Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kapal supply merupakan salah satu alat transportasi laut yang


khusus diperlukan dan digunakan untuk melayani kerja Offshore Rig
atau Offshore Platform pada instalasi pengeboran minyak dan gas
lepas pantai. Dari sekian jenis muatan yang di angkut oleh kapal
supply dalam pelayanan

kerja ini terdapat muatan curah kering (Dry

Bulk Cargo). Muatan curah kering ini terdiri dari Cement, Barite dan
Bentonite. Adapun muatan curah kering yang diangkut
supply

peranannya

sangatlah

penting

pada

setiap

oleh kapal
instalasi

pengeboran minyak lepas pantai, maka untuk itu diperlukan keahlian


Masinis (Engineer) dalam melakukan perawatan-perawatan yang
maksimal pada sistem penanganan muatan curah kering (Dry Bulk
Cargo Handling System) demi kelancaran operasional. Salah satu
perangkat pesawat di kapal supply yang tak kalah pentingnya dalam
usaha

untuk

menunjang

kelancaran

pengoperasian

instalasi

pengeboran minyak dan gas lepas pantai adalah dry bulk cargo
handling system. Oleh karena itu perangkat pesawat tersebut harus
dijaga dan di rawat supaya dapat beroperasi dengan baik dan lancar,
sehingga kita bisa mencegah seminim mungkin kendala-kendala yang
mungkin akan timbul dan dapat mengakibatkan terjadinya hambatan
pada operasional kapal sehingga kelancaran kerja di instalasi offshore
dapat dipenuhi. Dengan terpeliharanya perawatan sistem instalasi
semen curah kering di kapal, sudah pasti akan menjadi penentu jadi
atau tidaknya suatu

kapal supply dicharter oleh pihak pencharter

untuk mentransfer Dry Bulk Cargo ke Rig yang secara langsung telah
membantu atas kelancaran pengoperasian pada instalasi pengeboran
1

minyak lepas pantai dan untuk

mendapatkan hasil yang maksimal

sehingga

meningkatkan

perusahaan

dapat

produktivitas

dan

memperoleh keuntungan atas pengopersian kapal supply tersebut,


atas dasar inilah maka penulis tertarik memilih judul "UPAYA
PENCEGAHAN TERJADINYA KONDENSASI PADA DRY BULK
HANDLING SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN KELANCARAN
BONGKAR MUAT SEMEN Dl MV. SEA CHEROKEE".

B. Tujuan dan Manfaat Penulisan


1. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui permasalahan utama sehubungan dengan
terjadinya kondensasi pada Dry Bulk Cargo Handling System
b. Untuk

mengetahui

faktor-faktor

apa

saja

yang

dapat

menyebabkan terjadinya kondensasi pada saat bongkar


muatan semen curah berlangsung
c. Mencari solusi dan

pemecahan

masalah

atas

timbulnya

gangguan-gangguan tersebut, sehingga dapat memperlancar


bongkar muat semen curah kering di kapal.

2. Manfaat Penulisan
a. Manfaat bagi dunia Akademik
Supaya dapat memberikan pengetahuan tambahan kepada
rekanrekan seprofesi terutama bagi yang belum pernah dan
yang ingin bekerja di kapal Supply
b. Manfaat bagi dunia Praktis
Supaya

dapat

meningkatkan

profesionalisme

Masinis

(Engineer) dalam memecahkan suatu masalah yang timbul


pada operasional kerja kapal.

C. Ruang Lingkup

Mengingat banyaknya masalah yang akan timbul dan dibahas


dalam perawatan kompresor udara semen curah, maka penulis dalam
ruang lingkup ini membatasi pembatasan masalah perawatan pada
system penanganan semen curah diatas kapal MV. SEA CHEROKEE
yang dioperasikan oleh Gulf Marine Far East Pte. Ltd. Singapore,
periode bulan Juni 2013 Desember 2013 sebagai 2nd engineer.

D. Metode Penyajian
Dalam pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan hingga
selesainya penulisan makalah ini, penulis menggunakan metodemetode sebagai berikut :

1. Metode Pengumpulan Data


a. Studi Lapangan
1) Penulis

melakukan

pengamatan

langsung

terhadap

sasaran masalah yang akan diteliti untuk memenuhi dan


untuk mencari data-data, fakta dan informasi sewaktu
penulis bekerja di atas kapal MV. SEA CHEROKEE.
2) Berdiskusi dengan masinis di kapal dan sesama Pasis
peserta program TPK ATT 1 di BP31P sekarang,
khususnya mereka yang pernah bekerja di kapal supply.

b. Studi Kepustakaan
Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang dilakukan
dengan mengkaji berupa buku-buku, dokumen-dokumen serta
karya

tulis

lainnya

yang

dianggap

relevan

dengan

pembahasan ini. Hal ini dilakukan sebagai landasan teori dan


kebijaksanaan untuk bahan kajian.

