Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional Daerah Penelitian


2.1.1

Stratigrafi Regional
Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari tiga unit vulkanik utama yang

berumur Miosen-Pliosen (Marcoux & Milesi, 1994). Unit yang lebih bawah
mempunyai karakteristik endapan andesit kalk-alkalin bawah laut yang
tergadrasi secara lateral menjadi endapan epiklastik. Unit tengah dicirikan
oleh banyaknya batuan vulkanik dasitik letusan subaerial yang disusun oleh
lapili tuf yang ditumpangi lapili, blok tuf, tuf piroklastik berbutir halus dan
batuan epiklastik. Unit atas terbentuk dari aliran lava andesit dengan struktur
meniang (columnar).

Gambar 2.1 Peta Geologi Daerah Pongkor (Marcoux & Milesi, 1994)

2.1.2 Struktur Geologi


Tatanan tektonik dan struktur geologi di daerah Jawa bagian barat
dipengaruhi oleh tektonik kepulauan Indonesia yang merupakan titik
pertemuan antara tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia yang relatif lebih diam,
lempeng Samudra Pasifik yang bergerak relatif kearah baratlaut dan lempeng
Indo-Australia yang relatif bergerak ke arah utara (Hamilton,1979).
Berdasarkan rekonstruksi geodinamika (Hamilton,1979), subduksi lempeng
Australia kebawah lempeng Eurasia yang aktif pada Eosen telah
menghasilkan pola penyebaran batuan volkanik Tersier di Pulau Jawa berarah
barat-timur. Terbentuk juga cekungan tengah busur (intra-arc basin) dan
cekungan belakang busur (back-arc basin) di Jawa Barat bagian Utara.
Cekungan belakang busur ini secara progresif semakin berpindah ke arah
utara sejalan dengan perpindahan jalur gunung api selama Tersier hingga
Kuarter (Soeria-Atmadja, dkk.,1994).
Dari hasil penelitian para pendahulu, struktur geologi yang
berkembang di daerah penelitian mencakup dua pola utama, yaitu:
1. Pola kisaran Timur Laut-Barat Daya meliputi Sesar Cikaniki, Sesar
Cidurian, Sesar Cihalang dan Sesar Cisarua.
2. Pola kisaran Barat Laut-Tenggara meliputi Sesar Gunung Singa, Sesar
Telukwaru, Sesar Curugbitung, Sesar Ciguha, Sesar Ciurug dan Sesar
Pasir Pogor
Selain kedua pola sesar utama, terdapat sesar berarah utara selatan
yang terbentuk setelah kedua sesar utama tersebut dan berkaitan dengan urat
Pasir Jawa. Pola penyebaran kekar memperlihatkan arah umum sejajar
dengan penyebaran urat dan bidang perlapisan batuan yang umumnya terisi
kuarsa, lempung mangan oksida, pirit dan limonit.

2.2 Alterasi Daerah Penelitian


Alterasi merupakan perubahan komposisi mineral dari suatu batuan karena
proses fisika atau kimia, khususnya oleh interaksi dari larutan hydrotermal dengan
batuan yang dilaluinya. Bila batuan induk (dalam bentuk rekahan, retakan atau
pori) dilalui fluida panas yang berasal dari magma maupun dari larutan
hydrotermal, maka keadaan keduanya menjadi tidak stabil. Untuk mencapai titik
keseimbangan equilibrium condition maka akan terjadi suatu reaksi dari
keduanya dan menghasilkan suatu bentukan kondisi yang baru yang ditamdai
dengan munculnya kumpulan mineral baru yang memiliki sifat yang berbeda dari
batuan induk maupun dari larutan asalnya.
Ubahan bisa diakibatkan oleh proses dekomposisi kimia, pelapukan atau
penambahan elemen baru. Intensitas ubahan tergantung pada komposisi
batuan/mineral asal, lingkungan geologi dan larutan/fluida yang mengubahnya.

2.2.1 Jenis-jenis Alterasi


Telah diketahui bahwa cebakan bijih tambang emas Pongkor
merupakan endapan epitermal sulfida rendah dengan tipe urat kuarsakarbonat-adularia, suhu pembentukan urat ini berkisar antara 180-220C. Tipe
alterasi pada daerah penelitian ini adalah potasik, argilik, propilit dan serisit
berdasarkan mineral penciri yang ditemukan menjadi isian (filling) pada
bidang-bidang diskontinu. Tipe alterasi berdasarkan asosiasi mineralnya
(Corbett dan Leach, 1993) :

Tabel 2.1 Alteration based on Mineral Assemblages (Corbett dan Leach, 1993)
Tipe

Mineral penciri

Propilitik

Argilik
Advanced
Argillic
(Temperatur
rendah)
Advanced
Argillic
(Temperatur
tinggi)

Filik
Potasik

Mineral Aksesori
Albit, Kuarsa, Kalsit,
Pirit, Ilit atau Lempung
dan Oksida besi

Keterangan
Temperatur 100-250C, salinitas
beragam, pH mendekati netral,
permeabilitas rendah.

Pirit, Klorit, Kalsit dan


Kuarsa

Temperatur 200-300C, salinitas


rendah, pH asam-netral

Kaolinit, Alunit
dan Kalsedon

Kalsedon, Kristobalit,
Kuarsa dan Pirit

Temperatur < 180C, pH asam

Pirofilit, Diasfor
dan Andalusit

Kuarsa, Enargit,
Turmalin dan Luzonit

Kuarsa, Serisit
dan Pirit

Anhidrit, Pirit dan


Kalsit
Klorit, Epidot, Pirit
dan Ilit-Serisit

Temperatur 250-350C, pH asam


Temperatur 230-400C, salinitas
beragam, pH asam-netral, zona
permeabilitas pada batas urat.
Temperatur > 300C, salinitas tinggi,
dekat dengan batuan intrusi

