Anda di halaman 1dari 24

INDUSTRI MIE INSTAN

Disusun Oleh :
(1323005)
1. PENDAHULUAN
Mi atau mie merupakan salah satu jenis makanan populer yang terbuat dari
gandum. Menurut catatan sejarah, mi pertama kali dibuat di daratan China sekitar
2000 tahun lalu. Dalam budaya China, mi ini adalah simbol kehidupan yang panjang.
Karena itu, mi secara tradisional sering disajikan pada acara ulang tahun dan saat
perayaan Tahun Baru China sebagai lambang umur panjang. Dari China, mi
berkembang dan menyebar ke Jepang, Korea, Taiwan dan negara-negara di Asia
Tenggara. Mi juga menyebar sampai ke benua Eropa dan berkembang menjadi jenis
pasta yang dikenal saat ini. Mi terus berkembang seiring berjalannya waktu dan
menciptakan keanekaragaman variasi jenis-jenis mi. Salah satu jenis mi yang tidak
asing lagi bagi adalah mi instan.
Menurut survey di Jepang pada tahun 2000, mi instan merupakan ciptaaan
terbaik Jepang di abad 20 (dengan karaoke di urutan kedua dan CD hanya di urutan
ketiga). Hingga 2002, setidaknya ada 55 juta porsi mi instan dikonsumsi setiap
tahunnya di seluruh dunia. Saat ini, Indonesia adalah produsen mi instan terbesar di
dunia. Dalam hal pemasaran, pada tahun 2005 Tiongkok menduduki tempat teratas,
dengan 44,3 milyar bungkus, disusul dengan Indonesia dengan 12,4 milyar bungkus
dan Jepang dengan 5,4 milyar bungkus. Namun Korea Selatan mengonsumsi mi
instan terbanyak per kapita, dengan rata-rata 69 bungkus/kapita/tahun, diikuti oleh
Indonesia

dengan

55

bungkus/kapita/tahun,

dan

Jepang

dengan

42

bungkus/kapita/tahun. Hal ini menunjukkan betapa populernya makanan cepat saji mi


instan di berbagai negara.

2. SEJARAH MI INSTAN
2.1 Penemuan Mi Instan
Mi instan diciptakan oleh Momofuku Ando, pria kewarganegaraan Jepang
yang lahir di Chiayi, Taiwan, 5 Maret 1910. Ando dilahirkan ketika Taiwan berada
dalam penjajahan Jepang. Ketika masih kecil, kedua orang tua Ando meninggal dunia
sehingga Industri Mi Instan ia diasuh oleh kakek-neneknya. Dari kecil inilah Ando
sudah terbiasa untuk membantu neneknya mengurus rumah. Akibatnya Ando terampil
dan dan pandai dalam pekerjaan rumah tangga seperti memasak, namun kegiatan
akademisnya di sekolah menjadi terlantar.

Gambar 1. Momofuku Ando penemu mi instan


Beranjak remaja dan dewasa, Ando berkeinginan menjadi pedagang yang
sukses. Ketika berusia 22 tahun, harta peninggalan orangtuanya digunakan untuk
membuka usaha pakaian rajutan di Taiwan dan Osaka-Jepang. Usaha Ando ini dapat
terbilang maju, meskipun pada masa itu pakaian rajutan hanya digunakan pada

musim-musim tertentu seperti di musim dingin. Dai usahanya ini, Ando bisa kembali
ke bangku sekolah menyelesaikan pendidikan yang sempat terbengkalai.
Berbagai usaha dagang dilakukan Ando, dan sempat mengalami kegagalan
seperti ketika ia dituduh korupsi dan dimasukkan ke penjara, atau terlibat hutang
akibat koperasi yang ia kelola bangkrut. Pelunasan hutang yang dilakukan
menghabiskan semua harta dan usaha yang dimilikinya. Pada tahun 1956 harta milik
yang tersisa hanya sebuah rumah di Ikeda, Prefektur Osaka.
Pada waktu itu, Amerika Serikat sedang gencar-gencarnya menyumbangkan
gandum ke seluruh wilayah Jepang yang sedang mengalami kesulitan pangan. Harga
terigu menjadi sangat murah. Pemerintah Jepang pun menganjurkan seluruh
rakyatnya untuk mengkonsumsi roti gandum dan terigu sebagai pengganti nasi.
Suatu ketika ia melihat banyak sekali orang mengantri pada pedagang mi
untuk makan semangkuk ramen panas di dekat Pasar Harikyu di Osaka-Jepang.
Pikiran Ando mulai tergugah. Orang Jepang sangat suka makan mi dan dirasa sangat
enak, murah, tahan lama, serta tidak terlalu sulit untuk mengolahnya. Kenapa tidak
mencoba membuat mi dengan bahan dasar terigu.
Ide cemerlang itu kemudian bergulir di benaknya. Tetapi ia tidak mau
membuat mie biasa yang sudah banyak beredar di pasaran. Ia ingin membuat mie
dengan bentuk lain yang lebih enak, lebih cepat diolah, lebih efisien, serta mudah
didapat di mana-mana. Ia menyadari bahwa gaya hidup orang jepang yang selalu
disiplin dan tepat waktu membuat orang jepang harus mempunyai makanan alternatif
yang siap saji.
Ando mulai mewujudkan impiannya dengan membeli mesin pembuat mie dan
bereksperimen membuat mie instan di emper (teras/beranda) rumahnya. Mula-mula
adonan mie yang sudah berbentuk mie digoreng agar lebih awet, gurih dan cepat
diolah. Lalu ia pun menimbang-nimbang rasa untuk kuahnya itu. Dipilihnya kuah
ayam, karena rasanya yang netral dan tidak amis.
Akhirnya ada 25 Agustus 1958, Ando yang berusia 48 tahun meluncurkan
produk mi instan dalam bungkusan plastik pertama, yang disebutnya Chicken Ramen

