Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu


yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau
keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh
setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah
mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun
dalam bentuk yang berbeda.
Duka cita dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubahubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun
perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa
tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu :
menolak (denial), marah (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi
(depression), dan menerima (acceptance). Pekerjaan duka cita terdiri dari
berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika seseorang melewati
dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telah dialaminya. Duka cita
berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Kehilangan dan Berduka
Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu
ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau
terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan
pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama rentang kehidupannya. Setiap
individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respon terakhir terhadap kehilangan sangat
dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan sebelumnya.1
Kehilangan sendiri dapat bersifat aktual atau dirasakan. Kehilangan yang bersifat aktual
dapat dengan mudah diidentifikasi, misalnya seorang wanita dewasa yang hamil dan
mengalami keguguran. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan dapat disalahartikan,
seperti kehilangan kepercayaan diri. Persepsi terhadap kehilangan dapat berupa positif dan
negatif sesuai dengan nilai seseorang dalam mengartikan kehilangan. Kehilangan bukan saja
dinilai dari barang atau benda, suasana yang berubah dapat menimbulkan rasa kehilangan.2
Kehilangan dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:3
a. Kehilangan aspek diri
Kehilangan bagian tubuh, fungsi tubuh, dan psikologis merupakan bagian dari
kehilangan aspek diri. Kehilangan ini dapat terjadi karena kecelakaan, penyakit, atau
kehilangan kepercayaan diri. Kehilangan aspek diri erat kaitannya dengan konsep ini.
Kehilangan aspek diri dapat menyebabkan perubahan konsep diri.

b. Kehilangan objek eksternal


Kehilangan benda atau hewan merupakan bagian dari kehilangan objek eksternal.
Tingkat berduka karena kehilangan berdasarkan nilai benda tersebut bagi seseorang.
c. Kehilangan lingkungan yang sudah dikenal
Berpisah dengan lingkungan yang sudah dekat dan kita kenal dapat menimbulkan rasa
kehilangan, seperti merasa kehilangan setelah 4 tahun tinggal di kota tempat kuliah
kemudian harus balik lagi kerumah.
d. Kehilangan orang yang dicintai
Kesedihan (grief) dapat diartikan sebagai proses psikologis dan emosional yang
diekspresikan secara internal maupun eksternal setelah kehilangan. Kesedihan tanpa penyulit
biasanya berjalan sesuai pola yang relatif konsisten. Awalnya terdapat syok dan
ketidakpercayaan, sering digambarkan sebagai perasaan mati rasa, diikuti suatu periode
peningkatan kesadaran terhadap kehilangan disertai emosi yang menyakitkan berupa kesedihan
dan amarah. Seorang individu mungkin menyangkal rasa amarah itu, terutama bila terdapat
sikap yang mendua tentang apa yang disedihkan. Keadaan ini bisa memperkuat iritabilitas yang
muncul berbentuk gejala lain; mungkin sulit dibedakan dengan gejala depresi. Gejala tersebut
dapat berupa gangguan tidur, bangun terlalu dini, mudah menangis, kehilangan nafsu makan,
berat badan dan libido, penurunan kerja dan minat pada kegiatan sehari-hari, dan sebagainya.4
Duka cita adalah respon emosional yang dialami ketika merasa kehilangan. Berduka
merupakan istilah yang dapat digunakan pada setiap peristiwa kehilangan, mulai dari kematian
kerabat, kehilangan pekerjaan, perceraian atau bahkan kehilangan hewan peliharaan.
Kehilangan karena kematian adalah respon subjektif dari kehilangan orang yang dicintai.1,4

2. Jenis-jenis Berduka
Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA
merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam
merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan,
objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam
batas normal. Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu
yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial,
hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal,
abnormal, atau kesalahan/kekacauan.5
Adapun jenis-jenis berduka menurut Bobak (2005) adalah:6
a. Berduka normal, terdiri dari perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap
kehilangan seperti kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari
aktifitas untuk sementara.
b. Berduka antisipatif, yaitu proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan
yang sesungguhnya terjadi.
c. Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya,
yaitu tahap kedukaan normal. Masa berduka seolah-olah tidak kunjung berakhir dan
dapat mengancam hubungan individu tersebut dengan orang lain.
d. Berduka tertutup, yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara
terbuka.

