Anda di halaman 1dari 14

PERTEMUAN 4

PEMAHAMAN MADZHAB

Pengertian Madzhab
Secara bahasa madzhab ( )berasal dari shighah
mashdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata yang
menunjukkan tempat) yang diambil dari fiil
madhi dzahaba ( )yang berarti pergi. Dan bisa
juga berarti al-rayu ( )artinya pendapat.Madzhab
juga berarti pendirian.
Sedangkan madzhab menurut istilah para faqih
madzhab mempunyai dua pengertian yaitu:
1. Pendapat salah seorang imam mujtahid tentang hukum
suatu masalah.
2. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang
imam.

Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa


pengertian madzhab adalah: hasil ijtihad seorang imam
mujtahid tentang hukum suatu masalah atau tentang
kaidah-kaidah istinbath. Dengan demikian, pengertian
bermadzhab adalah mengikuti hasil ijtihad seorang
imam tentang hukum suatu masalah atau tentang
kaidah-kaidah istinbathnya.
Munculnya madzhab-madzhab menunjukkan betapa
majunya perkembangan hukum islam pada waktu itu.
Hal ini terutama disebabkan oleh tiga faktor yang sangat
menentukan bagi perkembangan hukum islam sesudah
wafatnya Rasulullah SAW. Yaitu:

1. Semakin luasnya daerah kekuasaan islam, mencakup


wilayah-wilayah di semenanjung arab, irak, mesir,
syam, parsi dan lainnya.
2. Pergaulan kaum muslimin dengan bangsa yang
ditaklukkannya. Mereka terpengaruh oleh budaya, adat
istiadat serta tradisi bangsa tersebut.
3. Akibat jauhnya Negara-negara yang ditaklukkan itu
dengan ibu kota khilafah (pemerintahan) islam,
membuat para gubernur, para hakim dan para ulama
harus melakukan ijtihad guna memberikan jawaban
terhadap problem dan masalah-masalah baru yang
dihadapi.

PARA IMAM MADZHAB

1.

2.
3.
4.

Hanafi (Abu hanifah an nukman bin tsabit bin zufi at


tamimi). Lahir di Kuffah (Irak) tahun 80 150 H / 699
767 M. mempunyai pertailan darah dengan ali bin
abi thalib.
Maliki (Malik bi anas). Lahir di medinah tahun 93
179 / 712 795 M.
SyafiI (muhammad bin idris asy syafiI al quraisyi)
lahir di ghazzah tahun 150 204 H / 769 820 M.
Hambali (abu abdullah ahmad bin muhammad bin
hambal bin hilal asy syaibani). Lahir di baghdad 164
241 H / 780 855 M.

Pernyataan para imam madzhab untuk mengikuti


sunah dan meninggalkan yang menyalahi sunah

1.
a.
b.

c.

Abu Hanifah
.Jika suatu hadis shahih, itulah madzhabku
.Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami
bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil
sumbernya
Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang
bertentangan dengan Al Quran dan hadis Rasulullah
saw., tinggalkanlah pendapatku itu

2. Imam Anas Bin Malik


a. .Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah,
terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku.
Bila sesuai dengan Al Quran dan sunnah, ambillah, dan
jika tidak sesuai dengan Al Quran dan sunnah,
tinggalkanlah.

b. .Siapapun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima,


kecuali hanya Nabi saw. sendiri
3. Imam SyafiI

a. Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah dan


mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan atau
sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah
tetapi berlawanan dengan pendapatku, apa yang
disabdakan Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku.

b. .Seluruh kaum muslimin telah sepakat bahwa orang yang


secara jelas telah mengetahui suatu hadis dari Rasululah
tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat
seseorang
c. .Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang
berlainan dengan hadis Rasulullah, peganglah hadis
Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu
d. .Bila suatu hadis shahih, itulah madzhabku
e. .Kalian lebih tahu tentang hadis dan para rawinya daripada
aku. Apabila suatu hadis itu shahih, beritahukanlah kepadaku
biar di manapun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau
Syam, sampai aku pergi menemuinya
f. Bila suatu masalah ada hadisnya yang sah dari Rasulullah
saw. dari ahli hadis, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti
aku akan mencabutnya, baik selama aku masih hidup
maupun setelah aku mati

g. .Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat


yang ternyata menyalahi hadis Nabi yang shahih, ketahuilah
bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna
h. .Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang
shahih dari Nabi, hadis Nabi lebih utama dan kalian jangan
bertaqlid kepadaku
4. Imam Ahmad Bin Hanbal
a. .Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik,
Syafii, Auzai dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka
mengambilnya
b. .Pendapat Auzai, Malik, dan Abu Hanifah adalah rayu
(pikiran). Bagi saya semua rayu sama saja tetapi yang
menjadi hujjah agama adalah yang ada pada hadis.
c. .Barang siapa yang menolak hadis Nabi, dia berada di jurang
kehancuran.

KESALAHAN KOLEKTIF UMAT


a. Tidak mengerti anjuran para imam madzhab
b. Bebas madzhab
Kesimpulan
a. Ahli hadits lebih mendekati kebenaran daripada ahli fiqih,
karena ahli hadis sangat hati-hati
b. Adanya kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari
ilmu hadits dan berbagai macam kaidahnya
c. Lemahnya motivasi umat islam dalam mengkaji berbagai
macam fatwa yang dikemukakan oleh imam madzhabnya
sendiri

d. Terjadinya kesalahan kolektif pada umat yang


justru disebabkan oleh ketidakfahaman mereka
akan hadis yang dijadikan hujah dalam
mengemukakan argumen yang tidak sepatutnya
digunakan.
e. Kesalahan yang paling ironis adalah hujah yang
digunakan oleh para muqollid justru sangat
bertentangan dengan firman-firman Allah yang
dengan tegas melarang umat untuk berselisih,
bercerai-berai, membanggakan golongannya.

Ijtihad
ijtihat menurut bahasa adalah bersungguh - sungguh
dalam mencurahkan fikiran.
Ijtihad menurut Istilah adalah penggunaan akal sekuat
mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum
tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplesit dalam alQuran dan as-Sunnah.

Kedudukan Ijtihad:
Ijtihad merupakan dasar hukum Islam yang ketiga. Ijtihad
terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat
melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab
ijtihad merupakan aktivitas akal pikiran manusia yang
relatif.
b. Sesuatu yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku
bagi seseorang atau sekelompok orang tapi tidak
berlaku bagi orang lain.
c. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah
mahdlah. Sebab urusan ibadah mahdlah hanya di atur
oleh Allah dan Rasul-Nya.

d. Keputusan Ijtihad tidak boleh bertentangan dengan alQuran dan as-Sunnah


e. Dalam berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktorfaktor
motivasi,
akibat
kemaslahatan
umum,
kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri
dan jiwa dari pada ajaran Islam
Cara Berijtihad
a. Qiyas secara bahasa artinya perbandingan.
b. Ijma secara bahasa ialah kesepakatan.
c. Istihsan secara bahasa yaitu mencari kebaikan.
d. Mashalihul Murshalah= Utilitty (manfaat)