Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL PENELITIAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Diagnosis Komunitas Dukuh Persen RT 02/ RW 06 Kelurahan


Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa
Tengah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Epidemiologi Lingkungan
Dosen Pengampu: Eram Tunggul Pawenang, S.KM, M.Kes
Disusun Oleh :
Faruqol Murtadla

6411412039

Anis Ratna Sari

6411412064

Lia Ristiyanti

6411412184

Ganies Pradhitya S

6411412231

Sulistiyono

6411411030

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
ISPA adalah infeksi pernapasan saluran akut. ISPA adalah penyakit terbanyak

yang dilaporkan kepada pelayanan kesehatan. World Health Organization (WHO)


memperkirakan insidensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara
berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup
adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO 13 juta
anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut
terdapat di negara berkembang dan ISPA merupakan salah satu penyebab utama
kematian dengan membunuh 4 juta anak balita setiap tahun (WHO, 2007).
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang rawan infeksi, salah
satunya adalah Penyakit Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebagai penyebab utama
kematian bayi dan anak balita. ISPA merupakan penyakit yang sering dijumpai
dengan manifestasi ringan sampai berat. ISPA yang mengenai jaringan paru-paru
atau ISPA berat, dapat menjadi pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit
infeksi penyebab kematian utama, terutama pada balita (Depkes RI, 2007).
Beberapa penyakit yang termasuk dalam klasifikasi ISPA dibagi menjadi dua yaitu
infeksi saluran pernapasan bagian atas dan infeksi saluran pernapasan bagian
bawah. Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok
umur 1-4 tahun (25,8%). Menurut jenis kelamin, tidak ada perbedaan antara lakilaki dan perempuan. Di Indonesia rata-rata setiap bayi dan anak akan mengalami
sakit ISPA sebesar 3-6 kali per tahun.
Berdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun
2007, prevalensi ISPA di Indonesia sekitar 25,5% dengan prevalensi tertinggi
terjadi pada bayi dua tahun (>35%). Sedangkan period prevalence ISPA Indonesia
menurut Riskesdas 2013 adalah sebesar 25,0%. Angka ini tidak jauh berbeda
dengan tahun 2007 (25,5%). Jumlah balita dengan ISPA di Indonesia pada tahun
2011 adalah lima diantara 1.000 balita yang berarti sebanyak 150.000 balita
meninggal pertahun atau sebanyak 12.500 balita perbulan atau 416 kasus sehari
atau 17 balita perjam atau seorang balita perlima menit. Dapat disimpulkan bahwa
prevalensi penderita ISPA di Indonesia adalah 9,4% ( Depkes, 2012).

Prevalensi ISPA Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 adalah sebesar 26,6%
(Riskesdas, 2013). Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota
Semarang tahun 2011, penyakit ISPA menduduki peringkat pertama di tingkat
puskesmas yaitu sebesar 3.139 kasus ISPA pneumonia pada balita. Bahkan
berdasarkan profil kesehatan kota Semarang tahun 2013 penyakit ISPA
merupakan penyakit dengan jumlah kasus terbanyak dengan 85125 kasus.
Salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan terjadinya ISPA yaitu
faktor kondisi fisik rumah yang meliputi pencahayaan alami ruangan, luas
ventilasi, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, atap rumah, kepadatan hunian,
dan kelembaban ruangan rumah.
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah
berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan digunakan untuk tempat
berlindung dari gangguan iklim dan gangguan makhluk lainnya, serta tempat
pengembangan kehidupan keluarga. Oleh karena itu keberadaan rumah yang
sehat, aman, dan teratur sangat diperlukan untuk fungsi rumah dapat dipenuhi
dengan baik. Rumah atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman
mengalami perkembangan. Masalah kesehatan lingkungan perumahan
menyangkut kenyamanan penghuninya.
Rumah sehat adalah rumah sebagai tempat tinggal yang memenuhi ketetapan
atau ketentuan teknis kesehatan yang di dalamnya tersedia air bersih yang cukup,
ada tempat pembuangan sampah dan tinja yang memenuhi syarat, terhindar dari
penularan penyakit, terlindung dari kemungkinan pengotoran makanan dan tidak
menjadi tempat bersarangnya vector penyakit. Hal tersebut wajib dipenuhi dalam
rangka melindungi penghuni rumah dari bahaya atau gangguan kesehatan
sehingga memungkinkan penghuni memperoleh derajat kesehatan yang optimal
(Dirjen PPM & PPL, 2002).
Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
merupakan faktor risiko sumber penularan berbagai jenis penyakit. Kondisi
sanitasi perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi
penyebab penyakit infeksi saluran pernapasan akut.
Dukuh Persen termasuk wilayah administrasi RW. 06 dengan 2 RT yang
terletak di Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Dukuh

