Anda di halaman 1dari 11

PSYCHOLOGICAL EDUCATION

It is Submitted to Fulfill Psychological Education Presetation


Lecturer: Rosmania Rima, S.Pd., M.Pd

Submitted by:
Dimas Yoga Pamungkas
Ghina Nuha Mufidah
Usamah
Willy Sondang Simarmata

2223121
2223121649
2223121087
2223121247

VI B

ENGLISH DEPARTMENT
TEACHERS TRAINING AND EDUCATION FACULTY
SULTAN AGENG TIRTAYASA UNIVERSITY
2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan


diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi
terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan
kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan layanan konseling
merupakan serta beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap peserta didik,
pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai
secara sempurna dan tepat guna.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Oleh karena itu, agar
tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang
terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku
individu sekaligus dapat menunjukkanperilakunya secara efektif.
Dunia pendidikan khususnya di sekolah, memegang peranan penting dalam
proses belajar selain instasi sekolah adalah adanya kerjasama antara guru dan siswa.
Seorang guru memegang peranan penting dalam membentuk siswanya. Tidak hanya
membentuk dalam bentuk pola pikir atau pengetahuan, seorang guru juga dituntut
untuk dapat membentuk siswanya dari segi tingkah laku dan emosional siswa.Seorang
guru juga berperan sebagai pengganti orang tua atau orang tua kedua bagi siswa
disekolah. Sehingga seorang guru harus dapat dan mampu memberikan contoh yang
posistif atau memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Di sekolah sering sekali
terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos, dan lain sebagainya.
Dalam hal demikian berarti bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang
tepat untuk mendorong dan memberi semangat bagi anak didiknya agar dapat belajar
dengan sungguh-sungguh .

B. Tujuan

Menyebutkan, menjelaskan, dan memberikan contoh tentyang beberapa jenis,


sumber, dan penggolongan motivasi perilaku manusia.

Membuat bagan proses secara skematik tentang dinamika perilaku manusia,


dengan penjelasannya;

Menyebutkan, menjelaskan, dan memberikan contoh tentang beberapa cara


pengukuran dan peningkatan motivasi kerja dan belajar.

Menjelaskan dan memberikan contoh tentang proses membuat pilihan dan


keputusan, konfliik dan frustasi, serta bentuk-bentuk perilaku usaha
penyesuaiannya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Motivasi
1. Pengertian
Dalam (Ratna Yudhawati dan Dani Haryanto, 2011: 79) motivasi dapat
diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat

presentasi dan antusiasismenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang


bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar
individu (motivasi ekstrinsik)
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan
terhadap kualitas prilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar bekerja
maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki
daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan
dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang (Ratna Yudhawati
dan Dani Haryanto, 2011: 79).
2. Macam-macamMotivasi
Dalam membicarakan soal macam-macam motivasi, menurut (Syaiful Bahri
Djamarah, 2000: 115-117) hanya akan dibahas dari dua sudut pandang, yakni
motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang disebut motivasi
intrinsik dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang disebut motivasi
ekstrinsik
a. Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrisik adalah motif-motif yang
terjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsic. Motivasi
ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya
perangsang dari luar.

B. Dinamika Perilaku
Dinamika perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh
manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan
genetika. Menurut perspektif kognitif lebih menekankan bahwa tingkah laku adalah
proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai,
membandingkan dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Menurut
perspektif behaviorisme manusia adalah mesin (homo mechanicus) yang perilakunya
dikendalikan atau dikendalikan oleh lingkungan.
Pada dasarnya individu mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan
dalam memenuhi kebutuhannya individu memerlukan perilaku-perilaku yang dinamis.
Untuk mendapatkan perilaku yang dinamis, individu perlu menyesuaikan dan
menggunakan segala aspek yang ada dalam dirinya. Apabila semua aspek dalam diri

