Anda di halaman 1dari 3

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Penyakit Antraknosa pada Tanaman Kakao

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasakan waktu yang lama pada lokasi tertentu.
Perubahan iklim dapat mempengaruhi banyak hal yang ada di wilayah tersebut. Penyebab adanya
perubahan iklim ini dapat terjadi karena pemanasan global. Pemanasan global dapat ditandai dengan
adanya suhu semakin meningkat, curah hujan tidak menentu, dan peningkatan permukaan air laut.
Hal ini disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca yakni CO2, CH4, N2O dan CFC (Chloro
fluoro carbon. Dengan adanya perubahan dan perbedaan iklim ini berakibat pada sektor pertanian
salah satunya sektor perkebunan. Pengaruhnya dapat berupa kekeirngan, kebanjiran dan serangan
hama penyakit. Komoditas perebunan yang dapat diserang antara lain kakao dan kopi. Kerugiannya
seperti penurunan produktivitas dan daya tahan tanaman sehingga menjadi lebih rentan terhadap
hama dan penyakit (direktorat perlindungan perkebunan, 2013).
Salah satu penyakit yang menyerang tanaman kakao karena perubahan iklim ialah penyakit
antraknosa. Penyakit ini berasal dari jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jamur ini tersebar di
semua negara yang merupakan parasit lemah dan menyerang bermacam-macam tanaman.
Serangan penyakit antraknosa dapat terjadi secara ringan pada daun muda dengan memperlihatkan
gejala bintik-bintik nekrosis berwarna coklat. Bintik nekrosis akan menjadi bercak berlubang dengan
halo berwarna kuning. Pada daun yang lebih tua, bintik nekrosis berkembang menjadi bercak
nekrosis yang beraturan. Pada daun-daun muda yang terserang berat, biasanya mudah mengalami
kerontokan sehingga menyebabkan ranting gundul. Apabila serangan terjadi beberapa kali, akan
terbentuk ranting-ranting seperti kipas dengan ruas yang pendek. Keadaan biasanya segera diikuti
dengan kematian ranting. Pada buah, Buah muda lebih rentan terhadap infeksi jamur dari pada buah
dewasa. Infeksi pada buah muda menimbulkan gejala kelayuan dengan bintik-bintik cokelat. Bintik
tersebut segera berkembang menjadi bercak cokelat yang berlekuk (antraknosa).
Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Antraknosa
Pada dasarnya serangan penyakit, sesuai dengan konsep Segitiga Penyakit, hanya
dapat terjadi jika ke-tiga faktor, yaitu patogen, inang dan lingkungan, mendukung perkembangan
penyakit. Inang dalam kondisi yang rentan, patogen yang bersifat virulen (daya infeksi tinggi) dan
jumlah yang cukup, serta lingkungan yang mendukung akan menyebabkan terjadinya serangan
penyakit. Lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit berupa komponen
lingkungan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik adalah suhu, kelembaban, dan cahaya. Sedangkan
lingkungan biotik adalah musuh alami, organisme kompetitor, dan lain-lain. Dari konsep segitiga
penyakit tersebut tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan abiotik sangat berpengaruh
terhadap proses timbulnya penyakit. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus
hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen. Dari konsep tersebut jelas
sekali bahwa perubahan salah satu komponen akan berpengaruh terhadap intensitas serangan hama
dan penyakit. Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit
(Wiyono, 2007).
Penyakit Antraknosa pada tanaman kakao, merupakan parasit lemah, yang hanya
dapat mengadakan infeksi pada jaringan tanaman yang menjadi lemah karena faktor lingkungan yang
kurang menguntungkan, seperti kurangnya pohon pelindung, kesuburan tanah yang rendah, atau
tanaman yang menjadi lemah karena infeksi pathogen lain (Semangun, 1991). Perubahan pada
beberapa faktor iklim akan menyebabkan perubahan pada penyakit antraknosa.
Faktor-faktor iklim yang dapat menyebabkan penyakit anktraknosa:
1. Suhu dan Curah hujan
Antraknosa menyebar dengan membentuk konidia. Konidia dihasilkan dari bercakbercak pada daun. Konidia tersebar akibat terbawa oleh air hujan, angin dan serangga. Di dalam air

