Anda di halaman 1dari 16

MODUL RAPAT KERJA TEKNIS

PENANGANAN PELANGGARAN PEMILU ANGGOTA DPR, DPD, dan DPRD


A. POKOK BAHASAN
Tata Cara Penanganan Pelanggaran Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD

B. DESKRIPSI SINGKAT
Pokok bahasan ini disampaikan dengan maksud untuk memberikan
kemampuan peserta di bidang penanganan pelanggaran Pemilu Anggota
DPR, DPD dan DPRD.

C. METODE
1. Presentasi
2. Simulasi kelompok
D. BAHAN RUJUKAN
1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR,
DPD, DPRD;
3. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 13 Tahun 2012
tentang Tata Cara Pengawasan Pemilihan Umum;
4. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 14 Tahun 2012
tentang Tata Cara Pelaporan dan Penanganan Pelanggaran Pemilihan
Umum;
5. Peraturan Bawaslu Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Badan Pengawas Pemilu Nomor 14 Tahun 2012 tentang Tata
Cara Pelaporan dan Penanganan Pelanggaran Pemilihan Umum.
E. PROSES PEMBELAJARAN
1. Narasumber memberikan Paparan tentang Tata Cara Pelaporan dan
Penanganan Pelanggaran dalam Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
(waktu: 45 menit);
2. Peserta dibagi dalam 3 (Tiga) kelompok untuk melakukan simulasi
kasus, dengan ketentuan masing-masing kelompok:
a. Menentukan Ketua (sebagai moderator Diskusi dan Penyaji Diskusi)
dan Sekretaris Kelompok (sebagai notulen Diskusi);
b. Ketua melakukan pembagian tugas dan dikusi kepada masing-masing
anggota Kelompok;
c. Hasil Diskusi dituangkan dan Formulir yang disediakan oleh
Fasilitator.
3. Panitia membagikan Lembar Kerja Simulasi Kasus;
||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

4. Fasilitator memandu simulasi kasus dan melakukan bimbingan kepada


masing-masing Kelompok sesuai kebutuhan.
5. Fasilitator mempersilahkan masing-masing Kelompok mempresentasikan
hasil kerja Kelompoknya selama 10 menit.

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

NASKAH PEGANGAN
TATA CARA PENANGANAN PELANGGARAN PEMILU

I.

DASAR HUKUM
Dalam menangani dugaan pelanggaran Pemilu, berikut disampaikan beberapa
dasar hukum yang menjadi pedoman Pengawas Pemilu dalam melakukan
penanganan pelanggaran Pemilu, yakni sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan
Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 101,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5246);
b. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5316);
c. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 13 Tahun 2012
tentang Tata Cara Pengawasan Pemilihan Umum (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 1080);
d. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 14 Tahun 2012
tentang Tata Cara Pelaporan dan Penanganan Pelanggaran Pemilihan
Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 1081);
e. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2013 tentang
Perubahan Atas Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 14
Tahun 2012 tentang Tata Cara Pelaporan dan Penanganan Pelanggaran
Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
f. Peraturan Bersama Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilihan
Umum, Dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Nomor 13
Tahun 2012, Nomor 11 Tahun 2012, Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Kode
Etik Penyelenggara Pemilihan Umum;
g. Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Nomor 2
Tahun 2012 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilihan
Umum;
h. Nota Kesepakatan Bersama Badan Pengawas Pemilihan Umum, Kepolisian
Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor
01/NKB/BAWASLU/1/2013,
Nomor
B/02/1/2013,
Nomor
KEP005/A/JA/01/2013 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu;
i. Standar Operasional Prosedur Tentang Pola Penanganan Tindak Pidana
Pemilu Pada Sentra Penegakkan Hukum Terpadu.
||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

II. PENGERTIAN-PENGERTIAN
Dalam penanganan pelannggaran Pemilu, dikenal beberapa istilah, yakni
sebagai berikut:

a. Penanganan pelanggaran Pemilu adalah serangkaian proses yang meliputi

penerusan temuan hasil pengawasan kepada bidang penanganan


pelanggaran atau penerimaan laporan pelanggaran, pengumpulan bukti,
klarifikasi, pengkajian, dan penerusan hasil kajian atas temuan/laporan
kepada instansi yang berwenang untuk ditindaklanjuti.

