Anda di halaman 1dari 21

BAB I.

ALAT TRANSPORTASI FLUIDA


LEARNING OUTCOME Bab I ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. memahami karakteristik fluida dan mengetahui aplikasinya dalam
transportasi fluida.
2. memahami jenis peralatan transportasi fluida yaitu, pipa, fitting,
kran.
3. memilih ukuran standar pipa dan ukuran pipa ekonomis.

I. SIFAT FLUIDA
Sifat fluida dapat dinyatakan dengan bermacam-macam parameter. Parameter
sifat fluida yang dibicarakan dalam Bab I ini adalah sifar fluida yang berperan
dalam aliran fluida. Di dalam matakuliah lain atau pokok bahasan yang lain
dimungkinkan parameter sifat fluida lain yang akan dibicarakan.

Fluida disebut juga zat alir, bisa berupa gas, cairan, larutan, dan slurry.

Gas

Compressible

Cair

Padat

Incompressible
Fluida

Encer

Kental

Parameter yang digunakan untuk menyatakan sifat fluida dalam lingkup


transportasi fluida yaitu:
1. Densitas atau massa jenis ().
Densitas dengan satuan massa (kg, g, lb) per satuan volum (cm 3, liter, ft3).
Nilai densitas fluida dapat dicari dari pustaka yang dapat dinyatakan dalam
specific gravity (/s) atau densitas pada berbagai suhu.

Pengaruh suhu terhadap densitas:


Rapat massa cairan akan turun, dengan naiknya suhu, tetapi tidak terlalu
besar.
Rapat massa gas akan turun, dengan naiknya suhu, dan dapat ditentukan
dengan persamaan berikut:
n( BM )
p

V
RT
Sering juga orang teknik menggunakan besaran specific gravity (sp.gr.).
Definisinya adalah:
sp gr A = A/ B
Densitas pembanding dalam sp.gr.:
Untuk Cairan: air
Untuk Gas: udara (atau gas lain)
20o
contoh : sp gr A = 0,85 o
4
Dapat juga dinyatakan dalam besaran specific volume.
Specific volume = 1/density
Pengaruh tekanan terhadap densitas:
Rapat massa cairan sangat sedikit (tidak) terpengaruh oleh tekanan. Untuk itu
cairan disebut sebagai fluida incompressible.
Rapat massa uap/gas sangat terpengaruh oleh tekanan, seperti yang ditunjukkan
pada persamaan di atas. Untuk itu uap/gas disebut sebagai fluida

compressible.
Secara umum:
rapat massa cairan lebih besar dari rapat massa gas/uap
atau nilai rapat massa cairan sekitar 1000x nilai rapat masa gas/uap.
Coba perhatikan berapa nilai rapat massa air dan berapa nilai rapat massa udara

2. Viscositas atau kekentalan ()


Viskositas dengan satuan massa (kg, g, lb) per satuan panjang (cm ,, ft) per
satuan waktu (jam, menit, detik) atau dinyatakan dalam satuan poise (p),
centipoise (cp).
1 poise = 1 g/cm/det = 2,42 lb/ft/jam = 6,72 10-4 lb/ft/detik
Nilai viscositas fluida dapat dicari dari pustaka, dapat juga dinyatakan dalam:
viskositas absolut () atau viskositas kinematik (=/).

Viskositas kinematik mempunyai satuan stoke (st)


1 st = 1 cm2/detik = 10,7739 10-4 ft2/detik

Nilai Viskositas fluida sangat dipengaruhi oleh suhu tetapi tidak begitu
terpengaruh oleh perubahan tekanan.
Viscositas GAS akan naik dengan naiknya suhu dan hubungannya dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut:

/o = (T/273)n
dengan = viskositas absolut pada suhu T, oK
o= viskositas absolut pada suhu 0oC atau 273 oK
n = tetapan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, nilai n ini berkisar
antara 0,65 sampai 1.

