Anda di halaman 1dari 8

TATALAKSANA OMSA

Pada stadium oklusi, pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachius, sehingga
tekanan negatif di telinga tengah menghilang. Untuk ini diberikan obat tetes hidung. HCl efedrin 0,5% dalam larutan
fisiologik (anak < 12 tahun) atau HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur diatas 12 tahun dan
pada orang dewasa.
Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman, bukan
oleh virus, atau alergi.
Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Pemberian antibiotik
dianjurkan minimal selama 7 hari. Pada anak, ampisilin diberikan dalam dosis 50-100 mg/kgbb per hari, dibagi
dalam 4 dosis atau eritromisin 40 mg/kgbb/hari.
Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotik, idealnya harus disertai dengan miringotomi, bila membran
timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari.
Pada stadium perforasi sering terlihta sekret banyak keluar dan kadang terlihat sekret keluar secara berdenyut
(pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H 2O2 3% selama 3 sampai 5 hari serta antibiotik yang
adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.
Pada stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak lagi dan perforasi
membran timpani menutup.
Bila terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir diliang telinga luar melalui perforasi di membran
timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keaddaan demikian
antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih banyak, kemungkanan
telah terjadi mastoiditis.
Miringotomi
Miringotomi ialah insisi pada pars tensa membran timpani, agar terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke
telinga luar.
Istilah miringotomi sering dikacaukan dengan parasintesis. Timpanosintesis sebetulnya beradi fungsi pada
membran timpani untuk mendapatkan sekret guna pemeriksaan mikrobiologi (dengan sempritdan jarum khusus)
Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang dilakukan dengan syarat tindakan ini harus
dilakukan dengan cara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat dikuasai, (sehingga membran timpani
dapat dilihat denagn baik). Lokasi miringotomi ialah kuadran posterior-inferior. Untuk tindakan ini haruslah
memakai lampu kepala yang mempunyai sinar cukup terang, memakai corong telinga yang sesuai dengan besar liang
telinga, dan pisau khusus (miringotom) yang digunakan berukuran kecil dan steril.
Komplikasi Miringotomi
Komplikasi miringotomi yang mungkin terjadi adalah perdarahan akibat trauma pada liang telinga luar,
dislokasi tulang pendengaran, trauma pada fenestra rotundrum, trauma pada n. fasialis, trauma pada bulbus jugularis
(bila ada anomali letak).
Mengingat kemungkinann komplikasi itu, maka dianjurkan untuk melakukan miringitomi dengan nakrosis
umum dan memakai mikroskopi. Tindakan miringotomi dengan memakai mikroskop, selain aman, dapat juga untuk
mengisap sekret dari teilnga tengah sebanyak-banyaknya. Hanya dengan cara ini biayanya lebih mahal.
Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, sebetulnya miringitomi tidak perlu dilakukan kecuali bila jelas
tampak adanya nanah ditelinga tenngah. Dewasa ini sebagian ahli berpendapat bahwa miringotomi tidak perlu
dilakukan, apabila terapi yang adekuat sudah dapat diberikan (antibiotik yang tepat dan dosis cukup). Komplikasi
timpanosintesis kurang lebih sama dengan komplikasi miringitomi.
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Otitis media ialah peradangan sebagian atu selutuh mukosa tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel
mastoid. Secara mudah otitis media terbagi atas 2 golongan dan masing-masing golongan mempunyai bentuk akut
dan kronis :

Otitis media supuratif

Otitis media akut (OMA)


Otitis media supuratif kronik

Otitis media non-supuratif

Otitis media serosa akut (barotraumas = aerotitis)

Otitis media serosa kronik

Otitis media spesifik

Otitis media tuberkulosa


Otitis media sifilitika
Otitis media adhesive

ETIOLOGI
Otitis media supuratif kronik adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan sekret
yang keluar dari tengah terus-menerus atau hilang timbul dan sekretnya mungkin encer, kental, bening atau berupa
nanah.
Terdapat beberapa etiologi dari otitis media diantaranya adalah:

Gangguan fungsi tuba

Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena
primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk
mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan
negatif menjadi normal.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMSK adalah:
Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.
Obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.
Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel.
Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari
membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Infeksi

Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik
yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama
dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya.

