Anda di halaman 1dari 22

Diskusi jurnal

Pengaruh Jenis Insisi pada


Operasi Katarak terhadap
Terjadinya Sindroma Mata
Kering

Oleh : Rima Titahning


Nurul Furoidatur Rohma

SMF MATA

Pendahuluan
Katarak merupakan penyebab utama
terjadinya kebutaan dan gangguan
penglihatan di dunia. Sesuai dengan data
WHO (2002), 17 juta (47,8%) dari 37 juta
orang yang buta di seluruh dunia disebabkan
karena katarak. Jumlah ini diperkirakan akan
meningkat hingga 40 juta pada tahun 2020.

GEJALA :
* Penurunan visus baik dekat maupun jauh.
* Silau dengan sinar surya
* Distorsia garis.
* Diplopia monokuler.
* Gangguan warna(menjadi kekuningan).
* Tidak berkaitan dengan nyeri, mata merah

Tanda:
+ Penurunan tajam penglihatan dengan snellen chard
+ Refleks fundus abnormal ketika retina dilihat dengan
ophtalmoskop.
+ Penurunan sensitivitas terhadap kontras.
+ Pupil tampak putih, pada katarak yang sudah parah.
+ Pada pemeriksaan dengan slit lamp dapat dilihat tipe
katarak.

TATALAKSANA KATARAK
Indikasi dilakukan tatalaksana bedah untuk
katarak adalah tingkat gangguan visual
terhadap aktivitas sehari-hari serta terdapat
komplikasi seperti glaukoma dll.

Jenis bedah katarak

ICCE
ECCE
PHACO
SICS

DISKUSI JURNAL
TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui adanya pengaruh
jenis insisi pada operasi katarak
terhadap timbulnya Sindroma mata
kering ( SMK)

DESAIN:
Penelitian ini merupakan
penelitian analitik observasional pada
penderita katarak usia 40 tahun
yang datang ke poliklinik mata RS Dr.
Saiful Anwar Malang dan Klinik Mata
Malang (KMM) mulai bulan Juni
sampai Juli 2011.

METODE
Dari keseluruhan sampel (36
pasien) dilakukan operasi katarak
dengan ECCE, SICS dan PHACO
(masing-masing 12 pasien). Sampel
yang mengalami infeksi paska operasi,
komplikasi saat operasi di eksklusi dari
penelitian

HASIL :

Hasil pemeriksaan
diagnostik Tes Ferning
sebelum operasi
didapatkan kelas I dan
II, yang berarti bahwa
kualitas lapisan air
matanya baik.

Hasil pada tabel 3


menunjukkan bahwa
sebanyak 31 (86,1%)
sampel mengalami SMK,
yang terdiri dari: 12 (38,7%)
pada kelompok ECCE, 11
(35,5%) sampel berasal
dari kelompok PHACO, dan
8 (25,8%) sampel berasal
dari kelompok SICS.

HASIL:
Sampel yang dapat mengikuti penelitian ini adalah
sampel dengan diagnosis katarak dan tidak
didapatkan adanya SMK.
Selama penelitian didapatkan kebanyakan sampel
dengan diagnosa katarak adalah berusia lebih dari
40 tahun, sedangkan berdasarkan literatur
dikatakan bahwa usia 40 tahun keatas sebanyak
6% didapatkan gangguan sindroma mata kering
(SMK)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa


kelompok ECCE paling banyak
menyebabkan SMK, kelompok
PHACO lebih sedikit dari kelompok
ECCE, dan kelompok SICS paling
sedikit menyebabkan SMK.

Tindakan operasi katarak


menyebabkan disrupsi atau kerusakan
dari lengkung neural yang berakibat
pada terjadinya gangguan stabilitas
lapisan air mata (LAM) (4,34).

Berdasarkan studi dikatakan bahwa


pemotongan konjungtiva bulbi pada
saat operasi katarak menyebabkan
ketidakstabilan LAM. Pemotongan
konjungtiva menyebabkan hilangnya
sel stem dan sel goblet yang ada pada
konjungtiva, sehingga sekresi musin
pada LAM menjadi menurun.

Insisi pada saraf tepi juga


menyebabkan terjadi penurunan
refleks berkedip sehingga
mempengaruhi tingginya
evaporasi pada permukaan mata
serta mengganggu pembentukan
LAM.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa jenis insisi pada
operasi katarak (ECCE, SICS,
PHACO) berhubungan dengan
terjadinya SMK. Jenis incisi SICS
memiliki kecenderungan
menyebabkan SMK lebih kecil
daripada ECCE dan PHACO.

Thank you