Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada masa lanjut usia secara bertahap seseorang mengalami berbagai
kemunduran, baik kemunduran fisik, mental, dan social (Azizah, 2011).
Perubahan fisik yang terjadi pada setiap lanjut usia sangat bervariasi, perubahan
ini terjadi dalam berbagai sistem, yaitu system integumen, sistem kardiovaskuler,
sistem gastrointestinal, system reproduksi, sistem muskuloskeletal, sistem
neurologis, dan system perkemihan. Semua perubahan fisiologis ini bukan
merupakan proses patologis, tetapi perubahan fisiologis umum yang perlu
diantisipasi (Potter & Perry, 2005).
Pada lanjut usia sering terjadi masalah empat besar yang memerlukan
perawatan segera, yaitu: imobilisasi, ketidakstabilan, gangguan mental, dan
inkontinensia. Pada wanita usia lanjut banyak yang mengeluhkan kesulitan dalam
mengontrol buang air kecil. Sekitar 30-50% wanita lanjut usia menderita
inkontinensia urin. Inkontinensia urin atau yang lebih dikenal dengan beser
sebagai bahasa awam merupakan gangguan pada sistem perkemihan berupa
keluarnya urin yang tidak terkendali dalam waktu yang tidak dikehendaki tanpa
memperhatikan frekuensi dan jumlahnya yang akan membuat penderitanya akan
merasa terganggu, tidak menyenangkan dan tidak nyaman, menyebabkan masalah
sosial dan higienis penderitanya.
Faktor resiko terjadinya inkontinensia urin antara lain jenis kelamin wanita,
usia lanjut / menopause, paritas tinggi, gangguan neurologis, kelebihan berat
badan, perokok, minum alkohol, intake cairan berlebihan atau kurangnya aktifitas.
Faktor risiko lain yang dapat mempengaruhi terjadinya inkontinensia, antara lain
adalah kasus persalinan per vaginam, BMI, riwayat histerektomi, infeksi saluran
kemih, dan trauma perineum.
Prevalensi inkontinensia urin cukup tinggi, yakni pada wanita kurang lebih
10-40% dan 4-8% sudah dalam keadaan cukup parah pada saat datang berobat.
Pada pria prevalensinya lebih rendah daripada wanita yaitu kurang lebih
separuhnya. Survai yang dilakukan diberbagai negara Asia didapat bahwa

1|Page

prevalensi pada beberapa negara Asia adalah rata-rata 21,6% (14,8% pada wanita
dan 6,8% pada pria). Sedangkan prevalensi pada wanita Indonesia 5,8%.
Dibandingkan pada usia produksi, pada usia lanjut prevalensi inkontinensia lebih
tinggi. Prevalensi inkontinensia urin pada manula wanita sebesar 38% dan Pria
19% (Purnomo, 2008). Sekitar 50% usia lanjut di instalasi perawatan kronis dan
11-30% di masyarakat mengalami inkontinensia urin. Prevalensinya meningkat
seiring dengan peningkatan umur. Perempuan lebih sering mengalami
inkontinensia urin dibandingkan lakilaki dengan perbandingan 1,5 : 1 (Setiati,
dkk, 2007). Tahun 2006 jumlah usila di Indonesia sudah lebih dari 19 juta jiwa
atau 8,90% dari jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah ini diperkirakan akan teru
smeningkat sampai lebih dari 23,9 juta jiwa pada tahun 2010 dan 28,8 juta jiwa
pada tahun 2020 (Deputi I Menkokesra, 2005).
Tingginya angka kejadian inkotinensia urin menyebabkan perlunya
penatalaksanaan tersendiri yang sesuai. Adapun penatalaksanaan inkontinensia
urin terdiri atas tiga kategori utama, yaitu terapi farmakologis, nonfarmakologis
dan pembedahan. Terapi farmakologis dan pembedahan dapat dilakukan namun
keuntungan serta resikonya tidak selalu dapat diterima (Robert & Ross, 2006).
Terapi nonfarmakologis lebih disukai karena tidak punya efek samping,
sedangkan pembedahan dilakukan sebagai alternatif terakhir. Sehingga terapi yang
sebaiknya pertama kali dipilih adalah terapi nonfarmakologis sebelum
menetapkan menggunakan terapi farmakologis atau terapi pembedahan. Terapi
utama dalam kelompok terapi non farmakologis dikenal sebagai Behavioral
therapies, yaitu berbagai intervensi yang diajarkan kepada pasien untuk
memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih. Terapi
behavioral dapat dilakukan dengan cara pengaturan frekuensi (penjadwalan)
miksi, pengaturan diet, latihan otot dasar panggul atau Kegel exercise, bladder
training,

program

kateterisasi

intermitten,

dan

lain-lain

(Elhan,

2008;

FallonCommunity Health Pain, 2003).


1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep inkontinensia urin?
2. Bagaimanakah gambaran tentang inkontinensia urin dalam kasus pada
lansia?

2|Page

1.3 Tujuan
1. Untuk memberikan wawasan serta pengetahuan yang luas tentang
inkontinensia urin kepada pembaca, khususnya kepada para perawat
ataupun mahasiswa.
2. Untuk memberikan gambaran tentang inkontinensia urin dalam kasus
pada lansia yang terjadi di kalangan masyarakat
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui dan mengerti tentang inkontinensia urin secara
lebih luas
2. Mahasiswa mengetahui kasus atau masalah yang berhubungan dengan
inkontinensia urin pada lansia

3|Page

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Inkontinensia Urine (IU) atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai
bahasa awam merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia.
Inkontinensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan
frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan
sosial. Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin
saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia
alvi (disertai pengeluaran feses) (brunner, 2011).
Menurut International Continence Society, inkontinensia urin adalah
keluarnya urin tanpa sadar yang menimbulkan masalah social dan hygiene, serta
secara objektif tampak nyata. Inkontinensia urin kiranya suatu masalah kesehatan
yang umum di kalangan wanita, sekalipun di usia muda (Hagglund et al., 1999).
Sedangkan menurut Setiati dan Pramantara (2007) penggambaran definisi
Inkontinensia Urin yang lainnya adalah sebagai berikut:
1)

Menurut keluarnya urin:


a.
b.
c.

2)

Kesulitan menahan berkemih sampai mencapai toilet


Keluarnya air kencing yang tidak diharapkan
Hilangnya pengendaliaan berkemih

Menurut frekuensi:
a.
b.
c.
d.
e.

Selalu terjadi
Terjadi satu tahun yang lalu
Terjadi satu bulan yang lalu
Terjadi satu minggu yang lalu
Terjadi setiap hari

2.2 Etiologi
Secara umum penyebab inkontinensia urin adalah kelainan urologis,
neurologis, atau fungsional. Kelainan urologis pada inkontinensia urin dapat
disebabkan karena adanya batu, tumor, atau radang. Kelainan neurologis seperti
kerusakan pada pusat miksi di pons, antara pons dan sakral medula spinalis, serta
radiks S2-S4 akan menimbulkan gangguan dari fungsi kandung kemih dan
4|Page

hilangnya sensibilitas kandung kemih, seperti pada pasien stroke, Parkinson,


pasien dengan trauma medula spinalis, maupun pasien dengan lesi pasca operasi.
Kelainan fungsional disebabkan oleh karena hambatan mobilitas pada pasien
(Hendra dan Moeloek, 2002; Japardi, 2002; Resnick and Yalla, 1998; Setiati dan
Pramantara, 2007).
Inkontinensia urin pada wanita dapat terjadi akibat melemahnya otot dasar
panggul yang dapat disebabkan karena usia lanjut, menopause, kehamilan, pasca
melahirkan, kegemukan (obesitas), kurang aktivitas, atau adanya infeksi saluran
kemih. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia
menopause, akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih
(uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urin. Penambahan berat
dan tekanan selama kehamilan konsepsi dapat menyebabkan melemahnya otot
dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat
membuat otot-otot dasar panggul dan saraf perifer pelvis rusak akibat regangan
otot serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya
inkontinensia urine. Pada infeksi traktus urinarius dapat menyebabkan iritasi
kandung kemih sehingga timbul frekuensi, disuria dan urgensi (Vitriana, 2002;
Setiati dan Pramantara, 2007)
Baik secara langsung maupun tidak langsung, merokok juga akan berakibat
pada terjadinya inkontinensia urin. Hal ini disebabkan karena pada perokok
memiliki resiko penyakit paru obstruktif kronis dan timbul batuk kronis yang
dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdomen. Sehingga merokok
dapat menjadi penyebab inkontinensia urin (Luber, 2004).
2.3 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yag ditemukan pada pasien dengan retensi urin menurut Uliyah
(2008) yaitu:
1.

Ketidaknyamanan daerah pubis

2.

Distensi vesika urinaria

3.

Ketidak sanggupan untuk berkemih

4.

Sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine. (25-50 ml)
a.

Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan


asupannya
5|Page

b.

Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih

c.

Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.