Wolastonit, Klorit dan


Biotit

Temperatur 300-700C, salinitas


tinggi, pada batuan samping karbonat

Klorit, Epidot dan


Karbonat
Smektit,
Montmorilonit,
Ilit-Smektit dan
Kaolinit

Biotit, Kuarsa
Garnet, Piroksen,
Amfibol, Epidot
dan Magnetit

Skarn

2.3 Sifat-sifat Batuan


Batuan adalah material kerak bumi yang tersusun dari satu atau lebih
mineral yang terikat kuat, tanpa adanya ubahan yang berarti akibat adanya proses
pelapukan, sehingga kemas dan sebagian besar mineral utama tetap ada (Hunt,
1984). Pada dasarnya batuan memiliki dua sifat utama yaitu sifat fisik dan
mekanik yang dapat ditentukan berdasarkan hasil pengujian laboratorium maupun
lapangan.
2.3.1 Sifat Fisik Batuan
Sifat fisik batuan meliputi berat jenis, porositas, absorpsi, void ratio

a) Penimbangan Berat Percontoh


Wn

= berat percontoh asli/ natural (gram)

Wo

= berat percontoh kering (gram)

Ww

= berat percontoh jenuh (gram)

Wa

= berat percontoh jenuh+ berat air + berat bejana (gram)

Wb

= berat percontoh jenuh tergantung di dalam air + berat air


+ berat bejana (gram)

Ws

= berat percontoh jenuh di dalam air (Wa-Wb)

Wo-Ws

= volume percontoh tanpa pori-pori (cm)

Ww-Ws

= volume percontoh total (cm)

b) Penentuan Sifat Fisik Batuan


Berat isi asli (natural density), = Wn

(gram/cm ).......................(1)

Ww-Ws

Berat isi kering (dry density), d = Wo (gram/cm ) ....................(2)


Ww-Ws
Berat isi jenuh (saturated density), s = Ws (gram/cm ) .............(3)
Ww-Ws
Specific gravity, GS = Wo
Wo-Ws
Berat isi air

(gram/cm ) ..................................(4)

10

Kadar air (water content), W = Wn-Wo

x 100% (%)..................(5)

Wo
Derajat kejenuhan, SR = Wn-Wo

x 100%

(%)..........................(6)

Ww-Wo
Porositas, n = Wn-Wo

x 100%

(%)..........................................(7)

Ww-Ws
Void ratio, e = n

...................................................................(8)

1-n
2.3.2 Sifat Mekanik Batuan
Sifat mekanik meliputi kuat tekan, kuat tarik, modulus elastisitas,
poisson ratio, sudut geser dalam, kohesi dan kuat geser.
a) Kuat tekan (Compressive Strength)
Bisa juga didapat dari pengujian uniaxial, triaxial atau biaxial.
Pengujian

Kuat

Tekan

(Uniaxial

Compressive

Strength)

ini

menggunakan mesin tekan untuk menekan percontoh batu yang


berbentuk silinder, balok atau prisma dari satu arah (uniaxial).

Gambar 2.2 3D Lingkaran Mohr yang mempresentasikan berbagai kondisi tegangan


(Sadisun, 2008)

11

Perbandingan antara tinggi dan diameter percontoh (l/D)


mempengaruhi nilai kuat tekan batuan. Syarat menggunakan UCS
adalah bahwa = 0. Pada uji kuat tekan uniaksial terdapat tipe pecah
suatu contoh batuan pada saat runtuh. Tipe pecah contoh batuan
bergantung pada tingkat ketahanan contoh batuan dan kualitas
permukaan contoh batuan yang bersentuhan langsung dengan
permukaan alat penekan saat pembebanan.
b) Modulus Elastisitas
Untuk kebanyakan batuan, kurva tegangan-regangan uniaksial
sebelum mengalami keruntuhan umumnya mendekati bentuk linear
(=E). E dikenal sebagai modulus elastisitas (modulus Young) yang
mencerminkan

kapasitas

deformasi

batuan

atau

kekakuannya

(stiffness).
c) Nisbah Poisson
Merupakan rasio antara regangan lateral (radial/tranversal) dan
vertikal (aksial).
d) Kuat Tarik (tensile strength)
Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui
kuat tarik contoh batuan di laboratorium, yaitu metode kuat tarik
langsung dan metode kuat tarik tak langsung. Metode kuat tarik tak
langsung merupakan uji yang paling sering digunakan. Hal ini
disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji kuat tarik
langsung. Salah satu uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.
e)

Kuat Geser (Direct shear)


Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat geser batuan,

harga kohesi dan sudut geser dalam baik puncak (peak), apperent atau

12

sisa dari batuan pada tegangan normal tertentu dengan memakai alat
direct shear box apparatur test.
2.3.3 Keruntuhan Batuan
Keruntuhan adalah suatu proses dimana material berubah dari satu
perilaku menjadi kondisi perilaku yang lainnya. Kriteria keruntuhan
merupakan hubungan tegangan dan regangan yang memberi sifat terjadinya
keruntuhan batuan. Untuk membahas kriteria keruntuhan dikenal dua metode
yaitu cara analitik dan cara empirik. Metode analitik meliputi; kriteria
keruntuhan Mohr-Coulomb, kriteria keruntuhan Tresca, kriteria keruntuhan
Drucker-Prager, kriteria keruntuhan Von Mises dan kriteria keruntuhan
Griffith.

Metode

empirik

meliputi;

kriteria

Bieniawski,

kriteria

Protodyakonov dan kriteria Hoek-Brown. Berikut akan dibahas kriteria


keruntuhan berdasarkan Mohr-Coulomb dan Hoek-Brown.
a) Mohr-Coulomb (MC)
Dimana dan adalah shear dan normal stress. adalah
koefisian geser dalam batuan = tan dan c kohesi. Teori Mohr
menganggap bahwa untuk suatu keadaan tegangan > >

(intermediate stress) tidak mempengaruhi keruntuhan batuan dan kuat


tarik tidak sama dengan kuat tekan.
Keruntuhan geser suatu batuan tergantung pada kohesi
material dan besarnya tegangan normal yang bekerja pada dinding
keruntuhan tersebut. Oleh karena itu kriteria Mohr-Coulomb dapat
ditulis;

=c+

13

Gambar 2.3 Kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb (Sadisun, 2008)

Keterangan gambar :
r-r = bidang rupture
t-t = Garis kuat geser Coulomb
-

diameter lingkaran Mohr


Keruntuhan (failure) terjadi jika lingkaran Mohr menyinggung

kurva intrisik dan lingkaran tersebut disebut lingkaran keruntuhan.


