Anda di halaman 1dari 8

PENANGANAN KHUSUS PADA KANKER ENDOMETRIUM

I.

Pendahuluan
Kanker endometrium ( juga merujuk pada istilah kanker corpus uterus atau kanker
corpus) adalah kanker yang paling banyak terjadi pada alat genital interna pada
wanita; kondisi ini menjadi penyebab kanker terbanyak ke-empat diantara wanita US
pada tahun 2012. Pada negara berkembang adenokarsinoma endometrium adalah
salah satu jenis kanker ginekologi terbanyak.[1]
Tumor ganas korpus uterus dianggap primer jika berasal dari endometrium atau
miometrium. Jika terdapat proses di endometrium dan endoserviks dan tidak dapat
dipastikan dimana asalnya, maka tumor ganas tersebut dianggap sebagai tumor ganas
serviks uterus bila hasil histologik menunjukkan jenis epidermoid. Dianggap tumor
ganas endomterium bila histologik berjenis adenokarsinoma atau adenoakantoma.
Frekuensi tumor ganas endomterium akhir-akhir ini meningkat, disamping faktorfaktor lain yang member predisposisi hingga mempunyai resiko tinggi.[2]

II.

Epidemiologi
Kanker endometrium merupakan kanker ke-empat terbanyak pada wanita,dan
merupakan keganasan ginekologi terbanyak, yang terhitung sebanyak 6% dari semua
perempuan yang menderita kanker.

[3]

Setiap tahun di USA, terdapat 34.000 kasus

baru dari kanker endometrium dan 6000 perempuan mati karena penyakit ini.[4]
American Cancer Society memprediksikan 40.320 kasus baru dn 7.090 kematian
oleh karena kanker endometrium pada tahun 2004. Untungnya 73% kasus akan
ditemukan saat diagnosis oleh karena kanker endometrium sering datang dengan
gejala postmeopaus atau perdarahan irregular.[3]
Di seluruh dunia, setiap tahun, 142,000 perempuan terdiagnosis, dan sebanyak
42.000 perempuan meninggal karena penyakit ini. Selama tahun 2005, diperkirakan
di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus baru dengan sekitar 7.100 kematian terjadi
karena kanker endometrium. Pada tahun 2007, diperkirakan 1 dari 38 perempuan di
Amerika Serikat terdiagnosis kanker endometrium.

Insiden kanker endometrium

berdasarkan data dari Office of National Statistic meningkat dari dua per 100.000
perempuan per tahun di bawah usia 40 tahun sampai 40-50 per 100.000 perempuan
per tahun pada dekade ke-6, ke-7 dan ke-8. Angka kematian di Amerika Serikat

meningkat dua kali antara tahun 1988 dan 1998. Di regional Asia Tenggara di mana
Indonesia termasuk di dalamnya insiden kanker endometrium mencapai 4,8 persen
dari 670.587 kasus kanker pada perempuan. Sementara kanker payudara sebanyak
30,9%; serviks 19,8% dan ovarium 6,6%.[5]
III.

Faktor Resiko
Satu dari 38 wanita Amerika (2,6 %) akan mengalami kanker endometrium selama
keidupan mereka. Beberapa faktor resiko untuk terjadinya kanker endometrium
dijelaskan dalam tabel dibawah ini. Pada umumnya, kebanyakan faktor resiko
berkaitan dengan keterpaparan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
estrogen yang berlebihan.[6]

Obesitas

Tabel 1: Faktor resiko terjadinya kanker endometrium

merupakan penyebab tersering dari terjadinya kanker endometerium sebab


obesitas memicu terjadinya overproduksi estrogen secara endogen. Kelebihan dari
jaringan lemak/adipose meningkatkan aromatisasi perifer dari androstenedione
menjadi estrone. Pada wanita premenopause, peningkatan kadar estrogen dipicu

oleh umpanbalik abnormal dari aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Sehingga


dampak klinisnya adalah oligo- atau anovulasi. Tidak adanya ovulasi,
menyebabkan endometrium terpapar dengan stimulus estrogen secara terus
menerus tanpa adanya efek progesterone dan menampakkan gambaran
-

perdarahan.[6]
Keterpaparan dengan estrogen dalam jangka waktu yang lama juga memicu
terjadinya kanker endomterium, misalnya waktu menarke yang cepat dan

menopause yang lama.[6]


