Anda di halaman 1dari 116

Anatomi, Fisiologi,

Gangguan dan
Pemeriksaan pada Hidung

HIDUNG & SINUS


PARANASAL
HIDUNG LUAR (Nasus eksternus): dorsum

nasi, apeks nasi, radiks nasi, ala nasi dan


vestibulum nasi
HIDUNG DALAM (Nasus internus): Rongga
hidung dan septum nasi
SINUS PARANASAL: Sinus maksila, Sinus
frontal, Sinus (sel-sel) etmoid, Sinus sfenoid

HIDUNG LUAR ( NASUS


EKTERNUS)

radiks nasi,

(pangkal hidung)

dorsum nasi,
(batang hidung)

apeks nasi,
(ujung hidung)

ala nasi.

(sayap hidung)

KERANGKA HIDUNG

Tulang
Os nasalis
Pros Frontalis os

Maxillaris

Tulang Rawan
Kartilago lateral

hidung
Kartilago alaris
mayor

kaki lateral
kaki medial

Kartilago alaris

minor

KERANGKA HIDUNG

HIDUNG DALAM
(Nasus Internus)
Rongga hidung
Konka nasi inf.(KI)
Konka nasi med.
(KM)
Konka nasi sup.
(KS)
Septum nasi(SPT)

KS
KM
SPT
KI

RSE

KS

MS

SF
KM

SS

OT

MM

KI

MI

SINUS SFENOID(SS), SINUS FRONTAL(SF),KONKA INFERIOR(KI), KONKA


MEDIUS(KM), KONKA SUPERIOR(KS), MEAT SUPERIOR(MS), MEAT
MEDIUS(MM), MEATUS INFERIOR(MI), OSTIUM TUBA EUST.(OT), RESESUS
SFENO-ETMOID(RSE)

KERANGKA SEPTUM NASI

Kartilago
kuadrangularis
(anterior) (KK)

LP

KK

x
KM

KP

Tulang vomer (V)


(Belakang)

Lamina
Perpendikularis
tulang etmoid
(atas) (LP)
Krista maksila dan
palatina
(bawah)(KM,KP)
Kaki medial KAM (x)
9

LP

KK

KP

KM
10

EA

EP

SfP

PM

ARTERI PADA SEPTUM DAN DINDING


RONGGA HIDUNG:
Arteri penting :
etmoidalis anterior(EA) dan etmoidalis posterior(EP),
Sfenopalatina(SfP), palatina mayor(PM).
Pleksus Kiesselbach di area Little anastomose di bagian depan
septum nasi, letaknya superfisial, mudah epistaxis
11

SUPLAI SARAF
1. Saraf Penghidu / Pembau
Saraf Cranial I ( N.
Olfactorius)
2. Saraf Sensoris
Cabang dari N. Trigeminus
(Saraf V),
N. Ethmoidalis
yaitu:
Anterior
N. Opthalmicus
Cabang
N. Maxilaris, melalui
nasalisganglion spheno
palatina

3. Saraf Otonom
Berfungsi mengatur Vasokonstriksi /
Vasodilatasi & produksi sekret
Sympatis : dari Ganglion Cervicalis
Superior
Ganglion Spheno Palatina
Para sympatis : dari N. Facialis (Saraf
VII)
Ganglion Spheno
Palatina

Gambar : Suplai Saraf

Epitel hidung
di vestibulum : epitel kulit dg vibisae (bulu rambut

hidung) dan kelenjar sebasea


di limen nasi : eptel peralihan
di 2/3 bawah kavum nasi : epitel respirasi
(Epitel Torak berlapis semu besilia)
di 1/3 atas : epitel penghidu (Epitel Torak
berlapis semu tanpa silia)

Mukosa kavum nasi


Mukosa tdd:

palut lendir (mucous blanket)


eptel kolumnar berlapis semu

bersilia disertai sel Goblet


membrana basaalis
lamina propria yg tdd :
lapisan subepitel
lapisan media
lapisan kelenjar profunda