Persamaan Newton untuk aliran fluida:

dv
dx

Fluida dapat memenuhi persamaan Newton di atas, bila viskositasnya tetap dan
disebut dengan fluida Newtonian.
Fluida yang termasuk Newtonian adalah gas/uap dan cairan encer.
Cairan kental umumnya tidak mengikuti persamaan Newton, sehingga
dinamakan fluida non-Newtonian.
Pelat atas bergerak dengan
kecepatan V m/s
dv/dx

Pelat bawah diam

Profil kecepatan fluida di antara pelat atas dan bawah

Gambar shear stress () vs shear rate (dv/dx)


Secara umum: viskositas cairan > viskositas gas/uap

Sifat fisis metanol


Temp.
(C)
0
10
20
30
40
50

Density
3
(1000 Kg/m )
0.81
0.801
0.792
0.783
0.774
0.765

Viscosity Kinematic Viscosity


2
(Pa-s)
(m /s)
-4
-6
8.17 10
1.01 10
-4
-7
5.84 10
7.37 10
-4
-7
5.10 10
6.51 10
-4
-7
4.50 10
5.81 10
-4
-7
3.96 10
5.18 10

Surface Tension
(N/m)
-2
2.45 10
-2
2.26 10
-

Pengaruh suhu:
Viskositas cairan akan turun, bila suhunya naik.
Viskositas uap/gas akan naik, bila suhunya naik.
Pengaruh tekanan:
Viskositas cairan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan tekanan.
Viskositas gas/uap akan naik, dengan naiknya tekanan.
Pada tekanan yang semakin tinggi, jarak molekul antar gas semakin kecil,
sehingga gesekan antar molekul yang bergerak akan semakin besar.

Table of Fluid Properties (Liquids and Gases)


T
(F)

Density
(slug/ft3)

v
(ft2/s)

T
(C)

Density
(kg/m3)

Water

70

1.936

1.05e-5

20

998.2

1.00e-6

Water

40

1.94

1.66e-5

1000

1.52e-6

Seawater

60

1.99

1.26e-5

16

1030

1.17e-6

SAE 30 oil

60

1.77

0.0045

16

912

4.2e-4

Gasoline

60

1.32

4.9e-6

16

680

4.6e-7

Mercury

68

26.3

1.25e-6

20

13600 1.15e-7

Fluid

v
(m2/s)

Liquids:

Gases (at standard atmospheric pressure, i.e. 1 atm):


Air

70

0.00233 1.64e-4

20

1.204

1.51e-5

Carbon Dioxide

68

0.00355 8.65e-5

20

1.83

8.03e-6

Nitrogen

68

0.00226 1.63e-4

20

1.16

1.52e-5

Helium

68

3.23e-4

20

0.166

1.15e-4

1.27e-4

3. TEGANGAN ANTAR MUKA (SURFACE/INTERFACIAL TENSION) (A)

Antar dua fase, misalnya cair-uap/gas, terjadi tegangan antar muka. Hal
ini terjadi, karena ada gaya yang menarik molekul cairan di permukaan agar
tetap tinggal di fase cair.
Tegangan antar muka cukup berpengaruh terhadap aliran dua fase (gascair, cair-cair).
Satuannya dyne/cm atau Newton/meter (N/m).
Simbol (A)
.
Nilai besaran tegangan muka sangat dipengaruhi oleh senyawa yang terkandung
dalam cairan. Ada senyawa yang dapat menurunkan tegangan muka sangat
besar, yaitu surfactant (surface active agent).
Tegangan muka akan turun, bila suhu naik.
Tekanan tidak banyak berpengaruh terhadap tegangan muka secara
langsung.
Tegangan muka air-udara pada suhu ruangan 72 dyne/cm
Tegangan muka cairan hidrokarbon 40 60 dyne/cm
Antar fase cair-cair (2 cairan yang tak larut atau immiscible) juga ada tegangan
antar fase, yang besarnya lebih rendah dari tegangan cair-gas.
Secara umum, tegangan antar muka akan turun dengan naiknya suhu.
Besaran ini sangat penting pada sistem dua fluida yang tidak saling melarut.

4. Berdasarkan DENSITAS nya Fluida dapat digolongkan dalam dua


kelompok yaitu:

Fluida incompressible:
Fluida incompressible adalah fluida yang tidak mengalami perubahan volum (V)
dengan adanya penekanan (P), atau (V/P)T = 0. Atau dapat didefinisikan
sebagai fluida yang tidak berubah sifatnya walau ditekan, sehingga densitas
cairan tidak berubah dengan adanya penekanan. Fluida ini banyak dijumpai
pada sebagian besar cairan dan sedikit gas.

