Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan aktifitas penduduk

di suatu daerah membawa perubahan yang besar terhadap aspek kehidupan


manusia dan lingkungan. Pertumbuhan penduduk mengakibatkan terjadinya
perluasan daerah permukiman yang berpengaruh pada meningkatnya kegiatan
usaha masyarakat sehingga akan mengakibatkan bertambahnya sampah yang
dihasilkan oleh setiap penduduk atau rumah tangga dan badan usaha/ kegiatan
usaha tersebut. Oleh sebab itu sampah menjadi masalah penting untuk daerah
perkotaan yang padat penduduknya. Sampah yang dihasilkan akan berpengaruh
pada kesehatan masyarakat dan kebersihan lingkungan daerah perkotaan.
Jumlah penduduk suatu kota yang besar dengan kepadatan yang tinggi
akan menghasilkan volume sampah yang lebih besar pula. Volume sampah ini
akan terus mengalami peningkatan seiring dengan laju pertumbuhan penduduk
dan kegiatan sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat diperkotaan.
Masalah sampah sangat erat kaitannya dengan permasalahan lingkungan.
Banyaknya volume sampah yang dihasilkan di daerah perkotaan yang tidak
diimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik akan memperburuk kondisi
lingkungan. Akibat dari pengelolaan sampah yang kurang baik akan menimbulkan
dampak negatif, seperti penyumbatan saluran drainase, sumber penyakit serta
dapat merusak keindahan kota.
Pada umumnya, sumber sampah dihubungkan dengan penggunaan lahan,
atau dapat dikatakan sumber sampah berhubungan dengan aktivitas manusia
sehingga wajar

jika terdapat

berbagai

macam klasifikasi

yang dapat

dikembangkan. Salvato (1972 dalam Madelan, 1995) mengklasifikasikan sumber


sampah berasal dari permukiman, tempat-tempat umum dan perdagangan, sarana
pelayanan masyarakat, industri, dan pertanian (Aswadi, 2011).
Berdasarkan data volume sampah di Indonesia, pada tahun 2000
dihasilkan sampah sebesar 100.000 ton per hari. Volume sampah kota yang
dihasilkan di beberapa kota di Provinsi Jawa Tengah seperti Kota Surakarta

sebesar 267 ton per hari, Kota Semarang menghasilkan 727 ton per hari dan Kota
Magelang menghasilkan 63 ton per hari. Sampah plastik yang menjadi
permasalahan utama mempunyai sumbangan sebesar 2%, sehingga dalam satu
hari dapat menghasilkan 2000 ton, sedangkan kondisi potensi sampah plastik di
Kota Surakarta sebesar 5,34 ton per hari (Sudrajat, 2004 dalam Ariawan, 2009).
Berikut ini adalah data volume sampah Badan Pusat Statistik Provinsi
Jawa Tengah, volume sampah rata-rata per hari yang dihasilkan di beberapa Kota
di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 dan 2011 :

Tabel 1.1. Volume Sampah Rata-Rata per Hari Tahun 2010


Kota

Volume Sampah
Terangkut
Persentase Sampah
(m3)
Terangkut (%)
Magelang
420
168
40
Surakarta
78,286
78,286
100
Salatiga
380
350
92
Semarang
4.110
3.082
75
Pekalongan
614
614
100
Tegal
700
400
57
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten/Kota, 2010

Tabel 1.2. Volume Sampah Rata-Rata per Hari Tahun 2011


Kota

Volume Sampah
Terangkut
Persentase Sampah
(m3)
Terangkut (%)
Magelang
448
179
39
Surakarta
280
252
90
Salatiga
409
326
79
Semarang
4.110
3.082
75
Pekalongan
725
595
82
Tegal
700
450
64
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten/Kota, 2011

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah adalah
dengan penyediaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah yang
dihasilkan di perkotaan. TPS dapat digunakan sebagai penampungan sampah
sebelum akhirnya diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Penentuan lokasi TPS disesuaikan dengan kondisi dan syarat tertentu sehingga
diharapkan tidak akan terjadi degradasi lingkungan di sekitar TPS. Selain itu,

pemilihan lokasi TPS yang sesuai syarat diharapkan tidak mengganggu aktifitas
masyarakat dan dapat dioptimalkan penggunaannya.
Pemanfaatan teknik penginderaan jauh sangat diperlukan dalam upaya
pemecahan masalah sampah tersebut, khususnya dalam penentuan lokasi TPS.
Penggunaan teknik penginderaan jauh dalam pemecahan masalah tersebut juga
harus diimbangi dengan penggunaan teknologi pemrosesan dan analisa keruangan
yang cepat dan tepat yaitu dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi
Geografi (SIG). Penggunaan SIG dalam pemrosesan data secara keruangan
diharapkan dapat menghasilkan informasi baru yang lebih akurat dan lebih
optimal.

