Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemampuan dalam memenuhi permintaan konsumen dan pasar dengan waktu
tunggudan waktu pengiriman yang pendek merupakan tolak ukur untuk menilai
tingkat respon perusahaan terhadap permintaan konsumen. Supply Chain
Management memberikan suatualternatif strategi dalam memenangkan persaingan
global dengan berbasis competitive excellence yaitu fokus konsumen, kualitas,
dan agility yang didukung kompetensi perusahaan seperti keterlibatan konsumen,
manajemen persediaan, teknologi, pengembangan produk, dantanggung jawab
terhadap lingkungan.Teknologi informasi menjadi salah satu pendorong bagi
terciptanya integrasi rantai pasokan termasuk juga makin kompleksnya
permintaan konsumen, makin kompetitifnya kompetisi global dan peningkatan
keinginan perusahaan untuk menjadi perusahaan yang inovatif dan mampu
menjadi yang pertama dalam mengenalkan produk baru sesuai kebutuhan pasar.
Makalah ini membahas Supply Chain Management sebagai suatu stratgi alternatif
yang digunakan Carrefour Indonesia dalam memenangkan persaingan pada pasar
Indonesia
1.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang akan dibahas pada penulisan paper ini adalah

Profile perusahaan

Visi-Misi Carrefour

SCM Carrefour terdahulu

Penerapan SCM yang baru

Contoh Supplier/Pemasok produk

Manfaat penerapan SCM

Kelemahan SCM

Tantangan-tantangan penerapan SCM

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujuan

Untuk mengetahui kegunaaan SCM pada zaman global saat ini.

Untuk mengetahui penerapan SCM pada perusahaan Carrefour Indonesia.

Untuk mengetahui data dan informasi yang dikelolah secara ontime.

Menentukan tingkat outsourcing yang tepat

Mengelola pembelian / pengadaan suatu barang

Mengelola pemasok

Manfaat

Mendapatkan keuntungan dari SCM.

Memberikan pengetahuan SCM kepada orang awam.

Mengetahui pentingnya peranan SCM bagi perusahaan Carrefour dalam

meningkatkan kebutuhan pelanggan.


1.4 Metodologi Penulisan / Penelitian
Metodologi yang saya gunakan dalam penulisan laporan ini adalah dengan
pengumpulan data-data dan informasi yang diperoleh dalam artikel, buku, dan
website online. Sehingga terbuatlah makalah ini

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian SCM
James A. dan Mona J. Fitzsimmons, yang menyatakan bahwa supply chain
management adalah sebuah sistem pendekatan total untuk mengantarkan produk
ke konsumen akhir dengan menggunakan teknologi informasi untuk
mengkoordinasikan semua elemen supply chain dari mulai pemasok ke pengecer,
lalu mencapai tingkat berikutnya yang merupakan keunggulan kompetitif yang
tidak tersedia di sistem logistik tradisional.
Supply Chain Management menurut Chase, Aquilano, Jacobs adalah sistem untuk
menerapkan pendekatan secara total untuk mengelola seluruh aliran informasi,
bahan, dan jasa dari bahan baku melalui pabrik dan gudang ke konsumen akhir.
Menurut Simchi-Levi, David, Philip Kaminsky, dan Edith (2004, p2), Supply
chain Management diartikan sebagai rangkaian pendekatan yang digunakan untuk
mengintegrasikan pemasok, produsen, gudang dan toko secara efektif agar
persediaan barang dapat diproduksi dan didistribusi pada jumlah yang tepat, ke
lokasi yang tepat, dan pada waktu yang tepat sehingga biaya keseluruhan sistem
dapat diminimalisir selagi berusaha memuaskan kebutuhan dan layanan.
Menurut Council of Logistic Management (Pujawan 2005, p7), Supply chain
Management adalah koordinasi sistematis dan strategis akan fungsi-fungsi bisnis
tradisional dalam dan lintas perusahaan dalam sebuah rantai persediaan untuk
mengembangkan kinerja jangka panjang perusahaan dan keseluruhan rantai
persediaan.
2. 2 Tujuan SCM
Berdasarkan dari definisi-definisi diatas maka tujuan dari SCM antara lain adalah:
1) Supply chain manajemen menyangkut pertimbangan mengenai lokasi yang
memiliki dampak terhadap aktivitas dan biaya dalam rangka memproduksi produk
yang diperlukan pelanggan dari supplier dan pabrik hingga disimpan di gudang

dan pendistribusiannya ke sentral penjualan.


