Anda di halaman 1dari 42

http://mutsla.blogspot.in/2012/12/macam-macam-metode-pembelajaran-al-quran.html?

m=1
Macam-macam Metode
Pembelajaran Al-Qur'an
Dalam proses pembelajaran, metode
mempunyai peranan sangat penting dalam upaya
pencapaian tujuan pembelajaran.
a. Metode Iqro
Metode iqro adalah suatu metode membaca
Al-Qur'an yang menekankan langsung pada
latihan membaca. Adapun buku panduan iqro
terdiri dari 6 jilid di mulai dari tingkat yang
sederhana, tahap demi tahap sampai pada
tingkatan yang sempurna.
Metode Iqro ini disusun oleh Ustadz Asad
Human yang berdomisili di Yogyakarta. Kitab
Iqro dari ke-enam jilid tersebut di tambah satu
jilid lagi yang berisi tentang doa-doa. Dalam
setiap jilid terdapat petunjuk pembelajarannya
dengan maksud memudahkan setiap orang yang
belajar maupun yang mengajar Al-Qur'an.
Metode iqro ini dalam prakteknya tidak
mem-butuhkan alat yang bermacam-macam,
karena ditekan-kan pada bacaannya (membaca
huruf Al-Qur'an dengan fasih). Bacaan langsung
tanpa dieja. Artinya tidak diperkenalkan namanama huruf hijaiyah dengan cara belajar siswa
aktif (CBSA) dan lebih bersifat individual.
Adapun kelemahan dan kelebihan metode
Iqro adalah:
1. Kelebihan
a. Menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru
yang aktif melainkan santri yang dituntut
aktif.
b. Dalam penerapannya menggunakan klasikal
(membaca secara bersama) privat, maupun
cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilidnya dapat menyimak bacaan temannya yang
berjilid rendah).
c. Komunikatif artinya jika santri mampu

membaca dengan baik dan benar guru dapat


memberikan sanjungan, perhatian dan penghargaan.
d. Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya, boleh dengan sistem tadarrus, secara
bergilir membaca sekitar dua baris sedang
lainnya menyimak.
e. Bukunya mudah di dapat di toko-toko.
2. Kekurangan
a. Bacaan-bacaan tajwid tak dikenalkan
sejak dini.
b. Tak ada media belajar
c. Tak dianjurkan menggunakan irama
murottal .
b. Metode Al-Baghdad
Metode Al-Baghdady adalah metode
tersusun ( tarkibiyah), maksudnya yaitu suatu
metode yang tersusun secara berurutan dan
merupakan sebuah proses ulang atau lebih kita
kenal dengan sebutan metode alif, ba, ta.
Metode ini adalah metode yang paling lama
muncul dan metode yang pertama berkembang
di Indonesia.
Cara pembelajaran metode ini adalah:
- Hafalan
- Eja
- Modul
- Tidak variatif
- pemberian contoh yang absolute
Metode ini mempunyai kelebihan dan
kekurang-an, yaitu:
1. Kelebihan
a. Santri akan mudah dalam belajar karena
sebelum diberikan materi, santri sudah hafal
huruf-huruf hijaiyah.
b. Santri yang lancar akan cepat melanjutkan
pada materi selanjutnya karena tidak
menunggu orang lain.
2. Kekurangan
a. Membutuhkan waktu yang lama karena harus
menghafal huruf hijaiyah dahulu dan harus

dieja.
b. Santri kurang aktif karena harus mengikuti
ustadz-ustadznya dalam membaca.
c. Kurang variatif karena menggunakan satu
jilid saja.
c. Metode An-Nahdhiyah
Metode An-Nahdhiyah adalah salah satu
metode membaca Al-Qur'an yang muncul di
daerah Tulungagung, Jawa Timur. Metode ini
disusun oleh sebuah lembaga pendidikan Maarif
Cabang Tulungagung. Karena metode ini
merupakan metode pengembangan dari metode
Al-Baghdady, maka materi pembelajaran AlQur'an tidak jauh berbeda dengan metode
Qiraati dan Iqro. Dan perlu diketahui bahwa
pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada
kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan
ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran AlQur'an pada metode ini lebih menekankan pada
kode Ketukan.
Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua
program yang harus diselesaikan oleh para
santri, yaitu:
1. Program buku paket yaitu program awal
sebagai dasar pembekalan untuk mengenal
dan memahami serta mempraktekkan membaca Al-Qur'an
2. Program sorogan Al-Qur'an yaitu program
lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk mengantarkan santri mampu membaca Al-Qur'an
sampai khatam.
Dalam metode ini buku paketnya tidak dijual
bebas bagi yang ingin menggunakannya atau
ingin menjadi guru pada metode ini harus sudah
mengikuti penataran calon guru metode AnNahdhiyah.
Dalam program sorogan Al-Qur'an ini santri
akan diajarkan bagaimana cara-cara membaca
Al-Qur'an yang sesuai dengan sistem bacaan
dalam membaca Al-Qur'an. Dimana santri
langsung praktek membaca Al-Qur'an besar.

Disini santri akan diperkenalkan beberapa sistem


bacaan, yaitu t artil, tahqiq, dan taghanni.
d. Metode Jibril
Terminology (istilah) metode jibril yang
digunakan sebagai nama dari pembelajaran AlQur'an yang diterapkan di PIQ Singosari Malang,
adalah dilatar belakangi perintah Allah SWT
kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti
bacaan Al-Qur'an yang telah diwahyukan melalui
malaikat Jibril. Menurut KH. M. Bashori Alwi
(dalam Taufiqur-rohman) sebagai pencetus
metode jibril, bahwa teknik dasar metode jibril
bermula dengan membaca satu ayat atau
lanjutan ayat atau waqaf, lalu ditirukan oleh
seluruh orang-orang yang mengaji. Sehingga
mereka dapat menirukan bacaan guru dengan
pas. Metode jibril terdapat 2 tahap yaitu tahqiq
dan tartil .
e. Metode Qiroati
Metode Qiroati disusun oleh Ustadz H.
Dahlan Salim Zarkasy pada tahun 1986
bertepatan pada tanggal 1 Juli. H.M Nur Shodiq
Ahrom (sebagai penyusun didalam bukunya
Sistem Qa'idah Qiraati Ngembul, Kalipare),
metode ini ialah membaca Al-Qur'an yang
langsung memasukkan dan mempraktek-kan
bacaan tartil sesuai dengan qa'idah ilmu tajwid
sistem pendidikan dan pengajaran metode
Qiraati ini melalui system pendidikan berpusat
pada murid dan kenaikan kelas/jilid tidak
ditentukan oleh bulan/tahun dan tidak secara
klasikal, tapi secara individual (perseorangan).
Santri/ anak didik dapat naik kelas/ jilid
berikutnya dengan syarat:
1. Sudah menguasai materi/paket pelajaran
yang diberikan di kelas.
2. Lulus tes yang telah diujikan oleh sekolah/
TPA.
1. Prinsip prinsip dasar Qiroati
a. prinsip-prinsip yang di pegang oleh guru/
ustadz yaitu:

- Tiwagas (teliti, waspada dan


tegas)
- Daktun (tidak boleh menuntun)
b. Prinsip-prinsip yang harus dipegang santri /
anak didik:
- CBSA : Cara belajar santri aktif.
- LCTB : Lancar cepat tepat dan
benar.
2. Strategi mengajar dalam Qiroati
Dalam mengajar Al-Qur'an dikenal beberapa
macam stategi. Yaitu:
1. Strategi mengajar umum (global)
a. Individu atau privat yaitu santri
bergiliran membaca satu persatu.
b. Klasikal Individu yaitu sebagian waktu
digunakan guru/ustadz untuk
menerangkan pokok pelajaran secara
klasikal.
c. Klasikal baca simak yaitu strategi ini
digunakan untuk mengajarkan membaca
dan menyimak bacaan Al-Qur'an orang
lain.
2. Strategi mengajar khusus (detil)
Strategi ini agar berjalan dengan baik maka
perlu di perhatikan syarat-syaratnya. Dan
strategi ini meng-ajarkannya secara khusus atau
detil. Dalam mengajar-kan metode qiroati ada I
sampai VI yaitu:
a. Jilid I
Jilid I adalah kunci keberhasilan dalam
belajar membaca Al-Qur'an. Apabila
Jilid I lancar pada jilid selanjutnya akan
lancar pula, guru harus memperhatikan
kecepatan santri.
b. Jilid II
Jilid II adalah lanjutan dari Jilid I yang
disini telah terpenuhi target Jilid I.
c. Jilid III
Jilid III adalah setiap pokok bahasan
lebih ditekankan pada bacaan panjang
(huruf mad).

