Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PREPARAT JARINGAN


TUMBUHAN DENGAN PEWARNAAN ALAMI SARI BULBUS BAWANG
DAYAK (Eleutherine americana)
BIDANG KEGIATAN :
PKM-Penelitian (PKM-P)

Diusulkan Oleh:
Ketua

: Retno Ningrum

201110070311007

Angkatan 2011

Anggota

: Aulia Risqi R.

201110070311006

Angkatan 2011

201110070311033

Angkatan 2011

Robiatul Adawiyah 201210070311003

Angkatan 2012

Adelia Kandari

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


2014
PENGESAHAN PKM-PENELITIAN

1. Judul Program

2. Bidang Kegiatan
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jurusan
d. Perguruan tinggi

: Pengembangan Media Pembelajaran Preparat Jaringan


Tumbuhan dengan Pewarnaan Alami Sari Bulbus Bawang
Dayak (Eleutherine americana)
: PKM P
: Retno Ningrum
: 201110070311007
: Pendidikan Biologi
: Universitas Muhammadiyah
Malang
:
:
: 3 orang

e. Alamat Rumah dan No Tel/HP


f. Alamat email
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis
5. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar
: Dra. Sri Wahyuni, M.Kes
b. NIDN-UMM
:
c. Alamat Rumah
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti
: Rp. 11.658.000,b. Sumber Lain
:7. Jangka Waktu Pelaksanaan
: 4 bulan

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL..................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................
RINGKASAN................................................................................................

i
ii
iii
iv

BAB 1. PENDAHULUAN.............................................................................
Urgensi Penelitian............................................................................

1
2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................


Pewarna Alami.................................................................................
Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.)...............................

3
3
3

BAB 3. METODE PELAKSANA.................................................................


Tempat dan Waktu Penelitian...........................................................

4
4

ii

Alat dan Bahan.................................................................................


Cara Kerja........................................................................................
Luaran..............................................................................................
Indikator Capaian yang Terukur Di Setiap Tahapan........................
Teknik Pengumpulan Data...............................................................
Teknik Analisa Data.........................................................................
Cara Penafsiran................................................................................
Penyimpulan Hasil Penelitian..........................................................

4
5
5
6
6
6
6
6

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN................................................


Anggaran Biaya................................................................................
Rancanagn Biaya..............................................................................
Jadwal Kegiatan...............................................................................

6
6
7
8

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

RINGKASAN
iii
Kurikulum 2013 saat ini penilaian bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan
pembelajaran (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) yang terdapat pada KI 1-KI 4. Tetapi, KTSP
sebelumnya mengedepan pada kemampuan psikomotor, kognitif, dan afektif pada siswa yang membuat
siswa jarang berpikir kritis.
Kegiatan pratikum meskipun sudah tersedia mikroskop dan alat serta bahan, guru belum tentu
dapat melaksanakan kegiatan pratikum pengamatan struktur anatomi jaringan tumbuhan. Hal inilah
yang menyebabkan tidak tersedianya media untuk pratikum berupa preparat atau spesimen.
Ketidaktersedian media preparat tersebut disebabkan preparat buatan pabrik memiliki harga yang relatif
mahal dan tanaman yang di gunakan untuk preparat belum tentu diketahui oleh siswa
Banyak potensi tanaman di sekitar kita yang dapat dijadikan sebagai pewarna alami. Salah satu
bahan yang dapat dijadikan pewarna alami adalah sari bulbus bawang dayak yang pada umumnya
dimanfaatkan untuk pengobatan alami. Bulbus bawang dayak ini dapat digunakan sebagai bahan
pewarna karena memiliki keunggulan yaitu lebih mudah untuk didapatkan dan haryanya relatif bisa
terjangkau. Bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) memiliki kandungan pigmen yaitu lawsone
yang menghasilkan warna merah.
Tujuan dari program dan kegiatan ini diharapkan kepada siswa mampu mendeskripsikan
kelayakan media preparat jaringan tumbuhan yang diwarnai menggunakan sari bulbus bawang dayak