Lingkungan juga merupakan faktor predisposisi kanker endomterium beberapa
hari belakangan. Wanita barat dan Negara berkembang insiden untuk terkena
kanker endomterium menjadi meningkat. Etiologi berupa peranan nutrisi
khususnya diet tinggi dari lemak hewan juga meningkatkan faktor resiko terkena

kanker endomterium.[6]
Usia tua merupakan faktor lain terjadinya kanker endometrium, dengan insiden
yangyang meningkat pada usia 70 tahun. Secara umum, sekitar 80% diagnosis
ditegakkan pada usia > 55 tahun pada wanita yang telah menopause. Sedikitnya
sekitar 5% kanker endometrium didiagnosis pada wanita yang lebih muda < 40

tahun.[6]
Riwayat keluarga yang pernah menderita kanker endometrium juga merupakan

faktor resiko terjadinya kanker endometrium pada keturunannya.[6]


Penggunaan kontrasepsi oral paling tidak selama satu tahun, menurunkan
sebanyak 30-50% dari terjadinya kanker endomterium. Pada kandungan progestin
pada kebanyakan kontrasepsi oral memberikan efek perlindungan dari terjadinya

IV.

kanker endometrium pada sebagian besar wanita yang obesitas.[6]


Perokok memberikan faktor resiko yang rendah terjadinya kanker endometrium.[6]

Anatomi
Anatomi uterus terdiri dari 3 lapisan jaringan berikut:
Lapisan dalam, yang disebut endometrium, merupakan lapisan yang paling
aktif merespon perubahan hormone siklik ovarium; endometrium yang sangat

khusus dan sangat penting untuk fungsi menstruasi dan reproduksi.


Lapisan tengah atau miometrium, membuat sebagian besar volume uterus dan
merupakan lapisan otot, terutama terdiri dari lapisan sel-sel otot polos

Lapisan luar rahim, serosa atau perimetrium, adalah lapisan tipis dari jaringan
yang terbuat dari sel-sel epitel yang menyelimuti uterus.[7]

V.

Etiologi
Adenokarsinoma endometrioid bisa terjadi karena peningkatan kadar estrogen
dari berbagai sumber, baik eksogen maupun endogen. Sumber-sumber eksogen telah
memasukkan terapi penggantian hormone estrogen aau penggunaan tamoxifen.
Tamoxifen meningkatkan risiko kanker endometrium oleh aktivitas agonis pada
reseptor estrogen dilapisan endometrium. Sumber estrogen endogen termasuk
obesitas dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) dengan siklus anovulasi, atau sekresi
estrogen oleh tumor seperti tumor sel granulosa.[8]
Faktor-faktor lain yang terkait dengan peningkatan resiko seseorang terkena
kanker endometrium diyakini terkait dengan mekanisme yang sama peningkatan
tingkat kadar estrogen. Nullipartity dn infertilitas yang mungkin berhubungan dengan
anovulasi kronis. Peningkatan penggunaan alcohol bias meningkatkan kadar estrogen.
Meskipun tidak ada bukti bahwa skrining untuk kanker endometrium pada
populasi berisiko tinggi, seperti pasien tamoxifen atau pasien yang memiliki sindrom
HNPCC (Hereditary NonPolyposis Colorectal Cancer), menurunkan angka kematian
menganjurkan skrining dengan biopsy endometrium dimulai pada usia 35 tahun pada
pasien degan HNPCC.[8]
Factor-faktor yang menurunkan kadar estrogen berhubungan dengan penurunan
risiko kanker endometrium. Penggunaan pil kombinasi selama 12 bulan mengurangi
resiko kanker endometrium lebih dari 40%.