konidia sudah berkecambah dalam waktu 3 jam, sehingga hujan sekecil apapun dapat mendukung
terjadinya infeksi. Ini berarti perkembangan penyakit berkaitan erat dengan jumlah hari hujan.
Semakin banyak jumlah hari hujan semakin tinggi serangan penyakit antraknosa (Sukamto, 2009).
Penyakit dapat bertahan secara laten pada kakao sepanjang tahun pada daun sakit
yang tidak gugur atau pada ranting sakit yang masih hidup. Hujan yang turun setelah periode kering
dapat merangsang tanaman kakao untuk membentuk daun-daun baru. Kondisi yang demikian ini juga
cocok untuk merangsang sporulasi jamur yang dalam keadaan laten. Dengan tersedianya inang dan
inoculum pada saat yang bersamaan maka sangat memungkinkan terjadinya epidemik (Sukamto,
2009).
Disamping curah hujan, perkembangan antraknosa juga dipengaruhi oleh suhu. Untuk
perkecambahan, infeksi, dan sporulasi dibutuhkan suhu optimum sebesar 29.5 oc (Sukamto, 2009).
Melihat dua kondisi diatas diperkirakan penyakit antraknosa akan berkembang pada perkebunan
kakao di dataran menengah dan tinggi. Kondisi ini terjadi karena suhu muka bumi semakin
meningkat, sehingga daerah-daerah yang tadinya bersuhu rendah berpotensi terhadap serangan
antraknosa karena peningkatan suhu. Peningkatan suhu juga merangsang tanaman untuk melakukan
evaporasi. Proses ini akan menyebabkan tanaman menjadi lemah bila terjadi anomali iklim ekstrim
berupa musim kemarau yang berkepanjangan. Bila kondisi tanaman lemah antraknosa mudah
berkembang.
2. Cahaya Matahari
Penyakit antraknosa berkembang pesat pada kebun-kebun yang mendapat sinar
matahari langsung. Untuk menghindari hal tersebut maka penanaman tanaman pelindung perlu
dilakukan. Tanaman pelindung berfungsi untuk menghindari cahaya matahari langsung mengenai
perkebunan kakao. Bila kondisi suhu meningkat, musim kemarau lebih panjang, maka penanaman
tanaman pelindung harus ditanam lebih rapat. Hal ini untuk mencegah terjadinya evaporasi yang
berlebihan pada tanaman kakao. Namun perlu diperhatikan pula bila tanaman pelindung terlalu rapat
dapat menyebabkan OPT lain berkembang baik, misalnya Helopeltis dan penggerek buah kakao
(PBK). Oleh sebab itu pemangkasan menjadi penting untuk diperhatikan.
Menurut Sukamto (2009) pertanaman yang naungannya kurang baik atau tanpa
naungan, akan mendapatkan gangguan penyakit antraknosa yang berat karena suhu di sekitar
tanaman cukup tinggi. Perubahan iklim, yang salah satu dampaknya adalah meningkatnya suhu
udara, akan menjadi faktor pendukung dari perkembangan penyakit antraknosa .

Daftar Pustaka
Koesmaryono, Y. dan Y. Sugiarto. 2010. Dampak Variabilitas dan Perubahan Iklim Terhadap
Perkembangan Hama Dan Penyakit Tanaman Padi. Bagian Agrometeorologi, Departemen Geofisika
Dan Meteorologi, Fakultas Mipa, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Semangun, H. 1991. Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta Cetakan ke-3.
Sukamto, S. 2009. Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir: Penendalian Penyakit.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Untung, K. 2007. Kebijakan Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada Uniersity Press. Yogyakarta.
Wiyono, S. 2007. Perubahan Iklim dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman. Departemen Proteksi
Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga Bogor. Makalah

http://id.wikipedia.org/wiki/Iklim. Diakses tanggal 15 April 2014.