Fluida compressible:
Fluida compressible adalah fluida yang mengalami perubahan volum (V) dengan
adanya penekanan (P), atau dapat dikatakan sebagai fluida yang berubah
sifatnya jika ditekan, atau densitas berubah dengan adanya penekanan. Fluida
ini banyak dijumpai pada gas.
HUBUNGAN ANTARA P V T PADA FLUIDA COMPRESSIBLE
Untuk gas ideal hubungan antara suhu, tekanan, volume mengikuti hukum
PV=nRT
dengan P adalah tekanan (atm., pascal, bar, psia), V adalah volum (liter, cm 3 ,
ft3), T adalah suhu (oC, oK, oF), n jumlah mol gas ( gmol, kgmol, lbmol), dan R
adalah tetapan umum gas ideal yang nilainya tergantung dari satuan yang
digunakan, misalnya R= 8,314 kj/kmol/oK, R= 1,987 kal/gmol/ oK, R= 82,05 (cm3
atm)/gmol/ oK.

Keadaan standar.
Keadaan standar sering didefisikan sebagai suatu keadaan pada suhu (T) = 0 oC
atau 273,15 oK, tekanan (P)= 1 atmosfir. Pada keadaan ini volume (V) 1 mol gas
ideal sebesar 22,412 cm3. Nilai ini diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:
V=

RT (82,05)(273,15)

22,412cm 3
P
1

Gas non ideal


Untuk gas non ideal hubungan antara suhu, tekanan, dan volume dapat
dituliskan sebagai berikut
PV=ZnRT

(3)

Dengan Z adalah faktor kompresibilitas, nilai Z sangat dipengaruhi oleh suhu dan
tekanan. Pada tekanan yang sangat rendah penyimpangan dari keadaan ideal
disebabkan oleh gaya tarik diantara molekul, pada keadaan ini nilai Z kurang dari
satu. Pada tekanan yang sangat tinggi penyimpangan dari keadaan ideal
disebabkan karena perubahan volum molekul itu sendiri. Hubungan antara Z
dengan tekanan dapat dituliskan sebagai berikut:

Z=

PV
= 1 + B P + C P2 + D P3 +
RT

(4)

Atau dapat dituliskan dalam bentuk


Z=1+

B' C ' D'

.....
V V2 V3

(5)

Nilai B, C, dan D disebut dengan koefisien virial yang nilainya tergantung pada
sifat gas dan suhu. Berdasarkan korelasi ini dapat disimpulkan bahwa pada
tekanan mendekati nol (P=0) atau V bernilai tidak terhingga maka nilai Z = 1,
sehingga pada keadaan ini sifat gas non ideal sama dengan sifat gas ideal.

Banyak

persamaan

yang

dapat

digunakan

untuk memperkirakan

hubungan antara besaran-besaran (P-V-T) gas non ideal. Salah satu persamaan
yang cukup sederhana dan banyak digunakan adalah persamaan van der
Waals, yang dituliskan sebagai berikut:

n2
P a 2 V nb nRT
V

dengan b =

(6)

RTc
tetapan yang besarannya merupakan fungsi incompressible
8Pc

volum molekul gas,

a
= tetapan yang nilainya dipengaruhi attractive forces
V2

antar molekul gas tersebut, nilai a dapat diperkirakan dengan persamaan berikut
2

27 R 2Tc
a=
. Bila P mendekati nol (P=0) dan nilai V=1 persamaan van der Waals
64 Pc
sama dengan persamaan gas ideal.

Hubungan antara sifat-sifat gas non ideal dapat ditentukan secara percobaan
untuk jenis gas tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk grafik faktor
kompresibilitas versus suhu dan tekanan atau dinyatakan dalam bentuk
perbandingan nilai PV pada keadaan standar dan pada keadaan tertentu
untuk jenis gas tertentu.

A=

PV
nRT
=
( PV ) o
(nRT ) o

(7)

dengan A faktor perbandingan yang berlaku untuk gas tertentu pada kondisi
tertentu, sedang (PV)o adalah nilai PV pada keadaan standar T=273 oK dan P=
01,3 kN/m2.

