Anda di halaman 1dari 56

Media Informasi Air Minum dan

Penyehatan Lingkungan
Diterbitkan oleh:
Kelompok Kerja Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan
Penasihat/Pelindung:
Direktur Jenderal Tata Perkotaan dan
Perdesaan, DEPKIMPRASWIL
Penanggung Jawab:
Direktur Permukiman dan Perumahan,
BAPPENAS
Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi,
DEPKES
Direktur Perkotaan dan Perdesaan
Wilayah Timur, DEPKIMPRASWIL
Direktur Bina Sumber Daya Alam dan
Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI
Direktur Penataan Ruang dan
Lingkungan Hidup, DEPDAGRI
Pemimpin Redaksi:
Oswar Mungkasa
Dewan Redaksi:
Hartoyo, Johan Susmono,
Indar Parawansa, Poedjastanto
Redaktur Pelaksana:
Maraita Listyasari, Rewang Budiyana,
Rheidda Pramudhy, Joko Wartono,
Essy Asiah, Mujiyanto
Desain/Ilustrasi:
Rudi Kosasih
Produksi:
Machrudin
Sirkulasi/Distribusi:
Anggie Rifki
Alamat Redaksi:
Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat.
Telp. (021) 31904113
e-mail: redaksipercik@yahoo.com
redaksi@ampl.or.id
oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman
tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan
dengan air minum dan penyehatan
lingkungan dan belum pernah
dipublikasikan. Panjang naskah tak
dibatasi. Sertakan identitas diri.
Redaksi berhak mengeditnya.
Silahkan kirim ke alamat di atas.
z foto cover: MUJIYANTO/PERCIK

Dari Redaksi
Suara Anda
Laporan Utama
Sampah Masih Jadi Sampah
Seputar Sampah
Upaya Mengurangi Emisi Metan dari TPA
Belajarlah Sampah ke Negeri Cina
Program Bangun Praja, Memacu Daerah Peduli Lingkungan
Wawancara
Penanganan Sampah Jelek, Tingkat Kesehatan Rendah
Wawasan
Sampah Sebagai Sumber Energi, Tantangan Bagi
Dunia Persampahan Indonesia Masa Depan
Pre-Studi Masalah Sampah, Kasus Kota Surabaya
Pengelolaan Sampah di Makassar
Pengelolaan Program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
dan Tantangan ke Depan
Masalah AMPL di Kabupaten Kebumen
Sistem Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga di Kota Tangerang
Sampah Membawa Berkah di Desa Temesi, Kabupaten Gianyar, Bali
Reportase
Kiprah Ny. Bambang Sampah Wahono,
Kelola Sampah, Hijaukan Banjarsari
Ragam
Ragam Teknologi Pengolahan Sampah
Kapsul Sampah, Model Penyimpanan Sampah Jangka Panjang
Teropong
Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung
Info Buku
Info CD
Info Situs
Kunjungan
Diseminasi Program WASPOLA di Propinsi Gorontalo
Pringga Jurang Keruntuhan Bulan
Seputar WASPOLA
Pelaksanaan Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat di Daerah
Lokakarya Kelompok Kerja WASPOLA
Pertemuan Tim Pengarah WASPOLA
Seputar AMPL
Orientasi MPA/PHAST
Pokja AMPL Ikuti Nusantara Water 2004
Pertemuan Perencanaan dan Evaluasi Proyek ProAir
Seminar Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Cair
Persiapan Proyek ProAir di Kabupaten Alor
Pustaka AMPL
Agenda
Glosari

1
2
3
3
6
8
9
11
13

16
18
20
22
23
25
27

29
32
34
35
37
38
39
40
41
42
44
45
46
47
47
48
49
50
51
52

DARI REDAKSI

embaca, Percik mulai menapaki babak baru yakni bagaimana Percik mulai menjangkau para pemangku kepentingan air
minum dan penyehatan lingkungan
di seluruh Tanah Air. Percik telah
menyebar dari Sabang sampai Merauke meski dalam jumlah yang terbatas.
Alhamdulillah, berbagai kalangan menyambut hangat kehadiran
Percik. Ini dibuktikan dengan banyaknya tanggapan yang datang
kepada kami. Bahkan ada beberapa
kalangan yang berharap bisa berlangganan Percik kendati harus
membayar padahal Percik merupakan majalah gratis. Ini tentu hal
yang membahagiakan kami.
Beberapa waktu lalu kami mengikuti Nusantara Water 2004 di Jakarta Convention Center bersama
dengan Program WASPOLA dan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL)
sebagai induk kami. Langkah itu
merupakan upaya kami untuk makin mendekatkan Percik ke tengahtengah pemangku kepentingan
AMPL. Kami akan terus berupaya
agar majalah ini makin eksis dan
menjadi rujukan, referensi, dan wadah komunikasi bagi pihak-pihak
terkait di bidang ini.
Pembaca, pada edisi ini, Percik
hadir dengan laporan utama mengenai sampah. Mengapa ini diangkat?
Sampah merupakan suatu hal yang
masih menjadi persoalan di negeri
ini. Isu penyehatan lingkungan tak
pernah lepas dari sampah. Semua
orang tahu itu, tapi tak semua orang
memiliki kepedulian terhadap masalah yang satu ini. Ibarat peribahasa, Anjing menggonggong, kafilah
tetap berlalu, sampah tak pernah
kunjung usai penanganannya meski
banyak pihak berbicara kebersihan
dan kesehatan.

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

FOTO: OM

LESEHAN
Salah satu kekhasan dari Kelompok Kerja AMPL Pusat adalah lesehan dalam beberapa lokakarya.

Persoalan sampah sebenarnya


bukan sekadar persoalan teknis.
Teknologi apa yang cocok dan berapa dana yang dibutuhkan. Sekjen
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Budiman Arief,
menjelaskan itu. Kuncinya, penanganan sampah harus merupakan
langkah yang sistemik. Lebih dari
itu, menarik kiranya pandangan
M. Gempur Adnan, Deputi Menteri
Negara Lingkungan Hidup Bidang
Peningkatan Kapasitas Pengelolaan
Lingkungan Hidup Kewilayahan
bahwa itu semua tergantung komitmen semua pihak. Tanpa ada komitmen, jangan diharap persoalan sampah akan tuntas. Dana hanyalah
masalah nomor kesekian.
Percik kali ini juga banyak
memuat artikel-artikel sampah dari
para praktisi dan pegiat sampah.
Kami berharap dengan banyaknya
artikel yang sesuai dengan laporan

utama, pengetahuan kita mengenai


sampah semakin bertambah luas.
Yang tak kalah menarik, ada
reportase mengenai peran perempuan dalam mengelola sampah sejak
dari hulu. Berkat keuletannya itu,
kampungnya yang berada di jantung
kota Jakarta, berubah hijau dan
asri. Bahkan kini kampung tersebut
menjadi salah satu tujuan wisata
lingkungan. Banyak orang, baik dari
dalam dan luar negeri, yang belajar
dari perempuan tersebut. Dan berkat usahanya itu pula ia menyabet
berbagai penghargaan.
Seperti biasanya, Percik tetap
menampilkan rubrik-rubrik rutin
lainnya. Kami berharap ada masukan dan kritik dari para pembaca
demi perbaikan majalah ini ke depan.
Akhirnya kami berharap Percik
berguna bagi Anda, para pembaca.
Salam.

S UARA ANDA
MDGs Kurang Greget
Kami ucapkan selamat atas terbitnya
media informasi Percik. Izinkanlah
kami menyarankan agar Millennium
Development Goals (MDGs) disosialisasikan terlebih dahulu ke daerah supaya
gregetnya atau gaungnya sampai ke telinga masyarakat sehingga masyarakat
sendiri terinspirasi dan memiliki tanggung jawab moral untuk mewujudkan
target MDGs.
Natalia Silitonga
Kantor Bupati Toba Samosir
Bagian Perekonomian-Kasubbag Kimpraswil
Jl. Pagar Batu No. 1 Balige
Sumatera Utara

Saran Anda sangat sesuai dengan


harapan kami. Para pemangku kepentingan soal ini kini sedang berupaya

melakukan sosialisasi. Kami pun ikut


andil dalam masalah ini dengan memuatnya pada Percik edisi 3 yang lalu.
Apa yang kami lakukan memang belum
apa-apa tanpa ada gerakan sosialisasi
yang tersistem dari para pemangku kepentingan MDGs itu sendiri. (Redaksi)

Membantu Stakeholder
di Daerah
Adanya media informasi air minum
dan penyehatan lingkungan (Percik)
akan sangat membantu kami dalam melaksanakan interaksi dengan pemangku
kepentingan (stakeholder) di bidang air
minum agar tercipta suatu kerja sama
para pemangku kepentingan dengan
program seksi penyehatan air dan
pengamanan limbah di Dinas Kese-

hatan Kabupaten Musi Rawas, Prop.


Sumatera Selatan, menuju Indonesia
Sehat 2010.
Drs. H. Syamsul Anwar, MF, MM
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Rawas

Kami sangat senang bila para pembaca


bisa mengambil manfaat dari Percik. Majalah ini memang diterbitkan untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan dan program air minum dan penyehatan lingkungan sekaligus menjadi ajang para pemangku
kepentingan untuk saling berbagi pengalaman dan berkomunikasi. (Redaksi)
Kami menerima ucapan selamat dan
terima kasih dari berbagai pihak yang
tidak bisa kami sebut satu per satu atas
terbit dan dikirimnya Percik.
(Redaksi)

L O M B A K A R YA T U L I S
Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
(Pokja AMPL) bekerja sama dengan Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah (Dep. KIMPRASWIL)
Menyelenggarakan Lomba Karya Tulis
Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL)
TEMA :
PENYELENGGARAAN AIR MINUM DAN
PENYEHATAN LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT
SUB TEMA :
1) Pemberdayaan Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan
2) Pendanaan Berbasis Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan
3) Kelembagaan Pengelolaan Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan berbasis masyarakat
4) Peran Wanita dalam Penyelenggaraan Air Minum
dan Penyehatan Lingkungan

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

PERSYARATAN
1. Peserta Lomba : Masyarakat Umum
2. Panjang tulisan 10-15 halaman folio; 1,5 spasi
dan ditulis dalam bahasa Indonesia.
Naskah digandakan 5 (lima) kali.
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan
4. Peserta melampirkan foto copy identitas.
5. Karya Tulis diserahkan ke Panitia Lomba
Paling Lambat tanggal 28 Oktober 2004
6. Pemenang Karya Tulis akan Diumumkan
tanggal 28 November 2004
7. Hadiah:
Pemenang 1 Rp. 5.000.000
Pemenang 2 Rp. 3.000.000
Pemenang 3 Rp. 1.500.000
Keterangan lebih lanjut silakan hubungi
Panitia Lomba Karya Tulis
Jl Cianjur No. 4 Menteng,
Jakarta Pusat
Telp. (021) 31904113

L APORAN UTAMA

SAMPAH

Masih Jadi Sampah


FOTO: MUJIYANTO

Kita tidak pernah lepas dari sampah. Setiap hari ada saja
sampah yang harus kita buang. Entah di kantor,
di rumah, di manapun kita berada. Tidak heran ketika
kita tidak mengelola dengan baik maka sampah
akan dengan mudah kita temui bertebaran
di sekitar kita.

ungkin bagi sebagian orang


selembar kertas, atau setas
limbah rumah tangga tak
jadi masalah. Tapi begitu kertas dan
limbah rumah tangga itu berkumpul
dengan sampah sejenis dari banyak
orang, persoalan akan timbul, apalagi
di perkotaan yang lahannya terbatas.
Dan faktanya menunjukkan potensi
timbulan sampah terus meningkat
seiring dengan pertambahan jumlah
penduduk.

Timbulan sampah
Tidak tersedia data berapa persisnya
jumlah timbulan sampah di Indonesia.
Namun berdasar hasil perhitungan
Bappenas sebagaimana tercantum dalam
Buku Infrastruktur Indonesia, pada
tahun 1995 perkiraan timbulan sampah
di Indonesia mencapai 22,5 juta ton, dan
meningkat lebih dua kali lipat pada tahun
2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di
kota besar di Indonesia diperkirakan timbulan sampah per kapita berkisar antara

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

600 830 gram per hari.


Sebagai ilustrasi betapa besarnya timbulan sampah yang dihasilkan, data
beberapa kota besar di Indonesia dapat
menjadi rujukan. Kota Jakarta setiap
hari menghasilkan timbulan sampah
sebesar 6,2 ribu ton, Kota Bandung sebesar 2,1 ribu ton, Kota Surabaya sebesar
1,7 ribu ton, dan Kota Makassar 0,8 ribu
ton (Damanhuri, 2002). Jumlah tersebut
membutuhkan upaya yang tidak sedikit
dalam penanganannya.
Berdasarkan data tersebut diperkirakan kebutuhan lahan untuk TPA di
Indonesia pada tahun 1995 yaitu seluas
675 ha, dan meningkat menjadi 1.610 ha
pada tahun 2020. Kondisi ini akan menjadi masalah besar dengan memperhatikan semakin terbatasnya lahan
kosong khususnya di perkotaan. Salah
satu contoh terkini adalah kesulitan
pemerintah DKI Jakarta dalam menyedi-

L APORAN UTAMA
akan lahan untuk pengolahan
sampah setelah TPA Bantar
Gebang tidak dapat dipergunakan
lagi.
persen

Penanganan Sampah
Menurut data BPS, pada
tahun 2001 timbulan sampah
yang diangkut hanya mencapai
18,03 persen, sementara selebihnya ditimbun 10,46 persen, dibuat kompos 3,51 persen, dibakar
43,76 persen, dan lainnya
(dibuang ke sungai, pekarangan
kosong dan lainnya) 24,24
persen. Terlihat bahwa sampah yang
diangkut masih sangat sedikit, demikian
pula sampah yang diproses menjadi kompos, sementara yang dibakar dan dibuang
ke tempat yang tidak seharusnya bahkan
masih mencapai 68 persen. Kondisi ini
menunjukkan masih besarnya potensi
sampah menjadi sumber pencemaran
baik udara, maupun air termasuk menjadi pemicu timbulnya penyakit. Di daerah perkotaan sekalipun, sampah yang
dibakar dan dibuang sembarangan masih
mencapai 50,76 persen. Proporsi sampah
yang ditimbun sendiri masih cukup besar
mencapai 10,46 persen. Sampah seperti
plastik dan sejenisnya relatif sulit diurai
sehingga penanganan sampah dengan
cara menimbun menjadi kurang tepat.
Pengomposan juga belum populer di
masyarakat.
Sebagian besar Tempat Pengolahan
Akhir (TPA) sampah direncanakan menggunakan sistem sanitary landfill. Namun
dalam perjalanan waktu, akhirnya sebagian besar TPA tersebut akhirnya menggunakan sistem open dumping (70
persen) dan hanya sebagian kecil yang
tetap menggunakan sistem controlled
landfill dan sanitary landfill (30 persen).
Beberapa kota yang menerapkan controlled landfill di antaranya Jakarta,
Bandung, Semarang, Surabaya, Padang,
Malang, Yogyakarta, Pontianak, Balikpapan, Banjarmasin, dan Denpasar.

mulai dilakukan walaupun masih


dalam skala kecil dan sebagian
besar dilakukan oleh pemulung.
60
Pengomposan pun sudah dila50
kukan namun dalam jumlah yang
40
sangat terbatas.
30
Sementara itu TPA yang ada
20
10
tidak dikelola dengan baik. Masih
0
terjadi pembakaran sampah
Diangkut Ditimbun Dibuat Dibakar Lainnya
untuk mengurangi timbunan
Kompos
sampah, dan tidak terkelolanya
gas metan yang dihasilkan oleh
Perkotaan Perdesaan Total
timbunan sampah. Sementara
dalam Kyoto Protocol yang sudah
diratifikasi oleh pemerintah
Penyebab rendahnya penerapan sis- Indonesia, pengurangan gas metan mentem sanitary landfill di Indonesia, antara jadi salah satu persyaratan. Masalah lainlain, rendahnya disiplin pengelola dalam nya yang timbul akibat pengelolaan TPA
menerapkan prosedur teknis, terbatasnya yang tidak sesuai persyaratan di
anggaran untuk operasi dan pemeli- antaranya timbulnya bau, menurunnya
haraan, sulitnya mendapatkan tanah kualitas air akibat pembuangan sampah
penutup, terbatasnya ketersediaan alat ke sungai, merembesnya air lindi dari
berat, rendahnya kualitas sumber daya TPA ke air tanah dangkal dan air permanusia, dan belum terorganisasikannya mukaan, pencemaran udara serta merepemulung di lokasi TPA sebagai bagian baknya dioxin yang bersifat karsinogen.
Kesadaran masyarakat akan kebersihterpadu sistem sanitary landfill.
an sudah baik tetapi terbatas hanya pada
lingkungan halaman rumah saja. Rumah
Karakteristik Sampah
Karakteristik sampah perkotaan memang bebas dari sampah tetapi samberbeda dengan sampah perdesaan. pah tersebut dibuang tidak pada tempatSecara umum, sampah perkotaan di nya seperti selokan, sungai, dan bahkan
Indonesia memiliki komposisi 80 persen halaman kosong milik tetangga. Fenosampah organik, dan selebihnya sampah mena NIMBY (Not In My Backyard) sanon-organik. Sampah non organik terse- ngat terasa di sini.
Hal ini juga didorong oleh belum
but separuhnya merupakan sampah plastersedianya pelayanan persampahan
tik.
yang memadai.
Jika dibandingkan dengan kesediaan
Isu Utama
Cakupan pelayanan pengelolaan per- membayar pelayanan air minum maka
sampahan yang masih rendah khususnya kesediaan membayar pengelolaan samdi perkotaan dapat berdampak pada pah relatif lebih rendah. Ini terjadi karemeningkatnya wabah penyakit menular na masyarakat tidak mengetahui sebeseperti tipus, kolera, muntaber, disentri, narnya seperti apa pengelolaan sampah
pes, leptospirosis, salmonelosis, demam itu berlangsung.
Rendahnya tingkat pengorbanan
gigitan tikus. Selain juga sampah yang
dibuang ke sungai dan saluran pembu- masyarakat untuk memberikan kontribusinya berbanding terbalik dengan
angan berpotensi menimbulkan banjir.
Prinsip pengurangan timbulan sam- jumlah timbulan sampah. Kebutuhan
pah pada dasarnya telah dikenal dan lahan untuk lokasi TPA meningkat. Perlu
Penanganan Sam pah (%)

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

L APORAN UTAMA
dicari alternatif pengolahan sampah yang
tidak memerlukan lahan yang luas.
Di sisi lain, saat ini belum tersedia
kebijakan nasional persampahan yang
dapat menjadi payung pengelolaan persampahan oleh seluruh pemangku
kepentingan. Peraturan-peraturan yang
ada tercecer di daerah atau instansi sektoral. Wajar bila hingga kini belum terwujud sistem kelembagaan, koordinasi dan
integrasi pengelolaan sampah.
Dimulainya era otonomi daerah menjadikan pengelolaan sampah menjadi
kewenangan pemerintah daerah. Namun
di lain pihak, masih banyak pemerintah
daerah yang menganggap persampahan
bukan prioritas. Ini terlihat dari minimnya alokasi anggaran ke sektor ini.
Kebijakan ke Depan
Penyelesaian persampahan mau tidak
mau harus dilakukan secara sistemik dan
terintegrasi dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan. Apalagi pada
2025 telah dicanangkan sebagai tahun
zero waste (bebas sampah) dunia.
Beberapa langkah yang bisa diambil
dalam rangka menuju ke arah itu yakni:
1. Mengurangi volume timbulan sampah dengan menggunakan konsep 3R
(reduce, reuse, dan recycle).
Metode ini perlu disosialisasikan ke tengah-tengah masyarakat agar mereka mau menggunakan kembali dan mendaur
ulang sampahnya. Tentu langkah
ini perlu dibarengi penyadaran
akan pentingnya memilah sampah di rumah tangga sehingga
memudahkan pengolahan pada
tahap berikutnya. Konsep 3R
akan makin efektif jika didukung
peraturan perundang-undangan
yang memberikan penghargaan
dan hukuman (reward and punishment) kepada semua pemangku kepentingan yang terkait, apakah itu pemulung, ma-

syarakat, dan lainnya. Selain itu, pemanfaatan sampah sebagai sumber energi
(wasre to energy) layak untuk diperhatikan mengingat hingga kini belum ada
pihak yang mempraktekkan langkah ini
di Indonesia. Bila sampah telah termanfaatkan sejak dari hulu maka sistem sanitary landfill tidak memerlukan lahan
yang luas dengan biaya besar. Sanitary
landfill hanya digunakan untuk mengolah residu dari hasil pembakaran insinerator.
2. Peningkatan peran masyarakat
dan dunia usaha
Langkah mengurangi timbulan sampah tidak akan efektif tanpa peran aktif
masyarakat. Merekalah penghasil utama
sampah dan mereka pula yang merasakan
dampak negatifnya bila sampah tak
dikelola dengan baik. Kuncinya adalah
peningkatan kesadaran dan tanggung
jawab dalam pengelolaan sampah.
Masyarakat bisa berperan sebagai a) pengelola (mengurangi timbulan sampah dari
sumber); b) pengawas (mengawasi tahapan
pengelolaan agar berjalan dengan benar); c)
pemanfaat (memanfaatkan sampah secara
individu, kelompok, atau kerja sama dengan
dunia usaha); d) pengolah (mengoperasikan
dan memelihara sarana dan prasarana pengolah sampah); e) penyedia biaya pengelo-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

laan (lihat diagram.)


3. Peningkatan peran antarpemerintah daerah dalam pengelolaan sampah
Persoalan sampah pada dasarnya
bukan persoalan individual kota tapi persoalan regional. Polusi udara, air, dan
tanah berdampak pada wilayah yang luas
melintasi batas administratif. Oleh karena itu penentuan lokasi TPA yang selama
ini berdasarkan wilayah administratif menjadi tidak relevan. Di masa mendatang konsep TPA regional dan terpusat (regional
solid waste management) perlu dikembangkan sebagai upaya bersama dalam
mengatasi kesulitan lahan TPA.
4. Pengembangan teknologi baru
Kemampuan pelayanan persampahan
tergantung pada pilihan teknologi yang
tersedia. Penggunaan teknologi yang
tepat akan mengoptimalkan pengelolaan
persampahan. Oleh karena itu, penggunaan teknologi baru bisa menjadi alternatif peningkatan kemampuan pengelolaan persampahan khususnya di kota
besar.
5. Peningkatan kampanye perilaku
hidup bersih dan sehat
Pengelolaan sampah tak akan berhasil
tanpa ada kesadaran masyarakat bahwa
lingkungan sehat juga merupakan
kebutuhan pokok mereka. Peningkatan kesadaran ini harus dilakukan
secara terus menerus kepada seluruh
lapisan masyarakat. Program edukasi
di bidang kesehatan perlu ditanamkan sejak dini kepada siswa sekolah.
Akhirnya, meningkatkan kepedulian semua pemangku kepentingan (stakeholder) di bidang persampahan tak bisa ditawar-tawar lagi.
Seberapa canggih teknologi, uang
banyak, sumber daya bagus, tapi
tidak ada perhatian serius dari pemangku kepentingan, maka persoalan sampah akan tetap menjadi sampah. OM/MJ

L APORAN UTAMA

Seputar Sampah
FOTO: OSWAR MUNGKASA

Apa itu sampah?


Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum
memiliki nilai ekonomis
Bagaimana pengklasifikasian
sampah?
z Sampah dapat diklasifikasikan berdasar sumbernya yaitu (i) sampah
domestik yang terdiri dari sampah rumah
tangga, bongkaran bangunan, sanitasi
dan sampah jalanan. Secara umum sampah jenis ini berasal dari perumahan dan
kompleks perdagangan (ii) sampah
berbahaya seperti sampah industri dan
sampah rumah sakit yang kemungkinan
mengandung racun. Beberapa sampah
rumah tangga juga termasuk sampah
berbahaya seperti baterai, semir sepatucat, botol obat; (iii) sampah medis
z Sampah dapat diklasifikasikan berdasar bentuknya yaitu (i) sampah anorganik/kering seperti logam, besi, kaleng, botol yang tidak dapat mengalami pembusukan secara alami; (ii) sampah organik/basah seperti sampah dapur, restoran, sisa makanan yang dapat mengalami pembusukan secara alami; (iii) sampah berbahaya seperti baterai, jarum suntik bekas.
z Sampah dapat diklasifikasikan
berdasar kemampuan sampah untuk dihancurkan yaitu (i) biodegradable yaitu
sampah yang dapat mengalami pembusukan alami termasuk sampah organik
seperti sampah dapur, sayuran, buah,
bunga, daun dan kertas; (ii) nonbiodegradable yang terdiri dari sampah daur ulang seperti plastik, kertas, gelas;
sampah beracun seperti obat, cat, baterai, semir sepatu; sampah medis seperti
jarum suntik.

1-2 minggu

Kertas
Baju katun
Kayu
wool
Wool
Alumunium, kaleng, dan
sejenisnya

10-30 hari
2-5 bulan
10-15 tahun
1 tahun
100-500 tahun

Kantong plastik
Botol gelas

1 juta tahun?
Tidak diketahui

tergantung pada jenis sampah. Pada


umumnya sampah organik dapat dihancurkan dalam jangka waktu singkat, sementara sampah seperti plastik bahkan
diperkirakan baru akan hancur setelah 1
juta tahun.
Bagaimana langkah pengurangan
produksi sampah domestik?
Produksi sampah dapat dikurangi.

Berapakah waktu yang dibutuhkan


untuk menghancurkan sampah?
Lama waktu yang dibutuhkan untuk
menghancurkan sampah sangat beragam

Sampah organik (tumbuhan,


buah dan sejenisnya)

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

4R (Refuse, Reuse, Recycle, Reduce)


1.

1.

Refuse. Menggunakan barang

Refuse. Menggunakan barang yang


yang lebih tahan lama dari
lebih tahan lama dari pada barang
pada barang sekali pakai.
sekali pakai.
Reduce.
Mengurangi
2. 2.Reduce.
Mengurangi
timbulan
timbulan sampah.
sampah.
Menggunakan
3. 3.Reuse.Reuse.
Menggunakan
barangbarang
yang
bisa dipergunakan
kembali.
yang bisa dipergunakan
4. Recycle.
Menggunakan barang yang
kembali.
ulang.
4.bisa didaur
Recycle.
Menggunakan

Prinsipnya adalah pengurangan sampah


tersebut harus dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Dalam kaitan dengan pengurangan sampah, maka kita telah mengenal prinsip 3R (Reduce, Reuse,
Recycle) yang kemudian berkembang
menjadi 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Refuse). Perbedaan mendasar dari prinsip
3R dan 4R terletak pada penambahan
prinsip Refuse (kadang disebut juga
replace) yang memfokuskan pada penggunaan barang yang lebih tahan lama
dibanding barang sekali pakai.
Keuntungan penerapan prinsip 4R di
antaranya adalah mengurangi efek rumah
kaca, mengurangi polusi udara dan air,
menghemat energi, konservasi sumber
daya, mengurangi kebutuhan lahan untuk
TPA, menciptakan lapangan kerja, dan
mendorong penciptaan teknologi hijau.
Jenis sampah sangat bergantung pada
budaya masyarakat. Pada masyarakat
modern khususnya di kota besar penggunaan sampah plastik sangat dominan.
Sebagai ilustrasi, sebagian besar sampah
domestik berasal dari kantong plastik
(kresek) belanja rumah tangga, atau styrofoam untuk wadah makanan. Sementara sampah plastik merupakan ancaman
terbesar bagi lingkungan karena waktu
hancurnya mencapai 1 juta tahun (mungkin sudah keburu kiamat sebelum sam-

L APORAN UTAMA
FOTO: MUJIYANTO

pah plastik tersebut hancur). Kondisi ini


menyadarkan kita akan semakin pentingnya penerapan prinsip 4R dalam
mengurangi timbulan sampah. Jadi gerakan mengurangi timbulan sampah
harus dimulai dari sumbernya yaitu
rumah tangga itu sendiri. Oleh karenanya
penerapan prinsip ini sangat tergantung
pada kesadaran masyarakat.