Persen terdiri atas 150 kepala keluarga, dengan kelompok umur yang terbagi atas
anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh
pabrik, tenaga kebersihan, petani, dan buruh bangunan.
Kondisi fisik RT.02 RW.06 Dukuh Persen sangat asri dan alami, namun akses
jalan menuju daerah tersebut masih rawan untuk dilalui. Kontur jalan yang
bergelombang serta tepi jalan yang berbatasan dengan jurang mengakibatkan
tanah sering terjadi longsor. Kondisi fisik rumah penduduk dukuh persen juga
kurang memenuhi persyaratan rumah sehat sebagaimana yang tercantum dalam
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang peraturan
rumah sehat. Jarak antara rumah warga yang masih berhimpitan dan sistem
pengelolaan sampah yang dibakar serta dibuang disungai merupakan beberapa
faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit ISPA. Lingkungan Dukuh
Persen yang masih penuh pepohonan dan tidak adanya tempat pengelolaan
sampah yang baik mendukung terjadinya resiko penyakit tersebut.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti ingin melakukan penelitian
Diagnosis komunitas terhadap masyarakat di dukuh persen RT 02/ RW 06
mengenai survei rumah sehat terhadap kejadian penyakit ISPA.
1.2

Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang diambil dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:


Apakah Ada Hubungan antara kondisi fisik rumah dengan kejadian ISPA
pada Balita melalui penelitian Diagnosis Komunitas di RT 02/ RW 06 Dukuh
Persen ?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian
ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran Kecamatan
Gunungpati Kota Semarang.

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui hubungan luas ventilasi ruangan rumah dengan


kejadian ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
2. Untuk mengetahui hubungan pencahayaan alami ruangan rumah dengan
kejadian ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
3. Untuk mengetahui hubungan kepadatan hunian rumah dengan kejadian
ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
4. Untuk mengetahui hubungan jenis dinding rumah rumah dengan kejadian
ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
5. Untuk mengetahui hubungan jenis lantai rumah dengan kejadian ISPA
pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran Kecamatan
Gunungpati Kota Semarang.
6. Untuk mengetahui hubungan kelembaban ruangan rumah dengan kejadian
ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
7. Untuk mengetahui hubungan atap rumah dengan kejadian ISPA pada balita
di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati
1.4
1.4.1

Kota Semarang.
Manfaat Penelitian
Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang hubungan pencahayaan alami ruangan, luas

ventilasi, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, atap rumah, kepadatan hunian,
kelembaban ruangan rumah, dan kebiasaan membakar smapah dengan kejadian
ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan Sekaran Kecamatan
Gunungpati Kota Semarang.

1.4.2

Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan tentang hubungan kondisi lingkungan fisik

rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Persen RT.02 RW.06 Kelurahan
Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian ISPA
ISPA adalah infeksi pernapasan akut yang menyerang salah satu bagian
atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung sampai dengan alveoli atau

