Anda di halaman 1dari 5

Benarkah Dia Sang Pencipta Jagad Raya?

Oleh: Khoirul Anwar*

Judul ini, mungkin, sedikit menggelitik dan terkesan katrok, apalagi diberikan bagi orang yang
beriman dengan maqom yang tinggi, tentunya Cuma diguyu, tertawakan. Anak kecil, yang hidupnya
dalam lingkungan orang-orang saleh, pun tahu kalau jagad raya ini memang Dia, Tuhan, yang
menciptkan, tak ada yang lain. Bukan raja, syetan atau malaikat tetapi Tuhan-lah yang menjadikan ada
alam semesta ini.

Tetapi tunggu dulu, bagaimana keadaannya bila judul ini diberikan pada orang-orang yang
memang belum dan sedang mencari siapa pencipta alam semesta ini? Apakah tuhan? Apakah memang
Dia yang menciptakan alam semesta yang tak bertepi ini?. Dengan kritis mereka akan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mungkin seolah-olah pertanyaannya menolak konsep Tuhan sebagai
pencipta?. Inilah yang penulis temuai saat membaca tulisannya Paul Davies dalam bukunya Tuhan,
Doktrin dan Rasionalitas. Buku tersebut seolah membongkar keimanan kita yang sejak kecil memang
sudah terbiasa dengan kata-kata “Tuhanlah yang mencipta jagad raya dan seisinya”. Sebagai manusia,
wajar kalau ada kegundahan dalam hal keimanan artinya kita memang diajak berpikir untuk mencari
makna tertinggi tentang Tuhan itu sendiri. Ayat suci mengajak manusia untuk bertauhid pun didahului
dengan argument yang mengkerucut menuju ketuhanan dan tidak begitu saja bukti, baik empiris, relialitas
yang ada langsung kita ‘hap’ beriman melainkan ditantang untuk berpikir.

Dalam dunia ilmiah, semisal fisika dan konco-konconya, teori big bang adalah teori yang
memungkinkan untuk menerima bahwa alam memang diciptakan dari ketunggalan. Ketunggalan ini
dimaksudkan adalah sebelum alam semesta terbentuk seperti sekarang ini dan waktu maupun ruang masih
dalam satu rahim, dikenal kenal dengan titik singularitas, merupakan asal muasal alam semesta. Titik ini
belum bisa dikatakan seperti apa (barangkali keadaan inilah oleh orang jawa dinamakan alam awang
uwung), serta apa yang ada dalam singularitas tersebut. Karena kalau kita bisa menyebutkan keadaan
dalam singularitas tersebut berarti ruang dan waktu sudah ada, karena “keadaan” bergandengan dengan
ruang dan waktu, sehingga singularitas itu belum bisa didefinisikan dengan tepat, sebetulnya apa yang
ada disitu, hanya sang pencipta singularitas itu sendiri yang tahu. Wa’allahu a’lam.

Dalam tulisannya, benarkah Tuhan menciptkan jagad raya?, Paul Davies mengemukakan bahwa
big bang dan kemajuan-kemajuan mutahir dalam pemahaman kita fakta penciptaan itu sendiri dipandang
memadai untuk mengungkapakan eksistensi Tuhan. Kemudian tulisan itu disusul dengan pertanyaan;
tetapi apakah sesungguhnya makna pernyataan bahwa Tuhan menyebabkan penciptaan? Apakah mungkin
memahami penciptaan tanpa Tuhan?. Apakah “sesuatu” bisa ada tanpa adanya kekuatan eksternal yang
mempengaruhinya (sesuatu itu muncul dengan sendiri, tiba-taba ada, ujuk-ujuk)?.

“Penciptaan” didefinisikan, dalam tulisan tersebut, sebagai mengorganisasikan materi secara


mendadak dari bentuk purba yang kacau balau dan tanpa struktur menjadi aktivitas yang rumit dan
tatanan kompleks yang sekarang ini teramati. Ia dapat berarti penciptaan materi secara aktual dalam apa
yang sebelumnya berupa kekosongan tanpa keistimewaan. Atau ia dapat berarti penampakan tiba-tiba
dunia fisik seluruhnya, termasuk ruang dan waktu, dari tiada sepenuhnya.