Riwayat infeksi telinga tengah


Sumbatan (secret,tumor,tampon)
Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba
Alergi

Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik
adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya,
namun hal ini belum terbukti kemungkinannya.

Autoimune
Lingkungan

Hubungan penderita OMSK dan faktor sosioekonomi belum jelas, tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki
insiden OMSK yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara
umum, diet, dan tempat tinggal yang padat.
Hal-hal tersebut menyebabkan gangguan pada tuba eustachius. Terjadi perubahan tekanan udara di telinga dari
tekanan positif menjadi negative sehingga terbentuklah efusi. Efusi di liang telinga tengah dapat sembuh dengan
sendiri. Dapat juga terjadi otitis media efusi (OME) bila efusi tetap ada karena tuba eustachius tetap terganggu tetapi
tidak terdapat infeksi. Bila tuba eusthacius tetap terganggu dan terdapat infeksi maka terjadi otitis media akut
(OMA). Otitis media akut dapat sembuh sendiri tetapi dapat juga terus berlanjut menjadi otitis media supuratif kronis
(OMSK). Faktor predisposisi yang menyebabkan OMA dapat berlanjut menjadi OMSK adalah sbb:
1.
2.
3.
4.
5.

Terapi yang terlambat


Terapi yang tidak adekuat
Virulensi kuman tinggi
Daya tahan tubuh rendah
Hygiene yang kurang terjaga.

Pada anak, semakin sering terkena infeksi saluran napas, makin tinggi resiko terkena OMA yang bila penanganannya
dan terapinya terlambat dan tidak adekuat dapat berlanjut menjadi OMSK. Pada bayi terjadinya otitis media
dipermudah karena tuba eustachiusnya yang pendek, lebar dan horizontal.
PATOGENESIS
Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan dari OMA dengan perforasi membrane timpani yang sudah
terjadi lebih dari 2 bulan. Berdasarkan perubahan mukosa tengah maka terdapat 5 stadium terjadinya Otitis Media
Akut (OMA) yang bila berlangsung terus-menerus selama 2 bulan dapat menjadi Otitis Media Supuratif Akut
(OMSK).
1.

Stadium oklusi tuba Eustachius

Tanda adanya oklusi tuba yaitu gambaran retraksi membrane timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam
telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membrane timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau
berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini susah dibedakan dengan
otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
2.

Stadium hiperemis (pre-supuratif)

Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak
hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar
dilihat.
3.

Stadium supuratif

Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial serta terbentuknya eksudat yang
purulen di kavum timpani menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging) kea rah liang telinga luar. Pada
stadium ini pasien tampak sangat sakit,, nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila
tekanan pus di kavum tidak berkurang maka terjadi ischemia akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul
tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan sub-mukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani
tampak sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan dan di tempat ini akan terjadi rupture. Bila tidak
dilakukan insisi membran timpani (miringitomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan
rupture dan pus keluar ke liang telinga luar.

4.

Stadium perforasi

Karena beberapa sebab seperti terlambatnya diberikan antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat
terjadi rupture membrane timpani dan pus mengalir keluar dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anaknya yang
tadinya gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tertidur nyenyak.
5.

Stadium resolusi

Bila membrane timpani tetap utuh, maka keadaan membrane timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila
sudah terjadi perforasi maka secret akan berkurang dan akhirnya kering. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi
menetap dengan secret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul.
Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/jenis OMSK. Perforasi membrane
timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal atau atik.
1. Perforasi sentral = Perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan diseluruh tepi perforasi masih ada sisa
membrane timpani.
2. Perforasi marginal = Pada perforasi marginal ini maka sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan
annulus atau sulkus timpanikum.
3. Perforasi atik = Perforasi ini adalah perforasi yang terletak di pars flaksida.