kantong paru termasuk jaringan adneksanya seperti sinus atau rongga di sekitar
hidung atau sinus para nasal, rongga telinga tengah dan pleura. Menurut
Kemenkes RI (2010).
Sedangkan pengertian ISPA menurut Departemen Kesehatan RI tahun
2002 (dalam Triska Susila dan Lilis, 2005:46) adalah suatu penyakit pernafasan
akut yang ditandai dengan gejala batuk, pilek, serak, demam dan mengeluarkan
lendir yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Ada tiga istilah dalam ISPA yaitu
infeksi, saluran pernapasan dan infeksi akut. Infeksi adalah terjadinya gangguan
atau penyakit yang disebabkan oleh masuknya kuman dan mikroorganisme ke
dalam tubuh dan berkembang biak. Sedangkan saluran pernapasan adalah orang
tubuh yang menunjang kegiatan bernapas meliputi alveoli beserta aneksanya yaitu
sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Infeksi akut adalah kejadian atau
gangguan kesehatan yang berlangsung <14 hari (Ditjen PPM dan PLP,2002).
Saluran pernapasan terdiri dari saluran pernapasan atas dan bawah. ISPA
terjadi dengan manifestasi dari yang ringan sampai dengan ke yang berat yang
dikelompokkan menjadi ISPA bagian atas atau ISPA bagian bawah atau LRIs.
Untuk ISPA bagian atas antara lain, faringitis, batuk, demam, tonsillitis. ototis
media. Dampak ISPA bagian atas ini tidak lebih parah dari ISPA bagian bawah
yang hanya sebagian kecil mengakibatkan kematian, sedangkan ISPA bagian
bawah lebih berpotensi mengakibatkan kematian. Adapun ISPA bagian bawah ini
adalah Pneumonia. (Ditjen P2PL, 2007 ; WHO, 2003b).
Pneumonia adalah infeksi alat pernapasan yang mengenai jaringan paruparu dengan gejala batuk, sesak napas, ronki, dan infiltrate pada foto rontgen.
Terjadinnya pneumonia pada anak sering bersamaan dengan proses infeksi akut
pada bronkus yang disebut Bronko PneumoniaI (Departemen Kesehatan RI,
2009:4)
Perbedaan ISPA dengan Pneumonia yaitu ditandai apabila balita penderita
ISPA menderita batuk dan pilek yang tidak menunjukkan gejala frekuensi sesak
nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam (Depkes RI, 2000). Penyakit ISPA meerupakan penyakit yang sering terjadi
pada anak karena system pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit
batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali

setahun(Geturdis, 2010). Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya


bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan
antibiotic, namun demikian anak akan menderita pneumonia bila infeksi paru ini
tidak diobati dengan antibik dan dapat mengakibatkan kematian (Depkes RI,
2000).
2.2 Epidemiologi ISPA
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit batuk pilek
pada balita di Indonesia diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali per
tahun), artinya seorang balita rata-rata mendapatkan serangan batuk pilek
sebanyak 3-6 kali setahun. Berdasarkan hasil pengamatan epidemiologi dapat
diketahui bahwa angka kesakitan di kota cenderung lebih besar daripada di desa.
Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan
pencemaran lingkungan di kota yang lebih tinggi daripada di desa (Widoyono,
2008:156). Di negara berkembang, penyakit pneumonia merupakan merupakan
25% penyumbang kematian pada anak, terutama pada bayi berusia kurang dari
dua bulan. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1986
diketahui bahwa morbiditas pada bayi akibat pneumonia sebesar 42,4% dan pada
balita sebesar 40,6%, sedangkan angka mortalitas pada bayi akibat pneumonia
sebesar 24% dan pada balita sebesar 36%. Sedangkan hasil SKRT tahun 1992
menunjukkan bahwa angka mortalitas pada bayi akibat penyakit ISPA menduduki
urutan pertama sebesar 36%, dan angka mortalitas pada balita menduduki urutan
kedua sebesar 13% (Widoyono, 2008:156). Menurut UNICEF dan WHO (dalam
Cissy B. Kartasasmita) pneumonia merupakan pembunuh anak paling utama yang
terlupakan (major forgotten killer of children).
Pneumonia merupakan penyebab kematian yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS, malaria dan campak. Setiap
tahun, lebih dari dua juta anak meninggal karena pneumonia, artinya 1 dari 5
orang balita meninggal di dunia. Pneumonia merupakan penyebab kematian yang
paling sering, terutama di negara dengan angka kematian tinggi. Hampir semua
kematian akibat pneumonia (99,9%), terjadi di negara berkembang dan kurang
berkembang (least developed). Jumlah kematian tertinggi terjadi di daerah Sub
Sahara yang mencapai 1.022.000 kasus per tahun dan di Asia Selatan mencapai

