Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK EVALUASI MUTU KOMODITAS PERTANIAN


TINTOMETER

Oleh:
Dimas Urip S
NIM A1H012020

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Buah-buahan merupakan salah satu kelompok komoditas pertanian yang
penting di Indonesia. Buah-buahan memiliki tingkat permintaan yang tinggi.
Permintaan domestik terhadap komoditas buah-buahan cukup tinggi, ditandai
dengan banyaknya buah-buahan impor yang banyak di pasar modern maupun
tradisional Indonesia.
Kematangan buah saat dipanen merupakan salah satu faktor penting dalam
menjaga kualitas buah. Menurut Ahmad (2002) kematangan adalah keadaan buah
yang siap untuk dikonsumsi, sedangkan ketuaan adalah suatu keadaan yang
berhubungan dengan umur buah yang cukup siap untuk memasuki stadium
matang.
Menurut Sunarjono (2004) warna buah menjadi indikator dalam
mengetahui tingkat kemasakan atau kematangan buah. Buah yang masih
berwarna hijau biasanya masih mengandung banyak khlorofil, kemudian perlahan
akan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa kandungan
khlorofil yang terdapat dalam buah tersebut sudah berkurang selama pemasakan.

B. Tujuan
1. Memgetahui penggunaan tintometer.

2. Mengetahui perubahan warna pada produk buah-buahan atau sayuran dengan


tintometer.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kualitas

merupakan

karakteristik

suatu

produk

yang

mempunyai

kemampuan dalam tanggungjawabnya memuaskan kebutuhan konsumen (Kotler


dan

Amstrong,

2012).

Apabila

kualitas

produk

meningkat,

keputusan

pembelianpun akan meningkat (Margaretha dan Edwin, 2012).


Penentuan mutu makanan ditentukan oleh cita rasa, warna, tekstur, nilai gizi
maupun sifat mikrobiologinya. Warna dapat digunakan sebagai indikator
kesegaran atau kematangan, selain itu warna dapat memberikan petunjuk
mengenai

perubahan

kimia

dalam

makanan

seperti

pencoklatan

dan

pengkaramelan. Warna makanan disebabkan oleh pigmen alam atau pewarna yang
ditambahkan. Pigmen alam adalah segolongan senyawa yang berasal dari hewan
atau tumbuhan. Pigmen alam mencakup pigmen yang sudah terdapat dalam
makanan dan pigmen yang terbentuk pada pemanasan, penyimpanan, atau
pengolahan (De Man, 1997). Menurut Winarno (2002), masing masing pigmen
warna mempunyai kestabilan yang berbeda terhadap kondisi pengolahan.
Umumnya zat warna alam terbentuk dari kombinasi tiga unsur, yaitu karbon,
hidrogen dan oksigen, tetapi ada beberapa zat warna yang mengandung unsur lain
seperti nitrogen pada indigotin dan magnesium pada klorofil. Jaringan tumbuhan
seperti bunga, batang, kulit, kayu, biji, buah, akar dan kayu mempunyai warna
warna karakteristik yang disebut pigmen dalam botani (Lemmens & Soetjipto,
1992).
Adapun jenis jenis senyawa zat warna alam yang terkandung dalam tumbuhan
adalah klorofil (hijau) pada daun, karoten (kuning oranye) pada umbi dan daun,
likopene (merah) pada bunga dan buah, flavon (kuning) pada bunga, akar dan kayu,

antosianin (kuning kemerahan, merah lembayung) pada buah dan bunga, betalain
(kuning merah) menyerupai antosianin atau flavonoid pada beet merah, xanton
(kuning) pada buah mangga (Tranggono, 1990).