Mukosa kavum nasi


1. Mukosa Respiratori = Epitel
Kolumnar berlapis semu bersilia
Jaringan ikat sub epitel longgar ; banyak
pembuluh darah (jaringan kavernosus)
mudah vasodilatasi /vasokontriksi yg diatur
oleh saraf otonom) berfungsi pada
pengaturan volume, temperatur, kelembaban
udara dihirup (air conditioning)

Terdapat sel-sel Goblet (sel kelenjar


mukus). Pergerakan silia yg diselimuti
selaput lendir (mucosal Banket)
berperan pada auto clearance
Meliputi - 2/3 bag bawah septum nasi,
dinding lateral kavum nasi dibawah
konkha superior, dasar cavum nasi, 1/2
bag atas Nasopharynx dan sinus
Paranasalis

Mukosilier
Hidung
Epitel merupakan:
ciliated pseudo
stratified columnar
epithelium.
Mengandung sel goblet
serta kelenjar serus dan
mukus
Silia berjumlah 25-100/sel
dan selalu mengadakan
gerakan (stroke) ke
arah belakang (koana)
untuk mendorong selimut
lendir ke nasofaring
(1300 gerakan/menit)
20

2. Mukosa Olfaktorius
( Schneiderian Membrane)
Meliputi :
1/3 bagian atas septum nasi
Atap rongga hidung & concha
superior
Dilapisi oleh : Pseudosratified Columnar
non Ciliated Epithelium
Yang dibentuk oleh 3 macam sel yaitu
Supporting Cell, Basal Cell dan Olfactory
Cell.

Dinding Rongga
Hidung

KM

KI

septum

Konka (tonjolan tulang, dilapisi


mukosa): konka inferior(KI),
medius(KM) dan superior(KS)
Meatus nasi:
Meatus nasi inferior: antara
dasar rongga hidung dengan
konka inferior
Meatus nasi medius: antara konka
inferior dan medius
Meatus nasi superior: antara
konka medius dan superior

22

SINUS PARANASAL
SINUS MAKSILA
SINUS FRONTAL
SINUS (SEL) ETMOID

(GRUP ANTERIOR & POSTERIOR)


SINUS SFENOID

23

Anterior Group

bermuara pada
meatus
nasi medius
- Sinus Maxillaris
(KOM)
- Sinus Frontalis
- Sinus Ethmoidalis Anterior

Posterior Group

bermuara pada
meatus
nasi superior
- Sinus Ethmoidalis Posterior
- Sinus Sphenoidalis

26

Sinus Maksila
(SM)

X
Ost

SM
XX

DS

Terletak di tulang
maksila kanan
dan kiri
Sinus paling
besar
Atap : dasar
orbita(X)
Dinding medial
sinus = Dinding
lateral rongga
hidung(XX)
Dasar sinus
(DS)berbatasan
dengan akar gigi
geraham atas
Ostium di meatus
27
nasi medius (di

FUNGSI HIDUNG
I. Fungsi Pernafasan
Menyiapkan udara agar sesuai dengan
keadaan fisiologis paru
Meliputi :
1. Mengatur jumlah udara yang masuk.
2. Menyiapkan udara pernafasan dengan
a. Menyaring :
Vibrissae
Partikel kasar
Mucous Blanket ( palut lendir) Partikel
b. Membasahi / Melembabkan.
halus
- Sel Goblet
Palut lendir

c. Memanasi
- Conchae nasi ( terutama concha
inferior),
oleh karena kaya pembuluh darah.
3. Desinfeksi.
- Membersihkan kuman dengan.
a. Mucous Blanket
b. Enzym Lyzozym
Anti septik
c. Suasana asam
(PH:6,5)
Mucocillary
d. S i l i a
Blanked
e. Sel-sel phagocyt, lymphocyt &
histiocyt
(berada pada sub mucosa)

4. Reflek Nasal.
bakteri dan debu dlm palud lendir,
partikel-partikel lbh besar, benda
asing, bau tertentu

bersin
Mengiritasi terjadinya
kecepatan 160 km /jam,

semua dilontarkan
Mata terpejam duktus
nasolakrimalis tertutup tak
ke mata
Ditanya didaerah kenapa
dianjurkan mengucap
Alhamdulillah ? !