individu dapat berjalan dinamis, individu tidak hanya dapat memenuhi kebutuhannya
tetapi juga dapat mengembangkan diri ke arah pengembangan pribadi.
Pengembangan pribadi yang dimaksud adalah individu dapat menguasai
kemampuan-kemampuan social secara umum seperti keterampilan komunikasi yang
efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima toleran, mementingkan
musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa
tanggung jawab social seiiring dengan kemandirian yang kuat dan lain sebagainya.
Dalam Pendidikan pun dinamika perilaku perlu diterapkan agar kegiatan
bimbingan dan konseling kelompok bisa berjalan dengan lancar, dinamis dan tujuan
yang diingkan tercapai. Misalnya dalam bimbingan dan konseling kelompok semua
anggota dan konselor bersikap pasif maka kegiatan tersebut tidak akan hidup dan
tidak berjalan dengan lancar. Begitu pula sebaliknya.
Menurut pandangan humanistic, manusia adalah makhluk yang aktif dalam
merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya. Perilaku manusia berpusat
pada konsep dirinya berupa persepsi manusia tentang identitas dirinya yang bersifat
fleksibel dan berubah-ubah. Selain itu perilaku manusia juga didasarkan pada
kebutuhannya

dalam

fungsi

untuk

mempertahankan,

meningkatkan

serta

mengaktualisasikan dirinya.
Psikologi memberikan sumbangan terhadap pendidikan, karena subjek dan
objek pendidikan adalah manusia (individu). Psikologi memberikan wawasan
bagaimana memahami perilaku individu, proses pendidikan serta bagaimana
membantu individu agar dapat berkembang optimal.
Dalam literatur psikologi pada umumnya para ahli ilmu ini berpendapat bahwa
penentu perilaku utama manusia dan corak kepribadian adalah keadaan jasmani,
kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan. Determinan tri dimensional ini (organo
biologi, psikoedukasi, dan sosiokultural) merupakan determinan yang banyak dianut
oleh ahli psikologi dan psikiatri. Dalam hal ini unsur ruhani sama sekali tidak masuk
hitungan karena dianggap termasuk penghayatan subjektif semata-mata.
Selain itu psikologi apapun alirannya menunjukkan bahwa filsafat yang
mendasarinya bercorak antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat
segala pengalaman dan relasi-relasinya serta penentu utama segala peristiwa yang
menyangkut masalah manusia. Pandangan ini mengangkat derajat manusia teramat
tinggi ia seakan-akan memiliki kausa prima yang unik, pemilik akal budi yang sangat
hebat, serta memiliki kebebasan penuh untuk berbuat apa yang dianggap baik dan
sesuai baginya.
C. Pengertian, Sumber, dan Penggolongan Motivasi Perilaku Manusia

Meskipun para ahli mendefinisikan dengan cara dan gaya yang berbeda,
namun tujuannya menuju kepada maksud yang sama, ialah bahwa motivasi itu
merupakan :

Suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy).


Suatu keadaan yang kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan
(preparatory set) dalam diri individu (organism) untuk bergerak (to
move, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun

tidak disadari.
Jadi,secara sederhana, motivasi adalah suatu dorongan yang timbul dari diri
manusia untuk melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Motivasi timbul dan
berkembang melalui dua faktor, yaitu faktor dari diri sendiri (intrinsik) dan faktor
lingkungan (ekstrinsik).
Atas dasar sumber dan proses perkembangannya, terjadi penggunaan berbagai
macam istilah yang sering dipertukarkan (interchangeable). Untuk keperluan studi
psikologis telah diadakan penertiban dengan diadakan penggolongannya, antara lain
sebagai berikut:
Motif Primer (Primary Motive) atau motif dasar (basic motive) menunjukkan
kepada motif yang tidak dipelajari (learned motive) yang untuk ini sering juga
digunakan istilah dorongan (drive). Golongan motif ini pun dibedakan lagi ke dalam:
1. Dorongan fisiologis (physiological drive) yang bersumber pada kebutuhan
organis (organic needs) yang mencakup antara lain lapar, haus, pernafasan,
seks, kegiatan, dan istirahat. Untuk menjamin kelansungan hidup organis
diperlukan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan tersebut sehingga dicapai
keadaan fisik (physiological state or condition) yang seimbang (homeostasis).
2. Dorongan Umum (Morgans General Drive) dan Motif Darurat (Wodworths
Emergency Motive), termasuk di dalamnya dorongan takut, kasih sayang,
kegiatan,

