Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Deh5 wasa ini perkembangan pencarian minyak bumi dan gas
lepas pantai atau yang terkenal dengan sebutan pengeboran lepas
pantai semakin marak, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang berkembang semakin pesat. Dengan semakin
maraknya pengeboran minyak lepas pantai, pembangunan kapalkapal jenis supply, utiliiy dan anchor handling yang notabene
merupakan sarana transportasi laut yang paling vital dilokasi
pengeboran minyak lepas pantai, juga semakin marak.
Untuk memenuhi kebutuhan transportasi tersebut, perusahaan
pelayaran tidak cukup dengan menyediakan kapal-kapal dalam jumlah
yang banyak saja, tetapi kapal-kapal harus merupakan armada yang
tangguh yang dilengkapi dengan tenaga-tenaga pelaut yang potensial,
terampil

dan

bertanggung

jawab,

dalam

upaya

pencegahan

kecelakaan pada saat mengoperasikan kapal.


Seperti diketahui bahwa untuk melayani pengangkutan material
yang diperlukan oleh pengeboran minyak lepas pantai, jenis kapal
supply. Crew Boat dan anchor handling harus diawaki dan dinakhodai
oleh orang-orang yang kompeten dan mempunyai keahlian tersendiri.
Dengan demikian setidaknya awak kapal telah mengadakan upaya
untuk mencegah kecelakaan, pada saat melaksanakan bongkar-muat
barang dari atau ke platform di lokasi pengeboran minyak lepas
pantai, ataupun pekerjaan-pekerjaan lainnya. Awak kapal dituntut
memiliki pengalaman, pengetahuan dan disiplin yang tinggi sehingga
terjadinya kecelakaan kerja dapat dicegah dengan baik sehingga
pelaksanaan proses pekerjaan berjalan lancar dan aman.

Adanya kepedulian yang dimiliki awak kapal dalam menjalankan


proses bongkar muat cargo dari atau ke Platforms ataupun Rig, atau
pekerjaan lainnya di lokasi pengeboran minyak lepas pantai sangat
dibutuhkan. Kepedulian seorang awak kapal yang memadai sangat
dibutuhkan dalam memenuhi tuntutan pekerjaan yang padat dan
penuh resiko kecelakaan.Karena para awak kapal bekerja di taut
lepas yang kadang dalam kondisi cuaca buruk.
Selanjutnya

dalam upaya

pencegahan kecelakaan

dalam

melaksanakan bongkar muat cargo dari atau ke Rig di lokasi


pengeboran minyak lepas pantai di atas kapal MV Bestlink 8
dibutuhkan ketelitian, rasa tanggung jawab dan

kepedulian awak

kapal dalam menggunakan alat-alat keselamatan kerja,agar tidak


terjadi kecelakaan ataupun korban jiwa yang senantiasa mengancam.
Dengan terjadinya kecelakaan tentunya hal ini juga akan mengganggu
kelancaran pengoperasian kapal dan sudah tentu akan berdampak
terhadap biaya operasi kapal.
Jika kepedulian awak kapal dalam melakukan proses pekerjaan
kurang, akan menyebabkan banyaknya kecelakaan kerja seperti yang
telah terjadi di atas kapal MV Bestlink 8 pada saat para awak kapal
bagian dek melakukan bongkar muat dari kapal ke Platforms atau
ke Rig, dimana ketinggian antara kapal dengan Platform ataupun Rig
sangat berbeda sampai 2 (dua) kali tinggi kapai

Pada saat ABK

memegang tali sling barang yang mau diangkat ke platform karena


saat itu keadaan laut sedang berombak, sehingga posisi kapal tidak
bisa diam akan tetapi naik turun mengikuti pergerakan ombak,
sehingga ketika kapal naik: kemudian turun kembali maka tali sling
yang sedang dipegang salah satu ABK otomatis menjadi tegang dan
menjepit salah satu jari tangannya, karena ABK saat itu tidak
menggunakan sarung tangan sehingga jari tangannya terluka.
Kecelakaan yang terjadi di atas kapal tersebut sebagian besar
disebabkan oleh rendahnya kepedulian dan disiplin ABK di dalam

mengikuti prosedur kerja. Karena itulah penulis tertarik untuk


menyusun

makalah

ini

dengan

judul:

"MENINGKATKAN

KEPEDULIAN ANAK BUAH KAPAL TERHADAP PENGGUNAAN


ALAT-ALAT KESELAMATAN KERJA Dl MV BESTLINK 8.
B. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui

dan

menganalisis

penyebab

dari

rendahnya kepedulian Anak Buah Kapal dalam pengoperasian


alat-alat keselamatan kerja kapal, khususnya kapal MV
Bestlink 8
b. Untuk mencari pemecahan terhadap masalah rendahnya
kepedulian Anak Buah Kapal dalam pengoperasian alat-alat
keselamatan kerja di kapal MV Bestlink 8.
2. Manfaat Penulisan
a. Manfaat Bagi Dunia Akademik
Diharapkan dapat memberikan sumbangan langsung secara
teori ataupun melalui penuturan dari pengalaman yang di
alami

penulis

kepada

pembaca

dalam

meningkatkan

pengetahuan dan kepedulian Anak Buah Kapal dalam


menggunakan alat-alat keselamatan kerja di atas kapal.
b. Manfaat Bagi Dunia Praktis
Sebagai bahan masukan bagi bagian operasional perusahaan
dalam

mengatasi

permasalahan

yang

terkait

dengan

kepedulian Anak Buah Kapal di dalam menggunakan alat-alat


keselamatan kerja di atas kapa.
C. Ruang Lingkup
Banyak sekali permasalahan yang ditemui di atas kapal utility,