Penciptaan dengan berdasarkan teori big bang dapat dipahami, menurut Davies, bahwa partikel
atau atom ada karena adanya kondisi yang memungkinkan partikel itu mewujud. Rumus matematis
Einstien yang popular ( E= mc2) adalah sebuah penyederhanaan bahasa, dan itu fungsi dari matematika,
dari stateman bahwa masa dan energy adalah ekivalen: massa memiliki energi dan energi memiliki massa.
Massa adalah kuantifikasi energi. Fakta bahwa massa ekivalen energy berarti bahwa, dalam satu
pengertian, materi adalah energi yang terkunci. Jika cara tertentu dapat ditemukan untuk membukanya,
materi akan lenyap ditengah-tengah ledakan energy tinggi. Sebaliknya, jika cukup energi terkonsentasi-
entah dengan cara apa- materi akan muncul.

Tiga ilmuwan fisika ( Paul Dirac, C.Y Chao, dan Carl Anderson) mencoba untuk memahami
rumus Einstien ini. Paul Dirac dengan prediksinya yang spektakulernya, bahwa jika energi dapat
dikonsntersikan maka satu dari anti electron akan muncul dimana tak pernah eksis muncul. Pasangan ini
(electron dan anti electron) merupakan syarat adanya, munculnya, materi . Singkatnya ,dengan cara ini
energi dapat digunakan secara langsung untuk menciptakan materi dalam bentuk pasangan electron-anti
electron. Sedangkan, C.Y Chao menggunakan sinar gamma yang mempunya energy tinggi untuk
menciptkan materi. Sedangkan Cral Anderson mempelajari sinar kosmis yang diserap oleh lempeng baja
dan kemudian ia melihat penampakan anti electron. Kesimpulannya bahwa dengan eksperimen terkontrol,
kondisinya, materi dapat diciptakan.

Kondisi lain yang memungkinkan materi terbentuk adalah kondisi gravitasional. Kondisi
gravitasional hanyalah suatu lengkungan-ruang, yakni ruang yang membelok. Energi yang terkunci dalam
suasana lengkungan ruang dapat diubah menjadi partikel-partikel materi dan anti materi. Ini, umpanya,
terjadi di dekat lubang hitam, dan boleh jadi juga merupakan sumber terpenting dari partikel-partikel
dalam dentuman besar. Karenanya, materi muncul secara spontan dari ruang hampa.

Apakah contoh-contoh ini, semacam penciptaan materi secara ilmiah dalam ruang hampa, yang
tidak membutuhkan input energi, sama dengan penciptaan ex nihilo versi teologi? Tetapi sains belum
memperlihatkan mengenai hakikat ruang dan waktu, baru sebatas materi itu muncul, bukannya bagaimana
ruang dan waktu itu muncul/ apakah ia ada sebagaimana materi muncul, artinya memerlukan suatu
kondisi tertentu? Kalau ya, bukankah kondisi adalah berhubungan erat dengan ruang dan waktu? Dalam
al-Qur’an , Allah, memberikan batasan bahwa waktu adalah urusan Tuhan karena ia memang urusan
Tuhan. Kalau mempertanyakan apaka ia dan bahan apa untuk menjadikannya ‘ada’ sama halnya,
mungkin, kita ingin memahami sesuatu hanya mendasarkan pada materi padahal waktu bukanlah materi.
Banyak teolog menolak hal ini dengan tegas. Proses-proses yang digambarkan disini tak
mempresentasikan penciptaan materi tetapi konversi energy pra eksistensi kedalam bentuk material.

Kepercayaan bahwa jagad raya sebagai keseluruhan mesti memiliki sebab, sebab itu adalah
Tuhan, diucapkan oleh Plato dan Aristoteles, dikembangkan oleh Thomas Aquinas, dan mencapai
bentuknya yang paling meyakinkan bersama Gottfried wilhiem Van Leibniz dan Samuel Clrak.