702.000 kasus per tahun (Cissy B. Kartasasmita, 2010:22). Menutut laporan


WHO, lebih dari 50% kasus pneumonia berada di Asia Tenggara dan Sub-Sahara
Afrika. Dilaporkan pula bahwa tiga per empat kasus
2.3 Etiologi ISPA
Penyebab ISPA terdiri dari bakteri, virus, dan ticketsia. Bakteri penyebab
ISPA antara lain dari genus Spreptococcus, Stafilococcus, Pneumococcus,
Hemofilus, Bordotella dan Korinebakterium. Sedangkan virus penyebab ISPA
antara lain Miksovirus, Adenovirus, KOronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, dan
Herpesvirus. Sekitar 90-95% penyakit ISPA disebabkan oleh virus (Depkes RI,
2008). Keanekaragaman penyebab ISPA tergantung dari umur, kondisi tubuh dan
kondisi lingkugan. Kasus ISPA di Amerika Serikat anak yang berumur 1 bulan
hingga 6 tahun penyebab terbesarnya adalah Streptococcus pneumonia dan
Heamapilus influenza serotype B. Sedangkan khusus anak 4 bulan hingga 2 tahun
kejadian ISPA antara 60-70% disebabkan oleh bakteri (Wattimena, 2004).
Penyakit ISPA khususnya pneumonia masih merupakan penyakit utama penyebab
kesakitan dan kematian bayi dan balita. Keadaan ini berkaitan erat dengan berbagi
kondisi yang melatar belakangnya seperti malnutrisi juga kondisi lingkungan baik
polusi di dalam rumah berupa asap maupun debu dan sebagainya (Depkes
RI,2006).
2.4 Klasifikasi ISPA
Penyakit ISPA dibedakan menjadi 2 kelompok umur 2 bulan dan
kelompok umur 2 hingga 5 tahun (Depkes RI, 2000) yakni :
1. Kelompok umur 2 bulan terdiri atas 2 jenis yaitu :
a. Pneumonia Berat, bila batuk disertai nafas cepat (>60 kali/menit) dengan
atau tanpa tarikan dada bagian bawah ke dalam yang kuat. Selain itu ada
beberapa tanda klinis yang dapat dikelompokan sebagai tanda bahaya
seperti kurang mampu minum, kejang, kesadaran menurun, stridor,
wheezing dan demam.
b. Bukan pneumonia, jika batuk pilek tanpa disertai nafas cepat (<60
kali/kali) dan tanpa tarikan dinding dada bagian bawah kedalam.
2. Kelompok umur 2 bulan-5 tahun, terdiri dari 3 jenis yaitu :
a. Pneumonia berat, jika batuk disertai sesak nafas yaitu adanya tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas.

b. Pneumonia biasa, batuk dengan tanda-tanda tidakan dinding dada bagian


ke dalam, namun disertai nafas cepat (>50 kali/menit untuk umur 2-12
bulan, dan >40kali/menit untuk umur 12 bulan sampai 5 tahun).
c. Bukan Pneumonia, batuk pilek biasa dan tidak ditemukan tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam dan tidak ada nafas cepat.
2.5 Cara penularan ISPA
ISPA dapat terjadi karena transmisi organism melalui AC, droplet dan
melalui tangan yang dapat menjadi jalan masuk bagi virus. Penularan faringitis
terjadi melalui droplet, kuman manginfiltrasi lapisan epitel, jika epitel terkikis
maka jaringan limfoid superficial bereaksi sehingga terjadi pembendungan radang
dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada sinusitis, saat terjadi ISPA
melalui virus, hidung akan mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan
superinfeksi bakteri, sehingga dapat menyebabkan bakteri pathogen masuk
kedalam rongga-rongga sinus (WHO, 2008).
2.6 Gejala ISPA
Menurut Mudehir (2002), faktor yang mendasari timbulnya gejala
1.