terutama yang berkaitan dengan keselamatan kerja, seperti lemahnya


disiplin

awak

kapal,

ceroboh

di

dalam

menggunakan

alat

keselamatan kerja di atas kapal, kurangnya kepedulian awak kapal


terhadap peralatan keselamatan di atas kapal dan sebagainya. Untuk
itu, penulis hanya membatasi makalah ini pada peningkatan
kepedulian dan kesadaran awak kapal dalam menggunakan alat-alat
keselamatan kerja di atas kapal MV Bestlink 8 periode 2013 sampai
2014.
D. Metode Penelitian
Penulisan makalah ini dilakukan dengan metode pengumpulan
data sebagai berikut:
1. Metode Pengumpulan Data
a. Studi Lapangan
Pengalaman langsung dari lapangan atau tempat bekerja di
atas kapal MV Bestlink 8 sewaktu beroperasi di PHE WMO
Laut Jawa yaitu melalui cara observasi yang berkaitan
dengan kasus-kasus yang dihadapi.
b. Studi Kepustakaan
Data dari studi kepustakaan yang berhubungan dengan
makalah ini diambil sebagai dasar ilmiah pendekatan
masalah yang ada, dilakukan dengan cara mengumpulkan
data-data dari :
1) Materi penunjang yang diperoleh dari berbagai buku
acuan yang ada hubungannya dengan materi yang
diperlukan dalam penulisan makalah ini.
2) Buku literatur lain sebagai bahan-bahan yang diperoleh
dari Diktat perkuliahan dokumen-dokumen dan pedoman
kerja di kapal maupun bentuk lainnya yang dapat
4

membantu melengkapi materi yang dibutuhkan penulis.


2. Metode Analisis Data
Metode analisis data pada makalah ini menggunakan metode
deskriptif yaitu analisis melalui penguraian dan penelusuran data
fakta dan kondisi dan permasalahan yang kemudian di analisis
berdasarkan

landasan

teori

untuk

dapat

memecahkan

permasalahan.

BAB II
FAKTA DAN PERMASALAHAN

A. Fakta
1. Obyek Penelitian
Yang menjadi obyek penelitian makalah ini adalah sewaktu penulis
bekerja di atas kapal MV Bestlink 8, periode 2013 sampai 2014.

Adapun data kapal yang menjadi obyek penelitian oleh penulis


adalah sebagai berikut :
Name

: BESTLINK 8

Builders

: PT. Batam Expresindo Shipyard

Flag

: Indonesia

PortofRegistry

: Batam Indonesia

IMO/Call Sign

: 9640229 / YHRJ

Year Built

: 2013

VesselType

: Fast Supply Boat

LengthOverall

: 42.75m

Beam

: 8.00m

Design Draft

: 2.0m

Main Engine

: 3 (Three) Unit Caterpillar Type Acers C-32

(Hp/Rpm)

: 3 x 1450 HP @ 2300 Rpm

2. Fakta Kondisi
a. Terjadinya Kecelakaan Kerja Pada ABK Saat Bongkar
Muat dari kapal ke platform di Lokasi Pengeboran Minyak
Lepas Pantai
Dalam keadaan sehari-hari di atas kapal sebagian anak
buah kapal dalam menjalankan pekerjaannya nampak kurang
bertanggung jawab atas tugas yang telah diberikan oleh
atasannya ataupun oleh perusahaan. Pelaksanaan kerja
dilakukan hanya untuk menghabiskan waktu tugas yang telah
ditentukan dan dilaksanakannya sehingga hasil yang dicapai
6

tidak sesuai dengan target yang diinginkan.


Selain itu, ABK merasakan lamanya operasional kerja
kapal yang telah dijalani ABK di atas kapal, sehingga mereka
sering meremehkan pekerjaan dan tanggung jawabnya
yangdapat menimbulkan kecelakaan dalam bekerja Dengan
lamanya masa kerja dimana kapal selalu disibukkan dengan
urusan banyaknya pekerjaan bongkar muat cargo,maupun
personal transfer dapat menyebabkan ABK menjadi jenuh dan
bosan sehingga menimbulkan dampak psikologis bagi ABK.
Salah satu akibatnya adalah, ABK dalam melaksanakan
perawatan alat-alat keselamatan maupun pelatihan-pelatihan
keselamatan yang seharusnya diikuti menjadi terbengkalai.
Padahal hal ini sangat beresiko untuk jaminan keselamatan
bagi diri mereka sendiri.
Kecelakaan dikapal MV Bestlink 8 pada saat kapal
melakukan

bongkar

muat

di

lokasi

PHE-5

tgl

14.01.2014.1400lt, dimana ketinggian antara kapal, dengan


Platform sangat berbeda sampai 2 (dua) kali tinggi kapal
Pada saat ABK memegang tali sling barang yang mau
diangkat ke platfom karena saat itu keadaan laut sedang
berombak, sehingga posisi kapal tidak bisa diam pada
tempatnya akan tetapi naik turun mengikuti

pergerakan

ombak, sehingga ketika kapal naik kemudian turun kembali


maka tali sling/tug line yang sedang dipegang salah satu ABK
otomatis menjadi tegang dan menjepit jari tangannya, karena
ABK tidak menggunakan sarung

tangan sehingga jari

tangannya terluka.
Akibat dari kejadian ini semua kegiatan bongkar muat ke
Platform PHE-5 dihentikan sementara.Tentunya ini membawa
dampak juga pada pekerjaan.Pekerjaan menjadi tertunda dan
tidak dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Efek lain dari

pada kejadian tersebut adalah teguran terhadap Nakhoda


yang

harus

ditindaklanjuti

dengan

membuat

laporan

kecelakaan kepada Safety Officer di lokasi pengeboran


tersebut.
b. Kurang Pedulinya ABK Bagian Dek terhadap Peralatan
Keselamatan Kerja diKapal
Dalam hal perawatan terhadap peralatan di atas kapal,
pada umumnya anak buah kapal tidak melakukannya dengan
baik.Mereka melakukan segala sesuatunya dengan tidak
bertanggung jawab dan masa bodoh. Salah satu contoh
adalah, setelah selesai mempergunakan alat-alat (Helmet,
Safety Shoes, Life Jacket, Kaca Mata, Hand Gloves)
keselamatan kerja tersebut terkadang tidak dengan segera
atau secepatnya untuk mengembalikan perlengkapan tersebut
ke tempatnya semula. Mereka kadang-kadang meletakkan
peralatan tersebut bukan pada tempatnya.
Mereka tidak memikirkan bahwa bisa saja alat-alat
tersebut hilang) jatuh kelaut karena tertiup angin ataupun jatuh
kelaut karena terhempas oleh ombak. Jika alat-alat tersebut
hilang