2.4 Patofisiologi
Pada lanjut usia inkontinensia urin berkaitan erat dengan anatomi dan
fisiologis juga dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis dan lingkungan.
Pada tingkat yang paling dasar, proses berkemih diatur oleh reflek yang berpusat
di pusat berkemih disacrum. Jalur aferen membawa informasi mengenai volume
kandung kemih di medulla spinalis (Darmojo, 2000)
Pengisian kandung kemih dilakukan dengan cara relaksasi kandung kemih
melalui penghambatan kerja syaraf parasimpatis dan kontraksi leher kandung
kemih yang dipersarafi oleh saraf simpatis serta saraf somatic yang
mempersyarafi otot dasar panggul (Guyton, 1995).
Pengosongan kandung kemih melalui persarafan kolinergik parasimpatis
yang menyebabkan kontraksi kandung kemih sedangkan efek simpatis kandung
kemih berkurang. Jika kortek serebri menekan pusat penghambatan, akan
merangsang timbulnya berkemih. Hilangnya penghambatan pusat kortikal ini
dapat disebabkan karena usia sehingga lansia sering mengalami inkontinensia
urin. Karena dengan kerusakan dapat mengganggu kondisi antara kontraksi
kandung kemih dan relaksasi uretra yang mana gangguan kontraksi kandung
kemih akan menimbulkan inkontinensia (Setiati, 2001).
2.5 Klasifikasi
Inkontinensia urin dapat diklasifikasikan berdasarkan durasinya yaitu Transient
Incontinence (sementara) dan Established / True Incontinence (menetap):
1)

Transient Incontinence
Bersifat sementara dan biasanya hanya berdurasi singkat, sampai faktor yang

menimbulkan dihilangkan. Dialami oleh hampir separuh pasien di rumah sakit


dan pada sepertiga orang tua. Secara umum dihubungkan dengan masalah medis,
faktor lingkungan, dan terapi obat. Evaluasi pada pasien terhadap faktor yang
berhubungan dengan inkontinensia urin transien mampu mengembalikan
kemampuan pasien menahan kencing. Penyebab umum dari Inkontinensia Urin
Transien ini sering disingkat DIAPPERS, yaitu:
a)

D Delirium atau kebingungan - pada kondisi berkurangnya kesadaran


6|Page

baik karena pengaruh obat atau operasi, kejadian inkontinensia akan


dapat dihilangkan dengan mengidentifikasi dan menterapi penyebab
delirium.
b)

I Infection infeksi saluran kemih seperti cystitis dan urethritis dapat


menyebabkan iritasi kandung kemih, sehingga timbul frekuensi, disuria
dan urgensi yang menyebabkan seseorang tidak mampu mencapai toilet
untuk berkemih.

c)

A Atrophic Uretritis atau Vaginitis jaringan yang teriritasi dapat


menyebabkan timbulnya urgensi dan sangat berespon terhadap
pemberian terapi estrogen.

d) P Pharmaceuticals karena obat-obatan, seperti terapi diuretik akan


meningkatkan pembebanan urin di kandung kemih.
e)

P Psychological Disorder seperti stres, anxietas, dan depresi.

f)

E Excessive Urin Output dapat karena intake cairan, diuretik,


alkoholisme, pengaruh kafein.

g)

R Restricted Mobility penurunan kondisi fisik lain yang mengganggu


mobilitas untuk mencapai toilet.

h) S Stool Impaction pengaruh tekanan feses pada kondisi konstipasi akan


mengubah posisi kandung kemih dan menekan saraf.
2)

Established / True Incontinence


Established / True Incontinence merupakan inkontinensia urin yang bersifat

menetap dan dapat diklasifikasikan berdasarkan gejalanya menjadi:


a) Inkontinensia Tipe Urgensi
Tipe ini ditandai dengan pengeluaran urin di luar pengaturan berkemih
yang normal. Biasanya dalam jumlah yang banyak, karena ketidakmampuan
menunda berkemih setelah sensasi penuhnya kandung kemih diterima oleh
pusat yang mengatur proses berkemih. Terdapat gangguan pengaturan
rangsang dan otot-otot detrusor kandung kemih. Istilah lain inkontinensia
tipe ini adalah over aktivitas detrusor. Gejala klinis yang timbul adalah
keinginan berkemih yang mendadak dan terburu-buru.
b) Inkontinensia Tipe Stres

7|Page

Keluarnya urin di luar pengaturan berkemih, biasanya dalam jumlah


sedikit, akibat peningkatan tekanan intra abdominal seperti saat bersin,
tertawa, atau olahraga, jarang terdapat pada pria dan biasanya tidak
mengeluhkan adanya nokturia.
c) Inkontinensia Tipe Luapan
Tipe ini ditandai dengan keluarnya urin dalam jumlah sedikit, sering
berkemih dan nokturia. Tipe ini banyak dijumpai pada pria. Penyebab umum
dari inkontinensia urin tipe ini antara lain sumbatan akibat kelenjar prostat
yang membesar dan penyempitan jalan keluar urin.
d) Inkontinensia Tipe Fungsional
Kebocoran urin secara dini akibat ketidakmampuan subjek mencapai
toilet pada waktunya karena gangguan fisik, kognitif atau hambatan situasi
dan lingkungan. Misalnya pada orang dengan kursi roda, menderita
Alzheimer, atau arthritis membutuhkan cukup banyak waktu untuk mencapai
toilet. Namun inkontinensia tipe ini sebenarnya memiliki fungsi saluran
kemih yang normal.
e) Inkontinensia Tipe Campuran
Tipe-tipe inkontinensia dapat terjadi bersamaan. Apabila terjadi secara
bersamaan maka kondisi ini sering disebut inkontinensia urin kompleks /
campuran (Hendra dan Moeloek, 2002; Merkelj, 2002; Moore, 2003;
Resnick and Yalla, 1998; Shimp and Peggs, 2000).

2.6 Pemeriksaan Diagnostik


1. Urinalisis
Digunakan untuk melihat apakah ada bakteri, darah dan glukosa dalam
urine.
2. Uroflowmeter
Digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan
obstruksi pintu bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika
pasien berkemih.

8|Page

3. Cysometry
Digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuskular kandung kemih
dengan mengukur efisiensi refleks otot destrusor, tekana dan kapasitas
intravesikal, dan reaksi kandung kemih terhadap rangsangan panas.

4. Urografi ekskretorik
Disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi
struktur dan fungsi ginjal, ureter dan kandung kemih.

5. Kateterisasi residu pascakemih


Digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan kandung kemih dan
jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien berkemih.
2.7 Penatalaksanaan
1. Inkontinensia Urgensi
Latihan mengenal sensasi berkemih dan penyesuaiany
Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen
Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan dan lain-lain
keadaan patologik yang menyebabkan iritasi pada saluran kemih

bagian bawah
Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak

mungkin secara menetap


Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan

2. Inkontensia overflow
Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak mungkin

secara menetap
Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan

9|Page

3. Inkontinensia tipe fungsional


Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan kebiasaan

berkemih
Pekaian dalam dan kain penyerap khusus lainnya
Penyesuaian/modifikasi lingkungan tempat berkemih
Kalau perlu digaunakan obat-obatan yang merelaksasi kandung
kemih

2.8 Komplikasi
1. Meningkatkan efek samping dari penggunaan obat-obatan
2. Meningkatkan peluang infeksi karena pajanan urin terus-menerus
3. Komplikasi bedah seperti perdarahan, kerusakan sekitar pembuluh
darah dan nervus.

1. Deteksi Inkontinensia Urin pada Usia Post Menopause dengan


Menggunakan Kuesioner IIQ-7 dan UDI-6 Urinary Incontinence Detection
In Post-Menopause Age Using IIQ-7 And UDI-6
10 | P a g e

Salah satu masalah dalam berkemih adalah inkontinensia urin. Pada wanita
usia lanjut banyak yang mengeluhkan kesulitan dalam mengontrol buang air kecil.
Pada penelitian Buchsbaum dkk didapatkan angka kejadian terbanyak
inkontinensia urin terbanyak pada kelompok postmenopause. Berbagai faktor
risiko dapat mempengaruhi terjadinya inkontinensia ini, antara lain persalinan per
vaginam, BMI, riwayat histerektomi, infeksi saluran kemih, dan trauma perineum.
Gangguan ini sering kali berdampak terhadap kualitas hidup individu yang
bersangkutan. Namun demikian sebagian besar individu dengan gangguan ini
tidak berupaya datang untuk berobat. Oleh karena itu, agak sulit untuk
mengetahui prevalensi dan dampak sosial inkontinensia ini secara pasti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian inkontinensia urin
pada

usia

postmenopause

berdasarkan

kuesioner

Incontinence

Impact

Questionnaire (IIQ-7) dan Urinary Distress Inventory (UDI-6) di Bagian Obstetri


& Ginekologi, FK Unsrat/RSU Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado. Penelitian
menggunakan metode deskriptif observasional dengan cara wanita usia
postmenopause diminta kesediaannya mengisi kuesioner. Subjek penelitian ini
adalah 75 wanita postmenopause dengan umur rerata 56 tahun.
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh didapatkan 61,3% wanita dengan postur
tubuh normal; 5,3% kurus; 29,3% gemuk dan 4,0% obesitas. Sebesar 6,7%
responden dengan riwayat histerektomi dan 5.3% dengan riwayat stroke. Dari
keseluruhan responden 92% mengeluhkan inkontinensia urin dan 90,7%
terganggu aktifitas hidupnya. Terbanyak pada kelompok umur 50-54 tahun.
Keluhan inkontinensia ditemukan pada kelompok dengan berat badan normal
(57,3%). Terdapat 3 wanita dengan obesitas, semuanya mengalami inkontinensia
urin. Pada kelompok kawin lebih sering (88,0%) ditemukan keluhan inkontinensia
urin. Pada penelitian ini didapatkan semua wanita dengan 3 anak atau lebih
mengeluh

inkontinensia

urin.