penyakit pernafasan :
Batuk
Timbulnya gejala batuk karena iritasi partikulat adalah jika terjadi
rangsangan pada bagian-bagian peka saluran pernafasan. Sehingga timbul
sekresi berlebih dalam saluran pernafasan. Batuk timbul sebagai reaksi
reflex saluran pernafasan terhadap iritasi pada mukosa saluran pernafasan
dalam bentuk pengeluaran udara(dan lender) secara mendadak disertai
bunyi khas.
2. Dahak
Dahak terbentuk secara berlebihan dai kelenjar lendir dan sel gablet oleh
adanya stimuli, missal yang berasal dari gas, partikulat, allergen dan
mikroorganisme infeksius.
3. Sesak Nafas
Sesak nafas atau kesulitan bernafas disebabkan oleh aliran udara dalam
saluran pernafasan karena penyempitan. Penyempitan dapat terjadi karena
saluran pernafasan menguncup karena secret yang menghalangi arus
udara. Sesak nafas dapat ditentukan dengan menghitung pernafasan dalam
satu menit.

4. Mengi
Bunyi mengi merupakan salah satu tanda penyakit pernafasan yang turut
diobservasi dalamm penanganan infeksi akut saluran pernafasan.
2.7 Cara Pencegahan ISPA
Menurut Departemen Kesehatan RI (2008) ada beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA, antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Imunisasi lengkap pada balita di Posyandu


Menghindarkan diri dari penderita ISPA
Membersihkan rumah dan lingkungan tempat tinggal
Hindari asap, debu dan bahan lain yang mengganggu pernafasan
Rumah harus mendapatkan udara bersih dan sinar matahari yang cukup

serta memiliki lubang angin dan jendela


6. Tidak meludah sembarangan
2.8
Faktor risiko ISPA
2.8.1 Luas Ventilasi
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau
dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Menyuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang
optimum bagi pernapasan.
2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zatzat pencemar lain dengan cara pengenceran udara.
3. Menyuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.
4. Menyuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.
5. Mengeluakan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh,
kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal.
6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.
Ada dua macam ventilasi, yaitu:
a. Ventilasi alamiah yang dapat mengalirkan udara ke dalam ruangan secara
alamiah misalnya jendela, pintu, lubang angin, dan lubang-lubang pada
dinding.
b. Ventilasi buatan yang menggunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan
udara ke dalam rumah, misalnya kipas angin, dan mesin pengisap udara
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003:150). Luas ventilasi penting untuk suatu
rumah karena berfungsi sebagai sarana untuk menjamin kualitas dan
kecukupan sirkulasi udara yang keluar dan masuk dalam ruangan. Luas
ventilasi yang kurang dapat menyebabkan suplai udara segar yang masuk
ke dalam rumah tidak tercukupi dan pengeluaran udara kotor ke luar rumah

juga tidak maksimal. Dengan demikian, akan menyebabkan kualitas udara


dalam rumah menjadi buruk (Retno Widyaningtyas dkk, 2004:35).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang peraturan rumah sehat menetapkan
bahwa luas ventilasi alamiah yang permanen minimal adalah 10% dari luas
lantai. Ventilasi yang memenuhi syarat dapat menghasilkan udara yang
nyaman dengan temperatur 220C dan kelembaban 50-70% (Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2005:4).
2.8.2

Pencahayaan
Pencahayaan matahari sangat penting karena dapat membunuh bakteri

pathogen dalam rumah. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan
masuk cahaya yang cukup. Jalan masuk cahayaluasnya sekurang-kurangnya 1520% dari luas lantai. Pencahayaan alami dan atau buatan langsung maupun tidak
langsung dapat menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak
menyilaukan. (WHO)
2.8.3

Kualitas udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut.

1.
2.
3.
4.
5.

Suhu udara nyaman berkisar 180-300 Celcius.


Kelembaban udara berkisar antara 40%-70%.
Konsentrasi gas CO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam.
Pertukaran udara=5 kaki kubik per menit per penghuni.
Konsentrasi gas formaldehid tidak melebihi 120 mg/m3.

