Anda di halaman 1dari 27

Acara I

KINETIKA FERMENTASI DALAM


PRODUKSI MINUMAN VINEGAR
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI
Disusun oleh :
Nama : Sherly Arga Tirtoatmojo
NIM : 12.70.0153
Kelompok C5

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

1. HASIL PENGAMATAN
1.1. Hasil Pengamatan kinetika didalam Produksi Minuman Vinegar
Hasil pengamatan mengenai kinetika didalam produksi minuman vinegar dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengamatan Kinetika Fermentasi dalam Produksi Minuman Vinegar

Kel

Perlakuan

Ratarata/
MO
tiap
petak

MO tiap petak

Waktu

Ratarata/
MO tiap
cc

1
2
3
4
N0
5
48
5
22
10
4 x 107
N48
48
70
77
49
61
24,4 x 107
Sari Apel +
C1
N72
50
83
75
48
64
25,6 x 107
S. cerevisiae
N96
79
93
72
88
83
33,2 x 107
N120
153
155 160 120
147
58,8 x 107
N0
21
18
28
17
21
8,4 x 107
N48
30
43
35
44
38
15,2 x 107
Sari Apel +
C2
N72
54
70
68
56
62
24,8 x 107
S. cerevisiae
N96
59
63
62
68
63
25,2 x 107
N120
98
104
88
94
96
38,4 x 107
N0
22
25
23
18
22
8,8 x 107
N48
50
60
56
62
57
22,8 x 107
Sari Apel +
C3
N72
70
68
55
67
65
26 x 107
S. cerevisiae
N96
248
164 166 140
179,5
71,8 x 107
N120
65
67
111
84
81,75
32,7 x 107
Sari Apel +
N0
19
21
23
20
20,75
8,3 x 107
C4
N48
54
45
47
34
45
18 x 107
S. cerevisiae
Tabel 1. Lanjutan Pengamatan Kinetika Fermentasi dalam Produksi Minuman Vinegar

Kel

C5

Perlakuan

Sari Apel +
S.
cerevisiae

MO tiap petak

Waktu

N72
N96
N120
N0
N48
N72
N96
N120

1
76
105
98
7
48
38
50
258

2
80
96
72
22
30
44
45
232

3
79
121
110
10
34
36
38
182

4
73
133
107
5
32
38
52
172

OD (nm)

0,1464
0,5485
0,7451
0,9552
1,5414
0,1547
0,5801
0,5254
0,6200
1,4391
0,1849
0,5022
0,6403
0,7286
1,5911
0,1516
0,6481

Ratarata/
MO tiap
petak

Ratarata/
MO tiap
cc

OD (nm)

77
113,75
96,75
11
36
36,5
46,25
212,5

30 x 107
45,5 x 107
38,7 x 107
4,4 x 107
14,4 x 107
14,6 x 107
18,5 x 107
85 x 107

0,5175
0,6463
1,0229
0,1887
0,3777
0,7303
0,7602
1,0151

Berdasaarkan Tabel 1. diatas, dapat dilihat bahwa hasil fermentasi minuman vinegar
tiap kelompok berbeda dan juga ada beberapa kelompok yang hasilnya naik turun. Pada
parameter jumlah sel/petak dan jumlah sel/cc, untuk semua kelompok memiliki
kecenderungan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu selama fermentasi
meskipun ada beberapa kelompok yang memiliki nilai berfluktuasi. Untuk parameter ini
nilai tertinggi ada pada waktu fermentasi ke120, dimana nilai pada C1 yaitu 147 dan
58,8 x 107; pada kelompok C2 sebesar 96 dan 38,4 x 10 7; untuk kelompok C3, nilai
tertingginya sebesar 81,75 dan 32,7 x 107; pada kelompok C4 sebesar 96,75 dan 38,7 x
107; dan terakhir pada kelompok C5 nilai tertingginya adalah sebesar 212,5 dan 85 x
107. Selanjutnya untuk parameter OD, pada kelompok C1, C3, dan C5 mengalami
kenaikan dari waktu ke waktu sedangkan pada kelompok C2 dan C4 nilai OD nya
berflutkuasi, dimana pada kelompok C1 nilai tertingginya adalah 1,5414; kelompok C3
nilai terbesarnya adalah 1,5911; dan untuk kelompok C5 nilai tertingginya adalah
1,0151. Kemudian untuk parameter pH, pada kelompok C1 dan C2 mengalami
penurunan, sedangkan pada kelompok C3, C4, dan
C5 nilainya berfluktuasi, dimana nilai tertinggi tinggi untuk kelompok C1 aadalah 3,38
dan pada kelompok C2 adalah 3,54. Terakhir, pada parameter total asam, pada
kelompok C1 dan C3 menunjukkan hasil yang terus meningkat dari waktu ke waktu;
untuk C4 mengalami penurunan nilai total asam; dan pada kelompok C2 dan C5
menunjukkan nilai yang berfluktuasi.
1.2.

Grafik Pengamatan Kinetika

Fermentasi didalam Produksi Vinegar


1.2.1. Grafik Hubungan OD dan Waktu
Hasil pengamatan hubungan OD dan waktu dapat dilihat pada Grafik 1.
Grafik 1. Hubungan OD dan Waktu

Grafik Hubungan OD dan Waktu


1.6
1.4
1.2

C1

C2

OD 0.8

C3

0.6

C4

0.4

C5

0.2
0
N0

N48

N72

N96

N120

Waktu

Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa hubungan optical density (OD) dan
waktu menunjukkan pola yang berbeda-beda. Pada kelompok C1 dan C4, menunjukkan
peningkatan OD seiring bertambahnya waktu fermentasi. Kemudian untuk C2 dan C4
memperlihatkan nilai OD yang meningkat hingga waktu 48 jam, lalu menurun pada
waktu 72 jam dan kemudian mulai meningkat lagi hingga waktu 120 jam. Terakhir pada
kelompok C5 dengan bertambahnya waktu fermentasi, nilai OD akan terlihat banyak

meningkat hingga waktu 72 jam, lalu pada waktu 96 jam hanya terlihat sedikit
peningkatan dan kemudian lebih meningkat lagi pada waktu ke 120 jam.
1.2.2. Grafik Hubungan Jumlah Sel dan Waktu
Hasil pengamatan jumlah sel dan waktu dapat dilihat pada Grafik 2.
Grafik 2. Hubungan Jumlah Sel dan Waktu

