Anda di halaman 1dari 28

ASURANSI

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asuransi bukanlah hal yang baru dipendengaran kita. Tetapi pemahaman terhadap asuransi
itu sendiri secara mendalam, masyarakat belum mengenal dan mengetahuinya. Yang masyarakat
umum tahu tentang asuransi hanyalah sebagai jaminan dan ketergantungan pertolongan kepada
orang lain bahkan seringkali menyebutkan asuransi itu haram untuk masnyarakat yang awam.
Padahal arti dan peran sesungguhnya didalam asuransi ini sangatlah baik dan memberikan
manfaat diantara kedua belah pihak, baik perusahaan asuransi maupun nasabahnya.
Dengan adanya asuransi bisa memberikan ketenangan dan kemudahan dalam urusan,
karena dengan kita memiliki asuransi tak perlu lagi cemas untuk menghadapi risiko yang akan
datang dimasa datang, dan juga memudahkan kita dalam menghadapi urusan jika sewaktu
waktu terjadi musibah atau bencana kita tak dipusingkan dengan pembebanan risiko atau pun
kerugian karena telah ada perusahaan yang akan menanggung semua itu sesuai perjanjian yang
telah dibuat sebelumnya.
Di Indonesia sendiri sudah banyak perusahaan perusahaan yang berjalan dibidang
asuransi ini, tinggal kita memilah dan memilih asuransi mana yang akan kita ambil sesuai
dengan kebutuhan dan keuangan kita. Untuk bisa memilih dan memilah asuransi tersebut, maka
diperlukan pengetahuan yang cukup tentang pengertian dasar dasar asuransi. Maka dari itu
penulis bermaksud menuliskan pengetahuan tentang dasar dasar pengetahuan tentang asuransi
yang akan dibahas dalam bab 2 tentang pembahasan.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa dasar tentang asuransi, yang akan dibahas
diantaranya yaitu :
1. Pengertian asuransi.
2. Jenis jenis asuransi.
3. Keuntungan asuransi.
4. Jenis jenis risiko.
5. Prinsip prinsip asuransi.
6. Definisi keuangan negara.
7. Asas-Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara.
8. Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan Negara.
C. Manfaat Pembuatan Makalah
Sebagaimana yang telah kita ketahui dalam rumusan masalah terdapat hal hal yang akan
dibahas dalam makalah ini yang berkenaan dengan asuransi. Setelah pembaca membaca makalah
ini diharapkan akan mampu mengusai dan mengetahui tentang dasar dasar yang berkaitan
langsung dengan asuransi. Minimal pembaca akan mengetahui arti dan pengertian yang
sesungguhnya mengenai asuransi dan manfaat dari asuransi tersebut.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Asuransi
Tidak seorang pun yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan
datang secara sempurna, meskipun dengan menggunakan berbagai alat analisi. Setiap ramalan
yang dilakukan tidak akan lepas dari kesalahan perhitungan yang telah dilakukan. Penyebab
melesetnya hasil ramalan karena dimasa yang akan datang penuh dengan ketidak pastian bahkan
untuk hal-hal tertentu sama sekali tidak dapat diperhitungkan seperti maut dan rezeki. Jadi wajar
jika terjadinya sesuatu dimasa yang akan datang hanya dapat direka reka semata.
Risiko dimasa datang dapat terjadi terhadap kehidupan seseorang misalnya kematian, sakit
atau risiko dipecat dari pekerjaannya. Dalam dunia bisnis risiko yang dihadapi dapat berupa
risiko kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan atau risiko lainnya. Oleh karena itu,
setiap resiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang
lebih besar lagi.
Untuk mengurangi risiko yang tidak kita inginkan dimasa yang akan datang, seperti risiko
kehilangan , risiko kebakaran, risiko macetnya pinjaman kredit bank atau risiko lainnya, maka
diperlukna perusahaan yang mau menanggung risiko tersebut. Adalah perusahaan asuransi yang
mau dan sanggup menanggung setiap risiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan
maupun badan usaha. Hal ini disebabkan perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang
melakukan usaha pertanggungan terhadap risiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya.[1]
Asuransi adalah salah satu bentuk pengendalian risiko, dengan cara mengalihkan /
mentransfer risiko tersebut dari pihak pertama ke pihak lain, dalam hal ini adalah kepada
perusahaan asuransi. Pelimpahan tersebut didasari dengan aturan-aturan hukum dan prinsipprinsip yang berlaku secara universal, yang dianut oleh pihak pertama maupun pihak lain.[2]
Di Indonesia pengerian Asuransi menurut Undang Undan No 1 Tahun 1992 tentang
Usaha Asuransi adalah sebagai berikut :
Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan
mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang
mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau

untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang
yang dipertanggungkan.
Badan yang menyalurkan risiko disebut "tertanggung", dan badan yang menerima risiko
disebut "penanggung". Perjanjian antara kedua badan ini disebut kebijakan : ini adalah
sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi. Biaya yang
dibayar oleh "tertanggung" kepada "penanggung untuk risiko yang ditanggung disebut "premi".
Ini biasanya ditentukan oleh penanggung untuk dana yang bisa diklaim di masa depan,
biaya administratif, dan keuntungan.
Sedangkan menurut KUHD pasal 246 disebutkan bahwa:
Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung
mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk
penggantian kepadanya karena suatu kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan
yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak tentu.
Berdasarkan definisi tersebut, maka dalam asuransi terkandung 4 unsur, yaitu :
1.

Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi kepada pihak
penanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur.
2.

Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang (santunan) kepada
pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang
mengandung unsur tak tertentu.

3. Suatu peristiwa (accident) yang tak terntentu (tidak diketahui sebelumnya).


4.

Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tak
tertentu.
Berdasarkan definisi tersebut di atas maka asuransi merupakan suatu bentuk perjanjian
dimana harus dipenuhi syarat sebagaimana dalam Pasal 1320 KUH Perdata, namun dengan
karakteristik bahwa asuransi adalah persetujuan yang bersifat untung-untungan sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 1774 KUH Perdata. Menurut Pasal 1774 KUH Perdata yaitu :
Suatu persetujuan untunguntungan (kans-overeenkomst) adalah suatu perbuatan yang
hasilnya, mengenai untung ruginya, baik bagi semua pihak maupun bagi sementara pihak,
bergantung kepada suatu kejadian yang belum tentu.

Dalam perjanjian asuransi dimana tertanggung dan penanggung mengikat suatu perjanjian
tentang hal dan kewajiban masing masing. Perusahaan asuransi membebankan sejumlah premi
yang harus dibayar tertanggung premi yang harus dibayar sebelumnya sudah ditaksirkan dulu
atau diperhitungkan dengan nilai resiko yang akan dihadapi. Semakin besar resiko, semakin
besar premi yang harus dibayar dan sebaliknya.
Perjanjian asuransi tertuang dalam polis asurasi, dimana disebutkan sarat sarat, hak
hak, kewajiban masing masing pihak, jumlah uang yang dipertanggungkan dan jangka waktu
asuransi. Jika dalam masa pertanggungan terjadi resiko, pihak asuransi akan membayar sesuai
dengan perjanjian yang telah dibuat dan ditandatangani bersama sebelumnya.
Dalam bahasa Belanda kata asurasi desebut Assurantie yang terdiri dari kata
assuradeur yang berarti penanggungan dan geassureerde yang berarti tertanggung.
Kemudian dalam bahasa Prancis disebut Assurance yang berarti menanggung sesuatu yang
pasti terjadi. Sedangkan dalam bahasa latin disebut Assecurare yang berarti menyakinkan
orang. Selanjutnya bahasa Inggris kara asuransi disebut Insurance yang berarti menaggung
sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi dan Assurance yang berarti menanggung
sesuatu yang pasti terjadi.[3]
Adapun pengertian asuransi menurut beberapa pakar ilmu, diantaranya :
1.

Definisi asuransi menurut Prof. Mehr dan Cammack :


"Asuransi merupakan suatu alat untuk mengurangi resiko keuangan, dengan cara pengumpulan
unit-unit exposure dalam jumlah yang memadai, untuk membuat agar kerugian individu dapat
diperkirakan. Kemudian kerugian yang dapat diramalkan itu dipikul merata oleh mereka yang

2.

tergabung".
Definisi asuransi menurut Prof. Mark R. Green:
"Asuransi adalah suatu lembaga ekonomi yang bertujuan mengurangi risiko, dengan jalan
mengkombinasikan dalam suatu pengelolaan sejumlah obyek yang cukup besar jumlahnya,

3.

sehingga kerugian tersebut secara menyeluruh dapat diramalkan dalam batas-batas tertentu".
Definisi asuransi menurut C.Arthur William Jr dan Richard M. Heins, yang mendefinisikan
asuransi berdasarkan dua sudut pandang, yaitu:
"Asuransi adalah suatu pengaman terhadap kerugian finansial yang dilakukan oleh seorang
penanggung dan asuransi adalah suatu persetujuan dengan mana dua atau lebih orang atau badan
mengumpulkan dana untuk menanggulangi kerugian finansial".
Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas kiranya mengenai definisi asuransi yang
dapat mencakup semua sudut pandang :

"Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi risiko yang melekat pada perekonomian, dengan
cara manggabungkan sejumlah unit-unit yang terkena risiko yang sama atau hampir sama, dalam
jumlah yang cukup besar, agar probabilitas kerugiannya dapat diramalkan dan bila kerugian yang
diramalkan terjadi akan dibagi secara proposional oleh semua pihak dalam gabungan itu".[4]

B. Jenis Jenis Asuransi


Jenis jenis asuransi yang berkembang di Indonesia ini jika dilihat dari berbagai segi
adalah sebagai berikut :
1. Dilihat dari segi fungsinya
a. Asuransi kerugian (non life insurance)
Jenis asuransi kerugian seperti yang terdapat dalam Undang Undang Nomor 2 Tahun 1992
tentang Usaha Asuransi menjelaskan bahwa asuransi kerugian menjalankan usaha memberikan
jasa untuk menanggunglangi suatu risiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab
hukum kepada pihak ketiga dari suatu peristiwa yang tidak pasti. Jenis asuransi ini tidak
diperkenankan melakukan usaha di luar asuransi kerugian dan reasusansi. Kemudian yang
-

remasuk dalam asuransi kerugian adalah sebagai berikut :


Asuransi kebakaran yang meliputi kebakaran, peledakan, petir, kecelakaan kapal terbang dan
lainnya.
Asuransi pengangkutan meliputi :
- Marine Hul Policy
- Marine Cargo Policy
- Freight
Asuransi aneka, yaitu asuransi yang tidak termasuk dalam asuransi kebakaran dan pengangkutan

sepetri asuransi kendaraan bermotor, kecelakaan dari pencurian, dan lainya.


b. Asuransi jiwa (life insurance)
Asuransi jiwa merupakan perusahaan asuransi yang dikaitak dengan penanggulangan atau
meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan. Jenis jenis asuransi jiwa adalah :
- Asuransi berjangka (Term insurance)
- Asuransi Tabungan (Endowment insurance)
- Asuransi seumur hidup (Whole life insurance)
- Anuity contrak insurance (Anuitas)
c. Reasuransi (reinsurance)
Merupakan perusahaan yang memberikan jasa asuransi dalam pertanggungan ulang terhadap
risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian. Jenis asuransi ini sering disebut asuransi
2.

dari asuransi dan asuransi ini digolongkan ke dalam :


bentuk treaty
bentuk facultative
kombinasi dari keduanya
Dilihat dari segi kepemilikannya
Dalam hal ini yang dilihat adalah siapa pemilik dari perusahaan asuransi tersebut, baik asuransi

kerugian, asutansi jiwa atau pun reasuransi.


a. Asuransi milik pemerintah

Yaitu asuransi yang sahamnya dimiliki sebagian besar atau bahkan 100% oleh pemerintah
Indonesia.
b. Asuransi milik swasta nasional
Asuransi ini kepemilikan sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh swasta nasional sehingga siapa
yang paling banyak memiliki saham maka memiliki suata terbanyak dalam Rapat Umum
c.

