Anda di halaman 1dari 10

CLINICAL SCIENCE SESSION

INSUFISIENSI VENA KRONIS

Disusun oleh :
Anindita Laksmi
Thivya Roopini
Ilman Hakim Arifin
Krissa Devani

Preseptor :
Prof. H. Hendro S. Yuwono, dr., Ph.D., SpB-(K)V

BAGIAN/SMF ILMU BEDAH VASKULER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RSUP HASAN SADIKIN
2015

Insufiensi Vena Kronis


DEFINISI
Kelainan yang meliputi telangiektasi, retikularis, varises, edema di pergelangan kaki, serta
perubahan kulit dan ulkus varikosum1 atau keadaan yang disebabkan oleh gangguan aliran darah
vena dan gangguan tersebut semakin bertambah berat dengan berjalannya waktu2.

EPIDEMIOLOGI
Insufisiensi vena kronis ditemukan 25-50% pada perempuan dewasa serta 15-30% pada
laki-laki dewasa.1

FAKTOR RISIKO2
1. Sejarah varises dalam keluarga
Dijumpai pada 43-80% kasus, yaitu dijumpai varises tungkai pada saudara kandung
atau salah satu atau kedua orang tuanya.
2. Umur
Varises banyak terjadi pada usia dewasa dan akan menjadi lebih banyak jumlahnya
pada usia lanjut.
3. Perempuan (5-6 x kali lebihsering)
4. Kegemukan
5. Kehamilan >2x
6. Pengguna pil atau suntikan hormon dalam KB
7. Terbiasa bekerja dalam posisi berdiri tegak > 6 jam sehari
8. Ukuran tinggi badan
Berhubungan dengan tinggi kolom darah vena dan tekanan hidrostatik yang
ditimbulkan.
ETIOLOGI2
a. Kongenital
1. Aplasia, avalvuvia : katup yang seharusnya terbentuk di suatu segmen, ternyata
tidak terbentuk samasekali
2. Dysplasia
3. Malformasi vena
4. Sindrom Klippel-Trenaunay
2. Primer
Kelemahan intrinsik dri dinding katup dimana terjadi elongasi, yaitu daun katup yang
terlalu panjang dan floppy redundant, yaitu keadaan katup yang panjang melambai

sehingga katup tidak menutup secara sempurna sehingga tidak dapat menahan aliran balik
(refluks).
3. Sekunder
Disebabkan oleh keadaaan patologik yang didapat, yaitu akibat adanya
penyumbatan thrombosis vena dalam yang menimbulkan gangguan kronis pada katup
vena dalam.
PATOFISIOLOGI
Terdapat beberapa teori mengenai patofisiologi insufisiensi vena kronis, yaitu2 :
1. Komunikasi Arteriovenosa

Namun, para ahli menentang teori ini karena penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang nyata jumlah volume darah pada vena normal dan vena yang mengalami
varises.
2. Disfungsi Katup Vena Saphena Magna

3. Inkompetensi Vena Perforator


Teori ini hanya berlaku pada sebagian kasus varises primer, yaitu pada kasus varises
yang dihubungkan dengan adanya inkompetensi vena perforator pada daerah cruris.
4. Kerusakan Struktur Dinding Vena

