Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit kronis adalah kondisi medis atau masalah kesehatan yang berkaitan
dengan gejala-gejala atau kecacatan yang membutuhkan penatalaksanaan medis
dan keperawatan dalam waktu jangka panjang. Salah satu penyakit yang
dikategorikan sebagai penyakit kronis adalah penyakit ginjal kronis. Penyakit
ginjal kronik (PGK) atau chronic kidney disease (CKD) adalah suatu proses
patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi
ginjal yang irreversibel dan progresif dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga
menyebabkan uremia (Black & Hawk, 2009; Smeltzer & Bare, 2008; Sudoyo dkk,
2006). Penurunan atau kegagalan fungsi ginjal berupa fungsi ekskresi, fungsi
pengaturan, dan fungsi hormonal dari ginjal.
WHO memperkirakan setiap 1 juta jiwa terdapat 23-30 orang yang mengalami
Gagal Ginjal Kronik per tahun. Kasus GGK di dunia meningkat per tahun lebih
50%. Jumlah pasien penderita penyakit ginjal di Indonesia diperkirakan 60.000
orang dengan pertambahan 4.400 pasien baru setiap tahunya (Wijaya, 2010).
Penatalaksanaan GGK di rumah sakit adalah dengan terapi hemodialisa, obat
obatan anti hipertensi, terapi cairan, terapi diit rendah protein dan tinggi
karbohidrat, pemberian tranfusi darah, dan transpaltasi ginjal. Saat ini, ada
peningkatan jumlah penderita gagal ginjal yang harus melakukan cuci darah yaitu
350 per juta penduduk. Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry, suatu
kegiatan registrasi dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia, pada tahun 2008
jumlah pasien hemodialisis (cuci darah) mencapai 2260 orang.
Perilaku yang sering terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa adalah
ketidakpatuhan terhadap regimen terapiutik ( Baraz et al, 2010; Mistiaen, 2001).
Ketidakpatuhan ditemukan pada semua aspek akan tetapi ketidakpatuhan terhadap
pembatasan intake cairan adalah aspek yang paling sulit dilakukan untuk sebagian
besar pasien (Mistiaen, 2001). Penelitian menunjukkan 33-50% pasien
hemodialysis tidak patuh terhadap pembatasan cairan. Hal ini dapat merusak

1|Page

efektivitas terapi sehingga mengakibatkan progresivitas penyakit yang tidak


terduga dan kemungkinan akan memperbesar terjadinya komplikasi.
Komplikasi

dari

ketidakpatuhan

terhadap

pembatasan

cairan

dapat

mengakibatkan penambahan berat badan di antara dua waktu hemodialisis


(Interdialytic weight gain = IDWG) yang disebabkan oleh ketidakmampuan
fungsi ekskresi ginjal, sehingga berapapun jumlah cairan yang diasup pasien,
penambahan berat badan akan selalu ada. Penambahan nilai IDWG yang terlalu
tinggi akan dapat menimbulkan efek negatif terhadap keadaan pasien, diantaranya
hipotensi, kram otot, hipertensi, sesak nafas, mual dan muntah, dan lainnya
(Brunner and Suddarth, 2005). Bahkan sumber data dari United States Renal Data
System (USRDS) menunjukkan peningkatan kematian dengan penambahan berat
badan diantara dua waktu hemodialisis lebih dari 4,8% berat badan (Foley,
Herzog, & Collins, 2002). Peningkatan berat badan yang ideal diantara dua waktu
hemodialisis adalah 1,5 kg (Kimmel et al, 2000).
Beberapa

penelitian

menyebutkan

factor-faktor

yang

mempengaruhi

kepatuhan yaitu tingkat pengetahuan pasien, pendidikan, keterlibatan perawat,


keterlibatan keluarga pasien, konsep diri, dan efikasi diri. Kepatuhan dalam
pembatasan intake cairan diukur dengan menggunakan rata-rata berat badan yang
didapat diantara waktu dialysis atau interdialityc weight gain ( Tsay, 2003).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan asupan cairan
pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis?
2. Bagaimanakah konsep Interdialytic Weight Gain (IDWG) pada pasien
gagal ginjal kronik dengan hemodialisis?
1.3 Tujuan
1. Untuk memberikan wawasan serta pengetahuan yang luas tentang faktorfaktor yang mempengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien gagal
ginjal kronik dengan hemodialisis
2. Untuk memberikan wawasan dan pengetahuan tentang Interdialytic
Weight Gain (IDWG) pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis

2|Page

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui dan mengerti tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik
dengan hemodialisis
2. Mahasiswa mengetahui dan mengerti tentang Interdialytic Weight Gain
(IDWG) pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis

3|Page

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan
fungsi ginjal yang ireversibel pada suatu saat yang memerlukan terapi pengganti
ginjal yang tetap berupa dialisis atau transplantasi ginjal. (Suwitra K., 2006)
Gagal ginjal kronis adalah kerusakan pada ginjal yang terus berlangsung dan
tidak dapat diperbaiki, ini disebabkan oleh sejumlah kondisi dan akan
menimbulkan gangguan multisystem. (Reeves Chalene, 2001)
Gagal ginjal kronis atau penyakit ginjal tahap akhir (ERSD) adalah
penyimpangan, progresis, fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana
kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan metabolik, cairan dan
elektrolit mengalami kegagalan yang mengakibatkan uremia. (Baughman Diane
C, 2002)
2.2 Etiologi
Dari data yang sampai saat ini dapat dikumpulkan oleh Indonesian Renal
Registry (IRR) pada tahun 2007-2008 didapatkan urutan etiologi terbanyak
sebagai berikut glomerulonefritis (25%), diabetes melitus (23%), hipertensi (20%)
dan ginjal polikistik (10%) (Roesli, 2008).
a) Glomerulonefritis
Istilah glomerulonefritis digunakan untuk berbagai penyakit ginjal yang
etiologinya tidak jelas, akan tetapi secara umum memberikan gambaran
histopatologi tertentu pada glomerulus (Markum, 1998). Berdasarkan sumber
terjadinya kelainan, glomerulonefritis dibedakan primer dan sekunder.
Glomerulonefritis primer apabila penyakit dasarnya berasal dari ginjal sendiri
sedangkan glomerulonefritis sekunder apabila kelainan ginjal terjadi akibat
penyakit sistemik lain seperti diabetes melitus, lupus eritematosus sistemik
(LES), mieloma multipel, atau amiloidosis (Prodjosudjadi, 2006). Gambaran
klinik glomerulonefritis mungkin tanpa keluhan dan ditemukan secara
kebetulan dari pemeriksaan urin rutin atau keluhan ringan atau keadaan

4|Page

darurat medik yang harus memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis
(Sukandar, 2006).
b) Diabetes melitus
Menurut American Diabetes Association (2003) dalam Soegondo (2005)
diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. Diabetes melitus sering disebut sebagai the great
imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan
menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat bervariasi.
Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak
menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak,
buang air kecil lebih sering ataupun berat badan yang menurun. Gejala
tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang
tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya (Waspadji,
1996)
c) Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah
diastolik 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat antihipertensi
(Mansjoer, 2001). Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua
golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya atau idiopatik, dan hipertensi sekunder atau disebut juga
hipertensi renal (Sidabutar, 1998).
d) Ginjal polikistik
Kista adalah suatu rongga yang berdinding epitel dan berisi cairan atau
material yang semisolid. Polikistik berarti banyak kista. Pada keadaan ini
dapat ditemukan kista-kista yang tersebar di kedua ginjal, baik di korteks
maupun di medula. Selain oleh karena kelainan genetik, kista dapat
disebabkan oleh berbagai keadaan atau penyakit. Jadi ginjal polikistik
merupakan kelainan genetik yang paling sering didapatkan. Nama lain yang
lebih dahulu dipakai adalah penyakit ginjal polikistik dewasa (adult
polycystic kidney disease), oleh karena sebagian besar baru bermanifestasi

5|Page

pada usia di atas 30 tahun. Ternyata kelainan ini dapat ditemukan pada fetus,
bayi dan anak kecil, sehingga istilah dominan autosomal lebih tepat dipakai
daripada istilah penyakit ginjal polikistik dewasa. (Suhardjono, 1998)
Faktor Risiko
Faktor risiko gagal ginjal kronik, yaitu pada pasien dengan diabetes
melitus atau hipertensi, obesitas atau perokok, berumur lebih dari 50 tahun,
dan individu dengan riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan
penyakit ginjal dalam keluarga (National Kidney Foundation, 2009).
2.3 Manifestasi Klinis
Gambaran klinik
Gambaran klinik gagal ginjal kronik berat disertai sindrom azotemia
sangat kompleks, meliputi kelainan-kelainan berbagai organ seperti: kelainan
hemopoeisis,

saluran

cerna,

mata,

kulit,

selaput

serosa,

kelainan

neuropsikiatri dan kelainan kardiovaskular. (Sukandar, 2006)


1. Kelainan hemopoeisis
Anemia normokrom normositer dan normositer (MCV 78-94 CU),
sering ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik. Anemia yang
terjadi sangat bervariasi bila ureum darah lebih dari 100 mg% atau
bersihan kreatinin kurang dari 25 ml per menit.
2. Kelainan saluran cerna
Mual dan muntah sering merupakan keluhan utama dari sebagian
pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal.
Patogenesis mual dam muntah masih belum jelas, diduga
mempunyai hubungan dengan dekompresi oleh flora usus sehingga
terbentuk amonia. Amonia inilah yang menyebabkan iritasi atau
rangsangan mukosa lambung dan usus halus. Keluhan-keluhan
saluran cerna ini akan segera mereda atau hilang setelah pembatasan
diet protein dan antibiotika.
3. Kelainan mata
Visus hilang (azotemia amaurosis) hanya dijumpai pada sebagian
kecil pasien gagal ginjal kronik. Gangguan visus cepat hilang
setelah beberapa hari mendapat pengobatan gagal ginjal kronik yang

