Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN TRAUMATIK AMPUTASI


DI RUANG SERUNI RSD dr SOEBANDI JEMBER

disusun guna memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Ners (PPPN)


Stase Keperawatan KMB

oleh
Alvivo D. Chandra, S.Kep.
NIM 102311101092

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Traumatik Amputasi di Ruang
Seruni RSD dr. Soebandi Jember telah disetujui dan disahkan pada:
Hari, tanggal : Senin, 08 Juni 2015
Tempat: Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember

Jember, 08 Juni 2015


Mahasiswa

Alvivo D. Chandra, S.Kep


NIM 102311101092

Pembimbing Klinik

Pembimbing Akademik

I.

(.)
(.)KONSEP PENYAKIT
1. Kasus
HIV
2. Pengertian

AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit


yang disebabkan oleh infeksi HIV (Human Immuno Deficiency Virus)
yang menyebabkan kolapsnya sistem imun (Corwin, 2000).

AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus
menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency
Virus (HIV). Manivestasi infeksi HIV ditandai dengan tanda-tanda
gelaja gangguan sistem imun yang ringan sampai manivestasi yang
menunjukkan kelainan sistem imun yang berat (Smeltzer, 2001).

Gambar 1. HIV

3. Etiologi
AIDS disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang
merupakan agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh
darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.

Ada berbagai strain HIV. HIV 2 merupakan yang prevalen di Afrika,


sedangkan strain HIV 1 dominan di Amerika Serikat dan bagian dunia
lainnya. Transmisi horizontal HIV terjadi melalui kontak seksual yang
intim atau pajanan parenteral dengan darah atau cairan tubuh lain yang
mengandung HIV. Transmisi perinatal (vertikal) terjadi ketika ibu hamil
yang terinfeksi HIV meneruskan infeksi kepada bayinya. Tidak terdapat
bukti yang menunjukan bahwa kontak secara sepintas antara orang yang
terinfeksi dan yang tidak terinfeksi dapat menyebarkan virus tersebut
(Corwin, 2000).

4. Epidemiologi / insiden kasus


Kasus HIV/AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun
1987 di Bali, akan tetapi penyebaran HIV di Indonesia meningkat setelah
tahun 1995. Hal ini dapat dilihat pada tes penapisan darah donor yang
positif HIV meningkat dari 3 per 100.000 kantong pada tahun 1994
menjadi 4 per 100.000 kantong pada tahun 1998,kemudian menjadi 16 per
100.000 kantong pada tahun 2000. Peningkatan lima kali lebih tinggi
terjadi dalam waktu 6 tahun, yaitu pada tahun 2000 terjadi peningkatan
penyebaran epidemik secara nyata melalui pekerja seks, seperti data dari
Tanjung Balai Karimun Riau menunjukkan pada tahun 1995 hanya
ditemukan 1% pekerja seks yang HIV positif, akan tetapi pada tahun 2000
angka itu meningkat menjadi 8,38%. Prevalensi HIV di Merauke pada
pekerja seks sangat tinggi, yaitu 26,5%, sedangkan di Jawa Barat 5,5%
dan di DKI Jakarta 3,36%. Sejak tahun 1999 terjadi fenomena baru
penyebaran HIV/AIDS, yaitu infeksi HIV mulai terlihat pada para
pengguna narkoba suntik (IDU/Injecting Drug User). Penularan pada
kelompok IDU terjadi secara cepat karena penggunaan jarum suntik
bersama. Sebagai contoh pada tahun 1999 hanya 18% IDU yang dirawat
di RSKO Jakarta terinfeksi HIV, akan tetapi tahun 2000 angka tersebut
meningkat dengan cepat menjadi 40% dan pada tahun 2001 menjadi 48%.

Hampir semua propinsi di Indonesia telah melaporkan infeksi HIV dan


fakta baru pada tahun 2002 menunjukkan bahwa penularan infeksi HIV
telah meluas ke rumah tangga. Berdasarkan laporan Eksekutif Menkes RI
tentang ancaman HIV/AIDS di Indonesia (KPA Nasional 2002 )
dinyatakan bahwa pada tahun 2002 jumlah orang rawan tertular HIV di
Indonesia diperkirakan 13 juta sampai 20 juta orang dan jumlah orang
dengan HIV /AIDS diperkirakan antara 90.000-130.000 orang. Pada
dasarnya pemahaman tentang epidemik HIV/AIDS di Indonesia dapat
diikuti secara lebih mendalam melalui hasil pengamatan maupun
surveilans HIV/AIDS yang dilakukan pada kelompok penduduk dengan
risiko tertular, seperti pada pekerja seks, pengguna IDU, narapidana, donor
darah, ibu hamil dan sebagainya.