Pemilihan buah yang berkualitas dalam perdagangan dan perindustrian juga


dengan berdasarkan kriteria kebutuhan tertentu yang diinginkan. Pemilihan buah
segar berkualitas berdasarkan beberapa parameter utama seperti tampilan, warna,
tekstur, flavor (rasa dan aroma), dan kandungan nutrisinya.
Proses pematangan buah berkorelasi dengan berbagai karakteristik fisik
seperti warna kulit, bentuk, ukuran, dan tekstur (Jha, dkk., 2005). Beberapa
parameter kimia selama pematangan yaitu Soluble Solid Contents (SSC),
keasaman titratable, pati, senyawa fenolik, karotenoid, dan kandungan bahan
kering (Jha dkk., 2006). Pemilihan buah secara eksternal oleh konsumen pertama
kali ditujukan pada tampilan atau warna yang menarik. Warna merupakan sifat
dasar produk pangan yang berkorelasi baik dengan sifat fisik, kimia, dan sensorik
sebagai indikator kualitas produk (Mendoza, dkk., 2006).
Warna ungu dan merah pada sayur, buah dan umbi-umbian berasal dari
pigmen antosianin, warna oranye pada buah, umbi, dan sayur berasal dari pigmen
karotenoid, warna hijau pada buah, dan sayur berasal dari pigmen klorofil,
sedangkan warna kuning atau putih pada umbi, buah dan sayur berasal dari
pigmen antoxanthin. Warna pada buah dapat berubah seiring berjalannya proses
pematangan. Hal ini terlihat pada perubahan warna dari hijau ke warna lain akibat
degradasi klorofil (Belitz dan Grosch, 1987).

Penentukan kualitas buah telah banyak dilakukan penelitian baik secara


eksternal maupun internal. Untuk tampilan citra maupun nilai warna digunakan
alat seperti Computer Vision System (CVS) (Tigabu dan Oden, 2002) dan
colormeter (Medlicott, dkk., 1992). CVS dapat menganalisis warna secara cepat
dengan teknik analisis citra. Sistem ini tidak hanya menawarkan metode 3 untuk
mengukur warna yang tidak rata tetapi dapat juga digunakan untuk mengukur
karakteristik dari tampilan total (Hutching, 1999). Penggunaan colormeter untuk
mengidentifikasi warna termasuk murah dan mudah dalam hal pengoperasiannya
(Medlicott, dkk., 1992), tetapi colormeter hanya cocok digunakan untuk bahan
yang permukaan dan warnanya seragam serta pengambilan titik pengukuran perlu
dilakukan di beberapa tempat untuk mendapatkan hasil yang representatif (Yam
dan Papadakis, 2004).
Pengukuran warna juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat
Lovibond Tintometer. Fungsi dari Lovibond Tintometer ini adalah untuk
membantu penglihatan secara subjektif, namun tidak dapat menentukan secara
pasti warna suatu bahan. Warna bahan dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di
dalamnya. Macam dan jumlah pigmen dalam jaringan tergantung pada spesies,
varietas, derajat kematangan, tempat tumbuh dari tanaman tersebut. Tujuan
pengukuran warna bahan pangan adalah untuk mengetahui pigmen yang
terkandung dalam suatu bahan pangan sehingga dalam proses pengolahan tidak
terjadi perubahan-perubahan warna oleh pigmen dalam bahan pangan tersebut
yang dapat menurunkan kualitas atau kenampakan fisik bahan pangan.

III.

METODOLOGI
A. Alat dan Bahan

1. Tintometer
2. Colo reader
3. Komoditas pertanian( tomat, wortel, mentimun, terong, kentang, ubi)

1.
2.
3.
4.
5.

B. Prosedur Kerja
Menyiapkan alat dan bahan.
Memotong bahan yang akan digunakan sebagai sampel.
Menghubungkan tintometer ke arus listrik.
Meletakkan bahan yang akan diukur ke dalam tabung tintometer.
Menekan tombol on sehingga lampu indicator pada tintometer akan menyala
dan skala warna pada tintometer diatur sesuai dengan warna buah yang

terlihat pada lensa.


6. Mencatat hasil skala warna.
7. Setelah menggunakan tintometer, pengukuran warna komoditas juga
dilakukan menggunakan color reader.
8. Menekan tombol power paca colo reader, kemudian meletakkan bahan pada
bagian lensa/ kamera perekam.
9. Tekan tombol hingga lampu menyala, dan nilai akan ditampilkan pada
display.
IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Tabel 1. Data hasil pengukuran warna buah menggunakan tintometer


No
Bahan
Merah
Kuning
Biru
1
Tomat
50
30
2
Wortel
30
10
3
Mentimun
30
4
Terong
20
10
30
5
Kentang
0.1
20
6
Ubi
10
Tabel 2. Data hasil pengukuran warna buah menggunakan color reader
Bahan
Warna
L
A (+)
A (-)
B (+)
Tomat
Jingga
41.9
6.4
23.3
Wortel
Orange
48.6
16.0
24.8
Mentimu
Hijau
53.5
11.2
25.1
n
Terong
Ungu gelap
39
7.2
Kentang
Coklat muda
48.9
4.9
25.2
Ubi
Ungu muda
45.4
16.9
8