6|Page

adekuat, misalnya hemodialisis. Kelainan saraf mata menimbulkan


gejala nistagmus, miosis dan pupil asimetris. Kelainan retina
(retinopati) mungkin disebabkan hipertensi maupun anemia yang
sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik. Penimbunan atau
deposit garam kalsium pada conjunctiva menyebabkan gejala red
eye syndrome akibat iritasi dan hipervaskularisasi. Keratopati
mungkin juga dijumpai pada beberapa pasien gagal ginjal kronik
akibat penyulit hiperparatiroidisme sekunder atau tersier.
4. Kelainan kulit
Gatal sering mengganggu pasien, patogenesisnya masih belum jelas
dan diduga berhubungan dengan hiperparatiroidisme sekunder.
Keluhan

gatal

ini

akan

segera

hilang

setelah

tindakan

paratiroidektomi. Kulit biasanya kering dan bersisik, tidak jarang


dijumpai timbunan kristal urea pada kulit muka dan dinamakan urea
frost
5. Kelainan selaput serosa
Kelainan selaput serosa seperti pleuritis dan perikarditis sering
dijumpai pada gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal.
Kelainan selaput serosa merupakan salah satu indikasi mutlak untuk
segera dilakukan dialisis.
6. Kelainan neuropsikiatri
Beberapa kelainan mental ringan seperti emosi labil, dilusi,
insomnia, dan depresi sering dijumpai pada pasien gagal ginjal
kronik. Kelainan mental berat seperti konfusi, dilusi, dan tidak
jarang dengan gejala psikosis juga sering dijumpai pada pasien
GGK. Kelainan mental ringan atau berat ini sering dijumpai pada
pasien dengan atau tanpa hemodialisis, dan tergantung dari dasar
kepribadiannya (personalitas).
7. Kelainan kardiovaskular
Patogenesis gagal jantung kongestif (GJK) pada gagal ginjal kronik
sangat kompleks. Beberapa faktor seperti anemia, hipertensi,
aterosklerosis, kalsifikasi sistem vaskular, sering dijumpai pada
pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal dan dapat
menyebabkan kegagalan faal jantung.

7|Page

Gambaran Laboratorium
Gambaran laboratorium penyakit ginjal kronik meliputi:
a. Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya
b. Penurunan fungsi ginjal berupa peningkatan kadar ureum dan
kreatinin serum, dan penurunan LFG yang dihitung mempergunakan
rumus Kockcroft-Gault. Kadar kreatinin serum saja tidak bisa
dipergunakan untuk memperkirakan fungsi ginjal.
c. Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan kadar hemoglobin,
peningkatan kadar asam urat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia,
hiper atau hipokloremia, hiperfosfatemia, hipokalemia, asidosis
metabolic
d. Kelainan urinalisis meliputi proteinuria, hematuri, leukosuria

Gambaran Radiologis
Pemeriksaan radiologis penyakit GGK meliputi:
a. Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio-opak
b. Pielografi intravena jarang dikerjakan karena kontras sering tidak
bisa melewati filter glomerulus, di samping kekhawatiran terjadinya
pengaruh toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah mengalami
kerusakan
c. Pielografi antegrad atau retrograd dilakukan sesuai indikasi
d. Ultrasonografi ginjal bisa memperlihatkan ukuran ginjal yang
mengecil, korteks yang menipis, adanya hidronefrosis atau batu
ginjal, kista, massa, kalsifikasi.
e.

Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi dikerjakan bila ada


indikasi.

2.4 Patofisiologi
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus
dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh).
Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang
meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya
saring.Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai dari

8|Page

nefronnefron rusak.Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada
yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.
Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri
timbul disertai retensi produk sisa.Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada
pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila
kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80%-90%.Pada tingkat ini fungsi renal yang
demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu.
(Barbara C Long, 1996, 368).
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya
diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah.Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah
maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis.
(Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).
Grade gagal ginjal kronik dapat dibagi menjadi 5 yaitu:
1. Kerusakan ginjal ( ditemukan protein dalam urin ) dengan GFR normal
2. Kerusakan ginjal dan adanya penururnan GFR yang sedikit
3. Kerusakan ginjal dan adanya penurunan GFR yang moderat
4. Kerusakan ginjal dan adanya penurunan GFR yang parah
5. Gagal ginjal terminal
2.5 Klasifikasi
Klasifikasi penyakit ginjal kronik didasarkan atas dua hal yaitu atas dasar
derajat (stage) penyakit dan dasar diagnosis etiologi. Klasifikasi atas dasar derajat
penyakit dibuat atas dasar LFG yang dihitung dengan mempergunakan rumus
Kockcorft-Gault sebagai berikut: LFG (ml/menit/1,73m) = (140-umur)x berat
badan / 72x kreatinin plasma (mg/dl)*) *) pada perempuan dikalikan 0,85/
Klasifikasi tersebut tampak pada tabel 1
Tabel 1. Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Derajat Penyakit
Derajat
1
2

Penjelasan

LFG(ml/mnt/1,73m)

Kerusakan ginjal dengan LFG normal


atau
Kerusakan

ginjal

dengan

LFG

> 90
60-89

9|Page

ringan
Kerusakan

ginjal

dengan

LFG

30-59

sedang

Kerusakan ginjal dengan LFG berat

Gagal ginjal

15- 29
< 15 atau dialisis

2.6 Penatalaksanaan
Perencanaan tatalaksana (action plan) penyakit GGK sesuai dengan
derajatnya, dapat dilihat pada tabel 2. (Suwitra K. 2006)
Tabel 2. Rencana Tatalaksanaan Penyakit GGK sesuai dengan derajatnya
Derajat
LFG(ml/mnt/1,73m)
Rencana Tatalaksana
terapi penyakit dasar, kondisi komorbid,
1

> 90

60-89

3
4
5

30-59
15-29
<15

evaluasi
fungsi

pemburukan
ginjal,

(progession)

memperkecil

resiko

kardiovaskuler
menghambat pemburukan (progession)
fungsi ginjal
evaluasi dan terapi komplikasi
persiapan untuk terapi pengganti ginjal
terapi pengganti ginjal

a. Terapi konservatif
Tujuan dari terapi konservatif adalah mencegah memburuknya faal ginjal
secara progresif, meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin
azotemia, memperbaiki metabolisme secara optimal dan memelihara
keseimbangan cairan dan elektrolit (Sukandar, 2006).
1) Pengaturan asupan protein: (Suwitra K. 2006)
Tabel 3. Pembatasan Asupan Protein pada Penyakit GGK
LFG ml/menit
Asupan protein g/kg/hari
>60
tidak dianjurkan
25-60
0,6-0,8 g/kg/hari
0,6-0,8 g/kg/hari atau tambahan 0,3 g asam amino
5-25
esensial atau asam keton
0,8 g/kg/hari(=1 gr protein /g proteinuria atau 0,3
<60 (sindrom nefrotik)
g/kg tambahan asam amino esensial atau asam keton.

10 | P a g e

2) Pengaturan asupan kalori: 35 kal/kgBB ideal/hari


3) Pengaturan asupan lemak: 30-40% dari kalori total dan mengandung
jumlah yang sama antara asam lemak bebas jenuh dan tidak jenuh
4) Pengaturan asupan karbohidrat: 50-60% dari kalori total
5) Garam (NaCl): 2-3 gram/hari
6) Kalium: 40-70 mEq/kgBB/hari
7) Fosfor:5-10 mg/kgBB/hari. Pasien HD :17 mg/hari
8) Kalsium: 1400-1600 mg/hari
9) Besi: 10-18mg/hari
10) Magnesium: 200-300 mg/hari
11) Asam folat pasien HD: 5mg
12) Air: jumlah urin 24 jam + 500ml (insensible water loss) . (Tierney
LM. 2003)
b. Terapi Farmakologis: (Brenner BM, Lazarus JM. 2000)
1) Kontrol tekanan darah
a) Penghambat EKA atau antagonis reseptor Angiotensin II
evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan
kreatinin > 35% atau timbul hiperkalemia harus dihentikan.
b) Penghambat kalsium
c) Diuretik
2) Pada pasien DM, kontrol gula darah hindari pemakaian
metformin dan obat-obat sulfonilurea dengan masa kerja panjang.
Target HbA1C untuk DM tipe 1 0,2 diatas nilai normal tertinggi,
untuk DM tipe 2 adalah 6%
3) Koreksi anemia dengan target Hb 10-12 g/dl
4) Kontrol hiperfosfatemia: polimer kationik (Renagel), Kalsitrol
5) Koreksi asidosis metabolik dengan target HCO3 20-22 mEq/l
6) Koreksi hyperkalemia
7) Kontrol dislipidemia dengan target LDL,100 mg/dl dianjurkan
golongan statin
8) Terapi ginjal pengganti, Terapi pengganti ginjal dilakukan pada
penyakit ginjal kronik stadium 5, yaitu pada LFG kurang dari 15

11 | P a g e

ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa hemodialisis, dialisis


peritoneal, dan transplantasi ginjal (Suwitra, 2006).
c) Hemodialisis
Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala
toksik azotemia, dan malnutrisi. Tetapi terapi dialisis tidak boleh terlalu cepat
pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan memperburuk faal ginjal
(LFG).
Indikasi tindakan terapi dialisis, yaitu indikasi absolut dan indikasi
elektif. Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut, yaitu perikarditis,
ensefalopati/neuropati azotemik, bendungan paru dan kelebihan cairan yang
tidak responsif dengan diuretik, hipertensi refrakter, muntah persisten, dan
Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% dan kreatinin > 10 mg%. Indikasi
elektif, yaitu LFG antara 5 dan 8 mL/menit/1,73m, mual, anoreksia, muntah,
dan astenia berat (Sukandar, 2006).
Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai sekarang
telah dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Umumnya dipergunakan
ginjal buatan yang kompartemen darahnya adalah kapiler-kapiler selaput
semipermiabel (hollow fibre kidney). Kualitas hidup yang diperoleh cukup
baik dan panjang umur yang tertinggi sampai sekarang 14 tahun. Kendala
yang ada adalah biaya yang mahal (Rahardjo, 2006).
d) Dialisis peritoneal (DP)
Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory Peritoneal
Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia. Indikasi
medik CAPD, yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65
tahun), pasien-pasien yang telah menderita penyakit sistem kardiovaskular,
pasien-pasien yang cenderung akan mengalami perdarahan bila dilakukan
hemodialisis, kesulitan pembuatan AV shunting, pasien dengan stroke, pasien
GGT (gagal ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup, dan pasien
nefropati diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality. Indikasi non-medik,
yaitu keinginan pasien sendiri, tingkat intelektual tinggi untuk melakukan
sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal (Sukandar, 2006).