Simpulan

penelitian

ini

adalah

keluhan

inkontinensia urin terbanyak ditemukan pada kelompok umur 50-54 tahun.


Berdasarkan indeks massa tubuh didapatkan wanita dengan postur tubuh normal,
riwayat histerektomi, dan riwayat stroke tidak bermakna mengalami keluhan
inkontinensia urin. Ibu dengan 3 anak atau lebih pada penelitian ini didapatkan
angka kejadian inkontinensia yang tinggi.

11 | P a g e

2. Hubungan Kelebihan Berat Badan Dengan Inkontinensia Urin Pada


Wanita Di Wilayah Surakarta
Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali
pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan
jumlahnya yang mengakibatkan masalah sosial dan higienis penderitanya (Setiati
dan Pramantara, 2007).. Dalam masyarakat masalah ini sangat jarang dikeluhkan,
namun inkontinensia urin ini merupakan salah satu masalah penting dalam hal
kesehatan. Inkontinensia urin meningkat seiring dengan bertambahnya usia,
namun dapat terjadi di segala rentang usia. Kejadian ini lebih sering dijumpai
pada wanita, karena secara anatomi uretra wanita lebih pendek dibanding pria.
Adanya peningkatan status ekonomi di negara-negara berkembang, terjadi pula
peningkatan prevalensi orang-orang dengan berat badan berlebih/IMT (Indeks
Massa Tubuh) yang tinggi. Peningkatan IMT ini akan meningkatkan resiko
terjadinya inkontinensia urin, dimana akan terjadi peningkatan tekanan
intraabdominal dan kelemahan otot dasar panggul.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kelebihan berat
badan dengan inkontinensia urin pada wanita di wilayah Surakarta. Penelitian ini
bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dimana teknik
sampling yang digunakan adalah purposive cluster random sampling. Besar
sampel sebanyak 100 wanita dengan rentang usia 25-45 tahun, yang terdiri dari 50
wanita dengan berat badan normal dan 50 wanita dengan berat badan berlebih
(overweight dan obesitas). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan
uji korelasi Lambda.
Didapatkan bahwa wanita dengan berat badan normal cenderung tidak
mengalami inkontinensia urin yakni sejumlah 38 orang (65.5%) daripada wanita
dengan berat badan berlebih, dengan kata lain inkontinensia urin lebih banyak
dialami oleh wanita dengan berat badan berlebih yakni sejumlah 30 orang
(71,4%). Hal ini sesuai dengan teori bahwa wanita dengan berat badan berlebih
memiliki resiko lebih besar untuk mengalami inkontinensia urin. IMT yang tinggi
akan memudahkan terjadinya inkontinensia urin, dan suatu hubungan yang positif
antara IMT dengan inkontinensia urin.
Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan uji Lambda tampak
12 | P a g e

nilai p < 0.05 dan kekuatan hubungan antara kelebihan berat badan dengan
inkontinensia urin dengan nilai sebesar 0.238. Berarti kedua variabel yang diuji
memiliki suatu hubungan yang signifikan dimana variabel bebas memiliki
pengaruh terhadap variabel tergantung, yakni kelebihan berat badan mampu
menjadi faktor terjadinya inkontinensia urin. Kekuatan hubungan keduanya
adalah lemah, dimana orang dengan kelebihan berat badan akan memiliki resiko
tinggi mengalami inkontinensia urin, namun tidak semua orang dengan berat
badan berlebih akan mengalami inkontinensia urin (Dahlan, 2008).

3. Pengalaman Lansia Dalam Penanganan Inkontinensia Urine Di Wilayah


Kerja Puskesmas Kamonji
Proses menua merupakan proses yang unik dan terjadi pada semua orang
yang dipengaruhi oleh factor biologis, psikologis, social, fungsional dan spiritual.
Proses menua yang dialami oleh individu akan menyebabkan gangguan atau
penurunan fungsi organ tubuh yang dapat mempengaruhi status kesehatan
seseorang. Salah satu masalah kesehatan yang terjadi pada lansia adalah gangguan
pada system urinarius yaitu inkontinensia urine. Inkontinensia urine adalah
pengeluaran urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar
keinginan (Smeltzer & Bare, 2000). Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien
dapat menimbulkan dampak yang merugikan pada pasien, seperti gangguan
kenyamanan karena pakaian basah terus, risiko terjadi dekubitus (luka pada
daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan rasa rendah diri pada pasien.
Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi
pengontrolan keluarnya urin. Penanganan inkontinensia urin sebagian besar
tergantung pada penyebabnya.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mendalam tentang
pengalaman lansia terkait penanganan inkontinensia urine di Wilayah Kerja
Puskesmas Kamonji. Rancangan penelitian ini menggunakan desain riset
kualitatif dengan model pendekatan fenomenologi deskriptif. Tahapan penelitan
fenomenologi deskriptif terdiri dari: intuiting, analyzing dan describing. Peneliti
pada tahap intuiting memahami pengalaman lansia berdasarkan kerangka berpikir
peneliti sendiri dengan melakukan literature review. Data diolah dengan
13 | P a g e

menggunakan teknik Collaizi (1978) yang terdiri dari 7 (tujuh) langkah. Jumlah
partisipan yang ikut serta dalam penelitian ini adalah 2 orang dengan usia > 90
tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda dan gejala inkontinensia urine
yaitu buang air kecil di sembarang tempat. Tidak ada pencegahan khusus untuk
menangani inkontinensia urine. Tidak ada penanganan secara medis dan
konservatif yang dilakukan dan petugas kesehatan tidak pernah memberi tahu
tentang perawatan inkontinensia urine. Kesimpulannya didapatkan 3 (tiga) tema
pengalaman lansia terhadap penanganan inkontinensia urine yaitu buang air kecil
dimana saja, tidak ada pencegahan khusus untuk mengatasi ngompol, dan petugas
kesehatan tidak pernah memberi tahu tentang perawatan. Hasil penelitian ini
diharapkan menjadi bahan masukan bagi puskesmas berupa tambahan
pengetahuan dan wawasan dalam praktik keperawatan sehingga dalam
pelaksanaan Panti Sosial Tresna Werda agar lebih memperhatikan masalahmasalah yang dihadapi lansia terutama mengenai masalah inkontinensia urine.

4. Efektivitas Terapi Behavioral Terhadap Inkontinensia Urin Pada Usila Di


PSTW Budi Luhur Yogyakarta
Inkontinensia urin merupakan gangguan pada sistem perkemihan berupa
kehilangan kemampuan kontrol berkemih yang dapat bersifat sementara maupun
menetap. Inkontinensia urin lebih sering terjadi pada kelompok usia tua atau
lanjut usia (usila). Diperkirakan 1 dari 10 orang yang berusia 65 tahun atau lebih
menderita gangguan ini. Kejadian inkontinensia urin dapat ditemukan pada 50%
usila yang ada di nursing homes atau panti sosial tresna werdha (PSTW). Terapi
utama dalam kelompok terapi non farmakologis dikenal sebagai Behavioral
therapies, yaitu berbagai intervensi yang diajarkan kepada pasien untuk
memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih. Terapi
behavioral dilakukan dengan cara pengaturan frekuensi (penjadwalan) berkemih.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi behavioral
berupa penurunan frekuensi keluhan inkontinensia urin pada usila. Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain Pre-Post Test
Eksperimen. Sampel penelitian adalah usila inkontinensia urin di PSTW Budi
14 | P a g e

Luhur Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive Sampling,


didapat 15 responden. Analisa data yang digunakan adalah uji Wilcoxon untuk
mengetahui perbandingan hasil pretest dan posttest setelah perlakuan terapi
behavioral.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi behavioral tidak mempunyai
pengaruh yang bermakna terhadap inkontinensia urin pada usila di PSTW Budi
Luhur, dengan nilai Z sebesar -1,694 dan p sebesar 0,090 pada level p<0.05.
Kesimpulan penelitian adalah terapi behavioral tidak efektif untuk semua keluhan
inkontinensia urin pada usila di PSTW Budi Luhur Yogyakarta.

5. Pengaruh Latihan Bladder Training Terhadap Penurunan Inkontinensia Pada


Lanjut Usia Di Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta

Pada lanjut usia sering terjadi masalah empat besar yang memerlukan
perawatan segera, yaitu: imobilisasi, ketidakstabilan, gangguan mental, dan
inkontinensia. Masalah inkontinensia tidak disebabkan langsung oleh proses
penuaan, pemicu terjadinya inkontinensia pada lanjut usia adalah kondisi yang
sering terjadi pada lanjut usia yang dikombinasikan dengan perubahan terkait usia
dalam sistem urinaria. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi
inkontinensia urine pada lanjut usia antara lain dengan pemberian latihan bladder
training. Prevalensi inkontinensia pada lanjut usia wanita di Asia cukup tinggi
yaitu sebesar 38% dan pria 19%. Hasil wawancara dengan pegawai panti
wreda dharma bakti surakarta pada bulan desember 2011, terdapat 43 lansia yang
mengalami inkontinensia dari 85 lansia yang tinggal di panti, atau prevalensinya
mencapai 50,58%. Dari pihak panti belum melakukan penatalaksanaan untuk
mengatasi inkontinensia, termasuk salah satunya dengan bladder training.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh latihan
bladder training terhadap penurunan inkontinensia pada lanjut usia di Panti
Wredha Dharma Bakti Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
dengan metode quasy eksperimen dan design non equivalent control group design.
Populasi penelitian adalah lanjut usia di panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta

15 | P a g e

yang berjumlah 43 lanjut usia dan sample penelitian ditentukan sebanyak 24


lanjut usia yang dibagi dalam kelompok perlakuan yaitu kelompok yang diberikan
latihan bladder training dan kelompok kontrol yang tidak diberikan latihan
apapun. Instrument penelitian berupa lembar observasi frekuensi berkemih lanjut
usia dalam kurun waktu 12 jam pengamatan. Metode analisis uji adalah uji paired
t-test (uji beda rata-rata).
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Rata-rata frekuensi berkemih lanjut usia
di Panti Wredha Dharma Bhakti sebelum pemberian latihan bladder training pada
kelompok perlakuan adalah 8,25 kali per 12 jam dan pada kelompok kontrol 8,08
kali per 12 jam, (2) rata-rata frekuensi berkemih lanjut usia di panti
Wredha Dharma Bhakti sesudah pemberian latihan bladder training pada
kelompok perlakuan adalah 4,92 kali per 12 jam dan pada kelompok kontrol 8,25
kali per 12 jam, dan (3) hasil uji t-test pre test frekuensi berkemih diperoleh nilai
thitung sebesar 0,343 dengan p-value 0,735, maka H 0 diterima disimpulkan
bahwa frekuensi berkemih awal (pre test) pada kedua kelompok tidak berbeda
(matching), sedangkan pada akhir (post test) berbeda dengan nilai thitung sebesar
7,348 dengan p-value 0,000, maka H 0 ditolak, disimpulkan bahwa post test
frekuensi berkemih antara kelompok perlakuan dan kontrol berbeda. Dimana ratarata post test kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol,
sehingga disimpulkan terdapat pengaruh latihan bladder training terhadap
inkontinensia pada lanjut usia di Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta.

6. Latihan Kegel Dengan Penurunan Gejala Inkontinensia Urin Pada Lansia


Inkontinensia urin merupakan keluhan yang sering dialami lansia, yang
biasanya disebabkan oleh penurunan kapasitas kandung kemih dan berkurangnya
kemampuan tahanan otot lurik pada uretra karena perubahan fisiologis pada lansia
(Darmojo & Soetojo, 2006). Tingginya angka kejadian inkontinensia urin
menyebabkan perlunya penanganan yang sesuai, karena jika tidak segera
ditangani inkontinensia dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti infeksi
saluran kemih, infeksi kulit daerah kemaluan, gangguan tidur, dekubitus, dan
gejala ruam. Selain itu, masalah psikososial seperti dijauhi orang lain karena
berbau pesing, minder, tidak percaya diri, mudah marah juga sering terjadi dan hal
16 | P a g e

ini berakibat pada depresi dan isolasi sosial. Menurut Stanley 2007 dan Soetojo
2006 penanganan yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami
inkontinensia urin meliputi Kegel exercise, manuver crede, bladder training,
toiletting secara terjadwal, kateterisasi, pengobatan dan pembedahan. Terapi non
operatif yang populer adalah Kegel exercise, Kegel exercise adalah latihan
kontraksi otot dasar panggul secara aktif yang bertujuan untuk meningkatkan
kekuatan otot dasar panggul (Pujiastuti, 2003). Latihan kegel sangat bermanfaat
untuk menguatkan otot rangka pada dasar panggul, sehingga memperkuat fungsi
sfingter eksternal pada kandung kemih (Widiastuti, 2011).
Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas latihan kegel terhadap
penurunan gejala inkontinensia urin pada lansia. Desain penelitian adalah quasyexperiment. Penetapan sampel menggunakan teknik purposiv sampling.
Berdasarkan survei yang dilakukan diperoleh jumlah sampel sebanyak 26 orang.
Sampel ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 13 orang intervensi dan 13 orang
kontrol. Untuk mengetahui penurunan inkontinensia urin pre dan post dilakukan
intervensi latihan kegel, maka uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
statistik paired t-test (t-test dependen). Sedangkan untuk perbedaan penurunan
gejala inkontinensia urin pada kelompok intervensi dan kontrol diuji dengan
menggunakan uji statistik independent t-test.
Hasil analisa data menunjukkan bahwa gejala inkontinensia urin sebelum
latihan kegel pada kelompok intervensi sebanyak 53,8% ringan dan 46,2%
sedang. Sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 61,5% ringan dan 38,5%
sedang. Setelah dilakukan intervensi, gejala inkontinensia urin pada kelompok
intervensi sebanyak 100% ringan sedangkan pada kelompok kontrol 61,5% ringan
dan 38,5% sedang. Hasil uji paired t-test pada kelompok intervensi menunjukkan
bahwa gejala inkontinensia urin berbeda antara pre-post latihan kegel ( t= 17,725,
p= 0,000). Selanjutnya dengan uji independent t-test, penelitian ini juga
menunjukkan bahwa penurunan gejala inkontinensia urin pada kelompok
intervensi berbeda dengan kelompok kontrol (t= -3,215, p=0,004). Penelitian ini
menunjukkan bahwa latihan kegel efektif terhadap penurunan gejala inkontinensia
urin pada lansia. Dengan demikian perawat dapat mengajarkan latihan kegel
sebagai intervensi nonfarmakologis untuk mengatasi inkontinensia urin.
7. Pengaruh latihan Kegel Terhadap Frekuensi lnkontinensia Urine Pada
17 | P a g e

Lansia di Panti Wreda Pucang Gading Semarang


lnkontinenesia urine sering kali menyebabkan pasien dan keluarganya
frustasi, bahkan depresi. Bau yang tidak sedap dan perasaan kotor, tentu akan
menimbukan masalah social dan psikologis. selain iu inkontinensia urine juga
akan mengganggu akvitas fisik, seksual dehidrasi karena umumnya penderita akan
mengurangi minumnya khawatir terjadi ngompol. Masalah lain yang dapat
ditemukan adalah adanya dekubitus dan infeksi saluran kemih yang berulang,
disamping dibutuhkan biaya perawatan sehari-hari yang relative lebih tinggi untuk
keperluan membeli tampon (Setiati, 2001 ). Terdapat cara yang digunakan untuk
memperbaiki ketidakmampuan berkemih yaitu dengan latihan otot dasar panggul
(pelvic muscte exercise) atau sering disebut dengan latihan kegel. Latihan kegel
adalah latihan yang digunakan untuk memperkuat otot dasar panggul dengan cara
mengkontraksikan rectum dan uretra yang ditahan selama 3-5 detik. Kemudian
merelaksasikannya, dan ini diulangi sebanyak l0 kali selama 4 minggu. Kontraksi
otat dasar panggul yang melemah dapat menyebabkan inkontinensia urine, dimana
ini merupakan salah satu masalah yang dialami lansia dan perlu mendapatkan
perhatian khusus seiring dengan meningkatnya populasi lansia di indonesia.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan
kegel terhadap frekuensi inkontinensia urine pada lanjut usia (lansia). Sedangkan
tuiuan khususnya adalah untuk mengidentilikasi inkontinensia urine pada lanjut
usia sebelum dan sesudah dilakukan latihan kegel. Menganalisis perbedaan
frekuensi inkontinensia urine sebelum dan sesudah dilakukan latihan kegel.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi Eksperimental dengan
rancangan "Time Series Design" yang dilakukan pada 24 orang responden, untuk
mengetahui pengaruh latihan kegel terhadap frekuensi inkontinensia urine pada
lansia. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara sampling
jenuh yaitu cara pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi
menjadi sampel (Hidayat, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa setelah dilakukan latihan kegel terjadi
penurunan frekuensi inkotinensia urine sebesu 21,6 o/o dari 10,043 kali menjadi
7,871 kali. Dari hasil uji T-dependent test didapatkan nilai p sebesar 0,000
sehingga ada pengaruh latihan kegel terhadap frekuensi inkontinensia urin pada
lansia di PantiWreda Pucang Gading Semarang. Hasil penelitian tersebut
18 | P a g e

mengindikasikan perlunya latihan kegel secara teratur dalam waktu yang relatif
lama untuk mengetahui pengaruh latihan kegel terhadap penurunan frekuensi
inkontinensia urin.

8. Penelitian Mekanisme Koping Pada Lansia Yang Mengalami Inkontinensia


Urin Di Unit Pelayanan Terpadu Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten
Magetan
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, tidak
mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri dan menerima nafkah dari
orang lain. Pada lansia biasanya terjadi perubahan pada berbagai sistem tubuh,
salah satunya adalah sitem perkemihan atau urinaria. Bentuk perubahan tersebut
salah satunya adalah terjadinya inkontinensia urine yaitu pengeluaran urine secara
spontan yang mengakibatkan masalah atau gangguan kesehatan dan interaksi
sosial. Diperlukan suatu mekanisme koping dalam menyelesaikan masalah
tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mekanisme koping pada
lansia yang mengalami inkontinensia urine, di Unit Pelayanan Terpadu Panti
Sosial Lanjut Usia Kabupaten Magetan. Desain penelitian ini adalah diskriptif
dengan populasi seluruh lansia yang mengalami inkontinensia urine di Unit
Pelayanan Terpadu Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Magetan , dengan sampel
sebanyak 30 responden. Metode penelitian menggunakan Purposive Sampling,
pengumpulan data menggunakan kuesioner yang di bagikan pada lansia yang
mengalami inkontinensia urine di Unit Pelayanan Terpadu Panti Sosial Lanjut
Usia Kabupaten Magetan.
Dari hasil penelitian didapatkan dari 30 responden: saat mengalami
inkontinesia hampir seluruhnya 25 responden atau (83,3%) menggunakan
mekanisme koping mal adaftif, dan sebagian kecil 5 responden atau (16,7%)
menggunakan mekanisme koping adaftif.