Grafik Hubungan Jumlah Sel dan Waktu


1000000000

Jumlah
Sel

800000000

C1

600000000

C2
C3

400000000

C4
C5

200000000
0
N0

N48

N72

N96

N120

Waktu

Berdasarkan Grafik 2. dapat dilihat bahwa pada kelompok C1, C2, dan C5
menunjukkan peningkatan jumlah sel seiring bertambahnya waktu fermentasi. Namun
pada kelompok C1 pada waktu fermentasi 48 jam peningkatan jumlah sel relatif sedikit
dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya; untuk kelompok C2 pada waktu fermentasi
ke 96 jam, peningkatan jumlah selnya relatif lebih sedikit; dan kelompok C5
peningkatan jumlah selnya relatif stabil dari waktu fermentasi 48 jam hingga 96 jam.
Kemudian untuk kelompok C3 dan C4, peningkatan jumlah sel terjadi hingga waktu
fermentasi 96 jam dan menurun ketika memasuki waktu fermentasi 120 jam.
1.2.3. Grafik Hubungan Jumlah Sel dan pH
Hasil pengamatan jumlah sel dan pH dapat dilihat pada Grafik 3.
Grafik 3. Hubungan Jumlah Sel dan pH

Grafik Hubungan Jumlah Sel dan pH


1000000000
800000000
600000000
400000000
200000000
0

C1
C2
C3

Jumlah Sel

C4
C5

pH

Berdasarkan grafik hubungan antara jumlah sel dan pH diatas, dapat dilihat bahwa
hampir semua kelompok mengalami peningkatan jumlah sel seiring dengan
meningkatnya nilai pH vinegar dari waktu ke waktu. Namun pada kelompok C4 terlihat
penurun
1.2.4. Grafik Hubungan Jumlah Sel dan OD
Hasil pengamatan jumlah sel dan OD dapat dilihat pada Grafik 4.
Grafik 4. Hubungan Jumlah Sel dan OD

Grafik Hubungan Jumlah Sel dan OD


1000000000
800000000
600000000
400000000
200000000
0

C1
C2
C3

Jumlah Sel

C4
C5

OD

Berdasarkan hasil Grafik 4. dapat dilihat bahwa hubungan antara jumlah dengan nilai
OD berfluktuasi. Pada kelompok C1, C2 dan C5 memiliki hubungan antara jumlah sel
dan nilai OD yang berbandinng lurus, dimana dengan bertambahnya jumlah absorbansi
akan meningkatkan nilai OD. Kemudian pada C3 dan C4 menunjukkan hubungan yang
berbanding terbalik, dimana nilai OD mengalami penurunan seiring menurunnnya
jumlah sel.
1.2.5. Grafik Hubungan Jumlah Sel dan OD
Hasil pengamatan jumlah sel dan OD dapat dilihat pada Grafik 5.
Grafik 5. Hubungan Jumlah Sel dan OD

Grafik Hubungan
Jumlah Sel dan
Total
Asam
C1
C2
C3
C4
Jumlah
C5 sel
Total Asam

Berdasarkan grafik diatas, diketahui bahwa hubungan antara jumlah sel dengan total
asam menunjukkan grafik yang berfluktuasi. Pada kelompok C1, C2, dan C5
menunjukkan grafik yang terus meningkat, yang berarti dengan bertambahnya jumlah
sel maka total asam juga akan meningkat. Kemudian pada kelompok C3 dan C5
menunjukkan grafik yang meningkat lalu menurun, dimana dengan menurunnya jumlah
sel maka menurunkan total asam.

2. PEMBAHASAN
3.
4.
Fermentasi dapat didefinisikan sebagai proses perubahan bahan organik dengan
pemanfaatan agen biologis terkhusus enzim sebagai biokatalis dan juga mikroorganisme
penghasil enzim sehingga akan menguabah struktur kimia dari bahan tersebut (Bailey &
Ollis, 1987). Menurut Winarno at al (1980), fermentasi akan menghasilkan produk
berupa CO2 dan alkohol dari hasil pemecahan gula oleh aktivitas bakteri sehingga akan
terbentuk rasa yang lebih khas. Beliau juga menambahkan bahwa proses fermentasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti substrat, jenis mikroorganisme, dan proses
metabolisme mikroorganisme tersebut.
5.
6.
Salah satu produk yang menggunakan aplikasi fermentasi adalah vinegar. Istilah
vinegar berasal dari bahasa Perancis yaitu vinaigre yang artinya anggur yang telah
asam. Ada beberapa jenis vinegar yang dikenal oleh masyarakat, yaitu
1. Cider vinegar (Apple vinegar)
7. Vinegar ini terbuat dari buah apel yang mengalamai proses fermentasi hingga
diperoleh kadar asam asetat sebesar 4 gram/100mL, kadar gula reduksi
maksimum 50% dan jumlah padatan total sebesar 1,6 %.
2. Wine Vinegar
8. Wine vinegar merupakan vinegar yang terbuat dari sari buah anggur. Vinegar
jenis ini mengandung asam asetat minimal 4 g/100 mL, jumlah padatan total
lebih dari 1 g/100 mL dan abu sebesar 0,13 g/ 100mL.
3. Spirit/Distilled/Grain Vinegar
9. Vinegar jenis ini diperoleh dari hasil fermentasi asam asetat dengan substrat
alkohol distilasi yang sudah diencerkan. Kandungan minimum asam asetat
dalam vinegar ini adalah 4 g/100 mL.
4. Malt Vinegar

10. Diperoleh dari hasil fermentasi biji-bijian yang mengandung tepung yang telah
dikecambahkan maupun salt malt tanpa melalui distilasi. Kandungan minmum
asam asetat jenis vinegar ini adalah 4 g/100 mL.
5. Sugar Vinegar
11. Sugar vinegar merupakan vinegar yang diperoleh dari hasil fermentasi molase.
Adapun kandungan asam asetat vinegar ini minimum 4 gram/100 mL.
6. Glucose Vinegar
12. Diperoleh dari hasil fermentasi larutan glukosa dan dekstrosa. Pada vinegar jenis
ini kandungan minimum asam asetatnya adalah 4 g/100 mL.
(Waluyo S., 1984).

13.
14.
14.1. Bahan dan Cara Kerja
15.
Pada praktikum ini, digunakan bahan baku berupa apel malang. Bahan baku ini
sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Winarno et al (1980), bahwa apel
merupakan buah yang mengandung gula tinggi sehingga cocok digunakan untuk
substrat pada proses fernentasi. Menurut jurnal yang berjudul Aroma Composition and
Polyphenol Content of Ciders Available in Latvian Market, cider yang akan dibuat
pada praktikum ini menggunakan metode natural cider (tradisional) dimana pada
prosespembuatannya tidak dilakukan penambahan gula maupun karbondioksida
melainkan diperoleh dari pengepresan apel cider yang selanjutnya ditambahkan yeast
Saccharomyces cerevisiae (Dolge et al., 2012).
16.
17.
Dalam pembuatan vinegar pada praktikum ini, mula-mula apel malang dicuci
menggunakan air mengalir untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada
buah apel. Kemudian apel tersebut dipotong kecil-kecil dan dihancurkan dengan juicer
hingga diperoleh sari apel sebanyak 250 ml tiap kelompok.