12 | P a g e

e) Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan
faal). Pertimbangan program transplantasi ginjal, yaitu:

Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh


(100%) faal ginjal, sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih 7080% faal ginjal alamiah

Kualitas hidup normal kembali

Masa hidup (survival rate) lebih lama

Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan


dengan obat imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan

Biaya lebih murah dan dapat dibatasi

2.8 Komplikasi
Komplikasi penyakit gagal ginjal kronik menurut Smletzer dan Bare (2001)
yaitu:
1. Hiperkalemia akibat penurunan eksresi, asidosis metabolic, katabolisme
dan masukan diet berlebihan.
2. Perikarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung akibat retensi
produk sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system
rennin-angiostensin-aldosteron.
4. Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah
merah, perdarahan gastrointestinalakibat iritasi oleh toksin dan
kehilangan darah selama hemodialisis.
5. Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat retensi fosfat, kadar
kalsium serum yang rendah, metabolism vitamin D abnormal dan
peningkatan kadar alumunium.

13 | P a g e

1. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Asupan Cairan


Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis Di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto
Pada pasien GGK yang menjalani HD rutin sering mengalami kelebihan
volume cairan dalam tubuh, hal ini disebabkan penurunan fungsi ginjal dalam
mengekresikan cairan. Meskipun pasien GGK pada awal menjalani HD sudah
diberikan penyuluhan kesehatan untuk mengurangi asupan cairan selama sehari,
akan tetapi pada terapi HD berikutnya masih sering terjadi pasien datang dengan
keluhan sesak napas akibat kelebihan volume cairan tubuh yaitu kenaikan
melebihi dari 5 % dari berat badan kering pasien (Kresnawan, T, 2001). Faktor
14 | P a g e

dominan yang mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan belum


diketahui dengan pasti, hal ini dipengaruhi oleh multi faktor yang berperan
penting.
Yang menjadi subjek pada penelitian adalah penderita GGK yang menjalani
terapi hemodialisis. Total responden sebanyak 51 orang dengan menggunakan
total sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor
karakteristik pasien yang mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan
cairan dan factor keterlibatan orang lain yang mempengaruhi kepatuhan dalam
mengurangi asupan cairan pada penderita gagal ginjal kronnik yang menjalani
hemodialisis di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian ini
merupakan jenis penelitian non eksperimen dengan metode deskriptif analitik
dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data selain menggunakan
instrumen kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden, peneliti juga
menggunakan lembar angket untuk menganalisa kepatuhan dalam mengurangi
asupan cairan selama 3 hari berturut-turut yaitu dengan menghitung BB post
hemodialisis dengan BB pre hemodialisis berikutnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari 51 responden didapatkan 67,3%
penderita yang patuh dan 32,7% penderita yang tidak patuh dalam mengurangi
asupan cairan pada RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, (2) faktor usia,
panjang hemodialisis, pendidikan, keterlibatan perawat, keterlibatan keluarga
pasien, konsep diri, tingkat pengetahuan, masing-masing memiliki tingkat
signifikan di, p = 0,100, 0,074, 0,000, 0,000, 0,000, 0,016 dan 0.001. (3) Ada lima
faktor (pendidikan, keterlibatan perawat, keterlibatan keluarga pasien, konsep diri,
dan tingkat pengetahuan) yang memiliki hubungan signifikan terhadap kepatuhan
dalam asupan cairan. Sementara itu, ada dua faktor yang tidak signifikan terhadap
kepatuhan asupan cairan yaitu usia dan panjang f hemodialisis.

2. Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap, Dan Dukungan Keluarga


Terhadap Kepatuhan Diet Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalankan
Hemodialisa
Diet merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penatalaksanaan
pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Beberapa sumber diet yang dianjurkan
15 | P a g e

seperti karbohidrat, protein, kalsium, vitamin dan mineral, cairan, dan lemak
(Almatsier, 2006).
Pasien GGK harus memiliki pengetahuan tentang penatalaksanaan diet
maupun asupan cairan yang dikonsumsi. Apabila mereka tidak memiliki
pengetahuan maka akan dapat mengakibatkan kenaikan berat badan yang cepat
melebihi 5%, edema, ronkhi basah dalam paru-paru, kelopak mata yang bengkak
dan sesak nafas (Smeltzer & Bare, 2002).
Kepatuhan berarti pasien harus meluangkan waktu dalam menjalani
pengobatan yang dibutuhkan seperti dalam pengaturan diet maupun cairan (Potter
& Perry, 2006). Hal ini dapat melibatkan dukungan keluarga. Friedman (2003)
menyatakan dukungan keluarga adalah upaya yang diberikan kepada orang lain,
baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan
kegiatan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubugan tingkat pengetahuan,
sikap dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan diet pasien gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisa. Metodologi dalam penelitian ini adalah deskriptif
korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 36
responden yang melakukan hemodialisa di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Alat ukur yang
digunakan dalam bentuk kuesioner, mengenai pengetahuan tentang GGK dan diet
GGK, sikap, dan dukungan keluarga dan kemudian untuk melihat kepatuhan
pasien tentang diet GGK peneliti menimbang berat badan pasien sebelum
menjalani terapi hemodialisa kemudian dibandingkan dengan berat badan setelah
terapi hemodialisa sebelumnya. Penelitian ini dilakukan analisa univariat dan
bivariat dengan uji statistik Chi Square dengan uji alternative fisher untuk
mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga terhadap
kepatuhan diet pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada hubungan antara tingkat
pengetahuan dan sikap terhadap kepatuhan diet pasien gagal ginjal kronis yang
menjalani hemodialisa dengan nilai p (0,026) < (0,05) dan (0039) < (0,05). (2)
tidak ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap kepatuhan diet pasien
gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa dengan nilai p (0243) > (0,05).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka diharapkan bagi RSUD Arifin Achmad
Pekanbaru, khususnya perawat diruangan hemodialisa diharapkan lebih aktif lagi
16 | P a g e

dalam memberikan bimbingan atau penyuluhan kesehatan tentang asupan diet


gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa untuk menghindari kenaikan berat
badan, edema, dan sesak napas.

3. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Diet Pada Pasien


Gagal Ginjal Kronik Di Irina C2 dan C4 RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado
Kepatuhan

diet

pada

pasien

gagal

ginjal

kronik

merupakan

satu

penatalaksanaan untuk mempertahankan fungsi ginjal secara terus menerus


dengan prinsip diet yaitu rendah protein, rendah garam, dan rendah kalium
(Instalasi Gizi RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou). Dukungan keluarga merupakan
faktor yang berpengaruh dalam penentuan program pengobatan pasien. Penelitian
dengan judul kepatuhan pasien gagal ginjal kronis dalam melakukan diet ditinjau
dari dukungan sosial keluarga menunjukan ada hubungan positif yang signifikan
antara dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan pasien gagal ginjal kronis
dalam melakukan diet (Yulinda S, 2014).
Tujuan penelitian ini untuk menganalisa hubungan dukungan keluarga dengan
kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal kronik di Irina C2 dan C4 RSUP. Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado. Metode penelitian yang digunakan yaitu analitik dengan
menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada
penelitian yaitu purposive sampling dengan jumlah 52 sampel. Instrumen
penelitian yang digunakan berupa kuisioner yang teridiri dari kuisioner dukungan
keluarga dengan 14 pertanyaan dan kuisioner kepatuhan diet dengan 9 pertanyaan,
data diolah menggunakan bantuan komputer SPSS untuk dianalisis dengan uji
chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% ( = 0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga baik (84,6%) dengan
patuh (93,2%) dan tidak patuh (6,8%) dan dukungan kurang (15,4%) dengan tidak
patuh (62,5%) dan patuh (37,5%) dan didapatkan nilai p = 0,001. Ini berarti
bahwa nilai p lebih kecil dari = 0.05. Kesimpulan ini menunjukan bahwa ada
hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal
kronik di Irina C2 dan C4 RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

17 | P a g e

4. Efektivitas Training Efikasi Diri Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik


Dalam Meningkatkan Kepatuhan Terhadap Intake Cairan
Masalah umum yang banyak dialami oleh pasien yang menjalani hemodialisis
adalah ketidakpatuhan terhadap regimen terapiutik. Ketidakpatuhan ditemukan
pada semua aspek, akan tetapi ketidakpatuhan terhadap pembatasan intake cairan
adalah aspek yang paling sulit untuk sebagian besar pasien. Hal ini dapat merusak
efektivitas terapi sehingga mengakibatkan progresivitas penyakit yang tidak
terduga dan kemungkinan akan memperbesar terjadinya komplikasi. Beberapa
penelitian menyebutkan factor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan yaitu
pengetahuan pasien, dukungan social, dan efikasi diri. Efikasi diri adalah
keyakinan seseorang akan keberhasilan dalam melakukan perawatan diri untuk
mencapai hasil yang diinginkan. Seseorang dengan peningkatan persepsi dalam
aktivitas perawatan diri akan lebih mudah berpartisipasi dalam aktivitas perawatan
diri sehingga akan meningkatkan kepatuhan terhadap regimen terapeutik.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas training efikasi diri
dalam meningkatkan kepatuhan terhadap intake cairan. Responden dalam
penelitian ini adalah pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis
dengan criteria mempunyai riwayat ketidakpatuhan terhadap intake cairan, IDWG
4%, tidak mengalami sakit akut, dapat makan dan berjalan tanpa bantuan, umur
minimal 18 tahun, menjalani hemodialisis 2 kali dalam seminggu, bersedia
menjadi responden dan tidak mengalami gangguan kognitif dan psikologi, dengan
jumlah responden sebanyak 10 orang. Metode penelitian adalah merupakan
penelitian experimen, menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan
pretest-posttets. Analisis statistik menggunakan t test.
Hasil penelitian menunjukkan nilai p adalah 0,008 ( < 0,05) sehingga dapat
disimpulkan bahwa training efikasi diri efektif untuk meningkatkan kepatuhan
terhadap intake cairan yang dimanifestasikan dengan penurunan rata-rata IDWG
pada pasien penyakit ginjal kronik.