d. Jilid IV
Jilid ini merupakan kunci keberhasilan
dalam bacaan tartil dan bertajwid.
e. Jilid V
Jilid V ini lanjutan dari Jilid IV. Disini
diharapkan sudah harus mampu
membaca dengan baik dan benar
f. Jilid VI
Jilid ini adalah jilid yang terakhir yang
kemudian dilanjutkan dengan pelajaran
Juz 27.
Juz I sampai Juz VI mempunyai target yang
harus dicapai sehingga disini guru harus lebih
sering melatih peserta didik agar target-target
itu tercapai. Metode ini mempunyai kelebihan
dan kekurangan antara lain:
Kelebihannya :
1. Siswa walaupun belum mengenal tajwid
tetapi sudah bisa membaca Al-Qur'an
secara tajwid. Karena belajar ilmu tajwid itu
hukumnya fardlu kifayah sedangkan
membaca Al-Qur'andengan tajwidnya itu
fardlu ain.
2. Dalam metode ini terdapat prinsip untuk
guru dan murid.
3. Pada metode ini setelah khatam
meneruskan lagi bacaan ghorib.
4. Jika santri sudah lulus 6 Jilid beserta
ghoribnya, maka ditest bacaannya kemudian
setelah itu santri mendapatkan syahadah
jika lulus test.
Kekurangannya:
Bagi yang tidak lancar lulusnya juga akan lama
karena metode ini lulusnya tidak ditentukan oleh
bulan/tahun.
Sumber: http://darussalamcommunity.blogspot.com/

Metode Pembelajaran Membaca Al


Quran
1.Metode Qiraati
Belajar adalah sebagai suatu proses di
mana seorang berubah perilakuknya akibat
pengalaman (Gagne, 1985). Pengalaman dapat
diperoleh melalui proses belajar, dengan
mengamati, melakukan, memikirkan dan
merefleksikan. Pengalaman akan menjadi
pengetahuan. Demikian pula dengan
pengetahuan Al Quran diperoleh dengan cara
yang sama. Membaca Al Quran merupakan
bagian dari pengetahuan Al Quran, diperoleh
dengan cara belajar, sehingga tidak ada orang
yang otomatis bisa, dalam belajar diperlukan
waktu, tenaga dan biaya (Hidayatullah, 1994).
Banyak ditemukan metode
pembelajaran membaca Al Quran mulai dari
al-Baghdadi, Qiraati, al-Barqi, Iqro, Insani,
Tartila dan lainnya, yang dapat mempermudah
pebelajar membaca Al Quran dengan cepat.
Cepat yang dimaksud yaitu cepat membaca
huruf Al Quran dengan menggunakan metode
Qiraati.
Metode Qiraati adalah suatu model
dalam belajar membaca Al Quran yang secara
langsung (tanpa dieja) dan menggunakan atau
menerapkan pembiasaan membaca tartil
sesuai dengan kaidah tajwid (Zarkasiy, 1989).
Ada dua hal yang mendasari dari definisi
metode Qiraati, yaitu membaca Al Quran
secara langsung dan pembiasaan dalam
membaca tartil sesuai dengan kaidah ilmu
tajwid.
Membaca Al Quran secara langsung
atau tanpa dieja, maksudnya adalah huruf yang
ditulis dalam bahasa Arab dibaca secara
langsung tanpa diuraikan cara melafalkannya
(Supardi, 2004). Pembelajaran membaca Al
Quran dengan menggunakan metode Qiraati
pembelajaran menggunakan kalimat yang

sederhana, sesuai dengan kebutuhan dan


tingkat materi. Target utama dari metode
Qiraati pebelajar dapat secara langsung
mempraktekan bacaan-bacaan Al Quran
secara bertajwid.
Metode Qiraati telah banyak
mengantarkan para pebelajar untuk dapat
secara cepat mampu membaca Al Quran
secara bertajwid. Diakui bahwa tujuan utama
metode Qiraati bukan semata-mata
menjadikan para pebelajar bisa membaca Al
Quran dengan cepat dan singkat melainkan
untuk menjadikan para pebelajar dapat
membaca Al Quran secara baik dan benar
sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
Ukuran standar kemampuan pebelajar
yaitu para pebelajar mampu membaca Al
Quran dengan lancar dan benar dan tidak
memberi kepada pebelajar yang bisa membaca
tetapi tidak lancar. Implikasi dari sistem itu
bahwa lama masa belajar tidak dapat
ditentukan dan ditarget tergantung dari
semangat, kemauan, dan kepatuhan pebelajar
kepada bimbingan pembelajar.
a.Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Metode
Qiraati
Seperti uraian sebelumnya metode
Qiraati merupakan bagian dari metode sintesis
(tharikah tharkibiyah) khususnya yang terkait
erat dengan sistem fenomena (Supardi, 2004).
Metode Qiraati dalam pembelajaran di mulai
dengan pengenalan lambang atau bunyi huruf
kepada pebelajar, selanjutnya dengan
merangkai kata menjadi kalimat sehingga
dapat dengan lancar membaca Al Quran.
Prinsip-prinsip dasar metode Qiraati adalah:
1.Praktis dan Sederhada
Artinya lansung (tanpa dieja atau
diuraikan) sebagai contoh: bila A-Ba (
)
tidak dieja alif fatha Aba fatha B =A-Ba ( )
dan tidak juga dibaca Aa-Baa. Secara

kuantitatif jumlah kata yang digunakan bila


dibaca secara langsung jauh lebih sedikit
daripada jumlah suku kata yang digunakan
dengan dieja atau diuraikan.
Kalimat yang dipakai harus sederhana,
menunjuk pada realitas bentuk tulisan teks
yang akan dibaca atau menghindari kalimat
yang bersifat teoritik atau deskriptif. Gunakan
kalimat: perhatikan ini! Bunyinya
(Ba),
jangan mengatakan yang bentuknya begini,
seperti ini bunyinya adalah untuk
membedakan antar huruf

cukup
membedakan perhatikan titiknya ini, atau
atau ini .
Mengajarkan bentuk huruf yang
bersambung atau bergandeng, tidak
diperkenankan mangatakan ini huruf di depan,
ini di tengah dan ini di belakang katakan saja
ini sama bunyinya. Apabila satu huruf bisa
berubah bentuknya seperti , maka
katakan
, memiliki bentuk yang beragam
dan dibaca dengan cara yang sama.
Anak usia (7-11 tahun) menurut
Piaget sebagai masa operasional konkrit
(Slavin, 1994). Artinya di dalam proses
pembelajaran, materi pelajaraan yang di
sampaikan diusahakan dengan bahasa yang
sesederhana mungkin, tidak menggunakan
uraian kalimat yang panjang karena pada masa
itu kemampuan verbal pebelajar masih terbatas
pada hal-hal yang nyata (konkrit).
Menurut teori kognitif, dengan katakata yang diuraikan, pebelajar akan mengalami
kesulitan dalam menangkap informasi yang
disampaikan. Banyaknya informasi,
menyulitankan pebelajar dalam menangkap
informasi mana yang penting dan kurang
penting, sehingga lebih banyak informasi itu
terbuang (Slavin, 1994). Dengan demikian,
proses pembelajaran dengan menggunakan
bahasa yang sederhana dan singkat bagi

pebelajar akan lebih efektif bila dibandikan


dengan menggunakan kata-kata yang
diuraikan. Teori belajar kognitif memusatkan
perhatian pada struktur-struktur dan prinsipprinsip kognitif yang bertindak sebagai
jembatan antara stimuli pembelajar dan
respon-respon pebelajar. Pembelajar dipandang
sebagai pengkonstruksi makna dari
pembelajaran, bukan makan yang terletak
secara terpisah dalam pembelajaran (Setyosari,
2001).
2)Sedikit Demi Sedikit
Pembelajaran dengan menggunakan
metode Qiraati dilakukan dengan santai dan
tidak tergesa-gesa untuk melanjutkan pada
bagian lain. Pebelajar dapat diperkenankan
untuk menambah materi pada pembelajaran
berikutnya bila sudah bisa membaca dengan
lancar dan bertajwid. Demikian pula halnya
dengan mengajarkan materi utama maupun
materi tambahan seperti mengajarkan materi
menghafal surat Al Fatihah, dilakukan dengan
sedikit demi sedikit, dan tidak mengajarkannya
secara utuh. Tambahan materi diberikan jika
telah manghafal dengan secara baik materi
yang diberikan. Demikian seterusnya, sehingga
surat-surat pendek dihafal dan anak mampu
membaca Al Quran dengan bertajwid.
Berikan materi Qiraati sesuai
kemampuan pebelajar, apabila pebelajar hanya
mampu satu halaman sehari bahkan kurang
dari itu maka janganlah dipaksa, demikian pula
bagi para pebelajar yang mampu beberapa
halaman setiap harinya, maka sebaiknya
diberikan motivasi dan tetap dibimbing sebagai
wujud menghargai kemampuannya. Menurut
Carroll (dalam Winkel, 1999), kemampuan
pebelajar dipandang sebagai ukuran kecepatan
dalam belajar, yaitu jumlah waktu yang
diperlukan oleh pebelajar untuk sampai pada
tingkat pengusaan atau tingkat keberhasilan