sebagai pewarna alami untuk media pembelajaran. Guru dapat mengaplikasikan metode ini pada proses
pembelajaran yang berbasis penelitian, sehingga siswa dapat mengetahui struktur anatomi pada
jaringan tumbuhan dikotil dan monokotil. Program ini juga dapat memberikan bukti konkrit mengenai
tingkat keefektifan proses penelitian ini pada siswa.
Program ini memiliki berbagai kegunaan diantaranya bagi siswa dapat mengetahui bagaimana
media pembelajaran preparat jaringan tumbuhan dengan pewarnaan alami. Bagi tim itu merupakan
1 aset bangsa,menjadi
manifestasi tanggung jawab sebagai Agent of Community Enpowerment dan
pengalaman nyata dan literatur hidup yang akan memberi nilai tambah setelah tamat kuliah,
menumbuhkan jiwa kreatif dan membangun kepekaan sosial terhadap realitas.
BAB 1. PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 ini pada Kompetensi Inti (KI) di KI 3 yaitu pada pembelajaran biologi di
Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI adalah Memahami, menerapkan, dan menganalisis
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah. Kompetensi Dasar (KD) yang di kembangkan dari KI tersebut salah satunya
menjelaskan mendeskripsikan tentang struktur anatomi jaringan pada tumbuhan. Sub materi pelajaran
biologi yang akan dibahas dalam KD tersebut adalah struktur anatomi dari jaringan tumbuhan. Materi
iv
ini juga dapat di fasilitasi dengan kegiatan pratikum pengamatan struktur anatomi tumbuahan, hal
tersebut membuat siswa secara aktif melakukan kegiatan dan dihadapkan lansung dengan objek.
Kegiatan pratikum meskipun sudah tersedia mikroskop dan alat serta bahan, guru belum tentu
dapat melaksanakan kegiatan pratikum pengamatan struktur anatomi jaringan tumbuhan. Hal inilah
yang menyebabkan tidak tersedianya media untuk pratikum berupa preparat atau spesimen.
Ketidaktersedian media preparat tersebut disebabkan preparat buatan pabrik memiliki harga yang relatif
mahal dan tanaman yang di gunakan untuk preparat belum tentu diketahui oleh siswa. Ketidaktersedian
media preparat dapat di atasi dengan membuat sendiri preparat awetan dengan menggunakan bahan dan
metode yang lebih sederhana.
Untuk membuat preparat awetan diperlukan pewarna yang bertujuan untuk membedakan tiap
jaringan berdasarkan kemampuan dinding selnya menyerap zat warna. Pewarna yang umum digunakan
dalam mewarnai jaringan tumbuhan adalah safranin dan fastgreen yang memiliki kelemahan yaitu
apabila dicampur dengan pelarut dan disimpan terlalu lama maka akan mudah rusak dan harga dari
bahan pewarna safranin relatif mahal yaitu Rp. 2.384.000/25 g (Badan Tenaga Nuklir Nasional, 2011).
Banyak potensi tanaman di sekitar kita yang dapat dijadikan sebagai pewarna alami. Salah satu
bahan yang dapat dijadikan pewarna alami adalah sari bulbus bawang dayak yang pada umumnya
dimanfaatkan untuk pengobatan alami. bulbus bawang dayak ini dapat digunakan sebagai bahan
pewarna karena memiliki keunggulan yaitu lebih mudah untuk didapatkan dan memiliki kandungan
pigmen yaitu lawsone yang menghasilkan warna merah (Harborn, 2006). Dengan adanya pewarna