2. Metode Analisis Data


Salah satu metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini
adalah metode deskripsi yakni metode menganalisis data dengan
melakukan pemaparan, mengindentifikasi data, menentukan
landasan dan penjelasan masalah-masalah serta penyebab
masalah dengan melakukan perbandingan kondisi yang ada di
atas kapal MV. SEA CHEROKEE.

BAB II
FAKTA DAN PERMASALAHAN

A. Fakta

1. Data Kapal
MV. SEA CHEROKEE adalah salah satu kapal dengan jenis
running cargo yang dimiliki oleh perusahaan Gulf Marine Far East
Pte. Ltd. Dengan GRT 2943 ton dan 4 unit Main Engine MAK type
M25, 6 Silinder, 750 rpm dengan didukung 4 unit Auxiliary Engine
CATERPILLAR series C18, 550- KW. Kapal ini mempunyai ruang
muat diatas Deck dan beberapa
(Cargo

tangki di dalam badan kapal

Room), dimana sistem instalasi semen curah kering

dimulai dari main deck terus ke ruang kargo (Dry Bulk Tank)
dalam badan kapal sampai kembali ke main deck untuk
disambungkan ke Offshore Rig pada pada instalasi pengeboran
minyak dan gas lepas pantai. Dari beragam jenis product yang
dimuat diatas kapal supply ini salah satu jenis product dalam
tangki adalah muatan curah kering (Dry Bulk Cargo) yang terdiri
dari cement, barite, dan bentonite. Pada ketiga jenis product curah
kering tersebut, yang mempunyai berat jenis (specific gravity)
paling tinggi yaitu barite 2,16, kemudian cement "G" 1,52 dan
bentonite 0,96.

2. Fakta Kondisi

a. Sisa Muatan Curah Kering Sering Mengeras.


Kondisi cuaca yang dingin dan kelembaban udara turut
berpengaruh pada sifat product semen sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya pengerasan product. Hal ini terjadi
5

pada saat kapal MV. SEA CHEROKEE beroperasi di lokasi


Offshore Resolute Jack-Up Rig, Ensco 107 Gasfield Vietnam,
pada saat pembongkaran muatan tiba-tiba terhenti atau
melambat karena didalam pipa-pipa terjadi penyumbatan oleh
sisa

semen

yang

mengeras.

Akibat

seringnya

tejadi

pengerasan semen pada akhirnya lama-kelamaan terjadi


penyumbatan di sepanjang instalasi pipa discharge mulai dari
instalasi pipa di dalam kapal, hingga sepanjang pipa discharge
semen ke main deck. Dan sudah pasti masalah ini akan
mengakibatkan kelambatan pemindahan product. Walaupun
pada akhirnya pihak kapal berhasil memindahkan seluruh isi
product dari dalam tangki, namun waktu yang dibutuhkan
dalam kegiatan tersebut sudah melampaui batas waktu dari
yang seharusnya.
Selain itu keberhasilan dalam aktifitas pengeboran
minyak dan gas dilepas pantai, tidak terlepas dari keterkaitan
antara unsur-unsur barang yang harus tersedia secara
lengkap oleh Material Base Port di pelabuhan, dan kapal
supply sebagai alat angkut, serta Rig sebagai pengguna yang
merupakan tujuan akhir dari semua aktifitas tersebut.

b. Purging valve terlalu dekat dengan discharge valve

Pada sebuah instalasi pipa udara dalam hal ini tangki


semen pada kapal supply, telah dirancang dan dibuat
sedemikian rupa dengan melalui perhitungan yang akurat dan
dengan pengujian ketahanannya yang telah teruji dan terbukti,
namun masih ada kesalahan dalam instalasi tersebut dimana
penyambungan pipa purging pada sistem kurang tepat
sehingga pada waktu pemompaan semen terjadi kondensasi
pada sambungan pipa pengisian dengan pipa purging
6

sehingga tekanan dalam sistem naik dan bahan pada pipa


terjadi keausan sehigga terjadi kebocoran pada instalasi pipa
udara tekan tangki semen, dengan demikian instalasi harus
dijaga agar dapat beroperasi dan berfungsi dengan yang baik
dan dapat diandalkan selama mungkin, tentunya dengan
adanya perawatan yang teratur, tanpa adanya gangguan
ataupun

kerusakan

kerusakan

berarti

yang

dapat

mempengaruhi kelancaran operasional kapal.