II. Fungsi Pembauan / Penghidu


- Oleh karena adanya mukosa
olfactorius
pada atap cavum nasi, concha
superior &
1/3 bagian atas septum
- Bekerja sama dengan fungsi
pengecapan
(Gustatorius)
- Bila terjadi buntu hidung (udim,

III. FUNGSI RESONANSI suara :


Getaran yang dihasilkan pita suara
menimbulkan resonansi pada rongga sinus
suara merdu.

- Bila buntu hidung bindeng


sulit mengucapkan huruf n, ng,
ny, m (rinolalia oklusa).
Bila hidung terbuka, mis celah
bibir (labioshcisis) dan celah
langit-langit (palatoshcisis) sulit
mengucapkan huruf k, g, t, d, p,
b (rinolalia aperta)
32

IV. Fungsi Drainase & Ventilasi


Dari sinus paranasales & kelenjar
lacrimalis

GEJALA

HIDUNG
BUNTU
BERSIN
RHINOREA
MATA
GATAL
MUKOSA
KONKA
UJI
ADRENALIN

RINITIS
ALERGI

RINITIS
VASOMOTOR

RINITIS
HIPEREMIKA/
MEDIKAMENTO
SA

++
(MENETAP)
+++
++(ENCER)
+

++
(BERGANTIAN)
+(JARANG)
+(MUKOID)
-

+++ (MENETAP)

PUCAT,
UDEM

HIPEREMIS,
PUCAT, UDEM

HIPEREMI,
HIPERTROFI

(+)

(+)

(-)

+(ENCER)
-

34

SINUSITIS PARANASALIS
adalah radang mukosa rongga sinus
paranasalis

Bila berlangsung singkat 1-3 minggu


mukosa normal kembali

PENYEBAB :
- streptococus
- hemophylus influenza
- staphylococcus aureus
- kadang2 organisme anaerob, jamur

FAKTOR & MODUS INFEKSI


RHINOGEN

KLASIFIKASI
SINUSITIS
SINUSITIS AKUT
KRONIS

SINUSITIS MAKSILARIS
AKUT
INSIDEN paling banyak
FAKTOR PENDUKUNG TIMBULNYA :
1. Rhinogen
2. Dentogen
3. Gangguan drainase

FAKTOR PENDUKUNG

PATOFISIOLOGI

GEJALA KLINIS
1. ANAMNESIS :
- didahului oleh rhinitis akut, sakit gigi, post
ekstraksi
gigi
- pipi kemeng / sakit
- sefalgia di sisi sakit ( sore maksimal pagi
reda)
- sekret mukopurulen, kadang hemoragis, bau
(+)
- batuk2 karena banyak lendir di tenggorok
- kadang2 sakit telinga sisi sakit

2. PEMERIKSAAN
- Inspeksi : Pipi udem, hiperemis
- RA: - vestibulum nasi hiperemis
- sekret (+) di meatus medius
- mukosa kavum nasi udem, hiperemis
sempit
- RP: -post nasal drip
- pus (+) di meatus medius
- Palpasi fossa canina : sakit bila ditekan
- Bila ada sakit telinga px : MT retraksi
(terjadi oklusio tuba akibat udem mukosa)

- Transiluminasi : gelap di sisi sinus yg sakit


- X foto waters : perselubungan pd sinus
maksilaris
(udem mukosa), kadang2 cairan
(+)
- irigasi percobaan : kalau keluar pus / mukopus
maka
tindakan ini sekaligus
sebagai terapi

3. TERAPI
- Terapi konservatif:
umum istirahat, makan lunak
analgetika
antibiotika : jenis Penicillin
bila alergi doxyciclin
erythromycin
lokal perbaiki drainase dgn
tetes hidung sol effedrin 1%
tidur miring heterolateral