(Chikin Ramen). Kuah mi dibuat dari sup kaldu ayam sehingga disebut Chicken
Ramen. Mi hanya perlu diletakkan di dalam mangkuk dan disiram air panas sebelum
dapat dimakan. Produk ini langsung populer dan laku di pasaran.

Gambar 2. Chiken Ramen mi instan pertama yang diedarkan


2.2 Inovasi Produk Mi Instan
Pertengahan tahun 1958. Mamofuku Ando sudah mulai kewalahan menangani
pesanan. Rumahnya yang kecil, sudah tidak mampu lagi menampung pesanan pasar.
Ia lalu memindahkan usahanya itu ke sebuah gudang murah yang kosong di Osaka.
Di sanalah Ando yang dibantu oleh keluarganya membuat mi instan.
Pada bulan Desember 1958, Ando menamakan perusahaannya Nissin Food
Industries. Dengan seiring pemberian nama produk mi instannya, maka orang mulai
mengingat merk tersebut sebagai merk mi instan pertama yang amat digemari di
Jepang. Beberapa bulan kemudian ia pindah ke sebuah pabrik seluas 20.000m2.
Tahun 1960, ia membuka pabrik kedua, dan pada tahun 1961, lahirlah pabrik
ketiga dan keempat yang tersebar di beberapa wilayah di Jepang. Meski mi instan

sangat laris, Ando tidak bosan bereksperimen untuk memperbaiki mutu dan cita rasa
mi instannya. Ia selalu melibatkan keluarga, teman, dan masyarakat sekitarnya untuk
mencicipi mi instan baru yang ia ciptakan. Cara ini ia tempuh, untuk benar-benar
mengetahui selera pasar dalam menilai hasil racikan minya.
Dalam rangka perbaikan mutu dan kualitas mie instannya, Ando bahkan
melakukan perjalanan ke luar negeri untuk memperkenalkan dan menjajaki selera
Eropa terhadap mi instan. Untuk mempelajari kemungkinan tersebut, ia berkeliling
Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 1966.
Di Eropa, ia melihat orang makan mie menggunakan garpu, tanpa kuah dan
memakai piring sebagai alas makan. Menyeruput kuah mie dianggap tidak sopan.
Padahal, orang Jepang biasa menyeruput kuah mie yang panas berasap, ini bertujuan
menambah nafsu makan, semangat, dan menghormati tuan rumah. Ia juga mengamati
ada bahan kaldu yang bisa dilarutkan dengan air panas tanpa harus memasak. Ando
juga akhirnya tahu, bahwa ada wadah kertas sekali pakai dan kertas alumunium
sebagai wadah kedap udara.
Ando pun mulai mendapatkan inspirasi untuk membuat mie instan dalam
wadah berbahan styrofoam (jenis polimer yaitu polystyrene), yang untuk kemudian
ditutup rapat dengan lapisan alumunium. Mi instan itu kemudian tidak perlu dimasak,
tapi cukup diseduh saja. Supaya tidak hancur akibat guncangan dan benturan saat
distribusi, kontur mie dibuat agak lebih tebal. Dan dalam kemasannya disediakan
garpu untuk menyantap.
Di tahun 1971, Ando sukses memasarkan mie instan dengan kemasan yang
efisien, dan praktis yaitu produk mi instan pertama yang siap saji dalam wadah
styrofoam tahan air. Ando tidak hanya memasarkan mie instannya ke seluruh Asia,
akan tetapi juga memasarkan mie instannya ke wilayah Amerika Serikat dan beberapa
di negara Eropa. Mereka menyambut baik impor makanan dari Ando yang inovatif
tersebut. Bahkan ada beberapa pengusaha Eropa yang menjulukinya The Inovator of
The Year. Mi instan dalam wadah ini menjadi jenis mi instan yang populer sekarang
dan dapat dengan mudah ditemukan pada rak toko-toko di seluruh dunia.