JENIS OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)


1. OMSK tipe aman (tipe mukosa/benigna) = Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa
saja dan biasanya tidak mengenai tulang dan perforasinya terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman
jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak terdapat kolesteatoma.
2. OMSK tipe bahaya (tipe tulang/maligna), Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna yaitu OMSK yang
disertai dengan kolesteatoma. Perforasi pada OMSK tipe ini terletak di marginal atau di atik, kadang-kadang
juga terdapat kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi timbul pada
OMSK tipe ini.

Berdasarkan secret yang keluar maka dikenal juga 2 jenis OMSK yaitu:
1. OMSK tipe aktif

OMSK tipe aktif merupakan OMSK dengan secret yang keluar dari kavum timpani secara aktif.
1. OMSK tipe tenang
OMSK tipe tenang merupakan keadaan dimana kavum timpani terlihat basah atau kering.
GEJALA KLINIS
1. Telinga Berair (Otorrhoe)
Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar
mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi
membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai
adannya sekret telinga. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena
rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi
dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa
nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.
2. Gangguan Pendengaran
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan
letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada
OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat.
3. Otalgia (Nyeri Telinga)
Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman
komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman
pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal
abses atau trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh
kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang
sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin
lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan
vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.
KOMPLIKASI
Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. Walaupun
demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya
komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut
oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi intra kranial
yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom.
A. Komplikasi ditelinga tengah :
1. Perforasi persisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasial

B. Komplikasi telinga dalam


1. Fistel labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf (sensorineural)
C. Komplikasi ekstradural
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hindrosefalus otitis
Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan:
1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak
2. Menembus selaput otak.
3. Masuk kejaringan otak.
PENATALAKSANAAN
Prinsip pengobatan OMSK adalah:
1. 1.
2. 2.

Membersihkan liang telinga dan kavum timpani.


Pemberian antibiotika:
1. a.
Topikal antibiotik ( antimikroba)

Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak efektif.
Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan
kortikosteroid.Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak
dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara pemilihan
antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Bubuk telinga yang
digunakan seperti:

Acidum boricum dengan atau tanpa iodine


Terramycin
Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg

Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan
telinga. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah :

Polimiksin B atau polimiksin E

Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif, Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi
resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf.

Neomisin

Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua
anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga.

Kloramfenikol

Obat ini bersifat bakterisid


1.

sistemik antibiotik

Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. Bila terjadi kegagalan
pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Antimikroba dapat
dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin
banyak kuman terbunuh, misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba
yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh
antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis
media kronik adalah:

Pseudomonas
P. mirabilis
P. morganii, P. vulgaris
Klebsiella
E. coli
S. Aureus
Streptokokus
B. fragilis

: Aminoglikosida karbenisilin
: Ampisilin atau sefalosforin
: Aminoglikosida Karbenisilin
: Sefalosforin atau aminoglikosida
: Ampisilin atau sefalosforin
: penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida
: Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida
: Klindamisin

Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai
aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16
tahun. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap
pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK
belum pasti cukup, meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman
anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan
kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4
minggu

Panduan Penggunaan Antibiotik pada OMA (Otitis Media Akut) Menurut AAP
Oleh Admin Kalbe Medical April 04, 2013 06:15
Otitis media akut secara definisi adalah peradangan akut pada telinga tengah dengan gejala nyeri telinga, demam
dan otorrhea disertai tanda-tanda peradangan yang tampak pada membran timpani atau telinga tengah. Penyakit ini
adalah infeksi bakteri yang paling banyak terjadi pada anak-anak kedua setelah infeksi saluran napas. Untuk
mengobatinya, menurut panduan American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2004, dibagi menjadi diagnosis
pasti atau belum pasti.
Usia
Diagnosis Pasti
Diagnosis belum Pasti
Kurang dari 6 bulan
Antibiotik
Antibiotik
6 bulan 2 tahun
Antibiotik
Observasi, kecuali bila gejala berat: Antibiotik
Lebih dari 2 tahun
Antibiotik
Observasi