Thomas Aquinas, dalam argument kosmologisnya berpendapat, bahwa pembuktian Tuhan hanya
dapat dilakukan secara a posteriori. Dengan mengajukan lima bukti, diantaranya; adanya gerak di dunia
mengharuskan kita menerima bahwa ada penggerak pertama, yaitu Allah. Di dalam dunia yang diamati
terdapat suatu tertib sebab-sebab yang membawa hasil atau yang berdayaguna. Tidak pernah ada sesuatu
yang diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Karena sekiranya ada yang
menghasilkan dirinya tentu harus mendahului dirinya sendiri. Intinya, dari argument Aquinas, adalah
bahwa ada pencipta yang menyebabkan adaya segala sesuatu.

Sekali lagi argument ini difalsifikasi. Sain terdekat yang memfalsifikasi adalah mekanika
kuantum. Menurut teori ini , jika untuk suatu kejadian orang harus memilih kedatangan suatu partikel
sub-atomik pada tempat tertentu maka kejadian tersebut tidak memiliki sebab, dalam pengertian bahwa ia
scara inheren tak dapat diprediksi. Partikel ini muncul ditempat tanpa sebab. Sedangkan hukum kausalitas
mengalami kendala yang cukup serius.

Kesulitan logis dalam mengkaitkan sebab itu kepada Tuhan, karena ia lalu dapat dipertanyakan
‘apakah yang menyebabkan Tuhan?’ jawaban biasanya adalah bahwa ‘Tuhan tidak membutuhkan sebab.
Dia adalah wujud niscaya, yang sebabnya harus ditemukan dalam dirinya sendiri. Tetapi argument
kosmologis yang dibangun diatas asumsi bahwa segala sesuatu menuntut sebab, namun berujung konklusi
bahwa paling tidak ada sesuatu yang tidak menuntut sebab. Argument ini harus bertentangan dalam
dirinya sendiri.

Bagimana ini
Memang sulit untuk menjelaskan tentang Tuhan itu sendiri apalagi harus dihadapkan pada filsafat
pragmatism dan empirisme yang seolah-olah semua harus bisa dibuktikan dan dirumuskan secara
matematis. Kita seolah olah diajak mencari hakikat dengan hanya mengandalkan intusi akal dan indera
yang lain, sehingga mengesampingkan alat-alat yang lain, yang memungkin kita bisa mendapatkan ilmu
ketauhidan yang ingin kita capai. Dalam islam sendiri setidaknya ada tiga jalan untuk memperoleh ilmu
pengetahuan yakni bayani, burhani dan irfani. Kemungkinan apa yang kita baca dari teori-teori diatas
adalah masih sebatas bayani dan burhani (melihat dan mendemonstrasikan)

Pikiran hanya berkutat dengan ide atau gagasan. Pikiran tidak mungkin mampu mengurusi hal-hal
lain kecuali ide. Oleh karena itu, tidak benar jika kita membayangkan bahwa rasio mampu memikirkan
realitas yang sesungguhnya. Yang dapat dipikirkan oleh rasio adalah sebatas ide tentang realitas. (apakah
realitas yang sesungguhnya memang demikian atau tidak, merupakan permasalahan metafisika).
Akibatnya, apakah sesuatu dikatakan benar atau salah tidak diukur dengan seberapa dekat ia dengan
kebenaran absolute, tetapi ditentukan oleh seberapa konsisten ia dengan pengalaman kita.

Sebetulnya apa sih bukti yang sering diagung-agungkan, agar kita yakin kita harus punya bukti,
itu? Bukti matematis yang sering dituntut dalam hal ini adalah apa yang kita lakukan itu membuktikan
bahwa kita berlaku menurut norma (apalagi norma itu sendiri kita yang buat). Norma, dalam hal ini,
adalah apa yang kita pahami mengenai sifat-sifat realitas fisik itu konsisten secara logis, berjalan sesuai
dengan pengalaman. Norma ini tidak menyebutkan bahwa apa yang kita katakan haruslah sesuatu yang
mirip “realita”.