- Terapi aktif
IRRIGASI SINUS MAKSILARIS
kl keluar pus lakukan tiap minggu smp
pus (-)
Komplikasi irrigasi: - emboli udara di pipi
- infiltrat / abses pipi
- trauma / abses orbita
- epistaksis profuse

PROGNOSIS
Bila cepat berobat sembuh dengan terapi

konservatif
Bila tidak diobati menjadi KRONIS

KOMPLIKASI : - Otitis media akut akibat oklusio


tubae
- Faringitis akibat post nasal drip

SINUSITIS MAKSILARIS KRONIS


FREKUENSI : paling banyak
PENYEBAB:
1. Sinusitis maksilaris akut berulang, pengobatan
tidak optimal
2. Ada bloked drainage (hambatan drainase)
3. Infeksi gigi
4. Infeksi sinus frontalis, ethmoidalis

PATOLOGI
tjd degenerasi mukosa : cysteus, polip,
fibrous, metaplasia epithel
GEJALA KLINIS
Subyektif : - keluhan tak tegas, nyeri (-)
- sekret di satu sisi hidung
- foetor nasi
- hidung buntu sebelah
- kadang2 sub febril

gejala klinis.
Obyektif: - RA & RP pus di meatus medius

- palpasi nyeri + ( kadang tidak


dirasakan)
- cek adanya karies gigi geraham atas
- transiluminasi gelap homolateral
- x foto waters perselubungan /
suram /
air fluid level di sisi sakit

TERAPI
KONSERVATIF : - antibiotika

- tetes hidung
AKTIF : - irrigasi 1 minggu / kali ( kalau 5-7x tidak

membaik operasi
- fokal infeksi gigi ekstraksi
-

OPERASI PD SINUS MAKSILARIS


1. NASOANTROSTOMI
membuat fenestra ( saluran penghubung) nasoantral
2. OPERASI CALDWELL LUC
- insisi di plika ginggivo-labialis / buccalis
- sinus maksilaris dibuka melalui fosa canina
- kuret semua mukosa sinus maksilaris
- buat jendela / lobang ke kavum nasi (meatus
inferior)
- pasang tampon boorzalf yg ujungnya melalui
jendela
keluar di hidung
- irisan di jahit
- cabut tmpon setelah 2 x 24 jam

.operasi Caldwell Luc

Indikasi : - degerasi mukosa (irreversible)


- ada akar gigi (squester)
Kontra indikasi : - < 12 tahun
- orang tua dgn hipertensi
- gangguan faal hemostasis
3. Fungional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)
operasi endoskopi dengan membuka daerah
ostiomeatal compleks sehingga drainase ke
semua sinus paranasalis menjadi terbuka

OSTEOMEATAL KOMPLEKS

DIAGNOSIS BANDING
1. KARSINOMA SINUS MAKSILARIS

- Subyektif : 1. Tjd pd orang tua


2. Sakitnya kontinyu & progresif, sakit pd graham
tp gigi tidak sakit
3. Keluhan mirip dgn sinusitis maksilaris kronis tp
sekret lebih hemorhagis
- Obuektif : st DINI tidak jelas
- tjd pembengkakan dinding lateral, anterior, medial, inferior
- x foto waters: destruksi tulang
- biopsi: keganasan (+)
- antroskopi tumor (+)
2. KARSINOMA NASOFARING

SINUSITIS FRONTALIS
AKUT
PATOLOGI : radang purulen
MODUS INFEKSI RINOGEN
1. Rhinitis akut menjalar krn
- salah buang ingus
- berenang
- ikut aliran darah, mukosa
2. Obstruksi nasi krn udem mukosa kav
nasi, polip nasi, deviasi septum nasi,
konka hipertrofi

GEJALA KLINIS
a.Subyektif = rhinitis akut :
- malaese, febris
- pilek & hidung buntu
- sefalgia hebat homolateral (biasanya)
(pagi lebih sakit siang berkurang)
b. Obyektif
Inspeksi: kulit di daerah sinus frontalis taa
Palpasi: nyeri tekan di depan atau dasar / lantai sinus
frontalis
RA : mukosa kav nasi hiperemis, udem
pus (+) di meatus medias bag depan
Transiluminasi: gelap pd sisi sakit
Xfoto Waters : perselubungan di sinus frontalis