2) Mencapai efisiensi aktivitas dan biaya seluruh sistem, total biaya sistem
daritransportasi hingga distribusi persediaan bahan baku, proses kerja dan barang
jadi.
3) Untuk memastikan sebuah produk berada pada tempat dan waktu yang tepat
untuk memenuhi permintaan konsumen tanpa menciptakan stok yang berlebihan
atau kekurangan.
4) Untuk memastikan seluruh item barang berada pada tempat dan waktu yang
tepat agar dapat memberikan keuntungan yang terbaik dan service kepada
customer.
5) Memaksimalkan nilai organisasi organisasi industry yang berdampak pada
kenaikan profit dan hubungan baik antar organisasi.
2.3 Komponen dasar SCM
a. Plan (Perencanaan)
Awal kesuksesan SCM adalah pada proses penentuan strategi SCM. Tujuan utama
dari proses perumusan strategi adalah agar tercapainya efisiensi dan efektivitas
biaya dan terjaminnya kualitas produk yang dihasilkan hingga sampai ke
konsumen.
b. Source (Sumber Barang)
Perusahaan harus memilih supplier bahan baku yang kredibel untuk mendukung
proses produksi yang akan dilakukan. Oleh sebab itu manejer SCM harus dapat
menetapkan harga, mengelola pengiriman dan pembayaran bahan baku, serta
menjaga dan meningkatkan hubungan bisnis terhadap supplier.
c. Make (Manufacturing)
Komponen ini adalah tahap manufacturing. Manejer SCM melakukan penyusunan
jadwal aktivitas yang dibutuhkan dalam proses produksi, uji coba
produk,pengemasan dan persiapan pengiriman produk. Tahap ini merupkan tahap
yang paling penting dalam SCM. Perusahaan juga harus mampu melakukan
pengukuran kualitas,output produksi, dan produktivitas pekerja.

d. Deliver (Pengiriman)
Perusahaan memenuhi order dari permintaan konsumen, mengelola jarigan
gudang penyimpanan, memilih distributor untuk menyerahkan produk ke
konsumen,dan mengatur sistem pembayaran.
e. Return (Pengembalian)
Perencana SCM harus membuat jaringan yang fleksibel dan responsif untuk
produk cacat dari konsumen dan membentuk layanan aduan konsumen yang
memilikimasalah dengan produk yang dikirimkan.Dengan demikian, hendaknya
perusahaan selalu membuat laporan performansibisnis mereka secara rutin.
Sehingga pimpinan perusahaan dapat mengetahui perubahanperforma bisnis yang
telah dilakukan sesuai dengan tujuan awal dari SCM yang telah ditetapkan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Profile Perusahaan
Aplikasi yang menerapkan CRM diklasifikasikan menjadi dua (Dyche, 2002),
yaitu:
Carrefour di Indonesia berdiri pada tahun 1996 dengan membuka gerai pertama di
Cempaka Putih pada bulan Oktober 1998. Pada saat yang sama, Continent,
sebagai perusahaanritel Perancis, membuka gerai pertamanya di Indonesia. Pada
tahun 1999, Carrefour danPromodes (sebagai pemegang saham utama dari
Continent) menggabungkan semua kegiatan usaha ritel di seluruh dunia dengan
nama Carrefour. Hal tersebut menjadikan Carrefour sebagai ritel terbesar kedua di
dunia.Sebagai bagian dari perusahaan global, Carrefour berusaha untuk
memberikan standar pelayanan kelas dunia dalam industri ritel Indonesia.
Carrefour Indonesia memperkenalkan konsep hypermarket dan menyediakan
alternatif belanja yang baru di Indonesia kepada pelanggannya. Carrefour
menawarkan konsep One-Stop Shopping yang menawarkan tempat pilihan
dengan produk yang beragam, harga murah, dan juga memberikan pelayanan
terbaik sehingga melebihi harapan pelanggan.Saat ini, Carrefour sudah beroperasi
di 83 gerai dan tersebar di 28 kabupaten diIndonesia. Sebagai salah satu ritel
terkemuka, Carrefour Indonesia berkomitmen untuk memberikan pelayanan
terbaik bagi pelanggan Carrefour di Indonesia. Carrefour sangat peduli terhadap
kebutuhan pelanggan dengan menawarkan lebih dari 40.000 produk, sehingga
pelanggan dapat memperoleh pilihan lengkap kebutuhan sehari-hari yang
berkualitas baik dengan harga diskon di dalam lingkungan belanja yang nyaman.
Carrefour Indonesia memilikisekitar 28,000 karyawan, baik karyawan langsung
maupun tidak langsung, seperti SPG,cleaning service, dll. Carrefour Indonesia
telah bermitra dengan sekitar 4,000 pemasok yanghampir 70% adalah UKM
(Usaha Kecil Menengah).Carrefour Indonesia juga telah memberikan kontribusi
dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah di sektor pertanian dengan