. Nilai A dan grafik hubungan antara Z dan P-T dapat dilihat di

pustaka. Sebagai contoh disajikan hubungan antara Z vs P dan T untuk gas


metan.
Untuk gas yang berbeda akan mempunyai diagram Z vs P dan T yang berbeda.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan untuk berbagai jenis gas dapat
disusun grafik faktor kompresibilitas yang dapat berlaku umum untuk
berbagai jenis gas yang hubungannya dapat disajikan dalam bentuk Z vs suhu
tereduksi (Tr) dan tekanan teredukksi (Pr) sebagai berikut (PR cari grafik di
pustaka hubungan antara faktor kompresibilitas untuk berbagai gas dan
uap).
CONTOH SOAL GAS NON IDEAL
Berapa volume tangki yang dibutuhkan untuk menyimpan 1 kmol gas
metan pada suhu 320oK dan tekanan 60 MN/m2. Estimasi volume tangki yang
dibutuhkan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini:
a. Hukum gas ideal
b. Persamaan van der Waals
c. Grafik faktor kompersibilitas gas yang dapat berlaku umum
d. Gafik faktor kompresibilitas untuk gas metan
e. Data percobaan laboratorium untuk gas metan (Perry, 1984)

a. Hukum gas ideal


PV=nRT
P= 60 MN/m2= 60 x 103 kN/m2
T= 320oK
N=1 kmol
R= 8,314 kN/kmol/ oK

V = 1 x 8,314 x 320/(60 103) = 0,0443 m3.

b. Persamaan van der Waals

n2
P a 2 V nb nRT
V

dengan

RTc
b=
dan
8Pc

27 R 2Tc
a=
64 Pc

Kondisi kritis metan dapat dilihat dari pustaka, suhu kritis (Tc) = 191 oK dan
tekanan kritis (Pc) = 4640 kN/m2.
b=

8,314 x191
m3
0,0427
dan
8 x4640 c
kmol

27 x(8,314) 2 x(191) 2
a=
(kN / m 2 )(m3 ) 2 /(kmol ) =229,3 (kN / m2 )(m3 ) 2 /(kmol )
64 x4640
(60 x 103 + 229,3 x

1
)(V-1 x 0,0427) = 1 x 8,314 x 320
V2

60.000 V3 5233 V2 + 229,3 V = 9,79


dengan cara coba-coba dapat ditentukan nilai V= 0,066 m3
c. Grafik faktor kompersibilitas gas yang dapat berlaku umum

T 320

1,68
Tr=
Tc 191

P 60 x10 3

12,93
Pr =
Pc
4640

Dari Gambar 2 dapat ditentukan nilai Z = 1,33, Sehingga V dapat ditentukan


sebagai berikut: P V = Z n R T
V=

ZnRT 1,33 x1x8,314 x320

0,0589 m 3
P
60 x10 3

d. Gafik faktor kompresibilitas untuk gas metan


T= 320 oK = 116,6 oF
P= 60 106N/m2 (14,5038 psia/105 N/m2) =8702,28 psia
Dari Gambar 1 nilai Z tidak dapat ditentukan karena nilai P sangat tinggi

e. Data percobaan laboratorium untuk gas metan (Perry, 1984)


Data percobaan laboratorium untuk berbagai gas dapat ditentukan dengan
korelasi berikut:

10

A=

PV
( PV ) o

dengan A faktor perbandingan yang berlaku untuk gas tertentu pada kondisi
tertentu, sedang (PV)o adalah nilai PV pada keadaan standar T=273 oK dan P
101,3 kN/m2. Untuk gas metan pada P=60 103 N/m2 dan T=320oC nilai A =
1,565.

A( PV ) o 1,55 x2,27 x10 6

0,0592 m 3
V=
6
P
(60 x10 )
Nilai berdasarkan pengukuran langsung untuk gas tersebut adalah merupakan
nilai yang paling mendekati nilai sebenarnya, sedangkan nilai yang lain adalah
merupakan nilai pendekatan. Perbandingan antara nilai pendekatan dengan nilai
pengukuran langsung memberikan prosen kesalahan sebagai berikut:
Hukum gas ideal = - 25,2%, Persamaan van der Waals = + 11,5%, dan
Grafik faktor kompersibilitas gas yang dapat berlaku umum = - 0,5%.
Berdasarkan perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa perhitungan
menggunakan grafik faktor kompresibilitas yang dapat berlaku umum
memberikan kesalahan yang paling kecil (tidak berarti).