tertentu. Dengan demikian, pebelajar yang


pandai akan menguasai pelajaran dalam waktu
yang lebih singkat, dibandingkan dengan
pebelajar yang tidak begitu pandai, pebelajar
yang lebih cerdas memerlukan waktu yang
lebih sedikit, jika dibandingkan dengan
pebelajar yang kurang pandai memerlukan
waktu yang lebih lama untuk menguasai materi
pelajaran yang sama.
Setiap pebelajar dipandang mampu
untuk menguasai materi pelajaran secara
memuaskan, asal disediakan waktu yang cukup
baginya, perbedaan kemampuan antara
pebelajar, diukur menurut waktu yang
deperlukan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Namun, pebelajar yang tidak
sepenuhnya menggunakan waktu yang
disediakan dan tidak belajar dengan sungguhsungguh selama waktu yang disedikan juga
tidak akan mencapai tingkat penguasaan yang
diharapkan. Dengan demikian, tingkat
penguasaan dalam belajar bergantung baik
pada jumlah waktu yang disedikan, maupun
juga pada jumlah waktu yang sebenarnya
digunakan untuk belajar dengan sungguhsungguh.
3)Bimbing dan Arahkan
Seorang pembelajar cukup mengulangi
berkali-kali contoh di atas pada setiap bab,
tidak menuntut membaca pada bagian latihan
di bawahnya, sehingga anak mampu membaca
sendiri setiap bab yang telah diajarkan. Metode
ini menjadikan anak-anak betul-betul paham
dengan pelajaran yang tidak dihafal. Anak
mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu,
mempunyai kemauan dan aspirasi sendiri.
Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain
dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang
lain, belajar hanya mungkin terjadi apabila anak
aktif mengalami sendiri. Belajar menyangkut
apa yang harus dikerjakan pebelajar untuk

dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus


datang dari dirinya sendiri. Pembelajar sekedar
pembimbing dan pengarah (John Dewey dalam
Devies, 1987).
Pengetahuan dibentuk oleh individu,
yakni melalui proses interaksi antara pebelajar
dengan lingkungannya, dengan adanya
interaksi itu pengetahuan terus berkembang
(Piaget dalam Dimyati dan Mujiono, 1994).
Menurut teori kognitif, belajar menunjukan
adanya jiwa yang aktif, jiwa mengelola
informasi yang kita terima, tidak sekedar
menyimpannya saja tanpa mengadakan
trasformasi (Gage dan Berliner 1984). Anak
memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu
mencari sesuatu. Pembelajaran membaca Al
Quran dengan metode Qiraati lebih bersifat
mengarahkan dan membimbing, pebelajar
untuk aktif, kreatif dalam belajar membaca Al
Quran, sehingga tidak dibenarkan dalam
membaca Al Quran pembelajar membacakan
semua tulisan yang ada pada setiap
halamannya, pembelajar hanya menegur dan
memperbaiki bacaan pebelajar yang salah.
4)Memberi Rangsangan untuk Saling Berpacu
Seperti telah dikemukakan sebelumnya
bahwa mengajarkan membaca Al Quran
dengan metode Qiraati kepada anak tidak boleh
dipaksakan, apalagi dengan cara keras,
sehingga daya nalar dan kreativitas anak mati.
Anak belajar membaca Al Quran karena
termotivasi oleh kebutuhan, dorongan, dan
tujuan.
Kebutuhan terjadi bila individu merasa
ada ketidak seimbangan antara apa yang ia
miliki dengan yang ia harapkan; dorongan
merupakan kekuatan mental untuk melakukan
kegiatan dalam rangka memenuhi harapan
atau pencapaian tujuan; tujuan adalah hal yang
ingin dicapai oleh seorang individu (Siagian,
1989). Keinginan untuk dapat membaca Al

Quran dengan benar. Cara tepat diterapkan


dengan membiasakan berkompetisi dalam
kelas, sebab kompetisi yang sehat dapat
mencerdaskan anak, sehingga metode Qiraati
dibentuk dengan berjilid, apabila anak naik
tingkat maka secara otomatis temannya akan
bersemangat dan termotivasi. Pembelajaran
yang bertujuan menumbuhkan motivasi belajar
pebelajar diantaranya evaluasi harus sering
diselenggarkan, baik sifatnya harian, per pokok
bahasan, per jilid, serta mengadung
perbadingan dengan pebelajar yang lain
(Winkel, 1999).
5)Waspada dengan Bacaan Salah
Lupa menjadi sebuah kebiasaan bagi
setiap orang apalagi anak yang sedang belajar,
maka dalam pembelajaran membaca Al Quran
dengan metode Qiraati lupa bukan sesuatu hal
yang perlu dirisaukan atau bahkan dianggap
remeh. Kebiasaan lupa merupakan kebiasaan
yang harus diingatkan tidak kemudian
dibiarkan, sehingga menyebabkan kebiasaan
selalu salah dalam membaca. Supaya
kebiasaan salah tidak berkelanjutan dalam
proses pembelajaran, maka perlu diantisipasi
dengan mewaspadai jangan sampai
membiarkan pebelajar membaca salah,
menegur langsung tidak menunggu waktu
sampai akhir ayat atau akhir bacaan.
Kegiatan belajar diperlukan motivasi
dari pembelajar dan usaha-usaha tentang cara
belajar efektif agar kesalahan dan lupa dapat
dikurangi oleh pebelajar. Hal ini dapat
dilakukan dengan memberikan tes secara
berkala dan kontinyu, serta memberikan umpan
balik kepada pebelajar mengenai keberhasilan
atau kegagalan saat itu juga. Pebelajar yang
ternyata belum menguasai bahan tertentu,
harus melakukan usaha-usaha perbaikan
program pembelajaran, perbaikan dapat
terlaksana melalui pengajaran kembali kepada

kelompok yang belum menguasai, melalui


pembelajaran remedial secara individu (Winkel,
1999). Dengan langkah semacam ini secara
otomatis pebelajar akan melakukan persiapan
belajar sebelum proses pembelajaran, dan
pebelajar akan lebih konsentrasi dalam belajar,
karena kurang konsentrasi dapat menyebabkan
lupa dan salah dalam belajar. Lupa dan salah
mengharuskan pebelajar mengulang pada
materi yang sama, dan tertinggal oleh
pebelajar lain.
b.Kelebihan Buku Qiraati Jilid 1-6
Jilid 1-6 merupakan rangkaian materi
yang dijadikan pelajaran pada metode Qiraati,
memiliki kelebihan dibandingkan dengan
metode lain, yaitu:
1.Sistematis (materi yang disampaikan
dimulai dari
yang paling
mudah).
Jilid 1, pembelajaran di awali
dengan pengenalan hurufhuruf berharakat fathah ( ),
dari huruf Alif ( ) sampai Ya (
) , dan huruf-huruf mulai
dirangkai, misalnya: pada
halaman pertama A-Ba (
)
dan halaman terakhir Sahada
( ) , membaca tidak boleh
terputus-putus.
Jilid 2, pebelajar dikenalkan
dengan harakat dhamah ( ),
kasrah ( ), tanwin ( )dan
bacaan panjang). misalnya:
Saiigatan ( ) dan Faala
( ) .
Jilid 3, pebelajar ditekankan
dalam kesetabilan membaca
panjang, pebelajara mulai
dikenalkan dengan harakat
sukun ( ), misalnya:Mariidhaa

(
) , Qadiiri ( )
Jilid 4, pebelajar dikenalkan
bacaan dengung (ikhfa),
tasydid, danbacaan panjang
(6 harakat), misalnya: bacaan
ikhfa ( ) , bacaan
tasydid (