Putih
20
-

B (-)
3.0
-

B. Pembahasan

Menurut Sunarjono (2004) warna buah menjadi indikator dalam


mengetahui tingkat kemasakan atau kematangan buah. Buah yang masih
berwarna hijau biasanya masih mengandung banyak khlorofil, kemudian perlahan
akan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa kandungan
khlorofil yang terdapat dalam buah tersebut sudah berkurang selama pemasakan.

1. Karotenoid
Merupakan kelompok pigmen yang menyebabkan bahan
pangan berwarna jingga seperti pada wortel terdiri antara
lain atas alfakaroten dan betakaroten. Senyawa ini begitu
masuk ke dalam tubuh diubah menjadi vitamin A yang
banyak manfaatnya bagi tubuh. Mulai untuk kesehatan mata,
kulit dan kuku, pembuluh darah, sampai meningkatkan daya
tahan tubuh.
2. Likopen

Merupakan pigmen yang membuat buah dan sayur


berwarna merah, seperti pada tomat. Senyawa ini terbukti
memiliki sifat antioksidan dan antikanker, khususnya kanker
pankreas dan prostat. Penelitian menunjukkan mereka yang
kadar likopen dalam darahnya rendah berisiko terkena kanker
pankreas hingga lima kali lipat.
3. Klorofil
Pemberi warna hijau pada buah dan sayur, tak terkecuali
pada rumput laut dan khlorela memiliki hampir semua zat gizi
yang dibutuhkan tubuh. Fitokomia ini memiliki multikhasiat
penting seperti antioksidan, antiperadangan, antibakteri,
antiparasit, antikanker, serta mampu meningkatkan daya
tahan tubuh.
4. Kurkumin
Pemberi warna kuning pada kunyit diketahui memiliki
sifat antiradang. Kehadirannya membuat kuman takut dan
langsung kabur sehingga infeksi bisa dicegah ataupun
diatasi. Kurkumin juga memiliki sifat antioksidan yang cukup
tangguh

yang

dapat

melindungi

kerusakan

sel

otak.

Akibatnya memori tetap baik, melindungi saluran cerna agar

tetap bekerja sempurna, dan menjaga paru dari kerusakan


oksidatif.
5. Antosianin
Pemberi warna merah keunguan seperti yang terdapat
pada anggur, terong, dan bit ini sejak lama digunakan untuk
mengobati penyakit. Mereka

yang mengalami kesulitan

melihat pada malam hari, kerap diberi bahan pangan yang


mengandung zat ini. Dalam dunia kedokteran, antosianin kini
terbukti mengandung flavonoid yang bersifat antikanker,
mampu mengelola kadar gula darah, dan mencegah penyakit
jantung koroner. Antosianin juga memiliki manfaat seperti
aspirin yang mampu mencegah peradangan, menaikkan daya
tahan pembuluh kapiler, serta menurunkan tekanan darah,
dan mampu membantu penyerapan vitamin C.
Perubahan warna merupakan salah satu perubahan yang sangat menonjol
pada proses pematangan buah dan sayur. Perubahan warna pada buah-buahan dan
sayuran tersebut merupakan proses dintesis suatu pigmen tertentu seperti klorofil
(hijau) pada daun, karoten (kuning oranye) pada umbi dan daun, likopene (merah)
pada bunga dan buah, flavon (kuning) pada bunga, akar dan kayu; antosianin
(kuning kemerahan, merah lembayung) pada buah dan bunga, betalain (kuning
merah) menyerupai antosianin atau flavonoid pada beet merah; xanton (kuning)
pada buah mangga (Tranggono, 1990).