Berduka juga dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu:6


a. Berduka ringan (uncomplicated bereavement), yaitu merasakan kesedihan tetapi masih
dapat melakukan kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan meskipun tidak dengan
antusiasme dan energi sebesar sebelum kehilangan. Seseorang yang mengalami
berduka ringan tidak mengalami depresi dan merasa lebih baik seiring waktu.
b. Berduka Berat (complicated bereavement), kesulitan yang dialami individudalam
berduka atau eksaserbasi masalah-masalah sebelumnya yang menjadi semakin berat
selama proses berkabung, seperti:
-

Mengalami gejala cemas dan depresi yang mempengaruhi fungsi sosial/keluarga,


pekerjaan dan kesehatan fisik.

Memiliki pikiran bunuh diri terus-menerus, yang hampir menjadi konstan atau
mengungkapkan keinginan yang serius untuk bunuh diri atau mengembangkan
suatu rencana untuk bunuh diri.

Penyalahgunaan bahan kimiawi pengubah perasaan secara berlebihan.

Mengalami kesulitan dalam berhubungan (dengan pasangan, anak-anak, keluarga,


dan orang lain).

3. Tahapan duka cita


Adapun tahap-tahap kehilangan menurut Kubler Ross, yakni:7
a. Denial (penolakan)
Tahap pcngingkaran, reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah
syok, tidak percaya, mengerti atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benarbenar terjadi. Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual,

diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan seringkali
individu tidak tahu harus berbuat apa. Denial merupakan mekanisme pertahanan diri
terhadap rasa cemas.
b. Anger (berontak dan marah)
Pada tahap ini individu menolak kehilangan. Setelah kematian diketahui, kemarahan
ditujukan pada kenyataan bahwa merekalah yang dipilih untuk meninggal sedangkan
orang lain tidak. Kemarahan yang timbul sering diproyeksikan kepada orang lain
atau diri sendiri. Objek dari kemarahan individu tidak dapat diterka. Orang yang
mengalami kehilangan juga dapat menunjukkan prilaku agresif, berbicara kasar,
menyerang orang lain, menolak pengobatan, bahkan menuduh perawat atau dokter
tidak kompeten. Respon fisik antara lain muka merah, denyut nadi cepat, gelisah,
susah tidur, tangan mengepal. Tahap ini merupakan tahap tersulit yang dilalui oleh
keluarga. Kadang timbul berbagai pertanyaan mengapa harus saya? Apa dosa
saya?
c. Bergaining (tawar-menawar)
Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan
dapat mencoba membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah-olah
kehilangan itu dapat dicegah.Reaksi sering dinyatakan dengan kata-kata "seandainya
saya hati-hati."
d. Depresi
Pada tahap ini individu menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap
sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, rasa tidak berharga,
bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain

menolak makan, susah tidur, letih, turunnya libido. Bila depresi meningkat, akan
menjadi semakin lemah, kurus atau terjadi gangguan tanda-tanda vital
e. Acceptance (menerima)
Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu
berpusat pada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah
menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang ke depan.
Gambaran tentang objek atau orang yang hilang akan mulai dilepaskan secara
bertahap. Perhatiannya akan beralih pada objek yang baru. Apabila individu dapat
memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan yang damai, maka dia dapat
mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas.
Kegagalan untuk masuk ke tahap penerimaan akan mempengaruhi kemampuan
individu tersebut dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.

Fase berduka menurut Rando:8


a. Penghindaran. Pada fase ini terjadi syok, menyangkal, dan ketidak percayaan
b. Konfrontasi. Pada fase ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien
secara berulang melawan kehilangan mereka dan kedudukan mereka paling dalam.
c. Akomodasi. Pada fase ini klien secara bertahap terjadi penurunan duka yang akut
dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial sehari-hari dimana klien
belajar hidup dengan kehidupan mereka..