) , bacaan
panjang 6 harakat
(
) .
Jilid 5, pebelajar dikenalkan
bacaan dengung (idgham),
cara berhenti (waqaf),
misalnya: bacaan idgham
( )
Jilid 6, pebelajar dikenalkan
bacaan jelas (idzhar),
misalnya: (
)
2.Pemindahan halaman pada setiap
jilid harus sesuai dengan amanah
(sekalipun satu kalimat salah,
belum dapat pindah halaman
berikutnya).
3.Pembelajaran di kelas dilakukan
selama 60 menit, yaitu: 15 menit
pertama (klasikal), 30 menit
(individual), 15 menit kedua
(klasikal). Pembelajaran klasikal
dalam metode Qiraati dilakukan
dengan cara pembelajar dan
pebelajar secara bersama-sama
membaca alat peraga (membaca
tulisan di depan disertai ketukkan
secara bersama-sama, dilanjutkan
membaca doa-doa) materi
disesuikan dengan jilid masingmasing. Pembelajaran individual
dalam metode Qiraati dilakukan
dengan cara pebelajar membaca
materi di depan pembelajar (buku
Qiraati jilid 1-6), banyaknya
halaman disesuaikan dengan

tingkat kemampuan dan hasil


membaca di rumah (deres), cara
ini dikenal juga dengan sistem
sorogan.
c.Jenjang Pembelajaran Metode Qiraati
Pembelajaran metode Qiraati memiliki
empat jenjang, yakni: (1) tingkat persiapan
atau pemula; (2) tingkat dasar; (3) tingkat
menengah; dan (4) madrasah tahfidul Quran.
Pada tingkat persiapan atau permulaan
pebelajar ditargetkan menyelesaikan 6 jilid
buku Qiraati dan sudah mampu membaca Al
Quran meskipun belum begitu lancar. Pada
tingkat dasar, pebelajar ditargetkan mampu
membaca Al Quran dengan lancar, paham
makhrajul huruf, khatam 30 juz Al Quran,
menguasai gharibul Quran dan menguasai ilmu
tajwid. Pada tingkat menengah orentasi utama
materi yaitu percakapan bahasa Arab sebagai
awal untuk memahami kitab-kitab agama
Islam, dan pendalaman terhadap kajian Al
Quran. Adapun yang terakhir pada tingkat
madrasah tahfidul Quran ditetapkan pada
tingkat menghafal Al Quran, tentunya dengan
jumlah pebelajar yang relatif sedikit.
2.Metode Iqro
Metode Iqro adalah metode
pembelajaran membaca huruf-huruf hijaiyah
dari permulaan dengan disertai aturan bacaan,
tanpa makna dan tanpa lagu dengan tujuan
agar pebelajar dapat membaca Al Quran
sesuai dengan kaidahnya (Humam, 1990).
Huruf-huruf hijaiyah yang dimaksud adalah
huruf Arab dimulai dari Alif ( ) sampai huruf
Ya ( ) yang berjumlah 30 huruf.
Metode Iqro disusun oleh sebuah
Teim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan
Muslah (AMM) yang diketuai oleh ustad Asad
Humam dari Kotagede Yogyakarta pada tahun
1989. Yang melatar belakang penyususnan
Metode Iqro adalah karena metode

pembelajaran membaca Al Quran selama ini


banyak kekurangannya (Budiyanto, 2006).
Humam (1990) dalam kata pengantar
buku Iqro, secara eksplisit tidak dikatakan
bahwa buku Iqro dimaksud adalah sebuah
metode, namun secara implisit penyusun
mengatakan bahwa buku Iqro adalah metode
pembelajaran membaca Al Quran. Penyususun
berusaha mencari metode yang ideal dalam
membaca Al Quran dan buku Iqro merupakan
sebuah metode membaca Al Quran (Supriyadi,
1997). Menurut Mackey (1965 dalam Supriyadi,
1997) buku Iqro dapat disebut sebagai metode
pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Arab.
Dikatakan sebuah metode, karena buku Iqro
sudahmencakup yang dipersyaratkan Mackey
yaitu: seleksi (selection), gradasi (gradation),
presentasi (presentation), dan repetisi
(repetition).
a.Prinsip-prinsip Metode Iqro
Buku Iqro ini terbukti telah sanggup
mengantarkan anak-anak usia TK, sampai
orang tua (usia lanjut) mampu membaca Al
Quran dalam waktu yang relatif singkat
dibandingkan dengan cara lama (Baghdadiyah)
(Anwar, 1993; Safii, 1993 dan Budiyanto,
1995). Fakta tersebut dapat disimpulkan
bahwa buku Iqro disusun berdasarkan prinsipprinsip sebagai berikut:
1)At-thariqah As-shoutiyah
Langsung dibaca atau langsung
diajarkan menurut bunyi suaranya. Maka Alif
bukan dijabarkan namanya ini
hurufAlifmelainkan diajarkan bunyi suaranya
a bagi yang bertanda fathah, i bagi yang
bertanda kasrah dan u bagi yang bertada
dhamah (Budiyanto, 1995).Pebelajar dapat
membaca bunyi huruf hijaiyah, karena
menekankan sistem membaca langsung atau
membaca huruf yang sudah diberi tanda baca.
Pebelajar dapat membaca huruf Al Quran

secara langsung, dengan tidak diuraikan atau


dieja.
Ditinjau dari segi psikologi belajar,
nampaknya At-thariqah As-shoutiyah lebih
mudah dilakukan anak-anak, karena proses
berfikir yang lebih sederhana, lebih singkat dan
mengurangi verbalitas. Membaca secara
langsung susunan kata yang diperlukan
menjadi lebih sedikit dan sederhana, dan
mempermudah pebelajar dalam
mengucapkannya. Hal ini tidak
membingungkan bagi pebelajar, khususnya
pada tingkat pemula, terutama anak-anak.
Menurut Piaget, pada masa operasional
konkrit, diusahakan pembelajaran
dilangsungkan sesederhana mungkin, agar
mempermudah pebelajar di dalam menangkap
materi pelajaran.
2)At-thariqah Tadaruj
Berangsur-angsur, TKA/TPA ini masuk
6 kali dalam 1 minggu, tiap kali masuk
memakan waktu 60 menit, diperuntukkan:
pembukaan, 05 menit (salam dan doa);
klasikal I, 10 menit (hafalan); privat, 30 menit
(belajar buku Iqro); klasikal II, 10 menit
(bermain, cerita dan menyanyi); penutup, 05
menit (doa dan salam). Pembagian waktu di
atas dapat diketahui bahwa untuk pelajaran
membaca (belajar membaca Iqro jilid 1-6)
dilakukan secara privat, artinya tiap pebelajar
dihadapi oleh seorang pembelajar. Masingmasing pebelajar mendapatkan jatah waktu
antara 5-10 menit untuk belajar Iqro dengan
seorang pembelajar, dengan cara bergantian.
Dengan demikian waktu untuk belajar
membaca tidak lebih dari 10 menit tiap kali
pertemuan. Waktu 10 menit adalah waktu
maksimal daya konsentarsi anak usia TK
(Budiyanto, 1995).
Karena prinsip yang berangsur-angsur
tersebut di atas, maka anak usia TK akan

dapat mempelajari buku Iqro ini dengan pelanpelan bertahap dan tanpa ada perasaan
tertekan. Lebih-lebih bila melihat bahwa buku
Iqro disusun dalam buku kecil yang tipis
dengan sampul yang warna-warni, maka bukan
perasaan tertekan dalam diri anak tetapi justru
tumbuh perasaan sense of success.
3)At-thariqah Riyadlotuil Athfal
Riyadlotuil Athfal adalah suatu prinsip
dalam pembelajaran yang diutamakan belajar
dari pada mengajar (Budiyanto, 1995), atau
dengan perkataan lain pembelajaran yang
menekankan keaktifan pebelajar secara fisik,
mental, intelektual dan emosional (Dimyati dan
Mujiono, 1994). Pembelajaran semacam itu
dimaksudkan untuk memperoleh hasil belajar,
yang merupakan perpaduan tiga ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik, jika disandarkan pada
taksonomi Bloom.
Prinsip ini memang sangat pentingkan,
dalam pembelajaran buku Iqro seorang
pembelajar hanya diperkenankan menerangkan
dan memberikan contoh bacaan yang
tercantum dalam pokok bahasan, sedangkan
bacaan pada lembar kerja yang digunakan
sebagai latihan pebelajar, pembelajar tidak
boleh ikut membacakan atau menuntunnya.
Pebelajarlah yang dituntut untuk aktif
membacanya, dan pembelajar hanya bertugas
menyimak dan memberi motivasi, koreksi dan
komentar-komentar seperlunya.
Pembelajar tidak lagi diperkenankan
memberikan contoh dalam setiap halamannya,
sehingga pebelajar dibiarkan membaca sendiri
di bawah bimbingan pembelajar. Kalau ada
kesalahan pembelajar, cukup dengan
mengingatkan misalnya; eeeiss. dan lain
sebagainya, tidak diperkenankan untuk
membacakan. Apabila pebelajar membaca
benar beri motivasi misalnya; betul, terus,
he-eh dan lain sebagainya.