Warna bahan dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di dalamnya. Macam


dan jumlah pigmen dalam jaringan tergantung pada spesies, varietas, derajat
kematangan, tempat tumbuh dari tanaman tersebut. Warna dapat digunakan
sebagai indikator kesegaran atau kematangan komoditas pertanian, selain itu
warna dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan kimia dalam komoditas
tersebut.
Perubahan warna dapat terjadi baik oleh proses-proses perombakan maupun
proses sintetik, atau keduanya. Pengaruh perubahan warna pada komoditas
pertanian ini menyebabkan adanya zat-zat yang dirobak pada saat proses
pematangan komoditas. Seperti contoh pada jeruk manis perubahan warna ni
disebabkan oleh karena perombakan khlorofil dan pembentukan zat warna
karotenoid. Sedangkan pada pisang warna kuning terjadi karena hilangnya
khlorofil tanpa adanya atau sedikit pembentukan zat karotenoid. Sisntesis likopen
dan perombakan khlorofil merupakan ciri perubahan warna pada buah tomat.
Warna buah tanda kematangan pertama pada buah adalah hilangnya warna
hijau. Perubahan warna merupakan perubahan yang paling menonjol pada waktu
pemasakan buah. Di samping terjadi perombakan klorofil, dalam proses ini terjadi
sintesa dari pigmen tertentu, seperti pigmen karotenoid yang sudah ada tetapi
belum muncul menjadi terlihat pada saat pemasakan buah dan buah menjadi
berwarna kuning. Terjadinya perubahan warna pada buah-buahan

karena

hilangnya klorofil dan menyebabkan tampaknya warna pigmen lain yang


terkandung dalam buah.

Proses pematangan buah berkorelasi dengan berbagai karakteristik fisik


seperti warna kulit, bentuk, ukuran, dan tekstur (Jha, dkk., 2005). Warna
merupakan hal yang sangat penting bagi penampakan karena merupakan indikator
kematangan suatu produk pertanian. Pemilihan buah secara eksternal oleh
konsumen pertama kali ditujukan pada tampilan atau warna yang menarik. Warna
merupakan sifat dasar produk pangan yang berkorelasi baik dengan sifat fisik,
kimia, dan sensorik sebagai indikator kualitas produk (Mendoza, dkk., 2006).
Praktikum ini menggunakan dua alat untuk menentukan warna pada
komoditas yaitu tintometer dan color reader. Tintometer adalah suatu alat ukur
yang digunakan untuk menentukan perbedaan warna yang tidak bias dibedakan
menggunakan mata telanjang. Tipe yang bagus dapat memperjelas gradasi dari
warna dan mengkalkukulasi warna utama yang terdiri dari warna merah, biru,
kuning, dan putih.
Prinsip operasi Lovibond Tintometer adalah colorimeter visual yang
dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan filter kaca. Lovibond Tintometer
diatur dengan dua bidang yang berdekatan pandang, terlihat melalui tabung
melihat, sehingga produk dalam sampel lapangan dan permukaan reflektif putih di
bidang perbandingan diamati berdampingan, sesuai diterangi. warna-warna obyek
ditampilkan ke bidang perbandingan dengan sistem sederhana dari rak geser,
memungkinkan pengguna untuk membandingkan warna cahaya yang baik
teruskan melalui atau dipantulkan dari sampel dengan yang terlihat melalui lensa.
Rak geser yang disediakan dapat digunakan ke dalam bidang sampel untuk warna
produk yang terlalu terang agar mendapatkan warna yang baik dan sesuai dengan

menggunakan Lovibond merah, kuning atau biru. Rak ini bervariasi hingga
pertandingan warna visual ditemukan cahaya dari sampel dan warna kemudian
dapat dinyatakan dalam satuan Lovibond.
Komponen lovibond tintometer seluruhnya terdiri dari sumber cahaya,
sistem optik, ruang sampel, sistem pengukuran dan sistem pembacaan. Bentuk
lovibond sangat sederhana dengan ukuran hanya 650 x 200 mm dan tinggi 120
mm. Sumber cahaya berasal dari lampu halogen tungsten yang fokus terhadap
lubang lensa kecil, disejajarkan oleh sistem lensa dan cahaya akan melewati ruang
sampel yang lebar, yang dapat memuat kuvet yang ukuranya hingga 6 inci (153
mm). Lovibond memiliki kisaran panjang gelombang antara 410-710 nm yang
dipisahkan oleh 16 rangkaian pita tipis seperti halnya saringan, dengan demikian
panjang gelombang dapat diseleksi oleh rangkaian dengan cepat. Semuanya
mempunyai peak transmisi, rata-rata terpisah 20 nm, tetapi sistem pengukuran
sudah diprogram untuk menyisipkan gambaran transmisi untuk wavebands pada
interval 5 nm, totalnya menghasilkan 61 pembacaan.

Gambar 1. Lovibond tintometer.

Bagian-bagian lovibond tintometer beserta fungsinya adalah sebagai berikut:


1. Tabung tintometer
Tabung tintometer berfungsi untuk meletakkan obyek yang akan diukur
warnanya.
2. Sumber cahaya
Sumber cahaya berasal dari lampu halogen tungsten yang fokus
terhadap lubang lensa kecil, disejajarkan oleh sistem lensa dan cahaya akan
melewati ruang sampel yang lebar. Sumber cahaya ini berfungsi untuk
menyinari obyek saat akan ditentukan nilai warnanya.
3. Sumber arus
Sumber arus digunakan untuk menyalakan lampu pada lovibond
tintometer.
4. Tombol on/off
Tombol on/off berfungsi untuk menyalakan dan mematikan tintometer.
5. Teropong dan lensa
Teropong dan berfungsi untuk melihat warna pada obyek yang akan
diukur warnanya. Lubang kuvet yang ukuranya hingga 6 inci (153 mm).
6. Rak warna geser (skala warna)
Rak geser berfungsi untuk menentukan warna obyek agar memiliki
warna yang sama dengan bidang perpandingan warna. Bagian rak ini terdapat
empat warna yaitu merah, biru, kuning, dan putih, dimana masing-masing
warna memiliki range nilai tertentu.
Prinsip kerja color reader adalah sistem pemaparan warna dengan
menggunakan sistem CIE dengan tiga reseptor warna yaitu L, a, b Hunter.
Lambang L menunjukkan tingkat kecerahan berdasarkan warna putih, lambang a

menunjukkan kemerahan atau kehijauan, dan lambang b menunjukkan


kekuningan atau kebiruan.

Gambar 2. Color reader.


Komponen color reader terdiri dari :
1. Reseptor
Reseptor berfungsi sebagai tempat menempelnya sampel yang akan
diuji warnanya yang akan membaca warna sampel tersebut.
2. Penutup reseptor
Penutup reseptor berfungsi untuk menutup reseptor setelah digunakan.
3. Tombol on/off
Tombol on/off berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan color
reader.
4. Tombol target
Tombol ini ditekan saat sampel ditempelkan pada reseptor.
5. Layar hasil/display
Layar hasil atau display berfungsi sebagai tempat hasil pembacaan
warna oleh reseptor.
6. Tombol sistem L, a, b dan Lch
Tombol sistem L, a, b dan Lch merupakan metode yang dipakai untuk
pembacaan warna yang diingankan.
Cara kerja alat ini adalah ditempelkan pada sampel, yang akan diuji
intensitas warnanya, kemudian tombol pengujian ditekan sampai berbunyi atau

lampu menyala dan akan memunculkannya dalam bentuk angka dan kemudian
diukur pada grafik untuk mengetahui spesifikasi warna.
Praktikum ini menggunakan alat tintometer dan color reader dalam
menentukan warna komoditas pertanian. Komoditas pertanian yang digunakan
adalah tomat, wortel, mentimun, terong, kentang dan ubi. Hasil pengukuran
menggunakan tintometer dan color reader dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Data hasil pengukuran warna buah menggunakan tintometer
No
Bahan
Merah
Kuning
Biru
1
Tomat
50
30
2
Wortel
30
10
3
Mentimun
30
4
Terong
20
10
30
5
Kentang
0.1
20
6
Ubi
10
-

Putih
20
-

Tabel 3 merupakan data hasil pengukuran warna buah menggunakan


tintometer. Pada buah tomat warna yang dapat dideteksi oleh tintometer adalah
warna merah sebesar 50 dan warna kuning sebesar 30. Wortel memiliki nilai 30
pada warna merah dan 10 pada warna kuning. Mentimun memiliki nilai 30 pada
warna kuning dan 20 pada warna putih. Terong memiliki nilai 20 pada warna
merah, 10 pada warna kuning, dan 30 pada warna biru. Kentang memiliki nilai 0.1
pada warna merah dan 20 pada warna kuning. Sedangkan ubi hanya memiliki satu
nilai yaitu 10 pada warna kuning.
Pigmen yang terkandung pada tomat adalah karotenoid, sehingga warna
yang diberikan adalah warna kuning kemerahan cerah. Karotenoid dominan yang
terkandung dalam tomat adalah lycopene, sebanyak 78.7 mg karotenoid/100 gram
bahan segar. Peningkatan lycopene terjadi selama proses pematangan tomat

