Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea sampai lapisan


stroma akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin
banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel
radang. Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea yaitu ulkus kornea infeksi dan ulkus
kornea non infeksi. Penyebab ulkus kornea infeksi adalah bakteri, jamur, akantamuba dan
herpes simpleks. Sementara penyebab ulkus kornea non infeksi adalah trauma (mekanik,
fisik, termal), autoimun, defisiensi vitamin A, dan disfungsi nervus trigeminus. Ulkus
kornea biasanya terjadi sesudah terdapatnya trauma yang merusak epitel kornea.

BAB II
1

LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Agama
Suku
Alamat
No. RM
Tanggal Pemeriksaan

: Tn. A
: 60 tahun
: Laki-laki
: Pedagang gorengan
: Islam
: Sasak
: Ampenan, Mataram
: 081289
: 8 Mei 2013

2. Anamnesis
A. Keluhan Utama:
Mata kiri terasa sangat nyeri
B. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poliklinik Mata RSUP NTB dengan keluhan mata kiri terasa
sangat nyeri. Nyeri dirasakan di permukaan mata, terus menerus sepanjang hari.
Awalnya pasien merasakan mata kiri nyeri setelah terkena percikan minyak
goreng panas ketika menggoreng ubi seminggu yang lalu. Menurut pasien,
minyak goreng panas masuk ke dalam matanya. Pasien tidak mencuci matanya
dengan air bersih dan tidak menggosok-gosok matanya.15 menit setelah matanya
terpercik minyak goreng panas, pasien memberi obat tetes mata (rohto) pada
mata kirinya. Setelah 7 hari rasa nyeri pada mata kiri tidak berkurang. Mata kiri
semakin nyeri dan merah. Pasien merasa penglihatan mata kanan dan kiri kabur,
silau, seperti melihat asap. Keluhan tersebut sudah dirasakan sejak pasien belum
terpercik minyak panas dan memburuk setelah kejadian. Rasa gatal, kering,
kotoran mata, dan pusing disangkal oleh pasien.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan tidak pernah mengalami keluhan pada mata seperti ini

sebelumnya.
Riwayat operasi pada mata (-).
Riwayat perdarahan secara tiba-tiba yang tidak diketahui penyebabnya dari

daerah tubuh yang lain (-).


Riwayat memakai lensa kontak (-)

D. Riwayat Penyakit Keluarga & Sosial

Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa/menderita penyakit

mata lain.
Tidak ada tetangga & keluarga serumah yang mengalami mata merah.

E. Riwayat Penyakit Sistemik


Riwayat hipertensi (-)
Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat penyakit autoimun (-)
F. Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat alergi makanan (-)
Riwayat alergi cuaca (-)
G. Riwayat Pengobatan

Pasien belum pernah berobat untuk keluhan nyeri mata kiri yang dideritanya
sekarang.

Pasien membeli obat tetes mata (rohto) di apotek untuk mengurangi


keluhannya.

3. Pemeriksaan Fisik
A. Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran/GCS

: Tampak sulit berjalan (harus dituntun ke kursi periksa)


: Compos mentis / E4V5M6

B. Status Lokalis
No

Pemeriksaan

OD

OS

1.

Visus Naturalis

6/24

2.

Pinhole

6/12

Tidak ada kemajuan

3.

Hitung jari

2/60

4.

Posisi Bola Mata


Ortotropia

Ortotropia

Ortoforia

Ortoforia

Baik ke segala arah

Baik ke segala arah

-Tes Hirschberg
-Tes Cover Uncover
5.

Gerakan bola mata

6.

7.

Palpebra
Superior

Palpebra
Inferior

Edema

(-)

(-)

Hiperemi

(-)

(-)

Lagoftalmos

(-)

(+)

Entropion

(-)

(-)

Ektropion

(-)

(-)

Edema

(-)

(-)

Lagoftalmos

(-)

(+)

Entropion

(-)

(-)

Ektropion

(-)

(-)

+ 10 mm

+ 10 mm

8.

Fissura palpebra

9.

Konjungtiva
Palpebra
Superior

Hiperemi

(-)

(+)

Edema

(-)

(+)

10. Konjungtiva
Palpebra
Inferior

Hiperemi

(-)

(+)

Sikatrik

(-)

(-)

11. Konjungtiva
Bulbi

Injeksi
Konjungtiva

(-)

(-)

Injeksi Siliar

(-)

(+)

Massa

(-)

(-)

Edema

(-)

(+)

Subconjunctival
bleeding

(-)

(-)

Cembung

Cembung

Jernih

Keruh

Ulkus

(-)

(+)

Benda Asing

(-)

(-)

13. Bilik Mata


Depan

Kedalaman

Dalam

Dalam

Hifema

(-)

(-)

14. Iris

Warna

Coklat

Coklat

Bentuk

Bulat dan regular

Bulat dan regular

Bentuk

Bulat

Bulat

Warna

Cokelat

Cokelat

12. Kornea

Bentuk
Kejernihan

15. Pupil

16. Lensa

Refleks cahaya
langsung

(+)