2
alami ini maka dibuatlah media preparat jaringan untuk digunakan sebagai media pengamatan jaringan
tumbuhan.
Wilson (1962 : 47) menjelaskan, pada pengamatan preparat jaringan tumbuhan yang diamati
adalah pola struktur dan fungsi anatomi pada tumbuhan dikotil dan monokotil. Struktur anatomi untuk
mengetahui bagian-bagian dari dalam tumbuhan. Kualitas preparat yang digunakan selama kegiatan
pengamatan memengaruhi pemahaman siswa dalam mempelajari struktur anatomi jaringan tumbuhan
(Jones dan Rickards, 1991 : 5). Fakta di lapangan menunjukkan preparat jaringan tumbuhan yang
disediakan sekolah memiliki kelemahan yaitu sebagian besar struktur anatomi pada preparat tidak dapat
dilihat dengan jelas sehingga guru tidak dapat menjelaskan. Pada dasarnya preparat jaringan tumbuhan
dapat dibuat sendiri oleh guru dengan menggunakan bahan dan metode yang sederhana.
Metode yang umum digunakan dalam membuat preparat jaringan tumbuhan yaitu dengan
section atau parafin . Preparat section tumbuhan adalah preparat yang objeknya merupakan irisan
dari bagian objek yang diamati. Tujuan pembuatan preparat ini adalah untuk dapat menyediakan
preparat mikroskopis yang dapat memperlihatkan struktur bagian yang diiris secara lengkap
seperti keadaan yang sebenarnya (Rudyatmi, 2012).
Latar belakang yang telah dipaparkan, bisa ditarik pertanyaan apakah pengembangan media
preparat dari bulbus bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) dapat digunakan secara efektif
sebagai pewarna alami dalam pengamatan preparat jaringan tumbuhan? Bagaimana kualitas preparat
mikroskopis jaringan tumbuhan dengan pewarna alami dari bulbus bawang dayak (Eleutherine
americana Merr.)?
Tujuan dari program dan kegiatan ini diharapkan kepada siswa mampu mendeskripsikan
kelayakan media preparat jaringan tumbuhan yang diwarnai menggunakan sari bulbus bawang dayak
sebagai pewarna alami untuk media pembelajaran. Guru dapat mengaplikasikan metode ini pada proses
pembelajaran yang berbasis penelitian, sehingga siswa dapat mengetahui struktur anatomi pada
jaringan tumbuhan dikotil dan monokotil. Program ini juga dapat memberikan bukti konkrit mengenai
tingkat keefektifan proses penelitian ini pada siswa.
Urgensi Penelitian
Pentingnya penelitian program ini adalah memberikan pengetahuan kepada guru dan siswa
bahwa penggunaan pewarna alami dapat digunakan untuk sebagai media pembelajaran yang
menyenangkan dalam melakukan pengamatan yang memiliki afinitas tinggi dan memberikan nilai
kontras yang baik dalam pengamatan jaringan tumbuhan.
Program ini memiliki berbagai kegunaan diantaranya bagi siswa dapat mengetahui bagaimana
media pembelajaran preparat jaringan tumbuhan dengan pewarnaan alami. Bagi aspek iptek dapat
menambah wawasan siswa tentang penggunaan tanaman sebagai pewarnaan alami untuk pembuatan
preparat jaringan tumbuhan. Bagi tim itu merupakan manifestasi tanggung jawab sebagai Agent of
Community Enpowerment dan aset bangsa, menjadi pengalaman nyata dan literatur hidup yang akan
memberi nilai tambah setelah tamat kuliah, menumbuhkan jiwa kreatif dan membangun kepekaan

sosial terhadap realitas dan kompleksitas permasalahan bangsa, membangun kekompakan dan
sekaligus relasi baik sesama tim.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Pewarna Alami
Handari (1983), menyatakan bahwa zat warna merupakan suatu senyawa organik kompleks
yang mempunyai pembawaan khusus yaitu warna yang dapat dipertahankan di dalam sel atau
jaringan. Oleh karena itu, zat warna harus terdiri atas Chromophore) dan Auxohrome.
Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin
(komponen kromofornya bersifat positif). Pewarnaan sederhana ini memungkinkan dibedakannya sel
suatu jaringan dengan bermacam-macam tipe morfologi dari bahan-bahan lainnya yang ada pasca
olesan yang diwarnai (Hadiotomo, 1990).
Berbagai macam tipe morfologi sel dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana.
Istilah pewarna sederhana dapat diartikan dalam mewarnai sel dan jaringan hanya digunakan satu
macam zat warna saja (Gupte, 1990). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan. yaitu fiksasi,
peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup (Dwidjoseputro,
1994).
Menurut Handari (1983), zat warna yang digunakan pengamatan mikroskopis menurut asalnya
dibedakan menjadi dua, yaitu zat warna alami dan zat warna sintetis. Zat warna alam adalah zat warna
yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan atau hewan, misalnya hematoxylin. Sedangkan zat warna sintetis
adalah zat warna yang dibuat di pabrik.
Setiap tanaman dapat dijadikan sebagai sumber warna alami karena mengandung pigmen
alam. Potensi ini ditentukan oleh intensitas warna yang dihasilkan dan sangat tergantung pada jenis
coloring matter yang ada. Coloring matter adalah substansi yang menentukan arah warna dari zat
warna alam dan merupakan senyawa organik yang terkandung dalam sumber zat warna alam. Satu jenis
tumbuhan dapat mengandung lebih dari satu coloring matter (Anonim , 2002 ).
Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.)
Penelitian-penelitian selama ini belum mengungkapkan informasi yang lebih luas tentang
potensi kandungan pigmen, cara ekstraksi yang tepat dan aman untuk masing-masing pigmen yang
ditemukan, karakterisasi pigmen tersebut, serta aplikasinya. Informasi tentang stabilitas warna akibat
penambahan tersebut dengan perbedaan pH, suhu pemanasan media, tingkat kelarutan pada suhu
tertentu dan kondisi penyimpanannya (Anonim, 2007). Pada penelitian ini, kami akan menggunakan
pewarna alami yang bersumber dari bulbus bawang dayak (Eleutherine americana Merr.)
Bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat
obat. Bulbus tanaman bawang dayak dimanfaatkan sebagai obat kanker payudara oleh masyarakat lokal
Kalimantan, selain juga dapat digunakan untuk mengatasi gangguan jantung, meningkatkan daya tahan
tubuh, sebagai antiinflamasi, antitumor serta dapat menghentikan pendarahan (Saptowalyono, 2007;
Saroni dkk., 1987). Beberapa penelitian tentang bawang dayak telah dilakukan antara lain bulbus