TERAPI
- LOKAL: -perbaiki drainase - tetes hidung
- tidur miring kontra lateral
- kl perlu infraksi konka nasi
- UMUM: - analgetika
- antibiotika : ampisilin, klindamisin,
sefalosporin
PROGNOSIS: baik krn ostiumnya di bawah
KOMPLIKASI : infeksi dapat menjalar ke
- mata, intra kranial abses orbita, abses intrakranial
- dinding depan sub perioeteal abses
- sinus frontalis kontra lateral

SINUSITIS FRONTALIS
KRONIS
PATOLOGI : radang purulen dgn mukosa hipertrofi dan
polipoid
ETIOLOGI:
1. Sinusitis frontalis akut yang : - susah diobati
- drainase kurang baik
2. Kelanjutan proses sinusitis yg kurang baik dari sinus
sekitarnya (= pansinusitis)
3. Ada faktor alergi

DIAGNOSIS
1. Subyektif: lebih ringan dari akut
2. Obyektif:
Inspspeksi : taa
Palpasi: nyeri tekan ringan / (-)
RA mukosa hiperemis, udem, pus di
meatus
medius
Transiluminasi : gelap sisi sakit
xfoto waters perselubungan sinus frontalis

TERAPI
1. KONSERVATIF & TINDAKAN MEMPERLANCAR
DRAINASE
- aplikasikan kapas + dekongestan
- melebarkan ostium nasofrontalis dgn sonde
- operasi faktor penyebab obstruksi nasi
2. TINDAKAN OPERASI EKSTRA NASAL (LYNCH
OPERATION)
- insisi curve linier di bawah bgn medial alis terus
ke bawah ke bgn epichantus interna
- buka dasar sinus frontalis dan ethmoid

PROGNOSIS
Bisa terjadi : - infiltrat / abses orbita

- osteomielitis frontalis
- infeksi ke intra kranial

SINUSITIS ETHMOIDALIS
AKUT
Dewasa > anak
Kl pada anak sinusitis ethmoidalis akut pl

banyak
TIPE SINUSITIS ETHMOIDALIS

1.
2.
3.
4.

akut, sub akut


rekuren empiema
kronik empiema
kronik empiema dgn polipoid

ETIOLOGI = dgn sinusitis maksilaris akut ( kecuali C/ gigi)


GEJALA
St akut mengenai selule ethmoidalis ant, tjd pd fase
saat rhinitis akut
Subyektif :
- hidung buntu
- sakit di daerah frontal, mata, regio parietalis
Obyektif :

Inspeksi: pembengkakan di daerah ethmoid, bs meluas


ke daerah alis
RA : udem, mukopus di meatus medius
post nasal drip

DIAGNOSIS sulit krn tidak khas


transiluminasi (-)
xfoto waters sulit
Ditegakkan berdasarkan: - lokasi sakit
- pembengkakan di daerah orbita &
- sakit pada gerakan mata

alis

TERAPI
-tetes hidung / aplikasi kapas dekongestan
- analgetik
- antibiotika
- bisa dibantu dengan nebulyzer, lampu infra merah

tujuannya untuk mengurang sekret dan udem

SINUSITIS ETHMOIDALIS KRONIS


ETIOLOGI : sinusitis ethmoidalis akut yang tidak
mendapat
penanganan dgn baik
GEJALA : hampir sama dgn sinusitis maksilaris kronis
- sakit kepala
- hidung buntu, beringus
- post nasal drip
RA: pus di meatus medius, dasar kav nasi
sering ada polip di meatus medius
Xfoto: perselubungan

TERAPI

- ekstraksi polip selule dibuka (ethmoidektomi)


komplikasi operasi : mengenai lamina papiracea
infiltrat
/ abses orbita
- perlu dicari riwayat alergi
- cari kelainanan anatomi adanya deviasi septum
nasi