5. Turbulensi
Pola aliran fluida dalam pipa dipengaruhi oleh beberapa peubah yaitu:
1. Diameter pipa (D)
2. Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa (v)
3. Viskositas fluida dalam pipa ()
4. Densitas fluida ()
Hubungan antara peubah-peubah ini dinyatakan dalam kelompok tidak
berdimensi yang dikenal dengan bilangan Reynolds (Re)
Re =

Dv

Berdasarkan nilai bilangan Reynolds pola aliran fluida dalam pipa dapat
digolongkan dalam dua kelompok yaitu pola aliran laminer dan pola aliran
turbulen. Pola aliran laminer terjadi pada kisaran bilangan Reynolds kurang dari

11

2100. Adapun pola aliran turbulen terjadi pada kisaran bilangan Reynolds lebih
dari 4000. Kisaran bilangan Reynolds antara 2100 sampai 4000 disebut daerah
transisi. Pola aliran ini sangat menentukan perhitungan-perhitungan dalam
berbagai hal yang menyangkut aliran fluida dalam pipa (digunakan pada
pembahasan berikutnya).
laminer

turbulen

Jenis aliran ini dapat ditentukan dari besarnya bilangan Reynolds aliran tersebut.
Bentuk bilangan Reynolds untuk aliran di dalam pipa adalah:

Re

vd

(tak berdimensi)

dengan v : kecepatan linear aliran


d : diameter dalam pipa
Bila Re < 2100, aliran laminer.
Bila Re > 4000, aliran turbulen. Untuk Re > 10.000, aliran turbulen sempurna.
Nilai Re antara 2100 4000 adalah aliran transisi.

Untuk patokan, secara umum, fluida mengalir dalam pipa diinginkan pada kondisi
turbulen. Kecepatan linear cairan berkisar antara 1 10 m/s. Kecepatan linear
gas/uap 10 30 m/s.
Bila cairannya sangat kental, baru dipertimbangkan mengalir pada kondisi
laminer.

12

Bila ingin memisahkan fase dari aliran dua fase, maka alirannya dibuat sangat
laminer (Re sangat rendah).

Laminar flow

Turbulent flow visualization

Laser - induced florescence image of an incompressible turbulent


boundary layer

Simulation of turbulent flow coming out of a tailpipe


uz
Uz
average
z

ur
Ur
average
r

13

Pipe Entrance

6. Pipa dan fitting


Fluida dipindahkan dari tempat yang satu ketempat yang lain dapat
melalui saluran terbuka (open channels) atau saluran tertutup (closed ducks).
Saluran tertutup yang banyak dijumpai dalam industri kimia adalah sistim
pemipaan (pipa dan fitting).
Adapun yang dimaksud dengan fitting adalah perlengkapan yang
dibutuhkan pada pemipaan sambungan, belokan, percabangan, kran, dan
pengubah ukuran.
Hal hal yang perlu difahami tentang pipa dan fitting dapat
digolongkan menjadi dua yaitu jenis dan ukuran standar.

14

A. Jenis pipa dan fitting


Berdasarkan bahan pembuatnya pipa dan fitting digolongkan menjadi dua
yaitu:

1. Logam

1a. Ferrous metallic pipe


1b.Non ferrous metallic pipe

2. Non logam

Ferrous melallic pipe


Standarisasi jenis ini dibuat oleh American Standart Association (ASA),
pipa yang masuk jenis ini yaitu:
Wrought-iron (besi tempa); sifatnya tahan terhadap korosi biasanya digunakan
untuk pemipaan air panas dan instalsi bawah tanah.
Wrought-steel pipe, pipa jenis ini banyak digunakan untuk keperluan umum.
Electric resistance welded steel pipe, digunakan untuk instalasi suhu tinggi
(>260oC).
Stainless steel pipe, untuk bahan yang sangat korosif atau untuk industri
makanan.
Non Ferrous melallic pipe
Yang termasuk jenis ini yaitu pipa dari tembaga, nikel, perunggu, dan
kuningan. Pipa jenis ini untuk keperluan khusus yaitu untuk bahan yang korosif
dan untuk instalasi perpindahan panas (daya hantar baik).

