sumber heme tidak setiap hari.


B. Hubungan Frekuensi Makan Sumber Non Heme Dengan
Status Anemia
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia banyak
ditemukan pada proporsi tenaga kerja wanita dengan kebiasaan
mengkonsumsi sumber non heme setiap hari dibandingkan dengan
tenaga kerja wanita yang mempunyai konsumsi tidak setiap hari.

Menurut Suharjo (1986) walaupun prosentase absorbsi non


heme lebih rendah dibandingkan heme serta dikonsumsi setiap
hari, namun dalam kenyataannya porsi bahan makanan sumber non
heme dalam hidangan makanan tenaga kerja wanita umumnya jauh
lebih besar. Namun uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan
yang signifikan antara FFQ sumber heme dengan status anemia
tenaga kerja wnaita.
C. Hubungan Frekuensi Makan Sumber Peningkat Penyerapan
Fe Dengan Status Anemia
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia banyak
ditemukan pada proporsi tenaga kerja wanita dengan kebiasaan
mengkonsumsi tidak setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan
tidak ada hubungan yang signifikan antara pola konsumsi FFQ
sumber peningkat penyerapan Fe dengan status anemia tenaga
kerja wanita.
D. Hubungan Frekuensi Makan Sumber Penghambat Penyerapan
Fe Dengan Status Anemia
Walaupun dalam penelitian ini tidak ada hubungan yang
signifikan antara pola konsumsi sumber penghambat penyerapan
Fe dengan status anemia gizi, namun dapat diperkirakan ada halhal lain yang lebih berpengaruh terhadap status anemia, yang
dalam hal ini adalah pendidikan dan pendapatan keluarga.
3.7.

Hubungan Status Anemia dengan Produktivitas Kerja


Pada penelitian ini ditemukan tenaga kerja yang menderita anemia

mempunyai produktivitas kerja yang rendah sebesar 85, 7 % sedangkan tenaga


kerja wanita yang tidak menderita anemia mempunyai produktivitas kerja
yang rendah sebesar 21, 3 %. Sedangkan hasil uji statistik menunjukkan p
0,05 sehingga ada hubungan yang signifikan antara anemia dengan
produktivitas kerja.
Bila seseorang wanita dalam status anemia maka akan mengalami
gejala pucat, mudah lelah, berdebar, takikardia, dan sesak napas. Ditambah

lagi dengan tetap harus melakukan beban kerja yang cukup berat,
mengakibatkan tenaga kerja wanita tidak dapat bekerja dengan optimal, tidak
hanya berkonsentrasi pada pekerjaannya, jatuh sakit, sehingga sering absen
atau tidak masuk kerja, berakibat rendahnya produktivitas mereka.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Husaini (1989) yang
menyatakan bahwa adanya korelasi antara kadar Hb dengan kemampuan
produktivitas tenaga kerja wanita. Penelitian Husaini menemukan adanya
kolerasi yang erat antara kadar hemoglobin dengan kemampuan memetik teh,
karet,

dan

tebu

membuktikan

bahwa

pekerja-pekerja

yang

anemia

produktivitasnya 20% lebih rendah daripada pekerja yang tidak anemia.


Setelah dilakukan intervensi-intervensi dengan pil besi, maka kadar
hemoglobin mereka meningkat menjadi normal yang diikuti dengan kenaikan
produktivitas yang nyata.
Sedangkan penelitian Basta dan Churchill tahun 1974 menunjukkan
bahwa tenaga kerja yang menderita anemia (kurang zat besi) mempunyai
produktivitas kerja 20% lebih rendah daripada tenaga kerja normal. Tenaga
kerja yang diduga menderita kekurangan zat besi tetapi belum menunjukkan
gejala anemia mempunyai produktivitas kerja 10%.
4.

Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini menggunakan data primer yang didapatkan dengan cara

pengambilan sampel darah responden secara langsung untuk selanjutnya dilakukan


pemeriksaan terhadap kadar hemoglobin dengan menggunakan metode sahli.
Kemudian

dilakukan

observasi

langsung

kepada

responden

dengan

cara

mendokumentasikan aktivitas kerja untuk mengetahui tingkat produktivitas tenaga


kerja wanita, serta dengan membagikan kuesioner kepada responden untuk
mengetahui keluhan anemia pada tenaga kerja wanita di bagian spinning.
Penelitian dan pengumpulan data tersebut memiliki keterbatasan-keterbatasan
sebagai berikut:
a. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah menggunakan metode sahli bukanlah cara
yang teliti. Kelemahan metode ini berdasarkan kenyataan bahwa kolorimetri
visual

tidak teliti.

pemeriksaannya.

Dan

kemungkinan

terjadi

kesalahan ketika

proses

b. Adanya kelemahan data pengisian kuesioner. Kelemahannya antara lain kualitas


data tergantung dari motivasi responden untuk mengisi kuesioner dan adanya
kemungkinan jawaban responden dipengaruhi oleh orang lain.