Demikian pula, wanita menopause

mengambil kombinasi estrogen dan terapi penggantian hormone progesterone juga


telah ditemukan untuk menurunkan resiko pada kanker endometrium.[8]

VI.

Patofisiologi
Fibroblast growth faktor receptor 2 (FGFR2) adalah reseptor tirosin kinase yang
terlibat dalam banyak proses biologi. Mutasi di FGFR2 telah dilaporkan pada
sampaidengan 10-12% dari karsinoma endometrium yang identik dengan yang
ditemukan pada gangguan kraniofasial bawaan. Penghambatan FGFR2 bisa menjadi
sasaran terapi baru pada karsinoma endometrium. Gatius et al menunjukkan bahwa
FGFR2 memiliki peran ganda dalam endometrium, mengyambat proliferasi sel di

endometrium selama siklus menstruasi, tetapi bertindak sebagai onkogen pada


karsinoma endometrium. Kanker endometrium dibagi menjadi 2 kelas, masingmasing dengan patofisiologi dan prognosis yang berbeda.
Lebih dai 80% dari karsinomas endometrium tipe 1 dan karena stimulasi hormone
estrogen, merupakan tahapan low grade pada gambaran histology. Hal ini sering
ditemukan dalam hubungan dengan hyperplasia endometrium atipikal, yang dianggap
estrogen independen, terjadi pada wanita yang lebih tua, dengan tahapan high grade
pada gambaran histologis seperti sel serosa atau jernih papiler rahim.
Kanker endometrium mungkin berasal dari area kecil (misalnya dalam sebuah polip
endometrium) atau dalam pola difus multifocal. Pertumbuhan tumor dini ditandai
dengan pola exophytic dan menyebar. Secara klinis, pertumbuhan ini ditandai dengan
kerapuhan dan perdarahan spontan, bahkan pada tahap awal. Pertumbuhan tumor
kemudian ditandai dengan invasi miometrium dan pertumbuhan menuju leher rahim.
Empat rute penyebaran terjadi diluar rahim:
Langsung/penyebaran local setempat untuk sebagian ekstensi local di luar

rahim.
Penyebaran melalui limfatik kemudian menyebar ke panggul, para-aorta, dan

jarang ke kelenjar getah bening inguinal.


Penyebaran melaui hematologic menyebabkan metastase ke pat-paru, hati,

tulang, dan otak (jarang)


Peritoneal/transtubal tersebar di implant intraperitoneal, terutama dengan
papiler karsinoma serosa uterus (UPSC), mirip dengan pola yang diamati pada
kanker ovarium.

Adenokarsinoma endometrium, pada pemeriksaan histopatologi, biasanya


didahului oleh hyperplasia adenomatosa dengan atipia. Jika tidak diobati, simple
dan kompleks hyperplasia endometrium dengan atyipia dapat berkembang
menjadi adekarsinoma pada masing-masing 8% dan 29% dari kasus. Tanpa
atypia, hyperplasia simple dan kompleks dapat berkembang untuk kanker hanya
1% dan 3% dari masing-masing kasus.
Histologi adenokarsinoma endometrium ditandai oleh kelenjar cribriform (atau
crowding glandular) dengan sedikit, jika ada, stroma jaringan antara kelenjar.
Atypia nuklir, variasi dalam ukuran kelenjar, dan peningkatan mitosis yang umum

di adenokarsinoma. Tumor jinak mungkin sulit dibedakan dengan hyperplasia


kompleks dengan atypia histologist. Demikian juga tumor ganas mungkin sulit
dibedakan dengan sarcoma secara histologist. Semua histologist sel papiler serosa
dan jelas dianggap kelas 3. Perbedaan kanker endometrium adalah salah satu
faktor prognosis yang paling penting. Kelas 1, 2, dan 3 tumor membentuk sekitar
45%, 35%, dan 20%, masing-masing adenokarsinoma endometrium. Tingkat
kelangsungan hidup 5 tahun dari kanker endometrium stadium klinis 1 adalah
94%, 88%, dan 79% untuk kelas 1, 2, dan 3 tumor, masing-masing. Tingkat
diferensiasi histologist adenokarsinoma endometrium seperti yang didefinisikan
oleh Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri (FIGO) adalah sebagai
berikut:

FIGO keas 1-5% atau kurang solid/ daerah nonglandular


FIGO kelas 2- 6-50% dari padat/ daerah nonglandular
FIGO kelas 3-lebih dari 50% dari padat/ daerah nonglandular
Diferensiasi hisologis kurang dikaitkan dengan insiden yang lebih tinggi
dalam (yaitu lebih dari satu setengah)invasi miometrium dan metastase
kelenjar getah bening. Selanjutnya kedalaman invasi miomterium dan
kehadiran tumor di kelenjar getah bening secara langsung berkaitan
dengan tingkat kekambuhan dan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun.[9]

VII.

Gejala Klinis
Perdarahan postmenopause dan perdarahan abnormal premenopause dan
perimenopause adalah gejala primer dari karsinoma endometrium.
Diagnosis dari kanker endometrium ditegakkan oleh pemeriksaan histologist dari
endometrium. Jika ditemukan suatu kanker endometrium, maka kuretase endoservikal
harus dilakukan untuk menyingkirkan invasi ke endocervix. Pemeriksaan sitologik
rutin (Pap Smear) dari eksoserviks. Yang menyaring neoplasia cerviks, dapat
mendeteksi karsinoma endometrium pada 50% kasus.[10]
Sembilan puluh persen pasien dengan kanker endometrium mengalami
perdarahan

vagina

abnormal,

biasanya

terjadi

menometroragipada

wanita

perimenopause atau menstruasi seperti perdarahan pada wanita menopause


sebelumnya sebelumnya.[11]

Wanita perimenopause yang mempunyai riwayat perdarahan intermenstrual,


riwyat perdarahan yang berlebihan lebih dari tujuh hari atau selang waktu kirang dari
21 hari antara menstruasi. Pada keadaan yang berat, perdarahan berkepanjangan pada
pasien yang diketahui untuk anovulasi siklus harus segera evaluasi histologist
endometrium. Ukuran, kontur, mobilitas, dan posisi rahim harus dievaluasi.[11]
VIII.
IX.
X.
XI.
1.
2.

Klasifikasi
Penanganan khusus kanker endometrium
Prognosis
Kesimpulan

William T Creasman, M.S., Endometrial Carcinoma. E-Medicine, 2014.


Sarwono Prawihardjo, H.w., Ilmu Kandungan. Tumor Ganas Alat Genital, ed. E.
ke-7. 2009, Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.
3.
Fortner, K., Cancer of the Uterine Corpus, in The Johns Hopkins Manual of
Gynecology and Obstetrics,
, L.M. Szymanski, Editor. 2007, The Johns Hopkins University School of Medicine:
Maryland.
4.
Schorge, E.R.N.a.J.O. (2001) Obstetrics and Gynecology at a Glance.
gynecology oncology Volume, 62
5.
Sartika, D., Jurnal Kanker Endometrium 2009.
6.
John, S., Endometrial Cancer, in Gynecologic Oncology, W.s. Gynecology,
Editor. 2009, University of Texas Southwestern Medical Center at Dallas:
Texas.
7.
Speroff, Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility, in Theuterus,
Glass, Editor. 1999.
8.
Healy, S., Endometrial Cancer, in Atlas of Staging in Gynecological Cancer,
Priore, Editor. 2008.
9.
medscape, E., Carcinoma Endometrium.
10.
Lentz, K., Carcinoma Endometrium, in Comprehensive Gynecologic, G. Lentz,
Editor. 2009, Elsevier's Health Sciences Rights Departemen, Philadelphia:
USA.
11.
Johnson, C., Endometrial Cancer. Current Clinical Strategies Gynecology and
Obstetric, 2006.