Reaksi berduka karena kematian seseorang yang dicintai ada empat:9


a. Mati rasa dan mengingkari, Orang yang baru saja mengalami kehilangan akan
merasa tidak nyata, penghentian waktu, segera setelah kematian orang yang penting

dalam kehidupan mereka. Perasaan ini seringkali digambarkan sebagai mati rasa.
Sering kali timbul perasaan bahwa hidup tidak akan mungkin lagi dijalani. Ada juga
kecenderungan untuk mengingkari kejadian dan keyakinan bahwa semuanya
hanyalah mimpi buruk. Periode berduka yang hebat ini dapat berlangsung beberapa
hari sampai berminggu-minggu.
b. Kerinduan atau pining. Fase ini ditandai dengan adanya kebutuhan untuk
menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Seringkali kebutuhan ini
dinyatakan dalam mimpi orang yang kehilangan, dan orang seringkali mengatakan
melihat orang yang sudah meninggal dalam keramaian.
c. Putus asa dan depresi. Jika orang kehilangan akhirnya menyadari kenyataan
tentang kematian, ada perasaan putus asa yang hebat dan kadang terjadi depresi.
Periode ini adalah saat individu mengalami disorganisasi dalam batas tertentu dan
merasa bahwa mereka tidak mampu melakukan tugas yang di masa lalu dilakukan
dengan sedikit kesulitan.
d. Penyembuhan atau reorganisasi. Pada titik tertentu kebanyakan individu yang
kehilangan menyadari bahwa hidup mereka harus berlanjut dan mereka harus
mencari makna baru dari keberadaan mereka. Tingkat penyembuhan dan jangka
waktu bervariasi antara orang yang satu dengan orang yang lain. Dalam beberapa
kasus, bertahun-tahun sesudah kematian, masih ada sisa dari emosi tersebut. Selama
masa ini ada kemungkinan rasa marah ditujukan pada petugas kesehatan, orang
yang meninggal dan dirinya sendiri. Biasanya rasa bersalah seringkali muncul
selama penyembuhan, dan timbul dalam bentuk sindrom jika saja saya

Tahap-tahap atau fase-fase dari kehilangan ini didasarkan pada wawancara dengan
janda atau duda selama tahun pertama kehilangan yang mereka alami ini. Bagaimanapun
juga, tahapan ini tidak selalu dialami berututan atau dalam urutan yang sama. Ada masanya
bahwa kerinduan atau pining dirasakan bersamaan dengan putus asa dan depresi. Juga,
penyembuhan dapat berlangsung bertahap dan berduka terulang kembali jika ada kejadian
atau peringatan yang menjadi pencetusnya. Karena itu tahapan seharusnya hanya dilihat
sebagai gambaran jenis reaksi berduka yang dapat timbul setelah kehilangan dan bukan
merupakan urutan kejadian yang pasti yang harus dialami agar dapat mencapai
penyembuhan.9

4. Faktor Yang Mempengaruhi Respon Duka Cita10


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi setiap individu dalam merespon kehilangan.
Karakteristik personal termasuk usia, jenis kelamin, setatus sosial ekonomi, yang hilang,
karakteristik kehilangan, keyakinan kultural, dan spiritual, sistem pendukung, dan potensi
pencapaian tujuan mempengaruhi respon terhadap kehilangan.

Karakteristik Personal
Usia. Usia memainkan peran dalam pengenalan dan reaksi individu terhadap
kehilangan. Respon anak beragam sesuai dengan usia, pengalaman kehilangan
sebelumnya, hubungan dengan yang meninggal, kepribadian, persepsi tentang
kehilangan, makna tertentu dari kehilangan yang mereka miliki dan yang terpenting
respon keluarga mereka terhadap kehilangan. Meskipun anak-anak mungkin tidak
memahami konsep kematian karena usia mereka, mereka tetap mengembangkan persepsi
tentang apa makna kehilangan bagi mereka. Anak-anak mungkin merasa bersalah karena