tentunya

mempergunakanan

mereka
alat-alat

akan

bekerja

keselamatan

kerja

tanpa
untuk

sementara waktu jika di kapal tidak ada persediaan (stock


kapal). Tentunya akan sangat beresiko terjadinya kecelakaan
pada diri mereka.
c. Alat-Alat Keselamatan Kerja Tidak Memenuhi Standar
Keselamatan
ABK di atas kapal terkadang tidak peduli dan menyadari
atas pentingnya pemeliharaan alat-alat keselamatan kerja. Hal
ini sangat berpengaruh terhadap apa yang mereka lakukan di
8

atas kapal. Salah satunya adalah pada pemeliharan alat-alat


pelindung

keselamatan

kerja

Protection

Equipment)

setelah

di

kapal

PPE (Personal

digunakan

tidak

segera

disimpan kembali pada tempatnya, melainkan meletakkan


begitu saja di sembarang tempat sehingga tidak terawat
dengan baik dan cepat rusak. Padahal alat-alat tersebut
mutlak harus digunakan pada waktu bekerja dimana alat alat
tersebut telah disediakan oleh pihak perusahaan.
Dengan

rusaknya

peralatan

tersebut

tentunya

kualitasnya pun sudah tidak memenuhi standar lagi. Hal ini


tentunya berbahaya bagi ABK itu sendiri, Mereka tidak
menyadari bahwa dengan tidak terawatnya peralatan tersebut
keselamatan dan keamanan diri mereka pada saat bekerja
jadi terancam dan ini tentunya akan merugikan diri mereka
sendiri.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Permasalahan
Dari beberapa penjelasan serta pengamatan yang penulis
coba sampaikan di dalam Bab II tentang kondisi saat ini, maka
penulis dapat mengetahui adanya beberapa permasalahan yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja pada Anak Buah Kapal
yang terjadi di atas kapal MV Bestlink 8dimana penulis bekerja
adalah sebagai berikut:
a. Kurangnya Kepedulian ABK Dalam Menggunakan Alatalat Keselamatan Kerja
Kecelakaan kerja dapat terjadi karena lalai dalam
penggunaan alat-alat keselamatan kerja dari ABK. Hal ini
dapat terjadi karena kurang keingin tahuan dari ABK dalam hal

cara penggunaan atau mungkin baru pertama kali seseorang


tersebut menggunakannya. Sebagai contoh dapat penulis
sebutkan disini dalam pemakaian safety harnest/safety belt
pada saat bekerja di lambung kapal/ship side ABK yang
bersangkutan hampir jatuh kelaut saat kapal oleng.Setelah
penulis

tanyakan

ternyata

ABK

tersebut

sudah

biasa

melakukan pekerjaan tersebut tanpa menggunakan safety


harnest.
Dalam hal di atas, pihak perusahaan dan kapal
seharusnya

mempunyai

tanggung

jawab

dalam

memperkenalkan alat-alat keselamatan kerja. Tenaga kerja


baru (awak kapal baru) yang akan diterima untuk bekerja perlu
di interview terlebih dahulu kemampuan dan kecakapannya
dalam bidang pekerjaan yang akan dilakukan, sehingga
tenaga kerja baru tersebut siap untuk bekerja. Dari pihak
kapal, harus melakukan familiarisasi (pengenalan) terhadap
alat-alat kerja yang ada di kapal kepada awak kapal yang baru
bekerja tersebut.Sehingga mereka dapat menggunakan alatalat tersebut dengan baik dan benar, dan dapat mengurangi
resiko dari kecelakaan kerja.
b. KurangPedulinya ABK pada Faktor Keselamatan Kerja
Di saat bekerja, dari yang penulis perhatikan sebagian
anak buah kapal kurang memperhatikan fungsi dan manfaat
dari peralatan keselamatan kerja yang telah diberikan atau
disediakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di kapal
dan harus digunakan sesuai dengan prosedur kerja yang telah
ada guna menjamin keselamatan kerja.ABK seolah-olah
mengabaikan manfaat yang dapat diambil dari penggunaan
peralatan keselamatan kerja tersebut pada waktu bekerja.

10

Contoh-contoh yang menandakan ABK kurang peduli


atas pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan di atas
kapal antara lain :
1) Dalam melakukan kerja di sekitar lambung kapal yaitu
dalam kegiatan perawatan kapal ABK tidak dilengkapi
dengan alat keselamatan lifevest/ pelampung penolong di
lambung kapal.
2) Disaat kapal akan sandar atau lepas sandar dimana ABK
yang sedang bekerja di atas dek akan tetapi tidak
memakai safety helmet
3) Apabila kapal sedang beroperasi dimana cuaca sedang
buruk atau berombak, ABK yang bekerja di atas dek tidak
menggunakan jaket penolong.
4) Pernah terjadi suatu kecelakaan seorangABK dalam
memperbaiki fender (penahan benturan yang dipasang di
lambung kapal) di sisi lambung kiri kapal, dimana ABK
tersebut tidak rnemakai jaket penolong saat tali penahan
fender dilepas dan ABK tersebut terpeleset dan jatuh ke
laut. ABK tersebut akhimya dapat di tolong dengan
menggunakan pelampung penolong dan selamat.
c. Kurangnya

Pengawasan

Terhadap

ABK

Dalam

Menggunakan Alat-alat Keselamatan Kerja


Dalam kegiatankerja sehari-hari di atas kapal khususnya
kapal dimana penulis bekerja yaitu kapal MV Bestlink 8dalam
melaksanakan

perawatan

kapal,

diperlukan

suatu

pengawasan kerja yang ketat terhadap para pekerja atau ABK


di atas kapal oleh pihak atasan. Yaitu antara lain Nakhoda
atau perwira. Misalnya dengan mengontrol mereka untuk tidak
merokok di luar atau melakukan pekerjaan yang dapat
menimbulkan api di dek, yang dapat berakibat fatal bagi

11

keselamatan kapal dan seluruh pekerja serta ABK itu sendiri.