4)At-Tawassui Fi-lmaqaasid Lafil Alat


At-Tawassui Fi-lmaqaasid Lafil Alat
adalah pembelajaran berorentasi pada tujuan,
bukan kepada alat yang dipergunakan untuk
mecapai tujuan itu. Dengan demikian yang
dipentingkan adalah tercapainya tujuan yang
telah dirumuskan.
Kaitanya dengan pembelajaran
membaca Al Quran, tujuan yang hendak
dicapai adalah pebelajar bisa membaca Al
Quran dengan baik dan benar sesuai dengan
kaidah-kaidah tajwid yang ada. Mengenai
kemampuan mengenal nama-nama huruf,
kemampuan mengeja, mengetahui ilmu tajwid
adalah termasuk alat untuk tercapainya tujuan
tersebut. Untuk itu, penguasaan pebelajar
terhadap alat cukup sekedarnya saja
(Budiyanto, 1995).
Tujuan pembelajaran itu dapat tercapai
dengan melakukan latihan-latihan membaca.
Dengan banyak latihan akan memperkuat
retensi pebelajar (Degeng, 1988). Pembelajaran
membaca Al Quran dapat tercapai dengan baik
dengan cara melakukan latihan-latihan
membaca. Latihan ini dimaksud untuk
memberikan penguatan. Pembelajaran
membaca dengan latihan-latihan dikenal
dengan metode assosiasi atau pengulangan
yang dimaksudkan untuk memperkuat
tanggapan pebelajar (Herbart dalam Rohmat,
1995). Lebih lanjut menurut Zuhairini (1983)
dalam pembelajaran pendidikan agama Islam
metode pengulangan dipakai untuk melatih
dalam pembelajaran membaca Al Quran.
Wirjodijoyo (1989) mengatakan bahwa latihanlatihan penguatan yang masing-masing
menyumbang pada penguasaan belajar, secara
rinci dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
(1) latihan intensif: latihan keaktifan yang
segera mengikuti pembelajaran dan digunakan
untuk mengurangi kemungkinan kehilangan

ingatan dengan segera; dan 2) latihan


teraturan: keaktifan yang dilakukan secara
berkala untuk menjamin apa yang dipelajari
pebelajar tetap dikuasai.
5)At-Thariqah Bimuraa-atil Listidaadi Walthabiiy
Pembelajaran itu haruslah
memperhatikan kesiapan, kematangan,
potensi-potensi dan watak pebelajar.
Pembelajaran yang tidak memperhatikan
masalah ini akan menjadi pemaksaan yang
bisa mengakibatkan berantakannya usaha
pembelajaran secara keseluruhan. Pemaksaan
ini bisa terjadi kalau peserta didik belum siap
menerima suatu materi pembelajaran, karena
belum menguasai materi-materi yang menjadi
prasyarat bagi materi yang baru (Budiyanto,
1995).
Prinsip buku Iqro ini nampak pada
sistem penyusunannya. Oleh penyusunnya,
nampak sekali buku Iqro ini telah
diperhitungkan dengan cermat, sehingga tidak
terjadi loncatan-loncatan yang tidak
sistematis. Buku jilid 1 merupakan prasyarat
bagi jilid 2, dan jilid 2 merupakan prasyarat
bagi jilid 3 dan seterusnya. Setiap pebelajar
harus tunduk mengikuti tertib jilil yang telah
ditentukan, tidak boleh meloncat-loncat
(Budiyanto, 1995).
b.Kelebihan Buku Iqro
Kelebihan buku Iqro jilid 1-6 adalah
sebagai berikut:
1.Adapun klasifikasi dalam tiap jilidnya
buku Iqro.
Jilid 1, disajikan kepada pebelajar yang sama
sekali belum mengenal huruf hijaiyah,
membaca secara langsung huruf Alif ( )
sampai huruf Ya ( ) . Pebelajar membedakan
huruf-huruf yang memiliki persamaan
makhrajul hurufnya, seperti Alif ( ) dengan A (
), Ha( ) dengan Ha ( ) , Ja ( ) dengan

Za ( ) , Sa ( ) dengan Sod( ) , Da ( )
dengan Dza ( ) dan lainnya.
Jilid 2, pebelajar mulai menyempurnakan
bacaan. Pebelajar bisa membaca huruf-huruf
sambung, misalnya; kalimat Kajada ( ) ,
pembelajar tidak perlu menjelaskan, ini Ka (
)
di muka, ini Ja ( ) di tengah, dan seterusnya.
Pebelajar diajarkan hukum bacaan mad/
panjangfathah bertemu Alif ( -) .
Jilid 3,pebelajar sudah diperkenalkan harakat
kasrah ( ), dhamah( ), dan sukun ( ), dengan
jumlah huruf dalam setiap katanya lebih dari
tiga, dan pebelajar mulai diperkenalkan dengan
bacaan mad/panjang, kasrah bertemu dengan
Ya sukun ( -
) dan dhamah bertemu dengan
Wawu sukun ( -) .
Jilid 4,pebelajar sudah diperkenalkan dengan
harakat tanwin ( ), misalnya: lafal Hasyiman (

) , Baqaratin ( ) dan Samiiun (
). Pebelajar sudah diperkenalkan dan cara
mengucapkah huruf-huruf qalqalah.
Jilid 5 pebelajar diperkenalkan bacaan Alif-lam
qamariyah, tanda wakaf, mad fari, alif lam
samsiyah, lafal jalalah, dan idgham.
Jilid 6, pebelajar tidak mengenal istilah-istilah
dalam ilmu Tajwid seperti; ikhfa, idhar, iqlab
dan lainnya. Yang penting secara praktis
pebelajar dapat membaca dengan baik dan
benar. Pada jilid ini kalimatnya yang dibaca
mulai panjang-panjang dan adanya sedikit
cuplikan beberapa ayat Al Quran. Pebelajar
diperkenalan tanda waqaf dan bacaan waqaf,
dancara baca huruf-huruf fawatihussuwar
(Budiyanto, 1995).
2.Adanya rambu-rambu penyajian
materi pelajaran, seperti; bacalah
langsung A-Ba dan seterusnya,
tidak perlu diurai/dieja, bacaan
harus jelas beda, mana panjang
mana pendek, keliru baca
panjang-pendek adalah kesalahan

besar, penting!, bedakan


dengan jelas, coba ulangi lagi,
biar pelan. asal benar ulangiulangilah! Sampai tidak keliru
lagi, maaf jangan diteruskan
dulu!, bila masih keliru panjang
pendeknya, walau lancar tapi tak
benar jangan dilanjutkan, ulangi
sampai betul semua dan lain
sebagainya. Hal ini mendorong
perhatian pebelajar dalam belajar,
dan juga menjadi perhatian pula
bagi pembelajar, agar lebih teliti
dan perhatian dalam menyimak
bacaan pebelajar (Human, 2002).
3.Sistem pembelajaran dengan metode
Iqro diawali pembukaan, 05 menit
(salam dan doa); klasikal I, 10
menit (hafalan); privat, 30 menit
(belajar Iqro); klasikal II, 10 menit
(bermain cerita dan menyayi);
penutup, 05 menit (doa dan
salam).
Pembelajaran metode Iqro
dilangsungkan dengan cara privasi
(pembelajaran individual)
(Taringan, 1989). Pembelajar
mendengarkan satu persatu
bacaan pebelajar, dengan demikian
apabila jumlah pebelajar sangat
banyak, maka pebelajar yang lebih
tinggi tingkatnya diperkenakan
untuk membantu pembelajar
dengan menyimak bacaan
pebelajar lain.
Pembelajaran dengan mengunakan
metode Iqro dianjurkan pelanpelan dengan bacaan terputusputus pada setiap hurufnya. Ada
penekanan dalam membaca setiap
hurufnya agar lebih fasih (Humam,

2000). Cara membaca dapat


dilakukan dengan cara kelompok
agar lebih semarak, dan dapat
menumbuhkan semangat bagi
pebelajar.
c.Jenjang Pembelajaran Metode Iqro
Pembelajaran menurut metode Iqro
memiliki delapan jenjang, yakni: (1) TKA/TPA;
(2) TKAL/TPAL; (3) TQA; (4) kursus tartil
Quran; (5)keterpaduan BKB-TKA/TPA; (6)
Iqro klasikal di sekolah; (7) diklat ustadz; (8)
kursus seni baca Al Quran. Untuk
pembelajaran ilmu tajwid ada pada jenjang
TKAL/TPAL.
Tingkat TKA/TPA, pebelajar
ditargetkan menyelesaikan 6 jilid buku Iqro.
Pada tahap TKAL/TPAL, pebelajar sudah
mampu membaca Al Quran dengan benar dan
lancar (sesuai dengan kaidah tajwid). Pada
tingkat TQA, pebelajar ditargetkan mampu
membaca Al Quran dengan benar dan lancar
dan memahami isi Al Quran dan
mengamalkannya. Kursus tartil Al Quran,
menyiapkan para ustadz, dai, imam, khatib
dan sebagainya. Keterpaduan BKB adalah
mempersiapkan ibu-ibu untuk dapat mendidik
anak-anaknya sendiri dalam membaca Al
Quran. Iqro klasikal di sekolah, bermaksud
menerapkan buku Iqro di sekolah formal.
Diklat ustadz, dimaksudkan untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas para
pembelajar/ustadz. Kursus seni baca Al Quran,
mencetak Qori/Qoriah berkualitas, mantap
serta memiliki dasar-dasar ilmu seni baca Al
Quran (Budiyanto., dkk, 2003).
Daftar Pustaka
Budiyanto, M, dkk. 2003. Ringkasan
Pengelolaan, Pembinaan dan
Pengembangan Gerakan Membaca,
Menulis, Memahami, Mengamalkan
dan Memasyarakatkan Al Quran.

Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional


dan Yayasan Team Tadarus AMM
Yogyakarta.
Dimyati dan Mujiono. 1999. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
DIKTI.
Gage, N.L. dan David, C.Berliner. 1984.
Educational Psychology. Chicago:
Rand Mc. Nally College Publishing
Compony.
Gagne, R.M. 1985. The Conditions of Learning
and Theory of Instruction, Fourth
edition. New York: Holt Rinehaert and
Winston.
Hidayatullah. 1994. Mutiara al-Quran. Edisi II
tahun IV, Maret.
Humam, A. 2000. Cara Cepat Membaca Al
Quran.Yogyakarta: Balai Litbang
LPTQ Nasional dan Team Tadarus
AMM
Setyosari. P. 2001. Rancangan Pembelajaran
Teori dan Praktis. Malang: Elang Mas.
Siagian, S.P. 1989. Teori Motivasi dan
Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.
Slavin, R. 1997. Educational Psychology:
Theory and Practice. Allyn and Bocon.
Supardi. 2004. Perbandingan Membaca AlQuran bagi Pebelajar Pemula di TKA/
TPQ Masjid Quba dan Masjid al-Amin
Burengan Malang. Tesis tidak
diterbitkan. Malang: PPS UM.
Tarigan, H.G. 1989. Metode Pengajaran
Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan.
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan P2LPTK.
Winkel, W.S. 1999. Psikologi Pengajaran.
Jakarta: Gramedia.
Zarkasiy, D.S. 1989. Pelajaran Ilmu Tajwid
Praktis. Semarang: Yayasan
Pendidikan al-Quran Raudatul
Mujawwidin.

[1] Disampaikan dalam pelatihan guru TPA/


TPQ di Sendangbumen Berebek Nganjuk, 7 Juni
2014.
Oleh A. Jauhar Fuad
07 Jun 2014 | 08:52

Lajnah Tarbiyyatul Islaamiyyah "Shohibul


Barokah"
Metode Pengajaran Baca Tulis al-Qur'an1
Metode Pengajaran Baca Tulis al-Qur'an1
di sadur dari seminar mas komari barokallohu lahu
A. Muqoddimah
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita,
terutama di rumah-rumah keluarga muslim
semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al
Qur'an. Hal ini disebabkan karena terdesak
denganmunculnya berbagai produk sain dan
tehnologi serta derasnya arus budaya asing yang
semakinmenggeser minat untuk belajar membaca
Al Qur'an sehingga banyak anggota keluarga
tidakbisa membaca Al Qur'an. Akhirnya kebiasaan
membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka.
Yangada adalah suara-suara radio, TV, Tape
recorder, karaoke, dan lain-lain.Keadaan seperti ini
adalah keadaan yang sangat memprihatinkan.
Belum lagi masalahakhlak, akidah dan pelaksanaan
ibadahnya, yang semakin hari semakin jauh dari
tuntunanRasululloh _ . Maka sangat diperlukan
kerjasama dari semua fihak untuk mengatasinya.
Yaitumengembalikan kebiasaan membaca Al
Qur'an di rumah-rumah kaum muslimin dan
membekalikaum muslimin dengan nilai-nilai Islam,
sehingga bisa hidup secara Islami demi
kebahagiaandunia dan akhirat.
Pada dekade belakangan ini telah banyak metode
pengajaran baca tulis Al-Qur'andikembangkan,
begitu juga buku-buku panduannya telah banyak
disusun dan dicetak. Parapengajar baca tulis AlQur'an tinggal memilih metode yang paling cocok
baginya, paling efektifdan paling murah.Dunia
pendidikan mengakui bahwa suatu metode
pengajaran senantiasa memiliki kekuatandan
kelemahan.
Keberhasilan suatu metode pengajaran sangat
ditentukan oleh beberapa hal,yaitu :
1. Kemampuan guru.
2. Siswa

3. Lingkungan.
4. Materi pelajaran.
5. Alat pelajaran.
6. Tujuan yang hendak dicapai.
Dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an harus
menggunakan metode. Dengan menggunakanmeto
de yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat
keberhasilan yang lebih tinggi dan meratabagi
siswa.3
B. Metode-metode baca tulis Al-Qur'an di
Indonesia.
Metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an
telah banyak berkembang di Indonesiasejak lama.
Tiap-tiap metode dikembangkan berdasarkan
karakteristiknya.
1. Metode Baghdadiyah.
Metode ini disebut juga dengan metode Eja ,
berasal dari Baghdad masa pemerintahan
khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti
siapa penyusunnya. Dan telah seabad lebih
berkembang secara merata di tanah air.
Secara dikdatik, materi-materinya diurutkan dari
yang kongkrit ke abstrak, dari yangmudah ke yang
sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi
yang terinci ( khusus ). Secaragaris besar, Qoidah
Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf
hijaiyyah selalu ditampilkansecara utuh dalam tiap
langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi
tema central denganberbagai variasi. Variasi dari
tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa
(enak didengar )karena bunyinya bersajak
berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf
yang sama. Metode inidiajarkan secara klasikal
maupun privat.
Beberapa kelebihan Qoidah Baghdadiyah antara
lain :
a. Bahan/materi pelajaran disusun secara
sekuensif.
b. 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada
setiap langkah secara utuh sebagai tema
sentral.

c. Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun


secara rapi.
d. Ketrampilan mengeja yang dikembangkan
merupakan daya tarik tersendiri.
e. Materi tajwid secara mendasar terintegrasi
dalam setiap langkah.
1 Disampaikan pada Pelatihan Nasional Guru dan
Pengelola TK-TPA, Gedung LAN Makassar 24-26
Oktober 2008;
LP3Q DPP Wahdah Islamiyah
2 Praktisi TK-TPA, Penulis buku-buku pegangan
santri TK-TPA, Pengajar di SMPN 24 Makassar.
3 Metode-metode mengajar Al-Qur'an di sekolahsekolah Umum, Dirjen Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam
1994/1995 h. 64-65
Beberapa kekurangan Qoidah baghdadiyah antara
lain :
a. Qoidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui,
karena sudah mengalami beberapa modifikasi kecil.
b. Penyajian materi terkesan menjemukan.
c. Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat
menyulitkan pengalaman siswa.
d. Memerlukan waktu lama untuk mampu
membaca Al-Qur'an
2. Metode Iqro.
Metode Iqro disusun oleh Bapak As'ad Humam
dari Kotagede Yogyakarta dandikembangkan oleh
AMM ( Angkatan Muda Masjid dan Musholla )
Yogyakarta denganmembuka TK Al-Qur'an dan TP
Al-Qur'an. Metode Iqro semakin berkembang dan
menyebarmerata di Indonesia setelah munas DPP
BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur'an
danmetode Iqro sebagai sebagai program utama
perjuangannya.Metode Iqro terdiri dari 6 jilid
dengan variasi warna cover yang memikat
perhatian anak TK Al-Qur'an.
10 sifat buku Iqro adalah :
a. Bacaan langsung.
b. CBSA
c. Privat

d. Modul
e. Asistensi
Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode Iqro
antara lain :
a. TK Al-Qur'an
b. TP Al-Qur'an
c. Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid/
musholla
d. Menjadi materi dalam kursus baca tulis AlQur'an
e. Menjadi program ekstra kurikuler sekolah
f. Digunakan di majelis-majelis taklim
3. Metode Qiroati
Metode baca al-Qu ran Qira'ati ditemukan KH.
Dachlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari
Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan
sejak awal 1970-an, ini memungkinkan
anakanakmempelajari al-Qur'an secara cepat dan
mudah..
Kiai Dachlan yang mulai mengajar al-Qur'an pada
1963, merasa metode baca al-Qur'anyang ada
belum memadai. Misalnya metode Qa'idah
Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yangdianggap
metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan
tidak mengenalkan cara baca tartil(jelas dan tepat,
red.) Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid
buku Pelajaran Membaca al-Qur'anuntuk TK alQur'an untuk anak usia 4-6 tahun pada l Juli
1986. Usai merampungkanpenyusunannya, KH.
Dachlan berwasiat, supaya tidak sembarang orang
mengajarkan metodeQira'ati. Tapi semua orang
boleh diajar dengan metode Qira'ati.Dalam
perkembangannya, sasaran metode Qiraati kian
diperluas. Kini ada Qiraati untukanak usia 4-6
tahun, untuk 6-12 tahun, dan untuk mahasiswa.
Secara umum metode pengajaran Qiroati adalah :
a. Klasikal dan privat
b. Guru menjelaskan dengan memberi contoh
materi pokok bahasan, selanjutnya siswa
membaca sendiri ( CBSA)
c. Siswa membaca tanpa mengeja.

d. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk


membaca dengan tepat dan cepat.
4. Metode Al Barqy
Metode al-Barqy dapat dinilai sebagai metode
cepat membaca al-Qur'an yang palingawal.
Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN
Sunan Ampel Surabaya, MuhadjirSulthon pada
1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa
SD Islam at-Tarbiyah,Surabaya. Siswa yang
belajar metode ini lebih cepat mampu membaca
al-Qur'an. Muhadjir lantasmembukukan metodenya
pada 1978, dengan judul Cara Cepat Mempelajari
Bacaan al-Qur'an al-Barqy.
MUHADJIR SULTHON MANAJEMEN (MSM)
merupakan lembaga yang didirikanuntuk membantu
program pemerintah dalam hal pemberantasan
buta Baca Tulis Al Quran dan Membaca Huruf
Latin. Berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai
cabang di beberapa kotabesar di Indonesia,
Singapura & Malaysia.Metode ini disebut ANTI
LUPA karena mempunyai struktur yang apabila
pada saatsiswa lupa dengan huruf-huruf / suku
kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan
mudahdapat mengingat kembali tanpa bantuan
guru. Penyebutan Anti Lupa itu sendiri adalah dari
hasilpenelitian yang dilakukan oleh Departemen
Agama RI.Metode ini diperuntukkan bagi siapa saja
mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metodeini
mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa
sehingga secara langsung dapat MEMPERMUDAH
dan MEMPERCEPAT anak / siswa belajar
membaca. Waktu untuk belajar membaca Al Quran
menjadi semakin singkat.
Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan
metode ini adalah :
a Bagi guru ( guru mempunyai keahlian tambahan
sehingga dapat mengajar dengan lebih baik, bisa
menambah penghasilan di waktu luang dengan
keahlian yang dipelajari),
b Bagi Murid ( Murid merasa cepat belajar
sehingga tidak merasa bosan dan menambah

kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan


mengusainya dalam waktu singkat, hanya satu
level sehingga biayanya lebih murah),
c Bagi Sekolah (sekolah menjadi lebih terkenal
karena murid-muridnya mempunyai kemampuan
untuk menguasai pelajaran lebih cepat
dibandingkan dengan sekolah lain).
5. Metode Tilawati.
Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh
Tim terdiri dari Drs.H. Hasan Sadzili, Drs H. Ali
Muaffa dkk. Kemudian dikembangkan oleh
Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya.
Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab
permasalahan yang berkembang di TK-TPA, antara
lain :
Mutu Pendidikan Kualitas santri lulusan TK/TP Al
Quran belum sesuai dengan target.
Metode Pembelajaran Metode pembelajaran masih
belum menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Sehingga proses belajar tidak efektif.
Pendanaan Tidak adanya keseimbangan keuangan
antara pemasukan dan pengeluaran. Waktu
pendidikan Waktu pendidikan masih terlalu lama
sehingga banyak santri drop out sebelum khatam
Al-Qur'an.
Kelas TQA Pasca TPA TQA belum bisa terlaksana.
Metode Tilawati memberikan jaminan kualitas bagi
santri-santrinya, antara lain :
a. Santri mampu membaca Al-Qur'an dengan
tartil.
b. Santri mampu membenarkan bacaan Al-Qur'an
yang salah.
c. Ketuntasan belajar santri secara individu 70 %
dan secara kelompok 80%.
Prinsip-prinsip pembelajaran Tilawati :
a. Disampaikan dengan praktis.
b. Menggunakan lagu Rost.
c. Menggunakan pendekatan klasikal dan individu
secara seimbang.
6. Metode Iqro Dewasa
7. Metode Iqro Terpadu

Kedua metode ini disusun oleh Drs. Tasrifin Karim


dari Kalimantan Selatan. Iqro terpadu merupakan
penyempurnaan dari Iqro Dewasa. Kelebihan Iqro
Terpadu dibandingkan dengan Iqro Dewasa antara
lain bahwa Iqro Dewasa dengan pola 20 kali
pertemuan sedangkan Iqro Terpadu hanya 10 kali
pertemuan dan dilengkapi dengan latihan
membaca dan menulis.
Kedua metode ini diperuntukkan bagi orang
dewasa. Prinsip-prinsip pengajarannya seperti
yang dikembangkan pada TK-TP Al-Qur'an.
8. Metode Iqro Klasikal
Metode ini dikembangkan oleh Tim Tadarrus AMM
Yogyakarta sebagai pemampatan dari buku Iqro 6
jilid. Iqro Klasikal diperuntukkan bagi siswa SD/MI,
yang diajarkan secara klasikal dan mengacu pada
kurikulum sekolah formal.
9. Dirosa ( Dirasah Orang Dewasa )
Dirosa merupakan sistem pembinaan islam
berkelanjutan yang diawali dengan belajar baca AlQuran. Panduan Baca Al Quran pada Dirosa
disusun tahun 2006 yang dikembangkan Wahdah
Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus orang dewasa
dengan sistem klasikal 20 kali pertemuan. Buku
panduan ini lahir dari sebuah proses yang panjang,
dari sebuah perjalanan pengajaran Al Qur'an di
kalangan ibu-ibu yang dialami sendiri oleh
Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses
pencarian format yang terbaik pada pengajaran Al
Qur'an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15
tahun dengan berganti-ganti metode. Dan akhirnya
ditemukanlah satu format yang sementara
dianggap paling ideal, paling baik dan efektif yaitu
memadukan pembelajaran baca Al-Qur'an dengan
pengenalan dasar-dasar keislaman. Buku panduan
belajar baca Al-Qur'annya disusun tahun 2006.
Sedangkan buku-buku penunjangnya juga yang
dipakai pada santri TK-TP Al-Qur'an. Panduan
Dirosa sudah mulai berkembang di daerah-daerah,
baik Sulawesi, Kalimantan maupun beberapa
daerah kepulauan Maluku; yang dibawa oleh para

da,i . Secara garis besar metode pengajarannya


adalah Baca-Tunjuk-Simak-Ulang, yaitu pembina
membacakan, peserta menunjuk tulisan,
mendengarkan dengan seksama kemudian
mengulangi bacaan tadi.
Tehnik ini dilakukan bukan hanya bagi bacaan
pembina, tetapi juga
bacaan dari sesama peserta. Semakin banyak
mendengar dan mengulang, semakin besar
kemungkinan untuk bisa baca Al-Qur'an lebih
cepat.
10. PQOD ( Pendidikan Quran Orang Dewasa )
Dikembangkan oleh Bagian dakwah LM DPP WI,
yang hingga saat ini belum diekspos keluar.
Diajarkan di kalangan anggota Majlis Taklim dan
satu paket dengan kursus Tartil Al- Qur'an .
C. Pembahasan efektivitas metode baca tulis AlQur'an.
Seorang pengajar baca tulis Al-Qur'an , tidak serta
merta mengadopsi metode yang baru dikenalnya,
apalagi jika hanya mendapatkan informasi saja
tentang metode tersebut . Para
Pembina harus melakukan kajian yang mendalam,
sebelum menetapkan metode apa yang akan
dipakai dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an
kepada santri.
Beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode
pengajaran antara lain :
1. Mudah dan murahnya mendapatkan pelatihanpelatihan bagi para pembina.
2. Mudah dikuasai oleh mayoritas Ustadz/ah
3. Mudah dan murah mendapatkan buku panduan
4. Mudah dan sederhana pengelolaan
pengajarannya.
Jika beberapa metode lolos pertimbangan di atas,
maka ditentukan pemilihan berdasarkan skala
prioritas.
D. Kesimpulan.
Metode apapun yang berkembang, masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Efektifitas,
efisiensi, cepat mudahnya sebuah metode

pengajaran berbeda-beda di
tiap daerah. Banyak faktor yang mempengaruhinya
. Penggabungan beberapa metode pengajaran
belum tentu membuahkan hasil yang baik. Perlu
konsistensi bagi pembina dalam menerapkan
sebuah metode apabila telah dipilih,
sebab ganti-ganti metode akan menyebabkan
kebingungan bagi pembina, terlebih lagi bagi santri.
4 Oktober 2012 pukul 5:33 Publik

SDI Al - Islam
Yogyakarta

Beranda
Lihat versi web
Rabu, 17 April 2013
admin di 09.25
Metode Belajar Membaca AlQuran
Dapatkah anda membaca Al-Quran? Metode
apakah yang anda gunakan dulu saat belajar
membaca Al-Quran? Tulisan ini mencoba
menjawab pertanyaan orangtua murid tentang
metode belajar membaca Al-Quran yang
digunakan di Al-Islam. Namun alangkah lebih
baik jika kita mengetahui metode-metode belajar
membaca Al-Quran yang secara umum
digunakan dibeberapa waktu dan tempat di
Indonesia. Disini akan kami sampaikan
sedikitnya 7 metode.
1. Baghdadiyah
Sebelum tahun 80-an hanya dikenal satu
metode cara baca Al-Quran di Indonesia,
yaitu metode kaidah Baghdadiyah. Jika
dilihat dari namanya, metode ini berasal dari
Baghdad, Iraq. Dibeberapa tempat metode
ini biasa disebut juga dengan Turutan. Judul
buku lengkapnya Qoidah Baghdadiyah Maa