1.2.

Perumusan Masalah
Kota Magelang merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yang

ketat terhadap permasalahan sampah. Dengan terbitnya peraturan daerah tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Magelang, yang salah satu isinya membahas
tentang peningkatan sarana persampahan yang dikelola pemerintah daerah, maka
penting dilakukan kajian mengenai lokasi TPS di Kota Magelang yang merupakan
fasilitas persampahan sub pelayanan kota.
Salah satu isi dari perda tersebut adalah mengenai lokasi penampungan
sampah yang ramah lingkungan serta pencapaian akses yang mudah dari TPS
menuju TPA. Beberapa TPS yang sekarang telah aktif dipergunakan di Kota
Magelang bisa dikatakan kurang ramah lingkungan. Dikatakan demikian karena
beberapa TPS terdapat di daerah yang sangat dekat dengan permukiman, bahkan
berada di area permukiman yang cukup padat. Hal tersebut tentu dapat
mengganggu aktifitas penduduk dari bau yang ditimbulkan dari tumpukan
sampah. Akibat lain selain mengganggu aktifitas masyarakat dari lokasi TPS yang
kurang sesuai adalah berkurangnya keindahan dan kenyamanan lingkungan di
sekitar permukiman.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka muncul permasalahan
sebagai berikut :

1.

Pemilihan lokasi tempat penampungan sampah sementara di perkotaan


memerlukan informasi perkiraan volume sampah untuk memperoleh jumlah
TPS yang diperlukan, sehingga perlu dikaji dengan menggunakan citra
penginderaan jauh untuk perolehan data faktor-faktor yang mendukung dalam
perhitungan perkiraan volume sampah di perkotaan.

2.

Penilaian kesesuain fisik lahan dalam pemilihan lokasi tempat penampungan


semetara (TPS) sampah memerlukan banyak informasi sehingga perlu dikaji
dengan menggunakan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografi
untuk mempercepat proses dan analisa data spasialnya.

3.

Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi merupakan suatu teknologi


yang dapat digunakan untuk membantu dalam permasalahan site selection
atau pemilihan lokasi dan dapat digunakan untuk ekstraksi data fisik yang
diperlukan serta analisis data secara cepat.

Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka penelitian ini dilakukan


untuk menentukan lokasi tempat penampungan sampah sementara dengan teknik
pengindaeraan jauh dan teknologi sistem informasi geografi dengan judul :
Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi untuk Penentuan
Lokasi Tempat Penampungan Sementara Sampah di Kota Magelang.

1.3.

Pertanyaan Penelitian
1.

Bagaimana kemampuan citra penginderaan jauh dalam perolehan


data faktor-faktor yang digunakan untuk estimasi volume sampah
yang dihasilkan di kota Magelang?

2.

Dimana sajakah lokasi terbaik tempat penampungan sementara


(TPS) sampah di Kota Magelang yang diperoleh dari hasil
pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG)?

1.4.

Tujuan
1.

Analisis kemampuan citra penginderaan jauh dalam perolehan data


faktor-faktor yang digunakan untuk estimasi volume sampah yang
dihasilkan di Kota Magelang.

2.

Menentukan lokasi-lokasi terbaik tempat penampungan sementara


(TPS) sampah di Kota Magelang dengan memanfaatkan teknologi
Sistem Informasi Geografi (SIG).

1.5.

Kegunaan Penelitian
1.

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah daerah


untuk menentukan kebijakan pemilihan lokasi tempat penampungan
sementara (TPS) sampah.

2.

Dapat memberikan sumbangan ilmu dalam bidang sistem informasi


geografi dan penginderaan jauh khususnya dalam bidang penentuan
lokasi.

1.6.

Sasaran Penelitian
1.

Citra :
a.

Interpretasi parameter fisik penentu lokasi TPS yang diperoleh


dari citra yang meliputi penggunaan lahan, jarak terhadap jalan
dan jarak terhadap permukiman.

b.

Perolehan data faktor-faktor yang digunakan untuk perhitungan


volume sampah domestik dan komersial melalui citra meliputi
pola, ukuran dan kepadatan rumah mukim serta jenis usaha
komersial.

2.

Memetakan lokasi potensial TPS berdasarkan parameter yang


diinterpretasi dari citra dan hasil kerja lapangan meliputi jarak
terhadap jalan, jarak terhadap permukiman dan drainase permukaan.

3.

Merekomendasikan lokasi TPS yang paling sesuai berdasarkan


parameter fisik lahan dan volume sampah.