Anda di halaman 1dari 8

CATATAN PERKULIAHAN

SISTEM PENGHANTARAN OBAT


MATERI VESICLE FOR DRUG DELIVERY
KELOMPOK 9 :
Rachmad Dwi Bangga

(I21112048)

Shinta Anggraini

(I21112060)

Nafilah Khairunnisa

(I21112062)

Anggun Miftahul Jannah

Vesikel adalah makromolekul berupa pembawa yang mempunyai gugus ampifilik


yang secara spontan dapat membentuk lapisan rangkap yang dapat menjerat zat
yang larut air dan bahan yang tidak larut, pada lapisan rangkap lipida.
Vesikuler ampilik terdiri dari dua :
1. Gugus polar besar tetapi lipofilik kecil
2. Gugus polar kecil tetapi lipofilik panjang
Pembuatan Vesikel terdiri dari beberapa generasi :
a. Generasi pertama (Liposom)
Liposom ini kompatibel untuk sel tubuh. Penyusunnya terdiri dari

fosfolipid dari alam seeperti contohnya dari kuning telur.


Liposom juga menyusun lapisan bilayer apabila diperbanyak maka

akan tertutup sendiri ketika ditambahkan dengan fase air.


Perbedaan liposom dengan micel adalah liposom mempunyai
rangkap bilayer. Pada liposom , zat aktif yang sifatnya hidrofilik
akan terenkapsulasi didalamnya sedangkan senyawa atau zat aktif

yang sifatnya lipofilik akan terjerat di lapisan bilayernya.


Apabila ada fosfolipid yang tidak bermuatan maka digunakanlah
liposom , tetapi apabila ada fosfolipid yang bermuatan maka akan
terjadi tolak menolak sehingga sulit membuat vesikel.

Liposom digunakan untuk penghantaran targetting pada organ atau

reseptor tertentu yang memiliki sifat spesifik. Contohnya : kanker


Liposom mempunyai celah sehingga membuat liposom bocor,
sehingga perlu diisi senyawa ampifilik rantai pendek agar tidak

bocor , contohnya : kolesterol


Liposom yang menggunakan fosfolipid mendekati struktur
membran sel mudah menembus tetapi juga mudah teroksidasi.
Liposom ini tidak boleh teroksidasi , tidak boleh terkena

pemanasan dan kontak langsung dengan O2


Liposom tidak stabil dan mudah pecah
Liposom menggunakan fosfolipid yang mempunyai kemurniaan
tinggi. Apabila menggunakan fosfolipid dengan kemurnian rendah
maka akan adanya pengotor yang dapat menyebabkan liposom
tidak stabil dan mudah pecah

B. Generasi Kedua (Niosom)

Pengganti fosfolipid dengan senyawa stabil, mirip dengan ampifilik


Niosom ini biasanya menggunakan surfaktan non ionik, karena jika
bermuatan makan tidak bisa berikatan serta tidak bisa menutup vesikel

karena adanya gaya tolak menolak


Niosom ini menjerat senyawa hidrofilik di inti sedangkan senyawa

lipofilik terjerat di rantai alkil/rangkap


Pada niosom digunakan surfaktan span karena mempunyai kepala kecil,
rantai alkil panjang seperti contohnya span 20, 40, 60. Sedangkan pada
tween mempunyai gugus kepala yang besar, rantai alkil yang pendek.
Semakin panjang rantai alkil maka ukurannya semakin besar. Sehingga di
pilih yang baik adalah yang mempunyai gugus kepala kecil dan rantai alkil
panjang. Semakin panjang rantai alkil niosom makan titik leburnya
semakin tinggi sehingga titik gelasinya juga semakin tinggi, niosom
membutuhkan suhu yang tinggi untuk menghidrasi. Titik gelasi merupakan
selisih 3-5C dan titik lebur. Suhu gelasi ini membantu menggerakkan
polimer yang digunakan. Pada surfaktan ionik , gelasinya ada di suhu
ruangan sedangkan pada surfaktan non ionik , dihidrasi dengan
pemanasan.