Gambar 3. Mi instan dalam kemasan styrofoam pertama

3. MI INSTAN DI INDONESIA
Mi instan di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh PT Lima Satu Sankyu
yang berdiri pada bulan April 1968. Pada 1977 perusahaan ini merubah namanya
menjadi PT Lima Satu Sankyu Indonesia yang lantas dirubah lagi menjadi PT
Supermie Indonesia sesuai dengan merk dagang utamanya Supermie. Tahun 1986 PT
Supermie Indonesia ini diambil alih oleh PT Indofood Interna Corporation.
Mi instan merupakan salah satu makanan terfavorit warga Indonesia. Dapat
dipastikan hampir setiap orang telah mencicipi mi instan atau mempunyai persediaan
mi instan di rumah. Bahkan tak jarang orang membawa mi instan saat ke luar negeri
sebagai persediaan "makanan lokal" jika makanan di luar negeri tidak sesuai selera.
Indomie adalah merek mi instan yang paling terkenal di Indonesia. Indomie
diproduksi oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Produk paling sukses dari
perusahaan milik Sudono Salim ini mulai diluncurkan ke pasar sejak tahun 1970, dan
pertama kali hadir dengan rasa Kaldu Ayam saja. Selain dipasarkan di Indonesia,
Indomie juga dipasarkan secara cukup luas di manca negara, antara lain di Amerika

Serikat, Australia, berbagai negara Asia dan Afrika serta negara-negara Eropa. Hal ini
menjadikan Indomie sebagai salah satu dari segelintir produk asli Indonesia yang
mampu menembus pasar internasional. Di Indonesia sendiri, sebutan "Indomie"
sudah umum dijadikan istilah generik yang merujuk kepada mi instan.
Harga Indomie yang ekonomis dan cita rasanya yang telah disesuaikan
dengan selera Indonesia membuat produk mi instan ini sangat digemari oleh
masyarakat. Bahkan, tidak jarang warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar
negeri membawa Indomie untuk mengatasi masalah ketersediaan makanan yang
praktis dan sesuai dengan selera Indonesia. Indomie diklaim sebagai makanan yang
sehat dan bergizi oleh produsennya. Produk mi instan ini disebut memiliki berbagai
kandungan gizi seperti energi, protein, niasin, asam folat, mineral zat besi, natrium,
dan berbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B6, dan B12. Meskipun begitu, konsumsi
Indomie yang terlalu sering tidak dianjurkan, sebab Indomie mengandung pewarna
tartrazine yang tidak baik bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.
Merek mi instan lainnya yang terkenal antara lain adalah Supermi, Sarimi,
Salam Mie, Mi ABC, Gaga Mie, dan Mie Sedaap. Produsen yang mendominasi
produksi mi instan di Indonesia adalah Indofood Sukses Makmur yang memproduksi
Indomie, Supermi dan Sarimi.

4. PROSES PRODUKSI MI INSTAN


4.1 Bahan
4.1.1 Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan yang paling penting digunakan dalam pembuatan
suatu produk dimana keberadaan bahan tersebut mempengaruhi nilai produk. Dengan
kata lain, bahan baku adalah bahan utama dalam pembuatan produk. Bahan baku
yang digunakan untuk pembuatan mi instan adalah:
a. Tepung Terigu
Tepung terigu merupakan bahan baku utama dalam proses pembuatan mi instan.

Gambar 5. Tepung terigu


b. Tepung tapioka
Tepung tapioka berfungsi sebagai bahan baku yang ditambahkan pada tepung
terigu yang dapat membuat adonan menjadi kenyal pada setiap keping mi blok.

c. Putih Telur
Putih telur akan menghasilkan suatu lapisan yang tipis dan kuat pada
permukaan mie. Lapisan tersebut cukup efektif untuk mencegah penyerapan minyak
sewaktu digoeng dan kekeruhan saus mie sewaktu pemasakan. Lesitin pada kuning
telur merupakan pengemulsi yang baik, dapat mempercepat hidrasi air pada terigu,
dan bersifat mengembangkan adonan.

Gambar 6. Putih telur


d. Bumbu penyedap dan sauce
Pemberian bumbu pada setiap kemasan berbeda-beda menurut jenisnya dan
rasa mie. Bumbu dan mi instan disatukan pada waktu pembungkusan. Bumbu ini
terdiri dari lada, pala, monosodium glutamate, rasa daging ayam, garam, hidrolisa
protein sayur, bumbu seledri, kecap, bumbu bawang putih dan daun bawang.