Proses penghancuran

menggunakan juicer ini bertujuan untuk mengeluarkan kandungan gula yang ada
didalam buah apel (Ikhsan, 1997). Proses pemotongan dan penghancuran dapat dilihat
pada Gambar 1 dan Gambar 2.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Gambar 1. Pemotongan apel

Gambar 2. Pengahancuran apel

10

25.

Setelah itu, dimasukkan ke dalam botol kaca dan ditutup menggunakan plastik.

Lalu untuk disterilisasi menggunakan autoclave pada suhu 121 C selama 15 menit.
Proses sterilisasi ini bertujuan untuk membunuh sebagian bakteri patogen dan untuk
mengurangi perkembangan bakteri lain selama pemanasan dan saat penyimpanan.
Tahapan sebelum di sterilisasi dan ketika disterilisasi sari apel dapat dilihat pada
Gambar 3.
26.
27.
Gambar 3. Proses Sterilisasi menggunakan autoclave
28.

Selanjutnya, sari apel yang sudah di sterilisasi tadi


didinginkan hingga agak suam-suam kuku. Proses pendinginanan ini bertujuan untuk
mencegah kematian khamir atau ragi yang ditambahkan ke dalamnya akibat panas dan
untuk mengoptimalkan aktivasinya (Muljohardjo, 1988). Setelah itu ditambahkan kultur
biakan yeast berupa Saccharomyces cereviceae menggunakan pipet volum dan
dimasukkan ke dalam media pertumbuhan (sari apel). Penambahan kultur ini dilakukan
secara aseptis dengan tujuan untuk mencegah resiko kontaminasi oleh mikroorganisme
kontaminan (Dwidjoseputro, 1994). Kemudian dilakukan inkubasi pada suhu ruang
(25C-30C) dengan perlakuan shaker. Proses inkubasi menggunakan shaker ini
bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi mikroba (Stanburry & Whitaker, 1984).
Ditambahkan pula oleh Said (1987) bahwa dengan adanya penggoyangan (shaker) maka
suplai oksigen pada substrat akan tercukupi dan pengunaan sumber karbonnya pun akan
maksimal sehingga pertumbuhan mikroorganisme akan semakin cepat.
29.
30.
Selain menggunakan buah apel, vinegar dapat dibuat dari buah-buahan lainnya.
Hal ini terbukti pada jurnal yang berjudul Kajian Perbedaan Kondisi Fermentasi
Alkohol dan Konsentrasi Inokulum Pada Pembuatan Cuka Salak (Salacca zalacca).
Pada pembuatan vinegar ini digunakan bahan baku berupa buah salak. Pada proses
fermentasi ini digunakan kultur berupa Saccharomyces cereviceae dan Acetobacter
acetii, dimana kultur Saccharomyces cereviceae yang digunakan sudah sama seperti
yang dilakukan pada praktikum sehingga penambahan jenis kultur biakan pada
praktikum kali ini sudah sesuai. Ditambahkan oleh teori Gaman & Sherrington (1994)

11

bahwa

Saccharomyces

cereviceae

ini

mampu

menguraikan

bahan

pangan

berkarbohidrat tinggi menjadi alkohol dan CO2 pada proses fermentasi alkohol.
31.
32. Kemudian untuk tahapan selanjutnya, adalah pengujian sampel vinegar. Sampel
ini diuji setiap 24 jam selama 5 hari. Untuk pengujian sampel, mula-mula
sampel diambil sebanyak 30 ml dengan pembagian 10 ml untuk uji biomassa
menggunakan haemocytometer; 10 ml untuk uji total asam; dan 10 ml untuk uji
pH dan OD. Pengambilan sampel ini dilakukan secara aseptis untuk mencegah
adanya kontaminasi (Dwidjoseputro, 1994). Kemudian sisa sampel yang masih
ada dalam botol tetap di shaker disuhu 25C-30C hingga 5 hari. Suhu inkubasi
ini sudah sesuai dengan teori dari Fardiaz (1992) bahwa suhu optimum untuk
pertumbuhan yeast berkisar antara 25C-30C. Pernyataan tersebut juga
diperkuat oleh jurnal Damtew et al (2012) yang mana bahwa S.cereviceae lebih
mampu bertahan hidup padasuhu 25C dibandingkan pada suhu 18C. Pada hasil
penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi total
biomassa sel dan kinetika dari pertumbuhan mikroorganisme adalah jenis
sumber nitrogen yang digunakan. Kecepatan pertumbuhan sel dan total biomassa
dihasilkan pada proses fermentasi yang mediumnya ditambahkan ammonium
sulfat 2% sebagai sumber nitrogennya. Pengambilan sampel untuk pengujian
dapat dilihat pada Gambar 4.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
Gambar 4. Pengambilan Sampel di ruang LAF
42.
42.1. Metode Analisa
42.1.1. Pengukuran Biomassa Sel
43.
Pengujian yang pertama adalah pengukuran biomassa dengan haemocytometer.
Untuk pengujian ini, mula-mula alat haemocytometer dibersihkan menggunakan
alkohol, kemudian diatas alat tersebut diteteskan sampel yang akan diuji (dari sampel 30
ml). Setelah itu, alat haemocytometer tersebut ditutup menggunakan kaca penutup yang
sudah disemprot alkohol. Selanjutnya, haemocytometer diletakkan diatas mikroskop

12

untuk diamati jumlah biomassa selnya. Pengukuran ini dilakukan mulai dari ke-0 (N 0)
hingga hari ke-5 (N120) dengan empat kali ulangan tiap pengujiannya. Penghitungan
jumlah sel dalam haemocytometer menggunakan alat bantu handcounter. Tahapan ini
sudah sesuai dengan teori dari Rostini (2007) bahwa sampel dari pipet yang sudah
bersih diteteskan pada haemocytometer kemudian ditutup dengan kaca penutup dan
dapat dilihat menggunakan mikroskop pada perbesaran 100-400 kali. Proses pengujian
menggunakan haemocytometer dapat dilihat pada Gambar 5.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
Gambar 5. Persiapan pengujian menggunakan Haemocytometer
52. Prinsip penggunaan haemocytometer adalah dengan menghitung jumlah sel yang
terlihat didalam satu kotak ditengah plat haemocytometer, dimana plat tersebut
dibatasi oleh tiga garis di keempat sisinya. Menurut Chen & Pei (2011)
mengatakan bahwa haemocytometer merupakan plat kaca yang tebagi menjadi 2
bagian yang pada tiap bagiannya memliki garis mikroskopis yang sudah digores
pada permukaannya. Haemocytometer memiliki 4 kotak besar dengan batas 3
garis besar disetiap sisinya sehingga terdapat 16 kotak kecil yang dibatasi
dengan 1 garis. Alat haemocytometer dapat dilihat pada Gambar 6.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
61.1.1. Penentuan

