Anda di halaman 1dari 10

46be65153c6e82

BAB | WAJIB ISTINJA’ DENGAN BATU ATAU DENGAN AIR

■ Hadits

Dari Aisyah, bahwa Nabi SAW. Bersabda : "Apabila salah seorang di antara kamu pergi buang
air besar, maka bersucilah dengan tiga buah batu, karena sesungguhnya ia itu telah
mencukupinya". (HR Ahmad, Nasa'i, Abu Dawud, dan Dara Quthni, dan Dara Quthni
berkata: Sanad hadis ini Shahih-Hasan)
■ Hadits

Dan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW. pernah meliwati dua kubur, lalu ia bersabda :
"Sesungguhnya mereka berdua itu disiksa, dan mereka itu tidak disiksa karena dosa besar.
Adapun yang seorang dari mereka, karena tidak bertabir diwaktu buang air kecil, dan yang
seorang lagi dari mereka, suka mengadu-domba (sesama manusia). " (HR Jama'ah)

■ Hadits

Dan di dalam satu riwayat bagi Bukhari dan Nasa'i (dikatakan): "Dan mereka berdua itu tidak
disiksa dalam dosa besar, kemudian Nabi SAW. bersabda : "Ya, adalah salah seorang dari
mereka. " Kemudian meneruskan hadits tersebut.

■ Hadits

Dan dari Anas, dari Nabi SAW. (bersabda) : ” Jagalah dirimu dari buang air kecil, karena
sebagian besar siksa kubur itu disebabkan karena buang air kecil “ (HR Dara Quthni)
Penjelasan

Perkataan "Maka sesungguhnya ia telah mencukupinya" itu, syarih berkata: Hadis ini
menjadi dalil bagi orang yang berpendapat, bahwa istinja'*) itu cukup dengan batu-batu, dah
tidak wajibnya istinja' dengan air.

Perkataan "Dan tidaklah mereka berdua disiksa karena dosa besar", kemudian ia bersabda:
"Ya", yakni "sesungguhnya ia itu perkara besar", yakni bukan perkara besar dalam kesukaran
penjagaannya, tapi dianggap besar karena bisa mendatangkan siksa.

Perkataan "Jagalah dirimu dari kencing, karena sesungguhhya kebanyakan siksa kubur itu
disebabkan karena buang air kecil" itu, syarih berkata: Hadis ini menunjukkan wajibnya
menjaga diri dari buang air kecil secara mutlak tanpa dibatas adanya (keperluan untuk)
sembahyang.

POSTING | 40 | Sami’na Waato’na !.

Media untuk bersuci dari buang hajat di dalam syariat Islam tidak terbatas hanya pada air saja.
Selain air, juga dikenal benda-benda lain yang sah untuk digunakan untuk bersuci.
Di dalam fiqih, dikenal 2 teknik bersuci dari buang hajat, yaitu istinja' dan istijmar.
1. Istinja` : bermakna menghilangkan najis dengan air. Atau menguranginya dengan
semacam batu. Atau bisa dikatakan sebagai penggunaan air atau batu. Atau
menghilangkan najis yang keluar dari qubul (kemaluan) dan dubur (pantat).
2. Istijmar : adalah menghilangkan sisa buang air besar dengan menggunakan batu atau
benda-benda yang semisalnya.

Menghilangkan Najis (istijmar) dengan Batu


Jika menggunakan batu, diwajibkan menyapu dengan sekurang-kurangnya tiga biji batu atau tiga
penjuru dari sebiji batu dengan syarat:
1. Najis yang hendak dibersihkan itu tidak kering.
2. Tidak merebak ke bagian lain.
3. Tidak bercampur dengan najis yang lain.
Sekiranya tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, maka hendaklah menggunakan air.

Menghilangkan Najis (istijmar) dengan Selain Batu


Selain dengan batu, istijmar bisa dengan menggunakan benda apa saja, yang penting sesuai
dengan ketentuan.
• Benda itu bisa untuk membersihkan bekas najis.
• Benda itu tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik, karena
tujuannya agar bisa menghilangkan najis.
• Benda itu bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas, perak atau permata.
Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu, karena
tindakan itu merupakan pemborosan.
• Benda itu bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang, abu, debu atau pasir.
• Benda itu tidak melukai manusia seperti potongan kaca beling, kawat, logam yang tajam,
paku.
• Jumhur ulama mensyaratkan harus benda yang padat bukan benda cair. Namun ulama Al-
Hanafiyah membolehkan dengan benda cair lainnya selain air seperti air mawar atau
cuka.
• Benda itu harus suci, sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi/ kotoran binatang
tidak diperkenankan. Tidak boleh juga menggunakan tulang, makanan atau roti, kerena
merupakan penghinaan.
Bila mengacu kepada ketentuan para ulama, maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan
untuk istijmar. Para ulama mengatakan bahwa sebaiknya selain batu atau benda yang
memenuhi kriteria, gunakan juga air. Agar istinja` itu menjadi sempurna dan bersih.
Adab Buang Hajat
• Dilarang membawa sesuatu yang terdapat nama Allah.
• Menjauh dan mencari tempat yang tidak terlihat oleh manusia.
• Masuk WC/tempat buang hajat dengan kaki kiri.
• Sebelum masuk ke WC, membaca doa berikut : “Bismillah, Allahumma innî ‘audzu bika
minal khubutsi wal khoba itsi.” (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan). Kalau seseorang membuang air di
selain bangunan (misalnya di hutan atau padang pasir), maka doa ini dibaca ketika awal
kali dia membuka auratnya.
• Haram menghadap ke arah qiblat atau membelakanginya apabila membuang air di
kawasan lapang. Walau bagaimanapun, disunatkan juga tidak menghadap atau
membelakangi qiblat apabila membuang air di dalam bangunan seperti tandas atau
apabila ada dinding atau tabir antara orang itu dengan qiblat.
• Dimakruhkan berbicara dengan pembicaraan apapun.
• Diwajibkan untuk menjaga aurat ketika buang air, jangan sampai auratnya terlihat oleh
orang lain, selain istri dan budaknya.
• Diwajibkan untuk menjaga tubuh dan pakaian dari najis ketika buang air.
• Bertumpu pada kaki kiri ketika duduk/jongkok dalam buang hajat
• Diharamkan memegang kemaluan (qubul dan dubur) dengan tangan kanan saat buang air.
• Disunnahkan menggosokkan tangan kiri ke tanah atau mencucinya dengan sabun setelah
melakukan istinja`.
• Dimakruhkan berdiam terlalu lama di dalam WC setelah selesainya hajat. Hal itu karena
WC merupakan tempat hadirnya setan-setan dan itu merupakan perbuatan membuka
aurat tanpa ada keperluan.
• Ketika keluar dari WC mendahulukan kaki kanan dan membaca doa: “Ghufranaka,
alhamdulillah al-ladzi adh-haba ‘anni al-adza wa ‘âfâni.”. (Aku minta ampunan-Mu,
segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan menyelamatkanku)