5. Patofisiologi
HIV sebagai retrovirus membawa materi genetik dalam asam
ribonukleat (RNA), dimana virion HIV (partikel virus

yang lengkap

dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti


berbentuk peluru yang terpancung dan p24 merupakan komponen
struktural yang utama. Tombol yang menonjol lewat dinding virus terdiri
atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang secara
selektif berikatan dengan sel-sel CD4+ adalah gp120 dari HIV. Sel-sel
CD4+ mencakup monosit, makrofag, dan limfosit T4 helper (sel yang
paling banyak). Virus masuk ke dalam sel limposit (T4 helper) dan
mengikat

membran sel T4 helper (sel T4 penolong) kemudian

menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper.
Dengan enzim reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman
ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double
standed DNA dan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai provirus
kemudian terjadi infeksi yang permanen. Virus akan berkembang biak di
dalam sel dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel

virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit
lainnya dan menghancurkannya dengan menempel pada limfosit yang
memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4 yang terdapat di selaput
bagian luar. Selsel yang memiliki reseptor CD4 disebut sel CD4+ atau
limposit T penolong yang berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel
lainnya pada sistem kekebalan (limposit B, makrofag, limposit T
sitotoksik) yang semuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan
organisme asing.
Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong sehingga terjadi
kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan
kanker, dimana infeksi pada sel helper T4 mengakibatkan limfofenia
berlebihan dengan penurunan fungsi termasuk penurunan respon terhadap
antigen dan kehilangan stimulus untuk aktivasi sel T dan B. Selain itu,
aktivitas sitotoksik sel pembunuh T8 juga rusak dan kemampuan fungsi
makrofag terganggu dengan penurunan fagositosis dan hilangnya
kemoktasis dan pada imunitas humoral terjadi penurunan respon antibodi
terhadap antigen dimana antibodi serum meningkat tetapi kemampuan
fungsinya menurun sehingga rentan terhadap infeksi oportunistik.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong
melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun :
a. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300
sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV
jumlahnya menurun sebanyak 40-50% dan selama masa ini penderita
bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus
yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus
tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
b. Setelah sekitar 6 bulan kadar partikel virus yang tinggi dan kadar
limfosit CD4+ yang rendah membantu dalam menentukan orang-orang
berisiko tinggi menderita AIDS.

c. Satu sampai 2 tahun sebelum terjadinya AIDS jumlah limfosit CD4+


biasanya menurun drastis, jika kadarnya mencapai 200 sel/ml darah,
maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi dan timbul penyakit
baru yang menyebabkan virus berproliferasi dan menjadi infeksi yang
parah dimana terjadi infeksi oportunistik yang didiagnosis sebagai
AIDS yang dapat menyerang berbagai sistem organ, seperti paru,
gastrointestinal, kulit, dan sensori saraf. Pada paru-paru dapat terjadi
peradangan dan terjadi peningkatan produksi mukus yang menimbulkan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif, perubahan pola nafas,
gangguan pola tidur dan nyeri. Pada peradangan dapat muncul masalah
hipertermi. Pada gastrointestinal terjadi diare dan jamur pada mulut
yang memunculkan masalah diare, kekurangan volume cairan dan
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan. Pada neuro terjadi penurunan
fungsi transmitter sehingga timbul masalah perubahan proses pikir. Di
kulit terjadi lesi yang dapat memunculkan masalah nyeri dan kerusakan
integritas kulit.
Pathway terlampir

6. Klasifikasi
A. CDC mengkategorikan dewasa dan dewasa muda terinfeksi HIV
berdasarkan hitung limfosit CD4 dan kondisi klinis, yaitu :
Tabel 1. Sistem Klasifikasi untuk Infeksi HIV dan definisi Kasus
Surveilans AIDS yang diperluas bagi pasien Remaja dan Dewasa
CD 4

