Anda di halaman 1dari 284

Juknis Pemeriksaan LKPD

Daftar Isi

DAFTAR ISI
Hal
BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .......................
2. Maksud dan Tujuan ........... ..................
3. Lingkup Pembahasan........................
4. Sistematika Penulisan....................

1
1
2
2
3

BAB II

GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT


1. Dasar Hukum Penyusunan ................................................
2. Pengertian dan Dokumen .................................................
3. Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi....................
4. Standar Akuntansi Pemerintah................................
5. Sistem dan Prosedur Laporan Keuangan Pemerintah Pusat .....................
6. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.........................................................

4
4
4
5
5
5
9

BAB III

PETUNJUK PEMERIKSAAAN....................
1. Petunjuk Umum................................. ............
2. Petunjuk Perencanaan Pemeriksaaan......................................................
3. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaaan......................................................
4. Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaaan.................................................
5. Jadwal Penyelesaian Pemeriksaan dan Laporan Hasil Pemeriksaan

11
11
15
22
27
33

BAB IV

SUPERVISI....................................................................................................
1. Supervisi dalam Pemeriksaaan................................................................
2. Supervisi Pemenuhan Tujuan dan Harapan Penugasan..........................
3. Supervisi Pelaksanaan Program Pemeriksaaan.......................................
4. Supervisi Penyusunan dan Substansi Laporan Hasil Pemeriksaan...........

35
35
36
37
37

BAB V

PEMERIKSAAAN INTERIM.........................................................................
1. Pengertian Pemeriksaan Interim..............................................................
2. Tujuan Pemeriksaan Interim.....................................................................
3. Lingkup Pemeriksaan Interim...................................................................
4. Metodologi Pemeriksaaan Interim............................................................

39
39
39
39
40

BAB VI

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN.....


1. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan................................................
2. Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut.......................
3. Reviu atas Jawaban/Keterangan Pemerintah Pusat...................................
4. Pelaporan atas Pemantauan Tindak Lanjut.............................................
5. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaaan.............................

42
42
42
42
43
43

BAB VII

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN...............................................................


1. Pengertian KKP.........................................................................................
2. Jenis KKP..................................................................................................
3. Indeks KKP...............................................................................................
4. Pemeliharaan KKP...................................................................................
5. Serah Terima KKP....................................................................................

44
44
44
45
45
44

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPD

Daftar Isi

BAB VIII

PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU...............................................


1. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu..
2. Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu.
3. Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu
4. Pendokumentasian Pengendalian dan Penjaminan Mutu.

46
46
46
46
47

BAB IX

PENUTUP......................................................................................................
1. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan atas LKPP dan LKKL.......
2. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaaan atas LKPP dan LKKL.........
3. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan atas LKPP dan LKKL...........

48
48
48
48

REFERENSI...................................................................................................

49

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab I Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang

Laporan keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP)
dan laporan keuangan
kementerian lembaga (LKKL)
merupakan
pertanggungjawaban
Pemerintah Pusat,
menteri/pimpinan lembaga
atas pelaksanaan APBN.

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan


Kementerian Lembaga (LKKL) merupakan pertanggungjawaban Pemerintah
Pusat, yaitu Presiden dan menteri/pimpinan lembaga, atas pelaksanaan
APBN setiap tahun anggaran. LKPP tersebut terdiri atas neraca, laporan
realisasi anggaran, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
LKPP tersebut disusun dari LKKL dan informasi lain yang terkait. LKKL
terdiri atas neraca, laporan realisasi anggaran dan catatan atas laporan
keuangan. Kementerian negara/lembaga tidak menyusun laporan arus kas
karena kementerian negara/lembaga tidak memiliki fungsi perbendaharaan.
Laporan arus kas disusun oleh Departemen Keuangan yang memiliki fungsi
perbendaharaan. Departemen Keuangan juga menggabungkan LKKL
menjadi LKPP termasuk laporan arus kas.

LKPP dan LKKL disusun


berdasarkan SAP dan sistem
akutansi dan pelaporan
keuangan pemerintah pusat.

LKPP dan LKKL tersebut disusun berdasarkan Standar Akuntansi


Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 24 Tahun 2005. Di dalam penyusunan LKPP dan LKKL, Menteri
Keuangan menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan
pemerintah pusat, yang diselenggarakan untuk penyusunan LKPP dan
LKKL tersebut.

Pemeriksaan LKPP dan


LKKL merupakan salah satu
tugas pokok BPK.

Alasan penyempurnaan
petunjuk teknis pemeriksaan
atas LKPP dan LK KL:

Perkembangan
peraturan perundangundangan dan
ketentuan lain serta
perubahan organisasi
pemerintah pusat.

Materialitas dan
sampling.

Litbang Pemeriksaan

Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL tersebut merupakan salah satu tugas
pokok BPK-RI sebagai pelaksanaan Pasal 23 UUD 1945, Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Pemeriksaan atas LKPP dan LK KL
merupakan pemeriksaan keuangan yang bertujuan untuk untuk
memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah
LKPD telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Pemeriksaan dilakukan
berdasarkan pada standar pemeriksaan yang ditetapkan Badan Pemeriksa
Keuangan, yaitu Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).
Sebagai pedoman pemeriksaan atas LKPP sebelumnya telah ditetapkan
petunjuk teknis maupun pedoman untuk melakukan pemeriksaan atas
pertanggungjawaban APBN dimana dengan adanya Juknis yang baru ini
akan diusulkan untuk dinyatakan tidak berlaku. Pedoman dan petunjuk
teknis yang diusulkan untuk dinyatakan tidak berlaku tersebut dapat dilihat
pada lampiran 1.1, salah satunya adalah petunjuk teknis pemeriksaan LKPP
yang telah ditetapkan dalam Surat Keputusan Sekretaris Jenderal BPK
No.153/SK/VIII-VIII.3/7/2005 tanggal 6 Juli 2005. Petunjuk teknis tersebut
belum mengakomodasi perkembangan peraturan perundang-undangan dan
ketentuan terkait lainnya serta perubahan-perubahan yang terjadi antara lain
sebagai berikut:

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang


Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa


Keuangan.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan.
Badan Pemeriksa Keuangan

Pemeriksaan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab I Pendahuluan

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan


dan Kinerja Pemerintah.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem


Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.

Perubahan struktur organisasi pemerintah pusat dan kementerian


lembaga di dalam penyusunan LKPP dan LK KL.

Selain perkembangan peraturan dan perubahan di atas, konsep materialitas


dan sampling yang merupakan faktor penting dalam pemeriksaan LKPP
dan LKKL perlu diperjelas. Konsep materialitas dan sampling tersebut yang
telah diatur dalam petunjuk teknis pemeriksaan atas LKPP dan LKKL perlu
disempurnakan dengan contoh aplikasi atas materialitas, kesalahan yang
dapat ditoleransi (tolerable errors/TE), dan pengambilan sampling.
Petunjuk teknis ini juga memperkenalkan konsep transparansi fiskal yang
perlu menjadi bahan kajian bagi pemeriksa LKPP. Analisa transparansi fiskal
dilakukan pada tahap pemahaman dan pengujian SPI. Laporan hasil analisa
atas unsur-unsur transparansi fiskal dalam pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan daerah merupakan laporan tambahan yang dapat diterbitkan oleh
pemeriksa. Laporan tersebut dapat bermanfaat bagi pengguna laporan hasil
pemeriksaan BPK seperti DPR dan masyarakat.
Kebijakan BPK untuk memberikan opini pada LKKL tahun 2006 dan
seterusnya memerlukan penjabaran lebih lanjut. Petunjuk teknis yang telah
ditetapkan tidak dirancang untuk maksud tersebut atau dirancang untuk
pemberian opini hanya pada LKPP.
Berkaitan dengan hal-hal di atas, maka petunjuk teknis atas pemeriksaan
LKPP dan LKKL perlu disempurnakan untuk mengakomodasi
perkembangan dan perubahan yang telah disebutkan di atas.

2.

Maksud dan Tujuan

Maksud penyempurnaan
juknis pemeriksaan LKPP
dan LKKL untuk memberikan
pedoman yang mutakhir bagi
pemeriksa.
Tujuan penyempurnaan
juknis pemeriksaan LKPP
dan LKKL untuk
mengefektifkan pelaksanaan
pemeriksaaan.

3.

Maksud penyempurnaan petunjuk teknis pemeriksaan LKPP dan LKKL


adalah untuk memberikan pedoman yang mutakhir bagi pemeriksa dalam
menyusun program pemeriksaan dan pelaksanaan pemeriksaan di lapangan
sehingga terdapat kesamaan tindakan berdasarkan berbagai perubahan di
atas.
Tujuan penyempurnaan petunjuk teknis tersebut adalah untuk:
a. menyamakan pemahaman atas pemeriksaan atas laporan keuangan, dhi.
LKPP dan LKKL;
b. memberikan pedoman kepada pemeriksa LKPP dan LKKL sehingga
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan dapat
selaras dan dapat mudah dikompilasi.
c. mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan agar mencapai hasil
pemeriksaan yang optimal sesuai dengan standar pemeriksaan.

Lingkup Pembahasan

Lingkup pembahasan juknis


adalah pemeriksaan LKPP
dan LKKL.

Litbang Pemeriksaan

Petunjuk teknis pemeriksaan atas LKPP dan LKKL ini digunakan untuk
pemeriksaan atas laporan keuangan yang dihasilkan dari sistem akuntansi
dan pelaporan keuangan pemerintah pusat yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan dan yang didasarkan pada SAP. Laporan keuangan yang
diperiksa tersebut meliputi laporan konsolidasian atau LKPP dan LKKL.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

4.

Bab I Pendahuluan

Sistematika Penulisan

Juknis pemeriksaaan LKPP


dan LKKL terdiri atas 9 bab,
referensi, dan lampiran.

Petunjuk teknis pemeriksaan LKPP dan LKKL terdiri atas sembilan bab
sebagai berikut:
Bab I

Pendahuluan

Bab II

Gambaran Umum Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah


Pusat dan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

Bab III

Petunjuk Pemeriksaan

Bab IV

Supervisi

Bab V

Pemeriksaan Interim

Bab VI

Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan

Bab VII Kertas Kerja Pemeriksaan


Bab VIII Pengendalian dan Penjaminan Mutu
Bab IX

Penutup

Referensi
Lampiran-Lampiran

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab II Gambaran Umum

BAB II
GAMBARAN UMUM
PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN
LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN/LEMBAGA
1. Dasar Hukum Penyusunan
Penyusunan LKPP dan LKKL oleh
berdasarkan peraturan sebagai berikut:
Dasar Hukum
Penyusunan LKPP dan LKKL

Pemerintah

Pusat,

dilakukan

a. Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara.
b. Pasal 55 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.
d. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah
e. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah
f. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.06/2005 tentang Bagan
Perkiraan Standar.
g. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
h. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor 38/PB/2006 tentang Pedoman
Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan.
i. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor 40/PB/2006 tentang Pedoman
Akuntansi Persediaan.
j. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor 44/PB/2006 tentang Pedoman
Reviu atas Laporan Keuangan Kementerian/lembaga.
k. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor: PER 24/PB/2006 tentang
Pelaksanaan Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian/lembaga.
l. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-05/PB/2007 tentang
Prosedur Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.

2. Pengertian dan Dokumen


Pengertian Umum

Pengertian umum yang perlu diketahui terkait dengan pengertian-pengertian


pengelolaan keuangan negara. Pengertian tersebut antara lain meliputi
pengertian keuangan negara, APBN, satuan kerja, entitas pelaporan, entitas
akuntansi, penerimaan negara, pengeluaran negara pendapatan, belanja
dan sebagainya. Pengertian yang dimaksud dapat dilihat pada Lampiran
2.1.

Dokumen

Dokumen yang digunakan di dalam pengelolaan keuangan negara meliputi


dokumen
anggaran
seperti
rencana
kerja
dan
anggaran
kementerian/lembaga (RKA-KL), daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA);
dokumen pelaksanaan anggaran seperti surat setoran pajak (SSP), surat
setoran bukan pajak (SSBP), surat setoran bea cukai (SSBC), surat perintah
membayar (SPM), surat perintah pencairan dana (SP2D); dokumen
akuntansi seperti arsip data komputer, bukti jurnal/daftar transaksi, register
transaksi harian, dokumen sumber dan sebagainya. Pengertian dokumen
yang dimaksud dan contoh bentuk dokumen tersebut dapat dilihat pada
Lampiran 2.2 dan 2.3.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab II Gambaran Umum

3. Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi


Entitas Pelaporan

a. Entitas Pelaporan
Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau
lebih entitas akuntansi yang menurut ketentutan perundang-undangan
wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan
keuangan. Laporan keuangan tersebut meliputi LKPP dan LKKL. Entitas
pelaporan tersebut adalah pemerintah pusat dan kementerian/lembaga.
Entitas Pelaporan yang dimaksud dapat dilihat pada Lampiran 2.4
b. Entitas Akuntansi

Entitas Akuntansi

Entitas Akuntansi dalam pengelolaan keuangan negara merupakan unit


pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh
karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan
keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Entitas akuntansi
tersebut merupakan unit yang berperan dalam penyusunan laporan
keuangan pemerintah pusat yaitu pada Direktorat Jenderal
Perbendaharaan dan unit-unit akuntansi pada kementerian /lembaga
mulai dari Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran sampai Unit
Akuntansi Pengguna Anggaran.

4. Standar Akuntansi Pemerintah


Standar Akuntansi Pemerintah adalah Standar Akuntansi Pemerintahan
yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005.

5. Sistem dan Prosedur Laporan Keuangan Pemerintah Pusat


Sistem Akuntansi Keuangan
Pemerintah Pusat mengacu
pada PMK No.59 dan PP No.24

Litbang Pemeriksaan

Sistem dan prosedur laporan keuangan pemerintah pusat ditetapkan dalam


Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah Pusat. Sistem dan prosedur
tersebut disusun mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor
59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat dan PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat terdiri atas Sistem
Akuntansi Pusat (SiAP) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI).

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab II Gambaran Umum

Dit PHLN

KPPN

UAKPA

UAKPB

KANWIL
Ditjen PBN

UAPPA-W

UAPPB-W

DIA

UAPPA-E1

UAPPB-E1

Ditjen PBN

UAPA

UAPB

Dit PKN

Dit PPP

Dit PSUN *

MENEG
BUMN

Dit PBMKN **

KETERANGAN :

Mekanisme Pelaporan SiAP


Mekanisme Pelaporan SAI
Arus data dan laporan
Pencocokan Laporan BMN dgn Laporan Keuangan
Rekonsiliasi data
Online dalam pelaporan SiAP
*
**

Sistem Akuntansi Pusat terdiri


atas:
SAKUN
SAU

Litbang Pemeriksaan

Sekarang di bawah Ditjen Pengelolaan Hutang


Sekarang di bawah Ditjen Kekayaan Negara

a. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP)


Sistem Akuntansi Pusat yang selanjutnya disebut SiAP merupakan
subsistem dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). SiAP
dilaksanakan Kementerian Keuangan c.q Direktorat Jenderal
Perbendaharaan. SiAP terdiri atas:
1) Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) yang menghasilkan
Laporan Arus Kas (LAK) dan Neraca Kas Umum Negara (KUN).
2) Sistem Akuntansi Umum (SAU) yang menghasilkan Neraca dan
Laporan Realisasi Anggaran.
Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab II Gambaran Umum

Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Ditjen PBN) Departemen Keuangan


melaksanakan SiAP dengan melibatkan unit dan prosedur pemrosesan
data akuntansi yang dilakukan secara berjenjang.
Unit yang terlibat dalam
pelaksanaan SiAP antara lain:
KPPN
Kanwil Ditjen PBN
Dit PKN
Dit PSUN
Dit PPHLN
Dit PPP
Dit PBMKN
DIA
Unit-unit
Akuntansi
Kementerian/Lembaga

Mekanisme tersebut adalah sebagai berikut:


(1) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) pada
kementerian negara/lembaga mengirimkan LRA dan arsip data
komputer (ADK) ke Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPPN)
dan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran tingkat wilayah
(UAPPA-W) setiap bulan. UAKPA dan KPPN melakukan rekonsiliasi
setiap bulan.
(2) KPPN mengirim semua file/ADK data setiap hari dan laporan
keuangan setiap bulan ke Kanwil Ditjen PBN.
(3) UAPPA-W sebagai koordinator wilayah kementerian negara/lembaga
tingkat wilayah menyampaikan file data dan laporan keuangan
wilayah secara bulanan ke Kanwil Ditjen PBN dan UAPPA-Eselon I
(UAPPA-I). Kanwil UAPPA-W dan Ditjen PBN melaksanakan
rekonsiliasi untuk tingkat wilayah dengan UAPPA-W/Koordinator
Wilayah setiap triwulan.
(4) Kanwil Ditjen PBN menyampaikan file data dan laporan keuangan
setiap bulan ke DIA sebagai bahan penyusunan laporan keuangan
pemerintah pusat. Kanwil Ditjen PBN dan DIA secara online
menyampaikan laporannya.
(5) DIA melakukan rekonsiliasi laporan keuangan tingkat eselon I setiap
semester.
(6) Kementerian /lembaga menyampaikan file data dan laporan
keuangan secara triwulanan ke DIA sebagai bahan rekonsiliasi.UAPA
melakukan rekonsiliasi data dengan DIA.
(7) Direktorat PPHLN, Direktorat PSUN, Direktorat PPP, Direktorat PKN,
Direktorat PBM/KN, Kementerian BUMN, Kementerian /lembaga dan
unit terkait lainnya menyampaikan data, ADK dan laporan termasuk
transaksi Pembiayaan dan Perhitungan ke Ditjen PBN c.q. DIA dalam
rangka penyusunan laporan keuangan Pemerintah Pusat.
(8) DIA melakukan konsolidasi seluruh laporan keuangan yang diterima
dari kanwil, laporan keuangan dari KPPN pengelola transaksi
pengeluaran BLN, dan transaksi penerimaan dan pengeluaran
melalui BUN bersama ADK dari Direktorat PKN serta data neraca
dari Direktorat PSUN, Direktorat PHLN, Direktorat PPP dan Direktorat
PBMN untuk penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
Untuk gambaran lebih jelas dari Sistem Akuntansi Pusat dan prosedur
akuntansinya dapat dilihat pada Lampiran 2.5.
b. Sistem Akuntansi Instansi
Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dilaksanakan oleh kementerian/lembaga
yang memroses transaksi keuangan baik arus uang maupun barang. SAI
terbagi menjadi 2, yaitu: Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem
Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN).
Untuk melaksanakan SAI, kementerian/lembaga membentuk unit
akuntansi instansi sesuai dengan hirarki organisasi. SAI dibagi menjadi
Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Akuntansi Barang Milik
Negara (SABMN).
Mekanisme pelaporan SAI
Mekanisme SAI sebagai berikut:
1. UAKPB mengirimkan ADK aset setiap bulan ke UAKPA sebagai
bahan penyusunan neraca.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL


Sistem Akuntansi Instansi terdiri
atas:
Sistem Akuntansi Keuangan
Sistem Akuntansi Barang
Milik Negara

Mekanisme Pelaporan SAI

Litbang Pemeriksaan

Bab II Gambaran Umum

2. UAKPB menyampaikan secara semesteran ke UAPPB-W/UAPPB-E1


berupa file data transaksi BMN dan Laporan BMN untuk
digabungkan.
3. UAKPA menyampaikan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal
7 bulan berikutnya ke KPPN berupa LRA, Neraca dan ADK termasuk
data transaksi pembiayaan dan perhitungan. UAKPA melakukan
rekonsiliasi data tersebut di atas dengan data di KPPN termasuk data
transaksi pembiayaan dan perhitungan. Untuk laporan semesteran
dilengkapi dengan CALK.
4. UAKPA menyampaikan secara bulanan ke UAPPA-W/ UAPPA-E1
bagi yang tidak memiliki UAPPA-W berupa file data, LRA dan neraca
termasuk file data transaksi pembiayaan dan perhitungan untuk
digabungkan. KPPN mengirim semua file data termasuk file data
transaksi pembiayaan dan perhitungan setiap bulan ke Kanwil Ditjen
PBN.
5. UAPPB-W melakukan pencocokan laporan BMN dengan laporan
keuangan pada UAPPA-W semester.
6. UAPPB-W menyampaikan file data dan laporan BMN ke UAPPB-E1
untuk digabungkan di tingkat eselon I.
7. UAPPA-W menyampaikan LRA, Neraca, dan ADK termasuk data
transaksi pembiayaan dan perhitungan secara bulanan ke Kanwil
Ditjen PBN dan melaksanakan rekonsiliasi untuk tingkat wilayah
setiap triwulan. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK.
8. UAPPA-W menyampaikan LRA, Neraca dan ADK termasuk data
transaksi pembiayaan dan perhitungan secara bulanan ke UAPPA-E1
untuk digabungkan di tingkat eselon I. Untuk laporan semesteran
dilengkapi dengan CALK.
9. UAPPB-E1 melakukan pencocokan laporan BMN dengan laporan
keuangan pada UAPPA-E1.
10. UAPPB-E1 menyampaikan ADK dan laporan BMN ke UAPB untuk
digabungkan di tingkat kementerian /lembaga.
11. UAPPA-E1 menyampaikan LRA, Neraca, dan ADK termasuk data
transaksi pembiayaan dan perhitungan secara bulanan ke UAPA
sebagai bahan penyusunan laporan keuangan tingkat kementerian
/lembaga. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK.
12. Apabila diperlukan UAPPA-E1 dapat melakukan rekonsiliasi laporan
keuangan tingkat eselon I dengan Ditjen PBN c.q. Direktorat
Informasi dan Akuntansi setiap semester. Kanwil Ditjen PBN
mengirim file data termasuk data transaksi pembiayaan dan
perhitungan ke pusat data base yang berada di Ditjen PBN c.q. DIA
sebagai bahan rekonsiliasi dengan kementerian/lembaga di tingkat
pusat.
13. UAPB melakukan pencocokan data dengan UAPA tiap semester
dalam rangka penyusunan neraca tingkat kementerian/lembaga.
14. UAPB menyampaikan laporan BMN tingkat kementerian/lembaga ke
Ditjen PBN c.q. Dit.PBM/KN.
15. UAPA melakukan rekonsiliasi dengan Ditjen PBN c.q. DIA
setiap
semester. UAPA menyampaikan laporan keuangan kementerian
/lembaga termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungan ke Ditjen
PBN c.q. DIA dalam rangka penyusunan laporan keuangan
Pemerintah Pusat.
16. Dit.PBM/KN Ditjen PBN menyampaikan laporan BMN Pemerintah
Pusat ke DIA sebagai bahan penyusunan neraca Pemerintah Pusat.
Khusus dana pembiayaan dan perhitungan :

UAKPA wajib menyampaikan laporan dilampiri bukti-bukti ke Ditjen.


PBN cq. Dit. Pelaksanaan Anggaran secara bulanan.

Kanwil Ditjen PBN menyampaikan secara bulanan file data belanja


anggaran pembiayaan dan perhitungan (APP) yang diterima dari
KPPN, ke Ditjen PBN c.q. Dit PA.
Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab II Gambaran Umum

UAPA menyampaikan LRA dan neraca anggaran pembiayaan dan


perhitungan ke Ditjen Perbendaharaan c.q. DIA dan Dit.PA yang
bertindak sebagai Biro Keuangan Bagian Anggaran Pembiayaan dan
Perhitungan.
Direktorat PA menyampaikan LRA hasil penggabungan Anggaran
Pembiayaan dan Perhitungan ke Ditjen Perbendaharaan c.q. DIA.
Untuk gambaran lebih jelas dari Sistem Akuntansi Instansi dan prosedur
yang dijalankan didalamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.6.
Dalam sistem akuntansi yang dijelaskan diatas belum mencakup aktivitas
akuntansi kewajiban, Piutang, Investasi. Lampiran laporan keuangan
Badan Layanan Umum dan BUMN belum terintegrasi secara langsung ke
Sistem Akuntansi Pusat maupun Sistem Akuntansi Instansi. LKPP tidak
mencakup entitas pemerintah daerah, bank pemerintah dan lembaga
keuangan pemerintah, serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Namun,
investasi pemerintah pada perusahaan negara diintegrasikan dalam
investasi pemerintah dan disajikan dalam Ikhtisar Laporan Keuangan
Perusahaan Negara.

6. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat


LKKLterdiri atas:
Laporan Realisasi Anggaran
Neraca
Catatan atas laporan
keuangan
LKPP terdiri atas:
Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Arus Kas
Neraca
Catatan
atas
laporan
keuangan

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat merupakan laporan konsolidasian


yang mencakup seluruh transaksi keuangan Pemerintah Pusat,
kementerian/lembaga, beserta jenjang struktural di bawahnya seperti eselon
I, kantor wilayah serta kantor/satuan kerja yang bertanggung jawab atas
otorisasi kredit anggaran yang diberikan kepadanya.
Laporan Keuangan Kementerian /lembaga (LKKL) terdiri atas:
a. Laporan Realisasi Anggaran
b. Neraca
c. Catatan atas laporan keuangan
LKKL tersebut selanjutnya dikonsolidasi dan ditambah laporan arus kas oleh
Departemen Keuangan menjadi Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP) terdiri atas:
a. Laporan Realisasi Anggaran
b. Neraca
c. Laporan Arus Kas
d. Catatan atas laporan keuangan
Untuk contoh LKKL dan LKPP dapat dilihat pada lampiran 2.7.
Hubungan antar laporan keuangan:
a. Hubungan antara LRA dan Neraca dapat dilihat pada:
1) Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SILPA/SIKPA) yang
diungkapkan dalam LRA dan SILPA/SIKPA yang diungkapkan pada
Ekuitas Dana Lancar dalam Neraca.
2) Belanja Modal yang diungkapkan LRA dan kenaikan Aset Tetap dan
Diinvestasikan pada Aset Tetap pada Ekuitas Dana Investasi dalam
Neraca.

b. Hubungan LRA dan Arus Kas dapat dilihat pada:


1) Realisasi Pendapatan dalam LRA dan Arus Kas Masuk dari Aktivitas
Operasi (Penerimaan) pada LAK.
2) Realisasi Belanja dalam LRA dan Arus Kas Keluar. Pembiayaan
sama dengan Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi dan Aktivitas
Investasi.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab II Gambaran Umum

3) Realisasi Penerimaan Pembiayaan dalam LRA dan Arus Kas Masuk


dari Aktivitas Pembiayaan dalam LAK.
4) Realisasi Pengeluaran Pembiayaan dalam LRA dan Arus Kas Keluar
dari Aktivitas Pembiayaan dalam LAK.
c. Neraca dan Laporan Arus Kas dapat dilihat pada Aset Lancar (Kas dan
Bank) dan Saldo Akhir Kas dalam LAK.
d. Hubungan antar perkiraan atau akun dalam neraca dapat dilihat sebagai
berikut:
1) Kas dan Bank dalam Aset dan SILPA pada Ekuitas Dana Lancar.
2) Piutang dalam Aset dan Cadangan Piutang dalam Ekuitas Dana
Lancar.
3) Persediaan dalam Aset dan Cadangan Persediaan dalam Ekuitas
Dana Lancar.
4) Investasi Jangka Panjang sama dengan Dinvestasikan dalam
Investasi Jangka Panjang dalam Ekuitas Dana
5) Aset Tetap dalam Aset dan Diinvestasikan pada Aset Tetap dalam
Ekuitas Dana Investasi.
6) Aset Tetap Lainnya dalam Aset dan Diinvestasikan pada Aset Tetap
lainnya dalam Ekuitas Dana Investasi.
7) Dana Cadangan dalam Aset dan Ekuitas Dana Cadangan.
8) Kewajiban Jangka Pendek dan Dana yang Harus Disediakan untuk
Pembayaran Utang Jangka Pendek dalam Ekuitas Dana Lancar.
9) Kewajiban Jangka Panjang dan Dana yang Harus Disediakan untuk
Pembayaran Jangka Panjang dalam Ekuitas Dana Investasi.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

10

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

BAB III
PETUNJUK PEMERIKSAAN
1.

Petunjuk Umum

Petunjuk umum pemeriksaan


atas LKPP dan LKKL meliputi :
Dasar Hukum Pemeriksaan
Standar Pemeriksaan
Panduan Manajemen
Pemeriksaan
Petunjuk Pelaksanaan dan
Petunjuk Teknis Pemeriksaan
Metodologi Pemeriksaan
Lingkup Pemeriksaan
Struktur Organisasi
Pemeriksaan
Waktu Pemeriksaan.

a. Dasar Hukum Pemeriksaan


Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan
Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) merupakan pemeriksaan
keuangan dengan mengacu kepada:
1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Pasal 30 tentang Keuangan
Negara;
2) Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004, Pasal 55 tentang
Perbendaharaan Negara;
3) Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2004, Pasal 2 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
4) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006, Pasal 1 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan;
5) Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007
Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

b. Standar Pemeriksaan
Standar Pemeriksaan adalah
standar pemeriksaan yang
ditetapkan BPK.

Standar pemeriksaan atas LKPP dan LKKL adalah Standar Pemeriksaan


Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan yang mengatur Standar Umum, Standar Pelaksanaan
Pemeriksaan Keuangan dan Standar Pelaporan. Standar tersebut juga
telah memberlakukan Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar
Pelaporan yang ditetapkan IAI (Standar Profesional Akuntan Publik),
kecuali diatur lain dalam SPKN.

Panduan Manajemen
Pemeriksaan adalah panduan
yang ditetapkan BPK.

c. Panduan Manajemen Pemeriksaan

Petunjuk pelaksanaan dan


petunjuk teknis yang digunakan
adalah yang terkait dengan
pemeriksaan atas LKPP dan
LKKL.

d. Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis Pemeriksaan

Metodologi Pemeriksaan
meliputi 25 langkah dari
perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan hasil
pemeriksaan.

e. Metodologi Pemeriksaan

Litbang Pemeriksaan

Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) atas LKPP dan LKKL adalah


PMP yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang mengatur
Perencanaan Pemeriksaan, Pelaksanaan Pekerjaan Lapangan
Keuangan, Pelaporan Pemeriksaan Keuangan, Tindak Lanjut
Pemeriksaan dan Evaluasi Pemeriksaan.

Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pemeriksaan terkait dengan


petunjuk teknis pemeriksaan atas LKPP dan LKKL meliputi petunjuk
pelaksanaan pemeriksaan keuangan, petunjuk teknis penetapan batas
materialitas, petunjuk teknis pengujian sistem pengendalian intern dan
petunjuk teknis uji petik pemeriksaan.

Metodologi yang digunakan dalam pemeriksaan LKPP dan LKKL secara


ringkas meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan hasil
pemeriksaan yang meliputi 24 langkah/ kegiatan. Di dalam proses
pemeriksaan tersebut, ukuran atau kriteria yang digunakan adalah
standar pemeriksaan, PMP serta tujuan dan harapan penugasan. Di
dalam proses tersebut, supervisi serta pengendalian dan penjaminan
mutu pemeriksaan dilakukan sepanjang proses tersebut. Secara ringkas,
metodologi pemeriksaan sebagai berikut
Badan Pemeriksa Keuangan

11

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Langkah-langkah tersebut dijelaskan dalam petunjuk perencanaan,


pelaksanaan dan pelaporan dalam bab ini, serta untuk supervisi dijelaskan
dalam bab berikutnya.
Lingkup pemeriksaan meliputi
pendapatan, belanja,
pembiayaan, aset, kewajiban,
ekuitas dana, serta efektivitas
sistem pengendalian intern
dan kepatuhan terkait dengan
pelaporan keuangan dalam
LKPP dan LKKL.

f. Lingkup Pemeriksaan
Lingkup pemeriksaan LKPP dan LKKL meliputi (1) laporan keuangan
yang disusun berdasarkan SAI yang menghasilkan LRA, Neraca dan
Catatan atas Laporan Keuangan (LKKL) dan (2) laporan keuangan yang
disusun berdasarkan SiAP yang menghasilkan LRA, Neraca, LAK dan
Catatan atas Laporan Keuangan (LKPP).
Selain itu, pemeriksaan LKPP dan LKKL juga menguji efektivitas
pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan yang terkait dengan pelaporan keuangan dalam LKPP dan
LKKL.

g.

Struktur Organisasi Pemeriksaan


LKPP merupakan laporan konsolidasian yang menggambarkan
pertanggungjawaban keuangan negara pada seluruh instansi di

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

12

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

lingkungan pemerintah pusat. Oleh karena itu, pemeriksaan atas LKPP


seharusnya merupakan pemeriksaan atas LKPP konsolidasian yang
mencakup pemeriksaan atas seluruh LKKL.
1. Organisasi Pemeriksaan LKKL
Organisasi dalam tim pemeriksaan LKKL terdiri atas tim pemeriksa
yang dibentuk pada masing-masing Auditama Keuangan Negara
(AKN I, II, III, IV dan V) yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan
atas masing-masing LKKL yang menjadi area pemeriksaannya.
Organisasi pemeriksaan tersebut terdiri atas Pengarah, Penanggung
Jawab, Pengendali Teknis (apabila diperlukan), Ketua Tim, Ketua
Sub Tim (apabila diperlukan) dan Anggota Tim.
Pengarah adalah Tortama dan/atau Kepala Auditorat atau pejabat
lain yang ditunjuk oleh Tortama. Penanggung jawab, Pengendali
Teknis dan Ketua Tim merupakan merupakan pemeriksa di
lingkungan masing-masing auditama yang telah memenuhi
persyaratan sebagaimana diatur dalam pemenuhan kebutuhan
pemeriksa (lihat sub bahasan 2.b. pemenuhan kebutuhan
pemeriksa).
Pengarah memiliki tugas untuk mengarahkan kegiatan pemeriksaan
agar sesuai dengan tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan dari
Badan, serta mereviu laporan pertanggung jawaban tingkatan
dibawahnya, dalam hal ini penanggung jawab. Penanggung Jawab,
Pengendali Teknis, Ketua Tim dan Anggota Tim melaksanakan tugas
sebagaimana diatur dalam PMP, dengan tambahan penugasan
kepada Penanggung Jawab terkait dengan penandatanganan
Laporan Hasil Pemeriksaan.
Apabila entitas yang diperiksa cukup besar maka dalam organisasi
pemeriksaan tersebut dapat dibentuk sub tim.
2. Organisasi Pemeriksaan LKPP
Organisasi dalam tim pemeriksaan LKPP terdiri atas tim pemeriksa
yang dibentuk pada Auditama Keuangan Negara II yang bertugas
untuk melakukan pemeriksaan atas LKPP yang disusun oleh
Direktorat Akuntansi dan Pelaporan pada Departemen Keuangan.
Organisasi pemeriksaan tersebut terdiri atas Pengarah, Penanggung
Jawab, Pengendali Teknis, Ketua Tim, Ketua Sub Tim dan Anggota
Tim.
Pengarah adalah Tortama dan Kepala Auditorat. Penanggung jawab,
Pengendali Teknis dan Ketua Tim merupakan pemeriksa di
lingkungan masing-masing auditama yang telah memenuhi
persyaratan sebagaimana diatur dalam pemenuhan kebutuhan
pemeriksa (lihat sub bahasan 2.b. pemenuhan kebutuhan
pemeriksa).
Pengarah adalah Tortama KN II yang memiliki tugas untuk
mengarahkan kegiatan pemeriksaan agar sesuai dengan tujuan
pemeriksaan dan harapan penugasan dari Badan, serta mereviu
laporan pertanggung jawaban tingkatan dibawahnya, dalam hal ini
penanggung jawab. Penanggung Jawab, Pengendali Teknis, Ketua
Tim dan Anggota Tim melaksanakan tugas sebagaimana diatur
dalam PMP.
Dalam rangka proses konsolidasi atas seluruh temuan LKPP dan
LKKL dibentuk organisasi tersendiri.
3. Organisasi Konsolidasi Pelaksanaan
Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

dan

Pelaporan

Hasil

13

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Organisasi dalam tim pemeriksaan atas konsolidasian LKPP


melibatkan seluruh tim pemeriksaan atas LKKL. Dengan demikian
pemeriksaan atas LKPP dan LKKL dilakukan dengan struktur
organisasi tim sebagai berikut :
a. Pengarah Pemeriksaan, yaitu Badan, memiliki tugas untuk
menetapkan fokus atau sasaran pemeriksaan yang dituangkan
dalam harapan penugasan, serta mereviu laporan pertanggung
jawaban tingkatan dibawahnya, dalam hal ini penanggung jawab.
Tugas lain adalah mengarahkan kegiatan pemeriksaan agar
sesuai dengan tujuan pemeriksaan.
b. Penanggung Jawab Pemeriksaan, yaitu Tortama KN II,
bertanggung jawab langsung terhadap seluruh kegiatan
pemeriksaan, mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan
hasil pemeriksaan.
Apabila diperlukan, organisasi konsolidasi dilengkapi dengan
narasumber, sekretariat, serta tim perencanaan dan pengkajian
(TPP).
Narasumber bertugas untuk memberikan masukan sebagai
informasi yang dapat menambah nilai laporan kepada
Penanggung Jawab selama pelaksanaan pemeriksaan.
Sekretariat bertanggung jawab kepada penanggung jawab
dan bertugas untuk membantu tim pemeriksa dalam hal
administrasi surat-menyurat, administrasi pelaporan, dan
administrasi KKP Final, serta dukungan pengurusan
keuangan dan keperluan logistik lainnya.
TPP merupakan tim yang bertanggung jawab kepada
penanggung jawab dan bertugas melakukan perencanaan
dan kajian terkait pemeriksaan LKPP dan LKKL. Dalam
pelaksanaan tugas TPP berkomunikasi dengan Narasumber.
c.

Wakil Penanggung Jawab Pemeriksaan, yaitu Tortama KN I, III,


IV, dan V, atau pejabat lain yang ditunjuk Tortama yang memiliki
tanggung jawab langsung terhadap perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan hasil pemeriksaan pada area yang menjadi
tanggung jawabnya yang mencakup AKN I, II, II, IV dan V, serta
konsolidasi (pemeriksaan LKPP).

d. Pengendali Teknis bertanggung jawab kepada Wakil


Penanggung Jawab terkait dan bertugas melakukan kendali
teknis atas perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil
pemeriksaan pada masing-masing area pemeriksaan, termasuk
konsolidasi (LKPP).
e. Koordinator Ketua Tim Pemeriksaan bertanggung jawab kepada
Pengendali Teknis Pemeriksaan LKPP dan secara tidak langsung
melakukan koordinasi perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
hasil pemeriksaan dengan wakil koordinator pemeriksaan LKPP
dan LKKL.
f.

Wakil Koordinator Ketua Tim bertanggungjawab mengkoordinasi


ketua tim pemeriksaan LKPP atau LKKL pada area masingmasing dan menyampaikan hasil pekerjaannya kepada
pengendali teknis terkait dan secara koordinatif kepada
koordinator ketua tim pemeriksaan LKPP dan LKKL.

g. Ketua tim pemeriksaan LKPP dan LKKL sebagai anggota tim


koordinator pada masing-masing area.
Struktur Organisasi Pemeriksaan Tim Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL
dapat dilihat pada Lampiran 3.1.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

14

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

h.

Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan LKPP dilaksanakan selama 2 (dua) bulan sejak diterima
LKPP dari Pemerintah Pusat. Jangka waktu tersebut meliputi
pemeriksaan lapangan sampai dengan penyampaian pelaporan hasil
pemeriksaan kepada DPR dan Pemerintah. Apabila pemeriksaan interim
dilakukan, waktu pemeriksaan interm dilakukan sebelum BPK menerima
LKPP dari Pemerintah Pusat.

2.

Petunjuk Perencanaan Pemeriksaan

Perencanaan pemeriksaan
atas LKPP dan LKKL meliputi
10 kegiatan sebagai berikut.

Perencanaan pemeriksaan atas LKPP dan LKKL meliputi 10 (sepuluh)


kegiatan sebagai berikut: (1) Pemahaman tujuan pemeriksaan dan
harapan penugasan, (2) Pemenuhan kebutuhan pemeriksa, (3)
Pemahaman atas entitas, (4) Pemantauan tindak lanjut laporan hasil
pemeriksaan atas LKPP dan LKKL sebelumnya, (5) Pemahaman sistem
pengendalian intern, (6) Pemahaman dan penilaian risiko, (7) penentuan
materialitas dan kesalahan tertolerir,
(8) penentuan metode uji
petik, (9) Pelaksanaan prosedur analitis awal, dan (10) Penyusunan
program pemeriksaan dan penyusunan program kerja perorangan.

a.

Pemahaman
Penugasan

Tujuan

Pemeriksaan

dan

Harapan

Tujuan pemeriksaan LKPP dan LKKL adalah untuk memberikan


keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah LKPD telah
disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dengan memperhatikan:

Kesesuaian LKPP dan LKKL dengan Standar Akuntansi


Pemerintahan
Kecukupan pengungkapan
Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
Efektivitas sistem pengendalian intern

Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut, penugasan atas pemeriksaan


keuangan memiliki harapan-harapan (expectation) dari pemberi tugas.
Pemeriksa harus memperoleh harapan-harapan penugasan secara
tertulis dari pemberi tugas melalui suatu komunikasi yang intensif. Hal ini
untuk menghindari harapan-harapan yang tidak dapat dipenuhi oleh
pemeriksa.
Harapan
dari
pemberi
tugas
tersebut
harus
didokumentasikan. Dokumentasi atas harapan penugasan menjadi salah
satu dasar dalam penyusunan program pemeriksaan dan penentuan
kebutuhan pemeriksa.
Contoh dokumentasi harapan penugasan dapat dilihat pada Lampiran
3.2.

b. Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa


1) Persyaratan Kemampuan/Keahlian
Pemeriksa secara kolektif
harus memiliki kecakapan
profesional.

Standar Pemeriksaan mengatur bahwa pemeriksa secara kolektif harus


memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk melaksanakan
tugas pemeriksaan, memenuhi persyaratan pendidikan berkelanjutan dan
memenuhi persyaratan kemampuan/keahlian pemeriksa.
Selain itu, pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan keuangan harus

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

15

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

memenuhi kualifikasi tambahan yaitu


memiliki keahlian di bidang
akuntansi dan auditing, memahami prinsip akuntansi yang berlaku umum
yang berkaitan dengan entitas yang diperiksa dan sebaiknya memiliki
sertifikasi keahlian.
Khusus bagi pemeriksa yang berperan sebagai penanggung jawab
pemeriksaan keuangan harus memiliki sertifikasi keahlian yang diakui
secara profesional.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dalam rangka pemeriksaan LKPP
dan LKKL dapat ditentukan kebutuhan atas kuantitas dan kualifikasi
pemeriksa sebagai berikut :
Kualifikasi tim pemeriksa

Litbang Pemeriksaan

a) Tim pemeriksa secara kolektif harus memiliki pemahaman yang


cukup atas Standar Akuntansi Pemerintahan dan pengetahuan yang
memadai atas pemeriksaan keuangan, yang dapat dibuktikan dengan
sertifikasi dan surat keterangan telah mengikuti pendidikan dan
pelatihan dan melaksanakan kegiatan lain di bidang akuntansi dan
pemeriksaan terkait.
b) Di dalam tim pemeriksa, paling tidak 1 (satu) orang memiliki register
akuntan.
c) Ketua Tim harus memiliki pengalaman yang memadai paling tidak 1
(satu) kali melakukan pemeriksaan keuangan.
d) Apabila di dalam tim pemeriksa dibutuhkan pengendali teknis, maka
pengendali teknis tersebut harus memiliki pengetahuan dan
pengalaman pemeriksaan terkait dengan pengelolaan keuangan
negara dan atau pernah menjadi ketua tim pemeriksa yang terkait
paling tidak 1 (satu) kali dan atau menduduki jabatan struktural dan
atau menduduki jabatan fungsional paling tidak ketua tim senior.
e) Penanggung jawab pemeriksaan LKPP dan LKKL adalah pemeriksa
yang memiliki register akuntan dan memiliki pengalaman yang
memadai melakukan pemeriksaan keuangan atau memiliki jabatan
struktural/fungsional.
f) Apabila dibutuhkan koordinasi perencanaan, pelaksanaan dan
pelaporan kegiatan maka diperlukan koordinator dari setiap tingkat
ketua tim, pengendali teknis dan penanggung jawab.
g) Dalam hal LKPP dan LKKL disusun dengan menggunakan sistem
yang terkomputerisasi, maka paling tidak 1 (satu) orang dalam tim
pemeriksa memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang teknologi
informasi dan pemeriksaan teknologi informasi.
Untuk kebutuhan konsolidasi pelaksanaan dan penyusunan laporan hasil
pemeriksaan, dapat dibentuk organisasi konsolidasi pemeriksaan dengan
kualifikasi sebagai berikut:
a) Tim konsolidasi pelaksanaan dan penyusuan laporan pemeriksaan
secara kolektif harus memiliki pemahaman yang cukup atas Standar
Akuntansi Pemerintahan dan pengetahuan yang memadai atas
pemeriksaan keuangan, yang dapat dibuktikan dengan sertifikasi dan
surat keterangan telah mengikuti pendidikan dan pelatihan dan
melaksanakan kegiatan lain di bidang akuntansi dan pemeriksaan
terkait.
b) Tim harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai
dalam teknik penyusunan LHP atas LKPP dan LKKL.
c) Di dalam tim konsolidasi pelaksanaan dan peyusunan laporan
pemeriksaan, paling tidak terdapat 2 (dua) orang yang memiliki
pengalaman paling tidak 2 (dua) kali sebagai ketua tim dalam
pemeriksaan LKPP dan LKKL.
d) Penanggung jawab pemeriksaan LKPP dan LKKL adalah pemeriksa
yang memiliki register akuntan dan memiliki pengalaman yang
Badan Pemeriksa Keuangan

16

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

memadai paling tidak 3 (tiga) kali melakukan pemeriksaan keuangan.


2) Persyaratan Independensi
Standar Pemeriksaan mengatur bahwa dalam semua hal yang berkaitan
dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa,
harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi,
ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.
Jika pemeriksa yang terlibat dalam pemeriksaan LKPP dan LKKL
diragukan tingkat indepensinya maka harus membuat surat pernyataan
gangguan independensi untuk mendapatkan pertimbangan atas
penugasannya dan
Penanggung Jawab harus mempertimbangkan
dampak dari kondisi tersebut terhadap pemeriksaan yang dilakukan.
Surat Pernyataan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3.3.

c.

Pemahaman atas Entitas


Pemahaman atas entitas dapat diperoleh dari survai pendahuluan atau
informasi dalam laporan hasil pemeriksaan sebelumnya, laporan hasil
pemeriksaan interim, catatan atas laporan keuangan yang diperiksa,
Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) tahun sebelumnya, hasil komunikasi
dengan pemeriksa tahun sebelumnya dan database yang ada pada unit
kerja pemeriksaan.

Pemahaman entitas dapat


diperoleh dari survai
pendahuluan, informasi LHP
sebelumnya, LHP interim,
catatan atas laporan
keuangan yang diperiksa,
KKP tahun sebelumnya, hasil
komunikasi dengan dan
database aplikasi dosir.

Pemahaman atas entitas tersebut meliputi pemahaman atas organisasi,


kegiatan utama entitas, lingkungan yang mempengaruhi, pejabat terkait
sampai dengan satuan kerja dan kejadian luar biasa yang berpengaruh
terhadap pengelolaan keuangan negara.
Pemahaman pemeriksa atas entitas harus didokumentasikan dalam KKP.
Contoh dokumentasi pemahaman pemeriksa atas entitas dapat dilihat
pada Lampiran 3.4.
Hasil pemahaman atas entitas bermanfaat untuk langkah pemahaman
atas Sistem Pengendalian Intern dan penilaian risiko inheren.

d.
Pemantauan tindak lanjut
atas laporan hasil
pemeriksaan sebelumnya
atau laporan hasil
pemeriksaan interim.

Pemantauan Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan


Sebelumnya.
Pemeriksa harus memantau tindak lanjut pemerintah pusat atas laporan
hasil pemeriksaan atas LKPP dan LKKL tahun sebelumnya atau laporan
hasil pemeriksaan interim, terkait dengan pelaksanaan rekomendasi yang
diberikan. Pemantauan tersebut meliputi tindak lanjut rekomendasi yang
diberikan terkait dengan efektivitas sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Pemeriksa harus meneliti pengaruh tindak lanjut terhadap LKPP dan
LKKL yang diperiksa. Hal ini terkait dengan kemungkinan temuan-temuan
pemeriksaan yang berulang dan keyakinan pemeriksa atas saldo awal
akun atau perkiraan pada neraca yang diperiksa.
Dokumentasi hasil pemantauan tindak lanjut tersebut dapat dilihat pada
Lampiran 3.5.

e.
Pemahaman sistem
pengendalian intern : desain
dan implementasinya.

Litbang Pemeriksaan

Pemahaman Sistem Pengendalian Intern


Pemeriksa harus memahami sistem pengendalian intern yang didesain
dan diselenggarakan oleh entitas. Pemahaman atas desain pengendalian
intern dilakukan dengan melihat peraturan perundang-undangan dan
kebijakan tertulis/formal menteri/pimpinan lembaga terkait dengan sistem
Badan Pemeriksa Keuangan

17

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

pengendalian intern. Pemahaman atas penyelenggaraaan pengendalian


intern dilakukan dengan melihat praktik pengendalian intern pengelolaan
keuangan negara. Selain itu, pemeriksa perlu mengidentifikasi
kelemahan-kelemahan signifikan atau area-area kritis yang memerlukan
perhatian mendalam.
Pemahaman atas sistem pengendalian intern tersebut membantu
pemeriksa untuk (1) Mengidentifikasi jenis potensi kesalahan, (2)
Mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko salah saji
yang material, (3) Mendesain pengujian sistem pengendalian intern, dan
(4) Mendesain prosedur pengujian substantif.
Pemahaman sistem pengendalian intern tersebut harus meliputi juga
pemahaman atas penggunaan teknologi informasi di dalam sistem
pengendalian intern. Hal ini untuk mempertimbangkan pengujian
pengendalian dan subtantif yang akan dilakukan dengan menggunakan
pemeriksa yang memiliki keahlian tentang teknologi informasi dan
pemeriksaannya.
Pemahaman sistem pengendalian intern meliputi pemahaman atas
komponen-komponen sistem pengendalian intern. Pemahaman sistem
pengendalian intern dilakukan terhadap pengelolaan keuangan negara
yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, kebijakan tertulis
presiden, menteri/pimpinan lembaga dan ketentuan lainnya.
Hasil pemahaman
pengendalian.

SPI

menjadi

dasar

dalam

penilaian

risiko

Pemahaman
sistem
pengendalian
intern
baik
desain
dan
penyelenggaraannya didokumentasikan dalam KKP seperti dalam
Lampiran 3.6.
Selain pemahaman SPI di atas, pemeriksa dapat menggunakan kriteria
transparansi fiskal seperti yang diatur di dalam Pedoman Transparansi
Fiskal yang dikeluarkan IMF. Pemeriksa mengidentifikasi usaha-usaha
yang telah dilakukan pemerintah baik dalam bentuk desain maupun
implementasi unsur-unsur transparansi fiskal. Berdasarkan hal tersebut
pemeriksa mengidentifikasi langkah-langkah pemeriksaan yang
diperlukan.
Formulir pemahaman transparansi fiskal dapat dilihat pada Lampiran 3.7.

f.
Pemahaman dan penilaian
risiko inheren, risiko
pengendalian, risiko deteksi,
dan risiko pemeriksaan.

Pemahaman dan Penilaian Risiko


Dalam pemahaman dan penilaian risiko, pemeriksa mempertimbangkan
risiko-risiko sebagai berikut: (1) risiko inheren, (2) risiko pengendalian, (3)
risiko deteksi, dan (4) risiko pemeriksaan.
Penetapan risiko dilakukan dengan ukuran kualitatif. Risiko pemeriksaan
dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: (1) sangat rendah,
(2) rendah, dan (3) menengah1. Untuk risiko audit lainnya (risiko inheren,
risiko pengendalian dan risiko deteksi) dikelompokkan ke dalam 3 (tiga)
kategori, yaitu: (1) rendah, (2) menengah dan (3) tinggi.
Risiko pemeriksaan merupakan risiko kemungkinan pemeriksa gagal
menyatakan opini yang tepat atas laporan keuangan yang memuat salah
saji yang material. Risiko inheren ditetapkan berdasarkan hasil
pemahaman atas entitas, risiko pengendalian ditetapkan berdasarkan
pemahaman atas pengendalian intern, sedangkan risiko deteksi diperoleh

Risiko pemeriksaan tidak ditetapkan tinggi karena pemeriksa tidak mungkin menetapkan suatu risiko bahwa pemeriksa gagal
menyatakan opini yang tepat atas laporan keuangan yang memuat salah saji yang material (Messier, 2006 hal 83).
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

18

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

dengan menggunakan model risiko sebagai berikut:

DR =

AR
IR * CR

Keterangan:
DR : Risiko Deteksi
AR : Risiko pemeriksaan
IR : Risiko inheren
CR :Risiko pengendalian
Contoh:
Risiko Pemeriksaan

Risiko Inheren

Risiko Pengendalian Risiko Deteksi

Sangat rendah

Tinggi

Tinggi

Rendah

Rendah
Menengah

Rendah
Tinggi

Tinggi
Rendah

Menengah
Menengah

Petunjuk pemahaman dan penilaian risiko tersebut dan dokumentasinya


dapat dilihat pada Lampiran 3.8.

g.

Penetapan tingkat
materialitas awal sebesar 0,2
1 % dari total realisasi
belanja dan kesalahan yang
dapat ditoleransi sebesar
50% dari total materialitas.

Penetapan Tingkat Materialitas Awal dan Kesalahan


Tertolerir
Pemeriksa mempertimbangkan tingkat materialitas dalam perencanaan
pemeriksaan. Pertimbangan atas tingkat materialitas meliputi kegiatan:
(1) Penetapan tingkat materialitas awal (Planning Materiality/PM) dan
(2) Penetapan Kesalahan Tertolerir (Tolerable Error/TE).
PM merupakan tingkat materialitas pada keseluruhan laporan keuangan,
sedangkan TE merupakan materialitas pada tingkat akun. Penetapan PM
yaitu sebesar 0,2% sampai dengan 1% dari total realisasi belanja. Untuk
pemeriksaan pertama kali, PM sebaiknya ditetapkan pada tingkat
materialitas terendah. Pada pemeriksaan selanjutnya, PM dapat
ditingkatkan jika penyajian laporan keuangan entitas yang diperiksa
menunjukkan perbaikan. Hal ini disebabkan batas materialitas untuk
penugasan pemeriksaan cenderung untuk konservatif.
Penetapan PM dari posisi keuangan dalam hal ini aset, kewajiban atau
ekuitas tidak tepat karena sampai saat ini neraca belum dapat diandalkan
secara memadai dan belum dapat diyakini kewajarannya. Selain itu, pospos neraca di dalam pemerintahan relatif tidak menjadi pertimbangan
utama di dalam pengambilan keputusan oleh pengguna LKPP dan LKKL
dibandingkan dengan realisasi pendapatan, belanja atau surplus/defisit.
Oleh karena itu, penetapan materialitas ditetapkan sesuai dengan cara di
atas.
Pemilihan penetapan materialitas pada tingkat laporan keuangan tersebut
dipengaruhi oleh keyakinan pemeriksa atas risiko pemeriksaan dan risiko
pengendalian serta risiko deteksi. Risiko pemeriksaan dan pengendalian
yang tinggi, mengakibatkan materialitas rendah. Tingkat materialitas yang
kecil berdampak pada pengambilan sample yang luas.
Setelah menentukan materialitas pada tingkat keseluruhan laporan
keuangan, pemeriksa mengalokasikan PM untuk setiap akun utama yang
disebut Kesalahan tertolerir (Tolerable Error/TE). Penetapan TE dapat
dilakukan dengan 2 pendekatan. Pertama, untuk memudahkan, TE setiap
akun ditetapkan 50% dari PM.
Contoh perhitungan materialitas awal, TE dan alokasi kepada setiap akun
atau pos laporan keuangan dengan pendekatan pertama dapat dilihat

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

19

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

pada Lampiran 3.9.


Pendekatan kedua dilakukan dengan memperhitungkan sigifikansi setiap
akun terhadap laporan keuangan secara keseluruhan. Pada pendekatan
ini, TE dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

TE = PM *

N
T

Dimana:
TE : Tolerable Error
PM : Planning Materiality
N : nilai akun
T : nilai total akun yang akan diperiksa.
Perhitungan tersebut merupakan salah satu pertimbangan untuk
mengalokasikan materialitas awal. Pertimbangan lain adalah hasil
pemahaman dan penilain risiko. Pemeriksa melakukan alokasi
materilaitas awal berdasarkan hasil pemahaman dan penilaian risiko
tersebut ke setiap akun/perkiraan.
Penjelasan mengenai formula diatas serta contoh perhitungan
materialitas awal dan TE (alokasi materialitas ke setiap akun atau pos
laporan keuangan) dengan pendekatan kedua dapat dilihat pada lampiran
3.10.
Selain faktor kumulatif, faktor kualitatif berikut perlu dipertimbangkan: (1)
Signifikansi kesalahan tersebut bagi entitas serta (2) Sifat dan dampak
kesalahan terhadap laporan keuangan.

h.

Penentuan Metode Uji Petik


Penentuan uji petik merupakan elemen uji yang diambil oleh pemeriksa
untuk memberikan keyakinan tentang kualitas informasi yang disajikan
dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Pemeriksa menentukan
metode uji petik berdasarkan pertimbangan profesionalnya. Metode uji
petik yang dilakukan dapat menggunakan metode statistik atau nonstatistik.

Penentuan metode uji petik:


statistik dan non statistik.

Penentuan uji petik dengan metode non statistik ditentukan oleh


pertimbangan profesional pemeriksa dengan memperhatikan antara lain
cakupan dan lingkup pemeriksaan, risiko dan tingkat materialitas, sistem
akuntansi yang diselenggarakan oleh entitas yang diperiksa, serta
dengan memperhatikan asas manfaat (cost and benefit).
Penentuan uji petik dengan metode statistik, dapat dilakukan dengan
attribute sampling, monetary-unit sampling, dan classical variables
sampling.

Penggunaan metode uji petik baik metode statistik maupun non statistik
harus didokumentasikan di dalam KKP. Dokumentasi tersebut antara lain
mengungkapkan alasan penggunaan dan gambaran umum metode uji
petik tersebut.
Contoh penentuan uji petik dapat dilihat pada Lampiran 3.11.

i.
Prosedur analitis awal:
analisa data, teknik prediksi
serta analisa rasio dan tren.
Litbang Pemeriksaan

Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal


Prosedur analitis merupakan evaluasi atas informasi keuangan dalam
laporan keuangan dengan melihat hubungan antar data keuangan yang
ada dan antara data keuangan dan data non-keuangan yang tersedia.
Badan Pemeriksa Keuangan

20

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Prosedur ini tidak dapat digunakan untuk menilai semua asersi. Asersi
keberadaan tidak dapat diuji dengan prosedur analitis. Prosedur analitis
dapat membantu pemeriksa untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan
lainnya termasuk di dalam penentuan sampel yang akan diambil. Selain
itu prosedur analitis juga memuat pemahaman dan penilaian resiko yang
dapat merujuk kepada PMP.
Prosedur analitis yang dapat dilakukan meliputi (1) Analisa Data, (2)
Teknik Prediktif, serta (3) Analisa Rasio dan Tren.
1) Analisa Data
Sebelum dilakukan analisa data, pemeriksa harus melakukan reviu
atas LKPP dan LKKL secara umum dan memastikan bahwa laporan
keuangan tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang terkait
dengan perencanaan keuangan pemerintah pusat.
Analisa data merupakan kegiatan menganalisa setiap unsur dalam
populasi untuk mengidentifikasi data yang tidak umum (unusual
items). Contoh data yang tidak umum adalah realisasi belanja yang
melebihi anggarannya dan kenaikan realisasi belanja pada bulan
Desember. Analisa dapat dilakukan dengan bantuan teknologi
informasi yaitu dengan penggunaan perangkat lunak seperti Audit
Command Language (ACL) dan teknik manual. Hal tersebut
tergantung pada sistem pengolahan data pada pihak yang diperiksa.
2) Teknik Prediktif
Teknik prediktif merupakan kegiatan menghitung jumlah tertentu dan
membandingkan dengan catatan-catatan atau rumusan lain. Contoh
teknik ini adalah penghitungan dana perimbangan, penghitungan
pajak dan penghitungan belanja bunga.
3) Analisa Rasio dan Tren
Analisa rasio dan tren merupakan kegiatan untuk menganalisa data
keuangan dan nonkeuangan dalam periode tertentu untuk
mengetahui perubahan signifikan dalam realisasi anggaran dan
posisi keuangan. Contoh analisa rasio dan tren adalah
membandingkan belanja tertentu dengan belanja lain atau belanja
tertentu tahun sebelumnya. Contoh lain adalah membandingkan
realisasi belanja modal dengan kenaikan aset tetap.

Analisa data: analisa unsur


yang tidak umum.

Teknik prediktif: kegiatan


menghitung jumlah dan
membandingkan dengan
rumusan lain.

Analisa rasio dan tren:


analisa data keuangan/non
keuangan untuk melihat
perubahannya.

j.
Program pemeriksaan atas
LKPP dan LKKL dan Program
Kerja Perorangan disusun
berdasarkan persiapan
pemeriksaan.

Litbang Pemeriksaan

Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja


Perorangan
Berdasarkan persiapan pemeriksaan di atas, pemeriksa menyusun
program pemeriksaan atas LKPP dan LKKL. Program pemeriksaan
mengungkapkan antara lain (1) Dasar pemeriksaan, (2) Standar dan
pedoman pemeriksaan, (3) Entitas yang diperiksa, (4) Tahun
anggaran/tahun buku yang diperiksa, (5) Identitas dan data umum entitas
yang diperiksa, (6) Tujuan pemeriksaan, (7) Metodologi pemeriksaan,
(8) Sasaran yang diperiksa, (9) Pengarahan pemeriksaan, (10) Jangka
waku pemeriksaan, (11) Susunan tim pemeriksaan, (12) Instansi
penerima hasil pemeriksaan, dan (13) Kerangka isi laporan.
Berdasarkan program pemeriksaan yang ditetapkan oleh Tortama, ketua
tim pemeriksa membuat pembagian tugas dan anggota tim menyusun
program kerja perorangan dan disampaikan kepada ketua tim untuk
mendapatkan persetujuan.
Bentuk Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan terdapat
pada Lampiran 3.12 dan Lampiran 3.13.

Badan Pemeriksa Keuangan

21

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

3.

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan

Pelaksanaan pemeriksaan
meliputi 9 kegiatan berikut:
Pelaksanaan
Pengujian Analitis
Terinci

Pengujian Sistem
Pengendalian Intern

Pengujian Substantif
Atas Transaksi & Saldo
Akun

Penyelesaian Penugasan:

Penyusunan Ikhtisar
Koreksi

Penyusunan Konsep
Temuan Pemeriksaan

Pembahasan Dengan
Pejabat Entitas Yang
Berwenang

Perolehan Tanggapan
Resmi & Tertulis

Penyampaian Temuan
Pemeriksaan

Pelaksanaan pemeriksaan atas LKPP dan LKKL meliputi 9 (sembilan)


kegiatan, yaitu: (1) Pelaksanaan pengujian analitis terinci, (2) Pengujian
sistem pengendalian intern, (3) Pengujian substantif atas transaksi dan
saldo, (4) Penyelesaian penugasan, (5) Penyusunan ikhtisar koreksi, (6)
Penyusunan konsep temuan pemeriksaan, (7) Pembahasan dengan pejabat
entitas yang berwenang, (8) Perolehan tanggapan resmi dan tertulis dari
pejabat entitas yang berwenang, serta (9) Penyampaian temuan
pemeriksaan.

a. Pelaksanaan Pengujian Analitis Terinci


Pengujian analitis dalam pelaksanaan pemeriksaan dapat dilakukan
dengan (1) Analisa Data, (2) Teknik Prediktif, dan (3) Analisa Rasio dan
Tren, sesuai dengan area yang telah ditetapkan sebagai uji petik, dengan
membandingkan antar unsur LKPP dan LKKL serta informasi
nonkeuangan yang terkait secara terinci.
1) Analisa Data
Pemeriksa menguji LKPP dan LKKL yaitu meliputi antara lain:
Ketepatan penjumlahan secara horizontal dan vertikal pada
laporan keuangan dan kesesuaian dengan SAP
Ketepatan akun/perkiraan dan nilainya dibandingkan dengan
semua akun/perkiraan dan nilainya dari laporan keuangan
Kecukupan pengungkapan akun/perkiraan tersebut.
2) Teknik Prediktif
Pemeriksa menguji lebih rinci kenaikan nilai akun/perkiraan yang
tidak biasa (unusual item) dari tahun sebelumnya.
3) Analisa Rasio atau Tren
Pemeriksa menguji lebih rinci rasio atau tren akun/perkiraan yang
telah dilakukan pada pengujian analitis awal seperti antar akun
belanja dan kenaikan/penurunan aset tetap dan sebagainya.
Pengujian analitis terinci ini diharapkan dapat membantu pemeriksa untuk
menemukan hubungan logis penyajian akun pada LKPP dan LKKL dan
menilai kecukupan pengungkapan atas setiap perubahan pada
pos/akun/unsur pada laporan keuangan yang diperiksa, serta membantu
menentukan area-area signifikan dalam pengujian sistem pengendalian
intern dan pengujian substantif atas transaksi dan saldo.

b. Pengujian Sistem Pengendalian Intern

Pengujian SPI: desain dan


implementasinya

Litbang Pemeriksaan

Petunjuk pengujian pengendalian meliputi pengujian yang dilakukan


pemeriksa terhadap efektivitas desain dan implementasi sistem
pengendalian intern dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan
APBN. Dalam pengujian desain sistem pengendalian intern, pemeriksa
mengevaluasi apakah sistem pengendalian intern telah didesain secara
memadai dan dapat meminimalisasi secara relatif salah saji dan
kecurangan. Sementara, pengujian implementasi sistem pengendalian
intern dilakukan dengan melihat pelaksanaan pengendalian pada
kegiatan atau transaksi yang dilakukan oleh pemerintah pusat.
Selain pengujian sistem pengendalian intern tersebut, pemeriksa
melakukan pengujian unsur-unsur transparansi fiskal yang telah
diidentifikasi pada tahap perencanaan.
Pengujian sistem pengendalian intern merupakan dasar pengujian
substantif selanjutnya. Pengujian sistem pengendalian intern dilakukan
berdasarkan pemahaman atas sistem pengendalian intern pada tahap
perencanaan/ persiapan pemeriksaan.
Badan Pemeriksa Keuangan

22

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Pengujian SPI merupakan


dasar pengujian substantif
selanjutnya.
Hasil pengujian SPI
digunakan untuk pengujian
transaksi dan asersi LKPP
dan LKKL.

Strategi pengujian transaksi


LKPP dan LKKL meliputi
pengujian substantif
mendalam dan pengujian
substantif terbatas

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Hasil pengujian sistem pengendalian intern tersebut digunakan untuk


menentukan strategi pengujian transaksi keuangan dan asersi-asersi
laporan keuangan entitas yang diperiksa, seperti: (1) Keberadaan dan
keterjadian, (2) Kelengkapan, (3) Hak dan kewajiban, (4) Penilaian dan
pengalokasian, serta (5) Penyajian dan pengungkapan.
Strategi pengujian transaksi LKPP dan LKKL meliputi (1) Pengujian
Substantif Mendalam dan (2) Pengujian Substantif Terbatas. Pengujian
Substantif Mendalam dilakukan apabila pemeriksa menyimpulkan bahwa
sistem pengendalian intern secara keseluruhan lemah atau risiko
pengendaliannya tinggi. Dalam hal ini, pemeriksa langsung melakukan
pengujian substantif atas transaksi dan saldo dengan sampel yang luas
dan tanpa mempertimbangkan transaksi dan akun-akun yang signifikan.
Pengujian
Substantif
Terbatas
dilakukan
apabila
pemeriksa
menyimpulkan bahwa sistem pengendalian intern secara keseluruhan
baik/efektif atau risiko pengendaliannya rendah.
Pengujian pengendalian meliputi pengujian pengendalian pada transaksi
dan akun/perkiraan sebagai berikut:
1) Pengujian
Pengendalian
Transaksi
Pendapatan/Hibah
dan
Penerimaan Pembiayaan
2) Pengujian Pengendalian Transaksi Belanja Negara dan Pengeluaran
Pembiayaan
3) Pengujian Pengendalian Kas dan Bank
4) Pengujian Pengendalian Piutang
5) Pengujian Pengendalian Persediaan
6) Pengujian Pengendalian Investasi
7) Pengujian Pengendalian Aset Tetap
8) Pengujian Pengendalian Dana Cadangan
9) Pengujian Pengendalian Aset Lainnya
10) Pengujian Pengendalian Kewajiban
Dalam keadaan dimana pemerintah pusat menyelenggarakan sistem
akuntansi berbasis teknologi informasi, maka pengujian pengendalian
juga dilakukan atas pengendalian teknologi informasi yang meliputi
pengujian atas (1) Pengendalian umum dan (2) Pengendalian aplikasi.
Petunjuk pemeriksaan pengujian pengendalian teknologi informasi dapat
dilihat dalam Lampiran 3.14.
Rincian pengujian pengendalian atas transaksi dan akun/ perkiraan pada
penyusunan LKPP dan LKKL dapat dilihat pada Lampiran 3.15

c. Pengujian Substantif Transaksi dan Saldo


Pengujian substantif meliputi
pengujian substantif atas
transaksi dan saldo akun/
perkiraan.