Tempat-tempat yang Dilarang untuk Buang Air Besar/Kecil:


Pada dasarnya semua tempat yang kalau seseorang buang air di situ akan mengganggu orang lain
terlebih itu kaum muslimin, atau mengganggu makhluk Allah lainnya, maka buang air di situ
tidak boleh. Maka dilarang buang air di jalan, tempat berteduh, di bawah pokok buah-buahan
baik ketika berbuah atau tidak, tempat berkumpulnya air, di air yang diam dan tidak mengalir,
tempat/kolam mandi, di lobang atau celah rekahan tanah dan di bejana, kecuali kalau ada uzur
seperti sakit dan selainnya. █
46be65153c6e82

BAB | LARANGAN ISTINJA’ DENGAN KURANG DARI TIGA BATU

■ Hadits

Dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata : Salman pernah ditanya: Pernahkah Nabi SAW.
mengajarkan segala sesuatu sampai soal buang air besar? Maka Salman menjawab: Ya, ia
melarang kita menghadap Kiblat ketika buang air besar dan kecil, atau istinja’ dengan tangan
kanan, atau salah seorang di antara kami istinja' dengan kurang dari tiga batu, dengan kotoran
atau tulang. (HR Muslim, AN Dawud dan Tirmidzi)

■ Hadits

Dan dari Jabir, bahwa Nabi SAW. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu istinja’
dengan batu, maka lakukanlah tiga kali. “(HR Ahmad)

■ Hadits
Dan dari Abi Hurairah, dari Nabi SAW., Ia bersabda: “ Barangsiapa Istinja’, maka lakukanlah
dengan ganjil, karena barang siapa telah berbuat, maka ia telah berbuat kebaikan, dan
barangsiapa tidak berbuat, maka tidak dosa”. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Penjelasan
Jumhur berpendapat, bahwa batu bukanlah suatu ketentuan, bahkan kain dan kayu dsb., bisa
sebagai gantinya, karena larangan Nabi SAW. itu ditentukan tulang dan kotoran. Dan di dalam
hadits ini diajurkan Istinja’ dengan batu dan hitungannya ganjil. Mushannif berkata: Ini dapat
diartikan, bahwa menentukan harus ganjil itu adalah sunat, dengan mengkopromikan antara
nash-nash tersebut.
BAB | MENYAMAKAN BENDA YANG DAPAT DIGOLONGKAN KEPADA BATU

■ Hadits

Dari Khuzaimah bin Tsabit, bahwa, Nabi SAW. pernah ditanya tentang bersuci, maka ia
menjawab: "Dengan tiga batu yang tidak mengandung kotoran". (HR Ahmad, Abu Dawud dan
Ibnu Majah) )
■ Hadits

Dan dari Salman, ia berkata: Ia (Nabi SAW. ) telah memerintahkan kepada kami agar kami
tidak menganggap cukup dengan kurang dari tiga batu yang tidak mengandung kotoran dan
bukan tulang. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Penjelasan
Mushannif berkata: Dan kalau ia (Nabi SAW. ) tidak memaksudkan batu dan sebangsanya
sebagai alat pencuci, maka ia tidak perlu mengecualikan tulang dan kotoran, dan tidak perlu
pula memberikan alasan larangan keduanya, karena menjadi makanan jin. ▀).

■ Hadits:

Padahal sah dari Nabi SAW. alasan tidak boleh menggunakan tulang dan kotoran itu. (yaitu dua
benda tersebut adalah makanan jin).

Penjelasan
Syarih rahimahullah berkata: Perkataan inilah yang dituju dalam bab ini, dan itu adalah baik
sekali. Perkataan "Tiap-tiap kotoran adalah makanan untuk temak-ternak kamu, maka janganlah
kamu (para sahabat) istinja’ dengan keduanya" itu, Mushannif berkata: Hadits ini adalah
merupakan peringatan tentang dilarangnya memberi makanan-makanan binatang-binatang
ternak dengan benda-benda najis.
Syarih berkata: Karena alasan dilarangnya Istinja’ dengan kotoran itu adalah karena benda
tersebut makanan ternaknya jin, maka hal itu memberi pengertian seperti apa yang dikatakan
mushannif tersebut.