membeli 95% produk dari pasar domestik,meningkatkan kehidupan petani dengan


menjaga hubungan jangka panjang dan memperluasakses pasar di gerai Carrefour
Indonesia, meningkatkan perkembangan kualitas produk lokaldengan
memperkenalkan metode pertanian modern dan lebih aman, misalnya
pengembangansecara aktif penggunaan pupuk alami, dan menerapkan sistem
kontrol pengelolaan air.
3.2 Visi dan Misi Carrefour
Visi PT. Carrefour Indonesia
Menjadi ritel nomor satu di Indonesia
Misi PT. Carrefour Indonesia
Menciptakan toserba dengan konsep tempat belanja keluarga;
Memberikan pilihan dan kualitas ke semua orang
Menciptakan harga yan diinginkan konsumen dan penyediaan lokasi yang dekatd
engan rumah
Membangun kerja sama yang baik dengan para pemasok yang berkualitas
Memberikan dukungan yang terbaik bagi karyawan untuk berkembang dan
mencapai potensi maksimal guna memberikan pelayanan yang memuaskan
kepada pelanggan.
3.4 Supply Chain Management pertama PT Carrefour.
Carrefour sebenarnya telah menerapkan SCM sejak lama, yaitu ketika Carrefour
baru memiliki beberapa gerai. SCM yang diterapkan masih sangat sederhana.
Fungsinya hanya untuk membantu proses penerimaan barang di gerai, dan masih
terfokus pada barang pangan siap saji. Sebagai contoh makanan siap saji adalah
hamburger, hot dog, pizza, kue dan roti, yang proses pengolahannya dilakukan di
setiap gerai Carrefour. Sedangkan pengiriman barang dilakukan dengan mengirim
barang langsung ke gerai Carrefour yang dilakukan oleh para pemasok.
Berikut adalah kendala yang dihadapi Carrefour sebelum melakukan
implementasi SCM yang baru:

1.

Sistem informasi tidak efektif dan efisien.

Tidak efektif: karena pengolahan data menjadi tidak akurat dan sulitnya mengatur
dan mengontrol aktivitas suplai, produksi, dan pengiriman di setiap gerai yang
ada.
Tidak efisien: karena kerugian akibat lost of sales, kerugian akibat kerusakan
barang, kerugian akibat besarnya biaya transportasi dsb; serta kerugian waktu
akibat sulitnya mengkoordinasi aktivitas di setiap gerai-nya.
2.

Sulitnya dalam mendistribusikan barang ke setiap gerai Carrefour.

Sulitnya proses pendistribusian barang-barang dari pemasok ke gerai-gerai


Carrefour yang jumlahnya tidak sedikit. Biaya transportasi untuk distribusi tinggi
danmembutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Dan tidak menutup kemungkinan
terjadiketerlambatan dalam memasok barang, sehingga menyebabkan lost of sales
bagisupplier.
3.

Adanya kendala komunikasi antar Carrefour dengan pemasok.

Terjadinya miscommunication dengan pemasok, terjadinya lag pada saat


pemesanan dan pengiriman, terjadinya kesalahan data, dsb.
4.

Kurangnya loyalitas pemasok terhadap Carrefour.

Pemasok lebih mementingkan pelanggan lainnya. Baik pada saat melayani


permintaan,maupun kualitas produk yang diberikan.
5.