Biaya sanitary landfills relatif jauh lebih


mahal.
(iv). Insinerator. Pada cara pengolahan menggunakan insinerator, dilakukan
pembakaran sampah dengan terlebih
dahulu memisahkan sampah daur ulang.
Sampah yang tidak dapat didaur ulang
kemudian dibakar. Biasanya proses pem-

Bagaimana cara pengolahan


sampah?
Terdapat paling tidak lima cara yang
dikenal secara umum dalam pengolahan
sampah yaitu
(i). Open dumps. Open dumps mengacu pada cara pembuangan sampah
pada area terbuka tanpa dilakukan proses
apapun.
(ii). Landfills. Landfills adalah lokasi
pembuangan sampah yang relatif lebih
baik dari open dumping. Sampah yang
ada ditutup dengan tanah kemudian
dipadatkan. Setelah lokasi penuh maka
lokasi landfill akan ditutup tanah tebal
dan kemudian lokasi tersebut biasanya
dijadikan tempat parkir.
(iii). Sanitary landfills. Berbeda dengan landfills maka sanitary landfills
menggunakan material yang kedap air
sehingga rembesan air dari sampah tidak
akan mencemari lingkungan sekitar.

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

bakaran sampah dilakukan sebagai alternatif terakhir atau lebih difokuskan pada
penanganan sampah medis.
(v). Pengomposan. Pengomposan
adalah proses biologi yang memungkinkan organisme kecil mengubah sampah organik menjadi pupuk.
Sampai seberapa jauh tanggung
jawab produsen?
Jika rumah tangga diberi peran untuk
mengurangi timbulan sampah melalui
prinsip 4R, maka produsen seharusnya
juga diberi tanggungjawab yang jelas.
Produsen dapat membantu rumah tangga
dalam menerapkan prinsip 4R tersebut.
Salah satunya melalui EPR (Extended
Producer
Responsibility/Perluasan
Tanggung jawab Produsen) yang merupakan usaha mendorong produsen untuk
menggunakan kembali produk dan
kemasan yang diproduksinya. Pemberian
insentif bagi produsen menjadi suatu
keniscayaan. OM

Fakta Sampah di Amerika Serikat


z Tahun 2001 produksi sampah mencapai 229 juta ton atau sekitar 4,4 pon
per orang per hari. Meningkat hampir dua kali produksi sampah tahun 1960.
z Sekitar 30 persen sampah didaur ulang, 15 persen dibakar, dan 56 persen
dibuang ke TPA
z Pada tahun 1999, daur ulang dan pengomposan mengurangi 64 juta ton
sampah yang seharusnya dikirim ke TPA. Sekarang ini proses daur ulang
dilakukan terhadap 30 persen produksi sampah. Persentase ini meningkat dua
kali lipat dibandingkan kondisi 15 tahun yang lalu
z Daur ulang baterai mencapai 94 persen, kertas 42 persen, botol plastik 40
persen, kaleng minuman ringan dan bir 55 persen
z Jumlah TPA berkurang dari 8.000 lokasi pada 1998 menjadi 1.858 lokasi
pada 2001 dengan kapasitas yang relatif sama.

Fakta Sampah Negara Lain


z Amerika Serikat merupakan negara maju penghasil sampah terbesar di
dunia yaitu 4,4 pon sampah per kapita per hari, disusul Kanada 3,75 pon dan
Belanda 3 pon. Jerman dan Swedia merupakan negara maju dengan produksi
sampah terendah.
z Amerika Serikat merupakan negara maju dengan proporsi daur ulang
terbesar yakni 24 persen, disusul Swiss 23 persen, dan Jepang 20 persen.

L APORAN UTAMA
Upaya Mengurangi

Emisi Metan dari TPA


FOTO: FANI WEDAHUDITAMA

PA merupakan sumber terbesar


emisi metan di Amerika Serikat
bahkan mungkin juga di Indonesia. Padahal sebenarnya emisi metan
dari TPA dapat menjadi salah satu sumber energi yang potensial. LFG (Landfill
Gas) dihasilkan ketika sampah dihancurkan di TPA. Gas ini terdiri dari 50
persen metan (CH4), komponen utama
gas alam, dan sisanya CO2. Sebagai ilustrasi per Desember 2003, terdapat 360
proyek energi berbasis LFG di Amerika
Serikat dan sekitar 600 TPA yang potensial untuk proyek sejenis.
Beberapa keuntungan dari penggunaan energi LFG adalah (i) akan mengurangi bau; (ii) mencegah gas metan terlepas ke atmosfir dan mempengaruhi
iklim global. Diperkirakan proyek LFG
akan mencegah sekitar 60-90 persen
metan yang dihasilkan dari proses di
TPA, tergantung pada jenis teknologi
yang dipergunakan. Metan tersebut
diproses menjadi air dan CO2 ketika gas
diubah menjadi listrik. Untuk sekitar

4 megawatt listrik setara dengan menanam 60 ribu are hutan setahun atau
mengurangi emisi CO2 dari 45 ribu mobil
setahun. Energi yang dihasilkan juga
dapat menggantikan penggunaan batu
bara dari 1.000 kereta api atau penggunaan 500 ribu barel minyak; (iii) mengurangi polusi udara dengan mengurangi
penggunaan bahan bakar yang tidak ter-

Sampah dan Perubahan Iklim

ungkin kita kurang menyadari


bahwa sampah dapat mempengaruhi iklim melalui emisi gas rumah
kaca dengan berbagai cara.
Bagaimana kaitan sampah dan
perubahan iklim?
Pertama. Penghancuran sampah di
TPA menghasilkan gas metan, yang berpotensi 21 kali lebih kuat dari gas CO2
dalam menyumbang efek rumah kaca.
Kedua. Insinerator menghasilkan
CO2. Sebagai tambahan, kendaraan
yang mengangkut sampah juga memproduksi CO2.

Bagaimana strategi pengelolaan


sampah mengurangi emisi gas
rumah kaca?
z Pengurangan timbulan sampah
organik yang diolah di TPA akan mengurangi gas metan yang dihasilkan
dalam proses penghancuran sampah
tersebut.
z Pengurangan timbulan sampah
yang diolah insinerator akan mengurangi emisi gas rumah kaca.
z Barang yang dapat di daur ulang
biasanya menggunakan lebih sedikit
energi dalam proses pengolahannya
sehingga dapat mengurangi emisi.

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

barukan seperti batu bara, gas alam dan


minyak; (iv) menciptakan lapangan kerja,
penghasilan dan penghematan biaya.
Program penggunaan LFG di Amerika
Serikat telah secara signifikan mengurangi emisi metan sebesar 14 juta m3 ton
setara karbon (MMTCE). Keuntungan
reduksi gas rumah kaca setara dengan
penanaman 18 juta are hutan atau mengurangi emisi tahunan dari 13 juta
mobil. Sementara 600 TPA yang
berpotensi menghasilkan listrik dari gas
metan, ternyata berdasar perhitungan
dapat menghasilkan listrik bagi 1 juta
rumah.
Terdapat beberapa pilihan proses
LFG menjadi energi, di antaranya berupa
(i) pembangkit listrik, (ii) penggunaan
langsung untuk menggantikan bentuk
bahan bakar yang ada seperti gas alam,
batu bara, bensin; (iii) cogeneration,
merupakan kombinasi panas dan tenaga
(Combined Heat and Power/CHP) yang
menghasilkan listrik dan energi panas.
Terlepas dari berbagai keuntungan
mengubah LFG menjadi energi tetapi
ternyata dalam prosesnya menghasilkan
emisi NOx yang dapat merusak ozon dan
membentuk kabut asap. OM

L APORAN UTAMA

Belajarlah Sampah
ke Negeri Cina

esta Olimpiade di Athena baru


saja usai, Negara tirai bambu
China akan menyambut pesta
Olimpiade berikutnya tahun 2008 di Beijing. Menjelang Olimpiade 2008 tersebut, Cina mulai sibuk berbenah diri mulai
dari penataan infrastruktur kota sampai
masalah kebersihan kota. Ini tampak sekali di ibukota Cina, Beijing. Kendati secara hitungan masih lama, pembenahan
perkotaan dan pembangunan infrastruktur sudah mulai dilakukan. Maklum, mereka tak ingin kota berpenduduk 16 juta
jiwa itu mengecewakan para atlet, ofisial,
dan penggembira yang datang dari seluruh penjuru dunia.
Dalam rangka event Olimpiade ini,
Pemerintah Cina telah mengeluarkan kebijakan khusus untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan termasuk peningkatan sistem pengelolaan persampahan. Khusus Kota Beijing, Pemerintah
Kota setempat memformulasikan sebuah
kebijakan persampahan yakni (i)
meningkatkan pelayanan 98 % pada
2007; (ii) daur ulang dan kompos 30 %
pada tahun 2007; (3) pemisahan sampah
di sumber sampai dengan 50 % pada
tahun 2007; (iv) tahun 2007 pengelolaan
lokasi landfill harus sesuai dengan ketentuan standar lingkungan; dan (v) pengembangan teknologi pengolahan lechate terus dilakukan untuk mencapai
standar efluent yang dipersyaratkan.
Kondisi Pengelolaan Persampahan
Aspek Teknis
Penanganan persampahan di Beijing
pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan
di Indonesia. Ini karena komposisi dan
karakteristik sampah yang hampir sama.
Pola penanganan sampah dari sumber
sampai TPA hampir sama, termasuk tidak dilakukan proses pemilahan sampah
di sumber. Hanya saja, Beijing dengan
jumlah sampah 9000 ton per hari (seba-

gai perbandingan Jakarta menghasilkan


sampah 6.000 ton/hari) memiliki pelayanan yang yang jauh lebih baik, terutama bila ditinjau dari sudah tingginya
cakupan pelayanan (90%) maupun kualitas pelayanannya. Meskipun tidak dilakukan pemisahan sampah di sumber,
namun transfer station yang ada kota itu
memiliki fasilitas pemisahan sampah,
sehingga sampah yang dibuang ke TPA
hanya residu. Selanjutnya sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan baku
kompos (diproses di instalasi kompos
skala kota, kapasitas 200400 ton/hari)
dan daur ulang.
Sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah juga hampir sama dengan
yang dilakukan di Indonesia, seperti
menggunakan gerobak sepeda dan truk
(compactor truck). Namun kualitas dan
efisiensi pengangkutan sampahnya sangat baik karena setiap radius 8 km dilengkapi dengan transfer station.
Metode pembuangan akhir sampah
dilakukan dengan sistem sanitary landfill yang sudah cukup memadai. Tabel di
bawah ini menggambarkan jumlah landfill, luas dan kapasitas.
Tabel 1. Lokasi Landfill di Beijing
No Lokasi Landfill

Luas (Ha)

Kapasitas (ton/hari)

Beishinshu landfill

33,7

1000

Liulitun landfill

46,5

1500

Asuwei landfill

60

2000

Anding landfill

21,6

700

Fasilitas landfill tersebut meliputi


lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul leachate, kolam penampungan
leachate, pengolahan leachate (oxidation
ditch), saluran drainase keliling landfill
dan drainase setiap lapisan, pengumpulan gas (saat ini hanya dibakar melalui
flare), jalan operasi dan keliling landfill,
buffer zone, jembatan timbang, alat

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

FOTO: ENDANG SETYANINGRUM

Pemilahan sampah melalui ban berjalan.

berat, mobil tangki air, penutupan tanah


(harian), perkantoran, fasilitas olah raga,
dan stok tanah penutup.
Kendati fasilitas cukup lengkap, namun
hasil proses pengolahan leachate masih
belum sesuai dengan standar effluent yang
berlaku untuk kota Beijing. Tabel berikut
menggambarkan proses dan kualitas effluent dari beberapa landfill yang ada di Beijing
dan standar effluent China dan Beijing:
Tabel 2.
Hasil proses pengolahan leachate
Landfills
Beishinshu
Liulitun
Asuwei
Pilot Test RO
Membrane

Tipe
Proses Pengolahan
Leachate
Diangkut ke sewerage
treatment plant
Oxidition Ditch
Oxidation Ditch
Filtrasi dengan reverse osmosis

Parameter
kualitas efluent leachate
COD
BOD
Amonia
-

324
787
3 - 17

22,9
126
-

17
24
1,2 15

L APORAN UTAMA
FOTO: ENDANG SETYANINGRUM

Tabel 3.
Standar efluent China dan Beijing
COD

< 300

< 60

BOD

< 150

< 20

Amonia

< 25

< 25

Penutupan tanah akhir dilakukan


dengan menggunakan tanah lempung,
geo textile, bentonite dan tanah lempung
/top soil. Pemanfaatan lahan pasca operasi sebagai lahan terbuka hijau.
Aspek Manajemen
Pengelolaan sampah di Beijing dilakukan oleh Dinas Persampahan (BSWAD). Lembaga ini memperoleh alokasi
dana (dana investasi maupun O/M) berasal dari dana Pemerintah kota Beijing
dan kontriibusi dari masyarakat berupa
tarif.
Tarif ditentukan berdasarkan jumlah
anggota keluarga. Untuk keluarga lebih
dari tiga orang, setiap orang harus membayar tarif 3 RMB per bulan (atau setara
dengan Rp.3000/orang/bulan). Sedangkan untuk keluarga yang kurang dari tiga
orang tarifnya 2 RMB/orang per bulan
(Rp. 2000/orang/bulan). Peran serta
masyarakat kota Beijing sangat tinggi, namun peran swasta dalam pengelolaan
sampah masih sangat terbatas.
Pembelajaran
Aspek Teknis
z Peningkatan pelayanan hampir 100 %
pada tahun 2007 menunjukkan komitmen Pemerintah sangat tinggi. Kondisi
seperti ini diperlukan untuk kota-kota
metropolitan seperti Jakarta
z Meskipun program 3R belum dilaksanakan di Beijing, namun proses
pemilahan yang dilakukan di transfer
station sudah cukup memadai. Kotakota besar/metropolitan di Indonesia
dapat mengembangkan sistem serupa
dengan membuat transfer station yang

10

Salah satu TPA di Beijing.

dilengkapi dengan proses pemilahan


z Hal lain yang menarik adalah dalam
rangka Olimpiade 2008, pemisahan
sampah di sumber ditargetkan 50 %
pada tahun 2007. Untuk penerapan di
Indonesia program 3R harus mulai
serius dilaksanakan
z Proses pengangkutan sangat efisien
karena setiap radius 8 km memiliki
transfer station, di Indonesia transfer
station diperlukan untuk jarak ke TPA
> 25 km
z Proses composting dengan kapasitas
besar (200-400 ton/hari) cukup
memadai (kualitas kompos baik dan
digunakan oleh petani). Untuk penerapan di Indonesia, composting skala
besar dapat dilakukan tanpa harus
menerapkan prinsip benefit system dari
segi ekonomi
z Pembuangan akhir yang dilakukan dengan sistem sanitary landfill sangat
memadai ditinjau dari ketersediaan
fasilitas dan kehandalan operasional.
Untuk penerapan di Indonesia perlu
kemauan dan kerja keras dalam meningkatkan kualitas landfill
z Penerapan standar kualitas effluent yang
lebih ketat di Beijing telah memacu pengembangan teknologi pengolahan leachate seperti RO (reverse osmosis) semata-mata demi pengamanan kualitas
lingkungan terutama sumber-sumber air

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

z Pembakaran sampah dengan


insinerator tidak dilakukan di
Beijing, karena selain karakteristik sampah yang tidak layak
bakar juga masih menunggu kajian kelayakan. Di Indonesia,
banyak ditawarkan insinerator
kecil yang tidak ramah lingkungan dan pada umumnya hanya menyelesaikan masalah
dengan masalah

Aspek Manajemen
z Pemerintah kota Beijing memiliki komitmen yang tinggi dalam
meningkatkan kualitas landfill
(saat ini dalam kondisi sangat baik, kecuali masalah effluent)
z Adanya kesungguhan dan sikap profesional dari petugas di lapangan merupakan
modal yang menentukan keberhasilan
program kebersihan di Beijing. Di Indonesia, SDM yang ditempatkan sebagai
orang kebersihan pada umumnya merasa sebagai terpinggirkan
z Retribusi pengelolaan sampah dengan sistem insentif bagi keluarga kecil, di Indonesia sistem insentif dapat dikembangkan
berdasarkan pengurangan volume sampah
z Penerapan peraturan sudah cukup memadai, sementara di Indonesia buang
sampah sembarangan sah-sah saja, lebih takut kena tilang lampu merah atau
Three In One atau sabuk pengaman
z Tingkat kesadaran masyarakat sudah
sangat tinggi dalam bidang kebersihan.
Di Indonesia perlu kesungguhan untuk
membangun kesadaran masyarakat,
bahkan mungkin perlu dikenalkan melalui pendidikan formal sejak dini
Pelajaran-pelajaran di atas bisa diambil
oleh para pengambil kebijakan di Indonesia.
Apa salahnya kita belajar persampahan ke
Cina, negara tirai bambu yang kualitas
kebersihan kotanya tidak kalah dengan
negara Eropa maupun Jepang?
Endang Setyaningrum, Staf Direktorat
Perkotaan, Ditjen TPTP, Depkimpraswil dan
anggota Pokja AMPL

L APORAN UTAMA
Program Bangun Praja

Memacu Daerah
Peduli Lingkungan

ak ada Adipura, kebersihan pun


diabaikan. Kepedulian pemerintah daerah yang dulu begitu bersemangat berlomba menjaga kebersihan
dan keindahan kota tak begitu tampak
lagi utamanya setelah tahun 1998.
Kota-kota yang dulunya memiliki
nilai kebersihan cukup tinggi, mendadak
menurun drastis pada evaluasi tahun
2003. Ini terjadi di hampir semua kota di
Indonesia baik kota metropolitan, besar,
sedang, dan kecil, seperti tergambar
dalam tabel 1.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa


masalah lingkungan hidup cenderung
meningkat di berbagai daerah di tanah
air. Ada yang terjadi secara alami, tapi
tak sedikit yang disebabkan oleh ulah
manusia, seiring dengan meningkatnya
laju pertumbuhan penduduk dan meningkatnya permintaan ruang dan sumber daya alam. Kerusakan lingkungan
makin diperparah oleh rendahnya kekuatan politik yang memiliki sense of
environment.
Oleh karena itu, perlu ada peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup. Modelnya tentu tak lagi sentralistik,

11

TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM BANGUN PRAJA

tapi desentralisasi. Setiap daerah bisa


mendayagunakan seluruh kemampuannya dan memobilisasi dukungan dari segenap segmen masyarakat untuk bersama-sama menyadari urgensi dari penyelamatan kerusakan lingkungan hidup di daerah masing-masing, dan menyusun rencana yang konkrit untuk pelestarian
lingkungan. Hanya saja, untuk bisa mewujudkan pengelolaan dan pelestarian hidup
yang efektif perlu kepemerintahan yang
baik (good governance). Dari sinilah kemudian muncul paradigma baru yaitu good environmental governance yang diterjemahkan sebagai Tata Praja Lingkungan.
Inilah yang mendasari lahirnya Program Bangun Praja, sebuah program dari
Kementerian Lingkungan Hidup yang
bertujuan mendorong kemampuan
pemerintah daerah untuk melaksanakan
kepemerintahan yang baik di bidang
lingkungan hidup sekaligus untuk meningkatkan kinerja pemerintah. Program
ini juga didukung oleh Program Warga
Madani yang bertujuan memberdayakan
masyarakat.
Program Bangun Praja dimulai pada
tahun 2002. Pencanangannya dilaksana-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

kan bertepatan dengan peringatan Hari


Lingkungan Hidup pada 5 Juni 2002 di
Denpasar, Bali.
Deputi Menteri Lingkungan Hidup
Bidang Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kewilayahan, M
Gempur Adnan menjelaskan inti Tata
Praja Lingkungan adalah penguatan sistem koordinasi sehingga pemerintah bisa
mendapatkan respon yang tepat untuk
penyelesaian masalah-masalah lingkungan yang mendesak. Penguatan sistem ini
meliputi mekanisme yang dapat menjamin semua pihak yang berkepentingan
menyampaikan suaranya secara demokratis, menjamin adanya prosedur yang
transparan dan adil dalam perencanaan
dan pelaksanaan rencana, serta adanya
standar dan kriteria untuk menilai pelaksanaan yang adil dan transparan.
Beberapa unsur penentu dalam
Program Bangun Praja agar Tata Praja
Lingkungan tercapai yaitu:
1. Motivasi kepala daerah
2. Kompetensi dan komitmen pimpinan
efektivitas institusi (kelembagaan)
3. Kapasitas dan kemampuan sumber
daya manusia

L APORAN UTAMA
4. Adanya kebijakan yang mendukung
5. Adanya sistem pertanggungjawaban
yang jelas
7. Ketersediaan dana
Kegiatan program ini tahun 20022003 difokuskan pada monitoring dan
evaluasi isu-isu lingkungan perkotaan
atau daerah urban meliputi: pengelolaan
sampah, pengelolaan ruang terbuka
hijau, pengelolaan fasilitas publik, dan
pengendalian pencemaran air. Pada
tahun ini, jumlah yang ikut 59 kota.
Setiap daerah didata melalui kuisioner
dan pengamatan langsung di lapangan.

Komponen yang dievaluasi yaitu manajemen, daya tangkap, institusi, hasil (fisik),
dan inovasi. Data itu kemudian disimpan
pada data base dan diperbaharui setiap
ada evaluasi setiap tahun. Kebijakan dan
program peningkatan kapasitas daerah
disusun berdasarkan data yang ada.
Pada tahun kedua (Juni 2003-Mei
2004) jumlah peserta Program Bangun
Praja bertambah menjadi 133 kota. Dari
jumlah tersebut, 31 kota masuk nominasi
sebagai kota terbersih yang akan memperoleh penghargaan Adipura. Penghargaan ini terdiri atas Anugerah Adipura
bagi kota-kota yang nilai kinerjanya

melewati batas yang ditentukan, dan


Piagam Adipura bagi kota-kota yang kinerjanya mendekati nilai batas yang
ditentukan. Pada 7 Juni lalu, 15 kota
menerima Anugerah Adipura, dan 10 kota meraih Penghargaan Adipura. Penyerahan penghargaan itu dilakukan oleh
presiden di Istana Negara.
Program ini tak berhenti sampai di
sini. Program ini akan terus berlanjut,
tentu dengan berbagai penyesuaian baik
dalam pemantauan dan evaluasi, serta
kelembagaannya. Tujuannya, terwujudnya tata praja lingkungan. (MJ)

M. Gempur Adnan, Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan


Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kewilayahan

Kuncinya, Komitmen Pemerintah Daerah

emua orang sebenarnya tahu bagaimana mengatasi masalah sampah. Orang juga tahu hambatan-hambatannya, seperti kendala teknis, dana, peralatan, dan SDM. Tetapi mengapa masalah ini tak pernah terselesaikan? Beberapa daerah yang dibantu juga tetap tak
bisa menyelesaikan masalah ini.
Lalu apa sebenarnya kata kunci dari
permsalahan sampah itu? Kita sampai
pada kesimpulan bahwa itu semua tergantung komitmen pemerintah daerah.
Punya nggak pemerintah daerah dan
masyarakat komitmen untuk mengatasi
sampah? Kalau mereka punya komitmen,
sebenarnya uang itu tak jadi masalah.
Sampah bisa bersih kalau pemerintah daerah punya komitmen. Kalau tidak ada
komitmen, diberikan apapun maka tak
akan bisa berbuat banyak.
Masalah uang itu sebenarnya ada.
Hanya masalahnya dialokasikan ke arah
yang betul.
Melalui program ini, kita ingin menaikkan komitmen pemerintah daerah.

12

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Biar kalau daerah itu kotor, pemerintahnya malu. Kita mendorong agar masalah
sampah dan kota bersih menjadi isu.
Kalau isu ini tidak diangkat maka pemerintah daerah akan tenang-tenang saja.
Saat ini kita terus berupaya mengangkat
isu sampah ke level pengambil keputusan di daerah sampai ke pusat. Kita berharap muncul komitmen daerah dan nasional. Coba kalau presiden teriak, gubernur teriak, kita bisa mengatasi hal itu.
Program ini bersifat sukarela. Ada
dua hal dalam program ini yakni pertama mendorong daerah membuat kotanya bersih dan teduh (clean and green
city). Kedua adalah capacity building.
Kita mendorong daerah meningkatkan
kapasitasnya dalam bidang lingkungan
khususnya perkotaan. Kita memberikan
workshop, pelatihan, studi banding dan
sebagainya yang berkaitan dengan cara
mengelola kota.
Visinya untuk sementara sampah
dulu, perbaikan fasilitas publik, dan ruang terbuka hijau. Kita batasi tiga dulu,

karena masalah di daerah sudah kacau.


Kalau semuanya, mereka tidak akan bisa-bisa.
Sebenarnya program ini hampir
sama dengan program Adipura dulu.
Hanya saja berbeda, mekanismenya. Pada bangun praja ada peningkatan kapasitas, tapi tidak pada Adipura. Sistem
evaluasinya juga berbeda. Kalau Adipura
sekali setahun, Bangun Praja tiga kali
setahun. Semuanya transparan. Jadi setiap kota mengetahui perkembangan kotanya setiap ada pemantauan dan evaluasi. Kota lain pun bisa tahu. Masyarakat
pun juga tahu melalui media massa karena kita berusaha mengeksposnya.
Memang kita belum bisa berharap
kota-kota yang memperoleh penghargaan itu benar-benar bersih. Semuanya
masih kotor. Tapi kalau kita menunggu,
sampai kapan mereka sampai pada nilai
tertentu bersih? Ini kan butuh waktu.
Kita berharap, dalam 5 tahun ke
depan lahir 50 kota yang bersih di
Indonesia. (MJ)

W AWANCARA
Budiman Arief, Sekjen Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah

Penanganan Sampah Jelek,


Tingkat Kesehatan Rendah
M

FOTO: MUJIYANTO

engatasi persoalan sampah


bukan hal mudah. Terbukti,
hingga kini masalah persampahan di Indonesia tidak kunjung usai.
Banyak faktor yang mempengaruhi dan
faktor-faktor itu saling terkait satu sama
lain. Oleh karena itu, pengelolaan sampah merupakan sebuah sistem sehingga
penanganannya memerlukan sinergi
semua pemangku kepentingan.
Begitu intisari perbincangan PERCIK
dengan Sekjen Departemen Permukiman
dan Prasarana Wilayah, Budiman Arief,
di kantornya beberapa waktu lalu.
Berikut petikannya:

Bagaimana kondisi pengelolaan


sampah di Indonesia saat ini?
Secara umum, pengelolaan sampah,
terutama sampah kota, masih kurang.
Walaupun dulu pernah cukup baik pada
waktu ada program Adipura pada tahun
1986-1996, karena waktu itu dibantu
dengan reward (penghargaan) bagi kotakota yang bisa menjaga kebersihan.
Setelah itu kondisinya menurun. Dan
baru saja ada lagi program Bangun Praja
sejak 2002. Tapi gaungnya belum seperti
Adipura karena pesertanya terbatas.
Mengapa kondisinya menurun?
Apakah karena tidak ada reward
atau ada faktor lain?
Memang reward tidak ada. Yang
kedua karena ada krisis. Penanganan
sampah tak lagi menjadi prioritas.
Pemerintah lebih banyak memperhatikan
soal kemiskinan dan segala macamnya.
Akhirnya penanganan sampah agak tertinggal. Perhatian pemerintah kota/kabupaten pun menurun. Saya kira ada fak-

13

tor saling mempengaruhi. Tidak ada


reward maka perhatian berkurang.
Padahal pengelolaan sampah itu merupakan layanan masyarakat yang sangat
mendasar. Sampah terkait dengan kesehatan. Kota yang tidak menangani sampah dengan baik, bisa dipastikan tingkat
kesehatannya pun tidak baik sebab sampah merupakan salah satu vektor penyakit.
Bagaimana dengan faktor dana?
Kalau kita lihat pengelolaan sampah
secara umum, dan ini sudah kita sampaikan ke seluruh pemerintah kota/kabupaten, bahwa ada lima aspek dominan
dalam pengelolaan sampah. Antara aspek
satu dan yang lain saling terkait. Kalau
mau berhasil, maka kelima aspek itu
harus diwujudkan. Pertama, aspek institusi. Kedua, aspek pembiayaan. Ketiga,

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

aspek teknis. Keempat, aspek hukum.