Kategori Klinis
A

Total

(Asimtomatik) (Simtomatik,

(Indikator AID

bukan kondisi A
atau C)
500 /ml

29%

A.1

B.1

C.1

200-499

14-28%

A.2

B.2

C.2

< 200

< 14 %

A.3

B.3

C.3

(1) Berdasarkan hitung limfosit CD4+:


Kategori 1 : lebih besar atau sama dengan 500 cells/ul
Kategori 2 : 200-499 cells/ul
Kategori 3 : < 200 cells/ul
(2) Berdasarkan kondisi klinis :
(a) Kategori klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan pada dewasa/remaja dengan
infeksi HIV yang sudah dipastikan tanpa keadaan dalam kategori
B dan C, yaitu:
-

Infeksi HIV yang asimptomatik.

Limpadenopati generalisata yang persisten

Infeksi HIV yang akut dengan keadaan sakit yang menyertai.

(b) Kategori klinis B


Keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
-

Angiomatosis baksilaris

Kandidiasis orofaring/vulvaginal

Displasia servik

Gejala konstitusional, seperti panas (38,5C) atau diare lebih


dari 1 bulan

Herpes zoster

Leukoplakia oral yang berambut

Idiopatik trombositopeni purpura

Listeriosis

Penyakit inflamasi pelvic khususnya jika disertai komplikasi


abses tuboovarii

Neuropati peripir

(c) Kategori klinis C


Keadaan dalam kategori C mencakup ;
-

Kandidiasi bronkus, trakea/paru-paru, esophagus

Kanker servik inpasif

Koksidiodomikosis ektrapulmoner/diseminata

Kriptokokosis ekstrapulmoner

Kriptosporidosis internal kronis

Penyakit cytomegalovirus (bukan hati, lien, kelenjar limpe)

Retinitis cytomegalovirus

Encepalopati yang berhubungan dengan HIV

Herves simpleks, ulkus kronis (durasi lebih dari 1 bulan)

Histoplasmosis diseminata atau ekstrapulmoner

Isosporiasis intestinal yang kronis

Sarkoma Kaposi

Limfoma Burkitt

Kompleks mycobacterium avium atau M. kansasil yang


diseminata atau ekstrapulmoner

Mycobakterium spesies lain atau spesies yang tidak dikenali,


diseminata atau ekstrapulmoner

Pneumonia pneumocytis carnii

Pneumonia rekuren

Leukoensefalopati multifokal progresif

Septikemia salmonella yang rekuren

Toksoplasmosis otak

Sindrom pelisutan akibat HIV

(Smeltzer, 2001)

Sejak 1 Januari 1993 orangorang dengan keadaan yang merupakan


indikator C, B3, A3 dianggap menderita penyakit AIDS.

B. WHO mengklasifikasikan infeksi HIV pada orang dewasa sebagai


berikut:
Tabel 2. Klasifikasi HIV Berdasarkan stadium
STADIUM

GAMBARAN KLINIS
I

1.Asimtomatik
2.Limpadenopati generalisata

II

1.BB menurun < 10%


2.Kelainan kulit dan mukosa yang ringan,

SKALA AKTIFIT
Asimtomatik

aktiv

normal
Simptomatik

aktiv

normal.

seperti: dermatitis seboroik, prurigo,


onikomikosis, ulkus oral rekuren, kheilitis
angularis
3. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir.
4. Infeksi saluran nafas bagian atas, seperti
sinusitis bakterialis.
III

1.BB menurun > 10%


2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari
1 bulan.
3.Demam berkepanjangan lebih dari 1
bulan.
4.Kandidiasis orofaringeal.
5.Oral hairy leukoplakia

Pada umumnya lem

aktivitas di tempat t
kurang dari 50 %.

6.TB paru dalam tahun terakhir.


7.Infeksi bakterial yang

berat, seperti

pneumonia, piomiositis.
IV

1.HIV wasting syndrome, seperti yangPada umumnya sanga

lemah, aktifitas ditem

didefinikan oleh CDC.


2.PCP (Pnemonia Pneumocytis Carnii)
3.Toksoplasmosis otak
4.Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan.
5.Kriptokokus ekstra pulmonal.
6.Retinitis virus sitomegalo.
7.Herper simpleks mukokutan > 1 bulan.
8.Leukoensefalopati multi fokal progresif .
9.Mikosis

diseminata,

seperti

di

trakea,

histoplasmosis.
10.Kandidiasis

esophagus,

bronkus dan paru.