Pengujian substantif
transaksi dan saldo dilakukan
untuk meyakini asersi
Litbang Pemeriksaan

Pengujian substantif meliputi pengujian substantif atas transaksi dan


saldo-saldo akun/perkiraan serta pengungkapannya dalam laporan
keuangan yang diperiksa. Pengujian tersebut memperhatikan kesesuaian
dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan,
efektivitas sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan.
Pengujian substantif atas transaksi dan saldo dilakukan setelah
pemeriksa memperoleh LKPP dan LKKL untuk diperiksa. Pengujian
substantif atas transaksi dan saldo dapat dilakukan juga pada
pemeriksaan interim, namun hasil pengujian tersebut perlu direviu lagi
setelah LKPP dan LKKL tersebut diterima.
Pengujian substantif transaksi dan saldo dilakukan untuk meyakini asersi
manajemen atas LKPP dan LKKL, yaitu (1) Keberadaan dan keterjadian,
(2) Kelengkapan, (3) Hak dan kewajiban, (4) Penilaian dan
pengalokasian, serta (5) Penyajian dan pengungkapan.
Pengujian substantif atas transaksi dan saldo meliputi pengujian pada:
Badan Pemeriksa Keuangan

23

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

manajemen atas LKPP dan


LKKL.

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Pendapatan negara/hibah dan penerimaan pembiayaan


Belanja negara dan pengeluaran pembiayaan
Kas dan Bank
Piutang
Persediaan
Aset Tetap
Dana Cadangan
Aset Lainnya
Kewajiban

Untuk pengujian substantif atas transaksi dan saldo perkiraan yang terkait
dengan perusahaan negara/daerah (BUMN/BUMD), pemerintah daerah,
dan lembaga lain di luar pemerintah pusat, pengujian juga dilakukan pada
masing-masing entitas tersebut oleh AKN yang bersangkutan. Hasil
pengujian tersebut disampaikan kepada AKN yang membidangi
pemeriksaan LKPP dan LKKL. AKN yang membidangi tersebut dapat
memberitahukan kebutuhan data dan informasi yang diperlukan.
Rincian pengujian substantif atas transaksi dan saldo pada LKPP dapat
dilihat pada Lampiran 3.16.

d. Penyelesaian Penugasan
Penyelesaian penugasan
meliputi reviu atas kewajiban
kontijensi, kontrak/komitmen
jangka panjang, dan kejadian
setelah tanggal neraca.
Reviu kewajiban kontinjensi:
reviu permasalahan hukum
yang masih pending,
kemungkinan klaim, dan
jaminan pemerintah.

Penyelesaian penugasan pemeriksaan keuangan merupakan kegiatan


untuk mereviu tiga hal, yaitu: (1) Kewajiban kontinjensi, (2)
Kontrak/komitmen jangka panjang, dan (3) Kejadian setelah tanggal
neraca.
1) Reviu Kewajiban Kontinjensi
Kewajiban kontinjensi merupakan (1) Kewajiban potensial dari
peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan
terjadinya atau tidak terjadinya suatu peristiwa pada masa datang
yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah pusat atau
(2) Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat masa lalu, tetapi tidak
diakui karena pemerintah pusat tidak ada kemungkinan
mengeluarkan sumber daya untuk menyelesaikan kewajibannya dan
jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.
Contoh kewajiban kontinjensi antara lain (1) Permasalahan hukum
yang masih pending terkait hak dan kewajiban pemerintah pusat,
(2) Kemungkinan klaim, (3) Jaminan pemerintah pusat atas
barang/jasa.
Prosedur yang harus ditempuh pemeriksa adalah sebagai berikut:
(a) Dapatkan dan reviu putusan hukum yang masih pending terkait
hak dan kewajiban pemerintah pusat/kementerian/lambaga serta
keputusan-keputusan lainnya, yang kemungkinan menimbulkan
kewajiban kontinjensi.
(b) Diskusikan dengan pejabat terkait seperti menteri/pimpinan
lembaga dan sekretaris menteri/pimpinan lembaga atau pejabat
lain di bidang hukum atau yang terkait lainnya mengenai
kemungkinan kewajiban kontinjensi tersebut.
(c) Teliti apakah kewajiban kontinjensi tersebut telah diungkapkan
oleh menteri/pimpinan lembaga atau pejabat terkait lainnya di
dalam laporan keuangan.
Dalam hal ini perlu juga ditambahkan kondisi-kondisi yang
menyebabkan terjadinya kewajiban bersyarat, antara lain:
(a) Adanya kemungkinan pembayaran di masa yang akan datang
kepada pihak ketiga akibat kondisi saat ini.
(b) Terdapat ketidakpastian atas jumlah pembayaran di masa yang
akan datang.
(c) Hasilnya sangat ditentukan oleh peristiwa yang akan datang

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

24

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Reviu kontrak/komitmen
jangka panjang terkait
dengan kemungkinan
kerugian yang akan terjadi.

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

2) Reviu Kontrak/Komitmen Jangka Panjang


Pemeriksa juga perlu mereviu kembali kontrak/komitmen jangka
panjang yang dibuat pemerintah pusat terkait dengan kemungkinan
kerugian yang mungkin terjadi dari kontrak/komitmen tersebut.
Pada kenyataannya, pemeriksaan kontrak/komitmen tersebut dapat
dilakukan ketika pemeriksa melakukan pemeriksaan atas
pendapatan/hibah
atau
penerimaan
pembiayaan
atau
belanja/pengeluaran pembiayaan.
Namun, prosedur reviu kontrak/komitmen dimaksudkan untuk
memastikan kemungkinan kerugian yang akan terjadi. Untuk itu,
pemeriksa perlu mereviu kembali perjanjian/kontrak atau komitmen
lainnya yang bersifat jangka panjang.
Prosedur yang harus ditempuh pemeriksa adalah sebagai berikut:
(a) Dapatkan putusan hukum yang masih pending terkait
kontrak/komitmen jangka panjang pemerintah pusat serta hal-hal
lainnya yang berkaitan dengan kontrak/komitmen jangka panjang.
(b) Reviu putusan keputusan menteri/pimpinan lembaga atau pejabat
terkait tersebut yang kemungkinan menimbulkan kewajiban
dalam kontrak/komitmen jangka panjang.
(c) Diskusikan dengan pejabat terkait seperti menteri/pimpinan
lembaga atau sekretaris menteri/pimpinan lembaga atau pejabat
lain di bidang hukum atau yang terkait lainnya mengenai
kemungkinan kewajiban kontrak/komitmen jangka panjang
tersebut.
(d) Teliti apakah kontrak/komitmen jangka panjang tersebut telah
diungkapkan oleh menteri/pimpinan lembaga atau pejabat terkait
lainnya di dalam LKPP dan LKKL.
3) Identifikasi Kejadian Setelah Tanggal Neraca
Kejadian setelah tanggal neraca harus menjadi perhatian pemeriksa
apabila kejadian tersebut berdampak material pada laporan
keuangan. Hal tersebut perlu untuk diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
Ada 2 (dua) jenis kejadian setelah tanggal neraca (subsequent
events) yaitu:

Kejadian setelah tanggal


neraca yang berdampak
material pada laporan
keuangan.

(a) Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan


dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan berdampak
terhadap taksiran yang melekat dalam proses penyusunan
laporan keuangan. Contohnya Surat Hutang Negara yang
kasusnya masih menjadi sengketa di pengadilan dimana pada
tanggal neraca per 31 Desember 200X, sengketa tersebut masih
berjalan dan belum ada keputusan pengadilan sehingga
pemerintah tidak menyajikan jumlah utang yang masih di
sengketakan tersebut dalam laporan keuangan per 31 Desember
200X, namun diungkapkan dalam dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan. Kemudian pada bulan Februari tahun berikutnya
ternyata putusan pengadilan menyatakan bahwa pemerintah
kalah dalam gugatan tersebut, sehingga perlu dilakukan koreksi
terhadap jumlah utang pemerintah.
(b) Peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan
dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca yang
dilaporkan, namun peristiwa tersebut ada sesudah tanggal
neraca, contohnya bencana alam berupa gempa bumi di wilayah
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tanggal 27
Mei 2006 (setelah tanggal neraca 31 Desember 2005) yang
menyebabkan kerugian dengan estimasi sementara sebesar

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

25

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Rp.29,1 triliun, termasuk kerugian negara karena hancurnya


sarana dan prasarana milik instansi pemerintah yang estimasi
nilainya belum dapat ditentukan. Atas peristiwa jenis ini tidak
perlu dilakukan penyesuaian atas laporan keuangan, namun
apabila peristiwa bersifat signifikan maka perlu diungkapkan
dengan menambahkan data keuangan proforma terhadap
laporan keuangan historis yang menjelaskan dampak adanya
peristiwa tersebut seandainya peristiwa tersebut terjadi pada
tanggal neraca.
Untuk itu, pemeriksa perlu mengidentifikasi kejadian setelah tanggal
neraca yang berdampak material terhadap informasi keuangan pada
LKPP dan LKKL dan mereviu apakah kejadian tersebut telah
dilaporkan dalam catatan atas laporan keuangan.

e. Penyusunan Ikhtisar Koreksi


Ikhtisar Koreksi merupakan
rekapitulasi koreksi atau
penyesuaian.

Ikhtisar Koreksi merupakan rekapitulasi koreksi atau penyesuaian


(adjustments) yang diusulkan tim pemeriksa kepada pemerintah pusat.
Koreksi pemeriksaan yang dimasukkan tersebut merupakan koreksi
terhadap LKPP dan LKKL yang nilainya di atas nilai TE dan secara
keseluruhan di atas nilai materialitas. Koreksi pemeriksaan tersebut
menggambarkan penyajian LKPP dan LKKL yang tidak sesuai dengan
SAP dan ketidakcukupan pengungkapan.
Jurnal koreksi hanya pada akun utama pada LKPP dan LKKL. Akun
utama adalah akun-akun paling rinci yang ada di laporan keuangan
sesuai dengan SAP. Penyesuaian pada buku dan sistem akuntansi
dilakukan kemudian. Selain itu, koreksi terhadap kecukupan
pengungkapan merupakan koreksi pada catatan atas laporan keuangan
LKPP dan LKKL.
Bentuk Ikhtisar Koreksi dapat dilihat pada Lampiran 3.17.
Tanggapan entitas yang diperiksa terhadap daftar jurnal koreksi yang
diusulkan didokumentasikan di dalam Daftar Jurnal Koreksi yang
ditandatangani oleh pejabat entitas yang berwenang.
Daftar Jurnal koreksi yang memuat tanggapan dari entitas yang diperiksa
dapat dilihat pada lampiran 3.18.

f. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan


Konsep Temuan
Pemeriksaan meliputi
ketidakefektivan SPI,
kecurangan/penyimpangan,
ketidakpatuhan, dan ikhtisar
koreksi.

Konsep Temuan Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL merupakan


permasalahan yang ditemukan oleh pemeriksa yang perlu
dikomunikasikan kepada pemerintah pusat. Permasalahan tersebut
meliputi (1) Ketidakefektivan sistem pengendalian intern, (2) Kecurangan
dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan,
(3) Ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang
signifikan, dan (4) Ikhtisar koreksi.
Konsep Temuan Pemeriksaan tersebut disampaikan ketua tim pemeriksa
kepada pejabat pemerintah pusat yang berwenang untuk mendapatkan
tanggapan tertulis dan resmi dari pemerintah pusat.
Contoh Konsep Temuan Pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran 3.19.

g. Penyampaian dan Pembahasan Konsep Temuan


Pemeriksaan Dengan Pejabat Entitas yang Berwenang
Tim pemeriksa melakukan
pembahasan dengan pejabat
Litbang Pemeriksaan

Setelah Konsep Temuan Pemeriksaan disampaikan ketua tim pemeriksa


kepada pemerintah pusat, tim pemeriksa membahas temuan tersebut
dengan pejabat entitas yang berwenang antara lain menteri keuangan
Badan Pemeriksa Keuangan

26

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

pemerintah pusat yang


berwenang.

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

(untuk pemeriksaan LKPP) atau menteri/pimpinan lembaga (untuk LKKL)


atau sekretaris menteri/pimpinan lembaga tersebut. Apabila pemerintah
menolak ikhtisar koreksi, temuan SPI dan ketidakpatuhan akan
berpengaruh terhadap opini.

h. Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis


Tanggapan resmi dan tertulis
atas konsep LTP diperoleh
dari pejabat entitas yang
berwenang.

Pemeriksa memperoleh tanggapan resmi dan tertulis atas Konsep


Temuan Pemeriksaan dari pejabat entitas yang berwenang dalam hal ini
menteri keuangan (untuk pemeriksaan LKPP) atau menteri/pimpinan
lembaga (untuk LKKL) atau sekretaris menteri/pimpinan lembaga tersebut
atas nama menteri/pimpinan lembaga.
Tanggapan tersebut akan diungkapkan dalam Temuan Pemeriksaan atas
LKPP dan LKKL.

i. Penyampaian Temuan Pemeriksaan


Temuan pemeriksaan atas
LKPP dan LKKL diserahkan
oleh ketua tim kepada
pejabat entitas yang
berwenang.

4.

Pemeriksa dalam hal ini ketua tim menyampaikan Temuan Pemeriksaan


kepada menteri keuangan atau sekretaris menteri keuangan (untuk
pemeriksaan LKPP) dan kepada menteri/pimpinan lembaga (untuk
pemeriksaan LKKL) atau sekretaris menteri/pimpinan lembaga.
Penyampaian Temuan Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL tersebut
merupakan akhir dari pekerjaan lapangan pemeriksaan LKPP dan LKKL.
Hal ini merupakan batas tanggung jawab pemeriksa terhadap kondisi
laporan keuangan yang diperiksa. Pemeriksa tidak dibebani tanggung
jawab atas suatu kondisi yang terjadi setelah tanggal pekerjaan lapangan
tersebut. Oleh karena itu, tanggal penyampaian temuan pemeriksaan
tersebut merupakan tanggal laporan hasil pemeriksaan atau tanggal surat
representasi pemerintah pusat/menteri/kepala lembaga.

Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaan


Pelaporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LKKL meliputi (1) Penyusunan
konsep laporan hasil pemeriksaan, (2) Pembahasan konsep laporan hasil
pemeriksaan dengan penanggung jawab, (3) Penyampaian dan
Pembahasan konsep hasil pemeriksaan dengan pejabat entitas yang
berwenang, (4) Perolehan surat representasi dan (5) Penyusunan konsep
akhir dan penyampaian laporan hasil pemeriksaan.

a. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan

Pelaporan hasil pemeriksaan


meliputi 5 kegiatan sebagai
berikut.

Konsep laporan hasil pemeriksaan disusun oleh ketua tim pemeriksa dan
disupervisi oleh pengendali teknis.
Di dalam penyusunan konsep laporan hasil pemeriksaan, hal-hal berikut
menjadi perhatian ketua tim dan pengendali teknis yaitu: (1) Jenis laporan
hasil pemeriksaan, (2) Jenis opini, (3) Dasar penetapan opini,
(4) Pelaporan tentang kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan, (5) Pelaporan tentang sistem pengendalian intern, dan (6)
Penandatangan laporan hasil pemeriksaan.
1) Jenis Laporan Hasil Pemeriksaan
Hasil Pemeriksaan Keuangan atas LKPP dan LKKL terdiri atas :
Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan;
Laporan atas Kepatuhan dalam Kerangka Pemeriksaan
LKPP/LKKL;
Laporan atas Pengendalian Intern dalam Kerangka
Pemeriksaan LKPP/LKKL.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

27

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Pemeriksa dapat menyampaikan laporan tambahan sesuai dengan


kebutuhan. Sebagai contoh, pemeriksa dapat menyampaikan hasil
analisa transparansi fiskal pada pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara.
Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan merupakan
laporan utama. Laporan ini mengungkapkan:
a) Opini Badan Pemeriksa Keuangan yang mengungkapkan
kewajaran atas LKPP/LKKL memuat:
(1) judul Laporan Hasil
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan, (2) dasar pemeriksaan,
(3) tanggung jawab pemeriksa kecuali untuk opini tidak dapat
menyatakan pendapat,
(4) tanggung jawab penyusunan
LKPP/LKKL oleh pemerintah daerah, (5) standar pemeriksaan
dan keyakinan pemeriksa untuk memberikan pendapat, kecuali
opini tidak dapat menyatakan pendapat, (6) alasan opini
pengecualian/tidak menyatakan pendapat/tidak wajar (termasuk
kelemahan SPI dan/atau temuan kepatuhan yang terkait secara
material terhadap kewajaran penyajian LKPP/LKKL) jika ada, (7)
paragraf rujukan tentang penerbitan laporan atas kepatuhan dan
laporan atas pengendalian intern jika ada (8) opini, (9) tempat
dan tanggal penanda-tanganan laporan hasil pemeriksaan, dan
(10) tanda tangan, nama penandatangan, dan nomor register
akuntan.
b) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat yang terdiri atas Neraca,
LRA, Laporan Arus Kas serta Catatan atas Laporan Keuangan
atau Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga yang merupakan
asersi terakhir dari kepala negara/menteri/pimpinan lembaga. Hal
tersebut dibuktikan dengan pembubuhan tanda tangan pada
lembar utama LKPP atau LKKL dan paraf pada lembar berikutnya
atau catatan atas laporan keuangan serta didukung dengan surat
representasi dari kepala negara/menteri/pimpinan lembaga.
c) Gambaran Umum Pemeriksaan yang memuat tentang: (1) dasar
hukum pemeriksaan, (2) tujuan pemeriksaan, (3) sasaran
pemeriksaan, (4) standar pemeriksaan, (5) metode pemeriksaan,
(6) waktu pemeriksaan, (7) obyek pemeriksaan dan (8) batasan
pemeriksaan.
Apabila laporan tentang kepatuhan dan atau laporan atas
pengendalian intern diterbitkan, maka laporan hasil pemeriksaan
yang memuat opini harus menjelaskan bahwa pemeriksa juga
menerbitkan laporan-laporan tersebut.
2) Jenis Opini
Opini terhadap kewajaran atas LKPP dan LKKL yang dapat diberikan
adalah salah satu di antara empat opini sebagai berikut:
a) Wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
Opini Wajar Tanpa Pengecualian menyatakan bahwa LKPP dan
LKKL disajikan secara wajar dalam semua hal yang material
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan .
b) Wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
Opini Wajar Dengan Pengecualian menyatakan bahwa LKPP dan
LKKL disajikan secara wajar dalam semua hal yang material
sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan, kecuali dampak hal-hal
yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
Hal-hal yang dikecualikan dinyatakan dalam laporan hasil
pemeriksaan yang memuat opini tersebut.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

28

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

c) Tidak Wajar (adverse opinion)


Opini Tidak Wajar menyatakan bahwa LKPP dan LKKL tidak
disajikan secara wajar posisi keuangan sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan.
d) Menolak Memberikan Pendapat atau Tidak Dapat Menyatakan
Pendapat (disclaimer opinion)
Opini Tidak Dapat Menyatakan Pendapat menyatakan bahwa
LKPP dan LKKL tidak dapat diyakini wajar atau tidak dalam
semua hal yang material sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan. Ketidakyakinan tersebut disebabkan oleh
pembatasan lingkup pemeriksaan dan hal tersebut harus
diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan yang memuat
opini tersebut.
Contoh format Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
yang memuat opini dapat dilihat pada Lampiran 3.20.
Contoh format laporan tambahan mengenai laporan hasil analisa
transparansi fiskal dalam pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
daerah dapat dilihat pada lampiran 3.21.
3) Dasar Penetapan Opini
Penetapan opini atas LKPP dan LKKL dilakukan dengan
mempertimbangkan (1) Pasal 16 UU No. 15 Tahun 2004 dan (2)
Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan pada Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).
Berdasarkan Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU No. 15 Tahun 2004,
opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan
keuangan yang didasarkan pada kriteria: (i) kesesuaian dengan
standar akuntansi pemerintahan, (ii) kecukupan pengungkapan
(adequate disclosure), (iii) kepatuhan perundang-undangan, dan (iv)
efektivitas sistem pengendalian intern.
Di samping itu, di dalam penetapan opini pemeriksa, pemeriksa
mempertimbangkan SPKN, ketidaksesuaian dan ketidakcukupan
pengungkapan LKPP dan LKKL dikaitkan dengan tingkat materialitas
yang telah ditetapkan, tanggapan pemerintah pusat atas hasil
pemeriksaan, dan surat representasi.
Dalam proses penyusunan konsep laporan hasil pemeriksaan,
pemeriksa yang melakukan pemeriksaan atas LKPP harus
memperhatikan
hasil
pemeriksaan
atas
LKKL
dan
mempertimbangkan dampak hasil pemeriksaan tersebut terhadap
kewajaran penyajian LKPP secara proporsional.
Diagram alur (flowchart) penetapan opini dapat dilihat
Lampiran 3.22.

pada

4) Pelaporan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan


Berdasarkan standar pemeriksaan, pemeriksa dalam melakukan
pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundangan-undangan
yang berlaku harus melaksanakan hal-hal berikut ini:
a) Merancang pemeriksaan untuk dapat memberikan keyakinan
memadai guna mendeteksi ketidakberesan yang material bagi
laporan keuangan.
b) Merancang pemeriksaan untuk memberikan keyakinan memadai
guna mendeteksi kesalahan/ kekeliruan yang material dalam
laporan keuangan sebagai akibat langsung dari adanya unsur
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

29

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

perbuatan melanggar/melawan hukum yang material.


c) Waspada terhadap kemungkinan telah terjadinya unsur
perbuatan melawan hukum secara tidak langsung. Jika informasi
khusus yang telah diterima oleh auditor memberikan bukti
tentang
adanya
kemungkinan
unsur
perbuatan
melanggar/melawan hukum yang secara tidak langsung
berdampak material terhadap laporan keuangan, maka auditor
harus menerapkan prosedur audit yang secara khusus ditujukan
untuk
memastikan
apakah
suatu
unsur
perbuatan
melanggar/melawan hukum telah terjadi.
Dalam hal ditemukan atau diduga ada unsur pelanggaran hukum,
pemeriksa mengungkapkan unsur atau dugaan pelanggaran hukum
tersebut dalam laporan hasil pemeriksaan terkait dengan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan.
Apabila tim pemeriksa tidak memiliki keyakinan yang memadai maka
penanggung jawab dapat berkonsultasi dengan tim konsulen hukum
sebelum mengungkapkan unsur pelanggaran hukum dalam laporan
hasil pemeriksaan.
Pengungkapan ketidakpatuhan yang perlu dilaporkan dilakukan
sebagai berikut:
a) Apabila ketidakpatuhan tersebut secara material berpengaruh
pada kewajaran LKPP/LKKL, pemeriksa mengungkapkan uraian
singkat ketidakpatuhan tersebut dalam laporan hasil pemeriksaan
yang memuat opini atas kewajaran LKPP/LKKL sebagai alasan
pemberian opini.
b) Pengungkapan semua temuan terkait ketidakpatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan yang ditemukan selama
pemeriksaan secara terinci dilaporkan dalam Laporan atas
Kepatuhan dalam Kerangka Pemeriksaan LKPP/LKKL.
Laporan
hasil
pemeriksaan
tentang
kepatuhan
dapat
mengungkapkan (1) Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan termasuk pengungkapan atas penyimpangan
administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, maupun
penyimpangan yang mengandung unsur tindak pidana serta
(2) Ketidakpatuhan yang signifikan.
Laporan atas Kepatuhan dalam Kerangka Pemeriksaan LKPP/LKKL
merupakan laporan tambahan yang sifatnya opsional yang berarti
diterbitkan jika dan hanya jika ditemukan ketidakpatuhan selama
melakukan pemeriksaan keuangan. Laporan ini memuat:
a) Resume, yang memuat:(1) judul Resume, (2) dasar
pemeriksaan, (3) standar pemeriksaan serta kewajiban pelaporan
atas ketidakpatuhan yang ditemukan, (4) Paragraf tentang
rujukan LHP yang memuat opini dan LHP atas efektifitas SPI, (5)
Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan, (6) Rekomendasi yang
diberikan, (7) tempat dan tanggal penandatanganan laporan hasil
pemeriksaan, dan (8) tanda tangan, nama penandatangan, dan
nomor register akuntan.
b) Temuan Pemeriksaan yang memaparkan semua temuan-temuan
ketidakpatuhan yang memuat:
Kondisi yang perlu dijelaskan;
Kriteria dan atau kondisi yang seharusnya terjadi;
Sebab (alasan) terjadinya varian/perbedaan antara kondisi dan
kriteria;
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

30

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

Akibat (dampak) yang akan terjadi karena


varian/perbedaan antara kondisi dan kriteria.

adanya

Format Laporan atas Kepatuhan dalam Kerangka Pemeriksaan


LKPP dan LKKL dapat dilihat pada Lampiran 3.23.
5) Pelaporan Sistem Pengendalian Intern
Sistem pengendalian intern yang perlu dilaporkan meliputi efektivitas
sistem pengendalian intern terkait LKPP dan LKKL.
Pengungkapan temuan pengendalian intern yang perlu dilaporkan
dilakukan sebagai berikut:
a) Apabila temuan pengendalian intern tersebut secara material
berpengaruh pada kewajaran LKPP dan LKKL, pemeriksa
mengungkapkan uraian singkat temuan tersebut dalam laporan
hasil pemeriksaan yang memuat opini atas kewajaran LKPP dan
LKKL sebagai alasan pemberian opini.
b) Pengungkapan semua temuan pengendalian intern secara terinci
dilaporkan dalam Laporan atas Pengendalian Intern dalam
Kerangka Pemeriksaan LKPP/LKLL.
Laporan atas Pengendalian Intern dalam Kerangka Pemeriksaan
LKPP dan LKKL ini bersifat opsional yang berarti diterbitkan jika dan
hanya jika ditemukan kelemahan-kelemahan pengendalian intern
selama pelaksanaan pemeriksaan.
Laporan ini memuat:
a) Resume yang memuat: (1) judul Resume, (2) dasar
pemeriksaan, (3) standar pemeriksaan serta kewajiban pelaporan
atas ketidakpatuhan yang ditemukan, (4) Paragraf tentang
rujukan LHP yang memuat opini dan LHP kepatuhan, (5) Pokokpokok temuan ketidakpatuhan, (6) Rekomendasi yang diberikan,
(7) tempat dan tanggal penandatanganan laporan hasil
pemeriksaan, dan (8) tanda tangan, nama penandatangan, dan
nomor register akuntan.
b) Gambaran Umum Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
(Kementerian/Lembaga).
c) Temuan Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dengan
mengungkapkan:

Kondisi yang perlu dijelaskan;

Kriteria dan atau kondisi yang seharusnya terjadi;

Sebab (alasan) terjadinya varian/perbedaan antara kondisi


dan kriteria;

Akibat (dampak) yang akan terjadi karena


varian/perbedaan antara kondisi dan kriteria.

Contoh Laporan atas Pengendalian Intern dalam


Pemeriksaan LKPP/LKKL dapat dilihat di Lampiran 3.24.

adanya
Kerangka

Contoh-contoh kelemahan SPI dan Ketidakpatuhan yang dapat


mempengaruhi dan yang tidak dapat mempengaruhi kewajaran
penyajian laporan keuangan dapat dilihat pada Lampiran 3.25.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

31

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

6) Penandatangan Laporan Hasil Pemeriksaan


Pada dasarnya, penanda tangan laporan hasil pemeriksaan adalah
Badan, dengan memperhatikan Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara. Namun, dalam pelaksanaannya dan sesuai dengan
pelimpahan tugas, maka laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan
LKKL ditandatangani oleh penanggung jawab pemeriksaan yang
ditetapkan dalam surat tugas.
Kriteria atau kualifikasi penanggung jawab pemeriksaan atas LKPP
dan LKKL telah diatur dalam kebutuhan tim pemeriksaan atas LKPP
dan LKKL.
Apabila Badan Pemeriksa Keuangan menunjuk kantor akuntan publik
untuk melakukan pemeriksaan atas LKPP dan LKKL untuk dan atas
nama BPK maka penandatangan laporan hasil pemeriksaan adalah
rekan yang menjadi penanggung jawab pemeriksaan tersebut.
Penandatanganan laporan tersebut harus melalui kendali mutu
(quality controll) secara berjenjang dari tingkat pemeriksa, ketua tim
pemeriksa dan pengendali teknis yang tertuang dalam kertas kerja
pemeriksaan serta memenuhi proses keyakinan mutu (quality
assurance).

b. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan


Penanggung Jawab Pemeriksaan
Pembahasan KHP dilaksanakan secara berjenjang sampai dengan
penanggung jawab dengan tujuan: (1) Untuk pengendalian mutu Laporan
Hasil Pemeriksaan agar hasil pemeriksaan sesuai SPKN dan prosedur
pemeriksaan yang ditetapkan dan (2) Untuk penentuan opini yang akan
dimuat dalam laporan auditor independen.
Pembahasan dipimpin oleh penanggung jawab pemeriksaan dan diikuti
oleh pengendali teknis dan ketua tim dan anggota tim pemeriksaan.
Materi dari pembahasan KHP adalah Temuan Pemeriksaan yang telah
disusun oleh tim pemeriksa dan telah memperoleh tanggapan dari
pemerintah pusat. Seluruh hasil pembahasan didokumentasikan dalam
Risalah Pembahasan yang disimpan di dalam KKP.

c. Penyampaian dan Pembahasan Konsep Laporan Hasil


Pemeriksaan Dengan Pejabat Entitas Yang Berwenang
Konsep LHP yang telah disetujui penanggung jawab dibahas bersama
dengan pemerintah pusat.
Pembahasan konsep LHP dengan pejabat entitas yang diperiksa
diselenggarakan oleh penanggung jawab dan dilakukan untuk (a)
Memperoleh tanggapan yang memudahkan dalam pemberian data baru
serta (b) Kemungkinan tindak lanjut yang akan dilakukan.
Pembahasan konsep LHP dilakukan di kantor Badan Pemeriksa
Keuangan atau di kantor pemerintah pusat.
Hasil pembahasan tersebut dituangkan dalam Risalah Pembahasan
Konsep LHP. Lihat Lampiran 3.26.

d. Perolehan Surat Representasi


Sesuai SPAP SA Seksi 333 [PSA No.17] Representasi Manajemen,
pemeriksa harus memperoleh surat representasi yang dilampiri dengan
LKPP dan LKKL yang akan disampaikan menteri/pimpinan lembaga
kepada DPR-RI dari Kepala Negara. Surat representasi tersebut
menggambarkan representasi resmi dan tertulis dari pemerintah pusat
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

32

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

atas berbagai keterangan, data, informasi dan laporan keuangan yang


disampaikan selama proses pemeriksaan berlangsung. Surat tersebut
merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah pusat. Jika terjadi
perubahan substansi isi surat representasi yang dilakukan oleh
menteri/pimpinan lembaga maka pemeriksa harus mempertimbangkan
apakah perubahan tersebut akan berdampak material terhadap
pertanggungjawaban pembuatan laporan keuangan. Hal tersebut akan
mempengaruhi opini.
Apabila surat representasi dan lampirannya tidak diperoleh sampai
dengan penerbitan laporan hasil pemeriksaan, ketua tim pemeriksa dan
pengendali teknis menyampaikan laporan hasil pemeriksaan dengan
opini tidak dapat menyatakan pendapat kepada penanggung jawab untuk
disetujui. Surat tersebut harus ditandatangani menteri/pimpinan lembaga
dan diberi tanggal yang sama dengan tanggal pembahasan konsep LHP
atau tanggal LHP.
Contoh Surat Representasi dapat dilihat pada Lampiran 3.27.

e. Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan


Hasil Pemeriksaan
Berdasarkan hasil pembahasan atas konsep LHP tersebut, ketua tim
pemeriksa menyusun konsep akhir LHP. Konsep akhir tersebut
disupervisi oleh pengendali teknis dan ditandatangani oleh
penandatangan LHP.
Penanggung Jawab Pemeriksaan bersama dengan pengendali teknis,
koordinator/wakil koordinator ketua tim, dan ketua tim menyusun konsep
akhir LHP LKPP dan LK KL. Konsep akhir LHP atas LKKL diselesaikan
terlebih dahulu, kemudian konsep akhir LHP atas LKPP.
Selanjutnya konsep akhir LHP tersebut dibahas bersama pengarah untuk
mendapatkan arahan dan persetujuan. Setelah mendapatkan persetujuan
pengarah, LHP atas LKPP dan LKKL ditandatangani oleh Badan
kuasanya yang memenuhi syarat.
Laporan hasil pemeriksaan LKPP dan LKKL diberi tanggal sesuai dengan
tanggal akhir pekerjaan lapangan atau tanggal pembahasan konsep LHP
dengan pejabat entitas yang berwenang atau sama dengan tanggal surat
representasi.
LHP yang telah ditandatangani tersebut disampaikan kepada (1) DPR-RI
dan DPD-RI melalui Pimpinan DPR-RI Pemerintah Pusat yang diperiksa,
(2) Pemerintah Pusat yang ditujukan kepada Kepala Negara. Laporan
tersebut disampaikan pula kepada (1) Anggota/Pembina Keuangan
Negara, (2) Auditor Utama Keuangan Negara, (3) Inspektur Utama
Renalev, dan (4) Kepala Biro Pengolahan Data Elektronik (soft copy)
untuk dimuat dalam website Badan Pemeriksa Keuangan.

5.

Jadwal Penyelesaian Pemeriksaan dan Laporan Hasil Pemeriksaan


a. Badan Pemeriksa Keuangan menerima seluruh LKKL 2 (dua) bulan
setelah tahun anggaran berakhir (akhir Februari tahun berikutnya)
dan LKPP tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir (akhir Maret
tahun berikutnya).
b. Badan Pemeriksa Keuangan segera melakukan pemeriksaan
keuangan setelah laporan (LKPP dan LKKL) tersebut diterima
dengan batas waktu penyelesaian LHP sebagai berikut

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

33

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab III Petunjuk Pemeriksaan

1) Pemeriksaan Interim atas LKPP selama 3 bulan (Januari s.d.


Maret tahun berikutnya). Sedangkan Pemeriksaan Interim atas
LKKL selama 2 bulan (Januari s.d. Februari tahun berikutnya)
2) Pemeriksaan LKKL selama 1 (satu) bulan (Maret tahun
berikutnya)
3) TP seluruh LKKL paling lambat diterima pada awal minggu ke-4
Maret tahun berikutnya
4) Pembahasan Konsep LHP LKKL dengan pejabat entitas yang
diperiksa paling lambat 1 (satu) minggu setelah TP seluruh
LKKL diterima (paling lambat minggu pertama April tahun
berikutnya).
5) LHP atas seluruh pemeriksaan LKKL harus selesai disusun
paling lambat 1 (satu) minggu sebelum dilakukannya konsolidasi
atas seluruh LHP LKKL (paling lambat minggu pertama April
tahun berikutnya).
6) Pemeriksaan LKPP dilaksanakan selama 1 (satu) bulan (April
tahun berikutnya)
7) Temuan Pemeriksaan atas LKPP (sebelum Konsolidasian)
harus selesai disusun paling lambat 1 (satu) minggu sebelum
dilakukannya konsolidasi atas seluruh LHP LKKL (paling lambat
minggu ke-4 April tahun berikutnya).
8) Pembahasan Temuan Pemeriksaan / rekonsiliasi tripartit paling
lambat 1 (satu) minggu sebelum dilakukannya konsolidasi atas
seluruh LHP LKKL (paling lambat minggu ke-4 April tahun
berikutnya).
9) Konsolidasian atas seluruh LHP LKKL dan Konsep LHP LKPP
melalui konsinyering harus selesai disusun paling lambat
minngu ke-1 Mei tahun berikutnya).
10) Penyusunan konsep LHP LKPP konsolidasian dan pos non
konsolidasian beserta tanggapan dilakukan paling lambat
minggu ke-2 Mei tahun berikutnya.
11) Finalisasi dan pencetakan LHP LKPP dan LHP LKKL harus
selesai sebelum LHP atas LKPP dan LHP LKKL diserahkan ke
DPR dan DPD (minggu ke-4 Mei tahun berikutnya)
12) LHP atas LKPP Konsolidasian dan LKKL diserahkan kepada
DPR dan DPD paling lambat 2 (dua) bulan setelah LKPP
diterima dan 3 bulan setelah LKKL diterima (minggu ke-4 Mei
tahun berikutnya).
Jadwal waktu pelaporan hasil pemeriksaan tersebut dapat dilihat pada
lampiran 3.28.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

34

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab IV Supervisi

BAB IV
SUPERVISI
1. Supervisi dalam Pemeriksaan
Supervisi bagian dari standar
pekerjaan lapangan.

Supervisi merupakan bagian penting dalam pemeriksaan atas LKPP dan


LKKL. Supervisi disyaratkan dalam standar pekerjaan lapangan
pemeriksaan keuangan.

Supervisi bagian dari kendali


dan proses penjaminan mutu
(quality control and
assurance).

Supervisi yang dimaksud dalam petunjuk teknis ini merupakan bagian dari
kendali dan proses penjaminan mutu pemeriksaan (quality control and
assurance). Supervisi tersebut dimaksudkan untuk menilai dan mencapai
hasil pemeriksaan sesuai dengan standar, pedoman, petunjuk pelaksanaan,
petunjuk teknis, dan program pemeriksaan yang telah ditetapkan dan bukan
menilai kinerja orang/tim pemeriksa.

Supervisi dilaksanakan
secara berjenjang.

Supervisi dilaksanakan secara berjenjang yaitu:


1. Supervisi atas Tim Pemeriksa LKKL
a. Supervisi anggota tim oleh ketua tim pada saat pelaksanaan
pekerjaan lapangan yang didasarkan pada Program Kerja
Perorangan (PKP).
b. Supervisi yang dilakukan oleh ketua tim dilakukan oleh pengendali
teknis
c.

Supervisi pengendali teknis dilakukan oleh penanggung jawab.

d. Supervisi penanggung jawab dilakukan oleh pengarah dalam hal ini


Tortama I, II, III, IV, dan V.
2. Supervisi atas Tim Pemeriksa LKPP
a. Supervisi anggota tim oleh ketua tim pada saat pelaksanaan
pekerjaan lapangan yang didasarkan pada Program Kerja
Perorangan (PKP).
b. Supervisi yang dilakukan oleh ketua tim dilakukan oleh pengendali
teknis.
c.

Supervisi pengendali teknis dilakukan oleh penanggung jawab.

d. Supervisi penanggung jawab dilakukan oleh pengarah, dalam hal ini


Tortama II.
3. Supervisi atas tim pemeriksa LKPP Konsolidasi
a. Supervisi ketua tim oleh Wakil Koordinator Ketua Tim terhadap
masing-masing Ketua Tim yang menyupervisi LKKL di AKN I V
dan Ketua Tim yang menyupervisi LKPP yang terdiri atas Ketua Tim
Aset, LRA, Kewajiban, serta Ketua Tim yang menyupervisi
pelaporan.
b. Supervisi yang dilakukan wakil koordinator ketua tim dikoordinasikan
oleh koordinator ketua tim. Dalam hal ini Koordinator ketua tim
langsung menyupervisi wakil koordinator LKPP.
c.

Litbang Pemeriksaan

Supervisi wakil koordinator ketua tim dilakukan oleh pengendali


teknis. Terkait dengan poin (b), dimana wakil koordinator LKPP
sudah disupervisi oleh Koordinator Ketua Tim, khusus untuk
Pengendali Teknis LKPP menyupervisi Koordinator Ketua Tim.
Badan Pemeriksa Keuangan

35

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab IV Supervisi

d. Supervisi pengendali teknis dilakukan oleh wakil penanggung jawab,


dalam hal ini Tortama masing-masing.
e. Supervisi wakil penanggung jawab dilakukan oleh penanggung
jawab, dalam hal ini Angbintama II.
f.

Supervisi Penanggung Jawab dilakukan oleh Pengarah, dalam hal


ini Badan.

Pelaksanaan kegiatan supervisi didokumentasikan dalam lembar Review


Sheet. Apabila memungkinkan, supervisi pada masing-masing jenjang
diungkapkan dalam tulisan atau catatan dengan warna yang berbeda.
Contoh Review Sheet dapat dilihat di lampiran 4.1.
Kriteria untuk ketua tim, pengendali teknis, dan penanggung jawab telah
dijelaskan di bab III Petunjuk Pemeriksaan.
Tugas supervisi meliputi
memberikan saran dan
memantau pelaksanaan
metodologi pemeriksaan.

Tugas supervisi yang dilakukan oleh ketua tim, pengendali teknis, dan
penanggung jawab meliputi (1) memberikan saran bagi tim pemeriksa
apabila menemukan kendala dalam pemeriksaan dan (2) memantau
pelaksanaan metodologi pemeriksaan. Sebagai contoh, memberi pendapat
mengenai kriteria pemeriksaan yang dapat dipakai untuk suatu indikasi
temuan pemeriksaan tertentu, menambah langkah-langkah prosedur
pemeriksaan, saran terkait dengan temuan pemeriksaan berdasarkan
pengalaman profesionalismenya, dan sebagainya.
Apabila
diperlukan,
akan
ditunjuk
koordinator
yang
bertugas
mengkoordinasikan supervisi atas tugas perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan.
Dengan demikian, hal-hal yang perlu dilakukan dalam supervisi meliputi
supervisi atas (1) pemenuhan tujuan dan harapan penugasan, (2)
pelaksanaan program pemeriksaan, serta (3) penyusunan dan substansi
laporan hasil pemeriksaan.

Supervisi meliputi supervisi


pemenuhan tujuan dan
harapan penugasan,
pelaksanaan program
pemeriksaan, serta
penyusunan dan substansi
laporan hasil pemeriksaan.

Pelaksanaan supervisi secara berjenjang tersebut dilakukan dengan mengisi


laporan perkembangan pelaksanaan pemeriksaan. Laporan perkembangan
tersebut antara lain mengungkapkan kesesuaian atau pencapaian
pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan dan harapan penugasan serta
program pemeriksaan. Contoh laporan perkembangan pelaksanaan
pemeriksaan dapat dilihat di lampiran 4.2.
Untuk menjamin kesimpulan yang sama terhadap permasalahan yang sama,
orang yang menyupervisi tersebut mengikuti konsolidasi pelaksanaan dan
pelaporan hasil pemeriksaan.

2. Supervisi Pemenuhan Tujuan dan Harapan Penugasan


Supervisi pemenuhan tujuan
dan harapan penugasan
dilakukan oleh Ketua Tim,
Pengendali Teknis, dan
Penanggung Jawab untuk
melihat pemenuhan tujuan
pemberian opini kewajaran
LKPP dan LKKL dan
pemenuhan harapan
penugasan yang tertuang
dalam formulir pemenuhan
harapan penugasan.

Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan dilakukan untuk


melihat apakah pelaksanaan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan dapat
atau telah memenuhi tujuan dan harapan penugasan. Hal tersebut meliputi
pemenuhan tujuan pemeriksaan untuk pemberian opini kewajaran LKPP
dan LKKL dan pemenuhan harapan penugasan seperti tertuang dalam
formulir pemenuhan harapan penugasan.
Ketua tim pemeriksaan bertanggung jawab untuk melakukan supervisi atas
pekerjaan pemeriksa dengan melakukan reviu pelaksanaan pemenuhan
tujuan dan harapan penugasan. Supervisi tersebut dilakukan pada kegiatan
anggota tim antara lain melalui reviu kertas kerja pemeriksaan.
Pengendali teknis melakukan supervisi atas pemenuhan tujuan dan harapan
penugasan atas kegiatan supervisi ketua tim. Hal ini dilakukan dengan
mereviu hasil pekerjaan ketua tim di dalam mereviu kertas kerja anggota tim
pemeriksaan dan secara uji petik melakukan reviu kegiatan anggota tim

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

36

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab IV Supervisi

tersebut. Selanjutnya, penanggung jawab melakukan supervisi kegiatan


pengendali teknis.
Pengendali teknis dan atau penanggung jawab menggunakan program
pemeriksaan dan formulir harapan penugasan sebagai kriteria penilaian.
Apabila terjadi penyimpangan dari tujuan dan harapan penugasan,
pengendali teknis dan atau penanggung jawab menanyakan latar belakang,
alasan, dan sebabnya, serta mengambil kesimpulan apakah menerima
penyimpangan tersebut atau tidak.
Pengarah menggunakan program pemeriksaan dan formulir harapan
penugasan sebagai kriteria penilaian. Pengarah menggunakan program
pemeriksaan dan formulir harapan penugasan tersebut sebagai acuan untuk
mengetahui apakah pemeriksaan yang dilakukan dan laporan yang disusun
telah sesuai.
Untuk menjamin agar penilaian masing-masing orang yang melakukan
supervisi bisa seragam terhadap kriteria supervisi, orang yang melakukan
supervisi tersebut harus menggunakan harapan penugasan sebagai acuan.
Hasil supervisi dituangkan dalam kertas kerja pemeriksaan yang sesuai
dengan pengungkapan persetujuan atau catatan disertai paraf dan tanggal.

3. Supervisi Pelaksanaan Program Pemeriksaan


Supervisi pelaksanaan
program pemeriksaan
dilakukan oleh ketua tim,
pengendali teknis, dan
penanggung jawab secara
berjenjang.

Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan dilakukan oleh ketua tim


dengan membubuhkan tick mark atau catatan dengan paraf dan tanggal
pada program pemeriksaan yang dijadikan kertas kerja pemeriksaan.
Supervisi juga dilakukan terhadap substansi yang dihasilkan dalam
pelaksanaan pemeriksaan.
Pengendali teknis menguji hasil supervisi yang dilakukan oleh ketua tim
terhadap pelaksanaan program pemeriksaan serta mereviu secara uji petik
atas langkah pemeriksaan dalam program pemeriksaan tersebut dan melihat
hasil pemeriksaan apakah telah sesuai dengan program pemeriksaan. Hasil
supervisi pengendali teknis diungkapkan dalam program pemeriksaan yang
akan dijadikan kertas kerja pemeriksaan (yang telah disupervisi ketua tim
pemeriksaan) dengan membubuhkan catatan dan paraf serta tanggal
supervisi dilakukan.
Penanggung jawab mereviu pekerjaan pengendali teknis atas supervisi
program pemeriksaan dan melakukan reviu secara uji petik hasil supervisi
tersebut. Hasil supervisi diungkapkan dengan membuat catatan, paraf, dan
tanggal pelaksanaan supervisi dalam program pemeriksaan yang telah
diberikan catatan oleh pengendali teknis dan ketua tim. Apabila catatancatatan tersebut tidak dapat atau tidak mungkin dilaksanakan, maka akan
didiskusikan dengan pemberi catatan untuk memperoleh keputusan
selanjutnya yang diparaf oleh pemberi catatan.
Pengarah mereviu pekerjaan penanggung jawab atas supervisi program
pemeriksaan sehingga bisa diketahui apakah pemeriksaan telah berjalan
sesuai dengan program pemeriksaan dan mengacu pada formulir harapan
penugasan.

4. Supervisi Penyusunan dan Substansi Laporan Hasil Pemeriksaan


Ketua tim melakukan
supervisi proses penyusunan
dan substansi konsep
laporan hasil pemeriksaan
atas LKPP dan LKKL.
Litbang Pemeriksaan

Ketua tim melakukan supervisi proses penyusunan dan bertanggung jawab


atas susbstansi konsep laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LKKL.
Supervisi tersebut meliputi (1) kesesuaian dengan standar, pedoman,
petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis yang terkait; (2) materi laporan;
Badan Pemeriksa Keuangan

37

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab IV Supervisi

(3) keakuratan angka; (4) tata bahasa; dan (5) waktu pelaporan.
Hasil supervisi berupa persetujuan atau catatan di dalam konsep laporan
hasil pemeriksaan yang disertai dengan paraf dan tanggal.

Pengendali teknis dan atau


penanggung jawab
melakukan supervisi
penyusunan dan substansi
laporan hasil pemeriksaan
atas LKPP dan LKKL.

Pengendali teknis dan atau penanggung jawab melakukan supervisi


penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LKKL
baik melalui catatan dalam konsep laporan tersebut atau dalam pemberian
pendapat atau arahan dalam pemantauan laporan tersebut. Catatan atas
konsep laporan harus diparaf dan diberi tanggal. Untuk pendapat atau
arahan, maka ketua tim pemeriksa bertanggung jawab menyusun risalah
pemantauan yang diparaf oleh pengendali teknis dan penanggung jawab.
Pengarah melakukan supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil
pemeriksaan atas LKPP dan LKKL yang telah direviu oleh pengendali teknis
dan atau penganggung jawab sehingga bisa diketahui apakah laporan hasil
pemeriksaan dimaksud telah sesuai dengan program pemeriksaan dan
formulir harapan penugasan.
Untuk mengendalikan mutu pelaporan digunakan Lembar Kendali
Penyelesaian Laporan (LKPL) yang digunakan untuk memonitor ketepatan
waktu penyelesaian laporan pemeriksaan. Bentuk LKPL dimuat dalam
Lampiran 4.3. LKPL ditempatkan pada map yang menjadi sampul pengantar
berkas KHP beserta konsep surat keluar.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

38

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Bab V Pemeriksaan Interim

BAB V
PEMERIKSAAN INTERIM
1. Pengertian Pemeriksaan Interim
Pemeriksaan interim atas
LKPP dan LK KL merupakan
pemeriksaan keuangan yang
dilakukan pada tahun
berjalan atau sebelum LKPP
diserahkan.

Pemeriksaan interim atas LKPP dan LK KL merupakan pemeriksaan


keuangan yang dilakukan pada tahun berjalan atau sebelum LKPP dan LK
KL diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
Pemeriksaan interim atas LKPP dan LK KL dapat dilakukan pada tahun
berjalan, yaitu pada semester II setelah selesainya laporan realisasi
semester I. Pemeriksaan interim dapat dilakukan pada tahun berikutnya
setelah tahun anggaran berakhir, tetapi sebelum LKPP dan LK KL
diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
Pemeriksaan interim merupakan bagian dari pemeriksaan atas LKPP dan
LK KL dan merupakan praktik yang lazim dalam pemeriksaan laporan
keuangan.

Pemeriksaan interim
merupakan alternatif
pemecahan keterbatasan
waktu pemeriksaan Badan
Pemeriksa Keuangan atas
LKPP dan LK KL.

Pelaksanaan pemeriksaan interim atas LKPP dan LK KL merupakan


alternatif pemecahan keterbatasan waktu pemeriksaan Badan Pemeriksa
Keuangan atas LKPP dan LK KL yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan, yaitu 2 (dua) bulan setelah Badan Pemeriksa
Keuangan menerima LKPP dan LK KL. Sebelum LKPP dan LK KL diterima
Badan Pemeriksa Keuangan, pemeriksaan interim dapat dilakukan
khususnya terhadap sistem pengendalian intern, kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan, pemantauan tindak lanjut laporan hasil
pemeriksaan sebelumnya, dan pengumpulan data serta informasi lain terkait
dengan LKPP dan LK KL yang akan diperiksa.

2. Tujuan Pemeriksaan Interim


Tujuan pemeriksaan interim
sama dengan tujuan
pemeriksaan LKPP dan LK
KL, dengan sasaran khusus.

Tujuan pemeriksaan interim sama dengan pemeriksaan keuangan, dengan


sasaran khusus untuk (1) pemberian kesimpulan hasil reviu atas efektivitas
sistem pengendalian intern, (2) pemberian kesimpulan hasil reviu atas
kepatuhan atas peraturan perundang-undangan, dan (3) perolehan data dan
informasi untuk pengembangan perencanaan pemeriksaan LKPP dan LK
KL.
Apabila objek pemeriksaan baru pertama kali diperiksa maka dilakukan
survai pendahuluan yang berfungsi sebagai pemeriksaan interim.

3. Lingkup Pemeriksaan Interim


Lingkup pemeriksaan interim:
SPI, kepatuhan, realisasi
anggaran semester I,
pemantauan tindak lanjut,
dan data serta informasi lain
terkait LKPP dan LK KL.

Litbang Pemeriksaan

Lingkup pemeriksaan interim LKPP dan LK KL meliputi (1) sistem


pengendalian intern, (2) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan, (3) realisasi anggaran semester I, (4) pemantauan tindak lanjut
laporan hasil pemeriksaan sebelumnya, dan (5) informasi lain yang terkait
dengan LKPP dan LK KL.

Badan Pemeriksa Keuangan

39

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Bab V Pemeriksaan Interim

4. Metodologi Pemeriksaan Interim


Metodologi pemeriksaan
interim meliputi
perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan hasil
pemeriksaan.
Perencanaan pemeriksaan
interim sama dengan
perencanaan pemeriksaan
atas LKPP dan LK KL, yaitu
sampai tersedianya program
pemeriksaan dan PKP.

Metodologi pemeriksaan interim atas LKPP dan LK KL meliputi


perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan, dan pelaporan hasil
pemeriksaan.
a. Perencanaan Pemeriksaan Interim
Perencanaan
pemeriksaan
interim
harus
dimulai
dengan
mempertimbangkan kegiatan pemeriksaan interim di dalam anggaran.
Kualifikasi pemeriksa untuk pemeriksaan interim sama dengan kualifikasi
pemeriksa atas LKPP dan LK KL.
Perencanaan pemeriksaan interim dilakukan dengan langkah-langkah
yang sama dengan pemeriksaan laporan keuangan tahunan, yaitu mulai
dengan pemahaman tujuan dan harapan penugasan sampai dengan
penyusunan program pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan
(PKP).
Pelaksanaan persiapan pemeriksaan interim tersebut didasarkan pada
pemeriksaan atas LKPP dan LK KL tahun sebelumnya, laporan realisasi
anggaran semester I, dan hasil pemantauan tindak lanjut. Dengan
demikian, pemeriksa harus melihat kertas kerja pemeriksaan atas LKPP
dan LK KL tahun sebelumnya, surat penjelasan tindak lanjut, dan laporan
realisasi semester I untuk penyusunan program pemeriksaan dan PKP.
Program pemeriksaan tersebut harus disetujui oleh penanggung jawab
pemeriksaan.
b. Pelaksanaan Pemeriksaan Interim

Pelaksanaan pemeriksaan
interim difokuskan sesuai
lingkup pemeriksaan interim.

Mekanisme pelaksanaan pemeriksaan interim sama dengan mekanisme


pemeriksaan keuangan, tetapi pemeriksaan interim tidak memberikan
opini.
Jangka waktu pelaksanaan pemeriksaan interim bisa lebih panjang atau
kurang dari jangka waktu pelaksanaan pemeriksaan finalnya, tergantung
pemahaman pemeriksa atas entitas yang akan diperiksa.
Pelaksanaan pemeriksaan interim dilakukan dengan melakukan: (1)
pemahaman dan pengujian sistem pengendalian intern dan (2) identifikasi
ketidakpatuhan yang berdampak material.
Pemahaman dan pengujian sistem pengendalian intern serta identifikasi
ketidakpatuhan yang berdampak material tersebut dilakukan terhadap
pengelolaan keuangan pemerintah pusat khususnya realisasi
pendapatan, belanja, dan pembiayaan semester I serta dampak terhadap
aset/kewajiban/ekuitas dana. Selain itu, pemeriksa juga memperhatikan
hasil pemeriksaan sebelumnya dan tindak lanjut yang dilakukan oleh
pemerintah pusat.
Hasil pelaksanaan pemeriksaan interim dituangkan dalam lembar utama
kertas kerja pemeriksaan yang diparaf dan diberi tanggal oleh pemeriksa,
serta direviu oleh ketua tim dan seterusnya.
c. Pelaporan Pemeriksaan Interim

Laporan hasil pemeriksaan


interim berupa temuan
pemeriksaan yang tidak
disampaikan kepada
pemerintah pusat dan DPR.

Litbang Pemeriksaan

Pelaporan pemeriksaan interim dilakukan dengan menyusun temuan


pemeriksaan terkait dengan sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan tersebut tidak
disampaikan kepada DPR dan entitas yang diperiksa serta tidak masuk
ke Hapsem, tetapi hanya untuk kepentingan internal BPK dan
Badan Pemeriksa Keuangan

40

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Bab V Pemeriksaan Interim

pemeriksaan atas laporan keuangan selanjutnya.


Struktur laporan hasil pemeriksaan interim terdiri atas (1) Ringkasan
Eksekutif dan (2) Temuan Pemeriksaan.
Ringkasan Eksekutif berisi ringkasan temuan pemeriksaan ditambah
dengan pengantar berupa dasar pemeriksaan, tujuan pemeriksaan, dan
lingkup pemeriksaan. Ringkasan Eksekutif dimuat di awal laporan setelah
daftar isi atau informasi lain yang penting disampaikan.
Temuan pemeriksaan mengungkapkan kondisi, kriteria, akibat, dan
sebab. Temuan pemeriksaan tersebut diklasifikasikan dalam temuan
terkait dengan sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan. Temuan pemeriksaan interim juga
mengungkapkan hasil pemeriksaan baik negatif maupun positif.
Proses penyusunan laporan dilakukan secara berjenjang dari ketua tim
sampai dengan pengarah dengan jadwal yang sama dengan penyusunan
laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LK KL tahunan. Konsep
laporan tersebut dibahas oleh penanggung jawab dan atau pengendali
teknis dan tim pemeriksa dengan pejabat yang berwenang untuk
mendapatkan tanggapan resmi.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

41

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab VI Pemantauan Tindak Lanjut

BAB VI
PEMANTAUAN TINDAK LANJUT
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
1. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan
Tindak lanjut laporan hasil
pemeriksaan merupakan
kewajiban pemerintah pusat.

Tindak lanjut hasil pemeriksaan dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah


pusat menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK atas LKPP dan LK KL
dan memberikan jawaban/keterangan mengenai tindak lanjut tersebut paling
lambat 60 (enam puluh) hari sejak laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan
LK KL diterima.
Pemeriksa memantau tindak lanjut hasil pemeriksaan. Pemantauan tersebut
dilakukan setelah menerima jawaban/ keterangan dimaksud atau pada saat
pemeriksaan yang akan datang seperti diungkapkan dalam petunjuk persiapan
pemeriksaan. Tidak ada batasan tahun LHP yang ditindaklanjuti, selama
temuan belum ditindaklanjuti maka pemeriksa perlu terus memantau tindak
lanjut. Hasil pemantauan setelah menerima jawaban/ keterangan tersebut
disampaikan kepada DPR. Hasil pemantauan dalam pemeriksaan digunakan
untuk pengembangan prosedur pemeriksaan selanjutnya.
Pemantauan tindak lanjut tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan, antara
lain: (1) memberitahukan secara tertulis kewajiban tindak lanjut tersebut
kepada pemerintah pusat, (2) mereviu atas jawaban/keterangan dari
Pemerintah Pusat, (3) melaporkan pemantauan tindak lanjut, dan (4)
melakukan pemantauan tindak lanjut pada saat pemeriksaan.

2. Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut


Pemberitahuan tertulis tentang
kewajiban tindak lanjut
merupakan informasi kepada
pejabat berwenang untuk
melakukan penjelasan tindak
lanjut hasil pemeriksaan.
.

Pemberitahuan tertulis tentang kewajiban tindak lanjut merupakan informasi


kepada pejabat berwenang untuk melakukan penjelasan tindak lanjut hasil
pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan sesuai dengan Pasal 20 UU No. 15
Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara. Pemberitahuan tersebut dilakukan dengan menyampaikan
surat dari Anggota Pembina Utama Badan Pemeriksa Keuangan kepada
pemerintah pusat mengenai kewajiban memberikan penjelasan/keterangan
tindak lanjut hasil pemeriksaan.
Pemberitahuan tertulis tersebut dapat dilakukan melalui surat pengantar
penyampaian laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LK KL dalam satu
paragraf akhir surat atau melalui surat terpisah setelah penyampaian laporan
hasil pemeriksaan dimaksud.

3. Reviu atas Jawaban/Keterangan Pemerintah Pusat


Reviu atas jawaban/keterangan
pemerintah pusat dilakukan tim
pemeriksa untuk melihat
kesesuaian pelaksanaan tindak
lanjut dengan rekomendasi BPK.

Reviu atas jawaban/keterangan pemerintah pusat dilakukan tim pemeriksa


untuk melihat kesesuaian pelaksanaan tindak lanjut dengan rekomendasi BPK
dalam laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LK KL. Kesimpulan reviu
tersebut antara lain (1) telah sesuai dengan rekomendasi, (2) belum sesuai
dengan rekomendasi, dan (3) belum ditindaklanjuti.
Hasil reviu tersebut disampaikan ketua tim kepada pengendali teknis dan atau
penanggung jawab untuk direviu dan disetujui. Selanjutnya, penanggung
jawab (dalam hal ini Angbintama II) menyampaikan kepada Badan untuk
kemudian disampaikan kepada DPR.

Litbang Pemeriksaaan

Badan Pemeriksa Keuangan

42

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab VI Pemantauan Tindak Lanjut

4. Pelaporan atas Pemantauan Tindak Lanjut


Hasil pemantauan tindak lanjut
tersebut dituangkan dalam
laporan hasil pemantauan tindak
lanjut.

Hasil pemantauan tindak lanjut tersebut dituangkan dalam laporan hasil


pemantauan tindak lanjut dengan kesimpulan:
(1) selesai sesuai dengan
rekomendasi, (2) belum selesai sesuai rekomendasi, atau (3) belum
ditindaklanjuti. Laporan Pemantauan Tindak Lanjut tersebut ditandatangani
oleh Anggota Pembina Utama Badan Pemeriksa Keuangan untuk
disampaikan kepada DPR, DPD, dan presiden. Untuk LK KL, ditembuskan ke
Inspektorat Jenderal masing-masing kementerian negara/lembaga.
Bentuk laporan tindak lanjut dapat dilihat pada lampiran 6.1.

5. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan


Pemeriksa wajib melakukan
pemantauan atas tindak lanjut
yang dilakukan pemerintah
pusat.

Pemeriksa wajib melakukan pemantauan atas tindak lanjut yang dilakukan


oleh Pemerintah Pusat terhadap laporan hasil pemeriksaan atas LKPP dan LK
KL yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan metodologi
pemeriksaan seperti dijelaskan dalam Bab 3.
Hasil pemantauan tindak lanjut pada saat pemeriksaan mengembangkan
prosedur pemeriksaan selanjutnya. Hal tersebut meliputi antara lain atas
kemungkinan terjadinya temuan yang berulang atau keyakinan pemeriksa atas
kewajaran transaksi atau akun pada LKPP dan LK KL yang diperiksa yang
pada pemeriksaan sebelumnya terjadi kelemahan.

Litbang Pemeriksaaan

Badan Pemeriksa Keuangan

43

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Bab VII Kertas Kerja Pemeriksaan

BAB VII
KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (KKP)
1. Pengertian KKP
Kertas kerja pemeriksaan (KKP)
merupakan dokumentasi
pemeriksa dalam pelaksanaan
pekerjaan.

KKP berfungsi untuk


membuktikan bahwa pemeriksa
telah melaksanakan
pemeriksaan sesuai standar
pemeriksaan dan untuk
membantu pelaksanaan
supervisi oleh pengendali teknis
dan atau penanggung jawab.

Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) merupakan dokumentasi pemeriksa di


dalam pelaksanaan pekerjaan. KKP tersebut berfungsi untuk membuktikan
bahwa pemeriksa telah melaksanakan pemeriksaan sesuai standar
pemeriksaan dan untuk membantu pelaksanaan supervisi oleh pengendali
teknis dan atau penanggung jawab. Tujuan KKP adalah:
Sebagai dasar dalam merencanakan pemeriksaan (dengan
mempelajari KKP pemeriksaan sebelumnya)
Mendokumentasikan catatan dan bukti-bukti serta hasil pengujian yang
dilakukan
Sebagai dasar untuk memberikan opini
Sebagai dasar dalam melakukan reviu dan supervisi
Sebagai dasar jika dilakukan peer review

2. Jenis KKP
KKP atas LKPP dan LK KL terdiri
atas dua hal, yaitu: Lembar KKP
Utama dan Lembar KKP
Pendukung.

KKP atas LKPP dan LKKL disusun berdasarkan kelompok A (permanen file),
B (pelaksanaan prosedur), dan C (laporan). Dari pengaturan tersebut, KKP
dikelompokkan juga dalam KKP Utama dan KKP Pendukung.
a.

KKP Lembar Utama


KKP utama merupakan KKP yang menjelaskan laporan keuangan
pokok dan dokumentasi koreksi/penyesuaian dan informasi mengenai
komunikasi dengan KKP pendukung (worksheet).
Contoh KKP Utama dapat dilihat pada Lampiran 7.1

b.

Lembar KKP Pendukung


KKP Pendukung merupakan sub KKP utama yang merupakan rincian
dari KKP Utama.
Lembar KKP Pendukung merupakan sub KKP utama yang merupakan
rincian dari KKP utama. Lembar KKP Pendukung berisi bukti-bukti yang
mendukung hasil dan kesimpulan pemeriksaan. Lembar KKP
Pendukung perlu diidentifikasi halaman dan jumlah halaman serta No.
indeks KKP.
Contoh KKP Pendukung dapat dilihat pada Lampiran 7.2

Untuk mempermudah pencarian, KKP perlu disusun secara rapi dan teratur.
Setiap Lembar KKP Utama beserta Lembar KKP Pendukungnya
digabungkan dalam satu cover sheet KKP.
Contoh cover sheet KKP dapat dilihat pada Lampiran 7.3

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

44

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Bab VII Kertas Kerja Pemeriksaan

3. Indeks KKP
Lembar KKP
terdiri atas
KKP indeks A,
B, dan C.

KKP disusun berdasarkan indeks sesuai indeks laporan keuangan.


Penyimpanan lembar KKP dilakukan dengan mengelompokkan KKP
menjadi KKP kelompok A, B dan C. Kelompok KKP A terdiri atas himpunan
KKP yang bersifat permanen dan dapat dipergunakan berulangkali dalam
kegiatan pemeriksaan, misalnya peraturan perundang-undangan, kebijakan
auditee, dan lain-lain. KKP kelompok A disimpan menggunakan map
berwarna merah muda. KKP Kelompok B memuat himpunan KKP
mengenai data dan informasi yang bersifat aktual dan penggunaannya
terbatas untuk kegiatan pemeriksaan tertentu. KKP Kelompok B disimpan
menggunakan map berwarna kuning muda. KKP kelompok C terdiri atas
himpunan laporan temuan pemeriksaan (LTP) yang memuat informasi
aktual. KKP kelompok C disimpan menggunakan map berwarna hijau
muda. Lembar KKP Utama dan Pendukung dimasukkan ke dalam map
sesuai indeks KKP tersebut.
Contoh Indeks KKP dapat dilihat pada Lampiran 7.4.

4. Pemeliharaan KKP
KKP harus
diarsipkan.

KKP harus disimpan dan disusun (diarsipkan). Dalam jangka waktu satu
tahun, KKP tersebut diarsipkan oleh masing-masing auditorat. Untuk tahun
selanjutnya, KKP tersebut diarsipkan bersama dengan arsip LKPP dan LK
KL di bagian pengarsipan.

5. Serah Terima KKP


KKP
diserahterima
kan ke
struktural
setelah LHP
diterbitkan.

Litbang Pemeriksaan

Begitu Laporan Hasil Pemeriksaan diterbitkan, KKP harus diserahterimakan


ke struktural dan dibuat berita acara serah terimanya. Dalam berita acara
serah terima tersebut harus dinyatakan bahwa KKP telah dicek dan sesuai
dengan standar.
Contoh Berita Acara Serah Terima KKP dapat dilihat pada Lampiran 7.5.

Badan Pemeriksa Keuangan

45

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab VIII Pengendalian dan Penjaminan Mutu

BAB VIII
PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU
1. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu
SPKN dalam pernyataan standar umum
keempat mensyaratkan bagi setiap
organisasi pemeriksa yang
melaksanakan pemeriksaan berdasarkan
SPKN untuk memiliki sistem
pengendalian mutu yang memadai, dan
sistem pengendalian mutu tersebut harus
direviu oleh pihak lain yang
berkompeten.

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam pernyataan


standar umum keempat mensyaratkan bagi setiap organisasi
pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN untuk
memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem
pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang
berkompeten.
Terkait dengan hal tersebut maka dalam rangka pemeriksaan atas
LKPP dan LKKL dibutuhkan adanya pengendalian mutu dan
penjaminan mutu.

2. Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu


Pengendalian mutu memastikan bahwa
proses pemeriksaan telah dilaksanakan
sesuai dengan perencanaan
pemeriksaan dan harapan penugasan
serta telah memenuhi SPKN.

Pengendalian mutu merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan


untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilaksanakan
sesuai dengan perencanaan pemeriksaan dan harapan penugasan
pemeriksaan, serta telah memenuhi SPKN.

Penjaminan mutu memastikan bahwa


proses pengendalian mutu telah
dilaksanakan.

Sedangkan penjaminan mutu merupakan tindakan untuk memastikan


bahwa proses pengendalian mutu telah dilaksanakan.

3. Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu


Pengendalian mutu dilaksanakan melalui
2 bentuk pengendalian, yaitu : (1)
pengendalian mutu oleh Tim secara
berjenjang, dan (2) pengendalian mutu
oleh penanggung jawab penugasan.

a. Proses Pengendalian Mutu


Pengendalian mutu dilaksanakan melalui 2 bentuk pengendalian,
yaitu : (1) pengendalian mutu oleh Tim secara berjenjang, dan (2)
pengendalian mutu oleh penanggung jawab penugasan.
1) Pengendalian mutu oleh Tim
Dilakukan secara berjenjang oleh Kasub Tim/Ketua Tim,
Pengendali Teknis dan Penanggungawab Tim.
Subtansi
pengendalian yang dilakukan oleh Tim lihat uraian Bab IV tentang
Supervisi.
2) Pengendalian mutu oleh penanggung jawab penugasan
Penanggung jawab penugasan merupakan pejabat setingkat
eselon I yang bertanggungjawab untuk memastikan bahwa
pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan SPKN dan
Laporan Hasil Pemeriksaan telah sesuai dengan harapan
penugasan.
b. Proses Penjaminan Mutu

Penjaminan mutu dilaksanakan oleh


penanggung jawab penugasan, unit kerja
pengawasan internal BPK-RI dan pihak
lain yang berkompeten

Penjaminan mutu dilaksanakan oleh penanggung jawab penugasan,


unit kerja pengawasan internal BPK-RI dan pihak lain yang
berkompeten.
Penanggung
jawab
penugasan
bertanggungjawab
untuk
memastikan bahwa seluruh proses pengendalian mutu oleh Tim

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

46

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab VIII Pengendalian dan Penjaminan Mutu

telah dilaksanakan.
Unit kerja pengawasan internal BPK-RI dapat melakukan
pengawasan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh Tim untuk
memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan dan telah memenuhi persyaratan yang dimuat dalam
SPKN.
Pihak lain yang berkompeten dapat melakukan reviu atas desain
pengendalian mutu dan pelaksanaan pengendalian mutu yang
dikembangkan oleh BPK-RI. Pelaksanaan reviu pengendalian mutu
oleh organisasi pemeriksa ekstern yang berkompeten tersebut harus
memenuhi persyaratan yang dimuat dalam SPKN.

4. Pendokumentasian Pengendalian dan Penjaminan Mutu


Proses pengendalian dan penjaminan
mutu harus didokumentasikan untuk
memudahkan dalam proses reviu oleh
pihak lain yang berkompeten.

Proses pengendalian dan penjaminan mutu harus didokumentasikan


untuk memudahkan dalam proses reviu oleh pihak lain yang
berkompeten.
Contoh check list pengendalian mutu dan penjaminan mutu dapat
dilihat pada Lampiran 8.1.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

47

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Bab IX Penutup

BAB IX
PENUTUP
1. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL
Juknis pemeriksaan ini mulai berlaku
untuk pemeriksaan atas LKPP dan
LKKL tahun 2006.

Petunjuk teknis pemeriksaan atas LKPP dan LKKL ini mulai berlaku
untuk pemeriksaan atas LKPP dan LKKL tahun 2006 sesuai dengan
Surat Keputusan BPK.

2. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL


Pemutakhiran juknis pemeriksaan
LKPP dan LKKL dapat berupa
perubahan juknis atau penjelasan
substansi.

Pemutakhiran petunjuk teknis pemeriksaan atas LKPP dan LKKL


dapat berupa perubahan petunjuk teknis dimaksud atau penjelasan
atas substansi petunjuk teknis tersebut.
Perubahan atas petunjuk teknis ini akan disampaikan secara resmi
melalui surat keputusan tentang perubahan petunjuk teknis dimaksud.
Penjelasan atas substansi petunjuk teknis atas LKPP dan LKKL
disampaikan secara tertulis dari tim pemantauan petunjuk teknis atas
LKPP dan LKKL pada Bidang Penelitian dan Pengembangan
Pemeriksaan, Inspektorat Penelitian dan Pengembangan, Inspektorat
Perencanaan, Analisa dan Evaluasi, Badan Pemeriksa Keuangan.

3. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL


Pemantuan juknis pemeriksaan LKPP
dan LKKL dilakukan oleh tim
pemantauan pada Bidang Litbang
Pemeriksaan Badan Pemeriksa
Keuangan

Litbang Pemeriksaaan

Petunjuk teknis ini merupakan dokumen yang dapat berubah sesuai


dengan perubahan peraturan perundang-undangan, standar
pemeriksaan, dan kondisi lain. Oleh karena itu, pemantauan atas
juknis ini akan dilakukan oleh tim pemantauan juknis pemeriksaan
LKPP dan LKKL. Selain itu, masukan atau pertanyaan terkait dengan
petunjuk teknis ini dapat disampaikan kepada:
Bidang Penelitian dan Pengembangan Pemeriksaan
Inspektorat Penelitian dan Pengembangan
Inspektorat Utama Perencanaan, Analisa, dan Evaluasi
Lantai II Gedung Arsip, BPK-RI
Jl. Gatot Subroto 31 Jakarta 10210
Telp. (021)-5704395 pesawat 104, 730
Email: kabidlitbang@bpk.go.id

Badan Pemeriksa Keuangan

48

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Referensi

REFERENSI
BPK-RI (2007), Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, Jakarta, 7 Maret
------(2006), Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
Tahun 2005, Jakarta
-------(2004), Himpunan Undang-Undang di Bidang Keuangan Negara, Jakarta: Setjen
BPK-RI
-------(2003), Final Draft Petunjuk Pelaksanaan Audit Keuangan, Jakarta: Setjen BPK-RI
------ (2003), Final Draft Petunjuk Teknis Penetapan Batas Materialitas, Jakarta: Setjen
BPK-RI
-------(2003), Final Draft Petunjuk Teknis Uji Petik Pemeriksaan, Jakarta: Setjen BPK-RI
-------(2003), Final Draft Petunjuk Teknis Pengujian Sistem Pengendalian Intern dan
Sistem Pengendalian Manajemen, Jakarta: Setjen BPK-RI
-------(2003), Petunjuk Teknis Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat,
Jakarta: Setjen BPK-RI
International Monetary Fund (2001), Manual on Fiscal Transparency, Washington D.C:
IMF Fiscal Affairs Departement
Ikatan Akuntan Indonesia (2005), Standar Profesional Akuntan Publik, Jakarta: PT
Salemba Empat
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005, Standar Akuntansi Pemerintahan
Messier, W. F., Glover, S.M., Prawitt, D.F. (2006), Auditing & Assurance Services: A
Systematic Approach, Fourth Edition, New York: McGraw-Hill/Irwin

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

49

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran- Lampiran

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 1.1

Daftar Perangkat Lunak Pemeriksaan Yang Diusulkan Untuk Dinyatakan Tidak Berlaku Terkait Dengan Diberlakukannya Petunjuk Teknis
Pemeriksaan LKPP dan LKKL
No.
1.

Nama Perangkat Lunak


Pedoman Pemeriksaan Atas Perhitungan Anggaran Negara
(PAN) Tahun 2001

Kode

Surat Keputusan
SK Sekjen No.09/I-VIII.3.4/2001
Tanggal 18 Maret 2002

2.

Juknis Pemeriksaan Laporan Realisasi Kementerian


Negara/Lembaga Tahun 2003

MP 3.A.47.a

SK Sekjen No.129/SK/VIII.VIII.3/6/2004
Tanggal 10 Juni 2004

3.

Juknis Pemeriksaan Anggaran Negara

MP 3.A.48.a

4.

Juknis Penyusunan Kertas Kerja Pemeriksaan, Laporan Hasil


Pemeriksaan, Surat Keluar, dan Arsip Pemeriksaan

MP-B-02

SK Sekjen No.130/SK/VIII.VIII.3/6/2004
Tanggal 10 Juni 2004
Sk Ketua No. 08/SK/K/1996
Tanggal 18 Maret 1996

5.

Juknis Pemeriksaan atas Pembukuan dan Perhitungan


Anggaran Negara

MPC-C-09

6.

Juknis Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat

MP 2.49

Sk Sekjen No. 153/SK/VIII.VIII.3/7/2005


Tanggal 6 juli 2005

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.1

PENGERTIAN UMUM
PENGELOLAAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT

1. Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta
segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara
berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Keuangan Negara sebagaimana
dimaksud meliputi hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan
melakukan pinjaman, kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum
pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga, Penerimaan Negara, Pengeluaran
Negara, Penerimaan Daerah, Pengeluaran Daerah;kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola
sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang
dapat dinilai dengan uang,termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/
perusahaan daerah, kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka
penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum, kekayaan pihak lain yang
diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.
2. Pemerintah adalah pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.
3. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar 1945.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi,
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945
5. Perusahaan Negara adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya dimiliki oleh
Pemerintah Pusat.
6. Perusahan Daerah adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya dimiliki oleh
Pemerintah Daerah.
7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR.
8. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan daerah yang disetujui DPRD.
9. Penerimaan negara adalah uang yang masuk ke kas negara.
10. Penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah.
11. Pengeluaran negara adalah uang yang keluar dari kas negara.
12. Pengeluaran daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah.
13. Pendapatan negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih.
14. Belanja negara adalah kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan
bersih.
15. Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih.
16. Belanja daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan
bersih.
17. Pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan
diterima kembali, balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.
18. Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yagn dijual
tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada
prinsip efisiensi dan produktivitas, yang pengelolaan keuangannnya diselenggarakan sesuai
ketentuan yang berlaku.
19. Barang Milik Negara (BMN) adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau
berasal dari perolehan lainnya yang sah.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.1

20. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) adalah laporan yang menyajukan informasi tentang
penjelasan atau daftar terinci atau analisa atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan
Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas dalam rangka pengungkapan yang memadai.
21. Dokonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada gubernur sebagai wakil
pemerintah.
22. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai
wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan
Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah..
23. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang
mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanan Tugas pembantuan.
24. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintah pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya
wajib menyelanggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada
entitas pelaporan.
25. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang
menurut
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
wajib
menyampaikan
laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
26. Laporan Keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas,
dan Catatan atas Laporan Keuangan.
27. Laporan Realisasi Anggaran adalah laporan yang menyajikan informasi realisasi pendapatan,
belanja, transfer, surplus/defisit dan pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran yang
masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.
28. Laporan Arus Kas adalah laporan yang menyajikan informasi arus masuk dan keluar kas selama
periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset non keuangan,
pembiayaan, dan non anggaran.
29. Laporan BMN adalah laporan yang menyajikan posisi BMN pada awal dan akhir suatu periode serta
mutasi BMN yang terjadi selama periode tersebut.
30. Neraca adalah laporan yang menyajikan informasi posisi keuangan pemerintah yaitu aset, utang dan
ekuitas dana pada tanggal tertentu.
31. Pengguna anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian
Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah.
32. Rekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan beberapa
sistem/subsistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama.
33. Satuan Kerja adalah kuasa pengguna anggaran/pengguna barang yang merupakan bagian dari
suatu unit organisasi pada kementerian negara/lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa
kegiatan dari suatu program.
34. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang
bertanggungjawab kepada gubernur/bupati/walikota dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan
yang terdiri dari sekretaris daerah, dinas daerah dan lembaga teknis daerah, kecamatan, desa, dan
satuan polisi pamong praja sesuai dengan kebutuhan daerah.
35. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah serangkaian prosedur manual maupun yang
terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan
posisi keuangan dan operasi keuangan Pemerintah Pusat.
36. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi
mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan
dan operasi keuangan pada Kementerian Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
37. Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) adalah sub SiAP yang menghasilkan Laporan Arus
Kas dan Neraca Kas Umum Negara yang selanjutnya disebut Neraca KUN.
38. Sistem Akuntansi Umum (SAU) adalah sub SiAP yang menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran
Pemerintah Pusat dan Neraca.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.1

39. Sistem Akuntansi Instansi (SAI) adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi
mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan
dan operasi keuangan pada Kementerian Negara/Lembaga.
40. Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN) adalah sub sistem dari SAI yang merupakan
serangkaian prosedur yang saling berhubungan untuk mengolah dokumen sumber dalam rangka
menghasilkan informasi untuk penyusunan neraca dan laporan BMN serta laporan manajerial lainnya
sesuai ketentuan yang berlaku.
41. Sistem Pengendalian Intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh manajemen yang diciptakan
untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiensi, ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan keandalan penyajian laporan keuangan
pemerintah.
42. Standar Akuntansi Pemerintahan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun
dan menyajikan laporan keuangan pemerintah.
43. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa atau sebutan
lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang
menugaskan.
44. Unit Akuntansi Instansi adalah unit organisasi kementerian negara/lembaga yang bersifat fungsional
yang melaksanakan fungsi akuntansi dan pelaporan keuangan instansi yang terdiri dari Unit
Akuntansi Keuangan dan Unit Akuntansi Barang.
45. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) adalah unit akuntansi instansi yang melakukan
kegiatan akuntansi dan pelaporan tingkat satuan kerja.
46. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) adalah unit akuntansi instansi
yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAKPA
yang berada dalam wilayah kerjanya.
47. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I (UAPPA-E1) adalah unit akuntansi instansi
yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAPPA-W
yang berada di wilayah kerjanya serta UAKPA yang langsung berada di bawahnya.
48. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA) adalah unit akuntansi instansi pada tingkat Kementerian
Negara/Lembaga (pengguna anggaran) yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik
keuangan maupun barang seluruh UAPPA-E1 yang berada di bawahnya.
49. UAPPA-W Dekonsentrasi adalah unit akuntansi yang berada di Pemerintah Daerah Provinsi yang
melakukan kegiatan penggabungan laporan keuangan dari seluruh SKPD yang mendapatkan alokasi
dana dekonsentrasi di wilayah kerjanya.
50. UAPPA-W Tugas Pembantuan adalah unit akuntansi yang berada di Pemerintah Daerah yang
melakukan kegiatan penggabungan laporan keuangan dari seluruh SKPD yang mendapatkan alokasi
dana tugas pembantuan di wilayah kerjanya.
51. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) adalah satuan kerja/kuasa pengguna barang yang
memiliki wewenang mengurus dan atau menggunakan BMN.
52. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang-Wilayah (UAPPB-W) adalah unit akuntansi BMN pada
tingkat wilayah atau unit kerja lain yang ditetapkan sebagai UAPPB-W dan melakukan kegiatan
penggabungan laporan BMN dari UAKPB, penanggungjawabnya adalah Kepala Kantor Wilayah atau
Kepala unit kerja yang ditetapkan sebagai UAPPB-W.
53. UAPPB-W Dekonsentrasi adalah unit akuntansi yang berada di Pemerintah Daerah Provinsi yang
melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari SKPD yang mendapatkan alokasi dana
dekonsentrasi di wilayah kerjanya.
54. UAPPB-W Tugas Pembantuan adalah unit akuntansi yang berada di Pemerintah Daerah yang
melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari SKPD yang mendapatkan alokasi dana tugas
pembantuan di wilayah kerjanya.
55. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I (UAPPB-E1) adalah unit akuntansi BMN pada
tingkat Eselon I yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAPPB-W, dan UAKPB
yang langsung berada dibawahnya yang penanggungjawabnya adalah pejabat Eselon I.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.1

56. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) adalah unit akuntansi BMN pada tingkat Kementerian
Negara/Lembaga yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAPPB-E1, yang
penanggungjawabnya adalah Menteri/Pimpinan Lembaga.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.2

Pengertian Dokumen
1. Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi keuangan yang
digunakan sebagai sumber atau bukti untuk menghasilkan data akuntansi.
2. Arsip Data Komputer (ADK) adalah arsip data berupa disket atau media penyimpan digital
lainnya yang berisikan data transaksi, data buku besar, dan/atau data lainnya.
3. Bagan Perkiraan Standar (BPS) adalah daftar perkiraan buku besar yang ditetapkan dan
disusun secara sistematis untuk memudahkan perencanaan dan pelaksanaan anggaran,
serta pembukuan dan pelaporan keuangan pemerintah.
4. Data Transaksi BMN adalah data berbentuk jurnal transaksi perolehan, perubahan, dan
penghapusan BMN yang dikirimkan melalui media ADK setiap bulan oleh petugas Unit
Akuntansi Kuasa Pengguna Barang kepada Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran di
tingkat satuan kerja.
5. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, yang selanjutnya disebut RKAKL, adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan
suatu kementerian negara/lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana kerja
pemerintah dan rencana strategis kementerian negara/lembaga yang bersangkutan dalam
satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.
6. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disebut DIPA atau dokumen lain yang
dipersamakan dengan DIPA adalah suatu dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh
Menteri/Pimpinan Lembaga atau satuan kerja serta disahkan oleh Direktur Jenderal
Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas
nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan
kegiatan.
7. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang dibuat
dan diajukan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan dan
disampaikan dan disampaikan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau
pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutnya diteruskan kepada pejabat
penerbit SPM berkenaan.
8. Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disebut SPM adalah dokumen yang diterbitkan
oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk
mencairkan dana yang bersumber dari DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan.
9. Surat Perintan Pencairan Dana yang selanjutnya disebut SP2D adalah surat perintah yang
diterbitkan KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara untuk pelaksanaan pengeluaran
atas beban APBN berdasarkan SPM.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

lampiran 2.3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.4

Entitas Pelaporan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
MAHKAMAH AGUNG
KEJAKSAAN AGUNG
KEPRESIDENAN
SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
DEPARTEMEN LUAR NEGERI
DEPARTEMEN PERTAHANAN
DEPARTEMEN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN
DEPARTEMEN KEUANGAN
DEPARTEMEN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
DEPARTEMEN PERHUBUNGAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DEPARTEMEN KESEHATAN
DEPARTEMEN AGAMA
DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
DEPARTEMEN SOSIAL
DEPARTEMEN KEHUTANAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN
DEPARTEMEN PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH
DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI
MENKO POLKAM
MENKO PEREKONOMIAN
MENKO KESEJAHTERAAN RAKYAT
KEMENTERIAN NEGARA KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
KEMENTERIAN NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI
KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
KEMENTERIAN NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH
KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
KEMENTERIAN NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA
KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT
KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN/BAPPENAS
BADAN INTELEJEN NEGARA
BADAN PUSAT STATISTIK
BADAN PERTANAHAN NASIONAL
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL
BADAN NARKOTIKA NASIONAL
BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
LEMBAGA SANDI NEGARA
DEWAN KETAHANAN NASIONAL
PERPUSTAKAAN NASIONAL
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL RI
MENEG PERCEPATAN PEMBANGUNAN KAWASAN TIMUR INDONESIA
KOMISI PEMERIKSA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA
KOMNAS HAM
KOMISI PEMILIHAN UMUM
MAHKAMAH KONSTITUSI

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.4

58. BAGIAN ANGGARAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN, meliputi:


a. BA 61 Ciciclan Bunga dan Pokok Utang
b. BA 62 Subsidi dan Transfer
c. BA 69 Belanja Lain-lain
d. BA 70 Dana Perimbangan
e. BA 71 Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang
f. BA 96 Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri
g. BA 97 Pembayaran Ciciclan Pokok Dalam Negeri
h. BA 98 Penerusan Pinjaman
i. BA 99 Penyertaan Modal Negara

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.5

Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) sebagai Subsistem dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat dapat
digambarkan sebagai berikut:
1. KPPN
Kantor Pelayanan dan Perbendaharaan Negara (KPPN) melakukan penatausahaan penerimaan dan
pengeluaran anggaran melalui dan dari kas negara. KPPN memproses data transaksi penerimaan
dan pengeluaran, baik anggaran maupun non anggaran. Dengan prosedur akuntansi sebagai berikut:
a.

Menerima dan menatausahakan dokumen sumber :


1) Menerima data DIPA, SKO dan dokumen lain yang dipersamakan termasuk revisinya.
2) Menerima dokumen sumber pengeluaran anggaran dan non anggaran berupa SPM,
SP2D, Nota Debet, Kiriman Uang (KU)-Keluar, Wesel Pemerintah, Daftar Penguji dan
bukti pendukung lainnya.
3) Menerima dokumen sumber penerimaan anggaran dan non anggaran berupa SSP,
SSBP, SSBC, Nota Kredit, KU-Masuk dan dokumen pendukung lainnya.

b.

Melakukan proses perekaman dokumen sumber, verifikasi, posting dan pelaporan


keuangan untuk transaksi anggaran dan non anggaran. Yang dilakukan oleh Seksi
Perbendaharaan, Seksi Persepsi, Seksi Bank/Giro Pos, dan Seksi Verifikasi dan
Akuntansi.

c.

Dokumen sumber yang direkam di Seksi Verifikasi dan Akuntansi adalah estimasi
pendapatan yang dialokasikan (DIPA).

d.

Seksi Verifikasi dan Akuntansi menerima data dari Seksi Bank dan Giro berupa disket (file)
yang kemudian di-up load dengan menggunakan aplikasi SIK-AK. Kemudian Seksi
Verifikasi dan Akuntansi melakukan verifikasi transaksi keuangan dan akuntansi. Jika
dalam proses verifikasi tersebut ditemukan kesalahan, maka Seksi Verifikasi dan Akuntansi
mengirimkan kembali kepada Seksi Bank dan Giro. Jika tidak ada kesalahan, maka Seksi
Verifikasi dan Akuntansi melakukan posting data.

e.

Mencetak laporan keuangan SAKUN dan SAU tingkat KPPN


Setelah proses posting data, Seksi Verifikasi dan Akuntansi mencetak Laporan Keuangan
Tingkat KPPN.
Jenis laporan yang dihasilkan SAKUN Tingkat KPPN:
1) Neraca KUN KPPN
2) Laporan Arus Kas KUN KPPN
3) Neraca Percobaan KUN KPPN
4) Laporan Penerimaan KUN KPPN
5) Laporan Pengeluaran KUN KPPN
6) Laporan Perubahan dan Posisi Kas KPPN
Jenis laporan yang dihasilkan SAU Tingkat KPPN:
1) Neraca Gabungan Satker
2) Neraca per Satker
3) Laporan Realisasi Anggaran
4) Laporan Realisasi Pendapatan dan Hibah menurut Bagian Anggaran menurut BA dan
satker
5) Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Hibah menurut MAP
6) Laporan Realisasi Belanja menurut Sumber Dana
7) Laporan Realisasi Belanja menurut Bagian Anggaran
8) Laporan Realisasi Belanja menurut Jenis Belanja
9) Laporan Realisasi Belanja menurut Sumber Dana dan Kegatan
10) Laporan Pengembalian Pendapatan berdasakan MAP

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.5

11) Laporan Pengembalian Pendapatan berdasakan BA dan Satker


12) Laporan Pengembalian Belanja menurut Sumber Dana
13) Laporan Pengembalian menurut Bagian Anggaran
14) Laporan Pengembalian menurut Jenis Belanja
15) Laporan Pengembalian menurut Sumber Dana dan kegiatan
f.

g.

Melakukan rekonsiliasi laporan keuangan SAU dengan satuan kerja (UAKPA).


1) Menerima ADK dari satuan kerja (UAKPA) setiap bulan
2) Melakukan up load ADK ke dalam Aplikasi Seksi Verifikasi dan Akuntansi
3) Melakukan rekonsiliasi data transaksi Sistem Akuntansi Umum (SAU) dengan data
transaksi Sistem Akuntansi Instansi (SAI).
4) Membuat berita acara rekonsiliasi yang ditandatangani oleh petugas rekonsiliasi dari
KPPN dan UAKPA.
Membuat dan mengirimkan ADK, Bukti Jurnal/Daftar Transaksi dan Laporan Keuangan.

h.

Membuat laporan dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) berupa laporan arus
kas dan neraca KUN serta mengirimkan laporan beserta ADK ke Kanwil Ditjen PBN.

i.

Membuat laporan dari Sistem Akuntansi Umum (SAU) berupa laporan realisasi anggaran
dan neraca serta mengirimkan laporan beserta ADK ke Kanwil Ditjen PBN.

j.

Membuat bukti jurnal dan data transaksi (BJ/DT) penerimaan dan pengeluaran untuk
dikirim ke Kanwil Ditjen PBN.

k.

Mengirimkan data SAU dan SAKUN ke Kanwil Ditjen PBN setiap hari. Sedangkan untuk
KPPN yang khusus memproses data pengeluaran BLN mengirimkan data SAU dan
SAKUN ke DIA setiap hari.

2. Kanwil Ditjen PBN


Proses akuntansi pada Kanwil Ditjen PBN diawali dengan diterimanya General Ledger (GL)-Detail
dari aplikasi KPPN, kemudian diproses untuk menghasilkan laporan tingkat kanwil. Selanjutnya
laporan tingkat kanwil direkonsiliasi dengan laporan UAPPA-W. Laporan keuangan yang telah
melalui proses rekonsiliasi dikirimkan ke Ditjen PBN c.q. DIA setiap bulan.
Prosedur Akuntansi yang ada di Kanwil Ditjen PBN sebagai berikut:
a.

Kanwil Ditjen PBN menerima data akuntansi berupa laporan keuangan dan dokumen
lainya sebagai berikut:.
1. Laporan dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) berupa laporan arus kas
dan neraca KUN beserta beserta ADK dari KPPN.
2. Laporan dari Sistem Akuntansi Umum (SAU) berupa laporan realisasi anggaran dan
neraca beserta ADK KPPN.

b.
c.
d.
e.

f.

3. Bukti jurnal dan data transaksi (BJ/DT) penerimaan dan pengeluaran dari KPPN.
4. Data akuntansi berupa laporan keuangan yang disertai dengan ADK dari UAPPA-W.
Melakukan up load ADK-GL yang diterima dari UAPPA-W
Melakukan Rekonsiliasi data SAU dengan data yang diterima dari UAPPA-W.
Melaksanakan konsolidasi data akuntansi
Kanwil Ditjen PBN menggabungkan data akuntansi dari seluruh KPPN.
Mencetak Laporan Konsolidasi.
Kanwil Ditjen PBN mencetak dan memverifikasi laporan keuangan konsolidasi tingkat
kanwil. Jenis laporan yang dihasilkan SAKUN dan SAU, periode dan tujuan pengiriman
untuk tingkat Kanwil dapat dilihat.
Mengirimkan data akuntansi ke Ditjen PBN c.q. DIA setiap hari. Pengiriman laporan
keuangan pada akhir periode tahun anggaran ke Ditjen PBN c.q DIA disertai dengan
Pernyataan Tanggung Jawab yang ditandatangani oleh kepala kantor wilayah.

3. Direktorat PKN
Direktorat Pengelolaan Kas Negara mengelola data transaksi penerimaan dan pengeluaran BUN
yang melalui kantor pusat DJPBN. Data transaksi penerimaan dan pengeluaran yang dikelola
oleh Dit PKN disampaikan ke Dit. IA untuk diakuntansikan.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.5

Dokumen sumber yang digunakan dalam pemrosesan data di Dit. PKN adalah :
a.
SPM/SP2D Pengesahan
b.
Nota Debet/Kredit dan dokumen pendukungnya.
Prosedur Akuntansi :
a.
Melakukan perekaman data BUN, yang terdiri dari:
1) Pengeluaran BUN melalui kantor pusat DJPBN
2) Penerimaan BUN melalui kantor pusat DJPBN
b.
Melakukan pencetakan Laporan Kas Posisi dan Laporan lainnya untuk disampaikan ke Dit.
IA bersama Dokumen Sumber dan ADK.
c.
Menatausahakan Buku Kas.
d.
Dit. PKN mengarsipkan laporan beserta ADKnya.

4. Direktorat PBM/KN
Direktorat Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara memproses transaksi Barang Milik
Negara, Penyertaan Modal Negara dan Investasi Permanen serta investasi pemerintah lainnya
serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Informasi dan Akuntansi.
Dokumen sumber yang digunakan dalam pemrosesan data di Dit. PBMKN adalah :
a.
Laporan BMN Kementerian Negara /Lembaga
b.
Buku Inventaris BMN
c.
Daftar Penyertaan Modal Pemerintah
d.
Daftar Investasi lainnya
Prosedur Akuntansi :
a.
Melakukan perekaman data BMN, penyertaan modal pemerintah dan investasi pemerintah
lainnya.
b.
Melakukan pencetakan Laporan BMN, penyertaan modal pemerintah dan investasi
pemerintah lainnya.
c.
Mengirimkan pencatakan Laporan BMN, penyertaan modal pemerintah dan investasi
pemerintah lainnya ke Dit Informasi dan Akuntansi.
5. Direktorat PPHLN
Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mengelola data transaksi penerimaan
pinjaman luar negeri dan pendapatan hibah. Data transaksi penerimaan pinjaman luar negeri dan
pendapatan hibah disampaikan ke Dit. IA untuk diakuntansikan.
Dokumen sumber yang digunakan dalam pemrosesan data di Dit. PPHLN adalah :
a.
Loan Agreement
b.
MOU Pinjaman
Prosedur Akuntansi :
a.
Melakukan perekaman data pinjaman luar negeri dan hibah
b.
Mencetak laporan posisi pinjaman dan hibah
c.
Mengirimkan laporan posisi pinjaman ke Dit Informasi dan Akuntansi
6. Direktorat PPP
Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman memproses transaksi piutang jangka pendek
maupun piutang jangka panjang yang berasal dari pinjaman yang diteruspinjamkan baik kepada
BUMN maupun perusahaan daerah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat
Informasi dan Akuntansi.
Dokumen sumber yang digunakan dalam pemrosesan data di Dit. PPP adalah :
a.
Loan Agreement
b.
MOU Pinjaman
Prosedur Akuntansi :
a.
Melakukan perekaman data pinjaman luar negeri yang diteruspinjamkan ke BUMN dan
Pemda.
b.
Mencetak laporan posisi pinjaman yang diteruspinjamkan.
c.
Mengirimkan laporan posisi pinjaman yang diteruspinjamkan ke Dit Informasi dan
Akuntansi
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.5

7. Direktorat PSUN
Direktorat Pengelolaan Surat Utang Negara memproses transaksi yang berhubungan dengan
Surat Utang Negara serta menyampaikan laporan beserta ADK kepada Direktorat Informasi dan
Akuntansi.
Dokumen sumber yang digunakan dalam pemrosesan data di Dit. PSUN adalah Sertifikat SUN
yang sudah diterbitkan dan dijual oleh pemerintahdengan Prosedur Akuntansi :
a.
Melakukan perekaman data PSUN
b.
Mencetak laporan posisi SUN
c.
Mengirimkan laporan posisi SUN ke Dit Informasi dan Akuntansi
8. Direktorat Informasi dan Akuntansi
DIA merekam data APBN, melaksanakan konsolidasi data akuntansi dari seluruh Kanwil Ditjen
PBN serta melakukan verifikasi dan akuntansi data transaksi penerimaan dan pengeluaran BUN
melalui kantor pusat yang diproses oleh Direktorat PKN. Di samping itu untuk keperluan
penyusunan laporan keuangan DIA juga menerima data dari Direktorat PPHLN, PSUN, PPP,
dan PBM/KN. Untuk prosedur penyusunan Laporan Keuangan secara lengkap dijelaskan
dibawah ini.

a.

Laporan Realisasi Anggaran disusun oleh Direktorat Informasi dan Akuntansi dengan
prosedur sebagai berikut:
1) Subdit Konsolidasi dan Pelaporan Keuangan menerima LRA dari Kementerian
Lembaga.
2) Subdit Akuntansi Pusat merekonsiliasi LRA Kementerian Lembaga dengan data arus
kas dari Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
3) Subdit Konsolidasi dan Pelaporan menyusun konsep LRA Pemerintah Pusat dari hasil
rekonsiliasi antara data LRA Kementerian Lembaga.

b.

Neraca Pemerintah Pusat disusun dengan prosedur sebagai berikut:


1) Subdit Konsolidasi dan Pelaporan Keuangan menerima dokumen antara lain:
i. Neraca dari Kementerian/Lembaga.
ii. Data Kas Negara (Kas di KPPN, Kas di BI, rekening pemerintah lain) didasarkan
Laporan Realisasi APBN dan Non Anggaran yang diterbitkan Direktorat
Pengelolaan Kas Negara.
iii. Data Investasi dari Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman.
iv. Data Inventaris Kekayaan Negara dari Direktorat Pengelolaan Barang/Kekayaan
Negara.
v. Data Hutang Dalam Negeri dari Direktorat Pengelolaan Surat Utang Negara.
vi. Data Hutang Luar Negeri dari Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar
Negeri.
vii. Data bagian laba BUMN dari Menteri Negara BUMN.
2) Subdit Konsolidasi dan Pelaporan Keuangan merekonsiliasi data kas dan aset.
i. Data kas direkonsiliasi dengan Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
ii. Data aset direkonsiliasi dengan Direktorat Pengelolaan Barang Milik/Kekayaan
Negara.
3) Subdit Konsolidasi dan Pelaporan Keuangan melakukan kompilasi data neraca
Kementerian/Lembaga yang sudah direkonsiliasi ditambah data-data dari Direktorat
tersebut diatas menjadi konsep neraca Pemerintah Pusat.

c.

Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat disusun Direktorat Informasi dan Akuntansi dengan
Prosedur yang dilaksanakan oleh Subdirektorat Akuntansi Pusat dengan melakukan
kegiatan sebagai berikut:
1) Menerima Laporan Arus Kas Kementerian Lembaga.
2) Menerima Laporan Rekening Koran Pemerintah (Rekening BUN)
3) Menerima Laporan Arus Kas posisi yang berasal dari data LKP KPPN yang diterima
Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
4) Melakukan rekonsiliasi data LRA Kementerian Lembaga dengan data laporan kas
posisi yang diterima dari KPPN melalui Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
5) Menyusun Laporan Kas dari hasil rekonsiliasi dan membandingkan dengan Laporan
arus Kas yang dihasilkan oleh Direktorat Pengelolaan Kas Negara.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.5

6) Konsep Laporan Arus Kas kemudian disampaikan kepada Subdit Konsolidasi dan
Pelaporan Keuangan.
d.

Konsep Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, disertai dengan konsep
Catatan atas Laporan Keuangan yang ada di Subdit Konsolidasi dan Pelaporan Keuangan
kemudian dilaporkan kepada Direktorat Informasi dan Akuntansi.

e.

Direktorat Informasi dan Akuntansi menggabungkan ketiga laporan tersebut menjadi


Konsep Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Setelah ditetapkan menjadi Laporan
Keuangan Pusat dikirimkan kepada Menteri Keuangan disertai dengan Surat Pengantar
dan Konsep Surat Pengantar dari Menteri Keuangan kepada Presiden.

f.

Menteri Keuangan menerima Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dan menandatangani


Surat Pengantar kepada Presiden, disertai dengan Surat Pengantar dari Presiden kepada
BPK.

Presiden menerima LKPP dan konsep-konsep surat penyampaian LKPP kepada BPK untuk
dilakukan pemeriksaan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.6

Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang merupakan Subsistem dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
(SAPP) dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Unit Akuntansi pada Sistem Akuntansi Instansi
Untuk melaksanakan SAI, kementerian lembaga membentuk unit akuntansi instansi sesuai dengan
hirarki organisasi. Unit Akuntansi Instansi (UAI) terdiri dari Unit Akuntansi Keuangan (UAK) antara
lain:
a. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA) yang berada pada tingkat kementerian lembaga;
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon 1 (UAPPA-E1) yang berada pada tingkat
Eselon 1;
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) yang berada pada tingkat
wilayah; dan
d. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) yang berada pada tingkat satuan kerja.
Dan Unit Akuntansi Barang antara lain :
a. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) yang berada pada tingkat kementerian lembaga;
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon 1 (UAPPB-E1) yang berada pada tingkat
eselon 1;
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W) yang berada pada tingkat
wilayah; dan
d. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) yang berada pada tingkat satuan kerja.
Pada tingkat wilayah, kementerian lembaga dapat menunjuk satuan kerja sebagai koordinator
UAPPA-W/UAPPB-W untuk unit vertikal instansi yang berada di wilayah/propinsi atau menetapkan
salah satu satuan kerja lingkup eselon I dari sebuah kementerian lembaga sebagai UAPPAW/UAPPB-W sesuai struktur kementerian lembaga.
2. Prosedur Penyusunan Laporan Keuangan kementerian lembaga.
Tahapan perekaman dokumen sumber sampai dengan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Tingkat UAKPA
1) Menerima dan memverifikasi dokumen sumber dan ADK BMN.
2) UAKPA melakukan pemprosesan data mulai dari perekaman dokumen sumber, baik
penerimaan maupun pengeluaran APBN.
3) Merekam dokumen sumber. Apabila aplikasi tersebut terintegrasi, tidak perlu dilakukan
perekaman SPM/SP2D dan DIPA.
4) Mencetak dan memverifikasi RTH.
5) Melakukan posting data transaksi yang telah lengkap dan benar untuk menghasilkan
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Neraca..
6) Mencetak dan memverifikasi buku besar.
7) Mencetak dan mengirimkan LRA, Neraca, dan ADK kepada KPPN selambat-lambatnya
tanggal 7 bulan berikutnya sebagai bahan rekonsiliasi data dan pengawasan atas ketaatan
terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
8) Melakukan rekonsiliasi data dengan KPPN, membuat Berita Acara Rekonsiliasi dan
melakukan perbaikan data jika diperlukan.
9) Selambat-lambatnya 5 (lima) hari setelah batas waktu penyampaian laporan keuangan ke
KPPN, UAKPA menyampaikan laporan keuangan yang telah direkonsiliasi ke UAPPAW/UAPPA-E1 beserta ADK dan Berita Acara Rekonsiliasi.
10) Mencetak Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan menyampaikannya ke UAPPAW/UAPPA-E1 beserta ADK sesuai jadwal penyampaian.
11) Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPPA-W/UAPPA-E1
setiap semester.
12) Melakukan back up data.
b. Tingkat UAPPA-W
1) Menerima dan memverifikasi laporan keuangan beserta ADK yang diterima dari UAKPA
setiap bulan.
2) Menggabungkan data laporan keuangan yang diterima dari satuan kerja di bawahnya..
3) Melakukan pencocokan data antara UAPPA-W dengan UAPPB-W.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.6

4) Menyampaikan LRA, Neraca, beserta ADK ke Kanwil Ditjen PBN setempat setiap tanggal 17
bulan berikutnya sebagai bahan pembanding, dan setiap tanggal 17 setelah berakhirnya
triwulan yang bersangkutan sebagai bahan rekonsiliasi data.
5) Melakukan rekonsiliasi data dengan data yang diterima dari KPPN setiap triwulan oleh
Kanwil Ditjen PBN, membuat Berita Acara Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika
diperlukan.
6) Mencetak Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, yang telah direkonsiliasi, dan
menyampaikannya ke UAPPA-E1 beserta ADK selambatnya tanggal 20 bulan berikutnya.
7) Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPPA-E1 setiap
semester.
8) Melakukan back up data.

e.

c.

Tingkat UAPPA-E1
1) Menerima dan memverifikasi laporan keuangan yang diterima dari UAPPA-W. setiap
triwulan, termasuk Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan .
2) Melakukan penggabungan data yang diterima dari UAPPA-W/UAKPA pusat yang berada di
lingkup kerjanya
3) Melakukan pencocokan data antara UAPPA-E1 dengan UAPPB-E1.
4) Menyampaikan data laporan keuangan ke Ditjen PBN c.q. DIA sebagai bahan rekonsiliasi.
5) Melakukan rekonsiliasi laporan keuangan tingkat dengan Ditjen PBN cq. DIA dan melakukan
perbaikkan data jika diperlukan setiap semester.
6) Mencetak Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan menyampaikannya ke UAPA beserta
ADK selambat-lambatnya tanggal 25 bulan berikutnya.
7) Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPA setiap semester.
8) Melakukan back up data.

d.

Tingkat UAPA
1) Menerima dan memverifikasi laporan keuangan yang diterima dari UAPPA-E1 setiap
triwulan.
2) melakukan penggabungan data yang diterima dari UAPPA-E1 yang berada di lingkup
kerjanya serta menyampaikan ADK dan Laporan
3) Melakukan pencocokan data antara UAPA dengan UAPB.
4) Mencetak Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran.
5) Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan.
6) Membuat Surat Pernyataan Tanggung Jawab (SOR).
7) Menyampaikan laporan keuangan beserta ADK ke Ditjen PBN c.q. DIA sebagai bahan
penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat.
8) Melakukan rekonsiliasi data dengan DIA setiap semester berdasarkan data yang diterima
dari Kanwil Ditjen PBN dan transaksi pusat dan membuat Berita Acara Rekonsiliasi.
9) Laporan Keuangan kementerian lembaga yang telah direkonsiliasi tersebut akan direviu oleh
aparat pengawasan intern kementerian lembaga.
10) Apabila kementerian lembaga belum memiliki aparat pengawas intern, Sekretaris
Jenderal/yang setingkat menunjuk seorang atau beberapa orang pejabat di luar biro/bidang
keuangan untuk melakukan reviu atas laporan keuangan.
11) Reviu tersebut dilaksanakan atas Laporan Keuangan kementerian lembaga (termasuk
Laporan Keuangan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan) dan Laporan Realisasi
Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan yang digunakan oleh kementerian lembaga. Hasil
reviu dituangkan dalam Pernyataan Telah Direviu
12) Melakukan back up data.
Laporan Keuangan kementerian lembaga semesteran disampaikan kepada Menteri Keuangan
c.q Dirjen Perbendaharaan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah semester berakhir.
Sedangkan Laporan Keuangan tahunan disampaikan selambar-lambatnya 2 (dua) bulan setelah
tahun anggaran berakhir. Khusus LRA disampaikan setiap triwulan kepada Dirjen
Perbendaharaan c.q. Direktur Informasi dan Akuntansi. Laporan Keuangan tahunan harus
disertai Pernyataan Telah Direviu yang ditanda tangani oleh aparat pengawas intern dan
Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) yang ditandatangani oleh Menteri
/Pimpinan Lembaga.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.6

f.

Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan yang digunakan oleh kementerian
lembaga/pemerintah daerah disampaikan secara terpisah, disertai dengan Pernyataan Telah
Direviu yang ditandatangani oleh aparat pengawas intern dan Pernyataan Tanggung Jawab
(Statement of Responsibility) yang ditandatangani oleh Menteri /Ketua Lembaga/Kepala Daerah.

g.

Bagi kementerian lembaga yang memiliki entitas Badan Layanan Umum, Laporan Keuangan
kementerian lembaga tahunan dilampiri Laporan Keuangan Badan Layanan Umum yang berada
di bawah pengawasan kementerian lembaga. Tata cara penyusunan laporan keuangan BLU
akan diatur tersendiri dengan Peraturan Dirjen Perbendaharaan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.7

Contoh LRA

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 2.7

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.7

Contoh Neraca

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 2.7

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 2.7

Contoh Laporan Arus Kas

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 2.7

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 3.1

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.2

PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN


(Contoh)
I.

Tujuan Penugasan

Tujuan pemeriksaan LKPP Tahun 2006 adalah pemberian opini atas kewajaran LKPP tersebut berdasarkan:

II.

1.

Kesesuaian LKPP tersebut dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);

2.

Kecukupan pengungkapan LKPP tersebut sesuai dengan pengungkapan yang diatur dalam SAP;

3.

Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; dan

4.

Efektivitas sistem pengendalian intern.

Harapan Penugasan

1. Standar Pemeriksaan
Dalam rangka pencapaian tujuan pemeriksaan di atas, pemeriksa LKPP Tahun 2006 melakukan pemeriksaan laporan
keuangan berdasarkan SPKN, dengan memberlakukan SPAP untuk standar pekerjaan lapangan dan standar
pelaporan kecuali diatur lain dalam SPKN.
2. Jadwal Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan LKPP Tahun 2006 harus diselesaikan sesuai dengan jadwal waktu dalam peraturan perundangundangan, yaitu 2 (dua) bulan sejak LKPP Tahun 2006 diterima oleh BPK. Penyelesaian pemeriksaan tersebut
diwujudkan dengan penyampaian laporan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD.
3. Fokus dan Sasaran Pemeriksaan
Berdasarkan hasil pemeriksaan LKPP Tahun 2004 dan 2005 dan hasil pemeriksaan interim tersebut, pemeriksa
menentukan sasaran dan fokus pemeriksaan.
Selain itu, pemeriksaan LKPP tahun 2006 dapat mengungkapkan secara memadai hasil pemeriksaan atas
pengeluaran dana perimbangan dan dana otonomi khusus dan penyesuaian. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan
meneliti penyaluran dana tersebut oleh Pemerintah Pusat.

Tindak lanjut pemeriksaan sebelumnya, yang perlu diteliti lebih lanjut:


o 1. .......
o 2. .......
o 3. .......

Teliti lebih lanjut belanja daerah (dana perimbangan dan dana otonomi khusus dan penyesuaian) Tahun 2006 dan
bandingkan dengan penerimaannya oleh Pemerintah Daerah baik jumlah, waktu, dan rekening tempat menampung dana
tersebut. Apakah rekening tersebut merupakan rekening kas daerah.

Teliti lebih lanjut (misalnya belanja modal dan aset tetap)

Teliti lebih lanjut (misalnya sistem informasi yang diselenggarakan, apabila pemerintah telah menggunakan sistem informasi
dalam membukukan dan melaporkan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN).

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

III.

Lampiran 3.2

Rencana Pencapaian Hasil Pemeriksaan yang Diharapkan

Mengingat waktu yang sangat terbatas tersebut, pemeriksaan LKPP Tahun 2006 dapat didahului dengan pemeriksaan
interim untuk melakukan pemeriksaan atas: pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan LKPP tahun 2004 dan 2005;
pemahaman dan pengujian pengendalian intern; pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; dan
pengujian transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan sampai dengan periode yang memungkinkan.
Apabila pemeriksaan interim tidak dilakukan, maka pemeriksaan perlu diarahkan pada area-area yang berisiko salah
saji yang material berdasarkan informasi dari hasil pemeriksaan sebelumnya atau informasi lain yang diperoleh.
Penentuan area dan uji petik yang dilakukan didokumentasikan dalam kertas kerja pemeriksaan disertai dengan
pertimbangan atau alasan yang ada.
Selain itu, apabila pemerintah telah menyelenggarakan pembukuan dan pelaporan keuangan dengan sistem informasi
terkomputerisasi, maka pemeriksaan dilakukan dengan pengujian sistem informasi tersebut baik pengendalian
umumnya maupun pengendalian aplikasi. Untuk itu, tim pemeriksa harus memiliki paling tidak satu orang yang
memahami sistem informasi atau pemeriksaan sistem informasi tersebut.
Penyelesaian pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut

Kegiatan

Waktu

Keterangan

Pemeriksaan Interim (apabila


dilakukan)
Pemeriksaan atas LKPP Tahun
2006 (pengujian substantif dan
saldo)

Februari Maret 2007


April Mei (Minggu I) 2007

Apabila BPK menerima LKPP Tahun


2006 akhir Maret 2007

Penyampaian Temuan
Pemeriksaan:
Temuan tentang SPI
Temuan tentang Kepatuhan
Ikhtisar Koreksi
Penyampaian Laporan Hasil
Pemeriksaan atas LKPP Tahun
2006

Mei (II) 2007

Sudah termasuk pembahasan


dengan pejabat yang berwenang
dari pemerintah daerah dan sudah
diperoleh tanggapan resmi dan
tertulis.
Apabila BPK menerima LKPP Tahun
2006 pada akhir Maret 2007, dan
sudah termasuk pembahasan dan
perolehan surat representasi.

31 Mei 2007

Jakarta, ...................
Ketua Tim,

Pengendali Teknis,

Penanggung Jawab,

Pemberi Tugas,

.................................

...............................

.................................

............................

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.3

SURAT PERNYATAAN
GANGGUAN INDEPENDENSI
Kepada
Yth. Penanggung jawab pemeriksaan (nama penugasan)
Saya yang bertandatangan di bawah ini dalam rangka pemeriksaan.(nama
penugasan) dengan ini menyatakan bahwa saya memiliki gangguan independensi
seperti yang diatur di dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, yaitu sebagai
berikut :
1.
2.
3. ..
Apabila saya menerima penugasan pemeriksaan tersebut, maka independensi saya
tidak sepenuhnya terjamin.
Mohon dipertimbangkan untuk meninjau kembali posisi penugasan saya dalam
pemeriksaan (nama penugasan).
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Jakarta,...
Menyetujui,
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Mengetahui,
Pengendali Teknis/
Ketua Tim,

Yang Menyatakan,

(nama penanggung jawab)

(nama)
NIP

(nama lengkap)
NIP

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.4

PEMAHAMAN ENTITAS

I.

Gambaran Jelas Mengenai Bidang Kerja Entitas

II.

Kekuatan Lingkungan

Kemampuan Pendapatan Negara dan Hibah


Dsb.......

III.

Tren yang Signifikan

Pendapatan/belanja/pembiayaan?
Turnover pemerintahan

IV.

Hubungan dengan DPR dan BPK, serta Lembaga Lain

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.4

V.

Sumber Pendapatan dan Pembiayaan

VI.

Dasar Hukum dan Peraturan yang Mempengaruhi

VII.

Faktor Sosial dan Politik yang Mempengaruhi Pemerintah Pusat

VIII.

Pengaruh Stakeholder (Pemegang Kepentingan): DPR

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.4

IX.

Dampak dari Lingkungan Entitas terhadap Risiko Bidang Kerja dan Laporan Keuangan

X.

Pejabat

Nama*

Jabatan

Robby Joe

Kepala Negara

Michael Tarnak

Sekretaris Negara

Husin Abdilah

Menteri

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.5

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT


LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LKPP (ATAU LK KEMENTERIAN/LEMBAGA)
TAHUN .(SEBELUMNYA)
Pemantauan Tindak Lanjut
No.

Rekomendasi BPK-RI

Litbang Pemeriksaan

Sudah
Ditindaklanjuti
Sesuai
Rekomendasi

Sudah
Ditindaklanjuti,
tetapi belum
sesuai
rekomendasi

Badan Pemeriksa Keuangan

Sudah
ditindaklanjuti,
tetapi belum
selesai
(dipantau)

Belum
Ditindaklanjuti
sesuai
rekomendasi &
Alasannya

Pengaruh terhadap
LKPP (atau LKKL)
yang diperiksa

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.6

Contoh Pemahaman SPI


(dengan pendekatan OKP6*)
No.

Pemahaman SPI

1.

Organisasi
a. Struktur Organisasi
Struktur organisasi tidak boleh terlalu sederhana sehingga
pemantauan terhadap kegiatan entitas tidak akan memadai dan
tidak boleh pula terlalu kompleks yang dapat menggangu
kelancaran arus informasi.
(1) Apakah jajaran pimpinan entitas telah memahami
sepenuhnya tanggung jawab pengendalian yang mereka
miliki?
(2) Bagaimana kelengkapan struktur organisasi yang dimiliki
entitas dan kemampuannya dalam meyediakan arus
informasi yang diperlukan untuk mengelola kegiatan
operasional?
(3) Apakah
struktur
organisasi
disentralisasi
ataupun
didesentralisasikan secara memadai?
(4) Apakah struktur tersebut dapat memfasilitasi arus informasi
ke atas, ke bawah maupun kepada seluruh kegiatan?
(5) Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki pengetahuan,
pengalaman dan pelatihan guna pelaksanaan tugas
mereka?
(6) Apakah hubungan pelaporan yang ada, baik formal maupun
informal, langsung maupun tidak langsung telah dilakukan
secara efektif dan dapat memberikan informasi yang
memadai kepada para pimpinan sesuai tanggung jawab dan
wewenang masing-masing?
(7) Apakah manajemen dari semua bagian entitas memiliki
akses terhadap saluran komunikasi kepada pimpinan
entitas?
(8) Apakah terdapat mekanisme evaluasi dan kemungkinan
perubahan terhadap struktur organisasi secara berkala
sehubungan dengan perubahan kondisi lingkungan?
(9) Apakah terdapat jumlah personil yang memadai, khususnya
untuk kapasitas supervisor maupun manajemen?
(10) Apakah para pimpinan dan supervisor memiliki waktu yang
memadai untuk menjalankan tanggung jawabnya secara
efektif?
b. Integritas dan Nilai Etika
(1) Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki komitmen terhadap
integritas dan nilai etika?
(2) Apakah entitas memiliki kode etik yang bersifat
komperhensif?
(3) Apakah kode etik tersebut secara periodik disosialisasikan
pada seluruh personil?
(4) Apakah para personil memahami tindakan yang etis/tidak
etis dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam
menyikapi penyimpangan?
(5) Apabila tidak ada kode etik tertulis, apakah budaya
manajemen (misalnya melalui komunikasi lisan pada saat
rapat, bertatap muka, atau contoh dalam kegiatan seharihari) dapat mendorong terciptanya integritas dan perilaku
bermoral?
(6) Apakah pihak pimpinan entitas mampu memberi contoh
yang baik sesuai kode etik?
(7) Apakah hubungan keseharian internal dan eksternal entitas
didasarkan atas prinsip kejujuran dan kewajaran?
(8) Apakah pimpinan entitas memberikan respon yang memadai

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
terhadap pelanggaran kode etik?
Apakah
tindakan
disiplin
terhadap
pelanggaran
dikomunikasikan secara luas sehingga menimbulkan
dampak menjerakan (deterrent effect)?
(10) Apakah manajemen telah memiliki aturan yang jelas (kapan,
siapa, dan dalam hal apa) mengenai kemungkinan
pengambilan kebijaksanaan
yang menyimpang dari
ketentuan yang berlaku?
(11) Apakah kebijaksanaan tersebut didokumentasikan dan
dijelaskan secara memadai ?
(12) Apakah penyimpangan dari ketentuan yang ada telah
diselidiki dan didokumentasikan ?
Kebijaksanaan
a. Apakah manajemen entitas menerapkan prinsip kehati-hatian dan
hanya akan bertindak setelah melalui analisa mendalam terhadap
risiko dan kemungkinan manfaat yang diperoleh?
b. Apakah terdapat perputaran personil (masuk-keluar) yang tinggi
pada fungsi utama entitas, misalnya bagian operasional,
akuntansi, pengolahan data dan audit intern?
c. Apakah pola perputaran personil tersebut telah dibuat secara
konsisten?
d. Apakah perputaran personil kunci dalam suatu fungsi dilakukan
tanpa perencanaan terlebih dahulu?
e. Apakah manajemen memandang penting fungsi pengolahan data,
fungsi akuntansi, keandalan laporan keuangan dan perlindungan
terhadap kekayaan entitas?
f. Apakah fungsi akuntansi dipandang hanya sebagai unit pencatat
atau sebagai alat untuk menguji pengendalian atas berbagai
aktivitas entitas?
g. Apakah aset yang dimiliki entitas (termasuk aset intelektual dan
informasi) dilindungi dari akses oleh pihak yang tidak berwenang?
h. Apakah terdapat interaksi yang sering antara pimpinan entitas
dengan manajemen pelaksana di daerah (baik kunjungan ke
daerah, komunikasi via telepon, atau pertemuan di pusat)?
i. Apakah pertemuan koordinasi antar unit pelaksana dengan
penanggung jawab selalu dilakukan?
j. Bagaimana sikap dan tindakan manajemen entitas atas
kesalahan dalam pelaporan keuangan?
k. Apakah laporan yang disampaikan oleh pegawai benar-benar
menggambarkan keadaan sebenarnya (bukan bersifat ABS yang
hanya menggambarkan sesuatu yang baik-baik saja)?
l. Apakah manajemen akan bereaksi jika ada gejala praktek yang
tidak baik yang disampaikan melalui laporan?
Personalia
a. Kebijakan dan Praktek Sumber Daya Manusia
Lakukan pengujian bagaimana kebijakan manajemen dalam
merekrut dan mempertahankan pegawai yang handal guna
melaksanakan rencana-rencana entitas dalam rangka mencapai
tujuan entitas.
(1) Apakah terdapat prosedur dan kebijakan tertulis dalam
penggunaan, pelatihan, promosi dan penggajian pegawai?
(2) Jika tidak ada praktek dan kebijakan tertulis, apakah
manajemen mengkomunikasikan ekspektasi tentang orang
yang akan dipekerjakan atau berpartisipasi secara langsung
dalam proses pemilihan tersebut?
(3) Apakah setiap personil menyadari tanggung jawab dan
ekspektasi terhadap mereka?
(4) Apakah personil baru diberikan pengertian tentang tanggung
jawab dan ekspektasi terhadap mereka?
(5) Apakah para supervisor bertemu dengan para pegawai
(9)

2.

3.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

4.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
secara berkala guna mereview kinerja mereka dan
memberikan saran-saran perbaikan?
(6) Apakah terdapat tindakan manajemen yang memadai untuk
merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur
yang ada?
(7) Apakah para pegawai mengerti bahwa kinerja yang jelek
memiliki dampak bagi organisasi?
(8) Apakah kebijakan personalia mengacu pada standar etika
yang memadai.
(9) Apakah nilai etika dan integritas merupakan kriteria dalam
penilaian kinerja?
(10) Apakah ada pengecekan yang memadai terhadap latar
belakang calon personil, khususnya menyangkut aktifitas
yang pernah dilakukan?
(11) Apakah
ada
kebijakan
yang
mempersyaratkan
dilakukakanya penyelidikan terhadap catatan kriminal calon
personil?
(12) Apakah
Bagaimana
kriteria
promosi
dan
teknik
pengumpulan informasi pegawai (contoh: evaluasi kinerja)
dan kaitannya dengan kode etik ataupun panduan moral
lainnya?
(13) Apakah evaluasi kinerja dan pedoman etika menjadi salah
satu kriteria dalam promosi?
(14) Apakah ketentuan promosi dan dan kenaikan gaji dijelaskan
secara rinci sehingga setiap personil mengetahui apa yang
diharapkan oleh manajemen?
b. Komitmen terhadap Kompetensi
(1) Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan
tugas suatu pekerjaan/posisi tertentu sesuai kebutuhan
entitas?
(2) Apakah manajemen entitas telah melakukan analisa, baik
formal maupun informal, mengenai jenis pekerjaan dan
perlu/tidaknya supervisi atau pelatihan?
(3) Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi
(pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk suatu
pekerjaan tertentu?
(4) Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang
personil telah ditempatkan sesuai keahlian dan pengetahuan
yang dibutuhkan?
Perencanaan
a. Penetapan Tujuan Organisasi
(1) Apakah pimpinan organisasi telah menetapkan tujuan umum
organisasi dalam bentuk visi, misi, tujuan, dan sasaran?
(2) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi tersebut
sejalan dengan program yang telah ditetapkan oleh lembaga
legislatif?
(3) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi tersebut
cukup spesifik dan dapat diaplikasikan pada organisasi
tersebut dan tidak pada seluruh organisasi?
(4) Apakah rencana strategis mendukung visi, misi, tujuan, dan
sasaran organisasi?
(5) Apakah rencana strategis memperhatikan alokasi sumber
daya dan skala prioritas?
(6) Apakah rencana strategis dan anggaran didesain melalui
berbagai tingkatan pimpinan organisasi?
(7) Apakah asumsi yang dibuat dalam menyusun rencana
strategis dan anggaran sudah konsisten dengan
pengalaman organisasi masa lampau dan sekarang?
b. Penetapan Tujuan Operasional Entitas
Apakah semua aktivitas yang signifikan sudah sejalan dengan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

5.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
tujuan operasional entitas?
(1) Apakah semua aktivitas telah di review secara periodik
untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut tidak
menyimpang dari tujuan operasional dan rencana strategis
entitas?
(2) Apakah tujuan setiap aktivitas kunci dan aktivitas pendukung
sudah ditetapkan?
(3) Apakah tujuan tingkat operasional entitas sudah konsisten
dengan praktik-praktik dan kinerja yang baik di masa
lampau, dan konsisten dengan norma-norma bisnis dan
industri yang sesuai dengan entitas?
(4) Apakah sumber daya yang diperlukan untuk mendukung
pencapaian tujuan sudah diidentifikasikan?
(5) Jika sumber daya belum tersedia, apakah pimpinan entitas
sudah mempunyai rencana untuk memperolehnya?
(6) Apakah pimpinan entitas sudah mengidentifikasikan hal-hal
yang harus dicapai untuk mencapai tujuan operasional
entitas?
(7) Apakah tujuan operasional entitas yang signifikan
memperoleh perhatian yang khusus dari pimpinan entitas
dan apakah sudah ada pemantauan kinerjanya secara
reguler?
Prosedur
a. Mereviu pengelolaan informasi untuk memastikan tingkat
keakuratan dan kelengkapan informasi
(1) Apakah pembukuan semua transaksi dilakukan secara
sekuensial,
(2) Apakah jumlah-jumlah transaksi telah dicocokan dengan
jumlah pengendali,
(3) Apakah akses ke data dan dokumen lain dikendalikan.
b. Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja
(1) Apakah indikator dan ukuran kinerja telah dibuat untuk
setiap bagian dan level dalam organisasi sampai kepada
individu,
(2) Apakah terhadap indikator tersebut telah dilakukan review
dan validasi secara periodik,
(3) Apakah data mengenai kinerja aktual senantiasa
ditandingkan dengan tujuan yang akan dicapai dan jika ada
perbedaan akan dilakukan analisa.
c. Memisahkan tugas atau fungsi
(1) Apakah kewenangan untuk mengendalikan seluruh aktifitas
kunci dipisahkan,
(2) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab
dalam otorisasi, penyetujuan (approval), pemrosesan,
pencatatan, pembayaran/penerimaan uang, audit, dan fungsi
penyimpanan,
(3) Apakah penugasan telah dilakukan dengan memperhatikan
efektifitas mekanisme chek and balance.
d. Mereviu otorisasi kepada personil tertentu dalam melakukan
suatu transaksi
(1) Apakah transaksi yang diakui hanya transaksi-transaksi
yang valid sesuai ketentuan manajemen,
(2) Apakah suatu transaksi hanya dilakukan oleh orang yang
memiliki wewenang dan dilakukan sesuai dengan
kewenangan yang bersangkutan,
(3) Apakah prosedur otorisasi telah dikominikasikan kepada
seluruh pegawai termasuk kapan otorisasi tersebut dapat
digunakan.
e. Mereviu pencatatan atas transaksi, dengan menguji apakah:
(1) Apakah setiap transaksi telah diklasifikasi dan dicatat secara

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

6.

7.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
memadai guna mendukung pengendalian operasi dan
pengambilan keputusan,
(2) Apakah pengklasifikasian dan pencatatan tersebut telah
meliputi seluruh siklus mulai dari otorisasi, inisiasi,
pemrosesan sampai dengan klasifikasi final dalam
pencatatan secara keseluruhan.
f. Membuat pembatasan akses dan akuntabilitas terhadap sumber
daya dan catatan-catatan
(1) Apakah terdapat pembatasan terhadap akses atas sumber
daya dan catatan,
(2) Apakah standar, prosedur dan operasi atas pembatasan
akses telah ditetapkan,
(3) Apakah personel yang diberi hak akses telah ditetapkan.
g. Pendokumentasian
(1) Apakah sistem pengendalian intern, semua transaksi dan
kejadian penting lainnya telah didokumentasikan secara
memadai,
(2) Apakah dokumentasi tersebut selalu tersedia untuk
kepentingan pengujian,
(3) Apakah dokumentasi terhadap transaksi maupun kegiatan
penting lainnya telah dilakukan secara lengkap dan akurat
sehingga memungkinkan dilakukannya penelusuran,
(4) Apakah dokumentasi tersebut, baik tertulis maupun secara
elektronis, berguna bagi proses evaluasi, analisa dan
pengendalian.
Pembukuan dan Pencatatan
a. Apakah setiap transaksi telah diklasifikasi dan dicatat secara
memadai guna mendukung pengendalian operasi dan
pengambilan keputusan,
b. Apakah pengklasifikasian dan pencatatan tersebut telah meliputi
seluruh siklus mulai dari otorisasi, inisiasi, pemrosesan sampai
dengan klasifikasi final dalam pencatatan secara keseluruhan.
c. Apakah terdapat pembatasan terhadap akses atas sumber daya
dan catatan,
d. Apakah standar, prosedur dan operasi atas pembatasan akses
telah ditetapkan,
e. Apakah personel yang diberi hak akses telah ditetapkan.
Pelaporan
a. Apakah informasi diidentifikasi, diperoleh, diproses dan dilaporkan
melalui suatu sistem informasi?
b. Apakah informasi yang relevan diperoleh baik dari sumber
ekstenal maupun dari informasi yang dikelola secara internal?
c. Apakah terdapat mekanisme untuk memperoleh informasi
eksternal (seperti kondisi pasar, perkembangan dalam bidang
peraturan dan perubahan kondisi ekonomi)?
d. Apakah informasi internal diidentifikasi dan secara teratur
dilaporkan dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan entitas
termasuk fator-faktor keberhasilan?
e. Apakah pimpinan entitas memperoleh informasi yang dibutuhkan
guna melaksanakan tanggung jawabnya?
f. Apakah terdapat mekanisme penyediaan informasi yang
memadai bagi orang yang tepat secara tepat waktu guna
membantu mereka melaksanakan tugasnya secara efektif dan
efisien?
g. Apakah para pimpinan memperoleh informasi analitis yang
membantu mereka dalam mengidentifikasi tindakan yang perlu
diambil?
h. Apakah informasi yang jelas dan tepat tersedia bagi berbagai
tingkatan pimpinan entitas?
i. Apakah informasi dirangkum secara memadai guna menyediakan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
data yang lebih mendetail?
Apakah informasi tersedia sewaktu-waktu yang memungkinkan
pemantauan yang efektif terhadap suatu aktifitas dan kejadian,
baik intern maupun ekstern untuk selanjutnya bereaksi terhadap
kondisi ekonomi, faktor usaha dan masalah pengendalian?
k. Apakah pengembangan atau perbaikan sistem informasi
dilaksanakan berdasarkan rencana strategis sistem informasi
dikaitkan dengan strategi umum entitas dan pencapaian tujuan
umum maupun kegiatan entitas?
l. Apakah komite pengarah teknologi informasi telah dibentuk dalam
rangka identifikasi informasi yang dibutuhkan?
m. Apakah prioritas dan kebutuhan akan informasi ditentukan oleh
pihak eksekutif?
n. Apakah perencanaan teknologi informasi telah dikembangkan dan
dikaitkan dengan inisiatif strategi?
o. Apakah pimpinan entitas mendukung pengembangan sistem
informasi melalui komitmen terhadap sumber daya yang
memadai, baik manusia maupun keuangan?
p. Apakah sumber daya yang memadai (para pimpinan, analis,
programer, dengan kemampuan yang sesuai) tersedia sesuai
kebutuhan?
Pengawasan
a. pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level
reviews)
(1) Apakah terdapat mekanisme reviu dari pejabat tinggi atau
pimpinan senior untuk mengawasi pencapaian suatu entitas
terhadap rencana yang telah dibuat.
(2) Apakah pejabat tinggi atau pimpinan senior mengawasi
pencapaian suatu entitas terhadap rencana yang telah
dibuat sesuai mekanisme yang ada,
(3) Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit-unit
terkait.
(4) Reviu oleh manajemen pada tingkat fungsional/aktivitas
(functional/activity-level reviews), melalui pengujian:
(5) Apakah terdapat mekanisme reviu pada semua tingkat
manajemen fungsional untuk menelaah kinerja suatu
aktivitas atau fungsi terhadap rencana yang telah dibuat.
(6) Apakah pimpinan yang terkait menelaah kinerja suatu
aktivitas atau fungsi terhadap rencana yang telah dibuat
sesuai mekanisme yang ada.
(7) Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit-unit
terkait.
b. Fungsi Internal Auditor
(1) Apakah entitas memiliki auditor intern dan telah ditempatkan
pada kedudukan yang tepat dalam organisasi.
(2) Apakah auditor internal melakukan audit dan reviu atas
kegiatan entitas secara independen
(3) Apakah ruang lingkup kegiatan audit intern telah ditetapkan
dengan jelas, dan kegiatannya dilaksanakan tepat waktu
serta pelaksanaan tugasnya dapat diandalkan.
(4) Apakah pekerjaan pengawasan intern ditujukan pada
perbaikan organisasi dan apakah telah ditetapkan prosedur
yang mengatur tindak lanjut atas hasil pengawasannya.
(5) Apakah entitas memiliki komite audit yang mereviu
pekerjaan audit internal
(6) Apakah komite audit menjalin koordinasi dengan audit
internal dan auditor eksternal secara baik.
(7) Apakah fungsi auditor internal mereviu sistem dan kegiatan
entitas serta menyediakan informasi, analisa, perkiraan,
rekomendasi dan konsultasi kepada manajemen.
j.

8.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

Ya

Tidak

KESIMPULAN:

*) OKP6 : Organisasi, Kebijakan, Perencanaan, Prosedur, Pegawai/Personil, Pencatatan,


Pelaporan/Pertanggungjawaban, dan Pengawasan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.6

Contoh Pemahaman SPI


(dengan pendekatan COSO*)
No.
1.

Pemahaman SPI
Lingkungan Pengendalian
a. Integritas dan Nilai Etika
(1) Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki komitmen
terhadap integritas dan nilai etika?
(2) Apakah entitas memiliki kode etik yang bersifat
komperhensif?
(3) Apakah kode etik tersebut secara periodik disosialisasikan
pada seluruh personil?
(4) Apakah para personil memahami tindakan yang etis/tidak
etis dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam
menyikapi penyimpangan?
(5) Apabila tidak ada kode etik tertulis, apakah budaya
manajemen (misalnya melalui komunikasi lisan pada saat
rapat, bertatap muka, atau contoh dalam kegiatan seharihari) dapat mendorong terciptanya integritas dan perilaku
bermoral?
(6) Apakah pihak pimpinan entitas mampu memberi contoh
yang baik sesuai kode etik?
(7) Apakah hubungan keseharian internal dan eksternal
entitas didasarkan atas prinsip kejujuran dan kewajaran?
(8) Apakah pimpinan entitas memberikan respon yang
memadai terhadap pelanggaran kode etik?
(9) Apakah
tindakan
disiplin
terhadap
pelanggaran
dikomunikasikan secara luas sehingga menimbulkan
dampak menjerakan (deterrent effect)?
(10) Apakah manajemen telah memiliki aturan yang jelas
(kapan, siapa, dan dalam hal apa) mengenai kemungkinan
pengambilan kebijaksanaan
yang menyimpang dari
ketentuan yang berlaku?
(11) Apakah kebijaksanaan tersebut didokumentasikan dan
dijelaskan secara memadai ?
(12) Apakah penyimpangan dari ketentuan yang ada telah
diselidiki dan didokumentasikan ?
b. Komitmen terhadap Kompetensi
(1) Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan
tugas suatu pekerjaan/posisi tertentu sesuai kebutuhan
entitas?
(2) Apakah manajemen entitas telah melakukan analisa, baik
formal maupun informal, mengenai jenis pekerjaan dan
perlu/tidaknya supervisi atau pelatihan?
(3) Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi
(pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk suatu
pekerjaan tertentu?
(4) Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang
personil telah ditempatkan sesuai keahlian dan
pengetahuan yang dibutuhkan?
c. Gaya operasi dan filosofi manajemen
(1) Apakah manajemen entitas menerapkan prinsip kehatihatian dan hanya akan bertindak setelah melalui analisa
mendalam terhadap risiko dan kemungkinan manfaat yang
diperoleh?
(2) Apakah terdapat perputaran personil (masuk-keluar) yang
tinggi pada fungsi utama entitas, misalnya bagian
operasional, akuntansi, pengolahan data dan audit intern?
(3) Apakah pola perputaran personil tersebut telah dibuat
secara konsisten?
(4) Apakah perputaran personil kunci dalam suatu fungsi
dilakukan tanpa perencanaan terlebih dahulu?
(5) Apakah
manajemen
memandang
penting
fungsi

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
pengolahan data, fungsi akuntansi, keandalan laporan
keuangan dan perlindungan terhadap kekayaan entitas?
(6) Apakah fungsi akuntansi dipandang hanya sebagai unit
pencatat atau sebagai alat untuk menguji pengendalian
atas berbagai aktivitas entitas?
(7) Apakah aset yang dimiliki entitas (termasuk aset intelektual
dan informasi) dilindungi dari akses oleh pihak yang tidak
berwenang?
(8) Apakah terdapat interaksi yang sering antara pimpinan
entitas dengan manajemen pelaksana di daerah (baik
kunjungan ke daerah, komunikasi via telepon, atau
pertemuan di pusat)?
(9) Apakah pertemuan koordinasi antar unit pelaksana dengan
penanggung jawab selalu dilakukan?
(10) Bagaimana sikap dan tindakan manajemen entitas atas
kesalahan dalam pelaporan keuangan?
(11) Apakah laporan yang disampaikan oleh pegawai benarbenar menggambarkan keadaan sebenarnya (bukan
bersifat ABS yang hanya menggambarkan sesuatu yang
baik-baik saja)?
(12) Apakah manajemen akan bereaksi jika ada gejala praktek
yang tidak baik yang disampaikan melalui laporan?
d. Struktur Organisasi
Struktur organisasi tidak boleh terlalu sederhana sehingga
pemantauan terhadap kegiatan entitas tidak akan memadai dan
tidak boleh pula terlalu kompleks yang dapat menggangu
kelancaran arus informasi.
(1) Apakah jajaran pimpinan entitas telah memahami
sepenuhnya tanggung jawab pengendalian yang mereka
miliki?
(2) Bagaimana kelengkapan struktur organisasi yang dimiliki
entitas dan kemampuannya dalam meyediakan arus
informasi yang diperlukan untuk mengelola kegiatan
operasional?
(3) Apakah struktur organisasi disentralisasi ataupun
didesentralisasikan secara memadai?
(4) Apakah struktur tersebut dapat memfasilitasi arus
informasi ke atas, ke bawah maupun kepada seluruh
kegiatan?
(5) Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki pengetahuan,
pengalaman dan pelatihan guna pelaksanaan tugas
mereka?
(6) Apakah hubungan pelaporan yang ada, baik formal
maupun informal, langsung maupun tidak langsung telah
dilakukan secara efektif dan dapat memberikan informasi
yang memadai kepada para manajer sesuai tanggung
jawab dan wewenang masing-masing?
(7) Apakah manajemen dari semua bagian entitas memiliki
akses terhadap saluran komunikasi kepada pimpinan
entitas?
(8) Apakah terdapat mekanisme evaluasi dan kemungkinan
perubahan terhadap struktur organisasi secara berkala
sehubungan dengan perubahan kondisi lingkungan?
(9) Apakah terdapat jumlah personil yang memadai,
khususnya
untuk
kapasitas
supervisor
maupun
manajemen?
(10) Apakah para manajer dan supervisor memiliki waktu yang
memadai untuk menjalankan tanggung jawabnya secara
efektif?
e. Tanggung Jawab dan Wewenang
(1) Apakah mekanisme pembebanan suatu tanggung jawab,
pendelegasian wewenang dan pengembangan kebijakan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

(2)

(3)
(4)
(5)

(6)
(7)

f.

dapat
mendukung
terciptanya
akuntabilitas
dan
pengendalian?
Apakah pembebanan tanggung jawab dan pendelegasian
wewenang dihubungkan/dikaitkan dengan tujuan dan
sasaran organisasi, fungsi operasi, tuntutan peraturan,
tanggung jawab atas sistem operasi dan wewenang atas
suatu perubahan?
Apakah setiap personil entitas memiliki wewenang dan
tanggung jawab?
Apakah pengambilan keputusan dikaitkan dengan
wewenang dan tanggung jawab?
Apakah terdapat standar dan prosedur yang terkait dengan
pengendalian, termasuk job description masing-masing
pegawai?
Apakah job description tersebut mengatur juga tanggung
jawab pengendalian?
Apakah telah terdapat jumlah pegawai yang memadai,
khususnya yang berkaitan dengan pengolahan data dan
fungsi akuntansi, dengan tingkat keahlian yang sesuai
dikaitkan dengan besar/kecilnya entitas, jenis dan
kompleksitas dari kegiatan dan sistem.

Kebijakan dan Praktek Sumber Daya Manusia


Lakukan pengujian bagaimana kebijakan manajemen dalam
merekrut dan mempertahankan pegawai yang handal guna
melaksanakan rencana-rencana entitas dalam rangka mencapai
tujuan entitas.
(1) Apakah terdapat prosedur dan kebijakan tertulis dalam
penggunaan, pelatihan, promosi dan penggajian pegawai?
(2) Jika tidak ada praktek dan kebijakan tertulis, apakah
manajemen mengkomunikasikan ekspektasi tentang orang
yang akan dipekerjakan atau berpartisipasi secara
langsung dalam proses pemilihan tersebut?
(3) Apakah setiap personil menyadari tanggung jawab dan
ekspektasi terhadap mereka?
(4) Apakah personil baru diberikan pengertian tentang
tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka?
(5) Apakah para supervisor bertemu dengan para pegawai
secara berkala guna mereview kinerja mereka dan
memberikan saran-saran perbaikan?
(6) Apakah terdapat tindakan manajemen yang memadai
untuk merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan
prosedur yang ada?
(7) Apakah para pegawai mengerti bahwa kinerja yang jelek
memiliki dampak bagi organisasi?
(8) Apakah kebijakan personalia mengacu pada standar etika
yang memadai.
(9) Apakah nilai etika dan integritas merupakan kriteria dalam
penilaian kinerja?
(10) Apakah ada pengecekan yang memadai terhadap latar
belakang calon personil, khususnya menyangkut aktifitas
yang pernah dilakukan?
(11) Apakah
ada
kebijakan
yang
mempersyaratkan
dilakukakanya penyelidikan terhadap catatan kriminal
calon personil?
(12) Apakah Bagaimana kriteria promosi dan teknik
pengumpulan informasi pegawai (contoh: evaluasi kinerja)
dan kaitannya dengan kode etik ataupun panduan moral
lainnya?
(13) Apakah evaluasi kinerja dan pedoman etika menjadi salah
satu kriteria dalam promosi?
(14) Apakah ketentuan promosi dan dan kenaikan gaji
dijelaskan secara rinci sehingga setiap personil
mengetahui apa yang diharapkan oleh manajemen?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

2.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

g. Kegiatan Pengawasan
(1) Apakah entitas memiliki auditor intern dan telah
ditempatkan pada kedudukan yang tepat dalam organisasi.
(2) Apakah auditor internal melakukan audit dan reviu atas
kegiatan entitas secara independen
(3) Apakah ruang lingkup kegiatan audit intern telah
ditetapkan dengan jelas, dan kegiatannya dilaksanakan
tepat waktu serta pelaksanaan tugasnya dapat diandalkan.
(4) Apakah pekerjaan pengawasan intern ditujukan pada
perbaikan organisasi dan apakah telah ditetapkan
prosedur yang mengatur tindak lanjut atas hasil
pengawasannya.
(5) Apakah entitas memiliki komite audit yang mereviu
pekerjaan audit internal
(6) Apakah komite audit menjalin koordinasi dengan audit
internal dan auditor eksternal secara baik.
(7) Apakah fungsi auditor internal mereviu sistem dan kegiatan
entitas serta menyediakan informasi, analisa, perkiraan,
rekomendasi dan konsultasi kepada manajemen.
Penilaian Risiko
a. Penetapan Tujuan Organisasi
(1) Apakah pimpinan organisasi telah menetapkan tujuan
umum organisasi dalam bentuk visi, misi, tujuan, dan
sasaran?
(2) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi tersebut
sejalan dengan program yang telah ditetapkan oleh
lembaga legislatif?
(3) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi tersebut
cukup spesifik dan dapat diaplikasikan pada organisasi
tersebut dan tidak pada seluruh organisasi?
(4) Apakah rencana strategis mendukung visi, misi, tujuan,
dan sasaran organisasi?
(5) Apakah rencana strategis memperhatikan alokasi sumber
daya dan skala prioritas?
(6) Apakah rencana strategis dan anggaran didesain melalui
berbagai tingkatan pimpinan organisasi?
(7) Apakah asumsi yang dibuat dalam menyusun rencana
strategis dan anggaran sudah konsisten dengan
pengalaman organisasi masa lampau dan sekarang?
b.

Penetapan Tujuan Operasional Entitas


(1) Apakah semua aktivitas yang signifikan sudah sejalan
dengan tujuan operasional entitas?
(2) Apakah semua aktivitas telah di review secara periodik
untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut tidak
menyimpang dari tujuan operasional dan rencana strategis
entitas?
(3) Apakah tujuan setiap aktivitas kunci dan aktivitas
pendukung sudah ditetapkan?
(4) Apakah tujuan tingkat operasional entitas sudah konsisten
dengan praktik-praktik dan kinerja yang baik di masa
lampau, dan konsisten dengan norma-norma bisnis dan
industri yang sesuai dengan entitas?
(5) Apakah sumber daya yang diperlukan untuk mendukung
pencapaian tujuan sudah diidentifikasikan?
(6) Jika sumber daya belum tersedia, apakah pimpinan entitas
sudah mempunyai rencana untuk memperolehnya?
(7) Apakah pimpinan entitas sudah mengidentifikasikan halhal yang harus dicapai untuk mencapai tujuan operasional
entitas?
(8) Apakah tujuan operasional entitas yang signifikan
memperoleh perhatian yang khusus dari pimpinan entitas
dan apakah sudah ada pemantauan kinerjanya secara

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
reguler?

c.

Identifikasi Risiko
(1) Apakah sudah digunakan metode penilaian risiko kualitatif
dan kuantitatif untuk menentukan urutan risiko relatif
secara periodik?
(2) Apakah risiko yang diidentifikasikan, diurutkan, dianalisa,
dan diminimalisir sudah dikomunikasi kepada staf?
(3) Apakah diskusi tentang identifikasi risiko terjadi pada
tingkat pimpinan senior entitas?
(4) Apakah identifikasi risiko sudah diperhitungan dalam
rencana jangka pendek dan rencana strategis jangka
panjang?
(5) Apakah identifikasi risiko terjadi sebagai pertimbangan dari
temuan pemeriksaan, evaluasi, atau penilaian lainnya?
(6) Apakah identifikasi risiko pada tingkat staf dan pimpinan
yunior entitas telah diangkat pada diskusi tingkat pimpinan
senior entitas?
(7) Apakah entitas sudah memperhatikan risiko-risiko yang
berkaitan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi?
(8) Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko yang
timbul dari perubahan kebutuhan atau ekspektasi dari
DPR, Pejabat Pemerintah, maupun Publik?
(9) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat
dari ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan baru?
(10) Apakah sudah diperhitungkan risiko-risiko bagi entitas
sebagai akibat dari bencana alam maupun tindak
kejahatan?
(11) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat
dari perubahan ekonomi, bisnis, dan politik?
(12) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang terkait
dengan kontraktor dan supplier utama?
(13) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat
dari interaksi dengan entitas lainnya baik di dalam maupun
di luar lingkungan pemerintahan?
(14) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko sebagai akibat
dari penciutan entitas?
(15) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan
dengan proses rekayasa dan desain kembali proses
operasi?
(16) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari
terganggunya proses sistem informasi?
(17) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko potensial akibat
dari proses yang terdesentralisasi?
(18) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat personil
yang kurang kualified dan kurang terlatih?
(19) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat terlalu
menggantukan diri pada beberapa kontraktor untuk hal-hal
yang kritis?
(20) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan
dengan perubahan yang mendasar dari tanggung jawab
pimpinan entitas?
(21) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat akses
pegawai terhadap aset-aset yang rentan?
(22) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko yang berkaitan
dengan SDM, seperti rencana suksesi, ketidakcukupan
kompensasi dan benefit untuk dapat tetap kompetitif
dengan pegawai sektor swasta?
(23) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan
dengan kelanjutan program?
(24) Apakah pimpinan entitas telah mempertimbangkan risikorisiko yang berkaitan dengan kegagalan di masa lalu
dalam mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran atau

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
kegagalan dalam menyikapi keterbatasan anggaran.
(25) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari
belanja program yang tidak tepat, pelanggaran prinsip
pengendalian dana, atau ketidakpatuhan lainnya.
(26) Apakah telah diidentifikasikan risiko-risiko inherent
berkaitan dengan misi atau signifikansi dan kompleksitas
dari program atau aktivitas tertentu.
d.

Analisa Risiko
(1) Apakah pimpinan entitas telah menetapkan proses formal
untuk menganalisa risiko termasuk proses informal
berdasarkan aktivitas sehari-hari?
(2) Apakah telah ditetapkan kriteria dalam menetapkan tingkat
risiko rendah, sedang, dan tinggi?
(3) Apakah tingkat manajemen dan staf sudah terlibat dalam
analisa risiko?
(4) Apakah risiko yang diidentifikasi dan dianalisa relevan
dengan tujuan operasional entitas?
(5) Apakah analisa risiko sudah termasuk perkiraan
signifikansinya?
(6) Apakah analisa risiko sudah termasuk perkiraan
kemungkinan dan frekuensi terjadinya dan juga penentuan
kategorinya, rendah, sedang, dan tinggi?
(7) Apakah sudah ada penentuan tentang bagaimana
mengelola atau meminimalkan risiko dengan baik
termasuk tindakan-tindakan yang harus diambil?
(8) Apakah
pendekatan
terhadap
pengelolaan
dan
pengendalian risiko sudah sesuai dengan sifat entitas?
(9) Apakah pendekatan terhadap risiko sudah didisain untuk
menjaga tingkat risiko pada tingkat yang dapat ditolerir?
(10) Apakah sudah ditetapkan aktivitas pengendalian untuk
mengelola dan meminimalisasi risiko tertentu pada level
operasional entitas, serta apakah ada pemantauan atas
implementasinya?

e.

Mengelola Risiko akibat Perubahan


(1) Apakah sudah diperhitungkan seluruh operasional entitas
yang dapat dipengaruhi oleh perubahan?
(2) Apakah
perubahan-perubahan
yang
rutin
sudah
diperhitungkan dalam proses identifikasi dan analisa risiko
yang sudah baku?
(3) Apakah risiko-risiko akibat kondisi yang berubah secara
signifikan sudah diperhitungkan sebagai risiko yang tinggi
bagi entitas sehingga akibatnya dapat diperhitungkan dan
diantisipasi?
(4) Apakah entitas telah memberikan perhatian terhadap risiko
akibat rekrutmen pegawai baru yang menempati posisi
penting atau tingkat penggantian pegawai yang tinggi?
(5) Apakah terdapat mekanisme untuk menilai risiko akibat
pengenalan sistem informasi yang baru dan risiko yang
melibatkan pelatihan pegawai untuk menggunakan sistem
baru?
(6) Apakah pimpinan entitas sudah memberikan pertimbangan
khusus tentang risiko akibat pertumbuhan dan ekspansi
yang cepat atau penciutan entitas serta pengaruhnya
terhadap kemampuan sistem dan revisi atas rencana
strategis, visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi?
(7) Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko akibat
pengenalan teknologi dan aplikasi baru?
(8) Apakah sudah dilakukan analisa terhadap risiko-risiko
akibat produksi jasa atau output baru?
(9) Apakah sudah dilakukan penilaian terhadap risiko akibat
pembentukan operasi di wilayah yang baru?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.
3.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
Aktivitas Pengendalian
a. pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level
reviews)
(1) Apakah terdapat mekanisme reviu dari pejabat tinggi atau
manajer senior untuk mengawasi pencapaian suatu entitas
terhadap rencana yang telah dibuat.
(2) Apakah pejabat tinggi atau manajer senior mengawasi
pencapaian suatu entitas terhadap rencana yang telah
dibuat sesuai mekanisme yang ada,
(3) Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit-unit
terkait.
(4) Reviu oleh manajemen pada tingkat fungsional/aktivitas
(functional/activity-level reviews), melalui pengujian:
(5) Apakah terdapat mekanisme reviu pada semua tingkat
manajemen fungsional untuk menelaah kinerja suatu
aktivitas atau fungsi terhadap rencana yang telah dibuat.
(6) Apakah manajer yang terkait menelaah kinerja suatu
aktivitas atau fungsi terhadap rencana yang telah dibuat
sesuai mekanisme yang ada.
(7) Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit-unit
terkait.
b.

Mereviu pengelolaan SDM


(1) Apakah ekspektasi manajemen terhadap pencapaian
tujuan telah didokumentasikan dan dikomunikasikan
kepada seluruh personil,
(2) Apakah terdapat rencana strategis mengenai pengelolaan
personil,
(3) Apakah telah terdapat prosedur guna memasitikan bahwa
personil yang direkrut maupun dipertahankan adalah
mereka yang benar-benar memiliki kompetensi,
(4) Apakah kepada pegawai telah diberikan orientasi, training
dan dukungan lainnya dalam rangka menjalankan
tugasnya,
(5) Apakah sistem kompenasi telah memadai dan terdapat
insentif khusus yang dapat mendorong pegawai bekerja
secara maksimal,
(6) Apakah terdapat mekanisme suksesi (promosi dan mutasi)
yang jelas.

c.

Mereviu pengelolaan informasi untuk memastikan tingkat


keakuratan dan kelengkapan informasi
(1) Apakah pembukuan semua transaksi dilakukan secara
sekuensial,
(2) Apakah jumlah-jumlah transaksi telah dicocokan dengan
jumlah pengendali,
(3) Apakah akses ke data dan dokumen lain dikendalikan.

d.

Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja


(1) Apakah indikator dan ukuran kinerja telah dibuat untuk
setiap bagian dan level dalam organisasi sampai kepada
individu,
(2) Apakah terhadap indikator tersebut telah dilakukan review
dan validasi secara periodik,
(3) Apakah data mengenai kinerja aktual senantiasa
ditandingkan dengan tujuan yang akan dicapai dan jika
ada perbedaan akan dilakukan analisa.

e.

Memisahan tugas atau fungsi


(1) Apakah kewenangan untuk mengendalikan seluruh
aktifitas kunci dipisahkan,
(2) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab
dalam otorisasi, penyetujuan (approval), pemrosesan,
pencatatan, pembayaran/penerimaan uang, audit, dan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

(3)

fungsi penyimpanan,
Apakah
penugasan
telah
dilakukan
dengan
memperhatikan efektifitas mekanisme cek and balance.

f.

Mereviu otorisasi kepada personil tertentu dalam melakukan


suatu transaksi
(1) Apakah transaksi yang diakui hanya transaksi-transaksi
yang valid sesuai ketentuan manajemen,
(2) Apakah suatu transaksi hanya dilakukan oleh orang yang
memiliki wewenang dan dilakukan sesuai dengan
kewenangan yang bersangkutan,
(3) Apakah prosedur otorisasi telah dikominikasikan kepada
seluruh pegawai termasuk kapan otorisasi tersebut dapat
digunakan.

g.

Mereviu pencatatan atas transaksi, dengan menguji apakah:


(1) Apakah setiap transaksi telah diklasifikasi dan dicatat
secara memadai guna mendukung pengendalian operasi
dan pengambilan keputusan,
(2) Apakah pengklasifikasian dan pencatatan tersebut telah
meliputi seluruh siklus mulai dari otorisasi, inisiasi,
pemrosesan sampai dengan klasifikasi final dalam
pencatatan secara keseluruhan.

h.

Membuat pembatasan akses dan akuntabilitas terhadap sumber


daya dan catatan-catatan
(1) Apakah terdapat pembatasan terhadap akses atas sumber
daya dan catatan,
(2) Apakah standar, prosedur dan operasi atas pembatasan
akses telah ditetapkan,
(3) Apakah personel yang diberi hak akses telah ditetapkan.

i.

Pendokumentasian
(1) Apakah sistem pengendalian intern, semua transaksi dan
kejadian penting lainnya telah didokumentasikan secara
memadai,
(2) Apakah dokumentasi tersebut selalu tersedia untuk
kepentingan pengujian,
(3) Apakah dokumentasi terhadap transaksi maupun kegiatan
penting lainnya telah dilakukan secara lengkap dan akurat
sehingga memungkinkan dilakukannya penelusuran,
(4) Apakah dokumentasi tersebut, baik tertulis maupun secara
elektronis, berguna bagi proses evaluasi, analisa dan
pengendalian.

Langkah pengujian pada aktivitas pengendalian dalam lingkungan


yang terkomputerisasi pada dasarnya serupa dengan langkah
pengujian pada aktivitas pengendalian dalam lingkungan yang tidak
terkomputerisasi. Teknik audit berbantuan komputer dapat
digunakan untuk melaksanakan langkah pengujian dimaksud.
4.

Informasi dan Komunikasi


a. Informasi
(1) Apakah informasi diidentifikasi, diperoleh, diproses dan
dilaporkan melalui suatu sistem informasi?
(2) Apakah informasi yang relevan diperoleh baik dari sumber
ekstenal maupun dari informasi yang dikelola secara
internal?
(3) Apakah terdapat mekanisme untuk memperoleh informasi
eksternal (seperti kondisi pasar, perkembangan dalam
bidang peraturan dan perubahan kondisi ekonomi)?
(4) Apakah informasi internal diidentifikasi dan secara teratur

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

(5)
(6)

(7)

(8)
(9)
(10)

(11)

(12)
(13)
(14)
(15)

(16)

b.

dilaporkan dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan


entitas termasuk fator-faktor keberhasilan?
Apakah pimpinan entitas memperoleh informasi yang
dibutuhkan guna melaksanakan tanggung jawabnya?
Apakah terdapat mekanisme penyediaan informasi yang
memadai bagi orang yang tepat secara tepat waktu guna
membantu mereka melaksanakan tugasnya secara efektif
dan efisien?
Apakah para manajer memperoleh informasi analitis yang
membantu mereka dalam mengidentifikasi tindakan yang
perlu diambil?
Apakah informasi yang jelas dan tepat tersedia bagi
berbagai tingkatan pimpinan entitas?
Apakah informasi dirangkum secara memadai guna
menyediakan data yang lebih mendetail?
Apakah
informasi
tersedia
sewaktu-waktu
yang
memungkinkan pemantauan yang efektif terhadap suatu
aktifitas dan kejadian, baik intern maupun ekstern untuk
selanjutnya bereaksi terhadap kondisi ekonomi, faktor
usaha dan masalah pengendalian?
Apakah pengembangan atau perbaikan sistem informasi
dilaksanakan berdasarkan rencana strategis sistem
informasi dikaitkan dengan strategi umum entitas dan
pencapaian tujuan umum maupun kegiatan entitas?
Apakah komite pengarah teknologi informasi telah dibentuk
dalam rangka identifikasi informasi yang dibutuhkan?
Apakah prioritas dan kebutuhan akan informasi ditentukan
oleh pihak eksekutif?
Apakah
perencanaan
teknologi
informasi
telah
dikembangkan dan dikaitkan dengan inisiatif strategi?
Apakah pimpinan entitas mendukung pengembangan
sistem informasi melalui komitmen terhadap sumber daya
yang memadai, baik manusia maupun keuangan?
Apakah sumber daya yang memadai (para manajer, analis,
programer, dengan kemampuan yang sesuai) tersedia
sesuai kebutuhan?

Komunikasi
(1) Apakah tugas dan tanggung jawab pengendalian pegawai
dikomunikasikan melalui jaringan komunikasi yang efektif?
(2) Apakah saluran komunikasi seperti pada saat pelatihan,
rapat atau dalam pelaksanaan pekerjaan baik secara
formal maupun informal telah dilaksanakan secara
memadai?
(3) Apakah setiap pegawai mengetahui tujuan kegiatan
masing-masing dan cara mencapai tujuan tersebut?
(4) Apakah setiap pegawai mengerti bagaimana tugas mereka
berpengaruh ataupun dipengaruhi oleh tugas pegawai
yang lain?
(5) Apakah terdapat saluran komunikasi bagi setiap orang
untuk melaporkan adanya dugaan penyimpangan?
(6) Apakah terdapat jalur komunikasi kepada pihak yang lebih
tinggi diluar atasan langsung, seperti bagian ombudsman
ataupun corporate counsel?
(7) Apakah para pegawai benar-benar menggunakan saluran
komunikasi yang ada?
(8) Apakah terhadap orang yang melaporkan dugaan
penyimpangan disediakan umpan balik dan diberi
kekebalan terhadap tuntutan balik?
(9) Apakah pimpinan entitas menerima dengan baik saran
yang diberikan oleh pegawai dalam rangka peningkatan
produktifitas, kualitas atau sejenisnya.
(10) Apakah terdapat mekanisme bagi pegawai untuk
menyampaikan saran-saran perbaikan?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
(11) Apakah pimpinan entitas memberikan penghargaan
kepada para pegawai yang memberikan saran yang baik?
(12) Apakah komunikasi antar bagian telah dilakukan secara
memadai?
(13) Apakah pimpinan entitas mengkomunikasikan kepada
pihak luar tentang standar etika yang dimiliki entitas?
(14) Apakah pihak ketiga mengetahui standar etika dan
ekspektasi dalam rangka hubungan mereka dengan pihak
entitas?
(15) Apakah penyimpangan yang dilakukan oleh pegawai pihak
luar dilaporkan kepada personil yang berwenang?
(16) Apakah pegawai senantiasa melaporkan masalah yang
terjadi dan laporan tersebut ditindaklanjuti/diinvestigasi?
(17) Apakah tindak lanjut atas penyimpangan dikomunikasikan
kepada sumbernya?
(18) Apakah pimpinan puncak sadar akan sifat dan jumlah
keluhan yang masuk?
c.

5.

Bentuk dan alat komunikasi


(1) Apakah
pimpinan
entitas
menggunakan
metode
komunikasi efektif yang antara lain meliputi manual
kebijakan
dan
prosedur,
arahan
manajemen,
memorandum, pemberitahuan, situs internet dan intranet,
pesan-pesa melalui video-tape, e-mail, dan pidato-pidato?
(2) Apakah terdapat rencana strategis sistem informasi yang
sejalan dengan rencana strategis organisasi?
(3) Apakah terdapat mekanisme untuk mengidentifikasi
kebutuhan informasi yang mendesak?
(4) Apakah peningkatan dan keunggulan teknologi dimonitor,
dianalisa, dievaluasi, dan diperkenalkan untuk membantu
organisasi untuk merespon lebih cepat dan efisien?
(5) Apakah pimpinan entitas memonitor secara kontinu
kualitas informasi yang diperoleh, dipelihara, dan
dikomunikasikan telah sesuai dengan materi, waktu,
akurasi, dan akses yang dibutuhkan?
(6) Apakah
terdapat
dukungan
manajemen
bagi
pengembangan teknologi informasi yang ditunjukkan
dengan komitmen organisasi dalam menyediakan
sumberdaya manusia dan keuangan?

Pemantauan
a. Pemantauan Berkelanjutan (ongoing monitoring)
(1) Apakah pemerintah atau manajemen memiliki strategi
untuk menjamin efektifitas pelaksanaaan pemantauan
berkelanjutan? Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
(a) Apakah strategi yang dimiliki pemerintah atau manajemen
menjamin umpan balik (feed back) secara rutin,
pemantauan kinerja dan pencapaian tujuan SPI?
(b) Apakah strategi pemantauan mencakup metode yang
memberi penekanan kepada pejabat pelaksana atau
manajer operasi dalam memantau efektivitas SPI?
(c) Apakah strategi pemantauan mencakup identifikasi
kegiatan operasi utama yang membutuhkan review dan
evalusi tersendiri? Selanjutnya apakah strategi
juga
meliputi perencanaan untuk evaluasi berkala atas aktivitas
pengendalian bagi kegiatan atau operasi utama tersebut?
(2)

(a)

Litbang Pemeriksaan

Dalam pelaksanaan tugas rutinnya, apakah pegawai


memperoleh informasi mengenai berfungsi tidaknyaSPI?
Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan adalah:
Apakah pejabat pelaksana atau manajemen operasi
membandingkan produksi, persedian, penjualan dan
informasi lainnya yang didapatkan dari kegiatan rutin
dengan sistem yang menghasilkan informasi serta
Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

(b)

(c)

(3)
(a)
(b)
(c)

(d)

(4)
(a)
(b)

(5)

(a)

(b)
(c)
(6)

(a)

(b)
(7)

(a)

(b)

(c)
Litbang Pemeriksaan

menindaklanjuti setiap ketidakcocokkan atau masalah lain


yang diketemukan?
Apakah integrasi dan rekonsiliasi informasi operasi yang
digunakan untuk mengelola pelaksanaan dengan data
yang dihasilkan oleh sistem pelaporan keuangan
dilakukan?
Apakah
pegawai
pelaksana
diharuskan
untuk
bertanggungjawab
atas
kecermatan
laporan
keuangannya?
Apakah pihak ketiga juga dilibatkan dalam pelaksanaan
pemantauan?
Apakah keluhan-keluhan masyarakat dan pihak lain dapat
segera diketahui penyebabnya?
Apakah komunikasi dengan pihak yang berkepentingan
dilakukan?
Apakah pemerintah/pembuat peraturan menginformasikan
hal-hal yang terkait dengan kepatuhan atau hal lain yang
menggambarkan berfungsinya SPI?
Apakah aktivitas SPI yang semestinya menjaga atau dapat
mendeteksi setiap masalah yang muncul tetapi tidak
berfungsi dengan baik, kembali dilakukan pengujian?
Apakah struktur organisasi dan kegiatan supervisi yang
ada dapat membantu pemantauan terhadap fungsi SPI?
Apakah pembagian tugas dan tanggung jawab digunakan
untuk membantu pendeteksian kecurangan?
Apakah auditor intern adalah badan yang independen dan
mempunyai kewenangan untuk melaporkan secara
langsung kepada pimpinan organisasi?
Apakah data yang dicatat oleh sistem informasi maupun
keuangan telah dibandingkan secara periodik dengan
fisiknya?
Apakah persediaan dan aset lainnya diperiksa secara
berkala? Dan apakah setiap perbedaan antara yang
tercatat dengan jumlah yang ada dikoreksi? Demikian juga
dengan sebab-sebab terjadinya perbedaan, apakah
dijelaskan dan diperbaiki?
Apakah frekwensi perbandingan merupakan fungsi dari
penjagaan aset?
Apakah tanggung jawab penyimpanan sumber daya dan
kekayaan diberikan kepada individu tertentu?
Apakah tanggapan atas rekomendasi auditor baik internal
maupun eksternal ditujukan untuk memperkuat/perbaikan
pengendalian intern?
Apakah pejabat pelaksana yang mempunyai kewenangan
memberi keputusan mengenai rekomendasi yang akan
diimplementasikan?
Apakah tindakan yang diinginkan ditindaklanjuti untuk
memverifikasi implementasi?
Apakah terdapat mekanisme pertemuan dengan para
pegawai dalam rangka memperoleh umpan balik mengenai
efektifitas SPI?
Apakah isu-isu yang relevan, informasi dan umpan balik
terkait tengan efektivitas pengendalian intern yang
dinyatakan dalam pelatihan, seminar, sesi perencanaan
dan pertemuan-pertemuan lain didapatkan dan digunakan
oleh manajemen untuk menjawab masalah-masalah atau
untuk memperkuat struktur pengendalian intern?
Apakah saran-saran dari pegawai terkait dengan
pengendalian intern dipertimbangkan dan dilaksanakan
secara proporsional?
Apakah manajemen mendorong para pekerjanya untuk
Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI
mengidentifikasi kelemahan pengendalian intern
melaporkan kepadanya dalam rangka pengawasan?
(8)

(a)
(b)

(9)
(a)

(b)
(c)
(d)

Ya
dan

Apakah para pegawai secara rutin diminta untuk


menyatakan secara eksplisit mengenai kesesuaian
perilaku mereka terhadap kode etik?
Apakah para pegawai secara berkala diminta untuk
melaksanakan kode etik?
Apakah ada tanda bagi pembuktian telah dilakukannya
fungsi pengendalian untuk fungsi-fungsi pokok seperti
rekonsiliasi?
Apakah terdapat efektivitas dari kegiatan audit intern?
Apakah kegiatan audit intern di dalam organisasi
mempunyai tingkat kompetensi dan pengalaman di
bidangnya?
Apakah posisi-posisi dalam organisasi tepat?
Apakah dapat berhubungan dengan dewan direksi ataupun
komite audit?
Apakah lingkup, tanggung jawab dan perencanaan audit
mereka memenuhi kebutuhan organisasi?

b. Evaluasi Terpisah (Separate Evaluation)


(1) Apakah lingkup dan frekuensi pelaksanaan evaluasi
khusus terhadap pengendalian intern telah memadai?
(a) Apakah hasil penilaian resiko dan efektivitas pemantauan
berkelanjutan dipertimbangkan dalam menentukan lingkup
dan frekwensi evaluasi terpisah?
(b) Apakah seksi atau bagian tertentu pengendalian intern
dievalusi secara periodik?
(c) Apakah lingkup, kedalaman cakupan sudah cukup?
(d) Apakah evaluasi dilakukan oleh pegawai dengan keahlian
yang dibutuhkan?
(e) Apakah kejadian-kejadian tertentu seperti perubahan
rencana atau strategi manajemen yang mendasar,
ekspansi usaha, perubahan yang signifikan pada operasi
atau informasi anggaran telah diadakan evaluasi?
(2)

(a)
(b)

(c)
(d)

(3)

(a)

(b)

(c)

(d)
Litbang Pemeriksaan

Apakah metodologi untuk mengevaluasi pengendalian


intern telah memadai dan logis? Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan:
Metodologi yang digunakan seperti checklist, kuisioner
atau metode lain.
Evaluasi terpisah mungkin saja mencakup review atas
design pengendalian dan pengujian langsung terhadap
aktivitas pengendalian intern.
Apakah tim evaluasi juga dilibatkan dalam merencanakan
proses evaluasi?
Apakah proses evaluasi dipimpin oleh eksekutif yang
mempunyai kewenangan, keahlian dan pengalaman yang
dibutuhkan?
Apabila evaluasi ini dilakukan oleh auditor intern, apakah
mereka memiliki sumber daya, kemampuan dan
independensi yang memadai? Hal-hal berikut perlu
menjadi bahan pertimbangan:
Apakah auditor intern mempunyai pegawai dengan
kompetensi dan pengalaman yang dapat melakukan
pekerjaan evaluasi?
Apakah secara organisasi auditor intern independen dan
melaporkan hasil evaluasi kepada tingkat tertinggi yang
ada dalam organisasi?
Apakah tanggung jawab, lingkup pekerjaan, dan rencana
audit
auditor intern dapat memenuhi kebutuhan
organisasi?
Apakah penyimpangan yang ditemukan dalam evaluasi ini
Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

(e)
(f)
(g)

(h)

(i)

telah dilaporkan ke pimpinan puncak dan telah


diselesaikan secara tepat?
Apakah terdapat kecukupan proses evaluasi? Beberapa
hal berikut dapat dijadikan pertimbangan:
Apakah evaluator mempunyai kecukupan pemahaman
terhadap aktivitas organisasi?
Apakah pemahaman terhadap bagaimana sistem
seharusnya bekerja dan bagaimana sistem bekerja
didapatkan oleh evaluator?
Apakah analisis dengan menggunakan hasil evaluasi
sebagai pengukuran terhadap kriteria yang telah
ditetapkan dilakukan oleh evaluator?
Apakah pekerjaan evaluasi didokumentasikan secara
memadai?

c. Penyelesaian hasil audit


(1) Apakah terdapat mekanisme yang dapat menjamin bahwa
terhadap temuan-temuan audit ataupun review lainnya
telah dilakukan penyelesaian dengan tepat? Antara lain:
(a) Apakah manager melakukan review dan megevaluasi
temuan-temuan audit ataupun review lainnya termasuk
penyimpangan-penyimpangan
dan
kemungkinan
perbaikannya?
(b) Apakah manajemen menentukan hal-hal yang perlu
dilakukan dalam menanggapi temuan dan rekomendasi?
(c) Apakah tindakan perbaikan dilakukan dalam jangka waktu
yang telah ditentukan?
(d) Dalam hal terjadi ketiksetujuan terhadap temuan atau
rekomendasi, apakah manajemen mampu menunjukkan
bahwa temuan atau rekomendasi tersebut tidak valid
ataupun tidak bisa dilaksanakan?
(e) Apakah manajemen mempunyai pemikiran untuk
melakukan konsultasi kepada auditor ketika mereka
percaya bahwa hal tersebut akan membantu proses
penyelesaian hasil audit?
(2)

(a)

(b)
(3)

(a)
(b)
(c)
(d)
(e)

Litbang Pemeriksaan

Apakah manajemen tanggap terhadap temuan dan


rekomendasi audit ataupun review lainnya yang bertujuan
kepada perbaikan pengendalian intern? Hal tersebut dapat
terlihat dari:
Apakah eksekutif yang berwenang mengevaluasi temuan
dan rekomendasi serta menentukan tindakan yang tepat
untuk memperbaiki atau meningkatkan pengendalian?
Apakah tindakan pengendalian intern yang diinginkan
ditindaklanjuti dalam rangka verifikasi pengendalian?
Apakah tindak lanjut terhadap temuan dan rekomendasi
audit ataupun review lainnya telah dilakukan secara
memadai? Antara lain dapat diketahui dari:
Apakah masalah-masalah pada transaksi atau kejadian
tertentu dikoreksi secara tepat?
Apakah penyebab permasalahan yang terjadi dapat
diselidiki oleh manajemen?
Apakah tindak lanjut untuk meyakinkan bahwa tindakan
perbaikan yang diperlukan telah dilakukan?
Apakah top manajemen selalu mendapatkan informasi
terhadap status dan posisi penyelesaian hasil audit?
Apakah penyebab terjadinya permasalahan sebagaimana
dituangkan dalam temuan dan rekomendasi telah diselidiki
dan telah dilakukan perbaikan?

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.6

Pemahaman SPI

Ya

Tidak

Catatan

KESIMPULAN:

*)

COSO (Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission), merupakan organisasi


swasta sukarela yang didirikan pada tahun 1985 yang ditujukan untuk pengembangan kualitas laporan
keuangan melalui etika bisnis, pengendalian intern yang efektif serta penguasaan perusahaan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.7

FORMULIR PEMAHAMAAN TRANSPARANSI FISKAL


Peran Pemerintah
No

Unsur Transparansi Fiskal


Desain

1.

Kejelasan Peran dan Tanggung Jawab


1.

Sektor pemerintahan harus bisa dibedakan dari sektor


publik lainnya dan dari sektor ekonomi lainnya, dan
kebijakan serta peran manajemen dalam sektor publik
harus jelas dan diungkapkan kepada publik.

2.

Harus ada kerangka kerja hukum dan administratif yang


jelas untuk manajemen fiskal.

2.

Struktur dan fungsi pemerintah harus ditetapkan dengan


jelas.
Tanggung jawab dari setiap level pemerintahan yang
berbeda, dan pada pihak eksekutif, pihak legislatif, serta
yudikatif, harus dijelaskan dengan baik.
Mekanisme yang jelas untuk koordinasi dan manajemen
aktivitas budgeter dan non budgeter harus ditetapkan.
Hubungan antara lembaga publik pemerintah dan
nonpemerintah (yaitu bank sentral, lembaga keuangan
publik, dan perusahaan nonfinansial) harus didasarkan
pada pengaturan yang jelas.
keterlibatan pemerintah pada sektor swasta (misalnya
melalui penetapan peraturan dan kepemilikan saham)
dilakukan secara terbuka dan umum, serta didasarkan
pada aturan dan prosedur yang jelas yang diaplikasikan
tanpa diskriminasi.

Setiap komitmen atau belanja atas dana publik harus


dikendalikan oleh hukum anggaran yang menyeluruh
dan peraturan administratif yang tersedia secara
terbuka.
Pajak, bea cukai, biaya, dan beban harus mempunyai
dasar hukum eksplisit. Hukum dan peraturan pajak
harus dapat diakses dengan mudah dan mudah
dimengerti, serta kriteria yang jelas harus memberi
petunjuk dalam setiap penerapan kebijakan
administratif.
Standar etis atas tingkah laku untuk pegawai negeri
harus jelas dan dipublikasikan dengan baik.

Ketersediaan Informasi untuk Publik


1.

Masyarakat harus disediakan informasi yang lengkap


tentang aktivitas fiskal pemerintah di masa lalu, sekarang
dan yang direncanakan.

Dokumentasi anggaran, Laporan Akhir, dan laporan


fiskal lainnya untuk publik harus mencakup seluruh
aktivitas budgeter dan non budgeter pemerintah pusat,
dan posisi fiskal pemerintah pusat yang telah
dikonsolidasikan harus dupublikasikan.
Harus tersedia informasi tentang realisasi anggaran
untuk dua tahun sebelumnya bersama dengan ramalan
anggaran pokok untuk dua tahun kedepan, serta harus
bisa diperbandingkan dengan anggaran tahunan.
Pernyataan yang menjelaskan sifat dan signifikansi
fiskal atas kewajiban kontinjen pemerintah pusat dan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Implementasi

Langkahlangkah Audit
yang Harus
Dilakukan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

2.

belanja pajak dan aktivitas quasi-fiskal, harus menjadi


bagian dari dokumentasi anggaran.
Pemerintah pusat harus mempublikasikan informasi
secara lengkap tentang level dan komposisi utang serta
aset finansial pemerintah.
Jika level pemerintah subnasional signifikan, kombinasi
posisi fiskal gabungan dan posisi fiskal konsolidasian
untuk seluruh pemerintahan harus dipublikasikan.
Harus dibuat suatu komitmen untuk mempublikasikan
informasi fiskal secara tepat waktu.

3.

Lampiran 3.7

Publikasi informasi fiskal harus menjadi kewajiban legal


pemerintah.
Tanggal-tanggal penerbitan informasi keuangan harus
diumumkan sebelumnya.

Perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan anggaran secara


terbuka.
1.

2.

Informasi anggaran harus disajikan dengan cara yang


dapat memfasilitasi analisis kebijakan dan meningkatkan
pertanggungjawaban.

3.

Dokumentasi anggaran harus merinci sasaran kebijakan


fiskal, kerangka makroekonomi, basis kebijakan anggaran,
dan risiko fiskal utama yang bisa diidentifikasikan.
Pernyataan sasaran kebijakan fiskal dan penilaian
kemampuan fiskal harus menyediakan kerangka kerja
untuk anggaran tahunan.
Semua ketentuan fiskal yang telah diterapkan (misalnya
persyaratan anggaran berimbang dan batas pinjaman
pemerintah pada level subnasional) harus ditetapkan
dengan jelas.
Anggaran tahunan harus dipersiapkan dan disajikan
dalam kerangka makroekonomi kuantitatif yang
menyeluruh dan konsisen serta asumsi-asumsi yang
mendasari anggaran harus disediakan.
Kebijakan-kebjakan baru yang sedang diperkenalkan
dalam anggaran tahunan harus digambarkan dengan
jelas.
Risiko fiskal yang utama harus diidentifikasi dan diukur
apabila memungkinkan, termasuk variasi asumsi
ekonomi dan biaya tidak pasti atas komitmen belanja
spesifik (sebagai contoh restrukturisasi keuangan).

Data anggaran harus dilaporkan dalam basis


bruto,membedakan antara pendapatan, belanja, dan
pembiayaan, dengan belanja yang diklasifikasikan
berdasarkan kategori ekonomi, fungsi, dan administratif.
Data aktivitas nonbudgeter harus dilaporkan dengan
basis yang sama.
Pernyataan tujuan yang akan dicapai dengan program
anggaran utama (sebagai contoh peningkatan indikator
sosial yang relevan) harus disediakan.
Saldo keseluruhan pemerintah harus bisa menjadi
standar ringkasan indikator posisi fiskal pemerintah. Hal
itu harus ditambahkan, jika sesuai, dengan indikator
fiskal lainnya pada pemerintah (sebagai contoh saldo
operasional, saldo struktural, atau saldo utama).
Saldo sektor publik harus dilaporkan ketika lembaga
publik nonpemerintah melakukan aktivitas quasi-fiskal
yang signifikan.
Prosedur-prosedur untuk melaksanakan dan mengawasi
belanja yang telah disetujui serta merealisasikan
pendapatan harus ditetapkan denga jelas

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

4.

4.

Lampiran 3.7

Harus ada sistem akuntansi yang menyeluruh dan


terintegrasi yang menyediakan dasar yang dapat
dipercaya untuk menghitung pembayaran tunggakan.
Pengadaan dan regulasi pegawai harus distandarisasi
dan mudah dijangkau oleh semua pihak.
Pelaksanaan anggaran harus telah diperiksa oleh pihak
internal, dan prosedur pemeriksaan harus terbuka untuk
direviu.
Administrasi pajak nasional harus dilindungi undangundang dari kepentingan politik dan harus melaporkan
secara teratur atas aktivitas-aktivitas yang dilakukannya.

Harus dilakukan pelaporan fiskal secara teratur kepada


legislatif dan kepada publik.

Laporan tengah tahunan anggaran harus diserahkan


kepada legislatif. Laporan yang lebih sering (paling tidak
triwulan) juga harus dipublikasikan.

Laporan Keuangan akhir tahun harus disajikan kepada


legislatif dalam satu tahun setelah tahun anggaran fiskal
berakhir.

Hasil yang dicapai berdasarkan program anggaran


utama harus dilaporkan kepada legislatif secara
tahunan.

Jaminan integritas
1.

Data Fiskal Harus Memenuhi Standar Kualitas Data yang


Diterima umum

2.

Data anggaran harus mencerminkan tren pendapatan


dan belanja tahun berjalan, perkembangan
makroekonomi yang mendasarinya, dan kebijakan
komitmen yang ditetapkan dengan baik.
Anggaran tahunan dan Laporan Keuangan akhir tahun
harus mengindikasikan basis akuntansi (sebagai contoh
kas atau akrual) dan standar yang digunakan dalam
penggabungan dan penyajian data anggaran.
Harus ada jaminan yang spesifik atas kualitas data
fiskal. Khususnya, harus ada indikasi apakah data dalam
laporan keuangan secara internal telah konsisten dan
telah direkonsiliasi dengan sumber data yang lain.

Informasi fiskal harus diperiksa oleh pemeriksa independen.


Badan pemeriksa nasional atau organisasi yang setara,
yang independen dan pihak eksekutif, harus
menyediakan laporan atas integritas keuangan dalam
pertanggungjawaban pemerintah kepada legislatif dan
masyarakat dengan tepat waktu.

Tenaga ahli independen harus disertakan dalam


penilaian perkiraan fiskal dan makroekonomi yang
ndasarinya, serta semua asumsi yang digunakan.

Lembaga statistik nasional harus diberikan independensi


institusional untuk memferifikasi kualitas data fiskal.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.8

Akun Signifikan

PIUTANG

Proses Akuntansi Signifikan

Pendapatan Negara, Penerimaan Kas


RINGKASAN PENILAIAN RISIKO: AKUN NERACA

Langkah
3
Pemahaman
Entitas

5 Pengendalian
Intern
pada Entity Level

6 Menyusun
Strategi Audit
Awal

Faktor Resiko Inheren Utama

1. Rapat dengan Instansi terkait secara teratur

V&A

R&O
tinggi

IR

rendah/menengah/tinggi

rendah

rendah

rendah

rendah

IR

rendah/menengah/tinggi

tinggi

Penurunan perputaran piutang yang signifikan

Proses Akuntansi

Strategi

Pendapatan (Proses
Data Rutin)

TOC

TOC
WALK

Proses dan

Pengendalian yang teridentifikasi dan


terdokumentasi
1. Membandingkan jumlah anggaran dengan
CR
jumlah penerimaan
1. Seluruh pelunasan piutang harus
dilakukan dengan cara transfer bank
3. Pemeriksaan harian atas transfer masuk
ke rekening piutang

Evaluasi secara keseluruhan


Pada kotak sebelah kanan, masukkan evaluasi berdasarkan hasil dari langkah
sebelumnya

1. Penerimaan lebih kecil dari anggaran


2. Penerimaan anggaran terlambat diterima

7&8 Memahami dan mengevaluasi


pengendalian terkait / Melakukan Test of Control

Penerimaan Kas
(Proses Data Rutin)

Asersi--------->
rendah/menengah/tinggi

IR

rendah/menengah/tinggi

rendah

CR

rendah/menengah/tinggi

CR

rendah/menengah/tinggi

rendah

IR
CR

rendah/menengah/tinggi
rendah/menengah/tinggi

tinggi
rendah

tinggi
rendah

rendah

rendah

tinggi
rendah

Tinggi
rendah

Penilaian Risiko Gabungan (CRA) berdasarkan penilaian terhadap Risiko Inheren dan Risiko Pengendalian diatas
(Min, Rendah, Mod , Tinggi)
CRA
Rendah
Rendah
[Nilai-nilai tersebut secara otomatis diambil dari keputusan-keputusan mengenai CRA yang Rendah
diambil diatas]

Rendah

(RESIKO AUDIT YANG TERSISA) REMAINING AUDIT RISK


Batasan dari prosedur substantif yang dibutuhkan untuk
remaining audit risk

membahas
Deteksi

Deteksi

Deteksi

Deteksi

[Nilai-nilai tersebut secara otomatis diambil dari keputusan-keputusan mengenai CRA diatas]

Strategi audit untuk mebahas remaining audit risk


(Ketik "Ya" pada kotak yg sesuai utk
Analitis dan analisa data
mengindikasikan pendekatan yang diambil)
Pengujian rincian

10
11

12
Test 1

Test 2

Timing

Ya
Ya

Ya
Ya

Ya

Ringkasan prosedur substantif yang dirancang untuk membahas remaining audit risk
Analitis
Asersi -------->
C
V

R&O

Membandingkan piutang tahun berjalan sebagai


persentase penjualan bersih dengan persentase periode
Akhir Tahun sebelumnya, dan mempertimbangkan kewajaran
persentase tahun berjalan

Ya

Membandingkan perputaran piutang periode berjalan dan


jumlah hari sales outstanding dengan jumlah sebelumnya
kemudian mempertimbangkan kewajaran dari jumlah
Akhir Tahun
pada periode tahun berjalan.

x
13
Test 1
Test 2
Test 3
Test 3

Pengujian rincian
Interim

Mengirimkan konfirmasi permintaan untuk saldo Rp__

Akhir Tahun Mengadakan pengujian cut-off atas penjualan


Akhir Tahun Melakukan pengkajian atas proses penagihan selanjutnya
Akhir Tahun Menelusuri dokumen yang mendasari transaksi untuk
jumlah diatas Rp___

Keterangan:
C = Kelengkapan
O = Keberadaan dan Keterjadian

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.8

R & O = Hak dan Kewajiban


V & A = Penilain dan Alokasi

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.9

Contoh Penentuan Materialits (Dihitung berdasarkan % dari belanja)


Laporan Realisasi Anggaran
Pemerintah Pusat Tahun 200X
(Dalam Ribuan Juta Rupiah)

Uraian

Nilai Realisasi

I
I.I
I.2
I.3

Pendapatan Negara dan Hibah


Penerimaan Perpajakan
Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penerimaan Hibah

645,624
351,974
180,697
7,445

2
2.2
2.2

Belanja
Balanja Pemerintah Pusat
Belanja Untuk Daerah
...
Surplus

565,070
371,880
265,197
...
80,554

Planning
Kesalahan Yang
Materiality 1% Dapat Ditolerir

5,651

2,825

Perhitungan Materialitas :
Kertas Kerja Perhitungan Pertimbangan Awal Tentang Materialitas
(Worksheet for Calculating the Preliminary Judgment about Materiality)
Auditee

Tahun Anggaran

Identifikasi Jumlah Yang Mendasari/


(Identify Base Amount)
1. Jumlah Yang Mendasari/Base Amount
2. Perhitungan Materialitas Terencana
(Calculating Planning Materiality)
3. Jumlah Kesalahan Yang Dapat Ditoleransi
(Tolerable Error)

Litbang Pemeriksaan

Pemerintah Pusat
200X

:
:

565,070
5,651

(total Belanja)
(1% x 565.070)

2,825

(50% x 5.651)

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.10

Contoh Work sheet penetapan Tolerable Error


Laporan Keuangan Pemda Kabupaten A Tahun 20XX
Worksheet penetapan Tolerable Error
Perhitungan PM
Jumlah yang mendasari :
Tingkat Materialitas:
Planning Materiality :

Total Belanja
3%
21,270

Pertimbangan lain *)

Alokasi TE
Nilai dalam Laporan Akun-akun yang
Keuangan
diaudit

(dengan rumus)

IR

CR

Ukuran sampel

Besar

R
M

R
M

Sedikit

Alokasi TE
Berdasarkan
pertimbangan
profesional
pemeriksa

NERACA
ASET
ASET LANCAR
Kas
Investasi Jangka Pendek
Piutang
Persediaan
INVESTASI JANGKA PANJANG
Investasi Nonpermanen
Investasi Permanen
ASET TETAP
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi dalam Pengerjaan
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap
TOTAL
DANA CADANGAN
Dana Cadangan
ASET LAINNYA
Tagihan Penjualan Angsuran
Tuntutan Perbendaharaan
TOTAL
TOTAL ASET
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
Utang Perhitungan Pihak Ketiga
Utang Bunga
Utang Pajak
Bagian Lancar Hutang Jangka
Panjang Dalam Negeri
Pendapatan Diterima di Muka
Utang Jangka Pendek Lainnya
TOTAL
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Utang Dalam Negeri
Utang Luar Negeri
Utang Jangka Panjang Lainnya
TOTAL
TOTAL KEWAJIBAN
EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR
SAL
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran
(Silpa)
Cadangan Piutang
Cadangan Persediaan
Dana Yang Harus Disediakan Untuk
Pembayaran Utang Jangka Pendek
EKUITAS DANA INVESTASI
Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka
Panjang
Diinvestasikan Dalam Aset Tetap
Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya
Dana Yang Harus Disediakan Untuk
Pembayaran Utang Jangka Panjang
EKUITAS DANA CADANGAN
Diinvestasikan Dalam Dana Cadangan
TOTAL EKUITAS
TOTAL

Litbang Pemeriksaan

100,000
131,000
25,000
256,000

100,000
131,000
25,000

20,000
159,000
179,000

20,000
159,000

130,000
145,000
170,000
169,000
45,000
160,000
(34,000)
785,000

130,000
145,000
170,000
169,000
45,000
160,000
(34,000)

66,000

66,000

17,000
10,000
27,000
1,313,000

17,000
10,000

15,000
5,000
12,000

15,000
5,000
12,000

13,000
1,000
4,000
50,000

13,000
1,000
4,000

50,000
100,000
200,000
350,000
400,000

50,000
100,000
200,000

35,000

3,348
3,832
1,674
1,497
4,222
3,818
4,032
4,366
4,353
2,246
4,236
1,952
2,720
1,381
1,059
1,297
749
1,160
1,207
335
670
2,368
3,348
4,735
-

50,000
131,000
25,000

(35,000)

179,000
785,000
27,000

179,000
27,000

(350,000)

(350,000)

66,000
913,000
1,313,000

66,000
-

Badan Pemeriksa Keuangan

1,500
5,000
1,000

4,000
6,000

4,000
8,000
1,000
5,000
3,000
3,000
2,000

1,000

4,000
500

5,000
500
2,000
2,000
670

1,000
4,000
6,000

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.10

Pertimbangan lain *)

Alokasi TE
Nilai dalam Laporan Akun-akun yang
Keuangan
diaudit

(dengan rumus)
4,616
2,900

LRA
PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Lain-lain PAD yang Sah
PENDAPATAN TRANSFER
TRANSFER PEMERINTAH PUSATDANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
TRANSFER PEMERINTAH PUSATLAINNYA
Dana Otonomi Khusus
Dana Penyesuaian
LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG
SAH
Pendapatan Hibah
Pendapatan Dana Darurat
Pendapatan Lainnya
TOTAL PENDAPATAN
BELANJA
BELANJA OPERASI
Belanja Pegawai
Belanja Barang
Bunga
Subsidi
Hibah
Bantuan Sosial
BELANJA MODAL
Belanja Tanah
Belanja Peralatan dan Mesin
Belanja Gedung dan Bangunan
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Aset Tetap Lainnya
BELANJA TAK TERDUGA
Belanja Tak Terduga
TRANSFER
TRANSFER BAGI HASIL KE
KABUPATEN/KOTA/DESA
Bagi Hasil Pajak
Bagi hasil Retribusi
Bagi Hasil Pendapatan Lainnya
TOTAL BELANJA + TRANSFER
SURPLUS (DEFISIT)
PEMBIAYAAN
PENERIMAAN PEMBIAYAAN
Penggunaan Silpa
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah
Yang Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman Daerah
Penerimaan Kembali Pemberian
Pinjaman Daerah
Penerimaan Kembali Piutang Daerah
TOTAL
PENGELUARAN PEMBIAYAAN
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal (Investasi)
Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
TOTAL
PEMBIAYAAN NETTO
SILPA
TOTAL

190,000
75,000

190,000
75,000

60,000
50,000

60,000
50,000

80,000
90,000
100,000
60,000

80,000
90,000
100,000
60,000

40,000
30,000
775,000

40,000
30,000

45,000
50,000
7,000
45,000
-

45,000
50,000
7,000
45,000
-

120,000
70,000
90,000
150,000
65,000

120,000
70,000
90,000
150,000
65,000

20,000

20,000

30,000
12,000
5,000
709,000
66,000

30,000
12,000
5,000

100,000
70,000

2,594
2,368
2,995
3,177
3,348
2,594

CR

Ukuran sampel

4,000
3,000
2,500
2,400

3,000
3,000
1,000
1,000

2,118
1,834
2,246
2,368
886
2,246
3,668
2,802
3,177
4,101
2,700
1,497
-

2,066
1,789

4,000
1,000
3,000

4,000
-

1,500

100,000
70,000

1,834
1,160
749
3,348
2,802

1,000

150,000
30,000

150,000
30,000

4,101
1,834

2,000
2,000

100,000

100,000

3,348

2,000

50,000
500,000

50,000

3,000

66,000

66,000

2,368
2,720

100,000
200,000
150,000
516,000
(16,000)
50,000

100,000
200,000
150,000

3,348
4,735
4,101
147,940

2,500
2,000
2,000

126,425

21,651

21,423

4,035,000

TOTAL NONADDITIVE COMBINED


TOLERABLE ERROR

*) : Pertimbangan lain diisi sesuai dengan hasil penilaian resiko


Misalnya: Resiko diisi dengan T untuk tinggi, M untuk menengah, dan R untuk rendah

Litbang Pemeriksaan

IR

Alokasi TE
Berdasarkan
pertimbangan
profesional
pemeriksa

Badan Pemeriksa Keuangan

1,000
1,000
1,000

1,000

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.11

KERTAS KERJA PENENTUAN UJI PETIK


Akun/Kelompok Akun

Proses Akuntansi Yang Signifikan

Tujuan Pengujian

Langkah :
a. Penentuan atribut dan atau
karakteristik akun
Uraian

Catatan

b. Penentuan populasi
c.

Penentuan luas sampling (besarnya


sampel)
d. Penentuan tingkat deviasi yang
dapat ditoleransi
e. Penentuan risiko pengendalian yang
dapat diterima
f. Penentuan ukuran sampel

*)

*) Lihat Lampiran contoh perhitungan materialitas (Lampiran 3.9)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.11

CONTOH KERTAS KERJA PENENTUAN UJI PETIK


Akun/Kelompok Akun

Proses Akuntansi Yang Signifikan

Pencatatan pada Buku Kas Umum (BKU)


Rekonsiliasi catatan dengan Rekening Koran
Rekonsiliasi catatan pada Bendahara Umum dan Pemegang Kas

Tujuan Pengujian

Meyakinkan transaksi kas dicatat secara aktual (Keberadaan)


Meyakinkan transaksi kas dicatat sesuai dengan nilai yang
sebenarnya (Akurasi)
Meyakinkan seluruh transaksi kas telah dicatat (Kelengkapan)

Langkah :
a. Penentuan atribut dan atau
karakteristik akun

Kas dan Bank

Buku Kas Umum


Rekening koran
Saldo rekening giro
SP2D
Dokumen penagihan lainnya

Uraian
Saldo bulanan pada Bendahara
Umum Negara (BUN) selama 1
tahun anggaran

Catatan
Dengan nilai tertinggi sebesar
Rp. 3.200 juta dan nilai
terendah sebesar Rp.1.280
juta

Volume transaksi penerimaan dan


pengeluaran yang frekuensinya
besar dan atau tidak biasa

Transaksi penerimaan dan


pengeluaran kas pada bulan
Januari dan Desember.
Saldo kas pada bulan Januari
sebesar Rp.11.273 juta dan
bulan Desember Rp.25.125 juta

d. Penentuan tingkat deviasi yang


dapat ditoleransi

Kesalahan yang dapat ditolerir


sebesar 50% dari materialitas
perencanaan, yaitu sebesar 0,2%
s.d. 1 % dari total belanja

Misalnya: kesalahan yang


dapat ditolerir adalah sebesar
Rp. 3.200 juta *)

e. Penentuan risiko pengendalian yang


dapat diterima

Entitas sudah menerapkan


pengendalian kas yang memadai

Prosedur pencatatan atas


sampel bukti sudah cukup
memadai

b. Penentuan populasi

c.

f.

Penentuan luas sampling (besarnya


sampel)

Penentuan ukuran sampel

Besarnya sampel :
Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas di bulan Januari dan
Desember

*) Lihat Lampiran contoh perhitungan materialitas (Lampiran 3.9)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.12

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

PROGRAM PEMERIKSAAN

ATAS
LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT
(ATAU LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN/LEMBAGA)
TAHUN ANGGARAN/TAHUN BUKU

PADA
(Nama Entitas)
........................

DI

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA ..

Nomor :
Tanggal :

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.12

1.

Dasar Pemeriksaan

2.

Standar Pemeriksaan, yaitu:


a. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
b. Panduan Manajemen Pemeriksaan
c. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)

3.

Entitas Yang Diperiksa

4.

Tahun Anggaran/Tahun Buku Yang Diperiksa

5.

Identitas dan Data Umum Entitas Yang Diperiksa

6.

Tujuan Pemeriksaan

Metodologi Pemeriksaan

7.

8.

Sasaran Pemeriksaan

9.

Pengarahan Pemeriksaan

Jangka Waktu Pemeriksaan

10.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.
Urut

Uraian Kegiatan
Pemeriksaan

1.

Lampiran 3.12

Ketua
Tim
3

Anggota
Tim
4

Jumlah Hari Pemeriksaan


Anggota
Anggota
Jumlah
Tim
Tim
5
6
7

Ket
8

Pembicaraan
awal dengan
Pimpinan
Instansi atau
Badan Usaha

2.

3.

4.

Pembicaraan
akhir dengan
Pimpinan
Instansi atau
Badan Usaha

Keterangan:
1. Hari kerja
2. Hari libur dan/Minggu
3. Perjalanan pergi atau pulang
Jumlah
11.

No.
Urut

=
=
=
=

hari
hari
hari
hari

Susunan Tim dan Rincian Biaya Pemeriksaan


Susunan Tim
Pemeriksaan
Golongan/
Nama
Pangkat

Jumlah Hari
Pemeriksaan

Rincian Biaya Pemeriksaan


Lumpsum

Transpor

Lainlain

12.

Instansi Penerima Hasil Pemeriksaan

13.

Kerangka Isi Laporan (terlampir)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ket
Jml

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.12

,
Tortama ..

..
NIP. .

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.13

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Program Kerja Perorangan
Anggota Tim Pemeriksa
Nama :

No.

Langkah
Pemeriksaan

Waktu Pemeriksaan
(mandays)
Rencana
Realisasi
3
4

KKP No.

Catatan
Ketua Tim

.,
..

Litbang Pemeriksaan

Disetujui oleh,

Disusun oleh,

(Ketua Tim ybs)

(Nama Anggota Tim ybs)

.
NIP.

.
NIP.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

CONTOH PENGUJIAN PENGENDALIAN TEKNOLOGI INFORMASI


Pengujian pengendalian atas penggunaan teknologi informasi (TI) atas penyusunan LKPP dan
LK Kementerian/Lembaga, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Pemahaman Terhadap Pengendalian Umum (General Control)
Pemahaman terhadap pengendalian umum bertujuan untuk memperoleh pemahaman mengenai
pengendalian umum atas penggunaan teknologi informasi yang meliputi pengendalian
pengamanan, akses, pengembangan software aplikasi, pemisahan fungsi dan keberlanjutan
layanan.
Apabila hasil pengujian atas pengendalian umum menunjukkan bahwa pengendalian yang ada
tidak efektif, maka dapat dipertimbangkan bahwa pengujian atas pengendalian aplikasi tidak
perlu dilakukan.
1. Pengendalian Pengamanan
(a) Reviu kebijakan penilaian risiko, apakah ada penilaian risiko secara berkala atau pada
saat terdapat perubahan sistem, fasilitas, atau kondisi lainnya.
(b) Reviu penilaian risiko yang terkini/terakhir dan obyektivitas personil yang melaksanakan
dan mereviu penilaian.
(c) Reviu rencana pengamanan, apakah telah mencakup aspek-aspek :
Aturan tentang sistem dan aplikasi
Pelatihan umum dan khusus
Pengendalian dan pengamanan personil
Kapabilitas respon terhadap gangguan insidentil
Kontinuitas dukungan/perencanaan kontijensi
Pengamanan dan pengendalian teknis
Interkoneksi sistem/pemakaian bersama informasi
Pengendalian akses publik
(d) Reviu rencana pengamanan dan dokumentasi terkait lainnya yang menunjukkan bahwa
rencana pengamanan telah direviu, diperbarui, dan mutakhir.
(e) Reviu rencana pengamanan, struktur organisasi dan uraian tugas untuk mengetahui
independensi, otoritas, dan keahlian yang memadai dari struktur pengelolaan
pengamanan.
(f) Reviu rencana pengamanan untuk mengidentifikasi siapa yang memiliki sumber daya
yang terkait komputer dan siapa yang bertanggung jawab untuk mengelola akses
terhadap sumber daya komputer.
(g) Reviu dokumentasi yang mendukung atau mengevaluasi program awareness personil
atas pengamanan dan observasi pengarahan pengamanan
(h) Interviu pemilik data dan pengguna sistem. Tentukan pelatihan apa yang telah mereka
terima dan apakah mereka sadar dengan tanggung jawab mereka terhadap
pengamanan. Reviu memo, e-mail, atau mekanisme distribusi kebijakan.
(i) Pilih pengguna sistem tertentu, bersikaplah sebagai staf pengamanan atau jaringan, dan
cobalah meminta password mereka.
(j) Interviu manajer pengamanan, anggota tim respon atas gangguan, dan pengguna
sistem. Reviu dokumentasi yang mendukung aktivitas penanganan gangguan.
(k) Reviu kebijakan penerimaan, mutasi, pemberhentian dan kinerja pegawai, apakah
memperhatikan aspek pengamanan.
(l) Reviu uraian tugas personil manajemen pengamanan, dan untuk personil lain yang
disampel.Untuk pegawai yang disampel, bandingkan catatan personil mengenai
pedidikan, pelatihan dan pengalaman dengan uraian tugas.
(m) Reviu laporan yang dihasilkan dari penilaian terkini atas pengamanan TI, mencakup
laporan internal audit yang terkini.
(n) Tentukan kapan reviu independen atau pemeriksaan terakhir yang terjadi atas aplikasi
utama dan bagaimana hasil reviu. Idealnya reviu independen minimal 3 tahun sekali.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

(o) Reviu apakah sistem dan aplikasi utama diotorisasi atau


manajer/pimpinan yang misinya didukung oleh aplikasi tersebut.

diakreditasi

oleh

2. Pengendalian Akses
(a) Reviu kebijakan dan prosedur tertulis yang terkait dengan otorisasi akses. Untuk
pengguna yang disampel (baik pengguna aplikasi maupun personil sistem informasi),
reviu dokumentasi otorisasi akses.
(b) Reviu kebijakan dan prosedur serta dokumentasi otorisasi atas akses darurat dan
sementara. Pastikan telah dikendalikan.
(c) Reviu formulir standar untuk mendokumentasikan persetujuan atas penggunaan,
penghapusan, atau pemakaian bersama file data.
(d) Reviu diagram layout fisik mengenai fasilitas komputer, telekomunikasi, dan sistem
pendinginan. Lakukan walk through ke fasilitas dan reviu analisis risiko.
(e) Reviu daftar akses individual yang mendapat otorisasi ke area yang sensitif dan tentukan
kewajaran aksesnya. Cobalah memasuki area yang sensitif tanpa tanda pengenal.
Observasi masuk ke dan keluar dari fasilitas selama dan setelah jam kerja normal.
Observasi jalur akses utilitas.
(f) Reviu prosedur pemindahan dan pengembalian media penyimpanan dari dan ke tempat
penyimpanan. Pilih beberapa pengembalian dan pengambilan dari catatan, verifikasi
keberadaan fisik atas tape atau media lain, dan tentukan apakah otorisasi yang wajar
telah diperoleh untuk pemindahan.
(g) Reviu kebijakan dan prosedur mengenai password. Interviu pengguna. Idealnya
password diatur sebagai berikut :
Unik untuk setiap individu, bukan grup
Dikendalikan oleh pengguna yang ditunjuk
Diubah secara periodik setiap 30 sampai 90 hari
Tidak ditampilkan saat dimasukkan
Minimal panjangnya 6 karakter alfanumerik
Dicegah dari penggunaan ulang minimal untuk 6 generasi
(h) Observasi pengguna dalam memasukkan password. Cobalah melakukan log on tanpa
password yang valid; lakukan usaha pengulangan untuk menebak password. Usaha
untuk log on dengan password yang tidak valid idealnya dibatasi sampai 3-4 kali.
(i) Lihat file password apakah dienkripsi
(j) Interviu administrator pengamanan dan pengguna sistem apakah software pengamanan
digunakan untuk membatasi akses dan akses ke software pengamanan dibatasi hanya
untuk administrator pengamanan
(k) Lakukan pengujian penetrasi dengan mencoba akses dan menjelajah sumber daya
komputer termasuk file data kritis, prosedur operasional batch, penyimpanan source
code, software pengamanan, dan sistem operasi. Pengujian ini dilakukan dengan
berperan sebagai (1) pihak luar tanpa informasi tentang sistem komputer entitas, (2)
pihak luar dengan pengetahuan sebelumnya tentang sistem, misalnya bekas orang
dalam, dan (3) orang dalam dengan dan tanpa informasi khusus tentang sistem
komputer entitas, dan dengan akses ke fasilitas entitas.
(l) Reviu kebijakan dan prosedur Pengendalian Sistem Manajemen Database, Interviu
administrator database dan lakukan pengujian pengendalian dengan mencoba
mengakses file yang dibatasi.
(m) Reviu parameter pengamanan Sistem Manajemen Database dan Kamus Data.
3. Pengendalian Pengembangan Software Aplikasi
(a) Reviu metodologi pengembangan software yang dipergunakan. Reviu dokumentasi
sistem untuk memverifikasi apakah metodologi tersebut telah diikuti.
(b) Reviu apakah staf memperoleh pelatihan metodologi pengembangan software dengan
memadai
(c) Identifikasi modifikasi software yang terbaru dan tentukan apakah terdapatpermintaan
pengubahan. Periksa, secara sampel, persetujuan terhadap permintaan pengubahan
software.
Interviu staf pengembangan software.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

(d) Reviu prosedur pengubahan darurat sebuah aplikasi dan secara sampel, reviu
dokumentasi dan persetujuan terkait pengubahan darurat yang dicatat dalam catatan
pengubahan darurat.
(e) Periksa prosedur distribusi software baru
(f) Periksa prosedur penyimpanan dan akses ke software.
4. Pengendalian Pemisahan Fungsi
(a) Reviu kebijakan dan prosedur mengenai pemisahan fungsi pengelolaan sistem informasi
(b) Reviu struktur organisasi dan staf, apakah pemisahan fungsi dukungan sistem yang
berbeda dilaksanakan sebagai berikut:
Manajemen Sistem Informasi
Desain sistem
Pemrograman aplikasi
Pemrograman sistem
Jaminan/pengujian kualitas
Manajemen penyimpanan/manajemen pengubahan
Operasi komputer
Pengendalian dan penjadwalan pengembangan
Pengendalian data
Pengamanan data
Administrasi data
Administrasi jaringan
(c) Periksa bahwa kombinasi fungsi-fungsi berikut tidak dilaksanakan oleh satu individu:
Pemasukan data dan verifikasi data
Pemasukan data dan rekonsiliasi hasilnya
Penginputan transaksi untuk fungsi-fungsi pemrosesan yang tidak berhubungan
(misalnya, penginputan invoice vendor dan pembelian dan penerimaan informasi)
Pemasukan data dan fungsi penyeliaan otorisasi (misalnya otorisasi transaksi yang
ditolak untuk diteruskan dalam pemrosesan yang melebihi batasan memerlukan reviu
dan persetujuan penyelia)
(d) Reviu deskripsi pekerjaan untuk beberapa posisi dalam unit organisasi dan untuk
administrator pengamanan pengguna. Tentukan apakah tugas-tugas telah dijelaskan dan
aktivitas yang dilarang telah diatur.
(e) Interviu personil yang mengisi posisi pekerjaan tertentu. Tentukan apakah deskripsi
sesuai dengan pemahaman mereka atas tugas dan tanggung jawab mereka dan apakah
terdapat tugas tambahan yang tidak terdaftar dalam deskripsi pekerjaan mereka tetapi
dilakukan.
5. Pengendalian Keberlanjutan Layanan
(a) Reviu kebijakan mengenai operasi dan data yang kritikal
(b) Reviu dokumentasi mengenai sumber daya yang mendukung operasi kritikal antara lain
hardware komputer, software komputer, perlengkapan komputer, dokumentasi sistem,
telekomunikasi, fasilitas perlengkapan kantor, dan SDM.
(c) Reviu kebijakan dan dokumentasi prioritas pemrosesan darurat
(d) Reviu kebijakan dan prosedur tertulis mengenai proses backup file. Bandingkan catatan
inventori dengan file yang disimpan secara off-site dan tentukan umur file-file tersebut.
Untuk file kritis yang dipilih, tentukan lokasi dan periksa keberadaan file backup.
Verifikasi apakah file backup dapat digunakan untuk menghasilkan kembali laporan
terkini
(e) Periksa apakah tempat penyimpanan backup :
Dipindahkan secara geografis dari tempat utama
Dilindungi dengan pengendalian lingkungan dan pengendalian akses fisik
(f) Reviu dokumentasi dan interviu staf apakah seluruh pegawai pusat data telah menerima
pelatihan dan memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam keadaan darurat dan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

(g)
(h)

(i)
(j)

Lampiran 3.14

apakah staf pusat data menerima pelatihan secara periodik tentang prosedur darurat
akibat bencana api, air, dan penanganan alarm.
Reviu kebijakan dan prosedur respons atas keadaan darurat terhadap sistem informasi
Reviu rencana kontijensi dan bandingkan ketentuan didalamnya dengan penilaian risiko
terbaru serta interviu manajemen senior, manajemen pusat data, dan manajemen
program untuk melihat apakah rencana kontinjensi :
Menggambarkan kondisi terkini
Telah disetujui oleh kelompok utama yang terpengaruh termasuk manajemen senior,
manajemen pusat data, dan manajer program
Secara jelas membebankan tanggung jawab pemulihan
Mencakup instruksi detil untuk memulihkan operasi (baik sistem operasi dan aplikasi
kritis)
Mengidentifikasi fasilitas pemrosesan alternatif/pengganti dan fasilitas penyimpanan
backup
Mencakup prosedur untuk diikuti saat pusat data/layanan tidak dapat menerima atau
mengirim data
Mengidentifikasi file data yang kritis cukup detil untuk dipahami oleh seluruh manajer
entitas
Mencakup hardware komputer dan telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan
entitas
Telah didistribusikan ke seluruh personil yang tepat
Observasi salinan rencana kontijensi yag disimpan secara off-site.
Reviu rencana kontijensi dan segala dokumentasi yang mendukung penilaian kembali
terbaru atas rencana kontijensi.

b. Pemahaman Terhadap Pengendalian Aplikasi (Aplication Control)


Pemahaman terhadap Pengendalian Aplikasi (Aplication Control) bertujuan untuk memperoleh
pemahaman mengenai pengendalian terhadap aplikasi-aplikasi terkait dengan penyusunan LKPP
dan LK Kementerian/Lembaga, serta untuk menentukan apakah terdapat pengendalian untuk
meyakinkan akurasi, kelengkapan, dan ketepatan waktu data selama pemrosesan (batch atau
real time).
1. Sistem Informasi/Teknik
(a) Tentukan hardware yang digunakan untuk menjalankan sistem. Klasifikasikan sistem
sebagai basis Mikro, LAN, Client/Server, atau Mainframe.
(b) Tentukan apakah software dibeli atau dikembangkan secara in-house.
(c) Jika software dibeli, tentukan apakah garansi vendor masih berlaku. Tentukan juga
apakah posisi keuangan vendor cukup kuat dan apakah software dijamin.
(d) Jika software dikembangkan secara in-house, verifikasi apakah software dikembangkan
dan diperbarui berdasarkan metodologi pengembangan sistem yang jelas.
(e) Identifikasi bahasa pemrograman yang digunakan dalam aplikasi. Tentukan apakah unit
pengembangan aplikasi memiliki staf pemrograman dengan pengetahuan dalam bahasa
pemrograman tersebut.
(f) Identifikasi tipe file data yang digunakan dalam pemrosesan (database, sequential files,
disk, tape).
(g) Identifikasi transaksi utama, master, dan file referensi yang digunakan dalam
pemrosesan.
(h) Tentukan bagaimana unit pengelola TI mengendalikan dan mengamankan akses
terhadap program aplikasi.
(i) Tentukan apakah password dimasukkan dengan cara tidak ditampilkan.
(j) Evaluasi kualitas dokumentasi aplikasi pemrogram (seharusnya mencakup bagan alir
sistem dan program, tabel keputusan, file layouts, definisi elemen data, naratif, daftar
source program, catatan pengubahan).
(k) Evaluasi kualitas dokumentasi operasi aplikasi (seharusnya mencakup bagan alir
pekerjaan dan sistem, deskripsi input dan output, frekuensi pekerjaan dan urutan
operasi, prosedur memulai ulang pekerjaan/pemulihan, persyaratan dan prosedur

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

backup file, teknik pesan kesalahan dan rekonsiliasi, prosedur distribusi laporan, instruksi
penangkapan data).
(l) Tentukan apakah salinan backup program aplikasi dan dokumentasi operasi disimpan
secara off-site.
(m) Tentukan apakah unit pengelola TI memonitor alur pemrosesan untuk memverifikasi
bahwa program aplikasi berjalan sesuai jadwal.
2. Pengguna Akhir
(a) Tentukan cara utama pemasukan data dan pemrosesan (batch, on-line, real time).
(b) Tentukan apakah unit pengguna sistem menerapkan kepemilikan data. Jika ya,
identifikasi dan interviu pemilik data untuk menentukan apakah mereka paham peran dan
tanggung jawab mereka.
(c) Interviu manajer pengguna akhir secara sampel untuk menentukan sikap manajemen
pengguna akhir mengenai kualitas dan efektifitas sistem.
(d) Tentukan dari sudut pandang manajemen pengguna akhir, apa yang mereka ketahui
tentang risiko, kelemahan, dan batasan terkait dengan sistem.
(e) Tentukan jumlah pengguna akhir yang bekerja dengan sistem, lokasi, dan tanggung
jawab mereka terkait dengan sistem. Dapatkan bagan organisasi untuk posisi dan orangorang tersebut.
(f) Tentukan apakah aplikasi menghasilkan data untuk lembaga hukum atau peraturan. (Jika
ya, berikan perhatian ekstra terhadap transaksi tersebut).
(g) Evaluasi kualitas dokumentasi pengguna akhir (seharusnya mencakup deskripsi sistem,
deskripsi dokumen sumber dan prosedur penyiapannya, prosedur kerja yang harus
ditaati, prosedur pengendalian, prosedur identifikasi kesalahan dan koreksi, deskripsi
laporan yang dihasilkan dan penggunaannya).
(h) Identifikasi pelatihan aplikasi yang tersedia bagi pengguna akhir. Evaluasi pelatihan
tersebut untuk menentukan apakah telah memadai, mutakhir, dan tersedia bagi orang
baru.
(i) Tentukan apakah aktivitas pengguna akhir telah disupervisi secara memadai.
3. System Interfaces
(a) Tentukan aplikasi lain apa yang ber-interface (secara manual atau elektronik) dengan
aplikasi ini. Dokumentasikan apa yang diterima dari dan apa yang dikirim ke aplikasi lain
tersebut.
(b) Tentukan bagaimana pengguna akhir memverifikasi atau menetapkan jaminan bahwa
interfaces memberikan data yang lengkap, akurat, dan diotorisasi.
4. Penanganan File
(a) Tentukan periode retensi untuk berbagai file data aplikasi yang penting. Evaluasi apakah
periode retensi memenuhi persyaratan pelaporan manajemen, pelaporan eksternal, dan
akunting internal.
(b) Tentukan apakah manajemen pengguna akhir dan pemilik data sadar akan periode
retensi dari berbagai file data aplikasi yang penting, dan apakah manajer tersebut cukup
puas dengan lama retensi.
5. Backup dan Pemulihan
(a) Tentukan seberapa sering file penting di-backup. Tentukan apakah salinan file backup
tersebut disimpan pada fasilitas off-site yang tepat.
(b) Verifikasi apakah fasilitas penyimpanan file backup secara off-site aman.
(c) Tentukan apakah terdapat rencana pemulihan aplikasi (baik teknik maupun pengguna
akhir) untuk mengembalikan/memulihkan dari gangguan pemrosesan komputer jangka
pendek dan jangka panjang. Verifikasi apakah rencana tersebut mengatur kebutuhan
pemulihan teknis dan prosedur alternatif pemrosesan oleh pengguna akhir.
(d) Tentukan apakah rencana pemulihan aplikasi tersebut telah diuji dalam tahun terakhir.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

(e) Tetapkan berapa lama organisasi dapat berfungsi dengan baik dan mencegah kerugian
finansial yang signifikan jika aspek komputerisasi dari aplikasi ini gagal. Verifikasi apakah
memulai ulang/pemulihan dan rencana pemulihan bencana dapat memungkinkan
pemulihan aplikasi ini dalam waktu yang diperlukan untuk mencegah kerugian finansial
yang signifikan.
(f) Tentukan apakah unit pengelola TI telah menetapkan periode retensi file data dan
catatan. Tentukan apakah periode retensi ini memadai untuk tujuan backup,
bencana/pemulihan, dan pemeriksaan.
(g) Verifikasi apakah rencana memulai ulang/pemulihan dari gangguan komputer jangka
pendek mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi status seluruh pemrosesan pada
titik kegagalan aplikasi untuk menetapkan pisah-batas pemasukan ulang transaksi.
c. Evaluasi Pengendalian dan Prosedur Aplikasi untuk Setiap Transaksi
Evaluasi pengendalian dan prosedur aplikasi untuk setiap transaksi, dilakukan sengan cara:
1. Identifikasi seluruh subsistem
2. Identifikasi seluruh transaksi dalam tiap subsistem (termasuk transaksi yang secara otomatis
dihasilkan oleh komputer)
3. Untuk setiap transaksi, gunakan Kertas Kerja Transaksi untuk mencatat dan mengevaluasi
pengendalian dan prosedur aplikasi, dengan uraian sebagai berikut :
(a) Pengendalian Input
Pengendalian input meyakinkan bahwa transaksi :
Dimasukkan kedalam dan diterima oleh komputer,
Diproses hanya sekali,
Tanpa duplikasi, dan
Kesalahan dalam field data keuangan dan non keuangan telah : (1) diidentifikasi; (2)
dipisahkan dari transaksi yang valid; (3) dikoreksi secara tepat waktu; dan (4) dikembalikan
ke pemrosesan normal.
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup :
Identifikasi bagaimana transaksi dimulai
Identifikasi bagaimana transaksi diotorisasi (tanda tangan manual, tanda tangan elektronik,
otorisasi akses layar, dsb.)
Identifikasi petugas yang memasukkan data sumber, apakah orang tersebut dipisahkan dari
orang yang merekonsiliasi hasil pemrosesan
Identifikasi bagaimana data sumber dimasukkan dalam aplikasi (batch, on-line)
Tentukan apakah terdapat pemrosesan yang dipicu secara otomatis yang akan mengubah
data aplikasi. Jika ya, tentukan bagaimana proses update atas transaksi ini diotorisasi,
diidentifikasi, dan direkonsiliasi. Tentukan apakah terdapat pengendalian untuk meyakinkan
akurasi kejadian yang memicu pemrosesan otomatis (tanggal, titik pemesanan kembali
persediaan, dsb.).
Identifikasi apakah pemasukan data dilakukan dalam waktu singkat setelah dokumen sumber
dibuat
Setelah dokumen sumber dimasukkan dalam aplikasi, identifikasi apakah dokumen tersebut
ditandai atau ditandatangani sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa telah dimasukkan,
sehingga mengurangi risiko duplikasi yang tidak disengaja atau penggunaan ulang dokumen
Reviu apakah terdapat pemisahan tugas yang tepat (kustodian, otorisasi, pencatatan, dan
rekonsiliasi periodik) untuk tugas-tugas yang mendapat otorisasi untuk meng-update data
Identifikasi Bagaimana dokumen data sumber dikendalikan kelengkapan dan akurasinya
(dokumen pre-printed, pre-numbered secara berututan, disimpan dengan aman setelah
diotorisasi, ditandai setelah diinput)
Reviu apakah terdapat periode retensi untuk data sumber
Identifikasi pengendalian yang ada untuk meyakinkan kelengkapan dan akurasi input
(rekonsiliasi control total, pengecekan satu-satu, penandingan, pengecekan berurutan,
pemrosesan duplikasi, pengecekan editing terprogram).
Tentukan apakah dan bagaimana pengecekan editing otomatis berikut dilaksanakan saat
pemasukan data, untuk memastikan : (1) keandalan; (2) ketergantungan; (3) range;

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

(4) eksistensi; (5) format; (6) check digit; (7) penandingan dengan data sebelumnya; dan
(8) konsistensi.
Jika memadai, apakah terdapat pengecekan editing, yang mencakup : (1) pengecekan
format pada data numerik; (2) pengecekan range pada field numerik variabel; (3) pengujian
tanggal pada field tanggal; (4) pengecekan eksistensi pada seluruh filed penting; (5) check
digit pada seluruh key identifikasi; (6) pengujian untuk data yang hilang; (7) pengujian untuk
data yang berlebih; (8) pengujian untuk record yang tidak tepat; (9) pengujian untuk kondisi
yang tidak berurutan.
Jika pengendalian input mencakup penggunaan control total, apakah total yang dihasilkan
komputer sama dibandingkan dengan total yang ditentukan secara independen
Identifikasi laporan yang didapatkan pengguna untuk memverifikasi dan memonitor operasi
aplikasi (control total, ringkasan, penghitungan kesalahan, laporan eksepsi, dsb.)
Reviu bagaimana penyelia atau manajer memverifikasi bahwa prosedur pengecekan control
total hasil produksi telah dilaksanakan
Jelaskan segala perbandingan hasil dijalankannya aplikasi pada saat ini dengan sebelumnya
untuk pengecekan keandalan.
Identifikasi bagaimana pengguna memverifikasi proses update terhadap file dibandingkan
dengan otorisasinya
Tentukan bagaimana duplikasi transaksi dicegah atau diidentifikasi.
Tentukan apakah dan bagaimana data yang diterima dari aplikasi lain divalidasi kelengkapan
dan akurasinya.

(b) Pengendalian Pemrosesan


Pengendalian pemrosesan meyakinkan bahwa transaksi:
Diterima oleh komputer,
Diproses dengan logika yang valid, dibawa ke seluruh fase pemrosesan, dan
Di-update ke file data yang benar.
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup :
Apakah pengguna diwajibkan memberikan parameter pemrosesan, dan jika ya, bagaimana
parameter tersebut diotorisasi dan diverifikasi?
Identifikasi pengendalian yang ada untuk meyakinkan kelengkapan dan akurasi pemrosesan
(run-to-run control total, pemrosesan duplikasi, dsb.).
Dokumentasikan prosedur rekonsiliasi oleh pengguna akhir yang memfasilitasi kelengkapan
dan akurasi pemrosesan.
Identifikasi laporan yang didapatkan pengguna untuk memverifikasi dan memonitor operasi
aplikasi (control total, ringkasan, penghitungan kesalahan, laporan eksepsi, dsb.)
Jelaskan bagaimana personil unit pengguna mengecek control total hasil produksi.
Bagaimana penyelia atau manajer memverifikasi bahwa prosedur pengecekan control total
hasil produksi telah dilaksanakan?
Jelaskan segala perbandingan hasil dijalankannya aplikasi pada saat ini dengan sebelumnya
untuk pengecekan keandalan.
Identifikasi bagaimana pengguna memverifikasi proses update terhadap file dibandingkan
dengan otorisasinya
Tentukan apakah prosedur rekonsiliasi khusus perlu diterapkan untuk pisah batas pada akhir
bulan, tahun fiskal, dan sebagainya.
(c) Koreksi Kesalahan

Identifikasi seluruh kesalahan data dan pemrosesan yang dapat diidentifikasi, baik melalui
prosed editing atau pemrosesan rutin.
Tentukan dampak kesalahan data dan pemrosesan pada pemrosesan (kesalahan harus
dikoreksi sebelum pemrosesan dilanjutkan, kesalahan harus dipisahkan dari pemrosesan
sehingga transaksi yang benar dapat terus diproses sementara kesalahan dikoreksi).
Tentukan apakah kesalahan dipisahkan pada suspense file. Tentukan apakah suspense file
kesalahan bersifat kumulatif atau non kumulatif.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

Reviu laporan kesalahan untuk menentukan apakah jumlah kesalahan dalam laporan
tersebut wajar.
Tentukan bagaimana kesalahan dikoreksi.
Tentukan apakah transaksi yang dikoreksi telah diotorisasi.
Verifikasi apakah transaksi yang dikoreksi dimasukkan kembali dalam pemrosesan yang
normal baik pada titik awal input atau melalui proses koreksi kesalahan khusus.
Tentukan apakah proses koreksi kesalahan menghapus kesalahan yang terdapat dalam
suspense file kesalahan.
Tentukan ketepatan waktu koreksi kesalahan.
Identifikasi bagaimana pengguna akhir memonitor sisa kesalahan dan melakukan investigasi
lebih lanjut secara tepat waktu.
Apakah terdapat pemisahan tugas yang tepat (kustodian, otorisasi, pencatatan, dan
rekonsiliasi periodik) untuk tugas-tugas yang mendapat otorisasi untuk meng-update data?
Tentukan apakah prosedur rekonsiliasi dan koreksi kesalahan didokumentasikan dalam
dokumentasi pengguna akhir.
Apakah dihasilkan laporan eksepsi mengenai transaksi salah yang belum terkoreksi dalam
waktu yang cukup lama, dengan suatu analisis umur?

(d) Pengendalian Output


Pengendalian output meyakinkan bahwa data output:
Dilaporkan dengan cara yang benar,
Dapat dilihat/tersedia hanya untuk personil yang mendapat otorisasi,
Ditahan atau dihancurkan secara tepat,
Merupakan subyek jejak pemeriksaan atas pemrosesan yang diperlukan, dan
Jika salah, dipisahkan dari transaksi yang valid, dikoreksi, dan dimasukkan kembali dalam
pemrosesan normal.
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup:
Identifikasi bagaimana output didistribusikan. Tentukan apakah distribusi tersebut
mengurangi pengungkapan kepada pihak yang tidak mendapat otorisasi untuk mengetahui
informasi sensitif, dengan menggunakan printer jarak jauh di lokasi pengguna akhir atau
checklist distribusi output.
Identifikasi bagaimana unit pengguna menjamin bahwa laporan dan file didistribusikan ke
pengguna akhir yang benar (penelusuran laporan, printer jarak jauh)
Identifikasi pihak yang menerima laporan output dan apakah mereka dipisahkan dari pihak
yang melakukan input
Bagaimana pengguna akhir memverifikasi bahwa seluruh laporan telah diterima dan bahwa
seluruh halaman laporan telah lengkap (judul laporan standar, penomoran halaman (1 dari
?), indikator akhir laporan)?
Apakah laporan output mencakup informasi untuk mengidentifikasi: (1) judul laporan; (2)
nama/nomor program pemrosesan; (3) tanggal dan waktu produksi laporan; (4) periode
pemrosesan yang dicakup; (5) Identifikasi bagaimana pengguna akhir membuktikan
penerimaan laporan dan file (check list, tanda tangan, dsb.); (6) identifikasi apakah terdapat
pemisahan tugas yang tepat (kustodian, otorisasi, pencatatan, dan rekonsiliasi periodik)
untuk tugas-tugas yang mendapat otorisasi untuk meng-update data
Peroleh bagaimana laporan rahasia diidentifikasi dan didistribusikan
Identifikasi seluruh formulir khusus yang digunakan dalam pemrosesan dan pelaporan.
Tentukan apakah formulir yang sensitif telah diamankan (disimpan dalam area yang aman,
formulir yang dicetak dengan laser printer, dsb.).
Identifikasi apakah orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengamankan dokumen
yang sensitif berbeda dengan orang-orang yang menyelenggarakan catatan akuntansi
terkait.
Identifikasi apakah terdapat prosedur pemusnahan khusus untuk laporan yang sensitif
(shredding, pengarsipan khusus yang aman)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

(e) Dokumentasi Akhir


Dokumentasi pengguna merupakan sumber informasi utama bagi seluruh personil yang
bertanggung jawab terhadap penggunaan aplikasi sehari-hari.
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup :
Identifikasi apakah terdapat dokumentasi pengguna akhir yang menjelaskan asal dokumen
sumber, otorisasi, pengumpulan data, penyiapan input, penanganan laporan, koreksi
kesalahan, dan retensi laporan/data yang memadai
Identifikasi apakah dokumen sumber ditahan sehingga data yang hilang atau hancur selama
pemrosesan berikutnya data dibuat kembali
Identifikasi apakah setiap tipe dokumen sumber memiliki periode retensi khusus.
(f) Otorisasi
Pengendalian otorisasi meyakinkan bahwa seluruh informasi dan data yang dimasukkan atau
digunakan dalam pemrosesan:
Telah diotorisasi oleh manajemen, dan
Representatif atas kejadian yang sebenarnya terjadi.
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup :
Jika transaksi diotorisasi secara manual, identifikasi pengendalian yang dapat menjamin
bahwa tidak terdapat modifikasi yang tidak terotorisasi setelah otorisasi, tetapi sebelum
menetapkan pengendalian input. Tentukan apakah tingkatan manajemen yang tepat yang
mengotorisasi aktivitas transaksi.
Jika otorisasi transaksi difasilitasi dengan pembatasan akses logis, pilih sampel dari
ketentuan akses yang diterapkan terhadap input dan update transaksi, dan verifikasi bahwa
orang yang tepat yang memiliki kapabilitas tersebut.
Identifikasi segala tindakan yang diijinkan untuk melakukan validasi data dan pengecekan
editing (otorisasi, monitoring, dsb). Tentukan siapa yang dapat melakukan hal tersebut dan
verifikasi apakah mereka berada pada posisi manajemen yang seharusnya memiliki otoritas
tersebut. Apakah seluruh penggunaan fitur-fitur untuk melakukan tindakan tersebut secara
otomatis dicatat sehingga tindakan tersebut nantinya dapat dianalisa kewajarannya
(g) Pengamanan
Pengendalian pengamanan meyakinkan bahwa akses terhadap informasi dan fasilitas dibatasi
hanya untuk individual yang ditunjuk oleh manajemen yang bertanggungjawab.
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup :
Identifikasi transaksi utama, file master , dan referensi yang digunakan dalam pemrosesan.
Lakukan kerja sama dengan Administrator Pengamanan untuk menentukan apakah file-file
tersebut diamankan dari akses yang tidak mendapat otorisasi.
Evaluasi bagaimana pembatasan akses pengamanan dijaga. Hal-hal yang penting mencakup
administrasi pengamanan, manajemen logon/password, monitoring pengamanan, dan
kepemilikan data.
Evaluasi metode untuk membatasi akses terhadap dokumen sumber dan formulir input
kosong hanya kepada personil yang mendapat otorisasi.
Tentukan apakah terminal pemasukan data berada di lokasi yang aman.
Tentukan apakah printer jarak jauh berada di lokasi yang aman dan terlindung dari akses
yang tidak mendapat otorisasi.

(h) Pemisahan Tugas

Identifikasi apakah tugas-tugas telah dipisahkan sehingga tidak terdapat individu yang
melaksanakan lebih dari satu operasi: otorisasi transaksi, memulai transaksi, pemasukan
transaksi, dan distribusi output.
Reviu apakah transaksi yang ditolak yang bukan diakibatkan oleh kesalahan pemasukan
dikoreksi oleh pengguna yang memulai transaksi

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.14

Reviu apakah pengguna akhir bertanggung jawab terhadap kelengkapan dan akurasi dari
seluruh data aplikasi.

(i) Pemeliharaan File


Pengendalian pemeliharaan file meyakinkan bahwa data yang disimpan dalam komputer
dipertahankan mutakhir dan terkini, dan bahwa data yang tidak biasa yang memerlukan tindakan
dan pengubahan diidentifikasi. Hal ini secara khusus berlaku bagi file referensi dan data acuan
(standing data).
Oleh karena itu lakukan evaluasi, yang mencakup :
Identifikasi seluruh file referensi dan master yang digunakan dalam aplikasi.
Identifikasi prosedur pemberitahuan update file terhadap file-file tersebut (dokumen yang
diedarkan, pemberitahuan e-mail, control total, dsb). Tentukan apakah pengguna akhir
menggunakan prosedur pemberitahuan update tersebut untuk memverifikasi proses update
terhadap file-file tersebut.
Tentukan apakah file-file tersebut direviu secara rutin untuk memverifikasi bahwa isi file
tersebut adalah mutakhir dan terkini

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

A. PENGUJIAN PENGENDALIAN ATAS LKPP


Ikhtisar pengujian pengendalian atas penyusunan LKPP adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi apakah Sub Dit Konsolidasian dan Pelaporan Keuangan telah menerima seluruh
bahan penyusunan LKPP, yang mencakup : (1) seluruh LRA & Neraca Kementrian
Negara/Lembaga; (2) data kas negara dari Dit. PKN; (3) data IKN dari Dit. PBM/KN; (3) data
utang DN dari Dit. PSUN; (4) data utang LN dari Dit. PPHLN; dan (5) data investasi dari Dit.
P3.
2. Lakukan wawancara dengan pejabat terkait sejauhmana pemanfaatan data-data dan laporan
tersebut terhadap penyusunan LKPP.
3. Identifikasi apakah laporan keuangan hasil konsolidasian telah dicatat dengan benar sesuai
dengan bahan penyusun LKPP yang mencakup : (1) seluruh LRA & Neraca Kementrian
Negara/Lembaga; (2) data kas negara dari Dit. PKN; (3) data IKN dari Dit. PBM/KN; (3) data
utang DN dari Dit. PSUN; (4) data utang LN dari Dit. PPHLN; dan (5) data investasi dari Dit.
P3.
4. Lakukan pengecekan terhadap seluruh bahan penyusun LKPP apakah nilai masing-masing
bahan penyusun tersebut telah di catat dengan benar dan telusuri nilai-nilai yang terdapat
pada penyusun LKPP apakah telah sesuai dengan dokumen-dokumen pendukungnya
5. Dapatkan ketentuan yang terkait dengan pengelolaan penerimaan dan pengeluaran rekening
pemerintah di BUN, pengelolaan utang luar negeri, utang dalam negeri (Surat Utang
Negara), dan investasi. Lakukan wawancara dengan pejabat terkait tentang pengendalian
atas transaksi tersebut dan lakukan pengujian terbatas atas laporan-laporan yang terkait
dengan transaksi tersebut untuk meyakini bahwa otorisasi telah dilaksanakan dengan
semestinya dan tidak ada penggunaan rekening yang menyalahi ketentuan atau peraturan
pengelolaan uang negara.
6. Simpulkan hasil pengujian pengendalian tersebut pada KKP tentang pengujian pengendalian.
B. PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS LKPP
Untuk pemeriksaan atas LKPP, pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan atas LK
K/L.
Selanjutnya melakukan langkah-langlah pengujiannya sebagai berikut :
a. Pengujian subtantif atas pos/akun pada Neraca
(1) Kas
(a) Kas di KPPN

Dapatkan daftar rekening koran Bank Operasional dan Bank Persepsi bank-bank yang
mengelola rekening-rekening kas negara KPPN.
Mintakan pernyataan bank (bank statement) atas saldo rekening per 31 Desember pada
tahun anggaran yang diperiksa yang dikeluarkan oleh bank di mana rekening kas negara
dibuka.
Bandingkan saldo kas negara KPPN per 31 Desember pada tahun anggaran yang
diperiksa, yang tercatat pada buku bank yang dibuat oleh bendaharawan dengan saldo
pada bank statement.
Mintakan penjelasan tertulis dari bendaharawan apabila terdapat selisih antara saldo
pada buku bank dengan saldo pada bank statement.
Buat Berita Acara Pengujian Saldo KPPN per 31 Desember pada tahun anggaran yang
diperiksa dengan format yang telah disediakan yang ditandatangani oleh bendaharawan
umum, kepala KPPN, ketua tim pemeriksa dan satu orang anggota tim pemeriksa. Berita
Acara tersebut dilampiri dengan daftar perbandingan saldo.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

(2) Kas di Bank Indonesia


(a) Pengujian substantif atas Rekening Bendahara Umum Negara (BUN) nomor
502.000000 pada Direktorat Pengelolaan Kas Negara

Dapatkan Buku Besar Rekening BUN (Januari s.d. Desember) serta Laporan Rekening
Koran Pemerintah untuk rekening BUN pada tahun anggaran yang diperiksa. Lakukan
pengujian atas penjumlahan angka-angka (footing dan crossfooting) terhadap setiap pos
baik penerimaan maupun pengeluaran atau yang lainnya yang terdapat dalam buku
besar dan Laporan RKP tersebut. Apabila ada ketidakcocokan, tanyakan penyebabnya
kepada Dit PKN c.q. Subdit Adm BUN.
Dapatkan mutasi debet dan kredit harian Rekening BUN selama tahun anggaran yang
diperiksa dari Bank Indonesia (BI) (dalam bentuk soft copy/hard copy). Lakukan
penjumlahan transaksi selama satu tahun untuk beberapa pos (uji petik) dari
file/dokumen yang diperoleh dari BI. Bandingkan hasil penjumlahan tersebut dengan
Laporan RKP yang dibuat Dit. PKN untuk pos tersebut. Apabila terdapat perbedaan
tanyakan penyebabnya.
Pelajari dan analisa mutasi-mutasi dalam Rekening BUN. Apabila terdapat kejanggalankejanggalan, cari sebabnya.
Lakukan uji pisah batas atas pos-pos yang terdapat dalam Rekening BUN.
Teliti metode penyajian yang dilakukan oleh Dit. PKN untuk setiap pos dalam Rekening
BUN apakah telah sesuai dengan standar yang berlaku.

Pengujian atas saldo awal :


- Dapatkan saldo awal Rekening BUN per 1 Januari pada tahun anggaran yang
diperiksa serta dokumen pembukuan yang mendukung saldo tersebut.
- Dapatkan rekening koran/saldo bilyet atas saldo yang tercantum dalam pembukuan
Dit PKN.
- Lakukan konfirmasi dengan BI atas kebenaran, keabsahan, kelengkapan dan
keberadaan saldo tersebut.
- Periksa apakah saldo awal yang tercatat dalam Laporan RKP sesuai dengan
rekening koran BI.

Pengujian atas Penerimaan Negara:


- Dapatkan dokumen sumber pembukuan Rekening BUN yaitu berupa nota kredit dari
BI, serta arsip SPM yg diterbitkan oleh Dit. PKN (jika dipandang perlu uji petik
sampai dokumen kesepakatan sampai terjadinya penerimaan). Teliti apakah
transaksi-transaksi di Rekening BUN telah didukung dengan bukti yang sah.
- Teliti apakah transaksi dibukukan ke dalam mata anggaran yang benar.
- Teliti keabsahan bukti-bukti untuk tiap transaksi Rekening BUN. Apabila terdapat
bukti yang meragukan, konfirmasikan kepada pejabat yang berwenang dan terkait.

Pengujian atas Belanja Negara


- Dapatkan dokumen sumber pembukuan Rekening BUN yaitu berupa nota debet dari
BI, serta arsip SPM dan SP2D yg diterbitkan oleh Dit. PKN. Teliti apakah transaksitransaksi di Rekening BUN telah didukung dengan bukti yang sah.
- Teliti apakah transaksi dibukukan ke dalam mata anggaran yang benar.
- Minta Daftar SPM, daftar SP2D dan SKO untuk setiap Mata Anggaran Pengeluaran
(MAK), dan lakukan pengujian terhadap kebenaran angka yang tercatat dalam
Laporan RKP dengan cara melakukan uji petik atas beberapa SPM dan SP2D yang
bernilai besar dari daftar SPM dan SP2D tersebut untuk setiap MAK.
- Teliti keabsahan bukti-bukti untuk tiap transaksi Rekening BUN untuk mengetahui
apakah setiap pengeluaran telah mendapatkan persetujuan dari pejabat yang
berwenang. Apabila terdapat bukti yang meragukan, konfirmasikan kepada pejabat
yang berwenang.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

Pengujian atas saldo akhir


- Dapatkan saldo akhir Rekening BUN per 31 Desember 200X serta dokumen
pembukuan yang mendukung saldo tersebut.
- Dapatkan rekening koran/saldo bilyet atas saldo yang tercantum dalam pembukuan.
- Mintakan hasil rekonsiliasi bank pada akhir tahun dan lakukan pengujian atas hasil
rekonsiliasi bank.

(b) Pengujian saldo kas Rekening Pemerintah selain Rekening BUN pada Dit. PKN

Pengujian atas : (1) Rekening 500.000001 : Dana Talangan Reksus Kosong dan
Reimbursement dari Lender; (2) Rekening 500.0000002 : Dana Saldo Anggaran Lebih
(SAL); (3) Rekening 555.000212 : Cadangan Anggaran Pembangunan (CAP); (4)
Rekening 600.500411 : Rekening Giro Kas Negara Dalam Valuta Asing; (5)Rekening
519.000003 : Dana Hasil Divestasi Saham-saham BUMN dalam Rupiah; (6) Rekening
519.000115 : Pungutan Pengusahaan Perikanan dan Pungutan Hasil Perikanan.
Langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :
- Dapatkan peraturan yang mendasari keberadaan dari rekening ini dan pelajari
apakah penggunaan rekening ini telah sesuai dengan peraturan tersebut.
- Dapatkan Buku Besar pada tahun anggaran yang diperiksa. Lakukan pengujian atas
penjumlahan angka-angka (footing dan crossfooting) terhadap setiap mutasi
penerimaan maupun pengeluaran. Apabila ada ketidakcocokan, tanyakan
penyebabnya.
- Dapatkan rekening koran dari BI dan bandingkan dengan buku besar. Jika ada
perbedaan tanyakan sebabnya.
- Dapatkan dokumen sumber pembukuan rekening ini. Teliti apakah transaksitransaksi di rekening tsb telah didukung dengan bukti yang sah untuk mengetahui
apakah setiap pengeluaran telah mendapatkan persetujuan dari pejabat yang
berwenang. Apabila terdapat bukti yang meragukan, konfirmasikan kepada pejabat
yang berwenang.
- Dapatkan mutasi harian rekening selama tahun anggaran yang diperiksa dari BI
(dalam bentuk soft copy/hardcopy). Lakukan penjumlahan transaksi selama satu
tahun untuk satu dari file/dokumen yang diperoleh dari BI. Bandingkan hasil
penjumlahan tersebut dengan laporan yang dibuat Dit. PKN. Apabila terdapat
perbedaan tanyakan penyebabnya.
- Pelajari dan analisa transaksi-transaksi yang ada dalam rekening ini. Apabila
terdapat kejanggalan-kejanggalan, tanyakan penyebabnya.
- Lakukan uji pisah batas atas transaksi dalam rekening.

Pengujian saldo kas pada : (1) Rekening 519.000102 : Rekening Pembangunan dan (2)
Rekening 513.000000 : Rekening Dana Investasi (RDI)
- Dapatkan peraturan yang mendasari keberadaan dari rekening ini dan pelajari
apakah penggunaan rekening ini telah sesuai dengan peraturan tersebut.
- Dapatkan Berita Acara Serah Terima penyerahan penatausahaan rekening ini dari
Dirjen Lembaga Keuangan kepada Dirjen Perbendaharaan.
- Dapatkan Buku Besar rekening ini untuk tahun yang diperiksa. Lakukan pengujian
atas penjumlahan angka-angka (footing dan crossfooting) terhadap setiap mutasi
penerimaan maupun pengeluaran. Apabila ada ketidakcocokan, tanyakan
penyebabnya.
- Dapatkan rekening koran dari BI dan bandingkan dengan buku besar. Jika ada
perbedaan tanyakan sebabnya.
- Uji kelengkapan rekening ini untuk memastikan bahwa semua transaksi yang terjadi
sudah dibukukan.
- Dapatkan dokumen sumber pembukuan rekening ini. Teliti apakah transaksitransaksi di rekening tsb telah didukung dengan bukti yang sah untuk mengetahui
apakah setiap pengeluaran telah mendapatkan persetujuan dari pejabat yang

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

berwenang. Apabila terdapat bukti yang meragukan, konfirmasikan kepada pejabat


yang berwenang.
Dapatkan data transaksi harian rekening selama tahun anggaran yang diperiksa dari
BI (dalam bentuk soft copy/hardcopy). Lakukan penjumlahan transaksi selama satu
tahun dari file/dokumen yang diperoleh dari BI. Bandingkan hasil penjumlahan
tersebut dengan laporan yang dibuat Dit. PKN. Apabila terdapat perbedaan tanyakan
penyebabnya.
Pelajari dan analisa transaksi-transaksi yang ada dalam rekening ini. Apabila
terdapat kejanggalan-kejanggalan, tanyakan penyebabnya.
Lakukan uji pisah batas atas transaksi yang terdapat dalam rekening.
Pelajari rekening-rekening yang di luar pengawasan Dit. PKN (seperti Dana
Penjaminan di Dep Koperasi dan UKM, Dana Bergulir atas proyek/pinjaman yang
dikelola oleh DJLK) yang pengembalian dananya ditampung dalam rekeningrekening tertentu yang dikelola oleh Dit. P3. Lakukan pemeriksaan apakah
pengembalian dana bergulir tersebut harus dimasukkan sebagai kas negara.

Pengujian saldo kas : (1) Rekening 600.000411 : Hasil Minyak Karya Production Sharing;
(2) Rekening 508. 000071 : Rekening Khusus Penerimaan dari Bidang Pertambangan
dan Perikanan; (3) Rekening 508.000084 : Rekening Penerimaan Panas Bumi; (4)
Rekening 510.000149 : Subsidi Bunga dalam rangka SEDP3; (5) Rekening 510.000265 :
Reksus untuk Pembiayaan Proyek Regional Development Account (RDA); (6) Rekening
519.000002 : Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; (7) Rekening 519.000114 : Iuran Hak
Pengusahaan Hutan dan Provisi Sumber Daya Hutan; (8) Rekening 555.000904 : Dana
untuk Pembayaran Berbagai Kewajiban
- Dapatkan peraturan yang mendasari keberadaan dari rekening ini dan pelajari
apakah penggunaan rekening ini telah sesuai dengan peraturan tersebut.
- Lakukan wawancara dengan pihak Direktorat PNBP pada DJAPK (dahulu Direktorat
Penerimaan Minyak dan Bukan Pajak pada DJLK) mengenai pengelolaan rekening
ini.
- Dapatkan Berita Acara Serah Terima penyerahan penatausahaan rekening ini dari
Dirjen Lembaga Keuangan kepada Dirjen Perbendaharaan.
- Dapatkan Buku Besar masing-masing rekening untuk tahun 2004. Lakukan
pengujian atas penjumlahan angka-angka (footing dan crossfooting) terhadap setiap
mutasi penerimaan maupun pengeluaran yang terdapat dalam buku besar. Apabila
ada ketidakcocokan, cari penyebabnya.
- Dapatkan rekening koran dari BI dan bandingkan dengan buku besar. Jika ada
perbedaan tanyakan sebabnya.
- Uji kelengkapan rekening ini untuk memastikan bahwa semua transaksi yang terjadi
sudah dibukukan.
- Dapatkan dokumen sumber pembukuan rekening ini. Teliti apakah transaksitransaksi di rekening tsb telah didukung dengan bukti yang sah untuk mengetahui
apakah setiap pengeluaran telah mendapatkan persetujuan dari pejabat yang
berwenang. Apabila terdapat bukti yang meragukan, konfirmasikan kepada pejabat
yang berwenang.
- Dapatkan data mutasi harian rekening selama tahun anggaran yang diperiksa dari
BI (dalam bentuk softcopy/hardcopy). Lakukan penjumlahan transaksi selama satu
tahun dari file/dokumen yang diperoleh dari BI. Bandingkan hasil penjumlahan
tersebut dengan laporan yang dibuat Dit. PKN. Apabila terdapat perbedaan tanyakan
penyebabnya.
- Pelajari dan analisa transaksi-transaksi yang ada dalam rekening ini. Apabila
terdapat kejanggalan-kejanggalan, tanyakan kepada pihak Dit. PKN mengenai
penyebabnya.
- Lakukan uji pisah batas atas transaksi yang terdapat dalam rekening.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

(2) Investasi Jangka Panjang


(a) Pinjaman kepada BUMN/Pemda (RDI/RPD)
Dapatkan saldo per 31 Desember pada tahun anggaran yang diperiksa.
Dapatkan rekening koran RDP, RDPT, RPDPT dan RDJLK tahun anggaran yang
diperiksa
Jika tidak terdapat R/K, lakukan konfirmasi atas saldo RDP, RDPT, RPDPT dan RDJLK
per 31 Desember pada tahun anggaran yang diperiksa, kepada bank-bank pelaksana.
Pelajari apakah penerimaan kembali atas pokok dan bunga pinjaman yang disetorkan ke
RDJLK merupakan investasi atau kas. Dalam hal ini karena posisi per 31 Desember
pada tahun anggaran yang diperiksa telah disetorkan ke RDJLK (rekening pemerintah)
maka dapat diklasifikasikan sebagai kas, kecuali jika terdapat di RDP.
Bandingkan dengan investasi yang dilakukan dari RDI/RPD. Saldo RDI/RPD per 31
Desember pada tahun anggaran yang diperiksa diklasifikasikan sebagai kas dan dana
yang disalurkan sebagai pinjaman adalah investasi. Saldo RDI/RPD merupakan
pengembalian pokok dan bunga pinjaman.
Untuk penyaluran pinjaman yang tertunggak, dapatkan analisa risiko dan proses
rekonsiliasi yang telah dilakukan untuk meyakinkan bahwa bagian pemerintah telah
sesuai dengan ketentuan.
Pastikan bahwa untuk pos dana bergulir ini tidak hanya yang berasal dari RDI. Dari hasil
pemeriksaan pendahuluan diketahui bahwa masih terdapat dana bergulir yang memang
dipisahkan dari APBN sebagai contoh Departemen Koperasi. Lakukan penelitian lebih
lanjut pada Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK)
Catat hal-hal yang perlu mendapat perhatian.
(b) Pinjaman kepada Lembaga International
Dapatkan saldo per 31 Desember pada tahun anggaran yang diperiksa
Lakukan konfirmasi dengan Pusat Kerjasama Internasional, Badan Pengkajian Ekonomi
dan Kerjasama Keuangan Internasional untuk memperoleh data yang lebih lengkap
tentang keikutsertaan Pemerintah Indonesia di lembaga Internasional.
Lakukan pengujian keakuratan dengan cara melakukan konfirmasi dengan perwakilan
lembaga internasional yang ada di Indonesia.
Catat hal-hal yang perlu mendapat perhatian.
(c) Penyertaan Modal Pemerintah
Dapatkan saldo per 31 Desember pada tahun anggaran yang diperiksa
Pastikan bahwa pencatatan transaksi telah sesuai dengan nature of account, yaitu
bahwa penyertaan modal negara bersumber dari APBN (dalam laporan keuangan BUMN
merupakan pos Penyertaan Modal Pemerintah/PMP), kapitalisasi cadangan dan sumber
lainnya. Dana yang berasal dari APBN (PMP) harus ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah (UU No. 19 Tahun 2003 tanggal 19 Juni 2003 tentang BUMN Pasal 4
beserta penjelasannya). Oleh sebab itu untuk PMP perlu diperhatikan bahwa telah ada
PP-nya atau belum. (Penyertaan modal pemerintah yang belum ada Peraturan
Pemerintah disebutkan sebagai Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya
(BPYBDS).
Bagi BUMN yang melaporkan BPYBDS dalam laporan keuangannya, teliti lebih jauh
pencatatannya
Lakukan pengujian keakuratan data inputan dengan dokumen sumber berupa laporan
keuangan BUMN (audited) yaitu persentase kepemilikan pemerintah dan ekuitas.
Catat hal-hal yang perlu mendapat perhatian.
(3) Aktiva Tetap dan Asset Lainnya

Kompilasi
Minta daftar Laporan Keuangan yang telah diterima di Direktorat Informasi Akuntansi
Ditjen Perbendaharaan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

Secara uji petik (Departemen dengan nilai asset material) minta bukti penerimaan
laporan keuangan tersebut.
Teliti apakah semua daftar departemen/instansi yang wajib menyampaikan laporan
sesuai dengan KMK 337/KMK.012/2003, KEP Bakun No. KEP-16/AK/2004 dan Keppres
No. 42 tahun 2002. Jika terdapat perbedaan tanyakan sebab dan akibatnya bagi
penyajian LKPP.
Secara uji petik (departemen dengan nilai asset dan liabilities material) minta laporan
keuangan departemen/instansi.
Teliti apakah penyajian pos-pos neraca telah sesuai dengan KMK No.337/2003. Jika
terdapat perbedaan tanyakan perlakukan Direktorat Informasi Akuntansi (DIA) dalam
melakukan kompilasi. Teliti dampaknya atas penyajian LKPP.
Minta seluruh laporan keuangan khususnya neraca yang diterima oleh DIA.
Lakukan rekonstruksi kompilasi neraca pemerintah pusat berdasarkan neraca-neraca
departemen/lembaga. Jika terdapat perbedaan angka per pos baik penjumlahan
tanyakan penyebabnya dan teliti dampaknya atas penyajian LKPP.
Tanah
Dapatkan rincian saldo tanah pada tingkat eselon I, UAW, UAK, bandingkan apakah
saldo tanah pada neraca sama dengan saldo pada buku besar dan telah sesuai dengan
saldo-saldo yang ada pada buku pembantu
Lakukan perhitungan secara footing dan croos footing atas buku-buku saldo tanah
tersebut (dalam Laporan Tahunan/LT atau Laporan Mutasi Barang Triwulanan/LMBT)
Dapatkan bukti sah dokumen kepemilikan tanah
Lakukan pengecekan secara fisik keberadaan tanah
Lakukan pengujian terhadap pelepasan atau penjualan tanah, termasuk pembelian atau
penembahan tanah pada buku-buku pembantu
Lakukan wawancara dengan pejabat yang berwenang Mengenai kemungkinan adanya
tanah yang dimanfaatkan pihak ketiga
Lakukan vouching terhadap dokumen yang mendukung pelepasan dan penambahan
tanah, dengan melakukan uji petik terhadap dokumen pembelian, serta lakukan
pengujian hasil penjualan tanah ke rekening koran bank bendaharawan penerima
Lakukan pengujian terhadap penilaian tanah yang ada di neraca, apakah telah sesuai
dengan peraturan yang telah ditetapkan
Periksa biaya-biaya yang berhubungan dengan tanah untuk menntukan apakah biaya
tersebut dikapitalisasi sebagai penambah nilai tanah atau dibebankan pada periode
berjalan
Peralatan dan Mesin
Dapatkan rincian saldo tanah pada tingkat eselon I, UAW, UAK, bandingkan apakah
saldo peralatan dan mesin pada neraca sama dengan saldo pada buku besar dan telah
sesuai dengan saldo-saldo yang ada pada buku pembantu
Lakukan perhitungan secara footing dan cross footing atas buku-buku saldo peralatan
dan mesin
tersebut (dalam Laporan Tahunan/LT atau Laporan Mutasi Barang
Triwulanan/LMBT)
Lakukan pengecekan secara fisik keberadaan peralatan dan mesin
Lakukan pengujian terhadap pelepasan atau penjualan peralatan dan msin, termasuk
pembelian atau penembahan peralatan dan mesin pada buku-buku pembantu
Lakukan wawancara mengenai kemungkinan adaya sewa peralatan dan mesin yang
kemungkinan dicatat di neraca, atau kemungkinan adanya peralatan dan mesin yang
dijaminkan, termasuk penghapusan peralatan dan mesin tua dari catatan pembukuan
Lakukan vouching terhadap dokumen yang mendukung pelepasan dan penambahan
peralatan dan mesin, dengan melakukan uji petik terhadap faktur pembelian, dokumen
pengiriman barang, serta lakukan pengujian hasil penjualan peralatan dan mesin ke
rekening koran bank
Lakukan pengujian terhadap penilaian peralatan dan mesin yang ada di neraca, apakah
telah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

Periksa biaya-biaya yang berhubungan dengan peralatan dan mesin untuk menentukan
apakah biaya tersebut dikapitalisasi sebagai penambah nilai peralatan dan mesin atau
dibebankan pada periode berjalan

Gedung dan Bangunan


Dapatkan rincian saldo gedung dan bangunan pada tingkat eselon I, UAW, UAK,
bandingkan apakah saldo peralatan dan mesin pada neraca sama dengan saldo pada
buku besar dan telah sesuai dengan saldo-saldo yang ada pada buku pembantu
Lakukan perhitungan secara footing dan croos footing atas buku-buku saldo gedung
tersebut (dalam Laporan Tahunan/LT atau Laporan Mutasi Barang Triwulanan/LMBT)
Dapatkan bukti sah dokumen kepemilikan gedung dan bangunan
Lakukan pengecekan secara fisik keberadaan gedung dan bangunan
Lakukan wawancara mengenai kemungkinan adaya lease gedung dan bangunan yang
kemungkinan dicatat di neraca, atau kemungkinan adanya gedung dan bangunan yang
dijaminkan, termasuk penghapusan gedung dan bangunan dari catatan pembukuan
Lakukan wawancara mengenai gedung dan bangunan dalam pengerjaan yang belum
dimasukkan ke dalam neraca, termasuk perkembangan pengerjaan gedung dan
bangunan, termasuk prosentase nilai gedung dan bangunan yang telah dimasukkan ke
dalam neraca
Lakukan pengujian terhadap pelepasan atau penjualan gedung dan bangunan, termasuk
pembelian atau penembahan gedung dan bangunan pada buku-buku pembantu
Lakukan vouching terhadap dokumen yang mendukung pelepasan dan penambahan
gedung dan bangunan, dengan melakukan uji petik terhadap faktur pembelian, serta
lakukan pengujian hasil penjualan gedung dan bangunan ke rekening koran bank
Lakukan pengujian terhadap penilaian peralatan dan mesin yang ada di neraca, apakah
telah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan
Periksa biaya-biaya yang berhubungan dengan gedung dan bangunan untuk
menentukan apakah biaya tersebut dikapitalisasi sebagai penambah nilai gedung dan
bangunan atau dibebankan pada periode berjalan

Jalan Irigasi dan Bangunan


Dapatkan rincian saldo jalan, irigasi, dan jaringan pada tingkat eselon I, UAW, UAK,
bandingkan apakah saldo peralatan dan mesin pada neraca sama dengan saldo pada
buku besar dan telah sesuai dengan saldo-saldo yang ada pada buku pembantu
Lakukan perhitungan secara footing dan croos footing atas buku-buku saldo jalan, irigasi,
dan jaringan tersebut (dalam Laporan Tahunan/LT atau Laporan Mutasi Barang
Triwulanan/LMBT
Dapatkan bukti sah dokumen kepemilikan jalan, irigasi, dan jaringan
Lakukan pengecekan secara fisik keberadaan jalan, irigasi, dan jaringan
Lakukan wawancara mengenai transfer kepemilikan pembangunan jalan, irigasi, dan
jaringan atas jalan yang dibangun dengan kerjasama dengan pihak ketiga
Lakukan wawancara mengenai jalan, irigasi, dan jaingan dalam pengerjaan yang belum
dimasukan ke dalam neraca, termasuk perkembangan pengerjaan jalan, irigasi, dan
jaringan, termasuk prosentase nilai jalan, irigasi, dan jaringan yang telah dimasukan ke
dalam neraca
Lakukan pengujian terhadap penilaian jalan, irigasi, dan jaringan yang ada di neraca,
apakah telah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan
Periksa biaya-biaya yang berhubungan dengan jalan, irigasi, dan jaringan untuk
menentukan apakah biaya tersebut dikapitalisasi sebagai penambah nilai jalan, irigasi,
dan jaringan atau dibebankan pada periode berjalan
Asset Tetap Lainnya
Dapatkan rincian saldo aset tetap lainnya pada tingkat eselon I, UAW, UAK
Lakukan perhitungan secara footing dan croos footing atas buku-buku saldo aset tetap
lainnya tersebut (dalam Laporan Tahunan/LT atau Laporan Mutasi Barang
Triwulanan/LMBT

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

Lakukan pengecekan secara fisik keberadaan aset tetap lainnya


Lakukan pengujian terhadap pelepasan atau penjualan aset tetap lainnya, termasuk
pembelian atau penembahan aset tetap lainnya pada buku-buku pembantu
Lakukan vouching terhadap dokumen yang mendukung pelepasan dan penambahan
aset tetap lainnya, dengan melakukan uji petik terhadap faktur pembelian, dokumen
pengiriman barang, serta lakukan pengujian hasil penjualan aset tetap lainnya ke
rekening koran bank
Lakukan pengujian terhadap penilaian aset tetap lainnya yang ada di neraca, apakah
telah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan

(4) Utang Luar Negeri


Rekening Khusus (Special Accounts)
- Dapatkan dan reviu Laporan Stocks of Government External Debt and Transaction pada
pada tahun anggaran yang diperiksadan tahun anggaran sebelumnya
- Dapatkan daftar keseluruhan rekening khusus yang ditatausahakan Direktorat Pinjaman
dan Hibah Luar Negeri (Dit.PHLN), baik yang berada di Bank Indonesia (BI) maupun
Bank Pemerintah lainnya.
- Konfirmasikan keberadaan rekening khusus tersebut dengan BI dan Bank Pemerintah
lainnya. Bila terjadi perbedaan tanyakan penyebabnya, berapa besarnya dan apa
pengaruhnya terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).
- Lakukan cross check antara Stocks of Government External Debt and Transaction pada
pada tahun anggaran yang diperiksa dengan Rekening Kas Pemerintah terkait (dari Dit
PKN) maupun Nota Perhitungan (dari BI) atas beberapa sampel loan agreement. Jika
terjadi perbedaan, cari/tanyakan penyebabnya dan tentukan besaran yang seharusnya
tercatat di LKPP.
- Dapatkan sampel beberapa Loan Agreement/Naskah Perjanjian Pinjaman/Hibah Luar
Negeri (NPPHLN) beserta dokumen penarikan (Notice of Disbursement/NOD atau Debet
Advice/DA) dan pembayarannya (cicilan pokok, bunga, dan biaya-biaya terkait lainnya).
- Untuk masing-masing NPPHLN tersebut di atas, mintakan Withdrawal Application (WA)
Replenishment/Reimbursement beserta lampirannya (SPM-SPM R-K) yang diajukan
Dit.PHLN kepada Lender/Pemberi Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PPHLN) dari sejak
penandatanganan NPPHLN sampai dengan 31 Maret pada tahun anggaran yang
diperiksa. Dapatkan dari beberapa KPPN (terutama KPPN Jakarta VI) seluruh Surat
Perintah Membayar Rekening Khusus (SPM-RK) yang diterbitkan atas proyek terkait.
Bandingkan
antara
kedua
data
tersebut
guna
memastikan
keabsahan
penerimaan/pengeluaran (Rights & Obligation), menentukan besarnya SPM-RK yang
telah diterbitkan, yang telah dan tau belum diajukan Replenishment/ Reimbursement
kepada Lender, yang ditolak oleh Lender (/ineligible).
- Jika Rekening Khusus tidak mencukupi, SPM-RK akan dibayarkan dari Rekening Sub
BUN Dana Talangan. Tentukan berapa besar kumulatif dana yang telah diambil dari
Rekening Khusus dan berapa besar kumulatif dana yang diambil dari Rekening Sub
BUN Dana Talangan. Identifikasi berapa besar yang memungkinkan maupun yang tidak
memungkinkan untuk dimintakan Reimbursementnya (yang tidak memungkinkan
misalnya dikarenakan loan agreement telah closing). Tanyakan lebih lanjut, apakah
terdapat ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan penggunaan Rekening
Sub BUN Dana Talangan, apakah di dalamnya diatur tentang misalnya besar maksimal
yang bisa digunakan untuk masing-masing loan agreement.
- Tanyakan perlakuan atas SPM-SPM RK yang tidak memungkinkan untuk dimintakan
Replenishment/Reimbur-sementnya kepada Lender maupun yang terkategorikan
ineligible. Lakukan konfirmasi kepada Departemen/Instansi atau Direktorat Informasi dan
Akuntansi (DIA) yang membawahi masing-masing proyek terkait, apakah atas SPM-SPM
RK tersebut telah tercatat sebagai pengeluaran di Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
masing-masing.
- Dari sistem yang ada diketahui bahwa Pihak Proyek/ Departemen/Intansi pengguna
PHLN tidak menerima Debet Advice atau Nota Perhitungan dari BI. Hal ini dapat

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

mengakibatkan terjadinya penarikan/pengeluaran pembiayaan PHLN yang tidak


seharusnya tanpa sepengetahuan Pihak Proyek/Departemen/ Intansi pengguna PHLN.
Konfirmasikan kepada Dit PKN, apakah seluruh saldo Reksus per 31 Desember 200X
dikategorikan sebagai Kas Negara. Bila tidak, tanyakan alasan-alasannya.
Pembiayan Pendahuluan (Reimbursement)
Dapatkan Laporan Stocks of Government External Debt and Transaction pada tahun
anggaran yang diperiksa dan tahun anggaran sebelumnya, atas PHLN dengan
mekanisme reimbursement.
Dapatkan daftar loan agreement atas PHLN dengan mekanisme reimbursement. Dari
masing-masing loan agreement, catat berapa besar SPM PP (Pembayaran
Pendahuluan) yang telah diberikan KPPN kepada Proyek, Withdrawal Aplication yang
diajukan Dit.PHLN kepada Lender, DA yang diterima Dit.PHLN, SPM Pengesahan yang
telah diterbitkan KPPN.
Bandingkan antara DA dengan SPM Pengesahan. Bila terjadi perbedaan, apa
penyebabnya dan apa pengaruhnya terhadap LKPP.
BI membuat Nota Perhitungan dan membukukan Debet: Rekening Lender, Credit:
Rekening BUN setelah menerima SPM Pengesahan dari KPPN. Teliti Nota Perhitungan
dan bandingkan dengan SPM Pengesahan, apakah ada SPM Pengesahan yang belum
masuk/tercatat ke/di dalam Rekening BUN dan apa pengaruhnya terhadap LKPP.
Telaah, bagaimana perlakuan atas SPM-PP yang belum dipertanggungjawabkan proyek
dan atau belum dimintakan reimbursement oleh Dit.PHLN kepada Lender terutama atas
loan agreement yang telah closing. Hitung besar SPM-PP tersebut dan apa pengaruhnya
terhadap LKPP.
Pembukaan Letter of Credit
Dapatkan Laporan Stocks of Government External Debt and Transaction pada tahun
anggaran yang diperiksa dan tahun anggaran sebelumnya dengan mekanisme
pembukaan Letter of Credit (L/C).
Dapatkan seluruh L/C yang diterbitkan BI, DA yang diterima Dit.PHLN, SPM Pengesahan
yang diterbitkan KPPN Jakarta VI. Lakukan cross check diantara ketiga data tersebut.
Dilihat dari sistem mekanisme pembukaan Letter of Credit (L/C), kontrol atas DA yang
diterbitkan lender yaitu dengan membandingkannya dengan dokumen realisasi L/C
hanya dimungkinkan dilakukan oleh BI. Apakah BI mempunyai kewajiban untuk
melakukan verifikasi atas kebenaran DA (dilihat dari existence, rights & obligation,
accuracy).
Lakukan pengujian DA dimaksud (pengujian dilakukan di BI). SPM Pengesahan yang
diterbitkan KPKN VI didasarkan atas Nota Perhitungan dan Nota Disposisi L/C yang
disampaikan dari BI. Nota Perhitungan dan Nota Disposisi L/C tersebut dibuat
berdasakan dokumen realisasi L/C dan Surat Kuasa Pemerintah (SKP). Tentukan berapa
banyak dokumen realisasi L/C atau DA yang belum diterbitkan SPM Pengesahannya.
Tentukan apa pengaruhnya terhadap LKPP (terutama LRA).
Dapatkan sampel beberapa Loan Agreement/Naskah Perjanjian Pinjaman/Hibah Luar
Negeri (NPPHLN) beserta dokumen penarikan (Notice of Disbursement/NOD atau Debet
Advice/DA) dan pembayarannya (cicilan pokok, bunga, dan biaya-biaya terkait lainnya).
Lakukan analytical review.
Pembayaran Langsung (Direct Payment)
Dapatkan Laporan Stocks of Government External Debt and Transaction pada tahun
anggaran yang diperiksa dan tahun anggaran sebelumnya dengan mekanisme
Pembayaran Langsung.
Dapatkan seluruh DA yang diterima Dit.PHLN, SPM Pengesahan yang diterbitkan KPPN
Jakarta VI, dan Rekening Kas Pemerintah. Lakukan cross check diantara ketiga data
tersebut. Waspadai kemungkinan adanya DA atau SPM Pengesahan yang belum
terimput di dalam RKP (terkait dengan Laporan Arus Kas). Hal ini disebabkan terutama
karena dari time leg atas penerimaan Nota Perhitungan dari BI oleh Dit.BUN sebagai

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

pembuat RKP. (Catatan: Nota Perhitungan dibuat BI berdasarkan SPM Pengesahan dari
KPPN).
Dapatkan sampel beberapa Loan Agreement/Naskah Perjanjian Pinjaman/Hibah Luar
Negeri (NPPHLN) beserta dokumen penarikan (Notice of Disbursement/NOD atau Debet
Advice/DA) dan pembayarannya (cicilan pokok, bunga, dan biaya-biaya terkait lainnya).
Uji kebenarnan pembayaran cicilan pokok, bunga, dan biaya-biaya terkait lainnya.
Lakukan analytical review.

(5) Utang Dalam Negeri (Surat Utang Negara)


Dapatkan angka neraca pinjaman dalam negeri untuk setiap jenisnya.
Minta data mutasi pinjaman dalam negeri pada tahun pada tahun anggaran yang
diperiksa berikut perinciaannya.
Telusuri total dan perincian per jenis Utang Dalam Negeri yang disampaikan ke DIA ke
buku besar atau pembukuan/sistem PSUN.
Dapatkan perincian pembayaran bunga, cicilan pokok dan tambahan Surat Utang
Negara, teliti apakah angka-angkanya telah cocok antara angka neraca, LRA dan
Laporan Arus Kas.
Dari data mutasi utang dalam negeri pada pada tahun anggaran yang diperiksa secara
uji petik (pertimbangkan materialitas) telusuri angka mutasi tersebut ke dokumen sumber
penerimaan (mutasi masuk) dan dokumen sumber pengeluaran (mutasi keluar)
pembayaran bunga dan cicilan pokok.
Lakukan konfirmasi utang dalam negeri khususnya pinjaman yang tidak lazim dan jumlah
besar.
Dapatkan mutasi tambah dan kurang menurut data LRA dan Laporan Arus Kas.
Telusuri apakah semua mutasi tambah dan kurang tersebut telah dicatat di neraca.
Pengujian harus benar-benar memperhatikan jenis dan identitas utang negara dalam
pengujian ini.
Bandingkan total cicilan tersebut dengan Rekening Koran Pemerintah (RKP) untuk
meyakinkan bahwa cicilan pokok yang dicatat di PMON sama dengan pembayaran kas
cicilan pokok hutang dalam negeri di RKP.
Minta data Surat Utang Negara dari BI bandingkan dengan data departemen keuangan
teliti apakah semua surat utang negara telah dicatat.
Secara uji petik minta bukti pembayaran cicilan pokok dan bunga. Lakukan perhitungan
ulang.
Lakukan perhitungan ulang atas tambah dan kurang angka neraca. Bandingkan dengan
angka terkait di LRA dan Laporan Arus Kas.
Lakukan perhitungan accrued interest.
Lakukan perhitungan utang dalam negeri yang kurang dari satu tahun akan jatuh tempo.
Teliti apakah semuanya telah disajikan di neraca dengan klasifikasi yang benar.
Khusus untuk untuk indexing, teliti apakah pembebanan penambahan indeks telah
diklasifikasikan dengan benar. Teliti apakah mutasi tambah kurang di neraca telah di
sajikan dengan benar sesuai dengan jenisnya di LRA dan Laporan Arus Kas.
Khusus untuk transaksi-transaksi akhir tahun, teliti apakah sudah disajikan tepat waktu.
Penggunaan rekening antara, bandingkan mutasi rekening antara dengan bukti
penerimaan dan pengeluaran KPPN, teliti apakah telah mencerminkan keadaan yang
sebenarnya dalam neraca.
Minta daftar hutang dalam negeri. Secara uji petik minta dokumen pendukung hutang
dalam negeri termasuk perjanjian hutang dalam negerinya.
Teliti apakah dokumen tersebut telah membuktikan kewajiban pemerintah atas hutang
tsb.
Review semua ketentuan dan perjanjian serta surat menyurat terkait surat utang negara.
Teliti apakah ada indikasi masalah-masalah yang harus diungkapkan dan disajikan tetapi
tidak dilaksanakan.

b. Pemeriksaan atas pos/akun pada LRA


Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

(1) Pembiayaan Defisit


Penerimaan dari Rekening Dana Investasi (RDI)
- Dapatkan penjelasan atas Penerimaan tersebut untuk mengetahui sifat dan prosedur
pencatatannya
- Dapatkan bukti penerimaan RDI tersebut untuk mengetahui dari rekening mana saja
penerimaan tersebut diterima
- Dapatkan saldo awal, mutasi rekening dan saldo akhir rekening tersebut untuk
mengetahui apakah seluruh penerimaaan tahun berjalan dan saldo awal rekening
tersebut telah disetor seluruhnya ke rekening kas negara.

Penerimaan dari rekening non RDI


- Dapatkan penjelasan atas Penerimaan tersebut untuk mengetahui sifat dan prosedur
pencatatannya
- Dapatkan bukti penerimaan Non-RDI tersebut untuk mengetahui dari rekening mana
saja penerimaan tersebut diterima
- Dapatkan saldo awal, mutasi rekening dan saldo akhir rekening tersebut untuk
mengetahui apakah seluruh penerimaaan tahun berjalan dan saldo awal rekening
tersebut telah disetor seluruhnya ke rekening kas negara.
- Lakukan pengujian untuk meyakinkan bahwa penerimaan tersebut telah sesuai dengan
klasifikasi yang ditetapkan dalam UU APBN

Penerimaan Privatisasi
- Dapatkan penjelasan tentang mekanisme penyetoran penerimaan privatisasi
- Lakukan pengujian footing dan crossfooting atas setoran hasil privatisasi BUMN
- Lakukan konfirmasi dengan Subdit. Administrasi BUN untuk mengetahui jumlah yang
telah disetor ke BUN;
- Dapatkan informasi privatisasi BUMN dan jumlah penerimaan privatisasi pada Meneg
BUMN
- Apabila dibuka rekening antara, dapatkan rekening mutasi dan saldo per 31 Desember
pada tahun anggaran yang diperiksa, untuk memastikan bahwa seluruh penerimaan
telah disetor ke rekening kas negara (BUN atau KPPN)

Penjualan aset program restrukturisasi perbankan


- Dapatkan penjelasan tentang mekanisme penyetoran penerimaan dari penjualan aset
program restrukturisasi perbankan
- Lakukan pengujian footing dan crossfooting atas jumlah penerimaan dari penjualan
aset program restrukturisasi perbankan
- Lakukan dengan subdit. Administrasi BUN untuk mengetahui jumlah yang disetor ke
BUN dan dari rekening mana dana tersebut ditransfer
- Lakukan konfirmasi dengan PT PPA untuk mengetahui rekening dan jumlah setoran
penerimaan tersebut yang disetor ke kas negara selama tahun anggaran yang
diperiksa
- Apabila dibuka rekening antara, dapatkan rekening korannya dan analisis

Penerimaan dari penerbitan Surat Utang Negara (SUN)


- Lakukan pengujian footing dan cross footing atas jumlah penerimaan dari penerbitan
surat utang negara
- Lakukan pengujian kelengkapan dengan vouching ke dokumen sumber berupa Nota
Kredit transfer ke rekening BUN (berdasarkan RKP yang diterima oleh Sub.dit APP)
- Pastikan bahwa jumlah penerimaan SUN merupakan seluruh penerimaan yang berasal
dari penerbitan SUN.
- Lakukan reviu atas nota kredit tersebut, untuk mengetahui asal rekening yang
mentransfer penerimaan tersebut ke rekening BUN

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

- Lakukan konfirmasi tentang jumlah penerimaan SUN ke tim pemeriksaan hutang untuk
memastikan bahwa jumlah yag ditransfer ke rekening BUN adalah seluruh kas yang
diperoleh dari penerbitan SUN selama tahun berjalan.

Pembayaran pokok dan pembelian Kembali SUN


- Lakukan pengujian footing dan crossfooting transaksi tersebut untuk meyakinkan
akurasi jumlah saldo yang tercatat dalam LRA
- Lakukan pengujian kelengkapan dan klasifikasi dengan vouching ke dokumen sumber
berupa SPM, untuk memastikan bahwa pembayaran tersebut telah didukung dengan
bukti transaksi dan telah dicatat sesuai dengan mata anggarannya.
- Lakukan konfirmasi dengan tim LKPP untuk mengetahui kebenaran perhitungan
pembayaran cicilan pokok dan pembelian kembali SUN

Penerimaan Pinjaman Luar Negeri


- Lakukan pengujian footing dan crossfooting transaksi tersebut untuk
untuk
meyakinkan akurasi jumlah saldo yang tercatat dalam LRA
- Lakukan pengujian kelengkapan klasifikasi dengan vouching ke dokumen sumber
berupa nota kredit, untuk memastikan bahwa penerimaan tersebut telah didukung
dengan bukti transaksi dan telah dicatat sesuai dengan klasifikasi anggaran.
- Lakukan konfirmasi dengan Tim pemeriksa Laporan Keuangan Konsolidasian
Pemerintah Pusat untuk memastikan bahwa seluruh penerimaan pinjaman program
yang telah diterima telah dicatat dalam LRA.

Bagian Pemerintah Laba BUMN


- Dapatkan rincian jumlah penerimaan dari Bagian Laba BUMN per masing-masing
BUMN
- Lakukan footing dan crosfooting untuk memastikan tidak ada kesalahan penjumlahan
- Lakukan konfirmasi ke BUMN terkait untuk memastikan jumlah yang tercatat adalah
jumlah seluruh setoran Bagian Laba BUMN terkait
- Bandingkan dengan dividen tahun anggaran bersangkutan untuk mengetahui apakah
jumlah yang telah ditetapkan adalah jumlah yang disetor.
- Pastikan bahwa setoran tersebut langsung ke rekening BUN dan atau rekening KPPN.
- Apabila menggunakan rekening antara, pastikan bahwa pada akhir tahun anggaran
saldo rekening tersebut nihil.
- Pastikan bahwa tidak ada pengeluaran rekening antara tersebut selain ke rekening
BUN dan atau KPKN.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.15

c. Pemeriksaan atas pos/akun pada LAK

Dapatkan
seluruh
LRA
kementerian/lembaga.
Pastikan
bahwa
seluruh
kementerian/lembaga telah menyerahkan LRAnya.
Uji apakah format dan perkiraan-perkiraan LRA kementerian/lembaga telah sesuai
dengan Keputusan Menteri Keuangan.
Lakukan kompilasi atas LRA-LRA berdasarkan penerimaan dan pengeluaran, melalui
Rekening BUN dan KPPN.
Bandingkan angka realisasi penerimaan dan pengeluaran melalui Rekening BUN dan
KPPN pada LRA kementerian/lembaga dengan laporan RKP dan LKP.
Mintakan Berita Acara Rekonsiliasi yang dilakukan DIA untuk rekonsiliasi: LRA
kementerian/lembaga dengan Laporan RKP (Rek. BUN) dan Laporan Kas Posisi KPPN
(LKP), LKP dengan P6/P7.
Tanyakan proses rekonsiliasi yang dilakukan oleh DIA dan pastikan bahwa angka
rekonsiliasi didukung oleh sumber data yang memadai.
Bandingkan saldo setiap perkiraan Laporan Arus Kas yang disusun oleh DIA dengan
hasil kompilasi LRA. Jika ada perbedaan, cari sebabnya.
Untuk saldo Kas Rekening Pemerintah Lainnya di BI (jika ada), bandingkan saldo yang
tertera pada Laporan Arus Kas dengan dokumen sumber yang diterima oleh DIA. Jika
ada perbedaan, tanyakan sebabnya.
Untuk saldo Kas di Bendaharawan Penerimaan dan Kas di Bendaharawan Pengeluaran,
yang tertera pada Laporan Arus Kas dengan dokumen sumber yang diterima oleh DIA.
Jika ada perbedaan, tanyakan sebabnya.
Periksa apakah saldo setiap perkiraan pada Laporan Arus Kas yang disusun oleh DIA
sama dengan saldo perkiraan yang sama dengan Laporan Arus Kas yang disusun oleh
Dit. PKN (yang meliputi saldo awal, arus kas masuk, arus kas keluar dan saldo akhir
kas). Jika ada perbedaan, tanyakan sebabnya.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Saldo Kas LKPP dan LKKL yang Relevan
No.
1.

Tujuan Pengujian
Keberadaan & keterjadian:
Saldo kas dan bank yang
tercantum pada neraca
benar-benar ada.
Saldo kas dan bank
benar-benar dimiliki oleh
pemerintah pusat.

Pengendalian Intern Kunci


Pemisahan fungsi: penerima
kas, pembayaran kas,dan
akuntansi .
Pelaporan saldo kas dan
rekening kas yang dikelola
kementerian/lembaga secara
lengkap dan transparan.
Realisasi Penerimaan dan
pengeluaran kas telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang
Rekonsiliasi bank
Pemeriksaan fisik kas
Kepemilikan rekening kas

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi
realisasi penerimaan dan
pengeluran kas (saldo
kas) dicatat Neraca.
Mengetahui dan
meyakinkan bahwa saldo
kas sudah mencakup
transaksi pada periode
pelaporan

Seluruh penerimaan dan


pengeluaran kas pada
rekening kas negara telah
tercatat pada neraca.
Pencatatan saldo kas negara
telah melalui proses
rekonsiliasi dan verifikasi
intern.

3.

Penilaian dan Alokasi:


Transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas (saldo kas)
yang relevan telah dicatat
sesuai dengan nilai yang
semestinya, dan
perhitungan yang tepat.

Prosedur verifikasi intern atau


reviu atas nilai realisasi
penerimaan dan pengeluaran
kas
Penilaian kembali saldo kas
neraca awal /pertama kali
dengan nilai wajar.

Litbang Pemeriksaan

Pengujian Pengendalian Intern


Teliti pemisahan fungsi realisasi
penerimaan dan pengeluaran kas
baik desain maupun
implementasinya.
Teliti apakah pengelolaan dan
pencatatan kas telah dilakukan
dengan benar.
Teliti secara uji petik apakah
realisasi penerimaan dan
pengeluaran kas telah diotorisasi
oleh pejabat yang berwenang.
Teliti apakah prosedur rekonsiliasi
telah dijalankan sebagaimana
mestinya
Teliti apakah kas (bendahara dan
bank) telah diperiksa secara fisik
(cash opname) dengan
sebenarnya.
Teliti apakah kas yang dilaporkan
telah diverifikasi kepemilikannya.
Teliti apakah kas yang dimiliki
dikuasai untuk digunakan.
Teliti dokumen yang mendasari
pembukaan rekening kas negara
Teliti apakah semua rekening yang
telah disetujui dibuka dilaporkan
dalam neraca dan catatan atas
laporan keuangan.
Teliti urutan nomor dan tanggal
dokumen, sesuai dengan transaksi
tercatat.
Teliti apakah semua rekening yang
telah disetujui dibuka dilaporkan
dalam neraca dan catatan atas
laporan keuangan
Teliti apakah telah dilakukan
verifikasi intern atau reviu atas
dokumen pemerimaan dan
pengeluaran kas dan teliti apakah
hasilnya telah ditindaklanjuti.
Teliti apakah kas yang diperoleh
sebelum neraca awal telah dinilai
kembali.

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan dan Kemungkinan Temuan
Pemeriksaan
Adanya kepemilikan rekening palsu
(fiktif).
Perangkapan fungsi.
Pemisahan fungsi secara desain tetapi
implementasi tidak terjadi.
Pengelolaan dan pencatatan kas tidak
dilakukan dengan benar.
Realisasi penerimaan dan pengeluaran
kas tidak mendapat otorisasi oleh
pejabat yang berwenang
Perbedaan jumlah kas versi pemerintah
pusat/kas negara dengan versi bank
Penggelapan uang di bendahara.
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik kas
(cash opname) atau pemeriksaan fisik
formalitas.
Kas yang dilaporkan tidak ada dokumen
kepemilikannya.
kas dikuasai pihak lain secara tidak sah.
Kas milik negara tidak dilaporkan

Pengujian Subtantif atas Saldo


Lakukan cash opname dan buat berita acara
penutupan kas.
Minta pejabat pengelola untuk melakukan
konfirmasi terhadap perbedaan jumlah kas
dan rekening-rekening atas nama
pejabat/instansi pemerintah pada bank-bank
secara uji petik serta peroleh hasil konfirmasi
tersebut.
Minta pejabat pengelola keuangan untuk
melakukan rekonsiliasi bank, dan peroleh
hasil rekonsiliasi tersebut.
Periksa dokumen kepemilikan kas
Teliti secara uji petik realisasi penerimaan
dan pengeluaran kas telah mendapat
otorisasi oleh pejabat yang berwenang.
Teliti interbank transfer atau deposit in transit
satu minggu sebelum dan sesudah tanggal
neraca, untuk mengetahui adanya kitting
dengan tujuan window dressing.
Teliti secara uji petik apakah realisasi
penerimaan dan pengeluaran kas telah
dibukukan dalam Neraca.

Adanya dokumen fiktif pembukaan


rekening kas negara
Pemalsuan dokumen transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas.
Dokumen pendukung pencatatan kurang
lengkap.
Pengeluaran kas tidak/kurang dicatat
karena tidak ada dokumen pendukung

Dapatkan buku besar kas, nomor rekening


kas di kas negara dan rekening koran pada
akhir periode.
Lakukan rekonsiliasi bank, bandingkan saldo
masing-masing dengan jumlah yang
tercantum di Neraca.

Realisasi penerimaan dan pengeluaran


kas salah dibukukan dan dilaporkan.
Saldo kas yang diperoleh sebelum
neraca awal belum dinilai dengan nilai
wajar.

Teliti secara uji petik dokumen realisasi


penerimaan dan pengeluaran kas apakah
telah benar perhitungannya.
Teliti secara uji petik apakah saldo kas yang
dilaporkan dalam neraca telah dinilai kembali
dengan nilai wajar (saldo kas yang diperoleh
sebelum neraca awal).
Teliti perjanjian kredit, notulen rapat dan
jawaban konfirmasi bank untuk mengetahui

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Hak dan Kewajiban


Realisasi penerimaan dan
pengeluaran kas selama
tahun anggaran yang
relevan atas kas pemerintah
pusat.

Pengawasan atau reviu atas


realisasi penerimaan dan
pengeluaran kas (saldo kas)
terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan


keluar masuknya kas, khususnya
untuk realisasi penerimaan dan
pengeluaran kas yang nilainya
material dan sangat material.
Teliti kepemilikan kas negara

Pengawasan intern atas transaksi keluar


masuknya kas lemah.
Saldo kas yang dilaporkan dimiliki
dan/atau dikuasai oleh pihak lain secara
tidak sah.

Pengungkapan:
Realisasi penerimaan dan
pengeluaran kas (saldo kas)
telah diungkapkan secara
memadai dalam laporan
keuangan dan sesuai
dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP)

Pengawasan intern atau reviu


atas klasifikasi akun-akun
yang berhubungan dengan
penerimaan dan pengeluaran
kas telah memadai.
Pengawasan intern atau reviu
atas pengungkapan
penerimaan dan pengeluaran
kas telah memadai.
Terdapat kebijakan akuntansi,
sistem dan prosedur
penyusunan laporan
keuangan, serta verifikasi
internal.

Teliti pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan atas
transaksi kas telah dilakukan dan
hasilnya memadai.
Reviu kebijakan akuntansi terkait
dengan penyajian saldo kas, dan
telaah kesesuaiannya dengan
standar akuntansi pemerintah.
Reviu pelaksanaan penyusunan
laporan dan verifikasi internal untuk
memastikan bahwa pengungkapan
atas penyajian saldo kas telah
memadai (sesuai SAP)

Pengawasan atau reviu atas klasifikasi


dan pengungkapan lemah.
Klasifikasi transaksi kas tidak sesuai
SAP
Pengungkapan transaksi kas
tidak/kurang memadai.
Salah saji (oversated dan understated)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

apakah ada pembatasan rekening bank yang


dimiliki oleh pemerintah
Teliti transaksi kas sesudah tanggal neraca
sampai mendekati tanggal selesainya
pekerjaan lapangan, cermati peluang adanya
transaksi yang berpengaruh terhadap
penyajian saldo kas pada tanggal neraca.
Teliti secara uji petik terhadap dokumen
realisasi penerimaan dan pengeluaran kas
apakah terdapat aset yang dimiliki oleh pihak
lain.
Nilai saldo kas pada Neraca Awal
merupakan nilai wajar yang dimiliki negara
Teliti klasifikasi akun-akun yang
berhubungan dengan penerimaan dan
pengenluaran pada laporan keuangan
apakah telah sesuai SAP.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Saldo Piutang Pada LKPP dan LKKL yang Relevan
No.

1.

Tujuan Pengujian

Keberadaan & keterjadian:


Nilai piutang negara yang
disajikan di dalam laporan
keuangan benar-benar ada.
Piutang negara benar-benar
dimiliki oleh pemerintah pusat

Pengendalian Kunci

Pemisahan fungsi: pembuat


kebijakan, pelaksana dan
akuntansi
Kepemilikan piutang
Prosedur penetapan
SKP/dasar penagihan
lainnya.
Prosedur penagihan dan
prosedur
penyisihan/penghapusan
piutang.

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi piutang
(saldo) dicatat di Neraca.
Mengetahui dan meyakinkan
bahwa saldo piutang sudah
mencakup transaksi pada
periode pelaporan

Seluruh transaksi piutang


telah tercatat pada Neraca..
Piutang dicatat berdasarkan
SKP/dasar penagihan
lainnya, dan telah melalui
verifikasi intern untuk dicatat
dalam buku besar.

3.

Penilaian dan Alokasi:

Prosedur verifikasi intern

Litbang Pemeriksaan

Pengujian Pengendalian Intern

Risiko Terhadap Penyajian


Laporan Keuangan dan
Kemungkinan Temuan
Pemeriksaan
Adanya piutang fiktif
Perangkapan fungsi/ fungsi
ganda.
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi.
Pengelolaan dan pencatatan
piutang tidak dilakukan dengan
benar.
Kebijakan melakukan piutang
tidak mendapat otorisasi oleh
pejabat yang berwenang
Piutang yang dilaporkan tidak
ada dokumen kepemilikannya.
Piutang dikuasai pihak lain
secara tidak sah.
Piutang milik negara tidak
dilaporkan.

Pengujian Subtantif atas Saldo

Teliti dasar pengenaan piutang tersebut


dalam peraturan perundang-undangan
dalam SKP/dasar penagihan lainnya.
Teliti secara uji petik terhadap beberapa
SKP/dasar penagihan lain yang belum
dibayar apakah telah diakui atau dicatat
sebagai piutang, lakukan uji petik
terhadap dokumen pendukung.
Teliti pemisahan fungsi baik desain
maupun implementasinya.
Teliti pihak ketiga yang melakukan utang
dengan pemerintah.
Teliti apakah pengelolaan dan pencatatan
piutang telah dilakukan dengan benar.
Teliti secara uji petik apakah kebijakan
menjalankan piutang diotorisasi oleh
pejabat yang berwenang.
Teliti apakah piutang yang disajikan telah
diverifikasi kepemilikannya.
Teliti apakah piutang yang dimiliki dikuasai
pihak lain.
Lakukan dokumentasi atas bukti
penetapan besarnya penerimaan Piutang
yang menjadi hak Kementerian/Lembaga.
Reviu indikasi verifikasi intern ketepatan
penyusunan daftar piutang dan
penghitungan saldo piutang.
Teliti dokumen yang mendasari otorisasi
pelaksanaan piutang.

Adanya dokumen fiktif otorisasi


pelaksanaan piutang negara.
Piutang fiktif.
Pemalsuan dokumen transaksi
piutang negara
Dokumen pendukung pencatatan
kurang lengkap.
Salah perhitungan dan
pencatatan yang berekibat
kerugian.
Salah meggunakan metode
penyisihan piutang.

Lakukan pengecekan penjumlahan ke


bawah (footing) dan ke samping (cross
footing) daftar piutang negara yang
dilaporkan.
Teliti secara uji petik daftar penerimaan
kas (pelunasan piutang).
Teliti secara uji petik pengurangan
saldo putang.
Teliti secara uji petik tanggal
pembayaran piutang, keterlambatan
pembayaran dan sanksi keterlambatan
pembayaran pada SKP/ dasar
penagihan lainnya.
Lakukan wawancara untuk mengetahui
Rekening Pemerintah/Departemen
lainnya/Lembaga yang disimpan di Bank
Pemerintah maupun di Bank Umum tapi
belum dilaporkan dan lakukan konfirmasi
ke Bank tersebut

Teliti apakah telah dilakukan verifikasi

Transaksi piutang salah

Teliti secara uji petik dokumen

Badan Pemeriksa Keuangan

Bandingkan saldo piutang pada neraca


dengan buku besar dan daftar piutang
pada tingkat pemerintah pusat. Apabila
diperlukan, bandingkan pula buku
besarnya dengan buku pembantunya.
Telusuri secara uji petik piutang yang
telah dicatat dalam buku besar ke buku
jurnal umumnya.
Lakukan pengujian secara uji petik
piutang tersebut pada SKP/dasar
penagihan lain dan teliti hak dan
nilainya.
Konfirmasi atas wajib pajak atau debitur
yang dipilih secara uji petik. Apabila ada
indikasi bahwa tidak memungkinkan
jawaban konfirmasi diperoleh segera,
minta konfirmasi dilakukan secara
negatif.
Dapatkan rincian saldo kas di
bendaharawan penerimaan pada
tingkat eselon I, UAPPA-W, UAKPA.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Transaksi piutang yang relevan


telah dicatat sesuai dengan nilai
yang semestinya, dan perhitungan
yang tepat.

atau reviu atas nilai transaksi


piutang.
Penilaian kembali saldo
piutang neraca awal /pertama
kali dengan nilai wajar.

intern atau reviu atas dokumen transaksi


piutang dan teliti apakah hasilnya telah
ditindaklanjuti.
Teliti apakah piutang yang diperoleh
sebelum neraca awal telah dinilai kembali.

dibukukan dan dilaporkan.


Saldo piutang yang diperoleh
sebelum neraca awal belum
dinilai dengan nilai wajar.

transaksi piutang apakah telah benar


perhitungannya.
Teliti secara uji petik apakah saldo
piutang yang dilaporkan dalam neraca
telah dinilai kembali dengan nilai wajar
(saldo piutang yang diperoleh sebelum
neraca awal).
Teliti perjanjian kredit, notulen rapat
dan jawaban konfirmasi kepada pihak
ketiga apakah ada pembatasan
piutang dimiliki oleh pemerintah
pusat.
Teliti transaksi piutang sesudah
tanggal neraca sampai mendekati
tanggal selesainya pekerjaan
lapangan, cermati peluang adanya
transaksi yang berpengaruh terhadap
penyajian saldo piutang pada tanggal
neraca.

4.

Hak dan Kewajiban


Realisasi penerimaan dan
pengeluaran kas selama tahun
anggaran yang relevan atas kas
pemerintah pusat

Pengawasan atau reviu atas


transaksi piutang (saldo piutang)
terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan


pengurangan dan penambahan saldo
piutang yang nilainya material dan sangat
material.
Teliti kepemilikan piutang.
Review daftar penagihan piutang, uji petik
apakah semua penagihan telah dicatat,
dan semua bukti pendukung penagihan
piutang telah diverifikasi.
Teliti apakah penerimaan kas telah
didukung oleh bukti-bukti penyetoran,
semua bukti piutang telah mendapat
persetujuan dari pejabat yang berwenang,
dan semua bukti pendukung piutang telah
diverifikasi.

Pengawasan intern atas transaksi


penambahan dan pengurangan
saldo piutang lemah.
Saldo piutang yang dilaporkan
dimiliki dan atau dikuasai oleh
pihak lain secara tidak sah.

Teliti secara uji petik terhadap


dokumen transaksi piutang apakah
terdapat aset yang dimiliki oleh pihak
lain.
Nilai saldo piutang pada Neraca Awal
merupakan nilai wajar yang dimiliki
negara.
Lakukan pengujian, apakah terdapat
penerimaan Piutang yang belum disetor
ke Kas Negara.

5.

Pengungkapan:
Pengurangan dan penambahan
piutang (saldo piutang) telah
diungkapkan secara memadai
dalam laporan keuangan dan
sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP)

Pengawasan intern atau


reviu atas klasifikasi akunakun yang berhubungan
dengan piutang telah
memadai.
Pengawasan intern atau
reviu atas pengungkapan
penambahan dan
pengurangan saldo piutang
telah telah memadai.

Teliti pengawasan atau reviu atas


Pengawasan atau reviu atas
klasifikasi dan pengungkapan atas
klasifikasi dan pengungkapan
transaksi piutang telah dilakukan dan
lemah.
hasilnya memadai.
Klasifikasi transaksi piutang tidak
Reviu kebijakan akuntansi terkait dengan
sesuai SAP
penyajian saldo piutang dan telaah
Pengungkapan transaksi kas
kesesuaiannya dengan standar akuntansi
tidak/kurang memadai.
pemerintah.
Salah saji (oversated dan
Reviu pelaksanaan penyusunan laporan
understated)
dan verifikasi internal untuk memastikan
Salah menggunakan metode
bahwa pengungkapan atas penyajian
penyisihan piutang tak tertagih
saldo piutang telah memadai (sesuai SAP)
Teliti apakah pemerintah melakukan
penyisihan atas piutang dan
pengungkapan status piutang terkait
dengan kemungkinan tertagihnya piutang
Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti klasifikasi akun-akun yang


berhubungan dengan penambahan
dan pengurangan saldo piutang pada
laporan keuangan apakah telah sesuai
SAP.
Teliti secara uji petik tingkat
kolektibilitasnya yang memadai.
Teliti secara uji petik adanya
penghapusan piutang yang
dilaksanakan dan cermati apakah
piutang tersebut tetap dilakukan
penagihan dan jika dibayar telah
dicatat dalam penerimaan kas.
a. Secara uji petik minta dokumen
piutang, dan lakukan langkah berikut:

Terdapat kebijakan
akuntansi, sistem dan
prosedur penyusunan
Litbang Pemeriksaan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

laporan keuangan, serta


verifikasi internal.

Litbang Pemeriksaan

tersebut.
Teliti apakah pemerintah telah melakukan
upaya penagihan sesuai ketentuan
perundang-undangan.

Badan Pemeriksa Keuangan

1. Bandingkan apakah
pengklasifikasian piutang telah
sesuai dengan bagan perkiraan.
2. Review apakah bukti piutang
telah dicatat sesuai dengan
bagan perkiraan
Teliti apakah seluruh penyajian dan
pengungkapan saldo piutang telah
memadai.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Belanja Barang dan Persediaan pada LKPP DAN LKKL yang Relevan.
No.

1.

2.

Tujuan Pengujian

Pengendalian Kunci

Keberadaan & keterjadian:


Nilai persediaan yang
disajikan di dalam laporan
keuangan benar-benar ada.
Persediaan negara benar-benar
dimiliki oleh pemerintah pusat.

Pemisahan fungsi: pembuat


kebijakan, pengelola
persediaan, pengadaan,
pembayaran kas,dan
akuntansi.
Realisasi pengadaan
persediaan telah diotorisasi
oleh pejabat yang berwenang
Pemeriksaan fisik persediaan
secara reguler.
Kepemilikan persediaan..
Otorisasi penggunaan
persediaan.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi belanja
barang telah dicatat dalam LRA
baik anggaran maupun
realisasinya serta aset tetapnya
yang relevan pada neraca.
Mengetahui dan meyakinkan
bahwa Investasi telah
mencakup semua transaksi
pada periode pelaporan.

Litbang Pemeriksaan

Anggaran dan realisasi belanja


barang telah dibukukan semua
serta persediaan yang relevan
telah dicatat seluruhnya.
.

Pengujian Pengendalian Intern

Teliti apakah belanja barang telah


dianggarkan dan sesuai dengan
kebutuhan.
Teliti pemisahan fungsi realisasi
pengadaan persediaan desain maupun
implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah realisasi
belanja barang telah diotorisasi oleh
pejabat yang berwenang.
Teliti apakah persediaan tersebut telah
diperiksa secara fisik dengan
sebenarnya.
Teliti apakah persediaaan yang
dilaporkan telah diinventarisasi
kepemilikannya.
Teliti apakah semua persediaaan yang
dimiliki dikuasai untuk digunakan.

Teliti urutan nomor dan tanggal SPM,


apakah telah diperoleh SP2D dan
dibukukan.
Teliti apakah terdapat SP2D yang belum
diperoleh atas SPM yang telah dikeluarkan
untuk belanja barang.
Teliti apakah pencatatan belanja barang
tersebut seluruhnya telah dicatat sebagai
persediaan yang relevan.
Tetiti pencatatan penerimaan dan
pengeluaran barang, periksa dokumen,
dan otoritas pejabat berwenang.

Risiko Terhadap Penyajian


Laporan Keuangan dan
Kemungkinan Temuan
Pemeriksaan
Persediaan dianggarkan, tetapi
tidak sesuai dengan kebutuhan.
Persediaan tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik
barang atau pemeriksaan fisik
formalitas.
persediaan yang dilaporkan tidak
ada dokumen kepemilikannya.
Persediaan dikuasai pihak lain
secara tidak sah.
Persediaan tidak dilaporkan.

Belanja barang tidak/kurang


dicatat karena tidak ada SP2D
Persediaan yang dipeoleh dari
belanja barang yang telah
direalisasikan tidak dicatat.
Adanya dokumen fiktif belanja
barang negara.
Salah pencatatan (oversated dan
undersated).
Pemalsuan dokumen transaksi
belanja barang.
Dokumen pendukung pencatatan
kurang lengkap.
Pengeluaran kas tidak/kurang
dicatat karena tidak ada SP2D

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengujian Subtantif atas Saldo

Teliti secara uji petik pengadaan


persediaan apakah telah dianggarkan
dalam dokumen anggaran dan teliti
apakah telah sesuai kebutuhan.
Teliti secara uji petik apakah
anggaran dan realisasi belanja
barang telah dibukukan dalam LRA
dan Neraca.
Periksa fisik aset tersebut secara uji
petik dan dokumen kepemilikannya
dan pastikan bukan penitipan pihak
lain.
Periksa dokumen dan catatan aset
tetap/barang milik negara apakah
telah dilaporkan dalam neraca.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status aset.
Lakukan pemeriksaan fisik atas
persediaan akhir yang diuji dan buat
berita acara segera setelah
pemeriksaan fisik.
Teliti apakah ada persediaan yang
sudah usang tetapi masih dicatat dan
disimpan oleh auditee
Lakukan wawancara untuk
mengetahui apakah ada barangbarang persediaan yang merupakan
titipan pihak lain.
Teliti secara uji petik SPM dan SP2D
apakah telah dicatat sebagai realisasi
belanja barang sekaligus
persediaannya.
Teliti secara uji petik dokumen
otorisasi belanja barang.
Review apakah terdapat jumlah
mutasi tambah kurang, jika ada
telusuri lebih lanjut.
Minta bukti pendukung penerimaan
dan pengeluaran persediaan serta
telusuri data penambahan dan
pengurangan ke satker terkait secara
berjenjang.
Cocokan jumlah persediaan antara
jumlah barang yang diterima dengan
jumlah barang yang dikeluarkan.
Dapatkan data semua persediaan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

3.

4.

5.

Penilaian:
Transaksi belanja barang dan
persediaan yang relevan telah
dicatat sesuai dengan nilai yang
semestinya, dan perhitungan yang
tepat.

Hak dan Kewajiban


Belanja barang direalisasikan atas
persediaan yang relevan.

Pengungkapan:
Anggaran dan realisasi belanja
barang serta persediaan telah
diungkapkan secara memadai
dalam laporan keuangan dan
sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).

Litbang Pemeriksaan

pada satker, lakukan secara


berjenjang.
Lakukan pengujian tambah kurang
atas perhitungan saldo dan cek ke
buku pendukung

Prosedur verifikasi intern atau


reviu atas nilai realisasi
belanja barang dan
persediaan telah dilakukan.
Penilaian kembali persediaan
pada neraca awal /pertama
kali dengan nilai wajar.

Teliti apakah telah dilakukan verifikasi


intern atau reviu atas dokumen belanja
barang dan teliti apakah hasilnya telah
ditindaklanjuti.
Teliti apakah persediaan yang diperoleh
sebelum neraca awal telah dinilai
kembali.

Anggaran dan realisasi belanja


barang salah dibukukan dan
dilaporkan.
Persediaan yang diperoleh
sebelum neraca awal belum dinilai
dengan nilai wajar.

Teliti secara uji petik (dokumen


anggaran dan realisasi belanja
barang apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas
dokumentasi persediaan terkait
dengan belanja barang apakah telah
benar perhitungannya.
Teliti secara uji petik apakah
persediaan yang dilaporkan dalam
neraca telah dinilai kembali dengan
nilai wajar (aset yang diperoleh
sebelum neraca awal).

Pengawasan atau reviu atas


belanja barang dan
persediaan yang terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan atas


persediaan.
Teliti perjanjian penitipan oleh pihak
ketiga, dokumen-dokumen pendukung
dan nilai barang. Apakah ada penetapan
atau proses verifikasi dan otorisasi dalam
penetapan nilai persediaan.

Pengawasan intern atas aset dari


belanja lemah.
Belanja pemeliharaan yang dapat
dikapitalisasi atas aset (tidak
menambah nilai aset).
Belanja barang direalisasikan
tetapi persediaan dimiliki dan atau
dikuasai oleh pihak lain secara
tidak sah.

Teliti secara uji petik terhadap


dokumen belanja barang dan
persediaan, apakah terdapat aset
yang dikuasai pihak lain.

Pengawasan intern atau reviu


atas klasifikasi akun belanja
barang dan persediaan telah
memadai
Pengawasan intern atau reviu
atas pengungkapan belanja
barang dan persediaan telah
memadai.
Terdapat kebijakan akuntansi,
sistem dan prosedur
penyusunan laporan
keuangan, serta verifikasi
internal.

Teliti pengawasan atau reviu atas


Pengawasan atau reviu atas
klasifikasi dan pengungkapan atas
klasifikasi dan pengungkapan
persediaan telah dilakukan dan hasilnya
lemah.
memadai.
Klasifikasi belanja barang dan
Teliti apakah pengungkapan belanja
persediaaan tidak sesuai dengan
barang dan persediaan dalam catatan
SAP
atas laporan keuangan telah memadai
Pengungkapan barang dan
(sesuai SAP).
persediaan tidak dan atau kurang
Reviu kebijakan akuntansi terkait dengan
memadai.
penyajian saldo persediaan dan telaah
Pengungkapan transaksi kas
kesesuaiannya dengan standar
tidak/kurang memadai.
akuntansi pemerintah.
Salah saji (oversated dan
Reviu pelaksanaan penyusunan laporan
understated)
dan verifikasi internal untuk memastikan
Terdapat pencatatan persedian
bahwa pengungkapan atas penyajian
ganda, pencapuradukan
saldo persediaan telah memadai (sesuai
persediaan (tidak terklasifkasi)
SAP)
Teliti apakah persediaan yang diperoleh
dicatat dengan menggunakan identifikasi
yang memadai.
Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti klasifikasi akun belanja barang


dan persediaan pada laporan
keuangan apakah telah sesuai
denfgan SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
belanja barang dan persediaan
khususnya terhadap kondisi dan
status aset apakah telah diungkapkan
secara mamadai dalam catatan atas
laporan keuangan.
Teliti apakah seluruh penyajian dan
pengungkapan saldo persediaan di
neraca telah memadai.
Dalam pemeriksaan fisik atas
persediaan akhir, inventarisir jumlah
persediaan yang rusak, kadaluarsa
dan hilang.
Bandingkan dengan catatan
persediaan yang ada

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Teliti apakah terdapat prosedur untuk


persediaan yang rusak, kedaluarsa dan
hilang dan dapatkan dokumen
pencatatan atas kondisi persediaan
tersebut.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Investasi pada LKPP DAN LKKL yang Relevan.
No.

Tujuan Pengujian

Pengendalian Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan dan Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan
Investasi dianggarkan, tetapi tidak
sesuai dengan kebutuhan dan tidak
memiliki asas manfaat.
Investasi tidak dianggarkan.
Tidak terdapat prosedur dan
legatimasi dalam melakukan
investasi
Perangkapan fungsi.
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi.
Investasi yang dilaporkan tidak ada
dokumen kepemilikannya.
Investasi dikuasai pihak lain secara
tidak sah.
Investasi tidak dilaporkan.

1.

Keberadaan & keterjadian:


Nilai investasi yang disajikan di
dalam laporan keuangan benarbenar ada.
Investasi benar-benar dimiliki oleh
pemerintah pusat.

Pemisahan fungsi:
pembuat kebijakan,
pengelola, pengeluaran
kas dan akuntansi.
Realisasi pelaksanaan
kebijakan investasi telah
diotorisasi oleh pejabat
yang berwenang dengan
memperhatikan asas
manfaat yang akan
diperoleh oleh pemerintah
pusat.
Kepemilikan investasi oleh
pemerintah pusat.

Teliti apakah investasi telah


dianggarkan dan sesuai dengan
kebutuhan dan asas manfaat.
Teliti pemisahan fungsi pengambil
kebijakan, pengeluaran kas serta
akuntansi baik desain maupun
implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah realisasi
kebijakan investasi telah diotorisasi
oleh pejabat yang berwenang.

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi investasi telah
dicatat secara relevan di neraca.
Investasi pemerintah pusat telah
diklasifikasikan dengan pantas,
dan dicatat sesuai dengan periode
pelaporan.

Realisasi pelaksaan
kebijakan investasi telah
dicatat dan dibukukan
secara relevan..
Penggunaan bagan akun
yang memadai, serta telah
melalui reviu dan verifikasi
intern

Reviu indikasi verifikasi intern


ketepatan penyusunan daftar investasi
dan penghitungan saldo investasi
Teliti dokumen yang mendasari
otorisasi pelaksanaan kebijakan
investasi.
Teliti kecukupan bagan akun investasi,
dan teliti indikasi adanya verifikasi
intern atas ketepatan klasifikasi untuk
dokumen terkait

Investasi tidak/kurang dicatat


karena tidak ada SP2D
Investasi yang dilakukan tidak
dicatat.
Adanya dokumen fiktif pelaksanaan
kebijakan investasi
Dokumen pendukung pencatatan
kurang lengkap.

3.

Penilaian dan Alokasi:

Prosedur verifikasi intern

Teliti apakah telah dilakukan verifikasi

Investasi salah dibukukan dan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengujian Subtantif atas Saldo


Teliti secara uji petik apakah
investasi telah dianggarkan dalam
dokumen anggaran dan teliti apakah
telah sesuai kebutuhan dan memiliki
asas manfaat.
Teliti secara uji petik apakah
investasi telah dibukukan di Neraca.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status aset.
Bandingkan saldo yang tercantum di
neraca dengan saldo investasi yang
dilaporkan dokumen pendukung dan
bandingkan pula dengan buku
besar dan buku pembantunya.
Telusuri secara uji petik investasi
yang dicatat ke buku jurnal
umumnya.
Periksa adanya
otorisasi/persetujuan dari pihak
yang berwenang dalam
penambahan dan pengurangan
investasi. Dapatkan peraturan
pemerintah/keputusan pemerintah
tentang investasi.
Mintakan daftar investasi beserta
bukti/dokumen investasi seperti:
dokumen penyertaan modal/saham,
bukti setoran modal.
Lakukan konfirmasi dengan pihak
ketiga mengenai investasi yang
dilakukan pemerintah pusat.
Teliti secara uji petik SPM dan
SP2D apakah telah dicatat sebagai
realisasi pelaksanaan kebijakan
investasi.
Teliti secara uji petik dokumen
otorisasi pelaksanaan kebijakan
investasi.
Lakukan penghitungan ulang atas
nilai investasi sesuai dokumen
investasi tersebut dan identifikasi
kesesuaian klasifikasi investasi
kedalam investasi jangka pendek
atau jangka panjang.
Teliti secara uji petik dokumen

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Transaksi investasi yang relevan telah


dicatat sesuai dengan nilai yang
semestinya dan perhitungan yang
tepat.

atau reviu atas nilai


investasi telah dilakukan
Penilaian kembali investasi
pada neraca awal/pertama
kali dengan nilai wajar

intern atau reviu atas kebijakan


pelaksanaan investasi dan teliti apakah
hasilnya telah ditindaklanjuti..
Teliti apakah investasi yang diperoleh
sebelum neraca awal telah dinilai
kembali.
Teliti apakah investasi telah diakui
kepemilikannya dengan melihat saldo
ekuitas/modal saham pada BUMN
berdasarkan hasil pemeriksaan atas
laporan keuangan BUMN tersebut.

dilaporkan.
Nilai investasi yang diperoleh
sebelum neraca awal belum dinilai
dengan nilai wajar.
Nilai investasi tidak didukung oleh
nilia ekuitas pada BUMN terkait.

anggaran dan realisasi investasi


apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas
dokumentasi investasi apakah telah
benar perhitungannya..
Teliti secara uji petik apakah
investasi dalam neraca telah dinilai
kembali dengan nilai yang wajar
(investasi yang dilakukan sebelum
tanggal neraca)
investasi dilaporkan dalam neraca
telah dinilai kembali dengan nilai
wajar (aset yang diperoleh sebelum
neraca awal).

4.

Hak dan Kewajiban


Investasi yang relevan atas kebijakan
investasi pemerintah pusat

Pengawasan atau reviu atas


pelaksanaan investasi terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan


pelaksanaan investasi yang nilainya
material dan sangat material
Teliti kepemilikan investasi pemerintah

Pengawasan intern atas


pelaksanaan investasi lemah.
Investasi yang dilaporkan dimiliki
dan atau dikuasai oleh pihak lain
secara tidak sah.

Teliti secara uji petik terhadap


dokumen pelaksanaan investasi
apakah terdapat aset yang dimiliki
pihak lain.
Nilai saldo investasi pada Neraca
Awal merupakan nilai wajar yang
dimiliki pemerintah

Pengungkapan:
Anggaran dan realisasi belanja
barang serta persediaan telah
diungkapkan secara memadai dalam
laporan keuangan dan sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan
(SAP).

Pengawasan intern atau


reviu atas klasifikasi akun
investasi telah memadai
Pengawasan intern atau
reviu atas pengungkapan
investasi telah memadai.
Terdapat kebijakan
akuntansi, sistem dan
prosedur penyusunan
laporan keuangan, serta
verifikasi internal.

Teliti pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan atas
investasi pemerintah telah dilakukan
dan hasilnya memadai.
Teliti apakah pengungkapan
pelaksanaan investasi pemerintah
dalam catatan atas laporan keuangan
telah memadai (sesuai SAP).
Reviu kebijakan akuntansi terkait
dengan penyajian investasi dan telaah
kesesuaiannya dengan standar
akuntansi pemerintah.
Reviu pelaksanaan penyusunan
laporan dan verifikasi internal untuk
memastikan bahwa pengungkapan
atas penyajian investasi saldo
persediaan telah memadai (sesuai
SAP)

Pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan
lemah.
Klasifikasi investasi tidak sesuai
dengan SAP
Pengungkapan investasi tidak dan
atau kurang memadai.
Pengungkapan transaksi investasi
tidak/kurang memadai.
Salah saji (oversated dan
understated)

Teliti klasifikasi akun investasi pada


laporan keuangan apakah telah
sesuai denfgan SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
investasi khususnya terhadap
kondisi dan status aset apakah telah
diungkapkan secara mamadai
dalam catatan atas laporan
keuangan.
Teliti apakah seluruh penyajian dan
pengungkapan investasi di neraca
telah memadai.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Belanja Modal dan Aset Tetap yang Relevan
No.
1.

2.

3.

4.

Tujuan Pengujian
Keberadaan & keterjadian:
Teliti apakah anggaran dan belanja
modal pada LRA telah benar-benar
terjadi.
Teliti apakah realisasi belanja modal
tersebut telah dibukukan dan
dilaporkan sebagai aset tetap yang
relevan dalam neraca

Kelengkapan:
Seluruh transaksi belanja modal telah
dicatat dalam LRA baik anggaran
maupun realisasinya serta aset tetapnya
yang relevan pada neraca.

Penilaian:
Transaksi belanja modal dan aset tetap
yang relevan telah dicatat sesuai dengan
nilai yang semestinya, dan perhitungan
yang tepat.

Pengendalian Intern Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan & Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan

Pengujian Subtantif atas Transaksi *)

Penganggaran belanja modal


sesuai dengan kebutuhan
Pemisahan fungsi: penerima
aset, pembayaran, pengelola
aset dan akuntansi.
Realisasi belanja modal telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang (SPP dan SPM)
Pemeriksaan fisik aset
Kepemilikan aset tetap
Otorisasi penggunaan aset tetap

Teliti apakah belanja modal telah


dianggarkan dan sesuai dengan
kebutuhan.
Teliti pemisahan fungsi realisasi
belanja baik desain maupun
implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah
realisasi belanja modal telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang.
Teliti apakah aset tersebut telah
diperiksa secara fisik dengan
sebenarnya.
Teliti apakah aset tetap yang
dilaporkan telah diinventarisasi
kepemilikannya.
Teliti apakah semua aset tetap yang
dimiliki dikuasai untuk digunakan.

Belanja modal dianggarkan, tetapi


tidak sesuai dengan kebutuhan.
Belanja modal tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik
barang atau pemeriksaan fisik
formalitas.
Aset tetap yang dilaporkan tidak ada
dokumen kepemilikannya.
Aset tetap dikuasai pihak lain
secara tidak sah.
Aset tetap milik negara tidak
dilaporkan.

Teliti secara uji petik (belanja modal


apakah telah dianggarkan dalam
dokumen anggaran dan teliti apakah
telah sesuai kebutuhan.
Teliti secara uji petik apakah anggaran
dan realisasi belanja modal telah
dibukukan dalam LRA dan asetnya
dalam neraca.
Periksa fisik aset tersebut secara uji
petik dan dokumen kepemilikannya.
Periksa dokumen dan catatan aset
tetap/barang milik negara apakah telah
dilaporkan dalam neraca.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status aset tetap.

Anggaran dan realisasi belanja


modal telah dibukukan semua serta
aset tetap yang relevan telah dicatat
seluruhnya.

Teliti urutan nomor dan tanggal


SPM, apakah telah diperoleh SP2D
dan dibukukan.
Teliti apakah terdapat SP2D yang
belum diperoleh atas SPM yang
telah dikeluarkan untuk belanja
modal.
Teliti apakah pencatatan belanja
modal tersebut seluruhnya telah
dicatat sebagai aset tetap yang
relevan.

Belanja modal tidak/kurang dicatat


karena tidak ada SP2D.
Aset tetap yang diperoleh dari
belanja modal yang telah
direalisasikan tidak dicatat.
Salah saji (overstated atau
understated)

Teliti secara uji petik SPM dan SP2D


apakah telah dicatat sebagai realisasi
belanja sekaligus aset tetapnya.
Teliti apakah terdapat realisasi belanja
modal yang tidak sama dengan yang
dilaporkan.

Prosedur verifikasi intern atau


reviu atas nilai realisasi belanja
modal dan aset tetap telah
dilakukan.
Penilaian kembali aset tetap
pada neraca awal /pertama kali
dengan nilai wajar.

Teliti apakah telah dilakukan


verifikasi intern atau reviu atas
dokumen belanja modal dan teliti
apakah hasilnya telah ditindaklanjuti.
Teliti apakah aset tetap yang
diperoleh sebelum neraca awal telah
dinilai kembali.

Anggaran dan realisasi belanja


modal salah dibukukan dan
dilaporkan.
Aset tetap yang diperoleh sebelum
neraca awal belum dinilai dengan
nilai wajar.

Teliti secara uji petik dokumen


anggaran dan realisasi belanja modal
apakah telah benar perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas dokumentasi
aset tetap terkait dengan belanja modal
apakah telah benar perhitungannya.
Teliti secara uji petik apakah aset tetap
yang dilaporkan dalam neraca telah
dinilai kembali dengan nilai wajar (aset
yang diperoleh sebelum neraca awal).

Hak dan Kewajiban

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Tujuan Pengujian
Belanja modal direalisasikan atas aset
tetap yang relevan.

5.

Pengungkapan:
Anggaran dan realisasi belanja modal
serta aset tetapnya telah diungkapkan
secara memadai dalam laporan
keuangan dan sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP)

Lampiran 3.16

Pengendalian Intern Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Pengawasan atau reviu atas


belanja modal dan aset tetap
terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan


atau aset tetap milik negara.

Pengawasan intern atau reviu


atas klasifikasi akun belanja
modal dan aset tetap telah
memadai.
Pengawasan intern atau reviu
atas pengungkapan belanja
modal dan aset tetap telah
memadai.

Teliti pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan atas
aset tetap negara apakah telah
dilakukan dan hasilnya memadai.
Teliti apakah pengungkapan belanja
modal dan aset tetap dalam catatan
atas laporan keuangan telah
memadai (sesuai SAP).

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan & Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan
Pengawasan intern atas aset lemah.
Belanja pemeliharaan yang dapat
dikapitalisasi atas aset
pihak/instansi lain tidak menambah
nilai aset.
Belanja modal direalisasikan tetapi
aset dimiliki dan/atau dikuasai oleh
pihak lain secara tidak sah.
Pengawasan atau reviu atas
klasifikasi dan pengungkapan
lemah.
Klasifikasi belanja modal dan aset
tetap tidak sesuai SAP
Pengungkapan belanja modal dan
aset tetap tidak/kurang memadai.

*) Rincian pengujian sutantif untuk setiap jenis aktiva tetap lihat lampiran berikut.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengujian Subtantif atas Transaksi *)


Teliti secara uji petik terhadap
dokumen belanja modal dan aset tetap,
apakah terdapat aset yang dimiliki oleh
pihak lain.

Teliti klasifikasi akun belanja modal


dan aset tetap pada laporan keuangan
apakah telah sesuai SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
belanja modal dan aset tetap
khususnya terhadap kondisi dan status
aset apakah telah diungkapkan secara
memadai dalam catatan atas laporan
keuangan.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Belanja Modal dan Aset Lainnya Pada LKPP DAN LKKL yang Relevan
No.

1.

Tujuan Pengujian

Pengendalian Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Keberadaan & keterjadian:


Teliti apakah anggaran dan
belanja modal untuk aset lainnya
pada LRA telah benar-benar
terjadi.
Teliti apakah realisasi belanja
modal tersebut telah dibukukan
dan dilaporkan sebagai aset
lainnya yang relevan dalam
neraca

Penganggaran belanja
modal sesuai dengan
kebutuhan
Pemisahan fungsi: penerima
aset, pembayaran, pengelola
aset dan akuntansi.
Realisasi belanja modal telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang (SPP dan SPM)
Pemeriksaan fisik aset
Kepemilikan aset lainnya.

Teliti apakah belanja modal telah


dianggarkan dan sesuai dengan kebutuhan.
Teliti pemisahan fungsi realisasi belanja
baik desain maupun implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah realisasi
belanja modal telah diotorisasi oleh pejabat
yang berwenang.
Teliti apakah aset tersebut telah diperiksa
secara fisik dengan sebenarnya.
Teliti apakah aset lainnya yang dilaporkan
telah diinventarisasi kepemilikannya.

Risiko Terhadap Penyajian


Laporan Keuangan dan
Kemungkinan Temuan
Pemeriksaan
Belanja modal dianggarkan, tetapi
tidak sesuai dengan kebutuhan.
Belanja modal tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik
barang atau pemeriksaan fisik
formalitas.
Aset lainnya yang dilaporkan
tidak ada dokumen
kepemilikannya.
Aset lainnya dikuasai pihak lain
secara tidak sah.
Aset lainnya milik negara tidak
dilaporkan.

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi belanja modal
telah dicatat dalam LRA baik
anggaran maupun realisasinya serta
aset tetapnya yang relevan pada
neraca.

Anggaran dan realisasi belanja


modal telah dibukukan semua
serta aset lainnya yang relevan
telah dicatat seluruhnya.

Teliti urutan nomor dan tanggal SPM,


apakah telah diperoleh SP2D dan
dibukukan.
Teliti apakah terdapat SP2D yang belum
diperoleh atas SPM yang telah dikeluarkan
untuk belanja modal.
Teliti apakah pencatatan belanja modal
tersebut seluruhnya telah dicatat sebagai
aset lainnya yang relevan..

Belanja modal tidak/kurang


dicatat karena tidak ada SP2D
Aset liannya yang dipeoleh dari
belanja modal yang telah
direalisasikan tidak dicatat.
Terdapat aset lain yang yang
belum tercatat
Tidak terdapat prosedur yang
melegatimasi pengakuan aset
lain-lain.

3.

Penilaian:
Transaksi belanja modal dan aset
lainnya yang relevan telah dicatat
sesuai dengan nilai yang
semestinya, dan perhitungan yang
tepat.

Prosedur verifikasi intern


atau reviu atas nilai realisasi
belanja modal dan aset
lainnya telah dilakukan.
Penilaian kembali aset
lainnya pada neraca awal
/pertama kali dengan nilai
wajar.

Teliti apakah telah dilakukan verifikasi


intern atau reviu atas dokumen belanja
modal dan teliti apakah hasilnya telah
ditindaklanjuti.
Teliti apakah aset lainnya yang diperoleh
sebelum neraca awal telah dinilai kembali.

Anggaran dan realisasi belanja


modal salah dibukukan dan
dilaporkan.
Aset lainnya yang diperoleh
sebelum neraca awal belum
dinilai dengan nilai wajar.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengujian Subtantif atas Saldo

Teliti secara uji petik (belanja


modal) apakah telah dianggarkan
dalam dokumen anggaran dan
teliti apakah telah sesuai
kebutuhan.
Teliti secara uji petik apakah
anggaran dan realisasi belanja
modal telah dibukukan dalam LRA
dan asetnya dalam neraca.
Periksa fisik aset tersebut secara
uji petik dan dokumen
kepemilikannya.
Periksa dokumen dan catatan aset
lainnya/barang milik negara
apakah telah dilaporkan dalam
neraca.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status aset lainnya.
Teliti apakah terdapat aset lainnya
berupa aset tetap yang tidak dapat
digunakan, tetapi belum ada
keputusan penghapusannya, dan
teliti apakah sifat aset tetap
tersebut tidak dapat digunakan
Teliti secara uji petik SPM dan
SP2D apakah telah dicatat
sebagai realisasi belanja sekaligus
aset tetapnya.
Teliti apakah terdapat realisasi
belanja modal yang tidak sama
dengan yang dilaporkan.

Teliti secara uji petik dokumen


anggaran dan realisasi belanja
modal apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas
dokumentasi aset lainnya terkait
dengan belanja modal apakah
telah benar perhitungannya.
Teliti aset tetap lainnya berupa
aset tak berwujud apakah

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

4.

Hak dan Kewajiban


Belanja modal direalisasikan atas
aset lainnya milik negara yang
relevan.

5.

Pengungkapan:
Anggaran dan realisasi belanja
modal serta aset tetapnya telah
diungkapkan secara memadai dalam
laporan keuangan dan sesuai
dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan. (SAP)

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 3.16

Pengawasan atau reviu atas


belanja modal dan aset
lainnya terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan atas aset


lainnya milik negara, khususnya belanja
dekonsentrasi dan belanja pemeliharaan.

Pengawasan intern atas aset.


Belanja pemeliharaan yang dapat
dikapitalisasi atas aset
pihak/instansi lain tidak
menambah nilai aset.
Belanja modal direalisasikan
tetapi aset dimiliki dan/atau
dikuasai oleh pihak lain secara
tidak sah.

Pengawasan intern atau


reviu atas klasifikasi akun
belanja modal dan aset
lainnya telah memadai.
Pengawasan intern atau
reviu atas pengungkapan
belanja modal dan aset
lainnya telah memadai.

Teliti pengawasan atau reviu atas klasifikasi


dan pengungkapan atas aset lainnya
negara apakah telah dilakukan dan hasilnya
memadai.
Teliti apakah pengungkapan belanja modal
dan aset lainnya dalam catatan atas
laporan keuangan telah memadai (sesuai
SAP).

Pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan
lemah.
Klasifikasi belanja modal dan aset
lainnya tidak sesuai SAP
Pengungkapan belanja modal
dan aset lainnya tidak/kurang
memadai.

Badan Pemeriksa Keuangan

penilaiannya sesuai dengan nilai


perolehannya.
Teliti secara uji petik terhadap
dokumen belanja modal dan aset
tetap, apakah terdapat aset yang
dimiliki oleh pihak lain.

Teliti klasifikasi akun belanja


modal dan aset lainnya pada
laporan keuangan apakah telah
sesuai SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
belanja modal dan aset lainnya
khususnya terhadap kondisi dan
status aset apakah telah
diungkapkan secara memadai
dalam catatan atas laporan
keuangan.
Teliti aset tetap lainnya berupa
piutang macet seperti TP/TGR
apakah telah mencerminkan nilai
yang dapat direalisasikan.
Teliti aset tetap lainnya berupa
dana yang dibatasi
penggunaannya apakah memang
diperlukan dan mintakan
konfirmasi saldo dana tersebut

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Kewajiban Pada LKPP DAN LKKL yang Relevan
No.

1.

Tujuan Pengujian

Keberadaan & keterjadian:


Teliti apakah kewajiban
pemerintah benar-benar
terjadi.
Teliti apakah kewajiban
pemerintah dilaporkan dan
dibukukan secara relevan
dalam neraca.

Pengendalian Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Penganggaran utang
(kewajiban) sesuai dengan
kebutuhan
Pemisahan fungsi: pembuat
kebijakan, pelaksana utang,
penerima kas dan akuntansi.
Kepemilikan kewajiban.

Teliti apakah kewajiban telah dianggarkan


dan sesuai dengan kebutuhan.
Teliti pemisahan fungsi baik desain
maupun implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah utang
(kewajiban) yang dilakukan telah
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.
Teliti apakah kewajiban yang dilaporkan
telah kapitalisasi kepemilikannya.

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi utang
(kewajiban) yang relevan pada
neraca.

Kewajiban telah dibukukan


dan dicatat seluruhnya
secara relevan.

Teliti apakah pencatatan kewajiban


tersebut seluruhnya telah dicatat sebagai
utang yang relevan.

3.

Penilaian:
Transaksi utang (kewajiban) yang
relevan telah dicatat sesuai
dengan nilai yang semestinya,
dan perhitungan yang tepat.

4.

Hak dan Kewajiban


Kewajiban yang dilakukan
benar-benar atas dasar
kebutuhan yang relevan.
kewajiban benar-benar menjadi
tanggung jawab pemerintah
pusat.
Pengungkapan:
Kewajiban telah diungkapkan
secara memadai dalam laporan
keuangan dan sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan.
(SAP).

5.

Litbang Pemeriksaan

Risiko Terhadap Penyajian


Laporan Keuangan dan
Kemungkinan Temuan
Pemeriksaan
Kewajiban dianggarkan, tetapi
tidak sesuai dengan kebutuhan.
Kewajiban tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan konfirmasi
keberadaan kewajiban
pemerintah pusat.
Kewajiban fiktif
Kewajiban yang dilaporkan tidak
ada dokumen kepemilikannya..
Kewajiban milik negara tidak
dilaporkan.
Kewajiban yang terjadi dipeoleh
dari pinjaman (utang)
direalisasikan tidak dicatat.
Terdapat utang (kewajiban) yang
belum tercatat
Tidak terdapat prosedur yang
melegatimasi dilakukannya utang
(kewajiban) pemerintah.
Salah saji (overstated atau
understated)

Pengujian Subtantif atas Saldo

Teliti secara uji petik (kewajiban)


apakah telah dianggarkan dalam
dokumen anggaran dan teliti apakah
telah sesuai kebutuhan.
Teliti secara uji petik apakah anggaran
dan realisasi utang telah dicatat di
dalam neraca.
Periksa secara uji petik dokumen
kepemilikan utang (kewajiban)
Periksa dokumen dan catatan
kewajiban apakah telah dicatat dalam
neraca.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status utang (kewajiban).
Teliti secara uji petik apakah kewajiban
telah dicatat sebagai realisasi sebagain
penerimaan pembiayaan.
Teliti apakah utang (kewajiban) yang
tidak sama dengan yang dilaporkan.
Teliti apakah terdapat kewajiban
kementerian negara/lembaga yang
timbul dari transaksi dengan pihak lain
yang belum tercatat dalam neraca.

Prosedur verifikasi intern


atau reviu atas nilai utang
yang telah dilakukan.
Penilaian kembali kewajiban
pada neraca awal /pertama
kali dengan nilai wajar.
Pengawasan atau reviu atas
kewajiban yang terkait.

Teliti apakah telah dilakukan verifikasi


intern atau reviu atas dokumen kewajiban
dan teliti apakah hasilnya telah
ditindaklanjuti.
Teliti apakah kewajiban yang ada sebelum
neraca awal telah dinilai kembali.
Teliti secara uji petik pengawasan atas
kewajiban pemerintah pusat.

Kewajiban salah dibukukan dan


dilaporkan.
Kewajiban yang diperoleh
sebelum neraca awal belum
dinilai dengan nilai wajar.
Pengawasan intern atas
pelaksanaan kewajiban lemah.
Kewajiban yang tidak dimiliki oleh
pemerintah pusat.

Teliti secara uji petik dokumen


kewajiban apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas dokumentasi
kewajiban apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik terhadap
dokumen kewajiban apakah terdapat
utang (kewajiban) yang dimiliki oleh
pihak lain.

Pengawasan intern atau


reviu atas klasifikasi akun
kewajiban telah memadai.
Pengawasan intern atau
reviu atas pengungkapan
kewajiban lainnya telah
memadai.

Teliti pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan kewajiban
pemerintah pusat apakah telah dilakukan
dan hasilnya memadai.
Teliti apakah pengungkapan kewajiban
pemerintah pusat dalam catatan atas
laporan keuangan telah memadai (sesuai

Pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan
lemah.
Klasifikasi kewajiban tidak sesuai
SAP
Pengungkapan kewajiban
tidak/kurang memadai.

Teliti klasifikasi akun kewajiban dalam


laporan keuangan apakah telah sesuai
SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
kewajiban khususnya terhadap kondisi
dan status utang telah diungkapkan
secara memadai dalam catatan atas

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

SAP).

Litbang Pemeriksaan

laporan keuangan.
Teliti apakah kewajiban tersebut
diungkapkan secara memadai dalam
catatan laporan keuangan baik jenis
dan nilainya.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Ekuitas Dana Pada LKPP DAN LKKL yang Relevan
No.

Tujuan Pengujian

Pengendalian Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan dan Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan
Akuitas dana dibuat tidak sesuai
dengan kebutuhan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak terdapat kesesuaian antara
akuitas dana dengan akun-akun
yang terkait.

Pengujian Subtantif atas Saldo

1.

Keberadaan & keterjadian:


Teliti apakah equitas dana
pemerintah pusat benar-benar
terjadi ada secara real.
Teliti apakah akuitas dana
pemerintah pusat dilaporkan
dan dibukukan secara relevan
dalam neraca.

Pemisahan fungsi: pembuat


kebijakan, pelaksana dan akuntansi.
Pengawasan atas pembentukan
ekuitas dana telah ditetapkan
sesuai dengan ketentuan
pemerintah pusat
Prosedur otorisasi atas
pembentukan dan penggunaan
ekuitas dana.

Teliti apakah pembentukan


equtas dana sesuai dengan
dengan kebutuhan dan sesuai
dengan realisasi penggunaan
dana atas akun terkait.
Teliti pemisahan fungsi baik
desain maupun
implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah
pembentukan dana akuitas
yang dilakukan telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang.

2.

Kelengkapan:
Ekuitas dana yang relevan pada
neraca.

Ekuitas dana dibukukan dan dicatat


seluruhnya secara relevan dan
verifikasi intern.

Ketidaksesuaian nilai ekuitas dana


dengan akun-akun penyeimbang.
Verifikasi intern tidak dilakukan
dengan semestinya.

Teliti secara uji petik apakah ekuitas


dana telah sesuai dengan nilai akunakun penyeimbang.
Teliti apakah ekuitas dana tidak sama
dengan yang dilaporkan.

3.

Penilaian:
Pembentukan ekuitas dana sesuai
dengan kebutuhan terhadap
keseimbangan akun-akun terkait
secara relevan telah dicatat sesuai
dengan nilai yang semestinya, dan
perhitungan yang tepat.

Prosedur verifikasi intern atau reviu


atas nilai ekuitas dana yang telah
dilakukan.
Penilaian kembali ekuitas dana
pada neraca awal /pertama kali
dengan nilai wajar.

Ekuitas dana salah dibukukan dan


dilaporkan.
Ekuitas dana yang diperoleh
sebelum neraca awal belum dinilai
dengan nilai wajar.

Teliti secara uji petik dokumen ekuitas


dana apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas dokumentasi
ekuitas dana apakah telah benar
perhitungannya.

4.

Hak dan Kewajiban


Pembentukan ekuitas dana yang
dilakukan benar-benar atas dasar
kebutuhan yang relevan.

Pengawasan atau reviu atas ekuitas


dana yang terjadi.

Teliti apakah pencatatan


ekuitas dana dicatat sebagai
penyeimbang atas akun-akun
yang terkait secara relevan.
Teliti apakah verifikasi intern
telah dijalankan dengan
semestinya.
Teliti apakah telah dilakukan
verifikasi intern atau reviu atas
dokumen ekuitas dana dan
teliti apakah hasilnya telah
ditindaklanjuti.
Teliti apakah ekuitas dana
yang ada sebelum neraca awal
telah dinilai kembali.
Teliti secara uji petik
pengawasan atas ekuitas dana
yang terjadi pada keuangan
pemerintah pusat.

Pengawasan intern atas ekuitas


dana yang terbentuk lemah.

Teliti secara uji petik terhadap


dokumen ekuitas dana yang terjadi
apakah benar-benar ada di keuangan
pemerintah pusat.

5.

Pengungkapan:
Ekuitas dana yang terjadi
diungkapkan secara memadai
dalam laporan keuangan dan
sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).

Pengawasan intern atau reviu atas


klasifikasi akun-akun ekuitas dana
telah memadai.
Pengawasan intern atau reviu atas
pengungkapan ekuitas dana telah
memadai.

Teliti pengawasan atau reviu


atas klasifikasi dan
pengungkapan ekuitas dana
pemerintah pusat apakah telah
dilakukan dan hasilnya
memadai.
Teliti apakah pengungkapan
ekuitas dana pemerintah pusat
dalam catatan atas laporan
keuangan telah memadai
(sesuai SAP).

Pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan
ekuitas dana lemah.
Klasifikasi ekuitas dana tidak sesuai
SAP
Pengungkapan ekuitas dana
tidak/kurang memadai.

Teliti klasifikasi akun ekuitas dana


dalam laporan keuangan apakah telah
sesuai SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
ekuitas dana yang terjadi khususnya
terhadap kondisi dan status ekuitas
dana terhadap akun-akun terkait
diungkapkan secara memadai dalam
catatan atas laporan keuangan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti secara uji petik apakah ekuitas


dana dibuat sesuai kebutuhan.
Teliti secara uji petik ekuitas dana telah
dicatat dan dibukukan di dalam neraca.
Periksa secara uji petik dokumen
pembentukan ekuitas dana.
Teliti apakah dana yang dicadangkan
benar-benar ada.
Teliti secara uji petik keseuaian nilai
ekuitas dana dengan akun-akun yang
terkait terbentuknya ekuitas dana
tersebut.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Pendapatan dan Penerimaan Pembiayaan Pada LK KL
No.
1.

Tujuan Pengujian
Keberadaan dan keterjadian:
Pendapatan dan penerimaan
pembiayaan telah sesuai dengan Surat
Tanda Setoran (STS) atau dokumen
penerimaan lainnya

Pengendalian Intern Kunci

Pemisahan fungsi antara bendahara


penerima dan fungsi akuntansi
Pencatatan pendapatan dan
penerimaan pembiayaan telah
didukung oleh Surat Ketetapan (SK)
yang disetujui dan STS prenumbered
yang dipertanggungjawabkan dan
telah divalidasi oleh bank persepsi.

Pengujian Pengendalian Intern

2.

3.

Kelengkapan:
Seluruh penerimaan yang ada telah
dicatat

Penilaian dan Alokasi:


Transaksi pendapatan dan
penerimaan pembiayaan telah
dicatat sesuai dengan nilai yang
semestinya, dan perhitungan yang
tepat.
Pendapatan dan penerimaan

Litbang Pemeriksaan

Lakukan wawancara atau


observasi untuk mengetahui
apakah terdapat pemisahan fungsi
antara bendahara penerima
dengan akuntansi
Dapatkan dasar penetapan
penerimaan
(pendapatan/penerimaan
pembiayaan) tersebut, baik itu
peraturan yang berasal dari
kementerian/lembaga tersebut
maupun peraturan lainnya.
Teliti dokumentasi yang digunakan
dalam pengelolaan pendapatan
dan penerimaan pembiayaan
apakah telah memenuhi
pengendalian yang memadai
antara lain berupa:
(1) Ada
seri penomoran (prenumbered); (2)
Validasi penyetoran ke kas negara
oleh bank persepsi; (3) Kejelasan
penyetoran yang meliputi tanggal,
nilai, jenis penerimaan, tempat
penyetoran (tunai atau bank) dan
penyetor; (4) Dasar hukum
pendapatan/penerimaan
pembiayaan dan (5) Informasi lain
yang diperlukan.

Risiko Terhadap Penyajian


Laporan Keuangan

Pengujian Subtantif atas Transaksi

Tidak terdapat dasar


peraturan/penetapan mengenai
penerimaan (pendapatan dan
penerimaan pembiayaan) dan
jumlah penerimaan
Tidak adanya dokumentasi yag
benar (tidak pra nomor)
terhadap pendapatan dan
penerimaan pembiayaan.
Adanya bukti fiktif atas
pendapatan dan penerimaan
pembiayaan
Adanya fungsi ganda antara
pembuat kebijakan dengan
bendahara

Telaah jurnal pendapatan, buku


besar dan berkas induk piutang
atau neraca saldo untuk jumlah
penerimaan (pendapatan
/penerimaan pembiayaan) yang
besar atau tidak biasa
Telusuri pencatatan penerimaan
tersebut ke salinan SK penerimaan
dan STS

STS prenumbered dan telah


dipertanggungjawabkan dengan
semestinya

Teliti urutan nomor bukti


penerimaan kas atas pendapatan
/penerimaan pembiayaan. Apabila
penomoran seri atas bukti tersebut
tidak dilakukan, teliti pengendalian
yang dilakukan untuk pencatatan
pendapatan /penerimaan
pembiayaan tersebut apakah telah
memadai.

Terdapat pendapatan dan


penerimaan pembiayaan yang
tidak tercatat

Lakukan pengujian atas beberapa


sampel SK penetapan penerimaan
dan STSnya, telusuri SK
penetapan penerimaan ke STS
dan pencatatannya ke buku jurnal
dan berkas induk piutang.

Teliti indikasi adanya verifikasi


intern atas dokumen penerimaan.
Jika prosedur verifikasi intern atas
dokumen penerimaan tidak
dijalankan, teliti apakah prosedur
pengendalian yang ada telah

Tidak adanya verifikasi intern


atas dokumen penerimaan
Adanya rekonsiliasi yang keliru
antara bendahara penerimaan,
bendahara dan pejabat lainnya
dengan bendahara pusat atas

Teliti realisasi pendapatan


/penerimaan pembiayaan yang
dilaporkan pada laporan realisasi
anggaran dan pastikan bahwa: (1)
telah benar penjumlahan vertikal
dan horizontalnya; (2) telah benar

Prosedur verifikasi intern atas


penyiapan STS telah dijalankan
Prosedur pencatatan penerimaan
dilakukan setiap hari sedekat mungkin
dengan saat penerimaan dan
penyetorannya ke kas negara.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

pembiayaan merupakan
penerimaan selama tahun anggaran
yang relevan.

4.

5.

Hak dan Kewajiban


Pendapatan dan penerimaan pembiayaan
adalah benar-benar penerimaan
kementerian negara/lembaga yang
bersangkutan.
Pengungkapan:
Pendapatan dan penerimaan
pembiayaan telah diungkapkan secara
memadai dalam laporan keuangan dan
sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP)

Litbang Pemeriksaan

memadai.
Teliti apakah bendahara
penerimaan /Bendahara/pejabat
lain yang menerima pendapatan
/penerimaan pembiayaan
melakukan rekonsiliasi secara
periodik dengan bendahara pusat
kementerian/lembaga yang
menangani pendapatan
/penerimaan pembiayaan tersebut.
Teliti apakah terjadi tenggang
waktu penerimaan kas dan
penyetoran pendapatan dengan
melihat informasi tanggal bukti
penerimaan (STS/lainnya).
Teliti ketepatan pencatatan
pendapatan /penerimaan
pembiayaan apakah telah sesuai
dengan periode pelaporan.
Teliti persetujuan atas
pengurangan dan/atau penundaan
pembayaran pendapatan
/penerimaan pembiayaan dan teliti
dasar hukumnya

pendapatan dan penerimaan


pembiayaan tersebut.
Salah pencatatan jumlah
pendapatan dan penerimaan
pembiayaan
Adanya keterlambatan
penyetoran pendapatan dan
penerimaan pembiayaan ke
bendahara pusat

pembandingannya dengan
anggarannya; (3) telah benar
dibandingkan dengan pendapatan
pada semua laporan realisasi
anggaran dan (4) telah
diungkapkan secara memadai
dalam catatan atas laporan
keuangan. Apabila jumlah yang
dibandingkan tidak sama, teliti
sebab dan akibatnya.
Hitung ulang informasi di dalam
bukti penerimaan (STS/lainnya)
secara uji petik, dan bandingkan
dengan laporan penerimaan
terkait.
Lakukan pengujian atas beberapa
STS yang telah dicatat sbg
penerimaan, teliti tgl penerimaan
dan tgl penyetorannya ke kas
negara, pastikan bahwa
penerimaan tersebut telah dicatat
pada tahun anggaran yang sesuai

Pencatatan pendapatan dan


penerimaan pembiayaan telah
didukung oleh Surat Ketetapan (SK)
yang disetujui.

Teliti hak Kementerian/Lembaga


atas pendapatan tersebut

Adanya pendapatan dan


penerimaan milik
Kementerian/lembaga lain

Lakukan pengujian atas


pendapatan dan penerimaan
pembiayaan dalam LRA apakah
didukung dengan Surat Ketetapan
(SK yang disetujui).

Penggunaan bagan akun yang


memadai, serta telah melalui reviu
dan verifikasi intern

Teliti kecukupan bagan akun


penerimaan, dan teliti indikasi
adanya verifikasi intern atas
ketepatan klasifikasi untuk
dokumen terkait

Tidak terdapat bagan akun


yang memadai dan tidak
adanya ketepatan klasifikasi
untuk dokumen terkait.

Teliti dokumen yang mendukung


pencatatan transaksi penerimaan
dan pastikan bahwa pencatatan
penerimaan telah dilakukan
kepada akun/perkiraan yang tepat
sesuai bagan perkiraan standar
yang telah ditetapkan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Belanja Modal dan Aset Tetap yang Relevan
No.
1.

Tujuan Pengujian
Keberadaan & keterjadian:
Belanja modal pada LRA telah benarbenar terjadi.
Aset tetap yang berasal realisasi
belanja modal tersebut benar-benar
ada dan telah dilaporkan sebagai
aset tetap yang relevan di neraca

Pengendalian Intern Kunci

Penganggaran belanja modal


sesuai dengan kebutuhan
Realisasi belanja modal telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang (SPP dan SPM)
Pemisahan fungsi: penerima
aset, pembayaran, pengelola
aset dan akuntansi.
Pemeriksaan fisik aset
Bukti kepemilikan
Otorisasi penggunaan aset
tetap

Pengujian Pengendalian Intern

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi belanja modal telah
dicatat dalam LRA baik anggaran
maupun realisasinya serta aset tetapnya
yang relevan pada neraca.

SPM prenumbered dan


dipertanggungjawabkan.
Pencatatan realisasi belanja
dan penambahan aset tetap
dilaksanakan sedekat mungkin
dengan tanggal penerbitan
SP2D.

3.

Penilaian:
Transaksi belanja modal dan aset tetap
yang relevan telah dicatat sesuai dengan
nilai yang semestinya, dan perhitungan
yang tepat.

Litbang Pemeriksaan

Prosedur verifikasi intern atau


reviu atas nilai realisasi belanja
modal dan aset tetap telah
dilakukan.
Penilaian kembali aset tetap
pada neraca awal /pertama kali
dengan nilai wajar.

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan & Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan

Teliti apakah belanja modal telah


dianggarkan dan sesuai dengan
kebutuhan.
Teliti pemisahan fungsi realisasi
belanja baik desain maupun
implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah
realisasi belanja modal telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang.
Teliti apakah aset tersebut telah
diperiksa secara fisik dengan
sebenarnya.
Teliti apakah aset tetap yang
dilaporkan telah diinventarisasi
kepemilikannya.
Teliti apakah semua aset tetap
yang dimiliki dikuasai untuk
digunakan.

Teliti urutan nomor dan tanggal


SPM, apakah telah diperoleh SP2D
dan dibukukan.
Teliti apakah terdapat SP2D yang
belum diperoleh atas SPM yang
telah dikeluarkan untuk belanja
modal.
Teliti apakah pencatatan belanja
modal tersebut seluruhnya telah
dicatat sebagai aset tetap yang
relevan.

Teliti apakah telah dilakukan


verifikasi intern atau reviu atas
dokumen belanja modal dan teliti
apakah hasilnya telah
ditindaklanjuti.
Teliti apakah aset tetap yang
diperoleh sebelum neraca awal
telah dinilai kembali.

Belanja modal dianggarkan, tetapi


tidak sesuai dengan kebutuhan.
Belanja modal tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik
barang atau pemeriksaan fisik
formalitas.
Aset tetap yang dilaporkan tidak
ada dokumen kepemilikannya.
Aset tetap dikuasai pihak lain
secara tidak sah.

Pengujian Subtantif atas Transaksi *)

Belanja modal tidak/kurang dicatat.


Aset tetap yang diperoleh dari
belanja modal yang telah
direalisasikan tidak dicatat.

Anggaran dan realisasi belanja


modal salah dibukukan dan
dilaporkan.
Aset tetap yang diperoleh sebelum
neraca awal belum dinilai dengan
nilai wajar.

Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti secara uji petik belanja modal


apakah telah dianggarkan dalam
dokumen anggaran dan teliti apakah
telah sesuai kebutuhan.
Telusuri secara uji petik apakah
anggaran dan realisasi belanja modal
yang dilaporkan dalam LRA didukung
dengan bukti yang kompeten (DIPA
untuk anggaran, SP2D,dan SPM
beserta lampirannya untuk realisasi
belanja)
Lakukan Pemeriksaan fisik atas asetaset yang diperoleh melalui transaksi
belanja modal.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status aset tetap.

Teliti secara uji petik SPM dan SP2D


apakah telah dicatat sebagai realisasi
belanja sekaligus aset tetapnya.
Teliti apakah terdapat realisasi
belanja modal yang tidak sama
dengan yang dilaporkan.

Teliti secara uji petik dokumen


anggaran dan realisasi belanja modal
apakah telah benar perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas
dokumentasi aset tetap terkait dengan
belanja modal apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti secara uji petik apakah aset
tetap yang dilaporkan dalam neraca

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.

Lampiran 3.16

Tujuan Pengujian

Pengendalian Intern Kunci

Pengujian Pengendalian Intern

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan & Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan

Pengujian Subtantif atas Transaksi *)


telah dinilai kembali dengan nilai
wajar (aset yang diperoleh sebelum
neraca awal).

4.

Hak dan Kewajiban


Belanja modal direalisasikan atas aset
tetap yang relevan kementerian
negara/lembaga

Pengawasan atau reviu atas


belanja modal dan aset tetap
terkait.

Teliti secara uji petik pengawasan


atau aset tetap khususnya belanja
dekonsentrasi dan belanja
pemeliharaan.

5.

Pengungkapan:
Anggaran dan realisasi belanja modal
serta aset tetapnya telah diungkapkan
secara memadai dalam laporan
keuangan dan sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP)

Litbang Pemeriksaan

Pengawasan intern atau reviu


atas klasifikasi akun belanja
modal dan aset tetap telah
memadai.
Pengawasan intern atau reviu
atas pengungkapan belanja
modal dan aset tetap telah
memadai.

Teliti pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan atas
aset tetap apakah telah dilakukan
dan hasilnya memadai.
Teliti apakah pengungkapan
belanja modal dan aset tetap
dalam catatan atas laporan
keuangan telah memadai (sesuai
SAP).

Pengawasan intern atas aset dari


belanja dekonsentrasi lemah.
Belanja pemeliharaan yang dapat
dikapitalisasi atas aset
pihak/instansi lain tidak menambah
nilai aset.
Belanja modal direalisasikan tetapi
aset dimiliki dan/atau dikuasai oleh
pihak lain secara tidak sah.

Pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan
lemah.
Klasifikasi belanja modal dan aset
tetap tidak sesuai SAP
Pengungkapan belanja modal dan
aset tetap tidak/kurang memadai.

Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti secara uji petik terhadap


dokumen belanja modal dan aset
tetap, apakah terdapat aset yang
dimiliki oleh pihak lain.
Teliti apakah terdapat perselisihan
mengenai status aset tetap.

Teliti klasifikasi akun belanja modal


dan aset tetap pada laporan
keuangan apakah telah sesuai SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
belanja modal dan aset tetap
khususnya terhadap kondisi dan
status aset apakah telah diungkapkan
secara memadai dalam catatan atas
laporan keuangan.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Belanja dan akun Aset yang relevan
No.
1.

Tujuan Pengujian
Keberadaan & keterjadian:
Belanja yang dilaporkan pada LRA
telah benar-benar terjadi.

Pengendalian Intern Kunci

Penganggaran belanja sesuai


dengan kebutuhan
Realisasi belanja telah
diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang (SPP dan SPM)
Pemisahan fungsi: penerima
aset, pembayaran, pengelola
aset dan akuntansi.
Otorisasi penggunaan aset

Pengujian Pengendalian Intern

Teliti apakah belanja telah


dianggarkan dan sesuai dengan
kebutuhan.
Teliti pemisahan fungsi realisasi
belanja baik desain maupun
implementasinya.
Teliti secara uji petik apakah
realisasi belanja telah diotorisasi
oleh pejabat yang berwenang.
Teliti apakah aset tersebut telah
diperiksa secara fisik dengan
sebenarnya.

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan & Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan

Belanja dianggarkan, tetapi tidak


sesuai dengan kebutuhan.
Belanja tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain
tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik
barang atau pemeriksaan fisik
formalitas.
Aset yang dilaporkan tidak ada
dokumen kepemilikannya.
Aset tetap dikuasai pihak lain
secara tidak sah.

Pengujian Subtantif atas Transaksi *)

2.

Kelengkapan:
Seluruh transaksi belanja modal telah
dicatat dalam LRA baik anggaran
maupun realisasinya serta aset tetapnya
yang relevan pada neraca.

SPM prenumbered dan


dipertanggungjawabkan.
Pencatatan realisasi belanja
dan penambahan aset tetap
dilaksanakan sedekat mungkin
dengan tanggal penerbitan
SP2D.

3.

Penilaian:
Transaksi belanja dan aset tetap yang
relevan telah dicatat sesuai dengan nilai
yang semestinya, dan perhitungan yang
tepat.

Prosedur verifikasi intern atau


reviu atas nilai realisasi belanja
dan aset telah dilakukan.

Teliti urutan nomor dan tanggal


SPM, apakah telah diperoleh SP2D
dan dibukukan.
Teliti apakah terdapat SP2D yang
belum diperoleh atas SPM yang
telah dikeluarkan untuk belanja
modal.
Teliti apakah pencatatan belanja
modal tersebut seluruhnya telah
dicatat sebagai aset tetap yang
relevan.

Teliti apakah telah dilakukan


verifikasi intern atau reviu atas
dokumen belanja dan teliti apakah
hasilnya telah ditindaklanjuti.

Belanja modal tidak/kurang dicatat.


Aset tetap yang diperoleh dari
belanja modal yang telah
direalisasikan tidak dicatat.

Anggaran dan realisasi belanja


salah dibukukan dan dilaporkan.
Asetaset yang terkait dengan
belanja tersebut belum
dicantumkan dalam neraca dengan
nilai yang sesuai..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti secara uji petik belanja apakah


telah dianggarkan dalam dokumen
anggaran dan teliti apakah telah
sesuai kebutuhan.
Telusuri secara uji petik apakah
anggaran dan realisasi belanja yang
dilaporkan dalam LRA didukung
dengan bukti yang kompeten (DIPA
untuk anggaran, SP2D dan SPM
beserta lampirannya untuk realisasi
belanja)
Telusuri apakah aset-aset yang
relevan dengan belanja tersebut telah
diterima oleh KN/Lembaga.
Secara uji petik lakukan pemeriksaan
fisik atas aset-aset yang diperoleh
melalui transaksi belanja.
Teliti secara uji petik SPM dan SP2D
apakah telah dicatat sebagai realisasi
belanja sekaligus aset tetapnya.
Teliti apakah terdapat realisasi
belanja modal yang tidak sama
dengan yang dilaporkan.

Teliti secara uji petik dokumen


anggaran dan realisasi belanja
apakah telah benar perhitungannya.
Teliti secara uji petik atas
dokumentasi aset tetap terkait dengan
belanja modal apakah telah benar
perhitungannya.
Teliti apakah aset yang diperoleh
melalui transaksi belanja tersebut
telah dicantumkan dalam neraca
dengan nilai yang sesuai.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

No.
4.

Lampiran 3.16

Tujuan Pengujian
Hak dan Kewajiban
Belanja direalisasikan atas aset yang
relevan.??

Pengendalian Intern Kunci

Pengawasan atau reviu atas


belanja dan aset terkait.

Pengujian Pengendalian Intern

Teliti secara uji petik pengawasan


atau aset khususnya belanja
dekonsentrasi dan belanja
pemeliharaan.

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan & Kemungkinan
Temuan Pemeriksaan

5.

Pengungkapan:
Anggaran dan realisasi belanja serta
aset terkait telah diungkapkan secara
memadai dalam laporan keuangan dan
sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP)

Litbang Pemeriksaan

Pengawasan intern atau reviu


atas klasifikasi akun belanja
dan aset tetap telah memadai.
Pengawasan intern atau reviu
atas pengungkapan belanja dan
aset telah memadai.

Teliti pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan atas
aset apakah telah dilakukan dan
hasilnya memadai.
Teliti apakah pengungkapan
belanja dan aset dalam catatan
atas laporan keuangan telah
memadai (sesuai SAP).

Pengujian Subtantif atas Transaksi *)

Pengawasan intern atas aset dari


belanja dekonsentrasi lemah.
Belanja pemeliharaan yang dapat
dikapitalisasi atas aset
pihak/instansi lain tidak menambah
nilai aset.
Belanja direalisasikan tetapi aset
dimiliki dan/atau dikuasai oleh
pihak lain secara tidak sah.

Pengawasan atau reviu atas


klasifikasi dan pengungkapan
lemah.
Klasifikasi belanja dan aset tidak
sesuai SAP
Pengungkapan belanja dan aset
tidak/kurang memadai.

Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti secara uji petik terhadap


dokumen belanja dan aset, apakah
terdapat aset yang dimiliki oleh pihak
lain.

Teliti klasifikasi akun belanja dan aset


pada laporan keuangan apakah telah
sesuai SAP.
Teliti secara uji petik dokumentasi
belanja dan aset khususnya terhadap
kondisi dan status aset apakah telah
diungkapkan secara memadai dalam
catatan atas laporan keuangan.

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Penerimaan Kas Pada LK KL
No.
1.

Tujuan Pengujian
Keberadaan:dan keterjadian:
Penerimaan kas yang tercatat adalah
dana yang secara aktual diterima oleh
bendahara

Pengendalian Intern Kunci

2.

3.

Kelengkapan:
Seluruh kas yang diterima telah dicatat
dalam jurnal penerimaan kas

Penilaian dan Alokasi


Penerimaan kas yang dicatat telah
sesuai dengan yang diterima

Litbang Pemeriksaan

Terdapat pemisahan tugas


antara pengelolaan kas dengan
pencatatan.
Adanya rekonsiliasi atas saldo
kas menurut catatan dengan
rekening koran.

Pengujian Pengendalian Intern

Seluruh penerimaan kas pada


rekening telah tercatat pada
neraca, serta telah melalui
proses rekonsiliasi dan
verifikasi intern.

Rekonsiliasi kas antara catatan


dan rekening koran dijalankan
secara periodik.
Verifikasi intern atas pencatatan
penerimaan kas dijalankan
secara memadai.

Reviu pelaksanaan pengelolaan


dan pencatatan kas dan
pastikan adanya pemisahan
tugas.
Reviu apakah prosedur
rekonsiliasi telah dijalankan
sebagaimana mestinya.

Risiko Terhadap Penyajian Laporan


Keuangan

Tidak adanya pemisahan fungsi


antara bendahara dan fungsi
akuntansi

Tidak adnya rekonsiliasi yang benar


terhadap penerimaan-penerimaan kas
dari masing bendahara.

Dapatkan dokumen yang


mendasari pembukaan
rekening kas. Teliti apakah
semua rekening yang telah
disetujui dibuka dilaporkan
dalam neraca dan catatan atas
laporan keuangan.

Tidak terdapat dokumen dan otorisasi


yang benar atas pembukaan rekening
kas

Tidak dicatatnya atau dilaporkannya


pembukaan rekening kas tersebut
dalam laporan keuangan

Reviu hasil rekonsiliasi dan


identifikasi indikasi verifikasi
intern yang telah dijalankan.

Tidak adanya verifikasi intern

Kesalahan dalam merekonsiliasi


penerimaan kas dari berbagai
bendahara.

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengujian Subtantif atas Transaksi

Lakukan kas opname dengan


menutup buku kas dan menyaksikan
penghitungan kas di bendahara (cash
on hand) atau meminta konfirmasi
saldo bank (cash in bank), serta buat
berita acara penutupan kas segera
setelah kas opname tersebut yang
ditandatangani oleh bendahara dan
pemeriksa. Apabila terdapat
perbedaan, minta bendahara untuk
menjelaskan atau membuat
rekonsiliasi dengan bank.

Minta bendahara melakukan


konfirmasi ke bank atas semua saldo
rekening yang dikuasainya.
Bandingkan dengan buku kas,
khususnya yang terjadi setelah
tanggal neraca.

Dapatkan buku besar kas, nomor


rekening kas di kas
kementerian/lembaga dan rekening
koran pada akhir periode. Cek hasil
rekonsiliasi bank. Bandingkan saldo
masing-masing dengan jumlah yang
tercantum di neraca.

Teliti kas di kas kementerian/lembaga


(bendahara penerimaan) yang
tercantum di neraca, dan lakukan
pengecekan penjumlahan ke bawah
(footing) dan ke samping (cross
footing) pada buku besar kas di kas
kementerian/lembaga.

Bandingkan kas yang dilaporkan


tersebut dengan: (1) saldo kas
tersebut pada semua neraca; dan (2)
saldo akhir kas pada laporan arus
kas.

Jika ada saldo kas dalam mata uang


asing per tanggal neraca, cek apakah
saldo tersebut telah dikonversi ke
dalam mata uang rupiah dengan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Penerimaan kas telah dicatat dalam


periode pelaporan yang sesuai

Pengungkapan:
Penerimaan kas telah diklasifikasikan
dengan pantas

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 3.16

Prosedur yang diperlukan untuk


mencatat penerimaan kas
setiap hari telah dijalankan, dan
verifikasi intern dilaksanakan
secara memadai

Penggunaan bagan akun yang


memadai, serta telah melalui
reviu dan verifikasi intern

Reviu tanggal pencatatan


penerimaan kas, dan
identifikasi indikasi verifikasi
intern yang dijalankan.

Teliti kecukupan bagan akun


penerimaan kas, dan teliti
indikasi adanya verifikasi intern
atas ketepatan klasifikasi untuk
dokumen terkait

Keterlambatan penerimaan kas

Tidak adanya kecukupan bangan


akun penerimaan kas
Tidak adanya ketepatan klasifikasi
terhadap dokumen terkait

Badan Pemeriksa Keuangan

menggunakan kurs tengah Bank


Indonesia per tanggal neraca.
Pastikan selisih kurs yang terjadi telah
dibebankan dan dimasukkan ke
dalam ekuitas dana lancar.
Bandingkan tanggal setoran dengan
tanggal dalam jurnal penerimaan kas
dan daftar penerimaan kas.
Teliti hasil kas opname dan hasil
rekonsiliasi, pastikan seluruh
transaksi penerimaan kas telah
tercatat pada periode pelaporan.
Teliti dokumen yang mendukung
pencatatan transaksi penerimaan kas
dan pastikan bahwa pencatatan
penerimaan kas telah dilakukan
kepada akun/perkiraan yang tepat
sesuai bagan perkiraan standar yang
telah ditetapkan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.16

Ikhtisar Pengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi Pengeluaran Kas Pada LK KL
No.
1.

Tujuan Pengujian
Keberadaan dan keterjadian:
Pengeluaran kas yang tercatat adalah
sesuai dengan SPM yang diterbitkan

Pengendalian Intern Kunci

2.

3.

Kelengkapan:
Transaksi pengeluaran kas telah
dicatat

Penilaian dan Alokasi

Transaksi pengeluaran kas


telah dicatat dengan benar

Transaksi pengeluaran kas


telah dicatat sesuai dengan
periode pelaporan

Pengungkapan
Transaksi pengeluaran kas telah
diklasifikasikan dengan semestinya

Litbang Pemeriksaan

Pengujian Pengendalian Intern

Risiko Terhadap Penyajian


Laporan Keuangan

Adanya pemisahan tugas yang


memadai, antara yang
menerbitkan SPM, pemegang
cek yang sudah ditandatangani,
dan pemegang kas.
Adanya dokumen pendukung
sebelum cek ditandatangani
oleh pihak yang berwenang.
Adanya persetujuan pada
dokumen pendukung saat cek
ditandatangani.

Cek prenumbered dan telah


dipertanggungjawabkan dengan
semestinya, serta telah melalui
proses rekonsiliasi dan
verifikasi intern.

Hitung urutan cek.


Teliti cek yang dibatalkan, dan
perhatikan tanda tangan yang
berwenang, pemberian cap
yang memadai, dan
pembatalan oleh bank.

Rekonsiliasi pengeluaran kas


antara catatan dan rekening
koran dijalankan secara
periodik.
Verifikasi intern atas pencatatan
pengeluaran kas dijalankan
secara memadai.
Pencatatan pengeluaran kas
dilakukan sesegera mungkin
setelah cek ditandatangani, dan
telah melalui prosedur verifikasi
intern

Reviu hasil rekonsiliasi dan


identifikasi indikasi verifikasi
intern yang telah dijalankan.

Penggunaan bagan akun yang


memadai, serta telah melalui
reviu dan verifikasi intern

Reviu prosedur pengeluaran


kas, dan pastikan adanya
pemisahan tugas yang
memadai.
Reviu prosedur persetujuan
pengeluaran kas dan verifikasi
internal untuk cek yang
dibatalkan.

Tidak adanya pemisahan fungsi


antara bendahara pengeluaran
dan pembuat kebijakan belanja
dan pengeluaran pembiayaan

Tidak adanya prosedur yang


memadai terkait pengeluaran
kas

Pengujian Subtantif atas Transaksi

Telaah jurnal pengeluaran kas, buku besar,


dan berkas induk utang, untuk jumlah yang
besar atau tidak biasa, dan pertimbangkan
bukti pengeluaran kas yang memiliki risiko tidak
tercatat seperti pada saat volume pengeluaran
kas cukup banyak.

Telusuri pencatatan pengeluaran kas tersebut


ke SPM.

Telusuri indikasi cek yang dibatalkan ke jurnal


yang terkait, dan bandingkan nama penerima
dan jumlahnya.

Adanya cek palsu dalam


pencairan kas
Fungsi ganda antara fungsi
akuntansi dengan pejabat
terkait dengan pengeluaran kas

Rekonsiliasi pengeluaran kas yang dicatat


dengan pengeluaran kas pada rekening koran.

Tidak terdapat verifikasi intern


yang memadai dalam proses
rekonsiliasi pengeluaran kas
yang terjadi

Teliti catatan pengeluaran kas (bendahara


pengeluaran), dan lakukan pengecekan
penjumlahan ke bawah (footing) dan ke
samping (cross footing) pada buku besar kas .

Reviu prosedur pengeluaran


kas dan verifikasi intern, dan
cermati peluang adanya cek
yang tidak tercatat

Adanya cek atas pengeluaran


kas
Ketidaktetapan waktu dalam
pencatatan pengeluaran kas.

Bandingkan tanggal pada cek dengan


jurnal/rincian pengeluaran kas.
Bandingkan tanggal dalam cek yang
dibatalkan, dengan tanggal pembatalan oleh
bank.

Teliti kecukupan bagan akun


penerimaan kas, dan teliti
indikasi adanya verifikasi intern
atas ketepatan klasifikasi untuk
dokumen terkait

Tidak terdapat kecukupan


bagan akun terhadap
pengeluaran kas
Tidak terdapat klasifikasi antara
pengeluaran pembiayaan dan
belanja

Badan Pemeriksa Keuangan

Teliti dokumen yang mendukung pencatatan


transaksi penerimaan kas dan pastikan bahwa
pencatatan penerimaan kas telah dilakukan
kepada akun/perkiraan yang tepat sesuai
bagan perkiraan standar yang telah ditetapkan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.17

IKHTISAR KOREKSI PEMERIKSAAN


Revisi, jika ada, terhadap PM and TE:

Permasalahan Akuntansi dan Pemeriksaan yang Signifikan dan Resolusi yang Terkait:
Indikasikan di bawah ini masalah akuntansi dan pemeriksaan yang signifikan yang terjadi selama audit.
Lampirkan memo terpisah lainnya sesuai yang dibutuhkan untuk menjelaskan secara penuh masalahmasalah khusus dan pemecahannya. Kasus/masalah (matters) yang didiskusikan dalam Memorandum
Strategi Pemeriksaan dan terpecahkan secara memuaskan (satisfactorily resolved) seperti yang diharapkan
selama penugasan audit, tidak perlu didiskusikan lagi dalam IHP ini.
Masalah/kasus

Indeks
KKP
No.

Masalah/kasus

Indeks
KKP
No.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.17

Akhir dari Keseluruhan Review Analitis


Menyediakan akhir dari review analitis atas observasi atau lampirkan salinan dari laporan keuangan dan hal
yang berkaitan dengan keuangan yang sudah final dengan catatan-catatan tanggapan

Catatan dari pertemuan penutup (Closing Briefing) dengan klien :


Berikan ringkasan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.17

Daftar Jurnal Koreksi

No

Uraian

Indeks
KKP
No.

Neraca
Dr

Cr

Laporan
Realisasi
Anggaran
Dr
Dr

Laporan Arus
Kas
Cr

Cr

Catatan Atas
Laporan Keuangan
No.

Jakarta,
Ketua Tim,

Pengendali Teknis,

Penanggung Jawab,

Ahmad Sukarna

Robbi Roddia

Anthoni Sulaiman

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Uraian

Juknis Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.18

Daftar Jurnal Koreksi


No.

Uraian*

Indeks
KKP No.

Neraca
Dr

Cr

Laporan Realisasi
Anggaran
Dr
Cr

Laporan Arus Kas


Dr

Cr

Catatan Atas
Laporan Keuangan
No.
Uraian

(Nama Kota),200X
Penanggung Jawab,

Pejabat Entitas Yang Berwenang,***

NIP.

..

*Diisi nama akun/perkiraan atau pengungkapan yang seharusnya dilakukan.


** Diisi dengan tanda () oleh pejabat entitas yang berwenang.
*** Pejabat entitas yang berwenang : pemerintah pusat/menteri/pimpiinan Lembaga.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tindak Lanjut**
Setuju

Tidak Setuju

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.19

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
(Alamat, No. Telp., No. Fax., Kode Pos)

Nomor
Lampiran
Perihal

:
:
:

..
. (.) berkas
Temuan Pemeriksaan
atas LKPP (atau LK
Kementerian/Lembaga)
Tahun 200X

(Tempat, tanggal laporan)


Kepada Yth.
Kepala Negara/Menteri/Pimpinan
Lembaga ...
(Alamat)

Berdasarkan Surat Tugas No. tanggal . dan menunjuk Surat Kepala


Negara/Menteri/Pimpinan Lembaga No. . tanggal perihal .,
bersama in kami sampaikan Temuan Pemeriksaan yang kami pandang merupakan
kondisi yang perlu diperhatikan yang meliputi koreksi atas penyajian LKPP (atau LK
Kementerian/Lembaga) .. Tahun 200X, kelemahan sistem pengendalian intern dan
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Dari hasil pemeriksaan atas LKPP (atau LK Kementerian/Lembaga) .. Tahun 200X,
yang disajikan oleh Pemerintah Pusat/Menteri/Lembaga.........., kami telah mengajukan
sebanyak ..... koreksi, dengan nilai sebesar Rp................ Koreksi tersebut didasarkan
atas kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Rincian koreksi tersebut kami
sajikan dalam ikhtisar koreksi terlampir.
Kondisi yang perlu diperhatikan mencakup kekurangan yang material dalam desain dan
implementasi sistem pengendalian intern meliputi: (isi dengan
kelemahan sistem pengendalian intern).
Kelemahan tersebut, menurut pendapat kami, dapat mempengaruhi kemampuan
organisasi untuk mencatat, mengolah, mengikhtisarkan, dan melaporkan data keuangan
yang konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan.
Permasalahan material terkait dengan kepatuhan perundang-undangan yang dapat kami
laporkan antara lain sebagai berikut :
1. ..(isi dengan judul catatan pemeriksaan terkait dengan kepatuhan
terhadap peraturan perundangan yang material)
Temuan Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan memperoleh
tanggapan dari Kepala Negara/Menteri/Pimpinan Lembaga...
Ketua Tim Pemeriksa,

..
NIP
Tembusan :
1. Pengendali Teknis;
2. Penanggung Jawab.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.19

TEMUAN PEMERIKSAAN
ISI LAPORAN
KONDISI

PENJELASAN
Memuat kondisi yang perlu
dijelaskan

(Uraikan kondisi)
KRITERIA

Kriteria dan atau kondisi yang


seharusnya terjadi

(Uraikan Kriteria)
AKIBAT
(Uraikan Akibat)
SEBAB
(Uraikan Sebab)

Litbang Pemeriksaan

Dampak yang akan terjadi


karena adanya varians antara
kondisi dan kriteria
Alasan terjadinya varian antara
kondisi dan kriteria.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.19

(KOP PEMERINTAH PUSAT/KEMENTERIAN/LEMBAGA)


TANGGAPAN MANAJEMEN ATAS TEMUAN PEMERIKSAAN

Kedudukan entitas, Tanggal


Kepala Daerah/Pejabat
SKPD/SKPKD
(TANDA TANGAN
(STEMPEL)
(Nama Jelas)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

(warna cover LHP biru dan dapat diberikan gambar-gambar yang tidak dominan dan relevan serta warna huruf putih)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS
LAPORAN KEUANGAN (NAMA ENTITAS)
TAHUN 200X

Nomor :
Tanggal :

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN..
LAPORAN KEUANGAN POKOK ........................................................
1. NERACA KOMPARATIF................................................................
2. LAPORAN REALISASI ANGGARAN.
3. LAPORAN ARUS KAS. .................................................................
4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN. .................................
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

HALAMAN
...

...

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

1. Contoh Opini Wajar Tanpa Pengecualian

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Berdasarkan ........ (diisi UU/Peraturan Perundang-undangan lainnya yang paling spesifik menyatakan LKPP/LKKL
harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (nama entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab (nama entitas).Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pendapat
atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
BPK RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan. Standar tersebut mengharuskan BPK RI merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar BPK RI
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi
penilaian, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Standar Akuntansi Pemerintahan yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh (pemerintah pusat/kementerian/lembaga), serta penilaian terhadap penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. BPK RI yakin bahwa pemeriksaan BPK RI memberikan dasar memadai untuk
menyatakan pendapat.
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI menemukan ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang material. Temuan ini telah BPK RI muat dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan Kepatuhan tertanggal (tanggal laporan, yang seharusnya sama dengan tanggal laporan ini) kepada
(nama entitas yang diperiksa) dan (pihak berwenang yang terkait)
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI mengungkapkan kondisi pengendalian intern (nama entitas)
yang telah BPK RI dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas pengendalian intern tertanggal (tanggal laporan yang sama
dengan tanggal laporan ini)
Menurut pendapat BPK RI, laporan keuangan yang disebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan (Nama entitas) per 31 Desember 20XX, realisasi anggaran, dan arus kas untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
.(tempat, Tanggal Laporan)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di .
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

..Ak.
Akuntan, Register Negara No.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

2. Contoh Opini Wajar Dengan Pengecualian

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Berdasarkan ........ (diisi UU/Peraturan Perundang-undangan lainnya yang paling spesifik menyatakan LKPP/LKKL
harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (nama entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab (nama entitas).Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pendapat
atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
BPK RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan. Standar tersebut mengharuskan BPK RI merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar BPK RI
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi
penilaian, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Standar Akuntansi Pemerintahan yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh (pemerintah pusat/kementerian/lembaga), serta penilaian terhadap penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. BPK RI yakin bahwa pemeriksaan BPK RI memberikan dasar memadai untuk
menyatakan pendapat.
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI menemukan ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang material. Temuan ini telah BPK RI muat dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan Kepatuhan tertanggal (tanggal laporan, yang seharusnya sama dengan tanggal laporan ini) kepada
(nama entitas yang diperiksa) dan (pihak berwenang yang terkait)
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI mengungkapkan kondisi pengendalian intern (nama entitas)
yang telah BPK RI dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas pengendalian intern tertanggal (tanggal laporan yang sama
dengan tanggal laporan ini)
(pada paragraf ini uraikan hal-hal yang menyebabkan opini wajar dengan pengecualian/hal-hal yang dikecualikan)
Menurut pendapat BPK RI, kecuali (hal yang menyebabkan pengecualian) laporan keuangan yang disebut di atas
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan (Nama Entitas) per 31 Desember 20XX,
realisasi anggaran, dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.
.(tempat, tanggal laporan)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di.
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

..AK
Akuntan, Register Negara No..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

3. Contoh Opini Tidak Wajar

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Berdasarkan ........ (diisi UU/Peraturan Perundang-undangan lainnya yang paling spesifik menyatakan LKPP/LKKL
harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (nama entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab (nama entitas).Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pendapat
atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
BPK RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan. Standar tersebut mengharuskan BPK RI merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar BPK RI
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi
penilaian, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Standar Akuntansi Pemerintahan yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh (nama entitas), serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
BPK RI yakin bahwa pemeriksaan BPK RI memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI menemukan ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang material. Temuan ini telah BPK RI muat dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan Kepatuhan tertanggal (tanggal laporan, yang seharusnya sama dengan tanggal laporan ini) kepada
(nama entitas yang diperiksa) dan (pihak berwenang yang terkait)
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI mengungkapkan kondisi pengendalian intern (nama entitas)
yang telah BPK RI dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas pengendalian intern tertanggal (tanggal laporan yang sama
dengan tanggal laporan ini)
(paragraf yang berisi alasan tidak wajar baik karena ketidakpatuhan dan kelemahan sistem pengendalian
intern yang berdampak pada penyajian LKPD maupun kelemahan lain pada LKPD)
Menurut pendapat BPK RI, karena dampak dari hal yang diuraikan dalam paragraf diatas, laporan keuangan yang
disebut di atas tidak menyajikan secara wajar sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, posisi keuangan
(Nama entitas) per 31 Desember 20XX, realisasi anggaran, dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
.(tempat, Tanggal Laporan)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di.
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

..Ak
Akuntan, Register Negara No.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

4. Contoh Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Berdasarkan ........ (diisi UU/Peraturan Perundang-undangan lainnya yang paling spesifik menyatakan LKPP/LKKL
harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (nama entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab (nama entitas).Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pendapat
atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI menemukan ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang material. Temuan ini telah BPK RI muat dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan Kepatuhan tertanggal (tanggal laporan, yang seharusnya sama dengan tanggal laporan ini) kepada
(nama entitas yang diperiksa) dan (pihak berwenang yang terkait)
Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI mengungkapkan kondisi pengendalian intern (nama entitas)
yang telah BPK RI dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas pengendalian intern tertanggal (tanggal laporan yang sama
dengan tanggal laporan ini)
(paragraf yang berisi alasan tidak dapat menyatakan pendapat baik karena ketidakpatuhan dan kelemahan
sistem pengendalian intern yang berdampak pada penyajian LKPP/LKKL maupun kelemahan lain pada LKPP/LKKL).
Karena (alasan tidak dapat memberikan pendapat) dan BPK RI tidak dapat menerapkan prosedur audit untuk
memperoleh keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan, lingkup pemeriksaan BPK RI tidak cukup
untuk memungkinkan BPK RI menyatakan pendapat, dan BPK RI tidak menyatakan pendapat atas Laporan Keuangan
(Nama Entitas).
.(tempat, Tanggal Laporan)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di.
Penanggung Jawab Pemeriksaan,
..Ak
Akuntan, Register Negara No.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

(KOP ENTITAS YANG DIPERIKSA)


LAPORAN KEUANGAN (NAMA ENTITAS)
TAHUN ANGGARAN 200X

Kedudukan entitas, Tanggal..


Kepala Negara/Menteri/Pimpinan
Lembaga

(Nama Jelas)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

1. Dasar Hukum Pemeriksaan

2. Tujuan Pemeriksaan

3. Sasaran Pemeriksaan

4. Standar Pemeriksaan

5. Metode Pemeriksaan

6. Waktu Pemeriksaan

7. Objek Pemeriksaan

8. Batasan Pemeriksaan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

(JUDUL COVER SAMPING)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.20

(COVER BELAKANG)

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Jl. Gatot Subroto No. 31
Jakarta Pusat 10210

Litbang Pemeriksaan

Telp. (021) 5720949, 5704395 Ext.


Fax..
Webside: www.bpk.go.id

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

(warna cover Laporan biru dengan gambar-gambar tidak dominan dan relevan dengan warna huruf putih)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL ANALISA


TRANSPARANSI FISKAL
(NAMA ENTITAS)
UNTUK TAHUN ANGGARAN 200X

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA ....

Nomor
Tanggal

:
:

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.
RESUME TRANSPARANSI FISKAL..
ANALISA TRANSPARANSI FISKAL
1. (Judul Temuan)..
2. (Judul Temuan)..
MATRIKS ANALISA TRANSPARANSI FISKAL................................

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

HALAMAN
...

...

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
RESUME TRANSPARANSI FISKAL
Berdasarkan ........ (diisi UU/Peraturan Perundang-undangan lainnya yang paling spesifik
menyatakan LKPP/LKKL harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (nama
entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan hasil pemeriksaan
atas laporan keuangan tersebut telah disampaikan kepada ....dalam laporan
nomor.........tanggal........
Dalam rangka pemeriksaan atas laporan keuangan tersebut, BPK melakukan analisa terhadap
unsur-unsur transparansi fiskal yang diatur dalam pedoman transparansi fiskal yang diterbitkan
IMF. Hasil analisa dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Kejelasan peran dan tanggung jawab (resume atas analisa BPK terhadap unsur
transparansi fiskal yang telah diatur dalam dalam pedoman transparansi fiskal yang
diterbitkan IMF.
2. Ketersediaan informasi untuk publik.
3. Perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan anggaran secara terbuka
4. Jaminan integritas
Rincian hasil analisa BPK terhadap unsur-unsur transparansi fiskal akan dijelaskan dalam analisa
transparansi fiskal.

.(tempat, Tanggal Laporan)


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan,
..Ak
Akuntan, Register Negara No

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

ANALISA TRANSPARANSI FISKAL


1. KEJELASAN PERAN DAN TANGGUNG JAWAB
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)
2. KETERSEDIAAN INFORMASI UNTUK PUBLIK
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)
3. PERENCANAAN, PELAKSANAAN, DAN PELAPORAN ANGGARAN SECARA TERBUKA
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)
4. JAMINAN INTEGRITAS
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

MATRIKS ANALISA TRANSPARANSI FISKAL


No
1.

Unsur Transparansi Fiskal


Kejelasan Peran dan Tanggung Jawab
1.

Sektor pemerintahan harus bisa dibedakan dari sektor publik


lainnya dan dari sektor ekonomi lainnya, dan kebijakan serta
peran manajemen dalam sektor publik harus jelas dan
diungkapkan kepada publik.

Struktur dan fungsi pemerintah harus ditetapkan dengan


jelas.
Tanggung jawab dari setiap level pemerintahan yang
berbeda, dan pada pihak eksekutif, pihak legislatif, serta
yudikatif, harus dijelaskan dengan baik.
Mekanisme yang jelas untuk koordinasi dan manajemen
aktivitas budgeter dan non budgeter harus ditetapkan.
Hubungan antara lembaga publik pemerintah dan
nonpemerintah (yaitu bank sentral, lembaga keuangan publik,
dan perusahaan nonfinansial) harus didasarkan pada
pengaturan yang jelas.
keterlibatan pemerintah pada sektor swasta (misalnya
melalui penetapan peraturan dan kepemilikan saham)
dilakukan secara terbuka dan umum, serta didasarkan pada
aturan dan prosedur yang jelas yang diaplikasikan tanpa
diskriminasi.

2.

2.

Harus ada kerangka kerja hukum dan administratif yang


jelas untuk manajemen fiskal.
Setiap komitmen atau belanja atas dana publik harus
dikendalikan oleh hukum anggaran yang menyeluruh dan
peraturan administratif yang tersedia secara terbuka.
Pajak, bea cukai, biaya, dan beban harus mempunyai dasar
hukum eksplisit. Hukum dan peraturan pajak harus dapat
diakses dengan mudah dan mudah dimengerti, serta kriteria
yang jelas harus memberi petunjuk dalam setiap penerapan
kebijakan administratif.
Standar etis atas tingkah laku untuk pegawai negeri harus
jelas dan dipublikasikan dengan baik.

Ketersediaan Informasi untuk Publik


1.

Masyarakat harus disediakan informasi yang lengkap tentang


aktivitas fiskal pemerintah di masa lalu, sekarang dan yang
direncanakan.

Dokumentasi anggaran, Laporan Akhir, dan laporan fiskal


lainnya untuk publik harus mencakup seluruh aktivitas
budgeter dan non budgeter pemerintah pusat, dan posisi
fiskal pemerintah pusat yang telah dikonsolidasikan harus
dupublikasikan.
Harus tersedia informasi tentang realisasi anggaran untuk
dua tahun sebelumnya bersama dengan ramalan anggaran
pokok untuk dua tahun kedepan, serta harus bisa
diperbandingkan dengan anggaran tahunan.
Pernyataan yang menjelaskan sifat dan signifikansi fiskal atas
kewajiban kontinjen pemerintah pusat dan belanja pajak dan
aktivitas quasi-fiskal, harus menjadi bagian dari dokumentasi
anggaran.
Pemerintah pusat harus mempublikasikan informasi secara
lengkap tentang level dan komposisi utang serta aset
finansial pemerintah.
Jika level pemerintah subnasional signifikan, kombinasi posisi
fiskal gabungan dan posisi fiskal konsolidasian untuk seluruh
pemerintahan harus dipublikasikan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

HASIL ANALISA*
Desain
Implementasi

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

2.

Harus dibuat suatu komitmen untuk mempublikasikan informasi


fiskal secara tepat waktu.

3.

Lampiran 3.21

Publikasi informasi fiskal harus menjadi kewajiban legal


pemerintah.
Tanggal-tanggal penerbitan informasi keuangan harus
diumumkan sebelumnya.

Perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan anggaran secara


terbuka.
1.

2.

Dokumentasi anggaran harus merinci sasaran kebijakan fiskal,


kerangka makroekonomi, basis kebijakan anggaran, dan risiko
fiskal utama yang bisa diidentifikasikan.
Pernyataan sasaran kebijakan fiskal dan penilaian
kemampuan fiskal harus menyediakan kerangka kerja untuk
anggaran tahunan.
Semua ketentuan fiskal yang telah diterapkan (misalnya
persyaratan anggaran berimbang dan batas pinjaman
pemerintah pada level subnasional) harus ditetapkan dengan
jelas.
Anggaran tahunan harus dipersiapkan dan disajikan dalam
kerangka makroekonomi kuantitatif yang menyeluruh dan
konsisen serta asumsi-asumsi yang mendasari anggaran
harus disediakan.
Kebijakan-kebjakan baru yang sedang diperkenalkan dalam
anggaran tahunan harus digambarkan dengan jelas.
Risiko fiskal yang utama harus diidentifikasi dan diukur
apabila memungkinkan, termasuk variasi asumsi ekonomi
dan biaya tidak pasti atas komitmen belanja spesifik (sebagai
contoh restrukturisasi keuangan).
Informasi anggaran harus disajikan dengan cara yang dapat
memfasilitasi analisis kebijakan dan meningkatkan
pertanggungjawaban.

3.

Data anggaran harus dilaporkan dalam basis


bruto,membedakan antara pendapatan, belanja, dan
pembiayaan, dengan belanja yang diklasifikasikan
berdasarkan kategori ekonomi, fungsi, dan administratif. Data
aktivitas nonbudgeter harus dilaporkan dengan basis yang
sama.
Pernyataan tujuan yang akan dicapai dengan program
anggaran utama (sebagai contoh peningkatan indikator sosial
yang relevan) harus disediakan.
Saldo keseluruhan pemerintah harus bisa menjadi standar
ringkasan indikator posisi fiskal pemerintah. Hal itu harus
ditambahkan, jika sesuai, dengan indikator fiskal lainnya pada
pemerintah (sebagai contoh saldo operasional, saldo
struktural, atau saldo utama).
Saldo sektor publik harus dilaporkan ketika lembaga publik
nonpemerintah melakukan aktivitas quasi-fiskal yang
signifikan.
Prosedur-prosedur untuk melaksanakan dan mengawasi belanja
yang telah disetujui serta merealisasikan pendapatan harus
ditetapkan denga jelas

Harus ada sistem akuntansi yang menyeluruh dan


terintegrasi yang menyediakan dasar yang dapat dipercaya
untuk menghitung pembayaran tunggakan.
Pengadaan dan regulasi pegawai harus distandarisasi dan
mudah dijangkau oleh semua pihak.
Pelaksanaan anggaran harus telah diperiksa oleh pihak
internal, dan prosedur pemeriksaan harus terbuka untuk
direviu.
Administrasi pajak nasional harus dilindungi undang-undang
dari kepentingan politik dan harus melaporkan secara teratur

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

atas aktivitas-aktivitas yang dilakukannya.


4.

4.

Harus dilakukan pelaporan fiskal secara teratur kepada legislatif


dan kepada publik.

Laporan tengah tahunan anggaran harus diserahkan kepada


legislatif. Laporan yang lebih sering (paling tidak triwulan)
juga harus dipublikasikan.

Laporan Keuangan akhir tahun harus disajikan kepada


legislatif dalam satu tahun setelah tahun anggaran fiskal
berakhir.

Hasil yang dicapai berdasarkan program anggaran utama


harus dilaporkan kepada legislatif secara tahunan.

Jaminan integritas
1.

Data Fiskal Harus Memenuhi Standar Kualitas Data yang


Diterima umum

2.

Data anggaran harus mencerminkan tren pendapatan dan


belanja tahun berjalan, perkembangan makroekonomi yang
mendasarinya, dan kebijakan komitmen yang ditetapkan
dengan baik.
Anggaran tahunan dan Laporan Keuangan akhir tahun harus
mengindikasikan basis akuntansi (sebagai contoh kas atau
akrual) dan standar yang digunakan dalam penggabungan
dan penyajian data anggaran.
Harus ada jaminan yang spesifik atas kualitas data fiskal.
Khususnya, harus ada indikasi apakah data dalam laporan
keuangan secara internal telah konsisten dan telah
direkonsiliasi dengan sumber data yang lain.

Informasi fiskal harus diperiksa oleh pemeriksa independen.


Badan pemeriksa nasional atau organisasi yang setara, yang
independen dan pihak eksekutif, harus menyediakan laporan
atas integritas keuangan dalam pertanggungjawaban
pemerintah kepada legislatif dan masyarakat dengan tepat
waktu.

Tenaga ahli independen harus disertakan dalam penilaian


perkiraan fiskal dan makroekonomi yang ndasarinya, serta
semua asumsi yang digunakan.

Lembaga statistik nasional harus diberikan independensi


institusional untuk memferifikasi kualitas data fiskal.

Keterangan:
* Diisi dengan tanda () apabila kondisi sudah sesuai dengan kriteria dan tanda (x) apabila kondisi tidak sesuai
dengan kriteria.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

(JUDUL COVER SAMPING)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

(COVER BELAKANG)

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
(Alamat Tempat Kedudukan Kantor)

Litbang Pemeriksaan

Telp.Ext
Fax..
e-mail .

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

(warna cover Laporan biru dengan gambar-gambar tidak dominan dan relevan dengan warna huruf putih)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL ANALISA


TRANSPARANSI FISKAL
(NAMA ENTITAS)
UNTUK TAHUN ANGGARAN 200X

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA ....

Nomor
Tanggal

:
:

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.
RESUME TRANSPARANSI FISKAL..
ANALISA TRANSPARANSI FISKAL
1. (Judul Temuan)..
2. (Judul Temuan)..
MATRIKS ANALISA TRANSPARANSI FISKAL................................

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

HALAMAN
...

...

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
RESUME TRANSPARANSI FISKAL
Berdasarkan ........ (diisi UU/Peraturan Perundang-undangan lainnya yang paling spesifik
menyatakan LKPP/LKKL harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (nama
entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan hasil pemeriksaan
atas laporan keuangan tersebut telah disampaikan kepada ....dalam laporan
nomor.........tanggal........
Dalam rangka pemeriksaan atas laporan keuangan tersebut, BPK melakukan analisa terhadap
unsur-unsur transparansi fiskal yang diatur dalam pedoman transparansi fiskal yang diterbitkan
IMF. Hasil analisa dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Kejelasan peran dan tanggung jawab (resume atas analisa BPK terhadap unsur
transparansi fiskal yang telah diatur dalam dalam pedoman transparansi fiskal yang
diterbitkan IMF.
2. Ketersediaan informasi untuk publik.
3. Perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan anggaran secara terbuka
4. Jaminan integritas
Rincian hasil analisa BPK terhadap unsur-unsur transparansi fiskal akan dijelaskan dalam analisa
transparansi fiskal.

.(tempat, Tanggal Laporan)


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan,
..Ak
Akuntan, Register Negara No

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

ANALISA TRANSPARANSI FISKAL


1. KEJELASAN PERAN DAN TANGGUNG JAWAB
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)
2. KETERSEDIAAN INFORMASI UNTUK PUBLIK
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)
3. PERENCANAAN, PELAKSANAAN, DAN PELAPORAN ANGGARAN SECARA TERBUKA
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)
4. JAMINAN INTEGRITAS
(KONDISI)
(KRITERIA)
(HASIL ANALISA)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

MATRIKS ANALISA TRANSPARANSI FISKAL


No
1.

Unsur Transparansi Fiskal


Kejelasan Peran dan Tanggung Jawab
1.

Sektor pemerintahan harus bisa dibedakan dari sektor publik


lainnya dan dari sektor ekonomi lainnya, dan kebijakan serta
peran manajemen dalam sektor publik harus jelas dan
diungkapkan kepada publik.

Struktur dan fungsi pemerintah harus ditetapkan dengan


jelas.
Tanggung jawab dari setiap level pemerintahan yang
berbeda, dan pada pihak eksekutif, pihak legislatif, serta
yudikatif, harus dijelaskan dengan baik.
Mekanisme yang jelas untuk koordinasi dan manajemen
aktivitas budgeter dan non budgeter harus ditetapkan.
Hubungan antara lembaga publik pemerintah dan
nonpemerintah (yaitu bank sentral, lembaga keuangan publik,
dan perusahaan nonfinansial) harus didasarkan pada
pengaturan yang jelas.
keterlibatan pemerintah pada sektor swasta (misalnya
melalui penetapan peraturan dan kepemilikan saham)
dilakukan secara terbuka dan umum, serta didasarkan pada
aturan dan prosedur yang jelas yang diaplikasikan tanpa
diskriminasi.

2.

2.

Harus ada kerangka kerja hukum dan administratif yang


jelas untuk manajemen fiskal.
Setiap komitmen atau belanja atas dana publik harus
dikendalikan oleh hukum anggaran yang menyeluruh dan
peraturan administratif yang tersedia secara terbuka.
Pajak, bea cukai, biaya, dan beban harus mempunyai dasar
hukum eksplisit. Hukum dan peraturan pajak harus dapat
diakses dengan mudah dan mudah dimengerti, serta kriteria
yang jelas harus memberi petunjuk dalam setiap penerapan
kebijakan administratif.
Standar etis atas tingkah laku untuk pegawai negeri harus
jelas dan dipublikasikan dengan baik.

Ketersediaan Informasi untuk Publik


1.

Masyarakat harus disediakan informasi yang lengkap tentang


aktivitas fiskal pemerintah di masa lalu, sekarang dan yang
direncanakan.

Dokumentasi anggaran, Laporan Akhir, dan laporan fiskal


lainnya untuk publik harus mencakup seluruh aktivitas
budgeter dan non budgeter pemerintah pusat, dan posisi
fiskal pemerintah pusat yang telah dikonsolidasikan harus
dupublikasikan.
Harus tersedia informasi tentang realisasi anggaran untuk
dua tahun sebelumnya bersama dengan ramalan anggaran
pokok untuk dua tahun kedepan, serta harus bisa
diperbandingkan dengan anggaran tahunan.
Pernyataan yang menjelaskan sifat dan signifikansi fiskal atas
kewajiban kontinjen pemerintah pusat dan belanja pajak dan
aktivitas quasi-fiskal, harus menjadi bagian dari dokumentasi
anggaran.
Pemerintah pusat harus mempublikasikan informasi secara
lengkap tentang level dan komposisi utang serta aset
finansial pemerintah.
Jika level pemerintah subnasional signifikan, kombinasi posisi
fiskal gabungan dan posisi fiskal konsolidasian untuk seluruh
pemerintahan harus dipublikasikan.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

HASIL ANALISA*
Desain
Implementasi

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

2.

Harus dibuat suatu komitmen untuk mempublikasikan informasi


fiskal secara tepat waktu.

3.

Lampiran 3.21

Publikasi informasi fiskal harus menjadi kewajiban legal


pemerintah.
Tanggal-tanggal penerbitan informasi keuangan harus
diumumkan sebelumnya.

Perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan anggaran secara


terbuka.
1.

2.

Dokumentasi anggaran harus merinci sasaran kebijakan fiskal,


kerangka makroekonomi, basis kebijakan anggaran, dan risiko
fiskal utama yang bisa diidentifikasikan.
Pernyataan sasaran kebijakan fiskal dan penilaian
kemampuan fiskal harus menyediakan kerangka kerja untuk
anggaran tahunan.
Semua ketentuan fiskal yang telah diterapkan (misalnya
persyaratan anggaran berimbang dan batas pinjaman
pemerintah pada level subnasional) harus ditetapkan dengan
jelas.
Anggaran tahunan harus dipersiapkan dan disajikan dalam
kerangka makroekonomi kuantitatif yang menyeluruh dan
konsisen serta asumsi-asumsi yang mendasari anggaran
harus disediakan.
Kebijakan-kebjakan baru yang sedang diperkenalkan dalam
anggaran tahunan harus digambarkan dengan jelas.
Risiko fiskal yang utama harus diidentifikasi dan diukur
apabila memungkinkan, termasuk variasi asumsi ekonomi
dan biaya tidak pasti atas komitmen belanja spesifik (sebagai
contoh restrukturisasi keuangan).
Informasi anggaran harus disajikan dengan cara yang dapat
memfasilitasi analisis kebijakan dan meningkatkan
pertanggungjawaban.

3.

Data anggaran harus dilaporkan dalam basis


bruto,membedakan antara pendapatan, belanja, dan
pembiayaan, dengan belanja yang diklasifikasikan
berdasarkan kategori ekonomi, fungsi, dan administratif. Data
aktivitas nonbudgeter harus dilaporkan dengan basis yang
sama.
Pernyataan tujuan yang akan dicapai dengan program
anggaran utama (sebagai contoh peningkatan indikator sosial
yang relevan) harus disediakan.
Saldo keseluruhan pemerintah harus bisa menjadi standar
ringkasan indikator posisi fiskal pemerintah. Hal itu harus
ditambahkan, jika sesuai, dengan indikator fiskal lainnya pada
pemerintah (sebagai contoh saldo operasional, saldo
struktural, atau saldo utama).
Saldo sektor publik harus dilaporkan ketika lembaga publik
nonpemerintah melakukan aktivitas quasi-fiskal yang
signifikan.
Prosedur-prosedur untuk melaksanakan dan mengawasi belanja
yang telah disetujui serta merealisasikan pendapatan harus
ditetapkan denga jelas

Harus ada sistem akuntansi yang menyeluruh dan


terintegrasi yang menyediakan dasar yang dapat dipercaya
untuk menghitung pembayaran tunggakan.
Pengadaan dan regulasi pegawai harus distandarisasi dan
mudah dijangkau oleh semua pihak.
Pelaksanaan anggaran harus telah diperiksa oleh pihak
internal, dan prosedur pemeriksaan harus terbuka untuk
direviu.
Administrasi pajak nasional harus dilindungi undang-undang
dari kepentingan politik dan harus melaporkan secara teratur

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

atas aktivitas-aktivitas yang dilakukannya.


4.

4.

Harus dilakukan pelaporan fiskal secara teratur kepada legislatif


dan kepada publik.

Laporan tengah tahunan anggaran harus diserahkan kepada


legislatif. Laporan yang lebih sering (paling tidak triwulan)
juga harus dipublikasikan.

Laporan Keuangan akhir tahun harus disajikan kepada


legislatif dalam satu tahun setelah tahun anggaran fiskal
berakhir.

Hasil yang dicapai berdasarkan program anggaran utama


harus dilaporkan kepada legislatif secara tahunan.

Jaminan integritas
1.

Data Fiskal Harus Memenuhi Standar Kualitas Data yang


Diterima umum

2.

Data anggaran harus mencerminkan tren pendapatan dan


belanja tahun berjalan, perkembangan makroekonomi yang
mendasarinya, dan kebijakan komitmen yang ditetapkan
dengan baik.
Anggaran tahunan dan Laporan Keuangan akhir tahun harus
mengindikasikan basis akuntansi (sebagai contoh kas atau
akrual) dan standar yang digunakan dalam penggabungan
dan penyajian data anggaran.
Harus ada jaminan yang spesifik atas kualitas data fiskal.
Khususnya, harus ada indikasi apakah data dalam laporan
keuangan secara internal telah konsisten dan telah
direkonsiliasi dengan sumber data yang lain.

Informasi fiskal harus diperiksa oleh pemeriksa independen.


Badan pemeriksa nasional atau organisasi yang setara, yang
independen dan pihak eksekutif, harus menyediakan laporan
atas integritas keuangan dalam pertanggungjawaban
pemerintah kepada legislatif dan masyarakat dengan tepat
waktu.

Tenaga ahli independen harus disertakan dalam penilaian


perkiraan fiskal dan makroekonomi yang ndasarinya, serta
semua asumsi yang digunakan.

Lembaga statistik nasional harus diberikan independensi


institusional untuk memferifikasi kualitas data fiskal.

Keterangan:
* Diisi dengan tanda () apabila kondisi sudah sesuai dengan kriteria dan tanda (x) apabila kondisi tidak sesuai
dengan kriteria.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

(JUDUL COVER SAMPING)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP/LKKL

Lampiran 3.21

(COVER BELAKANG)

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
(Alamat Tempat Kedudukan Kantor)

Litbang Pemeriksaan

Telp.Ext
Fax..
e-mail .

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 3.22

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.22

Penjelasan atas flowchart:


1. Pembatasan lingkup
Pembatasan terhadap lingkup audit terdiri atas:
a. Pembatasan oleh auditee.
Hal ini terjadi karena auditee benar-benar tidak memberikan data/informasi yang dibutuhkan. Hal ini juga didukung oleh buktibukti secara tertulis dan disadari oleh kedua belah pihak.
b. Pembatasan oleh keadaan (keterbatasan waktu, dana, dll).
Hal ini terjadi pada saat auditor tidak mampu meyakini diri mereka sendiri terhadap kewajaran LK dengan keterbatasan yang di
luar kontrol pihak auditor maupun auditee.
2. Materialitas
Tingkat materialitas diukur terhadap:
a. Suatu akun tertentu tetapi tidak terhadap LK secara keseluruhan.
Tingkat materialitas terhadap suatu akun hanya mempunyai konsekuensi maksimal pengecualian terhadap akun tertentu
tersebut (apabila tidak dilakukan koreksi). Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh terhadap penyajian LK secara keseluruhan.
b. Suatu akun dan terhadap LK secara keseluruhan.
Tingkat materialitas ini dapat menghasilkan pendapat tidak wajar (tingkat maksimal, apabila tidak dapat dilakukan koreksi).
3. SPI yang memadai
Pengukuran tingkat pengendalian intern dilakukan dengan membandingkan tingkat kesesuaian peng-aplikasi-an penyusunan dan
pelaporan LK dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara dan Standar Pemeriksaan Akuntan
Publik (dalam hal-hal yang menjadi referensi SPKN).
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a. Pengukuran kuantitas tertentu.
Keadaan ini dapat dihitungkan dengan persentase tertentu, misalnya dengan persentase atas sampling jumlah BAST yang
diotorisasi oleh pihak yang berwenang.
b. Pengukuran kualitas yang memerlukan judgement.
Tingkat pengendalian ini misalnya terjadi pada tingkat kompetensi personil pelaksana.
4. Kesesuaian dengan SAP
Tingkat kesesuaian terhadap SAP dilakukan dengan memahami laporan-laporan yang wajib disusun dan volunteer (pilihan).
5. Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penentuan opini:
a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan
b. Efektivitas pengendalian intern
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

6.

7.

8.

9.

10.

Lampiran 3.22

c. Kepatuhan terhadap ketentuan per-UU


d. Pengungkapan yang memadai
Unqualified opinion (Pendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian) diberikan dengan kondisi:
a. Keempat kriteria yang menjadi kriteria dalam penentuan opini dapat dipenuhi.
b. Semua koreksi yang dapat mempengaruhi kewajaran penyajian LK sudah dilakukan oleh auditee.
c. Dapat melakukan review atas auditor lain yang melaksanakan pemeriksaan atas LK entitas lain yang menjadi bagian LK yang
kita periksa. Atau, tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain tersebut, tetapi dapat meyakini bahwa bagian tersebut tidak
material terhadap LK yang kita diperiksa.
Unqualified opinion with modified wording (Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan paragraf penjelasan)
a. Keempat kriteria kecuali pembatasan lingkup audit telah dipenuhi.
b. Terdapat koreksi material yang tidak dilaksanakan oleh auditee.
c. Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian dari LK yang kita
periksa, akan tetapi jumlahnya material (bukan tidak material, dan bukan sangat material).
Qualified opinion (Pendapat Wajar Dengan Pengecualian)
a. Pembatasan lingkup audit atas beberapa akun yang cukup material (bukan tidak material dan bukan sangat material).
b. Tidak semua koreksi telah dilakukan oleh auditee.
c. Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian dari LK yang kita
periksa, akan tetapi jumlahnya sangat material.
Adverse opinion (Pendapat Tidak Wajar)
Pada dasarnya, Pendapat Tidak Wajar diberikan apabila auditor dapat meyakini bahwa penyajian LK tidak wajar, dengan kondisikondisi:
a. Terdapat 2 kriteria yang tidak dipenuhi, yaitu kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dan Konsistensi
pelaksanaan SAP.
b. Terdapat koreksi yang sangat material yang tidak dilaksanakan oleh auditee.
Disclaimer
Pendapat Tidak Memberi Pendapat diberikan pada saat auditor tidak dapat menyimpulkan bahwa penyajian LK wajar atau tidak wajar,
dengan kondisi-kondisi:
a. Keempat kriteria tersebut tidak dilaksanakan.
b. Terdapat pembatasan lingkup audit atas akun-akun yang sangat material terhadap penyajian LK.
c. Prosedur alternatif untuk meyakini kewajaran penyajian LK tidak dapat dilaksanakan.
d. Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian dari LK yang kita
periksa, akan tetapi jumlahnya sangat material.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

(warna cover Laporan biru dan dapat diberikan gambar-gambar yang tidak dominan yang relevan dengan warna huruf putih)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN ATAS KEPATUHAN


DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN (NAMA ENTITAS)
UNTUK TAHUN ANGGARAN 200X

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA ...

Nomor
Tanggal

Litbang Pemeriksaan

:
:

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.
RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN...
TEMUAN PEMERIKSAAN KEPATUHAN
1. (Judul Temuan)..
2. (Judul Temuan)..
TANGGAPAN ENTITAS ATAS LAPORAN ATAS KEPATUHAN........

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

HALAMAN
...

...

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN
Berdasarkan ........ (diisi dengan UU/peraturan perundang-undangan lain yang paling spesifik menyatakan LKPP/LKKL
harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (Nama entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab (Nama entitas) . Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan
pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
Ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku merupakan tanggung jawab (Nama
Entitas). Sebagai bagian dalam perolehan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari
salah saji material, BPK RI melakukan pengujian kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan,
kecurangan serta ketidakpatuhan yang berkaitan dengan pelaporan keuangan. Namun pemeriksaan yang BPK RI
lakukan tidak dirancang khusus untuk menemukan ketidakpatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan,
dan BPK RI tidak mengeluarkan opini atas laporan kepatuhan. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
mngharuskan BPK RI untuk melaporkan kepada pihak berwenang yang terkait apabila terjadi ketidakpatuhan terhadap
paraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan, apabila dalam melakukan pemeriksaan atas laporan
keuangan menemukan hal-hal tersebut.
Atas pemeriksaan tersebut, BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas Laporan Keuangan
(Nama entitas) tahun 200X yang memuat opini (opini yang diberikan) dengan nomor(nomor LHP yang memuat
opini), tanggal.(tanggal LHP) dan Laporan atas Pengendalian Intern dalam kerangka pemeriksaan laporan Laporan
Keuangan (Nama entitas) dengan nomor.(nomor Laporan) tanggal(tanggal Laporan)
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan (Nama entitas) tersebut dilakukan berdasarkan pada Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI. Standar tersebut mengharuskan BPK RI untuk
merencanakan, mengumpulkan bukti yang cukup dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan yang
memadai sebagai standar untuk memebrikan pendapat. Standar tersebut juga mengharuskan BPK RI untuk
mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundag-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan dalam
pelaporan keuangan.
Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundan-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan dalam
pelaporan keuangan yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1.

2.

3.

4.

.dsb

Berdasarkan temuan tersebut, BPK RI menyarankan (Kepala Negara/Menteri/pPmpinan lembaga) agar:


1.

2.

3.

4.

.dsb

Secara lebih rinci akan dijelaskan pada bagian Temuan Pemeriksaan atas Kepatuhan.
.(tempat, Tanggal Laporan)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan,
..Ak
Akuntan, Register Negara No
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

TEMUAN KEPATUHAN
1. (nama temuan)
(KONDISI)
(KRITERIA)
(SEBAB)
(AKIBAT)
(SARAN)

2. (nama temuan)
(KONDISI)
(KRITERIA)
(SEBAB)
(AKIBAT)
(SARAN)
3. dsb

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

TANGGAPAN ENTITAS ATAS LAPORAN ATAS KEPATUHAN

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

(JUDUL COVER SAMPING)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.23

(COVER BELAKANG)

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
(Alamat Tempat Kedudukan Kantor)

Litbang Pemeriksaan

Telp.Ext
Fax..
e-mail .

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

(warna cover Laporan biru dan dapat diberikan gambar-gambar yang tidak dominan yang relevan dengan warna huruf putih)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN


DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN
(NAMA ENTITAS)
UNTUK TAHUN ANGGARAN 20XX

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA .....

Nomor
:
Tanggal :

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....
RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN
GAMBARAN UMUM PENGENDALIAN INTERN DALAM SISTEM
AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN .......
TEMUAN PEMERIKSAAN ..............................................
1. (judul temuan) ..
2. (judul temuan) ..
3. (judul temuan) ..
TANGGAPAN
ENTITAS
ATAS
LAPORAN
ATAS
PENGENDALIAN INTERN

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Halaman
...

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN


Berdasarkan ........ (diisi dengan UU/peraturan perundang-undangan lain yang paling spesifik
menyatakan LKPP/LKKL harus diperiksa oleh BPK) BPK RI telah memeriksa Neraca (Nama
entitas) per 31 Desember 20XX, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab (Nama entitas) . Tanggung jawab BPK RI adalah pada
pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
Atas pemeriksaan tersebut, BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan
atas Laporan Keuangan (Nama entitas) tahun 200X yang memuat opini (opini yang
diberikan) dengan nomor(nomor LHP yang memuat opini), tanggal.(tanggal LHP) dan
Laporan atas Kepatuhan dengan nomor.(nomor Laporan) tanggal(tanggal Laporan)
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan (nama entitas) tersebut dilakukan berdasarkan pada
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI. Standar
tersebut mengharuskan BPK RI untuk merencanaan, mengumpulkan bukti yang cukup dan
melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan yang memadai sebagai standar
untuk memberikan pendapat. Standar tersebut juga mengharuskan BPK RI untuk
mengungkapkan kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas pelaporan keuangan.
Kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan (nama entitas) yang
ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. .
2. .
3. .dsb
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut,
Negara/Menteri/Pimpinanan Lembaga) agar:

BPK

RI

menyarankan

(Kepala

1. .
2. .
3. .dsb
Secara lebih rinci akan dijelaskan pada bagian Temuan Pemeriksaan Sistem Pengendalian
Intern.
.(tempat, Tanggal Laporan)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab
Pemeriksaan,

..Ak
Akuntan, Register Negara No.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

GAMBARAN UMUM PENGENDALIAN INTERN ENTITAS YANG DIPERIKSA

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

TEMUAN PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN


1. (judul temuan)
(kondisi).
(Kriteria)
(Sebab).
(Akibat)..
(Saran)..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

TANGGAPAN ENTITAS ATAS LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

(JUDUL COVER SAMPING)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.24

(COVER BELAKANG)

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
(Alamat Tempat Kedudukan Kantor)

Litbang Pemeriksaan

Telp.Ext
Fax..
e-mail .

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.25

CONTOH TEMUAN PEMERIKSAAN YANG MEMPENGARUHI KEWAJARAN PENYAJIAN


LAPORAN KEUANGAN
Temuan pemeriksaan yang dapat dikelompokan sebagai temuan yang mempengaruhi kewajaran
laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Bukti tidak lengkap dan atau tidak valid, misalnya: (a) Terdapat pengeluaran yang tidak
didukung dengan bukti-bukti yang sah dan memenuhi syarat sahnya suatu pengeluaran atau
mungkin hanya didukung oleh bukti yang diciptakan secara intern; (b) Terjadi pengeluaran yang
menjadi beban belanja tidak tersangka tapi tidak diberitahukan ke DPR; (c) Terdapat SPI yang
belum diverifikasi sampai dengan berakhirnya pekerjaan lapangan; (d) Realisasi anggaran
melebihi anggaran tanpa persetujuan DPR (bukan darurat) jika darurat boleh melebihi anggaran
(Pasal 28 UU No.17 thn 2003).
2. Pencatatan tidak dilakukan secara bruto, kondisi yang mungkin terjadi antara lain :
(a) Terdapat penerimaaan yang dipergunakan secara langsung sehingga tidak tercatat sebagai
pendapatan pusat dan sekaligus juga tidak tercatat sebagai pengeluaran/belanja. Pada kondisi
ini bukti pembukuan telah dibuat secara netto (tidak menganut asas bruto); (b) Terdapat
pemerimaan yang secara langsung dikeluarkan dengan pengeluarannya dan diungkapkan dalam
bukti pembukuan dan dicatat hanya jumlah nettonya saja. Apabila koreksi maka belanja melebihi
anggaranya; (c) Kondisi-kondisi tersebut memungkinkan bahwa: jumlah yang diterima lebih dari
yang dikeluarkan, jumlah yang dikeluarkan lebih dari yang diterima, jumlah yang diterima sama
dengan jumlah yang keluar sehingga tidak ada transaksi yang tercatat; (d) Afektasi (akun yang
dituju) bukti pembukuan secara materiil tidak tepat, kondisi yang terjadi antara lain terdapat
pengeluaran yang tidak dianggarkan kemudian ditampung dalam suatu akun yang tepat seperti
akun bantuan sosial. Dengan demikian akun tersebut digunakan untuk pengeluaran yang tidak
sesuai dengan peruntukkannya (tidak informatif)

CONTOH TEMUAN PEMERIKSAAN YANG TIDAK MEMPENGARUHI KEWAJARAN PENYAJIAN


LAPORAN KEUANGAN
Temuan pemeriksaan yang dapat dikelompokan sebagai temuan yang tidak mempengaruhi
kewajaran laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Hal-hal yang berkaitan dengan ketaatan terhadap kriteria, misalnya antara lain:
(a) Pengguanaan dana cadangan tidak sesuai peruntukan penggunaan dana cadangan yang
ditetapkan; (b) Penerbitan dan atau pencairan SPM atas beban Tahun Anggaran belanja pada
tahun anggran tahun berikutnya; (c) Anggaran yang telah di PP kan disusun tidak sesuai dengan
prinsip akuntansi, misalnya:
Dianggarkan perjalanan pergi haji pejabat negara dalam akun belanja barang walaupun
secara materiil afektasi belanja pada anggaran tidak benar secara formalafektasinya pada
bukti SPM telah sesuai dengan anggaran
Pengguanaan akun terbuka (contohnya belanja tidak tersangka) untuk pengeluaran yang
tidak memenuhi kriteria tidak tersangka tetapi telah diberitahukan ke DPR
(d) Lampiran laporan keuangan tidak lengkap atau tidak valid
2. Hal-hal yang berpotensi menjadi indikasi kerugian negara, misalnya antara lain :
(a) Penerbitan dan atau pencairan SPM untuk proyek pada tahun anggaran berjalan yang belum
selesai sampai dengan akhir tahun anggaran berjalan, sehingga terjadi pelanggaran terhadap
kontrak atau perjanjian; (b) Terdapat penanaman berupa saham dari suatu perusahaan yang
tidak listing di pasar modal sehingga risiko kerugian investasi cukup potensial; (d) Terdapat
transfer ke rekening diluar rekening negara, tanpa adanya transaksi yang wajar dalam periode
berjalan yang pada tanggal neraca tidak mempengaruhi saldo; (e) Terdapat pengeluaran untuk
penempatan dana antara lain deposito, penanaman pada BUMN atau perusahaan yang tidak
didukung dengan bukti kepemilikan berupa saham, sehingga seolah-olah akan menjadi
pengeluaran biasa; (f) Terdapat perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga yang ternyata
merugikan pemerintah; (g) Terdapat pajak-pajak yang harus dipungut dan disetor ke kas negara
oleh pemegang kas, namun tidak dipungut.
Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.25

3. Hal-hal yang berpotensi pada kekurangan penerimaan, misalnya antara lain:


(a) Potensi pendapatan pada tahun anggaran berjalan yang mempengaruhi anggaran tahun
anggaran berikutnya, yang mencakup : (1) Terdapat potensi pendapatan yang mungkin
dapat diterima pada tahun anggaran berikutnya, misalnya: Denda atas keterlambatan
pekerjaan/pengadaan barang belum ditetapkan, Tuntutan perbendaharaan kepada
pemegang kas dan TGR kepada pihak ketiga belum diselesaikan pelunasannya; (2) Terdapat
potensi pendapatan yang belum diterima pada tahun anggaran berjalan, misalnya: Denda
yang belum dipungut, Piutang yang telah jatuh tempo namun belum diterima, TP/TGR yang
sudah jatuh tempo namun belum diterima.
(b) Potensi pendapatan yang hilang karena Sistem Akuntansi Pengangaran yang berbeda
sesuai misalnya: (1) Sampai dengan akhir tahun anggaran penerimaan/ pendapatan tidak
dan atau belum diterima seluruhnya dan kekurangan ini tidak dianggarkan dalam APBN
tahun anggaran berikutnya.
4. Hal-hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya antara lain: (a) Terjadi pekerjaan
yang mendahului sumber pembiayaannya (full financing), (b)Terdapat transfer antar rekening
negara tanpa otorisasi dalam periode tahun berjalan, tidak dicatat dan tidak mempengaruhi saldo
laporan keuangan pusat.
5. Hal-hal yang bersifat menambah kualitas informasi laporan keuangan pusat, misalnya:
(a) Terdapat potensi pengeluaran yang pasti (probable) tetapi belum terjadi dan tidak
dianggarkan dan atau jika dicatat akan melebihi anggaran. Contoh potensi pengeluaran yang
pasti (probable) adalah: (1) Upah pungut yang belum dibayarkan karena anggaran yang habis
sebagai implikasi peningkatan pendapatan (hubungannya dengan dependent account), (2) Janji
untuk membiayai/rekondisi atas status darurat yang belum terealisasi sampai dengan akhir tahun
anggaran berjalan (misalnya menangguang biaya pengobatan korban pengeboman); (b)
Terdapat penyetoran bagian laba dari BUMN/Perusahaan Negara yang rugi.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK K/L

Lampiran 3.26

RISALAH PEMBAHASAN KONSEP LHP


Auditorat Utama Keuangan Negara
Auditorat
Program Pemeriksaan
Entitas yang diperiksa
T.A./Buku yang diperiksa
Waktu Pemeriksaan
No
1
1

TEMUAN PEMERIKSAAN
2

SARAN YANG DIUSULKAN


3

KEPUTUSAN HASIL DISKUSI


4

2
Tanggal
Tanda Tangan Ketua Tim
Nama Ketua Tim
KHP diselesaikan dalam waktu
Tanggal
Tanda Tangan Penanggung jawab
Nama Penanggung Jawab

.. hari

Keterangan :
Kolom (2) diisi dengan judul dari
a. Koreksi pembukuan
b. Catatan pemeriksaan
- Wajar dengan LKPP (atau LK Kementerian/Lembaga)
- Tidak wajar dengan LKPP (atau LK Kementerian/Lembaga)
Kolom (3) diisi hanya untuk catatan pemeriksaan yang tidak mempengaruhi kewajaran LKPP (atau LK Kementerian/Lembaga)

Konsep Final

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KNL

Lampiran 3.27

[Kop Pemerintah Pusat]


Nomor

Lampiran

Perihal

Jakarta,
Surat Representasi Manajemen

200X

Kepada
Yth. Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan
Jl. ..
Jakarta/..

Kami memberikan surat representasi ini sehubungan dengan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (atau Laporan Keuangan Kementrian Negara/Lembaga) ........... Tahun 200X, yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 200X, Laporan Arus Kas (hanya untuk LKPP), Neraca per 31 Desember
200X, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Kami menegaskan bahwa kami bertanggungjawab atas penyusunan dan penyajian
laporan keuangan tersebut sesuai dengan Standar Akuntanasi Pemerintahan (SAP).
Representasi surat ini diberikan terbatas pada hal-hal yang material. Sesuatu dipandang material, tanpa melihat besarnya, namun
juga menyangkut salah saji informasi akuntansi yang mempengaruhi pertimbangan wajar pengguna laporan keuangan, yang
mengandalkan kepercayaan pada informasi laporan keuangan dimaksud.
Kami menegaskan bahwa berdasarkan keyakinan dan pengetahuan kami yang terbaik, representasi berikut ini telah kami buat
kepada Tim BPK RI selama pemeriksaan :
1.

Laporan keuangan yang disebut di atas telah kami disajikan sesuai dengan SAP.

2.

Kami telah menyediakan semua data material dan informasi yang diperlukan kepada Tim BPK-RI.

3.

Semua transaksi yang material sudah dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan.

4.

Semua rekening atas nama pejabat terkait dengan jabatannya dalam pemerintahan sudah dicatat atau diungkapkan dalam
laporan keuangan.

5.

[Pemerintah Pusat] memiliki hak penuh atas aset yang dimiliki, dan tidak terdapat gadai atau penjaminan atas aset tersebut.

6.

Sampai dengan saat ini kami tidak mengetahui adanya tindakan pelanggaran terhadap hukum dan peraturan yang dampaknya
perlu diungkapkan dalam laporan keuangan.

7.

Semua kewajiban material sudah dicatat atau diungkapkan dalam laporan keuangan.

8.

Tidak terdapat tagihan yang belum dinyatakan dan harus dinyatakan tetapi belum diungkapkan.

9.

[Pemerintah Pusat] telah mematuhi semua aspek perjanjian kontrak yang akan mempunyai dampak material terhadap laporan
keuangan jika terjadi pelanggaran.

10. Tidak terdapat peristiwa atau transaksi material yang terjadi setelah tanggal 31 Desember 200X yang belum dicatat dan
diungkapkan dalam catatan laporan keuangan.
11. Tidak terdapat kecurangan material (kesalahan disengaja, penghilangan jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan
dan penyalahgunaan aset yang dapat berdampak material terhadap laporan keuangan) dan kecurangan lain yang melibatkan
pimpinan atau pegawai yang memiliki peran penting dalam pengendalian intern.
12. Kami bertanggungjawab untuk menyelenggarakan dan memelihara sistem pengendalian intern.
13. Kami telah menilai efektifitas sistem pengendalian intern dalam hal :
a.

Keandalan pelaporan keuangan: transaksi-transaksi telah dicatat, diproses, dan diringkas secara memadai untuk
memungkinkan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan aset telah
dilindungi dari kehilangan yang disebabkan oleh pengambilalihan, penggunaan atau pelepasan hak yang tidak sah.

b.

Ketaatan pada peraturan yang berlaku: transaksi-transaksi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang
berdampak langsung dan material terhadap laporan keuangan.

14. Kami telah menyampaikan semua kelemahan seginifikan yang ada pada perancangan dan pelaksanaan pengendalian intern
yang dapat berdampak negatif terhadap kemampuan [Pemerintah Pusat ....] dalam mencapai tujuan pengendalian intern dan
mengindikasikan kelemahan-kelemahan yang material.
15. Kami bertanggungjawab atas penyelenggaraan sistem pengelolaan keuangan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
tentang keuangan negara dan SAP.
16. Kami telah mengidentifikasi dan mengungkapkan semua pertauran dan undang-undang yang berdampak langsung dan
material terhadap penentuan jumlah dalam laporan keuangan.
17. Kami telah menyampaikan semua kejadian ketidakpatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Demikian surat representasi ini dibuat sebagai penjelasan atas hasil pemeriksaan BPK-RI atas laporan Keuangan
[Pemerintah Pusat .....].
[Nama Pemerintah Pusat]
[Menteri Keuangan, untuk LKPP atau Menteri/Pimpinan Lembaga,
untuk LK kementrian Negara/Lembagaa]
[Nama Menteri Keuangan atau Menteri/Pimpinan Lembaga]

Konsep Final

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 3.28

JADWAL PEMERIKSAAN DAN PELAPORAN LKPP DAN LKKL

No.
1

KEGIATAN

JAN
I

II

III

FEB
IV

II

III

MARET
IV

II

Pemeriksaan Interim LKPP


Pemeriksaan Interim LKKL

Pemeriksaan LKKL yang menghasilkan TP LKKL

Penyusunan konsep LHP LKKL dan pembahasan


dengan pejabat entitas yang diperiksa.

Pemeriksaan LKPP yang menghasilkan TP LKPP

Pembahasan/Rekonsiliasi Tripartit (hosted by


Depkeu)
Penyusunan konsep LHP LKPP yang merupakan
konsolidasian dengan LHP LK KL
Penyusunan konsep LHP LKPP konsolidasian +
Pos Non Konsolidasian; tanggapan
Finalisasi dan pencetakan LHP LKPP & LHP LKKL

Penyampaian LHP LKPP dan LKKL

6
7

Keterangan:
LKKL diterima BPK paling lambat akhir Februari
LKPP diterima BPK paling lambat akhir Maret

Ltbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

III

APRIL
IV

II

III

MEI
IV

II

III

IV

KETERANGAN

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 4.1

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Review Sheet Ketua Tim

No

Indeks KKP

Risalah Hasil Pembahasan

Tindak Lanjut/Tanggal

,..,20
Ketua Tim

NIP..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 4.1

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Review Sheet Pengendali Teknis

No

Indeks KKP

Risalah Hasil Pembahasan

Tindak Lanjut/Tanggal

,..,20
Pengendali Teknis

NIP..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 4.1

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Review Sheet Penanggung Jawab

No

Indeks KKP

Risalah Hasil Pembahasan

Tindak Lanjut/Tanggal

,..,20
Penanggung Jawab

NIP..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 4.2

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

LAPORAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN


Kriteria Penilaian Laporan Perkembangan
Pelaksanaan Pemeriksaan

No

Kesesuaian dengan tujuan dan harapan


penugasan serta program pemeriksaan
Sudah Sesuai

PERENCANAAN PEMERIKSAAN

Pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan


penugasan

Pemenuhan kebutuhan pemeriksa

3
4

Pemahaman atas entitas


Pemantauan tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan
atas LKPP dan atau LKKL sebelumnya

Pemahaman sistem pengendalian intern

Pemahaman dan penilaian risiko

Penentuan materialitas dan kesalahan tertolerir

Penentuan metode uji petik

Pelaksanaan prosedur analitis awal dan

10

Penyusunan program pemeriksaan dan penyusunan


program kerja perorangan
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

Pelaksanaan Pengujian Analitis Terinci

Pengujian Sistem Pengendalian Intern

Pengujian Substansi Transaksi dan Saldo

Penyelesaian Penugasan

Konsep Final

Badan Pemeriksa Keuangan

Belum Sesuai

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 4.2

Penyusunan Ikhtisar Koreksi

Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan

Pembahasan Konsep Temuan Pemeriksaan dengan


Pejabat Pemerintah Pusat yang Berwenang

Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis

Penyampaian Temuan Pemeriksaan


PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

1
2
3
4
5
6

Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan


Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
dengan Penaggung Jawab
Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
dengan Pemerintah Pusat
Pembahasan Konsep Hasil Pemeriksaan dengan
Pemerintah Pusat
Perolehan Surat Representasi atas Laporan
Keuangan dari Pemerintah Pusat
Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian
Laporan Hasil Pemeriksaan

Keterangan:
Kolom kesesuaian dengan tujuan dan harapan penugasan serta program pemeriksaan diisi
dengan membubuhkan tick mark () pada kolom yang tepat.

.,.,20..
Penanggung Jawab
di

NIP..

Konsep Final

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 4.3

LEMBAR KENDALI PENYELESAIAN LAPORAN

Tanggal pemeriksaan dimulai


Tanggal pemeriksaan selesai
Tanggal TP ditandatangani
Tanggal pembahasan TP selesai

Nama Entitas
:
Semester
:
Tahun Anggaran :

1.
2.
3.

Ketua Tim
Pengendali Teknis
Penanggungjawab

Penanggungjawab
Pengendali Teknis
Ketua Tim

Pengendali Teknis

Tanggal Aktual

Deadline

Penyelesaian
Laporan oleh

No

:
:
:
:

1*

2*

3*

4*

5*

6*

7*

20/4
22/4
25/4

27/4
29/4
2/5

4/5
6/5
9/5

4/5
6/5
9/5

11/5
13/5
16/5

19/5
21/5
24/5

26/5
28/5
31/5

1*

2*

3*

4*

5*

6*

7*

Rekapitulasi
jumlah hari
penyelesaian KHP

:
:
:

Penanggungjawab : ..

.., , 20.
Penanggung Jawab
di Jakarta

NIP

Konsep Final

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Keterangan :

Konsep Final

Lampiran 4.3

Kolom pada tanggal aktual diisi tanggal aktual penyelesaian supervisi dan koreksi dari tiap kegiatan berikut:
1.
TP seluruh LKKL
2.
Pembahasan konsep LHP LKKL dengan pejabat entitas yang diperiksa
3.
LHP atas seluruh pemeriksaan LKKL
4.
TP atas LKPP (sebelum konsolidasian)
5.
Konsolidasian atas seluruh LHP LKKL dan konsep LHP LKPP
6.
Pembahasan konsep LHP LKPP (konsolidasian)
7.
LHP atas LKPP konsolidasian.

Tiap kolom harus berisi satu tanggal.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 6

Indeks KKP No.:


Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat ....... Tahun ......

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Penyusun/Tgl:

Pereviu/ Tgl:

PELAPORAN PEMANTAUAN TINDAK LANJUT


LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LKPP TAHUN .

No.

Konsep Final

Rekomendasi BPK-RI

Monitoring Tindak Lanjut


Belum
Selesai
Selesai
Belum
Sesuai
Sesuai
Ditindaklanjuti
Rekomendasi
Rekomendasi

Badan Pemeriksa Keuangan

Alasan

Pengaruh terhadap
LKPP yang diperiksa

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 6

Indeks KKP No.:


Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat ....... Tahun ......

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Penyusun/Tgl:

Pereviu/ Tgl:

PELAPORAN PEMANTAUAN TINDAK LANJUT


LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA TAHUN .

No.

Konsep Final

Rekomendasi BPK-RI

Monitoring Tindak Lanjut


Belum
Selesai
Selesai
Belum
Sesuai
Ditindaklanjuti
Sesuai
Rekomendasi
Rekomendasi

Badan Pemeriksa Keuangan

Alasan

Pengaruh terhadap LK
Kementerian
Negara/Lembaga yang
diperiksa

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 7.1

Indeks KKP
Dep/lemb
Disusun oleh
Tanggal

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI


LEAD SCHEDULE

Referensi

Uraian

Indeks KKP

Unaudited (Rp)

Koreksi
Debet (Rp)

Kredit (Rp)

Debet (Rp)

Audited tahun
lalu (Rp)

Audited (Rp)

Reklasifikasi

Variance

Kredit (Rp)

Rp
-

Total

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 7.1

Keterangan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 7.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI


SUB LEAD SCHEDULE

Referensi

Uraian

Indeks KKP

Unaudited
(Rp)

Indeks
KKP

Koreksi
Kredit
(Rp)

Debet (Rp)

Litbang Pemeriksaan

Indeks
KKP

Reklasifikasi
Audited (Rp)
Debet (Rp)

Kredit
(Rp)

Variance
Keterangan
Rp

#DIV/0!

#DIV/0!

#DIV/0!

#DIV/0!

Badan Pemeriksa Keuangan

Audited
tahun lalu
(Rp)

Juknis Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.3

Indeks KKP No.:


Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah ....... Tahun ......

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

I.

Definisi

II. Tujuan

III. Langkah Pemeriksaan

IV. Hasil Pemeriksaan

V. Kesimpulan

Konsep Final

Badan Pemeriksa Keuangan

Penyusun/Tgl:

Pereviu/ Tgl:

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 7.4

DAFTAR INDEKS KKP


I.
1.

2.

Index KKP permanent file dan current file dilakukan dengan index sebagai berikut :
Permanent File
a. Peraturan-peraturan umum
b. Struktur organisasi
Current File
a. Surat Tugas
b. Program Pemeriksaan
c. Laporan Keuangan Unaudited
d. Lembaran Temuan Pemeriksaan
e. Hasil Pemeriksaan
f. Korespondensi
g. Jadwal Pemeriksaan (khusus untuk Dephankam, TNI, Polri)

PF1
PF2
CF1
CF2
CF3
CF4
CF5
CF6
CF7

II. Index KKP untuk setiap akun LRA, Neraca dan Laporan Arus Kas untuk LKPP maupun LKKL
dilakukan dengan index sebagi berikut :
LAPORAN REALISASI APBN
A. Pendapatan Negara dan Hibah
I. Penerimaan Perpajakan
1. Pajak Dalam Negeri
2. Pajak Perdagangan Internasional
II. Penerimaan Negara Bukan Pajak
1. Penerimaan Sumber Daya Alam
2. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN
3. Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya
III. Penerimaan Hibah
B. Belanja Negara
I. Belanja Pemerintah Pusat
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang
3. Belanja Modal
4. Pembayaran Bunga Utang
5. Subsidi
6. Bantuan Sosial
7. Belanja Lain-lain
II. Belanja untuk Daerah
1. Dana Perimbangan
a. Dana Bagi Hasil
b. Dana Alokasi Umum
c. Dana Alokasi Khusus
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
a. Dana Otonomi Khusus
b. Dana Penyesuaian
III. Suspen
C. Surplus (Defisit) Anggaran (A - B)
D. Pembiayaan
I. Pembiayaan Dalam Negeri
1. Perbankan Dalam Negeri
2. Non Perbankan Dalam Negeri
II. Pembiayaan Luar Negeri (Neto)
1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri (Bruto)
a. Penarikan Pinjaman Program
b. Penarikan Pinjaman Proyek
2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri
E. Sisa Lebih (Kurang )Pembiayaan Anggaran-SILPA (SIKPA ) (D+C)

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

B.2.1
B.2.1.1
B.2.1.1.1
B.2.1.1.2
B.2.1.2
B.2.1.2.1
B.2.1.2.2
B.2.1.2.3
B.2.1.3
B.2.2
B.2.2.1
B.2.2.1.1
B.2.2.1.2
B.2.2.1.3
B.2.2.1.4
B.2.2.1.5
B.2.2.1.6
B.2.2.1.7
B.2.2.2
B.2.2.2.1
B.2.2.2.1.1
B.2.2.2.1.2
B.2.2.2.1.3
B.2.2.2.2
B.2.2.2.2.1
B.2.2.2.2.2
B.2.2.3
B.2.3
B.2.4
B.2.4.1
B.2.4.1.1
B.2.4.1.2
B.2.4.2
B.2.4.2.1
B.2.4.2.1.1
B.2.4.2.1.2
B.2.4.2.2
B.2.5

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 7.4

C. NERACA
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank
Rekening Kas BUN di Bank Indonesia
Rekening Kas di KPPN
Rekening Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia
Kas di Bendahara Pengeluaran
Kas di Bendahara Penerimaan
Uang Muka dari Rekening BUN
Piutang
Piutang Pajak
Piutang Bukan Pajak
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi
Piutang Lain-lain
Persediaan
Investasi Jangka Panjang
Investasi Non Permanen
Rekening Dana Investasi/Rekening Pembangunan Daerah
Dana Bergulir
Investasi Non Permanen Lainnya
Investasi Permanen
Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah
Investasi Permanen Lainnya
Aset Tetap
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi Dalam Pengerjaan
Dana Cadangan
Dana Cadangan
Aset Lainnya
Tagihan Penjualan Angsuran
Tagihan Tuntutan Ganti Rugi
Kemitraan Dengan Pihak Ketiga
Dana yang Dibatasi Penggunaannya
Aset Tak Berwujud
Aset Lain-lain
KEWAJIBAN
Kewajiban Jangka Pendek
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Utang Bunga
Utang Jangka Pendek Lainnya
Kewajiban Jangka Panjang
Utang Jangka Panjang Dalam Negeri
Utang Jangka Panjang Dalam Negeri SUN
Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya
Utang Jangka Panjang Luar Negeri
Utang Jangka Panjang Luar Negeri Perbankan
Utang Jangka Panjang Luar Negeri Non Perbankan
Utang Jangka Panjang Luar Negeri SUN
Utang Jangka Panjang Luar Negeri Lainnya
EKUITAS DANA
Ekuitas Dana Lancar
SAL
SILPA (SIKPA)
Dana Lancar Lainnya
Cadangan Piutang
Cadangan Persediaan
Pendapatan yang Ditangguhkan
Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

C.2.1
C.2.2
C.2.3
C.2.4
C.2.5
C.2.6
C.2.7
C.2.8
C.2.9
C.2.10
C.2.11
C.2.12

C.2.13
C.2.14
C.2.15
C.2.16
C.2.17
C.2.18
C.2.18.1
C.2.18.2
C.2.18.3
C.2.18.4
C.2.18.5
C.2.18.6
C.2.19
C.2.20
C.2.20.1
C.2.20.2
C.2.20.3
C.2.20.4
C.2.20.5
C.2.20.6

C.2.21
C.2.22
C.2.23
C.2.24

C.2.25
C.2.26
C.2.27
C.2.28
C.2.29
C.2.30

C.2.31
C.2.32
C.2.33
C.2.34
C.2.35
C.2.36
C.2.37

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 7.4

Ekuitas Dana Investasi


Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang
Diinvestasikan dalam Aset Tetap
Diinvestasikan dalam Aset Lainnya
Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang
Ekuitas Dana Cadangan
Diinvestasikan dalam Dana Cadangan
EKUITAS DANA NETO
LAPORAN ARUS KAS
A. ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
I. Arus Kas Masuk
1. Penerimaan Perpajakan
a. Pajak Penghasilan
b. Pajak Pertambahan Nilai dan Penjualan Barang Mewah
c. Pajak Bumi dan Bangunan
d. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
e. Cukai
f. Bea Masuk
g. Pajak Ekspor
h. Pajak Lainnya
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
a. Penerimaan Sumber Daya Alam
b. Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN
c. Penerimaan PNBP Lainnya
3. Penerimaan Hibah
II. Arus Kas Keluar
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang dan Jasa
3. Bunga Utang
4. Subsidi
5. Bantuan Sosial
6. Belanja Lain-Lain
7. Bagi Hasil Pajak
8. Bagi Hasil Sumber Daya Alam
9. Dana Alokasi Umum
10. Dana Alokasi Khusus
11. Dana Otonomi Khusus
12. Dana Penyesuaian
B. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI ASET NON KEUANGANI. Arus Kas Masuk
1. Penjualan Aset
II. Arus Kas Keluar1. Belanja Aset Tetap
C. ARUS KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN
I. Arus Kas Masuk
1. Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri Perbankan
2. Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri Obligasi
3. Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri Lainnya
4. Penerimaan dari Divestasi
5. Penerimaan Pinjaman Luar Negeri
6. Penerimaan Pembiayaan Lain-lain
II. Arus Kas Keluar
1. Pembayaran Pembiayaan Dalam Negeri-Perbankan
2. Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri Obligasi
3. Pengeluaran Penyertaan Modal Pemerintah
4. Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara
5. Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
6. Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri
7. Pemberian Pinjaman kepada Swasta
D. ARUS KAS DARI AKTIVITAS NON ANGGARAN
I. Arus Kas Masuk
1. Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga
2. Kiriman Uang
3. Transito
II. Arus Kas Keluar
1. Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

C.2.38
C.2.39
C.2.40
C.2.41
C.2.42

D.2.1
D.2.1.1
D.2.1.2
D.2.1.3
D.2.1.4
D.2.1.5
D.2.1.6
D.2.1.7
D.2.1.8
D.2.2
D.2.2.1
D.2.2.2
D.2.2.3
D.2.3
D.2.4
D.2.5
D.2.6
D.2.7
D.2.8
D.2.9
D.2.10
D.2.11
D.2.12
D.2.13
D.2.14
D.2.15

D.2.16
D.2.17

D.2.18
D.2.19
D.2.20
D.2.21
D.2.22
D.2.23
D.2.24
D.2.25
D.2.26
D.2.27
D.2.28

D.2.29
D.2.30
D.2.31
D.2.32

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LKKL

Lampiran 7.4

SALDO AWAL KAS


SALDO AKHIR KAS
KAS DI BENDAHARA PENGELUARAN
KAS DI BENDAHARA PENERIMAAN
REKENING PEMERINTAH LAINNYA PADA BI
SALDO AKHIR KAS DAN BANK

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

D.2.33
D.2.34
D.2.35
D.2.36
D.2.37

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 7.5

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

BERITA ACARA SERAH TERIMA KKP ATAS PEMERIKSAAN


PROGRAM/KEGIATAN ............ PADA .............
TAHUN ANGGARAN ........
UNTUK PERIODE PEMERIKSAAN .............. S.D ...................

Pada hari ............ tanggal ............. kami menyerahkan berkas-berkas KKP yang sudah
diberi nomor kode indeks dan kami nyatakan sesuai standar.
Pihak yang menyerahkan :
Nama : _________________
NIP : _________________
Jabatan: Ketua Tim
Pihak yang menerima :
Nama : _________________
NIP : _________________
Jabatan: Kepala Sub Auditorat .......................

Pihak yang Menerima

Pihak yang Menyerahkan

_________________
NIP.

__________________
NIP.

Draft 3

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

CHECKLIST
PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU PEMERIKSAAN

Penanggung Jawab
Pengendali Teknis
Ketua Tim Pemeriksaam
Ketua Sub Tim pemeriksaan (jika ada)
Entitas yang diperiksa
Laporan Keuangan Akhir Tahun Entitas
Tahap penyelesaian
Tanggal mulai reviu
Tanggal akhir reviu
Pembahasan temuan
Nama Pereviu*
* Jika dilakukan oleh pihak di luar Tim
Kami, yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa temuan di dalam reviu ini telah:
Dibahas dengan manajemen (Penangung Jawab, Pengendali Teknis dan Ketua
Tim).
Dikomunikasikan dengan seluruh anggota tim pemeriksaan.
Termasuk sebagai bagian dari rencana aksi yang akan dimasukkan ke dalam
Rencana Strategi (Renstra),

Penanggung Jawab
Pengendali Teknis
Ketua Tim
Ketua Sub Tim (jika ada)
Pereviu*
Tanggal
* Jika dilakukan oleh pihak di luar Tim

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Pendahuluan:
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mensyaratkan bagi setiap organisasi pemeriksa
yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN untuk memiliki sistem pengendalian mutu
yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang
berkompeten.
Untuk itu, dikembangkan suatu Reviu Pengendalian dan Penjaminan Mutu.
Pereviu tidak dibatasi pada unsur-unsur yang dimasukkan di dalam checklist ini dan segala hal
yang mungkin mempunyai dampak terhadap kualitas pemeriksaan harus dipertimbangkan.
Dokumen reviu ini digunakan pada pemeriksaan keuangan, dan tidak ditujukan untuk digunakan
pada pemeriksaan kinerja dan investigasi.

Apabila temuan dari pertanyaan tertentu positif, berikan tanda tick (9) pada kolom Ya.
Apabila temuannya negatif, berikan tanda tick (9) pada kolom tidak, disertai dengan
alasan/penjelasan yang memadai dalam kolom yan disediakan. Selain itu perlu dibuat suatu
rujukan baik pada risalah pembahasan temuan dengan manajemen atau pada laporan final QAR
(Quality Assurance Reviu).
Apabila pertanyaannya tidak dapat diterapkan, berikan tanda tick (9) pada kolom Tidak ada,
disertai dengan penjelasan yang memadai.
Seluruh pertanyaan sedapat mungkin harus diberikan rujukan pada KKP yang berkaitan dalam
file pemeriksaan tersebut.

Ya

A.
1

B
1

Tidak

KERANGKA ACUAN KERJA


Apakah terdapat file atas salinan surat
penugasan untuk penugasan yang
pernah dilakukan dan yang baru?
Apakah persyaratan dalam surat
penugasan sesuai dengan panduan
dan kebutuhan terkait?
PERENCANAAN
Apakah KKP mencerminkan
perencanaan yang memadai dengan
adanya memorandum perencanaan
atau dokumen sejenisnya?
Apakah terdapat bukti bahwa
memorandum perencanaan atau
dokumen sejenisnya disetujui dengan
tepat waktu oleh pejabat penanggung
jawab?
Apakah seluruh perubahan yang
signifikan terhadap perencanaan
pemeriksaan didokumentasikan,
dibuktikan dan disetujui?
Apakah KKP menunjukkan tingkat
pemahaman yang memadai mengenai

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

10

11

Tidak

entitas yang diperiksa untuk


mengidentifikasi risiko, peristiwa
transaksi, praktik-praktik yang mungkin
mempunyai dampak yang signifikan
terhadap laporan keuangan?
Apakah pemeriksaan yang kompleks
telah dialokasikan secara efektif dan
efisien?
Apakah komponen-komponen/akunakun diidentifikasi dan pemeriksaan
mencakup seluruh unsur laporan
keuangan?
Apakah tujuan pemeriksaan (asersi)
untuk setiap akun atau kelompok
transaksi diidentifikasi dengan benar?
Apakah terdapat bukti bahwa anggota
tim pemeriksa mempunyai tingkat
pelatihan teknis dan kemampuan yang
diperlukan sesuai dengan keadaan
yang dihadapi?
Apakah terdapat jadwal kegiatan
pemeriksaan yang memadai dan
apakah waktu yang dijadwalkan
memedai?
Pertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
Kehadiran dalam pelaksanaan
perhitungan fisik persediaan dan
aset?
Penerimaan surat pernyataan atau
konfirmasi pemeriksaan?
Tanggal mulai pemeriksaan?
Tanggal penyelesaian pengujian
rinci untuk direviu oleh atasan?
Rencana tanggal penerbitan
laporan?
Penyelesaian proses perencanaan
sebelum tahap pelaksanaan
pekerjaan lapangan terinci?
Supervisi yang memadai oleh staf
senior terhadap staf yunior?
Waktu yang cukup untuk reviu
akhir?
Apakah KKP mencerminkan waktu
yang digunakan oleh staf dan alasan
jika terdapat penyimpangan yang
signifikan dari waktu yang ditentukan?
Apakah terdapat pengarahan yang
memadai kepada anggota tim yang
mendapat pelimpahan pekerjaan?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

C
1

2
3

D
1

3
4

Tidak

PLANNING MATERIALITY (PM)


Apakah digunakan tingkat materialitas
yang dapat diterima untuk mendeteksi
salah saji material kuantitatif?
Apakah materialitas
mempertimbangkan faktor kualitatif?
Apakah angka PM masih sesuai untuk
mengevaluasi hasil yang diperoleh dari
pelaksanaan prosedur pemeriksaan
dan apakah alasan-alasan terjadinya
perubahan didokumentasikan denan
baik?
Apakah maretialitas dipertimbangkan
selama pelaksanaan evaluasi hasil
yang diperoleh dari pelaksanaan
prosedur pemeriksaan dan apakah
dalam hal ini dapat diperoleh
kesimpulan yang memadai?
PENILAIAN RISIKO DAN
PENGENDALIAN INTERN
Apakah dilakukan penilaian risiko
inheren pada tingkat laporan keuangan
dan tingkat asersi untukk saldo akun
serta kelompok transaksi? Apakah
penilaian risiko inheren dapat
dijustifikasi dengan faktor risiko yang
telah diidentifikasi?
Apakah KKP dapat membuktikan
bahwa reviu dan evaluasi awal
mengenai lingkungan pengendalian
serta prosedur pengendalian telah
dilaksanakan?
Apakah Satuan Pengawas Internal
dievaluasi secara memadai?
Jika pemeriksaan yang dilakukan
dimaksudkan untuk mengandalkan hasil
pengawasan Satuan Pengawas
Internal, apakah pekerjaan unit tersebut
dievaluasi dan diuji untuk melihat
kesesuainya?
Apakah pengendalian intern serta
sistem akuntansi entitas yang diperiksa
didokumentasikan secara memadai?
Apakah sistem dideskripsikan dalam
format yang dapat diterima (contoh,
catatan sistem lain, naratif dan evaluasi
yang bersatu atau bagan alur)?
Apakah setiap sistem diverifikasi
dengan cara, misalnya, walktrough.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

10

E
1

Tidak

Dan apakah verifikasi sistem


didokumentasikan secara memadai?
Apakah ada kesimpulan yang memadai
tentang kecukupan sistem (desain
sistem akuntasi dan sistem
pengendalian intern)?
Apakah penilaian awal atas risiko
pengendalian untuk setiap asersi
laporan keuangan dapat dijustifikasi?
Apakah pengendalian kunci
diidentifikasi untuk membuktikan
penilaian setiap asersi?
Apakah pendekatan pemeriksaan
memadai? Apakah penilaian awal atas
risiko pengendalian, serta penilaian
risiko inheren, dipertimbangkan
pengembangan pendekatan
pemeriksaan?
LINGKUNGAN SISTEM INFORMASI
Apakah dilakukan penilaian atas tingkat
penggunaan dan arti penting
lingkungan yang berbasis komputer dan
pendekatan pemeriksaan yang akan
dilakukan telah didokumentasikan?
Apakah aplikasi sistem yang
mempunyai pengaruh signifikan
terhadap proses akuntansi dan
pelaporan keuangan, diidentifikasi
untuk setiap siklus dan disimpulkan?
Apakah pengendalian umum Sistem
Informasi Berbasis Komputer (CIS)
dievaluasi secara memadai dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:
Organisasi dan pengendalian
manajemen
Pengendalian dalam pengembangan
sistem aplikasi dan pemeliharaan
Pengendalian operasi komputer
Pengendalian software sistem
Pengendalian logical access
Pengendalian untuk Disaster
Recovery
Apakah pengendalian aplikasi CIS
dievaluasi secara memadai dengan
mempertimbangkan:
Pengendalian input
Pengendalian proses dan file data
komputer
Pengendalian output

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

Tidak

Apakah tingkat keyakinan atas


pengendalian umum CIS
dipertimbangkan dalam mengevaluasi
efektivitas pengendalian aplikasi CIS?
Jika pengendalian umum dan
pengendalian aplikasi tidak dapat
diyakini, apakah pengendalian manual
dianggap dapat memberikan
pengendalian pengganti yang efektif
pada tingkat aplikasi?
Apakah pemeriksa mempertimbangkan
kombinasi yang memadai antara
prosedur manual dan teknik
pemeriksaan berbantuan komputer
(CAAT)?
Dalam menetapkan penggunaan CAAT,
apakah mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:
Pengetahuan, keahlian dan
pengalaman pemeriksa tentang
komputer
Ketersediaan CAAT dan fasilitas
komputer yang memadai
Ketidakpraktisan pengujian manual
Ekonomi, efektivitas dan efisiensi.
Waktu
Jika CAAT digunakan, apakah KKP
berisi dokumentasi yang memadai
untuk menggambarkan aplikasi CAAT
seperti hal-hal sebagai berikut:
Perencanaan:
Tujuan CAAT
CAAT spesifik yang akan digunakan
Penunjukan staf, waktu dan biaya.
Pelaksanaan:
Penyiapan CAAT dan prosedur
pengujian dan pengendalian
Rincian pengujian yang dilakukan
dengan CAAT
Rincian input, proses dan output,
serta
Informasi teknis yang relevan
tentang sistem akuntansi entitas,
seperti lay out file komputer.
Bukti Pemeriksaan:
Output yang diberikan
Deskripsi pekerjaan pemeriksan
yang dilaksanakan terhadap output
tersebut
Kesimpulan pemeriksaan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

Tidak

Pelaporan
Saran kepada manajemen
F
1

PENGUJIAN PENGENDALIAN (TEST


OF CONTROL/TOC)
Apakah bukti pemeriksaan diperoleh
melalui pengujian pengendalian untuk
mendukung setiap penilaian risiko
pengendalian yang kurang dari tinggi?
Apakah terlihat bahwa pengujian
pengendalian terhadap pengendalian
intern memadai dalam kondisi yang
ada?
Apakah terlihat bahwa hasil pengujian
pengendalian dinilai dan dievaluasi
secara memadai?
Dalam hal tingkat risiko pengendalian
yang telah dinilai direvisi, apakah sifat,
waktu dan tingkat modifikasi atas
prosedur substantif yang telah
direncanakan?

G
1.

KKP LEMBAR UTAMA


Apakah semua area akun dalam KKP
Lembar Utama (untuk masing-masing
akun/komponen) telah lengkap dan di
referensi silang (dicocokkan) dengan
Laporan Keuangan entitas yang
diperiksa?
Perhatikan:
Angka Komparatif
Neraca Awal

PENGEMBANGAN RINCIAN
PROGRAM PEMERIKSAAN
Apakah benar bahwa pejabat telah
menyetujui program pemeriksaan
sebelum memulai pekerjaan lapangan?
Apakah program pemeriksaan telah
dirancang untuk mendukung opini yang
tercantum dalam laporan keuangan?
Apakah program pemeriksaan telah
cukup memadai sehingga memberikan
jaminan mutu untuk seluruh area
risiko audit yang signifikan?
Apakah setiap langkah program
pemeriksaan diawali dengan bukti yang
menunjukkan bahwa pekerjaan telah
dilaksanakan.

1.

2.

4.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

I
1.

2.

3.

4.
5.
6.
7.
8.

J
1.

2.

3.

4.

5.

Tidak

PROSEDUR ANALITIS
Apakah prosedur analitis dilakukan
dalam tahap perencanaan pemeriksaan
untuk mengidentifikasi risiko?
Bilamana pengujian substantif
dilakukan, apakah hal tersebut dapat
memberikan jaminan kewajaran akunakun yang tercantum dalam neraca
atau sejumlah transaksi.
Bilamana setiap pengujian analitis
dilakukan untuk membatasi sifat, jangka
waktu dan/atau tambahan prosedur
pengujian substantif apakah hasil dari
analisis tersebut telah diukur
materialitasnya secara memadai?
Apakah sasaran prosedur analitis telah
didefinisikan dengan jelas ?
Apakah prosedur tersebut telah
dilaksanakan dengan benar ?
Apakah simpulan yang benar telah
telah dicapai?
Apakah KKP sesuai dengan Laporan
Rugi Laba/akun penyesuaian ?
Apakah akun-akun telah diteliti
bilamana terdapat perubahan dari:

Hasil tahun sebelumnya

Selisih dari anggaran


PENGUJIAN SUBSTANTIF
Apakah pengujian substantif dirancang
dan dilaksanakan untuk tiap akun
neraca dan asersi-asersi?
Apakah tambahan setiap prosedur
pengujian substantif telah ditetapkan
dan wajar?
Mengenai jangka waktu pengujian
substantif, Apakah cara yang paling
efisien untuk melakukan prosedur
pengujian substantif dipertimbangkan?
Bilamana prosedur pengujian substantif
dilakukan terhadap neraca sebelum
akhir tahun / tutup buku, apakah
prosedur roll forward dilakukan
terhadap jumlah yang diproses dalam
periode yang bersangkutan?
Jika teknik sampling statistik /non
statistik digunakan untuk pengujian
substantif:

Apakah ukuran (jumlah) sampling


dan pendekatan sampling telah
memadai?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

7.

8.

9.

10

11

12

13

14

15

Tidak

Apakah sampelnya sudah cukup


mewakili populasi?

Kewajiban Jangka Panjang


Apakah konfirmasi dari pihak ketiga
telah diperoleh berkenaan dengan
seluruh utang jangka panjang?
Apakah kewajiban jangka panjang
entitas yang diperiksa memberikan
keleluasaan peminjaman (borrowing
power)?
Apakah jangka waktu pinjaman jangka
panjang yang telah diberikan oleh si
pemberi pinjaman telah dipatuhi?
Aset Tetap
Apakah telah terbukti bahwa
pencatatan aset tetap telah dilakukan
secara memadai?
Apakah sifat dan perluasan (tambahan)
pengujian Aset Tetap cukup memadai
dalam hal :
Penambahan dan penghapusan aset
tetap
Kepemilikan dan keberadaannya
Transaksi sebelum dan sesudah
tanggal neraca untuk menentukan
bahwa cut off yang wajar telah
terjadi
Saldo aset tetap dan akun-akun
terkait
Apakah leases (sewa guna) telah diriviu
dan KKP telah menyatakan bahwa
Sewa guna telah secara wajar
diperhitungkan (misalnya:
dikapitalisasikan jika memadai,
pendapatan atau biaya yang telah
disepakati dalam sewa guna, dll)
Apakah bukti kepemilikan telah
diperiksa berkenaan dengan
kepemilikan properti?
Apakah sumber konfirmasi eksternal
yang diperoleh untuk semua aset dan
kewajiban yang material telah sesuai?
(Mengacu ke 5.1.3 Vol. IV(2) Bagian 2,
Seksi 3). Bila tidak, prosedur alternatif
apa yang dilakukan untuk memverifikasi
aset dan kewajiban yang material?
Investasi
Apakah KKP menunjukkan rincian
pemeriksaan mengenai :

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

16

17.

18

19
20

Tidak

1. Harga pembelian/tanggal
2. Perubahan dalam tahun yang
bersangkutan
3. Harga pasar pada akhir tahun
Apakah semua informasi pembelian
dan penjualan sebelum dan sesudah
akhir tahun telah diperoleh dan
dievaluasi sehingga cut-off yang wajar
telah dicapai?
Apakah kalkulasi yang tepat mengenai
pendapatan investasi telah dicek dan
dihubungkan denngan pendapatan
yang telah tercatat?
Apakah pertimbangan yang memadai
telah diberikan terhadap penggolongan
investasi jangka pendek vs. Jangka
panjang?
Persediaan
Apakah klien melaksanakan
perhitungan persediaan di akhir tahun?
Apakah KKP telah secara memadai
mencerminkan kehadiran dan evaluasi
klien dalam perhitungan persediaan,
yang meliputi :
Jangka waktu dan luas cakupan
pengamatan perhitungan persediaan
Pengujianperhitungan dan tindak
lanjutnya
Kesimpulan mengenai kecukupan
prosedur perhitungan persediaan
Pertimbangan yang diberikan dalam
menghitung atau mengkonfirmasi
persediaan yang dikonsinyasi atau
persediaan yang disimpan pihak
lain.
Bilamana perhitungan persediaan
dilakukan diluar tanggal neraca,
apakah ada pertimbangan yang
memadai terhadap transaksi
persediaan yang dilakukan antara
tanggal perhitungan persediaan
dengan tanggal neraca.
Jika metoda pencatatan persediaan
secara perpetual dilakukan, apakah
perbedaan dengan penghitungan
fisik yang dilakukan tersebut
diungkapkan secara wajar
/memadai oleh klien dalam akunakun.

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

21

22
23

24

25

26

27

28

29

30

31
32

33

35

Tidak

Apakah pengujian pisah batas (cut off)


dilaksanakan dan didokumentasikan
secara memadai ?
Piutang
Apakah pengujian dilakukan untuk
menegaskan keberadaan debitur?
Apakah pengujian cut off dilakukan
dan dicatat secara memadai pada
catatan kredit, penerimaan kas dan
pengembalian?
Apakah kewajaran cadangan piutang
tak tertagih dan penghapusan telah
secara memadai tercatat dalam KKP?
Apakah piutang lainnya telah
diverifikasi secara memadai.
Kas dan Bank
Apakah semua konfirmasi permohonan
bank untuk semua akun-akun bank
telah diperoleh?
Apakah semua sertifikat bank telah
sesuai dengan laporan rekonsiliasi
bank?
Hutang
Apakah KKP menunjukkan bahwa
dokumen-dokumen sumber telah di
periksa?
Apakah KKP menunjukkan bahwa
lingkup konfirmasi yang memadai telah
dibuat dan dicatat atau bilamana
pemeriksaan atas laporan pemasok
dianggap memadai, termasuk neraca
awal dan atau tidak wajar atau neraca
yang terlalu rendah?
Apakah pengujian cut off dilakukan dan
dicatat sampai pada pembelian dan
pencairan termasuk pelacakan
kewajiban yang tidak tercatat?
Apakah pengujian terhadap neraca
untuk kewajiban utang telah memadai?
Apakah kewajiban jangka pendek telah
diverifikasi secara memadai?
Hutang Pajak
Apakah hutan pajak telah diperiksa
secara memadai?
Informasi Kas
Apakah arus kas masuk dan keluar

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

36
37

telah dicatat secara memadai dalam


laporan Arus Kas?
Apakah dapat dibuktikan bahwa
laporan arus kas telah diperiksa?
Apakah informasi lainnya, termasuk
laporan keuangan telah diverifikasi
untuk menentukan bilamana terdapat
inkonsistensi ?

EVALUASI HASIL

1.

Apakah kesalahan yang ditemukan


pada saat sampling telah
dipertimbangkan secara memadai ?
Apakah ringkasan selisih pemeriksaan
disajikan dan efek keseluruhan
(penjumlahan) dari selisih tersebut
telah dievaluasi?
Apakah auditor yang bertanggungjawab
terhadap pemeriksaan mereviu
ringkasan selisih (perbedaan)
pemeriksaan tersebut?

2.

3.

L
1

Tidak

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN


Apakah simpulan, yang didukung
dengan bukti yang memadai, diberikan
untuk tiap komponen yang diperiksa?
Apakah terdapat bukti bahwa tujuantujuan pemeriksaan telah dipenuhi pada
setiap prosedur pemeriksaan?
Apakah angka-angka dalam laporan
keuangan dapat dengan mudah
ditelusuri dari neraca percobaan dan
lembar utama?
Apakah catatan penyesuaian yang ada
telah didukung oleh kertas kerja dan
dirujuksilangkangkan dengan lembar
kerja yang sesuai?
Apakah terdapat cukup bukti dalam
kertas kerja untuk semua informasi
yang terdapat dalam Catatan atas
Laporan Keuangan?
Apakah kertas kerja yang disusun
biasanya:
Mencakup
indeksasi/penandatanganan dan
penanggalan oleh penyusun kertas
kerja dan orang yang mereviu kertas
kerja tersebut?
Menerangkan arti dari tanda tick
mark pemeriksaan?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

Menyatakan sumber informasinya?


Menyatakan tujuan dokumendokumen yang difoto copy?
Mencakup memo atau bukti lain
yang meliputi masalah-masalah
perhitungan dan pelaporan yang
signifikan dan tidak biasa?
Menyatakan bahwa semua lembar
kerja yang disajikan oleh entitas
yang diperiksa telah diserahkan dan
di cross cast kan?
Apakah semua pertanyaan dan
harapan yang muncul dari pengujian
pemeriksaan telah diterangkan dan
diputuskan dengan cukup jelas?
Jika sesuai apakah KKP tersebut
menunjukkan bukti prosedur konsultasi
dengan pihak yang memang memiliki
keahlian?

L
1

REVIU
Apakah KKP menunjukkan cukupnya
keterlibatan manager dalam proses
perencanaan/supervisi/reviu
pemeriksaan?

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN
PEMERIKSAAN YANG LAIN
Apakah prosedur yang memadai
dirancang dengan tujuan untuk
memeriksa proses yang terkait dengan
penganggaran pada entitas yang
diperiksa?
Apakah kejadian setelah tanggal
neraca telah didokumentasikan secara
memadai dan apakah kejadian-kejadian
yang penting dipertimbangkan dalam
pengungkapan/penyesuaian laporan
keuangan?
Jika laporan hasil pemeriksaan
terlambat diberikan diluar jangka waktu
yang dapat diterima, apakah kejadian
setelah tanggal neraca disampaikan?
Apakah semua komitmen dan tanggung
jawab kontinjensi telah dipertimbangkan
dengan tepat?
Apakah kemampuan entitas yang
diperiksa untuk melihat ke depan going
concern dari usahanya telah
dipertimbangkan oleh pemeriksa
dengan tepat dan memadai?

Tidak

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

O
1

Tidak

Apakah surat representasi manajemen


yang didapatkan, ditandatangani oleh
anggota manajemen yang tepat,
ataukah adakah bentuk representasi
lain yang didapatkan?
Apakah surat dari kejaksaan perlu
diminta dan didapatkan jika terdapat
indikasi bahwa entitas yang diperiksa
terlibat dalam suatu bentuk
permasalahan hukum?
Apakah terjalin komunikasi yang
memadai dengan entitas yang diperiksa
selama jalannya pemeriksaan
(pertemuan-pertemuan dewan
pengarah pemeriksa)?
KEPATUHAN TERHADAP HUKUM
DAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN
Apakah prosedur telah dirancang dan
dilaksanakan dengan memadai agar
bisa mengekspresikan suatu opini atas
kepatuhan terhadap hukukm dan
peraturan perundang-undangan?
PELAPORAN
Apakah laporan keuangan telah
disajikan dengan tepat dan jelas dan
apakah laporan keuangan yang
disajikan tersebut memenuhi standarstandar yang dapat digunakan?
Apakah Catatan atas Laporan
Keuangan sesuai dengan standarstandar profesional dan cukup serta
layak sesuai keadaan yang ada?
Apakah kebijakan-kebijakan akuntansi
dan asal kebijakan tersebut serta
dampak yang muncul karena kebijakan
tersebut diungkapkan dengan jelas
dalam laporan keuangan?
Apakah laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan standar-standar yang
dapat digunakan?
Apakah prosedur-prosedur dilakukan
untuk memastikan kelengkapan laporan
keuangan?
Apakah aspek-aspek atau kekurangankekurangan untuk follow up selama
pemeriksaan selanjutnya
diidentifikasikan dan didokumentasikan
dengan tepat?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

9
10

11

12

13

14

Tidak

Apakah terdapat temuan pemeriksaan


untuk bahan diskusi dengan pihak
manajemen entitas yang diperiksa?
Apakah temuan pemeriksaan tersebut
mengemukakan:

Permasalahan, sumber
permasalahan dan konsekuensikonsekuensi yang mungkin
muncul?

Rekomendasi-rekomendasi yang
berguna dan efektif dalam hal
biaya?

Referensi untuk pertanyaanpertanyaan verbal atau informal?

Masalah-masalah yang belum


terselesaikan dari surat-surat pada
tahun sebelumnya?
Apakah anggota manajemen
menandatangani temuan pemeriksaan?
Apakah semua permasalahan signifikan
yang diidentifikasikan dalam temuan
pemeriksaan dinyatakan dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan?
Apakah dasar hukum diidentifikasikan
dalam laporan untuk entitas yang
diperiksa?
Apakah laporan hasil pemeriksaan
diserahkan dalam waktu yang tepat
sesuai dengan tanggal yang telah
ditetapkan?
Apakah alasan yang diberikan untuk
keterlambatan penyerahan laporan
hasil pemeriksaan tersebut valid?
Apakah hal-hal berikut ini telah
dikonfirmasikan sebelum
pengungkapan:
Bahwa informasi, yang ditujukan
untuk publik, telah di back up oleh
dokumentasi pendukung
Bahwa fakta-fakta, yang ditujukan
untuk publik, telah disajikan
dengan tepat demi transparansi,
keterbukaan dan aksesibilitas yang
diperlukan.
Bahwa tingkat pengungkapan
telah didefinisikan dengan tepat,
misalnya, apakah berupa laporan
hasil pemeriksaan interim, final
atau spesial.
Bahwa pejabat akuntansi yang
terkait telah mendapatkan

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Lampiran 8.1

Ya

15

Tidak

informasi secara tertulis tentang


informasi yang akan ditujukan
untuk publik.
Bahwa ketua badan atau komite
akuntansi publik yang terkait telah
mendapatkan informasi tentang
pengungkapan yang
direncanakan.

Apakah KKP, prosedur pemeriksaan


yang dilaksanakan, dan hasil prosedur
pemeriksaan telah mendukung dan
mengkonfirmasi opini pemeriksaan
yang diberikan?
Pemeriksaan dilakukan dengan penuh
ketelitian.

8
9

PENUGASAN KEPADA PIHAK LAIN


YANG BEKERJA UNTUK DAN ATAS
NAMA BPK
Apakah surat penugasan dikeluarkan
untuk kantor pemeriksa (KAP) dan
menetapkan apa tanggung jawab
mereka?
Tindakan apa yang telah diambil untuk
menentukan sarana komunikasi yang
tepat antara BPK-RI dan KAP?
Apakah BPK-RI menerima rencana
pemeriksaan setelah reviu yang tepat
dilakukan?
Apakah semua perubahan rencana
pemeriksaan tersebut diterima oleh
BPK-RI?
Apakah terdapat dewan pengarah dan
apakah BPK-RI telah memastikan
pelaksanaannya dilakukan dengan
efisien?
Apakah BPK-RI memastikan bahwa
standar pemeriksaan telah dipatuhi?
Apakah BPK-RI melakukan reviu
menyeluruh atas pekerjaan yang
dilakukan oleh KAP?
Apakah BPK-RI melakukan
pengawasan terhadap biaya
pemeriksaan secara memadai?
Apakah proses yang terkait dengan
penganggaran dievaluasi?
Apakah pekerjaan yang memadai
dilakukan sesuai dengan hukum dan
peraturan perundang-undangan?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Tidak
Dapat
Diterapkan

Komentar Ref. KKP

Juknis Pemeriksaan LKPP dan LK KL

Litbang Pemeriksaan

Lampiran 8.1

Badan Pemeriksa Keuangan