Anda di halaman 1dari 5

CONTOH KASUS LEMBAGA PEMBIAYAAN DAN

ANALISISNYA
TUGAS HUKUM LEMBAGA PEMBIAYAAN

Disusun Oleh :

Nama : Radiah Hasni. D


NIM : 1209114109

Fakultas Hukum
Universitas Riau
TA 2015/2016

Contoh kasus lembaga pebiayaan dan Analisis :


Nama saya dipakai untuk mengambil kredit sepeda motor Suzuki Smash melalui
Adira Financia oleh Bapak Yulianto SE, sehingga saat ini saya didatangi petugas dari
Adira karena keterlambatan angsuran bulan Februari dan Maret 2005. Pada satu
tahun pertama angsurannya lancar, sehingga saya tenang-tenang saja. Awal
perkenalan saya dengan Bpk. Yuli, bahwa beliau mengaku sebagai wartawan Solo
Pos dan Paranormal dengan menunjukkan kartu Wartawannya. Beberapa bulan
beliau singgah/tinggal di rumah saya. Saya begitu percaya disuruh mengambilkan
kredit motor untuk kelancaran urusan beliau. Pada waktu saya menanyakan alamat
rumahnya, malah beliau marah-marah dan menjadikan putus hubungan dengan
keluarga saya. Dan saya tidak pernah tahu di mana beliau berada. . . .
Surat pembaca yang ditulis oleh Sukandar, penduduk Nglipar, Gunungkidul ini
pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat (7/42005). Peristiwa yang dialami oleh
Sukandar ini merupakan salah satu beberapa persoalan yang berasal dari perusahaan
pembiayaan konsumen. Masyarakat lebih mengenalnya perusahaan pemberi kredit
sepeda motor. Penggunaan istilah ini sebenarnya kurang tepat, karena istilah kredit
hanya digunakan dalam istilah perbankan.
Makin berkembangnya kebutuhan masyarakat saat ini yang diikuti dengan kenaikan
harga BBM yang semakin besar, semakin membentuk suatu masyarakat yang
materialistik dan konsumtif tapi tidak diimbangi dengan kemampuan daya beli dari
masyarakat itu sendiri.
Dalam kenyataan ini, maka makin pesatlah pertumbuhan lembaga pembiayaan.
Mereka menawarkan jasa memudahkan cara-cara pembiayaan secara mudah dan
cepat dengan berbagai macam penawaran yang menarik. Akan tetapi perlu disadari
pula bahwa keberadaan lembaga pembiayaan ini tidak hanya berfungsi sebagai
lembaga yang menawarkan jasa saja, tetapi juga memiliki motivasi untuk mengambil
keuntungan yang sebesar-besarnya yang berorientasi bisnis. Dalam kaitan ini, sering

muncul sengketa antara konsumen dengan perusahaan pembiayaan yang berasal dari
isi perjanjian yang telah ditandatangani.
Menghadapi berbagai permasalahan ini Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) selaku
mitra konsumen berusaha memecahkan permasalahan ini melalui jalan mediasi
maupun litigasi. Kerangka kerja yang dipakai LOS adalah bersuaha melindungi dan
memberdayakan masyarakat sebagai konsumen seperti yang telah diatur dan
dilindungi dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), No. 8, Tahun
1999.
Memperoleh barang dengan pembiayaan leasing adalah alternatif yang saat ini cukup
banyak dipilih oleh seseorang maupun perusahaan. Pembiayaan dengan leasing
berkaitan dengan bisnis pembiayaan dan keberadaan perusahaan pembiayaan
(multifinance)
Penggunaan istilah lain yang dirasa cukup mengganggu adalah penggunaan kata
kredit dalam kegiatan pembiayaan konsumen ini. Istilah kredit ini dipakai untuk
menyebut pengucuran dana atau pemberian pinjaman uang oleh perusahaan
pembiayaan untuk membeli kendaraan bermotor yang digunakan konsumen beserta
cara pengembaliannya. Sesungguhnya, proses ini lebih tepat disebut sebagai
pemberian pinjaman dengan sistem angsuran, karena secara yuridis istilah pemberian
kredit hanya digunakan untuk menyebut proses pemberian pinjaman uang dari bank
kepada nasabah. Sementara itu di dalam Keppres No 39 tahun 1988 jo Kepmenkeu
448/ KMK.017/ 2000, sudah dinyatakan dengan tegas bahwa perusahaan pembiayaan
bukan merupakan bank. Sayangnya, selama ini masyarakat masaih salah
memahaminya sebagai sebuah kredit.
Pengertian Pembiayaan Konsumen
Semenjak Keppres No 39 tahun 1988 diberlakukan, terhitung sudah lebih dari 17
tahun ketentuan ini menjadi payung hukum bagi keberadaan Lembaga Pembiayaan
di Indonesia. Akan tetapi, selama itu pula ketentuan ini meninggalkan berbagai
permasalahan yang selalu muncul di masyarakat. Dalam data yang dimiliki oleh