Disiplin dari pada awak kapal sangat diperlukan. Dengan
tingginya disiplin dari awak kapal, dengan sendirinya telah
mengurangi salah satu faktor kecelakan di kapal.
Kurangnya

pengawasan

dari

para

perwira

kapal

mengakibatkan ABK yang melakukan proses perawatan alatalat keselamatan tidak menggunakan kegiatan perawatan
yang telah ada namun ABK menggunakan caranya sendiri,
sehingga berakibat banyak alat-alat keselamatan yang tidak
terawat dengan baik. Ditambah dengan kelalaian dari perwira
dek yang tidak melakukan pengawasan terhadap ABK secara
terus menerus selama ABK melakukan pekerjaan. Guna
menghindari pengawasan secara terus menerus terhadap
ABK dek disaat bekerja, maka sebaiknya diadakan pelatihan
pelatihan secara berkala dan terencana agar mereka lebih
terampil dan profesional dalam melakukan tugas-tugasnya.
d. Perlengkapan Alat Keselamatan Tidak Terawat Dengan
Baik
Dilain pihak dalam mengoperasikan kapal dengan jam
kerja yang padat dimana untuk melakukan suatu perawatan
terhadap kapal itu sendiri beserta peralatannya sering timbul
kendala-kendala. Dengan suatu sistim kerja yang sangat sibuk
dan memerlukan suatu konsentrasi yang tinggi dari semua
para ABK di kapal dapat mengakibatkan tidak jalannya sistem
manajemen keselamatan (SMS).
Bestlink 8 adalah kapal yang melayani Oil Field (daerah
pengeboran minyak lepas pantai) dan mempunyai jenis kerja
yang beraneka ragam.Dari mengangkut pekerja Rig atupun
Platform, juga mengantar muatan peralatan kebutuhan Rig

12

juga Platform.Keselamatan pekerja dan ABK serta muatannya


adalah prioritas utama. Oleh karena itu perawatan alat- alat
keselamatan

kerja

menjadi

lebih

serius

dan

harus

dilaksanakan berkesinambungan.
e. Kurangnya Koordinasi Sebelum Bekerja
Kecelakaan kerja yang pemah terjadi di atas kapal sering
disebabkan oleh faktor dari kesalahan manusia yang bisa
disebabkan oleh tidak adanya koordinasi kerja yang tidak
berjalan karena berbagai masalah yang di hadapi oleh para
pekerja atau ABK itu sendiri yang mungkin karena lamanya
masa kerja yang sudah dijalani atau karena tekanan dari
pekerjaan yang dilakukannya.Dimana dari pengamatan yang
penulis lakukan para ABK tersebut menghadapi tekanan kerja
dari atasannya yang dapat menyebabkan ABK tersebut
kehilangan kontrol dan konsentrasinya dalam melakukan
pekerjaannya. Dan juga lingkungan kerja yang tidak kondusif,
Ini terkadang timbul di kapal itu sendiri karena tidak
harmonisnya atau ada suatu ketidak cocokkan antar sesama
ABK yang dapat berpengaruh pada kinerja mereka sehingga
tidak dapat tercapai hasil yang optimal.

f. Kurangnya Familiarisasi tentang Alat-alat Keselamatan


Kerja
Penerapan

pengenalan

atau

familiarisasi

alat-alat

keselamatan kerja di atas kapal akan sangat diperlukan untuk


mendapatkan suatu hasil dari ABK yang berkualitas dan
memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan yang ditugaskan
13

kepadanya. Maka dari itu antara pihak perusahaan dan pihak


kapal

diperlukan

suatu

kerjasama

yang

baik

untuk

melaksanakan suatu metode atau sistim pelatihan pengenalan


(familiarisasi) dan pelatiban keselamatan yang baik sesuai
dengan yang diatur oleh IMO yang ada di dalam STCW-95
code peraturan 1/ 14,1.4 dan A-1/14 tentang familiarisasi
tugas yang berhubungan dengan pekerjaan dan peraturan
Vl/1 dan 2 tentang familiarisasi tentang keselamatan yang
diimplementasikan dalam ISM CODE. Dimana di atas kapal
terhadap ABK yang baru naik selalu di berikan pelatihan
pengenalan alat-alat keselamatan dan semua peralatan baik
itu pekerjaan di dek maupun alat keselamatan kerja di
anjungan dalam hal ini alat-alat navigasi dan juga letak dari
alat-alat tersebut beserta jumlah dan cara pemakaiannya.
2. Penentuan Masalah Utama
a. Kurangnya kepedulian ABK dalam penggunaan alat-alat
keselamatan kerja
Dengan adanya kejadian seorang ABK yang terluka
jarinya saat memegang tug line/tali sling saat bongkar muat di
phe-5,disebabkan karena saat itu ABK yang bersangkutan
tidak menggunakan sarung tangan,ABK tersebut kurang
peduli akan keselamatanya sehingga penggunaan alat-alat
keselamatan kerja di anggap remeh.
b. kurangnya koordinasi sebelum memulai pekerjaan
Di dalam pekerjaan sehari-hari ABK selalu di tuntut untuk
selalu menggunakan pull PPE (personal protection equipment)
karena kondisi pekerjaan Dan lokasi kerja yang dimana
sewaktu-waktu ancaman kecelakaan selalu ada.Disini peran

14

seorang Nakhoda dan Chief Officer di tuntut untuk selalu


memberi

arahan

dan

pandangan

kepada

ABK

akan

pentingnya menggunakan alat-alat keselamatan kerja agar


ABK senantiasa terhindar dari kecelakaan di dalam bekerja,
maka dari itu perlunya selalu ada koordinasi dan safety
breefing setiap kali akan memulai pekerjaan.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Landasan Teori
ABK yang peduli di dalam menggunakan alat-alat keselamatan
kerja di atas kapal merupakan suatu keharusan. Dengan memiliki ABK

15

yang peduli dengan keselamatan ini, maka perusahaan akan dapat


berjalan dengan lancar tanpa terganggu dengan munculnya sejumlah
kecelakaan kerja. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa kecelakaan
kerja yang terjadi di atas kapal akan merugikan banyak pihak, bukan
hanya pihak pemilik kapal saja, melainkan juga pencharter dan awak
kapal. Oleh karena itu, kepedulian ABK di dalam penggunaan alat-alat
keselamatan kerja mutlak diperlukan untuk dapat menghindari
kecelakaan kerja yang mungkin timbul di atas kapal.
Salah satu kutipan buku Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang ditulis Suardi : 2005 hal 12, bahwa penyebab
terjadinya kecelakaan kerja, baik dari aspek penyakit akibat kerja
maupun kecelakaan kerja, dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
1. Faktor fisik yang meliputi penerangan, suhu udara, kelembaban,
cepat rambat udara, suara, vibrasi mekanis, radiasi, tekanan
udara dan lain-lain.
2. Faktor kimia, yaitu berupa gas, uap, debu, kabut, asap, awan,
cairan, dan benda-benda padat.
3. Faktor biologi, baik dari golongan hewan maupun dari tumbuhtumbuhan.
4. Factor fisiologis, seperti sikap dan cara kerja.
5. Factor mental psikologis, yaitu suasana kerja, hubungan diantara
sesama pekerja atau dengan pengusaha, pemeliharaan kerja.
Dari pendapat tersebut di atas dapat diambil salah satu contoh
adalah faktor fisiologis seperti sikap dan cara kerja, faktor ini sangat
berpengaruh sekali terhadap kepedulian ABK dalam menggunakan
alat- alat di kapal terutama alat alat keselamatan, Sikap ABK yang
tidak disiplin atau tidak serius dalam melakukan setiap tugasnya akan
mengakibatkan terjadinya suatu kesalahan dalam tugas tersebut,
Sehingga mereka jadi kurang terampil dan unsur ketelitian tidak ada
maka hasil pekerjaan mereka pun tidak akan bisa maksimal.
Sesuai dengan ketentuan STCW 1978/1995 Seksi B-V/4 dan

16

B-V/5 memberikan rekomendasi pelatihan untuk

para perwira dan

bawahan (ratings) yang bertanggung jawab untuk penanganan


muatan di atas kapal-kapal yang mengangkut muatan berbahaya
dalam bentuk padat jumlah besar dan bentuk kemasan.
Berikut penulis ambil kutipan dari beberapa sumber mengenai
peraturan yang berhubungan dan mendasari teori dalam penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan harus menetapkan prosedur untuk memastikan
bahwa personil yang baru dan personil yang dipindahkan untuk
tugas-tugas baru yang berhubungan dengan keselamatan dan
perlindungan lingkungan diberikan pengenalan (familiarization)
yang

sesuai

harus

dengan tugas tugasnya, instruksi yang penting

disiapkan

sebelum

berlayar,

harus

dikenal,

didokumentasikan dan diberikan" ISM Code dalam elemen 6.3)


2. "Perusahaan harus menetapkan dan mempertahankan prosedur
untuk mengidentifikasikan setiap diklat. Yang mungkin diperlukan
dalam mendukung Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) dan
memastikan bahwa diklat dimaksud diberikan untuk semua
personil yang terkait. ( ISM Code dalam elemen 6.5)
3. "Penggunaan alat-alat keselamatan diri pada waktu bekerja
harus

digunakan

disetiap

pekerjaan

sesuai

dengan

jenis

pekerjaan tertentu yang akan diawasi oleh perwira jaga, alat


pelindung diri atau alat keselamatan kerja menjadi sangat
penting

perannya

dalam

kelancaran disetiap pekerjaan

sehingga hal-hal yang tidak kita inginkan seperti kecelakaan kerja


bisa terhindari atau diminimalisir''. (Watch keeping In Port, chapter
4.10, Safety Clothing and Equipment )
Kutipan di atas sangat bermanfaat untuk diperhatikan dan
diterapkan di atas kapal ataupun diterapkan oleh perusahan yang
bergerak dibidang pelayaran untuk mengantisipasi terjadinya suatu
kecelakaan.

17

B. Analisa Penyebab Masalah


Sebagairnana

telah

penulis

kemukakan

pada

Bab

III,

permasalahan utama yang akan penulis bahas lebih lanjut adalah


"Kurangnya

kepedulian

ABK

dalam

menggunakan

alat

alat

keselamatan kerja". Adapun penyebab dari permasalahan ini adalah:


1. Kurangnya Kepedulian ABK Dalam Menggunakan Alat-alat
Keselamatan Kerja
Kurangnya Kepedulian ABK Dalam Menggunakan Alat-alat
Keselamatan Kerja disebabkan oleh:
a. Latihan

Penggunaan

Alat-Alat

Keselamatan

tidak

terlaksana oleh perwira diatas kapal karena kesibukan


operasional kapal.
Pelatihan merupakan hal yang sangat diperlukan di atas
kapal, dalam hal ini khususnya pelatihan dalam upaya
peningkatan pengoperasian kapal .Namun di atas kapal
tempat penulis bekerja, pelatihan jarang dilaksanakan bahkan
tidak terjadwal sehingga kepedulian anak buah kapal dalam
penggunaan alat-alat keselamatan kurang. Hal tersebut jika
dibiarkan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kecelakaan
saat ABK bekerja yg dapat menghambat operasional kapal
tersebut.
b. Kurangnya Pengenalan Prosedur Kerja
Familiarisasi

tentang

prosedur

kerja

perlu

sering

dilakukan agar ABK dapat memahami fungsi dan cara

18

penggunaan setiap alat keselamatan yang ada. Namun


pengenalan atau familiarisasi prosedur kerja yang baik dan
benar di atas kapal masih jarang dilakukan. Hal ini sering
menyebabkan

kebingungan

pada

ABK

ketika

akan

menggunakan alat-alat keselamatan yang ada di atas kapal.


2. Rendahnya Kepedulian ABK Tentang Alat Keselamatan
Masalah

rendahnya

kesadaran

ABK

tentang

alat

keselamatan disebabkan oleh hal-hal berikut:


a. Jarang Diberikan Ceramah Tentang Pentingnya Alat
Keselamatan
Ceramah atau

briefing

mengenai fungsi dan

cara

penggunaan semua alat keselamatan di atas kapal perlu sering


diadakan

untuk

meningkatkan

kesadaran

ABK

dalam

menggunakan alat keselamatan kerja.Tetapi yang terjadi di atas


kapal adalah bahwa ceramah seperti ini jarang diadakan
sehingga pengetahuan ABK menjadi terbatas. Kalau tidak
segera diatasi, maka masalah ini dapat merugikan pihak
perusahaan dan ABK sendiri, terutama bila muncul
b. Belum

dilaksanakannya

Familiarisasi

Kepada

ABK

Tentang AlatAlat Keselamatan


Alat keselamatan merupakan hal yang sudah biasa
diternui di atas kapal, tetapi dalam penggunaan alat-alat
keselamatan harus sesuai dengan prosedur yang telah
ditentukan di atas kapal. Dalam hal ini di atas kapal MV
Bestlink 8 peralatan keselamatan sudah cukup memadai akan
tetapi masih rendahnya kesadaran anak buah kapal dalam
menggunakan

peralatan

keselamatan

sehingga

19

mengakibatkan kecelakaan di atas kapal MV Bestlink 8.


C. Analisis Pemecahan Masalah
Dari

uraian

pada

bab

sebelumnya

diketahui

bahwa

permasalahan utama yang akan dibahas lebih lanjut pada bab ini
adalah: "Kurangnya kepedulian ABK dalam menggunakan alat alat
keselamatan

kerja"

yang

disebabkan

oleh

kurangnya

pelatihan/pengenalan alat-alat keselamatan kerja bagi ABK dan


rendahnya kesadaran ABK tentang alat keselamatan kerja. Berikut
adalah pemecahan terhadap kedua penyebab ini:
1. Kurangnya Kepedulian ABK Dalam Penggunaan Alat-Alat
Keselamatan Kerja
Pemecahannya adalah sebagai berikut:
a. Diberikan Pelatihan Disiplin Oleh Chief Officer Dalam
penggunaan Alat-alat Keselamatan Kerja
Dalam

upaya

meningkatkan

potensi

kerja

ABK

tersebut.perlu diadakan pelatihan pelatihan yang mengacu


pada peraturan ISM CODE Elemen 6.5 yang menyatakan
Latihan Keselamatan harus dilaksanakan sesuai prosedur
yang ditetapkan SMS. Latihan bertujuan guna memastikan
bahwa awak kapal memenuhi standar SMS perusahaan dan
guna

menambah

percaya

diri ABK

dalam

melakukan

pekerjaan, salah satunya adalah dalam hal mengendalikan


keadaan darurat. Dengan memotivasi mereka dan diadakan
pelatihan secara berkala dan terencana, diharapkan akan
mendapatkan hasil yang maksimal.
Latihan atau
perusahaan

training

adalah

dimaksudkan

untuk

suatu kegiatan

dari

memperbaiki

dan

20

mengembangkan
pengetahuan

sikap,

tingkah

karyawanya

laku,

sesuai

kepedulian

dengan

dan

keinginan

perusahaan yang bersangkutan.


Pelatihan

penggunaan

alat-alat

keselarnatan

perlu

dilakukan secara berkesinambungan, agar apabila terjadi


keadaan darurat semua awak kapal dapat menggunakannya
dengan benar. Dalam bekerja ABK dapat menggunakan alat
alat keselamatan kerja sesuai dengan fungsinya. Juga caracara perawatan dari alat-alat tersebut harus diterapkan, agar
dalam penggunaannya alat-alat tersebut tidak mengalami
kendala ataupun hambatan. Tanpa alat-alat keselamatan kerja
yang memadai dan kualitas dari alat-alat keselamatan kerja
yang baik akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal.
Kualitas

alat-alat

keselamatan

yang

buruk

akan

mengakibatkan keselamatan ABK dan Penumpang kurang


mendapat

jaminan.

Kurangnya

pemeliharaan

alat-alat

keselamatan kerja mengakibatkan, penundaan pekerjaan


berpengaruh terhadap bertambahnya beban pemeliharaan.
Melaksanakan latihan bagi awak kapal diharapkan
pekerjaan akan menjadi lebih baik, kerusakan property
maupun lingkungan dapat diperkecil, pemborosan dapat
diperkecil dan yang penting kecelakaan kerja dapat ditekan
seminim mungkin.
Pelatihan yang berkelanjutan baik di darat maupun di
atas kapal sangat penting untuk menambah kepedulian atau
mengingatkan kembali materi-materi yang telah'didapat dari
kursus- kursus yang telah diikuti oleh awak kapal.Sehingga
dengan latihan diharapkan akan tercapai Safety Program
Cultur, yang terdiri dari:
1) Know your duties and responsibilities (mengenal tugas
dan tanggung jawab)

21

2) Familiarization Training (pelatihan).


3) Periodical I Refresher Training (pelatihan berjangka).
Safety committee and Non-Confirmity Reporting
(pertemuanmembahas

tentang

keamanan

dan

keselamatan kerja).
4) Follow Established Procedures (Mengikuti aturan yang
sudah ditetapkan).
5) Performannce Monitoring (pengawasan basil kerja).
Plan Maintenance Programme (Program rencana kerja).
6) Good House Keeping (kebersihan/kerapian).
Dari unsur- unsur tersebut di atas maka setiap Anak
Buah Kapal (ABK) akan selalu mengingat: Think Safety, Act
Safety, Be Safety (Memikirkan Keselamatan, Bertindak
Keselamatan, Melakukan Keselamatan).
Latihan - latihan keselamatan harus dilaksanakan sesuai
prosedur dan pelaksanaan di dalam SMS.Latihan harus dalam
keadaan mencerminkan situasi darurat dan harss diarahkan
untuk memastikan bahwa anak buah kapal memenuhi standar
SMS perusahaan dan menambah kepercayaan diri dalam
mengendalikan

situasi

kecelakaan.Pembiasaan

yang
dengan

timbul
tugas

bila
SMS

terjadi

diperlukan

khususnya demi untuk mempertahankan SMS secara terus


menerus dan tingkat kerja yang efektif.
Sarana lain yang berisi pengetahuan seperti safety video
program, buku buku tentang tata cara penggunaan alat-alat
keselamatan hendaknya tersedia di atas kapal sebagai
pengetahuan

bagi

para

ABK,

untuk

meningkatkan

pengetahuan mereka.
b. Pengenalan Prosedur Kerja oleh Chief Officer
Pengenalan prosedur kerja di atas kapal sangat
diperlukan. Pengenalan prosedur kerja di sini dalam arti suatu
22

strategi di dalam pelaksanaan pelatihan yang sistematis,


sehingga semua ABK dapat menggunakan dan terlatih pada
semua jenis peralatan kesetamatan kerja sebagai mana
mestinya. ABK dituntut untuk dapat menggunakan peralatan
keselamatan dengan baik pada saat yang tepat. Dengan
pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara sistimatis dan
terencana, tentunya diharapkan mendapatkan hasil yang baik
yaitu

ABK

diharapkan

dapat

menggunakan

peralatan

keselamatan kerja dengan baik.


Seperti

dalam

kutipan

buku

sistem

manajemen

keselamatan dan kesehatan kerja karangan Rudi Suardi : th


2005 hal 12 Mengenai Tanggung jawab dan wewenang Level
Manajemen antara lain :
1) Memastikan pekerja menggunakan alat

pelindung diri

sesuai dengan persyaratan


2) Memberikan pemahaman pada pekerja tentang potensi
bahaya yang dapat terjadi di tempat kerja.
3) Jika diperlukan membuat instruksi kerja atau prosedur
tentang penggunaan alat pelindung diri.
Tingkat kepedulian anak buah kapal merupakan faktor
yang harus diperhitungkan. Kecakapan dan kepedulian anak
buah kapal akan memberikan jaminan peroleben hasil kerja
yang baik pula.
Pihak perusahaan diharapkan untuk dapat menerima
tenaga kerja baru yang berkualitas, dengan mengadakan
pengujian terlebih dahulu.Pihak kapal perlu juga untuk
mengadakan pelatihan-pelatihan kerja yang baik dan benar di
atas kapal guna menanamkan semangat kerja yang tinggi
kepada mereka, yang tentunya diharapkan akan mendapat
hasil kerja yang baik pula.

23

2. Rendahnya

Kepedulian

ABK

Dalam

Penggunaan

Alat

Keselamatan Kerja
Pemecahannya adalah dengan cara:
a. Safety Breefing Tentang Pentingnya Dalam Penggunaan
Alat Keselamatan Oleh Chief Officer
Kecelakaan kerja merupakan hal yang tidak diinginkan
terjadi di atas kapal.Oleh karena itu ABK yang bekerja di atas
kapal perlu diberikan pelatihan dalam penggunaan alat-alat
keselamatan kerja.Untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran ABK tentang peralatan keselamatan, maka perlu
diadakan pendidikan di atas kapal. Pendidikan di atas kapal
dapat dilakukan dengan memberikan buku-buku petunjuk
mengenai alat-alat keselamatan kerja yang ada di atas kapal
Buku-buku petunjuk mengenai peralatan keselamatan ini
sangat bermanfaat bagi ABK baik ABK baru maupun ABK
yang sudah lama bekerja di atas kapal agar dapat
meningkatkan

pengetahuan

ABK

tentang

alat-alat

keselamatan yang ada di atas kapal. Selain buku-buku


petunjuk, hal yang sangat mudah dipahami oleh ABK adalah
dengan menggunakan video, karena dengan menggunakan
video ABK dapat dengan mudah mengerti.
Dalam usaha meningkatkan pengetahuan ABK tentang
Pentingnya penggunaan peralatan keselamatan kerja juga
dapat dilakukan dengan cara memberikan latihan-latihan dan
safety

breefing

secara

berkala

di

atas

kapal

untuk

meningkatkan pengetabuan dan kemampuan ABK mengenai


alat-alat keselamatan sehingga akan mampu bekerja dengan
baik dan selalu mengutamakan keselamatan kerja di atas
kapal.
24

Pendidikan merupakan suatu proses pembinaan sumber


daya manusia (SDM) tidak sama dengan pendidikan di kapal,
sekalipun umum memandang sebagai suatu proses yang
sama. Jika pendidikan lebih mengutamakan pengembangan
proses intelektual pembinaan ini dititik beratkan pada
pembinaan kemampuan yang sifatnya fungsional. Suatu
industrial diperlukan dalam program pembinaan anak buah
kapal agar sasaran utama yaitu meningkatkan kualitas kerja
ABK dalam upaya mencegah kecelakaan kerja di kapal
merupakan suatu sasaran yang akan dicapai.
b. Chief Officer Memberikan Familiarisasi Tentang cara
Penggunaan Alat-Alat Keselamatan Kepada ABK.
Perusahaan perlu memastikan bahwa personel kapal
memiliki

pengetahuan

yang

memadai

tentang

alat-alat

keselamatan kerja di atas kapal dengan cara memberikan


pengarahan-pengarahan dan familiarisasi tentang alat-alat
keselamatan kerja. Pengarahan yang dilakukan adalah yang
berkaitan dengan aturan-aturan, sangsi-sangsi dan tanggung
jawab ABK di atas kapal, terutama yang berkaitan dengan
keselamatan kerja.
Pengarahan ini penting sekali dilakukan agar ABK tidak
mengalami kebingungan di dalam cara-cara penggunaan alatalat keselamatan kerja yang ada di atas kapal. Dengan
pengarahan, ABK diharapkan dapat memahami dengan teliti
manfaat masing-masing alat keselamatan tersebut sehingga
kecelakaan kerja dapat dikurangi sekecil mungkin.
Para anak buah kapal yang baru naik kapal baik yang
belum berpengalaman maupun yang sudah berpengalaman
perlu dilakukan pengenalan kondisi kapal tentang :