Lost of sales.

Kendala terhadap ketersediaan stok barang bagi pelanggannya. Konsumen yang


seharusnya dapat membeli barang-barang yang mereka butuhkan, tetapi karena
waktu pemasukan barang dan kerusakan barang menbuat konsumen harus
kehilangan produk yang mereka inginkan
3.5 Supply Chain Management baru PT Carrefour.
Carrefour kemudian membeli sebuah aplikasi ternama khusus untuk rantai
pasokan dan sekaligus mampu menjalankan Warehouse Management System,
yakni InfoLog (InfologSolutions PVT Ltd.). Dengan InfoLog, semua proses
dalam rantai pasokan bisa diintegrasikan.

Selain itu, sistem ini memudahkan kolaborasi Carrefour dengan para pemasok.
Meskipun, belum semua pemasok terintegrasi. Saat ini Carrefour berfokus pada
efisiensi yang bias diberikan, sehingga bisa dinikmati oleh pelanggan berupa
keberadaan produk berkualitasdengan harga yang kompetitif.
Software infolog ini menangani beberapa proses bisnis dalam supply chain
management Carrefour yaitu meliputi :
a.Inbound Logistics
Inbound logistics merupakan aktivitas penerimaan dan penggudangan barang.
Kegiatan ini meliputi:
Advanced Shipping Notification (ASN),
Reservasi Lokasi,,
Put Away.
b.Perencanaan dan pengadaan persediaan
Carrefour menetapkan tingkat persediaan untuk menjalankan operasional
hariannya.
Tetapi karena Carrefour menggunakan sistem cross dock yang bersifat just in
time sehingga persedian yang ada menjadi sangat sedikit dikarenakan fungsi
utama gudang untuk meredistribusi produk. Definisi tingkat persediaan ini terbagi
dalam tiga tingkatan yaitu:
-Tingkat persediaan minimum
-Tingkat persediaan maksimum
-Tingkat reorder Carrefour memiliki dua Distribution Center, sehingga terdapat
kemungkinan terjadinya stock transfer
Sistem yang digunakan dalam mengontrol proses distribusi dari para pemasok
adalah system Central Order Pool (COP). Sistem ini berfungsi untuk melakukan
proses pesanan secara otomatis dan terpusat berdasarkan jumlah persediaan
produk di gerai.

c. Operasi Gudang
Kegiatan operasi gudang meliputi:
-Mendefinisikan tipe gudang,
-Manajemen ruang berdasarkan kapasitas dan volume,
-Cycle count dan stock adjustment
d.Outbond Logistics Aktivitas outbound logistic smeliputi:
-Penangkapan pesanan pembeli, distribusi, dan penjualan
-Pembuatan daftar angkut berdasarkan aturan angkut dan konfirmasi angkut
-Konfirmasi pemuatan dan pengiriman
-pembuatan invoice dan packs
e. Laporan
Laporan yang dibuat untuk keperluan manajemen dan teknis terdiri atas laporan
sebagai berikut:
Resep dan pengiriman
Buku besar dan laporan persediaan
Daftar angkut dan daftar kemas
Invoice
-Laporan saran lokasi penyimpanan
-Laporan saran persediaan SKU
-Laporan cycle count
-Laporan Fullfillment
-Lokasi kosong
-Kartu stok
Supply Chain Management yang dibangun Carrefour berdasarkan perhitungan
tingkat optimasi dari pabrik atau pemasok sampai ke rak gerai.
Metode yang dipakai Carrefour untuk SCM ini dengan menerapkan proses just-intime (JIT) di pusat distribusi (Distribution Center), yang disebut Cross Dock .
Distribution center adalah pusat penerimaan barang dari seluruh supplier
Carrefour. Supplier tidak lagi harus mengantar barang ke masing-masing gerai,