SINUSITIS SFENOIDALIS
AKUT
Jarang berdiri sendiri biasanya merupakan

pansinusitis
GEJALA : sakit di daerah occipitalis os parietal
DIAGNOSIS

- xfoto: tampak permukaan cairan di sinus


sfenoidalis
- pungsi dinding depan sinus dgn troicart lurus
aspirasi
pus
- RA : pus di nasofaring

TERAPI

analgetika
antibiotika
aplikasi kapas dekongestan
irigasi melalui ostium / pungsi dinding depan

SINUSITIS SFENOIDALIS KRONIS


ETIOLOGI:

empiema akut sinus sfenoidalis yg tdk tertangani


dgn baik, oleh karena:
- faktor alergi dgn / tanpa polip
- penebalan mukosa krn radang
- tumor
GEJALA : - sefalgia anoreksia, malaese,
konsentrasi menurun
- post nasal drip

DIAGNOSIS
ditegakkan berdasarkan: - sefalgia + post nasal drip
- xfoto sub mental-vertex
(kp dgn kontras)
- irrigasi
TERAPI
a. terapi infeksi, irigasi, koreksi alergi, polip dll
b. operasi (Hirsch)

POLIP NASI
PENYEBAB : masih (?)
radang kronis dan alergi yg terjadi berulang
(bakterial alergi)
PATOFISIOLOGI
bacterial alergi berulang terjadi periflebitis,
perilimfangitis degenerasi mukosa
akibatnya tjd hambatan aliran balik cairan
interstitiil udem penonjolan mukosa
bertangkai terjadi polip / cyste

PATOLOGI ANATOMI
Makroskopis : masa lunak, licin, bening, pucat
(kadang2 ke kuning2 an, abu2, kemerahan)
Mikroskopis :
mukosa udem + hipertropi
Epitel silendris dengan atau tanpa bulu getar
(cilia) , dapat terjadi metaplasi menjadi sel kuboid
bertahtah
Stroma jar ikat longgar: cairan interstitiil, banyak
sel limfa melebar, sedikit pembuluh darah &
serabut saraf, tumpukan sel limfosit, plasma sel,
eosinofil

PEMBAGIAN POLIP
A. MENURUT BENTUK

1. MULTIPEL asal dari selule ethmoid


2. SOLITER asal dari sinus maksilaris
B. MENURUT PATOLOGI ANATOMI
1. SEROMUKUS licin, lunak, kl dipecah keluar
cairan seromukus kempes
2. FIBRO-OEDEMATUS permukaan kasar, padat,
kl dipecah keluar darah
tidak
kempes

DEWASA MUDA (jarang pd anak), LAKI > WANITA

GEJALA
KELUHAN: - rhinorea, obstruksi nasi
- G/ akibat obstruksi bindeng, batuk dll
PEMERIKSAAN

Inspeksi:- dorsum nasi melebar (polip penuh)


FROG FACE
RA: jar polip (+) beda dgn polip fibro-oedematus
, konkha nasi
(dipecah, atau dgn cairan HCl Effedrin)
RP: jar khoanal polip

DIAGNOSIS BANDING
1. ANGIFIBROMA NASOFARING dan ANGIFIBROMA

NASOFARING JUVENILIS
mudah berdarah
2. INVERTED SEL PAPILOMA

biasanya usia lanjut


3. MENINGOCELLE PD BAYI

TERAPI
terapi kausa (-) karena kausanya tdk pasti
Dilakukan POLIPEKTOMI (EKSTRAKSI JAR POLIP)

1. Polip ditarik dgn polip tang / jerat, ulangi kalau


msh tampak ada jar polip
2. stl bersih di tampon dgn tampon boor zalf
3. kl perlu dilakukan ethmoidectomi
4. kl polip banyak dan berasal dari sinus maksilaris
dilakukan operasi Caldwell Luc

KOMPLIKASI
SEBAGAI AKIBAT DARI OBSTRUKSI NASI (POLIP

PENUH) :
- OTITIS MEDIA
- SINUSITIS

ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA


(JUVENILIS)
Tumor di nasofaring yg kaya pembuluh darah

yg besar2 + melebar dengan hiperplasi


endothel (stromanya: fibroblas, serat kolagen
tanpa elemen tunika muskularis)
Umur 10 17th, laki > wanita