(Belitz dan Grosch, 1982). Warna kuning kemerahan cerah pada tomat
menunjukkan bahwa tomat tersebut masih belum matang sempurna atau half ripe
(Noviyanto, 2009).
Wortel merupakan jenis tumbuhan sayuran umbi. Wortel ini biasanya
berwarna jingga atau putih dengan texstur serupa kayu. Bagian yang dapat
dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Wortel adalah tumbuhan
biennial (siklus hidup 12 24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah
besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Batang bunga tumbuh
setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih. Semakin jingga, merah, atau
ungu warnanya, semakin tinggi kandungan vitamin A-nya. Adanya warna
disebabkan oleh pigmen karoten. Dalam bentuk beta-karoten, wortel bisa pula
berperan sebagai antioksidan, yaitu memberi perlindungan pada tubuh terhadap
pengaruh negatif yang merusak

dari radikal bebas. pemanasan mampu

meningkatkan aktivitas antioksidan wortel rata-rata 34% lebih tinggi daripada


dalam keadaan mentah.
Warna dominan terong pada bagian dagingnya adalah kuning keunguan
pucat. Warna ungu pada terong berasal dari pigmen antosianin. Menurut Belitz
dan Grosch (1982), antosianin yang terkandung dalam terong adalah Delphinidin3-(p-coumaroyl-L-rhamnosyl-D-glucosyl)-5-D-glucoside.

Sedangkan,

warna

putih yang dominan pada daing buah terong berasal dari antoxanthine. Antosianin
dan antoxanthine tergolong pigmen yang disebut flavonoid.
Tabel 4. Data hasil pengukuran warna buah menggunakan color reader
Bahan
Warna
L
A (+)
A (-)
B (+)
Tomat
Jingga
41.9
6.4
23.3
Wortel
Orange
48.6
16.0
24.8

B (-)
-

Mentimu
Hijau
53.5
n
Terong
Ungu gelap
39
Kentang
Coklat muda
48.9
Ubi
Ungu muda
45.4
Keterangan: L= kecerahan: hitam-putih
B+ (kuning) B- (biru).

11.2

7.2
4.9
16.9
(0-100), a*

25.1

3.0
25.2
8
: A+ (merah) A- (hijau), b* :

Pengukuran warna buah menggunakan color reader dapat ditunjukkan pada


Tabel 4. Skala warna pada color reader terdiri dari L yang merupakan tingkat
kecerahan dengan nilai 0 adalah warna hitam dan 100 adalah warna putih. a*
terdiri dari A+ yang merupakan warna merah dan A- warna hijau. Sedangkan b*
terdiri dari B+ yang merupakan warna kuning dan B- merupakan warna biru.
Buah tomat memiliki warna jingga, dimana pada pengukuran dengan color
reader didapatkan nilai kecerahan (L) 41.9, nilai A+ sebesar 6.4, nilai B+ sebesar
23.3. Buah wortel berwarna orange nilai kecerahan (L) sebesar 48.6, nilai A+
sebesar 16, nilai B+ sebesar 24.8. Buah mentimun berwarna hijau nilai
kecerahannya (L) sebesar 53.5, nilai A- sebesar 11.2, nilai B+ sebesar 25.1. Buah
terong memiliki warna ungu gelap memiliki nilai kecerahan (L) sebesar 39, nilai
A+ sebesar 7.2, nilai B- sebesar 3. Kentang memiliki warna coklat muda dengan
nilai kecerahan (L) 48.9, nilai A+

sebesar 4.9, nilai B+ sebesar 25.2. Ubi

memiliki warna ungu muda dengan nilai kecerahan 45.4, nilai A+ sebesar 16.9,
nilai B+ sebesar 8.
Macam-macam tintometer terdapat beberapa jenis yang
biasanya digunakan dalam skala laboratoriun. Penggunaan dari
tintometer juga tidak hanya untuk produk pertanian saja bisa
juga produk-produk seperti Minyak & Lemak, Makanan, cairan,