Dan kelima, aspek peran serta masyarakat.
Mungkin banyak yang menganggap
bahwa sampah ini hanya soal teknis,
padahal tidak. Semua harus saling mendukung. Sebagai contoh aspek kelembagaan. Kalau di kota bentuk/derajat institusi itu kelewat rendah maka ini kan susah. Seorang kepala seksi/sub seksi akan
sulit bertemu walikota karena tingkatnya
terlalu jauh. Makanya dulu ada kesepakatan, kalau kota besar/metropolitan
maka pengelola sampah harus dinas. Kalau kota sedang bisa subdinas. Jadi jangan kelewat rendah.
Pembiayaan juga jangan terlalu rendah. APBD untuk sampah jangan terlalu
kecil. Susah. Walaupun sebetulnya, kalau
nanti dikelola dengan bagus, sampah bisa
menghasilkan retribusi meskipun tidak

W AWANCARA
100 persen. Paling tidak 70 persen bisa
didapatkan dari retribusi. Jadi subsidi
hanya 30 persen saja. Tapi kalau aspek
pembiayaan tidak dibenahi dan retribusi
tidak ditarik dengan baik, maka akan
membuang uang saja.
Dari aspek hukum, peraturan harus
dibenahi. Perdanya bagaimana, supaya
jelas. Kalau orang membuang sampah
sembarangan didiamkan, wah susah.
Sampah itu kan berasal dari manusia,
maka hukumnya harus ditegakkan.
Dari aspek teknis juga jangan
seenaknya. Ada hitungan-hitungannya.
Sistemnya bagaimana, waktu mengangkutnya bagaimana, waktu di TPA-nya
bagaimana. Terus dari aspek peran serta
masyarakat, itu satu hal yang sangat penting. Kalau masyarakat tidak mendukung
maka biaya menjadi mahal. Oleh karena
itu peran masyarakat harus selalu ditingkatkan. Kelima itu saling terkait.
Jadi tidak ada yang dominan?
Ya. Tapi sebetulnya ada dananya dulu.
Kalau tidak ada ya gimana? Tapi duit saja
bukan jaminan.
Apa yang telah dilakukan pemerintah selama ini dalam menangani
sampah ini?
Tugas Depkimpraswil adalah membuat pedoman-pedoman. Kita sudah banyak
menghasilkan pedoman mengenai pengelolaan sampah yang betul. Tapi tidak
hanya itu. Kita juga memberikan stimulan. Kita berikan kepada pemerintah
daerah yang memang ingin mengatasi
masalah ini. Kalau tidak ingin, kita tidak
memberikannya karena itu buang-buang
uang saja. Jadi kita akan berikan kepada
yang benar-benar ada upaya. Kekurangan
mereka kita bantu. Ini juga sebagai
reward.
Berapa banyak pemda yang
mendapatkan stimulan ini?
Sejak 2001, sudah cukup banyak pemda yang mendapatkannya. Kita juga

14

membantu kota-kota yang baru terbentuk, misalnya untuk modal awal kita
berikan mobil pengangkut sampah. Kalau
selanjutnya bagus, kita tambah lagi.
Apa rencana pemerintah ke depan?
Saya rasa kita akan tetap meneruskan
apa yang sudah dilaksanakan. Pengelolaan TPA akan kita perbaiki lagi. Maunya
pemda, mereka ingin menerapkan sanitary landfill, tapi faktanya hanya open
dumping saja. Ini yang menyebabkan
banyak protes. Mestinya open dumping
ini sudah ditinggalkan. Meskipun kita
belum bisa menuju sanitary landfill penuh. Kita akan memberikan bantuan kepada pemda yang kesulitan dalam penanganan TPA.
Bagaimana penanganan terhadap masyarakat?
Semua pemda harus memberikan pengertian kepada masyarakat mengenai
pengelolaan sampah. Sebagai contoh, ada
warga yang merasa sudah membayar
kepada tukang sampah tapi ada tagihan
lagi dari dinas kebersihan. Kalau seperti
ini masyarakat bisa bingung. Mestinya
diberikan pengertian bahwa pengelolaan
sampah dari sisi teknis itu ada yang
mengumpulkan, ada yang mengangkut,
dan ada yang mengolah di akhir. Kalau
membayar ke RT/RW itu hanya mengumpulkan saja. Itupun sebenarnya
hanya 30 persen dari seluruh proses teknis. Kadang-kadang yang diambil RT/RW
itu terlalu besar sehingga dinas tidak
kebagian. Makanya masyarakat harus
diberi pengertian sejelas-jelasnya sehingga mereka terbuka dan mengetahui dengan jelas bagaimana mengelola sampah
dengan betul.
Pandangan Anda terhadap kesadaran masyarakat dalam hal sampah?
Saya kira masyarakat belum memahami secara utuh betapa pentingnya pe-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

ngelolaan sampah itu. Bagi masyarakat


desa mungkin sampah tak jadi masalah
karena tanahnya luas, tapi tidak dengan
masyarakat kota. Mereka tak bisa lagi
mengelola sampah secara individual, tapi
harus kolektif. Hanya saja persoalannya,
kebanyakan masyarakat kota kan berasal
dari desa. Jadi kelakuannya masih kelakuan desa. Ini kan susah. Dan kalau
sudah masuk kota tidak ada sistem
pelayanan yang tidak bayar.
Bagaimana keterkaitan langkah
pemerintah dalam penanganan
sampah dengan MDGs?
Saya kira salah satu tujuan dari MDGs
adalah perbaikan pelayanan sanitasi.
Sekarang kita sedang menyusun National
Action Plan. Kita harus menerjemahkan
MDGs itu untuk Indonesia. Tujuan
MDGs itu bisa dianggap cukup kuantitatif, tapi juga kualitatif. Bisa saja sampah
itu habis, tapi kalau diangkutnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, secara
kualitatif itu jelek. Karena sampah harus
diangkut paling lambat tiga hari sekali
supaya tidak busuk. Jadi tingkat pelayanan bisa kita anggap kuantitatif dan
kualitatif.
Bisakah target MDGs dalam
masalah sanitasi khususnya sampah tercapai pada 2015?
Kalau kita seperti negara maju dengan
sanitary landfill, saya kira kita belum
bisa. Hanya saja kita bisa menerjemahkan
bagaimana penanganan secara kualitatif.
Yang penting ada peningkatan lebih baik
dari sebelumnya. Makanya National
Action Plan perlu ada kesepakatan dengan departemen-departemen terkait dan
daerah, bagaimana mencapai target
MDGs.
Bagaimana Anda melihat keterkaitan otonomi daerah dan penanganan sampah?
Sebenarnya dari dulu pengelolaan
sampah ini menjadi tugas dari pemerin-

WAWANCARA
tah kota/kabupaten karena ada UU 22,
PP 25, tapi dulu ada PP 18 tahun 1953
yang menyatakan bahwa pengelolaan
sampah itu menjadi tugas pemerintah
kota/kabupaten. Itu mestinya tugas yang
melekat di pemerintah daerah.
Jadi adanya perubahan ke arah
otonomi daerah beberapa tahun lalu tak berpengaruh terhadap tugas
pengelolaan sampah?
Sebetulnya tidak. Hanya saja kita berharap daerah menjadi lebih baik dalam
menangani sampah ini. Yang dulu belum
begitu tegas, sekarang sudah lebih tegas
lagi.

sampah ini?
Seperti saya jelaskan, pemerintah
hanya memberikan stimulan saja. Departemen ini hanya membina infrastruktur
dasar yakni air minum, limbah, sampah,
drainase, dan jalan. Kita tak hanya mengeluarkan pedoman saja tapi juga stimulan. Ini juga supaya ada perhatian daerah.
Maksudnya apakah anggaran
yang ada sudah cukup?
Kurang. Masih terlalu kecil. Dan memang infrastruktur itu masih dianggap
kurang.

jelas penanggungjawabnya. Memang harus ada institusinya, tapi masyarakat tetap ikut dalam sistem yang jelas. Bisa saja
RT/RW atau kelompok masyarakat bisa
saja ditugaskan dalam pengumpulan.
Institusi yang bertanggung jawab secara
keseluruhan bisa bertugas mengambil
dari TPS ke TPA. Jadi institusi yang menangani harus jelas dan tingkatnya cukup
memadai.
Harapan Anda ke depan terhadap kota-kota kita?
Kebersihan dan kerapian harus kita
FOTO: OSWAR MUNGKASA

Bagaimana dengan penanganan


sampah lintas daerah yang banyak
menimbulkan pergesekan seperti
kasus Bantar Gebang dan Bojong?
Memang masalah muncul di kota metropolitan. Kalau kota kecil dan sedang,
mereka bisa menyelesaikan karena masih
cukup lahan yang tersedia. Di kota besar
seperti Jakarta, penanganan menjadi sulit. Makanya sebaiknya sanitary landfill
itu dibangun secara bersama-sama dengan daerah lainnya. Insinerator saya kira terlalu mahal baik dari sisi investasi
maupun operasional. Makanya kita harus
hati-hati dalam menilai aspek teknis. Kalau income per kapita kita 5.000 dolar AS,
bisa kita memikirkan insinerator.
Bagaimana pandangan Anda terhadap perhatian pemerintah daerah terhadap sampah?
Saya kira masih kurang. Mengapa
Adipura itu diadakan? Karena dulu dianggap pengelolaan sampah akan baik jika
ada perhatian yang cukup baik. Saya kira
investasi sampah tak cukup besar dibandingkan dengan membuat jalan dan air
minum. Kalau pemda ada perhatian seharusnya pengelolaan sampah itu bisa berlangsung dengan baik.
Bagaimana alokasi anggaran pemerintah pusat dalam menangani

15

Adakah negara yang mendekati


Indonesia yang bisa dijadikan contoh dalam penanganan sampah?
Saya kira perlu studi banding dengan
negara lain yang kondisinya mirip dengan
Indonesia. Tidak ke negara-negara maju
seperti Jepang, Australia. Itu terlalu jauh.
Yang dekat-dekat kita. Misalnya kita bisa
studi banding ke Kuching (Malaysia). Kita
sudah lakukan.
Dari apa yang Anda uraikan, penanganan sampah ini sepertinya
harus menggunakan pendekatan
institusi?
Menurut saya begini, institusi itu kan

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

wujudkan. Kalau keindahan barangkali


itu suatu yang lux. Kebersihan adalah
pangkal. Kalau mau membenahi yang
lain, kebersihan harus didahulukan. Bupati dan Walikota perlu memberikan perhatian yang lebih soal ini. Kalau perlu ada
reward, saya kira juga tak masalah.
Bagaimana bentuk kerja samanya?
Sampah itu kan dibilang nimby (not
in my back yard), pokoknya jangan di
tempat saya dech. Yang kena dampak
harus memperoleh kompensasi yang
memadai sehingga merasa ada manfaatnya. Dan teknik penanganan masyarakat
pun harus betul. (mujiyanto)

WAWASAN
Sampah Sebagai Sumber Energi :

Tantangan Bagi Dunia


Persampahan Indonesia
Masa Depan

eberapa teknologi pemusnahan


sampah telah dicoba untuk diterapkan di Indonesia. Teknologi
yang paling umum diterapkan adalah
lahan urug saniter, yang dikembangkan
di beberapa kota besar di Indonesia.
Sesungguhnya lahan urug saniter tersebut merupakan suatu reaktor biologis
untuk mendegradasi sampah secara anaerobik. Salah satu produk yang diharapkan dari degradasi anaerobik tersebut
adalah gas metana (CH4) yang memiliki
nilai kalor cukup tinggi. Ini bisa menjadi
sumber energi yang signifikan.
Kompos Belum Dimanfaatkan
Kompos dari sampah kota di Indonesia tidak berhasil dipasarkan dengan
baik kepada masyarakat. Para petani,
pengelola perkebunan dan pertamanan
belum tertarik menggunakannya. Ini bisa
jadi karena kompos relatif tidak memberikan nutrisi tambahan bagi tanah dan tanaman, serta tidak memberikan dampak
yang langsung bagi peningkatan produksi
tanaman. Selain itu, kompos tidak ditujukan untuk berperan seperti layaknya pupuk kimia. Kompos lebih berperan untuk
memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan cadangan air pada tanah, sehingga penyerapan air oleh tanaman akan lebih baik. Di sisi lain, pemerintah kurang
menggalakkan gerakan pemanfaatan
kompos. Produksi kompos dari beberapa
instalasi pengomposan sampah tidak optimum, dan akhirnya berhenti beroperasi
akibat ketiadaan pelanggan tetap dan
berkesinambungan.

16

Sandhi Eko Bramono *)


Sumber Energi
Perlu konsep baru untuk menangani
sampah perkotaan. Sebagai alternatif,
sampah bisa diubah menjadi suatu materi baru yang memiliki nilai jual lebih
dan dibutuhkan oleh masyarakat. Ini
adalah energi. Mengapa? Karena Indonesia mulai mengalami krisis energi.
BBM mulai langka, sumber minyak bumi
yang terbatas, harga minyak mentah dunia semakin mahal. Perlu dicari sumber
energi baru yang terbarukan dan memberikan dampak negatif yang lebih kecil terhadap lingkungan. Di sinilah sumber
energi dari sampah bisa menjadi alternatif sumber energi baru, sekaligus menjadi
sarana pemusnahan sampah secara si-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

multan. Dengan demikian diharapkan


pemanfaatan bahan bakar fosil dapat ditekan, serta mereduksi tingkat eksploitasi
bahan bakar fosil dari perut bumi.
Teknologi Yang Tersedia
Kompos pada dasarnya melakukan
konversi energi. Namun energi yang ada
terlepas dalam bentuk materi yang memiliki nilai kalor yang lebih rendah. Hal
ini disebabkan proses pengomposan secara aerobik akan melepas materi organik
padatan lain yang lebih sederhana, serta
gas CO2 yang tidak siap untuk dimanfaatkan energinya secara langsung. Tersedia
beberapa proses lain yang dapat mengkonversi energi yang tersimpan di dalam
sampah menjadi suatu materi baru. Proses itu antara lain yaitu:
FOTO: FANY WEDAHUDITAMA

WA W A S A N
FOTO: FANY WEDAHUDITAMA

Sementara temperatur kerja pada proses


ini adalah pada rentang 600 - 800 oC,
yang bertujuan untuk mereduksi pembentukan senyawa karsinogenik dioksin
dan furan. Riset pada beberapa buah
insinerator di Amerika Serikat masih
belum menunjukkan hasil yang memuaskan dalam mereduksi pembentukan kedua senyawa ini, meskipun proses dijalankan pada temperatur jauh di atas 600
- 800 oC. Proses ini akan menghasilkan
panas yang cukup tinggi sehingga bisa digunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga uap. Tenaga uap itu dapat
dikonversi menjadi energi listrik.

Proses Anaerobik
Proses ini akan melepas energi yang
tersimpan dalam gas CH4 ( metana ) yang
memiliki nilai kalor tinggi yang akan terbentuk. Lahan urug saniter, sesungguhnya merupakan reaktor anaerobik dalam
kapasitas yang besar. Beberapa teknik
telah dilakukan untuk meningkatkan produksi gas metana yang terbentuk.
Resirkulasi air lindi merupakan salah satu teknik yang diterapkan untuk meningkatkan produksi gas metana, selain
untuk mempercepat degradasi sampah
itu sendiri. Akan tetapi, reaktor anaerobik
yang direncanakan secara khusus dengan
kapasitas yang lebih kecil, dapat lebih
mudah untuk dimonitor dan dikontrol
dalam kinetika pembentukan gas metana
dengan lebih baik ketimbang pada lahan
urug saniter. Residu yang terbentuk dapat
dimanfaatkan untuk kompos, yang sebelumnya telah diambil sebagian energinya menjadi gas metana, ketimbang
proses aerobik pada pengomposan yang
hanya akan menghasilkan kompos saja.
Jika tahapan proses anaerobik ini dihentikan hanya pada tahapan fermentasi
saja, yaitu tahapan sebelum pemben-

17

tukan gas metana, maka dapat dihasilkan


alkohol yang memiliki nilai kalor tinggi.
Penggunaan alkohol ataupun derivatnya
sebagai sumber bahan bakar alternatif
dari sampah dapat dipertimbangkan juga.
Proses Gasifikasi dan Pirolisis
Kedua proses ini membutuhkan energi tambahan untuk menaikkan temperatur hingga 600 oC yang dilakukan dengan oksigen substoikiometrik atau tanpa
kehadiran oksigen sama sekali. Proses
pirolisis akan menghasilkan padatan
(char) dan cairan (tar) yang memiliki nilai
kalor tinggi. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai biodiesel (salah satu
bahan bakar pengganti atau aditif solar)
yang sedang marak digunakan dewasa ini.
Sedangkan gasifikasi, akan menghasilkan gas yang memiliki nilai kalor tinggi.
Pemanfaatannya sebagai sumber energi
alternatif dapat dipertimbangkan pula.
Proses Insinerasi
Proses ini lebih mahal ketimbang dua
proses di atas. Sampah dengan kadar air
terendah sekalipun hanya dapat menghasilkan temperatur alami sekitar 200 oC.

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Rentang Energi Yang Dihasilkan


Sebagai suatu proses yang menghasilkan energi, jumlah input energi dan
output energi harus dihitung dalam suatu
neraca massa dan energi. Energi yang dimasukkan ke dalam suatu proses diharapkan seminimum mungkin, mengingat
output dari proses yang diharapkan adalah energi pula, sehingga total energi yang
dihasilkan dari proses dapat dihitung. Jika terlalu banyak energi yang harus ditambahkan ke dalam proses, maka proses
tidak efisien.
Selain itu, masih perlu dikaji rentang
energi yang dapat dimanfaatkan, karena
setiap output dari suatu proses memiliki
rentang pemakaian. Dalam hal ini, efisiensi pemanfaatan energi dengan jumlah
energi tertentu yang dihasilkan dari suatu
volume sampah harus dipertimbangkan.
Harus disadari bahwa setiap proses memiliki jangkauan pemanfaatan dalam setiap produk yang dihasilkan. Dengan demikian pemanfaatannya bisa dilakukan
secara tepat dan efisien.
*) Penulis adalah mahasiswa
pascasarjana pada UNSW, Australia.

W AWASAN

Pre-Studi Masalah Sampah


Kasus Studi: Kota Surabaya

erkembangan penduduk selain


membutuhkan ruang/lahan, penyediaan prasarana dan sarana
kota yang memadai, juga menghasilkan
sampah (Tchobanoglous, 1977: 4). Sesuai
aturannya, sampah harus ditangani dengan cara ditampung pada tempat pembuangan sementara (TPS), kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir
(TPA) dan disortir antara sampah kering
dan sampah basah. Barulah sampah diolah dengan berbagai macam teknologi,
antara lain sanitary landfill, composting,
pembakaran dengan incenerator, teknologi ATAD (autogenous Thermophilic
Aerobic Digestion) dan sebagainya.
Namun di lapangan proses tersebut
tidak berjalan sesuai dengan perencanaan fasilitas kesehatan lingkungan yang
telah dilakukan oleh pemerintah kota
(Chiara, 1982: 6). Akibatnya, sampah menimbulkan persoalan yang sangat kompleks, tidak hanya di daerah tapi di
tingkat nasional.
Sampah dan Kota Surabaya
Pengumpulan, pembuangan dan
pengolahan sampah dalam wilayah
perkotaan menjadi tanggung jawab pemerintah kota (UU No. 22 Pasal 11, ayat
2; Cointreau, 1982: 4), khususnya dinas
kebersihan. Tapi Pemerintah Kota Surabaya tak lagi mampu menangani sampah. Banyak kendala yang dihadapi seperti pengadaan lahan untuk TPA, pembiayaan pengelolaan sampah yang sangat
besar dan kegiatan rutin pembangunan
yang sudah cukup banyak. Untuk memecahkan persoalan tersebut pemkot
Surabaya menggandeng pihak swasta.
Hanya saja kerja sama ini terbatas pada
jual beli, sahingga pemkot sebenarnya
belum memiliki pengalaman kerja sama
dalam pengelolaan sampah secara menyeluruh.

18

open dumping dan sanitary landfill.


Ada beberapa macam teknologi pengolahan akhir sampah (Moenir, 1983: 33)
yaitu:

Fany Wedahuditama *)

Komposisi dan Teknologi Pengolahan Sampah


Pada dasarnya, suatu teknologi pengolahan sampah yang akan diterapkan harus dapat mengatasi masalah yang timbul
atau minimal dapat mengurangi bobot
dari masalah yang telah timbul (Ryding,
1994: 71). Dalam menentukan teknologi
pengolahan sampah yang akan diterapkan, maka hal tersebut sangat bergantung kepada jenis sampah yang dihasilkan (Cointreau, 1982: iv).

Klasifikasi
Musim Hujan
13.54
Paper
1.85
Textil
52.93
Organic
19.15
Wood/grass
7.7
Plastic
0.45
Leather/rubber
0.82
Metal (Ferrous)
0.08
Metal (Non Ferrous)
1.12
Glass
1.61
Stone ceramic
0.62
Bones
0.13
Others
TOTAL
100

Musim Kemarau
4.37
2.03
55.59
15.72
7.51
0.03
0.74
0.16
0.68
4.46
0.74
0.07

Masing-masing teknologi di atas


mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Oleh karena itu perlu pengkajian mengenai tiap-tiap teknologi tersebut agar tidak
terjadi kesalahan yang dapat mengakibatkan kegagalan penanganan sampah.
Pemindahan dan pengangkutan sampah juga berperan dalam menentukan
keberhasilan teknologi pengolahan sampah yang dipilih. Jadwal pengangkutan
sangat bergantung pada kapasitas pengolahan sampah di TPA, karena jika overload maka akan menyebabkan pengolahan terganggu.

100

Sumber: JICA Study, 1992

Keterkaitan antara jenis sampah yang


dihasilkan dan teknologi yang diterapkan, menyebabkan perbedaan penerapan
teknologi pengolahan sampah di negara
industri dan negara berkembang. Di
negara berkembang kepadatan sampah
diperkirakan 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan kepadatan sampah di negara industri. Komposisi sampah juga sebagian
besar organik dengan porsi terbesar
berasal dari tanaman, dan diperkirakan
tiga kali lebih tinggi. Oleh karena jenis
sampah seperti yang disebutkan di atas,
maka di negara berkembang salah satu
sistem pengolahan yang umum adalah

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

1. Metode open dumping


2. Metode sanitary landfill
3. Metode pengepakan sampah (baling
method)
4. Metode pembakaran (incineration/thermal converter)
5. Metode kompos
6. Metode ATAD (Autogenous Thermophilic Aerobic Digestion)

Simpul Persoalan
Berdasarkan uraian mengenai lingkup makro masalah sampah Kota Surabaya, maka rumusan persoalan sampah
Kota Surabaya adalah sebagai berikut:
1. Keterbatasan Pemerintah Kota Surabaya dalam penanganan sampah, baik
dalam hal teknis, biaya, sumber daya manusia, pengetahuan dan yang paling utama, yaitu perencanaan penanganan sampah yang komprehensif dan terpadu;
2. Sistem pengelolaan sampah yang tidak berjalan dengan baik, mulai dari sistem
pengangkutan, penyebaran dan penggunaan TPS, fasilitas TPA, Fasilitas penunjang
TPA, sistem pengolahan sampah dan sistem
treatment limbah cair sampah;

WAWASAN
3. Teknologi pengolahan sampah yang
sangat mahal;
4. Kelangkaan lahan untuk fasilitas
TPA, karena jika benar-benar harus dipindahkan maka perlu lahan yang luas.
Selain itu produksi sampah tidak akan tetap pada angka + 8.000 m3 per hari, karena tingginya laju peningkatan penduduk;
5. Terbatasnya atau kurangnya pengalaman dan pengetahuan pemerintah
kota mengenai kerja sama dengan pihak
swasta maupun dengan pemerintah kota
lain dalam penanganan sampah.
Rekomendasi Studi
Mengacu pada uraian dalam studi ini,
maka rekomedasi yang diberikan dimaksudkan sebagai arahan bagi Pemerintah
Kota Surabaya dalam rangka menangani
masalah sampah.
1. Kerjasama antara Pemerintah Kota Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.
Cepat atau lambat, jika setiap pemerintah
kota dituntut untuk semakin sigap dalam
melayani publik, maka harus terjadi kerja
sama antara pemerintah kota. Suatu kota

tidak dapat berdiri sendiri, tetapi suatu


kota hidup karena adanya kota-kota lain
di sekelilingnya. Kerja sama itu tak
sebatas masalah sampah tapi masalah
lainnya.
2. Kerjasama dengan pihak swasta
dalam proses pengangkutan, pengolahan sampah. Kata-kata bahwa pemerintah
kota sudah bukan berperan sebagai fasilitator tetapi sebagai enabler seharusnya
menjadi dasar dari kerja sama dengan
pihak swasta. Pada dasarnya adanya persaingan di antara pihak swasta untuk
menjadi rekanan pemerintah kota dalam
penyelenggaraan layanan publik dapat
menekan harga layanan.
3. Penggunaan lahan milik pemerintah propinsi
Keterbatasan lahan yang dimiliki oleh
pemerintah kota selalu menjadi kendala,
terutama dalam hal untuk dijadikan sebagai TPA. Hal tersebut dikarenakan masih dibutuhkannya lahan tersebut untuk
fungsi yang lebih memberikan nilai tambah pada perekonomian kota. Keterbatasan ini tak boleh jadi penghalang.
FOTO: FANY WEDAHUDITAMA

Pemerintah kota berhak meminta


bantuan kepada pemerintah propinsi baik
dalam hal dana, lahan atau bantuan lainnya demi penyelenggaraan layanan publik
yang sebaik-baiknya.
4. Teknologi pengolahan sampah
yang tepat bagi kota Surabaya dalam
jangka waktu 10 tahun ke depan.
Dengan menumpuknya sampah yang
terdapat pada TPA di kota Surabaya,
maka perlu ada pemusnahan sampah secara cepat. Paling tidak, dalam kurun
waktu setahun, volume sampah yang masuk ke TPS dan TPA harus dapat dikurangi sampai 30 persen dari total volume
sampah kurang lebih 8.000 m3 per hari.
Teknologi pengolahan sampah yang
dapat mengurangi volume sampah dengan cepat adalah teknologi incenerator/thermal converter. Selain itu, teknologi ini dapat juga menghasilkan produk
sampingan berupa tenaga listrik.
Berkaitan dengan biaya teknologi pengolahan sampah, seperti yang kita ketahui,
hampir semua teknologi pengolahan sampah memerlukan biaya investasi yang tinggi.
Hal ini karena tidak pernah dipertimbangkannya faktor kandungan/potensi lokal. Menurut pengamatan selama ini, teknologi pembakaran ini mempunyai prinsip
yang hampir sama dengan teknologi pembangkit listrik dengan bahan bakar batu
bara. Untuk membangun sebuah mesin
pembakaran dengan bahan bakar sampah
menurut pakar-pakar dari ITB bukanlah hal
yang tidak mungkin. Hampir seluruh komponen untuk membuat mesin tersebut tersedia di Indonesia. Hanya beberapa komponen
saja yang perlu diimpor dari negara lain.
Pembuatan mesin dengan kandungan lokal
yang besar tentu saja akan menekan biaya
investasi alat/teknologi pengolahan, dan hal
tersebut merupakan kesempatan bagi Pemerintah Kota untuk menuntaskan masalah
sampah.
*)

Penulis adalah alumni Magister


Teknik Lingkungan ITB

19

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

WAWASAN

Pengelolaan Sampah
di Makassar

ampah selalu menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Dalam setiap


kegiatan, sampah selalu menjadi
salah satu hasilnya, sebaik atau serapi
apapun kegiatan itu. Sayang banyak
orang yang belum peduli terhadap hal ini.
Di sebagian besar rumah tangga utamanya perkotaanpenanganan sampah
dibebankan kepada pembantu rumah
tangga. Walhasil, persoalan sampah sudah dianggap selesai manakala sampah
itu dibersihkan dan dimasukkan ke tong
sampah. Ini jelas pandangan yang perlu
diluruskan.
Kini sampah menjadi masalah yang
besar bagi kota-kota besar di Indonesia
seperti Jakarta, Surabaya, termasuk Makassar. Di beberapa kota, masalah sampah kota melibatkan kota lain, tetangga
mereka, akibat kekurangan lahan untuk
dijadikan Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) sampah.
Tulisan ini mencoba mengupas permasalahan sampah di Kota Makassar, salah satu kota metropolitan di Indonesia.
Kota Makassar berpenduduk 1,5 juta
orang. Luas 175,77 km persegi. Kota ini
terus berkembang seiring pembangunan
daerah Makassar sebagai pusat pembangunan di wilayah Indonesia Timur.
Pengelolaan Sampah oleh Dinas
Kebersihan dan Keindahan
Penanganan sampah di Kotamadya
Makassar mencakup tiga tahap kegiatan
yaitu pengumpulan, pengangkutan dari
sumber sampah atau TPS/kontainer di
lokasi pembuangan sementara, dan
pembuangan/penimbunan sampah di
lokasi pembuangan akhir.