2.8.4

Kepadatan hunian rumah


Kepadatan hunian dalam rumah menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI

No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, kepadatan


hunian ruang tidur minimal luasnya 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih
dari 2 orang kecuali anak di bawah umur 5 tahun. Berdasarkan kriteria tersebut
diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam
rumah yang telah ada.
2.8.5

Jenis dinding
Dinding merupakan salah satu komponen penyangga rumah yang sangat

menentukan kualitas fisik rumah. Dinding berfungsi sebagai pelindung rumah

yang terbuat dari berbagai bahan seperti bamboo, triplek, kayu, dan batu bata.
Rumah dengan dinding terbuat dari kayu dan juga bamboo lebih memudahkan
udara keluar masuk rumah dan juga memperbesar masuknya debu dari luar rumah
masuk ke dalam rumah. Sedangkan dinding yang terbuat dari batu bata tapi tidak
dihaluskan juga berpotensi terjadinya butiran debu.
2.8.6

Jenis lantai
Lantai merupakan bagian dari rumah yang menentukan kualitas fisik

rumah. Perkembangbiakan bakteri banyak terjadi di lantai. Lantai yang baik


adalah lantai yang dalam kondisi kering dan tidak lembab dan harus kedap air
sehingga mudah untuk dibersihkan. Jadi lantai harus diplester atau diberi
ubin/keramik supaya kedap air. Rumah yang mempunyai lantai yang terbuat dari
tanah cenderug menimbulkan lembab dan pada musim panas lantai menjadi
kering sehingga dapat menimbulkan debu yang berbahaya bagi penghuni rumah.
(Ditjen PPM dan PL, 2002). Rumah sehat memiliki lantai yang terbuat dari
marmer, ubin, keramik, sudah diplester semen (Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011).
2.8.7

Kelembaban
Kelebmbaban merupakan presentase kandungan uap air pada atmosfir.

Jumlah uap yang terkandung di udara bervariasi tergantung cuaca dan suhu
(Gertrudis, 2010). Persyaratan kesehatan untuk kelembaban di rumah adalah
berkisar antara 40-60% (Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: No.
1077/MENKES/PER/V/2011)

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, dengan
rancangan Cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei
rumah sehat dan survei sanitasi di dukuh persen yaitu menghubungkan antara
kondisi rumah dengan kejadian ISPA.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di dukuh persen RT 02/RW 06. Kelurahan Sekaran,
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Jawa Tengah
3.3 Variabel
Variabel independent pada penelitian ini adalah kejadian ISPA dan variabel
dependent pada penelitian ini adalah kondisi rumah yang meliputi kondisi fisik,
kondisi biologi, kondisi sosial dan sanitasi.
3.4 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah setiap rumah penduduk di dukuh persen RT 02/
RW 06 yang memiliki kesempatan sama untuk menjadi sampel dengan unit
sampling adalah masyarakat atau penduduk di dukuh persen RT 02/ RW 06 yang
memiliki balita dan kriteria kondisi fisik rumah yang ditentukan..
3.5 Jumlah sampel dan Teknik Sampel

Jumlah sampel dapat dihitung dengan mempergunakan proporsi populasi atau


penduduk yang diduga mempunyai masalah dengan kesehatan. Jumlah sampel
yang kita ambil yaitu 19 rumah penduduk di RT 02/ RW 06 dukuh persen.
Teknik sampling yang dipakai adalah stratified purposive cluster sampling,
yaitu dengan menentukan dukuh persen RW 06 yang menjadi populasi. RW 06
terdiri dari RT 01 dan RT 02, dari kedua RT tersebut kemudian kita memilih 1 RT
yang akan menjadi sampling. Sampel kita ambil di RT 02/ RW 06 dengan kriteria
inklusi yang telah ditentukan, diantaranya ada atau tidaknya balita, konstruksi
bangunan rumah dan jumlah hunian anggota keluarga.

3.5 Cara Pengumpulan Data


Data berasal dari data primer di lapangan yang dikumpulkan melalui
wawancara langsung kepada masyarakat dukuh persen dengan teknik door to door
dan observasi sanitasi lingkungan.
3.6 Pegolahan Data dan Analisis Data
Pengolahan data menggunakan tabel 2 x 2, subyek penelitian dikelompokkan
menjadi sakit (ya) dan tidak sakit (tidak).
Tabel Pengolahan Data Hasil Penelitian

Variabel bebas Ya
Tidak

Efek
Ya
A
C

Tidak
B
D

Jumlah
A+B
C+D

Tabel 2 x 2 menunjukkan hasil pengamatan pada studi cross sectional, dengan


keterangan :
Sel A = subyek dengan variabel bebas yang mengalami efek
Sel B = subyek dengan variabel bebas yang tidak mengalami efek
Sel C = subyek tanpa variabel bebas yang mengalami efek
Sel D = subyek tanpa variabel bebas yang tidak mengalami efek
Resiko Relatif (RR) = A/(A+B) : C/(C + D)
a. Diskripsi variabel penelitian.
Diskripsi variabel penelitian dilakukan dengan menyajikan distribusi frekuensi
dari variabel-variabel yang diteliti dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.
b. Analisis Univariate.
Untuk mengetahui peranan setiap variabel bebas terhadap risiko terjadinya
kesakitan (variabel tergantung) dilakukan analisis dua variabel dengan

perhitungan Risiko Relatif (RR) menggunakan program komputer perangkat


lunak SPSS versi 17
c. Analisis Multivariate
Analisis multivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel bebas
terhadap kejadian kesakitan pneumonia (variabel tergantung) dengan menguji
sekaligus variabel yang mempunyai kemaknaan statistik pada analisis univariate,
melalui analisis regresi logistik. Untuk melakukan analisis regresi logistik ini
dipergunakan program komputer perangkat lunak SPSS 17 for windows.
3.7 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian kesehatan lingkungan mengenai pengaruh kondisi rumah
terhadap kejadian ISPA di dukuh persen, Kelurahan Sekaran, Kecamatan
Gunungpati Kota Semarang, Jawa Tengah.
N

Kegiatan

Penelitian

1.

Survei lokasi

pendahuluan
Penentuan lokasi

penelitian
Pengumpulan

literatur
Penyusunan

Minggu
I I II

Keterangan
V V
I

VI

VII

ceklist dan
5

kuesioner
Pengamatan dan

6.
7.

wawancara
Analisis data
Penyusunan
laporan

3.8 Organisasi penelitian


Terdiri atas 5 orang personil dengan komposisi sebagai berikut:
Ketua Tim
: Ganies Pradhitya Suryani
Bendahara
: Anis Ratna Sari
Tenaga lapangan
: M. Faruq M
Tenaga administrasi
: Lia Ristiyanti
Tenaga Dokumentasi
: Sulistiyono

3.9 Biaya
Jumlah total biaya yang diperlukan dalam penelitian ini dan perinciannya
dapat diliht seperti berikut :
Cetak kuesioner 200 lembar
200 X Rp 150,- =
Cetak lembar Ceklist 200 lembar
200 X Rp 150,- =
Biaya Sewa Kamera
2 bulan x Rp 30.000 =
Biaya ATK
Biaya lain tidak terduga
Total

Rp 30.000
Rp 30.000
Rp 60.000
Rp 50.000
Rp 100.000
Rp 270.000

BAB IV
HASIL
Kejadian penyakit di RT 02/RW 06 Dukuh persen Selama Bulan Februari
April 2015 pada Balita
No

Jenis

1.

Penyakit
ISPA

2.
3.
4.
5.