Niosom terdiri dari 2 jenis yaitu unilamelar dan multilamelar. Kedua jenis
ini bedanya di lapiisan. Pada multilamelar, ukurannya lebih kecil.
Multilamelar dan unilamelar dibutuhkan tergantung pada jenis obatnya
yang mau di loading. Apabila hidrofilik maka digunakan jenis unilamelar
namun apabila lipofilik maka digunakan multilamelar karena banyak

lapisan lipid dapat menyisipkan senyawa lipofilik


Niosom juga terdiri dari surfaktan ionik dan kolesterol. Pada kolesterol
dapat meningkatkan penetrasi senyawa yang terjerat. Kolesterol juga
mempunyai dinding yang rapat sehingga terjadi kebocoran yang kecil.
Akan tetapi jika kolesterol ini dalam jumlah yang banyak maka akan ada
kejelekan yaitu menjadi kaku, mudah pecah , tidak elastis sehingga kadar

kolesterol harus dioptimasi.


Cara memecah multilamelar menjadi unilamelar :
1. Ekstruksi
Karena sifatnya yang elastis maka diekstruksi pori 2,2 m atau 200
nm. Namun pada cara ini hasil yang didapatkan sedikit, rendemennya
kecil karena banyak yang tersumbat di pori-pori membran
2. Disonifikasi
Dengan cara diberi gelombang ultrasonik sehingga ukurannya menjadi
lebih kecil. Alat yang digunakan adalah sonikator, dimana alat ini
terdiri dari 2 jenis yaitu batch dan proof. Pada jenis batch digunakan
media air sehingga gelombang suara yang dialirkan dapat diredam
dengan air, hasil yang didapat dalam bentuk suspensi namun dalam
proses memecahnya tidak terlalu besar. Sedangkan pada jenis proof ,
batang kontak dengan sediaan lalu menghantarkan gelombang
ultrasonik, jenis ini mempunyai suara kuat , energi besar sehingga
kemampuannya tinggi.
3. High Pressuring Homogenizer
Pada cara ini menggunakan alat yang bernama HPH dimana
dibutuhkan tekanan agar dapat pecah, apabila ada tekanan yang tinggi
maka dapat diaduk dan keluar. Pada cara ini keseragaman ukuran
partikelnya bagus dan rendemen yang dihasilkan bagus.
4. Menggunakan sepadex
Sepadex biasanya digunakan pada kromatografi gel. Sepadex
digunakan

untuk menentukan

efisiensi

penjeratan

agar

lebih

kompatibel. Mekanismenya adalah yang keluar terlebih dahulu adalah


niosom sedangkan yang keluar belakangan adalah yang lebih besar
yang terjerat.
C. Generasi Ketiga (Turunannya)
1. Transfersome yang terdiri dari fosfolipid, surfaktan dan alkohol. Transfersome
ini dibuat elastis, apabila ada penambahan alkohol maka dapat meningkatkan
elastisitas vesikel. Apabila sifatnya elastis maka dapat menembus membran
dengan mudah sehingga tidak bocor dan dapat masuk ke pori perlahan-lahan
mengecil setelah itu membesar.
2. Ethosom terdiri dari fosfolipid dan alkohol. Alkohol ini dapat mengubah titik
lebur.
Adanya penambahan alkohol berfungsi untuk :
a. Senyawa hidrofil yang tidak perlu panas tinggi
b. Memodifikasi suhu gelasi agar mudah masuk
c. Mudah menghidrasi karena tidak butuh panas yang tinggi

D. Generasi Keempat
Karena produk liposom yang harganya sangat mahal maka digunakanlah surfaktan
yang lebih murah dari fosfolipid yaitu niosom elastik yang terdiri dari surfaktan
non ionik dan alkohol. Keuntungan dari sistem ini adalah dapat meningkatkan
penetrasi melalui pori dengan ukuran tertentu sehingga memiliki kemampuan
penetrasi yang tinggi.
E. Generasi Kelima (Elastosom)
Pada sistem ini alkohol diganti dengan surfaktan dengan rantai tunggal contoh
garam empedu : Natrium cholat
# Parameter keberhasilan untuk mengetahui vesikel :
1. Ukuran partikel
2. Persentase efisiensi penjeratan dalam menjerat zat aktif