Nirman Niswan, ST. *)

menggunakan gerobak atau alat


pengangkut lain seperti alat angkut
jauh (kendaraan pengangkut sampah) yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Keindahan atau pihak
swasta.
z Comunal System yaitu pengangkutan
sampah dari lokasi penampungan
(TPS) yang diangkut oleh armada
pengangkutan sampah Dinas Kebersihan dan Keindahan.
Sistem pengoperasian pengangkutan
sampah terbagi dalam dua waktu kegiatan: pelayanan operasi pagi hingga siang
dan pelayanan operasi sore hingga malam. Wilayah pelayanan dibagi dalam tiga
kategori yaitu: wilayah inti, wilayah penunjang inti, dan wilayah pengembangan.
Selain sampah yang dihasilkan oleh
perumahan dan daerah komersial, Dinas
Kebersihan dan Keindahan juga mengangkut hasil pembersihan jalan dan selokan sesuai dengan pembagian wilayah
kerja rutin.
Sumber dana Dinas Kebersihan dan
Keindahan berasal dari APBD Tk. I,
APBD Tk. II dan restribusi yang berasal
dari restribusi kebersihan dan restribusi

Tahap pengumpulan terdiri atas


dua cara yaitu:
z Individual System (door to door) baik

20

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

septik tank.
Sumber daya operasional Dinas Kebersihan dan Keindahan Kotamadya Dati
II Makassar 135 orang pengemudi dan
225 orang pengangkut sampah. Kotamadya Makassar hingga saat ini telah menggunakan tujuh TPA yaitu : TPA Karuwisi,
TPA Sappabulo, TPA Andi Tonro, TPA
Panampu, TPA Kantisang, TPA Tanjung
Bunga, dan TPA Tamangapa. Semua TPA
telah ditutup kecuali TPA Tamangapa.
Perubahan TPA dilakukan akibat pertumbuhan produksi sampah kota yang
semakin tahun semakin bertambah. TPA
yang telah ditutup masih menggunakan
sistem open dumping.
TPA Tamangapa menggunakan Metode Semi Sanitary Landfill. Metode ini dilakukan untuk mengadaptasi metode Sanitary Landfill dengan metode Open
Dumping. Hal ini dilakukan untuk penerapan pada daerah yang tidak mempunyai dana yang cukup untuk menerapkan
metode Sanitary Landfill.
Di TPA Tamangapa, sampah dipisah
oleh para pemulung untuk dijual pada
para tengkulak kemudian disalurkan ke
pabrik-pabrik yang memerlukan. Penghasilan mereka cukup baik untuk memenuhi kebutuhan. Selain pemulung, di
TPA Tamangapa terdapat sapi yang dapat
mengurangi jumlah sampah basah yang
akan ditimbun.

Kondisi Pengelolaan Sampah Di Kotamadya Makassar


Luas Layanan
Jumlah penduduk daerah layanan

175,77 km
1.300.000 jiwa

Perkiraan Timbunan

3.535,20 m3

- Domestik

1.576,60 m3

- Komersial

1772,7 m3

Volume yang tertangani

2996,67 m3

Tingkat pelayanan
Sumber :Dinas
Dinas Kebersihan
Ujung
Pandang
1998 1998
Sumber:
KebersihanKotamadya
Kotamadya
Ujung
Pandang

84,8 %

WAWASAN
FOTO: ISTIMEWA

Permasalahan
Metode Semi Sanitary Landfill membutuhkan tanah penutup dalam jumlah
yang cukup besar. Hal ini jelas menambah biaya operasional pengelolaan sampah, apalagi kalau tanah yang dibutuhkan
jauh dari lokasi TPA. Untuk TPA
Tamangapa, tanah penutup dapat diperoleh pada daerah sekitar TPA.
Selain itu, metode ini juga perlu pengawasan yang ketat dalam pemasangan pipa
untuk mengalirkan biogas yang dihasilkan
timbunan sampah. Biogas ini baru berhenti setelah penimbunan berkisar 50 tahunan
bahkan lebih. Jika biogas ini tidak disalurkan dapat mengakibatkan ledakan yang
akan menghamburkan timbunan sampah.
Perpipaan biogas TPA Tamangapa dilakukan setelah timbunan terbentuk selama setahun lebih. Hal ini patut disayangkan karena pada perencanaan awal pipa biogas
telah dirancang.
Air hujan yang jatuh pada daerah timbunan sampah juga menimbulkan
masalah jika tidak tertangani dengan
baik. Di TPA Tamangapa proses pengolahan menggunakan proses fotosintesis
karena merupakan sistem yang relatif
mudah dan murah. Lindi (Leachate) yang
dihasilkan oleh timbunan sampah dapat
merusak air tanah jika dasar timbunan
tidak kedap air. Bahkan dapat merusak
air permukaan seperti sungai.
Untuk lingkungan sekitarnya perlu pula
diperhatikan faktor bau dan angin berhembus sehingga tidak mempengaruhi pemukiman sekitarnya. Berdasarkan standar
pemilihan daerah TPA, sebenarnya tidak
dibenarkan adanya pemukiman di sekitar
TPA tetapi penduduk biasanya malah
membangun semakin dekat dengan TPA
terutama para pemulung.
Sampah Mereka Sampah Kita
Masalah-masalah yang timbul sebenarnya dapat direduksi dengan menerapkan sistem pengelolaan yang terpadu
antara masyarakat dan pemerintah kota.
Selama ini masalah sampah hanya menja-

21

di bagian pelengkap dalam struktur


masyarakat dan pemerintahan. Seharusnya masalah sampah ini diberi perhatian
yang cukup dari kedua belah pihak. Sebab
luas lahan kota dan anggaran yang terbatas memerlukan alternatif pengolahan.
Seperti diketahui, pengelolaan sampah sebenarnya terdiri atas pengumpulan
sampah, pengangkutan sampah, dan
pengolahan sampah yaitu penimbunan
sampah sebagai salah satu cara. Pengumpulan bisa ditangani oleh masyarakat. Cara terbaik dalam pengumpulan ini adalah
dengan pemilahan sampah sehingga
dalam tahap selanjutnya pengolahan
lebih mudah dan efisien. Namun ini
memerlukan pemahaman yang tinggi dari
masyarakat dan pelaksana di lapangan.
Pada tahap ini pula kita dapat menerapkan metode Zero Waste yaitu mengurangi sampah hingga tidak ada lagi yang
dapat diolah dengan penimbunan.
Penerapan aturan tentang sampah yang
masih sedikit membuat masyarakat tidak
menganggap penting masalah ini. Seperti
contoh di Jakarta, dengan penuhnya TPA
Bantar Gebang membuat pemerintah kota
sulit menyalurkan sampahnya. Walaupun
akhirnya masalah selesai tetapi sampai kapan lagi TPA selanjutnya akan penuh? Pemerintah pasti akan mencari lahan baru lagi.
Sedangkan lahan bekas TPA hanya dapat digunakan kembali sebagai lahan produktif se-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

telah puluhan tahun. Sampah bisa juga dibuang di lahan bekas galian tambang, tapi tiap
kota tidak selalu mempunyai penambangan.
Jadi betapa beruntunnya masalah jika tidak
dipikirkan secara serius.
Pola pikir masyarakat harus diubah
dengan memandang sampah masyarakat
lain merupakan sampah mereka juga.
Maksudnya sampah menjadi tanggung
jawab bersama. Karena jika sampah itu
semakin hari semakin tinggi produksinya
bisa dibayangkan kota besar seperti
Jakarta dan Makassar khususnya akan
menjadi timbunan sampah.
Untuk saat ini, tentu kita hanya dapat
mengharapkan pengelolaan sampah yang
menjadi tanggung jawab pemerintah untuk
dikelola dengan baik. Karena seperti pencemaran lainnya dampak yang ditimbulkan
akan terlihat atau dirasakan setelah bertahun-tahun. Sementara sumber pencemaran sudah tidak dapat dideteksi lagi.
Sebenarnya aturan mengenai lingkungan di negara ini sudah cukup. Yang
kurang adalah penerapan dan hukuman
terhadap pelanggaran. Oleh karena itu
tanggung jawab kita semua untuk memperbaikinya.
*)

Penulis adalah Alumni Teknik Lingkungan ITB.


Tulisan disarikan dari Tesis Penulis
Rencana Pengembangan Kapasitas
Layanan TPA Tamangapa, Makassar

WA W A S A N
Pengelolaan Program Air Minum
dan Penyehatan Lingkungan
dan Tantangan ke Depan

achel Carson telah mengisyaratkan, manusia perlu disadarkan


bahwa lingkungan akan rusak
parah karena ulahnya, sekalipun tindakan itu dianggap produktif bagi manusia;
(Majalah Silent Spring, 1963). Kondisi
lingkungan hidup sangat mempengaruhi
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup, baik manusia, hewan ataupun
tumbuh-tumbuhan tidak akan mampu
bertahan hidup tanpa lingkungan hidup
yang baik, lebih-lebih tanpa air.
Air memegang peranan penting
dalam kehidupan. Saat ini sumber air
yang ada dan dapat diambil langsung
manfaatnya yakni air hujan, mata air, air
tanah, waduk embung situ-situ dan sungai. Namun kondisinya kini tak seimbang lagi antara kebutuhan dan ketersediannya. Gangguan keseimbangan itu
terjadi akibat a) pertumbuhan penduduk
yang sangat pesat, khususnya di daerah
perkotaan; b) merebaknya berbagai
industri yang mengubah peruntukan
lahan dan sekaligus memanfaatkan air
yang cukup besar; c) meningkatnya penebangan hutan liar, kebakaran hutan dan
penambangan bahan galian di hutan
yang tidak dibarengi dengan upaya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan;
serta d) terjadinya pencemaran air akibat
limbah industri, intrusi air laut dan limbah penambangan tanpa izin (PETI).
Program AMPL di Era Otonomi
Daerah
Program Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan (AMPL) bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat berpenghasilan rendah di perdesaan dan pinggiran perkotaan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Caranya

22

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus

S. Budi Susilo *)

melalui penyediaan air yang lebih mudah


terjangkau, murah, dan berkualitas serta
penyediaan sarana sanitasi (dasar) yang
lebih sesuai dengan kondisi setempat
serta dibarengi dengan upaya perbaikan
perilaku hidup bersih dan sehat.
Pengalaman di lapangan selama dua
tahun terakhir menunjukkan bahwa program AMPL yang didanai dari Bank Dunia dan AusAID tersebut cukup berhasil.
Ini karena metode yang diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi
daerah, yaitu pembangunan sarana dan
prasarana air bersih dimulai dari bawah
berdasarkan prakarsa sendiri, menampung dan memperhatikan aspirasi masyarakat serta dengan memperhatikan
keragaman daerah. Tidak ada pemaksaan, keseragaman, instruksi dan mobilisasi masyarakat. Semua dikelola melalui
upaya pemberdayaan masyarakat.
Sesuai peran dan fungsinya, pemerintah pusat dan propinsi akan bertindak
sebagai fasilitator, sedang pemerintah
kabupaten/kota diharapkan mampu
mengkoordinasikan dan memadukan
pembangunan di daerah serta memberdayakan masyarakatnya. Untuk itu halhal yang perlu diperhatikan oleh berbagai
pihak, dari tingkat pusat hingga daerah
dalam menyukseskan program/proyek
tersebut antara lain:
1. Ada kebijakan, baik nasional, regional
maupun lokal. Artinya pemerintah
pusat dan daerah perlu menyiapkan
peraturan perundangan, pedoman,
standar dan lainnya yang memberikan
arahan agar program/proyek AMPL
dapat terlaksana dengan baik, benar,

transparan, dan berkelanjutan.


2. Masyarakat. Artinya masyarakat perlu
memiliki kesiapan, kemauan, dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam
program/proyek ini.
3. Sumber daya alam. Potensi sumberdaya alam, khususnya air dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat sehingga harus dikelola
dengan baik dan benar.
Tantangan ke Depan
Keberhasilan program AMPL yang dikoordinasikan oleh Kelompok Kerja
AMPL cukup menggembirakan. Tak heran bila banyak daerah berminat ikut serta dalam proyek-proyek ini. Namun ada
kendala teknis yang menghalangi.
Menyadari kondisi tersebut, tugas
yang harus diemban instansi terkait yang
tergabung di dalam Pokja AMPL adalah
a) Mampu menyusun kebijakan umum
yang dapat dijadikan landasan pemangku
kepentingan (stakeholder) untuk berpartisipasi dalam penyediaan air minum dan
penyehatan lingkungan yang berbasis
masyarakat; b) Mampu meyakinkan jajaran pemerintah daerah dan stakeholder
lainnya bahwa program ini merupakan
salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat; c) Mampu meyakinkan
negara donor, NGO dan pihak ke-3 lainnya untuk berpartisipasi; dan d) Mampu
memfasilitasi pengembangan jaringan
kerja di tingkat pelaksanaan (kab/kota)
dengan mendorong pelibatan instansi
terkait serta LSM yang memiliki komitmen terhadap AMPL.
*)

Staf Ditjen Bangda, Depdagri


dan anggota Pokja AMPL

WA W A S A N
Masalah AMPL
di Kabupaten Kebumen
SARANA AMPL DI KEBUMEN

Alma Arief 1) dan Budiono 2)


Jenis Teknologi

abupaten Kebumen mempunyai


kekhasan di bidang pembangunan air minum dan penyehatan
lingkungan (AMPL). Program rinci bidang AMPL tercantum di dalam Renstra
2000 s/d 2005 (menyatu dalam PERDA
No 18 thn 2002). Pemda setempat pun
sangat tanggap terhadap gagasan Kelompok Kerja WASPOLA untuk mendiseminasi dan mengoperasionalisasikan
Kebijakan Nasional AMPL. Bahkan pemda bersedia memberikan kontribusi finansial bagi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pemda mengalokasikan dana untuk
pembangunan AMPL bukan hanya dari
DAK tetapi juga anggaran reguler tahunan, dan itu sudah terlaksana. Tahun anggaran 2005 mendatang, tak kurang lima
desa mendapat alokasi dana AMPL masing-masing sebesar Rp 100 juta. Usulan
ini merupakan aspirasi masyarakat yang
digali melalui mekanisme Jaring Asmara (jaring aspirasi masyarakat), yakni
mekanisme jemput bola dengan membentuk task force yang khusus untuk keperluan tersebut. Selain program yang disusun melalui jaring asmara, program
AMPL juga berasal dari usulan dinas
(sektor). Dinas Pekerjaan Umum, pada
tahun anggaran 2005 mengalokasikan
dana untuk pembangunan AMPL sebesar
Rp 120 juta untuk tujuh desa.
Selama ini, berbagai sarana yang
dibangun cukup terpelihara. Sarana
AMPL yang dibangun pada pertengahan
1980 dan 1990-an, masih berfungsi meskipun mulai ada tanda-tanda kerusakan.
Dari tabel di atas dapat ditarik pengertian bahwa sarana AMPL di Kabupaten Kebumen cukup terpelihara (baca
berkelanjutan). Namun, di balik data

23

Perpipaan gravitasi
Perpipaan
PSA
Sumur gali
Sumur bor
PAH
SGL & PAH
Campuran

Jumlah Desa
9
19
11
4
3
1
1
6

data tersebut sesungguhnya tersembunyi


masalah yang rumit. Kebumen yang memiliki sumber air berlimpahmeskipun
untuk memanfaatkannya memerlukan
teknologi khusus pada musim kemarau
mengalami kesulitan air secara serius.
Pada musim kemarau pemda selalu
mengerahkan armada tanki air bersih,
membeli air bersih di PDAM dan membagikan secara gratis ke desa-desa yang
mengalami kesulitan air. Paling tidak 80
desa selalu mengalami kekeringan dan
memerlukan droping air bersih.
Masalah Lingkungan
Masalah kelangkaan air di musim kemarau terjadi karena penebangan hutan di
wilayah resapan air milik Perhutani.
Konon penebangan hutan heterogen dan
diganti dengan tanaman pinus (homogen)
menjadi sebab berkurangnya debit air dan
longsor. Contohnya bak penampung air di
desa Adiwarno ambrol terbawa longsor,
menurunnya debit air Waduk Semporsumber air di Kabupaten Kebumen.
Meskipun aparat pemerintah tidak menunjuk secara pasti bahwa kekeringan itu
terjadi karena alih fungsi hutan, peristiwa
kelangkaan air itu memang terjadi setelah
adanya berbagai perubahan tersebut.
Kelembagaan
Masyarakat ikut serta dalam pembangunan sarana AMPL, khususnya dalam

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Kondisi baik
6
8
10
1
3
6

Kelembagaan berfungsi
6
6
10
3
5

teknologi perpipaan. Di desa Banyumudal, sebagai contoh, masyarakat juga dipungut kontribusi hingga Rp 100 ribu/orang. Peraturan juga dibuat rinci menyangkut beberapa aspek seperti: cara
permintaan sambungan RT, ketentuan
besarnya biaya, denda keterlambatan
membayar, besarnya iuran, organisasi
pengelola dan pemakai air.
Awalnya masyarakat di sekitar mata
air di Desa Banyumudal tak menghadapi
masalah sebelum ada pembangunan
jaringan perpipaan untuk tiga dusun di
bagian hilir. Setelah ada pembangunan
itu, justru warga tak memperoleh air
pada musim kemarau. Akhirnya mereka
merusak broncaptering untuk mendapatkan air kembali. Akibatnya, suplai air ke
tiga dusun tersebut menjadi tidak merata. Berawal dari peristiwa ini, sistem
iuran yang tadinya dibakukan menjadi
berhenti. Pengelola pun tak mau menanganinya lagi.
Teknologi
Teknologi untuk menanggulangi masalah AMPL, pada umumnya yakni sistem perpipaan, baik perpipaan gravitasi
maupun sistem pompa (genset). Beberapa desa menggunakan teknologi sumur
gali (SGL), sumur bor, dan penampungan
air hujan (PAH). Teknologi sumur gali
dan PAH kelembagaannya tidak terbentuk dan berfungsi. Teknologi PAH sa-

WAWASAN
FOTO: ALMA ARIEF

at ini tidak dipakai karena ukurannya


yang kecil sehingga air yang tertampung
cepat habis. Sarana air minum dengan
teknologi sumur bor juga terdapat di
beberapa desa, satu di antaranya dibangun di tempat pelelangan ikan (TPI).
Mengenai pilihan teknologi, masyarakat terlibat sejak perencanaan kegiatan.
Masyarakat juga memberikan kontribusi
dalam bentuk uang tunai, tenaga, dan
material. Sebagai contoh, masyarakat
Desa Pakuran mengumpulkan dana secara swadaya untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan bak penampung,
pembelian genset, dan pipa. Saat itu
pemerintah membantu dana sebesar Rp
34 juta sedangkan kebutuhannya mencapai Rp 50 juta. Karena teknologi ini terbilang baru bagi warga Pakuran, maka
warga pun dilatih bagaimana mengoperasikan dan memelihara genset dan
mengelola perpipaan. Biaya operasi genset ditanggung bersama oleh warga.
Di Desa Tugu, Kecamatan Buayan,
masyarakat menyewa mobil untuk mengangkut air dari sumber air di lembah ke
desa mereka yang letaknya di dataran
tinggi. Langkah itu diambil warga mengingat pasokan air dari pemerintah hanya
seminggu sekali.
Pada musim kemarau, wilayah Kabupaten Kebumen pada umumnya menghadapi masalah air karena sumber airnya
menyusut tajam atau kering. Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah
memberikan pasokan air gratis kepada
masyarakat di 80 desa. Pemerintah membeli air tersebut dari PDAM.
Sosial Budaya
Masyarakat di Kebumen sangat kooperatif dan memiliki kemandirian yang
tinggi. Mereka mudah diorganisasikan untuk memecahkan masalahnya dan tidak
keberatan untuk berkontribusi baik uang,
material maupun tenaga. Oleh karena itu,
pada dasarnya masyarakat Kebumen sangat
kondusif untuk melaksanakan pembangunan AMPL secara mandiri, dan tampaknya ini
telah terkemas di propinsi Jawa Tengah
secara umum. Bukan hanya di Kebumen,

24

hal yang sama juga ditemukan di Banyumas, dan di Semarang. Pembangunan sarana AMPL, sesungguhnya tidak perlu sampai ke rumah tangga dengan sistem kran
rumah tangga. Banyak anggota masyarakat
yang secara sendiri-sendiri membeli selang
yang sangat panjang sampai ratusan meter.
Di Desa Klesem, bahkan ada yang memasang selang sampai ke sumber air dengan
panjang selang mencapai 2.500 meter
dengan perkiraan biaya Rp 1,5 juta.
Apabila masyarakat sudah menilai air
sebagai benda berharga, yang diindikasikan dengan kesediaan mereka mengeluarkan biaya sampai begitu besar, maka
mereka akan mudah untuk secara bersama-sama diorganisasikan untuk memecahkan masalah. Ini pada akhirnya
akan menyangkut masalah pengorganisasian dan/atau pengembangan kelembagaan, termasuk pendekatan yang mengena di hati masyarakat.
Aspek Finansial
Dari diskusi dengan staf camat di
kantor BAPPEDA, bisa diperoleh pengertian bahwa kesediaan untuk membayar
iuran bulanan bukan ditentukan oleh
kaya atau miskinnya seseorang. Di
Kecamatan Ayah, bahkan ada desa yang
penduduknya relatif miskin dibandingkan desa lain, namun mereka mau membayar iuran dengan teratur.
Dari tabel di atas (mekipun belum dila-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

kukan kajian secara teliti) juga tampak bahwa kelembagaan pengelola air berpengaruh
terhadap fungsi sarana. Keberfungsian kelembagaan akan berkorelasi positif terhadap pengumpulan iuran bulanan.
Penutup
Kebumen memiliki sumber air berlimpah, namun masih banyak penduduknya yang belum bisa memperoleh layanan air bersih (minum). Ini terjadi akibat faktor kesulitan alamiah dan kecenderungan perubahan lingkungan yang terjadi pada akhir-akhir ini.
Secara sosial budaya, masyarakat Kebumen sangat kooperatif dan mau memberikan kontribusi baik tenaga, uang,
material, bagi pembangunan sarana
AMPL. Hal itu tentunya sangat menunjang bagi pengembangan kelembagaan
maupun pengorganisasian sumberdaya
yang ada untuk memecahkan masalah
secara bersama-sama.
Di Kebumen, banyak sumber air
yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun karena kondisi alamnya di beberapa tempat memang cukup
sulit penanganannya, maka diperlukan
jenis pilihan teknologi tertentu. Masalahnya adalah jenis teknologi yang seperti
apakah yang tepat untuk diterapkan dan
terjangkau oleh masyarakat.
1. Konsultan WASPOLA
2. Staf Bidang Sosial Budaya BAPPEDA Kebumen

WA W A S A N

Sistem Pengolahan
Air Limbah Rumah Tangga
di Kota Tangerang
FOTO: BAMBANG PURWANTO

Bambang Purwanto

*)

ota Tangerang mulai berdiri tahun 1993 dengan luas wilayah


177 km2 termasuk Bandara
Soekarno- Hatta. Kota ini tergolong cepat
perkembangannya. Pertumbuhan penduduknya 4,9 % per tahun. Tahun ini
penduduknya berjumlah 1,4 juta jiwa.
Kota Tangerang merupakan salah satu kota penyangga ibukota Jakarta. Di wilayah tersebut banyak pekerja kantor di
Jakarta bertempat tinggal. Industri-industri manufaktur pun tumbuh pesat
sehingga banyak menyerap tenaga buruh.
Perkembangan jumlah penduduk
yang cepat mau tidak mau mengharuskan
adanya penyediaan prasarana dan sarana
perkotaan yaitu listrik, telepon, pengelolaan persampahan, air minum, dan air
limbah rumah tangganya. Tidak seperti
halnya listrik, telepon, dan pengelolaan
sampah, pelayanan air minum dan air
limbah domestik di kota tersebut masih
tergolong rendah.
Dipandang dari aspek lingkungan, air
buangan domestik yang diterima oleh
lingkungan di kota tersebut yakni 1,4 juta
jiwa x 100 liter/jiwa atau sekitar 140.000
m3/hari. Alam akan terlalu berat menanggung beban pencemaran ini jika tidak ada campur tangan manusia untuk
mengelolanya. Oleh karena itu perlu upaya-upaya bijak untuk membantu alam
mengolah air limbah domestik, baik secara individual, komunal, maupun skala
kota.
Salah satu upaya Pemko Tangerang
untuk membantu alam menetralisir pencemaran air limbah domestik tersebut
adalah dengan membangun Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Tanah

25

Tinggi dan Kolam Oksidasi di 8 Lokasi


dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja
(IPLT) di Kelurahan Karawaci.
Kondisi Kini
Secara ringkas beberapa aspek pengelolaan prasarana dan sarana air limbah
domestik kota Tangerang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Aspek Teknis.
Pada saat ini Kota Tangerang memiliki
dua macam sistem pengelolaan air limbah
domestik yaitu a) Sistem On Site (setempat)
yaitu sistem layanan dengan penyedotan
limbah tinja di tangki septik (septic tank)
milik warga/masyarakat yang selanjutnya
diolah di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja
(IPLT) yang terdapat di daerah Karawaci.
Adapun sistem yang ada yaitu;
z Tangki septik 205.572 unit ( 61 %)
z WC Umum
111.624 unit ( 33 % )
z Saluran/Kali/
Lahan Terbuka
21.360 KK ( 6 % ).

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

b). Sistem Off Site (terpusat) yaitu sistem pengolahan air limbah domestik
yang menggunakan jaringan perpipaan di
Kelurahan Babakan dan Sukasari Tangerang yang merupakan satu-satunya IPAL
Type Carrousel di Indonesia.
IPAL ini mulai dibangun tahun 1982 ,
diuji coba tahun 1985, dan mulai dikelola
1992. Konsultan dari Belanda DHV Cons.
Eng. dan Has Koning bertindak sebagai
perencana IPAL Tanah Tinggi. IPAL itu
merupakan bantuan pemerintah Belanda
dan mempunyai cakupan pelayanan
3.000 sambungan rumah atau ekivalen
15.000 jiwa melayani Kelurahan Sukasari
dan Babakan.
Selain IPAL Tanah Tinggi, Kota Tangerang juga mempunyai prasarana dan
sarana pengolahan air limbah domestik
lainnya yang terdiri atas kolam oksidasi
sebanyak delapan unit dengan total luas
sebesar 44,5 hektar terdapat di Perumnas
I, melayani 7.932 sambungan rumah atau
ekivalen 31.728 jiwa.