LOKASI TUMOR: - atap dan dinding lateral NF


- unilateral
jarang di garis tengah NF
ETIOLOGI (?)
1. Teori jaringan asal
- dr cartilago embrional dan defisit androgen
kelebihan
estrogen
- dr fasia basilaris / aponeurosis faringeal dengan
jar
vaskuler ektopik
2. Ketidakseimbangan hormon (sex)
ada kecenderungan regresi dgn kematangan sex

HISTOPATOLOGI
Jar ikat oedematus dgn
-banyak pembuluh darah yg melebar
-kapiler yg saling berhubungan
-kapiler hanya dilapisi endothel tanpa tunica
muskularis

1.

2. Tumor yg sedang tumbuh byk pembuluh darah

usia tambah jar fibrous >>

GEJALA KLINIS
1. Epistaksis berulang, sering profuse
2. Obstruksi nasi - rhinorea

- gangguan penciuman
- oklusio tubae
- sefalgia - dll

PERLUASAN TUMOR
Ke anterior : - cavum nasi
- mendesak septum nasi
- keluar melalui vestibulum nasi
- menutup osteum sinus maksilaris
- masuk ke sinus maksilaris ke fosa
sfeno-maksilaris ekspansi ke pipi
- masuk orbita protrusio bulbi +
gangguan N opthalmikus
Ke bawah: mendesak palatum molle obstruksi
jalan nafas
Ke atas: mendesak basis kranii masuk kav kranii

DIAGNOSIS
1. Umur : 10-17th
2. G/ subyektif
3. Pemeriksaan RA dan RP tumor ke unguan
4. Diagnosis pasti BIOPSI ( di OK)

DIAGNOSIS BANDING
1. KOANAL POLIP : - permukaan rata
- pucat, udematus, lunak
2. ADENOID : - permukaan tidak rata (ireguler)
- ditengah, tidak mudah berdarah
3. KARSINOMA NASOFARING :
- umur 30 50th / >
- G/ lokal + metastase
- KU menurun, PA keganasan
4. FIBROMA NASOFARING :
- semua umur
- dinding pemb darah ada tunika muskularis
perdarahan
lebih mudah diatasi

1.Permuka
an

Angiofibroma
Nasofaring Jv

Angifibroma
Nasofaring

Adenoid
persiste
n

Khoanal
Polip

Ca NF

Licin

Licin

Tidak
rata

Licin

Tidak
rata

Keunguan

Keunguan

2. Warna
3. Jaringan

4. Umur

Pembuluh
darah
(t.muskularis
-)

Pembuluh
darah
(t.muskularis
+)

Merah
muda
Jar.limfoi
d

10-17th
Semua umur

5. Sex

Pucat

L>P

>12
tahun

L&P
L&P

Jar.udemat
us

Hiperemi
s,
nekrotik
Jar.rapuh

Semua
umur

30-50th

L&P

L>P

TERAPI
1. OBAT HORMONAL
a. Estrogen Tumor mengecil selama
pengobatan
b. Zytonal tumor lebih kecil lbh mudah
operasi
2. RADIASI tumor mengecil
3. PENGANGKATAN
a. di jerat diikat
b. operatif : - trans palatal
- rhinotomi lateral
- rhinotomi sub labial

DERAJAT PERLUASAN TUMOR


STADIUM I : tumor masih di NF
STADIUM II : meluas ke rongga hidung atau ke sinus
sfenoidalis
STADIUM III: tumor meluas ke salahsatu dari
- sinus maksilaris
- sinus ethmoidalis
- fosa pterigo-maksilaris,
infra temporal, rongga mata atau pipi
STADIUM IV: meluas ke intra kanial

Pemeriksaan Hidung
Rinoskopi Anterior (RA)
Rinoskopi Posterior (RP)
Trans iluminasi
94