4.1.2 Bahan Tambahan


Bahan tambahan adalah bahan-bahan yang dibutuhkan guna menyelesaikan
suatu produk atau suatu bahan yang ditambahkan pada produk dimana keberadaannya
sebagai bahan pelengkap dan merupakan bagian dari produk akhir. Bahan tambahan
yang digunakan dalam proses pembuatan mi instan adalah:
a. Etiket atau pembungkus
Etiket atau pembungkus terbuat dari plastik yang telah diberi merek berbagai
jenis dan rasa mie yang hendak dibungkus. Etiket ini dibuat berbentuk roll gulungan
yang telah disesuaikan dengan keadaan mesin pembungkus.
b. Kotak karton
Kotak karton digunakan untuk mengepak mie yang telah dibungkus pada
masing-masing etiket yang memuat 40 bungkus. Kotak karton ini juga telah diberi
label berdasarkan jenis dan rasa mie yang akan dikemas.
c. Lem selotip
Lem selotip digunakan untuk merekatkan tutup kotak karton satu sama lain.
4.1.3 Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi
yang dikenakan langsung terhadap bahan baku yang sifatnya hanya membantu atau
mendukung kelancaran proses produksi dan bahan ini bukan bagian dari produk
akhir. Bahan penolong ini tidak tampak pada barang jadi. Bahan penolong yang
digunakan adalah :
a. Natrium polipospat (NaH2PO4)
Natrium polipospat (NaH2PO4) berfungsi untuk membuat adonan menjadi
kenyal dan bersatu.

b. Natrium Karbonat (Na2CO3)


Natrium Karbonat (Na2CO3) berfungsi sebagai pengembang pada adonan.
c. Potassium Karbonat dan Karboksimetil Selulosa
Potassium Karbonat dan Karboksimetil Selulosa sama-sama berfungsi untuk
membuat adonan menjadi kenyal dan bersatu.
d. Tetrazine (CL 19140)
Tetrazine (CL 19140) berfungsi sebagai bahan pewarna untuk pembuatan mi
instan, agar mie tersebut tampak menarik.
e. Garam (NaCl)
Garam digunakan untuk memberikan rasa asin terhadap mie.
f. Air
Dalam proses pembuatan mi, air berfungsi untuk melarutkan zat-zat yang
digunakan serta menjadikan adonan dapat bercampur secara homogen. Air yang
digunakan sebaiknya air yang jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
g. Minyak goreng
Minyak goreng berfungsi untuk menggoreng mie yang sudah diadon dan
dibentuk dalam mangkok-mangkok penggorengan. Minyak goreng yang dipakai
harus mempunyai titik didih yang tinggi dan mengandung asam lemak rendah,
sehingga hasil produksi tidak berbau tengik dan dapat bertahan lama.

4.2 Uraian Proses Produksi


4.2.1 Pembuatan Larutan Konsui
Larutan alkali atau larutan konsui adalah campuran formula-formula tertentu
dengan air dengan komposisi formula dan air adalah 1:3, formula-formula yang
dimaksud adalah komposisi dari sodium polipospat, sodium karbonat, garam,
karboksimetil, selulosa, tetrazine yang berfungsi untuk memberi warna, mengatur
keasaman, mengentalkan dan memberi rasa dari mie yang dibuat. Dikatakan larutan
alkali karena bersifat basa dengan pH 9-10. Pencampuran dan pengadukan larutan
alkali ini dilakukan di tangki konsui selama 1 jam sehingga larutan homogen, lalu
larutan ini dialirkan ke mesin mixer. Larutan alkali ini digunakan untuk campuran
dalam pengadukan tepung terigu dan tepung tapioka menjadi adonan pembentuk mi
di mesin mixer.
4.2.2 Pencampuran Pengadukan di Mesin Mixer
Tepung terigu dipompakan melalui screw conveyor ke mesin mixer.
Pengadukan tepung terigu dan tepung tapioka merupakan tahap awal proses
pembuatan mi instan. Proses ini merupakan proses pencampuran tepung terigu dan
tepung tapioka dengan larutan alkali. Pengadukan dilakukan secara perlahan-lahan
sampai terbentuk adonan yang homogen dan memiliki tekstur yang elastis. Adonan
yang dihasilkan berwarna kuning muda, yang tidak menggumpal (tidak mudah
pecah/hancur). Adonan yang baik adalah adonan yang lembut dan kadar airnya
cukup. Proses kerja mesin mixer ini diatur melalui sebuah panel control untuk
mengetahui suhu, waktu dan kecepatan pengadukan.
4.2.3 Penampungan di Mesin Feeder
Mesin feeder ini berfungsi sebagai tempat penampungan adonan untuk
diratakan dan juga untuk mengatur jumlah adonan yang akan dipress,agar rata. Proses
kerja mesin feeder ini diatur melalui sebuah panel control sehingga proses dapat
berjalan secara kontinu selama masih ada adonan didalam mesin ini.