Non logam
Yang termasuk pipa non logam yaitu abestos cement pipe, carbon,
graphite, pvc, gelas, dan keramik.

B. Ukuran standar pipa dan fitting


Pipa dan fitting mempunyai ukuran standar yang dibuat oleh ASA. Ukuran
standar yang dapat berlaku umum yaitu untuk pipa dari logam, sedangkan

15

untuk pipa yang non logam tidak ada standar yang berlaku umum atau untuk
pipa dari bahan yang tertentu mempunyai standar yang tertentu pula.

Ukuran panjang
Panjang pipa standar yaitu 16 ft sampai 22 ft, sehingga dalam pemipaan
diperlukan fitting (sambungan), untuk mendapatkan panjang pipa seperti yang
dikehendaki.

Diameter pipa
Ukuran pipa dan fitting dinyatakan dalam bentuk diameter nominal (NPS
= nominal pipe size) dan tebal dinding.. Diameter nominal tidak merupakan
diameter dalam atau diameter luar, untuk pipa baja diameter nominal mempunyai
harga antara 1/8 inci sampai 30 inci.

Tebal pipa
Tebal dinding pipa standar dinyatakan dengan Schedule Number
(Sch.No.). Sch.No ditentukan berdasarkan tekanan dalam pipa dan stress yang
diperbolehkan untuk jenis pipa yang digunakan. Oleh karena itu tebal dinding
pipa bukan merupakan besaran standar yang berlaku umum atau tebal
dinding pipa berlaku untuk jenis pipa yang tertentu.
Sch. No. =

1000 P
S

(8)

Dengan P = tekanan kerja dalam pipa (gaya/luas)


S=allowable stress pipa tersebut pada kondisi operasi
tertentu (gaya/luas)
Ada 10 nilai Sch.No. yang dapat dijumpai yaitu 12, 20, 30, 40, 60, 80, 100, 120,
140, dan 160. Pemilihan Sch. No. yang digunakan harus lebih tinggi dari nilai
Sch,No. yang diperlukan sehingga akan aman. Dengan informasi Sch.No. (tebal
pipa) dan NPS maka dapat ditentukan diameter luar dan dalam pipa tersebut.

16

Tabel yang menyatakan ukuran standar untuk jenis pipa tertentu dapat
dilihat di berbagai pustaka. Pada tulisan ini diberikan satu contoh ukuran standar
pipa baja yang dinyatakan pada Daftar I.
====================================================

Daftar I. Ukuran standar pipa baja


Pipe Scheduling
Schedule 10
**

Pipe

Schedule 40
**

Schedule 80
**

Size
(in)

Nom.
OD
(in)

ID
(in)

Wall
Thick
.
(in)

ID
(in)

Wall
Thick
.
(in)

ID
(in)

Wall
Thick
.
(in)

1/8

0.405

0.307

0.049

0.269

0.068

0.215

0.095

1/4

0.540

0.410

0.065

0.364

0.088

0.302

0.119

3/8

0.675

0.545

0.083

0.493

0.091

0.423

0.126

1/2

0.840

0.674

0.083

0.622

0.109

0.546

3/4

1.050

0.884

0.109

0.824

0.113

1.315

1.097

0.109

1.049

1-1/4

1.660

1.442

0.109

1-1/2

1.900

1.682

2.375

2-1/2

Schedule 160
**
ID
(in)

Wall
Thick
.
(in)

0.147

0.466

0.187

0.742

0.154

0.614

0.218

0.133

0.957

0.179

0.815

0.250

1.380

0.140

1.278

0.191

1.160

0.250

0.109

1.610

0.145

1.500

0.200

1.338

0.281

2.157

0.109

2.067

0.154

1.939

0.218

1.689

0.343

2.875

2.635

0.120

2.469

0.203

2.323

0.276

2.125

0.375

3.500

3.260

0.120

3.068

0.216

2.900

0.300

2.626

0.437

4.500

4.260

0.120

4.026

0.237

3.826

0.337

3.438

0.531

5.563

5.295

0.134

5.047

0.258

4.813

0.375

4.313

0.625

6.625

6.357

0.134

6.065

0.280

5.761

0.432

5.189

0.718

8.625

8.329

0.148

7.981

0.322

7.625

0.500

6.813

0.906

7. PEMILIHAN UKURAN PIPA


Jika fluida dapat mengalir dengan sendirinya (disebabkan karena grafitasi)
tanpa bantuan pompa, maka pipa yang dipilih sekecil mungkin tetapi masih
memberikan aliran yang normal.

