Anda di halaman 1dari 22

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 Identifikasi Pasien


Nama

: Tn. Zainal

Umur

: 22 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Jl pematang lumut, Dusun kampung tengah

Agama

: Islam

Waktu Ct scan

: 31-12-2013

1.2 Anamnesis
Kecelakaan lalu lintas ditabrak mobil 3-4 jam sebelum masuk IGD, setelah
kejadian tidak sadarkan diri, muntah (+), kejang (-).
Keluhan Utama
Penurunan kesadaran, terdapat darah yang keluar dari mulut pasien.
Keadaan umum
Tampak sakit berat
Riwayat Penyakit Dahulu
Baik, tidak pernah dirawat dengan kasus yang sama, alergi (-), gangguan psikiatri (-).
Riwayat Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang pernah mengalami hal yang sama dengan pasien.
Cara Membawa ke Rumah Sakit
Di antar oleh orang lain, bukan keluarga menggunakan mobil.

1.3 Pemeriksaan Fisik


Tanda vital
Nadi

: 130 x/menit reguler, pulsasi kuat

RR

: 34 x/menit

TD

: 142/79 mmHg

Suhu

: 37 0

SPO2

: 100-

Pemeriksaan Khusus
Kepala

: jejas (+) pada temporal dekstra

Pupil

: Isokor

Terdapat perdarah pada gusi


Spinal

: jejas (+)

Distensi vena jugularis (-)


Thorax

: simestris kanan dan kiri

Sistim Pernapasan

: pada jalan napas, terdapat darah

Suara napas

: wizzing

Sputum

: putih kental

Pulmo

: vesikular

Cardiovascular

Nyeri dada (-)


S1 reguler, S2 murmur (-), galop (-)
Abdomen
Jejas (-), distensi (-), bising usus (+), nyeri tekan epigastrium (-)
Distensi (-), nyeri (-), peningkatan peristaltik (-)
Ekstremitas
Akral hangat, kulit pucat
Otot lemah
2

Turgor elastis
Fraktur (+)
Kesulitan gerak (+)

GCS : E2 M4 V2 = 8

1.4 Pemeriksaan Penunjang


-

Ct-scan kepala (AP/L)

Ro cervikal (AP/L)

Ro Thorak (AP)

Ro Femur

EXPERTISE
-

Gyri dan sulci baik

Tampak lesi hiperdens multipel pada regio temporal sinistra

Tidak tampak pergeseran midline shift

Tidak tampak penyempitan ventrikel lateral

CPA (cerebeli pontis angel) sisterna baik

Orbita, sinus : baik

Soft tissue swelling


Kesan : Contusio cerebri regio temporal sinistra
Contusio jaringan
Sinusitis maxilaris dextra

Gambar 1 Ct Scan Kepala Tn.Zainal

1.5 Diagnosis Kerja


Diagnosis klinis

: Cedera kepala berat

Diagnosis topis

: Contusio cerebri
Hipertensi

1.6 Penatalaksanaan
-

Bersihkan jalan nafas

Pemberian O2

Cairan 2 liter (RL)

Posisi kepala 10-300

Ranitidin 2x1 ampul

Manitol 4x150 unit

Cefotaksin 1x25

Atropin 2x500 mg

NGT, cairan yang keluar berwarna coklat

Kateter, urin berwarna kuning

Usul
1. Konsul ke dokter ortopedi
2. Konsul ke dokter bedah saraf

BAB II
PENDAHULUAN

Cedera kepala akhir-akhir ini insidennya cukup tinggi, hal ini seiring dengan
bertambahnya transportasi dan mobilitas penduduk. Tingginya angka kecelakaan lalu lintas
yang berakibat kecacatan atau kematian, terutama yang disebabkan oleh cedera kepala.
Undang-undang pemakaian helm di USA menurunkan angka kematian cedera kepala
sebanyak 4600 pada tahun 1982, menjadi 2400 pada tahun 1992.
Cedera kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secara langsung
atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat kepada gangguan fungsi neurologis,
fungsi fisik, kognitif, psikososial, bersifat temporer atau permanent. Menurut Brain Injury
Assosiation of America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat
kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar, yang
dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan
kognitif dan fungsi fisik. Cedera kepala adalah cedera yang meliputi trauma kulit kepala,
tengkorak dan otak.
Defisit neurologis terjadi karena robeknya substansi alba, iskemia dan pengaruh
massa karena perdarahn, serta edema cerebral disekitar jaringan otak. Cedera kepala sedang
(CKS) adalah trauma kepala yang diikuti dengan penurunan kesadaran atau kehilangan fungsi
neurologis seperti misalnya daya ingat atau penglihatan dengan skor GCS 9-13, yang
dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang CT Scan kepala.
Adapun pembagian cedera kepala adalah:

Simple head injury


Commotio cerebri
Contusion cerebri
Laceratio cerebri
Basis cranii fracture

Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera
kepala ringan. Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera
kepala berat.
Pada penderita harus diperhatikan pernafasan, peredaran darah umum dan kesadaran,
sehingga tindakan resusitasi, anamnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus
dilakukan secara serentak. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada
saat pasien tiba di Rumah Sakit. Contusio cerebri terbanyak dengan status Cedera Kepala
Berat dengan GCS <8, angka kematian contusio cerebri cukup tinggi. Penanganan contusion
cerebri secara konservatif di RS Dr.Kariadi Semarang mencapai 87,1 % mengalami kematian,
sedangkan yang mengalami kematian paska operasi sebesar 12,9%.
6

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi Kepala
3.1.1 Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu: skin atau kulit,
connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose
conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan pericranium.
3.1.2 Tulang Tengkorak
Tengkorak adalah tulang kerangka dari kepala yang disusun menjadi dua bagian yaitu
cranium yang terdiri atas delapan tulang dan kerangka wajah yang terdiri atas 14 tulang.
Rongga tengkorak mempunyai permukaan atas yang dikenal sebagai kubah tengkorak, licin
pada permukaan luar dan pada permukaan dalam ditandai dengan lekukan supaya dapat
sesuai dengan otak dan pembuluh darah. Permukaan bawah dari rongga dikenal sebagai dasar
tengkorak atau basis kranii. Dasar tengkorak ditembus oleh banyak foramen agar dapat
dilalui oleh saraf dan pembuluh darah.
3.1.3 Meningea
Meningea merupakan selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang.
Fungsi meningea yaitu melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan
cairan sekresi (cairan serebrospinal), dan memperkecil benturan atau getaran, terdiri atas 3
lapisan, yaitu :
a. Duramater (Lapisan sebelah luar)
Duramater ialah selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal
dan kuat, dibagian tengkorak terdiri dari selaput tulang tengkorak dan duramater propia di
bagian dalam. Di dalam kanalis vertebralis kedua lapisan ini terpisah. Duramater pada tempat
tertentu mengandung rongga yang mengalirkan darah vena dari otak, rongga ini dinamakan
sinus longitudinal superior yang terletak diantara kedua hemisfer otak.
b. Selaput Arakhnoid (Lapisan tengah)
Selaput arakhnoid merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan
piameter yang membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan otak yang meliputi
seluruh susunan saraf sentral.

c. Piamater (Lapisan sebelah dalam)


Piamater merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak,
piamater berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-struktur jaringan ikat yang disebut
trebekel. Tepi falks serebri membentuk sinus longitudinal inferior dan sinus sagitalis inferior
yang mengeluarkan darah dari flaks serebri. Tentorium memisahkan cerebrum dengan
cerebellum.

Gambar 2 Lapisan Meningea


3.1.4 Otak
Otak merupakan suatu hal yang sangat penting karena merupakan pusat dari semua
organ tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (cranium)
yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terdiri dari otak besar (cerebrum), otak
kecil (cerebellum), dan batang otak. Besar otak orang dewasa kira-kira 1300 gram, 7/8 bagian
berat terdiri dari otak besar.
a. Otak besar (cerebrum)
Otak besar merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur mengisi
penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Masing-masing disebut fosa kranialis anterior
atas dan fosa kranialis media.
b. Otak kecil (cerebellum)
Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur keseimbangan tubuh serta mengkoordinasikan kerja
otot ketika bergerak.
c. Batang Otak
Struktur ini bertanggung jawab untuk fungsi dasar kehidupan vital seperti pernapasan, detak
jantung dan tekanan darah.

Gambar 3 Anatomi otak


3.1.5 Cairan Cerebrospinalis
Cairan cerebrospinal adalah hasil sekresi plexus khoroid. Cairan ini bersifat alkali,
bening mirip plasma dengan tekanannya 60-140 mm air. Sirkulasi cairan cerebrospinal yaitu
cairan ini disalurkan oleh plexus khoroid ke dalam ventrikel-ventrikel yang ada di dalam
otak. Cairan itu masuk ke dalam kanalis sentralis sumsum tulang belakang dan juga ke dalam
ruang subarakhnoid melalui celah-celah yang terdapat pada ventrikel keempat. Setelah itu
cairan ini dapat melintasi ruangan di atas seluruh permukaan otak dan sumsum tulang
belakang hingga akhirnya kembali ke sirkulasi vena melalui granulasi arakhnoid pada sinus
sagitalis superior.
Oleh karena susunan ini maka bagian saraf otak dan sumsum tulang belakang yang
sangat halus terletak diantara dua lapisan cairan. Dengan adanya kedua bantalan air ini
maka sistem persarafan terlindungi dengan baik. Cairan cerebrospinal ini berfungsi sebagai
buffer, melindungi otak dan sumsum tulang belakang dan menghantarkan makanan ke
jaringan sistem persarafan pusat.

3.2. Definisi
Contusio cerebri adalah kerusakan parenkim otak yang disebabkan karena gaya
akselerasi dan deselerasi. Mekanisme lain yang menjadi penyebab contusio cerebri adalah
adanya gaya coup dan countercoup, dimana hal tersebut menunjukkan besarnya gaya yang
sanggup merusak struktur parenkim otak yang terlindungi oleh tulang dan cairan otak. Lokasi
contusio yang khas adalah kerusakan jaringan parenkim otak yang berlawanan dengan arah
datangnya gaya yang mengenai kepala.
Contosio sendiri biasanya menimbulkan defisit neurologis jika mengenai daerah
motorik atau sensorik otak., secara klinis didapatkan penderita pernah atau sedang tidak sadar
selama lebih dari 15 menit atau didapatkan adanya kelainan neurologis akibat kerusakan
jaringan otak.

Gambar 4 Contusio pada lobus temporal te kanan (panah kecil), hematom subdural lobus
frontal kiri (pahan panjang)

Gambar 5 ditemukan swelling yang akut pada seluruh hemister kiri disertai dengan tidak
tampaknya pola girus akibat edema.

Gambar 6 Ct Scan kepala tanpa kontras dan dengan kontras

10

Gambar 7 MRI, menunjukkan herniasi pada pasien yang mengalami contusio cerebri di
lobus frontal

Gambar 8 Gambaran beberapa perbedaan perdarahan


3.3. Etiologi
Menurut Ginsberg (2007) cedera kepala disebabkan oleh :
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Jatuh
3. Trauma benda tumpul
4. Kecelakaan kerja
5. Kecelakaan rumah tangga
6. Kecelakaan olahraga
7. Trauma tembak dan pecahan tembok

11

Cedera kepala dapat terjadi oleh karena trauma tumpul maupun cedera kepala
tembus. Trauma tumpul biasanya terjadi karena benturan pada saat kecelakaan atau terpukul.
Trauma tembus biasanya terjadi karena luka tembak.
Dua mekanisme utama yang terjadi sehingga terjadi kerusakan otak yaitu inertial
injuries atau contact injuries. Inertial injuries sering disebut sebagai trauma akselerasi dan
deselerasi. Akselerasi dan deselerasi terjadi oleh karena perbedaan kecepatan pergerakan dari
otak dengan jaringan tulang. Contact injuries dapat menyebabkan kerusakan otak pada
tempat yang terkena trauma atau pada tempat yang jauh dari tempat trauma.

