Anda di halaman 1dari 9

A.

Latar Belakang Masalah


Berbagai upaya yang telah dilaksanakan pemerintah, dalam hal ini
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan mutu pendidikan
pada umumnya dan pendidikan kejuruan padakhususnya. Namun demikian sampai
saat ini belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sekolah menengah kejuruan
sebagai

lembaga

pendidikan

formal,

bertujuan

untuk

meningkatkan

kecerdasan,pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup


mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Oleh karena itu, pendidikan
khususnya pendidikan kejuruan perlu diorganisir dan diarahkan pada pencapaian
lima pilar, yaitu: (1) belajar untuk beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha
Esa, (2) belajar untuk mengetahui (learning to know), (3) belajar untuk berbuat
(learning to do), (4) belajar untuk hidup antar sesama secara berdampingan
(learning together), dan (5) belajar untuk membentuk jati diri (learning to be) (PP 19
tahun 2005).Setelah diberlakukannya Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang
otonomi pemerintahan daerah, dimana memberi dampak terhadap pelaksanaan
manajemen pendidikan yaitu manajemen yang memberi ruang, gerak yang lebih
luas kepada pengelolaan pendidikan untuk menemukan strategi berkompetisi dalam
era kompetitif untuk mencapai output pendidikan yang berkualitas dan mandiri,tidak
terlepas dari peranan kepala sekolah dan guru. Otonomi daerah juga melaksanakan
manajemen berbasis sekolah, yang menekankan pentingnya kepemimpinan kepala
sekolah yang efektif, pemberdayaan kepala sekolah dalam mengelola sumber daya
pendidikan secara mandiri dan kreatif, disertai dengan komitmen kepala sekolah
untuk meningkatkan mutu sekolah dan kinerja sekolah. Kerja guru merupakan
kumpulan dari berbagai tugas untuk mencapai tujuan pendidikan. Kepuasan dalam
menjalankan tugas merupakan aspek penting bagi kinerja guru, hal ini disebabkan

sebagian besar waktu guru digunakan untuk bekerja di sekolah. Guru dituntut untuk
untuk bekerja dengan memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pemakai
sekolah seperti siswa, orang tua, dan masyarakat. Salah satu faktor yang
menunjang guru untuk bekerja dengan sebaik-baiknya yaitu kepuasan kerja. Artinya
jika guru puas terhadap perlakuan organisasi (sekolah) maka mereka akan bekerja
penuh semangat dan bertanggung jawab.
Kepuasan kerja (job satisfaction) guru merupakan sasaran penting dalam
manajemen sumber daya manusia, karena secara langsung maupun tidak langsung
akan mempengaruhi produktivitas kerja. Suatu gejala yang dapat membuat rusaknya
kondisi organisasi sekolah adalah rendahnya kepuasan kerja guru dimana timbul
gejala seperti kemangkiran, malas bekerja, banyaknya keluhan guru, rendahnya
prestasi kerja, rendahnya motivasi kerja, rendahnya kualitas pengajaran, indisipliner
guru dan gejala negatif lainnya. Menurut pengamatan penulis Salah satu penyebab
rendahnya kepuasan kerja guru tak lepasnya dari pemberian insentif yang dianggap
terlalu kecil, kekecewaan terhadap pemimpin sekolah, lingkungan kerja yang tidak
kondusif, rekan kerja yang tidak mendukung dan konflik sosial yang terjadi antar
guru.
Sebaliknya kepuasan yang tinggi sangat diharapkan karena dapat dikaitkan
dengan hasil positif kerja guru. Kepuasan kerja yang tinggi menandakan bahwa
sebuah organisasi sekolah telah dikelola dengan baik dengan manajemen yang
efektif. Kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan kesesuaian antara harapan guru
dengan imbalan yang disediakan oleh organisasi.
Meningkatkan kepuasan kerja bagi guru merupakan hal yang sangat penting,
karena menyangkut masalah hasil kerja guru yang merupakan salah satu langkah
dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa. Berdasarkan uraian di atas,

dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan pemerintah telah memberdayakan


kepala sekolah sedemikian rupa serta otonomi yang memberi ruang, gerak yang
lebih luas untuk mengelola pendidikan, namun dalam kenyataannya, mutu
pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan khususnya di Bengkulu. Rendahnya
kualitas pendidikan di Bengkulu dapat dicermati dari laporan Tim pusat Penilian
pendidikan Kementrian dan kebudayaan Republik Indonesia melalui Bengkulu
Antara News. com menyebutkan bahwa kualitas pendidikan di Provinsi Bengkulu
termasuk menengah ke bawah di tingkat Nasional. Penilaian tersebut berdasarkan
pemantauan di empat sekolah di wiliyah Bengkulu.
Untuk mencapai kepuasan kerja seorang seorang guru harus memiliki
hubungan yang baik

dengan guru maupun elemen sekelah yang lain sehingga

mampu memahami perasaan, kemamuan dan kebutuhan orang lain. Untuk maksud
tersebut seorang guru harus memiliki kecerdasan interpersonal diantaranya
bekerjasama dengan orang lain, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, memiliki
kepekaan (empati) sosial terhadap orang atau kelompok, berkomonikasi secara
efektif, menjalin hubungan kerja, dan lainnya. Namun berdasarkan pengamatan
penulis sebagian guru di Provinsi bengkulu khususnya di Kabupaten seluma
kemampuan guru berkomunikasi, empati, bekerjasama, memahami perasaan siswa
maupun guru masih rendah, hal ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam
menghadapi masalah di sekolah ataupun menciptakan relasi sosialnya.
Pada dasarnya guru yang

memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi

yaitu mampu untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang
lain yang ditunjukkan baik secara verbal maupun non-verbal, mampu untuk
memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektif dalam suatu interaksi
sosial serta memiliki penguasaan keterampilan komunikasi sosial. Seorang yang

memiliki ciri-ciri kecerdasan interpersonal seperti tersebut di atas cenderung akan


dapat bersosialisasi dengan baik, termasuk dalam bekerja ia akan merasa puas. Hal
ini terjadi karena seorang guru yang memiliki kecerdasan interpersonal biasanya
memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Orang
yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi biasanya dalam bekerja tidak banyak
memiliki masalah, sehingga pada akhirnya ia akan cenderung lebih menikmati
pekerjaannya dan merasa puas dengan keadaannya meskipun mungkin banyak
terjadi kekurangan (seperti mendapatkan gaji yang tidak terlalu tinggi, dll), karena
yang mereka butuhkan dalam bekerja bukan hanya faktor materi semata.
Selain kecerdasan interpersonal Komitmen organisasi termasuk variabel yang
mendukung keberhasilan guru dalam menjalankan tugasnya. Komitmen yang tinggi
akan mendorong individu untuk berusaha dan berjuang semaksimal mungkin untuk
kemajuan organisasi dan dirinya. Komitmen organisasi mencakup tiga hal penting,
yaitu identifikasi atau kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi, keterlibatan atau
kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi dan
loyalitas atau keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi. Hal ini senada
dengan penelitian yang dilakukan Ety Endriani STIE AUB Surakarta menyebutkan
bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikansi terhadap Kinerja di
Workshop SMK Katolik Santo Mikael surakarta.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis terhadap guru selama ini,
bahwan faktor-faktor penyebab kegagalan guru dalam melaksanakan tugasnya di
sekolahnya bukan hanya disebabkan oleh kurangnya fasilitas, namun lebih banyak
disebabkan

kegagalan

dalam

termasuk komitmen organisasinya.

memaksimalkan

kecerdasan

interpersonalnya,

Dari uraian di atas, ternyata banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan


kerja, sehingga perlu dilakukan pembatasan. Pembatasan ini dilakukan karena
ketebatasan waktu dan kendala lainnya, sehingga hanya difokuskan pada beberapa
variabel yang diduga berpengaruh terhadap kepuasan kerja yaitu komitmen
organisasi dan kecerdasan interpersonal.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi masalah yang akan di teliti yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan interpersonal dengan kepuasan kerja ?


Apakah terdapat hubungan antara lingkungan kerja dengan kepuasan kerja ?
Apakah terdapat hubungan antara pemberian insentif guru dengan kepuasan kerja ?
Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan kepuasan kerja ?
Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja?
Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja ?
Apakah terdapat hubungan antara disiplin guru dengan kepuasan kerja ?
Apakah terdapat hubungan antara komitmen organisasi dengan kepuasan kerja ?

C. Pembatasan Masalah
Masalah utama penelitian adalah kepuasan kerja sebagai variabel dependen, yang dibatasi
hubungannya dengan kecerdasan interpersonal

sebagai variabel independen 1, dan komitmen

organisasi variabel independen 2.

D. Perumusan Masalah
1. Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan interpersonal dengan kepuasan kerja guru ?
2. Apakah terdapat hubungan antara komitmen organisasi dengan kepuasan kerja guru ?
3. Apakah terdapat hubungan secara bersama-sama antara kecerdasan interpersonal dan
komitmen organisasi dengan kepuasan kerja guru ?.
E. Kegunaan Penelitian

1. Dalam kajian penelitian dapat bermanfaat dibidang keilmuan yaitu ilmu perilaku organisasi dan
manajemen. Kajian ini merupakan sumbangan pada materi kecerdasan interpersonal,
komitmen organisasi dan kepuasan kerja tentang ada tidaknya hubungan diantara ketiga
variable tersebut.
2. Dalam kajian penelitian ini diharapkan dapat menemukan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap kepuasan kerja guru. Selanjutnya kajian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai
masukan kepada dunia pendidikan dalam kerangka meningkatkan mutu dan profesionalitas
guru.
3. Jika hasil penelitian ini ternyata terbukti dengan pembuktian secara empirik dimana ada
hubungan yang positif antara kecerdasan interpersonal denga kepuasan kerja, dan hubungan
komitmen organisasi dengan kepuasan kerja, serta secara bersama-sama terdapat hubungan
positif antara keterampilan kerja dan komitmen organisasi dengan kepuasan kerja, maka hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten seluma
dalam merancang program yang berkaitan dengan peningkatan kepuasan kerja guru.
4. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan kepada sekolah-sekolah
khususnya Sekolah Menengah Kejuruan di utamakan guru-gurunya sebagai bahan evaluasi
kinerjanya, dan masukan bagi guru-guru sebagai bahan untuk mengevaluasi kinerjanya baik
sebagai individu maupun sebagai kelompok sehingga secara bersama-sama dapat
merencanakan langkah yang konkrit untuk menentukan kepuasan kerja di masa-masa
selanjutnya.

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN


INTERPERSONAL DAN KOMITMEN
ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA
GURU SMK DI KABUPATEN SELUMA
Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah
FILSAFAT
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Yufiarti, MPd

Disusun Oleh :
INDAH HERAWATI (No. Register 7616120901)
Pogram Studi:

MANAJEMEN PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


2012
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
(DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH)

Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah


MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Dosen Pengampu: DR. Fachrudin Arbah M.Pd

Disusun Oleh :

INDAH HERAWATI (No. Register 7616120901)


ANDI BAHTIAR FRANCISKA No. Register 76161208()
Pogram Studi:

MANAJEMEN PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


2012