19 | P a g e

9. Pola Inkontinensia Urin Pada Wanita Usia Diatas Lima Puluh Tahun

Inkontinensia urin pada wanita merupakan problem kesehatan dan juga


sosial. Angka kejadiannya meningkat seiring dengan peningkatan usia. Prevalensi
inkontinensia urin belum diketahui pasti. Angkanya berbeda-beda tergantung dari
jumlah sampel populasi dan metodologi penelitian.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola inkontinensia urin
pada wanita usia diatas lima puluh tahun meliputi angka kejadian, tipe yang
banyak dijumpai, factor-faktor yang mempengaruhi kejadian, dan usaha yang
dilakukan untuk mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah secara
deskriptif observasional dengan metode potong lintang. Sampel pada penelitian
ini adalah 386 wanita usia 50 tahun keatas di Semarang.
Hasil penelitian menunjukkan, dari jumlah sampel 386 didapatkan yang
mengalami inkontinensia urin sebanyak 91 responden (23,6%) dan tidak
mengalami inkontinensia urin sebanyak

295 responden (76,4%). Tipe-tipe

inkontinensia urin yang didapatkan adalah stress incontinence sebanyak 19


responden (20,8 %), urge incontinence 22 responden (24,2 %), dan mixed
incontinence sebanyak 50 responden (55,0 %). Tidak ada hubungan yang
bermakna antara inkontinensia urin dengan umur dan jenis pekerjaan (p=-0,05),
sedangkan jumlah paritas > 5, lama menopause > 10 tahun, dan cara persalinan
menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05 ). Akibat inkontinensia urin
terbanyak adalah gangguan tidur 58 responden ( 63,7%) dan perilaku mengganti
celana dalam terbanyak 3-5 kali perhari sebanyak 48 responden (52,7 %). Masih
banyak yang tidak berusaha untuk mengatasi inkontinensia urin yaitu 70
responden (76,9%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah angka kejadian
inkontinensia urin pada wanita usia diatas lima puluh tahun sebanyak 23,6%, tipe
terbanyak mixed incontinence, faktor yang berpengaruh kejadian inkontinensia
urin adalah jumlah paritas > 5, lama menopause > 10 tahun dan cara persalinan,
inkontinensia urin mengganggu perasaan dan perilaku, tetapi masih banyak yang
belum berusaha untuk mengatasinya.

10. Pelatihan Terpadu (Kegel dan Core Stability) Meningkatkan Kekuatan


20 | P a g e

Otot Dasar Panggul Wanita Multipara


Kekuatan otot dasar panggul (ODP) menurun setelah hamil dan melahirkan
pervaginam terutama pada wanita multipara. Kelemahan ODP bisa mengakibatkan gangguan berkemih, prolap organ pelvis, dan disfungsi seksual.
Kelemahan ODP bisa dikuatkan kembali dengan pelatihan penguatan ODP dan
sudah teruji manfaatnya bila dilakukan secara benar tanpa menggunakan otot-otot
penunjang lain-nya. Pelatihan terpadu (Kegel dan core stability) lebih selektif
untuk meningkatkan kekuatan ODP. Otot dasar panggul dan otot transversus
abdominus merupakan grup otot core yang telah diketahui merupakan bagian dari
sistem stabilitas lumbo-pelvis. Komponen yang lain adalah diafragma thorak dan
otot multividus. Meningkatnya aktifitas otot transversus abdominus sinergis
dengan meningkatnya aktivitas otot dasar panggul.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelatihan terpadu (Kegel
dan core stability) meningkatkan kekuatan ODP. Metode penelitian ini adalah
penelitian true experimental, randomized pre and post test group design. Dari 24
wanita multipara usia 28-49 tahun karyawan R.S Setia Mitra yang memenuhi
kriteria inklusi dibagi dua kelompok perlakuan secara random sama banyak.
Kelompok perlakuan I diberi pelatihan ODP (metode Kegel) dan kelompok
perlakuan II diberi pelatihan terpadu (Kegel dan Core stability). Pelatihan
dilakukan 3x per minggu selama 8 minggu. Semua sampel diwajibkan pula
melakukan pelatihan penguatan ODP sendiri sambil melakukan aktivitas sehariharinya. Sebelum dan setelah 8 minggu pelatihan semua sampel diukur kekuatan
ODP dengan pelvixiser perineumeter.
Hasil penelitian ini menunjukkan kekuatan ODP kelompok perlakuan I
sebelum pelatihan didapat nilai rerata 11 (2,86) dan sesudah pelatihan 15,33
(3,025) berbeda secara bermakna (p<0,005). Pada kelompok perlakuan II
sebelum pelatihan didapat nilai rerata 11,08 (4,87) dan setelah perlakuan
didapatkan nilai rerata 19,58 ( 3,025) berbeda secara bermakna (p<0,05). Nilai
rerata selisih kekuatan ODP kelompok perlakuan I 4,67 (0,253), sedang
kelompok perlakuan II mempunyai nilai rerata selisih 8,58 (0,144) berbeda
secara bermakna (p<0,05). Kesimpulan yang dapat diambil, pelatihan terpadu
(Kegel dan core stability) lebih efektif meningkatkan kekuatan ODP wanita
multipara dibandingkan pelatihan ODP (metode Kegel). Hasil penelitian ini
diharapkan dapat disosialisasikan kepada semua wanita yang mempunyai
21 | P a g e

gangguan inkontinensia urin, prolaps organ pelvis, dan disfungsi seksul.

22 | P a g e

BAB III
ANALISA JURNAL

No
.
1.

Identitas Penelitian
Hermie

MM

Deteksi
Urin

Tendean, Untuk

Inkontinensia

pada

Usia

Menopause

Post

dengan

Menggunakan
IIQ-7

Tujuan Penelitian

Kuesioner

dan

UDI-6

mengetahui

Metodelogi Penelitian

angka Penelitian

menggunakan Berdasarkan

kejadian inkontinensia urin metode

Indeks

Massa

Tubuh

deskriptif didapatkan 61,3% wanita dengan postur

pada usia postmenopause observasional dengan cara tubuh normal; 5,3% kurus; 29,3% gemuk
berdasarkan

kuesioner wanita usia postmenopause dan 4,0% obesitas. Sebesar 6,7% responden

Incontinence

Impact

diminta

kesediaannya dengan riwayat histerektomi dan 5.3%

Questionnaire (IIQ-7) dan mengisi kuesioner.

Urinary

Incontinence

Urinary Distress Inventory

Detection

In

(UDI-6) di Bagian Obstetri menopause

Post-

Hasil Penelitian

Ginekologi,

Sampel:

wanita
sebanyak

dengan riwayat stroke. Dari keseluruhan


post responden 92% mengeluhkan inkontinensia
75 urin

dan

90,7%

terganggu

aktifitas

Menopause Age

&

FK orang dengan umur rerata 56 hidupnya. Terbanyak pada kelompok umur

Using IIQ-7 And UDI-6

Unsrat/RSU Prof. Dr. R.D. tahun.

50-54

, 2007, Manado.

Kandou, Manado.

ditemukan pada kelompok dengan berat

tahun.

Keluhan

inkontinensia

badan normal (57,3%). Terdapat 3 wanita


dengan

obesitas,

semuanya

mengalami

23 | P a g e

inkontinensia urin. Pada kelompok kawin


lebih sering (88,0%) ditemukan keluhan
inkontinensia urin. Pada penelitian ini
didapatkan semua wanita dengan 3 anak
atau lebih mengeluh inkontinensia urin.
Simpulan penelitian ini adalah keluhan
inkontinensia urin terbanyak ditemukan
pada

kelompok

umur

50-54

tahun.

Berdasarkan indeks massa tubuh didapatkan


wanita dengan postur tubuh normal, riwayat
histerektomi, dan riwayat stroke tidak
bermakna mengalami keluhan inkontinensia
urin. Ibu dengan 3 anak atau lebih pada
penelitian ini didapatkan angka kejadian
2.

Lusila Puri Dwi Jayani, Untuk mengetahui adanya Penelitian


Hubungan
Berat

Badan

Kelebihan
Dengan

Inkontinensia Urin Pada

ini

hubungan kelebihan berat observasional


badan dengan inkontinensia dengan
urin pada wanita di wilayah sectional

inkontinensia yang tinggi.


bersifat Berdasarkan hasil penghitungan dengan
analitik menggunakan uji Lambda tampak nilai p

pendekatan

cross < 0.05 dan kekuatan hubungan antara

dimana

teknik kelebihan berat badan dengan inkontinensia

24 | P a g e

Wanita

Di

Wilayah

Surakarta.

sampling yang digunakan urin dengan nilai sebesar 0.238. Angka ini

Surakarta

adalah

, 2010, Surakarta.

random
yang

purposive

cluster menunjukkan bahwa antara kelebihan berat

sampling.

diperoleh

Data badan dengan inkontinensia urin memiliki

dianalisis suatu hubungan dan kekuatan hubungan

secara statistik dengan uji tersebut lemah. Sehingga dari penelitian ini
korelasi Lambda.

dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan

Sampel: 100 wanita dengan lemah antara kelebihan berat badan dengan
rentang usia 25-45 tahun, inkontinensia urin pada wanita di wilayah
yang terdiri dari 50 wanita Surakarta.
dengan berat badan normal
dan 50 wanita dengan berat
badan berlebih (overweight
dan obesitas).
Lama Penelitian: 1 bulan
3.