3.4. Patofisiologi
Lesi contusio bisa terjadi tanpa adanya dampak yang berat, yang penting untuk
terjadinya lesi contusio adalah adanya akselerasi kepala, yang seketika itu juga menimbulkan
pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. Akselerasi yang kuat
berarti pula hiperekstensi kepala. Karena itu otak membentang batang otak terlalu kuat,
sehingga menimbulkan blokade reversibel terhadap lintasan asedens retikularis difus. Akibat
blokade itu otak tidak mendapat input aferen dan karena itu kesadaran hilang selama
blokade reversibel berlangsung.
Timbulnya lesi contusio di daerah-daerah dampak (coup), countrecoup dan
intermediate, menimbulkan gejala defisit neurologik, yang bisa berupa refleks Babinski yang
positif dan kelumpuhan U.M.N. Setelah kesadaran pulih kembali, si penderita biasanya
menunjukkan gambaran organic brain syndrom.

Gambar 9 Coup Countrecoup


Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada
trauma kepala tersebut diatas, autoregulasi pembuluh darah terganggu, sehingga terdapat
vasoparalisis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat atau cepat dan lemah.
Juga karena pusat vegetatif ikut terlibat, maka rasa mual, muntah dan gangguan pernapasan
bisa timbul. Contusio Cerebri yang tidak terlampau berat bisa berakhir dengan kematian
beberapa hari setelah kecelakaan.

12

3.5. Manifestasi Klinis


Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. Derajat cedera dapat
dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui system Glasgow Coma Scale (GCS), yakni
metode EVM (Eyes, Verbal, Motorik)
1. Kemampuan membuka kelopak mata (E)
Secara spontan
Atas perintah
Rangsangan nyeri
Tidak bereaksi
2. Kemampuan komunikasi (V)
Orientasi baik
Jawaban kacau
Kata-kata tidak berarti
Mengerang
Tidak bersuara
3. Kemampuan motorik (M)
Kemampuan menurut perintah
Reaksi setempat
Menghindar
Fleksi abnormal
Ekstensi
Tidak bereaksi

4
3
2
1
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1

Derajat cedera kepala berdasarkan GCS :


GCS : 14-15 = Cedera kepala ringan
GCS : 9-13 = Cedera kepala sedang
GCS : 3-8 = Cedera kepala berat
Tetapi beragam manifestasi klinis yang bisa timbul, dan juga tergantung luas dan letaknya
lesi. Secara umum akan memberikan manifestasi klinis sebagai berikut :
- Gangguan kesadaran lebih lama.
- Kelainan neurologik positip, reflek patologik positip, lumpuh, konvulsi.
- Gejala TIK meningkat.
- Amnesia retrograd lebih nyata.
- Pasien tidak sadarkan diri
- Pasien terbaring dan kehilangan gerakkan
- Denyut nadi lemah
- Pernapsan dangkal
- Kulit dingin dan pucat
- Sering defekasi dan berkemih tanpa di sadari.
13

Hemiparese/Plegi
Aphasia disertai gejala mual-muntah
Pusing sakit kepala

3.6. Pembagian Cedera Kepala


1. Simple Head Injury
Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan:
Ada riwayat trauma kepala
Tidak pingsan
Gejala sakit kepala dan pusing
Umumnya tidak memerlukan perawatan khusus, cukup diberi obat simptomatik dan
cukup istirahat.
2. Commotio Cerebri
Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung
tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan
otak. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak
pucat.
Vertigo dan muntah disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusatpusat dalam batang otak. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia
retrograde, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya
kecelakaan. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus
temporalis. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak, EEG,
pemeriksaan memori. Terapi simptomatis, perawatan selama 3-5 hari untuk
observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap.
3. Contusio Cerebri
Pada contusio cerebri terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak
tanpa adanya robekan jaringan yang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami
kerusakan atau terputus.
Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan
adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Terapi dengan antiserebral edem,
anti perdarahan, simptomatik, neurotropik dan perawatan 7-10 hari.
4. Laceratio Cerebri
Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan
piamater. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid
traumatika, subdural akut dan intercerebral. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio
langsung dan tidak langsung.
Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh
benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka.
14

Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat
akibat kekuatan mekanis.
5. Fracture Basis Cranii
Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa
posterior. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena.
Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala:
Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding
Epistaksis
Rhinorrhoe
Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala:
Hematom retroaurikuler, Ottorhoe
Perdarahan dari telinga
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis kranii. Komplikasi :
Gangguan pendengaran
Parese N.VII perifer
Meningitis purulenta akibat robeknya duramater
Fraktur basis kranii bisa disertai commotio ataupun contusio, jadi terapinya harus
disesuaikan. Pemberian antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi. Tindakan
operatif bila adanya liquorrhoe yang berlangsung lebih dari 6 hari.
Adapun pembagian cedera kepala lainnya:

Cedera Kepala Ringan (CKR) termasuk didalamnya Laseratio dan


Commotio Cerebri
o Skor GCS 13-15
o Tidak ada kehilangan kesadaran, atau jika ada tidak lebih dari 10 menit
o Pasien mengeluh pusing, sakit kepala
o Ada muntah, ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan neurologist.
Cedera Kepala Sedang (CKS)
o Skor GCS 9-12
o Ada pingsan lebih dari 10 menit
o Ada sakit kepala, muntah, kejang dan amnesia retrogad
o Pemeriksaan neurologis terdapat kelumpuhan saraf dan anggota gerak.
Cedera Kepala Berat (CKB)
o Skor GCS <8
o Gejalnya serupa dengan CKS, hanya dalam tingkat yang lebih berat
o Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif
o Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas.
15

3.7. Pemeriksaan Penunjang


Contusio cerebri dapat terjadi pada sisi yang terkena trauma ( coup contusion),
maupun pada sisi yang berlawanan dengan trauma (conter coup contusio).
Pembacaan Ct Scan kepala terdapat lesi hiperden yang heterogen dikelilingi
oleh area hipodens dengan batas tidak rata Salt and pepper appereance.

Pemeriksaan penunjang
Foto polos kepala
Pemeriksaan ini untuk melihat pergeseran (displacement) fraktur tulang tengkorak,
tetapi tidak dapat menentukan ada tidaknya perdarahan intrakranial
CT Scan kepala
Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat seluruh struktur anatomis kepala, dan
merupakan alat yang paling baik untuk mengetahui, menentukan lokasi dan ukuran
dari perdarahan intrakrania.

Gambar 10 Ct Scan Kepala Normal


Indikasi dilakukannya Ct Scan pada trauma kepala, menurut
New Orland
The Cranadian Ct Head
Sakit kepala
GCS <15 setelah 2 jam kejadian
Muntah
Adanya dugaan open/depressed fracture
Umur >60 tahun
Muntah > 2x
Adanya intoksikasi alkohol
Umur > 65 tahun
Adanya cedera do clavicula ke Pemeriksaan fisik, adanya fraktur di basal
superior
skul
Kejang
Amnesia retrograde

16

MRI (Magnetic Resonance Imaging) kepala


Pemeriksaan ini untuk menemukan perdarahan subdural kronik yang tidak tampak
pada CT-Scan kepala
Angiografi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada pasien yang mengalami hemiparesis
(kelumpuhan salah satu anggota tubuh) dengan kecurigaan adanya hematoma. Bila
ada kelainan di dalam otak akan terlihat adanya pergeseran lokasi pembuluh darah.
Pemeriksaan ini bermanfaat bila alat CT-Scan tidak ada
Arteriografi
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya efek massa, letak, dan luas hematoma
tetapi tidak dapat menunjukkan penyebab hematoma dan kelainan otak yang terjadi