WA W A S A N
FOTO: BAMBANG PURWANTO

Aspek Teknologi
a) Sistem Terpusat ( Offsite System)
di IPAL Tanah Tinggi melayani Kelurahan
Sukasari dan Babakan; seluruh limbah
rumah tangga baik yang berasal dari kamar mandi, kakus maupun dapur diproses menjadi satu secara alamiah terpadu
dengan sistim Carrousel yang pengalirannya sebagian menggunakan perpompaan.
b). Sistem Setempat (Onsite system)
melayani rumah tangga yang masih belum terjangkau oleh sistem terpusat, yaitu
dengan menyedot lumpur tinja dari septik
tank di setiap rumah yang selanjutnya
diolah di IPLT Karawaci.
Aspek Keuangan
Untuk sistem setempat telah dilakukan kerjasama dengan pihak swasta (PT
Pola Inti Konsultama) mulai September
2002 dengan kewajiban pembayaran ke
Pemda Tahun I sebesar Rp. 40 juta, Tahun II sebesar Rp. 50 juta, Tahun III sebesar Rp. 100 juta, Tahun III sebesar Rp.
150 juta, Tahun IV sebesar Rp. 130 juta
dan Tahun V sebesar Rp. 150 juta. Total
Rp. 470 juta untuk kontrak selama 5
tahun.
Masyarakat yang menggunakan jasa penyedotan dikenai biaya sebesar Rp. 70.000
untuk sekali penyedotan, sedangkan pengelola IPLT memungut biaya Rp. 5 Rp 10
ribu untuk setiap truk tinja yang membuang
lumpur tinja di IPLT Karawaci.
Karyawan pengelola IPLT seluruhnya
berjumlah 30 orang termasuk supir dan
tenaga pengelola IPLT dengan penghasilan rata-rata berkisar Rp. 600.000/karyawan/bulan. Armada truk tinja ada
tujuh.
IPLT Karawaci selain berfungsi sebagai pengolah lumpur tinja curahan mobil
tinja juga melayani sekitar 60 sambungan
rumah yang langsung menyalurkan buangan limbah domestiknya ke IPLT sehingga secara tidak langsung IPLT tersebut berlaku pula sebagai IPAL.
Sedangkan pengelolaan sistem off site
(terpusat) masih disubsidi oleh Pemko

26

Tangerang sebesar Rp. 56 juta per tahun.


Belum ada pungutan untuk biaya operasi
dan pemeliharaan dari masyarakat.
Tantangan, Hambatan, dan Peluang
Tantangan yang dihadapi yakni kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan air limbah baik secara offsite
system (terpusat) maupun melalui pelayanan onsite system (setempat) untuk
melindungi pencemaran lingkungan khususnya pencemaran badan air. Adapun
hambatan yang ada yaitu keterlambatan
pihak pengelola untuk menyosialisasikan
pengelolaan IPAL Tanah Tinggi sehingga
sampai saat ini retribusi/iuran masyarakat pelanggan belum dapat ditarik. Sedangkan peluang yang memungkinkan
yakni banyak warga yang belum terlayani
pengelolaan air limbah domestik, lagipula
kapasitas IPAL maupun IPLT masih bisa
dikembangkan di masa mendatang.
Kesimpulan dan Saran
Pengolahan limbah dengan menggunakan sistem IPAL Tanah Tinggi cukup
efektif untuk menangani pencemaran
lingkungan oleh limbah rumah tangga
(kamar mandi, kakus, dan dapur), namun
masih perlu ditingkatkan cakupan pe-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

layanannya.
Biaya investasi IPAL cukup tinggi
sehingga diperlukan alokasi anggaran
khusus dari Pemko Tangerang untuk mengembangan IPAL di kawasan lain di Kota Tangerang guna meningkatkan pelayanan pengelolaan air limbah domestik
bagi penduduk.
Biaya Operasi & Pemeliharaan (O&P)
IPAL cukup tinggi dikarenakan penggunaan listrik PLN secara penuh. Perlu segera diupayakan pembayaran retribusi
sambungan rumah bagi pelanggan di Kelurahan Babakan dan Sukasari guna menutup biaya O&P tersebut agar IPAL dapat dioperasikan secara optimal dan berkesinambungan.
Perlu disusun organisasi pengelola secara profesional dan permanen, bisa dalam bentuk Unit Pengelola Teknis Daerah
(UPTD) atau bentuk lainnya (kerjasama
dengan pihak ketiga/swasta)
Perlu ada sosialisasi bagi seluruh warga tentang pembangunan dan pengelolaan prasarana dan sarana air limbah domestik, serta menyangkut seluruh aspek
teknis, lingkungan, keuangan, dan kelembangaannya.
*)

Staf Dirjen TPTP,


Depkimpraswil

WAWASAN

Sampah Membawa Berkah


di Desa Temesi, Kabupaten
Gianyar, Bali
S
ampah membawa berkah? Mungkin sebagian besar orang paham
arti dan nilai lebih dari sampah.
Namun hanya segelintir orang yang peduli dan betul-betul memanfaatkan sampah semaksimal mungkin.
Sampah dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir), tampaknya sudah akrab di
telinga dan benak sebagian besar masyarakat kota besar. Hampir di semua kota,
terdengar keluhan masyarakat yang tinggal di sekitar TPA. Di beberapa kota malah sempat terjadi bentrokan fisik dan penutupan sementara. TPA di Desa Temesi
juga tidak terkecuali.
TPA Temesi, terletak di Desa Temesi,
di Kabupaten Gianyar, Bali, sudah beroperasi sejak tahun 1993. Di tanah seluas
5 Ha ini, semua sampah dari Kota Gianyar, Ubud, Sukawati, Tampak Siring,
dan wilayah sekitarnya, ditimbun.
Awalnya lokasi TPA Temesi berupa lahan
yang cukup landai. Sampah yang ditimbun selama bertahun-tahun, meratakan
permukaan lahan TPA. Sayangnya selama bertahun-tahun pula, sebagaimana
halnya praktek penimbunan sampah
open dumping di TPA-TPA kota lainnya,
menebar bau tak sedap dan meningkatkan jumlah lalat sampai dengan
radius 2 km. Saat musim hujan, truk-truk
sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Gianyar pun enggan
masuk ke TPA karena kemungkinan
besar truk mereka amblas terbenam di
tumpukan sampah. Akibatnya kadang as
roda patah atau timbul kerusakan fatal
lainnya.
Sampah dari kawasan Ubud dan sekitarnya pun berakhir di Banjar Intaran,
Desa Pejeng, Tampak Siring, karena permintaan masyarakat untuk mengurug

27

Yuyun Ismawati dan


Noka Destalina

atau menimbun bantaran sungai kecil


yang makin tergerus erosi. Selama 6
tahun, sampah kawasan tersebut ditimbun di desa ini. Akhirnya, kesehatan
lingkungan masyarakat terancam. Air
tanah dan udara di sekitar tercemar,
menebar bau, dan tidak sehat.
Minimasi dan pemilahan sampah
di Fasilitas Pemilahan Sampah Temesi,
Gianyar Bali.
100 % sampah masuk ke fasilitas
10 ton/hari atau 40 m/hari

50%
Fraksi Organik
5 ton/hari

30% Sampah
An-organik
3 ton/hari

25% pakan ternak


2,5 ton/hari
(10 m/hari)

20%
residu
2 ton/hari

25% kompos
2,5 ton/hari
(10 m/hari)

(Sumber: Laporan Studi Kelayakan Fasilitas Temesi


BaliFokus, Juli 2004)

Sejak tahun 2001, Bali Fokus mengajak berbagai pihak untuk menyikapi hal
ini dan mencari solusi yang menguntungkan bagi semua. Dimulai dari ide replikasi fasilitas pemilahan sampah pariwisata di Jimbaran, muncul gagasan
untuk membangun fasilitas serupa di
TPA Temesi untuk menangani sampah
kota Gianyar. Melalui persiapan dan perencanaan yang matang, dengan sosialisasi dan pendekatan yang mengedepankan partisipasi masyarakat maka diba-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

ngun Fasilitas Pemilahan Sampah (FPS)


yang berlokasi di TPA Temesi.
Fasilitas pemilahan sampah seluas
400 m2 ini mungkin merupakan yang
pertama di Indonesia, dibangun sejak
akhir Maret 2004 dan diresmikan pengoperasiannya oleh Bupati Gianyar pada
25 Juni 2004 yang lalu. Pembiayaan konstruksi fasilitas ini berupa in-kind material dari USAID/OTI senilai Rp. 380 juta,
Swiss Development Cooperation senilai
Rp. 110 juta, kontribusi dari Rotary Club
Bali Ubud serta RC Hamburg dan RC
Atlanta sejumlah Rp. 60 juta, dari Bali
Fokus-BORDA
network
sejumlah
Rp. 50 juta, dengan total biaya konstruksi mencapai Rp. 600 juta. Pemakaian
lahan, sewa atau beli, tidak diperhitungkan karena menggunakan lahan
TPA milik Pemerintah Kabupaten
Gianyar.
Target dari pelayanan fasilitas ini
adalah 30% sampah dikelola Dinas
Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten
Gianyar atau kurang-lebih 80 m3/hari
atau 20 truk/hari (total sampah Kota
Gianyar dan sekitarnya adalah sekitar
260 m3/hari). Tujuan dari dibangunnya
fasilitas ini adalah memilah sampah dan
meningkatkan nilai manfaat dan potensi
daur ulang sampah sebagai alternatif
insinerator.
Inisiatif Temesi ini mungkin merupakan proyek pengelolaan sampah kota
yang pertama di Indonesia yang menerapkan sinergi positif antar berbagai
pihak:
- Rotary Club Bali Ubud (RCBU), melalui Community Service Program,
berperan sebagai koordinator penggalangan dana (USAID/OTI, Rotary Club
International, SDC, dan lain-lain).

W AWASAN
- Bali Fokus-BORDA, lewat Program
Pengelolaan Sampah, berperan sebagai
penyedia bantuan teknis, pemberdayaan masyarakat dan pendamping manajemen operasional selama 5 tahun ke
depan,
- Pemkab Gianyar dalam hal ini Dinas
Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Gianyar berperan sebagai pemasok
sampah dan penyedia lahan,
- Badan Pengelola Sampah Desa Temesi, berperan sebagai pengelola fasilitas bersama Bali Fokus (joint operation
management).
Dalam tahap persiapan dan pelaksanaan konstruksi fasilitas, proyek ini melibatkan masyarakat secara aktif melalui
pertemuan-pertemuan rutin dan diskusi
di lapangan. Bali Fokus memfasilitasi
pembentukan Badan Pengelola Sampah
di Desa Temesi yang akan bertanggung
jawab terhadap operasional FPS Temesi
ini dalam jangka panjang. Selain memberdayakan masyarakat di tingkat manajemen, fasilitas ini juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi 60 orang karyawan, yang berasal dari masyarakat
warga Desa Temesi. Desa Temesi terdiri
atas tiga Banjar, yaitu Banjar Peteluan,
Banjar Pegesangan, dan Banjar Temesi
dengan jumlah penduduk + 650 KK.
Pada tahap awal operasi FPS Temesi
sampai dengan awal tahun 2005, pengolahan dilaksanakan hanya setengah kapasitas yang direncanakan, yaitu sekitar 40
m3 sampah per harinya. Hal ini dimaksudkan sebagai tahap pembiasaan dan
pembelajaran bagi keseluruhan komponen operasional fasilitas. Sebuah Badan
Pengelola dibentuk bersama untuk memfasilitasi pengelolaan fasilitas dan mengatur manajemen operasional. Bali Fokus
bertindak sebagai pendamping untuk 5
tahun ke depan dan membantu mewujudkan keseluruhan sistem yang berkelanjutan.
Manfaat dan keuntungan dari inisiatif
Temesi ini antara lain:
- Ada alternatif pengelolaan limbah pa-

28

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Tabel Kebutuhan Lahan


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kebutuhan Lahan/Area
Receiving area atau ruang penerimaan sampah
Belt Conveyer (BC) atau ban berjalan
Area penampungan sementara sampah an-organik
Area penampungan residu sampah
Area penyimpanan sampah an-organik sebelum dijual ke
bandar lapak
Area pengomposan
Area pembuatan pakan ternak
Total luas area

Luas (m2)
50
50
150
Lahan TPA
250
400
200
1,100

multipihak dapat diimplementasikan


dengan koordinasi dan sinergi yang
baik.
- Masalah TPA yang berdampak kepada
masyarakat dapat dicarikan solusi yang
sama-sama menguntungkan (win-win
solution). Dengan adanya FPS Temesi,
mekanisme monitoring
pengelolaan TPA oleh masyarakat dan kompensasinya lebih terstruktur.
TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) TEMESI
- Kompos organik yang
dihasilkan didukung kebijakan dan program perRUANG PENERIMAAN
tanian organik di wilayah
Kabupaten Gianyar.
- Pakan ternak yang diPEMILAHAN SAMPAH
hasilkan dijual kepada
ANORGANIK DI BELT
CONVEYOR
RECYCABLES
peternak sapi dan sangat
(GELAS, PLASTIK, KERTAS,
membantu peternak daKARDUS,
KALENG, DLL)
lam penyediaan pakan
dan diversifikasi pakan
PEMILAHAN RESIDUAL
RESIDUAL
DI BELT CONVEYOR
ternak, terutama saat musim kemarau.
PABRIK
DAUR
- Kreativitas masyarakat
ULANG
SAMPAH ORGANIK
dengan pembuatan baDIPOTONG/
DICINCANG DI MESIN
rang kerajinan dari samPENCACAH
pah/barang daur ulang
yang bernilai ekonomis
PAKAN
KOMPOS
dapat dikembangkan.
TERNAK
ORGANIK
- Membuka lapangan pekerjaan
baru
untuk
INSTALASI
60-100 orang.
SANITARY LANDFILL
PENGOLAHAN AIR LIMBAH
- Produk yang dihasilkan:
barang lapak, kompos orDiagram
Alur proses pemilahan di fasilitas Temesi.
ganik dan pakan ternak,
Fasilitas Temesi ini beroperasi dari pukul
06.30 s/d 16.30 WITA dengan merekrut 60 orang
dapat menjamin keberkaryawan yang bekerja dalam 2 shift.
lanjutan fasilitas.
Semua berasal dari Desa Temesi.

dat/sampah tanpa menggunakan incinerator yang realistis dan layak untuk


dikembangkan di tiap daerah.
- Aplikasi teknologi ramah lingkungan
untuk penanganan limbah tersedia di
tingkat lokal.
- Penanganan sampah yang melibatkan

R EPORTASE
Kiprah Ny. Bambang Sampah Wahono

Kelola Sampah,
Hijaukan Banjarsari
FOTO: MUJIYANTO

ngin berhembus semilir. Daundaun tanaman melambai-lambai.


Warna-warni bunga menyembul
dari rimbun dedaunan. Pot-pot bunga
berbaris di sisi jalan yang sekaligus berfungsi sebagai halaman. Itulah gambaran
sekilas lorong-lorong di Kampung Banjarsari, Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan.
Kondisi Banjarsari sangat bertolak
belakang dengan kondisi wilayah Jakarta
pada umumnya. Biasanya orang selalu
berpikir bahwa Jakarta itu panas, gersang, kotor, dan tak tertata rapi. Maka,
tak heran potret Banjarsari bisa menjadi
miniatur wilayah Jakarta di masa mendatang yang sejuk, hijau, dan memperhatikan lingkungan.
Perubahan Banjarsari, RW berpenduduk sekitar 1.500 jiwa atau 218 kepala keluarga, yang terletak di bilangan Fatmawati itu tak lepas dari tangan dingin Ny.

29

Harini Bambang Wahono dan suaminya.


Nenek yang tahun ini berusia 73 tahun
tersebut tak henti-hentinya menggugah
kesadaran warga Banjarsari untuk peduli
terhadap lingkungan. Satu di antaranya
bagaimana mengelola sampah rumah
tangga.
Sejak saya pindah ke sini (Banjarsari), saya selalu mengimpikan daerah ini
menjadi hijau seperti kampung saya dulu.
Apa bisa ya? kata Ny. Bambang suatu sore di sudut rumahnya yang kini menjadi
tempat pelatihan berbagai ketrampilan
pengelolaan lingkungan hidup.
Kebetulan, saat ia dan suami datang
ke Banjarsari tahun 1982, Bambang ditunjuk sebagai Ketua RT. Dari sinilah Ny.
Bambang mulai merintis pendekatan kepada masyarakat. Saya mencoba mendekati satu-satu orang-orang di sini. Waktu
itu ada 12 orang yang buta huruf. Mereka
saya ajari baca dan tulis. Lama-lama kita

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

menjadi akrab dan muncul kedekatan,


kata dia yang mengaku lulusan Sekolah
Guru Atas (SGA).
Dari kedekatan itu, Ny. Bambang
menyodorkan kepada mereka tanaman
obat keluarga (Toga) untuk ditanam di
tempatnya masing-masing. Kemudian
suatu saat, ketrampilan bercocok tanam
Toga itu diperlombakan. Yang paling
subur mendapatkan hadiah. Semua
hadiah saya ambil dari kocek saya
sendiri, jelas perempuan yang terlihat
trengginas itu.
Pendekatan kepada masyarakat tak
sebatas itu. Ia dan beberapa ibu-ibu
membentuk arisan RT. Arisan itu tak
sekadar untuk mengumpulkan uang dan
menariknya, tapi lebih dari itu untuk
mempererat persaudaraan. Ny. Bambang
berprinsip, orang akan diikuti kalau
sudah mendapatkan simpati dari orang
lain. Dan, simpati bisa dibangun dengan
persaudaraan yang erat.
Kiprahnya bertambah banyak ketika
sang suami menjadi Ketua RW dan ia terpilih sebagai Ketua PKK RW. Posisinya
tak disia-siakan. Ia berusaha menerapkan Program 10 Pokok PKK, khususnya
yang ke-9 yakni kelestarian lingkungan
hidup. Warga 8 RT yang dibawahkannya
dibina secara bertahap. Ada pasang, ada
surut. Ada tantangan dan kendala. Tapi
itu tak membuat perempuan yang sangat
mendambakan lingkungan asri ini patah
semangat. Ia mengadakan lomba lingkungan antar RT di wilayahnya. Sambutan masyarakatpun mulai tumbuh.
Perempuan yang tergolong aktif ini
kemudian membentuk Kelompok Tani
Dahlia pada tahun 1992. Kelompok Tani
tersebut memperoleh bantuan tanaman
dari dinas pertanian. Wajah Banjarsari

R EPORTASE
FOTO: MUJIYANTO

pun mulai berubah. Selanjutnya ia menjadi pengurus PKK kelurahan, dan kecamatan. Ia tak kenal lelah mengubah Banjarsari menjadi hijau, rimbun, dan asri.
Peran aktif Ny. Bambang terhadap
lingkungan ini ternyata mendapat sorotan
UNESCO, badan dunia di bawah PBB
yang mengurusi pendidikan. Pada tahun
1996 badan tersebut menawarkan pelatihan baginya dalam pengelolaan sampah.
Saya sangat senang banget, ujarnya tersenyum. Dari pelatihan ini, ia memperoleh sertifikat sebagai trainer UNESCO di
bidang pengelolaan sampah.
Warga kemudian diajarinya bagaimana menjadikan sampah rumah tangga
bernilai dan tidak mencemari lingkungan.
Ia menjadikan salah sudut rumahnya
yang sederhana di Jl. Banjarsari XIV No.
4a sebagai ruang kelas. Lahirlah kaderkader sampah di Banjarsari. Sampah
mulai dikelola oleh setiap rumah tangga
sejak dari hulu. Tong-tong sampah dibuat
di depan rumah warga. Ada tiga tong
sampah dengan warna berbeda. Merah
untuk sampah plastik, kuning untuk sampah botol dan kaleng, dan hijau untuk
sampah organik. Sampah dari tong warna
merah dan kuning boleh diambil oleh
pemulung dan tukang sampah yang sudah
dibina jumlahnya 20 orang. Sedangkan
sampah organik diolah masing-masing
kalau mampumenjadi kompos. Bagi
yang tak mampu melakukannya, sampah
organik tersebut diolah bersama di RT
atau RW. Hasil kompos ini kemudian
dipakai sendiri warga sebagai pupuk
tanaman atau dijual. Permintaan kompos banyak. Kita masih kewalahan memenuhinya, kata Ny. Bambang. Pembelinya
adalah para pengunjung.
Apa yang dicapai Banjarsari membuat
banyak kelompok masyarakat dari berbagai kalangan dan wilayah belajar di tempat itu silih berganti. Seiring dengan itu,
kesadaran masyarakat Banjarsari terhadap lingkungan terus tumbuh. Hasilnya, Banjarsari menyabet juara nasional
lomba penghijauan dan konservasi alam

30

Sampah di DKI Jakarta


setiap harinya
sekitar 6 ribu ton.
Hampir setengahnya
adalah sampah rumah
tangga. Kalau
seluruh masyarakat
menanganinya secara sadar,
maka persoalan sampah
di DKI tinggal 50 persen
saja dan tak serumit
seperti sekarang.
pada tahun 2000. Dan, sang pelopor, Ny.
Bambang memperoleh Kalpataru pada
tahun itu untuk kategori penyelamat
lingkungan.
Prestasi Banjarsari ini menjadikan
kampung tersebut dipilih oleh Dinas
Pariwisata Jakarta Selatan sebagai Desa
Tujuan Wisata. Kesempatan ini pun disambut warga dengan berbagai ragam
kreatifitas. Kini di sana ada taman di atas
atap yang bisa dikunjungi wisatawan

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

secara bebas, ada green corner yang khusus mengajarkan/menyediakan makanan


yang serba organik dan daur ulang
makanan, ada corner lansia, ada corner
lautan, dan ada corner pendidikan. Lokasinya di rumah-rumah warga. Tak heran banyak wisatawan datang ke tempat
tersebut, termasuk wisatawan mancanegara. Ada yang studi banding, ada yang
memang khusus untuk belajar.
Tahun ini Banjarsari terpilih sebagai
RW terbaik se-DKI Jakarta. Karenanya,
Ny. Bambang bersama para kadernya30
ibu dan 25 anak peduli sampah memperoleh tugas untuk membina daerah lain
di Jakarta. Ia juga aktif diundang sebagai
pembicara di berbagai seminar. Jadilah ia
kini mendapat julukan baru: Ny.
Bambang Sampah.
Kendati, keberhasilan demi keberhasilan telah diraih Banjarsari, bukan
berarti daerah itu bebas sama sekali dari
permasalahan sampah. Ny. Bambang
mengungkapkan masih sekitar 60-70
persen warga yang sadar. Sisanya masih
belum. Kalau soal kebersihan sih sudah
100 persen, katanya. Selain itu, yang saat
ini agak sulit ditangani yaitu adanya
orang luar (bukan warga Banjarsari) yang
membuang sampah di daerah tersebut

R EPORTASE
Masyarakat bisa
memerankan diri seperti
mengolah sampah
organik menjadi kompos,
mendaur ulang
sisa makanan, dan
mengurangi penggunaan
kantong plastik.

secara sembarangan. Saya terkadang


sedih dan jengkel, ucapnya.
Sampah dan Kesadaran
Penanganan sampah, menurut Ny.
Bambang merupakan upaya yang sistematik. Masalah sampah tak akan tuntas
manakala hanya ditangani oleh pemerintah saja. Masyarakat yang membuat
sampah, tapi kenapa masyarakat tak ikut
serta menanganinya? katanya. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat akan
pentingnya pengelolaan sampah dari hulu
menjadi hal yang tak bisa ditawar.
Hanya saja memberdayakan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Butuh
waktu panjang, karena hal ini menyangkut perubahan pola pikir, perilaku, dan
kebiasaan. Di sini kita butuh kerja keras
dan tak kenal putus asa. Kalau ada yang
nggak suka dengan apa yang kita sampaikan, itu hak dia, kata Ny. Bambang.
Sebagian besar orang, lanjutnya, saat

ini masih belum mau tahu akibat pembuangan sampah sembarangan. Orang
tak pernah mikir sampah itu akan jalan ke
mana, katanya. Sampah-sampah yang
tak teruraikan akan mengotori sungai dan
laut. Akibatnya bisa terjadi banjir dan
pencemaran. Maka tiap sumber sampah
harus diselesaikan, tegasnya.
Ia mencontohkan, sampah di DKI
Jakarta setiap harinya sekitar 6 ribu ton.
Hampir setengahnya adalah sampah
rumah tangga. Kalau seluruh masyarakat

menanganinya secara sadar, maka persoalan sampah di DKI tinggal 50 persen


saja dan tak serumit seperti sekarang.
Masyarakat bisa memerankan diri
seperti mengolah sampah organik menjadi kompos, mendaur ulang makanan/sisa
makanan, dan mengurangi penggunaan
kantong plastik. Ada empat prinsip dasar
yang digunakan yakni reduce (mengurani), reuse (menggunakan kembali),
recycle (mendaur ulang), dan replant
(menanam lagi). Bayangkan kalau setiap rumah tangga mampu menghemat
penggunaan kantong plastik 10 buah per
bulan, kita sudah bias mengurangi pencemaran darat dan laut, kata Ny. Bambang.
Maka sangat wajar bila Ny. Bambang
kini masih punya impian yang belum terwujud yakni bagaimana menyadarkan
masyarakat untuk peduli terhadap sampah. Karena tanpa adanya kesadaran
bersama, permasalahan sampah akan
tetap sulit dipecahkan. (mujiyanto)

Tukang Sampah Udin

Banyak yang masih ribet


FOTO: MUJIYANTO

amanya Udin. Umurnya sekitar


35 tahun. Pekerjaannya sebagai tukang sampah. Setiap hari ia
mengangkut sampah dari warga di
Banjarsari. Ada 30-40 warga yang
menjadi langganannya. Saya mendapat imbalan 30 ribu per rumah,
katanya sambil tersipu.
Udin sudah menjalani profesi ini
sejak tahun 1994. Ia mengontrak sebuah rumah di daerah tersebut. Setiap hari ia menarik gerobak sampah. Gerobak itu terdiri atas gerobak dan karung besar yang digantungkan
di belakang gerobak. Karung besar tersebut
berfungsi sebagai tempat menampung ben-

31

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

da-benda non organik seperti plastik, botol,


dan kaleng, serta kertas. Sampah di karung
besar ini tidak dibuang di tempat pembu-

angan sampah (TPS) setempat, tapi


dikumpulkannya untuk dijual. Lumayan, buat nambah penghasilan, katanya di salah satu sudut jalan di Banjarsari.
Udin menceritakan memang belum
semua warga Banjarsari memisahkan
sampah-sampah yang dibuangnya. Padahal ia berharap semua warga telah
memisahkan sampahnya sejak awal.
Kalau sudah dipisahkan kan gampang
ngambilnya, nggak usah misah-misahin
lagi, tuturnya. Ketika ditanya mengapa warga masih bersikap seperti itu, ia menjawab, Katanya ribet (sulitred).