b. Temuan adalah hasil pengawasan Pengawas Pemilu yang didapat secara

langsung maupun tidak langsung berupa data atau informasi tentang


dugaan terjadinya pelanggaran Pemilu (Pasal 1 angka 25 Peraturan
Bawaslu Nomor 13 Tahun 2012).
c. Laporan Dugaan Pelanggaran adalah laporan yang disampaikan secara

resmi baik lisan dan/atau tulisan oleh peserta pemilu, pemantau Pemilu,
maupun masyarakat kepada Pengawas Pemilu tentang dugaan terjadinya
pelanggaran Pemilu (Pasal 1 angka 17 Peraturan Bawaslu Nomor 14 Tahun
2012).
d. Pelanggaran Pemilu adalah tindakan yang bertentangan atau tidak sesuai

dengan peraturan perundang-undangan terkait Pemilu (Pasal 1 angka 22


Perbawaslu Nomor 14 Tahun 2012);
e. Kode Etik Penyelenggara Pemilu, selanjutya disebut Kode Etik, adalah

satu kesatuan landasan norma moral, eti dan filosofis yangmenjadi


pedoman bagi perilaku penyelenggara pemilihan umumyang diwajibkan,
dilarang,patut atau tidak patut dilakukan dalam semua tindakan dan
ucapan (Pasal 1 angka 6 Peraturan Bersama KPU, Bawaslu, dan DKPP);
f. Pelanggaran Administrasi Pemilu adalah pelanggaran yang meliputi tata

cara, prosedur, dan mekanisme yang berkaitan dengan administrasi


pelaksanaan Pemilu dalam setiap tahapan Penyelenggara Pemilu di luar
tindak pidana Pemilu dan pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu
(Pasal 1 angka 24 Perbawaslu Nomor 14 Tahun 2012);
g. Tindak

Pidana Pemilu adalah tindak pidana pelanggaran dan/atau


kejahatan terhadap ketentuan tindak pidana Pemilu sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan
DPRD.

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

III. PENANGANAN PELANGGARAN PEMILU


A. PENERIMAAN PENERUSAN TEMUAN DUGAAN PELANGGARAN ATAU
LAPORAN DUGAAN PELANGGARAN
Dugaan Pelanggaran Pemilu dalam Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD
dapat berasal dari Temuan Dugaan Pelanggaran Pemilu maupun Laporan
Dugaan Pelanggaran Pemilu.
1. PENERIMAAN TEMUAN DUGAAN PELANGGARAN
Temuan Dugaan Pelanggaran dapat berasal dari:
a. Hasil pengawasan Pengawas Pemilu;
b. Laporan masyarakat yang disampaikan secara tidak langsung;
c. Laporan masyarakat yang tidak memenuhi persyaratan formal;
Huruf b dan Huruf c dijadikan Informasi Awal oleh Divisi Pengawasan
untuk dilakukan penelusuran. Terhadap hasil penelusuran tersebut,
oleh Pengawas Pemilu dituangkan dalam Lampiran Formulir Model A-1
Perbawaslu Nomor 13 Tahun 2012.
Temuan dugaan pelanggaran yang berasal dari hasil pengawasan
disertai bukti awal dugaan pelanggaran yang dapat berupa antara
lain:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Surat atau dokumen;


Foto;
Kaset rekaman;
Dokumen elektronik;
Alat peraga kampanye; dan/atau
Keterangan saksi.

a. TEMUAN DUGAAN PELANGGARAN


1) Hasil pengawasan dan/atau Informasi awal yang berupa Temuan
dugaan pelanggaran dituangkan oleh Pengawas Pemilu ke dalam
Formulir Model A-1 (Lampiran Perbawaslu Nomor 13 Tahun 2012
Tentang Tata cara Pengawasan Pemilu).
2) Pengawas Pemilu (yang ditunjuk sebagai Penemu) meneruskan
hasil pengawasan dan/atau Informasi Awal yang mengandung
unsur Temuan dugaan pelanggaran kepada bidang penanganan
pelanggaran untuk ditindaklanjuti dengan menggunakan
formulir model A-2 dan menerbitkan Formulir A-3 (Lampiran
Perbawaslu Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Tata
Cara
Pengawasan Pemilu) dan dilengkapi dengan bukti awal dugaan
pelanggaran beupa :
||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

a)
b)
c)
d)
e)

Keterangan saksi;
Surat atau dokumen;
Foto dan/atau video;
Dokumen elektronik; dan/atau
alat peraga kampanye.