Anamnesa, keluhan utama kelainan


hidung :
- Sumbatan hidung (Obstructio Nasi)
- Sekret di hidung / pilek (Rhinorrhoe)
- Bersin
- Nyeri di daerah muka & kepala
(Cephalgia)
- Perdarahan dari hidung (Epistaxis)
- Gangguan penghidu (Anosmia /
Hiposmia)

1. Inspeksi :
- Dorsum Nasi: -Deformitas
(melebar,asimetri)
-Tanda radang
- Vestibulum Nasi: - Sekret
- Maserasi
- Tanda radang
2. Palpasi :
- Dorsum Nasi: - Crepitasi
- Dislokasi
- Tumor

- Vestibulum Nasi : Tekan Alae Nasi


- Daerah Sinus Frontalis
Tekan lantai/dasar & dinding depan
Sinus
Frontalis dengan ibu jari.
- Daerah Sinus Maxillaris :
Tekan didaerah
Fossa
Canina
dengan
Penekanan
dengan
tenaga
ibuoptimal,
jari
simetris kanan & kiri, hindari
Foramen Supra/ Infra Orbitalis.

Rinoskopi Anterior
(RA)
Menggunakan lampu kepala dan

spekulum hidung
Melihat rongga hidung
(lapang/sempit), konka nasi (besar,
udim, hiperemi/pucat), septum nasi
(deviasi), meatus nasi medius (sekret,
polip)
Memeriksa fenomena palatum mole

100

Rinoskopi Anterior

101

Fenomena Palatum mole

Rinoskopi Anterior lihat dasar kavum


nasi ucapkan iiii palatum mole
bergerak keatas dinding posterior
(nasofaring) tertutup tampak gelap
Fenomena Palatum Mole positif (normal)
Fenomena palatum molle negatif pada:
parese palatum mole

masa di naso faring: adenoid,

tumor

Fenomena Palatum mole

Fenomena Palatum
mole Positif

Fenomena Palatum
mole Negatif

Rinoskopi Posterior
(RP)
Melihat bagian belakang rongga hidung

dan nasofaring melalui cermin kecil.


Cermin kecil bertangkai diletakkan di
orofaring dengan permukaan menghadap
ke atas, sinar lampu kepala di arahkan
ke cermin, posisi diubah-ubah.
Dilihat dinding nasofaring, tuba
Eustakhius, torus tubarius dan koanal

104

RINOSKOPI
POSTERIOR
105

106

Trans-Iluminasi
Dilakukan di kamar gelap
Lampu bertangkai dimasukkan ke dalam

rongga mulut, sinar lampu akan


menembus rongga sinus maksila, terlihat
di pipi, bandingkan kanan dan kiri. Sinus
yang terisi cairan tampak suram/gelap
Bermakna bila ada perbedaan kanan &
kiri

107

TRAN-ILUMINASI
LAMPU (a) (b)
KAMAR GELAP (c)

108

SINUS FRONTAL

SINUS MAKSILA

TRAN-ILUMINASI
109

Pemeriksaan Radiologik.
- X. Foto Posisi Waters :
Terutama untuk melihat kelainan
pada
Sinus Maxillaris (Tampak gambaran:
Perselubungan, Penebalan Mukosa,
Air
Fluid Level, Destruksi Dinding
tulang,
Tumor, Kista).

- X. Foto Posisi Caldwel (PA)


Terutama untuk melihat Sinus
Frontalis.
- X. Foto Posisi Lateral :
Terutama untuk melihat Sinus
Frontalis,
Ethmoidalis & Sphenoidalis.

Punksi Percobaan.
Hanya dikerjakan untuk Sinus Maxillaris,
untuk Diagnostik sekaligus terapi.
Biopsi.
Dapat dilakukan untuk Tumor pada
Nasofaring, Cavum Nasi maupun Sinus
Paranasales.

Pemeriksaan Laboratorium :
Sitologi
Immunologi
Histopatologi
Bakteriologi
Pemeriksaan Endoskopi :
Nasoendoskopi maupun
Sinoskopi