Jika demikian yang dituntut, kadang kita harus memperkosa alam realitas, memaksakan keadaan
sebenarnya agar sesuai dengan idea tau norma yang telah disepakati (dari realitas ke otak).

Islam memandang
Dengan tegas Islam memandang bahwa Allah yang menciptakan alam semesta . Allah menjadi
penyebab segala yang ada dan mewujud (baik wujud itu bisa dilihat maupun yang tak terlihat seperti jin
dan malaikat).

Dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah menjadikan sesuatu, manusia, dari ketiadaan ( surat
Maryam ayat 9, 67). Bahkan Allah yang yang memelihara dan mengulangi penciptaan itu sendiri tanpa
ada yang membantu-Nya dan sekaligus memperindahnya.
Apakah memang umat Islam demikian adanya menerima keyakinan tersebut? Dalam literature
keislaman tidak ada yang mempersoalkan dengan masalah wujud Allah. Baik mutakllimun maupun umat
muslim secara keseluruhan tak ada yang menyangkal mengenai keberadaan Allah itu sendiri, Dia
memang ada. Toh , kalaupun ada, umumnya hanya berkisar pada argumentasi bagaimana membuktikan
wujud Allah.

Al jawr al fard (subtansi dan aksiden) dipandang sebagai argument tentang wujud Allah (sering
digunakan oleh Mu’tazilah dan Asy ‘ariyah). Tetapi, argument ini banyak menimbulkan perbedaan yang
cukup serius dikalangan para filsuf Islam. Ibnu Rusyd sendiri mengkritik konsep al jawr al fard,
menurutnya konsep ini bukan dari Islam tetapi berasal dari yunani yang disodorkan oleh Demokritos.
Menurut Demokritos, asal kejadian alam adalah atom. Dalam sejarahnya, pemikiran ini membawa
pengingkaran terhadap Tuhan, atau setidaknya tidak menyinggung adanya wujud Tuhan. Ada yang
mengatakan bahwa atom itu kadim dan ada yang berpendapat sebaliknya ( setidak, kalau dipahami,
konsep atom sebagai dasar pembuktian wujud Tuhan ini masih digunakan sampai sekarang seperti
argument ilmiah di atas).

Pemahaman-pemahaman tentang yang baru dan yang dahulu (bukan lama), yang mumkin dan
yang wajib, ‘illah dan ma’lul adalah teoritis murni untuk menetapkan inisial yang pertama bagi esensi
Tuhan, yaitu eksistensi (wujud). Penetapan inisial ini diselesaikan dengan dua jalan: pertama, pembatalan
siklus dan rangkaian. Sehingga tidak mungkin suatu benda pada waktu yang sama adalah kesan sekaligus
yang dikesankan, dan tidak mungkin rangkaian argumentasi itu sampai pada sesuatu yang tidak
berhingga; kedua, penetapan keharusan yang ada (wajib wujud). Sebab mustahil mengonsepsikan sesuatu
yang mungkin tanpa keharusan, sebagaimana mustahil mengonsepsikan sesuatu yang baru tanpa yang
dahulu. Dalam Islam , Allah ada lah yang kadim, dahulu bukan hadist (baru). Dahulu berarti tanpa
permulaan. Esensi yang dahulu adalah yang azali yang tidak mempunyai permulaan. Abadi berarti tiada
berakhir. Esensi yang abadi adalah yang tidak berhingga dan tidak akan diikuti oleh ketiadaan.