4
tanaman genus Eleutherine. Bulbus tanaman Eleutherine bulbosa dan Eleutherine americana diketahui
mengandung senyawa metabolit sekunder golongan naftokuinon (elecanacin, eleutherin, eleutherol,
eleutherinon) (Alves et al., 2003; Hara et al., 1997; Han et al., 2008; Nielsen dan Wege, 2006).
Langkah-langkah penting dalam metode parafin atau section antara lain fiksasi, pencucian,
dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan
(Botanika 2008).
BAB 3. METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian mengenai pengembangan media pembelajaran pada preparat jaringan tumbuhan dengan
pewarnaan alami dari sari bulbus bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) di Laboratorium
Biologi dan Kimia Universitas Muhammadiyah Malang selama kurun waktu 4 (empat) bulan.
Alat dan Bahan
Alat
Botol flakon
Oven
Kaca benda
Pipet tetes
Kaca penutup
Silet/kater
Gelas arloji
Hotplate
Mikroskop
Bahan
Bulbus bawang dayak (Eleutherine americana Merr.)
Parafin
Xylol : Parafin (1:9)
Larutan FAA
Aluminium Foil
Alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 100%
Aquades
Alkohol : xylol (1:3, 1:1, 3:1)
Xylol murni
Enthelen
Kertas label
Cara Kerja

a) Tahap Koleksi dan Penentuan Tanaman


Tahap koleksi dan penentuan tanaman dilakukan dengan mengumpulkan dan memilih beberapa
jenis tanaman yang cocok digunakan untuk pembuatan preparat dan mudah didapatkan. Tanaman
yang dipilih berdasarkan kriteria (1) Tanaman mudah ditemukan disekitar sekolah yang ada di
Indonesia; (2) Bagian organ tumbuhan akar dan batang mudah dipotong dan di sayat tipis; (3)
Memiliki kelengkapan jaringan penyusun organ.
b) Pembuatan Media Preparat
Tahap pembuatan media preparat dilakukan dengan dengan mewarnai preparat menggunakan
sari bulbus bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) sebagai pewarna alami dengan
menggunakan metode section atau parafin (Budiono, 1992). Langkah-langkah penting dalam
metode parafin atau section antara lain fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding,
penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan (Botanika 2008).
c) Telaah Media Preparat
Telaah media preparat dilakukan dengan telaah oleh dosen bidang mikroteknik dan dosen
bidang anatomi tumbuhan. Telaah preparat meliputi aspek tampilan umum yaitu identitas preparat,
gelembung udara, ketebalan irisan preparat, dan posisi preparat serta penyerapan warna tiap-tiap
jaringan. Preparat dinyatakan layak apabila prosentase kelayakan sebesar 62,55%. Rentang skor
yang digunakan yaitu 1 - 4. Data hasil telaah kelayakan preparat dihitung menggunakan rumus:
kelayakan=