Faktor keamanan ditentukan berdasarkan jarak dari titik pusat
lingkaran Mohr ke garis kekuatan batuan (kurva intrisik) dibagi
dengan jari-jari lingkaran Mohr. Faktor keamanan ini menyatakan
perbandingan keadaan kekuatan batuan

terhadap tegangan yang

bekerja pada batuan tersebut.


Teori ini didasarkan pada hipotesis bahwa tegangan normal
dan tegangan geser yang bekerja pada permukaan rupture memainkan
peran pada preses failure batuan. Untuk beberapa bidang rupture

14

dimana tegangan normal sama besarnya, maka bidang yang paling


lemah adalah yang memiliki tegangan geser paling besar.
b)

Hoek-Brown strength

Gambar 2.4 Hoek and Brown Failure Criterion (Sumber: Rock Mass
Classification; B. Singh)

Hoek-Brown (1980) mengusulkan sebuah metode untuk


mendapatkan estimasi kekuatan batuan terkekarkan, berdasarkan
penilaian atas ikatan antara blok batuan dan kondisi permukaan antara
blok tersebut. Aplikasi metode ini pada atuan dengan kualitas sangat
jelek memerlukan beberapa perubahan dan akhirnya menggunakan
klasifikasi baru yaitu Geological Strength Index (Hoek, Kaiser and
Bawden, 1995; Hoek, 1995; Hoek-Brown, 1997).

15

Tabel 2.2 Generalised Hoek-Brown Criteria (Sumber: Rock Mass Classification; B.


Singh)

2.3.4 Wedge Failure


Longsoran Baji ialah tipe longsoran yang disebabkan karena
perpotongan dua atau lebih bidang diskontinuitas sehingga membentuk
bidang Baji. Biasanya berbentuk blocky maupun prisma. Terbentuk di atap
maupun dinding terowongan.

16

Potensi bidang Baji yang terbentuk dapat terlihat dari kumpulan joint
set yang telah dianalisis menggunakan pemograman khusus. Namun untuk
memastikan keberadaan Baji tersebut ada baiknya dilakukan pengecekan
lapangan.

Gambar 2.5 Kenampakan Baji di X Cut 5 Tambang Gudang Handak L. 500

17

2.4 Bidang Diskontinuitas


Secara umum bidang diskontinu merupakan bidang yang memisahkan
massa batuan menjadi bagian yang terpisah. Menurut Priest (1993) dalam
Sitohang (2008), pengertian bidang diskontinu adalah setiap bidang lemah yang
terjadi pada bagian yang memiliki kuat tarik paling lemah dalam batuan. Menurut
Gabrielsen (1990) dalam Sitohang (2008), keterjadian bidang diskontinu tidak
terlepas dari masalah perubahan stress (tegangan), strain (regangan), temperatur,
mineralisasi dan rekristalisasi yang terjadi pada massa batuan dalam waktu
panjang. Keberadaan struktur geologi dan diskontinuitas akan mengurangi tingkat
kekuatan geser batuan dan implikasi utamanya adalah meningkatnya peluang
terjadinya longsor. Dengan munculnya bidang lemah tersebut maka batuan yang
tadinya utuh akan berubah menjadi massa batuan dengan kekuatan yang jauh
lebih kecil dari sebelumnya. Beberapa jenis bidang diskontinu yang digolongkan
berdasarkan ukuran dan komposisinya;
a) Fault

(patahan)

memperlihatkan

adalah

bidang

tanda-tanda

diskontinu

pergerakan.

yang

secara

Tanda-tanda

jelas

tersebut

diantaranya terdapat cermin sesar atau slicken slide pada permukaan


batuan, adanya zona hancuran pada sekitar bidang maupun bentuk jejak
seperti penanggaan.
b) Joint (kekar) merupakan bidang diskontinu yang telah pecah namun tidak
mengalami pergerakan yang berarti.
c) Bedding (bidang perlapisan) terdapat pada permukaan bataun yang
mengalami perubahan ukuran dan orientasi butir dari batuan tersebut
serta perubahan mineralogi yang terjadi selama proses pembentukan
batuan sedimen.
d) Fracture dan crack diartikan sebagai bidang diskontinu yang pecah tidak
paralel atau pecahan yang terjadi saat pengujian batuan, peledakan dan
untuk menjelaskan mekanisme pecahnya batuan brittle.

18

2.5 Pendekatan Kestabilan Terowongan


Terdapat tiga metode pendekatan yang dapat digunakan untuk desain lubang
bukaan bawah tanah diantaranya metode empirik, metode analitik dan metode
numerik.
2.5.1 Metode Empirik
a) RMR
Klasifikasi geomekanika diusulkan oleh Bieniawski pada tahun
1984. Dalam menggunakan klasifikasi geomekanika, massa batuan
dibagi menjadi beberapa kelompok daerah yang didasarkan kesamaan
sifat dan karakteristik. Di dalam klasifikasi ini, lima parameter dasar
diukur secara langsung, meliputi :
-

Kuat tekan uniaksial material batuan (intact rock)

RQD (Rock quality designation)

Spasi diskontinuitas

Kondisi diskontinuitas

Kondisi air tanah

Dalam menerapkan sistem ini, massa batuan dibagi menjadi


seksi-seksi dan masing-masing seksi diklasifikasikan secara terpisah.
Batas-batas seksi umumnya struktur geologi mayor seperti patahan atau
perubahan jenis batuan. Berikut ini penjelasan mengenai kelima
parameter yang dipakai dalam sistem klasifikasi RMR ;
-

Uniaxial Compressive Strength (UCS)