LOS, salah satu contoh kasus yang sering diterima dan masuk adalah pembiayaan
pembelian sepeda motor kepada konsumen.
Pada kasus tersebut, perlu ditelusuri sejauh mana kedua belah pihak melakukan
perjanjian antara konsumen dengan perusahaan, karena secara umum perjanjian yang
digunakan tersebut telah dibuat secara standar atau baku oleh pihak perusahaan
pembiayaan. Dalam praktik kesehariannya banyak konsumen yang mengeluh karena
tidak punya kesempatan untuk membaca dan memahami isi perjanjian itu. Mereka
hanya diberikan setumpuk perjanjian untuk ditandatangani, tanpa melalui proses
perundingan dan pemberian penjelasan yang memadai kepada konsumen.
Klausul Baku
Salah satu klausul baku yang sering dimuat dalam perjanjian pembiayaan konsumen
adalah pemberian kuasa dari pihak konsumen selaku debitur kepada pihak
perusahaan pembiayaan selaku kreditur untuk menarik kembali kendaraan bermotor
yang menjadi objek perjanjian pembiayaan konsumen manakala debitur wanprestasi
atau lalai. Biasanya hal itu terjadi karena si debitur tidak dapat berprestasi. Misalnya,
debitur terlambat melakukan pembayaran angsuran lebih dari sekali, ditambah
dendanya dalam tenggang waktu tertentu. Hal ini mengakibatkan ditariknya
kendaraan bermotor itu.
Berkaitan dengan pencantuman klausul penarikan kendaraan bermotor, isi perjanjian
ini sebenarnya telah melanggar ketentuan pasal 18 ayat 1 huruf a UU No 8 tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen. Menurut pasal tersebut, suatu perjanjian tidak
dibenarkan berisi suatu syarat pemberian kuasa pada salah satu pihak untuk
melakukan perbuatan sepihak. Berdasar pasal ini, maka klausul baku yang ada di
dalam perjanjian tersebut dinyatakan batal demi hukum. Konsekuensi dari suatu
perjanjian yang dinyatakan batal demi hukum yaitu bahwa sejak awal perjanjian itu
dibuat sudah dianggap tidak pernah lahir, alias tidak pernah ada.
Selain dinyatakan batal demi hukum, pelaku usaha atau pengurus yang merumuskan
klausul baku juga dapat dikenakan sanksi pidana. Menurut ketentuan pasal 61 sampai

63 UUPK, sanksi pidana yang dikenakan dapat berupa pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun atau denda maksimal Rp. 2.000.000 (dua miliar rupiah)!
Pemberian sanksi ini juga disertai dengan beberapa hukuman tambahan misalnya
perampasan barang tertentu, pembayaran ganti rugi dan lain-lain. Pembatalan
perjanjian yang mengandung klausul baku juga dikuatkan oleh ketentuan dalam
KUH Perdata tentang sahnya perjajian. Telah diuraikan pada tulisan sebelumnya
tentang syarat atau sebab halal bagi suatu perjanjian supaya dapat dianggap sah atau
legal. Sebab yang halal itu meliputi: (a). tidak dilarang oleh undang -undang; (b).
tidak berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum. Dengan dilanggarnya
ketentuan dalam UUPK dan KUH Perdata, maka perjanjian ini batal demi hukum.
Sehubungan dengan persoalan yang melingkupi pembiayaan konsumen, maka
langkah yang perlu segera dilakukan adalah menghentikan praktik-praktik
perumusan klausula baku yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen.
Selain itu, perlu juga dilakukan pendidikan konsumen. Konsumen perlu menyadari
pentingnya memahami dengan sungguh-sungguh isi perjanjian sebelum ia
menandatanganinya. Yang tak kalah pentingnya juga perlu ada pembenaran
penggunaan istilah kredit sepeda motor, karena istilah kredit hanya berlaku pada
dunia perbankan.