Skor Total yang Diperoleh


Skor Maksimal

x 100%

Luaran
Upaya mempertahankan potensi dari tanaman yang ada di sekitar kita untuk di manfaatkan
sebagai salah satu media pembelajaran. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memudahkan guru untuk
6
melakukan pengamatan pada jaringan tumbuhan. Kelayakan media preparat jaringan
tumbuhan yang
diwarnai menggunakan sari bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) sebagai pewarna alami.
Selain itu, diharapkan menjadi hasil penelitian yang inovatif dan dapat juga menjadikan sebuah artikel
atau jurnal yang layak di muat jurnal ilmiah serta dapat di patenkan dalam memberikan pengetahuan
baru dengan memanfaatkan pewarna alami sebagai media pembelajaran preparat jaringan tumbuhan.
Indikator Capaian yang Terukur di Setiap Tahapan
Dapat memiliki kelengkapan jaringan
Koleksi dan penentuan tanaman
penyusun organ
Dapat
menghasilkan
pengamatan
Media pembelajaran preparat
jaringan tumbuhan
Dapat menghasilkan kelayakan media
Telaah media preparat
preparat jaringan tumbuhan

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui pengembangan media dengan mengacu pada
metode Research and Development (R&D). Prosedur penelitian ini melalui langkah-langkah
pembuatan preparat pada mikoteknik (Budiono, 1992). Prosedur penelitian yang dilakukan dengan
tiga tahapan yaitu tahap koleksi dan penentuan tanaman, pembuatan media preparat, telaah media
preparat.
Teknik Analisa Data
Metode yang digunakan adalah metode telaah. Metode telaah dilakukan dengan cara menelaah preparat
yang dihasilkan. Telaah preparat dilakukan dengan telaah oleh dosen bidang mikroteknik dan guru
Biologi SMA. Telaah kelayakan preparat dinilai dari aspek tampilan umum dan aspek manfaat preparat.
Cara Penafsiran
a) Mengumpulkan informasi yang terkait dengan tema
b) Mengkategorisasi informasi dalam kelompok yang lebih spesifik.
c) Menyampaikan hasilnya dalam berbagai bentuk
Penyimpulan Hasil Penelitian
Kesimpulan disusun setelah mengetahui hasil dari proses pengamatan.
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
Anggaran Biaya
No
.
1.
2.
3.
4.

Jenis Pengeluaran
Peralatan penunjang
Bahan habis pakai
Perjalanan
Lain-lain: administrasi, publikasi, laporan
Jumlah

Biaya (Rp)
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

1.935.000,4.473.000,3.200.000,2.050.000,11.658.000,-

Rancangan Biaya
Jadwal Kegiatan
No
.

Bulan keKegiatan

1
1 2 3 4 1

2
3
4
2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Survei awal dan


persiapan administrasi
Persiapan alat dan bahan
Uji awal atau observasi
Penelitian dan
penggalian data
Analisis data
Evaluasi
Laporan Akhir

x x
x x
x
x x x x x
x x
x x
x x
DAFTAR PUSTAKA

Anonim

. 2002 . Teknologi Pewarna Alam (http://www.pemdadiy.go.id/berita/article.php?


sid=18&PHPSESSID=b77111f8d7a2cecd63608b29c68cc512, diakses pada tanggal 8
September 2014
Anonim.
2007.
Perkembangan
Penelitian
Pewarna
Alami.
(http://ptp2007.wordpress.com/2007/11/13/perkembangan-penelitian-pewarna-alami/,
diakses pada tanggal 8 September 2014).
Badan Tenaga Nuklir Nasional. 2011. Harga Satuan Standar Badan Tenaga Nuklir Nasional. Jakarta:
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Botanika. 2008. Fixation, Embedding, Sectioning, http://botanika. biologija.org (Diakses 8
September 2014).
Budiono, J. D. 1992. Pembuatan Preparat Mikroskopis. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
8
Gupte, S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Binarupa Aksara.
Hadiotomo, Ratna Siri. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : PT Gramedia.
Handari, S. 1983. Metode Pewarnaan (Histologi & Histokimia). Jakarta: Bhatara Karya Aksara.
Jones, Robert Neil dan Rickards, Geoffrey Keith. 1991. Practical Genetics. England: Open University
Press.
Rudyatmi, Ely. 2012. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang : Jurusan Biologi FMIPA UNNES
Wilson, Louis Carl dan Loomis, Walter E. 1962. Botany Fourth Edition. United States of America:
Holt, Rinehart and Winston, Inc