Anda di halaman 1dari 50

FORENSIC TRAUMATOLOGY

ADJI SUWANDONO, dr., S.H.


Forensic and Medicolegal Department of Sebelas Maret University
Phone : (0271) 9112405/ 08164270612
E-mail : addjee@yahoo.com

TUJUAN KULIAH
Pemahaman tentang
1. Hakekat / Prinsip umum dibidang medikolegal
2. Dasar-dasar Ilmu Kedokteran Forensik
3. Aspek medikolegal Trauma Muskoloskeletal

VISUM ET REPERTUM

TRAUMATOLOGI

MUSKULOSKELETAL

Pemahaman pengertian
medikolegal dan Ilmu Kedokteran
Forensik

medico-legal
.. pertaining to law as affected by
medical facts.

legal aspects of medicine

LINGKUP MEDIKOLEGAL

MEDICAL

MEDICINE FOR LAW


(FORENSIC MEDICINE)

LEGAL

LAW FOR MEDICINE


(MEDICAL LAWS)

what is forensic medicine


a medical specialty, which uses
medical knowledge to help solving
legal matters associated with the
human body (and minds), for the
purposes of law enforcement and
justice

PERAN KEDOKTERAN
FORENSIK
TKP

Saksi
Ahli

VeR

PERISTIWA
PIDANA PENYIDIKAN

PENUNTUTAN

B.A.P

SIDANG
PENGADILAN

Surat
Dakwaan

KONSTRUKSI
SIMPLE LEGAL REASONING
Barang siapa dengan
sengaja
menghilangkan nyawa
orang lain akan
dihukum

A dihukum 10 Th
Karena
membunuh B

Menghilangkan nyawa
orang lain dengan
sengaja dipidana max. 15

A menusuk B
hingga mati dg.
Senjata Tajam
B mati
A di TKP
Senjata

KONSTRUKSI
SIMPLE MEDICOLEGAL REASONING
Tusukan Benda Tajam
Pada Dada Kiri
Menyebabkan Robekan
Jantung dan
Menimbulkan
Perdarahan

Korban B
Meninggal akibat
kekerasan tajam

Korban B alami
perdarahan dalam
rongga Dada kiri

Perdarahan lebih dari


20% akan
menimbulkan kematian

Luka pd dada kiri


Kekerasan tajam
perdarahan

RUANG LINGKUP
KEPENTINGAN PERADILAN
Produk berbentuk visum et repertum / surat keterangan ahli
Kesaksian ahli dalam sidang pengadilan

2 MAIN STREAM
PATOLOGI FORENSIK
FORENSIK KLINIK

CONTOH
IDENTIFIKASI
KETERANGAN MEDIS
UJI KEAYAHAN
PEMERIKSAAN BARANG BUKTI LAIN

PATOLOGI FORENSIK
SUBYEK YANG DIPERIKSA SUDAH
MENINGGAL
OTOPSI
Sebab kematian
Mekanisme kematian
Dll.

HUB. DOKTER - PENYIDIK :


PERINTAH UNDANG-UNDANG
SEBAGAI AHLI, BUKAN SUBORDINAT

FORENSIK KLINIK
SUBYEK YANG DIPERIKSA MASIH HIDUP
PEMERIKSAAN FORENSIK KLINIK
Jenis kecederaan
Penyebab kecederaan
Akibat & konsekuensi (kualifikasi) kecederaan

HUB. DOKTER - PENYIDIK :


PERINTAH UNDANG-UNDANG
SEBAGAI AHLI, BUKAN SUBORDINAT

HUB. DOKTER PASIEN:


Informed Consent untuk setiap tindakan
Rahasia Kedokteran

FORENSIK
KORBAN

KORBAN
CEDERA

Identifikasi Korban
Identifikasi Kekerasan
Penyebab Kekerasan
Kualifikasi Kekerasan
Surat
keterangan
medis

berperan
sebagai

KLINIK
PASIEN

Anamnesa
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Lab.
Diagnosis
Terapi

sembuh

Peran ganda dokter


Sebagai dokter klinik (attending doctor):
memeriksa, mendiagnosis dan mengobati
pasien kontrak terapeutik, ada rahasia
kedokteran
Sebagai dokter forensik (assessing
doctor): memeriksa, menentukan derajat
luka, membuat VER dokter membuka
rahasia kedokteran atas dasar UU

obligation of a physician
every physician in Indonesia is obligated
to perform a (forensic) medical
examination on a person (living or dead)
when asked by the authority
failure to do so will be punishable for a
maximum of 9 months imprisonment

PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM


menurut Ps 133 KUHAP

WEWENANG PENYIDIK
TERTULIS (RESMI)
TERHADAP KORBAN, BUKAN TERSANGKA
ADA DUGAAN AKIBAT PERISTIWA PIDANA
BILA MAYAT :
IDENTITAS PADA LABEL
JENIS PEMERIKSAAN YANG DIMINTA
DITUJUKAN KEPADA :
AHLI KEDOKTERAN FORENSIK
DOKTER DI RUMAH SAKIT

SANKSI HUKUM BILA MENOLAK


PASAL 216 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau
permintaan yang dilakukan menurut undang-undang
oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau
oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula
yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa
tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan
sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua
minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

PERMINTAAN SEBAGAI
SAKSI AHLI (masa persidangan)
PASAL 179 (1) KUHAP :
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli
kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya
wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan
PASAL 224 KUHP :
Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru
bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak
memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang
yang harus dipenuhinya, diancam : dalam perkara
pidana, dengan penjara paling lama sembilan bulan.

PEMERIKSAAN MAYAT
UNTUK PERADILAN
PASAL 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan,
diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah

medical confidentiality
every thing disclosed by a patient to the
physician, or the findings during a medical
examination, especially related to the illness of the
patient must be kept confidential, forever
with some exceptions. (i.e. permited by the patient,
ordered by the supervisor in a hierarchy setting,
unbearable pressure, ordered by law e.g. writing of
visum et repertum)

medical forensic report


visum et repertum

after performing a forensic examination,


the physician is also obligated to write a
report, known as visum et repertum, which
will be submitted to the court via the
investigator (penyidik), then a public
executor (jaksa penuntut umum)

VISUM et REPERTUM
VISUM

memeriksa

REPERTUM

menyimpulkan

Definisi
Visum *) = memeriksa aktivitas mengamati
Repertum *) = menyimpulkan interpretasi
to discover
menyimpulkan

Visum et Repertum (VeR)

laporan tertulis
yang dibuat oleh dokter
atas permintaan penyidik
perihal tubuh manusia
Menggunakan ilmu kedokteran
berdasarkan sumpah
untuk kepentingan peradilan.

*) Prent K, Adisubrata J, Poerwadarminta WJS. Kamus Latin - Indonesia, Semarang: Yayasan Kanisius, 1969

Format / design of
a visum et repertum
Pembukaan (opening) pro justisia
Pendahuluan (introduction)
Pemberitaan (objective findings)
Kesimpulan (conclusion)
Penutup (closing)

in the conclusion of the visum et repertum,


the physician should be able to conclude
in accordance to the related article of law,
but not beyond the medical knowledge.

PERANAN DOKTER PADA TAHAP


PERSIDANGAN PENGADILAN
SEBAGAI SAKSI AHLI PEMERIKSA :
MENJELASKAN VISUM ET REPERTUM
MENJELASKAN KAITAN TEMUAN VER
DENGAN TEMUAN A.B.S. LAIN

SEBAGAI AHLI :
MENJELASKAN SEGALA SESUATU YANG
BELUM JELAS DARI SISI ILMIAH

TRAUMA TO
THE MUSCULOSCELETAL SYSTEM

The Medicolegal Aspects

DISABILITY EVALUATION
DISABILITY: is a term that implies a
transformation of the body structures which
result in a depreciation of normal ability to
perform the functions of established physical
accomplishments (1)
Physical impairment after an injury will affect an
individual future activities:
Potential Future Occupations
The Existing Past / On-going Occupation
(1) McBride, ED, Disability evalutaion and the orthopedic surgeon, Clin. Orthop., 12:9, 1958

TWO PRINCIPLES OF
DISABILITY EVALUATION (1)
1. FUNCTIONAL DEFICIENCY

2. PHYSICAL IMPAIRMENT

1. Quickness of actions

1.

