Anda di halaman 1dari 23

REFERAT DERMATO - VENEREOLOGI

HISTOLOGI KULIT

Arenta Mantasari

H1A 008 009

Dante Yustisia

H1A 008 035

PEMBIMBING :
dr. Dedianto Hidajat, Sp. KK

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis Panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, atas segala limpahan
berkah dan pertolongan-Nya, sehingga Penulis bisa merampungkan referat ini tepat pada
waktunya.
Referat Dermato Venereologi yang berjudul Histologi Kulit ini Penulis susun dalam
rangka mengikuti kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP NTB.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang
telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada Penulis :
1. dr. Yunita Hapsari, M.Sc, Sp.KK, selaku coordinator pendidikan Bagian/SMF Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP NTB/Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.
2. dr. Dedianto Hidajat, Sp.KK, selaku pembimbing penulisan referat ini.
3. dr. Tjokorda Made Sugatha, Sp.KK, selaku supervisor.
4. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih terdapat banyak kekurangan,
sehingga Penulis sangat mengharapkan kritik serta saran untuk menyempurnakan tulisan ini.
Semoga referat ini dapat memberikan manfaat serta tambahan pengetahuan mengenai
histologi kulit untuk aplikasi klinis sehari-hari bagi para pembaca, dan terutama sekali bagi
Penulis sendiri. Terima kasih.

Mataram, Januari 2014

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan
Bab II Tinjauan Pustaka

2.1 Fungsi Kulit


2.2 Anatomi dan Histologi Kulit
2.2.1 Epidermis .
2.2.2 Sel-sel Tambahan Penyusun Epidermis
2.2.3 Dermis ...
2.3 Pembuluh dan Reseptor Sensorik di Kulit ...
2.4 Struktur Asesorius Kulit
...
2.4.1 Rambut ...
2.4.2 Kuku

2.4.3 Kelenjar-kelenjar di Kulit ...


2.4.3.1 Kelenjar Sebasea ..
2.4.3.2 Kelenjar Keringat
Bab III Kesimpulan
Daftar Pustaka

1
2
3
4
4
5
5
8
11
12
14
14
17
18
18
19
22
23

HISTOLOGI KULIT
Referat Dermatologi - Venereologi
Arenta Mantasari/Dante Yustisia
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
RSUP NTB/Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
BAB 1
PENDAHULUAN
Kulit merupakan organ kompleks yang melindungi manusia sebagai host dari lingkungan
sekitarnya, dan pada saat bersamaan juga memungkinkan terjadinya interaksi antara manusia
dengan dunia luar. Kulit merupakan struktur yang dinamis, kompleks dan tersusun dari sel-sel,
jaringan dan matriks yang terintegrasi satu sama lain untuk menjalankan fungsi kulit 1. Fungsi
utama dari kulit adalah sebagai protektor, baik itu dari infeksi, trauma, ataupun pajanan sinar
ultraviolet, dan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi sensasi, termoregulator, ekskresi dan
metabolik. Seluruh fungsi tersebut dapat berjalan karena susunan lapisan kulit beserta strukturstruktur di dalamnya yang khas, dengan fungsinya masing-masing 1,2,3.
Kulit adalah organ terberat di tubuh, yang biasanya membentuk 15-20% berat badan total
dan pada dewasa, memiliki luas permukaan sebesar 1,5-2m2 yang terpapar pada dunia luar. Kulit
terdiri atas epidermis, yaitu lapisan yang berasal dari ektoderm dan dermis, suatu lapisan
jaringan ikat yang berasal dari mesoderm. Taut dermis dan epidermis tidak teratur dan tonjolan
dermis yang disebut papilla saling mengunci dengan evaginasi epidermis yang disebut epidermal
ridges (rigi epidermis). Turunan epidermis meliputi rambut, kuku, kelenjar sebasea dan kelenjar
keringat. Dibawah dermis terdapat hypodermis atau jaringan subkutan, yaitu jaringan ikat
longgar yang dapat mengandung bantalan adiposa 4.
Selain sebagai protector terhadap berbagai pajanan lingkungan, secara tidak langsung
kulit juga merupakan barrier antara organ interna dengan dunia luar. Jadi secara unik kulit juga
dapat menimbulkan manifestasi akibat bahan-bahan berbahaya dari luar, maupun refleksi akibat
penyakit-penyakit interna. Pemahaman yang baik mengenai kausa dan efek dari tiap penyakit
dapat dikaitkan dengan kelainan pada struktur kulit yang mungkin terjadi, sehingga akan
memudahkan dalam aplikasi klinis sehari-hari 5.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fungsi Kulit
Fungsi spesifik kulit terbagi menjadi kategori secara umum 2,3,4 :
1. Protektif
Kulit menyediakan sawar fisis terhadap rangsang termal dan mekanis seperti gaya gesekan
dan kebanyakan pathogen potensial dan materi lain. Mikroorganisme mempenetrasi kulit
memberi sinyal limfosit dan sel penyaji antigen (APC) di kulit dan respon imun meningkat.
pigmen melanin gelap di epidermis melindungi sel dari radiasi ultraviolet. Permeabilitas kulit
selektif memungkinkan sejumlah obat lipofilik seperti hormone steroid tertentu dan obatobatan yang diberikan melalui koyo.
2. Sensorik
Fungsi ini memungkinkan kulit memantau lingkungan dengan mekanoreseptor di berbagai
lokasi spesifik di kulit, yang penting untuk interaksi tubuh dengan objek fisis.
3. Termoregulasi
Temperatur tubuh yang konstan normalnya lebih mudah dipertahankan berkat komponen
insulator kulit (misalnya, lapisan lemak dan rambut di kepala) dan mekanismenya untuk
mempercepat pengeluaran panas (produksi keringat dan peran mikrovaskuler superficial).
4. Metabolik
Sel kulit mensintesis vitamin D3, yang diperlukan pada metabolisme kalsium dan
pembentukan tulang secara tepat melalui kerja system sinar UV setempat pada precursor
vitamin ini. kelebihan elektrolit dapat dihilangkan melalui keringat dan lapisan subkutan
menyimpan sejumlah energy dalam bentuk lemak.
5. Sinyal seksual
Banyak gambaran kulit seperti pigmentasi dan rambut adalah indicator visual kesehatan yang
terlibat dalam ketertarikan antara jenis kelamin pada semua spesies vertebra, termasuk
manusia. Efek feromon seks yang dihasilkan kelenjar keringat apokrin dan kelenjar lain
dikulit juga penting untuk ketertarikan tersebut.
6. Ekskresi
Sebagian kecil metabolit tubuh dibuang melalui kulit dan beberapa kelenjar di dalamnya.
7. Identitas
Integritas dermal-epidermal memiliki variasi pasak dan lubang (peg and socket) pada
sebagian besar kulit, tetapi dijumpai berupa alur (groove) dan rabung (ridge) yang terbentuk
baik dikulit telapak tangan dan kaki yang tebal yang lebih tahan terhadap gesekan.