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pengalaman penulis selama bekerja di kapal MV Sea
Cherokee

mengalami

permasalahan

dalam

pengoperasian

pemompaan muatan curah kering (cement, barite dan bentonite)


dari kapal ke atas Rig, antara lain :

a. Timbulnya Kondensasi di Dalam Tangki dan Pipa Tekan


pada lnstalasi Semen Curah
Sebelumnya kita ketahui bahwa sistem muatan curah
(Bulk Handling System) yaitu mulai dari kompresor, katup
atau keran memuat muatan curah, ini adalah campuran
antara bahan curah semen dengan tekanan udara yang
disalurkan oleh fasilitas dari darat dan masuk kedalam tangki
muatan kapal, lalu product curah tersebut tinggal dalam tangki
sedangkan udara keluar lewat saluran peranginan dengan
catatan bahwa penerimaan product dari darat dipastikan
tekanan udara dalam keadaan kering atau tidak mengandung
titik air selanjutnya untuk membongkar product, compressor
kapal digunakan untuk memberikan tekanan kedalam tangki
dan

udara masuk

kedalam dasar tangki

muatan curah
7

tersebut, seperti kita ketahui keran buang atau keran tekan


(discharge valve) dibuka maka dengan cepat product keluar
melalui pipa penyalur, melalui selang penyalur dan masuk
kepenerima

dari sistem diatas, jika hal ini tidak bekerja

dengan normal maka sistem instalasi semen akan terjadi


kondensasi atau kandungan

air yang tidak dapat terlihat

karena berada diruang udara tekan, dibawah canvas slide. Hal


ini dapat menimbulkan kebuntuan pada canvas. Bisa juga
terdapat di pipa discharge yang paling dekat posisinya dengan
tangki, karena keterbatasan waktu seringkali hal ini kurang
diperhatikan.
Sering kali pada saat pemompaan berlangsung katupkatup peneumatik (pneumatic valves) menutup sendiri, ini bisa
disebabkan karena rusaknya seal ring pada katup tersebut
atau juga terjadi karena faktor elektrik yang membuat proses
pemompaan terhenti, sehingga memerlukan waktu untuk
memperbaiki

kerusakan

tersebut,

sesudah

itu

proses

pemompaan dapat dilanjutkan kembali

b. Buntu di Dalam lnstalansi Pipa


Kemampuan para Masinis (Engineer) dalam mempelajari
dan memahami cara kerja suatu alat amatlah penting
walaupun pada prinsipnya cara kerja alat itu sama, namun
karena berbeda type dan penyusunan instalasi

yang tidak

sama antara kapal yang satu dengan kapal yang lain,


adakalanya seorang Masinis (Engineer) akan lama untuk
memahami hal tersebut, sebagai contoh sebelumnya penulis
bekerja dikapal MV. SEA SOVEREIGN yang serba manual,
sedangkan di MV. SEA CHEROKEE semua dioperasikan dari
anjungan dengan komputer sistem, sehingga penulis harus
cepat mempelajari untuk memahami pengoperasian alat8

alat

tersebut. Kasus yang pernah terjadi adalah salah

seorang Masinis (Engineer) di kapal MV SEA CHEROKEE,


pada saat pengoperasian pemompaan muatan curah kering
ke atas Rig. Karena kurangnya perawatan dan pengetesan
terhadap komponen alat-alat kerja dari sistem tersebut, maka
yang terjadi adalah kebuntuan di pipa discharge yang
mengakibatkan
curah

tersebut

tersendatnya pemompa product


karena

harus

membongkar

semen

pipa

dan

membersihkannya, hal ini menyebabkan terhambatnya proses


pembongkaran (discharge)
Biasanya pada
yang

saat

product semen curah ke Rig.

proses

berlangsung, ventilation line

ada di atas Rig dipakai kerja cementing sehingga

ventilation yang seharusnya digunakan untuk pemindahan


product dari kapal ke Rig jadi terganggu karena hanya ada
satu saluran di atas Rig dan mengakibatkan instalasi buntu di
selang

discharge terkadang pula para pekerja di atas Rig

pada saat pemindahan tangki tidak memberi informasi ke


kapal. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan gangguan
pada saat berlangsungnya pemompaan product curah kering.