17

Jika dalam mengalirkan fluida diperlukan tambahan energi mekanik yang


diberikan oleh pompa atau kompresor maka perlu dipilih ukuran pipa agar
memberikan total biaya yang sekecil mungkin. Untuk debit yang sama bila
diameter pipa besar biaya pembelian pipa tinggi tetapi kecepatan aliran
fluida rendah, sehingga dengan menggunakan diameter yang besar
gesekan yang terjadi antara dinding pipa dan fluida yang mengalir lebih
rendah sehingga biaya pemompaan juga lebih rendah.

Kisaran kecepatan optimum fluida mengalir dalam pipa


Kecepatan,

Penurunan tekanan, kPa/m

m/detik
Cairan tak dipompa

0,05

1-3

0,5

Gas/Uap

15-30

0,02 dari tekanan operasi

Uap tekanan tinggi> 8 bar

30-60

Cairan

dipompa

tidak

kental

Rase (1953) menggunakan hubungan antara kecepatan dengan diameter dalam


pipa:
Kecepatan, m/detik
Discharge pompa

(0,06d+0,4) m/detik

Suction pompa

(0,02d+0,1) m/detik

Steam/uap

0,2 d m/detik

Dengan d = diameter dalam pipa dengan satuan mm.


Simson (1968) menggunakan hubungan antara kecepatan optimum dengan
densitas fluida:
rho, kg/m3
Kec., m/detik

1600
2,4

800
3

160
4,9

16
9,8

0,16
18

0,016
34

18

Kecepatan maksimum harus dijaga agar tidak terjadi erosi, untuk gas/uap
umumnya kecepatan maksimum 0,3 dari kecepatan suara.

8. DIAMETER EKONOMIS
Harga pipa akan naik dengan semakin besarnya diameter, tetapi biaya
pemompaan akan turun dengan semakin besarnya diameter pipa karena
gesekan akan berkurang. Diameter ekonomis adalah diameter pipa yang
memberikan biaya total (biaya pembelian pipa dan fitting + pemompaan)
yang paling rendah (minimum).
Dari pertimbangan harga pipa, fitting dan instalasi yang diyatakan dengan:
K(1+F).dn maka diameter optimum diperoleh:
1

19,8.1010.H . p.G 0, 24 . 0,16 . 2 4,84n


dopt =

E.n.K .(1 F ).(a b)

dengan:
H : waktu operasi pertahun, jam/th
p : harga listrik,/Kwh
E : efisiensi pompa, %
G : kecepatan aliran, kg/det
d : diameter pipa,m
: densitas fluida, kg/m3
: kekentalan fluida, kg/(m/det)
a : capital charge,%
b : biaya perawatan, %
K : koefisien yang menunjukkan hubungan antara harga pipa dengan diameter
F : harga fitting dan instalasi
n : pangkat untuk d
jika disederhanakan:
H : untuk pabrik Kimia, 8000 jam/thn
E diambil 0,6
F : 1,5-6,75
K dan n tergantung jenis pipa,
misal untuk Carbon steel harga = K dn = 3,9 d0,6 dalam poundsterling/m
Stainless steel harga = 1,6 d0,9 dalam poundsterling/m
Maka diperoleh untuk Carbon steel:
dopt = 352,8 G0,52 0,03 -0,37
Karena pangkat kecil maka dapat dianggap tetap : 0,03 = 0,8
sehingga dopt untuk Carbon steel = 282 G0,52 -0,37
Sedangkan dopt untuk stainless steel = 226 G0,5 -0,35
Untuk perkiraan cepat dapat juga digunakan grafik di Perry, fig. 3,52, pada
Sec.5. hal. 31. ( cari Gambarnya dan perhatikan)

19

Contoh: Perkirakan ukuran pipa ekonomis jika air mengalir 10 kg/det, pada
200C, dan digunakan Carbon steel pipe.
Diketahui air = 1000 kg/m3 dan air = 1,1 10-3 kg/(m.det)
dopt = 282 G0,52 -0,37 =
dopt = 282(10)0,52 (1000)-0,37 = 72,5 mm, dapat dipilih d = 80 mm
4.G
4.10
dicheck Re =
=
= 145.000, turbulen
.D .1,1.10 380.10 3

9. FITTING
Fitting merupakan satu potongan yang berfungsi salah satu:
1. Menggabungkan dua batang pipa, misal coupling, union
2. Mengubah arah aliran pipa, missal elbow, tee
3. Mengubah diameter pipa, misal reducer
4. Mengakhiri jaringan pipa, misal plug, valve
5. Menggabungkan dua aliran menjadi aliran satu, misal tee
6. Mengontrol aliran misal kran atau valve
Gambar-gambar contoh fitting

10. KRAN ATAU VALVE


Kran termasuk salah satu jenis fitting yang berfungsi untuk mengontrol
aliran atau untuk membuka/menutup aliran.
Pemilihan jenis kran yang akan digunakan tergantung beberapa hal:
- jenis fluida yang mengalir
- jumlah aliran
- tujuan/fungsi kran :
1. untuk control kecepatan kran yang panjang ekvivalennya besar missal
gate valve, globe valve, dan needle valve
2. untuk control arah aliran (missal aliran balik tidak dinginkan) maka
dapat digunakan swing check valve, angle check valve dan ball check
valve
3. untuk membuka/menutup aliran (shut off valves)
Untuk shut off valves maka harus betul-betul dapat tertutup rapat pada waktu
tertutup, dan memberikan tahanan aliran yang kecil jika sedang terbuka. Jenis
Gate, plug dan ball valves dapat digunakan untuk tujuan ini.
Untuk control kecepatan aliran, maka kran harus dapat memberi pengaturan
yang baik (smooth control) pada keseluruhan kisaran aliran dari keadaan tertutup
rapat sampai terbuka sempurna. Untuk tujuan ini dapat digunakan globe valves,
sedangkan untuk control gas/uap dapat digunakan jenis butterfly valves.
Gate valves : dengan memutar stem, maka disk akan naik atau turun, naik maka
lubang aliran fluida lebih besar, sehingga kecepatan aliran lebih tinggi. Dengan

20

hanya memutar sedikit saja, lubang aliran akan naik dengan cukup besar,
sehingga akan sulit digunakan untuk mengontrol kecepatan aliran. Kran ini cocok
untuk pembuka/penutup aliran.
Gate valve dibuat dua macam yaitu rising stem valve dan non rising stem valve.

11. DIMENSI, SATUAN, DAN KONVERSI


Dimensi adalah suatu cara/pernyataan untuk memberikan deskripsi tentang
macam besaran fisis yang ditinjau, Contoh panjang (L), massa (M), waktu (t),
suhu (T), gaya (F) dan energi (E).
Sistim demensi:
1. Dimensi absolute (M,L,t,T)
2. Grafitasional atau sistim Engineering (F,L,t,T)
Energi (E,M,L,t,T)
Hubungan antara gaya dan massa dinyatakan dengan hukum Newton:
Gaya sama dengan perubahan momentum persatuan waktu
d (m.v)
F =
dt
Dimensi gaya sistim absolute = massa . kecepatan/ waktu = m. L/t2.
Untuk massa yang tetap
F = m.a
dimana a = percepatan atau dv/dt
Sedang untuk sistim Engineering
F = a/gc = F/gc
F adalah gaya yang dinyatakan dengan sistim Engineering dimensinya F, satuan
misal dalam lbf. Sehingga gc = factor konversi Newton = 32,17 (lb. ft) / (lbf.s2) = 1
kg.m/ N.det2 yang harganya tetap tidak tergantung tempat.
Kerja adalah gaya dikalikan jarak yang ditempuh, dimensinya untuk sistim
absolute = m.L2/ t2 sedangkan untuk sistim Engineering = F.L.
Satuan adalah suatu bentuk pernyataan yang dipakai untuk menunjukkan
ukuran dari suatu dimensi besaran fisis tertentu. Contoh satuan Inggris, satuan
Internasional, dan lain-lain.
Contoh satuan gaya : dyne, lbf, Newton, kgf., Satuan Energi: erg, Joule, ft.lbf,
Btu. Untuk mengubah satuan suatu besaran dari satu satuan ke satuan lainnya
diperlukan konversi.

21