Kombinasi dari gelungan, lekuk dan uliran disebut sebagai dermatoglyph yang juga dikenal
sebagai sidik jari dan jejak kaki.
2.2 Anatomi dan Histologi Kulit
2.2.1 Epidermis

Gambar 1. Dermis dan epidermis. (a) Tampakan mikrograf dari epidermis yang terletak diatas dermis (b) Tampakan
mikrograf dari epidermis dan dermis dengan magnifikasi yang lebih kuat 3

Epidermis terdiri atas epitel berlapis gepeng berkeratin yang disebut keratinosit. Tiga
jenis sel epidermis yang jumlahnya lebih sedikit juga ditemukan yaitu melanosit, sel langerhans
sel penyaji antigen (APC) dan sel merkel atau sel taktil epithelial. Epidermis memiliki perbedaan
utama antara kulit tebal dan tipis. Kulit tipis dengan ketebalan lapisan antara 75 m sampai 150
m dan kulit tebal antara 400 sampai 1400 m (1,4 mm). Ketebalan kulit total (epidermis
ditambah dermis) juga bervariasi menurut tempatnya. Misalnya pada punggung memiliki tebal 4
mm sedangkan kulit kepala 1,5mm 3,3,7,8.

Gambar 2. Variasi Anatomis Ketebalan Epidermis (A) Kulit akral (B) Kulit kelopak mata.
Perbedaan nyata nampak pada ketebalan stratum korneum 1

Dari dermis ke atas, epidermis terdiri atas lima lapisan keratinosit, yaitu 3,4:

Stratum Basale
Lapisan ini terdiri dari selapis sel kuboid atau kolumnar basofilik. Hemidesmosom, yang
terdapat di plasmalema basal membantu mengikat sel-sel ini pada lamina basal dan
desmosom mengikat sel-sel di lapisan ini bersama-sama di permukaan atas dan
lateralnya. Lapisan ini ditandai dengan tingginya aktivitas mitosis dan bertanggung jawab
atas produksi sel-sel epidermis diatasnya secara berkesinambungan. Meskipun sel punca
untuk keratinosit di temukan di lapisan basal, lokus untuk sel tersebut juga ditemukan
ditonjolan khusus selubung folikel rambut yang bersambung dengan epidermis.
Epidermis manusia diperbaharui setiap 15-30 hari, bergantung pada usia, bagian tubuh
dan faktor lain. Semua keratinosit dalam stratum basale mengandung filament keratin
intermediate berdiameter 10 nm. Saat sel berpindah keatas, jumlah dan tipe filament
keratin juga bertambah hingga mencapai setengah jumlah protein total di lapisan terluar.