Irsanty
Pengalaman
Dalam
Inkontinensia

Collein, Untuk
Lansia
Penanganan
Urine

Di

(Januari-Februari 2010).
memperoleh Rancangan penelitian ini Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda

gambaran mendalam tentang menggunakan desain riset dan gejala inkontinensia urine yaitu buang
pengalaman lansia terkait kualitatif
penanganan

inkontinensia pendekatan

dengan

model air kecil di sembarang tempat. Tidak ada

fenomenologi pencegahan

khusus

untuk

menangani

25 | P a g e

Wilayah Kerja Puskesmas

urine

di

Wilayah

Kamonji, 2012, Palu.

Puskesmas Kamonji.

Kerja deskriptif.

Tahapan inkontinensia urine. Tidak ada penanganan

penelitan

fenomenologi secara medis dan konservatif yang dilakukan

deskriptif

terdiri

dari: dan petugas kesehatan tidak pernah memberi

intuiting,

analyzing

dan tahu tentang perawatan inkontinensia urine.

Peneliti

pada Kesimpulannya didapatkan 3 (tiga) tema

describing.

tahap intuiting memahami pengalaman lansia terhadap penanganan


pengalaman

lansia inkontinensia urine yaitu buang air kecil

berdasarkan

kerangka dimana saja, tidak ada pencegahan khusus

berpikir

peneliti

dengan
literature

sendiri untuk mengatasi ngompol, dan petugas

melakukan kesehatan
review.

tidak

pernah

memberi

tahu

Data tentang perawatan.

diolah dengan menggunakan


teknik Collaizi (1978) yang
terdiri

dari

(tujuh)

langkah.
Sampel: 2 orang dengan usia
4.

> 90 tahun.
mengetahui Penelitian ini

Tedy Jaswadi, Efektivitas

Untuk

Terapi

efektivitas terapi behavioral

Behavioral

merupakan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi

penelitian kuantitatif dengan behavioral tidak mempunyai pengaruh yang

26 | P a g e

Terhadap

Inkontinensia

Urin Pada Usila Di PSTW

berupa penurunan frekuensi menggunakan desain Prekeluhan inkontinensia urin Post

Test

bermakna terhadap inkontinensia urin pada

Eksperimen. usila di PSTW Budi Luhur, dengan nilai Z

Budi Luhur Yogyakarta, pada usila.

Sampel

penelitian

2008, Yogyakarta.

usila inkontinensia urin di level p<0.05. Kesimpulan penelitian adalah


PSTW

Budi

adalah sebesar -1,694 dan p sebesar 0,090 pada


Luhur terapi behavioral tidak efektif untuk semua

Yogyakarta.

Teknik keluhan inkontinensia urin pada usila di

pengambilan sampel dengan PSTW Budi Luhur Yogyakarta.


Purposive
Analisa

Sampling.
data

digunakan

yang

adalah

uji

Wilcoxon untuk mengetahui


perbandingan hasil pretest
dan

posttest

setelah

perlakuan terapi behavioral


Sampel: 15 responden.
Lama Penelitian: 6 hari (5
November-10
2008).
Untuk mengetahui adakah Penelitian

5.

ini

November
merupakan Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Rata-

Sri Wulandari, Pengaruh

27 | P a g e

pengaruh latihan bladder


Latihan Bladder Training
Terhadap

Penurunan

Inkontinensia Pada Lanjut


Usia

Di

Panti

Wreda

Dharma Bakti Surakarta,


2012, Surakarta.

penelitian kuantitatif dengan rata frekuensi berkemih lanjut usia di Panti

training terhadap penurunan metode quasy eksperimen Wredha Dharma Bhakti sebelum pemberian
inkontinensia
usia

pada

di

lanjut dan design non equivalent latihan bladder training pada kelompok
Panti control

group

design. perlakuan adalah 8,25 kali per 12 jam dan

Wredha Dharma Bakti

Metode analisis uji adalah pada kelompok kontrol 8,08 kali per 12 jam,

Surakarta.

uji paired t-test (uji beda (2) rata-rata frekuensi berkemih lanjut usia
rata-rata).
Sampel:
lanjut usia.

di panti Wredha Dharma Bhakti sesudah


24

responden pemberian latihan bladder training pada


kelompok perlakuan adalah 4,92 kali per 12
jam dan pada kelompok kontrol 8,25 kali
per 12 jam, dan (3) hasil uji t-test pre test
frekuensi berkemih diperoleh nilai thitung
sebesar 0,343 dengan p-value 0,735, maka H
0 diterima disimpulkan bahwa frekuensi
berkemih awal (pre test) pada kedua
kelompok

tidak

berbeda

(matching),

sedangkan pada akhir (post test) berbeda


dengan nilai thitung sebesar 7,348 dengan pvalue 0,000, maka H 0 ditolak, disimpulkan

28 | P a g e

bahwa post test frekuensi berkemih antara


kelompok perlakuan dan kontrol berbeda.
Dimana
perlakuan

rata-rata
lebih

post
rendah

test

kelompok

dibandingkan

kelompok kontrol, sehingga disimpulkan


terdapat pengaruh latihan bladder training
terhadap inkontinensia pada lanjut usia di
6.

Angellita Intan Septiastri Untuk melihat efektivitas Desain


dan Cholina Trisa Siregar, latihan

kegel

Latihan Kegel Dengan

penurunan

Penurunan

inkontinensia

Gejala

Inkontinensia Urin Pada


Lansia, 2012, Medan.

lansia.

penelitian

terhadap quasy-experiment.
gejala Penetapan
urin

pada menggunakan

Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta.


adalah Hasil analisa data menunjukkan bahwa
gejala inkontinensia urin sebelum latihan
sampel kegel pada kelompok intervensi sebanyak
teknik 53,8% ringan dan 46,2% sedang. Sedangkan

purposiv sampling. Untuk pada kelompok kontrol sebanyak 61,5%


mengetahui

penurunan ringan dan 38,5% sedang. Setelah dilakukan

inkontinensia urin pre dan intervensi, gejala inkontinensia urin pada


post

dilakukan

intervensi kelompok intervensi sebanyak 100% ringan

latihan kegel, maka uji yang sedangkan pada kelompok kontrol 61,5%
digunakan dalam penelitian ringan dan 38,5% sedang. Hasil uji paired tini adalah uji statistik paired test pada kelompok intervensi menunjukkan

29 | P a g e

t-test

(t-test

dependen). bahwa gejala inkontinensia urin berbeda

Sedangkan untuk perbedaan antara pre-post latihan kegel ( t= 17,725, p=


penurunan

gejala 0,000). Selanjutnya dengan uji independent

inkontinensia

urin

pada t-test, penelitian ini juga menunjukkan

kelompok

intervensi

kontrol

diuji

dan bahwa penurunan gejala inkontinensia urin

dengan pada kelompok intervensi berbeda dengan

menggunakan uji statistik kelompok kontrol (t= -3,215, p=0,004).


independent t-test.

Penelitian ini menunjukkan bahwa latihan

Sampel: 26 orang, dibagi kegel efektif terhadap penurunan gejala


menjadi

dua

kelompok, inkontinensia urin pada lansia.

yaitu 13 orang intervensi


7.

Akhmad
Wahyu

Mustofa

dan Tujuan

dan 13 orang kontrol.


dari Penelitian ini menggunakan Hasil

umum

Widyaningsih, penelitian ini adalah untuk desain

penelitian

Pengaruh latihan Kegel

mengetahui

pengaruh Eksperimental

Terhadap

latihan

terhadap rancangan

Frekuensi

kegel

lnkontinensia Urine Pada

frekuensi

inkontinensia Design".

Lansia di Panti Wreda

urine

lanjut

Pucang

(lansia). Sedangkan tuiuan adalah

Gading

pada

penelitian

bahwa

Quasi setelah dilakukan latihan kegel terjadi


dengan penurunan

"Time

menunjukkan,

Series

frekuensi

inkotinensia

urine

sebesu 21,6 o/o dari 10,043 kali menjadi

Pengambilan 7,871 kali. Dari hasil uji T-dependent test

usia sampel dalam penelitian ini didapatkan nilai p sebesar 0,000 sehingga
dengan

cara ada

pengaruh

latihan

kegel

terhadap

30 | P a g e

Semarang,

2009, khususnya

Semarang.

adalah

untuk sampling jenuh.

mengidentilikasi
inkontinensia

frekuensi inkontinensia urin pada lansia di

Sampel: 24 orang responden

urine

pada

PantiWreda Pucang Gading Semarang. Hasil


penelitian

tersebut

mengindikasikan

lanjut usia sebelum dan

perlunya latihan kegel secara teratur dalam

sesudah dilakukan latihan

waktu yang relatif lama untuk mengetahui

kegel.

pengaruh latihan kegel terhadap penurunan

Menganalisis

perbedaan

frekuensi

frekuensi inkontinensia urin.

inkontinensia urine sebelum


dan
8.

sesudah

dilakukan

Yayuk Aprilia, Penelitian

latihan kegel.
Untuk

mengetahui Desain penelitian ini adalah Dari hasil penelitian didapatkan dari 30

Mekanisme Koping Pada

bagaimana

mekanisme diskriptif. Metode penelitian responden: saat mengalami inkontinesia

Lansia Yang Mengalami

koping pada lansia yang menggunakan

Inkontinensia Urin

mengalami

Di

inkontinensia Sampling,

Purposive hampir

seluruhnya

25 responden atau

pengumpulan (83,3%) menggunakan mekanisme koping

Unit Pelayanan Terpadu

urine, di Unit Pelayanan data

Panti Sosial Lanjut Usia

Terpadu Panti Sosial Lanjut kuesioner yang di bagikan atau (16,7%) menggunakan mekanisme

Kabupaten
2011, Magetan.