3. Membran dialisis yang mempunyai pori


Tipe : Cut off ( men-cut berat molekul)
Senyawa yang kurang dari 12000 akan keluar dari membran dialisis
# Bagaimana cara mengetahui zat aktif masuk ?
Pada senyawa yang hidrofilik :
-

Larutkan di fase hidrasi


Dibuat cangkang kemudian masukkan air, maka akan terlihat di dalam
airnya akan ada zat aktif

Pada senyawa yang lipofilik :


-

Gunakan medium dapar yang praktis tidak larut air contohnya pada

senyawa yang memiliki ph 5


Campurkan ketika membuat cangkang
Larutkan dalam labu saat penambahan pelarut organik contohnya

kloroform
Uapkan kloroform dengan menggunakan evaporator atau vakum dengan
menggunakan pelarut seperti etanol atau metanol atau fosfat hidrokolin

sehingga dapat larut dalam air


Ketika menguap, surfaktan non ionik akan menempel di dinding labu,
maka senyawa lipofilik tersebut akan menjadi terlihat dalam bentuk
lembaran dimana hal ini menunjukkan bahwa senyawa lipofilik terjerat di

rantai alkil
Masukkan air agar terbungkus

DISKUSI
1. Lakukan kajian terhadap metode-metode untuk preparasi liposom dan
lakukan analisis terhadap kelebihan dan kekurangan sistem penghantaran
dengan liposom!
Pembahasan :
a. Preparasi

Preparasi liposom selain menggunakan metode pembuatan khusus vesikel


multi lamelar ( Multi Lamelar Vesicle, MLV), vesikel unilamelar (Single
Uni lamelar Vesicle, SUV) dan vesikel uni lamelar besar (Large
Unilamelar Vesicle, LUV), juga ada metode lainnya berdasarkan teknik
pembuatan antara lain injeksi pelarut, detergen pemisah dan metode
lainnya.
a) Vesikel Multi Lamelar Liposom MLV dapat dikatakan sebagai bentuk
awal liposom. Pertama kali diterangkan oleh Bangham pada tahun
1965. Preparasi MLV dapat dibuat dengan cara yang sederhana dengan
peralatan laboratorium yang biasa. Lipid akan terdeposit dari pelarut
organik dalam bentuk lapis tipis pada permukaan dinding labu dengan
menggunakan alat rotari evaporator vakum. Sejumlah larutan dapar
ditambahkan dan lipid akan terhidrasi pada temperatur diatas
temperatur transisi lipidnya. Untuk meningkatkan ukuran MLV yang
reprodusibel perlu dipertahankan waktu hidrasi dan agitasi. Faktor
yang paling penting dalam preparasi MLV adalah waktu , proses
hidrasi, ketebalan lipid lapis tipis , konsentrasi , komposisi lipid dan
volume dapar. Untuk memperkecil dan menyeragamkan ukuran
liposom dapat dilakukan dengan pengocokan suspensi liposom dengan
vortex, sonikasi atau ekstrusi melalui membran filter polikarbonat.
Teknik ekstrusi yang paling baik untuk menyeragamkan distribusi
ukuran liposom ( Knight C.G.,1981). Liposom MLV sangat cocok
untuk proses enkapsulasi dari berbagai substansi dan dapat dibuat dari
berbagai macam komposisi lipid. Teknik pembuatan liposom MLV ini
merupakan metode pilihan pada berbagai macam eksperimen pada
sistem

penghantaran

obat.