tetap hidup, tetap sehat, atau mempunyai permintaan untuk kematian orang yang mereka
cintai.
Dewasa muda menghubungkan kehilangan signifikasinya terhadap status, peran, dan
gaya hidup. Kehilangan pekerjaan, perceraian dan kerusakan fisik menyebabkan duka cita
lebih mendalam dan mengancam keberhasilan. Konsep dewasa muda tentang kematian
sebagian besar merupakan produk dari keyakinan keagamaan dan kultural. Kematian
seorang dewasa muda terutama sekali dipandang sebagai hal yang tragis oleh masyarakat
karena kematian tersebut adalah kehilangan kehidupan seseorang yang disadari sebagai
suatu potensi. Kehilangan seseorang yang mempunyai hubungan dekat menyebabkan
ancaman bermakna terhadap gaya hidup. Setiap kehilangan pekerjaaan atau kemampuan
untuk melakukan pekerjaan menyebabkan duka cita yang sangat besar bagi orang dewasa.
Lansia mengalami kepenumpukan kedukaan akibat dari banyak perubahan. Lansia
sering takut tentang kejadian sekitar kematian melebihi kematian itu sendiri. Mereka
mungkin merasa kesepian, isolasi, kehilangan peran sosial, penyakit yang berkepanjangan
dan kehilangan determinasi diri dan jati diri sebagai sesuatu yang lebih buruk dari
kematian.
Peran jenis kelamin. Reaksi kehilangn dipengaruhi oleh harapan sosial tentang peran
pria dan wanita. Dalam banyak budaya di Amerika Serikat dan Kanada, umunya lebih
sulit bagi pria disbanding dengan wanita untuk mengespresikan dukacita secara terbuka.
Pria dan wanita melekatkan makna berbeda terhadap bagian tubuh, fungsi, hubungan
interpersonal, dan benda.
Pendidikan dan status sosioekonomi. Kehilangan adalah universal, dialami oleh
setiap orang apapun status ekonominya. Umumnya, kekurangan sumber finansial,

10

pendidikan atau keterampilan pekerjaan memperbesar tuntutan kepada pihak yang


mengalami duka cita.

Sifat Hubungan
Pepatah mengatakan bahwa kehilangan orang tua berarti kehilangan masa lalu,
kehilangan pasangan berati kehilangan masa kini dan kehilangan anak berarti kehilangan
masa depan. Literatur mendukung keyakinan bahwa kehilangan akan menciptakan respon
kehilangn yang paling dalam. Reaksi terhadap kehilangan di pengaruhi oleh kualitas
hubungan. Makna hubungan pada hubungan duka akan mempengaruhi respon duka cita,
apakah kehilangan tersebut akibat kematian, perpisahan atau bercerai. Hubungan yang
ditandai dengan ambivalen yang ekstrem lebih sulit untuk diselesaikan dibandingkan
hubungan yang normal.
Salah satu peristiwa yang paling memyulitkan dalam hidup adalah kehilangan
pasangan. Kehilangan pasangan dapat menyebabkan pasangannya menjadi kurang
terampil dalam menghadapi tangung jawab keseluruhan. Kehilangan pasangan juga
menimbulkan kesulitan bagi pasangan yang ditinggalkan untuk membina hubungan baru
atau untuk mempertahankan hubungan yang sebelumnya sudah terbina atau dibentuk
bersama.

Sistem Pendukung Sosial


Vasibilitas kehilangan, seperti kehilangan rumah akibat bencana alam, sering
memunculkan dukungan dari sumber yang tidak diperkirakan. Vasibilitas kehilangan,
seperti deformitas wajah, dapat menyebabkan kehilangan dukungan dari teman atau

11

keluarga sehinga menambah proses kehilangan tersebut. Seperti seorang anggota keluarga
yang dipenjara atau kematian pasangan gay-nya, sering mengalami kurang dukungan dari
teman atau keluarganya. Kurangnya dukungan biasanya menyebabkan kesulitan dalm
keberhasilan resolusi berduka
Ketepatan waktu dalam pemberian dukungan sangat penting. Dukungan harus tersedia
ketika klien yang berduka melalui proses berkabung. Berbagai pengalaman dengan
individu yang pernah berkabung dan pendukung bermanfaat sebagai dukungan yang
dibutuhkan. Namun, bahkan ketika hal ini di berikan, umunya klien yang berduka belum
dapat memanfaatkan kesempatan tersebut.