11.Mikobakteriosis atipikal diseminata.
12.Septisemia salmonelosis non tifoid.
13.Tuberkulosis ekstrapulmoner.
14.Limfoma.
15.Sarkoma kaposi
16.Ensefalopati HIV.

tidur lebih dari 50%

7. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis penyakit AIDS pada dasarnya mengenai setiap sistem
organ. Penyakit yang berkaitan dengan infeksi HIV atau penyakit AIDS
adalah akibat terjadi infeksi, malignansi atau akibat dari efek langsung
HIV itu sendiri. Berikut adalah manivestasi klinis dari penyakit AIDS:
a. Sistem respiratori
Gejala yang timbul seperti, napas pendek, sesak napas (dispnea),
batuk-batuk, nyeri dada, dan demam yang disebabkan infeksi yang
terjadi pada paru-paru.

Gambar 2. TBC
b. Sistem Gastrointestinal
Gejala yang timbul seperti hilanya selera makan, mual, muntah,
adanya kandidiasis oral yang dapat menyebar pada esophagus dan
lambung, diare kronis, penurunan berat badan lebih dari 10% berat
badan sebelumnya, hilangnya massa otot, kelemahan karena
hipermetabolisme tubuh.

Gambar 3. Pasien dengan penurunan berat badan

c. Kanker
Penderita AIDS mengalami insiden lebih tinggi terhadap kanker
daripada orang normal karena stimulasi HIV terhadap sel kanker
dan defisiensi sistem kekebalan sehingga substansi penyebab
kanker seperti virus lebih mudah menyerang tubuh. Gejala
klinisnya seperti lesi pada kulit, pada wanita terdapat perdarahan
yang terus menerus pada vagina, keluar cairan yang berbau busuk
dan rasa gatal dan panas pada daerah vagina.

Gambar 4. Ca Servix

d. Sistem neurologi
Komplikasi neurologik meliputi fungsi saraf sentral, perifer dan
autonum dimana gangguan ini dapat terjadi akibat efek langsung
HIV pada jaringan saraf, IO, neoplasma primer atau metastatik,
perubahan serebrovaskuler, ensefalopati metabolik atau komplikasi
sekunder karena terapi kompleks, seperti:

Ensefalopati HIV (kompleks dimensia AIDS) berupa sindrom


klinis yang ditandai penurunan progesif pada fungsi kognitif,
perilaku dan motorik. Manifestasi dini mencakup gangguan
daya ingat, sakit kepala, kesulitan konsentrasi, konfusi
progesif, pelambatan psikomotorik, apatis dan ataksi. Stadium
lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam
respon verbal, gangguan afektif, seperti pandangan yang
kosong, hiperrefleksi paraparesis spatik, psikosis, halusinasi,
tremor, inkontinensia, serangan kejang, mutisme.

Meningitis kriptokokus, yaitu infeksi jamur Cryptococcus


neoform dengan gejala demam, sakit kepala, malaise, kaku
kuduk, mual, vomitus, perubahan status mental, dan kejang.

Leukoensefalopati multifokal progresiva (PML) merupakan


kelainan sistem saraf

pusat dengan demielinisasi yang

disebabkan virus J.C manifestasi klinis dimulai dengan konfusi


mental dan mengalami perkembangan cepat yang pada
akhirnya mencakup gejala kebutaan, afasia, paresis .

Mielopati vaskuler merupakan kelainan degeneratif yang


mengenai kolumna lateralis dan posterior medulla spinalis
sehingga terjadi paraparesis spastik progresiva,ataksia serta
inkontinensia.

Neuropati perifer yang berhubungan dengan HIV diperkirakan


merupakan kelainan demielisasi dengan disertai rasa nyeri
serta matirasa pada ekstrimitas, kelemahan, penurunan reflkes
tendon yang dalam, hipotensi ortostatik.

Gambar 5. Hipotensi Ortostatik

e. Sistem integument
Gejala klinisnya timbul vesikel pada kulit akibat infeksi Herpes
Zoster atau hesper simpleks, terdapat ruam, kulit bersisik, kulit
kering, mengelupas.
(Smeltzer, 2001).

Gambar 6. Lesi pada kulit

Selain itu, terdapat pula gejala HIV sesuai dengan fase-fase infeksi:

Tabel 3. Gejala HIV sesuai dengan fase-fase infeksi


Fase
1.