Koloid, benda padat, Serbuk, dan lain-lain. Berikut ini adalah


macam-macam dari tintometer :
1. Tintometer Model F
Tintometer model F adalah colorimeter visual serbaguna
dan yang mudah digunakan untuk mengukur warna cairan,
padatan, serbuk dan pasta dalam unit Lovibond merah,
kuning, biru dan netral. Tintometer Model F terdiri dari lemari
yang berisi dua lampu. Pengaturan ini memastikan kondisi
identik untuk bidang sampel dan referensi. Sistem optik
dapat menentukan warna sampel dengan mengatur warna
standar dalam pengukuran hingga warna sesuai dengan yang
diinginkan.

Gambar 3.

Tintometer Model
F.

2. Tintometer WSL-2
Tintometer ( Lovibond Tintometer ) WSL-2 merupakan
jenis alat ukur warna visualuntuk skala chroma cairan ,
koloid

padat

dan

bubuk.

Dengan

struktur

yang

disederhanakan dan pengoperasian yang mudah , tintometer


ini sering diterapkan untuk mengukur warna zat yang

berbeda ( seperti lemak , cat , plastik , selai, tekstil , bahan


makanan , dll ).

Gambar 4. Tintometer WSL-2.


3. Lovibond Tintometer PFXi-880/P
Tintometer PFXi-880/P adalah spectrophotometer dengan tingkat
presisi tinggi, biasanya digunakan dalam analisis warna dari bahan bakar
minyak, minyak, lilin dan petrokimia berdasarkan warna skala Saybolt dan
ASTM. Hasil dapat juga ditampilkan dalam nilai-nilai CIE dan spektral data.

Gambar 5. Lovibond Tintometer PFXi-880/P.

4. Tintometer Colorimetric Water Test Kit.


Colorimetric water test kti merupakan colorimtric yang berguna untuk
pekerjaan analisis mobile dan stasioner. Diberikan dengan sejumlah banyak
warna yang berbed, serta menyediakan dasar untuk system analisis
colorimetric komprehensif yang mudah digunakan. Alat ini didalamnya
terdapat sebuah bagian yang seperti CD (Disc), Disk berisi skala warna
berkelanjutan yang memungkinkan untuk mencapai warna yang persis tepat
antara standar warna dan warna sampel.

Gambar 6. Colorimetric water test kit.


Sama halnya dengan Tintometer, color reader pun memiliki
jenis-jenis yang berbeda meskipun dalam funsginya sama yaitu
mengukur kandungan warna dari sebuah objek.

1. Colorimeter Precise Reader TCR200


CR200 adalah alat uji sensitif terhadap cahaya terutama diterapkan
untuk pengendalian mutu di bidang plastik, lukisan, desain, plating, kostum,
percetakan dan pewarna. Ini bekerja baik untuk perbandingan rutin warna
yang sama dan beberapa fungsi-fungsi lanjutan untuk analisis warna dapat
dicapai

Gambar 7. Colorimeter Precise Reader TCR200.

2. Conica Minolta CR-10 Tristimulus Colorimeter


Conica Minolta CR-10 Tristimulus Colorimeter adalah
bertenaga baterai, portabel, dan genggam warna reader
untuk mengontrol warna cepat, akurat. CR-10 Tristimulus
pembacaan warna mudah digunakan, portabel dan ekonomis
seperti

belum

pernah

terjadi

sebelumnya.

Cara

menggunakannya pertama, mengukur target sampel. Setelah


satu kedua warna perbedaan-dinyatakan dalam L A* b * dan
dE * atau L * C * H * dan dE * akan muncul di layar LCD. CR-

10

Tristimulus

Colorimeter

digunakan

untuk

memeriksa

perbedaan warna antara dua sampel.

Gambar 8. Conica Minolta CR-10 Tristimulus Colorimeter.