Stratum Spinosum
Lapisan epidermis paling tebal terdiri dari sel kuboid atau agak gepeng dengan inti
ditengah dengan nucleolus dan sitoplasma yang aktif mensintesis filament keratin. Tepat
di atas lapisan basal, sejumlah sel masih membelah dan zona in disebut stratum
germinativum. Filament keratin membentuk berkas yang tampak secara mikroskopis
6

disebut dengan tonofibril yang berkonvergensi dan berakhir pada sejumlah desmosom
yang menghubungkan secara kuat untuk menghindari gesekan. Epidermis di area yang
rentan mengalami gesekan dan tekanan secara kontinu (seperti telapak kaki) memiliki

stratum spinosum yang lebih tebal dengan lebih banyak tonofibril dan desmosom.
Stratum Granulosum
Lapisan ini terdiri atas 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang mengalami diferensiasi
terminal. sitoplasma berisikan massa basofilik intens disebut granul keratohialin. Struktur
tersebut tidak berikatan dengan membrane dan terdiri atas massa filaggrin dan protein
lain yang berhubungan dengan keratin tonofibril yang menghubungkannya dengan
struktur sitoplasma besar pada proses keratinisasi. Gambaran lainnya berupa granul
lamella pada mikroskop electron. Granul lamella merupakan suatu struktur lonjong yang
mengandung banyak lamel yang dibentuk oleh berbagai lipid dan mengalami eksoditosis
dan mencurahkan isinya ke dalam antar sel di stratum granulosum. Di tempat ini, materi
kaya lipid membentuk lembaran-lembaran yang melapisi sel, yang kini lebih kecil
daripada kantong pipih yang terisi keratin dan protein terkait. Lapisan selubung lipid
merupakan komponen utama sawar epidermis terahadap kehilangan air dari kulit.
Keratinisasi dan produksi lapisan yang kaya lipid memiliki efek pelindung yang penting

di kulit, yang membentuk sawar terhadap penetrasi sebagian besar benda asing.
Stratum Lusidum
Lapisan ini hanya dimiliki pada kulit yang tebal, dan terdiri atas lapisan tipis translusen
sel eosinofilik yang sangat pipih. Organel dan inti telah menghilang dan sitoplasma
hampir sepenuhnya terdiri atas filamen keratin padat yang berhimpitan dalam matriks

padat-elektron. Desmosom masih tampak diantara sel-sel yang bersebelahan.


Stratum Korneum
Lapisan ini terdiri atas 15-20 lapis sel gepeng berkeratin tanpa inti dengan sitoplasma
yang dipenuhi keratin filamentosa birefringen. Filamen keratin mengandung sekurangkurangnya 6 macam polipeptida dengan massa molekul antara 40 kDa sampai 70 kDa.
Komposisi tonofilamen berubah sewaktu sel epidermis berdiferensiasi dan ketika massa
tonofibril bertambah dengan protein lain dari granula keratohialin. Setalah mengalami
keratinisasi, sel-sel hanya terdiri atas protein amorf dan fibrilar dan membrane plasma
yang menebal dan disebut sisik atau sel bertanduk. sel-sel tersebut secara kontinu
dilepaskan pada permukaan stratum korneum.

Gambar 3. Lapisan Epidermis 3

2.2.2 Sel Tambahan Penyusun Epidermis

Melanosit
Warna kulit ditentukan berbagai faktor, dan yang terpenting yaitu kandungan melanin dan

karoten dalam keratinosit dan sejumlah pembuluh darah dalam dermis. Eumelanin adalah
pigmen hitam kecoklatan yang dihasilkan oleh melanosit, suatu sel khusus epidermis yang
terdapat di antara sel-sel lapisan basal dan folikel rambut. Pigmen serupa juga ditemukan dalam
rambut merah disebut feomelanin. melanosit berasal dari Krista neural yang bermigrasi ke
stratum basale yang berkembang dan ditempat ini akhirnya menetap untuk setiap 5 6
keratinosit basal 4.
Melanin disintesis dalam melanosit dengan tirosinase. Tirosinase dan protein terkait
tirosinase merupakan protein transmembran yang disintesis dalam reticulum endoplasma kasar.
Aktivitas tirosinase mengubah tirosin menjadi 3,4 dihidroksifenilalanin (DOPA), yang kemudian
diubah dan berpolimerasi menjadi melanin. Pigmen tersebut kemudian terikat pada matriks
protein struktural di vesikel. Melanin menumpuk sampai membentuk granul matang yang
terkumpul dalam apparatus Golgi, dan disebut sebagai melanosom. Granula melanin diangkut ke

ujung dendrit melanosit. Keratinosit terikat di lapisan basal dan spinosum memfagosit ujung
dendrit tersebut. Didalam setiap keratinosit, ujung dendrit tersebut berakumulasi dan membentuk
tudung supranuklear yang menyerap dan menyebarkan sinar matahari dan melindungi DNA inti
dari bahaya sinar UV 4.

Gambar 4. Transfer Melanin dari Melanosit ke Keratinosit.


(1) Melanosom diproduksi di apparatus Golgi melanosit, (2) melanosom berpindah ke prosesus melanosit, (3)
sel epitel memfagosit ujung dari prosesus melanosit, (4) melanosom berada di dalam keratinosit 3

Produksi melanin ditentukan oleh faktor genetic, hormone dan pajanan sinar matahari.
Yang memiliki peranan terpenting dalam menentukan warna kulit adalah faktor genetic, yang
membedakan jumlah dan tipe melanin yang dihasilkan melanosit serta ukuran, jumlah dan
distribusi melanosom. Warna kulit tidak ditentukan oleh jumlah melanosit, karena seluruh ras
memiliki jumlah yang serupa 3. Penggelapan warna kulit setelah pajanan sinar matahari
merupakan hasil dari 2 tahapan. Mula-mula suatu reaksi fotokimia menggelapkan melanin yang
ada, kemudian kecepatan sintesis melanin dalam melanosit dan transfer ke keratinosit meningkat,
yang menambah jumlah pigmen ini 4.