25

1)
2)
3)
4)

Pengenalan cara penggunaan alat alat keselamatan kerja


Pengenalan letak dimana alat keselamatan kerja disimpan
Pengenalan fungsi dari alat keselamatan kerja
Prosedur perawatan alat alat keselamatan kerja
Sehingga

awak

kapal

yang

ada

di

atas

kapal,

mempunyai kemampuan secara penuh untuk melaksanakan


tugas-tugas pekerjaan mereka. Bahkan para anak buah kapal
yang

sudah

berpengalaman

pun

perlu

belajar

dan

menyesuaikan dengan kondisi kapal, orang yang ada di kapal


serta prosedur-prosedurnya. Mereka juga memerlukan latihan
dan pengembangan lebih lanjut untuk mengerjakan tugastugas secara baik.
Adapun tujuan utama program familiarisasi ABK untuk
meningkatkan kecakapan atau kemampuan ABK sesuai
dengan jabatan dan tanggung jawabnya. Program-program
tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektifitas kerja ABK
dalam mencapai sasaran kerja yang telah ditetapkan,
Meskipun usaha-usaha tersebut memakan waktu, tetapi akan
mengurangi perputaran tenaga kerja dan membuat anak buah
kapal menjadi lebih produktif.
Mereka merasa lebih terjamin atau aman dan lebih
diperhatikan. Dengan tingkat kecemasan yang rendah mereka
akan lebih dapat mempelajari tugas-tugas dengan lebih baik.
Program orientasi mempercepat proses sosialisasi dan
penerimaan ABK baru dalam kelompok kerja.
Meskipun ABK baru telah menjalani orientasi yang baik,
mereka jarang melaksanakan pekerjaan dengan memuaskan.
Mereka harus dilatih dan dikembangkan dalam bidang tugastugas

mereka.

berpengalaman

Begitu

pula

memerlukan

ABK
juga

lama

yang

telah

latihan-latihan

untuk

mengurangi atau menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang

26

jelek.
Sebelum

pelaksanaan aktivitas diadakan

safety

meeting terlebih dahulu yang diikuti oleh anak buah kapal


yang akan melakukan aktivitas pekerjaan, dirnana didalam
pertemuan tersebut menentukan jenis suatu pelatihan, lokasi
pelatihan, alat yang akan dipergunakan

termasuk alat alat

keselamatan kerja dan mengatur penempatan personilnya.


Dengan melaksanakan hal tersebut maka di harapkan proses
pelatihan dapat diselesaikan dengan hasil yang seoptimal dan
seefisien mungkin sesuai dengan rencana.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan

melakukan

identifikasi

masalah

dan

altematif

pemecahan masalah, maka penulis melakukan kesimpulan bahwa


kecelakaan kerja dapat terjadi karena disebabkan oleh hal-hal sebagai
berikut :
1. Kurangnya

kepedulian

ABK

dalam

menggunakan

alat-alat

keselamatan kerja sehingga jika terjadi kecelakaan kerja di kapal


akan berakibat fatal.
2. Dikarenakan kurangnya

ceramah

dan

familiarisasi

tentang

pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja di atas kapal


membuat terkadang ABK tidak peduli dengan keselamatanya

27

sendiri.
3. Latihan penggunaan alat-alat keselamatan yang tidak terjadwal
mengakibatkan ABK kurang peduli dalam menggunakan alat-alat
keselamatan kerja.
4. Kurangnya kepedulian ABK terhadap penggunaan alat-alat
keselamatan kerja juga disebabkan oleh kurangnya pengenalan
prosedur kerja di atas kapal.
B. Saran
Untuk rnencegah terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal maka
dapat disarankan sebagai berikut :
1. Chief Officer / Safety Officer di atas kapal hendaknya dapat
meningkatkan
keselamatan

kepedulian
kerja

kepada

dalam
ABK

penggunaan
agar

ABK

alat-alat

dapat

selalu

menggunakan alat-alat keselamatan saat bekerja.


2. Nahkoda memberikan pengarahan tentang pentingnya alat-alat
keselamatan kerja dan memberikan familiarisasi kepada ABK
tentang alat-alat keselamatan kerja.
3. Hendaknya perusahaan pelayaran dapat berkoordinasi dengan
pihak kapal atau melakukan internal audit dan familiarisasi tentang
pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja di atas kapal,
khususnya ABK yang baru sign on di kapal agar kepedulian ABK
tentang penggunaan alat-alat keselamatan kerja di atas kapal
dapat meningkat/ lebih baik.
4. Mualim I agar selalu mengingatkan ABK diatas kapal tentang
pentingnya

penggunaan

alat-alat

keselamatan

kerja

serta

pengenalan tentang prosedur kerja yang benar agar ABK peduli


dalam penggunaan alat-alat keselamatan kerja.

28

DAFTAR PUSTAKA

Moedjiman R, SH (2007), Prosedur Penulisan Makalah, Penerbit BP3IP


Jakarta.
Nitisemito, Alex S, Drs (1982), Manajemen Personalia.
Roberts, Peter, Captain, BSc (2002), Watchkeeping Safety And Cargo
Management In Port.
Rosadhi, Sammy Drs, MM (1999), Implementasi STCW 1978/1995.
Suardi, Rudi (2005) Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja, Penerbit PMM Jakarta.
Yatim, Rozaimi, Capt. (2003), Kodefikasi Manajemen Keselamatan
Internasional (ISM CODE), Penerbit Yayasan Bina Citra

29

Samudra Jakarta.
International Maritime Organization (1996), STCW 95, London.

30

Anda mungkin juga menyukai