Uniaxial Compressive Strength (UCS) adalah kekuatan dari batuan
utuh yang diperoleh dari hasil uji UCS menggunakan mesin tekan
untuk menekan sampel batuan dari satu arah (uniaxial). Nilai UCS

19

merupakan besar tekanan yang harus diberikan sehingga membuat


batuan pecah.
-

RQD
RQD adalah presentase yang menunjukan perbandingan antara inti
batuan utuh yang memiliki panjang lebih dari 10 cm terhadap panjang
total keseluruhan core. Bisa juga dengan perhitungan langsung
melakukan pengukuran orientasi dan jarak antar diskontinu pada
singkapan.
Tabel 2.3 Hubungan RQD dan kualitas massa batuan (Deere, 1967)

RQD (100%)

ROCK QUALITY

< 25

Very Poor

25-50

Poor

50-75

Fair

75-90

Good

90-100

Excellent

Joint Spacing
Spasi bidang diskontinu adalah jarak tegak lurus antara bidang-bidang
diskontinuitas yang mempunyai kesamaan arah (satu keluarga) yang
berurutan sepanjang garis pengukuran (scanline).

Joint Condition
Ada beberapa parameter yang digunakan oleh Bieniawski dalam
memperkirakan kondisi permukaan bidang diskontinu. Parameter
tersebut antara lain :

20

Roughness

atau

kekasaran

permukaan

bidang

diskontinu

merupakan parameter yang penting untuk menentukan kondisi


bidang diskontinu. Suatu permukaan yang kasar dapat mencegah
terjadi pergeseran antara dua permukaan bidang diskontinu.
-

Apertur merupakan lebar bukaan antar kedua permukaan bidang


diskontinu yang biasanya diisi oleh material lainnya (filling
material). Makin besar lebar bukaan maka semakin lemah bidang
diskontinu tersebut.

Persistence

merupakan

kemenerusan

dari

sebuah

bidang

diskontinu.
-

Weathering menunjukan derajat kelapukan permukaan diskontinu.

Infilling (gouge) merupakan material pengisi antara dua permukaan


bidang diskontinu. Stabilitas bidang diskontinu dipengaruhi oleh
ketebalan, menerus atau tidaknya dan sifat material pengisi
tersebut. Filling yang tebal dan memiliki sifat mudah mengembang
apabila terkena air akan menyebabkan bidang diskontinu menjadi
lemah.

Gambar 2.6 Parameter bidang diskontinuitas (Hudson, 1989)

21

Kondisi air tanah


Debit air tanah akan mempengaruhi kekuatan massa batuan.

Tabel 2.4 Penggolongan dan pembobotan kekasaran menurut Bieniawski (1976)

Kekasaran Permukaan

Deskripsi Pembobotan

Sangat kasar
(very rough)

Apabila diraba permukaan sangat


tidak rata, membentuk punggungan
dengan sudut terhadap bidang datar
mendekati vertikal,
Bergelombang, permukaan tidak rata,
butiran pada permukaan terlihat jelas,
permukaan kekar terasa kasar.

Kasar (rough)

Sedikit kasar
(slightly rough)

Halus (smooth)

Butiran permukaan terlihat jelas, dapat


dibedakan, dan dapat dirasakan
apabila diraba

Klasifikasi

Permukaan rata dan terasa halus bila


diraba

1
Licin berlapis
(slikensided)

Permukaan terlihat mengkilap

22

Tabel 2.5 Tingkat pelapukan batuan menurut Bieniawski, 1976 (Sumber: Rock
Mass Classification; B. Singh)

Pelapukan

Keterangan

Tidak terlapukkan

Tidak terlihat tanda-tanda pelapukan, batuan segar,


butiran kristal terlihat jelas dan terang

Sedikit terlapukkan

Kekar terlihat berwarna atau kehitaman, biasanya terisi


dengan lapisan tipis material pengisi. Tanda kehitaman
biasanya akan nampak mulai dari permukaan sampai ke
dalam batuan sejauh 20% dari spasi

Terlapukkan

Tanda kehitaman nampak pada permukaan batuan dan


sebagian material batuan terdekomposisi.

Sangat terlapukkan

Keseluruhan batuan mengalami perubahan warna atau


kehitaman. Menyerupai tanah namun tekstur batuan
masih utuh, namun butiran batuan telah terdekomposisi
menjadi tanah

Pada Tabel RMR tersebut ditunjukkan bahwa parameterparameter itu mempunyai rating tertentu. Rating yang lebih tinggi
menunjukkan kondisi massa batuan yang lebih baik. Kondisi massa
batuan dievaluasi untuk setiap set bidang diskontinu yang ada
(Bieniawski,1989). Dengan menjumlahkan semua rating dari lima
parameter pada bagian A Tabel, akan diperoleh nilai RMR dasar yang
belum memperhitungkan orientasi bidang diskontinu.
Pengaruh

dari

orientasi

bidang

diskontinu

selanjutnya

diperhitungkan berdasarkan bagian B. Tabel adjusment terhadap orientasi


bidang diskontinu ini dipisahkan dalam perhitungan nilai RMR karena
pengaruh dari bidang diskontinu tersebut tergantung pada aplikasi
engineering-nya, seperti terowongan, lereng atau pondasi (Edelbro,
2003). Arah umum dari bidang diskontinu berupa strike dan dip, akan

23

mempengaruhi kestabilan lubang bukaan. Hal ini ditentukan oleh sumbu


dari lubang bukaan tersebut, apakah tegak lurus strike atau sejajar strike
penggalian lubang bukaan tersebut, apakah searah dip atau berlawanan
arah dengan dip dari bidang diskontinu. RMR dapat digunakan sebagai
panduan memilih penyangga terowongan, seperti terlihat pada tabel.
Panduan ini tergantung pada beberapa faktor seperti kedalaman lubang
bukaan dari permukaan, ukuran dan bentuk terowongan serta metode
penggalian yang dipakai (Bieniawski,1989)

Tabel 2.6 Petunjuk penggalian dan penyanggaan (terowongan dengan span 10 m),

Bieniawski,1989 (Sumber: Rock Mass Classification; B. Singh)

RMC

EXCAVATION

I Very good rock


RMR: 81-100

Full face, 3 m advance.