Panduan pengobatan AAP tahun 2004 ini terkadang menyulitkan klinisi dalam menentukan pemberian antibiotik
karena harus memastikan diagnosis terlebih dahulu sebelum memberikan antibiotik, sedangkan kriteria diagnosis
pasti belum terdefinisi jelas. Pada bulan Februari 2013, AAP mengeluarkan sebuah panduan lagi untuk pengobatan
otitis media. Tetapi ada sedikit perubahan yang memudahkan klinisi menentukan diagnosis pasti otitis media akut
dan memberikan antibiotik, sebagai berikut:
1. Klinisi harus mendiagnosis otitis media akut pada anak dengan pembengkakan membran timpani yang sedang
atau berat atau otorrhea atau ringan disertai gejala nyeri pada telinga yang bukan disebabkan oleh otitis eksterna.
2.Klinisi harus memberikan antibiotik untuk anak yang menderita otitis media akut unilateral atau bilateral dengan
gejala
berat.
3.Klinisi harus memberikan antibiotik untuk anak yang menderita otitis media akut bilateral tanpa gejala berat.
4.Klinisi harus memberikan antibiotik atau melakukan observasi ketat selama maksimal 48 jam untuk anak yang
menderita otitis media akut unilateral tanpa gejala berat. Bila dalam 48 jam tidak membaik, maka berikan antibiotik.
Dengan demikian menjadi lebih jelas kapan harus memberikan antibiotik, karena tidak ada lagi diagnosis belum
pasti. Bila ada pembengkakan membran timpani sedang atau berat atau otorrhea atau ringan + otalgia, maka harus
didiagnosis otitis media dan harus mendapat antibiotik. Kemudian, antibiotik apa yang direkomendasikan sebagai
terapi lini pertama?, yaitu sebagai berikut:
1. Amoksisilin dengan dosis 80-90 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 2x sehari.
2. Amoxycillin + Asam Klavulanat dengan dosis (Amoksisilin 90 mg/kgBB/hari dan Asam klavulanat 6,4
mg/kgBB/hari atau rasio 14:1) dalam dosis terbagi 2x sehari.
Sedangkan antibiotik alternatif bagi yang alergi penisilin yaitu diantaranya meliputi:
1. Cefdinir, 14 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 1-2x
2. Cefuroxime, 30 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 2x
3. Cefpodoxime, 10 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 2x
4. Ceftriaxone 50 mg/ hari IM atau IV selama 1 atau 3 hari
Dengan demikian, rekomendasi lini pertama dari AAP tahun 2013 ternyata adalah amoxicillin clavulanate dengan
dosis 80 90 mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi. Sehingga bila ada anak dengan berat badat 25 kg, akan mendapat 2
g / hari. Dosis ini relatif tinggi. Selain itu, yang menarik dari panduan pengobatan ini adalah rekomendasi
perbandingan antara amoxicillin dengan clavulanate ternyata adalah 14 : 1. Jadi bila amoxicillinnya 500 mg, maka
clavulanatenya adalah 36 mg. Ini berbeda jauh dengan sediaan amoxicillin clavulanate yang tersedia di Indonesia
dimana perbandingannya adalan amoxicillin 500 mg dan clavulanate 250 mg atau 2 : 1.3 Alasan dari rekomendasi
perbandingan dosis ini adalah clavulanate memiliki efek samping saluran cerna yang cukup tinggi, terutama mual,
muntah dan diare. Oleh karena itu direkomendasikan agar perbandingannya hanya 14:1.3
Kesimpulan dari panduan pengobatan AAP tahun 2013 ini adalah pasien dengan keluar congek atau gendang telinga
membengkak sedang atau berat atau ringan disertai nyeri telinga bukan karena otitis eksterna, wajib didiagnosis
otitis media akut dan wajib diberikan antibiotik. Rekomendasi antibiotik lini pertama adalah amoxicillin clavulanate
dengan dosis 80 90 mg / kg / hari terbagi menjadi 2 dosis. (NNO)
Referensi: American Academy of Pediatrics. The Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. Pediatrics
2013;131:e964.