kekaguman

dan

ingin

tahu;

dalam

hubungannya

dengan

rangsangandari luar, termasuk dorongan untuk melarikan diri (escape),


menyerang (combat), berusaha (effort) dan mengejar (pursuit) dalam rangka
mempertahankan dan meyelamatkan dirinya.
Motif-motif yang termasuk ke dalam kategori primer tersebut pada umumnya
terjadi secara natural dan instinktif.
Motif Sekunder (Secondary Motive) menunjukkan kepada motif yang
berkembang dalam diri individu karena pengalaman, dan dipelajari (conditioning
and reinforcement). Ke dalam golongan ini termasuk, antara lain:
1. Takut yang dipelajari (learned fears).

2. Motif-motif sosial (ingin diterima, dihargai, konformitas, afiliasi,


persetujuan, status, merasa aman, dan sebagainya).
3. Motif-motif objectif dan interest (eksplorasi, manipulas, minat).
4. Maksud (purposes) dan spirasi.
5. Motif berprestasi (achievement motive)
Jika dipandang dari segi motifnya, setiap gerak perilaku manusia itu selalu
mengandung tiga aspek, yang kedudukannya bertahap dan berurutan (sequential),
yaitu:
1. Motivating State (timbulnya kekuatan dan terjadinya kesiapsediaan sebagai
akibat terasanya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal dalam diri
organisme atau karena terangsang oleh stimulasi tertentu)
2. Motivated Behavior (Berrgeraknya organisme ke arah tujuan tertentu sesuai
dengan sifat kebutuhan yang hendak dipenuhi dan dipuaskannya, misalnya
lapar cari makanan dan memakannya). Dengan demikian, setiap perilaku pada
hakikatnya bersifat instrumental (sadar atau tidak sadar).
3. Satisfied Conditions (dengan berhasilnya dicapai tujuan yang dapat
memenuhi kebutuhan terasa, maka keseimbangan dalam diri organsime pulih
kembali. Hal menciptakan suatu kondisi yang terpelihara, homeostatis, yang
selanjutnya kondisi ini demikian dihayati sebagai rasa nikmat dan puas atau
lega). Namun, di dalam kenyataannya, tidak selamanya kondisi pada tahap
ketiga itu demikian, bahkan mungkin sebaliknya. Adakalanya terjadi
ketegangan yang memuncak jika intensifnya (goals) tidak tercapai, sehingga
individu merasa kecewa (frustration).
Karena terjadinya metabolisme dan penggunaanatau pelepasan kalori, perangsangan
kembali, dan sebagainya, kepuasan itu hanya bersifat temporal (sementara). Oleh
karena itu, geraknya atau dinamika proses perilaku itu sebenarnya akan berlangsung
secara siklus (cyclical), yang dapat digambarkan secara skematik seperti di bawah ini:

Indicator Pengukuran Motivasi Kerja dan Belajar


1. Durasi
2. Frekuensi
3. Persistensi (Ketetapan/kelekatan)
4. Ketabahan, keuletan, kemampuan dalam menghadapi rintangan
5. Devosi (pengabdian) dan Pengorbanan
6. Tingkat Aspirasinya
7. Tingkat Kualifikasi Prestasi
Arah sikap terhadap sasaran (Like-disklike; Positif-negatif)

Teknik Pendekatan dan Pengukuran Motivasi


1. Tes Tindakan (Performance Test)
2. Kuesioner dan Inventori
3. Mengarang Bebas
4. Tes Prestasi dan Skala Sikap
Upaya Meningkatkan Motivasi Kerja dan Belajar
Hindarkan sugesti dan kondisi negatif
Ciptakan situasi kompetisi yang sehat
Adakan pacemaking (atas dasar prinsip goalgradient)
Informasikan hasil kegiatan dan diskusikan dengan yang lain
Reward/Bonus dan Punishment/Penalty
Poses Membuat Pilihan, Konflik dan Frustasi, serta Bentuk Perilaku
Penyesuaiannya
INSTRUMENTAL BEHAVIOR (Kemungkinan tindakan yang dapat
ditempuh)
GOAL / INCENTIVE (kemungkinan sasaran/tujuan yang hendak dicapai)
Faktor Pertimbangan Memilih Alternative