II Good
rockRMR: 61-80

Full face , 1-1.5 m


advance. Complete
support 20 m from face.

III Fair rock RMR:


41-60

IV Poor rock
RMR: 21-40

V Very poor rock


RMR: < 21

Top heading and bench


1.5-3 m advance in top
heading. Commence
support after each blast.
Complete support 10 m
from face.
Top heading and bench
1.0-1.5 m advance in top
heading. Install support
concurrently with
excavation, 10 m from
face.
Multiple drifts 0.5-1.5 m
advance in top heading.
Install support concurrently
with excavation. Shotcrete
as soon as possible
after blasting.

Rock Bolts (20 mm


diameter, fully grouted)

Shotcrete

Steelsets

Locally, bolts in crown 3


m long, spaced 2.5 m
with occasional wire
mesh.

50 mm in crown
where required.

None.

Systematic bolts 4 m
long, spaced 1.5 - 2 m in
crown and walls with
wire mesh in crown

50-100 mm in
crown and 30
mm in sides.

None.

Systematic bolts 4-5 m


long, spaced 1-1.5 m in
crown and walls with
wire mesh.

100-150 mm in
crown and 100
mm in sides.

Light to medium
ribs spaced 1.5 m
where required.

150-200 mm in
crown, 150 mm
in sides, and 50
mm on face

Medium to heavy
ribs spaced 0.75
m with steel
lagging and
forepoling if
required. Close
invert.

Systematic bolts 5-6 m


long, spaced 1-1.5 m in
crown and walls with
wire mesh. Bolt invert.

24

Tabel 2.7 Parameter klasifikasi RMR beserta ratingnya (Modifikasi Wickham et al, 1972)

25

Tabel 2.8 Desain Parameter & Engineering Properties of rock mass ( Bieniawski, 1979)
Ratings
100 81

80 61

60 41

40 21

< 20

II

III

IV

Description

Very good
rock

Good rock

Moderate
rock

Poor rock

Very poor rock

Average
stand-up time

10 yrs for
15 m span

6 months
year for 8 m
span

1 week for
5 m span

10 hrs for
2.5 m
span

30 min for 1 m
span

Cohesion of
rock mass
(kPa)

> 0,4

0,3 0,4

0,2 0,3

0,1 0,2

< 0,1

Friction
angle of rock
mass (deg)

> 45

35 45

25 35

15 25

< 15

Class
number

b) Q-System
Rock Mass Quality (Q)-System pertama kali diusulkan oleh Barton, Lien dan
Lunde pada Athun 1974 di Norwegian Geotechnical Institute (NGI) sehingga
disebut juga NGI Classification System. Merupakan fungsi dari enam
parameter yang dinyatakan dengan persamaan berikut :

RQD J r J w
Q
x x
Jn
J a SRF
Dengan,
RQD = Rock Quality Designation
Jn = Joint set number
Jr = Joint roughness number
Ja = Joint alteration number

26

Jw = Joint water reduction number


SRF = Stress reduction fact

Tabel 2.9 Parameter Q-system beserta ratingnya (Barton et al, 1974)

NGI Q-System Rating for Rock Masses


(Barton, Lien, & Lunde, 1974)
Norwegian Classif ication f or Rock Masses
Q - Value
Quality of Rock Mass
< 0.01
0.01 to
0.1 to
1 to
4 to
10 to
40 to
100 to
< 400

0.1
1
4
10
40
100
400

Exceptionally Poor
Extremely Poor
Very Poor
Poor
Fair
Good
Very Good
Extremely Good
Exceptionally Good

PARAMETERS FOR THE Q-Rating of Rock Masses


1. RQD = Rock Quality Designation = sum of cored pieces
> 100 mm long, divided by total core run length
2. Number of Sets of Discontinuities (joint sets)
Massive
One set
Two sets
Three sets
Four or more sets
Crushed rock

= Jn
0.5
2
4
9
15
20

3. Roughness of Discontinuities*

= Jr

Noncontinuous j oints
Rough, wavy
Smooth, wavy
Rough, planar
Smooth, planar
Slick and planar
Filled discontinuities
*Note: add +1 if mean joint spacing > 3 m

4
3
2
1.5
1
0.5
1

RQD
Q
Jn

J r J w

J
a SRF

4. Discontinuity Condition & Infilling


4.1 Unfilled Cases
Healed
Stained, no alteration
Silty or Sandy Coating
Clay coating
4.2 Filled Discontinuities
Sand or crushed rock inf ill
Stif f clay inf illing < 5 mm
Sof t clay inf ill < 5 mm thick
Swelling clay < 5 mm
Stif f clay inf ill > 5 mm thick
Sof t clay inf ill > 5 mm thick
Swelling clay > 5 mm

= Ja
0.75
1
3
4
4
6
8
12
10
15
20

5. Water Conditions
Dry
1
Medium Water Inf low
0.66
Large inf low in unf illed j oints
0.5
Large inf low with f illed j oints
that wash out
0.33
High transient f low
0.2 to 0.1
High continuous f low
0.1 to 0.05
6. Stress Reduction Factor**
= SRF
Loose rock with clay inf ill
10
Loose rock with open j oints
5
Shallow rock with clay inf ill
2.5
Rock with unf illed j oints
1
**Note: Additional SRF values given
for rocks prone to bursting, squeezing
and swelling by Barton et al. (1974)

RQD
RQD adalah persentase yang menunjukan perbandingan antara inti
batuan utuh yang memiliki panjang lebih dari 10 cm terhadap panjang

27

total keseluruhan core (Deere, 1964). Priest dan Hudson (1976)


memberikan hubungan antara nilai RQD dengan jarak antar bidang
diskontinu yang ada di dalam massa batuan (Joint Spacing/Js) dengan
persamaan sebagai berikut :

Keterangan: Js = jarak antar diskontinu (m)


= frekuensi diskontinu per meter
Jarak antar diskontinu merupakan parameter penting dalam menilai
struktur massa batuan. Semakin banyak kehadiran bidang diskontinu
akan mengakibatkan berkurangnya kekuatan massa batuan.
-

Joint set (Jn)


Didapat dari jumlah set joint yang muncul pada jarak pengukuran
tertentu

Joint alteration (Ja)


Merupakan derajat alterasi atau pengisian sepanjang kekar yang paling
lemah

Joint roughness (Jr)


Merupakan kondisi permukaan bidang rekahan (kekasaran).