Keyakinan spiritual dan budaya


Nilai, sikap, keyakinan, dan kebiasaan adalah aspek kultural yang mempengaruhi
reaksi terhadap kehilangan, dukacita, dan kematian. Latar belakang budaya dan dinamika
keluarga mempengaruhi pengekspresian berduka. Seseorang mungkin akan menemukan
dukungan, ketenangan dan makna dalam kehilangan melalui keyakinan-keyakinan
spiritual. Bagi sebagian klien kehilangan menimbulkan pertanyaan tentang makna hidup,
nilai pribadi, dan keyakinan. Secara khas hal ini di tunjukan dengan responmengapa
saya? Konflik internal mengenai keyakinan keagamaan dapat juga terjadi.

5. Respon tenaga kesehatan terhadap orang yang berduka


Respon terhadap orang yang berduka antara lain:4
a. Menarik diri. Suatu periode menarik diri dapat bermanfaat jika periode ini
memampukan orang untuk mencerna informasi yang baru saja dan memberikan

12

mereka waktu untuk mengkaji perasaan mereka sendiri. Jika menarik diri diikuti oleh
rasa mengingkari yang besar, maka akan timbul kesulitan. Harus dijelaskan bahwa
masalah tidak akan pergi begitu saja dan masih ada masalah yang lain yang harus
diselesaikan. Seringkali, hadirnya seseorang adalah hal yang paling dibutuhkan oleh
orang yang kehilangan.
b. Mengingkari. Keterbukaan dan kejujuran yang dikomunikasikan dengan cara hati-hati
merpakan respon yang sesuai untuk mengingkari.
c. Kemarahan. Kemarahan dapat ditujukan ke tenaga kesehatan ataupun keluarga yang
kehilangan. Pada saat ini bukan waktu yang tepat untuk menganalisis masalah.
Daripada bereaksi terhadap kemarahan dengan cara supresif, lebih penting untuk
berempati dengan perasaan orang yang sedang mengalami kehilangan.
d. Isolasi. Isolasi merupakan perasaan dimana seseorang benar-benar merasa sendiri,
walaupun dikelilingi oleh banyak kerabat yang memperhatikan. Pada saat ini bukan
waktu yang tepat untuk menarik perhatian orang yang kehilangan, karena individu
sedang mencoba mengatasi sendiri perasaan kehilangannya. Megalihkan perhatian dari
keadaan ini tidak banyak manfaat.
e. Tawar-menawar. Respon ini muncul untuk mengatasi kematian. Penolakan untuk
melakukan tawar-menawar mungkin menimbulkan kemarahan.
f.

Respon yang tidak tepat. Kadang-kadang pemberitahuan tentang kematian sering


diterima dengan tawa. Hal ini mengakibatkan rasa bersalah dari orang yang kehilangan
dimana proses berduka belum diekspresikan dengan benar.

g. Rasa bersalah. Kadang-kadang rasa bersalah akan disampaikan ke tenaga kesehatan


untuk mendapat tanggapan. Pada saat ini, sebaiknya tidak memberi kesimpulan apapun

13

namun menyampaian bahwa pada dasarnya manusia memang mudah berbuat


kesalahan.
h. Menangis, terisak-isak dan tersedu-sedu. Masih ada sebagian orang yang menganggap
bahwa menangis merupakan tanda kelmahan, tapi sebenarnya menangis dapat
menghilangkan hambatan yang dirasakan.

6. Efek Berduka
Proses berduka membuat individu mengalami gejala berduka yaitu:6
-

Efek fisik yaitu letih, selera makan hilang, masalah tidur, kurang tenaga, berat badan
menurun/meningkat, nyeri kepala, pandangan kabur, sulit bernafas, palpitasi, gelisah.