3.8. Tatalaksana
Pengelolaan konservatif pada kontusio serebri dengan cedera kepala berat bertujuan
untuk mengurangi TIK dengan cara non bedah, tindakan tersebut antara lain :
1. Oksigenasi ventilasi
Dengan oksigenasi dan ventilasi diharapkan PCO2 dipertahankan sekitar 30
mmHg dan dicegah agar PCO2 tidak turun dibawah 25 mmHg, sehingga akan
tercapai vasokontriksi pembuluh darah otak dan akan menurunkan volume
intrakranial sehingga dapat menurunkan TIK.
2. Pemberian Manitol
Dosis yang digunakan adalah 0,5 1 gram per KgBB. Konsentrasi cairan manitol
biasanya 20% dan diberikan dengan tetesan cepat agar tercapai keadaan
hipertonis intravaskuler, sehingga tujuan sebagai osmotik diuretik bisa tercapai.
Manitol tidak boleh diberikan pada pasien dengan keadaan hipotensi akan
memperberat hipovolemi. Pemberian diuretik juga dapat menggunakan
Furosemid, dosis yang digunakan adalah 0,3 0,5 mg per kgBB.
3. Balance cairan dan eklektrolit
Kebutuhan cairan harus tercukupi oleh karena bila tidak tercukupiakan
menyebabkan dehidrasi sistemik yang akan menyebabkan cedera sekunder pada
jaringan otak yang mengalami trauma. Kadar elektrolit terutama natrium dalam
serum juga harus dijaga, keadaan hiponatremi berkaitan dengan kejadian edema
otak yang harus dicegah.
4. Meninggikan kepala
Posisi kepala 20-300 akan memperbaiki venous out flow ke dalam aliran sistemik.
Sehingga aliran darah dari otak ke sistemik berjalan lebih lancar. Hal ini akan
mengurangi volume darah yang statis intrakranial sehingga TIK dapat diturunkan.
17

5. Pemberian antibiotik
Terutama pada penderita yang disertai rhinore dan otore dapat terjadi infeksi pada
njaringan otak oleh karena terobeknya durameter. Juga pada penderita cedera
kepala akan lebih sering terjadi infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan
hiperthermia. Kondisi ini akan meningkatkan kebutuhan O2 jaringan. Cedera
kepala juga meningkatkan keasaman lambung yang akan menyebabkan
meningkatnya kolonisasi kuman.
6. Pemberian nutrisi yang adekuat
Pada cedera kepala akan meningkatkan metabolisme, sehingga kebutuhan kalori
meningkat 1,5 kali dari kebutuhan normal, pemberian nutrisi sedapat mungkin
secara enteral.
7. Pemberian Phenytoin, pada minggu-minggu pertama paska cedera kepala dengan
kerusakan jaringan otak, akan mengurangi risiko terjadinya epilepsi post trauma.
Diberikan dosis 100 mg injeksi, dianjurkan 5 mg/ kgBB per oral dengan dosis
terbagi 3-4 x/hari
Pada perdarahan intrakranial yang menyebabkan bertambahnya volume dalam
intra kranial, evakuasi perdarahan merupakan pilihan utama. Sedangkan kontusio
pada jaringan otak sampai saat ini dilakukan tindakan konservatif, sedangkan
tindakan bedah craniectomi untuk penatalaksanaan kasus kontusio jaringan otak (
contusio cerebri) masih banyak kontroversi.
3.9. Komplikasi
Jangka pendek :
1. Epidural Hematoma
o Letak : antara tulang tengkorak dan duramater
o Etiologi : pecahnya A. Meningea media atau cabang-cabangnya
o Gejala : setelah terjadi kecelakaan, penderita pingsan atau hanya nyeri kepala
sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian
timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala, pusing,
kesadaran menurun, nadi melambat, tekanan darah meninggi, pupil pada sisi
perdarahan mula-mula sempit, lalu menjadi lebar, dan akhirnya tidak bereaksi
terhadap refleks cahaya. Ini adalah tanda-tanda bahwa sudah terjadi herniasi
tentorial.
o Akut (minimal 24jam sampai dengan 3x24 jam)
o Interval lucid
o Peningkatan TIK
o Gejala lateralisasi hemiparese

18

o Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati hematoma
subkutan
o Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar. Pada sisi
kontralateral dari hematom, dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus
piramidalis, misal: hemiparesis, refleks tendon meninggi dan refleks patologik
positif.
o CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks
o LCS : jernih
o Penatalaksanaannya yaitu tindakan evakuasi darah (dekompresi) dan pengikatan
pembuluh darah.