namun cukup mengirimkannya kedistribution center , yang kemudian akan


dikirimkan ke masing-masing gerai yang dimiliki Carrefour sesuai dengan jumlah
yang dibutuhkan.
Tujuannya adalah untuk mengefisienkan waktu sehingga tidak memerlukan
adanya stok di pusat distribusi. Jadi ketika pemasok mengirim barang hari ini ke
Distribution Center Carrefour di Lebak Bulus, maka keesokan harinya barang
tersebut akan didistribusikan ke gerai-gerai. Sehingga metode Cross Dock
memungkinkan proses yang lebih transparan dan cepat dalam mendistribusikan
produk karena tidak ada produk yang terdegradasi (tertinggal) digudang.
Supply Chain Management yang dikembangkan Carrefour tidak hanya
berdasarkan proses pergerakan fisik produk, melainkan memperhatikan pula aliran
informasi.
Untuk kebutuhan dalam proses aliran order, pihak Carrefour mengembangkan
Central Order Pool (COP), dimana proses pengorderan dilakukan secara otomatis
dan terpusat berdasarkan jumlah stok digerai. Untuk melakukan pemesanan
barang dengan seluruh pemasok, Carrefour menggunakan sistem Electronic Data
Interchange (EDI). Pemasok dapat menerima order melalui Web. Tidak dapat
dipungkiri ada beberapa pemasok yang sudah mengintegrasikannya dengan sistem
Enterprise Resourch Planning yang mereka miliki. Selanjutnya, mereka
menyampaikan(submit) order itu ke pabriknya, lalu barang pun dikirim ke
Distribution Center Carrefour.
Kunci utama dari proses order tersentralisasi adalah akurasi data stok di gerai dan
pusatdistribusi Carrefour. Untuk itu pihak Carrefour menerapkan proses cycle
count (penghitungan stok menggunakan sampling setiap hari).Dengan begitu,
akurasi data di pusat distribusi diklaim hampir selalu 100%, walaupun mengelola
puluhan ribu jenis produk.

3.6 Contoh Pemasok Carrefour indonesia

CV Mulyatama

CV Mulyatama adalah pemasok private label untuk tempat CD, tempat tisu di
mobil,dan sebagainya. CV Mulyatama bergabung menjadi pemasok Carrefour
sejak Februari2008. Menurut mereka rantai pasokan baru yang dijalankan
Carrefour sangat bagus dan memiliki keunggulan yaitu sangat efisien dari segi
waktu dan tenaga kerja.

Unilever

Unilever Indonesia, salah satu supplier besar yang menjadi pemasok Carrefour
sejak 1998 (ketika peritel asal Prancis ini baru membuka gerainya di Cempaka
Putih), jugamerupakan pemasok pertama yang ikut serta dalam pengiriman
terpusat (centralizeddelivery) sejak pertama kali Carrefour menerapkan sistem
rantai pasokan baru.Dengan sistem pengiriman terpusat ini, Unilever sebagai
pemasok tidak perlu lagi mengirim barang langsung ke gerai-gerai Carrefour, tapi
cukup ke gudang Carrefour. Carrefour kemudian akan mengirim barang Unilever
ke gerai bersama-sama dengan barang dari pemasok lain.Sistem pengiriman
terpusat ini merupakan kolaborasi yang baik antara Unilever denganCarrefour.
Apabila dilihat dari rantai pasokan secara keseluruhan, kolaborasi ini
menghasilkan
3.7 Manfaat Penerapan SCM di Carrefour

Hasil data stok yang lebih akurat.Beberapa manfaat keakuratan data yang

dapat dirasakan oleh Carrefour:

Mengetahui jumlah stok barang yang ada di Distribution Center maupun

disetiap gerai;

Ketersediaan produk di gerai lebih terjamin.

Mengantisipasi terjadinya keterlambatan pengiriman barang maupun out of

stock dari pemasok

Memenuhi permintaan pelanggan pada saat yang dibutuhkan

Terjadinya efisiensi biaya.Mengurangi biaya penyimpanan, biaya transportasi,

markdown cost (penurunan harga produk yang tidak laku dijual dengan harga
normal), dan stock out cost.

Mengurangi inventori barang.

Mengurangi stok barang yang berlebihan, karena sudah memperkirakan barang


mana yang laku dipasar dan yang tidak, dan berapa banyak jumlah barang yang
dipesan.Sehingga tidak terjadi penumpukan barang di gudang maupun di gerai.

Menjamin kelancaran arus barang.