.Periode

jendela

Lamanya Antibodi yang


fase

terdeteksi

4mg-6bln

Tidak

Dapat

Gejala-gejala

ditularkan

Tidak ada

Ya

setelah
infeksi

2.

Infeksi HIV1-2 minggu Kemungkinan Sakit seperti flu

Ya

primer akut
3.

Infeksi

asimtomatik

4.

1-15 tahunYa

Ya

atau lebih

Supresi imunSampai

simtomatik

Tidak ada

3Ya

tahun

Demam, keringat malam hari,Ya


penurunan

BB,

diare,

neuropati,

keletihan,

ruam

kulit,

limpadenopati,

perlambatan kognitif, lesi oral

5.

AIDS

Bervariasi Ya

Infeksi oportunistik berat danYa

1-5

tumor

tahun

tumor

dari

sistem

penentuan

neurologik

pada

tubuh,manifestasi

kondisi
AIDS

8. Penularan
HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung partikel
virus, yang ditularkan melalui cara:

setiap

a. Hubungan sex dengan penderita HIV (+)


b. Tranfusi darah yang terkontaminasi
c. Penggunaan jarum suntik bersama pada IDU
d. Ibu hamil yang HIV (+) ke bayi yang dikandung
e. Memberi ASI dari ibu yang HIV (+) ke bayi

9. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi
dimana pada pasien AIDS diterapkan universal precaution. Pemeriksaan
fisik lengkap harus dilakukan termasuk:
Keadaan umum : kurus, sakit akut/kronis,lemah

Pemeriksaan funduskop, terutama pada pasien dengan penyakit HIV


lanjut (mis. CD4 <100) sebagai skrining untuk retinitis CMV.

Pemeriksaan mulut untuk mencari kandidiasis, oral hairy leukoplakia,


penyakit gusi.

Kelenjar getah bening: limfadenopati generalisata, kelenjar yang


asimetris (kiri-kanan tidak sama) atau yang cepat membesar dapat
menunjukkan infeksi atau kanker yang mendasari

Pemeriksaan kelamin dan dubur untuk mencari luka dalam atau luar
misalnya herpes atau kondilomata

Pemeriksaan neurologis termasuk penilaian fungsi saraf perifer.

Pemeriksaan kulit untuk mencari lesi kulit terkait HIV yang bermakna,
termasuk dermatitis seborea, psoriasis, folikulitis, sarkoma kaposi,
kutil umum, dan moluskum kontagiosum.

Palpasi abdomen untuk mencari organomegali.

Auskultasi: untuk mencari rhonci/wheezing, suara jantung, peristaltik


usus

Perkusi untuk mendeteksi adanya gas, cairan atau massa dimana bunyi
dapat timpani (normal), pekak, redup

10. Pemeriksaan diagnostic / penunjang :


a. Pemeriksaan laboratorium:
(1) Tes yang digunakan untuk mendiagnosis

HIV dan melihat

perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi HIV,


yaitu:
(a) Tes antibodi HIV :
Tes ELISA ( Enzym Linked Immunosorbent Assay )
ELISA

tidak

menegakkan

diagnosis

AIDS

tapi

menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi HIV.


Western Blot Assay
Mengenali antibody HIV dan memastikan seropositiftas
HIV.
RIPA ( Radio Immuno Precipitation Assay )
Mendeteksi protein dari anti bodi
Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan
seropositif.
(b) Pelacakan HIV: antigen p24, reaksi rantai polimerasi (PCR),
kultur sel mononuclear darah perifer untuk HIV-1, kultur sel
kualitatif, kultur plasma kuantitatif,

mikroglobulin B2,

neopterin serum.
(c) Status Imun: sel-sel CD4+, % sel-sel CD4+, rasio CD4:CD8,
hitung sel darah putih, kadar immunoglobulin, tes fungsi sel
CD4+, reaksi sensitivitas pada tes kulit.
b. Pemeriksaan sitologis urine, feses, cairan spinal, sputum dan sekresi
untuk mengidentifikasi infeksi protizoa,jamur,bakteri,viral.

c. Pemeriksaan darah umum: DL, SGOT, SGPT, BUN/SC, Protein total,


albumin, globulin, kolestrol, AGD, elektrolit
d. Radiologi: Thorak foto ,USG
e. Pemeriksaan neurologist: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG
f. Biopsi
g. Bronkoskopi

11. Diagnostik
Diagnosis didasarkan pada riwayat klinis, identifikasi faktor risiko,
pemeriksaan fisik, bukti laboratorium yang menunjukkan disfungsi
kekebalan, identifikasi antibodi HIV, tandatanda serta gejala dan infeksi
atau malignansi yang termasuk dalam sistem klasifikasi CDC

untuk

infeksi HIV.

12. Pencegahan
Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan pada pendidikan
masyarakat mengenai cara penularan HIV dengan tujuan merubah
kebiasaan orang-orang yang berisiko tinggi tertular:
a. Untuk orang sehat
- Abstinens (tidak melakukan hubungan sex) dengan orang yang
terinfeksi HIV
- Sex aman (terlindung)
b. Untuk penderita HIV (+)
- Abstinens
- Sex aman
- Tidak mendonorkan darah / organ
- Mencegah kehamilan
- Memberitahu mitra seksual
c. Untuk penyalahgunaan obat-obatan

- Menghentikan penggunaan jarum bersama sama


- Mengikuti program rehabilitasi
d. Untuk profesional kesehatan
- Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan
tubuh/selalu menerapkan UP.

13. Terapi/Tindakan Penanganan


Upaya penanganan medis meliputi beberapa cara pendekatan yang
mencakup penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV serta
malignansi, penghentian replikasi virus HIV lewat preparat antivirus dan
penguatan serta pemulihan sistem imun melalui penggunaan preparat
imunomodulator dan perawatan suportif, seperti :
a.

Penggunaan obat-obatan untuk infeksi yang berhubungan dengan


HIV :
1) Infeksi umum: Trimetoprimsulfametoksazol (TMP-SMZ)
2) PCP: TMP-SMZ,Pentamidin, kombinasi trimetoprim oral
3) MAC: Rifabutin
4) Meningitis: amfoterisin B IV
5) Retinitis CMV: Foskarat
6) Kandidiasis: suspensi nistatin
7) Lesi esophagus: ketokonazol / flukonazol
8) Diare kronis: Sandostatin

b.

Pemberian suplemen nutrisi: advera

c.

Penanganan keganasan dengan kemoterapi ABV (Adreamisin,


Bleomisin,Vinkristin)

d.

Terapi anti retrovirus:


1) Golongan NRTI ( Nucleussides Reverse Transcriptase
Inhibitor )

Obat ini dikenal sebagai analog

nukleosida yang

menghambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA


seperti: Zidovudin (ZDV), Lamivudin (3TC), Stavudin
(D4T), Didanosin.
2) Golongan NNRTI (Non-Nukleosida Reverse Transcriptase
Inhibitor)
Obat ini bekerja menghambat proses perubahan RNA
menjadi DNA seperti: Nevirapin, Foscavir.
3) Inhibitor protease merupakan obat yang menghambat kerja
enzim protease, seperti indinavir, nelfinavir, ritonavir,
saquinavir.
e.

Terapi alternatif
Terapi alternatif dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu:
1) Terapi spiritual atau psikologis: terapi humor, hypnosis, faith
healing, afirmasi positif
2) Terapi nutrisi: diet, suplemen vit c.
3) Terapi obat dan biologik : ozon,oksigen

Terapi dengan tenaga fisik dan alat: akupuntur, akupresor, masase,


refleksologi, yoga, kristal..

Pathway

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Kajian Keperawatan Kritis
Primary Survey:
AIRWAY
Pengkajian :
Pada pasien dengan penyakit HIV/AIDS ditemukan adanya gangguan
di hampir semua sistem organ akibat infeksi, salah satunya dari sistem
respirasi. Kadang-kadang ditemukan adanya penumpukan sputum pada
jalan napas. Hal ini menyebabkan penyumbatan jalan napas sehingga pada

pasien HIV/AIDS memperlihatkan kondisi pasien yang sesak karena


kebutuhan oksigen semakin sedikit yang dapat diperoleh.
BREATHING
Pengkajian :
Infeksi pada sistem respirasi (paru-paru) juga dapat menimbulkan
sesak napas. Selain itu, sumbatan jalan napas pasien akibat sputum juga
menyebabkan bertambahnya usaha napas pasien untuk memperoleh
oksigen yang diperlukan oleh tubuh, hingga pada akhirnya juga akan
menimbulkan sesak napas.
CIRCULATION
Pengkajian :
Hal-hal yang diperoleh pada pasien HIV/AIDS diantaranya takikardi,
pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjunctiva, mulut, faring, bibir),
rambut kering, mudah putus, menipis, perasaan dingin pada ekstremitas.