Total

Gambar 6. Haemocytometer

Asam

62. Untuk pengujian yang kedua adalah uji total asam. Mula-mula sebanyak 10 ml
sampel diambil (dari sampel yang 30 ml), kemudian ditambahkan indikator PP
sebanyak 3 tetes. Selanjutnya, sampel dititrasi menggunakan NaOH 0,1N hingga
warnanya berubah menjadi lebih pekat. Penambahan indikator PP ini sesuai

13

dengan teori dari Chang (1991) yang berpendapat bahwa ketika proses titrasi
menggunakan titran berupa NaOH maka indikator yang digunakan adalah PP.
Penghitungan total asam dilakukan dengan menggunakan rumus:
ml NaOH x Normalitas NaOH x 192
10 ml sampel
63. Total asam =
64.
64.1.1. Penentuan nilai pH
65.
Uji ketiga yang digunakan adalah uji pH, mula-mula sebanyak 10 ml sampel
diambil dan dimasukkan didalam beaker glass. Kemudian pH sampel diukur
menggunakan pH meter. Prinsip penggunaan pH meter adalah dengan mencelupkan
probe ke dalam sampel, dimana probe tersebut terhubung dengan meteran elektronik
yang akan mengukur dan menampilkan angka. Angka yang tertera pada layar tersebut
dinyatakan sebagai nilai pH (Juwilda, 2000). pH meter yang digunakan untuk
menentukan nilai pH sampel dapat dilihat pada Gambar 7.
66.
67.
68.
69.
70.
70.1.1. Penentuan Nilai Optical Density (OD)
71. Terakhir uji kepadatan sel menggunakan spektrofotometer. Sebanyak 10 ml
Gambar 7. pH meter
sampel diambil, kemudian masukan ke dalam kuvet. Setelah itu ukur kekeruhan
sampel pada panjang gel 660 nm. Kekeruhan yang terukur dinyatakan sebagai
kepadatan sel dalam sampel. Penggunaan panjang gelombang ini sesuai dengan
metode yang digunakan pada jurnal karya Sevda & Rodrigues (2011) bahwa
untuk mengukur optical density dari yeast Saccharomyces cereviceae adalah 660
nm.
72.
72.1. Hasil Pengujian dan Hubungan Parameter Pengujian
72.1.1. Hubungan Antara OD dengan Waktu
73.
Menurut teori dari Laily et al (2004), adanya kekeruhan pada vinegar
menunjukkan bahwnegar tersebut terdapat pertumbuhan yeast sehingga dapat dikatakan
hubungan antara keduanya berbanding lurus. Semakin tinggi nilai OD yang terbaca
pada spektrofotometer maka pertumbuhan yeast semakin tinggi. Hal ini diperjelas
dengan warna yang dihasilkan oleh vinegar, dimana semakin keruh warna vinegar maka
semakin banyak yeast yang tumbuh dalam vinegar tersebut. Beliau juga menambahkan

14

bahwa ketika mikroorganisme yang tumbuh pada fase lag maka nilai OD yang
dihasilkan akan relatif stabil. Kemudian jika mikroorganisme tumbuh pada fase log
ataupun eksponensial maka nilai OD akan meningkat sebab terjadi penambahan jumlah
mikroba dalam vinegar tersebut. Selanjutnya, ketika pertumbuhan mikroorganisme
berada pada fase stasioner, maka nilai OD yang dihasilkan akan menurun sebab bobot
massa kering dari sel tersebut menurun. Hal serupa juga dikatakan oleh Hoseney (1994),
dimana selama proses fementasi berlangsung maka warna sampel akan keruh dan kental
karena adanya penurunan pH dan perubahan fase cair menjadi keruh.
74.
75.
Umumnya pertumbuhan yeast memasuki fase eksponensial pada saat menginjak
masa inkubasi 24-48 jam, dimana selama fase tersbut yeast akan mengalami pertunasan
dan bertambah populasinya. Namun ketika yeast memasuki fase stasioner yaitu pada
waktu inkubasi lebih dari 48 jam, maka pertunasan yeast akan berhenti dan

laju

pembentukan alkohol akan berkurang. Hal ini disebab oleh habisnya ketersediaan
nutrisi substrat yang digunakan yeast sehingga lama-kelamaan yeast akan mati
(Triwahyuni et al., 2012). Selain itu, fase kematian ini juga dapat disebabkan karena
adanya metabolit berupa alkohol yang dihasilkan (Mahreni & Sri, 2011). Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa yeast mengalami fase eksponensial pada jam ke 24
hingga 48, kemudian akan stabil pada jam ke 72, dan menurun akibat kematian pada
jam ke 96.
76.
77.
Berdasarkan grafik hubungan antara nilai OD dengan waktu, terlihat hasil yang
berfluktuasi. Pada kelompok C1 terlihat peningkatan nilai OD seiring dengan
bertambahnya waktu fermentasi. Pada kelompok C2, pada jam ke 0 hingga ke 48
terlihat peningkatan nilai OD kemudian menurun pada jam ke 72 dan meningkat lagi
hingga jam ke 120. Kemudian pada kelompok C3 menunjukkan nilai OD yang terus
meningkat seiring dengan meningkatnya waktu fermentasi. Kemudian untuk kelompok
C4, memperlihatkan grafik seperti kelompok C2, dimana pada jam ke 0 hingga ke 48
mengalami peningkatan kemudian menurun pada jam ke 72 dan meningkat lagi pada
jam ke 96 hingga ke 120. Selanjutnya pada kelompok C5, grafik yang terlihat
menunjukkan peningkatan nilai OD seiring dengan meningkatnya waktu fermentasi,
namun pada jam ke 72 hingga jam ke 96 peningkatan nilai OD yang terbaca relatif
sedikit.
78.

15

79.

Dari hasil-hasil tersebut, hasil yang ditunjukkan oleh kelompok C1 hingga C5

tidak memberikan kesesuaian hasil dengan teori yang ada, dimana seharusnya
pertumbuhan yeast memiliki 3 fase pertumbuhan. Ketika yeast berada fase log, maka
nilai OD yang terbaca seharusnya meningkat; kemudian ketika memasuki fase stasioner
maka nilai OD yang terbaca akan relatif tetap atau sedikt mengalami perubahan; dan
terakhir fase kematian yang mana nilai OD akan semakin menurun. Namun jika dibahas
fase per fase, pada kelompok C1hingga C5 sudah sesuai teori dimana ketika jam ke 24
hingga ke 48, yeast sedang berada dalam fase pertunasan (fase lag) sehingga nilai OD
yang terbaca semakin tinggi. Kemudian setelah itu, yeast berada dalam fase stasioner
dimana pertumbuhan yeast relatif tetap sehingga nilai OD yang tebaca juga relatif stabil.
Untuk fase ini, kesesuain teori terlihat pada kelompok C5 menunjukkan perubahan yang
relatif sedikit. Terakhir pada fase kematian yeast sehingga nilai OD yang terbaca akan
menurun. Untuk fase ini, pada semua kelompok tidak terdapat kesesuaian hasil dengan
teori yang ada. Hasil-hasil yang tidak sesuai dengan teori ini, dikarenakan adanya
katidaktepatan dalam penggunaan alat spektrofotometer seperti penggunaan cuvet yang
tergores atau kotor, ukuran cuvet yang digunakan tidak sama, cuvet yang digunakan
tidak tepat penempatannya, dan adanya penyiapan sampel yang tidak sempurna
(Pomeranz & Meloan, 1994).
80.
80.1.1. Hubungan Antara Jumlah Sel dengan Waktu
81.
Menurut Herrero et al (2006), selama proses fermentasi akan dihasilkan asam
laktat dan asam asetat akibat adanya aktivitas yeast. Pertumbuhan yeast selama proses
fermentasi sendiri disebabkan oleh adanya nutrisi pada media yang digunakan oleh
yeast untuk tumbuh dan juga adanya kondsisi aerob yang mendukung pertumbuhan
yeast (Campelo & Isabel, 2004). Ditambahkan pula oleh Noe et al (2009) yang dalam
jurnalnya dikatakan bahwa pertumbuhan yeast juga dipengaruhi oleh beberapa faktor
lain seperti suhu dan kandungan gula sebagai nutrient yang digunakan oleh yeast.
82.
83. Pada praktikum pembuatan vinegar ini digunakan yeast berupa Saccharomyces
cereviceae. Elevri & Surya (2006) mengatakan bahwa S. Cereviceae memiliki
fase log yang singkat sebab media yang digunakan untuk pertumbuhan awal
(media starter) merupakan media yang sama seperti media fermentasi. Pada fase
pertumbuhannya, S.cereviceae akan mencapai pertengahan fase log ketika
memasuki masa inkubasi 20 jam dan akan berada pada fase stasioner pada jam

16

ke 30. Kemudian ditambahkan oleh Thontowi et al (2007) bahwa pada masa


inkubasi ke 84 jam, proses fermentasi dapat dihentikan sebab S. cereviceae
sudah memasuki fase kematian.
84.
85.

Berdasarkan hasil grafik yang diperoleh, pada kelompok C1 terjadi peningkatan

jumlah sel pada masa inkubasi ke 48 dan relatif stabil ketika memasuki jam ke 72;
kemudian meningkat lagi hingga jam ke 120. Pada kelompok C2, menunjukkan pola
yang sama dengan kelompok C1, hanya saja kestabilan jumlah sel terdapat masa
inkubasi ke 96 jam. Untuk kelompok C3, terjadi peningkatan jumlah sel pada masa
inkubasi ke 48 jam kemudian relatif stabil ketika memasuki masa inkubasi ke 72, lalu
meningkat ketika memasuki jam ke 96 dan menurun pada masa inkubasi ke 120 jam.
Pada kelompok C4, terjadi peningkatan jumlah sel pada masa inkubasi ke 0 hingga 96
jam kemudian menurun pada masa inkubasi ke 120 jam. Terakhir pada kelompok C5,
terjadi peningkatan pada masa inkubasi ke 48 jam dan stabil pada jam ke 72; kemudian
meningkat lagi hingga masa inkubasi ke 120 jam. Pada Gambar 8. dapat dilihat jumlah
sel yang dihitung mengguanakan alat haemocytometer.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
Gambar 8. Hasil Pengamatan Jumlah Sel dengan Haemocytometer pada
92.
N0, N24, N48 (dari kiri ke kanan)
93.
94.
95.
96.
97.
Gambar 8. Hasil Pengamatan Jumlah Sel dengan Haemocytometer pada
98.
99.
N0, N24, N48 (dari kiri ke kanan)
100.
Berdasarkan hasil-hasil tersebut, dapat dilihat bahwa peningkatan jumlah
sel seiring dengan lamanya proses fementasi berfluktuasi. Jika disesuaikan
dengan teori, seharusnya jumlah sel akan bertambah selama fase log, stabil
ketika memasuki fase stasioner dan menurun secara drastic ketika mencapai fase
kematian drastis (Fardiaz, 1992). Oleh karena itu, hanya ada 2 kelompok yang
memiliki kesesuaian dengan teori yang ada yaitu kelompok C3 dan C4 dan ada
beberapa kelompok yaitu kelompok C1, C3dan C5 tidak sesuai dengan dengan

17

teori yang ada. Namun jika dilihat tahap per tahap fase pertumbuhan pada
kelompok C1, C3, dan C5 masih ada sedikit kesesuaian dengan teori. Pada fase
lag, dimana terdapat pertumbuhan mikroorganisme akan menunjukkan jumlah
sel yang semakin banyak. Hal ini dapat dilihat pada semua kelompok bahwa
ketika memasuki masa inkubasi ke 48, jumlah sel S.cereviceae semakin
meningkat. Kemudian pada fase stasioner, jumlah sel S.cereviceae akan relatif
stabil atau sedikit mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat pada kelompok
C2, C3, dan C5 yang memiliki pertumbuhan sel relatif stabil pada jam ke 72 jam
(kelompok C3 dan C5) dan jam ke 96 (kelompok C2). Kemudian fase kematian,
dimana jumlah sel akan berkurang drastis. Hal ini terlihat pada kelompok C3
dan C4 yang masa akhir inkubasi (jam ke 120) menurun jumlah selnya. Untuk
kelompok C1, C2, dan C5 menunjukkan peningkatan jumlah sel dikarenakan
pada akhir masa inkubasi, masih terdapat substrat yang melimpah sehingga
yeast masih berada pada fase log dimana S.cereviceae yang sering digunakan
dalam fermentasi masih bisa melakukan penggandaan (Sevda & Rodrigues,
2011).
101.
101.1.1. Hubungan Antara Jumlah Sel Dengan pH
102. Berdasarkan grafik yang diperoleh, terlihat hasil yang berfluktuasi untuk tiap
kelompoknya. Pada kelompok C1, C2, C4 terlihat bahwa seiring dengan bertambahnya
jumlah sel maka nilai pH yang diperoleh akan semakin mnurun. Kemudian pada
kelompok C3 menunjukkan grafik hubungan yang berfluktuasi, dimana pada masa
fermentasi ke 120 jam terjadi kenaikan jumlah sel dan nilai pH. Selanjutnya pada
kelompok C5, juga terlihat hasil yang naik turun, dimana pada masa fermentasi ke 96
jam dan 120 jam terjadi kenaikan nilai pH.
103.
104.

Menurut teori dari Susanto & Bags (2011), semakin bertambahnya waktu

fermentasi yang berarti akan terjadi peningkatan jumlah sel hingga titik tertentu
dan akhirnya menurun menyebabkan nilai pH akan menurun. Hal ini
dikarenakan oleh aktivitas yeast yag memproduksi asam-asam organik seperti
asam malat, asam tartarat, asam sitrat, asam asetat, asam butirat, dan juga asam
propionat sebagai produk sampeingan hasil fermentasi selain etanol. Oleh karena
itu, kesesuaian teori dengan hasil ditunjukkan oleh kelompok C1, C2, dan C4

18

dimana seiring bertambahnya waktu fermentasi akan menurunkan nilai pH


sampel. Teori ini juga didukung oleh Wahono dan Bagus (2012) yang pada
jurnalnya ditulis bahwa nilai pH akan semakin menurun ketika jumlah yeast
semakin banyak sebab yeast akan menghasilkan etanol dan metabolit lainnya
seperti asam-asam organik berupa asam malat, asam tartarat, asam sitrat, asam
asetat, asam butirat dan asam alkohol. Untuk ketidaksesuaian hasil dengan teori
pada kelompok C3 dan C5 dikarenakan pada proses pembuatan vinegar
seharusnya juga ditambahkan kultur Acetobacter acetii yang akan menghasilkan
asam asetat selama proses fermentasi vinegar sehingga akan menurukan pH
lebih banyak (Kwartiningsih & Nuning, 2005).
105.
106.
106.1.1.
Hubungan Antara Jumlah Sel Dengan OD
107. Berdasarkan hasil yang didapat, terlihat bahwa pada hasil tiap kelompok
berbeda-beda satu sama lain dan mengalami fluktuasi. Pada kelompok C1, C3, dan C5
menunjukkan hasil seiring dengan meningkatnya jumlah sel maka nilai OD yang
terbaca juga akan meningkat. Kemudian pada kelompok C2, terlihat hasil yang hampir
sama dengan kelompk C1, yaitu seiring dengan meningkatnya jumlah sel maka nilai OD
juga akan meningkat namun pada waktu fermentasi ke 72 jam terjadi penurunan nilai
OD dan kemudian meningkat lagi. Pada kelompok C4 memberikan hasil yang
berfluktuasi meskipun pada grafik tidak begitu terlihat. Penurunanan nilai OD terlihat
pada masa fermentasi ke 72 jam, sedangkan pada jam ke 0, 48 96, dan 120
menunjukkan kenaikkan nilai OD seiring bertambahnya jumlah sel.
108.
109. Sesuai dengan teori Fardiaz (1992), bahwa jumlah sel yeast akan meningkat
mencapai tingkat tertentu seiring dengan bertambahnya waktu fermentasi. Pengukuran
jumlah sel mikrooganisme pada suatu sampel cair dapat dihitung dengan menggunakan
alat yang disebut spektrofotometer dengan prinsip kerja Hukum Lambert-Beer. Hukum
Lambert-Beer merupakan rasio antara intensitas yang diteruskan (I) dengan intensitas
cahaya mula-mula (I0), yang kemudian akan disebut dengan persen transmitansi (%T)
dimana nilainya akan berbanding terbalik dengan absorbansi (OD). Nilai absorbansi
yang terbaca akan semakin tinggi ketika jumlah sel yeast semakin banyak yang ditandai
dengan semakin keruhnya suspensi. Teori sesuai dengan hasil pada kelompok C1, C3,
dan C5 dimana dengan betambahnya jumlah sel koloni yeast pada sampel vinegar maka

19

nilai absorbansinya akan semakin tinggi. Untuk kelompok C2 dan C5 terdapat


ketidaksesuaian hasil dengan teori. Hal ini dikarenakan ketika melakukan pengukuran
nilai OD menggunakan spektrofotometri, kuvet yang digunakan kurang bersih,
penempatan kuvet pada spektrofotometer kurang tepat, dan juga terdapat gelembung
dalam larutan sampel (Sudarmadji & Suhardi, 2000).
110.
110.1.1.
Hubungan Jumlah Sel dan Total Asam
111. Berdasarkan hasil yang diperoleh, pada kelompok C1 dan C3 menunjukkan
kenaikan total asam seiring dnegan meningkatnya jumlah sel yeast. Kemudian pada
kelompok C2, C4, dan C5 menunjukkan hasil pengukuran total asam yang berfluktuasi
dimana pada kelompok C2 pada waktu fermentasi ke 120 jam mengalami penurunan
nilai total asam meskipun jumla sel yeast meningkat; pada kelompok C4, juga
mengalami penurunan nilai total asam pada pada waktu fermentasi ke 72 jam, 96 jam,
dan 120 jam meskipun jumla sel yeast meningkat; dan pada kelompok C5 penurunan
nilai total asam terjadi pada pada waktu fermentasi ke 96 jam dan 120 meskipun jumlah
sel yeast meningkat. Hasil titrasi sampel mulai hari ke 1 hingga ke 4 Gambar 9 dan
Gambar 10.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
Gambar 9. Hasil titrasi hari ke 1 dan hari ke 2
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
Gambar 10. Hasil titrasi hari ke 3 dan hari ke 4
125.
126. Menurut pendapat dari Susanto & Bags (2011) nilai pH dari vinegar akan
semakin menurun dengan bertambahnya waktu fermentasi sebab semakin lama
fermentasi maka akan terjadi pembentukan asam asetat akibat konversi etanol oleh
bakteri Acetobacter acetii (Kwartiningsih & Nuning, 2005). Jika nilai pH menurun
maka nilai total asam akan meningkat (Hardiningsih et al., 2006). Oleh karena itu
jumlah sel tidak secara langsung mempengaruhi nilai total asam. Berdasarkan hasil yang
diperoleh hanya kelompok C1 yang sesuai dengan teori, dimana ketika jumlah sel

20

meningkat maka nilai pH akan semakin turun dan menyebabkan nilai total asam akan
meningkat. Kemudian untuk ketidaksesuaian antara hasil da teori pada kelompok C2
hingga C5 dikarenakan pengukuran total asam menggunakan metode titrasi dimana
penentuan perubahan warna bersifat subjektif sehingga hasil yang diperoleh juga tidak
akurat.
127. KESIMPULAN
128.
Vinegar adalah salah satu contoh produk fermentasi berbahan dasar buah.
Vinegar termasuk dalam kelompok cider apel.
Proses sterilisasi vinegar adalah untuk membunuh mikrooganisme patogen.
Tahapan pembuatan vinegar meliputi pencucian buah, pemotongan buah,

penghancuran buah, sterilisasi, pendinginan, penambahan yeast, inkubasi.


Cider merupakan minuman fermentasi dengan kadar alkohol yang rendah.
Yeast yang digunakan pada pembuatan vinegar ini adalah Saccharomyces

cereviceae.
S.cereviceae mampu mengubah karbohidrat sederhana menjadi alkohol dan CO2.
Proses inkubasi vinegar dilakukan dengan cara shaker.
Tujuan dari shaker adalah untuk aerasi, menjaga ketersediaan oksigen pada media

dan sumber karbon.


Hubungan antara waktu dengan jumlah yeast adalah berbanding lurus.
Hubungan antara waktu dan nilai OD adalah berbanding lurus.
Hubungan jumlah sel dengan pH adalah berbanding terbalik.
Hubungan jumlah sel dengan total asam adalah berbanding lurus.
Hubungan jumlah sel dan OD adalah berbanding terbalik.
Jumlah sel mikroorganisme akan mengalami empat fase pertumbuhan yaitu fase

lag, fase log, fase stasioner, dan fase kematian.


Fase lag adalah fase dimana yeast akan berkembangbiak secara lambat atau dpat

dikatakan sebagai fase adaptasi.


Fase log adalah fase dimana yeast mampu berkembang biak dengan cepat.
Fase stasioner adalah fase ketika jumlah sel yang hidup sama dengan jumlah sel

yang mati.
Fase kematian adalah fase dimana sudah tidak ada lagi pertumbuhan bagi yeast

sehingga jumlah sel akan menurun.


Ketidaksesuaian hasil yang didapat pada praktikum ini dikarenakan adanya
penggunaan spektrofotometer yang tidak tepat dan proses titrasi yang bersifat
subjektif.
129.

Semarang 13 Juni 2015

21

130.
Praktikan,
Dosen,

Asisten
-

Benardus Daniel
Metta Meliani
Chaterine Meilani

131.
132.
133.
Sherly Arga T
134.
12.70.0153
135.
4. DAFTAR PUSTAKA
136.
137.
Campelo, A.F and Isabel, B.(2004). Fermentative Capacity of Bakers
Yeast Exposed t
138.
to Hyperbaric Stress.
139.
140.
Chang, R. (1991). Chemistry. MC Graw Hill. USA.
141.
142.
Chen, Yu-Wei and Pei-Ju Chiang.(2011). Automatic Cell Counting for
Hemocytometers through Image Processing.World Academy of Science,
Engineering and Technology 58.
143.
144.
Damtew, W.; S. A. Emire & A. B. Aber. (2012). Evaluation of Growth
Kinetics and Biomass Yield Efficiency of Industrial Yeast Strains. Archives of
Applied Science Research, 2012, 4 (5):1938-1948.
145.
146.
Dolge, R. R.; Z. Kruma; and D. Karklina. (2012). Aroma Composition
and Polyphenol Content of Ciders Available in Latvian Market.World Academy
of Science, Engineering and Technology 67.
147.
148.
Dwijoseputro, D. (1994). Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.
149.
150.
Elevri, P.A dan Surya R.P. (2006). Produksi Etanol Menggunakan
Saccharomyces cerevisiae yang Diamobilisasi dengan Agar Batang. Akta Kimia
Indonesia 1(2) : 105-114.
151.
152.
Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan I. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
153.
154.
Gaman, P. M. dan K. B. Sherrington. (1994). Ilmu Pangan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
155.
156.
Hardiningsih, R; Rostiati N.R.N; dan Titin Y. (2006). Isolasi dan Uji
Resistensi Beberapa Isolat Lactobacillus Pada pH Rendah. Biodiversitas 7(1) :
15-17.
157.
158.
Herrero, M., Garcia, L. A., and Diaz, M. (2006). Volatile Compounds in
Cider: Inoculation Time and Fermentation Temperature Effects.
159.

22

160.
Hoseney, R. C. (1994). Pasta and Noodles Principles of Cereal Science &
Technology Second Edition. American Association of Cereal Chemists.
Minnesota.
161.
162.
Ikhsan, M. B. (1997). Pengaruh Media Starter dan Cara Penambahan
Gula Terhadap Kualitas Anggur Pisang Klutuk. Stiper Farming. Semarang.
163.
164.
Juwilda. (2000). Pendidikan Biologi. Literatur. Trustees of Dartmouth
College.
165.
166.
Kwartiningsih, E dan Ln. Nuning S.M. (2005).Fermentasi Sari Buah
Nanas Menjadi Vinegar. Ekuilibrium 4(1) : 8-12.
167.
168.
Laily, N., Atariansah, D. Nuraini, S. Istini, I. Susanti, dan L. Hartono.
(2004). Kinetika Fermentasi Produksi Selulosa Bakteri oleh Acetobacter
pasterianum pada Kultur Kocok.
169.
170.
Mahreni dan Sri S. (2011).Kinetika Pertumbuhan Sel Sacharomyces
cerevisiae dalam Media Tepung Kulit Pisang. Seminar Rekayasa Kimia dan
Proses. ISSN:1411-4216.
171.
172.
Muljohardjo, M. (1988). Teknologi Pengawetan Pangan Edisi ketiga.
Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.
173.
174.
Noe, F. A. L, Sandi O., Amparo Q., and Eladio B. (2009).Effects of
Temperature, pH, and Sugar Concentration on the Growth Parameters of
Saccharomyces cerevisiae, S. kudriavzevii and Their Interspecific Hybrid.
International Journal of Food Microbiologu 131, 120-127.
175.
176.
Pomeranz, Y. & C. E. Meloan. (1994). Food Analysis Theory and
Practice. John Wiley and Sons, Inc. New York.
177.
178.
Rostini, Iis. (2007). Kultur Fitoplankton (Chlorella sp. dan Tetraselmis
chuii) pada Skala Laboratorium.
179.
180.
Said, E. G. (1987). Bioindustri: Penerapan Teknologi Fermentasi. PT.
Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.
181.
182.
Sevda SB and Rodrigues L. (2011). Fermentative Behavior of
Saccharomyces Strains During Guava (Psidium Guajava L) Must Fermentation
and Optimization of Guava Wine Production. Journal Food Processing and
Technology 2(4) : 1-9.
183.
184.
Stanburry, P.F. and Whitaker. (1984). Principles of Fermentation
Technology. Pergamon Press. New York.
185.
186.
Sudarmadji S. & B.H. Suhardi.(2000). Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta.

23

187.
188.
Susanto, W.H & Bagus R.S. (2011). Pengaruh Varietas Apel (Malus
Sylvestris) dan Lama Fermentasi Oleh Khamir Saccharomyces cereviceae
Sebagai Perlakuan Pra-Pengolahan Terhadap Karakteristik Sirup. Jurnal
Teknologi Pertanian 2(3): 135-142.
189.
190.
Thontowi, A; Kusmiati; Sukma N. (2007). Produksi Glukan
Saccharomyces cerevisiae dalam Media dengan Sumber Nitrogen Berbeda pada
Air-Lift Fermentor. Biodiversitas 8(4) : 253-256.
191.
192.
Triwahyuni, E.; N. Ariani; H. Hendarsyah; T. Idiyanti. (2012). The Effect
Of Dry Yeast Saccharomyces cereviceae Concentration On Fermentation
Process For BioethanolProduction From Palm Oil Empty Fruit Bunches.
Proceeding of ICSEEA 31 34.
193.
194.
Winarno, F.G.; S. Fardiaz dan D. Fardiaz. (1980). Pengantar Teknologi
Pangan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
195.
196.
Zubaidah, E. (2010). Kajian Perbedaan Kondisi Fermentasi Alkohol dan
Konsentrasi Inokulum Pada Pembuatan Cuka Salak (Salacca zalacca). Jurnal
Teknologi Pertanian Vol. 11 No. 2, 94 100.
197.
198.
199.
5. LAMPIRAN
200.
201.
5.1. Perhitungan
202.
a. Rumus Rata-rata / tiap cc
1
Jumlah sel/ cc=
ratarata jumlah MO tiap petak
b.
Volume petak
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Volume petak = 0,05 mm x 0,05 mm x 0,1 mm


= 0,00025 mm3
= 0,00000025 cc
= 2,5 x 10-7 cc
Kelompok C1
N0
Jumlahsel/cc =
1
10
2,5 x 107

l.
m. N48

= 4 x 107

n. Jumlahsel/cc =
1
61
7
2,5 x 10
o.

= 24,4 x 107

p. N72
q. Jumlahsel/cc =
1
64
2,5 x 107
r.

= 25,6 x 107

24

s. N96
t. Jumlahsel/cc =
1
83
2,5 x 107

ae. Jumlah sel/cc =

u.
= 33,2x 10
v. N120
w. Jumlahsel/cc =
1
147
7
2,5 x 10

x.
= 58,8 x 107
y. Kelompok C2
z.
aa. N0
1
ab. Jumlah sel/cc = 2,5 x 107

ag.

= 15,2x 107sel/cc
N72

ah. Jumlah sel/cc =


62
107sel/cc
ai. N96

ak.
al. N120

N48

1
2,5 x 107

96
= 38,4x 107sel/cc

an.
ao.
ap. Kelompok C3
aq.
ar. N0
as. Jumlah sel/cc =

1
2,5 x 107

22
= 8,8 x 10

au. N48
av. Jumlah sel/cc =

1
2,5 x 107

ay. Jumlah sel/cc =

1
7
2,5 x 10

65
az.
= 26 x 107
bo. Kelompok C4
bp.
bq. N0

be.

N96

1
2,5 x 107

179,5
x

= 71,8 x 107

bg.
bh.

N120

bi. Jumlah sel/cc =

= 8,8 x 107
N72

ba.
bb.
bc.
bd.
bf. Jumlah sel/cc =

22
ax.

1
7
2,5 x 10

= 25,2 x 107sel/cc

am.Jumlah sel/cc =

= 8,4x10 sel/cc

aw.

63

at.

1
2,5 x 107

= 24,8 x

aj. Jumlah sel/cc =

21
ad.

38
af.
7

ac.

1
2,5 x 107

x 81,75
bj.
bk.
bl.
bm.
bn.

1
7
2,5 x 10

= 32,7 x 107

br. Jumlah sel/ cc =

1
2,5 107

20,75
bs.

= 8,3 107

25

bt.

N48

bu. Jumlah sel/ cc =

1
2,5 107

ch. Jumlah sel/cc =


11

45
bv.
bw.

= 18 10
N72

bx. Jumlah sel/ cc =

cj. N48

1
2,5 107

bz.

= 30,8 10
N96

ca. Jumlah sel/ cc =

ck. Jumlah sel/cc =


36
cl.
cm.

1
2,5 107

cc.

2,5 x 107

= 14,4 x 107
N72

cn. Jumlah sel/cc =

7
2,5 x 10

36,5

113,75
cb.

= 4,4 x 107

ci.

77
by.

2,5 x 107

N120

cd. Jumlah sel/ cc =

cp.

1
2,5 107

96,75
38,7 107
ce. Kelompok C5
cf.
cg. N0

= 14,6 x 107

co.

= 45,5 107

N96

cq. Jumlah sel/cc =


=

46,25
cr.
cs. N120

2,5 x 107

= 18,6 x 107

ct. Jumlah sel/cc =

2,5 x 107

212,5
= 85 x 107

cu.
cv.
cw. Total Asam
cx.
Rumus :
cy.
cz.
da.

Total asam =

Kelompok C1
db.
dc. N0
dd. Total asam
=
4 x 0,1 x 192
10
de.

df.

ml NaOH x normalitas NaOH x 192


10 ml sampel

= 7,68mg/ml

dg. Total asam


=
5,2 x 0,1 x 192
10
dh.

= 9,98mg/ml

di. N72
dj. Total asam

N48

dk.
dl. N96

6 x 0,1 x 192
10

= 11,52mg/ml

26

dm.

Total asam
6,3 x 0,1 x 192
10

dy. Total Asam


6 x 0,1 x 192
10

dn.
= 12,09mg/ml
do. N120
dp. Total asam
=
6,5 x 0,1 x 192
10

dz.

dq.
= 12,48mg/ml
dr.
ds. Kelompok C2
dt.
du. N0
6 x 0,1 x 192
dv. Total Asam =
10

ec.
= 11,90 mg/ml
ed. N96
ee. Total Asam =
6,2 x 0,1 x 192
10

dw.
dx. N48
ej.
ek.
el.

= 11,52 mg/ml

Kelompok C3
em.

6,2 x 0,1 x 192


10 ml

= 11,52 mg/ml
N72
eb. Total Asam =
6,2 x 0,1 x 192
10
ea.

ef.
eg. N120

=11,90 mg/ml

eh. Total Asam

ei.

=11,52mg/ml

6 x 0,1 x 192
10

ey. Kelompok C4
ez.
7,2 0,1 192
fa. N0
=
10

en. N0

eo.

= 11,90 mg/ml
6,5 x 0,1 x 192
=
10 ml

fb.

= 12,48 mg/ml
6,6 x 0,1 x 192
=
10 ml

fd.

= 12,67 mg/ml
7 x 0,1 x 192
=
10 ml

ff.

= 13,44 mg/ml
6,8 x 0,1 x 192
=
10 ml

fh.
fi. N120=

= 11,71 mg/ml
5,7 0,1 192
10

= 13,06 mg/ml

fj.

= 10,94 mg/ml

ep. N48
eq.
er. N72
es.
et. N96
eu.
ev. N120
ew.
ex.
fk.
fl.

Kelompok C5

fc. N48

fe. N72

fg. N96

= 13,82 mg/ml
6,6 0,1 192
=
10
= 12,67 mg/ml
6 0,1 192
=
10
= 11,52 mg/ml
6,1 0,1192
=
10

27

fm. N0

fn.

= 7,68 mg/ml
4,5 ml 0,1 N 192
=
10 ml

fo. N48
fp.

fq. N72
fr.

fs. N96
ft.

fu. N120

5.3.

= 8,23 mg/ml
6,6 ml 0,1 N 192
=
10 ml
= 12,56 mg/ml
6,2 ml 0,1 N 192
=
10 ml
= 11,90 mg/ml
6 ml 0,1 N 192
=
10 ml

fv.
= 11,52 mg/ml
fw.
Laporan Sementara
fx.

5.4.

4 ml 0,1 N 192
10 ml

Jurnal
fy.
fz.