Barang dikirim ke setiap gerai dari Distribution Center tanpa adanya proses

penyimpanan digudang. Dan dikirim sesuai dengan jumlah yang kebutuhkan


setiapgerai. Sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinyalost of sales

Menjamin mutu.

Kualitas dan mutu lebih terjamin, karena barang langsung dari pemasok dan
didistribusikan langsung ke gerai-gerai, tanpa adanya pengendapan barang di
gudang.
3.8 Kelemahan Penerapan Supply Chain Management yang Baru

Memerlukan biaya maintenance yang besar;

Memerlukan tenaga ahli di bidang IT untuk implementasi, maintenance, dan

pelatihan

Kurangnya partisipasi pemasok dalam distribusi.

Tingkat partisipasi pemasok untuk bergabung dengan sistem distribusi masih


kurang.Padahal, service level para pemasok masih di bawah ekspektasi Carrefour.
Saat ini,rata-rata pemasok yang mengantar langsung ke gerai Carrefour memiliki
service level50%. Misalnya, kalau pihak Carrefour memesan 100 unit, mereka
hanya mampu memasok 50 unit.
3.9 Tantangan Penerapan Supply Chain Management yang Baru:
Tantangan pada saat Penerapan SCM
a) Merekrut tenaga ahli dibidang teknik informasi dan manajemen perusahaan
b) Penyesuaian software InfoLog.

c) Membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi;


d) Pelatihan manajemen perusahaan mengenai sistem yang baru.
e) Tantangan pada saat Penerapan SCM Terjadi-nya data lag, karena pemesanan
suplai ke pemasok berbasis online, maka tidak menutup kemungkinan adanyadata
lag,
penyebabnya dapat karena kerusakan alatkomunikasi sampai koneksi internet.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Penerapan Sistem Manajemen Rantai ( Supply Chain Management ) dengan
memanfaatkan teknolofi informasi dan koneksi internet dapat mengoptimalkan
proses bisnis dari segi pengeluaran biaya dan mengoptimalkan pendapatan Karena
disini UKM tak perlu banyak mengeluarkan biaya untuk mendistribusikan produk
ke setiap tempat atau toko yang berbeda, dan dengan penerapan SCM ini sangat
membantu pegawai carrefour, pemasok sampai konsumen.
Saran
Saran yang saya berikan :
1.

Penggunaan Teknologi Informasi dalam penerapan Supply Chain

Management pada suatu perusahaan sangat diperlukan untuk membantu


perusahaan tersebut meningkatkan proses bisnisnya.
2.

Menjalin hubungan yang lebih baik dengan para supplier sehingga jika terjadi

masalah.
3. Terus mengembangkan SCM dengan teknologi yang canggih, sehingga tidak
akan kalah dengan pesaing pesaingnya

DAFTAR PUSTAKA
Managing the Supply Chain Definitive Guide for the Business Professional by
Simchi-Levi, David, Kaminsky, Philip (Jan 2, 0003)
Managing the Supply Chain : The Definitive Guide for the Business Professional
by David Simchi-Levi, Philip Kaminsky and Edith Simchi-Levi (Dec 29, 2003)
Dyche, Jill. 2012. The SCM Handbook. Addison-Wesley, USA.
OBrien, James.A. 2005. Introduction To Information System : Essential for The e
Business Enterprise, 11th edition. McGraw Hill, New York.
Service Management: Operations, Strategy, and Information Technology by James
A. Fitzsimmons and Mona J. Fitzsimmons (Mar 2004)
Widjayano, Budianto Yasmana. Tunggal. 2007, Konsep Dasar Supply Chain
Management (SCM)., Jakarta.
Operations and Supply Management by Jacobs / Chase / Aquilano (2009)
Pujawan, I Nyoman. (2005). Supply Chain Management. Edisi Pertama. Guna
Widya,
Surabaya.
Lembito, Hoetomo. (2006). Produktivitas & Efisiensi dengan Supply Chain
Management. PPM.
Jakarta.
Indrajit, Eko dan Richardus Djokopranoto. (2002). Konsep Manajemen Supply
Chain. PT
Grasindo. Jakarta.

Chopra, Sunil dan Peter Meindl. (2004). Supply Chain Management: Strategy,
Planning, and Operations. Second Edition. Prentice Hall Inc., Upper Saddle River,
New Jersey.