Anatomical mass damage

2. Coordination

2.

Clinical manifestation

3. Strength

3.

Job restoration restrictions

4. Security

4.

Restrictions of working
conditions

5.

Reactionary inferences

5. Endurance
6. Safety
7. Prestige of physique for
employment

(1) McBride, ED, Disability evalutaion and the orthopedic surgeon, Clin. Orthop., 12:9, 1958

criminal act
usually, criminal action upon human body
is associated with traumatic injury to the
body, which affect the body surface (skin),
musculo-skeletal structure and inner
organs.
criminal is punishable and the punishment
is in accordance with the severity of injury
inflicted on the victim

examination of wound
should be done carefully, exactly and
thouroughly, to reveal the cause of wound,
time of wounding (intravitallity) and the
effect of wounding upon the body.
for the purpose of the court, in the visum
et repertum, examination findings should
be described clearly and objectively

KUHP Pasal 90
Luka berat berarti:
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi
harapan akan sembuh sama sekali, atau yang
menimbulkan bahaya maut;
tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas
jabatan atau pekerjaan pencarian;
kehilangan salah satu pancaindera;
mendapat cacat berat;
menderita sakit lumpuh;
terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

KUHPIDANA Pasal 352


(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan, jabatan atau
pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan,
dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
(2) Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja
padanya, atau menjadi bawahannya.
(3) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak
dipidana.

Mechanical trauma
to the musculoskeletal system
Blunt force injury
bruise
abrasion
laceration

Sharp force injury


stab wound
Incise wound

Gun shot injury


entrance gunshot wound
exit gunshot wound

Physical trauma
to the musculoskeletal system
Burn
open flame
hot liquid

Electrical trauma
electrocution
lightning

Chemical trauma
to the musculoskeletal system
Acid burn
Basic burn

SOFT TISSUE INJURIES


INCLUDES:
SKIN
PERIPHERAL NERVES
TENDONS
LIGAMENTS
BLOOD VESSELS
Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996

SOFT TISSUE INJURIES


PERIPHERAL NERVES
CAUSA: laceration by sharp object, contusion by
a blow, compression by another anatomical
structure (1)
RESULT OF NERVE INJURIES (2)
Non-degenerative

conduction block
Some modalities of sensation persist
Detectable nerve action in the distal trunc
no spontaneous muscular activity

Degenerative
Favorable or unfavorable prognosis
All modalities are lost
No distal conduction
(1) Tedeshi, et.al, Forensic Medicine, Mechanical Trauma, Vol. 1, WB. Saunders Co., Philadelphia, 1977
(2) Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996

PATAH TULANG
BENTUK:
SIFAT BENDA PENYEBAB

PERUBAHAN BERDASAR WAKTU


DAMPAK PATOFISIOLOGI:
PERDARAHAN, DISFUNGSI
KERUSAKAN JARINGAN SEKITAR
EMBOLI LEMAK DAN SUMSUM TULANG

DUA PATAH TULANG RADIER


Dimana letak impak?
MANA YANG PATAH LEBIH DAHULU ?

BONNY INJURIES
CLOSED or OPEN
METAPHYSEAL or DIAPHYSEAL
INTRA or EXTRA ARTICULAR
AVULSION

Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996

BONNY INJURIES
Results and Prognosis
Open fractures

will take longer to heal

run the risk of infection

Poor result is associated with the soft tissue


injuries (verves, tendons)

Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996

BONNY INJURIES
Results and Prognosis
Metaphyseal fractures

Heal more readily than diaphyseal fractures

Greater potential fo rmoulding of the


metaphysis esp. in children

Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996

BONNY INJURIES
Results and Prognosis
Intra-articular fractures

May require internal fixation

Often resulting in joint stiffness (temporarily)

May develop osteoarthritis (long-term)

Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996

BONNY INJURIES
Results and Prognosis
Avulsion fractures

Not of importance as the bony injury concerned, but

Depend on the attachment which has caused


avulsion (ligament or profundus tendon)

Persistent ligamentous laxity is likely to cause


osteoarthritic changes in the future

Fagg PS, Foy MA, Medicolegal Reporting in Orthopaedic Trauma, Churchill Livingstone, 1996