3) Pengawas Pemilu wajib mengisi dan menandatangani Formulir


Temuan Dugaan Pelanggaran Pemilu, yaitu Formulir B.2-DD
(Perbawaslu Nomor 14 Tahun 2012 Tata Cara Pelaporan dan
Penanganan Pelanggaran Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD,
dan DPRD), yang memuat:
a) Data Pengawas
b) Waktu dan tempat peristiwa
c) Nama dan alamat pelaku;
d) Nama dan alamat saksi-saksi;
e) Bukti-bukti; dan
f) Uraian kejadian.
4) Pengawas Pemilu (yang ditunjuk sebagai Penemu) meneruskan
Temuan dugan pelanggaran Pemilu kepada Bidang Penindakan
Pelanggaran paling lambat 7 (tujuh) hari sejak diketahui dan/atau
ditemukan;
b. PENERIMAAN PENERUSAN TEMUAN DUGAAN PELANGGARAN
Petugas Penerima Penerusan Temuan Dugaan Pelanggaran dalam
menerima penerusan Temuan Dugaan Pelanggaran melakukan hal-hal
sebagai berikut:
1) memeriksa kelengkapan persyaratan formil dan persyaratan
materiil Temuan Dugaan Pelanggaran (Formulir Model B.2-DD);
2) membuat Tanda Bukti Penerimaan Penerusan Temuan Dugaan
Pelanggaran Pemilu (Formulir Model B.4-DD) dalam hal Temuan
Dugaan Pelanggaran memenuhi kelengkapan persyaratan formil
dan materiil;
3) memberikan Formulir Model B.4-DD kepada Pengawas Pemilu
dan/atau Petugas yang meneruskan Temuan, serta 1 (satu)
rangkap untuk yang menerima penerusan Temuan;
4) Melakukan pencatatan dan rekapitulasi atas penerimaan
penerusan Temuan dalam Buku Register Penerimaan Laporan
5) penomoran Formulir Model B.2-DD menggunakan penomoran yang
sama dengbn nomor Formulir Model B.4-DD.
2. PENERIMAAN LAPORAN DUGAAN PELANGGARAN
a. Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu
Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan dan Pengawas Pemilu Luar
Negeri menerima laporan pelanggaran Pemilu pada setiap tahapan
||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

penyelenggaraan Pemilu (Pasal 249 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun


2012.
b. Laporan dugaan pelanggaran yang disampaikan oleh Pelapor
(masyarakat/pemantau/peserta pemilu) dengan dituangkan dalam
formulir laporan (Formulir Model B.1-DD);
c. Laporan Dugaan Pelanggaran disampaikan kepada Pengawas Pemilu
dalam jangka waktu paling lama7 (tujuh) hari sejak diketahui
dan/atau ditemukannya pelanggaran (Pasal 7 Perbawaslu Nomor 3
Tahun 2013);
d. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Penelitian Kelengkapan
Persyaratan Formil dan Materiil Formulir Model B.1-DD, sebagai
berikut:
1) identitas (nama dan alamat) Pelapor;
2) uraian dugaan pelanggaran/peristiwa yang dilaporkan;
3) waktu kejadian (hari, tanggal, dan jam);
4) tempat kejadian (diuraikan secara jelas);
5) pelaku/pihak yang dilaporkan ;
6) pihak yang menyaksikan/mengetahui kejadian/ peristiwa yang
dilaporkan;
7) bukti yang mungkin diperoleh atau diketahui;
8) Cara mendapatkan bukti yang diserahkan.
e. Petugas Penerima Laporan Dugaan Pelanggaran dalam menerima
Laporan Dugaan Pelanggaran melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) memeriksa kelengkapan persyaratan formil dan persyaratan
materiil Laporan Dugaan Pelanggaran (Formulir Model B.3-DD);
2) membuat Tanda Bukti Penerimaan Laporan Dugaan Pelanggaran
Pemilu (Formulir Model B.3-DD) dalam hal Laporan Dugaan
Pelanggaran memenuhi kelengkapan persyaratan formil dan
materiil;
3) memberikan Formulir Model B.4-DD kepada Pengawas Pemilu
dan/atau Petugas yang meneruskan Temuan, serta 1 (satu)
rangkap untuk yang menerima penerusan Temuan;
4) Melakukan pencatatan dan rekapitulasi atas penerimaan
penerusan Temuan dalam Buku Register Penerimaan Laporan
5) penomoran Formulir model B.1-DD menggunakan penomoran
yang sama dengbn nomor formulir model B.3-DD.
f. Petugas Penerima Laporan meneliti kelengkapan Pemenuhan Syarat
Formal dan Syarat Materiil sebagai berikut:
Dalam hal Laporan/Temuan memenuhi syarat Formal dan
Materiil, maka Laporan/Temuan diberikan penomoran untuk
dilakukan Pengkajian;
||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

Dalam hal Laporan/Temuan dinyatakan belum lengkap, maka


Petugas Penerima Laporan/Temuan mengarahkan untuk
melengkapi dengan memperhatikan batas waktu pelaporan;
Dalam hal Laporan/Temuan dinyatakan Tidak memenuhi syarat
Formal, maka Laporan/Temuan
tersebut dijadikan menjadi
Informasi Awal oleh Pengawas Pemilu.

Alur Penerimaan Laporan/Temuan dan Penomoran

Pengaw
as
Pemilu

Laporan/
Temuan

lengkap

Pemeriksa
an
Kelengkap
an

7 hari sejak diketahui dan/atau


ditemukannya

Diberika
n
Penomor
an

Dilengka
pi

Belum
lengka
p

Penentuan Batas Waktu Pelaporan/Penerusan Temuan

14

7
12.0
0

1
0

1
1

1
2

1
3

12.0
0

Tanggal Diketahui/Ditemukan
Tanggal Terakhir Melaporan ke PP

Apa saja
konsekuensi Jika
Diberikan
Penomoran T/L
dalam Kondisi
Belum Lengkap?
||Rakernis Penanganan
Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

Harus dilakukan penanganan


pelanggaran, pengkajian
hukum dan rekomendasi dalam
koridor 3+2 hari penanganan
Waktu Penanganan
Pelanggaran langsung
berjalan sejak diterima oleh
Pengawas Pemilu

Terkait Dugaan Tindak Pidana Pemilu,


maka dalam waktu 1 x 24 jam sejak
diterima Temuan/Laporan harus
diadakan Rapat Pembahasan Sentra
Gakkumdu

B.

PENANGANAN LAPORAN DAN TEMUAN


1. Pangawas Pemilu mengkaji setiap Temuan/Laporan yang diterima dan
memutuskan untuk menindaklanjuti atau tidak menindaklanjuti paling
lama 3 (tiga) hari setelah laporan diterima. Dalam hal diperlukan,
kajian dugaan pelanggaran dapat diperpanjang paling lama 5 (lima)
hari setelah Temuan atau Laporan diterima.
2. Pengawas Pemilu mengkaji pelanggaran Pemilu menggunakan acuan
Formulir Model B.9-DD (Lampiran Peraturan Bawaslu Nomor 14 Tahun
2012).
3. Dalam proses pengkajian Temuan/Laporan dugaan pelanggaran,
Pengawas Pemilu dapat meminta kehadiran pelapor, terlapor, saksi
dan/atau ahli untuk didengar keterangan dan/atau klarifikasinya di
bawah sumpah.
4. Pengawas Pemilu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut dalam
melakukan klarifikasi:
a. Menyiapkan Surat Undangan Klarifikasi dan menyampaikannya
kepada pihak-pihak yang akan dimintakan keterangan dalam waktu
yang layak;
b. Undangan klarifikasi merujuk pada Formulir Model B.5-DD (lampiran
Peraturan Bawaslu Nomor 14 Tahun 2012);

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

c. Menyiapkan Berita Acara Klarifikasi dan Berita Acara di bawah


sumpah (Formulir Model B.6-DD dan/atau Formulir Model B.7-DD
Lampiran Peraturan Bawaslu Nomor 14 Tahun 2012);
d. Penandatanganan Berita Acara di Bawah Sumpah harus dibacakan
dan tidak perlu dilakukan oleh Pemuka Agama. Pihak yang
diklarifikasi cukup menandatangani Formulir Model B.6-DD atau
Formulir Model B.7-DD.

KENDALA DAN SOLUSI DALAM PELAKSANAAN


KLARIFIKASI
KENDALA

1. Terlapor Tidak Berkenan


Hadir dalam Undangan
Klarifikasi;
2. Terlapor/Saksi/Ahli tidak
dapat menghadiri Undangan
Klarifikasi sesuai dengan
Tempat dan Waktu
undangan Pengawas Pemilu;
3. Pengawas Pemilu kesulitan
memperoleh Nomor Kontak
Pihak yang akan dimintakan
Klarifikasi
4. Pihak yang diklarifikasi tidak
mau menandatangani BA
pengambilan Sumpah

SOLUSI

C.

1. Diberikan
penjelasan
kepada
Terlapor bahwa Klarifikasi tersebut
merupakan Hak/kesempatan bagi
Terlapor
untuk
memberikan
penjelasan.
Undangan
diberikan
sebanyak 2 (dua) kali berturut-turut
dengan memperhatikan batas waktu
penaganan pelanggaran.
2. Tempat
dan
Waktu
Klarifikasi
diusahakan diadakan di Kantor
Pengawas Pemilu. Dalam hal tidak
memungkinkan,
maka
dapat
dikomunikasikan kepada Para Pihak
sepanjang dapat menjaga integritas
dan dan netralitas Pengawas Pemilu
dalam
melakukan
Klarifkasi.
Diusahakan
sedapat
mungkin
didapatkan
keterangan
yang
bersangkutan.
3. Pengawas
Pemilu
dapat
mengupayakan
dengan
mencari
kepada
pihak-pihak
yang
dimungkinkan mengetahui. Contoh:
KPU/Peserta
Pemilu/Pelapor/pihak

Hasil Kajian Pengawas Pemilu

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

Kajian Pengawas Pemilu dalam proses penanganan pelanggaran yang


dituangkan dalam Formulir Model B.9-DD dapat dikategorikan sebagai
berikut:
1) Pelanggaran Pemilu
2) Bukan Pelanggaran Pemilu; atau
3) Sengketa Pemilu.
Dugaan Pelanggaran Pemilu yang merupakan Pelanggaran Pemilu dapat
dikategorikan berupa:
1) Pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu;
2) Pelanggaran administrasi Pemilu; dan/atau
3) Tindak Pidana Pemilu.
D.

TINDAK LANJUT PENANGANAN DUGAAN PELANGGARAN


1) Pelanggaran Kode Etik
Pengawas Pemilu meneruskan rekomendasi dugaan pelanggaran kode
etik kepada DKPP, dengan melampirkan berkas dugaan pelanggaran dan
hasil kajian dugaan Pelanggaran.
Mengacu pada Pasal 8 dan Pasal 9 Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun
2012, mengatur sebagai berikut:
Jika Teradu dan/atau Terlapor adalah Penyelenggara Pemilu yang
menjabat sebagai Anggota KPU/Bawaslu/KPU Provinsi/KIP Aceh/
Bawaslu Provinsi/PPLN/Pengawas Pemilu Luar Negeri, maka
pengaduan dan/atau Laporan diajukan langsung ke DKPP.
Jika Teradu dan/atau Terlapor adalah Penyelenggara Pemilu yang
menjabat
sebagai
anggoat
KPU
Kabupaten/Kota/KIP
Kabupaten/Kota/Panwaslu
Kabupaten/Kota/PPK/Panwaslu
Kecamatan/PPS/PPL/KPPS, maka pengaduan dan/atau Laporan
diajukan kepada DKPP melalui Bawaslu Provinsi.
2) Pelanggaran Administrasi
Terhadap Temuan/Laporan dugaan pelanggaran yang merupakan
pelanggaran administrasi, maka rekomendasi dan berkas kajian dugaan
pelanggaran administrasi Pemilu disampaikan kepada KPU, KPU
Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK atau PPD sesuai tingkatannya,
dengan disertai berkas pelanggaran dan hasil kajian Pengawas Pemilu.
Dalam hal rekomendasi Pengawas Pemilu tidak ditindaklanjuti oleh
KPU/jajaran, maka Pengawas Pemilu memberikan sanksi peringatan
lisan atau peringatan tertulis.
3) Tindak Pidana Pemilu
Laporan dugaan Tindak Pidana Pemilu diteruskan oleh Pengawas
Pemilu kepada Penyidik Kepolisian Negara RepublikIndoesia sesuai
tingkatannya dalam jangkawaktu paling lambat 1 x 24 (dua puluh

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

empat) jam sejak diputuskan oleh Pengawas Pemilu dengan tidak


melebihi ketentuan 5 (lima) hari waktu penanganan pelanggaran
Pemilu. Penerusan rekomendasi tersebut disertai dokumen berkas
pelanggaran dan hasil kajian.
4) Bukan Pelanggaran Pemilu
Terhadap hasil kajian yang dikategorikan bukan dugaan pelanggaran
Pemilu dan bukan dugaan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan lain, maka proses penanganan pelanggaran
dihentikan berdasarkan pleno Pegawas Pemilu.
Terhadap hasil kajian yang merupakan bukan pelanggaran Pemilu
namun termasuk dugaan pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan lain, maka oleh Pengawas Pemilu diterukan kepada instansi
yang berwenang.

5) Sengketa Pemilu
Hasil kajian Pengawas Pemilu yang dikategorikan sebagai sengketa
Pemilu diteruskan kepada Bidang Penyelesaian Sengketa Pemilu untuk
ditindaklanjuti sebagai sengketa Pemilu sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
E.

PENGUMUMAN STATUS PENANGANAN DUGAAN PELANGGARAN DAN


PENGAWASAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI
1) Terhadap hasil kajian dan rekomendasi Pengawas Pemilu,maka status
penanganan dugaan pelanggaran Pemilu dimaksud diumumkan di
Sekretariat Pengawas Pemilu dengan menggunakan Formulir Model
B.13-DD, yang dapat disampaikan kepada Pelapor melalui surat.
2) Terhadap rekomendasi Pengawas Pemilu yang telah diteruskan kepada
instansi terkait, Pengawas Pemilu mempunyai tugas sebagai berikut:
a) Bawaslu dan Bawaslu Provinsi mengawasi pelaksanaan tindak
lanjut rekomendasi penanganan pelanggaran oleh instansi yang
berwenang.
b)
Bawaslu Provinsi mengawasi pelaksanaan tindak lanjut
rekomendasi Bawaslu tentang pengenaan sanksi kepada anggota
KPU Provinsi, Sekretaris dan Pegawai Sekretariat KPU Provinsi yang
terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya
tahapan penyelenggaraan Pemilu yang sedang berlangsung.
c) Bawaslu dan Bawaslu Provinsi
mengawasi atas pelaksanaan
putusan pengadilan dan putusan DKPP.

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

F.

JENIS
FORMULIR
PELANGGARAN

LAPORAN,

TEMUAN,

DAN

PENANGANAN

Jenis Formulir Laporan dan penanganan Pelanggaran Pemilu terdiri atas:


Jenis Formulir

Keterangan

Model B.1-DD

Penerimaan Laporan

Model B.2-DD

Formulir Temuan

Model B.3-DD

Tanda Bukti Penerimaan Laporan

Model B.4-DD

Tanda Bukti Penerimaan Penerusan Temuan

Model B.5-DD

Undangan Klarifikasi

Model B.6-DD

Keterangan/Klarifikasi Di Bawash Sumpah/Janji

Model B.7-DD

Keterangan Ahli Di Bawah Sumpah/Janji

Model B.8-DD

Berita Acara Klarifikasi

Model B.9-DD

Kajian Laporan

Model B.10-DD

Penerusan Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu

Model B.11-DD

Penerusan Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu oleh


Pengawas Pemilu

Model B.12-DD

Penerusan Pelanggaran Administrasi Pemilu

Model B.13-DD

Penerusan Tindak Pidana Pemilu

Model B.14-DD

Pemberitahuan Tentang Status Laporan/Temuan

Model A-1

Laporan hasil Pengawasan Pemilu

Model A-2

Uraian Singkat Temuan Dugaan Pelanggaran

||Rakernis Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

LEMBAR KERJA
Jadwal Tahapan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014, Tahapan
Kampanye Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014 akan dimulai dari
tanggal 11 Januari 2013 hingga 5 April 2014. Sedangkan pelaksanaan Kampanye
Pemilu dalam bentuk Iklan media massa cetak dan media massa elektronik serta
Rapat Umum dilaksanakan dalam waktu 21 hari, dimulai tanggal 16 Maret sampai
dengan tanggal 05 April 2014.
Pada tanggal 15 Maret 2014, Pukul 15.00 WIT, Sdr. Drs. Frans Eduay, Calon
Anggota DPR RI dari Partai Bintang Langit Dapil I Papua Tenggara, dengan Nomor
Urut 1, mengadakan pertemuan yang dilakukan di Stadion Manggala Bagus milik
Pemerintah Daerah Provinsi Papua Tenggara, yang dihadiri oleh sekitar 500 orang
yang terdiri dari masa pendukungnya maupun warga masyarakat. Dan kegiatan
tersebut berakhir pada pukul 17.40 WIT.
Pada tanggal 22 Maret 2014, Pukul 12.00 WIT, Sdr. Petrick Hokokai (Ketua
Tim Kampanye Calon Anggota DPR RI dari Partai Kendo, Dapil I Provinsi Papua
Tenggara Nomor Urut 1) mendatangi Kantor Bawaslu Provinsi Papua Tenggara
untuk melaporkan dugaan pelanggaraan yang dilakukan oleh Sdr. Drs. Frans
Eduay. Laporan tersebut disertai dengan rekaman video pelaksanaan Pertemuan
yang isinya memuat gambar Drs Frans Eduay sedang berorasi dengan didampingi
dua orang yang diduga sebagai PNS dan Kepala Desa, serta menyerahkan namanama
saksi yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu Thomas warga
masyarakat.
Oleh Bawaslu Provinsi Papua Tenggara, kemudian laporan Sdr.Petrick
Hokokai dituangkan ke dalam Formulir Model B.1-DD dengan Nomor Registrasi
10/LP/PILEG/III/2014 dan diberikan tanda terima kepada Pelapor sebagaimana
tertuang dalam Formulir Model B.3-DD dengan Nomor 10/LP/PILEG/III/2014.
Dalam Uraian Singkat Kejadian yang dituangkan dalam Formulir Model B.1DD dengan Nomor Registrasi 10/LP/PILEG/III/2014 tersebut, Pelapor
menerangkan bahwa pada saat kegiatan pertemuan yang dilakukan oleh Sdr. Drs.
Frans Eduay di Stadion Manggala Bagus pada tanggal 15 Maret 2014, juga terlihat
Kepala Desa Bangunrata atas nama Junaidi Takhir yang bertindak sebagai Juru
kampanye.

|Rakerni Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

14
14

Instruksi Diskusi Kelompok

1.
2.
3.
4.
5.
6.

1 (Satu) Kelompok terdiri dari 20-25 Peserta;


Anggota Kelompok menunjuk Ketua dan Sekretaris Kelompok;
Ketua Kelompok bertugas memimpin proses diskusi Kelompok;
Sekretaris Kelompok bertugas mencatat Hasil Diskusi Kelompok;
Kelompok melakukan diskusi/ pembahasan terhadap Kasus;
Kelompok menentukan Peran dan menyiapkan dokumen sebagai berikut:
a. Petugas Penerima Laporan untuk menyiapkan:
1) Berkas Penerimaan Laporan (Form Model B.1-DD dan Model B.3-DD);
2) Berkas SG1, SG2 dan SG3 Sentra Gakkumdu;
3) Daftar Hadir Klarifikasi;
b. menyiapkan Berita Acara Klarifikasi dan Berita Acara Sumpah (Saksi),
terhadap;
1) Petrick Hokokai (Pelapor)
2) Drs. Frans Eduay(Terlapor)
3) Junaidi Takhir (Kepala Desa Bangunrata)
4) Thomas (saksi)
c. menyiapkan Kajian Hukum terhadap Laporan dugaan pelanggaran.

|Rakerni Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

14
14

|Rakerni Penanganan Pelanggaran Pemilu Regional I, Batam 14-18 Februari 2014)

14
14