(+)

Refleks cahaya
tidak langsung

(+)

(+)

Kejernihan

Keruh

Keruh

Iris Shadow

(+)

(+)

(-)

Tampak bintik hijau


di kornea

17. Tes Fluoresein

Foto Mata Pasien

OD

OS

BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA KASUS
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan data medis pasien diatas, ditemukan beberapa permasalahan. Adapun
permasalahan medis yang terdapat pada pasien adalah:
SUBJECTIVE
a. Mata kiri terasa sangat nyeri terus-menerus sepanjang hari.
b. Mata kanan dan kiri kabur, fotofobia, tampak melihat seperti asap.
c. Mata kiri tampak merah setelah terkena percikan minyak goreng panas.
OBJECTIVE
a. Pemeriksaan status lokalis pada mata kanan didapatkan :
Visus 6/24 sc dan 6/12 ph.
Lensa keruh, iris shadow (+)
b. Pemeriksaan status lokalis pada mata kiri didapatkan :
6

Hitung jari 2/60


Lagoftalmos pada palpebra superoinferior
Hiperemi, edema pada konjungtiva palpebra superoinferior
Injeksi siliar pada konjungtiva bulbi
Keruh dan ulkus pada kornea
Lensa keruh, iris shadow (+)
Tes fluorosein tampak bintik berwarna hijau

2. Analisa Kasus
Mata kiri terasa sangat nyeri terus-menerus sepanjang hari.
Kondisi yang dapat menyebabkan mata terasa nyeri adalah :
Terkena percikan minyak goreng panas merupakan trauma termal yang terjadi pada
mata. Akibat trauma termal menyebabkan kerusakan jaringan pembuluh darah dan
saraf orbita. Sehingga menyebabkan rasa nyeri akibat jejas pada daerah yang
terkena.

Mata kanan dan kiri kabur, fotofobia, tampak melihat seperti asap
Mata kanan dan kiri kabur yang dirasakan sebelum pasien terkena percikan minyak
panas bisa disebabkan karena kelainan refraksi, karena pada mata kanan terdapat
kemajuan visus setelah menggunakan pinhole. Namun keluhan fotofobia, melihat
seperti asap, dan iris shadow (+) menunjukkan pasien mengalami katarak. Katarak
immatur pada mata kanan karena pasien masih dapat membaca dengan visus 6/24 sc
6/12 ph. Sementara kabur dan visus 2/60 pada mata kiri bisa disebabkan karena
katarak matur dan ditambah dengan adanya ulkus kornea dimana kornea sebagai
media refraksi menghalangi pembiasan cahaya yang masuk ke lensa.
Mata kiri tampak merah setelah terkena percikan minyak goreng panas
Mata kiri tampak merah akibat adanya injeksi siliar sehingga pembuluh darah
perikornea melebar. Injeksi siliar yang disertai fotofobia ini terjadi akibat ulkus
kornea.
3.

Differential Diagnoses
- Ulkus Kornea Perifer ec Trauma Termal dengan Katarak
-

Immatur OD Katarak Matur OS


Keratitis Punctata dengan Katarak Matur OD OS

4. Planning
7

Usulan Pemeriksaan Lanjutan


- Slitlamp : untuk menilai kekeruhan pada kornea dan lensa
- Pewarnaan gram dan KOH : untuk memastikan apakah ulkus
disebabkan agen infeksi atau non infeksi
5. Prognosis
Prognosis pengelihatan (ad functionam)
-Prognosis pengelihatan pasien bonam.
Prognosis nyawa (ad vitam)
-Prognosis nyawa pasien bonam.

BAB IV
RINGKASAN AKHIR
Seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun datang diantar oleh kelurganya
dengan keluhan nyeri pada mata kiri. Nyeri dirasakan ketika pasien terkena
percikan minyak goreng panas ketika menggoreng ubi seminggu yang lalu. Visus
OD 6/24sc 6/12ph, Visus OS 2/60. Kedua mata terasa silau dan nampak melihat
asap. Riwayat penyakit sistemik dan autoimun disangkal pasien.
Pasien didignosa dengan ulkus kornea perifer dengan katarak immatur OD
katarak matur OS. Rencana pemeriksaan selanjutnya adalah slitlamp untuk
melihat kekeruhan kornea dan lensa serta pewarnaan gram dan KOH untuk
memastikan ulkus kornea infeksi/non-infeksi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bradford C. 2004. Basic Ophtalmology. 8th Edition. San Fransisco-American
Academy of opthalmology
2. Iljas, S. 2007. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
3. J.Kankski. 2010 . Signs in Ophthalmology : Causes and Differential Diagnosis.
United Kingdom : Elsevier.

4. J.Kanski & Bowling. 2011. Clinical Opthalmology : A Systemic Approach. 7th


Edition. United Kingdom : Elsevier.
5. Perdami.2006. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum & Mahasiswa
Kedokteran. Perdami
6. Vaughan & Asbury dkk. 2010. Oftalmologi Umum, Jakarta: EGC.

10