5. Efektifitas Konseling Analisis Transaksional Tentang Diet Cairan


Terhadap Penurunan Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pasien Gagal Ginjal
18 | P a g e

Kronis Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Umum Daerah


Kardinah
Pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisa
merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena asupan cairan yang
berlebihan dapat mengakibatkan kenaikan berat badan yang cepat (melebihi 5%),
edema, ronkhi basah dalam paru-paru, kelopak mata yang bengkak dan sesak
napas yang diakibatkan oleh volume cairan yang berlebihan dan gejala uremik
(Smeltzer & Bare, 2002).
Meskipun pasien sudah mengerti bahwa kegagalan dalam pembatasan cairan
dapat berakibat fatal, namun sekitar 50% pasien yang menjalani terapi
hemodialisis tidak mematuhi pembatasan cairan yang direkomendasikan (Barnett,
Li, Pinikahana & Si, 2007). Edukasi yang diberikan kepada pasien hemodialisis,
belum memberikan dampak yang maksimal, seperti yang di kemukakan oleh
Baraz, Mohammadi & Braumand, (2009), sehingga perlu mendapatkan edukasi
yang memadai dan konseling secara rutin dan berkelanjutan. Konseling untuk
pasien hemodialisa masih jarang dilakukan di rumah sakit.
Konseling dengan pendekatan analisis transaktional merupakan pendekatan
behavioral-kognitif yang berasumsi setiap pribadi memiliki potensi untuk memilih
dan mengarahkan ulang atau membentuk ulang nasibnya sendiri. Teori ini lebih
menitikberatkan pada komunikasi yang efisien kepada pasien sehingga membantu
pasien mengevaluasi setiap keputusannya dalam membuat keputusan baru yang
lebih tepat (Lawrence, 2007). Konseling analisis transaktional perlu diterapkan
pada konsep keperawatan untuk pasien-pasien yang mengalami penyakit kronis,
seperti diabetes melitus, dan gagal ginjal dengan dialisis. Kondisi pasien dengan
penyakit kronis sering mengalami keputusasaan dalam pengobatan, sehingga
potensial terjadinya ketidakpatuhan dalam program yang dianjurkan. Oleh sebab
itu, pemberian konseling kepada pasien diharapkan pasien lebih teratur dalam
menjalani diet cairan yang mana sebagai indikasi peningkatan ataupun penurunan
Interdialytic Weight Gain klien. Dengan diminimalisir bahkan ditiadakannya
peningkatan Interdialytic Weight Gain yang berlebihan pada pasien, akan
terhindar dari komplikasi yang dapat ditimbulkan sehingga dapat memperpanjang
umur harapan hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisa.
19 | P a g e

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas konseling


analisis transaksional tentang diet cairan terhadap penurunan Interdialytic Weight
Gain (IDWG) Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa Di
Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah. Penelitian ini menggunakan kuantitatif
dengan menggunakan desain pre-test and post-test with control group design
(Quasi Eksperiment with control). Responden dari penelitian ini adalah 24 pasien.
Analisis univariat dan bivariat menggunakan statistik uji t-test dan ANNOVA.
Adanya perbedaan terhadap penurunan Interdialytic Weight Gain (p = 0,003,_=
< 0,05) pada kelompok intervensi. Perbedaan penurunan nilai rata-rata
Interdialytic Weight Gain pada kelompok intervensi sebelum perlakuan adalah
2,65. Dari hasil analisis didapatkan P value 0,003 = < 0,05 maka dapat
disimpulkan adanya perbedaan yang signifikan antara penurunan Interdialyitic
Weight Gain sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Rata-rata penurunan
Interdialytic Weight Gain pada kelompok control Pre test didapatkan 2,466
sedangkan nilai rata-rata pada Post test didapatkan 2,666. Hasil P value adalah P =
0,09, > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan penurunan Interdialytic Weight Gain antara pengukuran pertama (pre
test) dan pengukuran kedua (post test) pada kelompok kontrol. Oleh karena itu,
perawat disarankan untuk menerapkan konseling analisis transaksional untuk
mengantisipasi peningkatan Interdialytic Weight Gain.

6. Pengaruh Hypnotherapy Terhadap Kepatuhan Diit Cairan Pada Pasien


GagalGinjal Kronis Rawat Jalan DiInstalasi Hemodialisa RS PKU
Muhammadiyah Gombong
Penatalaksanaan Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) di rumah sakit adalah
dengan terapi hemodialisa, obat obatan anti hipertensi, terapi cairan, terapi diit
rendah protein dan tinggi karbohidrat, pemberian tranfusi darah, dan transpaltasi
ginjal. Namun, perilaku yang sering terjadi pada pasien yang menjalani
hemodialisa adalah ketidakpatuhan terhadap modifikasi diet, pengobatan, uji
diagnostik, dan pembatasan asupan (Wijaya, 2010).
Pengobatan dan terapi sangat di perlukan bagi kesembuhan penderita GGK.
20 | P a g e

Selain terapi dan pengobatan medis, pendekatan proses keperawatan secara


holistik, bio psiko sosial dan kultural diperlukan dalam penetalaksanaan pasien
GGK. Ada alternative pengobatan secara biopsikososial dengan metode
hypnotherapy. Hypnotherapy adalah salah satu metode untuk mengirim keyakinan
kepada pasien. Metode ini dapat digunakan untuk pasien yang tidak memiliki
disiplin dalam melakukan diet cairan. Tahun 1955, British Medical Association
(sekarang disebut BHA atau British Hypnotherapy Association) mengesahkan
hypnotherapy sebagai valid medical treatment. Tahun 1958, American Medical
Association (AMA) mensupport hypnotherapy untuk keperluan medis.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh metode hipnoterapi
terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal kronis di Instalasi
Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah eksperimental semu (quasy experimental). Dengan non
equivalen control group (control group dan experimental) dengan satu kali post
test. Dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Sampel yang
di ambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 10 responden untuk masing-masing
kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Teknik analisa univariat digunakan
untuk menyajikan semua variabel dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.
Teknik analisa bivariat dengan menggunakan uji non parametrik yaitu uji paired
sample t-test dengan = 0.05.
Hasil

penelitian

menunjukkan

bahwa

tidak

ada

pengaruh

metode

hypnotherapy terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien GGK, dan tidak ada
perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi
mengenai pengaruh hypnotherapi terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien GGK
rawat jalan di RS PKU Muhammadiyah Gombong dengan t-hitung 0,811 (P =
0,000).

7. Manajemen Cairan pada Pasien Hemodylisis Meningkatkan Kualitas


Hidup
Pasien gagal ginjal kronik memerlukan terapi pengganti ginjal seumur hidup.
Salah satu terapi pengganti ginjal adalah hemodialisa. Pasien yang menjalani
hemodialisa akan mengalami penurunan kualitas hidup. Kualitas hidup pasien
21 | P a g e

hemodialisa berfluktuasi, karena dipengaruhi oleh kesehatan fisik, psikologis,


tingkat kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan pribadi, dan hubungan mereka
dengan lingkungan. Manajemen cairan membantu pasien beradapatsi dengan
perubahan status kesehatan dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan kualitas hidup
akibat penggunaan manajemen cairan pada pasien hemodialisis, menganalisis
indikator fisik kualitas hidup dan perbedaan peningkatan kualitas hidup pada
pasien yang diberikan manajemen cairan dan yang tidak diberikan manajemen
cairan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen dengan
pendekatan pre tes post tes dengan kontrol. Sampel yang diambil 11 orang yang
dibagi menjadi kelompok intervensi 6 orang dan kelompok kontrol 5 orang yang
ditentukan secara random. Penelitian ini menggunakan total sampling dengan
kriteria inklusi sebagai berikut: bersedia menjadi responden dan bisa membaca
dan menulis, usia pasien 20-60 tahun, pasien yang menjalani hemodialisis 3-4
kali, pasien menjalani hemodialisa 9-12 jam/minggu. Kriteria eksklusi: pasien
gagal ginjal yang tidak dapat diwawancarai, pasien gagal ginjal yang mempunyai
penyakit penyerta (Infark myokard, hepatitis, HIV AIDS), pasien yang tidak rutin
menjalani hemodialisa dan pasien yang menjalani HD diluar jadwal yang
ditentukan. Data diambil 2 periode, tahap pertama sebelum dilakuan intervensi
dan tahap kedua setelah dilakuan intervensi serta monitoring keseimbangan cairan
selama 12-16 kali hemodialisis.
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) kualitas hidup pasien kelompok
perlakuan lebih tinggi (53,82) dari kelompok kontrol (39,33). (2) Tidak terdapat
perbedaan perubahan kualitas hidup berdasarkan kuisioner SF-36, tekanan sistol
sebelum HD, tekanan diastol sebelum dan sesudah HD, IDWG, lingkar
pergelangan kaki dan kekuatan otot. (3) Ada perbedaan perubahan tekanan sistol
sesudah HD, lingkar lengan atas, dan edema antara kelompok perlakuan dengan
kelompok kontrol. Sehingga dapat di simpulkan, manajemen cairan dapat
meningkatkan kualitas hidup, lingkar lengan atas, kekuatan otot pasien
hemodialisis. Manajemen cairan juga dapat menurunkan tekanan darah, IDWG,
edema, dan lingkar pergelangan kaki pasien hemodialisis.