Efek

emosional

dan

psikologis

yaitu

menyangkal,

rasa bersalah, marah,

benci/dendam, pahit/getir, depresi, sedih, merasa gagal, konsentrasi pada masalah,


gagal

menerima kenyataan,

terpaku pada kematian,

konfusi

waktu (time

confusion), iritabilitas (mudah tersinggung).


-

Efek sosial yaitu menarik diri dari aktivitas normal, isolasi (emosi dan fisik) dari
pasangan, keluarga dan teman-teman.

7. Penyesuaian Terhadap Duka Cita


Ada empat tugas duka cita yang memudahkan penyesuaian yang sehat terhadap
kehilangan. Tugas ini dirancang ke dalam akronimTEAR.10
T: To accept the reality of the loss. untuk menerima realitas dari kehilangan
E: Experience the pain of the loss. artinya Mengalami kepedihan akibat kehilangan

14

A: Adjust to the new environment without the lost person. Menyesuaikan lingkungan
yang tidak lagi mencakup orang, benda atau aspek diri yang hilang
R: Reinvest in the new reality. Memberdayakan kembali energy emosional kedalam
hubungan yang baru.
Tugas ini tidak terjadi pada urutan yang khusus. Pada kenyataanya orang yang berduka
mungkin melewati keempat tugas tersebut secara bersamaan atau hanya satu atau dua yang
menjadi prioritas.10

15

BAB III
KESIMPULAN
Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami
individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan,
atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan
Kehilangan dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu kehilangan aspek diri,
kehilangan objek eksternal, kehilangan lingkungan yang sudah dikenal, dan kehilangan orang
yang dicintai.
Duka cita adalah respon emosional yang dialami ketika merasa kehilangan. Berduka
merupakan istilah yang dapat digunakan pada setiap peristiwa kehilangan, mulai dari kematian
kerabat, kehilangan pekerjaan, perceraian atau bahkan kehilangan hewan peliharaan (Puri dkk,
2011). Kehilangan karena kematian adalah respon subjektif dari kehilangan orang yang
dicintai. Adapun tahap-tahap berduka yaitu denial (penolakan), anger (marah), Bergaining
(tawar-menawar), depresi, dan menerima.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi setiap individu dalam merespon kehilangan.
Karakteristik personal termasuk usia, jenis kelamin, setatus sosial ekonomi, yang hilang,
karakteristik kehilangan, keyakinan cultural, dan spiritual, system pendukung, dan potensi
pencapaian tujuan mempengaruhi respon terhadap kehilangan.
Penyesuaian terhadap duka cita yang memudahkan penyesuaian yang sehat terhadap
kehilangan, dirancang dalam akronimTEAR.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Potter, P.A & Perry, A.G (1997) Fundamental nursing: Concepts, Process, and
Practice, sixth edition. St. Louis : Mosby Year Book
2. Potter & Perry, 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4. Jakarta: EGC
3. Kozier, B., Erb, Berman, A.J & Snyder (2004). Fundamental Nursing: Concepts,
Process, and Practice. Seventh edition. New Jersey : Person Education, Inc
4. Puri, B.K., Laking, P.J., & Treasaden, I.H., 2011. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2. Jakarta:
EGC
5. Nanda. 2005. Panduan diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan Klasifikasi 20052006. Editor: Budi Sentosa. Jakarta: Prima Medika.
6. Bobak, L. 2005. Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta: EGC.
7. Kubler Ross, E. 1996. On death and dying. Routledge.
8. Rando TA. 1986. Loss and Anticipatory Grief. Lexington: Lexiton Mass
9. Niven, Neil. 2002. Psikologi Kesehatan: Pengantar Untuk Perawat & Profesional
Kesehatan Lain. Jakarta : EGC
10. Wardah dkk. 2014. Gangguan Pada Klien dengan Kehilangan. Stikes YPIB
Majalengka

17