Mempercayai Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak hanya didasarkan oleh bukti-bukti
inderawi atau hanya menitik beratkan pada pengalaman inderawi, sebagaimana spirit pengetahuan
modern. Islam berpandangan bahwa di balik yang inderawi ada cakrawala baru-cakrawala realitas yang
transenden. Islam menerima bahwa yang inderawi adalah nyata, tetapi Islam tetap mempertahankan
bahwa yang indrawi atau empiris bukanlah satu-satunya realitas. Realitas yang transenden ini bisa
dipahami, menurut M.Iqbal, melalui pengalaman yang luar biasa yang disebut intuisi. Jadi, dengan intuisi
objek pengetahuan dapat dipahami secara langsung sebagai sesuatu di atas sana. ‘Tuhan bukanlah entitas
matematis atau sebuah system konsep yang saling berhubungan satu sama lain dan tidak berkaitan dengan
pengalaman. Dia adalah suatu wujud objektif yang konkret dan bisa dipahami oleh hati karena Tuhan
bukanlah konsepsi melainkan persepsi.

Akhir Kata
Memang sangat naïf bila hendak membuktikan apakah Tuhan memang sebagi pencipta alam
semesta, sedangkan alam semesta itu sendiri direduksi hanya berawal dari atom-atom . padahal, atom
yang dipopulerkan oleh Demokritos dan Leukippos sebenarnya hanyalah merupakan entitas hipotetis .
hipotetitas yang dibuat ini mempunyai tujuan agar observasi eksperimental terjelaskan. Hingga hari ini,
tidak ada orang yang pernah melihat sebuah atom. Namun kita sudah terbiasa dengan pemikiran bahwa
atom merupakan sesuatu sehingga kita lupa bahwa atom itu sendiri merupakan sebuah ide.
Teori mekanika kuantum dibangun karena ada harapan ingin menjelaskan segala sesuatu dengan
sangat tuntas hingga tidak ada lagi yang tidak terjelaskan (termasuk tuhan itu sendiri?). tentu saja hal ini
tidak berarti bahwa penjelasan tersebut dapat merefleksikan bagaimana segala sesuatu itu sesungguhnya.
Tetapi, teori kuantum hanyalah sebagian teori yang ingin memahami jagad raya dengan harapannya bisa
menggantarkan pada Tuhan. Apabila ditengah atau diujung nya (nihayah) perjalanan teori tersebut tidak
bisa menunjukkan Tuhan, mungkin inilah batas akhir teori tersebut, artinya ada segi yang tak terungkap
oleh ilmu pengetahuan atau batas ideal ilmu pengetahuan ( the ideal of knowledge).

Lalu bagaimana kita bisa mengerti Tuhan? Jawaban pertanyaan ini munkin bisa terobati dengan
ungkapa dari al-Ghozali: ‘jika bukan karena kasih sayang Tuhan, manusia tidak mampu mengetahui
tuhannya. Tak seorang pun yang dapat mengetahui tuhan kecuali tuhan itu sendiri”. Maka, gapailah kasih
sayang Tuhan itu kelak engkau akan menemukannya.

‘Tuhan ada atau tak ada, tak mesti jadi pertanyaan, karena niscaya anda tahu Tuhan sangat bisa
anda lihat dengan jelas, dengan mata anda sendiri, bahkan bisa anda katakana saintifik dan empiric karena
lebih nyata ketimbang apaun yang bisa anda lihat dengan mata fisik dan mata nalar-kerjakanlah ini, dan
lihatlah dengan mata batin; mata batin anda, yang dengannya anda melihat, dan Tuhan melihat anda”. Wa
allahu a’lam.

*Penulis adalah mahasiswa P. Kimia UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Alamat: kaha.anwar@gmail.com

Dafrta Pustaka

Capra, Fritjof.2006. The Tao Of Fisik, Menyingkap Kesejajaran Fisika Modern dan Mistisisme Timur,
Yogyakarta. Jalasutra.

Davies, Paul.2002. Tuhan Doktrin dan Rasionalitas. Yogyakarta, Fajar Pustaka Baru.

Hanafi, Hasan.2007. Islamologi. Yogyakarta. LKiS.

Zukaf, Gary.2003. Makna Fisika Baru dalam Kehidupan, The Dancing Wu Li Masters. Yogyakarta. Tiara
Wacana