22 | P a g e

8. Kepatuhan Diet dengan Berat Badan Pre Hemodialisis pada Pasien


Regular di Ruang Hemodialisa RSUD Nganjuk
Menurut Geu (2010) hemodialisis (HD) merupakan satu-satunya pilihan yang
harus dijalani pasien yang terdiagnosa CKD stadium V. Di mana hemodialisis
merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk
limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut.
Namun demikian, tindakan hemodialisis harus disertai kapatuhan diet pasien
karena pada pasien hemodialisia sering terjadi peningkatan berat badan pre
hemodialisis melebihi standart yang dianjurkan. Dengan pasien tidak mentaati diet
yang dianjurkan banyak pasien datang dengan berat badan yang berlebih
(kenaikan berat badan diantara hemodialisis tidak boleh lebih 5 % BB atau < 1 kg
BB/hari) dan disertai odema bahkan sesak, ALO , bahkan gagal nafas. Adapun
upaya diet yang dianjurkan pada pasien hemodialisis yang perlu diperhatikan
meliputi jenis diet, jumlah diet, jumlah asupan cairan, asupan elektrolit, dan juga
kepatuhan dalam menjalankan dietnya. Sehingga diharapkan dengan pasien patuh
menjalankan diet, berat badan pre hemodialisis tidak akan naik melebihi yang
dianjurkan.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kepatuhan diet dengan berat
badan pre hemodialisis pada pasien regular di Ruang Hemodialisa RSUD
Nganjuk. Desain penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional.
Variabel independennya adalah kepatuhan diet dan independennya adalah berat
badan pre hemodialisis. Responden yang dipilih adalah pasier regular sejumlah 25
responden dengan menggunakan total sampling. Analisa data mengunakan uji
korelasi sperarman rank pada 0,05.
Hasil penelitian didapatkan dari 25 responden sebagian besar 15 responden
(60%) memiliki kepatuhan diet cukup. Selanjutnya dari 25 responden sebagian
besar 18 responden (72%) memiliki berat badan pre dialisis tetap. Dari uji statistik
didapatkan ada hubungan kepatuhan diet dengan berat badan pre hemodialisis
pasien regular hemodialisa di Ruang Hemodialisa RSUD Nganjuk. (=0,012 <
0,05) dengan koefisien korelasi sebesar -0,496 yang bermakna hubungan pada
tingkat sedang dengan arah negatif yang bermakna semakin tinggi kepatuhan
maka semain turun berat badan pre hemodialisis. Dari hasil penelitian ini maka
perlunya meningkatkan pemahaman dan aplikasi dalam menjalankan diet pada
23 | P a g e

pasien hemodialisa karena hemodialisis tidak akan berhasil sempurna jika kondisi
klien utamanya kadar cairan elektrolit dan metabolit terlalu banyak menumpuk di
dalam tubuh pasien.

9. Hubungan Antara Masukan Cairan Dengan Interdialytic Weight Gain


(IDWG) Pada Pasien Chronic Kidney Diseases Di Unit Hemodialisis RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta
Interdialytic weight gain (IDWG) adalah peningkatan volume cairan yang
dimanifestasikan dengan peningkatan berat badan sebagai indikator untuk
mengetahui jumlah cairan yang masuk selama periode interdialytic. Pasien secara
rutin diukur berat badannya sebelum dan sesudah hemodialisis untuk mengetahui
kondisi cairan dalam tubuh pasien, kemudian IDWG dihitung berdasarkan berat
badan kering setelah hemodialisis. Tindakan hemodialisis dilakukan untuk
menarik cairan pasien sampai mencapai target berat badan kering pasien.
Pembatasan cairan mempunyai tujuan untuk mengurangi kelebihan cairan pada
periode interdialitik.
Peningkatan IDWG melebihi 5% dari berat kering dapat menyebabkan
berbagai komplikasi seperti hipertensi, hipotensi intradialytic, gagal jantung kiri,
asites, efusi pleura, gagal jantung kongestif, bahkan kematian. IDWG disebabkan
oleh berbagai faktor baik faktor internal meliputi usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, rasa haus, stress, Self-Efficacy, serta faktor eksternal seperti keluarga,
dukungan social, dan asupan cairan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
masukan cairan dengan Interdialytic weight gain (IDWG) pada pasien Chronic
Kidney Diseases Di Unit Hemodialisis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan rancangan
Cross Sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah menggunakan total
sampling, dengan sampel sebanyak 48 pasien yang dikumpulkan dari 79 pasien
hemodialisis.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara asupan
cairan dan IDWG (r = 0,541, p-value = 0,000). Arah hubungan adalah positif di
mana semakin banyak masukan cairan responden maka IDWG juga akan
24 | P a g e

meningkat. Besaran koefisien determinan masukan cairan adalah 29,3%, berarti


masukan cairan menentukan 29,3% IDWG, sisanya 70,7% ditentukan oleh faktor
lain.

10. Hubungan Antara Penambahan Berat Badan Di Antara Dua Waktu


Hemodialisis (Interdialytic Weight Gain = IDWG) Terhadap Kualitas Hidup
Pasien Penyakit Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Terapi Hemodialisis Di
Unit Hemodialisa IP2K RSUP Fatmawati Jakarta
Bagi pasien CKD, hemodialisis dapat mencegah terjadinya kematian, namun
demikian hemodialisis tidak menyembuhkan penyakit ginjal dan pasien harus
menjalani dialisis sepanjang hidupnya atau sampai mendapat ginjal baru melalui
operasi pencangkokan (tranplantasi). Komplikasi yang sering terjadi pada pasien
hemodialisis adalah penambahan berat badan di antara dua waktu hemodialisis
(Interdialytic weight gain = IDWG) yang disebabkan oleh ketidakmampuan
fungsi ekskresi ginjal, sehingga berapapun jumlah cairan yang diasup pasien,
penambahan berat badan akan selalu ada. Dengan kata lain penambahan berat
badan sebanyak nol ml tidak mungkin terjadi. Penambahan nilai IDWG yang
terlalu tinggi akan dapat menimbulkan efek negatif terhadap keadaan pasien,
diantaranya hipotensi, kram otot, hipertensi, sesak nafas, mual dan muntah, dan
lainnya (Brunner and Suddarth, 2005). Peningkatan berat badan yang ideal
diantara dua waktu hemodialisis adalah 1,5 kg (Kimmel et al, 2000). Manajemen
pembatasan asupan cairan dan makanan akan berdampak terhadap penambahan
berat badan di antara dua waktu dialisis. Timbulnya efek negatif dari penambahan
berat badan di antara waktu dialisis akan mempengaruhi kualitas hidup pasien
CKD, hingga timbulnya kematian.
Tujuan dari penelitian ini mengetahui hubungan antara penambahan berat
badan di antara dua waktu hemodialisis (interdialysis weight gain = IDWG) dan
kualitas hidup pasien, baik domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial ,
dan lingkungan. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan
pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 76 pasien dengan menggunakan
simple random sampling. Hasil analisis menggunakan one way analysis of
variance.
25 | P a g e

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara


penambahan berat badan di antara dua waktu hemodialisa dengan kualitas hidup
pada semua domain (p = 0,000, 0,05). Domain kesehatan fisik 21,62 (SD 5,18)
domain psikologis 18,45 (SD 18,45) domain hubungan sosial 9,24 (SD 9,24) dan
domain lingkungan 25,67 (SD 25,67). Variabel confounding tidak mempunyai
kontribusi terhadap kualitas hidup (p>0,05).

BAB III
ANALISA JURNAL

JURNAL 1
Ridlwan Kamaluddin dan Eva Rahayu, Analisis Faktor-Faktor Yang
Identitas Penelitian

Tujuan Penelitian

Mempengaruhi Kepatuhan Asupan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal


Kronik Dengan Hemodialisis Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto, 2009, Purwokerto.
Untuk mengetahui faktor-faktor

karakteristik

pasien

yang

mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan dan faktor


keterlibatan orang lain yang mempengaruhi kepatuhan dalam
mengurangi asupan cairan pada penderita gagal ginjal kronnik yang
26 | P a g e

menjalani hemodialisis di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo


Purwokerto.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimen dengan
metode deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional dengan
menggunakan total sampling. Pengumpulan data selain menggunakan
instrumen kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden,
peneliti juga menggunakan lembar angket untuk menganalisa
Metodelogi Penelitian

kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan selama 3 hari berturutturut.


Sampel: Yang menjadi subjek pada penelitian adalah penderita GGK
yang menjalani terapi hemodialisis. Total responden sebanyak 51
orang.
Lama Penelitian: 1 bulan (September-Oktober 2008).
(1) Dari 51 responden didapatkan 67,3% penderita yang patuh dan
32,7% penderita yang tidak patuh dalam mengurangi asupan cairan
pada RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
(2) Faktor usia, panjang hemodialisis, pendidikan, keterlibatan
perawat,

Hasil Penelitian

keterlibatan

keluarga

pasien,

konsep

diri,

tingkat

pengetahuan, masing-masing memiliki tingkat signifikan di, p =


0,100, 0,074, 0,000, 0,000, 0,000, 0,016 dan 0.001.
(3) Ada lima faktor (pendidikan, keterlibatan perawat, keterlibatan
keluarga pasien, konsep diri, dan tingkat pengetahuan) yang memiliki
hubungan signifikan terhadap kepatuhan dalam asupan cairan.
(4) Ada dua faktor yang tidak signifikan terhadap kepatuhan asupan
cairan yaitu usia dan panjang f hemodialisis.
JURNAL 2
Desitasari, Gamya Tri Utami, dan Misrawati, Hubungan Tingkat

Identitas Penelitian

Pengetahuan, Sikap, Dan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan


Diet Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalankan Hemodialisa,
2014, Pekanbaru.
Untuk mengetahui hubugan tingkat pengetahuan, sikap dan dukungan

Tujuan Penelitian

keluarga terhadap kepatuhan diet pasien gagal ginjal kronik yang


menjalani hemodialisa.