Gambar 11 Ct Scan Epidural Hematoma


2. Subdural Hematoma
o Letak : di bawah duramater
o Etiologi : pecahnya bridging vein, gabungan robekan bridging veins dan laserasi
piamater serta arachnoid dari kortex cerebri
o Gejala subakut : mirip epidural hematom, timbul dalam 3 hari pertama
Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma
o CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian
Ada bagian hipodens yang berbentuk cresent.
Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak
(bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang
tengkorak)
Isodens terlihat dari midline yang bergeser
o Operasi sebaiknya segera dilakukan untuk mengurangi tekanan dalam otak
(dekompresi) dengan melakukan evakuasi hematom. Penanganan subdural
hematom akut terdiri dari trepanasi-dekompresi.

19

Gambar 12 Subdural Hematoma


3. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal, terbanyak pada
lobus temporalis. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa
hematom hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja.
Jika penderita dengan
perdarahan intraserebral luput dari kematian, perdarahannya akan direorganisasi
dengan pembentukan gliosis dan kavitasi.
Keadaan ini bisa menimbulkan
manifestasi neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena.
4. Oedema serebri
Pada keadaan ini otak membengkak. Penderita lebih lama pingsannya, mungkin
hingga berjam-jam. Gejala-gejalanya berupa commotio cerebri, hanya lebih berat.
Tekanan darah dapat naik, nadi mungkin melambat. Gejala-gejala kerusakan
jaringan otak juga tidak ada. Cairan otak pun normal, hanya tekanannya dapat
meninggi.

TIK meningkat
Cephalgia memberat
Kesadaran menurun

Jangka Panjang :
1. Gangguan neurologis
Dapat berupa : gangguan visus, strabismus, parese N.VII dan gangguan N. VIII,
disartria, disfagia, kadang ada hemiparese
2. Sindrom pasca trauma
Dapat berupa : palpitasi, hidrosis, cape, konsentrasi berkurang, libido menurun,
mudah tersinggung, sakit kepala, kesulitan belajar, mudah lupa, gangguan tingkah
laku, misalnya: menjadi kekanak-kanakan, penurunan intelegensia, menarik diri, dan
depresi.

20

BAB IV
ANALISA KASUS
Seorang pria bernama Tn.Zainal (22tahun) dibawa keluarganya ke IGD RSUD Raden
Mattaher setelah mengalami kecelakaan lalu lintas akibat ditabrak mobil, setelah kejadian
tidak sadarkan diri disertai muntah dan tidak ada kejang. Pada saat pemeriksaan didapatkan
jejas pada kepala (+), jejas spinal (+), pada jalan napas terdapat darah, suara napas wizzing.
Pada saat dilakukan pemeriksaan GCS, didapat kan E2 M4 V2 dengan hasil akhir 8. Pada
sistim muskuloskeletal dan integumen didapatkan fraktur femur (+), kesulitan gerak (+).
Kemudian oleh dokter IGD dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan dilakukan Ct
Scan kepala pada Tn.Zainal dengan hasil sebagai berikut :

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Neseth Roland, 200, Procedures and Documentation for CT and MRI,
McGraw-Hill Companies.
2. Japarti, Iskandar. Neuropatologi Infark Srebri. Fakultas Kedokteran Bagian
Bedah. Universitas Sumatra Utara; 2002.
3. Risalina Myrtha, Shabrina Hanifah. Gambaran CT Scan Non-Kontras pada
Stroke Iskemik. Rs Dokter Muwardi, Surakarta; 2012.
4. Sumardjono, Perbandingan Skala Keluaran Glasgow pada Contusio Cerebri
disertai Cedera Kepala Berat antara Tindakan Craniectomi Dekompresi
dengan Konservatif, 2004. http://eprints.undip.ac.id/12319/1/2004fk360.pdf
5. Trauma
Kapitis
yang
Dilakukan
Craniotomy,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27457/4/Chapter%20II.pdf
6. Newton T, Krawcyzyk J, Lavine S. Subaracnoid hemorrhage [ monograh on
the internet]. eMedicine; c 2005 [update 2011 Nov 11; cited 2011
DESEMBER 31]. Available from http://www.emedicine.com/htm.
7. http://emedicine.medscape.com/article/337782-overview

22