Kendala-kendala pada praktikum ini antara lain jumlah alat yang terbatas
sehingga praktikum kurang efisien waktu karena penggunaan alat harus brgiliran.
Selain itu pada saat penentuan warna dengan tintometer, terlalu sulit dalam
melihat kesamaan warna pada dua bidang karena lubang pada teropong terlalu
kecil, pendapat warna yang muncul antar praktikan berbeda-beda.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Lovibond Tintometer adalah colorimeter visual yang dirancang untuk
mengoptimalkan penggunaan filter kaca. Lovibond Tintometer diatur dengan
dua bidang yang berdekatan pandang, terlihat melalui tabung melihat,
sehingga produk dalam sampel lapangan dan permukaan reflektif putih di
bidang perbandingan diamati berdampingan, sesuai diterangi. warna-warna
obyek ditampilkan ke bidang perbandingan dengan sistem sederhana dari rak
geser, memungkinkan pengguna untuk membandingkan warna cahaya yang
baik teruskan melalui atau dipantulkan dari sampel dengan yang terlihat
melalui lensa.
2. Data hasil pengukuran warna buah menggunakan tintometer pada buah tomat
warna yang dapat dideteksi oleh tintometer adalah warna merah sebesar 50
dan warna kuning sebesar 30. Wortel memiliki nilai 30 pada warna merah dan
10 pada warna kuning. Mentimun memiliki nilai 30 pada warna kuning dan
20 pada warna putih. Terong memiliki nilai 20 pada warna merah, 10 pada
warna kuning, dan 30 pada warna biru. Kentang memiliki nilai 0.1 pada
warna merah dan 20 pada warna kuning. Sedangkan ubi hanya memiliki satu
nilai yaitu 10 pada warna kuning.

B. Saran
Praktikum acara ini sebaiknya perlu adanya penambahan alat seperti
tintometer dan color reader agar setiap kelompok tidak terlalu lama menunggu
bergantian dan praktikum berjalan efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, U. 2002. Pengolahan Citra Untuk Pemeriksaan Mutu Buah Mangga.


Buletin Keteknikan Pertanian.
Belitz, H.D. and W. Grosch, 1987. Food Chemistry. Springer-Verlag Berlin.
Heidelberg, Germany.
De Man, M.J. 1997. Kimia Makanan. Penerjemah K. Padmawinata.
ITB-Press. Bandung.
Jha, S. N., Chopra, S., Kingsly, A. R. P. 2005. Modelling of color values for
nondestructive evaluation of maturity of mango. Journal of Food
Engineering 78, 22-26.
Jha, S. N., Kingsly, A. R. P., & Chopra, S. 2006. Physical and mechanical
properties of mango during growth and storage for determination of
maturity. Journal of Food Engineering 72, 7376.
Kotler Philip, dan Gary Amstrong. 2012. Principles Of Marketing. Global edition.
14 Edition. Person Education.
Lemmens, R.H.M.J, N. Wulijarni-Soetjipto (editors). 1992. Prosea, Plant
Resources of South-East Asia 3. Dye and Tannin-Producing Plants. Bogor.
Margareta, F. S., & Edwin, J. 2012. Analisa Pengaruh Food Quality and Brand
Image terhadap Keputusan Pembelian Roti Kecik Toko Roti Ganeps di kota
Solo. Jurnal Manajemen Pemasarann. Vol. 1, No. 1.
Medlicott, A. P., Semple, J., Thompson, A. J., Black bourne, H. R., & Thompson,
A. K. (1992). Measurement of color changes in ripening bananas and
mangoes by instrumental, chemical and visual assessments. Tropical
Agriculture (Trinidad and Tobago). 69. 161166.
Mendoza, F., Dejmek, P. dan Aguilera, J. M. (2006). Calibrated color
measurements of agricultural foods using image analysis. Postharvest
Biology and Technology 41: 285-295.
Noviyanto, A. 2009. Klasifikasi Tingkat Kematangan Varietas Tomat Merah
dengan Metode Perbandingan Kadar Warna. Yogyakarta: Skripsi. Fakultas
Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada.
Sunarjono, H. Hendro. 2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Depok.

Tigabu, M., & Oden, P. C. (2002). Multivariate classification of sound and


insectinfested seeds of a tropical multipurpose tree, Cordia Africana, with
near infrared reflectance spectroscopy. Journal of Near Infrared
Spectroscopy. 10. 4551.
Tranggono. 1990. Bahan Tambahan Pangan. PAU Pangan dan Gizi. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Yam, K. L. & Papadakis, S. E. (2004). A simple digital imaging method for
measuring and analyzing color of food surface. Journal of Food
Engineering 61, 137-142.