27 | P a g e

pendekatan cross sectional, dengan metode pengambilan sampel


purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam bentuk
kuesioner dan penimbangan berat badan pasien. Penelitian ini
dilakukan analisa univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi
Square dengan uji alternative fisher untuk mengetahui hubungan
antara pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan
diet pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa.
Sampel: 36 responden yang melakukan hemodialisa di RSUD Arifin
Achmad.
Berdasarkan dari hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan,
sikap, dan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisa dapat disimpulkan bahwa:
(1) Gambaran data demografi karakteristik didapatkan mayoritas
responden berjenis kelamin laki-laki (61,1%), usia 40-60 tahun
(69,4%), pendidikan terakhir SMA (33,3%), tidak bekerja
(52,8%), patuh terhadap diet (72,2%), lamanya menjalani
hemodialisa selama >6 tahun (47,2%).
Hasil Penelitian

(2) Berdasarkan uji statistik terhadap pengetahuan dan sikap


diperoleh nilai p value (0,026 < 0,05) dan (0,039 < 0,05)
yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara
pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan diet pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisa.
(3) Sedangkan berdasarkan uji statistik tentang dukungan keluarga
diperoleh nilai p value (0,243 > 0,05) yang berarti tidak ada
hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan
kepatuhan diet pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisa.
JURNAL 3
Geledis Sumigar, Sefty Rompas, dan Linnie Pondaag, Hubungan

Identitas Penelitian

Tujuan Penelitian

Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Diet Pada Pasien Gagal


Ginjal Kronik Di Irina C2 dan C4 RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado, 2014, Manado.
Untuk menganalisa hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan
diet pada pasien gagal ginjal kronik di Irina C2 dan C4 RSUP. Prof.
28 | P a g e

Dr. R. D. Kandou Manado.


Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan
menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel
pada penelitian yaitu purposive sampling. Instrumen penelitian yang
digunakan berupa kuisioner yang teridiri dari kuisioner dukungan
keluarga dengan 14 pertanyaan dan kuisioner kepatuhan diet dengan 9
Metodelogi Penelitian

pertanyaan, data diolah menggunakan bantuan komputer SPSS untuk


dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% ( =
0,05).
Sampel: 52 pasien gagal ginjal kronik pada periode waktu empat
bulan terakhir di Irina C2 dan C4 RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado.
Lama Penelitian: 26 hari (tanggal 3 Desember-28 Desember 2014).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 52 responden terdapat 44
orang (84,6%) responden dengan dukungan keluarga baik, dengan
patuh (93,2%) dan tidak patuh (6,8%) dan 8 orang (15,4%) responden

Hasil Penelitian

dengan dukungan kurang, dengan tidak patuh (62,5%) dan patuh


(37,5%) dan didapatkan nilai p = 0,001. Ini berarti bahwa nilai p lebih
kecil dari = 0.05. Kesimpulan ini menunjukan bahwa ada hubungan
dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal
kronik di Irina C2 dan C4 RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.
JURNAL 4
Dwi Retno Sulistyaningsih, Efektivitas Training Efikasi Diri Pada

Identitas Penelitian

Tujuan Penelitian
Metodelogi Penelitian

Pasien Penyakit Ginjal Kronik Dalam Meningkatkan Kepatuhan


Terhadap Intake Cairan, 2012, Jakarta.
Untuk mengetahui efektivitas training

efikasi

meningkatkan kepatuhan terhadap intake cairan.


Metode penelitian adalah merupakan penelitian

diri

dalam

experimen,

menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan pretestposttets. Dalam penelitian ini dilakukan test terlebih dahulu sebelum
responden diberikan treatment (perlakuan). Test dilakukan dengan
melakukan pengukuran berat badan diantara waktu dialysis dengan
menggunakan timbangan berat badan. Pengolahan data dan analisis
data dilakukan setelah data terkumpul dan dilakukan pengolahan
meliputi pengeditan, tabulasi dan pengelompokan data. Selanjutnya

29 | P a g e

disusun dan diproses. Analisa data dilakukan dengan uji t test.


Sampel: pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis
dengan criteria mempunyai riwayat ketidakpatuhan terhadap intake
cairan, IDWG 4%, tidak mengalami sakit akut, dapat makan dan
berjalan tanpa bantuan, umur minimal 18 tahun, menjalani
hemodialisis 2 kali dalam seminggu, bersedia menjadi responden dan
tidak mengalami gangguan kognitif dan psikologi, dengan jumlah
responden sebanyak 10 orang.
Menunjukkan nilai p adalah 0,008 ( < 0,05) sehingga dapat
Hasil Penelitian

disimpulkan bahwa training efikasi diri efektif untuk meningkatkan


kepatuhan terhadap intake cairan yang dimanifestasikan dengan
penurunan rata-rata IDWG pada pasien penyakit ginjal kronik.
JURNAL 5
Sri Hidayati, Ratna Sitorus, dan Masfuri, Efektifitas Konseling
Analisis Transaksional Tentang Diet Cairan Terhadap Penurunan

Identitas Penelitian

Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang


Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah,
2014, Tegal.
Untuk mengetahui efektivitas konseling analisis transaksional tentang

Tujuan Penelitian

diet cairan terhadap penurunan Interdialytic Weight Gain (IDWG)


Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah
Sakit Umum Daerah Kardinah.
Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan menggunakan desain
pre-test and post-test with control group design (Quasi Eksperiment
with control). Analisis univariat dan bivariat menggunakan statistik
uji t-test dan ANNOVA.
Sampel: 24 orang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok

Metodelogi Penelitian

intervensi masing-masing sebanyak 12 orang. Kriteria inklusinya:


kesadaran kompos mentis, menjalani terapi hemodialisa 2 kali dalam
seminggu, usia 18-55 tahun, rata-rata kenaikan interdialytic weight
gain > 1,3 kg pada saat sebelum dilakukan hemodialisa dalam 4 kali
hemodialisa secara berturut-turut, mampu berkomunikasi secara
efektif, mampu membaca dan menulis, tidak mengalami komplikasi
penyakit lain, dan pasien gagal ginjal kronik murni.

30 | P a g e

0,003,_= < 0,05) pada kelompok intervensi. Perbedaan penurunan


nilai rata-rata Interdialytic Weight Gain pada kelompok intervensi
sebelum perlakuan adalah 2,65. Dari hasil analisis didapatkan P value
0,003 = < 0,05 maka dapat disimpulkan adanya perbedaan yang
signifikan antara penurunan Interdialyitic Weight Gain sebelum dan
sesudah pemberian intervensi. Rata-rata penurunan Interdialytic
Weight Gain pada kelompok control Pre test didapatkan 2,466
sedangkan nilai rata-rata pada Post test didapatkan 2,666. Hasil P
value adalah P = 0,09, > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak
ada perbedaan yang signifikan penurunan Interdialytic Weight Gain
antara pengukuran pertama (pre test) dan pengukuran kedua (post
test) pada kelompok kontrol.
JURNAL 6
Safitri, Cokro Aminoto, dan Arnika Dwi Asti,
Identitas Penelitian

Pengaruh

Hypnotherapy Terhadap Kepatuhan Diit Cairan Pada Pasien


GagalGinjal Kronis Rawat Jalan DiInstalasi Hemodialisa RS PKU
Muhammadiyah Gombong, 2011, Semarang.
Untuk menentukan pengaruh metode hipnoterapi terhadap kepatuhan

Tujuan Penelitian

diit cairan pada pasien gagal ginjal kronis di Instalasi Hemodialisa RS


PKU Muhammadiyah Gombong.
Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu (quasy
experimental). Dengan non equivalen control group (control group
dan experimental) dengan satu kali post test. Dengan teknik
pengambilan sampel adalah purposive sampling. Teknik analisa
univariat digunakan untuk menyajikan semua variabel dengan

Metodelogi Penelitian

menggunakan tabel distribusi frekuensi. Teknik analisa bivariat


dengan menggunakan uji non parametrik yaitu uji paired sample ttest.
Sampel: 20 responden, dengan pembagian 10 responden untuk
kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

Hasil Penelitian

Lama Penelitian: 1 bulan (Maret-April 2011).


Tidak ada pengaruh metode hypnotherapy terhadap kepatuhan diit
cairan pada pasien GGK dan tidak ada perbedaan yang signifikan
antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi mengenai pengaruh

31 | P a g e

hypnotherapi terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien GGK rawat


jalan di RS PKU Muhammadiyah Gombong dengan t-hitung 0,811 (P
= 0,000).

Identitas Penelitian

JURNAL 7
Isroin L, Istanti Y.P., dan Soejono S.K., Manajemen Cairan pada
Pasien Hemodylisis Meningkatkan Kualitas Hidup, 2012, Ponorogo.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan
kualitas hidup akibat penggunaan manajemen cairan pada pasien

Tujuan Penelitian

hemodialisis, menganalisis indikator fisik kualitas hidup, dan


perbedaan peningkatan kualitas hidup pada pasien yang diberikan
manajemen cairan dan yang tidak diberikan manajemen cairan.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen dengan
pendekatan pre tes post tes dengan kontrol. Penelitian ini
menggunakan total sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
bersedia menjadi responden dan bisa membaca dan menulis, usia
pasien 20-60 tahun, pasien yang menjalani hemodialisis 3-4 kali,
pasien menjalani hemodialisa 9-12 jam/minggu. Kriteria eksklusi:
pasien gagal ginjal yang tidak dapat diwawancarai, pasien gagal ginjal

Metodelogi Penelitian

yang mempunyai penyakit penyerta (Infark myokard, hepatitis, HIV


AIDS), pasien yang tidak rutin menjalani hemodialisa dan pasien
yang menjalani HD diluar jadwal yang ditentukan. Data diambil 2
periode, tahap pertama sebelum dilakuan intervensi dan tahap kedua
setelah dilakuan intervensi serta monitoring keseimbangan cairan
selama 12-16 kali hemodialisis. Sampel: Sampel yang diambil 11
orang yang dibagi menjadi kelompok intervensi 6 orang dan
kelompok kontrol 5 orang yang ditentukan secara random.