Keterbatasan

liposom

MLV yaitu

mempunyai kapasitas enkapsulasi relatif rendah dibandingkan dengan


LUV ( Knight C.G.,1981).
b) Vesikel Unilamelar Proses sonikasi dari dispersi fosfolipid akan
menghasilkan sediaan yang jernih (Sanders et al.), adalah mikrovesikel
yang mengandung lipid lapis ganda yang menutupi fasa berair dari
liposom. Struktur hidrodinamik dari SUV telah dipelajari oleh Huang
1969, adalah struktur liposom yang mempunyai ukuran dengan

diameter minimal 20 nm. Pengukuran sifat hidrodinamik ini seperti


ukuran, bentuk, luas permukaan dan berat SUV dapat menggunakan
NMR ( Nuclear Magnetic Resonance), Light scattering dan seterusnya
( Knight C.G.,1981). Preparasi SUV melalui Probe Sonicator
menggunakan logam yang dicelup pada suspensi liposom dan akan
menggetarkan

dispersi.

Namun

logam

kemungkinan

akan

mengkontaminasi dispersi liposom itu sendiri. Proses sonikasi juga


harus dilakukan diatas temperatur transisi lipid yang digunakan. Bila
dipanaskan di bawah temperatur tersebut akan menyebabkan agregasi
dan terjadi kerusakan pada lipid lapis gandanya. Liposom hasil
sonikasi yang berukuran 22 50 nm sangat tergantung dari komposisi
lipid, waktu sonikasi dan jumlah kolesterol pada campuran lipid.
Penambahan kolesterol dan lipid bermuatan akan meningkatkan
volume enkapsulasi. (Knight C.G.,1981)
c) Vesikel Unilamelar Besar Vesikel LUV dibentuk dari emulsi fosfolipid
dalam dapar dengan kehadiran fase pelarut organik, diikuti dengan
penguapan pelarut organik tersebut di bawah tekanan vakum. Proses
ini disebut metode Evaporasi fasa Balik. Liposom LUV yang
dihasilkan dengan cara ini disebut REV (Reverse Evaporation Vesicle).
Vesikel ini mempunyai volume fasa air yang lebih besar dibanding
SUV ( Knight C.G.,1981). Enkapsulasi maksimum dari fasa air
liposom dapat mencapai 65 %. Vesikel LUV dapat dipisahkan dari
material yang tidak terenkapsulasi dengan teknik flotasi berdasarkan
perbedaan gradien zat. Kisaran ukuran LUV sangat sensitif dengan
keberadaan kolesterol yang diinklusikan dalam lipid. Vesikel yang
terbentuk dari kolesterol/fosfolipid ( 1:1,rasio molar), volume
jeratannya 0,47 um dan berukuran 0,17 0,8 um. Preparasi REV/LUV
mempunyai kelebihan dibanding vesikel lain yaitu mempunyai daya
enkapsulasi yang tinggi dari fasa air liposom yaitu 20 60 %.
Distribusi ukuran LUV. untuk kebanyakan fosfolipid adalah uniform
( Knight C.C.,1981). Skema pembuatan Liposom adalah sebagai
berikut :

Liposom memberikan beberapa keuntungan sebagai pembawa obat, antara lain


:
1. Liposom dapat membawa obat pada target tertentu. Misalnya, longcirculating liposomes merupakan liposom dengan target selektif pada area
patologis tertentu dalam tubuh
2. Liposom dapat meningkatkan

efektivitas obat dengan melepaskannya

secara perlahan-lahan. Dengan demikian, memperpanjang waktu obat


sehingga dosis dan frekuensi pemberian obat dapat diturunkan, yang
secara tidak langsung menurunkan efek samping obat terhadap tubuh
pasien
3. Liposom dapat melindungi obat dari degradasi metabolik oleh enzim
metabolisme
4. Liposom melindungi pasien dari efek samping obat karena komponen
tubuh tidak langsung terpapar oleh dosis penuh obat yang digunakan
5. Liposom dapat melarutkan obat lipofilik yang sulit diberikan secara
intravena. Dengan melarutkannya dalam liposom, obat lipofilik tersebut
menjadi lebih mudah diberikan
6. Liposom mudah dibuat dan lebih murah dibandingkan dengan zat
pembawa obat lainnya
Kerugian Liposom :
Instabilitas yang diinduksi obat, kebocoran obat, dan waktu hidup yang terbatas.
Karier liposom juga lebih rumit untuk membentuk dan menjaga emulsinya, dan
rentan kerusakan bilayer.