Magetan, Usia Kabupaten Magetan.

menggunakan mal adaftif, dan sebagian kecil 5 responden

pada lansia yang mengalami koping adaftif.


inkontinensia urine di Unit
Pelayanan

Terpadu

Panti

31 | P a g e

Sosial

Lanjut

Usia

Kabupaten Magetan.
Sampel: 30 responden.
Lama Penelitian: 4 bulan
(Desember
9.

Untuk
Agung

Wiratmoko,

Pola Inkontinensia Urin


Pada Wanita Usia Diatas
Lima Puluh Tahun, 2006,
Semarang.

mengetahui

inkontinensia
wanita

usia

2012)
pola Metode

urin

pada digunakan

diatas

lima deskriptif

puluh tahun meliputi angka dengan

2011-Maret

penelitian

yang Dari jumlah sampel 386 didapatkan yang

adalah

secara mengalami inkontinensia urin sebanyak 91

observasional responden (23,6%) dan tidak mengalami


metode

potong inkontinensia urin sebanyak 295 responden

kejadian, tipe yang banyak lintang.

(76,4%). Tipe-tipe inkontinensia urin yang

dijumpai, factor-faktor yang Sampel: 386 wanita usia 50 didapatkan

adalah

stress

incontinence

mempengaruhi kejadian, dan tahun keatas di Semarang.

sebanyak 19 responden (20,8 %), urge

usaha yang dilakukan untuk

incontinence 22 responden (24,2 %), dan

mengatasinya.

mixed incontinence sebanyak 50 responden


(55,0 %). Tidak ada hubungan yang
bermakna antara inkontinensia urin dengan
umur

dan

sedangkan

jenis
jumlah

pekerjaan
paritas

>

(p=-0,05),
5,

lama

32 | P a g e

menopause > 10 tahun, dan cara persalinan


menunjukkan hubungan yang bermakna
(p<0,05

).

terbanyak

Akibat
adalah

inkontinensia
gangguan

tidur

urin
58

responden ( 63,7%) dan perilaku mengganti


celana dalam terbanyak 3-5 kali perhari
sebanyak 48 responden (52,7 %). Masih
banyak yang tidak berusaha untuk mengatasi
inkontinensia urin yaitu 70 responden
(76,9%). Kesimpulan dari penelitian ini
adalah angka kejadian inkontinensia urin
pada wanita usia diatas lima puluh tahun
sebanyak 23,6%, tipe terbanyak mixed
incontinence,

faktor

yang

berpengaruh

kejadian inkontinensia urin adalah jumlah


paritas > 5, lama menopause > 10 tahun dan
cara

persalinan,

inkontinensia

urin

mengganggu perasaan dan perilaku, tetapi


masih banyak yang belum berusaha untuk

33 | P a g e

10.

Sri

Kustini,

Pelatihan

mengatasinya.
Untuk mengetahui pelatihan Metode penelitian ini adalah Hasil penelitian ini menunjukkan kekuatan

Terpadu (Kegel dan Core

terpadu (Kegel dan core penelitian true experimental, ODP

Stability)

Meningkatkan

stability)

Kekuatan

Otot

kekuatan ODP.

Panggul

Dasar
Wanita

Multipara, 2010, Jakarta.

kelompok

perlakuan

sebelum

meningkatkan randomized pre and post test pelatihan didapat nilai rerata 11 (2,86) dan
group

design.

semua

Kemudian sesudah pelatihan 15,33 (3,025) berbeda

sampel

diukur secara bermakna (p<0,005). Pada kelompok

ODP

dengan perlakuan II sebelum pelatihan didapat nilai

kekuatan

pelvixiser perineumeter.

rerata 11,08 (4,87) dan setelah perlakuan

Sampel: 24 wanita multipara didapatkan nilai rerata 19,58 ( 3,025)


usia 28-49 tahun karyawan berbeda secara bermakna (p<0,05). Nilai
R.S

Setia

Mitra

yang rerata selisih kekuatan ODP kelompok

memenuhi kriteria inklusi perlakuan I 4,67 (0,253), sedang kelompok


dibagi
perlakuan

dua
secara

kelompok perlakuan II mempunyai nilai rerata selisih


random 8,58 (0,144) berbeda secara bermakna

sama banyak.

(p<0,05). Kesimpulan yang dapat diambil,

Lama Penelitian 8 minggu pelatihan terpadu (Kegel dan core stability)


(Juli-September 2010).

lebih efektif meningkatkan kekuatan ODP


wanita multipara dibandingkan pelatihan
ODP (metode Kegel). Hasil penelitian ini

34 | P a g e

diharapkan dapat disosialisasikan kepada


semua wanita yang mempunyai gangguan
inkontinensia urin, prolaps organ pelvis, dan
disfungsi seksual.

35 | P a g e

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada masa lanjut usia secara bertahap seseorang mengalami berbagai kemunduran, baik
kemunduran fisik, mental, dan social (Azizah, 2011). Perubahan fisik yang terjadi pada setiap
lanjut usia sangat bervariasi, perubahan ini terjadi dalam berbagai sistem, yaitu system
integumen,

sistem kardiovaskuler, sistem gastrointestinal,

system

reproduksi,

sistem

muskuloskeletal, sistem neurologis, dan system perkemihan. Pada lanjut usia sering terjadi
masalah salah satunya pada system perkemihan yaitu inkontinensia urin yang memerlukan
perawatan segera. Pada wanita usia lanjut banyak yang mengeluhkan kesulitan dalam
mengontrol buang air kecil. Sekitar 30-50% wanita lanjut usia menderita inkontinensia urin.
Masalah inkontinensia tidak disebabkan langsung oleh proses penuaan, pemicu terjadinya
inkontinensia pada lanjut usia adalah kondisi yang sering terjadi pada lanjut usia yang
dikombinasikan dengan perubahan terkait usia dalam sistem urinaria (Stanley & Beare, 2007).
Penurunan fungsi urinaria seiring bertambahnya umur ditandai dengan keluarnya urin tanpa
disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan
kesehatan dan atau sosial. Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes
urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai
pengeluaran feses) (Elhan, 2008). Namun begitu, gangguan ini dapat terjadi pada semua
golongan usia, walaupun angka kejadian terbanyak pada usila.
Inkontinensia urin atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai bahasa awam merupakan
gangguan pada sistem perkemihan berupa keluarnya urin yang tidak terkendali dalam waktu
yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya yang akan membuat
penderitanya akan merasa terganggu, tidak menyenangkan dan tidak nyaman, menyebabkan
masalah sosial dan higienis penderitanya. Selain masalah social dan hieginis inkontinensia urin
mempunyai komplikasi yang cukup serius seperti infeksi saluran kemih, kelainan kulit,
gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi, mudah marah dan terisolasi (Setiati, dkk,
2007). Faktor resiko terjadinya inkontinensia urin antara lain jenis kelamin wanita, usia lanjut /
menopause, paritas tinggi, gangguan neurologis, kelebihan berat badan, perokok, minum alkohol,
36 | P a g e

intake cairan berlebihan atau kurangnya aktifitas. Kelebihan berat badan menjadi salah satu
faktor penyebab terjadinya inkontinensia urin, karena beban kerja dasar panggul pada orangorang gemuk lebih besar daripada orang yang kurus (Soetojo, 2009). Orang dengan berat badan
berlebih mengalami penumpukan beban di daerah abdomen. Beban tersebut akan memberi
penekanan pada kandung kemih, sehingga mengakibatkan kandung kemih lebih mudah
mengalami pengeluaran urin secara tidak sengaja (Scott, 2009). Faktor risiko lain yang dapat
mempengaruhi terjadinya inkontinensia, antara lain adalah kasus persalinan per vaginam, BMI,
riwayat histerektomi, infeksi saluran kemih, dan trauma perineum.
Inkotinensia urin harus segera ditangani dengan penatalaksanaan tersendiri yang sesuai,
karena jika tidak segera ditangani inkontinensia dapat menimbulkan masalah baru bagi lanjut
usia dan menyebabkan berbagai komplikasi seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit daerah
kemaluan, gangguan tidur, dekubitus, dan gejala ruam. Selain itu, masalah psikososial seperti
dijauhi orang lain karena berbau pesing, minder, tidak percaya diri, mudah marah juga sering
terjadi dan hal ini berakibat pada depresi dan isolasi sosial. Terapi inkontinensia urin secara dini
dan efektif diperlukan untuk mengembalikan fungsi fisik dan emosional bagi lanjut usia yang
mengalami inkontinensia urin.
Adapun penatalaksanaan inkontinensia urin terdiri atas tiga kategori utama, yaitu terapi
farmakologis, nonfarmakologis dan pembedahan. Terapi farmakologis dan pembedahan dapat
dilakukan namun keuntungan serta resikonya tidak selalu dapat diterima (Robert & Ross, 2006).
Selain itu, jenis obat tertentu memiliki kontraindikasi terhadap pasien dengan penyakit jantung
misalnya propantelin (Pro-Banthine) dan Oksibutinin Klorida (Ditropan) dari golongan obatobatan antikolinergik serta terazosin (Hytin) yang dapat beresiko memperparah kondisi pasien
dengan hipotensi. Sementara itu obat golongan kolinergik seperti betanekol (Urocholine) dapat
menyebabkan diare (Potter & Perry, 2005). Terapi nonfarmakologis lebih disukai karena tidak
punya efek samping, sedangkan pembedahan dilakukan sebagai alternatif terakhir. Sehingga
terapi yang sebaiknya pertama kali dipilih adalah terapi nonfarmakologis sebelum menetapkan
menggunakan terapi farmakologis atau terapi pembedahan. Teknik ini bermanfaat menurunkan
frekuensi inkontinensia urin (Elhan, 2008).
Terapi utama dalam kelompok terapi non farmakologis dikenal sebagai Behavioral therapies,
yaitu berbagai intervensi yang diajarkan kepada pasien untuk memodifikasi perilaku
kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih. Terapi behavioral dapat dilakukan dengan cara
37 | P a g e

pengaturan frekuensi (penjadwalan) miksi, pengaturan diet, latihan otot dasar panggul atau Kegel
exercise, bladder training, program kateterisasi intermitten, dan lain-lain (Elhan, 2008;
FallonCommunity Health Pain, 2003). Schnelle JF & Smith (2001) menyatakan bahwa sebagian
besar inkotinensia urin di PSTW dapat disembuhkan dengan program penjadwalan atau program
berkemih yang diperbantukan, sehingga metode tersebut pantas menjadi prioritas utama untuk
menangani inkotinensia urin.
Terapi non farmakologis yang populer adalah Kegel exercise. Kegel exercise adalah latihan
kontraksi otot dasar panggul secara aktif yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dasar
panggul (Pujiastuti, 2003). Latihan kegel sangat bermanfaat untuk menguatkan otot rangka pada
dasar panggul, sehingga memperkuat fungsi sfingter eksternal pada kandung kemih (Widiastuti,
2011). Selain itu ada latihan bladder training. Tujuan dari terapi ini untuk memperpanjang
interval berkemih yang normal dengan teknik distraksi atau teknik relaksasi sehingga frekuensi
berkemih hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Latihan kandung kemih (bladder training)
lebih mudah dan lebih cocok untuk dilakukan oleh lanjut usia dibandingkan terapi
nonfarmakologi lainnya, seperti latihan otot dasar panggul, habit training, promted voiding,
terapi biofeedback, stimulasi elektrik, neuromodulasi, penggunaan kateter menetap (indwelling
catheter) (Setiati, dkk, 2007).
Untuk memperbaiki ketidakmampuan berkemih dapat dilakukan latihan-latihan seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan untuk mencegah stress psikologis pada lansia yang
mengalami inkontinensia urin, maka diperlukan kemampuan pribadi maupun dukungan dari
lingkungan agar dapat mengurangi stress. Dengan adanya koping individu dapat mengurangi
stress dan memberikan respon terhadap situasi yang mengancam akan menghasilkan adaptasi
efektif yang merupakan kebiasaan baru, contohnya yaitu berbicara dengan orang lain,
memecahkan masalah secara efektif, melakukan teknik relaksasi, latihan seimbang, dan aktivitas
konstruktif. Sedangkan koping yang tidak efektif berakhir dengan maladaptif yaitu perilaku yang
menyimpang dari normatif, contohnya yaitu makan berlebihan/tidak makan, bekerja berlebihan,
menangis, dan menghindar. (Rasmun, 2004).

38 | P a g e

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada masa lanjut usia secara bertahap seseorang mengalami perubahan fisik, perubahan ini
terjadi dalam berbagai sistem, salah satunya sistem perkemihan. Salah satu masalah yang sering
dijumpai pada lanjut usia adalah dalam berkemih adalah inkontinensia urin. Inkontinensia urin
atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai bahasa awam merupakan gangguan pada sistem
perkemihan berupa keluarnya urin yang tidak terkendali dalam waktu yang tidak dikehendaki
tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya yang akan membuat penderitanya akan merasa
terganggu, tidak menyenangkan dan tidak nyaman, menyebabkan masalah sosial dan higienis
penderitanya. Selain masalah social dan hieginis inkontinensia urin mempunyai komplikasi yang
cukup serius seperti infeksi saluran kemih, kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial
seperti depresi, mudah marah dan terisolasi (Setiati, dkk, 2007).
Faktor resiko terjadinya inkontinensia urin antara lain jenis kelamin wanita, usia lanjut /
menopause, paritas tinggi, gangguan neurologis, kelebihan berat badan, perokok, minum alkohol,
intake cairan berlebihan atau kurangnya aktifitas. Faktor risiko lain yang dapat mempengaruhi
terjadinya inkontinensia, antara lain adalah kasus persalinan per vaginam, BMI, riwayat
histerektomi, infeksi saluran kemih, dan trauma perineum.
Adapun penatalaksanaan inkontinensia urin terdiri atas tiga kategori utama, yaitu terapi
farmakologis, nonfarmakologis dan pembedahan. Terapi farmakologis dan pembedahan dapat
dilakukan namun keuntungan serta resikonya tidak selalu dapat diterima Sehingga terapi yang
sebaiknya pertama kali dipilih adalah terapi nonfarmakologis sebelum menetapkan
menggunakan terapi farmakologis atau terapi pembedahan. Teknik ini bermanfaat menurunkan
frekuensi inkontinensia urin (Elhan, 2008). Terapi utama dalam kelompok terapi non
farmakologis dikenal sebagai Behavioral therapies. Terapi behavioral dapat dilakukan dengan
cara pengaturan frekuensi (penjadwalan) miksi, pengaturan diet, latihan otot dasar panggul atau
Kegel exercise, bladder training, program kateterisasi intermitten, dan lain-lain (Elhan, 2008;
FallonCommunity Health Pain, 2003).

39 | P a g e

5.2 Saran
Kumpulan jurnal ini semoga berguna bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa. Namun
tugas jurnal ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis. Oleh karena itu,
besar harapan penulis agar pembaca memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun,
guna memperbaiki tugas jurnal ini agar lebih baik.

40 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Agung Wiratmoko. (2006). Pola Inkontinensia Urin Pada Wanita Usia Diatas Lima Puluh
Tahun.

Tesis:

Universitas

Diponegoro.

http://www.distrodoc.com/135323-pola-

inkontinensia-urin-pada-wanita-usia-diatas-lima-puluh. Diakses 01 Juni 2015.


Collein, Irsanty. (2012). Pengalaman Lansia Dalam Penanganan Inkontinensia Urine Di
Wilayah Kerja Puskesmas Kamonji. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman
Journal

of

Nursing).

Volume

7,

No.3.

http://keperawatan.unsoed.ac.id/sites/default/files/Download/jks2012070304.pdf. Diakses
03 Juni 2015.
Intan, Anggelita dan Siregar, CholinaTrisa. (2012). Latihan Kegel Dengan Penurunan Gejala
Inkontinensia

Urin

Pada

Lansia.

Volume

1,

No.

1.

http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jkk/article/view/100. Diakses 01 Juni 2015.


Jaswadi, Tedy. (2008). Efektivitas Terapi Behavioral Terhadap Inkontinensia UrinPada Usila
Di PSTW Budi Luhur Yogyakarta. Skripsi; Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t8714.pdf. Diakses 03 Juni 2015.
Jayani, Lusila Puri Dwi. (2010). Hubungan Kelebihan Berat Badan Dengan Inkontinensia Urin
Pada

Wanita

Di

Wilayah

Surakarta. Skripsi:

Universitas

Sebelas

Maret.

http://eprints.uns.ac.id/4723/. Diakses 03 Juni 2015.


Kustini Sri. (2010). Pelatihan Terpadu (Kegel dan Core Stability) Meningkatkan Kekuatan Otot
Dasar Panggul Wanita Multipara. Volume 11, No. 1. Diakses pada 01 Juni 2015.
Mustofa, Akhmad dan Widyaningsih, Wahyu. (2009). Pengaruh latihan Kegel Terhadap
Frekuensi lnkontinensia Urine Pada Lansia di Panti Wreda Pucang Gading Semarang.

41 | P a g e

Volume 2, No. 2. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/view/246. Diakses


01 Juni 2015.
Tendean, Hermie MM. (2010). Deteksi Inkontinensia Urin pada Usia Post Menopause dengan
Menggunakan Kuesioner IIQ-7 dan UDI-6 Urinary Incontinence Detection In PostMenopause

Age

Using

IIQ-7

And

UDI-6.

Volume

http://majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/view/91.

6,

No.

2.

Diakses

03

Juni 2015.
Wulandari, Sri. (2012). Pengaruh Latihan Bladder Training Terhadap Penurunan
Inkontinensia Pada Lanjut Usia Di Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta.
http://eprints.ums.ac.id/19599/20/12._NASKAH_PUBLIKASI.pdf . Diakses 01 Juni
2015.
Yayuk, Aprilia. (2012). Mekanisme Koping Pada Lansia Yang Mengalami Inkontinensia Urine
Di Unit Pelayanan Terpadu Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Magetan.
http://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/3/jkptumpo-gdl-yayukapril-106-1-abstrak-i.pdf.
Diakses 01 Juni 2015.

42 | P a g e