Hasil Penelitian

Lama Penelitian: 5 bulan (Desember 2012-April 2013)


(1) Kualitas hidup pasien kelompok perlakuan lebih tinggi (53,82)
dari kelompok kontrol (39,33)
(2) Tidak

terdapat

perbedaan

perubahan

kualitas

hidup

berdasarkan kuisioner SF-36, tekanan sistol sebelum HD,


tekanan diastol sebelum dan sesudah HD, IDWG, lingkar
pergelangan kaki dan kekuatan otot.
(3) Ada perbedaan perubahan tekanan sistol sesudah HD, lingkar

32 | P a g e

lengan atas, dan edema antara kelompok perlakuan dengan


kelompok kontrol.
Sehingga dapat di simpulkan, manajemen cairan dapat meningkatkan
kualitas hidup, lingkar lengan atas, kekuatan otot pasien hemodialisis.
Manajemen cairan juga dapat menurunkan tekanan darah, IDWG,
edema, dan lingkar pergelangan kaki pasien hemodialisis.
JURNAL 8
Heru Wahyudi dan Helen Fitri M, Kepatuhan Diet dengan Berat
Identitas Penelitian

Badan Pre Hemodialisis pada Pasien Regular di Ruang Hemodialisa


RSUD Nganjuk, 2012, Nganjuk.
Untuk mengetahui hubungan kepatuhan diet dengan berat badan pre

Tujuan Penelitian

hemodialisis pada pasien regular di Ruang Hemodialisa RSUD


Nganjuk.
Desain penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan cross
sectional. Variabel independennya adalah kepatuhan diet dan
independennya adalah berat badan pre hemodialisis. Analisa data

Metodelogi Penelitian

mengunakan uji korelasi sperarman rank pada 0,05.


Sampel: Responden yang dipilih adalah pasier regular sejumlah 25
responden dengan menggunakan total sampling.
Lama Penelitian: 14 hari (14-27 Desember 2012)
(1) Dari 25 responden sebagian besar 15 responden (60%)
memiliki kepatuhan diet cukup.
(2) Dari 25 responden sebagian besar 18 responden (72%)
memiliki berat badan pre dialisis tetap.
(3) Dari uji statistik didapatkan ada hubungan kepatuhan diet

Hasil Penelitian

dengan

berat

badan

pre

hemodialisis

pasien

regular

hemodialisa di Ruang Hemodialisa RSUD Nganjuk.


(4) (=0,012 < 0,05) dengan koefisien korelasi sebesar -0,496
yang bermakna hubungan pada tingkat sedang dengan arah
negatif yang bermakna semakin tinggi kepatuhan maka semain
turun berat badan pre hemodialisis.

Identitas Penelitian

JURNAL 9
Yuni Permatasari Istanti, Hubungan Antara Masukan Cairan
Dengan Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Chronic
33 | P a g e

Kidney Diseases Di Unit Hemodialisis RS PKU Muhammadiyah


Yogyakarta, 2009, Yogyakarta.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
Tujuan Penelitian

masukan cairan dengan Interdialytic weight gain (IDWG) pada pasien


Chronic

Kidney

Diseases

Di

Unit

Hemodialisis

RS

PKU

Muhammadiyah Yogyakarta.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan
rancangan Cross Sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah
Metodelogi Penelitian

menggunakan total sampling.


Sampel: sebanyak 48 pasien yang dikumpulkan dari 79 pasien
hemodialisis.
Menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara asupan cairan dan
IDWG (r = 0,541, p-value = 0,000). Arah hubungan adalah positif di

Hasil Penelitian

mana semakin banyak masukan cairan responden maka IDWG juga


akan meningkat. Besaran koefisien determinan masukan cairan adalah
29,3%, berarti masukan cairan menentukan 29,3% IDWG, sisanya
70,7% ditentukan oleh faktor lain.
JURNAL 10
Welas Riyanto, Hubungan Antara Penambahan Berat Badan Di
Antara Dua Waktu Hemodialisis (Interdialytic Weight Gain = IDWG)

Identitas Penelitian

Terhadap Kualitas Hidup Pasien Penyakit Gagal Ginjal Kronik Yang


Menjalani Terapi Hemodialisis Di Unit Hemodialisa IP2K RSUP
Fatmawati Jakarta, 2011, Jakarta.
Untuk mengetahui hubungan antara penambahan berat badan di

Tujuan Penelitian

antara dua waktu hemodialisis (interdialysis weight gain = IDWG)


dan kualitas hidup pasien, baik domain kesehatan fisik, psikologis,
hubungan sosial, dan lingkungan.
Metode penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan
pendekatan cross sectional. Hasil analisis menggunakan one way
analysis of variance.

Metodelogi Penelitian

Sampel: Sampel sebanyak 76 pasien dengan menggunakan simple


random sampling.
Lama Penelitian: 5 minggu (minggu keempat bulan Mei-minggu
keempat Juni 2011).

34 | P a g e

berat badan di antara dua waktu hemodialisa dengan kualitas hidup


pada semua domain (p = 0,000, 0,05). Domain kesehatan fisik 21,62
(SD 5,18) domain psikologis 18,45 (SD 18,45) domain hubungan
sosial 9,24 (SD 9,24) dan domain lingkungan 25,67 (SD 25,67).
Variabel confounding tidak mempunyai kontribusi terhadap kualitas
hidup. (p>0,05).

BAB IV
PEMBAHASAN

Penyakit ginjal kronik (PGK) atau chronic kidney disease (CKD) adalah suatu
proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan
fungsi ginjal yang irreversibel dan progresif dimana kemampuan tubuh gagal
untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit
sehingga menyebabkan uremia (Black & Hawk, 2009; Smeltzer & Bare, 2008;
Sudoyo dkk, 2006)
Penatalaksanaan konservatif tidak dapat menyembuhkan gagal ginjal kronis,
namun memperlambat progres dari penyakit. Penatalaksanaan konservasi
dilakukan dengan mengatasi faktor penyebab gagal ginjal kronis, mengontrol
tekanan darah, kontrol lemak, cairan dan natrium, diet protein dan kalium, serta
kontrol gula darah untuk klien dengan gagal ginjal kronis diabetik. Tujuan dari
intervensi tersebut adalah untuk menjaga fungsi ginjal, memperlambat kebutuhan
35 | P a g e

dilakukannya dialisis atau transplantasi ginjal, mengurangi manifestasi ekstrarenal


sedini mungkin, memperbaiki kadar kimia tubuh, dan memberikan kualitas hidup
yang optimal pada klien (Black & Hawks, 2009).
Prinsip penatalaksanaan atau manajemen pada penderita gagal ginjal kronik
ada empat, yaitu (Jayaraman & Voort, 2010) : a) Evaluasi dan manajemen
terhadap penyebab reversible yang menyebabkan disfungsi ginjal b) Cegah atau
perlambat progresi dari penyakit ginjal tersebut c) Atasi komplikasi d) Identifikasi
dan persiapan yang adekuat untuk dialisis ataupun terapi penggantian ginjal. Salah
satu dari tujuan penatalaksaan pada klien dengan gagal ginjal kronik adalah
memperbaiki kadar kimia pada tubuh, hal ini dapat dilakukan dengan medikasi,
dialisis dan diet. Dialisis dapat membuang kelebihan cairan dan zat sisa nitrogen
dan juga mengurangi manifestasi akibat gagal ginjal kronik. Dialisis harus
dilakukan secara permanen untuk mempertahankan hidup apabila klien telah
mencapai gagal ginjal kronis tahap akhir (Black & Hawks, 2009). Pasien yang
menjalani hemodialisa akan mengalami penurunan kualitas hidup. Kualitas hidup
pasien hemodialisa berfluktuasi, karena dipengaruhi oleh kesehatan fisik,
psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan pribadi, dan
hubungan mereka dengan lingkungan. Manajemen cairan membantu pasien
beradapatsi dengan perubahan status kesehatan dan meningkatkan kualitas
hidupnya.
Perilaku yang sering terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa adalah
ketidakpatuhan terhadap regimen terapiutik ( Baraz et al, 2010; Mistiaen, 2001).
Ketidakpatuhan ditemukan pada semua aspek akan tetapi ketidakpatuhan terhadap
pembatasan intake cairan adalah aspek yang paling sulit dilakukan untuk sebagian
besar pasien (Mistiaen, 2001). Hal ini dapat merusak efektivitas terapi sehingga
mengakibatkan progresivitas penyakit yang tidak terduga dan kemungkinan akan
memperbesar terjadinya komplikasi. Berdasarkan fakta ini, perawat berperan
dalam memberikan edukasi yang memadai dan konseling secara rutin dan
berkelanjutan kepada pasien GGK melalui konseling analisis transactional.
Konseling dengan pendekatan analisis transaktional merupakan pendekatan
behavioral-kognitif. Teori ini lebih menitikberatkan pada komunikasi yang efisien
kepada pasien sehingga membantu pasien mengevaluasi setiap keputusannya
dalam membuat keputusan baru yang lebih tepat (Lawrence, 2007). Konseling
analisis transaktional perlu diterapkan pada konsep keperawatan untuk pasien36 | P a g e

pasien yang mengalami penyakit kronis, seperti gagal ginjal dengan dialisis.
Kondisi pasien dengan penyakit kronis sering mengalami keputusasaan dalam
pengobatan, sehingga potensial terjadinya ketidakpatuhan dalam program yang
dianjurkan. Oleh sebab itu, pemberian konseling kepada pasien diharapkan pasien
lebih teratur dalam menjalani diet cairan yang mana sebagai indikasi peningkatan
ataupun penurunan Interdialytic Weight Gain klien.
Interdialytic weight gain (IDWG) atau penambahan berat badan di antara dua
waktu hemodialisis merupakan komplikasi dari ketidakpatuhan terhadap
pembatasan. Penambahan nilai IDWG yang terlalu tinggi akan dapat
menimbulkan efek negatif terhadap keadaan pasien, diantaranya hipotensi, kram
otot, hipertensi, sesak nafas, mual dan muntah, dan lainnya (Brunner and
Suddarth, 2005). Pace (2007) mengungkapkan komplikasi kelebihan cairan pada
pasien dengan CKD adalah hipertensi, edema perifer dan ascites. Bahkan sumber
data dari United States Renal Data System (USRDS) menunjukkan peningkatan
kematian dengan penambahan berat badan diantara dua waktu hemodialisis lebih
dari 4,8% berat badan (Foley, Herzog, & Collins, 2002). Peningkatan berat badan
yang ideal diantara dua waktu hemodialisis adalah 1,5 kg (Kimmel et al, 2000).
Selain tindakan hemodialisis, hal yang harus diperhatikan adalah kapatuhan
diet pasien. Kepatuhan berarti pasien harus meluangkan waktu dalam menjalani
pengobatan yang dibutuhkan seperti dalam pengaturan diet maupun cairan (Potter
& Perry, 2006). Hal ini dapat melibatkan dukungan keluarga. Friedman (2003)
menyatakan dukungan keluarga adalah upaya yang diberikan kepada orang lain,
baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan
kegiatan. Kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal kronik merupakan satu
penatalaksanaan untuk mempertahankan fungsi ginjal secara terus menerus
dengan prinsip diet yaitu rendah protein, rendah garam, dan rendah kalium
(Instalasi Gizi RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou).
Beberapa

penelitian

menyebutkan

factor-faktor

yang

mempengaruhi

kepatuhan yaitu tingkat pengetahuan pasien, pendidikan, keterlibatan perawat,


keterlibatan keluarga pasien, konsep diri, dan efikasi diri. Efikasi diri adalah
keyakinan seseorang akan keberhasilan dalam melakukan perawatan diri untuk
mencapai hasil yang diinginkan. Seseorang dengan peningkatan persepsi dalam
aktivitas perawatan diri akan lebih mudah berpartisipasi dalam aktivitas perawatan
diri sehingga akan meningkatkan kepatuhan terhadap regimen terapeutik. Namun
37 | P a g e

harus didukung juga dengan pengetahuan yang memadai tentang penatalaksanaan


diet maupun asupan cairan yang dikonsumsi. Apabila pasien GGK tidak memiliki
pengetahuan maka akan dapat memperparah kondisi tubuh. Sehingga diharapkan
dengan pasien patuh menjalankan diet, berat badan pre hemodialisis tidak akan
naik melebihi yang dianjurkan.
Selain terapi dan pengobatan medis, pendekatan proses keperawatan secara
holistik, bio psiko sosial dan kultural di perlukan dalam penetalaksanaan pasien
GGK. Ada alternative pengobatan secara bio psikososial dengan metode
hypnotherapy. Hypnotherapy adalah salah satu metode untuk mengirim keyakinan
kepada pasien. Metode ini dapat digunakan untuk pasien yang tidak memiliki
disiplin dalam melakukan diet cairan. Namun terapi ini belum sering digunakan
dan belum terbukti mampu meningkatkan kepatuhan dalam melakukan diet
cairan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Penyakit ginjal kronik (PGK) atau chronic kidney disease (CKD) adalah suatu
proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan
fungsi ginjal yang irreversibel dan progresif dimana kemampuan tubuh gagal
untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit
sehingga menyebabkan uremia (Black & Hawk, 2009; Smeltzer & Bare, 2008;
Sudoyo dkk, 2006). Penurunan atau kegagalan fungsi ginjal berupa fungsi
ekskresi, fungsi pengaturan, dan fungsi hormonal dari ginjal.
Penatalaksanaan GGK di rumah sakit adalah dengan terapi hemodialisa, obat
obatan anti hipertensi, terapi cairan, terapi diit rendah protein dan tinggi
karbohidrat, pemberian tranfusi darah, dan transpaltasi ginjal. Perilaku yang
sering terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa adalah ketidakpatuhan
terhadap regimen terapiutik ( Baraz et al, 2010; Mistiaen, 2001). Ketidakpatuhan

38 | P a g e

ditemukan pada semua aspek akan tetapi ketidakpatuhan terhadap pembatasan


intake cairan adalah aspek yang paling sulit dilakukan untuk sebagian besar pasien
(Mistiaen, 2001). Komplikasi dari ketidakpatuhan terhadap pembatasan cairan
dapat mengakibatkan penambahan berat badan di antara dua waktu hemodialisis
(Interdialytic weight gain = IDWG) yang disebabkan oleh ketidakmampuan
fungsi ekskresi ginjal, sehingga berapapun jumlah cairan yang diasup pasien,
penambahan berat badan akan selalu ada. Peningkatan berat badan yang ideal
diantara dua waktu hemodialisis adalah 1,5 kg (Kimmel et al, 2000).
Beberapa

penelitian

menyebutkan

factor-faktor

yang

mempengaruhi

kepatuhan yaitu tingkat pengetahuan pasien, pendidikan, keterlibatan perawat,


keterlibatan keluarga pasien, konsep diri, dan efikasi diri. Kepatuhan dalam
pembatasan intake cairan diukur dengan menggunakan rata-rata berat badan yang
didapat diantara waktu dialysis atau interdialityc weight gain ( Tsay, 2003).
5.2 Saran
Kumpulan jurnal ini semoga berguna bagi pembaca, khususnya bagi
mahasiswa. Namun tugas jurnal ini masih jauh dari kesempurnaan karena
keterbatasan penulis. Oleh karena itu, besar harapan penulis agar pembaca
memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun, guna memperbaiki tugas
jurnal ini agar lebih baik.

39 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Aminoto, Cokro, dkk. (2012). Pengaruh Hypnotherapy Terhadap Kepatuhan


Diit Cairan Pada Pasien GagalGinjal Kronis Rawat Jalan DiInstalasi
Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong. Jurnal Ilmiah
Kesehatan
Keperawatan.
Volume
8,
No.
3.
http://ejournal.stikesmuhgombong.ac.id/index.php/JIKK/article/view/74.
Diakses 24 Mei 2015.
Hidayati, Sri, dkk. (2014). Efektifitas Konseling Analisis Transaksional Tentang
Diet Cairan Terhadap Penurunan Interdialytic Weight Gain (IDWG)
Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit
Umum
Daerah
Kardinah.
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/1225.
Diakses 24 Mei 2015.
Istanti, Yuni Permatasari. (2013). Hubungan Antara Masukan Cairan Dengan
Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Chronic Kidney Diseases
Di Unit Hemodialisis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Volume10.
http://ejournal.stikespku.ac.id/index.php/mpp/article/view/60. Diakses 30
Mei 2015.

40 | P a g e

Kamaluddin, Ridlwan dan Rahayu, Eva. (2009). Analisis Faktor-Faktor Yang


Mempengaruhi
Kepatuhan Asupan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan
Hemodialisis Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Jurnal
Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing). Volume 4,
No.1.
http://
jos.unsoed.ac.id/index.php/keperawatan/article/download/175/40. Diakses
24 Mei 2015.
L,

Isroin, dkk.(2012). Manajemen Cairan pada Pasien Hemodylisis


Meningkatkan
Kualitas
Hidup.
http://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/17/jkptumpo-gdl-isroinlist-802-1jurnaln-y.pdf. Diakses 30 Mei 2015.

Riyanto, Welas. (2011). Hubungan Antara Penambahan Berat Badan Di Antara


Dua Waktu Hemodialisis (Interdialytic Weight Gain = IDWG) Terhadap
Kualitas Hidup Pasien Penyakit Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani
Terapi Hemodialisis Di Unit Hemodialisa IP2K RSUP Fatmawati
Jakarta. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia. http://lontar.ui.ac.id/file?
file=digital/20282718-T%20Welas%20Riyanto.pdf. Diakses 30 Mei 2015.
Sulistyaningsih, Dwi Retno.(2012). Efektivitas Training Efikasi Diri Pada
Pasien Penyakit Ginjal Kronik Dalam Meningkatkan Kepatuhan Terhadap
Intake
Cairan.
http://
jurnal.unissula.ac.id/index.php/majalahilmiahsultanagung/article/.../63.
Diakses 24 Mei 2015.
Sumigar, Geledis, dkk. (2015). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Kepatuhan Diet Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Irina C2 dan C4
RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. ejournal Keperawatan (e-Kep).
Volume
3,
No.
1.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/6686. Diakses 24
Mei 2015.
Utami, Gamya Tri, dkk. (2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap, Dan
Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Diet Pasien Gagal Ginjal
Kronik Yang Menjalankan Hemodialisa. Volume 1, No. 2.
http://jom.unri.ac.id/index.php/JOMPSIK/article/view/3463. Diakses 24
Mei 2015.
Wahyudi, Heru dan M, Helen Fitri. (2014). Kepatuhan Diet dengan Berat Badan
Pre Hemodialisis pada Pasien Regular di Ruang Hemodialisa RSUD
Nganjuk.
Volume
3,
No.2.

41 | P a g e

http://jurnal.stikesstrada.ac.id/index.php/strada/article/view/57. Diakses 30
Mei 2015.

LEMBAR KONSULTASI

Tanggal

Revisi

Paraf
Pembimbing

42 | P a g e

43 | P a g e