R AGAM

Ragam Teknologi
Pengolahan Sampah
FOTO: MUJIYANTO

eknologi pengolahan sampah


perkotaan merupakan satu faktor
penting yang turut menentukan
keberhasilan pengelolaan. Pada dasarnya
terdapat tiga teknologi pengolahan sampah dasar yang digunakan oleh berbagai
lembaga pengelola persampahan, yaitu
pengolahan dengan cara pembakaran
(incenerator), secara kimiawi (pengomposan), dan penimbunan (landfill burying). Tiap teknologi pengolahan tersebut
mempunyai dampak yang berlainan dan
biaya penanganan dampak yang berbeda.
Teknologi pengolahan sampah mana
yang dipilih, tergantung pada tingkat permasalahan sampah di wilayah yang
bersangkutan, komposisi sampah, timbulan sampah yang dihasilkan tiap harinya, risiko teknis, anggaran yang tersedia dan lain-lain. Pemilihan teknologi
pengolahan yang tidak sesuai dengan
beberapa faktor tersebut dapat menambah permasalahan.
Salah satu indikator dalam pemilihan
teknologi pengolahan sampah adalah
teknologi yang ramah lingkungan dan
mempunyai keefektifan yang cukup tinggi. Selain itu, suatu teknologi tersebut
harus dapat mengatasi masalah yang timbul atau minimal dapat mengurangi
bobot dari masalah yang telah timbul
(Ryding, 1994: 71).
Ada beberapa macam teknologi pengolahan akhir sampah (Moenir, 1983: 33)
yaitu:
z Metode open dumping
Pada metode ini, sampah dibuang
pada daerah berbentuk lembah, ditimbun secara terbuka tanpa mengalami proses pemadatan dan tanpa
ditutup oleh lapisan tanah, demikian
seterusnya sampai lembah tersebut
menjadi rata dengan daerah di sekitarnya.

32

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

z Metode sanitary landfill


Pada metode ini sampah dibuang
ke daerah parit, daerah cekungan atau
daerah lereng, kemudian ditimbun
dengan lapisan tanah dan dipadatkan.
Metode ini mempunyai tiga macam
cara yaitu metode area, metode
trench dan metode depression.
z Metode pengepakan sampah (baling
method)
Di sini sampah dalam berbagai
jenis diolah pada instalasi, dengan
cara sampah itu ditekan dengan kekuatan + 2000 psi, sehingga terbentuk
suatu balok padat dengan ukuran tertentu yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan penimbun
(terutama sampah dengan bahan
anorganik). Balok-balok itu baik untuk digunakan sebagai penimbun jalan ataupun sebagai penimbun daerah
lembah yang terkontrol.
z Metode pembakaran (incineration)
Pada metode ini, sampah dibakar
dengan alat pembakar. Metode ini
akan menghasilkan sisa pembakaran
dan gas lain. Berat dan volume dari

sisa pembakaran lebih kecil dari berat


dan volume sampah semula.
z Metode kompos
Kompos adalah hasil pemecahan
biokimia dari zat organik dalam sampah, yang dapat mempengaruhi karakteristik tanah. Proses pemecahan
kompos dilakukan oleh mikroorganisme dan mikroflora pada temperatur
yang sama dengan temperatur sampah tersebut.
z Metoda ATAD (Autogenous Thermophilic Aerobic Digestion)
Teknologi ini menggunakan bakteri aerobik yang responsif pada suhu
tertentu untuk memproses sampah
organik menjadi bahan pupuk dalam
bentuk pellet (padat) dan cair. Teknologi ini sebenarnya digunakan untuk
pengolahan air limbah.
Dari teknologi pengolahan di atas,
metode open dumping yang kini banyak
dipakai di kota-kota Indonesia sebenarnya sudah tidak layak digunakan karena
keterbatasan lahan di perkotaan. Selain
itu metode tersebut tidak efektif untuk

R AGAM
potensi dampak yang buruk seperti timbulnya gas metana dan ada kecenderungan berubah menjadi open dumping. Sedangkan pada teknologi pengepakan
sampah, biaya yang harus diinvestasikan
cukup tinggi, dan biaya pemeliharaan dan
operasional juga mahal. Selain itu juga
teknologi tersebut tidak menjelaskan mengenai pembuangan cairan yang dihasilkan oleh pengepakan sampah.
Teknologi pembakaran sampah dapat
membakar habis sampah, akan tetapi biaya
mesin yang tinggi, biaya operasional dan
pemeliharaan juga tinggi. Selain itu teknologi tersebut menimbulkan pencemaran udara. Teknologi kompos dan ATAD, merupakan teknologi yang paling menguntungkan
jika diterapkan dalam kerjasama. Perbedaan
antara keduanya menyangkut waktu dan biaya investasi. Jika pada kompos dibutuhkan
waktu yang cukup lama dalam mengubah
sampah menjadi kompos, pada ATAD waktunya lebih singkat karena adanya bantuan
bakteri aerobik. Sedangkan untuk biaya
investasi, teknologi ATAD
merupakan teknologi yang
KELEBIHAN, KELEMAHAN SERTA RESIKO TEKNIS TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH
Mekanisme Pengolahan
Kelebihan
Kelemahan
Resiko teknis
membutuhkan biaya invesSampah dibuang pada daerah lembah atau
Tidak membutuhkan biaya pengolahan Sampah menumpuk dan tidak terurai sebagaimana
Menyebabkan sampah terus menumpuk
tasi yang besar sekali, selain
cekungan tanpa ada pengolahan lebih lanjut
sampah
mestinya
dan polusi udara, air dan tanah
itu ATAD belum pernah ditePada metoda ini sampah dibuang ke daerah
- Merupakan cara yang paling murah - Memerlukan tanah yang luas, sehingga untuk kota Jika tidak ada perawatan secara periodik
rapkan di Indonesia.
parit, daerah cekungan atau daerah lereng,
- Investasi rendah
besar tidak memungkinkan
akan berubah menjadi open dumping
kemudian ditimbun dengan lapisan tanah dan - Tidak ada pemisahan sampah
- Pengoperasian hrs sesuai dengan standar
Secara keseluruhan, ridipadatkan. Metoda ini mempunyai tiga
- Menimbulkan gas metana yang berbahaya
macam cara yaitu metoda area, metoda trench
siko teknis pada tiap tekdan metoda depression.
nologi pengolahan sampah
Berbagai jenis sampah dikumpulkan dan
Sampah dapat digunakan sebagai
- Biaya investasi cukup mahal
Cairan sampah (leachete) yang keluar
ditekan dengan kekuatan + 2000psi sehingga penimbun jalan atau penimbun lembah - Jika tidak digunakan sebagai penimbun akan
pada saat pengepakan dapat
dapat diminimalkan melamenyerupai balok
daerah terkontrol
menimbulkan pencemaran air tanah
menyebabkan penumpukan sampah (walaupun
lui penerapan teknologisudah dilakukan pengepakan)
Sampah dibakar pada suhu yang sangat tinggi Sampah terbakar habis
- Biaya investasi yang sangat mahal
Pengolahan sampah dengan cara ini
teknologi yang terbukti ba- Penggunaan mesin yang sesuai standar (tidak
menimbulkan polusi udara yang tinggi
boleh melebihi kapasitas)
ik, seperti teknologi kom- Sampah yang mengandung cairan dapat
pos dan ATAD, yang dipamenyebabkan kerusakan mesin
- Suhu minimal agar sampah dapat terbakar habis
sok dan didukung oleh perseringkali tidak dapat dicapai sehingga
usahaan-perusahaan yang
pembakaran menghasilkan pencemaran
Kompos adalah hasil pemecahan biokimia dari Merupakan pengolahan sampah yang Memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi
Karena butuh waktu yang lama, ada
memiliki reputasi. Sejarah
zat organik dalam sampah, yang dapat
bersifat zero waste dan menghasilkan kompos
kemungkinan terjadi antrian sampah, hal
mempengaruhi karakteristik tanah. Proses
pupuk kompos
ini menyebabkan polusi
kinerja dan pemecahan
pemecahan kompos disebabkan oleh
masalah yang baik merumikroorganisme dan tipe mikroflora pada
temperatur yang sama dengan temperatur
pakan faktor penting dasampah tersebut
lam memilih pemasok tekTeknologi ATAD (autogeneous thermophilic
Merupakan pengolahan sampah yang Investasi yang dilakukan cukup tinggi dan perlu ada
Belum diketahui
aerobic digestion) menggunakan bakteri
bersifat zero waste sekaligus mengolah uji coba dahulu karena belum pernah dilakukan di
nologi. Turut sertanya peaerobik yang responsif pada suhu tertentu
air limbah
Indonesia
untuk memproses sampah organik menjadi
masok sebagai calon mitra
pupuk dalam bentuk pellet (padat) dan cair.
merupakan faktor penguTeknologi ini sebenarnya adalah untuk
pengolahan air limbah
rang risiko teknis. FW

skala perkotaan. Metode pengomposan


merupakan cara paling murah dengan
risiko teknis yang rendah tetapi membutuhkan waktu yang lama. Di lain pihak
volume sampah terus meningkat setiap
harinya, sehingga perlu perhitungan yang
tepat jika akan mengadopsi teknologi
tersebut. Sedangkan untuk metode
ATAD, hanya dibutuhkan waktu yang
singkat untuk menguraikan sampah dengan risiko yang rendah, tetapi biaya investasinya sangat tinggi.
Salah dalam memilih teknologi bisa
menyebabkan risiko teknis seperti kerusakan alat yang digunakan karena overload sehingga proses pengolahan berhenti dan kemudian sampah menumpuk dimana-mana (Ryding, 1994: 287). Selanjutnya akibat berhentinya proses pengolahan tersebut, sistem pengolahan kembali menjadi open dumping, hal ini sangat tidak diharapkan untuk terjadi karena hal ini berarti mulai dari awal lagi.
Secara umum, resiko teknis seringkali

Jenis Teknologi
Open Dumping
Sanitary landfill

Pengepakan
(Balling method)
Incineration

Kompos

ATAD
(Autogenous
Thermophilic
Aerobic Digestion)

disebabkan oleh keinginan swasta dan


pemerintah untuk menerapkan teknologi
yang paling mutakhir yang memiliki sejarah pengoperasian yang kurang memadai
(Cointraeu, 1982). Masalah-masalah yang
tidak diperkirakan sebelumnya seringkali
muncul pada saat suatu teknologi diperkenalkan ke suatu negara atau wilayah
untuk pertama kali karena adanya masalah-masalah spesifik dengan daerah tersebut yang belum ditangani sebelumnya
(Ryding, 1994: 187). Risiko teknis ini harus dialokasikan kepada pihak swasta.
Di bawah ini adalah tabel yang menunjukkan kelebihan dan kelemahan teknologi
pengolahan sampah serta risiko teknisnya.
Pada tabel di bawah, jelas sekali open
dumping adalah teknologi pengolahan
sampah dengan tingkatan yang paling
rendah dan akan mungkin diterapkan
pada kerja sama antara pemerintah kota
dengan swasta. Untuk sanitary landfill,
keuntungannya adalah biaya investasi
cukup rendah, akan tetapi mempunyai

Sumber: hasil olahan dari Moenir, 1983: 33

33

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

R AGAM

Kapsul Sampah

Model Penyimpanan Sampah Jangka Panjang

enanganan sampah tradisional


sering kali membawa banyak masalah berupa polusi tanah, air,
dan udara; kerugian sumber daya penting
yang terus menerus; standar kehidupan
yang buruk dan penurunan nilai-nilai
properti yang dekat lokasi sampah; dan
peningkatan biaya karena pertumbuhan
volume sampah.
Berbagai upaya dilakukan di seluruh
dunia untuk menangani masalah sampah
ini. Industri daur ulang pun dikembangkan. Namun hasilnya belum memuaskan.
Kini ada sebuah terobosan baru dalam
teknologi penyimpanan sampah yakni
kapsul sampah atau dikenal sebagai balbal sampah. Pengemasan sampah ini konon memberikan nilai efisiensi dan keamanan yang lebih baik.
Teknologi ini memungkinkan sampah
bisa disimpan dalam waktu yang lama-bisa tahunan tanpa menganggu lingkungan di sekitarnya. Lebih dari itu jenis penanganan sampah ini memperbaiki lingkungan sekitar dan lebih bisa diterima
oleh penduduk sekitar.
Dengan teknologi ini sampah bisa disimpan sampai ada pembakar sampah
(insinerator), pabrik kompos, atau sanitary landfill yang berteknologi dibangun.
Bila instalasi pengelohan sampah sudah
siap, kapsul sampah tersebut tinggal

Bersih dan tanpa bau


Tidak ada masalah
dengan penyimpanan
di luar ruang sepanjang
tahun dan bertahuntahun

Tak dikenal
Bentuk penutup plastik
putihnya tidak menarik
perhatian burungburung

Tertutup secara keseluruhan


Kandungan energi sampah terpelihara. Kotoran sampah dan kebocoran
dapat dicegah secara efektif.

Kecil dan berbentuk bundar


Sampah bentuk bulat butuh
ruang simpan kecil dan transportasinya rasional. Tidak ada
sudut yang mudah pecah
selama penanganan.

Tidak ada udara


di bagian dalam
Sampah tidak membusuk.
Tidak ada resiko gas yang
terbentuk dan pembakaran
spontan

Lingkungan yang harmonis


Plastik jaring dan plastik film
lapisan luar dibuat dari jenis
plastik polythene yang dapat
didaur ulang.

diproses dengan mudah sekaligus mengoptimalkan pengolahan akhir. Selain itu


kapsul sampah itu bisa disuplai sepanjang waktu tanpa tergantung cuaca, dan
hanya membutuhkan tempat penyimpanan yang murah.

FOTO: ISTIMEWA

34

Siap untuk pemulihan


Sampah hanya ditutupi dengan
plastik film, mudah membuka
celah. Tanpa kabel baja untuk
mengikat. Tidak butuh banyak
material sampah untuk dibakar
di insinerator

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Proses Pengemasan
Sampah-sampah rumah tangga dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam
kantung plastik film berbentuk kapsul/bulat dan kedap udara. Bahan pembungkus ini dibuat dari jenis plastik polythene bekas klorin sehingga dapat didaur
ulang dan bisa dibakar dalam insinerator.
Setelah itu sampah dipres dengan tekanan tertentu sehingga bisa menghilangkan
kantong-kantong udara di dalam
kemasan tersebut yang memungkinkan
proses biologis aerob maupun anaerobterhenti. Dengan demikian tidak
terjadi risiko pembakaran spontan dan
pembentukan gas. Proses pengemasan
ini berlangsung hanya 3-4 menit.
Kemasan itu tinggal disimpan di tempat
terbuka atau tertutup dan bisa ditumpuk.
Bila pengolahan siap, kapsul tinggal
dibuka dengan cara yang mudah. MJ

Bisnis Jemput Sampah, Mengapa Tidak?

ampah pun bisa jadi duit. Tidak


percaya? Para pemulung sudah
membuktikan. Mereka bisa hidup dari
sampah ini, meskipun sampah yang dikaisnya sangat terbatas. Pemerintah
daerah pun telah mengambil retribusi
kepada penduduk yang membuang
sampah. Ini artinya sampah telah
menjadi sumber uang.
Kini ada sebuah terobosan lain
yang dilakukan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat
(LSM) di Tangerang. LSM ini
memberikan layanan
pengambilan
sampah
ke rumahr u m a h
dengan

menggunakan sepeda motor. Untuk


satu kantong kresek sampah ukuran
sedang atau sekitar 1,5 kg sampah
dikenakan biaya Rp. 400.
Layanan ini diberikan setiap hari
Senin-Sabtu pukul 06.00-17.00 WIB.
Motor beroda tiga akan mendatangi
rumah tangga yang telah menelepon
kantor LSM tersebut. (MJ)

T EROPONG
Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung

Bertahan di Tengah Keterbatasan

nilah salah satu dari beberapa Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan


yang tersisa di Indonesia. Beberapa
kota yang dulunya memiliki perusahaan
sejenis telah mengubah pengelolaan
kebersihan kotanya dari perusahaan
daerah ke dinas.
PD Kebersihan Bandung tergolong
cukup berumur. Perusahaan ini dibentuk
pada tahun 1985 melalui Peraturan Daerah No. 02 Tahun 1985. Pembentukan PD
ini difasilitasi oleh Direktorat Jenderal
Cipta Karya, Departemen PU (kini Kimpraswil) melalui Proyek Pengembangan
Kota Bandung atau Bandung Urban Development Project (BUDP).
Perusahaan ini bertanggung jawab
melestarikan lingkungan hidup dan secara khusus memelihara serta meningkatkan kebersihan kota dalam arti seluasluasnya, sebagai usaha menjamin terwujudnya kota yang rapi, bersih, dan sehat.
Berdasarkan SK Walikota, PD Kebersihan juga diberi tugas merumuskan kebijakan, melaksanakan pengelolaan sampah, meneliti dan mengembangkan cara
pengelolaan sampah kota.
Operasi perusahaan ini mencakup
wilayah seluas 16.29 hektar dengan penduduk sekitar 2,2 juta jiwa yang berada di
26 kecamatan (139 kelurahan). Volume
timbulan sampah di kota ini 6.500-7.500
meter kubik per hari. Namun, perusahaan ini baru bisa melayani sekitar 65
persen.
Sistem pengelolaan sampah melibatkan masyarakat, dalam hal ini
RT/RW. Pengurus RT/RW diberi kewenangan untuk menetapkan tarif kebersihan masing-masing guna membiayai
operasionalisasi kebersihan rumah tangga (sumber sampah ) hingga ke tempat
pembuangan sementara (TPS). Setelah
itu, sampah menjadi tanggung jawab PD
Kebersihan.
Perlakuan terhadap sampah jalan,
pasar, dan komersial/fasilitas umum

35

agak berbeda dengan sampah rumah


tangga. PD Kebersihan langsung bertanggung jawab atasnya. Perusahaan melakukan penyapuan, pengumpulan, dan
pewadahan. Untuk kebutuhan kegiatan
ini, PD Kebersihan memiliki 617 penyapu
jalan, dan 235 penyapu pasar. Perkiraan
timbulan sampah dapat dilihat di tabel
berikut:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sumber Timbulan Sampah


Permukiman
Pasar
Jalan
Industri
Usaha/Komersial
Fasilitas umum

Volume (m3/hari)
3.978
613
449
787
312
361

Sampah-sampah tersebut kemudian


dibuang di Tempat Pembuangan Akhir
(TPA). Ada dua TPA yakni TPA Leuwigajah (17,5 Ha) dan TPA Jelekong (9,7
Ha). Sampah kemudian diperlakukan
menggunakan sistem open dumping.
Tarif layanan kebersihan ditetapkan oleh
walikota. Besarnya sesuai skala sumber sampah. Tarif jasa kebersihan sesuai SK Walikota
No 644 Tahun 2002 (Lihat tabel).
Dengan tarif tersebut, setiap tahun
PD kebersihan rata-rata memperoleh
pendapatan sekitar Rp. 17 milyar. Pendapatan ini diperoleh dari masyarakat
dan jasa kebersihan dari pemerintah
daerah. Angka ini masih jauh dari kebu-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

tuhan operasional perusahaan. Tak heran bila per tahunnya, perusahaan dengan karyawan 1.642 orang ini terus
merugi. Tahun 2002 lalu, perusahaan ini
menderita kerugian 3,8 milyar lebih.
Direktur Utama PD Kebersihan Kota
Bandung Awan Gumelar mengakui hal
itu. Namun, menurutnya, bagi APBD
skala kota, ada efisiensi yang cukup
besar. Ia mengungkapkan hingga 16
tahun ini, APBD Kota Bandung baru
mengalokasikan dana sebesar Rp. 34 milyar atau rata-rata sebesar Rp. 2,1
milyar/tahun. Angka itu masih jauh dibandingkan dengan anggaran kebersihan
kota-kota lainnya di Indonesia seperti
DKI Jakarta (Rp. 373 milyar/tahun),
Surabaya (51 milyar/tahun), Semarang
(Rp. 27 milyar/tahun), dan Yogyakarta
(Rp. 8 milyar/tahun).
Kendati anggaran kebersihan kota tergolong kecil, peran serta masyarakat cukup
besar. Tahun 2003 lalu, retribusi masyarakat sebesar Rp. 13 milyar atau 72 persen
dari total pendapatan. Sedangkan dari
APBD hanya Rp. 5 milyar. Angka pendapatan dari retribusi ini jauh lebih tinggi dari
kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Kondisi keuangan yang demikian
tentu mengganggu gerak perusahaan.
Berbagai upaya kini sedang dilakukan
untuk meningkatkan kinerja perusahaan
dengan peningkatan sumber daya manusia dan penyadaran masyarakat. (MJ)

TARIF LAYANAN RUMAH TINGGAL DAN SOSIAL


Kelas

Daya
(Watt)

I
II
III
IV
V
VI

>6600
>3600-6600
>2200-3600
>1300-2200
> 900-1300
450

PTL (Rp)

Pengambilan
Tak Langsung

7.500/bln
6.000/bln
5.000/bln
4.000/bln
3.000/bln
2.000/bln

PL (Rp)

Pengambilan
Langsung

20.000/bln
17.500/bln
15.000/bln
10.000/bln
7.500/bln
5.000/bln

Sosial (Rp)
7.500/bln
6.000/bln
5.000/bln
4.000/bln
3.000/bln
2.000/bln

Non Komersial Rp. 12.500/hari; Komersial Rp. 15.000/hari;Angkutan kota Rp. 500/hari; Bus Rp. 1.000/hari

T EROPONG
Awan Gumelar, Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung

Rakyat Sadar Kebersihan Dulu


FOTO: MUJIYANTO

isa Anda jelaskan latar belakang


pembentukan PD Kebersihan?
PD Kebersihan dibentuk dengan Perda No. 2 tahun 1985, yang diperbaharui
dengan Perda 15 tahun 1993 (berkaitan
dengan modal), terakhir Perda 27 tahun
2001. Sekarang sudah 19 tahun. Asalnya
dari dinas kebersihan kota. Mengapa dibentuk PD? Supaya penanganan kebersihan di kota Bandung lebih optimal. Dulu dinas kebersihan dinilai kurang memiliki kapasitas untuk mengembangkan pelayanan. Selain itu dengan berbentuk PD,
akan mempercepat rekrutmen pegawai
dan penyediaan sarana dan prasarana.
Yang lebih penting, ini untuk kepentingan legalitas dan kepercayaan bagi pemberi pinjaman.
Apakah tidak berbenturan kepentingan dengan pelayanan?
Saya kira tidak ada. Kita sama dengan PT Kereta Api atau Damri. Mereka
kan juga mencari untung dari pelayanan
yang diberikan.

Bagaimana kinerja perusahaan


yang Anda pimpin sekarang?
Kinerja kita alhamdulillah, walaupun
serba kekurangan dan terbatas kita masih
mampu berjalan memberikan pelayanan
kepada masyarakat. Memang sejak awal
kita kekurangan sarana dan prasarana.
Ke depan kita berharap ada perbaikan.
Sejauh mana tingkat pelayanan PD
Kebersihan kepada masyarakat?
Kita sekarang baru mampu melayani
sekitar 65 persen dari sampah yang ada.
Itu tadi karena kita masih banyak keterbatasan.
Bagaimana hubungan PD Kebersihan dengan instansi struktural?
Kita koordinasi saja. Dengan camat
kita bertemu 3 bulan sekali. Jadi sifatnya
kami mohon bantuan, karena kami bu-

36

kan atasan dia. Koordinasi kan boleh-boleh saja. Jadi hubungannya kemitraaan
saja. Bukan atasan bukan bawahan. Kita
bekerjasa sama dengan dinas taman dalam menentukan titik-titik tempat sampah. Yang penting adalah bagaimana visi
walikota Bandung tercapai. Saya kira kita
harus pandai bagaimana memperlakukan
sebuah perusahaan tapi tetap terikat dengan pemerintahan. Memang sangat lain
dengan perusahaan swasta. Aktivitas dan
action-nya berbeda dengan struktur
pemerintahan karena memiliki otoritas
tersendiri.
Apa upaya Anda untuk meningkatkan kinerja?
Ke depan kita ingin menjadi entrepreneur. Kita akan memberdayakan asetaset kita. Kita akan membentuk anakanak perusahaan. Saat ini belum bisa
karena kita masih serba kekurangan. Gaji
juga masih terbatas. Tapi alhamdulillah
etos kerja masih tinggi. Selain itu, kita
ingin meningkatkan kemampuan operasional seperti meningkatkan cakupan
pelayanan dari 65 persen menjadi 80
persen, memperbaiki kualitas SDM, dan
mengintroduksi teknologi pengolahan
sampah melalui kerja sama. Pokoknya
kita berharap bisa menerapkan corporate
governance bagi perusahaan.

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Bagaimana dengan masalah keuangan?


Kita akan memaksimalkan realisasi
hasil penagihan jasa dari seluruh potensi
yang ada dan memaksimalkan pembayaran jasa pelayanan umum dari APBD.
Kita juga mengusulkan kepada Pemkot
untuk memplot subsidi kebersihan bagi
masyarakat dalam APBD. Sebab kita
perlu dana yang cukup untuk memberikan layanan yang minimal. Kita juga
mengusulkan ada restrukturisasi permodalan perusahaan yang sudah negatif kepada Pemkot. Kalau bisa Pemkot mengambil alih sebagian atau seluruh utang
perusahaan dan memasukkan sebagai penyertaan modal. Di sisi lain kita terpaksa
harus melakukan efisiensi.
Apa sebenarnya yang bisa mendorong kebersihan suatu kota?
Kalau kita ingin maju ke depan, pertama rakyat harus sadar kebersihan dengan
ikut mengelola sampah di lingkungannya
masing-masing. Prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) harus diterapkan. Itulah
yang kami sosialisasikan kepada masyarakat. Kita berharap ada komitmen, kalau
tidak kan susah.
Terobosan apa saja yang Anda
ambil agar pengelolaan sampah lebih baik?
Kita tahun ini bekerja sama dengan
KLH untuk menangani pengomposan
dan pihak ketiga.
Adakah rencana untuk membuat Bandung bersih?
Saat ini ada renstra walikota No. 36
tahun 2004. Isinya Bandung bersih, makmur, taat, bersahabat. Bersihnya menyangkut sampah. Kita tahun 2008 harus
bersih. Sampah harus dikelola dengan baik. Dengan 3R sebenarnya sudah cukup.
Tahun 2005 harus ada perubahan meskipun dalam kondisi terbatas. (MJ)

NFO BUKU

Laporan Pembangunan
Manusia Indonesia 2004
Judul

Indonesia Human Development


Report 2004
The Economics of Democracy
Financing Human Development
in Indonesia
Penerbit
Badan Pusat Statistik (BPS)
Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
United Nation for Development
Program (UNDP)
Tebal :xii + 205 hal

aporan ini diluncurkan bersamasama oleh Bappenas, BPS, dan


UNDP Indonesia. Jika laporan
Tahun 2001 difokuskan pada mengapa,
maka pada laporan tahun 2004 mengedepankan bagaimana dan berapa
besar.
Dalam semangat inilah maka pesan
yang ingin disampaikan adalah bahwa
Indonesia memerlukan investasi sumber
daya manusia yang lebih besar tidak
hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar

Pembangunan Bersih

angan-tangan manusia lambat tapi pasti telah mengubah iklim


dunia. Ini dipicu oleh penggunaan
bahan bakar fosil (BBF) dan kegiatan alih
guna lahan. Tindakan tersebut menghasilkan gas-gas seperti karbondioksida,
metana, nitrous oksida yang memiliki
sifat seperti kaca yaitu meneruskan
cahaya matahari (radiasi gelombang pendek) tapi menyerap dan memantulkan
radiasi gelombang panjang atau radiasi
balik yang dipancarkan bumi. Akibatnya
suhu atmosfer meningkat sehingga terjadi pemanasan global dan perubahan
iklim.
Yang memiliki kontribusi besar terhadap pemanasan itu tentu negaranegara maju. Untuk mengurangi laju
pemanasan tersebut, sebuah pertemuan
yang dihadiri lebih dari 10.000 delegasi
sepakat untuk mengeluarkan protokol
yang kemudian disebut Protokol Kyoto.