DISABILITY
Pengkajian :
Sakit/nyeri kepala, pusing, ketidak mampuan berkonsentrasi, kelemahan,
dab keletihan berat.
Secondary Survey:
1) Eksposure
Tidak ada jejas atau kontusio pada dada, punggung, dan abdomen.
Kadang-kadang ditemukan gangguan pada lapisan kulit yaitu timbul

vesikel akibat infeksi Herpes Zoster atau hesper simpleks, terdapat ruam,
kulit bersisik, kulit kering, mengelupas.
2) Five intervention
Hipotensi, takikardia, dispnea, ortopnea, takipnea, demam,
hemoglobin dan hemalokrit menurun. Terutama dari hasil CD4 terus
mengalami penurunan.
3) Give comfort
Kadang-kadang

pasien

mengalami

nyeri

kepala

karena

kompleksnya infeksi akibat penurunan daya tahan tubuh pasien.


4) Head to toe
Daerah kepala : konjunctiva pucat, membrane mukosa kering, ruam pada

kulit wajah.
Daerah dada : tampak adanya penggunaan otot bantu napas akibat sesak
napas.
Daerah abdomen : tidak adanya gangguan pada abdomen.
Daerah ekstremitas : penurunan kekuatan otot karena kelemahan, perasaan
dingin pada ekstremitas.
5) Inspect the posterior surface

Tidak ada jejas pada daerah punggung, tampak adanya ruam pada kulit.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan mukus
dalam jumlah berlebihan, eksudat dalam alveoli, sekresi yang
tertahan/ sisa sekresi, infeksi akibat mycobaterium tuberculosis
b. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi.
c. PK Anemia

d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan


berlebih sekunder akibat diare.
e. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (reaksi antigen
antibodi).
f. Keletihan berhubungan dengan anemia, status penyakit, malnutrisi,
peningkatan kelelahan fisik
g. Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum,

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ke jaringan.


h. Ketidakseimbangan
berhubungan

nutrisi

dengan

kurang

dari

ketidakmampuan

kebutuhan

menelan

tubuh

makanan,

ketidakmampuan untuk mencerna makanan, ketidakmampuan untuk


mengabsorpsi nutrien
i. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (lesi pada mulut,
esophagus, dan lambung)
j. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis, pertahanan tubuh
sekunder yang tidak adekuat (mis.penurunan hemoglobin, leukopenia,
supresi/penurunan respon inflamasi), prosedur invasif, malnutrisi,
kerusakan jaringan kulit
k. Kerusakan

integritas

kulit

berhubungan

dengan

penurunan

imunologis.
l. Risiko cedera berhubungan dengan malnutrisi, disfungsi sensorik
m. Gangguan proses keluarga berhubungan dengan pergeseran pada
status kesehatan anggota keluarga
n. Asietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan,
ancaman kematian, penularan penyakit interpersonal, stres
o. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif,
kurangnya pajanan informasi, kurang minat dalam belajar, kurang
dapat mengingat
p. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan proses penyakit Hambatan
interaksi sosial berhubungan dengan gangguan konsep diri akibat
penyakit yang diderita

1. Distres spiritual berhubungan dengan ansietas, sakit kronis,


kematian.

A) PERENCANAAN KEPERAWATAN
No
1

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Nyeri akut
NOC: Comfort level
berhubungan
dengan
Pain control
himpitan saraf median
Pain level

Intervensi Keperawatan
NIC: Pain Management

a. Monitor kepuasan pasien terhadap manajemen


nyeri
Setelah dilakukan tindakan keperawatanb. Berikan posisi yang nyaman
selama 1x24 jam, nyeri akut pasien berkurangc. Tingkatkan istirahat dan tidur yang adekuat
dengan kriteria hasil:
d. Kolaborasikan analgetik atau codein
a. Tidak ada gangguan tidur
e. Jelaskan pada pasien penyebab nyeri
b. Tidak ada gangguan konsentrasi
f. Lakukan tehnik nonfarmakologis (relaksasi) bila
c. Tidak
ada
gangguan
hubungan perlu
interpersonal
d. Tidak ada ekspresi menahan nyeri dan
ungkapan secara verbal
e. Tidak ada tegangan otot
Gangguan mobilitas fisik NOC: Joint Mobility: Wrist
NIC: Exercise Promotion: Stretching
berhubungan dengan
kekakuan, kesemutan dan Setelah dilakukan tindakan keperawatana. Kaji pola persepsi dan motivasi pasien untuk
mati rasa area metacarpal
selama 1x24 jam, kerusakan mobilitas fisik latihan
pasien berkurang dengan kriteria hasil:
b. Kaji kondisi musculoskeletal pasien
c. Ajarkan pasien tentang tujuan latihan jangka
a. Flexi 90o
pendek dan jangka panjang
o
b. Ekstensi 70
d. Jelaskan pada pasien tentang pengaruh usia pada
c. Radial deviasi 20o
musculoskeletal dan efek dari sindrom disuse
o
d. Ulnar deviasi 55
e. Berikan pilihan waktu, tempat dan pilihan latihan
f. Bantu pasien untuk membuat jadwal latihan

g. Instruksikan pasien untuk melakukan peregangan


pada sendi yang sehat kemudian sendi yang susah
digerakkan
h. Pertahankan tempo peregangan dan waktu antar
gerakan berikutnya
i. Monitor toleransi pasien terhadap latihan
j. Kaji adanya peningkatan kemampuan sendi untuk
bergerak
k. Sediakan brosur tentang panduan gerakan yang
dapat dilakukan mandiri
l. Libatkan keluarga selama latihan di rumah
Risiko infeksi
NOC:
a. Pertahankan teknik aseptif
berhubungan dengan
Immune Status
b. Batasi pengunjung bila perlu
ketidakadekuatan pertahanan Knowledge : Infection control
c. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
primer (kerusakan kulit,
Risk control
keperawatan
taruma jaringan lunak,
Indikator
d. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
prosedur invasif/traksi
a. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah pelindung
tulang)
timbulnya infeksi
e. Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan
b. Menunjukkan perilaku hidup sehat
petunjuk umum
c. Status
imun,
gastrointestinal,f. Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan
genitourinaria dalam batas normal
infeksi kandung kencing
g. Tingkatkan intake nutrisi
h. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
lokal
i. Pertahankan teknik isolasi k/p
j. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
k. Monitor adanya luka

l. Dorong masukan cairan


m. Dorong istirahat
n. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
o. Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4
jam
p. Kolaborasi tindakan debridement
NIC: Body Image Enhancement

Cemas
NOC: Body Image
berhubungan
dengan
perubahan fungsi anggotaSetelah dilakukan tindakan keperawatan a. Kaji gambaran diri yang diharapkan pasien
tubuh
selama 1x24 jam, harga diri rendah: b. Jelaskan proses terjadinya perubahan tubuh
situasional pasien teratasi dengan kriteria
c. Jelaskan dampak gambaran diri yang buruk dapat
hasil:
menghambat proses bersosialisasi
d. Anjurkan pasien menghilangkan ciri-ciri fisik dari
a. Gambaran diri positif
kriteria kepuasan
b. Kongruensi realitas dengan kondisi fisik
c. Mendeskripsikan bagian tubuh yang e. Monitor frekuensi pasien mengkritik diri sendiri
f. Ajarkan pasien dan keluarga persepsi perubahan
bermasalah
fungsi tubuh
d. Kepuasan terhadap penampilan
e. Perilaku mencari strategi peningkatan g. Kaji adanya isolasi social karena perubahan tubuh
h. Anjurkan pasien mengidentifikasi bagaian tubuh
fungsi tubuh yang bermasalah
yang masih berfungsi dan fungsinya
i. Fasilitasi pasien untuk berjumpa dengan orang
dengan kondisi yang sama

DAFTAR PUSTAKA
Capernito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,
Diagnosa Keperawatan dan Kolaboratif; Alih Bahasa Monica Ester,
Setiawan. Jakarta: EGC
Doenges, Marylinn E. 2000. Rencana Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Garrison, Susan J. 2001. Handbook Of Physical Medicine and Rehabilitation
Basics, alih bahasa:Anton Cahaya Widjaja, Editor:Virgi Saputra, Ivo Novita
Salim, Jakarta: Hipokrates.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2002, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan,
Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Edisi 8 Vol. 3 Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC