Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN KONDISI TANPA BEBAN DAN


KONDISI BERBEBAN PADA GENERATOR SINKRON
(NO LOAD AND LOAD TEST ON SYNCHRONOUS GENERATOR)

EXPERIMENT 2
DOSEN PEMBIMBING:

Bp. DJODI ANTONO, B.Tech.

NAMA

: ARIS SETYAWAN

KELAS : LT 2D
NIM

: 3.39.13.0.02

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2015

PENGUJIAN KONDISI TANPA BEBAN DAN


KONDISI BERBEBAN PADA GENERATOR SINKRON
(NO LOAD AND LOAD TEST ON SYNCHRONOUS GENERATOR)
EXPERIMENT 2
I.

II.

Waktu Percobaan
Hari
: Jumat
Tanggal : 8 Mei 2015
Pukul : 08.00 s/d 11.00 WIB
Tempat : Laboraturium Listrik Barat Ruang Khusus Politeknik Negeri Semarang
Pendahuluan
Generator adalah suatu alat yang dapat mengubah tenaga mekanik menjadi
energi listrik. Tenaga mekanik bisa berasal dari panas, air, uap, dll. Energi listrik
yang dihasilkan oleh generator bisa berupa Listrik AC (listrik bolak-balik) maupun
DC (listrik searah). Hal tersebut tegantung dari konstruksi generator yang dipakai oleh
pembangkit tenaga listrik.
Generator sinkron (alternator) merupakan generator yang digunakan untuk
mengubah daya mekanik menjadi daya listrik. Generator sinkron dapat berupa
generator sinkron tiga fasa atau generator sinkron AC satu fasa tergantung dari
kebutuhan. Disebut mesin sinkron, karena bekerja pada kecepatan dan frekuensi
konstan di bawah kondisi Steady State. Mesin sinkron bisa dioperasikan baik
sebagai generator maupun motor. Mesin sinkron bila difungsikan sebagai motor
berputar dalam kecepatan konstan. Apabila dikehendaki kecepatan yang bersifat
variabel, maka motor sinkron dilengkapi dengan pengubah frekuensi seperti
Inverter atau Cyclo-converter.
Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk
mengahasilkan mdan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime mover
menghasilkan medan magnet berputar pada mesin. Medan magnet putar ini
menginduksi tegangan tiga fasa pada kumparan stator generator. Rotor pada generator
sinkron pada dasarnya adalah sebuah elektromagnet yang besar. Kutub medan magnet
rotor dapat berupa salient (kutub sepatu) dan dan non salient (rotor silinder).
Pada kutub salient, kutub magnet menonjol keluar dari permukaan rotor
sedangkan pada kutub non salient, konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan
rotor. Rotor silinder umumnya digunakan untuk rotor dua kutub dan empat kutub,
sedangkan rotor kutub sepatu digunakan untuk rotor dengan empat atau lebih kutub.
Pemilihan konstruksi rotor tergantung dari kecepatan putar prime mover, frekuensi
dan rating daya generator. Generator dengan kecepatan 1500 rpm ke atas pada

frekuensi 50 Hz dan rating daya sekitar 10MVA menggunakan rotor silinder. .


Sementara untuk daya dibawah 10 MVA dan kecepatan rendah maka digunakan

rotor

kutub sepatu. Gambaran bentuk kutup silinder generator sinkron diperlihatkan pada
gambar di bawah ini.

Gambar 2.1 Bentuk Kutub Silinder Generator Sinkron


Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet
homogen, maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut. Medan
magnet bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet tetap. Pada
mesin tipe ini medan magnet diletakkan pada stator (disebut generator kutub eksternal /
external pole generator) yang mana energi listrik dibangkitkan pada kumparan rotor. Hal
ini dapat menimbulkan kerusakan pada slip ring dan karbon sikat, sehingga
menimbulkan permasalahan pada pembangkitan daya tinggi. Untuk mengatasi
permasalahan ini, digunakan tipe generator dengan kutub internal (internal pole
generator), yang mana medan magnet dibangkitkan oleh kutub rotor dan tegangan AC
dibangkitkan pada rangkaian stator. Tegangan yang dihasilkan akan sinusoidal jika rapat
fluks magnet pada celah udara terdistribusi sinusoidal dan rotor diputar pada kecepatan
konstan. Tegangan AC tiga fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal pada tiga
kumparan stator yang diset sedemikian rupa sehingga membentuk beda fasa dengan
sudut 120. Bentuk gambaran sederhana hubungan kumparan 3-fasa dengan tegangan
yang dibangkitkan diperlilhatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.2.Hubungan Kumparan 3 Fasa dengan Tegangan yang Dibangkitkan


Pada rotor kutub sepatu, fluks terdistribusi sinusoidal didapatkan dengan
mendesain bentuk sepatu kutub. Sedangkan pada rotor silinder, kumparan rotor

disusun secara khusus untuk mendapatkan fluks terdistribusi secara sinusoidal. Untuk
tipe generator dengan kutub internal (internal pole generator), suplai DC yang
dihubungkan ke kumparan rotor melalui slip ring dan sikat untuk menghasilkan
medan magnet merupakan eksitasi daya rendah. Jika rotor menggunakan magnet
permanen, maka tidak slip ring dan sikat karbon tidak begitu diperlukan.

III.

Dasar Teori
a) Generator Tanpa Beban
Apabila sebuah mesin sinkron difungsikan sebagai generator dengan diputar
pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus medan (If), maka pada kumparan
jangkar stator akan diinduksikan tegangan tanpa beban (Eo), yaitu : Eo = 4,44 Kd
Kp f fm T Volt
Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, sehingga
tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluk hanya dihasilkan oleh arus medan (If).
Bila besarnya arus medan dinaikkan, maka tegangan output juga akan naik sampai
titik saturasi (jenuh) seperti diperlihatkan pada Gambar 3.1.a. Kondisi Generator
tanpa beban bisa digambarkan sebagai berikut.

(a)

(b)

Gambar 3.1.Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Tanpa Beban


b) Generator Berbeban
Bila Generator diberi beban yang berubah-ubah maka besarnya tegangan
terminal V akan berubah-ubah pula. Hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan
pada:
Resistansi jangkar (Ra)
Resistansi jangkar/phasa

Ra

menyebabkan

terjadinya

tegangan

(Kerugian tegangan) / phasa I Ra yang sephasa dengan arus jangkar.

jatuh

Reaktansi bocor jangkar (XL)


Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluk yang terjadi tidak
mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini disebut fluks bocor.
Reaksi Jangkar (Xa)
Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat generator dibebani akan
menimbulkan fluksi jangkar (fA) yang berintegrasi dengan fluksi yang dihasilkan
pada kumparan medan rotor (fF), sehingga akan dihasilkan suatu fluksi resultan
sebesar

fR = fF + fA
Interaksi

antara

kedua

fluksi

ini

disebut

sebagai

reaksi

jangkar,

seperti diperlihatkan pada gambar 3.2. yang mengilustrasikan kondisi reaksi jangkar
untuk jenis beban yang berbeda-beda.
Gambar 3.2.a. memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani
tahanan (resistif) sehingga arus jangkar Ia sephasa dengan ggl Eb dan fA akan tegak
lurus terhadap fF.
Gambar 3.2.b. memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani
kapasitif, sehingga arus jangkar Ia mendahului ggl Eb sebesar dan fA
terbelakang terhadap fF dengan sudut (90 ).
Gambar 3.2.c. memperlihatkan kondisi

reaksi

jangkar

saat

dibebani

kapasitif murni yang mengakibatkan arus jangkar Ia mendahului ggl Eb sebesar 90


dan fA akan memperkuat fF yang berpengaruh terhadap pemagnetan.
Gambar 3.2.d. memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat arus diberi beban
induktif murni sehingga mengakibatkan arus jangkar Ia terbelakang dari ggl Eb
sebesar 90 dan fA akan memperlemah fF yang berpengaruh terhadap pemagnetan.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 3.2. Kondisi Reaksi Jangkar

IV.

Peralatan dan Bahan


1. DL 1013T2
2. DL 1023PS
3. DL 1026A

DC filtered power supply


Shunt DC drive motor
Three phase alternator

1 buah
1 buah
1 buah

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

DL 2025DT
DL 2108TAL
DL 2108T01
DL 2108T02
DL 2109T1A
DL 2109T2A5
DL 2109T1T
DL 2109T17/2
Kabel Penguhubung
Saklar ELCB 3 phase
Ampere meter panel
Pengatur beban

Speed Indicator
Three phase power supply unit
Excitation voltage controller
Power circuit breaker
Moving-iron ammeter (1000mA)
Moving-iron ammeter (2,5 A)
Phase-sequence indicator
Double voltmeter (250-500 V)

(1)

(4)

(2)

(6)

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
2 buah
1 buah
1 buah
20 buah
2 buah
1 buah

(3)

(9)

(11)

V.

(12)

(13)

(15)

Rangkaian Percobaan

Gambar 5.1 Rangkaian Pengujian Generator Sinkron dalam kondisi Tanpa Beban

Gambar 5.2 Rangkaian Pengujian Generator Sinkron dalam kondisi berbeban


VI.

Langkah Percobaan
a) Pengujian Generator Sinkron dalam kondisi tanpa beban
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Merangkai rangkaian sesuai gambar 5.1
3. Menaikkan tegangan DC dan mengatur kecepatan dari motor DC hingga 3000
4.
5.
6.
7.
8.

rpm.
Mengukur arus eksitasi, arus dan tegangan yang diserap oleh motor DC
Menyalakan saklar pengatur arus eksitasi,
Mengatur arus eksitasi sampai tegangan yang dihasilkan 380 V.
Mengukur arus eksitasi, arus dan tegangan yang diserap oleh motor DC.
Mengatur arus eksitasi secara bertahap sesuai pada tabel hingga tegangan

maksimal sampai 380 V.


9. Mengamati tegangan pada setiap kenaikan arus dan mencatat pada tabel
10. Menurunkan arus eksitasi sampai 0.
11. Menurunkan kecepatan motor DC hingga 2500 rpm
12. Mengulangi langkah 8 s/d 9
13. Menurunkan arus eksitasi sampai 0
14. Menurunkan kecepatan motor sampai 200 rpm
15. Mengulangi langkah 8 s/d 9
16. Menurunkan arus eksitasi sampai 0
17. Menurunkan kecepatan motor dengan menurunkan tegangan DC sampai 0

b) Pengujian Generator Sinkron dalam kondisi berbeban


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Merangkai ranngakaian sesuai gambar 5.2 dengan beban pertama yaitu R
3.
4.
5.
6.
7.
8.

yang dihubung bintang kemudian induktor dan selanjutnya kapasitor


Memasang ELCB pada beban,kemudian mengaturnya dalam posisi OFF
Menaikkan tegangan DC dan mengatur kecepatan motor DC sampai 3000 rpm
Menyalakan saklar pengatur arus eksitasi
Mengatur arus eksitasi sampai tegangan yang dihasilkan 380 V
Mengatur R sesuai tabel
Meng-ONkan ELCB, kemudian mencatat besarnya arus dan tegangan di
beban

9. Meng-OFFkan ELCB, kemudian mengatur R sesuai tabel


10. Meng-ONkan ELCB, kemudian mencatat besarnya arus dan tegangan di
beban.
11. Mengulangi langkah 9 s/d 10 secara bertahap sesuai dengan tabel
12. Meng-OFFkan ELCB, kemudian mengganti beban R dengan induktor
kemudian kapasitor secara bertahap
13. Mengulangi langkah 9 s/d 10
14. Meng-OFFkan ELCB, kemudian menurunkan arus eksitasi sampai 0
15. Menurunkan kecepatan motor DC sampai 0 .
VII.

Hasil Data
1. Tabel Hasil Percobaan Pengujian Tanpa Beban
Speed (min-1)
Ig (mA)
100
150
200
250
300
350
400
450
500

3000
Us (V)
220
310
380
-

2500
Us (V)
160
245
310
350
-

2000
Us (V)
125
200
255
290
310
330
350
365
375

2. Tabel Hasil Percobaan Pengujian Berbeban

R
R1
R2
R3
R4
R5
R6
VIII.

n = 3000 min-1
Is (A) Us (V)
0,18
370
0,26
360
0,42
330
0,53
290
0,63
245
0,71

L
L1
L2
L3
L4
L5

Is (A)
0,13
0,18
0,27
0,34
0,41

Us (V)
330
315
280

C
C1
C2
C3

IE0 = 200 mA
Is (A) Us (V)
0,15
410
0,21
425
0,41
475
245
210

180

Pembahasan
Saat

pengujian tanpa beban, generator diputar perlahan menggunakan filter

power supply sampai pada kecepatan nominalnya yaitu 3000 rpm dan terminal
generator tidak dihubungkan ke beban. Arus eksitasi medan mula adalah nol. Motor
DC dipanaskan akan menghasilkan arus eksitasi serta arus dan tegangan yang diserap
pada motor DC. Saat pengujian tanpa adanya eksitasi maka tidak terjadi selisih daya.
Sedangkan saat diberikan eksitasi terjadi selisih serta terdapat rugi rugi mekanis pada
generator.
Berdasarkan pada tabel hasil pengujian tanpa beban dapat diketahui bahwa
semakin tinggi putaran generator maka arus eksitasi yang digunakan semakin kecil
yaitu pada 3000 rpm arus eksitasi maksimal 200 mA, pada 2500 rpm arus eksitasi

maksimalnya 300 mA dan pada kecepatan 2000 rpm arus eksitasi maksimalnya
adalah 500 mA.
Saat pengujian berbeban terdapat tiga jenis pembebanan pada pengujian ini ,
yaitu resitif , induktif dan kapasitif. Ketika beban resistif diputar ke tingkat yang lebih
tinggi maka hambatannya semakin kecil (pengukuran dengan multimeter) hal
tersebut mengakibatkan arus yang menuju ke beban resistif (Is) menjadi semakin
besar dan tegangan pada beban resistif (Us) menjadi semakin kecil.
Pembebanan Induktif sama seperti beban resistif yaitu ketika beban induktif
diputar ke tingkat yang lebih tinggi maka hambatannya semakin kecil (pengukuran
dengan multimeter) hal tersebut mengakibatkan arus yang menuju ke beban induktif
(Is) menjadi semakin besar dan tegangan pada beban induktif (Us) menjadi semakin
kecil.

Pembebanan capasitif hambatannya tidak dapat diukur dengan multimeter,


ketika beban capasitif diputar ke tingkat yang lebih tinggi maka arus (Is) dan tegangan
(Us) semakin besar hal tersebut diakibatkan karena nilai kapasitansi yang semakin
besar.
IX.

Pertanyaan dan Jawaban


1. Pengukuran arus eksitasi, arus dan tegangan pada motor DC sebelum dinaikkan
Data
: IEM0 = 0,3 A
IM0 = 1,7 A
UM0 = 210 V
Diminta : PM0 ?
Solusi : PM0 = UM0 (IM0-IEM0)
= 210 (1,7-0,3)
= 294 W
2. Pengukuran arus eksitasi, arus dan tegangan pada motor DC setelah dinaikkan
Data
: IEME = 0,3 A
IME = 1,9 A
UME = 210 V
Diminta : PME ?
Solusi : PME = UME (IME-IEME)
= 210 (1,9-0,3)
= 336 W
3. Perbedaan Daya Sebelum dan Sesudah Eksitasi
Data
: PM0 = 294 W
PME = 336 A
Diminta : PGFE ?
Solusi : PGFE = PME - PM0
= 336 - 294
= 42 W

4. Grafik Percobaan Pengujian Generator Sinkron Tanpa Beban


400
350
300
250
3000 rpm

200

2500 rpm

150

2000 rpm

100
50
0
100 150

200

250 300

350 400

450 500

5. Grafik Percobaan Pengujian Generator Sinkron Berbeban


Beban R
800
700
600
500
Is (mA)

400

Us (V)

300
200
100
0
R1

Beban L

R2

R3

R4

R5

R6

400
350
300
250
Is (mA)

200

Us (V)

150
100
50
0
L1

L2

L3

L4

Beban C
500
450
400
350
300
250

Is (mA)

200

Us (V)

150
100
50
0
C1

X.

C2

C3

Kesimpulan
a) Pengujian Tanpa Beban
Nilai tegangan yang dibangkitkan generator berbanding lurus dengan

kenaikan arus dan kecepatan motor.


Pada nilai tegangan keluaran yang sama, nilai arus berbanding terbalik dengan

kecepatan putaran motor dc.


b) Pengujian Bebeban
Saat generator berbeban mengalir arus pada jangkar, maka besarnya
tegangan terminal V akan berubah-ubah, hal ini disebabkan adanya kerugian

tegangan pada: resistansi jangkar Ra; reaktansi bocor jangkar; reaksi jangkar.
Besarnya nilai arus dan besarnya nilai tegangan pada beban resistif
dan induktif berbanding terbalik, semakin besar nilai arus, maka akan

semakin kecil pula tegangan outputnya.


Pada beban kapasitor, nilai arus dan nilai tegangan keluaran berbanding
lurus, semakin besar nilai arus, maka akan semakin besar pula nilai
tegangan keluaran.

Beban Resistif adalah beban yang paling stabil dibandingkan dengan 3


beban yang lain, karena penurunan besar arus dan tegangan yang perlahan.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Delorenzo, Electrical Power Enginering (Alternator and parallel operation DL GTU101.1)
[2] http://insyaansori.blogspot.com/2014/02/generator-sinkron.html
[3] http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/13020-13-599349935825.pdf
[4] http://usmanlakkase.blogspot.com/2014/02/prinsip-kerja-generator-sinkron.html
[5] https://www.academia.edu/6441467/PRINSIP_KERJA_GENERATOR_SINKRON