Pemegan Saham (RUPS).


Asuransi milik perusahaan asing.
Perusahaan arusansi jenis ini biasanya beroperasi di Indonesia hanya merupakan cabang dari

negara lain dan jelas kepemilikannya pun dimiliki 100% oleh pihak asing.
d. Asuransi milik campuran
Merupakan jenis asuransi yang sahamnya dimiliki campuran antara stasta nasional dengan pihak
asing.

C. Keuntungan Asuransi
Pengetahuan masyarakat terhadap jasa asuransi memang belum seperti pemahamannya
terhadap menabung konvensional baik di bank umum maupun bank syariah. Padahal dari sisi
mengelola keuangan, dengan berbagai bentuk jasa asuransi, sama-sama menertibkan dalam hal
mengelola keuangan terutama untuk pos-pos tertentu yang sifatnya darurat. Sekalipun
manajemen asuransi terus meningkat dan berbagai macam asuransi disediakan oleh perusahaan
asuransi besar, image di masyarakat tentang perusahaan asuransi tidak salamanya positif.
Beberapa model stigma negatif terhadap perusahaan asuransi misalnya saja menggadaikan
nyawa kepada lembaga, ini untuk jenis asuransi kesehatan atau kecelakaan. Susah mengurus
klaim, ini untuk hampir seluruh jenis asuransi. Padahal yang terakhir ini hanya gara-gara data
yang tidak valid atau kelengkapan administrasi yang tidak bisa dipenuhi.
Dengan pengetahuan yang belum baik tentang asuransi, dengan demikian keuntungan
asuransi bagi sebagian masyarakat Indonesia belum begitu dipahami. Dengan demikian, budaya
asuransi masih belum terlalu akrab di tengah masyarakat Indonesia. Kalaupun telah memiliki
pemahaman bahwa yang namanya kecelakaan tidak bisa diprediksi sehingga perlu
mempersiapkan dana khusus sebagai persiapan menanggalungi keadaan darurat, masih banyak
yang berpikir untuk mempersiapkan dana tersebut dalam bentuk tabungan dan membeli emas
bukan dalam bentuk menjadi nasabah asuransi kesehatan atau asuransi jiwa misalnya.
Secara umum yang menjadi penyebab belum tertariknya masyarakat Indonesia terhadap
berbagai program asuransi adalah sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki perekonomian
yang kurang stabil. Sehingga mereka lebih banyak memilih untuk membelanjakan uang mereka
guna membeli kebutuhan sehari-hari daripada untuk hal lain yang dianggap kurang penting atau
untuk mempersiapkan hal-hal yang sifatnya darurat. Memang tidak bisa dipungkiri dengan masih
terbatasnya penghasilan, masyarakat Indonesia masih sulit untuk memenuhi pos-pos kebutuhan.
Sehingga masih berkutat dalam mengatasi kebutuhan untuk pos yang sifatnya kebutuhan primer
dan sekunder semata. Dan pengertian kebutuhan primer dan sekunder juga dipahami dalam arti
sempit.
Salah satunya adalah asuransi. Padahal kalau dilihat dari manfaat, sebenarnya program
asuransi ini termasuk kebutuhan primer. Karena itulah tidak perlu heran sekalipun
mengedepankan tentang keuntungan asuransi ini, namun pandangan sebagian masyarakat

Indonesia asuransi sama saja dengan membuang uang. Selain itu ada pandangan dari masyarakat
yang menganggap bahwa asuransi adalah haram. Sebab, dengan asuransi itu dianggap sama
halnya dengan mengandalkan keselamatan dan menggadaikan diri pada sesama manusia.
Padahal, pandangan seperti itu sebenarnya keliru. Karena pada dasarnya asuransi bukan
membuang uang atau mengandalkan masalah keselamatan pada sesama manusia.
Pada dasarnya, asuransi adalah sebuah kegiatan yang bersifat mengalihkan resiko sesuatu
pada pihak ketiga. Sehingga apabila kita mendapatkan musibah atau bencana, yang akan
mengganti semua kerugian kita adalah pihak asuransi. Secara nilai nominal, kita akan
mendapatkan ganti rugi atas semua hal yang sudah dijaminkan pada perusahaan asuransi
tersebut. Sehingga kalaupun ada kejadian atau kondisi darurat, menjadi nasabah asuransi tidak
perlu bingung seperti sering dialami masyarakat, terutama ketika uang dalam bentuk tabungan
atau barang berharga tidak cukup.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ketika mengurus klaim terhadap perusahaan atau
menuntut hak kita sebagai nasabah perusahaan asuransi tersebut, tidak segampang mencairkan
uang di dalam tabungan atau menjual barang berharga seperti emas. Untuk mengajukan klaim
kepada perusahaan asuransi diperlukan persyaratan administrasi yang sebenarnya sejak awal
sudah disepakati. Hal ini terutama sebagai salah satu langkah mengatasi berbagai cara orang
jahat yang memanfaatkan proses klaim asuransi ini. Dengan demikian ketika persyaratan
administrasi telah terpenuhi, perusahaan asuransi akan dengan mudah melaksanakan berbagai
klaim yang diajukan oleh para nasabah. Bahkan sekarang ini perusahaan asuransi telah bekerja
dengan perusahaan lain secara langsung, seperti misalnya dengan rumah sakit atau klinik
kesehatan untuk jenis asuransi kesehatan atau asuransi jiwa. Sehingga ketika seorang nasabah
asuransi kesehatan mengalami keadaan darurat, cukup menunjukkan kartu asuransi, dan rumah
sakit atau klinik kesehatan itulah yang secara langsung mengajukan klaim kepada perusahaan
asuransi setelah melayani nasabah asuransi tersebut.
Keuntungan dari usaha asuransi untuk masing masing pihak adalah sebagai berikut.
1. Bagi nasabah
Masyarakat yang menolak konsep asuransi, biasanya disebabkan karena kurangnya
pengetahuan mereka pada keuntungan asuransi. Selain itu, ada sebuah stigma tradisional yang
menyebabkan seseorang sudah merasa apriori pada kata asuransi. Beberapa stigma negatif
seperti telah disebutkan sebelumnya semakin diyakini sebagai sebuah kebenaran ketika pihak

perusahaan asuransi sendiri misalnya tidak memberikan edukasi secara jelas dan tepat. Terlepas
dari itu semua, beberapa keuntungan asuransi yang bisa didapatkan seseorang ketika menjadi
nasabah perusahaan asuransi antara lain :
a. Memberikan rasa aman dan ketenangan hidup.
b. Merupakan simpanan yang pada saat jatuh tempo dapat ditarik kembali.
c. Terhindar dari risiko kerugian atau kehilangan.
d. Memperoleh penghasilan di masa yang akan datang.
e. Memperoleh penggantian akibat kerusakan atau kehilangan.
f. Menjadikan seseorang bisa lebih tertib dalam mengatur keuangan mereka.
g. Memudahkan urusan.
2. Bagi perusahaan asuransi
a. Keuntungan dari premi yang diberikan ke nasabah.
b. Keuntungan dari hasil penyertaan modal di perusahaan lain.
c. Keuntungan dari hasil bunga dari investasi di surat surat berharga.

D. Jenis Jenis Risiko


Dalam pertanggungan asurasni terdapat berbagai jenis risiko yang dihadapi, besar kecilnya
suatu risiko merupakan salah satu pertimbangan besarnya premi asuransi yang harus dibayar.
Dalam peraktinya risiko risiko yang timbul dari setiap pemberian usaha pertanggungan
asuransi adalah sebagai berikut :
1. Risiko murni, artinya bahwa ada ketidak pastian terjadinya sesuatu kerugian atau dengan kata lain
hanya ada peluang merugi dan bukan suatu peluang keuntungan, contoh rumah mungkin akan
terbakar, atau mobil yang dikendarai akan tertabrak atau kapal dan muatanya mungkin akan
tenggelam. Jadi dalam hal ini kerugian terjadi atau tidak terjadi sama sekali.
2. Risiko spekulatif, artinya risiko dengan terjadinya dua kemungkinan, yaitu peluang untuk
mengalami kerugian keuangan atau memperoleh keuntungan dalam hal ini kemungkinan terjadi
kerugian atau keuntungan.

3. Risiko individu
Risiko individu dibagi tiga macam :
a.

Risiko perbadi, risiko kemampuan seseorang untuk memperoleh keuntungan, akibat sesuatu hal
seperti sakit, kehilangan pekerjaan atau mati.

b.

Risiko harta, risiko kehilangan harta apakah dicuri hilang atau rusak yang menyebabkan
kerugian keuangan.

c.

Risiko tanggung gugat, yaitu risiko yang disebabkan apabila kita menanggung kerugian
seseorang dan kita harus membayar. Contohnya kelalayan dijalan yang menyebabkan orang lain
tertabrak dan harus mengganti kerugian tersebut.

E. Prinsip Prinsip Asuransi


Pelaksanaan perjanjian asuransi antara perusahaan asuransi dengan pihak nasabannya tidak
dapat dilakukan secara sembarangan. Setiap perjanjian dilakukan mengandung perinsip
perinsip asuransi. Tujuan adalah untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan dikemudian
hari antara pihak perusahaan asuransi dengan pihak nasabahnya.
Prinsip perinsip asuransi yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Insurable Interest merupakan hal berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan suatu risiko
berkaitan dengan keuangan, yang diakui sah secara hukum antara tertanggung dan suatu yang
dipertanggungkan dan dapat menimbulkan hal dan kewajiban keuangan secara hukum. Semua ini
tergambar dari kontrak asuransi. Kemudian dalam hal ini perlu menyebutkan adanya kepentingan
terhapa berang yang dipertanggungkan.
2. Utmost Good Faith aua itikad baik dalam penetapan setiap suatu kontrak haruslah didasarkan
kepada iktikad baik antara tertanggung dan penanggung mengenai seluruh informasi baik materi
ril maupun ummaterill.
3.

Indeminity atau ganti rugi artinya mengendalikan posisi leuangan tertanggu setelah terjadi
kerugian seperti pada posisi sebelum terjadi kerugian tersebut. Dalam hal ini tidak berlaku bagi
kontrak asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan karena perinsip ini didasarkan kepada kerugian
yang bersifat keuangan.

4.

Proximate Cause adalah suatu sebab aktif, efisien yang mengakibatkan terjadinya suatu
peristiwa secara berantai atau berurutan atau intervinsi kekuatan lain, diawali dan bekerja dengan
aktif dari suatu sumber baru dan independen.

5. Subrogation merupakan hal penanggung yang telah memberikan ganti rugi kepada tertanggung
untuk untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan suransi mengalami suatu
peristiwa kerugian. Aritnya dengan perinsip ini penggantian kerugian tidak mungkin lebih besar
dari kerugian yang benar-benar dideritanya.
6. Contribution suatu perinsip dimana penanggungan berhak mengajak penanggung penanggung
lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada
seseorang tertanggung, meskipun jumlah tanggungan masing masing penanggung belum tentu
sama besar.

F. Perkembangan Asuransi
Perkembangan kegiatan bisnis dan persaingan dalam era persaingan global yang berdasarkan
pada ilmu pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada informasi (information focused),
mendorong industri asuransi untuk menerapkan berbagai metode baru yang lebih efisien dalam
kegiatan operasional perusahaan. Penggunaan metode baru dalam kegiatan operasional tersebut
dilakukan melalui penerapan sistem informasi berbasis komputer (Faustino, 1999).
Secara umum, peningkatan penggunaan sistem informasi berbasis komputer pada industri
asuransi dalam beberapa dekade terakhir ini, dipengaruhi oleh (1) peningkatan kompleksitas
tugas manajemen, (2) peningkatan kemampuan karyawan di semua tingkatan dalam
menggunakan komputer, dan (3) perkembangan teknologi.
Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Celent International (2008) terhadap 954 perusahaan
asuransi berskala internasional di Asia, Eropa dan Amerika dalam kurun waktu tahun 2001
2007, menunjukkan bahwa software aplikasi komputer yang digunakan sebagai penunjang
sistem informasi pada industri asuransi terbagi dalam empat kategori utama, yaitu kegiatan
pemrosesan (core processing), distribusi (distribution), dokumentasi (document management)
dan infrastruktur (infrastructure).
Core processing, meliputi seluruh kegiatan administrasi dan dokumentasi polis serta pemberian
pelayanan terhadap para pemegang polis.
Distribution, meliputi pemberian jasa dan pelayanan terhadap para agen asuransi, seperti
pembuatan ilustrasi paket asuransi yang akan ditawarkan, penentuan kuota tariff premi, dan
pembatasan rating aplikasi asuransi.
Document Management, meliputi seluruh kegiatan administrasi dan dokumentasi, seperti
dokumentasi kegiatan investasi, pelaporan, surat menyurat, serta pembuatan sertifikat yang
dilakukan oleh perusahaan.

Infrastructure, meliputi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan organisasi dalam
pengambilan keputusan bisnis, sepertienterprise resource planning (ERP), business rules engines
(BRE), dan data warehousing / business intelligence (DW/BI).
Inovasi dan peningkatan kualitas software aplikasi komputer tersebut diantaranya adalah (1)
melakukan penambahan fasilitas pelayanan, yaitu sistem administrasi polis dan sistem
administrasi pemegang polis, serta sistem administrasi klaim; (2) perubahan materi dan ruang
lingkup sistem aplikasi, yaitu peningkatan kualitas dan ruang lingkup sistem aplikasi aktuaria
menjadi sistem administrasi underwriting.
Hasil survei menunjukkan bahwa software administrasi polis yang dilengkapi dengan fasilitas
penagihan dan klaim (full policy administration) telah digunakan oleh 80% perusahaan asuransi
jiwa dan annuitas, 82% perusahaan asuransi kesehatan, serta 79% perusahaan asuransi kerugian.
Sampai dengan akhir tahun 2007, jumlah perusahaan asuransi di Amerika dan Eropa yang sudah
memberikan pelayanan transaksi pembayaran premi melalui portal internet, rata-rata sebanyak
72,5%. Software aplikasi komputerunderwriting yang dilengkapi dengan fasilitas expert system,
requirement management dan workbenchsudah digunakan oleh 51% perusahaan asuransi jiwa
dan anuitas, 59% perusahaan asuransi kesehatan dan 67% perusahaan asuransi kerugian.
Hasil penelitian dan eksplorasi yang dilakukan terhadap 112 perusahaan asuransi di Indonesia,
menunjukkan bahwa tingkat teknologi (platform) komputer perusahaan asuransi di Indonesia
62.30% berbasis mini komputer, serta sudah memanfaatkan teknologi komunikasi data dan
jaringan dalam kegiatan operasionalnya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat teknologi komputer beberapa perusahaan
asuransi di Indonesia (2.1%) masih berbasis personal computer stand alone (PC Stand Alone).
Kondisi ini terkait dengan tingginya nilai investasi yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam
membangun sistem informasi berbasis jaringan atau mini komputer. Hasil lain yang berhubungan
dengan tingkat teknologi sistem informasi pada industri asuransi adalah, 18.2% perusahaan
asuransi sudah menggunakan tingkat teknologi yang berbasis web dan terintegrasi dengan sistem
aplikasi internal perusahaan, serta dilengkapi berbagai fasilitas multimedia. Karakteristik

perusahaan asuransi yang sudah berbasis web (web base) dalam berbagai kegiatan
operasionalnya, secara umum didominasi oleh perusahaan asuransi patungan (joint venture).
Perangkat lunak (software) sistem informasi yang digunakan perusahaan asuransi di Indonesia
secara umum meliputi actuarial system, agency management, claim administration, health
administration, illustration, life administration, policy administration, premium administration,
property/casualty administration, rating & quoting, reinsurance administration, subrogation, dan
underwriting

G. SEJARAH ASURANSI
Sejarah asuransi bermula sejak lebih dari seratus tahun yang lalu, yaitu semenjak masa
penjajahan Belanda. Pada masa itu pemerintah kolonial Belanda memang melakukan penanaman
perkebunan besar-besaran di Indonesia dan sekaligus melakukan bisnis perdagangan.
Demi menjamin kelangsungan bisnisnya, maka kemudian pemerintahan Belanda di Indonesia
melakukan sebuah sistem proteksi finansial bernama asuransi dengan tujuan sebagai bentuk
perlindungan terhadap resiko-resiko kerugian yang mungkin terjadi. Perlindungan ini diterapkan
di sektor perkebunan dari mulai penanaman pohon, panen hingga di hasil kebun diperdagangkan.
Sukses mendirikan asuransi pertama bernama De Nederlanden Van 1845, sistem proteksi
keuangan ini pun akhirnya diterapkan di Indonesia. Adapun perusahaan asuransi pertama di
Indonesia yang didirikan oleh Belanda bernama Bataviasche Zee End Brand Asrantie
Maatschappij yang berbasis pada sektor asuransi kerugian akibat adanya kebakaran dan juga
kerugian yang mungkin ditimbulkan akibat adanya permasalahan saat pengangkutan
(transportasi).
Sukses dengan asuransi kerugian dan transportasi, pemerintah Belanda kemudian membangun
satu unit usaha asuransi lagi bernama Nederlandsh Indisch Leven Verzekering En Liefrente
Maatschappij (NILMIY) yang nantinya akan menjadi cikal bakal salah satu perusahaan asuransi
jiwa terbesar di Indonesia yang bernama PT. Asuransi Jiwasraya berbarengan dengan Asuransi
Jiwa Boemi Poetra 1912. Kesuksesan kedua perusahaan besar ini pun kemudian di ikuti dengan
tumbuhnya perusahaan-perusahaan asuransi baru seperti yang kita kenal hingga kini.
Pengertian Asuransi
Pengertian asuransi adalah sistem bisnis yang memberikan jaminan perlindungan finansial bagi
nasabah atau peserta yang berupa penggantian finansial atas kerugian yang dideritanya. Kerugian
tersebut dapat berupa kerugian jiwa, kesehatan, kendaraan bermotor seperti sepeda motor dan
mobil, properti dan lain sebagainya dengan kondisi dan keadaan tertentu.