PERTIMBANGAN UNTUNG RUGI (Cost-Benefit)


KEMAUAN (The Willingness) & KATA HATI (The Conscince of Man)

KEMUNGKINAN RESIKO YANG TIMBUL DARI SETIAP ALTERNATIF


APPROACH >>
APPROACH-CONFLICT
AVOIDANCE >>
AVOIDANCE-CONFLICT
APPROACH >>
AVOIDANCE-CONFLICT
TUJUAN TIDAK TERCAPAI >> FRUSTASI
MENGGUNAKAN AKAL SEHAT
Adjusment (Penyesuaian Penyelesaian)
Aktif (Mengubah & mencari lingkungan/alternatif lain
Pasif (Mengubah dirinya)

MENGGUNAKAN EMOSI

Maladjusment (Salahsuai)
Agresi Marah (Angry Agression)
Kecemasan tak berdaya (Helplessness Anxiety)
Regresi (Regression)
Fiksasi (Fixation)
Represi (Repression)
Rasionalisasi (mencari alasan)
Proyeksi
Sublimasi
Kompensasi
Berfantasi
Konflik Individu

Menurut KBBI dalam (PrimadiAvianto, 2011), konflik adalah percekcokan;


perselisihan; pertentangan. Dari asal kata configere yang berarti saling berbenturan.
Yakni semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, pertentangan, perkelahian,
dan interaksi-interaksi yang saling bertentangan.
Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada
tujuan tertentu. Dengan beragam motif yang terdapat dalam diri individu, adakalanya
individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut
konflik.
Konflik (conflict), terjadi ketika ada dua atau lebih motif yang saling
bertentangan sehingga individu berada dalam situasi petentangan batin, kebingungan,
dan keragu-raguan.
Bentuk-bentuk konflik tersebut menurut (Jufry Malyno, 2012), antara lain:

1. Approach-approach Conflict

Approach-approach Conflict, dimana seseorang mengalami konflik karena


diperhadapkan pada dua tujuan yang sama-sama menguntungkan atau sama-sama
disukai, karena memiliki daya tarik yang sama juga. Sebagai contoh, di waktu yang
sama, seseorang harus membuat pilihan menerima promosi jabatan yang sudah lama
didambakan atau pindah tempat tugas ke tempat lain dengan iming-iming gaji yang
besar.
2. Avoidance-avoidanceConflict

Di sini, seseorang menghadapi situasi yang mengharuskan ia terpaksa memilih


di antara dua alternatif yang sama-sama tidak disukai atau sama-sama dianggap
buruk. Contoh kongkrit, seumpama seseorang disuruh memilih untuk dipindahkan
kerja ke daerah lain pada lokasi yang tidak menyenangkan, atau tidak pindah ke
tempat baru yang disuruh tapi gajinya diturunkan.
3. Approach-avoidanceconflict

Pada kasus ini, seseorang harus menghadapi situasi dimana waktu ia memilih,
ia harus menghadapi konsekwensi yang saling bertolak belakang. Misalnya, orang itu
akan memperoleh gaji yang sangat besar, tapi harus pindah ke tempat terpencil yang
sangat tidak disukai.
Jika peserta didik menghadapi konflik-konflik seperti tersebut diatas, maka
tentunya akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan dan sangat mungkin
mengakibatkan terjadinya pergolakan jiwa atau perang batin yang berkepanjangan.
Disinilah peran guru sangat dibutuhkan untuk sedapat mungkin membantu para
peserta didik agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang
mendalam sekaligus memberikan bimbingan yang bermanfaat bagi peserta didik
untuk mengatasi setiap permasalahan atau konflik yang mereka alami.

DAFTAR PUSTAKA

http://shiroi-kiba.blogspot.com/2011/12/pengertian-sumber-dan-penggolongan.html#axzz2wHe3vRM3
Syamsudin Makmun, Abin, (2007) Psikologi Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung