Anda di halaman 1dari 60

KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI

PAKAN IKAN GABUS (Channa striata)YANG DIBERI PAKAN


BERBAHAN BAKU TEPUNG KEONG MAS (Pomacea sp.)

Oleh
DENY HIDAYAT

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013

RINGKASAN

DENY HIDAYAT. Kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan


gabus (Channa striata) yang diberi pakan berbahan baku tepung keong mas
(Pomacea sp.). (Dibimbing oleh ADE DWI SASANTI dan YULISMAN).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pakan berbahan baku
tepung keong mas terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan
benih ikan gabus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima
perlakuan berupa perbedaan persentase tepung keong mas dalam pakan yaitu dengan
kode perlakuanAR 1 (0 % tepung keong mas : 50 % tepung ikan), AR 2 (12,5 %
tepung keong mas : 37,5 % tepung ikan), AR 3 (25 % tepung keong mas : 25 %
tepung ikan), AR 4 (37,5 % tepung keong mas : 12,5 % tepung ikan) dan AR 5 (50 %
tepung keong mas : 0 % tepung ikan) yang diulang sebanyak tiga kali. Parameter
yang diamati adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan
panjang mutlak dan efisiensi pakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup tertinggi sebesar 86,67 %
(AR 4). Rata-rata perlakuan bobot mutlak dan panjang mutlak tertinggi yaitu 4,96 g
dan 0,9 cm (AR 5), dan untuk data efisiensi pakan tertinggi yaitu 29,45 % (AR 5).
Pada pengamatan histologi ikan gabus ditemukan hemoragi dan nekrosit hepatosit
pada semua perlakuan, sebelum perlakuan dan AR 1, AR 2, AR 4, AR 5 terdapat
kongesti pada hati ikan gabus sedangkan degenerasi lemak didapatkan pada ikan
gabus sebelum perlakuan.

SUMMARY

DENY HIDAYAT. Survival rate, growth and feed efficiency of snake head ( Channa
striata) was feid by golden apple snail (Pomaecea sp) flour (Supervised by ADE
DWI SASANTI and YULISMAN ).
The purpose to know influence feed from golden apple snail flour for survival,
growth, and feed efficiency of snake head (C. striata). There search used completely
randomized design with five treatments and three replications. The treatments were
AR 1 (0 % golden apple snail flour : 50 % fish flour), AR 2 (12.5 % golden apple
snail flour : 37.5 % fish flour), AR 3 (25 % golden apple snail flour : 25% fish flour),
AR 4 (37.5 % golden apple snail flour : 12.5% fish flour) and AR 5 (50% golden
apple snail flour : 0 % fish flour). The parameters observed were survival rate,
absolute weight growth, absolute length growth and feed efficiency.
The results of this research showed that the highest survival ratewas 86.67 % (AR 4).
The highest bsolute weight and length growth was 4.96 g and 0.9 cm (AR 5).
Whereas, the highest feed eficiency was 29.45 % (AR 1). In observation histology of
snake head found hemoragi and nekrosit hepatosit in all treatment, before treatment
and AR 1, AR 2, AR 4 dan AR 5 found congesti at snake head, whereas fat
degeneration at snake head before treatment.

KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI


PAKAN IKAN GABUS (Channa striata) YANG DIBERI PAKAN
BERBAHAN BAKU TEPUNG KEONG MAS (Pomacea sp.)

Oleh

DENY HIDAYAT

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar
Sarjana Perikanan

Pada

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013

Skripsi

KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI


PAKAN IKAN GABUS (Channa striata) YANG DIBERI PAKAN
BERBAHAN BAKU TEPUNG KEONG MAS (Pomacea sp.)

Oleh

DENY HIDAYAT
05081009005

Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan


Gelar Sarjana Perikanan

Skripsi berjudul Kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gabus
(Channa striata) yang diberi pakan berbahan baku tepung keong mas (Pomacea sp.)
oleh Deny Hidayat telah dipertahankan di depan Komisi Penguji pada tanggal 10
September 2013.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa
data dan informasi yang disajikan dalam skripsi ini, kecuali yang disebutkan dengan
jelas sumbernya, adalah hasil penelitian dan investigasi dan belum pernah atau tidak
sedang diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan lain atau gelar
kesarjanaan yang sama di tempat lain.

Indralaya, Oktober2013
Yang membuat pernyataan

Deny Hidayat

ii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Martapura Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur


Propinsi Sumatera Selatan pada tanggal 24Mei 1989, merupakan anak ketiga dari
empat bersaudara yang dilahirkan dari pasangan Abak Safnir dan Amak Rosnida.
Penulis menyelesaikan pendidikan tingkat dasar di SDN 7

Martapura.

sekolah menengah pertamadi SMPN 1 Martapura. Pendidikan sekolah menengah


atas di SMAN1 Way Tuba Kabupaten Way Kanan Propinsi Lampung. Sejak Juli
2008 penulis tercatat sebagai mahasiswa di Program Studi Budidaya Perairan,
Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
Penulis melakukan kegiatan Praktik Lapangan di Balai Pembenihan Triyoso
Belitang BK VIII

Kab. Ogan Komering Ulu Timur dengan judul Teknik

Pemiijahan Ikan Bawal (Colossoma macropamum) Secara Buatan pada tahun 2011
yang dibimbing oleh Bapak Muslim, S.Pi, M.Si. Sedangkan kegiatan Magang dengan
judul Teknik Pembenihan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 2012 yang
dibimbing oleh ibu Mirna Fitrani, S.Pi, M.Si.

iii

KATA PENGANTAR
Assalammualaikum, wr.wb.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Skripsi yang berjudul Kelangsungan hidup, pertumbuhan dan
efisiensi pakan ikan gabus (Channa striata) yang beri pakan berbahan baku tepung
keong mas (Pomacea sp.).
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua, kakak dan adik penulis (Abak Safnir dan Amak Rosnida), uda
Azril dan Rizal dan adik Tika Nurmala Sari.
2. Bapak Dr.Ir. Erizal Sodikin selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas
Sriwijaya.
3. Bapak Ir. Marsi, M.Sc. Ph.D. selaku Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya.
4. Bapak Ferdinand Hukama Taqwa, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Program Studi
Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.
5. Ibu Mirna Fitrani, S.Pi., M.Si. selaku Pembimbing Akademik.
6. Ibu Ade Dwi Sasanti, S.Pi.,M.Si, pembimbing I dan Bapak Yulisman, S.Pi., M.Si,
pembimbing II yang dengan sabar telah memberikan bimbingan, arahan, nasehat,
perhatian selama penelitian dan penyelesaian skripsi.
7. Bapak Ir. Marsi, M.Sc. Ph.D., Bapak Muslim, S.Pi, M.Si., Bapak Syaifudin, S.Pi,
M.Si., Bapak Ruspindo,S.Pi, M.Si., Amin, S.Pi, M.Si., Tanbiyaskur, S.Pi, M.Si.,
Ibu Dade Jubaedah ,S.Pi, M.Si., Ibu Marini, S.Pi, M.Si dan Ibu Sefti Heza
Dwinanti, S.Pi, M.Si. atas ilmu yang telah diberikan selama ini kepada penulis.

iv

8. Teman-teman BDA : Ari, Dimas, Tomi, Rudi, Sopian, Desi, Jimi, Nisa, Putri,
Oriza, Sri, Coryzon, Rijal, Indra, Riri, Lina, Morina, Desmi, Yuri, Burman,
Warasto, Dwi, Sumita, Fiza dan Khadi.
9. Keluargaku dibedeng kades : Nyai, Yai, Ayuk Icut, Kak Iin, Yuk Enap, Kak
Dayat, Ria, Ikbal, Riko, Azhari, Huda, Khalik, Yudha, Ade, Basrowi, Harnovi,
Candra dan Zul. Terima kasih atas motivasi, dukungan,doa dan kekeluargaanya.
10. Rekan HIMAPURA yang menghadirkan suasana kekeluargaan di tanah rantau.
11. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian dan
penyelesaian skripsi ini.
Penulis berdoa semoga segala bantuan yang telah diberikan dapat menjadi amal
saleh di sisi Allah SWT dan penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Aamiin.

Indralaya, Oktober 2013

Deny Hidayat

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xiv
I.

PENDAHULUAN ...............................................................................................1
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Tujuan.............................................................................................................3
C. Hipotesis .........................................................................................................3

II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................4


A. Ikan Gabus (Channa striata).........................................................................4
B. Pemberian Pakan Buatan Pada Budidaya Ikan..............................................4
C. Efisiensi Pakan ..............................................................................................5
D. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Gabus (Channa striata).........6
E. Tepung Keong Mas (Pomacea sp.) ..............................................................6
III. PELAKSANAAN PENELITIAN ........................................................................9
A. Waktu dan Tempat ........................................................................................9
B. Alat dan Bahan ..............................................................................................9
C. Metode Penelitian ..........................................................................................10
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................................................18
A. Kelangsungan Hidup Benih Ikan Gabus .......................................................18
B. Pertumbuhan Benih Ikan Gabus ....................................................................20
C. Efisiensi Pakan Benih Ikan Gabus ................................................................22
D. Fisika Kimia Air Pemeliharaan Benih Ikan Gabus .......................................23

vi x

E. Histologi Hati Ikan Gabus .............................................................................25


V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................29
A. Kesimpulan ...................................................................................................29
B. Saran ..............................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................30
LAMPIRAN

viixi

DAFTAR TABEL

Halaman
1. Kandungan nutrisi tepung keong mas dan tepung ikan ......................................7
2. Kandungan asam amino pada tepung keong mas dan tepung ikan. ....................7
3. Formulasi pakan uji yang digunakan dalam penelitian (%) ................................10
4. Kisaran fisika kimia air benih ikan gabus selama penelitian ..............................23

viiixii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1. Tahapan penelitian ....................................................................................... 13
2. Alur pembuatan tepung keong mas .............................................................. 14
3. Kelangsungan hidup (%) benih ikan gabus .................................................. 18
4. Pertumbuhan bobot mutlak benih ikan gabus .............................................. 20
6. Pertumbuhan panjang mutlak benih ikan gabus........................................... 20
7. Efisiensi pakan benih ikan gabus ................................................................. 22
8. Hasil histologi hati benih ikan gabus (C. striata) ........................................ 25

ixxiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1. Denah penelitian........................................................................................... 33
2. Benih ikan gabus terserang penyakit............................................................ 34
3. Hasil analisis proksimat pakan setiap perlakuan .......................................... 35
4. Data kelangsungan hidup benih ikan gabus ................................................. 36
5. Data pertumbuhan bobot mutlak (g) benih ikan gabus ................................ 38
6. Data pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan gabus .......................... 40
7. Data efisiensi pakan (%) benih ikan gabus .................................................. 42

xiv
x

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu komoditas air tawar yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi. Menurut Muflikhah et al., (2008) di tahun 2008
ikan gabus di Sumatera Selatan mencapai Rp. 30.000 - 80.000 per kg sedangkan
menurut Kordi (2011) harga ikan gabus utuh segar di Kalimatan antara Rp. 8.000 25.000 per kg. Namun pada tahun 2013 rata-rata ikan gabus dipasar mencapai Rp
30.000 60.000 per kg. Oleh masyarakat Sumatera Selatan, ikan gabus banyak
dimanfaatkan sebagai bahan baku hasil olahan seperti pembuatan pempek, laksan,
tekwan dan model. Menurut Warta Perikanan, (2010) sebagian besar pasokan ikan
gabus yang ada di pasaran berasal dari hasil tangkapan dari perairan umum.
Berdasarkan data statistik, pada tahun 2008 yang tertangkap ikan gabus di
perairan umum sebesar 29.842 ton atau turun 1,5% dibandingkan tahun 2007 yaitu
sebesar 30.300 ton (Warta Perikanan, 2010). Hal tersebut dapat menjadi salah satu
indikator terjadinya penurunan populasi ikan gabus di alam.
Menurut Muflikhah et a.l, (2008) ikan gabus sudah banyak dibudidayakan
secara komersil di beberapa negara seperti Thailand, Fhilipina, Vietnam dan
Myanmar. Negara-negara tersebut secara geografis termasuk dalam kawasan Asia
Tenggara yang mempunyai karakteristik geografi yang tidak jauh berbeda dengan
lndonesia.
Menurut Kordi (2011) pada budidaya ikan gabus, pakan yang digunakan
masih berupa pakan alami, seperti ikan-ikan kecil dan ikan rucah. Penerapan

xi 1

2
pemberian pakan buatan untuk budidaya ikan gabus masih menjadi salah satu
kendala dalam budidaya ikan gabus. Tingginya harga pakan disebabkan oleh
mahalnya bahan baku yang digunakan terutama tepung ikan. Oleh karena itu, perlu
dicari alternatif bahan pakan dengan harga relatif murah, mudah didapat, dan
mengandung nutrisi yang baik, untuk mengurangi penggunaan tepung ikan. Salah
satu bahan yang dapat digunakan adalah keong mas.
Keong mas merupakan hama bagi tanaman padi, tetapi mengandung protein
yang tinggi yang hampir setara dengan kandungan protein tepung ikan. Menurut
Suktikno (2011) keong mas mempunyai kandungan protein sekitar 57,67%
sedangkan ikan mempunyai kandungan protein berkisar antara 60-70%. Dengan
demikian tepung keong mas dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pakan untuk
mengurangi atau menggantikan tepung ikan dalam formulasi pakan.
Menurut Muflikhah et al. (2008) bahwa benih ikan gabus dengan berat awal
22 23 g yang dipelihara selama 6 minggu dengan pemberian pakan campuran
(pasta) 25% ikan rucah, 25% keong mas dan 50% dedak, memberikan respon
pertumbuhan yang terbaik yaitu pertambahan berat 56,94 g/ind, sintasan sebesar
90,8%.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat penggunaan tepung keong mas pada
pakan terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan benih ikan
gabus. Selain itu dilakukan pula histologi pada hati ikan gabus, untuk melihat
pengaruh tepung keong mas terhadap hati ikan gabus, sebab kandungan lemak
tepung keong mas yang tinggi dibandingkan lemak pada tepung ikan dapat
mengganggu fungsi hati ikan gabus. Kandungan lemak pada tepung keong mas
cukup tinggi yaitu sebesar 13,61 % sedangkan tepung ikan mengandung lemak

xii

sebesar 6,8 % (Tarigan, 2007). Oleh sebab itu, perlu dilihat pengaruh pemanfaatan
pakan tepung keong mas terhadap akumulasi lemak pada hati ikan gabus
menggunakan metode histologi. Pengamatan kondisi hati sangat penting untuk
mengetahui status kesehatan benih ikan gabus tersebut.
B. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakan berbahan baku
tepung keong mas (Pomacea sp.) terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup,
efisiensi pakan dan histologi hati benih ikan gabus (Channa striata).
C. Hipotesis
Diduga pakan berbahan baku tepung keong mas berpengaruh terhadap
pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pakan dan histologi hati benih ikan
gabus

xiii

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ikan Gabus (Channa striata)


Ikan gabus memiliki ciriciri bentuk tubuh memanjang, berkepala besar agak
gepeng mirip kepala ular dengan sisik-sisik besar di atas kepala dan permukaannya
kasar. Sirip punggung panjang yang dasarnya mencapai pangkal ekor, permukaan
sirip ini di atas atau sedikit di belakang sirip dada. Umumnya bagian punggung tubuh
berwarna gelap dan bagian perut (abdominal) berwarna putih. Sirip ekor berbentuk
bundar (Kottelat et al., 1993 dalam Bijaksana, 2011).
Menurut Muslim (2007) habitat ikan gabus adalah perairan rawa banjiran
yang lebih dikenal dengan istilah lebak lebung. Penyebaran ikan gabus berada di
wilayah Jawa, Sulawesi, Maluku, India, Indocina, Srilanka, Filipina dan Cina. Di
Kalimantan Selatan, ikan gabus terdapat hampir di semua jenis perairan umum (rawa
pasang surut, sungai kecil dan waduk).
B. Pemberian Pakan Buatan Pada Budidaya Ikan
Protein merupakan senyawa organik kompleks tersusun atas asam amino
yang mengandung unsur C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen) dan N (nitrogen).
Protein diperlukan ikan untuk proses pertumbuhan, pemeliharaan jaringan tubuh,
pembentuk enzim dan hormon serta antibodi dalam tubuhnya

sehingga

keberadaannya harus terus menerus disuplai dari makanan untuk pertumbuhan dan
perbaikan jaringan tubuh (Harver, 1989 dan Furuichi, 1988 dalam Syamsunarno.,
2009)

14 4

Lemak merupakan sekelompok besar molekul-molekul alami yang terdiri atas


unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, sterol, vitaminvitamin yang larut di dalam lemak monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid,
dan terpenoid. Lemak merupakan sumber energi dan sumber asam lemak essensial,
memelihara dan menjaga membran dan jaringan tubuh, membantu dalam penyerapan
vitamin yang larut dalam lemak dan untuk mempertahankan daya apung tubuh
(NRC, 1983 dalam Syamsunarno, 2009).
Hastings, (1976) dalam Syamsunarno, (2009), karbohidrat merupakan salah
satu sumber energi yang diperlukan oleh tubuh, karbohidrat dalam ransum ikan
tropis yang dimanfaatkan secara baik adalah 30%. Fungsi utama karbohidrat adalah
menyediakan energi untuk proses kehidupan normal. Selain sebagai sumber energi,
peranan karbohidrat

juga sebagai prekursor yang sangat diperlukan untuk

pertumbuhan, misalnya untuk biosintesis berbagai asam amino esensial dan asam
nukleat. Manfaat lain karbohidrat, termasuk lemak dalam pakan adalah dapat
mengurangi penggunaan protein sebagai sumber energi yang dikenal sebagai protein
sparing effect. Ikan-ikan air tawar dan ikan laut dapat mencerna karbohidrat.
Kemampuan ikan laut mencerna karbohidrat adalah sekitar 20%, sedangkan ikan air
tawar mampu mencerna diatas 20%. Menurut Habib et al. (1994) ikan air tawar
membutuhkan karbohidrat sebanyak 12 % untuk proses pertumbahan.
C. Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan digunakan untuk menunjukkan persentase pakan yang diubah
menjadi daging atau pertambahan bobot (Haetami et al., 2007). Semakin tinggi nilai
efisiensi pakan memberikan gambaran bahwa kualitas pakan yang diberikan semakin

15

baik sehingga efisiensi pakannya juga semakin baik (Halver, 1989 dan Furuichi,
1988, dalam Syamsunarno., 2009). Peningkatan efisiensi pakan dipengaruhi oleh
penggunaan protein hewani. Kordi (2009), menyatakan bahwa ikan karnivora lebih
cepat mencernan protein hewani dibanding protein nabati.
D. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Gabus (Channa striata)
Pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu perubahan ukuran, dapat berupa
panjang dan bobot dalam waktu tertentu. Kebutuhan energi untuk pertumbuhan
dipengaruhi oleh faktor jenis ikan, umur, kondisi lingkungan, dan asupan. Hewan
yang berukuran kecil pada umumnya mempunyai laju metabolisme dan pertumbuhan
lebih tinggi dibandingkan hewan berukuran dewasa (Mudjiman, 2004). Menurut
Sutarya (2000) dalam Adrizal (2002), jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan
berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Menurut Effendie (1997) tingkat kelangsungan hidup ikan didefinisikan
sebagai jumlah ikan yang hidup pada akhir pemeliharaan dengan jumlah ikan yang
ditebar pada awal pemeliharaan. Menurut Mulyanto (1992) dalam Mardoni (2005),
faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup ikan meliputi faktor internal dan
eksternal. Faktor internal adalah yang berasal dari ikan itu sendiri antara lain : daya
tahan tubuh terhadap penyakit, dan kemampuan memanfaatkan makanan. Faktor
eksternal meliputi seluruh kondisi lingkungan ikan hidup dan tumbuh, meliputi sifat
fisika, kimia dan biologi perairan.
E. Tepung Keong mas (Pomacea sp)
Keong mas atau sering disebut siput murbai, merupakan salah satu hama
dalam produksi padi. Keong mas hidup di kolam, rawa dan sawah. Setiap tahun
keong mas tersedia di alam dan karena itu pemanfaatan keong mas sebagai bahan

16

7
alternatif sebagai bahan campuran pakan dan sebagai subtitusi tepung ikan yang
selama ini sebagai bahan baku utama pembuatan pakan ikan. Hal ini dikarenakan
kandungan nutrisi pada keong mas cukup tinggi dan hampir mendekati kandungan
nutrisi pada ikan. Perbandingan nutrisi tepung keong mas dan tepung ikan dapat
dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Kandungan nutrisi tepung keong mas dan tepung ikan.
Nutrisi
Tepung keong mas (%)
Tepung ikan (%)
Protein
57,76
63,76
Lemak
14,62
3,70
Abu
15,3
18,28
Karbohidrat
0,86
4,10
Kadar air
11,05
3,70
Sumber : Laboratorium Fisika kimia BBPBAP Jepara (2006) dalam Sutikno (2011),
dan Kordi, (2009).
Tabel. 2. Kandungan asam amino pada tepung keong mas dan tepung ikan.
Asam amino
Tepung keong mas (%)
Tepung ikan (%)
Arginin

4,88

9,93

Histidin

1,43

1,50

Isoleusin

2,64

3,35

Leusin

4,62

5,53

Lysin

4,35

4,16

Methionin

2,62

1,57

Fenilalin

2,62

2,83

Treonin

2,72

3,51

Valin

3,07

3,91

Sumber : Abidin (2005) dalam Suktikno, (2011).


Menurut Suktikno (2011), daging keong mas mempunyai kandungan protein
sekitar 57,76 %, kadar ini hampir sebanding dengan kadar protein yang dimiliki
tepung ikan yaitu sekitar 60-70%. Dari segi kandungan asam amino, tepung keong
mas memiliki kandungan asam amino hampir sebanding dengan kandungan asam
amino tepung ikan sehingga tepung keong mas dapat dijadikan makanan dengan
kualitas yang baik dan mampu menggantikan tepung ikan. Hasil penelitian Firdus

17

8
dan Muchlisin (2005), menyatakan bahwa keong mas mempunyai potensi untuk
dijadikan pakan alternatif dalam usaha budidaya ikan kerapu lumpur, karena
memberikan angka pertumbuhan yang tidak berbeda nyata dengan pakan ikan rucah
yang selama ini digunakan.

18

III. PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat


Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012 - Februari 2013
bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Program Studi Budidaya Perairan,
Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan ikan gabus selama penelitian
adalah terpal berbentuk persegi empat berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm. Alat yang
digunakan untuk mengukur kualitas air yaitu DO meter yang berfungsi sebagai
pengukur kandungan oksigen terlarut, kertas pH digunakan untuk mengukur pH air,
termometer ketelitian 10C digunakan untuk mengukur suhu air, dan spektrofotometer
digunakan untuk mengukur amonia.
Alat yang digunakan untuk pembuatan pakan yaitu mincer yang berfungsi
sebagai pencetak pakan, oven berfungsi sebagai pengering pakan, timbangan analitik
digunakan sebagai alat penimbang bahan pakan, toples plastik digunakan sebagai
wadah pakan, baskom digunakan sebagai wadah pembuatan adonan pakan, dan
sendok digunakan untuk mengambil bahan yang ditimbang.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah benih ikan gabus dengan rata-rata
panjang 10,8 - 12,8 cm dan berat 2,97 4,96 g. Sedangkan bahan pakan yang

19 9

10

digunakan dalam penelitian adalah tepung keong mas, tepung ikan, tepung kedelai,
tepung kunyit, tepung tapioka, dedak halus, minyak kedelai dan vitamin mix.
Formulasi pakan uji yang digunakan dalam penelitian disajikan pada Tabel 4 berikut
ini.
Tabel 4. Formulasi pakan uji yang telah digunakan dalam penelitian (%).
No
Bahan
Komposisi pakan
AR 1
AR 2
AR 3
AR 4
1
2
3
4
5
6
7
8

Tepung keong mas


Tepung ikan
Dedak halus
Tepung kedelai
Tepung tapioka
Tepung kunyit
Minyak kedelai
Vitamin Mix
Total
Protein (%)
GE = (Kkal/100 g)
C/P = (Kkal/100 g)

0
50
21
10
10
5
3
1
100
33,05
294
8,9

12,5
25
37,5
37,5
25
12,5
21
21
21
10
10
10
10
10
10
5
5
5
3
3
3
1
1
1
100
100
100
33,05 33,05 33,05
291,69 323,52 347,45
8,8
9,79
11

AR
5
50
0
21
10
10
5
3
1
100
33,05
363
11

C. Metode penelitian
1. Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima
perlakuan dan tiga ulangan dengan kode perlakuan (AR 1, AR 2, AR 3, AR 4, AR 5
). Perlakuan yang dicobakan berdasarkan perbedaan persentase tepung keong mas
dan tepung ikan dalam pakan benih ikan gabus.
AR 1 = Pakan dengan 0 % tepung keong mas dan 50 % tepung ikan
AR 2 = Pakan dengan 12,5 % tepung keong mas dan 37,5 % tepung ikan
AR 3 = Pakan dengan 25 % tepung keong mas dan 25 % tepung ikan
AR 4 = Pakan dengan 37,5 % tepung keong mas dan 12,5 % tepung ikan
AR 5 = Pakan dengan 50 % tepung keong mas dan 0 % tepung ikan

20

11
2. Cara Kerja
1. Pembuatan Tepung Keong Mas
Tepung keong mas dibuat berdasarkan Margono et al., (1993). Dalam
pembuatan tepung keong mas, keong mas terlebih dahulu dikeluarkan lendir dan
kotorannya dengan cara direndam dalam air mengalir selama dua hari, kemudian
direndam menggunakan air garam sebanyak 250 g.l-1 air. Lalu diaduk dan didiamkan
selama 15 menit sampai lendir keluar. Proses penggaraman dilakukan dua kali,
namun, pada penggaraman kedua menggunakan garam sebanyak 150 g.l-1 air.
Setelah itu direbus di air mendidih selama 20 menit, kemudian didinginkan lalu
dipotong tipis. Potongan keong mas selanjutnya direndam dalam natrium benzoat
sebanyak 2 g.kg-1 daging keong mas. Selanjutnya keong mas dikeringkan dibawah
sinar matahari 3 hari. Selanjutnya, ditumbuk dan diayak sehingga menjadi tepung.
2. Pembuatan Pakan
Pembuatan pakan dimulai dengan menimbang bahan baku pakan sesuai
dengan formulasi. Bahan baku pakan dipisahkan antara bahan yang bersifat kering
seperti tepung keong mas, tepung ikan, tepung tapioka, tepung kedelai, dedak halus,
tepung kunyit dan vitamin mix dengan bahan yang bersifat cair seperti minyak
kedelai dan air panas. Pembuatan pakan dimulai dengan mencampurkan vitamin
mix, tepung kunyit, tepung tapioka, tepung kedelai, dedak halus, tepung ikan dan
tepung keong mas secara merata selanjutnya ditambahkan minyak kedelai, dan air
panas dan diaduk hingga membentuk padatan, kemudian dicetak dengan alat mincer.
Hasil cetakan dipotong-potong dan dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 500
-

600 C selama 10 jam.

21

12

3. Persiapan Wadah Pemeliharaan dan Aklimatisasi Ikan


Wadah yang digunakan yaitu terpal persegi empat ukuran 30 cm x 30 cm x
30 cm sebanyak 15 buah. Wadah pemeliharaan dicuci dengan air bersih dan
dikeringkan. Air yang digunakan sebagai media hidup ikan sebelumnya harus
diendapkan terlebih dahulu dalam tandon. Selanjutnya wadah diisi air sebanyak 15
liter dengan ketinggian 16,7 cm. Setelah itu ikan ditebar sebanyak sepuluh ekor
dengan ukuran 10,8 - 12,8 cm pada setiap wadah pemeliharaan, dan dilakukan
aklimatisasi selama 3 hari. Selama proses aklimatisasi ikan diberi pakan sesuai
perlakuan. Pakan diberikan secara at satiation (diberi makan sampai kenyang).
Frekuensi pemberian pakan selama masa aklimatisasi sebanyak tiga kali sehari pada
pagi hari pukul 08.00 WIB, siang hari pukul 12.00 WIB dan sore hari pukul 16.00
WIB.
4. Pemeliharaan Benih Ikan Gabus
Setelah proses aklimatisasi selesai, benih ikan gabus ditimbang, dan diukur
panjangnya. Setelah itu pengambilan satu sampel benih ikan gabus dari stok benih
ikan gabus untuk diambil hatinya sebagai data awal histologi hati. Selanjutnya, benih
ikan gabus dipelihara selama 30 hari. Selama pemeliharaan, benih ikan gabus diberi
pakan secara at satiation (diberi makan hingga kenyang). Frekuensi pemberian pakan
selama pemeliharaan sebanyak tiga kali sehari pada pagi hari pukul 08.00 WIB,
siang hari pukul 12.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 WIB. Pada akhir penelitian,
benih ikan gabus ditimbang, diukur panjangnya. Dilakukan juga pengambilan sampel
hati ikan gabus pada setiap perlakuan untuk melihat pengaruh penggunaan pakan
berbahan tepung keong mas terhadap hati ikan gabus.

22

13

Pembuatan tepung
keong mas

Pembuatan pelet
tepunkeong mas
Aklimatisasi ikan selama tiga hari terhadap pakan sesuai perlakuan

7a

14a

21a

30a

SR, P dan F

---------------------------------------------------------------------------------------------

Gambar 1. Tahapan penelitian

23

14

24

15

5. Parameter yang diamati


a. Kelangsungan Hidup
Penghitungan tingkat kelangsungan hidup/survival rate ikan menggunakan
rumus menurut Effendi et al., (2006) sebagai berikut :
SR =

Nt
No

x 100%

Keterangan : SR = Tingkat kelangsungan hidup


Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir pemeliharaan (ekor)
No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)
b. Pertumbuhan panjang mutlak
Penghitungan pertumbuhan panjang mutlak menggunakan rumus Effendie
(1997) sebagai berikut :
L = L2 - L1
Keterangan : L = Pertumbuhan panjang mutlak (cm)
L2 = panjang akhir ikan (cm)
L1 = panjang awal ikan(cm)
c. Pertumbuhan bobot mutlak
Penghitungan pertumbuhan bobot mutlak menggunakan rumus Weatherley
(I972) dalam Dewantoro, (2001) sebagai berikut :
W = Wt-W0
Keterangan : W = Pertumbuhan bobot mutlak (g)
Wt = Bobot ikan di akhir pemeliharaan (g)
W0 = Bobot ikan di awal pemeliharaan (g)

25

16

f. Menghitung efisiensi pakan


Penghitungan Efisiensi pakan dengan rumus Zonneveld et al., (1991) dalam
Effendi et al, (2006) adalah sebagai berikut :
=

(Wt+D)Wo
F

x 100%

Keterangan :
FE

= Efisiensi pakan (%)

Wt

= Bobot ikan uji pada akhir penelitian (g)

Wo

= Bobot ikan uji pada awal penelitian (g)

= Bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (g)

= Jumlah total pakan yang diberikan (g)


g. Kualitas air
Pengukuran parameter kualitas air meliputi suhu, pH, DO dan amonia.

Pengukuran suhu dan pH dilakukan setiap hari sedangkan DO dan amonia diukur
pada awal dan akhir pemeliharaan benih ikan gabus.
f. Histologi
Organ yang diamati untuk histologi adalah hati. Proses histologi meliputi :
fiksasi, pemotongan organ, dehidrasi penjernihan dan pengisian parafin, pembuatan
blok parafin, pembuatan preparat sediaan dan pewarnaan

4. Analisa Data
Data kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan diuji secara
statistik, dilakukan berdasarkan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL). Jika
didapatkan nilai F hitung lebih besar dari F (5%) maka dilanjutkan dengan uji lanjut

26

17

Beda Nyata Terkecil (BNT). Fisika kimia air (suhu, pH, oksigen terlarut, amonia)
dan histologi hati dianalisis secara deskriptif.

27

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kelangsungan Hidup Benih Ikan Gabus


Kelangsungan hidup benih ikan gabus selama 30 hari pemeliharaan pada
semua perlakuan berkisar antara 50 % - 86,67 %. Rata-rata nilai kelangsungan hidup
benih ikan gabus yang dipelihara selama 30 hari pada setiap perlakuan tersaji pada
Gambar 3.

86,67

Kelangsungan hidup (%)

73,33

76,67
70

50

% Keong mas

Gambar 3. Kelangsungan hidup (%) benih ikan gabus

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan tepung keong


mas tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih ikan gabus,
peningkatan persentase tepung keong mas sampai batas 37,5 % dalam formulasi
pakan mengakibatkan kelangsungan hidup benih ikan gabus meningkat, sedangkan
pakan yang mengandung 50 % tepung keong mas kelangsungan hidupnya menurun

28
18

19

Berdasarkan hasil pengamatan benih ikan gabus selama pemeliharaan,


kematian benih ikan gabus diduga akibat infeksi bakteri dan jamur. Kelainan klinis
seperti timbul bentuk kapas putih pada tubuh benih ikan gabus, mata menonjol,
adanya bercak merah pada salah satu sirip dada, seluruh tubuh melepuh, dan lukaluka. Adanya penyakit pada benih ikan gabus, terjadi pada saat dua minggu
pemeliharan benih ikan gabus. Adapun ikan yang terinfeksi dapat dilihat pada
Lampiran 2.
Kondisi tersebut juga terjadi pada penelitian Sopian (2013) bahwa rendahnya
nilai kelangsungan hidup benih ikan gabus disebabkan serangan penyakit dan sifat
kanibalisme ikan gabus. Hal ini sesuai pula dangan pernyataan Van Duijn (1976)
dalam Mutaqin (2006) yang menyatakan bahwa ikan mempunyai daya tahan tubuh
yang besar terhadap penyakit asalkan kondisi badannya tidak diperlemah oleh suatu
sebab. Menurut Angga dan Safrudin (1982) dalam Mutaqin (2006) bahwa stres
merupakan gangguan mekanisme homeostatik, sehingga memudahkan terjadinya
suatu penyakit.
Berdasarkan Kordi, (2009) bahwa rendahnya kelangsungan hidup suatu biota
budidaya dipengaruhi beberapa faktor salah satunya nutrisi pakan yang tidak sesuai.
Pakan yang berbahan baku tepung keong mas yang memiliki kandungan lemak yang
tinggi diduga berpotensi terhadap penimbunan lemak pada hati ikan yang dapat
memperberat kerja hati sehingga kondisi fisiologi ikan menurun. Kordi (2009)
menyatakan bahwa lemak berpengaruh terhadap rasa dan tekstur pakan, tetapi
kandungan lemak berlebihan pada pakan akan mempengaruhi mutu pakan, yaitu
mudah mengalami oksidasi dan menghasilkan bau tengik, dan ikan yang banyak
mengkonsumsi lemak, juga akan mengalami penimbunan lemak pada dinding rongga

29

20

abdominal, usus sehingga terjadi gejala liver lipid degeneration (LLD), kerusakan
pada ginjal, edema dan anemia yang dapat menimbulkan kematian.
B. Pertumbuhan Benih Ikan Gabus
Pertumbuhan bobot mutlak dan pertumbuhan panjang mutlak selama

Pertumbuhan bobot mutlak


(g)

penelitian tersaji pada Gambar 4 dan 5 berikut:

4,96
4,44
3,48

3,55
2,97

% keong mas

Gambar 4. Pertumbuhan bobot mutlak (g) benih ikan gabus

Pertumbuhan panjang mutlak


(cm)

0,9

Series1, 50, 0.9


0,7
0,5
0,4

% keong mas

Gambar 5. Pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan


gabus

30

21

Analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung keong mas dalam


pakan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan
pertumbuhan panjang mutlak benih ikan gabus. Meskipun secara ANOVA tidak
berpengaruh nyata, namun pertumbuhan bobot mutlak tertinggi terdapat pada
perlakuan 50 % tepung keong mas diperoleh sebesar 4,96 g, sedangkan pertumbuhan
bobot mutlak terendah terdapat pada perlakuan 37,5 % tepung keong mas yaitu
sebesar 2,97 g. Untuk pertumbuhan panjang mutlak tertinggi terdapat pada perlakuan
0 % tepung keong mas, dan 50 % tepung keong mas yaitu sebesar panjang 0,9 cm,
sedangkan pertumbuhan panjang mutlak terendah terdapat pada perlakuan 25 %
tepung keong mas yaitu sebesar 0,4 cm.
Prihadi (2007), menyatakan pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar, adapun faktor dari dalam meliputi sifat
keturunan, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan dalam memanfaatkan
makanan, sedangkan faktor dari luar meliputi sifat fisika, kimia dan biologi perairan.
Faktor makanan dan suhu perairan merupakan faktor utama yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan ikan. Menurut Arofah, (1991) dalam Prihadi, (2007),
menyatakan bahwa pertumbuhan ikan dapat terjadi jika jumlah makanan melebihi
kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah kandungan protein
dalam pakan, sebab protein berfungsi membentuk jaringan baru untuk pertumbuhan
dan menggantikan jaringan yang rusak. Menurut Khans et al., (1993) dalam Kordi,
(2009) kekurangan protein berpengaruh negatif terhadap konsumsi pakan,
konsekuensinya terjadi penurunan pertumbuhan bobot. Menurut Kordi, (2009)
kelebihan protein dan lemak dapat menimbulkan penimbunan lemak, nafsu makan

31

22

ikan berkurang. Nilai nutrisi (gizi) pakan pada umumnya dilihat dari komposisi zat
gizi dan berapa komponen nutrisi yang penting dan harus tersedia dalam pakan,
antara lain protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin.
C. Efisiensi Pakan Benih Ikan Gabus
Nilai efisiensi pakan pada setiap perlakuan selama pemeliharaan disajikan
pada Gambar 6.

Efisiensi pakan (%)

29,45

21,47
18,97

18,97

12,74

% keong mas

Gambar 6. Efisiensi pakan (%) benih ikan gabus

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pakan berbahan baku tepung
keong mas tidak berpengaruh nyata terhadap nilai efisiensi pakan benih ikan gabus.
Namun nilai efisiensi pakan tertinggi diperoleh pada perlakuan 0 % tepung keong mas
(29,45 %), sedangkan nilai efisiensi pakan terendah diperoleh pada perlakuan 37,5 %
tepung keong mas (12,74%). Menurut Kordi (2011), semakin tinggi nilai efisiensi
pakan menunjukkan penggunaan pakan oleh ikan semakin efisien. Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa nilai efisiensi pakan dari semua
perlakuan sebesar 12,74 % - 29,45 %. Nilai efisiensi ini tergolong rendah bila

32

23

dibandingkan ikan air tawar yang lainnya seperti nilai efisiensi pakan ikan nila
mencapai 50,23 % (Kurniasari, 2003 dalam Sugianto, 2007). Nilai efisiensi pakan
ikan patin mencapai 73,1% (Meilisca, 2003 dalam Sugianto, 2007). Nilai efisiensi
pakan ikan mas mencapai 53,45 % (Suparyani, 1994 dalam Sugianto, 2007). Nilai
efisiensi pakan ikan gurame mencapai 45,75 % (Suryani, 2001 dalam Sugianto,
2007).
Rendahnya nilai efisiensi pakan pada penelitian ini diduga disebabkan oleh
bahan pakan yang digunakan memiliki kecernaan yang rendah, terutama bahan yang
bersumber dari nabati. Bahan baku nabati secara fisiologis sulit dicerna oleh ikan
yang bersifat karnivora, termasuk ikan gabus, yang secara food habit dan feeding
habit tergolong ikan karnivora dan predator. Djarijah, (1995) dalam Hariyadi et al.,
(2005), menyatakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya efisiensi pakan adalah
jenis sumber nutrisi dan jumlah dari tiap-tiap komponen sumber nutrisi dalam pakan
tersebut.
D. Fisika Kimia Air Pemeliharaan Benih Ikan Gabus
Kisaran fisika kimia air yang diperoleh dalam tiap pengambilan sampel dari
masing-masing perlakuan selama penelitian disajikan dalam Tabel 5 berikut
Tabel 5. Kisaran fisika kimia air benih ikan gabus selama penelitian
Perlakuan
AR 1
AR 2
AR 3
AR 4
AR 5
Batas toleransi*

Suhu (0C)
24 31
24 31
25 31
25 31
24 31
25 32

Parameter kualitas air


pH
DO (mg.L-1)
67
0,85 1,11
67
0,84 1,20
67
0,86 1,39
67
0,93 0,96
67
0,83 1,12
6,5 9
4-7

Keterangan*: Sukadi (1989) dalam Kordi (2011)

33

Amonia (mg.L-1)
0,044 0,054
0,044 0,056
0,044 1,642
0,044 0,173
0,044 1,642
<1

24

Nilai pH selama penelitian berkisar antara 6-7, sementara menurut Kordi


(2011), pH yang baik untuk pemeliharaan benih ikan gabus adalah 6,5 9. Apabila
pH kurang dari kisaran optimal maka pertumbuhan ikan terhambat dan ikan sangat
sensitif terhadap bakteri dan parasit. Sedangkan jika pH lebih dari kisaran optimal
maka pertumbuhan ikan terhambat. Namun pada kondisi yang kurang optimal, suatu
jenis ikan akan mencapai ukuran yang lebih kecil dibandingkan pada kondisi yang
optimal (Effendi, 2003, dalam Almaniar., 2011).
Kisaran nilai suhu yang diukur pada awal sampai akhir penelitian berkisar
antara 24 - 310C. Menurut Kordi (2011), ikan gabus mampu hidup pada perairan
yang bersuhu >240C, sedangkan jika suhu perairan < 240C ikan gabus masih tetap
bertahan hidup, namun nafsu makan mulai menurun dan dapat menimbulkan
kegiatan bakteri diperairan. Hal ini dikarenakan ikan tersebut mampu tumbuh dengan
baik pada suhu 25 320C. Oleh sebab itu, suhu memegang peranan penting sebagai
faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan organisme air tawar dan
berhubungan erat dengan laju metabolisme untuk pernafasan dan reproduksi
(Effendi, 2003, dalam Almaniar., 2011).
Selama pemeliharaan benih ikan gabus, nilai kandungan oksigen terlarut
berkisar antara 0,93 0,96 mg. L-1 tergolong cukup rendah bila dibandingkan dengan
hasil penelitian Almaniar (2011), yaitu berkisar antara 1,88-3,05 mg.L-1. Walaupun
kandungan oksigen terlarut pada penelitian ini cukup rendah, namun menurut Kordi
(2011), ikan gabus mampu hidup pada perairan yang minim oksigen yang mencapai
kurang dari 2 mg.L1, karena ikan gabus mampu mengambil oksigen langsung dari
udara dengan menyembulkan mulut ke permukaan air yang merupakan alat
pernafasan tambahan yaitu divertikula. Nilai amonia pada penelitian ini cenderung

34

25

rendah, kecuali pada perlakuan AR 1 (0,044 1,642 mg.L-1). Hal tersebut


menandakan bahwa hanya sebagian pakan yang dikatabolisme menjadi energi
sehingga amonia yang diekskresikan relatif lebih rendah. Berdasarkan hasil
penelitian Almaniar (2011), diketahui bahwa benih ikan gabus masih dapat hidup
pada kandungan amonia sebesar 0,62 - 2,42 mg.L-1.
E. Histologi hati ikan gabus
Untuk melihat pengaruh pakan berbahan baku tepung keong mas terhadap
hati benih ikan gabus dilakukan perbandingan antara ikan sebelum diberi perlakuan
dan ikan setelah diberi perlakuan melalui pengambilan sampel hati untuk dibuat
histologi (Gambar 7).

Ikan sebelum perlakuan

Gambar 7. Hasil histologi hati benih ikan gabus.


Keterangan :
A : Kongesti

AB : Degenerasi lemak

B : Nekrosis hepatosit

C : Haemorhagie

35

26

Berdasarkan hasil histologi hati benih ikan gabus terlihat perbedaan kondisi
hati benih ikan gabus sebelum diberi perlakuan hingga akhir penelitian. Pada tahap
sebelum diberi perlakuan penelitian keadaan hati benih ikan gabus terlihat berwarna
merah cerah, adanya degenerasi lemak, nekrosis hepatosit, haemorhagie dan tidak
terdapat kematian sel-sel (Gambar 7), sedang pada akhir penelitian (0 %, 12,5 %, 25
%, 37,5 %, 50 %) menunjukkan adanya kematian sel-sel (nekrosis) di hati benih ikan
gabus.
Organ hati memiliki beberapa fungsi, yaitu biotransformasi zat-zat berbahaya
menjadi zat-zat yang tidak berbahaya yang kemudian diekskresi oleh ginjal. Fungsi
yang lain adalah pembentukan dan ekskresi empedu, metabolisme garam empedu,
metabolisme karbohidrat (Glikogenesis, glikogenolisis, glukoneogenesis), sintesis
protein, metabolisme dan penyimpanan lemak (Anderson, 1995 dalam Yuniar,
2009). Fungsi organ hati dapat terganggu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
faktor pengkonsumsian pakan yang mengandung kadar lemak yang berlebih.
Pada penelitian ini pakan yang digunakan sebagai salah satu bahan baku
penyusun pakan. Tepung keong mas diketahui memiliki kadar lemak 14,62 %. Hal
tersebut mempengaruhi kandungan lemak pada pakan yang ditambahkan bakan baku
tepung keong mas. Kandungan lemak yang tinggi dapat mempengaruhi nafsu makan,
pertumbuhan, penimbunan lemak pada hati ikan dan dapat menyebabkan perubahan
struktur jaringan/kerusakan sel hati ikan gabus.
Tingkat kerusakan hati menurut Darmono (1995) dalam Yuniar (2009),
dibagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang dan berat. Perlemakan hati termasuk dalam
tingkat ringan ditandai dengan pembengkakan sel, tingkat sedang yaitu kongesti dan
hemoragi, sedangkan tingkat berat yaitu kematian sel atau nekrosis, hipertropi dan

36

27

hyperplasia yang merupakan jenis kerusakan akibat bertambahnya ukuran dan


komponen dalam jaringan atau sel. Pada perlakuan 12,5 % tepung keong mas tidak
ditemukan kongesti pada hati benih ikan gabus.
Menurut Yuniar (2009) perlemakan hati adalah penimbunan lemak yang
berlebihan pada sel-sel hati yang merupakan respon organ hati terhadap kadar lemak
yang cukup tinggi pada bahan pakan dan terjadi jika total timbunan lemak lebih dari
5% berat total organ hati yang normal. kongesti adalah terjadinya pembendungan
darah pada hati yang disebabkan adanya gangguan sirkulasi yang dapat
mengakibatkan kekurangan oksigen dan zat gizi. Pada sel hati, kongesti didahului
dengan pembengkakan sel hati dimana sel hati membesar yang mengakibatkan
sinusoid menyempit sehingga aliran darah terganggu.
Menurut Plumb (1994) dalam Ersa (2008), nekrosis adalah kematian sel-sel
atau jaringan yang menyertai degenerasi sel pada setiap kehidupan hewan dan
merupakan tahap akhir degenerasi. Karakteristik dari jaringan nekrotik, yaitu
memiliki warna yang lebih pucat dari warna normal, hilangnya daya rentang
(jaringan menjadi rapuh dan mudah terkoyak), atau memiliki konsistensi yang buruk
atau pucat (seperti bubur), dan kadang-kadang menimbulkan bau yang tidak enak.
Nekrosis dapat disebabkan oleh trauma, agen-agen biologis (virus, bakteri, jamur dan
parasit), agen-agen kimia atau terjadinya gangguan terhadap penyediaan darah pada
suatu daerah khusus dan hemoragi adalah keluarnya darah dari sirkulasi
kardiovaskuler dan biasanya terdapat kerusakan pada susunan kardiovaskuler
tersebut (arteri, vena dan kapiler) (Sudiono, 2003 dalam Yuniar, (2009 ). Menurut
Ersa (2008) hemoragik ditandai oleh kehadiran dari sejumlah besar eritrosit dan
komponen-komponen darah lain pada permukaan organ atau di dalam eksudat.

37

28

Kematian benih ikan gabus pada setiap perlakuan selama penelitian diduga
terganggunya fungsi hati. Menurut Kamaludin (2011) dan Ayuningtias (2008)
terdapat gangguan nekrosis pada lele dumbo yang dapat mengakibatkan kerusakan
sel-sel. Dengan demikian, adanya nekrosis pada hati ikan gabus dapat
mengakibatkan kerusakan hati ikan gabus yang berakibat kematian.

38

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Penggunan tepung keong mas sebagai bahan pakan ikan gabus tidak berpengaruh
nyata terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gabus.
2. Hasil pengamatan histologi menunjukan bahwa pada benih ikan gabus terdapat
haemorhagie pada semua perlakuan. Kongesti ditemukan pada ikan sebelum
diberi perlakuan, AR 1, AR 2, AR 4 dan AR 5 sedangkan nekrosis hepatosit
terdapat pada AR 1, AR 2, AR 3, AR 4 dan AR 5 dan degenerasi lemak pada ikan
sebelum perlakuan.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
nilai kecernaan dan profil asam amino pakan berbahan baku tepung keong mas.

29
39

DAFTAR PUSTAKA

Adrizal. 2002. Aplikasi program linier untuk menganalisis pemanfaatan


Salviniamolesta sebagai bahan pakan itik. Disertasi. Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor. Bogor (tidak dipublikasikan).
Ayuningtias, A.M., 2008. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan
bawang putih Allium sativum untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas
hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Budidaya Perairan.
Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Bogor
(Dipublikasikan).
Almaniar, S. 2011. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gabus (Channa
striata) pada pemeliharaan dengan padat tebar yang berbeda. Skripsi.
Fakultas Pertanian Program Studi Budidaya Perairan Universitas Sriwijaya.
Indralaya (tidak dipublikasikan).
Bijaksana, U. 2011. Pengaruh Beberapa Parameter Air pada Pemeliharaan Larva
Ikan Gabus, Channa striata Blkr Di dalam Wadah Budidaya. Fakultas
Perikanan Program Studi Budidaya Perairan Universitas Lambung Mangkurat
Banjar baru.
Dewantoro, G.W. 2001. Fekunditas dan produksi larva pada ikan cupang (Betta
splendens Regan) yang berbeda umur dan pakan alaminya. Fakultas Biologi,
Universitas Nasional Jakarta. Jurnal Iktiologi Indonesia, l. (2): 49 52.
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta
Effendi, I. N.J. Bugri, dan Widanarni. 2006. Pengaruh padat penebaran terhadap
kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gurami Osphronemus
gouramy. ukuran 2 cm. Jurnal Akuakultur Indonesia, 5(2): 127-135.
Ersa, I.V. 2008. Gambaran histopatologi insang, usus dan otot pada ikan mujair

(Oreochromis mossambicus ) di daerah ciampea bogor. Skripsi.


Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
(Dipublikasikan).

Firdus dan Z.A. Muklisin. 2005. Pemanfaatan keong mas (Pomacea canaliculata)
sebagai pakan alternatif dalam budidaya ikan kerapu lumpur (Epinephelus
tauvina). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Biologi.
Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. ENVIRO 5 (1): 64-66.

30
40

31
41

Habib, M.A.B, M. R Hasan dan A.M Akand. 1994. Dietary carbohydrate utilization
by silver barb Puntius gonionotus. In S. S. De Silva ed. Asian Fish. Soc.
Spec. Publ. Asian Fisheries Society, Manila, Phillippines. pp.57-62.
Haetami, K. 2012. Konsumsi dan efisiensi pakan dari ikan jambal siam yang diberi
pakan dengan tingkat energy protein yang berbeda. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.Bandung. Jurnal Akuatik Volume III.
Haetami, K., I. Susangka dan Y. Andriani. 2007. Kebutuhan dan pola makan ikan
jambal siam dari berbagai tingkat pemberian energi protein pakan dan
pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan efisiensi. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
Hariyadi, B. A. Haryono dan U. Susilo. 2005. Evaluasi efisiensi pakan dan efisiensi
protein pakan ikan karper (Ctenopharyngodon idella) yang diberi pakan
dengan kadar karbohidrat dan energy yang berbeda. Fakultas Biologi.
Universitas Soedirman. Purwokerto Banyumas. Jawa Tengah.
Kamaludin, I. 2011. Efektivitas ekstrak lidah buaya Aloe vera untuk mengobati
infeksi pada ikan lele dumbo Clarias sp melalui pakan. Skripsi. Intitut
Pertanian Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Departemen Budidaya Perairan. Bogor (Dipublikasikan).
Kordi, K. M.G.H. 2009. Budidaya Perairan. Citra Ditya Bakti. Bandung.
Kordi, K. M.G.H. 2011. Panduan Lengkap Bisnis dan Budidaya Ikan Gabus. Lily
Publisher. Yogyakarta.
Mardoni, E. 2005. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gabus (Channa
striata) diberi pakan alami yang berbeda. Skripsi. Fakultas Pertanian UMP.
Palembang (dipublikasikan).
Margono T, S. Detty,H. Sri . 1993. Panduan Teknologi Pangan. Pusat Informasi
Wanita dalam Pembangunan. PDII LIPI. Jakarta.
Mudjiman, A. 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muflikhah, N., S. Makmur, dan N.K. Suryati. 2008. Gabus. Badan Riset Kelautan
dan Pusat Riset Perikanan Tangkap Balai Riset Perikanan Perairan Umum.
Muslim. 2007. Potensi, Peluang dan Tantangan Budidaya Ikan Gabus (Channa
striata) di Povinsi Sumatera Selatan. Prosiding. Forum Perairan Umum
Indonesia iv. BRPPU. Palembang.
Mutaqin, Z. 2006. Pola sebaran hama dan penyakit ikan yang disebabkan oleh
penyakit dan bakteri pada beberapa provinsi di Indonesia. Skripsi. Institut
Pertanian Bogar. Fakultas Kedokteran Hewan. Bogor. (Dipublikasikan).

41

32
42

Prihadi, D.J. 2007. Pengaruh jenis dan waktu pemberian pakan terhadap tingkat
kelangsungan hidup dan pertumbuhan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus) dalam keramba jarring apung di Balai Budidaya Laut
Lampung. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
Bandung. Jurnal Akuakultur Indonesia 493-953-1.
Rakhmi. 2009. Pengaruh tepung cumi dalam pakan berkadar protein rendah terhadap
pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias sp). Skripsi. Intitut Pertanian Bogor.
Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Departemen Budidaya Perairan. Bogor. (Dipublikasikan).
Sopian. 2013. Pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gabus (Channa striata) yang
diberi pakan dengan kadar protein berbeda. Skripsi. Fakultas Pertanian
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Sriwijaya. Indralaya. (tidak
dipublikasikan).
Sugianto, D. 2007. Pengaruh tingkat pemberian maggot terhadap pertumbuhan dan
efisiensi pemberian pakan benih ikan gurame (Osphronemus gouramy).
Skripsi. Intitut Pertanian Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Budidaya Perairan. Bogor.
(Dipublikasikan).
Suktikno. E. 2011. Pembuatan pakan buatan ikan bandeng. Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara.
Syamsunarno, M. S. 2009. Nilai nutrisi tepung biji karet (Hevea brasiliensis) dalam
pakan ikan lele (Clarias sp). Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sekolah
Pascasarjana. Mayor Ilmu Akuakultur. Bogor.
Tarigan, S. J. B. 2007. Pemanfaatan tepung keong mas sebagai subtitusi tepung ikan
dalam ransum terhadap performans kelinci jantan lepas sapi. Skripsi.
Universitas Sumatera Utara. Fakultas Pertanian. Departemen Perternakan.
Medan. (Dipublikasikan).
Yuniar, V. 2009. Toksisitas merkuri (Hg) terhadap tingkat kelangsungan hidup,
pertumbuhan, gambaran darah dan kerusakan organ pada ikan nila
Oreochromis niloticus. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Departemen Budidaya Perairan. Bogor. (Dipublikasikan).
Warta Perikanan .2010. Potensi Tersembunyi: wild fresh water fish . Kementerian
Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

42

33
43

43

34
44

13

44

35
45

Lampiran 3. Hasil analisis proksimat pakan setiap perlakuan


No Kode
1
2
3
4
5

AR 1
AR 2
AR 3
AR 4
AR 5

Kadar air
(%)

Kadar abu
(%)

Kadar lemak
(%)

Kadar
protein (%)

Kadar karbohidrat
(%)

7,15
6,22
5,84
6,64
5,63

30,40
30,44
31,25
18,25
15,90

8,3
8,6
8,1
15,8
11,56

17,1
15,1
15,6
17,2
16,0

38, 94
41,17
40,56
46,62
52,46

Sumber : Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya.

45

36
46

Lampiran 4. Data kelangsungan hidup benih ikan gabus


a. Data kelangsungan hidup (%) benih ikan gabus selama 30 hari pemeliharaan
Tingkat Kelangsungan
Hari ke-0
Hari ke-30
Perlakuan Ulangan
Hidup
(Ekor)
(Ekor)
(%)
1

10

70

10

60

10

90

Jumlah

30

22

220

Rata-rata

10

7,3

70,33

10

90

10

90

10

30

Jumlah

30

21

210

Rata-rata

10

70

10

90

10

80

10

60

Jumlah

30

23

230

Rata-rata

10

7,66

76,66

10

10

100

10

90

10

70

Jumlah

30

26

260

Rata-rata

10

8,66

86,66

10

60

10

60

10

30

Jumlah

30

18

180

Rata-rata

10

50

AR 1

AR 2

AR 3

AR 4

AR 5

46

37
47

Lampiran 4. lanjutan
b. Perhitungan analisa sidik ragam kelangsungan hidup benih ikan gabus
Kelangsungan hidup (%) benih ikan gabus
UI
U II
U III
Jumlah Rata-rata
AR I
70
60
90
220
73,3
AR 2
90
90
30
210
70
AR 3
90
80
60
230
76,7
AR 4
100
90
70
260
86,7
AR 5
60
60
30
150
50
Jumlah
410
380
280
1070
214
Rata-rata
42,8
T2
FK
=
kt

= 10702/3x5
=1.144.900
= 76.326,67
JK total

= (702)+(902)+(902)..(602)+(702)+(302) - 76.326,67
= 82.900 - 76.326,67
= 6.573,33

JK Perlakuan =
=

2202 +2102 +2302 +2602 +1502


3

-76.326,67

= 78.500 76.326,67
= 2.173,33
JK galat

= JK total JK perlakuan

= 6,573,33 2.173,33 = 4.400


SK
DB
JK
KT
Perlakuan
4
2.173,33
543,33
Galat
8
4.400
550
Total
12
6.573,33
Keterangan * : Tidak berpengaruh nyata