Undang-undang yang mengatur masalah asuransi di Indonesia tertuang dalam UU No.2 tahun
1992 yang merupakan bentuk perjanjian mengikat antara yang menyalurkan resiko atau
"tertanggung" dan yang menerima resiko atau "penanggung" yang di dasari oleh pembayaran
dari tertanggung kepada penanggung. Sedangkan penanggung akan memberikan ganti rugi
kepada tertanggung yang berupa premi, ganti rugi atas kerugian, kerusakan atau kehilangan yang
diderita oleh si tertanggung.
Adapun ilmu yang digunakan dalam bidang asuransi bernama ilmu aktuaria atau ilmu gabungan
antara ilmu matematika, statistik dan probabilitas (kemungkinan). Ilmu inilah yang kemudian
menjadi sebuah acuan atau satuan alat tolak ukur yang digunakan perusahaan asuransi untuk
mengukur estimasi tingkat ketepatan besaran resiko kerugian klaim yang akan ditanggung oleh
perusahaan asuransi.
Perkembangan Asuransi
Perkembangan asuransi di Indonesia dimulai sejak bergabungnya Asuransi Bendasraya dengan
PT Umum Internasional Underwriter (UIU) menjadi PT Asuransi Jasa Indonesia atau Jasindo
yang merupakan perusahaan asuransi milik negara disamping Taspen, Asabri dan Jamsostek
yang kini bernama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Asuransi Modern
Semenjak tahun 1980, perkembangan asuransi di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat
pesat. Hal tersebut terlihat dari maraknya berbagai perusahaan asuransi asing dan lokal yang
mulai membuka bisnis di Indonesia. Beberapa diantaranya seperti Allianz, Prudential, AXA,
AIA, Cigna, Manulife, dan lain sebagainya. Salah satu perusahaan asuransi dengan peserta
terbesar di Indonesia saat ini adalah asuransi BPJS dengan jumlah peserta sebanyak 131,9 juta
jiwa (tahun 2014) yang akan diproyeksikan akan mencapai jumlah 168 juta pada tahun 2015 dan
257,5 juta jiwa pada tahun 2019 (mencakup seluruh populasi Indonesia).

H. Definisi Keuangan Negara


Keuangan negara yang dimaksud adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang
dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara dan
segala hak dan kewajiban yang timbul karena :
(a) berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban pejabat lembaga Negara,
baik ditingkat pusat maupun di daerah;
(b) berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban Badan Usaha Milik
Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yayasan, badan hukum dan perusahaan yang menyertakan
modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian
dengan Negara.
Pendekatan yang digunakan dalam merumuskan Keuangan Negara adalah dari sisi obyek,
subyek, proses, dan tujuan. Dari sisi obyek yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi
semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan
kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta
segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara
berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dari sisi subyek yang dimaksud
dengan Keuangan Negara meliputi seluruh obyek sebagaimana tersebut di atas yang dimiliki
negara,

dan/atau

dikuasai

oleh

Pemerintah

Pusat,

Pemerintah

Daerah,

Perusahaan

Negara/Daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara. Dari sisi proses,
Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan
obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan
sampai dengan pertanggunggjawaban. Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh
kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan
obyek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.
Bidang pengelolaan Keuangan Negara yang demikian luas dapat dikelompokkan dalam sub
bidang pengelolaan fiskal, sub bidang pengelolaan moneter, dan sub bidang pengelolaan
kekayaan negara yang dipisahkan.

I. Asas-asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara


Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan negara,
pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan secara profesional, terbuka, dan
bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang
Dasar. Sesuai dengan amanat Pasal 23C Undang-Undang Dasar 1945, Undang-undang tentang
Keuangan Negara perlu menjabarkan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang
Dasar tersebut ke dalam asas-asas umum yang meliputi baik asas-asas yang telah lama dikenal
dalam pengelolaan keuangan negara, seperti asas tahunan, asas universalitas, asas kesatuan, dan
asas spesialitas maupun asas-asas baru sebagai pencerminan best practices (penerapan kaidahkaidah yang baik) dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain :
- akuntabilitas berorientasi pada hasil;
- profesionalitas;
- proporsionalitas;
- keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara;
- pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri.
Asas-asas umum tersebut diperlukan pula guna menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip
pemerintahan daerah sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Bab VI Undang-Undang Dasar
1945. Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam Undang-undang tentang Keuangan
Negara, pelaksanaan Undang-undang ini selain menjadi acuan dalam reformasi manajemen
keuangan negara, sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh landasan pelaksanaan
desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

J. Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan Negara


Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara
sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan tersebut meliputi kewenangan yang
bersifat umum dan kewenangan yang bersifat khusus. Untuk membantu Presiden dalam
penyelenggaraan kekuasaan dimaksud, sebagian dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada
Menteri Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan
negara yang dipisahkan, serta kepada Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. Menteri Keuangan
sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan pada hakekatnya adalah Chief Financial
Officer (CFO) Pemerintah Republik Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga pada
hakekatnya adalah Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan.
Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam pembagian
wewenang dan tanggung jawab, terlaksananya mekanisme checks and balances serta untuk
mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan.
Sub bidang pengelolaan fiskal meliputi fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka
ekonomi

makro,

penganggaran,

administrasi

perpajakan,

administrasi

kepabeanan,

perbendaharaan, dan pengawasan keuangan.


Sesuai dengan asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara sebagian
kekuasaan Presiden tersebut diserahkan kepada Gubernur/Bupati/Walikota selaku pengelola
keuangan daerah. Demikian pula untuk mencapai kestabilan nilai rupiah tugas menetapkan dan
melaksanakan kebijakan moneter serta mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
dilakukan oleh bank sentral.

K. Penyusunan dan Penetapan APBN dan APBD


Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN/APBD dalam undang-undang ini
meliputi penegasan tujuan dan fungsi penganggaran pemerintah, penegasan peran DPR/DPRD
dan pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran, pengintegrasian sistem
akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran, penyempurnaan klasifikasi anggaran,
penyatuan anggaran, dan penggunaan kerangka pengeluaran jangka menengah dalam
penyusunan anggaran.
Anggaran adalah alat akuntabilitas, manajemen, dan kebijakan ekonomi. Sebagai instrumen
kebijakan ekonomi anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan dan stabilitas
perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Dalam
upaya untuk meluruskan kembali tujuan dan fungsi anggaran tersebut perlu dilakukan
pengaturan secara jelas peran DPR/DPRD dan pemerintah dalam proses penyusunan dan
penetapan anggaran sebagai penjabaran aturan pokok yang telah ditetapkan dalam UndangUndang Dasar 1945. Sehubungan dengan itu, dalam undang-undang ini disebutkan bahwa
belanja negara/belanja daerah dirinci sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan,
dan jenis belanja. Hal tersebut berarti bahwa setiap pergeseran anggaran antarunit organisasi,
antarkegiatan, dan antarjenis belanja harus mendapat persetujuan DPR/DPRD.
Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dalam upaya memperbaiki proses penganggaran di
sektor publik adalah penerapan anggaran berbasis prestasi kerja. Mengingat bahwa sistem
anggaran berbasis prestasi kerja /hasil memerlukan kriteria pengendalian kinerja dan evaluasi
serta untuk menghindari duplikasi dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian
negara/lembaga/perangkat daerah, perlu dilakukan penyatuan sistem akuntabilitas kinerja dalam
sistem penganggaran dengan memperkenalkan sistem penyusunan rencana kerja dan anggaran
kementerian negara/lembaga/perangkat daerah. Dengan penyusunan rencana kerja dan anggaran
kementerian/lembaga/perangkat daerah tersebut dapat terpenuhi sekaligus kebutuhan akan
anggaran

berbasis

prestasi

kerja

dan

pengukuran

akuntabilitas

kinerja

kementerian/lembaga/perangkat daerah yang bersangkutan.


Sejalan dengan upaya untuk menerapkan secara penuh anggaran berbasis kinerja di sektor
publik, perlu pula dilakukan perubahan klasifikasi anggaran agar sesuai dengan klasifikasi yang

digunakan secara internasional. Perubahan dalam pengelompokan transaksi pemerintah tersebut


dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan anggaran berbasis kinerja, memberikan gambaran
yang objektif dan proporsional mengenai kegiatan pemerintah, menjaga konsistensi dengan
standar akuntansi sektor publik, serta memudahkan penyajian dan meningkatkan kredibilitas
statistik keuangan pemerintah.
Selama ini anggaran belanja pemerintah dikelompokkan atas anggaran belanja rutin dan
anggaran belanja pembangunan. Pengelompokan dalam anggaran belanja rutin dan anggaran
belanja pembangunan yang semula bertujuan untuk memberikan penekanan pada arti pentingnya
pembangunan dalam pelaksanaannya telah menimbulkan peluang terjadinya duplikasi,
penumpukan, dan penyimpangan anggaran. Sementara itu, penuangan rencana pembangunan
dalam suatu dokumen perencanaan nasional lima tahunan yang ditetapkan dengan undangundang dirasakan tidak realistis dan semakin tidak sesuai dengan dinamika kebutuhan
penyelenggaraan

pemerintahan

dalam

era

globalisasi.

Perkembangan

dinamis

dalam

penyelenggaraan pemerintahan membutuhkan sistem perencanaan fiskal yang terdiri dari sistem
penyusunan anggaran tahunan yang dilaksanakan sesuai dengan Kerangka Pengeluaran Jangka
Menengah (Medium Term Expenditure Framework) sebagaimana dilaksanakan di kebanyakan
negara maju.
Walaupun anggaran dapat disusun dengan baik, jika proses penetapannya terlambat akan
berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, dalam undang-undang
ini diatur secara jelas mekanisme pembahasan anggaran tersebut di DPR/DPRD, termasuk
pembagian tugas antara panitia/komisi anggaran dan komisi-komisi pasangan kerja kementerian
negara/lembaga/perangkat daerah di DPR/DPRD.

L. Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Bank Sentral,


Pemerintah Daerah, Pemerintah/Lembaga Asing, Perusahaan Negara,
Perusahaan Daerah, Perusahaan Swasta, serta Badan Pengelola Dana
Masyarakat
Sejalan dengan semakin luas dan kompleksnya kegiatan pengelolaan keuangan negara, perlu
diatur ketentuan mengenai hubungan keuangan antara pemerintah dan lembaga-lembaga
infra/supranasional. Ketentuan tersebut meliputi hubungan keuangan antara pemerintah pusat
dan bank sentral, pemerintah daerah, pemerintah asing, badan/lembaga asing, serta hubungan
keuangan antara pemerintah dan perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan swasta dan
badan pengelola dana masyarakat. Dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank
sentral ditegaskan bahwa pemerintah pusat dan bank sentral berkoordinasi dalam penetapan dan
pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Dalam hubungan dengan pemerintah daerah, undangundang ini menegaskan adanya kewajiban pemerintah pusat mengalokasikan dana perimbangan
kepada pemerintah daerah. Selain itu, undang-undang ini mengatur pula perihal penerimaan
pinjaman luar negeri pemerintah. Dalam hubungan antara pemerintah dan perusahaan negara,
perusahaan daerah, perusahaan swasta, dan badan pengelola dana masyarakat ditetapkan bahwa
pemerintah dapat memberikan pinjaman/hibah/penyertaan modal kepada dan menerima
pinjaman/hibah dari perusahaan negara/daerah setelah mendapat persetujuan DPR/DPRD.

M. Pelaksanaan APBN dan APBD


Setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan undang-undang, pelaksanaannya dituangkan lebih
lanjut dengan keputusan Presiden sebagai pedoman bagi kementerian negara/lembaga dalam
pelaksanaan anggaran. Penuangan dalam keputusan Presiden tersebut terutama menyangkut halhal yang belum dirinci di dalam undang-undang APBN, seperti alokasi anggaran untuk kantor
pusat dan kantor daerah kementerian negara/lembaga, pembayaran gaji dalam belanja pegawai,
dan pembayaran untuk tunggakan yang menjadi beban kementerian negara/lembaga. Selain itu,
penuangan dimaksud meliputi pula alokasi dana perimbangan untuk provinsi/kabupaten/kota dan
alokasi subsidi sesuai dengan keperluan perusahaan/badan yang menerima.
Untuk memberikan informasi mengenai perkembangan pelaksanaan APBN/APBD, pemerintah
pusat/pemerintah daerah perlu menyampaikan laporan realisasi semester pertama kepada
DPR/DPRD pada akhir Juli tahun anggaran yang bersangkutan. Informasi yang disampaikan
dalam laporan tersebut menjadi bahan evaluasi pelaksanaan APBN/APBD semester pertama dan
penyesuaian/perubahan APBN/APBD pada semester berikutnya.
Ketentuan mengenai pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD
ditetapkan tersendiri dalam undang-undang yang mengatur perbendaharaan negara mengingat
lebih banyak menyangkut hubungan administratif antarkementerian negara/lembaga di
lingkungan pemerintah.

N.Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara


Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang
memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi
pemerintah yang telah diterima secara umum.
Dalam undang-undang ini ditetapkan bahwa laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBN/APBD disampaikan berupa laporan keuangan yang setidak-tidaknya terdiri dari laporan
realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan yang disusun
sesuai dengan standar akuntansi pemerintah. Laporan keuangan pemerintah pusat yang telah
diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan harus disampaikan kepada DPR selambat-lambatnya
6 (enam) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan, demikian pula laporan
keuangan pemerintah daerah yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan harus
disampaikan kepada DPRD selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah berakhirnya tahun
anggaran yang bersangkutan.
Dalam

rangka

akuntabilitas

pengelolaan

keuangan

negara

menteri/pimpinan

lembaga/gubernur/bupati/walikota selaku pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung


jawab

atas

pelaksanaan

kebijakan

yang

ditetapkan

dalam

Undang-undang

tentang

APBN/Peraturan Daerah tentang APBD, dari segi manfaat/hasil (outcome). Sedangkan Pimpinan
unit organisasi kementerian negara/lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang
ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN, demikian pula Kepala Satuan Kerja Perangkat
Daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah
tentang APBD, dari segi barang dan/atau jasa yang disediakan (output). Sebagai konsekuensinya,
dalam

undang-undang

ini

diatur

lembaga/gubernur/bupati/walikota,

sanksi

serta

yang

Pimpinan

berlaku
unit

bagi

menteri/pimpinan

organisasi

kementerian

negara/lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan


kebijakan/kegiatan yang telah ditetapkan dalam UU tentang APBN /Peraturan Daerah tentang
APBD. Ketentuan sanksi tersebut dimaksudkan sebagai upaya preventif dan represif, serta
berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya Undang-undang tentang APBN/Peraturan Daerah
tentang APBD yang bersangkutan.

Selain itu perlu ditegaskan prinsip yang berlaku universal bahwa barang siapa yang diberi
wewenang untuk menerima, menyimpan dan membayar atau menyerahkan uang, surat berharga
atau barang milik negara bertanggungjawab secara pribadi atas semua kekurangan yang terjadi
dalam pengurusannya. Kewajiban untuk mengganti kerugian keuangan negara oleh para
pengelola keuangan negara dimaksud merupakan unsur pengendalian intern yang andal

DAFTAR PUSTAKA
Kasmir (2012). Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, Depok : Penerbit PT Rajagrafinda
Persada.
Supriatna (2013). Keuntungan asuransi. From http://www.anneahira.com/keuntunganasuransi.htm, 21 Mei 2014
Aji (2013). Asuransi Definisi. From http://www.asuransi-mobil.com/asuransi-definisi.htm, 12
Mei 2014
Bangbang (2013). From http://www.imoney.co.id/articles/jenis-jenis-asuransi-yang-ada-diindonesia/, 12 Mei 2014
Nunu (2013). From http://nunite.blogspot.com/2013/03/pengetahuan-dasar-tentangasuransi.html, 12 Mei 2014

[1]

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Perusahaan Asuransi, Depok, 2012, hlm.

260.
[2]

Nuni, Pengetahuan Dasar Tentang Asuransi, Nunite, diakses dari

http://nunite.blogspot.com/2013/03/pengetahuan-dasar-tentang-asuransi.html, pada tanggal 12


Mei 2014 pukul 20.18
[3]

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Perusahaan Asuransi, Depok, 2002, hlm.

261.
[4]

Aji, Definisi dan Fungsi Asuransi, Asuransi Mobil, diakses dari http://www.asuransi-

mobil.com/asuransi-definisi.htm pada tanggal 12 Mei 2014 Jam 23:08