Joint water (Jw)


Kandungan air yang terdapat dalam batuan.

28

2.5.2 Metode Analitik


Metode analitik dikembangkan berdasarkan model-model matematika
dengan berbagai idealisasi.
a)

Analisis Kinematik
Metode

stereografi

banyak

digunakan

untuk

membantu

mengidentifikasi arah tegasan dari semua data kekar yang nantinya akan
dikelompokan menjadi famili berdasarkan kesamaan arah tegasannya.

Gambar 2.7 Contoh sebaran arah tegasan diskontinu pada lokasi penelitian dengan
menggunakan program Dips

b)

Ground Supporting
Penyanggaan berfungsi untuk menyangga batuan yang berpotensi

runtuh serta untuk menahan atau menghentikan perpindahan lubang


bukaan. Tujuan dari pemasangan penyanggaan pada umumnya adalah
untuk mempertahankan luas dan bentuk bidang penampang yang cukup

29

serta melindungi pekerja dari resiko tertimpa reruntuhan.

Jenis

penyanggaan dapat dikelompokan sebagai penyangga primer dan


penyangga sakunder. Penyangga primer dipasang sesaat setelah penggalian
untuk menjamin keselamatan kerja bagi

penggalian

selanjutnya.

Penyangga sekunder dipasang pada tahap yang leih lanjut.


Didasarkan pada proses pembebanan, jenis penyangga dapat dibagi
menjadi dua yaitu penyangga pasif dan penyangga aktif. Penyangga aktif
apabila penyangga langsung mendapatkan pembebanan setelah dipasang.
Sedangkan

penyangga

pasif

apabila

penyangga

tidak

langsung

mendapatkan pembebanan setelah dipasang. Penyangga akan mendapatkan


pembebanan setelah massa batuan terdeformasi.
Pada tambang bawah tanah Gudang Handak L.500 rock bolt yang
dipakai berjenis splitset dengan panjang 2,4 meter dan ultimate tensile
stress (UTS) maksimal 5 ton.

Weld mesh

splitset

Gambar 2.8 Surface support Gudang Handak Mine L500; splitset and weld mesh

30

2.6 Analisis UNWEDGE


Bentuk dan ukuran dari potensi Baji dalam massa batuan dan sekitar
bukaannya tergantung pada ukuran, bentuk dan orientasi bukaan (azimuth tunnel)
serta pada orientasi joint set yang signifikan. Geometri tiga dimensi dari masalah
pemodelan Baji memerlukan perhitungan yang efisien dengan memanfaatkan
program komputer yang telah tersedia. Salah satu contoh dari program komputer
tersebut adalah UNWEDGE yang dikembangkan khusus untuk digunakan dalam
penambangan bawah tanah.
Dengan mempertimbangkan massa batuan dimana terdapat beberapa
kumpulan bidang diskontinu (joint set) akan menghasilkan kemungkinan
kombinasi joint set yang berpotensi membentuk Baji. Data yang diperlukan ialah
dip dan dip direction dari setiap joint set dalam satu lokasi domain.

Gambar 2.9 Contoh input data pada UNWEDGE dengan hasil berupa lingkaran yang
menunjukan tiga arah diskontinu pembentuk Baji. Data yang diperlukan berupa dip dan
dip direction.

31

Diasumsikan bahwa semua bidang diskontinu adalah planar dan menerus,


dan kekuatan geser (shear strength) pada permukaan bisa direpresentasikan
dengan friction angle,

dan kohesi = 0. Setelah data joint set yang didapat

dari penggunaan DIPS dimasukan kemudian akan muncul kombinasi-kombinasi


joint yang berpotensi membentuk Baji. Kombinasi joint yang berpotensi
membentuk Baji dipilih berdasarkan required support pressure dengan FS < 1,
dan hanya muncul pada roof saja.

Gambar 2.10 Contoh Combination Analyzer pada UNWEDGE yang menunjukan


kumpulan kombinasi dari tiga arah diskontinu yang berpotensi membentuk Baji.

Terowongan di dalam tambang Gudang Handak memiliki bukaan (span)


selebar 3,5 meter dengan tinggi 4 meter. Ukuran terowongan sangat berpengaruh
terhadap potensi jatuhnya Baji serta teknik penyanggaan yang akan dipakai.

32

Gambar 2.11 Bukaan terowongan tambang bawah tanah Gudang Handak L.


500, UBPE Pongkor PT. Antam (Persero) Tbk.

Baji bisa terbentuk di atap, dinding maupun lantai terowongan. Disetiap


tempat Baji yang terbentuk memiliki nilai faktor keamanan yang berbeda. Pada
umumnya Baji yang tidak stabil terbentuk di atap dan dinding terowongan. Pada
atap terowongan Baji berpotensi untuk jatuh akibat gaya grafitasi karena tidak ada
bidang yang menahan bongkahan Baji tersebut. Pada dinding terowongan, Baji
yang terbentuk berpotensi untuk sliding pada satu atau lebih joint akibat dari
adanya joint-joint pada dinding terowongan sebagai bidang gelincir yang
menghambat jatuhnya bongkahan Baji tersebut.

Gambar 2.12 Contoh Baji yang terbentuk dari perpotongan 3 struktur


beserta detail analisisnya (Tyler et al, 1991)

33

2.7 Pendekatan Metode Viability Index


Diederichs et al dalam papernya; A Semi-Empirical Hazard Assessment
Approach To Wedge Instability In Underground Mine Opening mengungkapkan
bahwa Viability Index (Iv)

adalah sebuah usaha untuk memprediksi

kemungkinan potensi runtuhan baji yang lebih mendetail sehingga penyanggaan


yang tadinya full-span demand (S) bisa lebih diefektifkan menjadi Effective Span
(S*). Viability Index didapat dari akar hasil perkalian antara Occurence Index (Io)
dengan Instability Index (Is).