47

F hitung
0,99*

5%
3,11

38
48

Lampiran 5. Data pertumbuhan bobot mutlak (g) benih ikan gabus


a. Data pertumbuhan bobot mutlak (g) benih ikan gabus selama 30 hari pemeliharaan
hari ke 0
hari ke 30
Pertumbuhan bobot mutlak (g)
Perlakuan
Ulangan
(g)
(g)
benih ikan gabus
1
7,99
11,39
3,4
2
7,51
14,46
AR 1
6,95
3
6,23
9,21
2,98
Jumlah
23,73
35,06
13,33
Rata-rata
7,91
11,69
4,44
1
11,02
14,13
3,11
2
14,92
15,2
AR 2
0,28
3
7,96
15
7,04
Jumlah
33,9
44,33
10,43
Rata-rata
11,3
14,78
3,48
1
10,55
12,16
1,61
2
9,83
14,23
AR 3
4,40
3
9,84
14,47
4,63
Jumlah
30,22
40,86
10,64
Rata-rata
10,1
13,62
3,55
1
12,81
13,94
1,13
2
9,65
13,15
AR 4
3,5
3
8,21
12,48
4,27
Jumlah
3067
39,57
8,9
Rata-rata
10,22
13,19
2,97
1
8,22
11,31
3,09
2
7,82
12,64
AR 5
4,82
3
9,04
16,01
6,97
Jumlah
25,08
39,96
14,88
Rata-rata
8,36
13,32
4,96

48

39
49

Lampiran 5. lanjutan
b. Perhitungan analisa sidik ragam pertumbuhan bobot mutlak (g) benih ikan gabus
Pertumbuhan bobot mutlak (g) benih ikan gabus
Perlakuan
UI
U II
U III
jumlah Rata-rata
AR 1
3,4
6,95
2,98
13,33
4,44
AR 2
3,11
0,28
7,04
10,43
3,48
AR 3
1,61
4,4
4,63
10,64
3,55
AR 4
1,13
3,5
4,27
8,9
2,97
AR 5
3,09
4,82
6,97
14,88
4.96
Jumlah
12,34
19,95
25,89
58,18
19,39
Rata-rata
3,88
FK

= 58,182/3x5
= 3.384,9122/15
= 225,66
JK total

= (3,4)2+(3,11)2+(1,61)2..(4,63)2+(4,27)2+(6,97)2 225,66
= 284,57 - 225,66
= 58,90437

JK Perlakuan =

= (13,332 + 10,432 + 10,642 + 8,92 + 14,882 / 3) 225,66


= 233,44 225,66
= 7,78
JK galat

= JK total JK perlakuan

= 58,90 7,78 = 1.669,19


SK
DB
JK
KT
Perlakuan
4
7,78
1,94
Galat
8
51,13
6,39
Total
12
58,90
Keterangan * : Tidak berpengaruh nyata

49

F hitung
0,30*

F tabel 5 %
3,11

40
50

Lampiran 6. Data pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan gabus


a. Data pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan gabus selama 30 hari
pemeliharaan
Hari ke 0
Hari ke
Pertumbuhan panjang mutlak
Perlakuan
Ulangan
(cm)
30 (cm)
(cm) benih ikan gabus
1
11,6
12,6
1
2
11,5
13,1
AR 1
1,6
3
11,1
11,3
0,2
Jumlah
34,2
37
2,8
Rata-rata
11,4
12,3
0,9
1
12,8
13,2
0,4
2
12,3
12,8
AR 2
0,5
3
11,6
12,9
1,3
Jumlah
36,7
38,9
2,2
Rata-rata
12,3
12,9
0,7
1
12,2
12,7
0,5
2
11,5
11,7
AR 3
0,2
3
12,1
12,7
0,6
Jumlah
35,8
37,1
1,3
Rata-rata
11,9
12,4
0,4
1
12
12,6
0,6
2
12,1
12,6
AR 4
0,5
3
11,6
12,1
0,5
Jumlah
35,7
37,3
1,6
Rata-rata
11,9
12,4
0,5
1
10,8
11,8
1
2
11,3
11,8
AR 5
0,5
3
12,3
13,5
1,2
Jumlah
34,4
37,1
2,7
Rata-rata
11,5
12,4
0,9

50

41
51

Lampiran 6. Lanjutan
b.Perhitungan analisa sidik ragam pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan
gabus
Pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan gabus
Perlakuan
UI
U II
U III
Jumlah
Rata-rata
AR 1
1
1,6
0,2
2,8
0,9
AR 2
0,4
0,5
1,3
2,2
0,7
AR 3
0,5
0,2
0,6
1,3
0,43
AR 4
0,6
0,5
0,5
1,6
0,5
AR 5
1
0,5
1,2
2,7
0,9
Jumlah
3,5
3,3
3,8
10,6
3,5
Rata-rata
0,7
FK

= 10,62/5x3
= 112,36/15
= 7,49
JK total

= (1)2+(0,4)2+(0,5)2..(0,6)2+(0,5)2+(1,2)2 7,49
= 9,9 - 7,49
= 2,41

JK Perlakuan =

= (2,82 + 2,22 + 1,32 + 1,62 + 2,72/3) 7,49


= 8,07 7,49
= 0,58
JK galat

= JK total JK perlakuan

= 2,40 0,58 = 1,83


SK
DB
JK
Perlakuan
4
0,58
Galat
8
1,83
Total
12
2,41
Keterangan *: Tidak berpengaruh nyata

51

KT
0,15
0,23

F hitung
0,64*

5%
3,11

42
52

Lampiran 7. Data efisiensi pakan (%) benih ikan gabus


a. Data efisiensi pakan (%) benih ikan gabus selama 30 hari pemeliharaan
Bobot
Bobot
Jumlah
Efisiensi pakan
ikan (g)
ikan (g)
pakan
(%) beniih ikan
Perlakuan Ulangan
awal
akhir
D*
dikonsumsi
gabus
1
79,99
79,73
17,3
124,85
13,65
2
79,59
87,81
124,92
49,99
AR 1
49,72
3
62,23
82,92
125,23
24,71
10,3
375
Jumlah
221,81
250,46
77,32
88,35
125
Rata-rata
73,94
83,49
25,77
29,45
1
110,22
127,18
122,11
21,66
9,5
2
149,24
136,4
121,13
4,59
AR 2
18,4
3
79,63
45
119,76
30,74
65,06
363
Jumlah
339,09
308,58
92,99
57,01
121
Rata-rata
113,03
102,86
30,99
18,97
1
105,46
118,74
121,6
12,17
10,83
2
98,27
113,83
119,5
32,04
AR 3
22,73
3
98,36
86,8
120,9
20,23
36,02
362
Jumlah
302,09
319,37
69.58
64,45
120,7
Rata-rata
100,7
106,46
23,19
21,47
1
128,13
139,37
154,01
7,30
2
96,45
118,33
153,87
18,43
AR 4
6,48
3
82,06
87,39
154,12
12,50
13,93
462
Jumlah
306,64
345,09
20,41
38,23
154
Rata-rata
102,21
115,03
6,80
12,74
1
82,18
72,84
151,52
26,31
19,46
2
78,16
75,83
152,8
18,69
AR 5
30,89
3
90,37
90,37
153,68
11,99
60,76
458
Jumlah
250,71
239,04 111,11
57,01
152,7
Rata-rata
83,57
79,68
37,04
18,97
Keterangan *: Bobot ikan (g) mati

52

43
53

Lampiran 7. Lanjutan
b. Perhitungan analisa sidik ragam efisiensi pakan benih ikan gabus
Efisiensi pakan (%) benih ikan gabus
Perlakuan
UI
U II
U III
jumlah
AR 1
13,65
49,99
24,71
88,35
AR 2
21,67
4,59
30,75
57,01
AR 3
12,18
32,04
20,23
64,45
AR 4
7,3
18,43
12,5
38,23
AR 5
26,32
18,7
11,99
57,01
Jumlah
81,12
123,75
100,18
305,05
Rata-rata
FK

Rata-rata
29,45
18,97
21,47
12,74
18,97
101,6
20,32

= 305,052/5x3
= 93.055,5/15
= 6.203,7
JK total
6.203,7

= (13,65)2+(21,67)2+(12,18)2..(20,23)2+(12,5)2+(11,99)2

= 8.051,69 - 6.203,7
= 1.847,99
JK Perlakuan =

= (88,352+ 57,012 + 64,452 + 38,232 + 57,012/3) - 6.203,7


= 6.640,45 6.203,7
= 436,75
JK galat

= JK total JK perlakuan
= 1.847,99 436,75
= 1.411,24

53

44
54

Lampiran 7. Lanjutan.
SK
DB
JK
KT
Perlakuan
4
436,75
109,19
Galat
8
1411,24
176,41
Total
12
1847,99
Keterangan: * = Tidak berpengaruh nyata.

54

F hitung
0,62*

F tabel 5%
3,11

lv

lv