37

manusia tetapi juga sebagai dasar pencapaian pertumbuhan ekonomi dan untuk
memastikan kesinambungan demokrasi
dalam jangka panjang.
Laporan ini menekankan bahwa di
masa yang akan datang, pendapatan
kaum miskin kelihatannya tidak akan
meningkat dengan pesat. Ini berarti bahwa pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang lebih banyak untuk menyediakan pelayanan-pelayanan publik. Pertanyaannya apakah mungkin dengan

kondisi keuangan negara seperti saat ini,


Indonesia mampu menyediakan lebih
banyak anggaran untuk pelayanan publik
yang mencapai angka 3-6 persen dari
PDB. Laporan ini kemudian mengestimasi berapa banyak biaya yang dibutuhkan, dan menunjukkan bahwa jumlah
tersebut masih berada dalam batas
kemampuan Indonesia.
Secara umum, laporan ini juga mengungkapkan kondisi pembangunan manusia (human development) di Indonesia. Beberapa data yang terekam misalnya Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (IPM/HDI)
yang menurun antara tahun 1996 dan
1999, terlihat meningkat pada tahun
2002. Peningkatan ini dipengaruhi salah
satunya oleh penurunan angka kematian
bayi dan tingkat kemiskinan. Walaupun
demikian secara keseluruhan peningkatan tersebut belum menggembirakan.
Selain HDI, terdapat beberapa indikator lain yang digunakan dalam laporan
ini yaitu Gender-related Development Index (GDI), dan Human Poverty Index
(HPI-1). (OM)

Judul:

Protokol
Kyoto

Implementasinya
Terhadap Negara
Berkembang
Penulis :
Daniel Murdiyarso
Penerbit :
Penerbit Buku Kompas
Tebal:
xx + 200 halaman

Protokol itu disusun untuk mengatur target kuantitatif dan waktu penurunan
emisi bagi negara maju.
Keberadaan protokol ini sangat penting untuk dipahami oleh semua pihak,
apakah itu masyarakat, pejabat pemerin-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

tah, anggota legislatif, lembaga swadaya


masyarakat, dunia bisnis, dan politisi.
Pemahaman terhadap protokol itu bisa
membuka wawasan mengapa terjadi
berbagai bencana di muka bumi ini.
Buku ini menguraikan secara gamblang tentang protokol tersebut termasuk
perjalanan pembuatannya yang berlikuliku dan penuh kontroversi. Penulisnya
juga menjelaskan apa yang bisa dilakukan oleh negara berkembangtermasuk Indonesia yang ikut meratifikasi
protokol ini. Ada satu mekanisme Kyoto
yang bisa diterapkan yakni Mekanisme
Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism/CDM). Ratifikasi Protokol Kyoto akan mendorong pemerintah
dan masyarakat untuk mempersiapkan
diri dalam menyiapkan kelembagaan
yang terkait dengan protokol tersebut
melalui proyek-proyek CDM. MJ

NFO CD

CD Interaktif AMPL

ejak 2003 lalu, Kelompok Kerja


Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) meluncurkan situs www.ampl.or.id. Isinya meliputi berita-berita penting dan artikel
seputar air minum dan penyehatan lingkungan yang dimuat oleh media massa
nasional, kebijakan nasional, pilihan
teknologi, pustaka, data, agenda kegiatan, dan informasi terbaru seputar AMPL.
Di dalamnya juga ada newsletter yang
hadir setiap pekan.
Tahun itu juga Pokja AMPL menerbitkan Majalah PERCIK. Majalah yang
memposisikan diri sebagai media informasi air minum dan penyehatan lingkungan ini hingga Juni 2004 telah terbit

empat edisi. Majalah ini dibagikan secara


cuma-cuma kepada pihak terkait di seluruh Indonesia.

Pokja mendokumentasikan apa yang


ada di website dalam bentuk kliping. Ada
kliping berita dan kliping artikel yang
dimuat dari Agustus 2003 hingga Juli
2004, ada juga kliping newsletter.
CD interaktif AMPL ini memuat itu
semua dari mulai situs (off line), kliping
(berita dan artikel), berita mingguan
(newsletter), kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat,
majalah Percik semua edisi, dan publikasi AMPL. Dengan kemasan ke dalam
CD, penyebarluasan informasi diharapkan lebih mudah, murah, dan efisien. CD
ini bisa diperoleh di sekretariat Pokja
AMPL Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta
Pusat, telepon 021-31904113. MJ

Publikasi dan Komunikasi WASPOLA

a t e r
Supply
and Sanitation
Policy
Formulation and
Action Planning
(WASPOLA) tahap I telah selesai
dilaksanakan.
Program berjangka lima tahun tersebut
memfokuskan kegiatan pada penyusunan
kebijakan, peningkatan pelayanan dan
proses pembelajaran serta komunikasi.
Fokus utama program yakni memfasilitasi penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman skala
kecil dan menengah.

WASPOLA merupakan program kerja


sama antara pemerintah Indonesia dalam
hal ini Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Australian
Agency for International Development
(AusAID), dan World Bank/Water and
Sanitation Program for East Asia and
the Pacific (WSP-EAP).
Bisa jadi banyak orang yang belum
tahu ada program ini. Padahal program
tersebut telah berlangsung sejak 1998
dan memfasilitasi pemerintah Indonesia
dalam penyusunan Kebijakan Nasional
Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat.
CD ini ingin menjelaskan dan memaparkan apa saja yang telah dilakukan oleh

WASPOLA selama ini kepada masyarakat. Isi CD meliputi: (i) proses penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan Air
Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat; (ii) proses awal penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan
Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
Berbasis Lembaga; (iii) kegiatan lokakarya; (iv) uji coba dan studi kasus; (v)
publikasi; dan (vi) manajemen proyek.
CD ini dibagikan secara gratis kepada
masyarakat. Bila Anda berminat mendapatkannya, silahkan hubungi sekretariat WASPOLA Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta
Pusat, telepon 021-3142046. (MJ)

Koleksi Sumber Informasi tentang Sampah

PA telah meluncurkan sebuah CD


berjudul A Collection of Solid
Waste Resources. CD ini berisi
lebih dari 300 publikasi mengenai limbah
berbahaya dan limbah yang aman.
Dokumen di dalamnya bisa dicari, data
disusun berdasarkan topik menurut
abjad, dan beberapa di antaranya dalam

38

bahasa Spanyol.
Publikasi ini meliputi banyak topik,
termasuk daur ulang (recycle) dan pakai
ulang (reuse), manajemen limbah berbahaya, composing, dan penggunaan bahan
bakar motor. CD ini sengaja diperuntukkan bagi banyak kalangan, terutama
para remaja. Sampul CD ini didesain oleh

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

pemenang kontes anak usia 7-12 tahun.


Topik-topik yang ada pada CD ini
antara lain: Perubahan Iklim dan
Limbah, Minyak dan Gas, Manajemen
Sampah di Perkotaan, Pencegahan
Polusi, Manajemen Limbah Berbahaya,
Pendidikan Lingkungan, Landfilling, dan
Komposing. MJ

NFO SITUS

Jaringan Pengelolaan Sampah Nasional

www.jala-sampah.or.id

Sampah dan Perlindungan


Lingkungan

arangkali ini merupakan satusatunya situs di Indonesia yang


mendedikasikan diri khusus sektor sampah. Situs ini cukup sederhana.
Hanya ada beberapa menu yakni profil,
kegiatan, galeri, dan link.
Situs ini merupakan sarana komunikasi Jaringan Pengelolaan Sampah Nasional (Jala-Sampah) atau Garbage Network yang terdiri atas 29 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari 25 kota
besar di Indonesia yang peduli pada pengelolaan sampah.
Jala-sampah merupakan bagian dari
Global Anti-Incinerator of Alliance/Global Alliance for Incinerator Alternatives.

Tak heran bila dalam satu artikelnya pada menu kegiatanmemuat tulisan
berjudul Proyek Waste to Energy, Proyek Eksploitasi terhadap Sumber Daya
Alam Publik, karya Gopal Krishna, yang
isinya bahwa insinerator memunculkan
emisi zat-zat beracun. Tulisan lainnya
juga cukup menarik di antaranya Peran
Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Penanganan Sampah, dan Pengembangan
Bahan Plastik Biodegradable Berbahan
Baku Pati Tropis. Yang menarik lagi untuk diamati, situs ini juga memuat harga
barang lapak dari mulai bekas botol air
kemasan, botol kaca, besi, tembaga, kertas sampai plastik.

yang mungkin dilakukan serta apa saja


program sampah yang ada.

Sistem Sampah Regional


di Spokane

http://www.epa.gov/epaoswer/osw/cdos
wpub.htm

http://www.solidwaste.org/

ampah bukanlah masalah sederhana.


Banyak hal yang terkait dengan persoalan ini. Situs milik Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental
Protection Agency/EPA) Amerika Serikat
ini memuat berbagai permasalahan dan
pemecahan sampah secara cukup lengkap. Mulai dari sampah rumah tangga
hingga sampah industri dengan beragam
bentuknya. Ada pula bentuk kerjasama

nai sampah di antaranya sampah

sebagai sumber energi, transfer stations,

komposing, sampah berbahaya, mengurangi sampah, pembelajaran sampah,


dan daur ulang. Sistem pengelolaan yang
ada memang khusus yang dilakukan di

Asosiasi Sampah Internasional (ISWA)


http://www.iswa.org/

itus ini milik asosiasi sampah internasional/International Solid Waste Association (ISWA) yang memiliki 1.100 anggota
dari 70 negara. Isinya cukup lengkap, dari
mulai definisi sampah hingga kebijakan dan
rencana tindak tiap negara-negara di dunia.
Di dalamnya juga ada artikel dan berita-berita penting soal sampah. Pada 17-21 Oktober
nanti lembaga independen ini akan mengadakan kongres di Roma, Italia.

39

itus ini memuat banyak hal menge-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Spokane, satu kota di Amerika Serikat.

K UNJUNGAN
Diseminasi Program
WASPOLA
di Propinsi Gorontalo
FOTO: RHEIDDA PRAMUDHY

iseminasi program WASPOLA


dilaksanakan di Propinsi Gorontalo 7 Juli lalu. Upaya ini dimaksudkan untuk memberikan masukan
bagi daerah untuk membuat rencana
strategi pembangunan daerah untuk masa mendatang mengingat cakupan penduduk yang mendapatkan pelayanan air
minum ratarata masih rendah yaitu di
bawah 50 persen.
Acara yang berlangsung di Kantor Bapeda Propinsi Gorontalo ini dibuka oleh
Ketua Bappeda Propinsi. Instansi tingkat
propinsi yang hadir antara lain berasal
dari Bappeda, Dinas Kesehatan, PDAM,
Kantor PMD, Dinas Sosial, Kantor Lingkungan Hidup, LSM, Perguruan Tinggi
dan anggota DPRD Propinsi yang terpilih. Pemaparan program WASPOLA disampaikan oleh Rheidda Pramudhy dari
Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL).
Selain pemaparan Kebijaksanaan
Pembangunan AMPL berbasis masyarakat dan kegiatan WASPOLA, acara juga
diisi dengan diskusi kelompok yang
membahas potret AMPL sebelum dan sesudah terbentuknya propinsi tersebut,
serta penyusunan rencana tidak lanjut
oleh peserta.
Permasalahan yang berhubungan
dengan sarana air minum dan penyehatan lingkungan di propinsi yang terbagi
atas tiga kabupaten yakni Kotamadya Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Boalemo yakni:
z Belum meratanya pembangunan
AMPL
z Pelaksanaan pembangunan AMPL tidak sesuai dengan keinginan masyarakat

40

z Keterbatasan pelayanan PDAM terutama di perkotaan


z Tingginya pencemaran air oleh
limbah mercuri dari pertambangan
emas
z Belum dimanfaatkannya sumbersumber air dari embungembung
z Sering terjadi kejadian luar biasa
(KLB) diare yang disebabkan oleh
perilaku masyarakat yang tidak
sehat.
z Pemerintah daerah masih berorientasi pada pendapatan asli
daerah (PAD) daripada pelayanan
kepada masyarakat mengenai ketersediaan air minum yang mencukupi.
Proses diseminasi ini juga menghasilkan rencana tindak lanjut dan

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Acara juga diisi


dengan diskusi
kelompok yang membahas potret AMPL,
serta penyusunan
rencana tidak lanjut
oleh peserta.
kesepakatan pembentukan Tim Kerja
AMPL Tingkat Propinsi. Bappeda propinsi ditunjuk sebagai ketua dan anggotanya terdiri atas instansi terkait. Untuk mendukung kegiatan, tim kerja tersebut telah mengajukan dana dari anggaran belanja tahunan (ABT) propinsi pada tahun anggaran 2004 dan 2005, untuk
mendampingi kegiatan WASPOLA di
daerah. (Rheidda Pramudhy)

K UNJUNGAN

Pringga Jurang
Keruntuhan Bulan
FOTO: OSWAR MUNGKASA

eperti bulan turun ke pangkuan, begitu ungkapan warga


Desa Pringga Jurang, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten
Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat,
menanggapi keberadaan proyek WSLIC 2
di desanya. Mereka telah begitu lama menantikan sarana air minum.
Tingkat pendapatan masyarakat setempat tergolong rendah. Hampir 73 persen warganya tergolong miskin. Tak heran bila warga desa yang berjarak 12 km
dari ibukota Lombok Timur itu rendah
dalam perilaku hiudp bersih dan sehat.
Sebanyak 85 persen penduduk buang air
besar di sembarang tempat, 93 persen
buang sampah sembarangan, 95 persen
tidak cuci tangan setelah buang air besar,
dan 61 persen minum air belum dimasuk.Wajar bila kejadian luar biasa diare
menimpa desa ini beberapa kali.
Berkat proyek WSLIC 2, kini desa itu
memiliki sarana pelayanan air minum
dan penyehatan lingkungan. Perpipaan
sistem gravitasi mampu melayani 887 jiwa. Proyek tersebut juga membangun

41

jamban sekolah sebanyak empat unit.


Murid-murid sekolah di sana juga telah
mampu mendapatkan air minum dengan
metode SODIS. Khusus jamban keluarga,
pembangunannya dilaksanakan secara

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

bergulir. Biaya pembangunan sarana


AMPL di desa itu sebesar 200 juta, 20
persennya merupakan kontribusi masyarakat.
Sarana AMPL tersebut dikelola oleh
Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM). Di tiap bak umum, pengelolaannya di bawah Kelompok Pemakai Air (Pokmair). Iuran yang dipungut sebesar Rp. 1.000/KK/bulan. Namun pemungutan iuran itu belum sepenuhnya dilaksanakan karena alasan
mereka baru saja mengeluarkan dana
yang besar sebagai kontribusi WSLIC 2.
Berdasarkan peninjauan di lapangan,
salah satu kran di bak umum rusak. Kerusakan tidak hanya di lokasi tersebut tapi juga di lokasi WSLIC 2, RWSS, dan
proyek sejenis lainnya. Keadaan ini diduga disebabkan sulitnya mendapatkan
kran pengganti atau perlu biaya besar untuk menggantinya dibandingkan nilai
kran itu sendiri. (OM)

SODIS
Membuat Air Sehat dengan Sinar Matahari

eralatan yang diperlukan hanya


berupa botol transparan bisa juga
bekas botol air kemasanberukuran 1,5
liter atau lebih kecil. Botol kemudian
dicat hitam separuh badannya. Isi dengan air sampai penuh dan tutup.
Setelah itu botol berisi air itu dijemur di
tempat terbuka dengan badan berwarna
hitam di bagian bawah. Penjemuran
berlangsung selama 4-5 jam bila cuaca
cerah, 6-7 jam bila cuaca mendung, dan
2 hari berturut-turut bila hari hujan diselingi cuaca cerah. Air yang telah disinari tersebut langsung siap diminum.

S EPUTAR WASPOLA
Pelaksanaan Kebijakan Nasional
AMPL Berbasis Masyarakat
di Daerah
FOTO: ALMA ARIEF

asilitasi Kebijakan Nasional Air


Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) berbasis masyarakat berlangsung di tujuh propinsi dan
tujuh kabupaten sejak pertengahan Juni
2004. Daerah-daerah tersebut dipilih
berdasarkan surat minat dan komitmen
daerah sebagai tindak lanjut lokakarya
nasional 10-12 Maret 2004 di Yogyakarta.
Sampai dengan Juli 2004, kegiatan
yang dilaksanakan di daerah antara lain:
mobilisasi fasilitator ke daerah, koordinasi persiapan pelaksanaan kebijakan di
daerah, dan presentasi umum pemaparan
program setiap propinsi dan kabupaten.
Kegiatan tersebut difasilitasi oleh tujuh
fasilitator yang ditempatkan di daerah.
Mereka didukung dan dikoordinasikan
oleh sekretariat WASPOLA dan Kelompok Kerja AMPL di Jakarta.
Koordinasi
Persiapan pelaksanaan kebijakan di
daerah didahului koordinasi dengan pimpinan dan instansi terkait di daerahBappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Kimpraswil/Kimtaru, Dinas/Badan Pemberdayaan Masyarakat guna memperkenalkan dan memperjelas rencana program.
Secara umum semua daerah memberikan
dukungan positif terhadap program dan
menyiapkan prasarana kerja fasilitator.
Seluruh fasilitator berkantor di Bappeda
kabupaten kecuali di Kabupaten Lombak
Baratberkantor di Dinas Kimtaru (PU).
Selain dukungan di atas, pemerintah
daerah juga mengalokasikan dana untuk
mendukung pelaksanaan kegiatan. Hanya saja, bagi sebagian besar daerah, alokasi tersebut masih dalam bentuk pembahasan/usulan dalam Anggaran Belanja
Tahunan (ABT). Daerah yang telah
mengalokasikan dana yakni Kabupaten

42

Kebumen, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bangka


Selatan, dan Kabupaten Lombok Barat.
Pemetaan Stakeholder
Untuk memperoleh gambaran siapa
saja yang berpotensi ikut serta dalam pelaksanaan program kebijakan di daerah,
fasilitator mengidentifikasi dinas terkait
dan pihak lain yang peduli terhadap
AMPL khususnya dari kalangan LSM.
Identifikasi itu menghasilkan nama-nama yang diikutsertakan dalam TOT MPA
dan Pelaksanaan Kebijakan yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja AMPL
di Cisarua, Bogor, 13-16 Juli 2004.
Pengumpulan Data AMPL
Fasilitator dan pemangku kepentingan (stakeholder) di daerah telah mengumpulkan data sarana air minum dan
penyehatan lingkungan. Data tersebut
menjadi bahan pembahasan pada lokakarya daerah dalam pengembangan rencana kerja pembangunan AMPL. Semua

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

daerah menyadari permasalahan mengenai kelengkapan data. Oleh karena itu,


penyiapan data memerlukan waktu yang
cukup.
Paparan Program
Agenda pemaparan program meliputi: (i) gambaran umum program penyusunan kebijakan; (ii) pokok-pokok
kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat; (iii) proses fasilitasi pelaksanaan kebijakan di daerah; (iv) diskusi dan
klarifikasi; dan (v) kesepakatan rencana
kegiatan jangka pendek.
Secara umum semua daerah memberikan respon positif terhadap rencana kegiatan dan memahami keberlanjutan
AMPL sebagai isu penting yang perlu
mendapatkan penanganan. Agenda jangka pendek yang disepakati antara lain penyiapan kelompok kerja, penetapan calon
peserta yang dikirim ke TOT MPA dan
Pelaksanaan Kebijakan.
Hal lain yang perlu ditindaklanjuti
oleh fasilitator antara lain:

S EPUTAR WASPOLA

z Adanya harapan program ini dilengkapi dengan proyek fisik. Pemahaman ini berdasarkan kebiasaan
bahwa setiap program yang berasal
dari pusat selalu identik dengan
proyek fisik.
z Ketidakhadiran unsur DPRD. Padahal mereka memegang peranan
penting dalam mendukung dan menindaklanjuti pelaksanaan kegiatan
AMPL.
z Alokasi dana yang belum jelas dari
beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Sumatera Barat, NTB, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan.
Orientasi TOT MPA dan Pelaksanaan Kebijakan
Semua daerah mengirimkan peserta,
bahkan Banten menambah satu orang
dan Gorontalo menambah dua orang.
Sebanyak dua orang dari Babel dan
Bangka Selatan tidak hadir karena alasan
kesulitan transportasi.
Secara umum, seluruh peserta antusias mengikuti pelatihan. Mereka juga telah membuat rencana kerja pelaksanaan
kebijakan yang akan dibicarakan lebih
lanjut di daerah masing-masing. Berdasarkan evaluasi, 80 persen peserta menyatakan sangat puas dan puas, 2 orang
menyatakan kurang efektif dan terlalu
banyak teori, sisanya menyatakan biasabiasa saja.
Beberapa Temuan Penting
Berdasarkan hasil koordinasi dan kegiatan sampai dengan Juli 2004, beberapa
hal yang perlu ditindaklanjuti dan diantisipasi oleh Pokja AMPL pusat yakni:
z Ada perubahan staf/kontak person di
daerah.
z Ada perbedaan kepentingan di tingkat instansi daerah akibat ketidaktepatan menetapkan personil yang
dikirim ke lokakarya di Yogyakarta.

43

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

Secara umum,
seluruh peserta
antusias mengikuti
pelatihan. Mereka
juga telah membuat
rencana kerja pelaksanaan kebijakan
yang akan dibicarakan di daerah
masing-masing.

z Komitmen alokasi anggaran. Meski


secara formal daerah menyatakan siap untuk mengalokasikan dana untuk pelaksanaan program, perkembangan di lapangan menunjukkan
sebagian besar masih dalam perjuangan untuk meyakinkan pihak
DPRD setempat. Hal yang perlu dipertimbangkan ke depan adalah
waktu konfirmasi kegiatan yang
lebih awal.
z Respon positif propinsi dalam pelaksanaan kebijakan:
- Propinsi Jawa Tengah akan
mengundang 14 kabupaten sebagai langkah sosialisasi.
- Propinsi Sumatera Barat mengundang kabupaten lainnya itu Pasaman dan Pesisir Selatan pada
presentasi pertama. Kedua daerah tersebut berminat ikut serta
pada periode 2005
- Propinsi Sulawesi Selatan telah
menjadwalkan melakukan sosialisasi pada seluruh kabupaten.
- Propinsi Babel dan Jawa Tengah
mempertanyakan kabupaten terpilih dan mengharapkan ada peluang bagi kabupaten lainnya.

- Ada kebutuhan pelatihan lanjutan


MPA disertai praktek lapangan
dan pelatihan penyusunan renstra
AMPL.
- Antusiasme daerah lain mengikuti
acara TOT MPA dan pelaksanaan
kebijakan.
Rencana Kegiatan Daerah
Rencana kegiatan daerah secara
umum diarahkan dalam rangka pelaksanaan kebijakan, dengan langkah
kegiatan:
Kabupaten
1. Lokakarya pemahaman kebijakan
nasional AMPL berbasis masyarakat
dan sosialisasi/promosi kebijakan
kepada pemangku kebijakan secara
luas.
2. Pemetaan isu/permasalahan AMPL
daerah melalui lokakarya II dilanjutkan dengan kajian permasalahan dan
kajian keberlanjutan pembangunan
AMPL serta pertemuan kelompok
kerja untuk membahas hasil kajian
untuk menetapkan prioritas kegiatan.
3. Lokakarya pengembangan kerangka
kebijakan daerah bidang AMPL dilanjutkan dengan penyusunan kebijakan/rencana kerja daerah.
4. Pelaksanaan kebijakan/rencana kerja daerah pascafasilitasi.
Propinsi
1. Lokakarya pemahaman kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat dan
sosialisasi/promosi kebijakan kepada
pemangku kebijakan secara luas.
2. Monitoring/supervisi dan pembelajaran proses pelaksanaan kebijakan di
daerah pilot.
3. Lokakarya pengembangan strategi
fasilitasi pelaksanaan kebijakan dilanjutkan dengan penyusunan kebijakan/rencana kerja propinsi.
4. Pelaksanaan kebijakan/rencana kerja
daerah pasca fasilitasi. Sekr. WASPOLA

S EPUTAR WASPOLA
Lokakarya
Kelompok Kerja WASPOLA

ntuk mengevaluasi pelaksanaan


program kerja WASPOLA 2004
dan sekaligus merasionalisasikan sisa kegiatan yang belum terlaksana,
Kelompok Kerja WASPOLA mengadakan
lokakarya tiga hari, 6-8 Juli 2004 di Hotel Novus, Puncak, Jawa Barat. Lokakarya ini juga bertujuan untuk memasukkan Millennium Development Goals
(MDGs) dalam rencana kegiatan WASPOLA.
Lokakarya diikuti sebagian anggota
Pokja itu dan dibuka oleh Direktur Perumahan dan Permukiman, Bappenas,
Basah Hernowo. Dalam pembukaannya
ia menekankan pentingnya penyelesaian
Dokumen Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Lembaga di
akhir tahun 2004. Selain dianggap sebagai momentum yang tepat, finalisasi dokumen ini juga akan menghilangkan anggapan bahwa WASPOLA identik dengan
pendekatan berbasis masyarakat.
Ia mempertegas hal-hal yang perlu dilakukan yakni (i) menyepakati struktur dan
kerangka kebijakan AMPL, (ii) menyiapkan
rencana kerja umum WASPOLA-2 sampai
dengan Desember 2004, (iii) koordinasi
dengan kegiatan Pokja AMPL, (iv) merumuskan kegiatan untuk pengelolaan data
yang terkoordinasi, (v) menentukan topik
untuk uji coba maupun studi kasus yang
berhubungan dengan kebijakan.
Lokakarya ini diisi presentasi mengenai Project Design Document (PDD) oleh
Oswar Mungkasa dari Direktorat Perumahan dan Permukiman, Bappenas. Ia
menjelaskan bahwa proses penyusunan
PDD melibatkan semua pihak dalam kemitraan yaitu Pemerintah Indonesia,
AusAID, dan WSP-EAP. Ia memaparkan
pula tujuan dan perbandingan komponen
WASPOLA 2 dan WASPOLA 1.
Review program kerja WASPOLA
2004 dipimpin oleh Sofyan Iskandar,

44

WASPOLA-1
1. Perubahan Kebijakan
2. Peningkatan Pelayanan
3. Pembelajaran & Komunikasi
4. Pengelolaan proyek

koordinator proyek WASPOLA. Menurutnya, sebagian program kerja sudah


terlaksana, sebagian dalam proses, dan
ada yang belum terlaksana. Peserta lokakarya menilai program kerja tersebut
terlalu optimistis, karena relatif banyaknya item kegiatan dibanding dengan personel kelompok kerja maupun sekretariat
WASPOLA, dan program dilaksanakan
bertepatan dengan proses pergantian
pemerintahan. Oleh karena itu peserta
mengusulkan adanya rasionalisasi berdasarkan analisa secara mendalam dan penjadwalan ulang program kerja. Akhirnya

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

WASPOLA-2
1. Pelaksanaan Kebijakan
2. Perubahan Kebijakan
3. Manajemen Pengetahuan (Informasi)
4. Koordinasi & Pengelolaan proyek

muncul kesepakatan untuk merevisi


Program Kerja 2004.
Sementara itu berkenaan dengan
MDGs, lokakarya menyepakati beberapa
hal di antaranya (i) Baseline data yang
akan dipergunakan adalah data SUSENAS dari BPS; (ii) Ruang lingkup sektor
adalah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang terdiri atas Air limbah dan
Sampah; (iii) Target MDGs sektor AMPL
menyesuaikan dengan laporan kemajuan
Pemerintah Indonesia dalam pencapaian
MDGs. Selain itu, disepakati pula program kerja MDGs untuk tahun 2004. OM
FOTO: OSWAR MUNGKASA

S EPUTAR WASPOLA
Pertemuan Tim Pengarah WASPOLA
P

FOTO: DORMARINGAN S.