Juz Amma. Cara mengajarkan Kaidah


Baghdadiyah dimulai dengan menghafal
huruf-huruf hijaiyah serta pengejaan
bacaannya. Sebagian besar alim-ulama,
penghafal Al-Quran (hafidz), dan
cendikiawan yang kita kenal dulu dan
sekarang belajar membaca Al-Quran dengan
menggunakan metode kaidah Baghdadiyah
ini.
2. Qiroati
Metode ini disusun oleh H. Dachlan Salim
Zarkasyi dan diterbitkan secara resmi pada
tahun 1986 di Semarang. Qiroati diterbitkan
oleh Yayasan Pendidikan Al-Quran
Raudhatul Mujawwidin Semarang. Dalam
sampul bukunya diberi judul Metode praktis
Belajar Membaca Al-Quran.
3. Iqro
Metode ini disusun oleh KH Asad Humam
dari balai Litbang LPTQ Nasional Team
Tadarus AMM Yogyakarta. Metode ini
sangat familiar di masyarakat karena
digunakan secara luas dan buku Iqro dijual
secara bebas. Metode Iqro berpedoman
pada cara baca langsung tanpa ada
kewajiban menghafal huruf-huruf hijaiyah
dan pengejaanya.
4. An-nuur
Metode An-Nuur disusun oleh DR H.M
Rosyady S.Ag, MM, MBA dari An-Nuur
Foundation Yogyakarta. Metode ini diklaim
sebagai metode pengajaran baca Al-Quran
sistem cepat, karena hanya membutuhkan
waktu yang relatif singkat untuk membuat
seseorang bisa membaca Al-Quran yaitu 2
jam.
5. Ummi
Metode ini menyebut diri sebagai metode
pembelajaran Al Quran yang efektif, mudah,
menyenangkan dan menyentuh hati. Ummi
Foundation menjamin setiap guru Al Quran

mampu memahami metodologi pengajaran Al


Quran serta tahapan tahapannya dan
pengelolaan kelas dengan baik. Sistem
pengajaran Al-Quran metode Ummi
menjamin setiap lulusan SD/MI, TKQ, TPQ
bisa tartil membaca Al Quran.
6. Yanbua
Adalah salah satu metode belajar membaca
al-quran yang diterbitkan oleh Pondok
Tahfidh Yanbuul Quran Kudus Jawa
Tengah. Nama Yanbua diambil dari nama
pondok yang berarti sumber. Di juz bagian
akhir buku ini dibahas cara menghafal AlQuran yang praktis sehingga buku ini
disebut juga sebagai Thoriqoh Baca Tulis
dan Menghafal Al-Quran.
7. Tilaawati
Adalah Thoriqoh belajar membaca Al-Quran
yang ditulis oleh Imron Ahmadi. Ditulis pada
tahun 2005 dan digunakan untuk TK-TP AlQuran, utamanya di Pesayangan, Talang,
Tegal, Jawa Tengah.
(Dan masih banyak lagi. Ada Al-Barqy.
Tsaqifa dari penerbit Al-Qowam, Penulis
Umar Taqwim, S.Ag. Aqsho di Sidoarjo. AlBayan dari penerbit Erlangga dll.)
Secara institusi, SDI Al-Islam menggunakan
metode Qiroati dalam pembelajaran membaca
Al-Quran. Al-Islam menggunakan Qiroati
karena:
Guru-guru yang mengajarkan
harus melalui Tashih dan
Pembinaan yang ketat.
Kelas pembelajaran memiliki
disiplin yang sama.
Salah satu metode yang secara
langsung memasukkan dan
mempraktekan bacaan tartil
sesuai dengan kaidah ilmu
tajwid.
Buku Qiroati tidak dijual secara

bebas, sehingga siapapun yang


ingin belajar Qiroati harus dari
sumber yang benar.
Pada prinsipnya, metode tersebut samasama mengajak ummat untuk gemar membaca
al-Quran dengan tartil, baik dan benar. Buku
metode itu tidak ditulis waton dadi, asal jadi.
Akan tetapi berdasarkan pemikiran dan
pengalaman panjang, bahkan mungkin sampai
melakukan beberapa revisi. Para ulama yang
mengarang metode itu adalah orang yang telah
berjuang dan membaktikan usia dan hidupnya
untuk islam jauh melebihi usia kita. Sudah
sepatutnya kita menghargai setiap amal sholih
mereka. Selanjutnya, kita tinggal memilih mana
metode terbaik yang kita yakini dan bisa
menyelesaikannya, kemudian mangamalkannya.
Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahualm
Bisshowab.
Metode-metode Pengajaran alQur'an
Metode adalah suatu cara
yang sistematis untuk mencapai
tujuan, yaitu untuk
mennyampaikan sebuah materi
kepada anak didik. Ada
beberapa cara yang dilakukan
dalam menyampaikan baca tulis
al-Quran, pada dasarnya semua
metode yang digunakan adalah
agar anak bias menyenangi
materi yang diberikan dan agar
anak suka belajar.
Di bawah ini akan
dikemukan beberapa metode
didalam pengebangan
pengajaran al-Quran, karena
sebenarnya banyak sekali
metode yang telah berkembang
di Indonesia, diantaranya

adalah:
1. Metode al-Barqy
Metode ini disusun oleh
Muhadjir Sulthon yang
dikembangkan pertama kali
di Surabaya. Pengajaran
metode ini dikenal dengan
pendekatan global atau
Gestald psikologi yang
bersifat analistik sintetik
(SAS).
Yang dimaksud SAS ialah
penggunaan struktur kata
atau kalimat yang tidak
mengikutkan bunyi mati/
sukun, dan menggunakan
kata lembaga (struktur). Pada
metode ini setelah santri
mengenal dan dianggap bias
pada pengenalan cara
menulis, cara menulis ini
diawali dengan meniru
tulisan yang masih berupa
titik-titik untuk ditebali
dengan pensil, setelah
dianggap baik dan bisa, baru
melanjutkan untuk
mengganti di kertas lain.
Metode ini tidak banyak
memakan waktu bagi anak
karena hanya diperlukan
waktu 1 x 8 jam per minggu,
sedangkan bagi remaja serta
orang dewasa yang baik
hanya diperlukan 1x6 jam
per minggu.
2. Metode Iqra Klasikal
Di Indonesia, gerakan
pemberantasan buta huruf
al-Quran yang menggunakan
metode iqra telah semarak

dalam bentuk Taman Kanakkanak al-Quran dan Taman


Pendidikan al-Quran. Di
sekolah dasar di Indonesia
juga dikembangkan metode
yang sesuai yang dapat
mengantarkan murid mampu
dalam membaca al-Quran
dalam waktu yang relative
singkat sesuai dengan
keterbatasan jam pelajaran
yang tersedia.
Metode ini disusun oleh salah
satu team tadarrus AMM
yaitu KH. Asad Humam.
Metode ini disusun sebagai
kelanjutan dari metode
sebelumnya, metode pertama
kali dikembangkan didaerah
Yogyakarta kemudian
disebarkan ke daerah lain.
Metode ini merupakan
ringkasan dari metode iqra
yang awalnya sampai 6 jilid
kemudian diringkas menjadi
satu buku yang tebal
mencapai 61 halaman. Hal
ini dimaksudkan agar peserta
didik cepat bisa membaca alQuran. Selain itu untuk
menjawab tuntutan bagi
anak atau orang dewasa yang
akan beljar al-Quran tetapi
mempunyai waktu yang
terbatas.
Pada metode ini pengenalan
huruf hijaiyah awal hingga
akhir dengan menggunakan
harakat dan untuk bacaan
tajwid, tidak langsung
dikenalkan macam-macam

bacaan tetapi diberikan


tuntunan membacanya,
setelah menguasai semuanya
akan diberikan materi
tajwid.
3. Metode al-Baghdadi
Metode ini sering juga
disebut dengan metode kuno
atau juz amma. Cara
penyampaiannya dengan
membaca dan menghafal
huruf-huruf hijaiyah, baru
menginjak pada tanda-tanda
fathah, kasrah, dhommah.
Pada metode ini anak bisa
mengetahui langsung namanama huruf hijaiyah tanpa
harakat dan hafal secara
berurutan.
4. Metode Qiraati
Metode ini pertama kali
dikembangkan oleh KH.
Dachlan Salim Zarkasy dari
Semarang. Di dalam metode
ini santri diajarkan hurufhuruf hijaiyah yang sudah
berharakat secara langsung
tanpa mengeja.
Cara yang digunakan dalam
materi ini hamper sama
dengan metode iqra tetapi
disertai dengan ketukan yaitu
untuk bacaan pendek satu
ketukan, sedangkan untuk
bacaan mad dan idghom dua
ketukan, dan mad wajib lima
ketukan.
Beberapa metode ini telah
berkembang di masyarakat
Indonesia sampai sekarang.
Metode ini yang dijadikan

rujukan untuk belajar membaca


al-Quran di seluruh Indonesia,
agar anak secepatnya mampu
dan menguasai dan membaca alQuran serta mampu menulis
huruf-huruf al-Quran dengan
baik