4.2.4 Pengepresan di Mesin Press


Dari mesin feeder, adonan didorong sedikit demi sedikit ke mesin press
dengan menggunakan roller-roller press yang akan menekan dan menipiskan adonan
menjadi lembaran-lembaran. Dari masing-masing roller akan keluar lembaranlembaran dengan ketebalan yang semakin kecil. Ketebalan dari lembaran adonan ini
selalu dikendalikan dengan menyetel setiap pasangan-pasangan roller. Lembaran
yang dihasilkan tidak boleh putus atau berlubang, bersifat elastis dan tidak tegang.
4.2.5 Penyisiran di Mesin Slitter
Lembaran adonan yang keluar dari roller terakhir mesin press akan masuk ke
mesin slitter (penyisir). Kemudian lembaran dipotong-potong menjadi mi yang
berukuran sekitar 1 mm dengan mesin slitter. Kemudian mi diuntai (di buat
bergelombang) dengan menampung mie hasil sisiran dari slitter pada conveyor
dengan kecepatan yang lebih kecil dari kecepatan keluaran potongan-potongan mie
dari mesin slitter.
Kecepatan yang lebih kecil atau lebih lambat ini dibuat dengan tujuan agar potonganpotongan mi menjadi menumpuk, sehingga mi menjadi mengendur dan akhirnya
bergelombang dan keriting. Selanjutnya mi dilewatkan pada alat pemisah yang
berbentuk roda-roda yaitu alat-alat yang membagi-bagi mi menjadi 5 bagian.
4.2.6 Penguapan atau Pengukuran di Steam Box
Selanjutnya untaian mie yang selalu berada di atas conveyor dilewatkan
melalui steam box. Steam box berisi uap panasyang dialirkan dari boiler dan dilewati
mie selama 1 menit. Di sini dimasak dengan cara mengukur karena hanya
menggunakan uap panas atau tanpa kontak dengan api. Pengukuran mempunyai
tujuan:
a. Mendapatkan mie dengan kematangan yang baik
b. Menghasilkan mie dengan tekstur yang empuk dan elastis
c. Mempercepat pemasakan mie pada saat dikonsumsi oleh konsumen.

Kemudian dari steam box untaian mie dilewatkan melalui 2 unit kipas angin
(fan) untuk menurunkan suhu dari mi agar dapat diproses pada proses selanjutnya.
4.2.7 Pemotongan dan Pelipatan di Mesin Cutter
Untaian mi yang dilewatkan melalui 2 unit kipas angin (fan) untuk
menurunkan suhu dimaksudkan agar mi tidak terlalu lembek untuk dipotong dan
dapat dilipat dengan alat pelipat. Cutter ini terdiri dari pisau pemotong dan alat
pelipat sendiri terdiri dari cangkul-cangkul pelipat.
Untaian mi pada akhir conveyor dilewatkan pada mesin pemotong dan
kemudian untaian mi tersebut dipotong berdasarkan ukuran panjang yang ditentukan
yaitu sekitar 24 cm dan kemudian untaian mi yang telah dipotong dilipat dengan
cangkul pelipat yang tepat berada dibawah pisau pemotong, sehingga panjang mi
hasil lipatan menjadi 12 cm.
4.2.8 Penggorengan
Prinsip penggorengan mi adalah pengeringan mi basah dengan media minyak
goreng pada temperatur tinggi sehingga mencapai kadar air tertentu dengan tujuan
membentuk mie kering yang matang, renyah, gurih, tahan lama dan siap dikemas. Mi
yang dimasukkan ke dalam mangkok-mangkok penggorengan ditutup dengan jaringjaring yang bertujuan untuk menjaga mi agar tidak mengembang melebihi ukuran
yang diinginkan dan tidak mengapung saat digoreng.
Sebelum penggorengan dimulai, minyak dipanaskan dulu dengan pipa-pipa
panas yang dipanaskan oleh uap panas dari boiler. Minyak yang telah dipakai untuk
menggoreng lalu dialirkan kembali ke heat exchanger, agar panasnya tetap. Lalu
dipompakan kembali ke penggorengan. Lama penggorengan sekitar 2 menit. Mi
keluar dari penggorengan dijatuhkan ke conveyor lain yang berbentuk jaring-jaring.
Ini dimaksudkan untuk meniriskan sisa minyak dari penggorengan.

4.2.9 Pendinginan
Potongan-potongan mi yang telah digoreng kemudian dibawa kemesin
pendingin (cooling fan) dengan menggunakan conveyor. Pendinginan mi ini
dilakukan di dalam cooling box dengan menghembuskan udara kearah mi melalui
kipas angin yang ditempatkan sedemikian rupa di dalam cooling box. Tujuan
pendinginan mi adalah untuk mengeringkan minyak yang bersisa saat penggorengan.
Sehingga mi menjadi benar-benar kering dan tidak berbau tengik dan tahan lama.
4.2.10 Pembungkusan
Setelah mi didinginkan dan keluar dari cooling fan, mi didistribusikan oleh
conveyor menjadi 2 jalur dan di bawa ke mesin pembungkus (Wrapping Machine)
dibagian kiri dan bagian kanan. Pembungkusan ini mempunyai tujuan sebagai
berikut:
a. Melindungi produk dari kotoran debu dan bahan lain yang dapat mencemari.
b. Mencegah proses oksidasi lebih lanjut dari oksigen yang berasal dari udara dan
sinar matahari.
c. Memberi daya tarik sehingga lebih mampu bersaing terhadap produk-produk
sejenis lainnya.
d. Memberi informasi pada konsumen tentang cara penggunaan, kandungan gizi dan
hak produk secara hukum.
4.2.11 Pengepakan
Di pengepakan, mi dikemas ke dalam karton kemasan yang biasa berisi 40
bungkus. Mi dimasukkan ke dalam karton dengan cara manual. Kemudian karton atau
9 kardus ditutup dengan selotip oleh mesin khusus selanjutnya dibawa ke gudang
bahan jadi untuk disimpan. Di kotak karton dicantumkan jenis mi, isi karton, tanggal
produksi, batas tanggal pemakaian produk, kode produksi dan nama perusahaan.
Secara singkat, proses pembuatan mi diilustrasikan melalui gambar berikut:

Gambar 7. Diagram proses pembuatan mi instan

5. PENGOLAHAN LIMBAH MI INSTAN (WASTE TREATMENT)


5.1 Limbah Gas
Limbah gas berupa asap yang keluar dari cerobong asap pabrik yang berasal
dari steam box dan fryer. Limbah gas menguap bersama udara dan tidak ada sistem
pengolahannya secara khusus.
5.2 Limbah Padat
Limbah padat berupa plastik, pecahan mi dan adonan. Limbah ini dikumpulkan dalam
suatu tempat kemudian di bakar pada waktu tertentu tergantung banyak tidaknya
limbah, tetapi biasanya dilakukan setelah selesai suatu siklus produksi.
5.3 Limbah Cair
Limbah cair berupa minyak dan air steam. Limbah ini melalui beberapa
proses pembuangan. Dibawah setiap mesin terdapat air yang dialirkan dan berguna
untuk membersihkan/mengalirkan adonan, minyak dan sebagainya yang jatuh dari
mesin yang akan dibawa ke tempat saluran air yang berada dibawah setiap mesin
sehingga sampai ke bak penampungan.
Di dalam bak penampungan ini terjadi pemisahan antara lemak dan air. Air
akan berada dibawah sedangkan lemak akan berada di atas. Untuk lemak setiap
harinya diadakan pengambilan sedangkan air sedot melalui pipa-pipa di bak
selanjutnya. Pada bak terjadi beberapa proses pengolah limbah yaitu sebagai berikut:
1. Tahap I (Primary Treatment)
Pada fase ini dilakukan proses penambahan bahan kimia yaitu TCF dan TCN. TCP
adalah suatu senyawa dengan melekul anionic polyelectrolyte yang berbentuk cairan
putih dan tidak berbau. Sedangkan TCN adalah senyawa aluminium sulfat
(Al2(SO4)3) yang berguna untuk membuat dispersi yang selanjutnya air mengalami
suatu pemisahan yaitu padatan dan cairan. Di dalam bak ini terdapat baling-baling

yang terus berputar yang dapat mencampurkan TCN dan TCF serta limbah dengan
konsentrasi 100 ml.
2. Tahap II (Second Treatment)
Tahap ini adalah proses kelanjutan dari tahap I. Dalam tahap ini terjadi proses kontak
dengan udara yang dilakukan oleh kincir untuk proses penyegaran.
3. Tahap III (Third Treatment)
Tahap ini merupakan tahap akhir. Dalam bak ini ada yang menuju ke sebuah kolam
dan ada langsung ke saluran air yang akan menuju ke sungai. Sebagian air yang
menuju kolam mini terdapat ikan-ikan. Ikan-ikan ini merupakan patokan apakah air
tersebut tercemar atau tidak. Apabila ikan yang berada dalam kolam mati berarti air
tersebut sudah tercemar dan apabila ikan tersebut masih hidup berati airnya tidak
tercemar.
effluent sesuai dengan baku mutu Kepmen LH no 51 Tahun 1995
NO

PARAMETER

SATU

KADAR

BAKU

AN
MUTU
1
Ph
5-5,8
6-9
2
BOD
Mg/L
5700-7300
75
3
COD
Mg/L
7000-10000
200
4
PADATAN TERSUSPENSI
Mg/L
9440-10.280
100
5
MINYAK LEMAK
Mg/L
2
20
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru yang tergabung dari berbagai fakultas, mereka melakukan penelitian pada
limbah cair industri mie instant metode bak aerasi seed sludge.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menyebutkan, bahwa jumlah urea yang
ditambahkan dalam metode seed sludge berpengaruh terhadap penurunan kadar BOD
dalam limbah cair mie instant. Konsentrasi urea optimum pada pembuatan seed
sludge yaitu

sebesar

0,14

M, hasilnya bias dilihat setelah tiga hari dengan

penurunan sekitar nilai MLSS sebesar 2528,8 mg/l dan SV30 sebesar 60,5 %
sedangkan nilai BOD3 sebesar 241,92 mg/l, DO sebesar 7,7027 mg/l.
Limbah padat diatasi dengan cara pemilihan jenis limbah, yaitu limbah plastik
dan limbah yang mudah terurai. Limbah plastik diserahkan kepada tempat
pembuangan sampah untuk dikelola menjadi plastik, sedangkan limbah ang mudah
terurai seperti potongan mie, dan mie yang kadaluarsa diserahkan ke pihak ketiga
yaitu ke pengolahan pakan ternak.
Limbah udara dapat diminimalkan dengan selalu mengecek emisi buangan
dari pabrik dengan perawatan secara berkala dan pengecekan uji emisi gas buang,
agar gas buang dari pabrik tidak melewati baku mutu yang berlaku.
POTENSI LIMBAH
Limbah padat dari industri mie instan seperti plastik dapat dimanfaatkan
untuk diolah kembali menjadi plastik, dan dibuat kerajinan tangan.sedangkan
potongan mie serta mie kadaluarsa dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Limbah
potongan-potongan mie ini memiliki kandungan sama dengan pakan ikan yaitu
banyak mengandung karbohidrat, maka dari itu limbah indusrti mie instan perlu
dimanfaatkan untuk pembuatan pakan ikan. Selain itu, Nilai nutrisi yang terkandung
dalam limbah industr ini adalah kandungan lemaknya.Lemak dalam limbah mie
instan biasanya berasal dari minyak kelapa sawit, yang diduga memiliki FFA rendah,
karena untuk konsumsi manusia.Keunggulan limbah industri mie dibandingkan dedak
padi adalah kandungan serat kasarnya.Kandungan asam amino limbah industri mie
instan juga tidak jauh berbeda dengan asam amino dalam terigu, sehingga diharapkan
dapat digunakan dalam pakan ikan sebanyak 10 -15%, atau menggantikan tepung
terigu. Selain pakan ikan, limbah padat mie instant ini juga disarankan untuk pakan
ternak, namun penggunaan limbah mie instant melebihi 30% dapat berpengaruh
terhadap berat karkas (berat ternak setelah dipotong) dari ternak
Limbah cair dari industri mie instan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman
apabila kualitasnya sudah diperbaiki.Selain itu, Dapat pula dijadikan sebagai bahan

baku pengolahan sabun, karena karakteristik limbah cair mie yang mengandung 55%
minyak. Pembuatan sabun dari limbah cair ini sama dengan pembuatan sabun dari
minyak-minyak lainnya, dengan penambahan kaustik soda dengan perbandingan 1;5
maka akan terbentuk sabun dengan dua bentuk fisik yang berbeda warna
Pengolahan Limbah
Pengolahan Limbah
Limbah Cair
- Sumber limbah air sisa proses dan sanitasi.
- Unit pengolahan air limbah (IPAL)
- Sisa sedimentasi, aerasi, dan mikrobiologi (lumpur aktif).
- Kapasitas 25 m3 per siklus pengolahan.
- Kontrol kualitas pengolahan fish tank yaitu dengan ikan.
- Jika ikan dimasukan kedalam cairan tersebut mati maka limbah beracun.
1. Limbah Non Padat B3
-

Sumber limbah berupa sisa produksi sampah lingkungan

Limbah dipisahkanorganik dan organik ditampung di TPS

Limbah padat setiap 2x dalam seminggu diangkut ke TPA oleh dinas kebersihan

kabupaten.
1. Limbah Padat B3
- Limbah dari batu bara.
- Limbah medis

1. Limbah Udara
-

Sumber limbah berupa asap sisa pembakaran dari boller batu bara.

Limbah padat secara rutin setiap 1x dalam 1 tahun diperiksa batas normalnya oleh

organisasi yang ditunjuk perusahaan, seperti BARISTAND.


1. Limbah Ramah Lingkungan
-

Sisa-sisa produksi

- Sampah Lingkungan
- Sampah organik dan
- Sampah Anorgani

Manfaat Limbah Industrie Mie Instan Bagi Pakan Ikan


Saat ini mie instan adalah makanan yang sudah menjadi makanan instan bagi semua
kalangan masyarakat dikarenakan harganya yang sangat lah terjangkau. Industri mie
instan banyak memanfaatkan terigu sebagai bahan baku utama dalam pembuatan mie
instan tersebut, bahan lainnya seperti minyak sawit, tapioka, sagu porsinya sangat
sedikit.
Kita tahu bahwa bahan baku yang sering dipakai dalam pembuatan pakan buatan ikan
adalah terigu sebagai karbohidrat. Dimana bahan bakunya sama dalam pembuatan
mie instan. Maka daripada itu limbah indusrti mie instan perlu dimanfaatkan untuk
pembuatan pakan ikan, karena masih jarang dipakai oleh petani maupn pabrik pakan.
Nilai nutrisi yang terkandung dalam limbah industri ini adalah kandungan lemaknya,
tetapi kandungan proksimat limnbah mie instan menunjukan kadar protein lebih
rendah dibandingkan dengan terigu dan dedak padi. Lemak dalam limbah mie instan
biasanya berasal dari minyak kelapa sawit, yang diduga memiliki FFA rendah, karena
untuk konsumsi manusia. Keunggulan limbah industri mie dibandingkan dedak padi
adalah kandungan serat kasarnya.
Serat kasar ini berpengaruh terhadap kecernaan karbohidrat. Semakin tinggi serat
kasar diduga kecernaan karbohidrat akan semakin rendah. Kandungan asam phytat
pada dedak padi juga menyebabkan beberapa nutrien seperti phospor tidak dapat

dicerna. Lemak pada dedak walaupun jumlahnya tinggi merupakan asam - asam tak
jenuh. Asam lemak tak jenuh mudah sekali teroksidasi sehingga akan rusak dalam
waktu yang relatif cepat.
Kandungan asam amino limbah industri mie instan tidak jauh berbeda dengan asam
amino dalam terigu, sehingga diharapkan dapat digunakan dalam pakan ikan
sebanyak 10 -15%, atau menggantikan tepung terigu.
KANDUNGAN NUTRISI :
Kandungan nutrisi limbah industri mie instan dibandingkan dedak padi dan tepung
terigu berturut-turut adalah :
Protein : 8-9%, 11-12%, 10-11%
Lemak : 8-10%, 11-13%, 0,5-1%
Serat Kasar : 1-2%. 11-16%, 0-1%
lysin : 0,21%, 0,42%, 0,82%
methionin : 0,14%, 0,26%, 0,26%
6. KESIMPULAN
Mi instan memiliki rasa yang lezat serta proses penyajian yang mudah dan cepat
membuatnya digemari dan menjadi makanan favorit. Seiring dengan permintaan
pasar yang besar akan produk mi instan ini, industri mi instan pun berkembang
dengan pesat mulai dari negeri asalnya di Jepang dan menyebar ke negara-negara
seluruh dunia lainnya, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, industri mi instan berkembang dengan pesat yang ditandai dengan
munculnya berbagai merk dagang mi instan dan variasi produk-produknya.
Perkembangan ini tentunya disebabkan karena mi instan sudah begitu populer dan
disukai oleh masyarakat Indonesia, dengan berbagai daya tarik yang dimilikinya
seperti enak, praktis, dan ekonomis.
Namun pada dasarnya mi instan merupakan jenis junkfood yang tidak baik apabila
dikonsumsi secara berlebihan karena akan berdampak buruk pada kesehatan. Di
dalam proses pembuatannya, mi instan sudah mengalami proses penggorengan,

sehingga bisa dimakan meski tidak dimasak. Namun, dimakan mentah atau matang,
mi instan tetap saja termasuk makanan yang tidak sehat karena protein, vitamin, dan
serat yang dikandungnya sangat rendah.
Mi instan merupakan makanan yang kaya karbohidrat. Dalam proses pembuatannya,
mi instan mengalami penggorengan yang menyebabkan mi mengandung lemak jenuh
(saturatedfat) dan lemak trans yang banyak (lemak trans adalah lemak tambahan
yang dibuat saat gas hidrogen bereaksi dengan minyak dalam proses hidrogenasi).
Proses hidrogenasi ini untuk meningkatkan kekerasan dan stabilitas rasa makanan.
Kandungan lain dalam mi instan yang dapat membahayakan kesehatan yaitu msg
(monosodium glutamat) yang terkandung pada bumbu yang membuat rasa mi instan
menjadi gurih dan bahan pengawet serta bahan kimia lainnya. Dampak buruk mi
instan ini mungkin tidak secara langsung terlihat namun akan muncul pada jangka
panjang.
Untuk pengolahan limbah produksi mi instan di Indonesia sudah cukup baik, namun
mungkin dapat dikembangkan lagi ke depannya dengan metode reuse untuk
pengolahan limbah padat agar tidak ada bahan sisa produksi yang terbuang sia-sia.

REFERENSI
http://babesajabu.wordpress.com/2009/05/21/asal-usul-mie-instant/
http://efendybloger.blogspot.com/2011/08/mi-instan-digemari-sekaligus-ditakuti.html

http://eka.web.id/bahaya-mie-instan-bagi-kesehatan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Indofood_Sukses_Makmur
http://id.wikipedia.org/wiki/Momofuku_Ando
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mi_instan&oldid=5121995
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18557/4/Chapter%20II.pdf