5. Teori Fibrin Cuff

6. Teori Aktivasi Leukosit Terperangkap

Gambar patofisiologi3

KLASIFIKASI2
1. Berdasarkan ukuran
Berdasarkanukuranbesar diameter vena :
1. Varises vena saphena magna dan atau vena saphena parva
2. Varises percabangan dari vena saphena (varises retikularis)
3. Varises venula (telangiectasia) yang berukuran paling halus, diameter 1-2 cm
2. CEAP
Klasifikasi ini digunakan secara klinis untuk penyakit vena menahun pada ekstrimitas
bawah. Terdapat empat kelompok penilaian fungsi vena pada ekstrimitas bawah, yaitu
1. C (clinical classes) : tanda-tanda klinisklas 0-6, A bila asimtomatis, S bila terdapat
gejala
Klas 0 : vena tidak dapat dilihat atau tidak teraba
Klas 1 : telangiectasia (vena kecil terletak intradermal, diameter kurang dari 1
mm, tidak teraba menonjol, berwarna merah atau biru), vena retikularis
(subdermal, diameter 3 mm, tidak teraba menonjol)
Klas 2 : ditemukan varises (melebar, berkelok-kelok, teraba menonjol,
diameter >3 mm).
Klas 3 : terdapat pembengkakan tanpa perubahan kulit (tanpa pigmentasi, tanpa
tanda-tanda dermatitis)
Klas 4 : tampak perubahan kulit
- 4A : pigmentasi, dermatitis/eksim vena (venous eczema), terjadi akibat
penguraian hemosiderin (hemosiderin adalah endapan di luar pembuluh
darah vena akibat ekstravasasi).
- 4B : lipodermatosklerosis dan/atau atrophie blanche. Kelainan
lipodermatosklerosis memperlihatkan adanya penebalan kulit pada palpasi
sehingga tampak solid dan mengeras. Sedangkan atrophie blanche
menunjukkan gambaran kulit pucat, atrofi, dikelilingi oleh dilatasi kapilerkapiler atau pigmentasi. Keduanya merupakan gejala awal yang mengarah
kepada terjadinya ulkus.
Klas 5 : perubahan seperti pada klas 4 disertai ulkus yang sudah sembuh
(tampak mengering, mengecil, tertutup krusta, tanpa tepi kemerahan, tanpa
edema pada ulkus).
Klas 6 : perubahan seperti klas 5 disertai ulkus yang masih aktif (basah, tepi
kemerahan, edema pada ulkus, cenderung melebar ukurannya).
2. E (etiology)
Terdiri dari Ec (kongenital), Ep(primer), dan Es (sekunder)
3. A (anatomical segment)
Terdiri dari AS 1-5 (vena superficial), AD 6-16 (vena dalam), dan AP 17-18 (vena
perforator).
4. P (patofisiologi)
Terdiri dari Pr(refluks), Po(obstruksi), dan Pr,o(refluks dan obstruksi).

3. Skor Kecacatan
0 : pasien tidak mengalami keluhan
1 : pasien mempunyai keluhan tetapi dapat bekerja seperti biasa tanpa bantuan terapi
kompresif
2 : pasien dapat bekerja seperti biasanya bila menggunakan bantuan terapi kompresif dan
atau elevasi tungkai
3 : pasien tidak dapat bekerja walaupun dengan bantuan terapi kompresif dan atau elevasi
tungkai
DIAGNOSIS
a. Anamnesis1,2 :
Onset, progresifitas, informasi riwayat penyakit yang berkenaan dengan kelainan vena,
pekerjaan, riwayat kehamilan, riwayat penggunaan KB hormonal, dan juga gejala-gejala
yang mendukung kepada diagnosis insufisiensi kronis, yaitu :
1. Nyeri
2. Rasa lelah
3. Pegal
4. Kaki terasa berat dan bengkak
5. Kejang otot betis, terutama pada malam hari
6. Kulit terasa gatal di daerah ankle
7. Perasaan mudah lelah yang semakin terasa bila berdiri agak lama dan berjalan-jalan
8. Keluhan gangguan kosmetik
9. Perubahan warna menjadi kecoklatan terutama pada bagian pergelangan kaki
b. Pemeriksaan Fisik2
1. Ditemukan gambaran edema, perubahan warna kulit menjadi gelap (kecoklatan atau
kehitaman), lipodermatosclerotik, ulserasi terutama pada daerah medial pergelangan
kaki.
2. Tes Brodie-Trendelenburg
Untuk mengetahui kelainan katup pada vena superfisialis (vena magna dan atau vena
safena parva).
3. Tes Perthes
Untuk mengetahui adanya kelainan sumbatan trombus pada vena dalam.

Gambar Hiperpigmentasi4

Gambar Ulkus Vena4

c. Pemeriksaan Penunjang2
1. Continous wave doppler
Untuk melihat adanya obstruksi dan refluks
2. Duplex scanning
Untuk melihat gambaran kuantitas dari refluks, obstruksi pada vena dan memberikan
informasi secara anatomis kelainan vena pada sistem vena superfisialis, vena
perforantes, dan vena dalam.

Gambar Duplex scanning4

TERAPI
Prinsip dari terapi adalah usaha untuk memperlancar aliran darah vena tungkai.

a. Terapi Non-Farmakologi1,2
1. Pasien disarankan aktif bergerak dan tidak mempertahankan suatu posisi dalam waktu
yang terlalu lama.
2. Elevasi tungkai
3. Mengurangi berat badan yang berlebihan
4. Olahraga teratur sangat dianjurkan
5. Menggunakan stoking atau pembalut elastis
6. Diet sayur-sayuran dan buah-buahan
7. Balut verban dengan kopi2
Senyawa fenolik antioksidan dan antiinflamasi
Bakterisidal Daya inhibisi terhadap MRSA tinggi
Kemampuan absorpsi sehingga luka dapat mengering
Mengurangi bau
Kemampuan hemostatik mengurangi kemungkinan perdarahan
b. Terapi Farmakologi2
1. Flebotropik : benzopirone (Coumarin, Dicoumarol), flavonoid (Ardium, MPFF)
2. Limfotropik
3. Profibrinolitik
4. Anti-inflamasi
5. Anti radikal bebas
6. Inhibisi enzim lisosom
7. Antibiotik, bila terdapat luka yang terinfeksi
c. Terapi Kompresi
Pengobatan utama adalah teknik kompresi yang dilakukan dengan menggunakan
pembalut elastis atau stoking khusus untuk varises pada vena di ekstrimitas inferior.
Tehnik pembalutan harus tepat, tidak boleh longgar atau terlalu ketat dan tidak perlu
dipakai saat berbaring di tempat tidur.2 Belum diketahui mekanisme penyembuhan yang
pasti dengan pembalut elastis.2,4 Kompresi dipercaya bisa mengurangi edema sehingga
transpor oksigen dan nutrisi bisa kembali berjalan dengan baik.4

Gambar Teknik Kompresi4

d. Skleroterapi
Merupakan cara pengobatan untuk menghilangkan gejala varises pada tungkai dengan
menggunakan obat farmakologi. Pada skleroterapi dilakukan injeksi cairan sklerosan pada
vena-vena berukuran kecil, 1-2 mm (microslecrotherapy) dan vena yang berukuran 3-8

mm (macroslecrotherapy). Cairan sklerosan akan mendorong darah keluar dari lumen ,


menimbulkan inflamasi, spasme dan konstriksi vena, sehingga terjadi trombosis akut pada
segmen vena yang kemudian kolaps. Setelah diinjeksi, maka dilakukan penekanan dan
dibalut dengan pembalut elastis agar vena tetap kolaps dan tidak dialiri darah lagi.2
e. Terapi radiofrekuensi dan laser
Terapi radiofrekuensi menggunakan semacam kawat panjang yang dimasukkan ke
dalam lumen safena yang akan menimbulkan kerusakan dinding dan katup vena oleh
pengaruh panas yang dihasilkan arus listrik. Terapi laser dengan menggunakan alat yang
dimasukkan ke dalam lumen safena yang juga menimbulkan efek koagulasi sehingga
tejadi kerusakan dinding vena dan katupnya.2
f. Terapi Bedah2
Dilakukan apabila terapi non-invasif dan less-invasif (skleroterapi) tidak berhasil.
1. High ligation, ligase pada segmen sapheno-femoral junction
2. Stripping , mengangkat varises vena saphena magna
3. Pengangkatan vena dengan insisi kecil (phlebectomy)

REFERENSI

1. Selti Rosani, Alexander Jayadi. 2014. Insufisiensi Vena Kronis in Kapita


Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.
2. Hendro S. Yuwono. 2010. Ilmu BedahVaskular :Sains dan Pengalaman Praktis. Bandung :
Refika Aditama.
3. Silbernagl S, Lang F. 2000. Colour Atlas of Pathophysiology. New York : Thieme
4. Brunicardi, Charles F. 2015. Scwatrzs Principles of Surgery. Chicago : McGraw-Hill
Education.