Sel (Langerhans) Dendritik


Sel penyaji antigen (APC = Antigen Presenting Antigen) yang biasanya terlihat jelas di

lapisan spinosum dan mewakili 2-8% sel-sel epidermis. Sel langerhans merupakan sel darah
turunan sumsum tulang yang mampu mengikat, mengolah, dan menyajikan antigen kepada
limfosit T dengan cara yang sama sebagai sel dendritik imun pada organ lain. Sel langerhans

beserta limfosit epidermal yang tersebar dan sel imun yang serupa di dermis membentuk
komponen utama imunitas adaptif kulit, oleh karena lokasinya kulit secara kontinu berkontak
erat dengan banyak molekul antigen. Berbagai gambaran epidermis berperan pada imunitas
alami dan imunitas adaptif, yang menyediakan komponen imunologis pada keseluruhan fungsi
perlindungan kulit 4.

Gambar 5. Melanosit, Sel Langerhans dan Sel Merkel 8

Sel (Merkel) Taktil


Sel taktil epithelial adalah mekanoreseptor yang menyerupai keratinosit terpulas pucat
dengan keratin di sitoplasmanya tetapi dengan sedikit melanosom. Selain berasal dari Krista
neuralis, sel merkel berlokasi di lapisan epidermal basal diarea sensitivitas taktil yang tinggi
dan pada dasar folikel rambut. Permukaan basolateral sel berkonta dengan cakram terminal
serabut sensorik tak bermielin yang mempenetrasi lamina basal. Sel taktil memiliki fungsi
yang berkaitan dengan system neuroendokrin difus, selain sebagai mekanoreseptor untuk
sensasi sentuhan 4.
10

Limfosit
Epidermis manusia normal mengandung persentase rendah (<1,3%) limfosit, yang biasanya
terlihat dengan teknik imunohistokimia. Sel-sel ini akan muncul terutama di lapisan basal,
dan telah dipelajari oleh aliran-cytometry. Mereka umumnya mengungkapkan T memori /
efektor fenotip (TCR alphabeta +, CD3 +, CD4 + CD8-CD45RO +, Fas +, integrin aeb7),
dengan variasi fenotipik Regional 9.

Sel Toker
Ini adalah sel dengan sitoplasma yang jelas, pertama kali dijelaskan pada tahun 1970 di
epidermis dari 10% kulit puting pada pria dan wanita. Sifat yang tepat dan peran dalam kulit
normal dan berpenyakit tetap belum dipahami. Menurut studi terbaru, sel-sel ini
mengekspresikan keratin n 7 [17] serta beberapa mucins (MUC1, MUC2, MUC5AC) juga
hadir dalam sel-sel penyakit payudara Paget 9.

2.2.3 Dermis
Dermis adalah jaringan ikat yang menunjang epidermis dan mengikatnya pada jaringan
subkutan. Ketebalan dermis bervariasi, bergantung pada daerah tubuh. dan mencapai ketebalan
maksimal 4 mm di daerah punggung. Permukaan dermis ireguler dan memiliki banyak tonjolan
(papilla dermis) yang saling mengunci dengan rabung epidermis. Membran basal selalu dijumpai
antara stratum basale dan lapisan papilar dermis dan mengikuti kontur interdigitasi antara kedua
lapisan tersebut. Membran basal terdiri dari lamina basal dan lamina reticular. Nutrien untuk
keratinosit berdifusi kedalam epidermis avaskular dari vascular dermis melalui membran basal 4.
Dermis terdiri atas 2 lapisan dengan batas yang tidak nyata yaitu lapisan papilar di luar
dan lapisan reticular di dalam. Lapisan papilar tipis terdiri atas jaringan ikat longgar, dengan
fibroblast dan sel jaringan ikat lainnya seperti sel mast dan makrofag. Dari lapisan ini, fibril
penambat dari kolagen tipe VII menyelip ke lamina basal dan mengikat dermis pada epidermis.
Lapisan reticular lebih tebal, yang terdiri dari jaringan ikat padat irregular ( terutama kolagen
tipe I) dan memiliki lebih banyak serat dan lebih sedikit sel daripada lapisan papilar. Jaringan
serat elastin juga ditemian yang menghasilkan elastisitas kulit. ruang antara serat kolagen dan
elastin kaya akan dermatan sulfat 4.

11

Dermis merupakan tempat turunan epidermis dan kelenjar. Terdapat banyak serabut saraf
dalam dermis. saraf efektor yang berjalan ke struktur dermis merupakan serabut pasca ganglionik
ganglia simpatis. Tidak terdapat persarafan para simpatis 4.
2.3 Pembuluh dan Reseptor Sensorik di Kulit
Jaringan ikat kulit mengandung jalinan yang kaya akan pembuluh darah dan pembuluh
limfe. Pembuluh darah yang memberi makan pada kulit membentuk dua pleksus utama, yaitu di
dalam pada pertemuan antara hypodermis dan dermis, serta di antara lapisan dermis papilar dan
reticular. Pleksus subpapilar mengirimkan cabang ke dalam papilla dermis dan menyuplai suatu
jalinan kapiler nutrisi tepat di bawah epidermis 4.

Gambar 6. Termoregulasi oleh Pembuluh Darah di Kulit 3

Selain fungsi nutrisi, vaskuler dermis memiliki fungsi termoregulator yang melibatkan
banyak pirau atau anastomosis arteriovenosa yang berada di antara kedua pleksus. Pirau
mengurangi aliran darah di lapisan papilar untuk meminimalkan kehilangan panas dalam
keadaan dingin, dan meningkatkan aliran ini untuk mempermudah pengeluaran panas jika udara
panas, sehingga membantu memelihara suhu tubuh yang konstan. Pembuluh limfe berawal
sebagai kantong buntu di papilla dermis dan berkonvergensi membentuk dua pleksus yang
bersebelahan dengan pembuluh darah 3,4.
Varietas reseptor sensorik terdapat di kulit, termasuk ujung saraf tanpa lapisan kolagenosa
atau glia dan lebih banyak struktur kompleks dengan serabut sensorik yang dilapisi oleh glia dan
kapsul jaringan ikat halus.
Reseptor yang tidak berkapsul antara lain 4:
12

a. Cakram taktil, yang berhubungan dengan sel taktil epidermis, dengan fungsi sebagai
reseptor untuk sentuhan ringan.
b. Ujung saraf bebas di dermis papilar dan terjulur ke dalam lapisan epidermis bawah, yang
terutama berespon terhadap suhu tinggi dan rendah, nyeri dan gatal, tetapi juga berfungsi
sebagai reseptor taktil.
c. Pleksus akar rambut, yaitu suatu jaring serabut sensorik yang mengelilingi dasar folikel
rambut di dermis reticular yang mendeteksi gerakan rambut.
Reseptor bersimpai antara lain :
a. Korpuskel taktil (korpuskel Meissner) merupakan struktur elips berukuran sekitar
diameter terpendek 30-75 m dengan diameter panjang 150 m, yang tegak lurus
terhadap epidermis di papilla dermis dan lapisan papilar di ujung jari, telapak tangan dan
telapak kaki. Reseptor ini mendeteksi sentuhan ringan 1,4,10.

Gambar 7. Korpuskel Meissner (pewarnaan HE) 10

b. Korpuskel Paccini lamellar merupakan struktur oval besar dengan ukuran sekitar 0,5x1
mm, yang ditemukan di dalam dermis atau hypodermis reticular, dengan kapsul luar, dan
15-50 lamela konsentris tipis. Sel tipe Schwann pipih dan kolagen yang mengelilingi
akson tak bermielin yang sangat bercabang. Korpuskel berlamela dikhususkan untuk
mendeteksi sentuhan kasar, tekanan (sentuhan berkesinambungan) dan getar dengan
distorsi simpai yang memperkuat suatu rangsang mekanis ke inti aksonal tempat impuls
awalnya terbentuk 1,4.

13

Gambar 8. Korpuskel Paccini.


Gambaran kapsul perineural nampak sebagai onion skin 1

c. Korpuskel Krause dan korpuskel Ruffini adalah mekanoreseptor bersimpai lain yang
mendeteksi tekanan di dermis, tetapi strukturnya tidak terlalu khas.

Gambar 9. Diagram Lokasi Reseptor Sensoris di Kulit Berambut dan Tidak Berambut 2

2.4 Struktur Asesorius Kulit


2.4.1 Rambut
Rambut adalah struktur berkeratin panjang yang berasal dari invaginasi epitel epidermis
yang disebut folikel rambut. Warna, ukuran dan tekstur rambut bervariasi sesuai umur, latar
belakang genetik dan bagian tubuh. Semua kulit paling tidak memiliki sedikit rambut, kecuali di
telapak tangan, telapak kaki, bibir, glans penis, klitoris dan labia minora 3,4.
Saat perkembangan janin pada bulan kelima atau keenam akan tumbuh rambut tipis tidak
berpigmen, yang disebut sebagai lanugo, menutupi tubuh janin. Menjelang kelahiran, rambut
terminal yang panjang, kasar dan berpigmen menggantikan lanugo di daerah kulit kepala, bulu
mata, dan alis. Rambut vellus, yang pendek, halus dan biasanya tidak berpigmen akan
menggantikan lanugo pada bagian tubuh lainnya. Pada saat pubertas, rambut vellus di area pubis
dan aksila akan digantikan oleh rambut terminal sebagai penanda seks sekunder. Selain itu dapat
pula dilihat pada laki-laki sebagai rambut pada dada, kaki, serta kumis atau janggut 3.
Rambut tidak tumbuh terus menerus dan memiliki masa pertumbuhan yang diikuti oleh
masa istirahat. Pertumbuhan ini tidak berlangsung secara sinkron di semua bagian tubuh atau
14

bahkan di daerah yang sama. Lama masa pertumbuhan dan masa istirahat rambut juga bervariasi
sesuai daerah tubuh. Di kulit kepala, masa pertumbuhan (anagen) dapat berlangsung beberapa
tahun, sementara masa regresi folikel (katagen) dan inaktivasi (telogen) bersama-sama dapat
berlangsung 3 4 bulan. Pertumbuhan rambut di muka dan pubis sangat dipengaruhi oleh
hormone, terutama hormone androgen 4.

Gambar 10. Siklus Rambut 2

Selama masa anagen, folikel rambut memiliki pelebaran di distal yang disebut bulbus
rambut. Suatu papilla dermis menyelip ke dalam dasar bulbus rambut dan mengandung jalinan
kapiler yang diperlukan untuk kelangsungan hidup folikel rambut. Saat pertumbuhan rambut
terhenti, folikel rambut akan memendek dan menjaga rambut tetap pada tempatnya. Hilangnya
aliran darah menimbulkan kematian folikel. Periode istirahat akan diikuti oleh siklus rambut
yang baru, yang ditandai dengan penggantian rambut lama dengan rambut baru, dan nampak
sebagai rambut yang rontok 3,4.
Sel epitel (keratinosit) yang ada pada bulbus tersebut serupa dengan sel epitel pada
lapisan basal dan spinosa epidermis. Sel-sel ini membelah secara kontinyu dan lalu mengalami
keratinisasi, yang berdiferensiasi menjadi tipe sel spesifik. Pada jenis rambut tebal tertentu, selsel bagian pusat akar rambut di puncak papilla dermis menghasilkan sel-sel besar bervakuola
dengan cukup keratin, yang akan membentuk medulla rambut. Sel-sel lain berdiferensiasi
menjadi sel-sel fusiformis berkelompok padat yang berkeratin banyak, yang akan membentuk
korteks rambut. Sel-sel yang paling perifer akan membentuk kutikula rambut, suatu lapisan tipis
15

sel-sel berkeratin. Melanosit di bulbus rambut mentransfer granul ke dalam sel epitel yang
kemudian berdiferensiasi membentuk rambut 4.

Gambar 11. Folikel Rambut


a) Folikel rambut yajg berisi rambut dan akar rambut dermal dan epithelial;
b) pembesaran folikel dan bulbus rambut; c) penampang melintang rambut di dalam folikel rambut 3

Sel-sel terluar tersambung dengan sarung akar epithelial, dengan dua lapisan yang dapat
dikenali. Sarung akar rambut dalam sepenuhnya mengelilingi bagian awal batang rambut tetapi
berdegenerasi di atas kelenjar sebasea. Sarung akar rambut luar melapisi sarung dalam dan
meluas ke epidermis, dimana sarung ini akan berhubungan ke lapisan basal dan spinosa 4.
Yang memisahkan folikel rambut dari dermis adalah lapisan hialin nonseluler, yaitu
membrane tebal yang disebut membrane kaca (glassy membrane). Dermis sekitarnya membentuk
sarung jaringan ikat. Suatu berkas otot polos berjalan dari titik tengah sarung tersebut dan
menuju lapisan papilar, yaitu musculus arrector pili. Kontraksi otot ini akan menegakkan batang

16

rambut, biasanya pada udara dingin, sebagai usaha untuk menahan lapisan udara hangat di dekat
kulit. Kontraksinya akan menimbulkan distorsi dermis yang melekat 4.
Warna rambut disebabkan oleh aktivitas melanosit yang terdapat di antara papilla dan selsel epitel akar rambut. Melanosit menghasilkan dan memindahkan granul melanin ke keratinosit
tersebut melalui suatu mekanisme yang umumnya serupa dengan proses pada epidermis.
Beberapa perbedaan mendasar antara keratinisasi epidermis dengan rambut adalah bahwa
keratinisasi pada rambut akan berdiferensiasi menjadi tipe sel di medulla, korteks dan kutikula;
yang tiap-tiap sel tersebut sedikit berbeda dalam ultrastruktural, karakter histologist dan fungsi.
Keratin rambut memiliki konsistensi yang lebih keras dan padat daripada stratum korneum 4.
2.4.2 Kuku
Suatu proses keratinisasi serupa menghasilkan kuku, yang merupakan lempeng keratin
yang keras dan fleksibel pada permukaan dorsal setiap falang distal. Fungsi utama kuku adalah
untuk proteksi ujung jari, membantu ketangkasan atau keterampilan dan pada beberapa orang
memiliki peran kosmetika. Pertumbuhan awal kuku dimulai pada usia kehamilan 8 9 minggu 4.
Bagian proksimal kuku adalah akar kuku dan dilapisi oleh lipatan kulit proksimal yang
tipis dan tidak memiliki rambut dan kelenjar. Stratum korneum epidermis ini yang terjulur dari
lipatan kuku proksimal membentuk eponikium atau kutikula, yang dapat mencegah kerusakan
matriks. Area semisirkular pada bagian proksimal disebut sebagai lunula, dan merupakan bagian
yang memperlihatkan matriks karena sifatnya yang semi transparan. Permukaan dorsal kuku
berwarna merah muda karena kaya akan struktur vascular di bawah lempeng kuku 2,4.
Lempeng kuku berkeratin terikat pada bantalan epidermis yang disebut bantalan kuku
(nail bed), yang hanya memiliki lapisan basal dan spinosa. Lempeng kuku timbul dari matriks
yang mengandung kalsium, fosfat, zat besi, zink, mangan tembaga dan terutama adalah sulfur
kuku yang terjulur dari akar kuku. Kandungan sulfur inilah yang menentukan kualitas lempeng
kuku. Sel-sel matriks membelah, bergeser ke distal dan mengalami keratinisasi yang membentuk
akar kuku. Akar tersebut menjadi matang berupa lempeng kuku dengan permukaan kontinyu
pada kecepatan sekitar 3 mm/bulan untuk kuku jari tangan dan 1 mm/bulan untuk kuku ibu jari
kaki. Ujung distal lempeng menjadi bebas dari bantalan kuku yang disebut hiponikium dan habis
terkikis atau terpotong 2,3.

17

Gambar 12. Anatomi dan Struktur Kuku 2

2.4.3 Kelenjar-kelenjar di Kulit


2.4.3.1 Kelenjar Sebasea
Kelenjar sebasea terbenam dalam dermis pada sebagian besar permukaan tubuh, kecuali
pada kulit tebal yang tidak berambut (glaborous skin) di telapak tangan dan telapak kaki.
Terdapat sekitar 100 kelenjar per cm2, tetapi jumlah ini meningkat mencapai sekitar 400
900/cm2 pada bagian wajah dan kulit kepala. Kelenjar sebasea merupakan kelenjar asinar
bercabang dengan sejumlah asini yang bermuara ke dalam saluran pendek dan biasanya berakhir
di bagian atas folikel rambut. Di area tertentu seperti kelenjar genital, kelopak mata dan putting
payudara, kelenjar ini bermuara langsung ke permukaan epidermis. Asini terdiri atas lapisan
basal sel-sel epitel gepeng tak berdiferensiasi yang terletak di atas lamina basalis. Sel-sel ini
berproliferasi dan bergeser ke arah pertengahan asinus, yang mengalami diferensiasi terminal
berupa sebosit besar penghasil lipid, dengan sitoplasmanya yang terisi dengan droplet lemak
kecil. Intinya berangsur mengkerut dan mengalami autofagi di sepanjang organel lain, dan di
dekat duktus sel akan terpisah-pisah dan melepaskan lipid melalui sekresi holokrin. Hasil proses
tersebut adalah sebum, yang secara berangsur berpindah secara kontinyu ke permukaan kulit di
sepanjang duktus atau folikel rambut, tanpa ada control neurologis sama sekali 4,5.
18

Sebum merupakan suatu campuran lipid yang mencakup ester malam (wax), skualen,
kolesterol dan trigliserida yang dihidrolisis oleh enzim bakteri setelah disekresi. Sekresi dari
kelenjar sebasea sangat meningkat saat pubertas, yang terutama dirangsang oleh testosterone
pada pria dan oleh androgen ovarium dan adrenal pada wanita. Fungsi spesifik sebum
nampaknya membantu mempertahankan stratum korneum dan rambut, mencegah evaoparasi,
serta efek antibakteri dan antijamur yang lemah pada permukaan kulit 4,5.

Gambar 13. Histologi Kelenjar pada Kulit


Kelenjar sebasea (panah hitam panjang & panah biru pendek);
kelenjar keringat apokrin (panah hitam); kelenjar keringat ekrin (panah kuning) 5

2.4.3.2 Kelenjar Keringat


Kelenjar keringat adalah derivate epitel yang tertanam di dermis yang membuka ke
permukaan kulit atau ke dalam folikel rambut. Kelenjar keringat ekrin dan kelenjar keringat
apokrin memiliki perbedaan distribusi, fungsi dan rincian struktur 4,5 :
a. Kelenjar keringat ekrin
Jenis kelenjar ini terdistribusi luas di kulit dan paling banyak pada telapak kaki (+ 620/cm2).
Secara kolektif, 3 juta kelenjar keringat ekrin pada rerata individu setara dengan massa
sebuah ginjal dan dapat menghasilkan sebanyak 10 liter/hari, jauh melebihi laju sekresi
kelenjar eksokrin lainnya. Keringat adalah respon fisiologis tubuh terhadap peningkatan suhu
tubuh selama aktifitas fisik atau stress termal, dan merupakan mekanisme termoregulasi
terefektif 4,5.
19

Bagian sekretorik dan duktus kelenjar ekrin bergelung dan memiliki lumen yang kecil.
Bagian sekretorik umumnya terpulas lebih pucat daripada bagian duktus, dan memiliki epitel
kuboid berlapis yang terdiri atas 3 macam sel. Sel jernih pucat berbentuk pyramid atau
kolumnar menghasilkan keringat, dengan sejumlah besar mitokondria dan mikrovili untuk
menambah luas permukaan. Cairan interstisial dari dermis yang kaya akan kapiler di sekitar
kelenjar tersebut diangkut melalui sel jernih, baik secara langsung ke lumen atau ke dalam
kanalikuli antarsel yang membuka ke lumen. Sel yang jumlahnya setara dengan sel jernih
adalah sel gelap, yang melapisi sebagian besar permukaan luminal dan tidak menyentuh
lamina basalis; bersifat mukoid dan terisi dengan granul berisi glikoprotein dengan fungsi
yang agaknya mencakup komponen imunitas alami dengan aktivitas bakterisidal. Sel
mioepitelial di lamina basalin menghasilkan kontraksi yang membantu melepaskan secret ke
dalam duktus 4,5.
Duktus kelenjar ekrin terdiri atas dua lapisan sel epitel yang lebih bersifat asidofilik dan terisi
dengan mitokondria dan memiliki membrane yang kaya akan Na +, K+-ATPase. Sel-sel duktus
ini menyerap ion Na+ untuk mencegah kehilangan berlebih elektrolit tersebut. Setelah
dilepaskan pada permukaan kulit, keringat menguap dan mendinginkan kulit. Fungsi lainnya
adalah sebagai organ ekskretorik tambahan, yang menghilangkan sejumlah kecil limbah
nitrogen dan kelebihan garam 4,5.
b. Kelenjar keringat apokrin
Kelenjar keringat apokrin terdapat terbatas pada kulit region aksila dan perianal.
Perkembangannya bergantung pada hormone kelamin dan tidak tuntas hingga mencapai usia
pubertas, namun berbeda dengan aktivitas fungsionalnya. Perbedaan histologist paling jelas
antara kedua jenis kelenjar keringat ini adalah bahwa lumen kelenjar apokrin lebih besar;
bagian sekretorik kelenjar apokrin terdiri atas selapis sel kuboid eosinofilik dengan sejumlah
besar granula sekretorik yang mengalami eksositosis; lumen kelenjar apokrin sering
menunjukkan simpanan prduk yang kaya protein dan sel mioepitelial membantu
memindahkannya ke dalam muara duktus ke dalam folikel rambut; dinding selnya serupa;
secret tipe kelenjar ini agak kental dan awalnya tidak berbau, namun dapat memiliki bau khas
akibat aktifitas bakteri. Produksi feromon oleh kelenjar apokrin sangat jelas pada banyak
mamalia dan mungkin juga pada manusia. Kelenjar ini dipersarafi oleh serabut adrenergic,
sedangkan untuk kelenjar keringat ekrin menerima sinyal dari serabut kolinergik 4,5.

20

BAB 3
KESIMPULAN
Kulit merupakan organ komplek, terberat dan memiliki berbagai macam fungsi; di
antaranya adalaf fungsi protektif, sensorik, termoregulasi, metabolik, sekresi, sinyal seksual,
bahkan menentukan identitas tiap individu. Seluruh fungsi tersebut dapat dijalankan melalui
struktur dari kulit yang berlapis-lapis dengan berbagai sel, struktur tambahan dan kelenjarkelenjar yang ada di dalamnya. Dimulai dari epidermis yang tersusun 5 lapis, dilanjutkan dengan
dermis, serta struktur di dalam tiap lapisan tersebut; baik berupa sel-sel saraf sensoris, pembuluh
darah, rambut, kuku, serta kelenjar sebasea maupun kelenjar keringat.
Seluruh struktur tersebut harus dipahami baik secara anatomis dan histologist, yang
terkait pula dengan distribusinya di tubuh, yang dapat bermanfaat dalam menentukan diagnosis
banding sesuai klinis yang dikeluhkan pasien. Serta tentunya dengan mempelajari mengenai
fungsional struktur-struktur tersebut akan sangat membantu memahami pathogenesis tiap
penyakit yang disesuaikan dengan klinis pasien, serta pilihan terapi yang dapat diberikan.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Chu, david. Development and Structure Of Skin. Dalam Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine, 7th edition. McGraw-Hill. 2008.
2. Burns, Tony, et.al. Function of The Skin. Dalam Rooks Textbook of Dermatology, 8 th
edition. Wiley-Blackwell.
3. Seeley, Stephens, Tate, 2004, Anatomy and Physiology, Sixth Edition, McGraw Hill, New
York.
4. Mescher, Anthony L. Skin, dalam Junqueiras Basic Histology Text and Atlas, 12th edition,
International edition. Singapore : McGraw Hill Companies. 2010. p. 316-331
5. Hall, John C [Editor]. Structure of The Skin. Dalam Sauers Manual of Skin Disease, 9 th
edition. 2006. Philadelphia : Lippincott William and Wilkins.
6. Saladin, 2003, Anatomy and Physiology: The Unity of Form and Function, Third Edition,
McGraw Hill, New York.
7. Gartner and Hiatt. Color Textbook Of Histology, Third Edition, Elsevier Saunders,
Philadelphia.
8. Weller, Richard, John Hunter, John Savin, Mark Dahl. Clinical Dermatology, Fourth
Edition, Blackwell Publishing, Hong Kong [2008].
9. Kanitakis, Jean. Anatomy, Histology and Immunohistochemistry of Normal Human Skin.
Dalam European Journal of Dermatology [2002] volume 12, number 4, p. 390-401.
10. Shimizu, Hiroshi. Structure and Function of The Skin. Dalam Shimizus Textbook of
Dermatology. 2007. Hokkaido University Press.

22