lon 1 instansi terkait


ertemuan Tim Pengarah
seperti Bappenas, Dep(Central Project Commitdagri, Depkeu, Depkes,
tee/CPC) WASPOLA 2 berlangDepkimpraswil, dan
sung pada 11 Agustus 2004 di
wakil dari pemerintah
Hotel Four Season, Jakarta.
Australia, Bank Dunia.
Pertemuan tersebut dihadiri
Tim Pengarah ini beroleh Suyono Dikun (Deputi Satemu setiap 6 bulan.
rana dan Prasarana Bappenas),
Fokus
kegiatan
Leila Komala (Deputi Sumber
WASPOLA 2 sampai
Daya Manusia dan Kebudayaan
dengan
Desember
Bappenas), Robin Davis dan
2004 meliputi penyeZabeta Moutafis (Kedubes Auslesaian Kebijakan Natralia), serta para pejabat dari
sional Pembangunan
instansi terkait.
Air Minum dan PePertemuan diisi dengan penyehatan Lingkungan
nandatanganan Memorandum
Berbasis Lembaga, dan
Subsidiary Agreement (MSA) Penyerahan secara simbolis hasil WASPOLA I dari Richard Pollard (Bank
Dunia) kepada Suyono Dikun (Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas).
Implementasi Kebiantara Pemerintah Indonesia
jakan Nasional Pembayang diwakili oleh Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas dan Peme- majuan pekerjaan WASPOLA 2 periode Ja- ngunan Air Minum dan Penyehatan
rintah Australia; penyerahan hasil nuari-Juni 2004 dan rencana kerja Lingkungan Berbasis Masyarakat di tujuh
propinsi dan tujuh kabupaten. (OM)
WASPOLA 1 kepada Bappenas selaku WASPOLA 2 periode Juli-Desember 2004.
Tim Pengarah terdiri atas pejabat eseexecuting agency, serta penjelasan ke-

Lokakarya Penyusunan Kebijakan Nasional


Pembangunan Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan Berbasis Institusi

okakarya penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan


Penyehatan Lingkungan Berbasis Institusi
berlangsung 1-2 September lalu di Bogor,
Jawa Barat. Lokakarya ini merupakan
pelaksanaan rencana kerja WASPOLA 2
guna menyempurnakan kebijakan tersebut. Lokakarya serupa akan diselenggarakan secara berseri.
Sekitar 60 peserta yang berasal dari
berbagai kalangan seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, PDAM, asosiasi
(PERPAMSI, FORKAMI), swasta (PT.
Palyja, PT. Wira Gulfindo Sarana), perguruan tinggi, LSM dan lembaga donor
(Bank Dunia) hadir dalam lokakarya itu.
Proses lokakarya menggunakan

45

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

pendekatan partisipatif sehingga setiap


peserta merupakan narasumber yang
berharga dalam proses penyempurnaan
kebijakan. Diskusi berlangsung santai
tanpa mengabaikan keseriusan.
Pada akhir lokakarya, peserta
menyepakati
beberapa masukan dan perbaikan
terhadap
rancangan kebijakan
yang ada. Hasil
tersebut nantinya akan diakomodasikan

dalam rancangan terdahulu. Lokakarya


berikutnya direncanakan akan dilaksanakan pada minggu I Oktober 2004.
(OM)
FOTO: OSWAR MUNGKASA

S EPUTAR AMPL
Orientasi Methodology for Participatory
Assessment (MPA)/PHAST
bagi Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Daerah

engan telah disepakatinya Kebijakan Nasional Pembangunan


Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan Berbasis Masyarakat oleh
pemangku kepentingan tingkat nasional,
maka dipandang perlu untuk mulai melakukan operasionalisasi kebijakan tersebut di daerah.
Pada tahun 2004, pelaksanaan operasionalisasi baru dapat dilaksanakan pada 7 propinsi dan 7 kabupaten terpilih
yaitu Kabupaten Sawahlunto Sijunjung
dan Propinsi Sumatera Barat; Kabupaten
Bangka Selatan dan Propinsi Bangka
Belitung; Kabupaten Lebak dan Propinsi
Banten; Kabupaten Kebumen dan Propinsi Jawa Tengah; Kabupaten Lombok
Barat dan Propinsi NTB; Kabupaten
Pangkep dan Propinsi Sulawesi Selatan;
Kabupaten Gorontalo dan Propinsi Gorontalo.
Salah satu langkah pendukung pelaksanaan operasionalisasi kebijakan tersebut adalah menyiapkan pembentukan
Kelompok Kerja AMPL di daerah dan
ditindaklanjuti dengan peningkatan
kapasitas anggota pokja AMPL. Sebagai
tahap awal maka dipandang penting
untuk memperkenalkan MPA sebagai
salah satu alat pendukung utama baik
dalam pelaksanaan pembangunan AMPL
maupun penyusunan kebijakan nasional
selama ini.
Kegiatan orientasi MPA/PHAST
tersebut dilaksanakan oleh Ditjen PMD
Depdagri sebagai salah satu anggota
Pokja AMPL Pusat di Hotel Parama,
Cisarua, Bogor pada tanggal 12-16 Juli
2004. Pesertanya 70 orang yang terdiri
atas anggota pokja dari beragam institusi
yaitu Kantor/Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa; Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda); Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah; Dinas
Kesehatan; Dinas Pendidikan Nasional;

46

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).


Secara umum orientasi dimaksudkan
agar anggota pokja AMPL daerah dapat
memahami kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat,
memahami dasar-dasar MPA/PHAST,
memahami dasar-dasar fasilitasi; mengetahui proses penyusunan kebijakan
berbasis pendekatan partisipatif. Selain
itu, diharapkan pertemuan ini dapat
membantu peserta menyusun rencana
kerja Pokja AMPL daerah.
Pertemuan dibuka secara resmi oleh
Drs. K. Paembonan Msi (Sekditjen PMD,
Depdagri). Ia menekankan pentingnya
memahami pendekatan pembangunan
berbasis masyarakat agar pembangunan
AMPL dapat berjalan efektif sehingga
keluaran, dampak, dan manfaatnya menjadi optimal. Hal ini sejalan dengan UU
No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang menegaskan bahwa
"hal-hal mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan
prakarsa dan kreativitas, serta meningkatkan peran serta masyarakat". Pemberdayaan masyarakat dan otonomi
daerah memiliki hubungan timbal balik.
Basah Hernowo (Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas) saat presentasi mengenai WASPOLA menjelaskan tentang kondisi air minum dan
sanitasi di Indonesia yang memprihatinkan. Akses terhadap air minum baru
mencapai 50 persen sementara sanitasi
walaupun telah mencapai angka 63,5
persen tapi ditengarai bahwa kualitas
sarana sanitasi dasar yang ada masih rendah. Bahkan dari angka 63,5 persen tersebut, diperkirakan banyak yang sudah
tidak berfungsi. Salah satu indikasinya
adalah tingginya pencemaran air tanah di
kota besar, bahkan untuk Jakarta menca-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

pai 84 persen.
WASPOLA merupakan proyek hibah
Pemerintah Australia yang dikelola oleh
WSP-EAP Bank Dunia yang tujuannya ingin
meningkatkan kondisi AMPL di Indonesia
melalui reformasi kebijakan AMPL. WASPOLA tahap 1 telah diselesaikan pada tahun
2003, dengan salah satu keluaran utama
adalah Kebijakan Nasional Pembangunan
Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
Berbasis Masyarakat. Selanjutnya telah disepakati kelanjutan WASPOLA tahap 1, dimulai per 30 Juni 2004 sampai Desember
2008. WASPOLA tahap 2 difokuskan pada
implementasi kebijakan AMPL berbasis masyarakat, dan melanjutkan reformasi kebijakan AMPL dengan fokus pada Kebijakan
Nasional AMPL berbasis lembaga.
Kebijakan Nasional Pembangunan Air
Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat terdiri atas 11 kebijakan
umum yaitu (i) Air merupakan benda sosial
dan benda ekonomi; (ii) Pilihan yang diinformasikan sebagai dasar pendekatan
tanggap kebutuhan; (iii) pembangunan berwawasan lingkungan; (iv) pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); (v)
keberpihakan pada masyarakat miskin; (vi)
peran perempuan dalam pengambilan
keputusan; (vii) akuntabilitas proses pembangunan; (viii) peran pemerintah sebagai
fasilitator; (ix) peran aktif masyarakat; (x)
pelayanan optimal dan tepat sasaran; (xi)
penerapan prinsip pemulihan biaya.
Basah Hernowo juga menjelaskan
secara ringkas tentang Millennium
Development Goals untuk sektor air minum dan sanitasi yaitu pada tahun 2015,
mengurangi proporsi penduduk yang
tidak memiliki akses terhadap air minum
dan sanitasi dasar. Kesepakatan ini telah
ditandatangani oleh sekitar 193 pemimpin dunia. Bagaimana strategi mencapai
target tersebut masih sedang disusun
oleh Pokja AMPL pusat.

S EPUTAR AMPL
Pokja AMPL Ikuti Pameran
Nusantara Water 2004
FOTO: DORMARINGAN S.

elompok Kerja Air Minum


dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) dan
WASPOLA ikut ambil bagian dalam Nusantara Water 2004 di Jakarta Convention Center, 19-20
Agustus 2004. Stand ini memamerkan poster, buku, leaflet, dan
berbagai produk Pokja dan WASPOLA.
Poster yang ditampilkan antara lain 100 juta orang Indonesia
belum memperoleh akses air minum dan sanitasi, Kebijakan
Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat, Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat, dan poster WSLIC serta SANIMAS. Pokja dan WASPOLA juga membagikan buku Kebijakan Nasional AMPL
Berbasis Masyarakat, Majalah Percik,
dan sejumlah leaflet secara gratis kepada

pengunjung.
Lebih dari 200 pengunjung mengunjungi stand pameran berwarna biru abuabu tersebut. Sebagian di antaranya
mengaku terkesan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Pokja dan WASPOLA. Bahkan ada pengunjung yang bermi-

nat untuk menjadi daerah pelaksanaan Kebijakan Nasional


Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan Berbasis Masyarakat yang kini sedang berlangsung. Pengunjung yang
lain ada yang berminat untuk
berlangganan Majalah Percik
media informasi air minum
dan penyehatan lingkungan
produk Pokja AMPLkendati
harus membayar.
Pameran tersebut diikuti
oleh 40 peserta dari kalangan
pemerintah, PDAM, swasta,
perguruan tinggi, dan organisasi profesi.
Nusantara Water juga diisi dengan seminar dan konferensi. Acara ini diselenggarakan oleh PERPAMSI (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia).
(MJ)

Pertemuan Perencanaan dan Evaluasi Proyek ProAir

ertemuan perencanaan dan evaluasi proyek ProAir berlangsung


di Denpasar 28-29 Agustus 2004.
Pertemuan itu dimaksudkan untuk menyusun rencana kegiatan tahun 2005 sekaligus mengevaluasi pelaksanaan proyek ProAir tahun 2004. Acara ini dihadiri
Tim Teknis Pusat dan Tim Teknis Daerah
serta konsultan. Hadir pula KfW Review
Mission yang menyampaikan temuan
dan rekomendasinya. Hasil pertemuan
tersebut dibahas dalam pertemuan antara KfW dan Pemerintah Indonesia di Jakarta, 6 September 2004.
Pemerintah daerah mengungkapkan
beberapa kendala yang dihadapi, antara
lain (i) pelaksanaan pemilu; (ii) pihak legislatif belum memahami sepenuhnya
pendekatan partisipasi masyarakat; (iii)
tahapan pelaksanaan terlalu panjang; (iv)

47

dana pendamping yang disediakan pemerintah daerah tidak terserap sehingga


mempengaruhi kinerja pemerintah daerah. Kendati begitu, Pemda Timor Tengah Selatan sepakat dengan KfW bahwa
dana investasi tidak terpengaruh oleh tahun anggaran. Namun Pemda Sumba Barat menyatakan bahwa pihak auditor
mengharuskan dana tersebut dikembalikan ke kas daerah jika tidak dapat dicairkan.
Temuan dan Rekomendasi KfW
Mission Review
Misi tersebut mengemukakan beberapa temuan yakni (i) penundaan pelaksanaan ProAir disebabkan salah perhitungan kebutuhan waktu yang dibutuhkan untuk persiapan proyek, keraguan
dari berbagai pihak, kesulitan memobili-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

sasi kontribusi non investasi dari pemda;


(ii) tidak banyak lokasi yang bisa menggunakan sistem gravitasi karena jauh dari
sumber air sehingga biaya investasi menjadi besar; (iii) konsultan berkualitas
tidak tersedia dalam jumlah yang memadai; (iv) pedoman umum belum diselesaikan; (vi) pengumpulan dana kontribusi tersendat karena rendahnya kemampuan keuangan masyarakat.
Rekomendasi yang disampaikan yakni (i) pelaksanaan proyek ProAir pada
dua kabupaten yaitu Ende dan Alor baru
akan dimulai pada pertengahan tahun
2005; (ii) percepatan penyelesaian pedoman umum; (iii) perlu sosialisasi kepada
pihak legislative di daerah; (iv) pelaksanaan tender harus mengikuti peraturan
yang ditetapkan oleh donor. (OM)

S EPUTAR AMPL
Seminar Teknologi Tepat Guna

Pengolahan Limbah Cair


FOTO: OSWAR MUNGKASA

usat Teknologi Limbah (Pusteklim) bekerjasama dengan JICA,


JBIC, WSP-EAP Bank Dunia, dan
Kelompok Kerja AMPL 24-25 Agustus
lalu menyelenggarakan Seminar Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah
Cair: Saatnya untuk Melangkah di Yogyakarta. Seminar ini bertujuan untuk berbagi perkembangan teknologi yang berkaitan dengan pengolahan limbah cair
dan berbagi informasi pola kerja antarpemerintah.
Seminar dihadiri oleh sekitar 200
peserta yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari birokrat, praktisi, perguruan tinggi, konsultan, lembaga donor,
maupun LSM.
Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas, Basah Hernowo, mengungkapkan kondisi pengelolaan air limbah di Indonesia. Menurutnya, (i) sanitasi belum menjadi prioritas baik pemerintah, legislatif, maupun swasta. Ini terlihat dari alokasi dana pemerintah, dalam
kurun waktu 1992-2002, hanya Rp. 1,5
milyar dibanding alokasi air minum yang
mencapai Rp. 2 triliun; (ii) kesadaran
masyarakat masih rendah. Masyarakat
menggunakan prinsip NYMBI (not in my
backyard) dalam perilaku penanganan
air limbah; (iii) pengelolaan air limbah
belum terkoordinasi dengan baik; (iv)
cakupan pelayanan sanitasi belum memadai (74%) dan cakupan pelayanan sistem pengolahan air limbah masih sangat
rendah (2%); (v) biaya penanganan air
limbah semakin meningkat dengan semakin tercemarnya air permukaan; (vi)
tantangan ke depan adalah mencapai target Millenium Development Goals
(MDGs) dan reformasi kebijakan nasional. Ia juga menyampaikan beberapa solusi, di antaranya penerapan prinsip
good governance, dan prinsip polluter
pays, mengembangkan kemitraan dengan swasta, mengembangkan mekanis-

48

Pembukaan Seminar

me pendanaan, kepedulian masyarakat,


memadukan penanganan air minum dan
sanitasi/air limbah, Sesuai dengan tema
seminar, semua solusi tersebut harus
dilaksanakan sekarang. Dibutuhkan aksi
dan bukan lagi sekadar rencana.
Seminar ini menghadirkan beberapa
pemakalah dengan topik-topik menarik.
Dr. Tjandra Setiadi (ITB) menyampaikan

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

makalah berjudul Produksi Plastik Biodegradable dari Limbah Cair, S. Uemura


(Asisten Profesor Kiazarazu Institute of
Technology, Jepang) dengan Kinerja
Downflow Hanging Sponge (DHS) Biotower di Karnak, India, dan Prof. Dr. Azis
Djajadiningrat (ITB) dengan makalah
Pengolahan Limbah Tanpa Bahan Kimia.
(OM)

Sekilas PUSTEKLIM

rogram Pengembangan Pusat Teknologi Limbah (Pusteklim) adalah


suatu program kerjasama Yayasan Dian Desa dengan Asian People's Exchange (APEX-Jepang) dengan dukungan dari JICA Partnership Program
(JPP).
Tujuan utama program ini adalah
meningkatkan kondisi lingkungan

hidup Indonesia. Sasarannya adalah (i)


pengadaan prasarana dan sarana dasar penanganan limbah; (ii) pengembangan teknologi tepat guna dan uji
coba; (iii) pengembangan SDM; (iv)
pengembangan jaringan. Program dimulai tahun 2001 dan berakhir pada
tahun 2004.

S EPUTAR AMPL

Persiapan Proyek ProAir


di Kabupaten Alor
FOTO: ISTIMEWA

apat persiapan proyek ProAir


tingkat propinsi berlangsung di
kantor GTZ di Mataram, Nusa
Tenggara Barat 12 Agustus lalu. Pertemuan ini bertujuan untuk mengetahui
persiapan pelaksanaan proyek tersebut di
kabupaten baru yaitu Kabupaten Alor
dan Kabupaten Ande, dan pelaksanaan
Proyek ProAir untuk kabupaten lama yaitu Kabupaten Timur Tengah Selatan
(TTS), Sumba Barat dan Sumba Timur.
Beberapa hal yang terungkap pada
pertemuan itu antara lain bantuan ProAir
berasal dari bantuan investasi dari KfW
dan non investasi dari GTZ. Rencana
bantuan investasi untuk Kabupaten Ende dan Alor sebesar Rp 18 milyar untuk
bantuan konstruksi. Dana tersebut sudah
tersedia. Dana GTZ dalam rangka mempersiapkan masyarakat belum jelas. Menurut informasi, pihak GTZ mengalami
problem keuangan. Dengan adanya persoalan tersebut, proyek ProAir kemungkinan tak bisa dilaksanakan secara
serentak. Kabupaten Ende dipilih terlebih dahulu, dengan pertimbangan:
1. Komitmen pemerintah daerah untuk
melaksanakan proyek ProAir lebih
baik.
2. Banyak sumber air yang tersedia
3. Secara geografi kondisi lapangan dan
transportasi lebih mudah dan kemudahan transportasi
4. Tersedia laboratorium pemeriksaan
kualitas air
5. Tersedia fasilitator persiapan masyarakat yang sudah terlatih dari Proyek
GTZ- PROMISE.
Sementara itu, pelaksanaan proyek
untuk Kabupaten TTS, Sumba Barat dan
Sumba Timur pada tahun 2004 sampai
tahap tender. Konstruksi diharapkan
pada bulan Oktober. Ada permasalahan
di Kabupaten Sumba Timur yakni tenaga
fasilitator yang tidak full time karena

49

mereka direkrut dari pegawai Pemda.


Kemajuan pesat terjadi di Kabupaten
TTS. Di kabupaten ini tersedia tenaga
fasilitor dengan fasilitas kendaraan roda
dua. Kondisi ini memungkinkan Kabupaten TTS bisa melaksanakan konstruksi bersama-sama dengan Kabupaten
Sumba Barat dan Sumba Timur, masingmasing di tiga lokasi.

Bantuan ProAir
berasal dari
bantuan investasi
dari KfW dan
non investasi
dari GTZ.
Rapat ProAir juga berlangsung di
Kabupaten Alor bertempat di kantor
Bappeda setempat, 14 Agustus 2004.
Rapat ini dipimpin oleh ketua Bappeda
dan dihadiri oleh instansi terkait di da-

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

erah yakni Dinas Kimpraswil, Kantor


PMD, dan Dinas Kesehatan.
Cakupan ratarata penduduk yang
sudah mendapatkan akses layanan air
bersih sebesar 60%. Tahun ini pemda setempat mengalokasi anggaran untuk kegiatan pembangunan sarana air bersih
sebesar Rp 1,4 milyar terutama untuk
pembuatan sumur bor, dengan ratarata
kedalaman muka air tanah 70 m.
Terdapat dua kegiatan proyek dari GTZ
yaitu Proyek Promise bertujuan untuk
peningkatan pendapatan penduduk pedesaan dan Proyek Siskes dalam rangka
peningkatan kesehatan masyarakat, ke dua
proyek tersebut masih berjalan.
Proyek bantuan pembangunan air
bersih lainnya yakni WSSLIC 2. Namun
sarana yang dibangun tak berfungsi lagi
karena lembaga pengelola di tingkat desa
tak berfungsi. Ini akibat masyarakat tidak mau berdisiplin untuk membayar
iuran bulanan. Berdasarkan evaluasi masyarakat akan lebih taat apabila lembaga
tersebut di bawah struktur pemerintah
desa. (Rheidda Pramudy)

P USTAKA AMPL
BUKU UMUM

MAJALAH

Water for Urban Areas.


Challenges and Prospective.

Kota-Kota
Majalah Populer Perkotaan.
Edisi 1, 2004

Editor: Juha I. Uitto & Asit K. Biswas


Penerbit: United Nations University Press

Rubbish! The Archeology of Garbage.


Penulis: William Rathje & Cullen Murphy
Penerbit: The University of Arizona Press

Profil Daerah Kabupaten dan Kota


Penulis: Tim Litbang Kompas
Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Politik Air

Penguasaan Asing Melalui Utang


Penulis: P. Raja Siregar, dkk
Penerbit: WALHI & KAU

Air Minum
Majalah yang ditertbitkan oleh
Perpamsi. Edisi 101, Maret 2004
Sinergi Desa Kota
Majalah Pembangunan Perdesaan
dan Perkotaan. Edisi perdana,
Januari 2004.

Melestarikan Sumber Daya Air


Dengan Teknologi Rawa Buatan
Penulis: Maulida Khiatuddin
Penerbit: Gadjah Mada University Press

Mengolah Air Limbah


Supaya Tidak Mencemari Orang Lain
Penulis: Ir. S. Hindarko
Penerbit: Esha

STUDI

PROSIDING

Wastewater Treatment in Latin


America. Old and New Option

Asset Management For Hydraulic


Infrastructure. Towards sustainability in Flood Protection,
Irrigation, and Dam. Directorat for
Water Resources and Irrigation,
national Development Planning
Agency/Bappenas.

Penulis: Emmanuel Idelovitch


& Klas Ringskog
Penerbit: World Bank Washington

Subsidy of Self-Respect?
Participatory Total Community
Sanitation in Bangladesh.
Penulis: Kamar Kar
Penerbit: Institute of Development
Studies, Brighton, England

50

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

PA N D U A N
Pedoman Pengelolaan Air Limbah
Perkotaan. Untuk Ekseskutif dan
Legislatif Pemerintah
Kabupaten/Kota. Direktorat
Jenderal Tata Perkotaan dan
Perdesaan. Depkimpraswil.

A GENDA
Tgl
2

Bulan
Agustus

Agustus

Agustus

Agustus

6
9
10

Agustus
Agustus
Agustus

10-11
11

Agustus
Agustus

11-12
12-14
13
16
18
19
19-20
24

Agustus
Agustus
Agustus
Agustus
Agustus
Agustus
Agustus
Agustus

24-25

Agustus

26-27

Agustus

30
30-31
1-2
2-3
6

Agustus
Agustus
September
September
September

6-7

September

September

15

September

15-16
September
16
September
17-18
September
21
September
22
September
22 September- 8 Oktober
4
Oktober

51

Kegiatan
Rapat Persiapan Nusantara Water 2004 dan Penyebarluasan Informasi tentang Kebijakan Nasional
Pembangunan AMPL
Rapat Sub Tim Air Minum Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Rapat Sub Tim Air Limbah Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Rapat Pre-Project Coordinating Committee (PCC) WASPOLA
Rapat Rutin Pokja AMPL
Rapat Rutin Pokja AMPL
Rapat Sub Tim Sampah Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Rapat Persiapan Pengambilan Sampel Air PDAM
Rapat Rutin Pokja AMPL Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Rapat Sub Tim Sampah Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Pertemuan Koordinasi ProAir
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Sumbar
Rapat PCC WASPOLA
Kick off Meeting ADB, Appraisal Mission Proyek CWSH
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Pangkep
Advokasi ProAir pada Pemerintah Daerah Kab. Alor
Rapat Rutin Pokja AMPL
Rapat Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Rapat Tim Koordinasi Perencanaan Kebijakan Nasional Penanggulangan Banjir
Water Sanitation Discussion Forum Using Wind Power for Water Supply and Irrigation
Ekshibisi Nusantara Water 2004
Rapat Perbaikan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Rapat Persiapan Pertemuan Perencanaan dan Evaluasi ProAir di Denpasar
Seminar Internasional Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Cair, Pusteklim
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Bangka Belitung
Pertemuan Koordinasi ProAir di Bali
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Jawa Tengah
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Gorontalo
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Lebak
Rapat Presentasi Kemajuan Kerja WASPOLA
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Gorontalo
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Bangka Selatan
Wrap-up Meeting misi review KfW mengenai ProAir
Rapat Pokja AMPL mengenai Dana Hibah Sanitasi dari Belanda
Rapat Pokja AMPL - Diskusi mengenai Peningkatan Hygiene di Indonesia
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Sijunjung
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Kebumen
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Kab. Gorontalo
Lokakarya dengan tema Global Practices Forum Health in Your Hands : Critical Importance of
Hygiene Improvement for Health, Water and Sanitation Program in Indonesia
Pertemuan Tim Pengarah WSLIC2
Workshop on Community Led Total Sanitation
Rapat WASPOLA tentang kemajuan kerja WASPOLA
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Banten
Rapat Rutin Pokja AMPL
Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Sulawesi Selatan
Rapat Rutin Pokja AMPL
Kick of Meeting Misi Supervisi WSLIC2
Misi Supervisi WSLIC2
Peringatan Hari Habitat di Yogyakarta

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004

GLOSARI
- Aerasi : penambahan zat asam ke dalam air limbah.
- Aerator : peralatan untuk menambah zat asam ke dalam air limbah.
- Akuifer : lapisan pasir di bawah tanah yang mengandung air.

- Back Water : aliran tidak sejajar muka airnya dengan dasar pipa, biasanya ada pembendungan disebelah hilir aliran.
- Bakteri Anaerobic : bakteri yang hidup dalam suasana tanpa zat asam.
- Black Water : air limbah yang berasal dari kakus, berbentuk tinja manusia.
- Capacity Building : meningkatkan kapasitas suatu lembaga dengan pelatihan, dan lain-lain.
- Community Based : program yang melibatkan masyarakat.

- Effluent : limpahan keluar air limbah yang sudah diolah dalam Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL).
- Grey Water : air limbah yang berasal dari kamar mandi, bak cuci, dapur (tidak mengandung tinja).
- Hygienic : bersih, sehat dan tidak mengganggu kesehatan.
- In-let : aliran masuk.

E
G
H
I
K
M
O
P
R
S

- Kesadahan : air mengandung bi-karbonat tinggi, sehingga tidak sanggup membilas sabun yang dioles pada badan kita.
- Koagulan : bahan kimia untuk menggumpalkan butiran suspensi, supaya mengendap.
- Kolam Sedimentasi : kolam untuk mengendapkan lumpur dari air limbah.
- Kolam Stabilisasi : kolam untuk melakukan stabilisasi air limbah supaya tidak berbau.
- Manhole : lubang pemeriksaan pipa atau bangunan lain.
- Off-Site : pengolahan air limbah dilakukan di luar (off) kawasan pemukiman warga.
- On-Site : pengolahan air limbah dilakukan di dalam (on) kawasan pemukiman warga.
- Permeabilitas : daya resap air pada lapisan tanah, misalnya dinyatakan dalam cm/hari.
- Purifikasi : memurnikan kembali air limbah terhadap pengaruh pencemaran.
- Real Demand Survey : survey tentang kebutuhan nyata dari penduduk.

- Sanitary Land-fill : mengurug sampah dengan tanah/lumpur, agar tidak mencemari lingkungan.
- Sewerage : jaringan perpipaan untuk menampung air limbah dengan dilengkapi instalasi pengolahan.
- Sumur Rembesan : sumuran berdinding rembes air untuk meresapkan air limbah ke dalam lapisan tanah dalam.
- Tangki Imhoff : tangki yang ditemukan oleh Imhoff (nama orang), untuk mencerna lumpur air limbah.
- Truk Tinja : truk yang dilengkapi dengan tangki dan pompa untuk menyedot lumpur tinja dari tangki septik
di rumah penduduk.

(Disarikan dari Buku Mengolah Air Limbah, Supaya Tidak Mencemari Orang Lain, karya: Ir. S. Hindarko)

52

Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004