.......................................................................(1)
Occurence

index

(Io)

didapat

dari

mengkarakteristikan

atau

membandingkan potensi kemunculan baji yang didapat dari pemetaan bidang


diskontinu secara mendetail serta hasil dari analisi pemograman UNWEDGE.
Instability Index (Is) untuk mengkarakteristikan potensi baji yg runtuh akibat dari
pertemuan struktur atau bidang diskontinu berdasarkan klasifikasi massa batuan
(Q-System).

...........................................(2)

..........................................(3)
Dimana;
Io =

Occurence Index

FD = Joint Dominance Factor


FL = Joint Length Factor
FS =

Joint Spacing Factor

34

Is=

Instability Index

FJ =

Joint Factor based on Jr/Ja

FG = Gravity Factor
FC = Clamping Factor

2.7.1 Parameter Viability Index


Terdapat enam parameter yang mempengaruhi nilai Viability Index
(Iv), yaitu:
2.7.1.1 Joint Factor Dominance (FD)
Merupakan nilai dari famili kekar yang paling sering muncul.
Orientasi kekar yang memiliki nilai sama dikelompokan ke dalam setiap
famili kemudian selanjutnya ditentukan nilai paling sering muncul, nilai
tengah dan yang paling jarang muncul. Untuk keluarga kekar yang
memiliki frekuensi kemunculan paling sering diberikan nilai 4, untuk
keluarga kekar yang memiliki kemunculan rata-rata diberi nilai 2,5. Untuk
keluarga kekar yang frekuensi kemunculannya di atas rata-rata namun di
bawah yang paling sering diberi nilai 3 sedangkan untuk keluarga kekar
yang memiliki frekuensi kemunculan dibawah rata-rata diberi nilai 1,5.

Most
Joint

Dominant

Dominant

Dominance

FD

Intermediate

Minor/Random

Frequently

Typically

(1 set only)

Always present

present

absent

2,5

1,5

35

2.7.1.2 Joint Length Factor (FL)


Didapat dari kemenerusan bidang diskontinuitas (persistence).
Untuk joint dengan panjang > 6 m diberi nilai 3. Joint dengan panjang 26 m diberi nilai 2,5, untuk panjang 2-0,8 m diberi nilai 2 dan untuk joint
dengan panjang < 0,8 m diberi nilai 1.
Joint Trace
Lenght

Shear,
bedding

FL

>1.5 x span or
Joint Trace
Lenght
3

untuk panjang
joint (m)

0.5-1.5 x span
or 1 end visible

2-0.5 x span or
2 end visible

<0.2x span

2,5

2-6

2-0,8

< 0,8

>6

2.7.1.3 Joint Spacing Factor (FS)


Merupakan jarak antara kekar yang memiliki arah orentasi sama
(strike/dip 30).

3.3

0.1 - 0.25 x
span
3

0.25 - 0.5 x
span
2.5

0.5 - 1.5 x
span
2

>1.5 x
span
1

0,4

0,4 - 1

1-2

2-6

>6

Joint Spacing

<0.1 x span

FS

Untuk besar jarak antar


joint (m)

2.7.1.4 Joint Factor (FJ) atau Jr/Ja


Joint factor menunjukan kekasaran dan karakteristik geser dari
permukaan bidang diskontinu atau filling material dari bidang diskontinu
tersebut. Suatu bidang diskontinu dengan permukaan kasar dan tidak
mengalami alterasi serta mengalami kontak dengan permukaan bidang lain
akan mempunyai kuat geser tinggi dan menguntungkan untuk kestabilan
lubang bukaan. Nilai FJ berdasarkan Jr/Ja adalah sebagai berikut :

36

Jr/Ja
FJ

< 0,1
10

0,1-0,3
9

0,3-0,6
8

0,6-1
7

1-1,5
6

1,5-2,5
5

2,5-4
4

>4
3

Tabel 2.10 Nilai Jr berdasarkan klasifikasi Q-System (Barton et al,1974)


Description

A
B

Value

a. Rock wall contact


b. Rock wall contact before 10 cm shear
Discontinuous joints
4
Rough and irregular,
3
undulating

Smooth undulating

Slickensided undulating

1.5

Rough or irregular, planar

1.5

Smooth, planar

1.0

Slickensided, planar

0.5

c. No rock wall contact when sheared

Notes

Zones containing clay


minerals thick

1.0

enough to prevent rock


wall contact

(nominal)

Sandy, gravely or crushed


zone thick

1.0

J
enough to prevent rock
wall contact

(nominal)

1. Add 1.0 if the mean


spacing of the relevant
joint set is greater than 3
m.
2. Jr = 0.5 can be used for
planar, slickensided
joints having lineations,
provided that the
lineations are oriented
for minimum strength.

37

Tabel 2.11 Nilai Ja berdasarkan klasifikasi Q-System (Barton et al,1974)

Description

Value

r (deg)
(approx.)

Values of r, the residual


friction

a. Rock wall contact

Tightly healed,
hard, non-softening,

angle, are intended as an


0.75

impermeable filling
B

Unaltered joint
walls, surface staining
only

approximate guide to the


1.0

25 35

Slightly altered joint


walls, non-softening
C

mineral coatings,
sandy particles, clayfree

Notes

mineralogical properties
of the
alteration products, if
present.

