Anda di halaman 1dari 5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
Aklimatisasi

merupakan

kegiatan

akhir

teknik

kultur

jaringan.

Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol


(aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak terkendali, baik suhu, cahaya,
dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof,
sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman
(planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi
dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap
lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi
dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh
yang kurang aseptik. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman
beradaptasi sengan perubahan lingkungan (Torres, 1989). Aklimatisasi dapat
diartikan sebagai penyesuaian suatu organisme untuk beradaptasi dengan
lingkungan yang baru. Proses aklimatisasi sangat penting dilakukan karena akan
menentukan tingkat keberhasilan tanaman yang ber-asal dari in vitro beradaptasi
pada kondisi in vivo. Dalam aklimatisasi, lingkungantumbuh berangsur-angsur
disesuaikan dengankondisi lapangan (Marzuki et al., 2008). Aklimatisasi
merupakan proses pengadaptasian hasil kultur jaringan terhadap lingkungan luar
yang lebih ekstrim. Perbedaan faktor-faktor lingkungan yang utama dari kondisi
kultur jaringan dan greenhouse antara lain cahaya, suhu, kelembaban relatif, di
samping hara dan media tanam. Komponen cahaya dan suhu dapat disesuaikan
dengan pemberian naungan (Basri et al., 2013).
Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini
merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi
mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %.
Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut.Bibit
yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan
pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982).

Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air


dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut
sangat lemah daya bertahannya. Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman
akantetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas. Kondisi tersebut
menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca (Wetherelll,
1982).
Mengacu pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu
harus ditanam didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya
kemudian secara perlahan dilatih untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan
sebenarnya di lapang. Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh
dengan cara memindahkan planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang
dengan terus menurunkan kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut
kemudian diaklimatisasi secara bertahap mengurangi kelembaban relatif
lingkungannya, yaitu dengan cara membuka penutup wadah plastik atau boks
secara bertahap pula (Torres, 1989). Keberhasilan aklimatisasi selain dipengaruhi
faktor perakaran tanaman, juga kemampuan mengendalikan kondisi lingkungan,
dan media tumbuh di rumah kaca. Selain itu, keberhasilan aklimatisasi planlet
dipengaruhi oleh cara penanganan saat pengeluaran plantlet dari botol kultur,
media tumbuh saat di rumah kaca (harus steril) dan lingkungan mikro plantlet
(disungkup selama 2 minggu sampai muncul daun baru) (Kristina dan Syahid,
2012).
Media tumbuh dan teknik penanaman merupakan faktor penting dalam
proses aklimatisasi. Diperlukan media yang mempermudah pertumbuhan akar dan
menyediakan hara yang cukup bagi plantlet. Teknik penanaman secara compot
(community pot) yaitu dalam satu pot ditanami banyak tanaman dipercaya dapat
mengurangi resiko kematian tanaman yang sedang diaklimatisasi. Tetapi,
kemungkinan terjadi persaingan dalam mendapatkan unsur hara antara tanaman
satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui teknik yang baik
dalam aklimatisasi ini perlu dilakukan penelitian mengenai teknik aklimatisasi
hasil perbanyakan in vitro (Adi et al., 2014).

Selain itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat
tumbuh dengan baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media
yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang
cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah
akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat
air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya
tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur
jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau
media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999).
Menurut Iswanto, (2002) media tanam yang baik harus memenuhi kreteria antara
lain; tidak mudah lapuk, tidak mudah menjadi sumber penyakit, aerasi baik, mampu
mengikat air dan unsur hara dengan baik, mudah didapat dan harga relative murah. Media
tumbuh yang baik bagi anggrek (famili Orchidaceae) harus memenuhi beberapa
persyaratan, antara lain tidak lekas melapuk dan terdekomposisi, tidak menjadi sumber
penyakit, mempunyai aerasi dan draenase yang baik, mampu mengikat air dan zat-zat
hara secara optimal, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar, dibutuhkan ph
media 5-6, ramah lingkungan serta mudah didapat dan relatif murah harganya. Media
tumbuh tanaman anggrek yang umum digunakan adalah arang, pakis, moss, potongan
kayu, potongan bata atau genting, serutan kayu, kulit pinus dan serabut kelapa.
Pakis merupakan media tanam yang umum digunakan dalam budidaya anggrek,
namun permintaan pakis yang semakin banyak akan meningkatkan harga jual dan
penggadaan pakis menjadi terbatas. Salah satu usaha untuk mengatasi hal tersebut
adalah dengan mencari alternative media tanam yang baik digunakan untuk pertumbuhan
tanaman. Arang kayu memiliki beberapa kelebihan diantaranya mudah menyerap air,
tidak mudah ditumbuhi cendawan, murah dan mudah didapat, dapat bertahan hingga dua
tahun, tetapi miskin unsur hara. Arang sekam adalah limbah penggilingan padi
merupakan jenis media tanam yang banyak tersedia, sehingga mudah didapat dan murah
harganya, selain itu kelebihan arang sekan yang lain adalah steril karena sudah melalui
proses pembakaran. Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang

baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air
dalam waktu yang relatif lama, termasuk media organik sehingga ramah
lingkungan, lebih steril dari bakteri dan jamur karena telah dibakar terlebih

dahulu, dan hemat karena bisa digunakan hingga beberapa kali (Sinaga, 2001).
Cocochip juga merupakan limbah kelapa berupa sabut kelapa yang dipotong kecil. Sabut
kelapa juga cukup mudah didapat dan murah harganya, sehingga berpotensi untuk
digunakan sebagai alternatif media tanam anggrek. Kulit batang akasia dan batang kelapa
juga merupakan limbah dari pengolahan kayu. Selama ini kulit kedua batang tersebut
tidak digunakan, tetapi memiliki potensi untuk digunakan sebagai media tanam anggrek.
Pupuk daun termasuk pupuk buatan yang cara pemberiannya melalui penyemprotan ke
daun. Pupuk yang disemprotkan melalui daun akan masuk melalui stomata secara difusi
dan selanjutnya akan masuk ke dalam sel-sel kloroplas baik yang di dalam sel penjaga,
mesofil daun, maupun seludang pembuluh dan akan berperan dalam fotosintesis
(Andalasari et al., 2014).
Pupuk daun Gandasil memiliki kandungan unsur hara N (20 %), P (15 %), K (15
%) serta tambahan unsur mikro Mg, Mn, B, Cu, Co, dan Zn. Hyponek mengandung N
(20 %), P (20 %), K (29 %) serta tambahan unsur mikro (Iswanto, 2002). Penyemprotan
anggrek sianjurkan dilakukan pada sore hari karena anggrek termasuk dalam golongan
CAM (metabolisme asam crasulace), sifat stomata membuka pada malam hari dan
menutup pada siang hari. Mekanisme CAM dalam mengikat karbondioksida pada malam
hari ketika stomata membuka, kesempatan ini pula digunakan agar air dan unsur hara
dapat masuk ke dalam stomata. Dengan demikian tumbuhan CAM dapat berfotosintesis
tanpa kehilangan sejumlah besar air karena transpirasi stomata (Andalasari et al., 2014).

DAFTAR PUSTAKA

Adi N.K.A.P., Astarini I.A., dan Astiti N.P.A. 2014. Aklimatisasi Anggrek Hitam
(Coelogyne Pandurata Lindl.) Hasil Perbanyakan In Vitro Pada Media
Berbeda. Jurnal Simbiosis. Vol II (2): 203- 214.
Andalasari T.D., Yafisham, dan Nuraini. 2014. Respon Pertumbuhan Anggrek
Dendrobium Terhadap Jenis Media Tanam Dan Pupuk Daun. Jurnal
Penelitian Pertanian Terapan. Vol. 14 (1): 76-82.
Basri H., Basri Z., dan Syakur A. 2013. Aklimatisasi Bibit Tanaman Buah Naga
(Hylocereus Undatus) Pada Tingkat Naungan Berbeda. Jurnal
Agrotekbis.Vol 1 (4) : 339-345.
Iswanto Hadi. 2002. Petunjuk Perawatan Anggrek. Agromedia Pustaka. Jakarta.
65 hlm.
Kristina N.N. dan Syahid S.F. 2012. Induksi Perakaran Dan Aklimatisasi Tanaman
Tabat Barito Setelah Konservasi In Vitro Jangka Panjang. Bul. Littro.
Vol. 23 No. 1.
Marzuki, A. 1999. Pengaruh lama penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya
penyimpanan
terhadap
vigor
planlet
kentang
(Solanum
tuberosum L.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian.
IPB. Bogor.
Marzuki, Suliansyah I., dan Mayerni R. 2008. Pengaruh Naa Terhadap
Pertumbuhan Bibit Nenas (Ananas Comosus L. Merr) Pada Tahap
Aklimatisasi. Jurnal Jerami. Volume I No. 3.
Sinaga, N. A. K. 2001. Pengaruh sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor
bibit krisan (Chysanthemum sp.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian.
Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops.Chapman
and Hall. New York. London.
Wetherelll, D. F. 1982. introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing
Group Inc. Wayne, New Jersey.