Kategori

Jumlah

Jumlah

persentase

Batuk
Pilek
Sakit

5
3
3

11

57 %

tenggorokan
DBD
2
2
10%
Thypus
1
1
5%
Gatal-gatal
3
3
15 %
Desentri
2
2
10 %
Tabel 1.1 kejadian penyakit selama bulan februari april

Jumlah
12
10
8
6

Jumlah

4
2
0

Grafik 1.1 kejadian penyakit selama bulan februari april

Keterangan:
a. Penduduk RT 02/RW 06 dukuh persen yang berjumlah 60 KK, didapatkan
hasil bahwa penduduk yang mengalami gangguan penyakit ISPA berjumlah
11 orang atau sejumlah 57% dari sampel. penyakit ini merupakan jumlah
penyakit terbanyak yang ditemukan di RT 02/ RW 06 setelah dilakukan
wawancara terhadap 39 responden.
b. Penduduk RT 02/ RW 06 dukuh persen yang berjumlah 60 KK, didapatkan
hasil bahwa sebanyak 2 orang atau 10% dari sampel mengalami gangguan
kesehatan berupa penyakit DBD
c. Penduduk RT 02/ RW 06 dukuh persen yang berjumlah 60 KK, didapatkan
hasil bahwa sebanyak 1 orang atau 5% dari sampel mengalami gangguan
kesehatan berupa penyakit thypus
d. Penduduk RT 02/ RW 06 dukuh persen yang berjumlah 60 KK, didapatkan
hasil bahwa sebanyak 3 orang atau 15% dari sampel mengalami gangguan
kesehatan berupa gatal-gatal.
e. Penduduk RT 02/ RW 06 dukuh persen yang berjumlah 60 KK, didapatkan
hasil bahwa sebanyak 2 orang atau 10% dari sampel mengalami gangguan
kesehatan berupa penyakit Desentri.

BAB V
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil diagnosis komunitas, didapatkan hasil bahwa kejadian penyakit
yang sering dialami oleh masyarakat dukuh persen RT 02/ RW 06 yaitu kejadian
penyakit ISPA, kejadian tersebut diduga karena adanya faktor risiko dari sanitasi
kondisi fisik rumah.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2002.


Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk
Penanggulangan Pneumonia pada Balita dalam Pelita VI. Jakarta:
Depkes RI.
Kemenkes RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009. Jakarta.
Ditjen P2PLP. 2007. Pedoman Tatalaksana Pneumonia Balita. Jakarta : Depkes
RI
Depkes RI. 2009. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia
Tahun 2007. Jakarta: Depkes RI
Depkes RI. 2011. Kualitas Udara dalam Rumah terhadap ISPA pada Balita.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan.
Depkes RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Riskesdas Indonesia
tahun 2007. Jakarta: Depkes RI
Depkes RI. 2008. Surveilans Penyakit dan Masalah Kesehatan Berbasis
Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan.
Cissy B. Kartassasma. 2010. Pneumonia Pembunuh Balita. Buletin Jendela
Epidemiologi Volume 3, September 2010.

Mudehir, Muridi. 2002. Hubungan Faktor-Faktor Lingkungan Rumah Dengan


Kejadian ISPA pada Anak Balita di Kecamatan Jambi Selatan Tahun
2002 (Tesis). Depok: Program Pasca Sarjana FKM UI.
Widyaningtyas, Retno, dkk. 2004. Survei Cepat Gambaran Kondisi Fisik Rumah
Kaitannya dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas KEbumen 2 Kabupaten
Kebumen. Vol.III/No.02/Oktober 2004, hal 33.
Soekidjo Notoatmodjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Wattimeta, Calvin. 2004. Faktor Lingkungan Rumah yang Mempengaruhi
Hubungan Kadar PM10 dengan Kejadian ISPA pada Balita di
Wilayah Puskesmas Curug Kabupaten Tangerang Tahun 2004 (Tesis).
Depok: program Pasca Sarjana FKM UI.
Gertudis T, 2010. Hubungan Antara Kadar Partikulat (PM10) Udara Rumah
Tinggal dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Sekitar Pabrik Semen
PT Indocement, Citeurep tahun 2010. Tesis Fakultas Kesehatan
Masyarakat UI. Depok.

Lampiran Dokumentasi

Dokumentasi pengambilan data dan wawancara

Kondisi Lingkungan dan Sumber air bersih Dukuh Persen

Rumah Tampak Depan

Atap Rumah

Kondisi Kamar Tidur

Kondisi Dapur

Lantai Rumah

Jendela Rumah

Kondisi Pintu