2.0

25 30

3.0

20 25

4.0

8 16

disintegrated rock,
etc.
D

Silty-, or sandy-clay
coatings, small clayfraction (nonsoftening)
Softening or lowfriction clay mineral
coatings,
i.e. kaolinite, mica.
Also chlorite, talc,
gypsum

and graphite etc.,


and small quantities of
swelling
clays.
(Discontinuous
coatings, 1 - 2 mm or
less)

2.7.1.5 Gravity Factor (FG)


Merupakan tipe keruntuhan baji yang didapat melalui pemograman
UNWEDGE. Untuk Baji yang memiliki potensi jatuhan free falling

38

biasanya terbentuk di roof sedangkan untuk baji yang berpotensi sliding


kebanyakan terbentuk di dinding. Untuk Baji yang memiliki potensi
runtuhan akibat gravitasi (tidak ada bidang diskontinu yang menahan)
diberi nilai 10, untuk Baji yang berpotensi jatuh dengan satu bidang
diskontinu (bidang gelincir) tegak lurus (dip = 90) diberi nilai 9, untuk
Baji yang berpotensi jatuh maupun tergelincir akibat adanya joint sebagai
bidang gelincir dengan dip hampir tegak lurus (70-80) diberi nilai 7 dan
untuk Baji yang berpotensi tergelincir diberi nilai 4.

Wedge
Behaviour

Free
Falling

FG

Falling with 1
joint

Pure Sliding

or edge vertical

Falling-Sliding with 1
near-vert. Joint
inverted

10

no rotation

2.7.1.6 Clamping Factor (FC)


Didasarkan kepada efek jepitan (clamping) dari gaya kompresi
pada tunnel. Tinggi Baji yang terbentuk (apex height) dibagi dengan lebar
bukaan terowongan.
Tabel 2.12 Nilai Clamping Factor
Wedge
Height/Span &
Cone Angle
2+
<15
2 - 1.1
15-25
1.1-0.7
25-35
0.7-0.5
35-45
0.5-0.3
45-60
<0.3
>60

Stress State, FC
Med - High Stress
1
3
6
8
9
10

Low - Zero
5
7
8
9
10
10

Tensile / Open Joint


8
9
10
10
10
10

Untuk nilai FC di sini diambil pada tabel low-zero karena pada


tambang Gudang Handak ketidakstabilan terowongan lebih dipengaruhi
oleh structurally controlled

daripada stress controlled. Kondisi stress

environment termasuk kedalam low stress.

39

2.8 Geometry Support Demand


Geometri Baji yang didapat melalui pemetaan struktur dan pemograman
UNWEDGE (tinggi baji, berat, luas dll)

digunakan untuk memperkirakan

permintaan penyanggaan (support demand) untuk liner dan bolt. Liner demand
yang didapat dari hasil bagi antara berat Baji dengan keliling mencerminkan nilai
ketebalan shotcrete yang diperlukan untuk penyanggaan terowongan. Untuk bolt
demand yang didapat dari hasil bagi antara berat Baji dengan luas permukaannya
mencerminkan nilai UTS (ultimate tensile strength) rock bolt yang dapat dipakai
dengan panjang H.

Gambar 2.13 Bolt demand (massa Baji / luas permukaan Baji) and Liner demand
(massa Baji / keliling Baji), Diederichs et al (2003)

Tabulasi nilai liner dan bolt demand yang ditampilkan menunjukan


kapasitas kebutuhan penyanggaan minimum untuk kestabilan dengan lebar
bukaan (span) 3,5 meter. Namun efektivitas dari sistem bolt dibatasi oleh panjang
bolt itu sendiri. Idealnya panjang bolt harus lebih panjang dari pada tinggi puncak
Baji. Apabila tinggi Baji melebihi panjang bolt maka harus digunakan tambahan
penyanggaan lain.
Bolt Demand, BD = weight wedge / face area wedge (ton/m)...........(1)
Liner Demand, LD = weight wedge / perimeter (ton/m) .....................(2)

40

Factor of Safety, FS = 1 / Iv..............................................................(3)


Span Effectife, S* = S x Iv x FS..............................................................(4)
Wedge Height Effectife, H* = (S*/S) x H............................................(5)
Bolt Demand Effectife, BD* = (S*/S) x BD...........................................(6)
Liner Deman Effectife, LD* = (S*/S) x LD...........................................(7)

Dengan;
Iv = Viability Index maksimum dari setiap domain
S = full span, 3,5 meter

2.9 Full-span dan Scalled-span Wedge


Kasus terburuk untuk ketidakstabilan Baji adalah full-span wedge atau
Baji terbesar yang dapat terbentuk di bukaan (span) tertentu dari perpotongan
struktur dimana-mana. Dalam kebanyakan kasus bagaimanapun kemungkinan
terjadinya tiga atau lebih joint saling berpotongan untuk membentuk full-span Baji sangat jarang karena sifat asli joint yang tidak menerus dan variasi jarak
antar joint.
Data groundfall sebenarnya menunjukan bahwa tinggi Baji maksimum
relatif berkurang secara signifikan dibanding dengan yang diperkirakan oleh
analisis full-span wedge.

41

Height/span = 1,6

Height/span=1,1

Height/span=0,05

(A)

Cummulative Frequency

Actual Wedge-fall geometries


120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%

failure height/span
failure
height/width
0,00

0,50

1,00

Failure Height / (span or failure width)

(B)
Gambar 2.14 (A) Full-span predictions for unwedge geometries (B) Actual wedge-fall
geometries for domain 1, block central (Diederichs et al, 2013)

Pada Gambar 2.14 prediksi full-span wedge ditunjukan berdasarkan


keberadaan perpotongan tiga joint. Baji dengan geometri bidang yang besar
dan curam terbentuk oleh dominansi dipping joint yang curam pula.
Analisis

full-span

cenderung

lebih

memprediksi

kebutuhan

penyanggaan (kebutuhan kapasitas) untuk penggalian bawah tanah. Kebutuhan


penyanggaan yang sebenarnya adalah scaled-span yang nilainya lebih rendah

42

karena kemungkinan joint formasi Baji full-span tidak benar-benar melekat


secara penuh pada terowongan. Pendekatan Viability Index digunakan untuk
menghitung faktor-faktor tersebut dalam perencanaan, sehingga sistem
penyanggaan bisa lebih efisien dalam bidang pertambangan.

Anda mungkin juga menyukai