c. Saat pengisian semen curah kedalam tangki tidak


memperhatikan kondisi tangki
Sebelumnya kita ketahui bahwa sistem muatan curah
(The Bulk Handling System) yaitu mulai dari hose yang yang
disambung dari silo tangki darat ke keran muatan curah di
atas kapal, dengan tercampurnya antara bahan curah semen
dengan tekanan udara yang disalurkan oleh fasilitas dari darat
dan masuk kedalam tangki muatan kapal ini, lalu muatan
curah tersebut tinggal dalam tangki sedangkan udara keluar
lewat saluran peranginan, Disnilah terjadinya kelalaian para
9

engineer terlalu gegabah dan terburu-buru mengoperasikan


bulk handling system, adanya sisa udara dalam tangki yang
seharusnya o%, dengan adanya sisa udara dalam tangki
lama kelamaan udara menjadi lembab, bulk semen curah
akan menjadi lembab dan mengeras.
Sewaktu

kompresor

bulk

semen

di

operasikan

sebelumnya dryer di hidupkan terlebih dahulu dan drain udara


pada dryer di cerat, supaya udara yang akan masuk kedalam
tangki menjadi kering tidak adanya butiran air yang terbawa
kedalam tangki, sewaktu pemompaan dimulai, sekitar 5 menit
pemompaan bulk semen curah bagus, tiba-tiba tekanan udara
naik 5 kg/cm2, compressor dan dryer dimatikan, udara
didalam tangki

dibuang

melaui selang pembuangan (Air

ventilasi), setelah betul-betul udara dalam tangki kosong,


main hole dibuka dan dilakukan inspection, ternyata bulk
semen curah sudah ada yang mengeras dan membatu
melekat pada keran pembuangan (Discharge Valve), akhirnya
kapal dikomplain oleh pihak rig, crew kapal dengan perintah
dari nahkoda, bersihkan tangki bulk semen, disekitar nozzle
udara tekan dalam tangki mengalami penyumbatan, nozzle
udara takan pun dibongkar dan bersihkan satu persatu dan
dipasang kembali. Dengan adanya kondensasi dalam tangki,
dari itu akibat dari adanya sisa-sisa udara dalam tangki yang
sampai berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan
akan mengakibatkan kelembaban udara dalam tangki dan
terjadilah kondensasi dalam tangki itu sendiri dan akan
menutup keran- keran pembuangan yang posisinya dekat
tangki.
d. Perawatan pada pendingin Dryer
Dryer adalah suatu alat yang dipakai sebagai pengering
10

udara pengisian yang dihasilkan oleh Bulk Compressor


sebelum sampai pada tangki atau bulk system, udara
dikeringkan maksudnya agar butir-butir air yang ada pada
udara yang dihasilkan oleh Bulk

Compressor betul-betul

kering, dan selalu di drain udara yang melewati dryer, alat ini
di lewati oleh udara sehingga udara yang mengandung titik
air didinginkan oleh media pendingin sejenis Freon dimana
Freon ini di dinginkan oleh air laut, jadi kalau tekanan air laut
ini kurang, maka Dryer akan Trip dan tidak berfungsi,
pengoperasian pemompaan bulk semen dilakukan di atas
anjungan, apabila tekanan air laut dipompa kurang dibawah 2
kg/cm2, dryer akan trip, pemompaan harus dihentikan, dan
lakukan penbersihan pada saringan air laut (Sea chest), dari
itu sangat lah penting perawatan pada pendingin dryer agar
tidak terjadinya pengembunan dalam tangki yang lama
kelamaan menimbulkan kondensasi bulk semen dalam tangki.
e. Mengoperasikan semen bulk handling system tidak
sesuai prosedur
Pada saat ini kapal-kapal pengeboran minyak sangat
banyak digemari para pelaut, diantaranya yang jenisnya MV
(Anchore Handling Tug Supply), karena dari kontrak sangat
pendek, dan gajinya sangat lumayan dibandingkan kapalkargo yang bendera indonesia, kapal ini tidak lepas dari
muatan semen, barite, bentonite, khusus pengeboran minyak
lepas pantai, yang mana MV. SEA CHEROKEE, selalu
bongkar muat bulk semen, disini diperlukan enginer yang
betul-betul

familiar

dengan

sistem pembongkaran

dan

pemuatan bulk semen, disini sering terjadi kesalahankesalahan yang sangat fatal, seharusnya

pengisian

bulk

semen masuk kedalam tangki semen, karena kesalahan


11

pengoperasian keran, karena bulk semen curah seharusnya


diposisi tangki no. 2 masuk ke tanki barite no.4, pada hal
didalam tanki barite ada 40 % kapasitasnya, karena tidak
adanya pengecekan ulang, sesampai dilokasi pengeboran
engineer

dikapal

dapat

orderan

perintah

untuk

pembongkaran bulk semen curah, setelah hose penyambung


diatas deck dipasang, keran sudah posisi terbuka, udara
ventilasi sudah standby disamping lambung kapal, yang mana
ujungnya dimasukan ke air laut sekitar 60 cm, dan di ikat
kuat, bulk handling sistem sudah disiapkan semua, blow line
sudah dilakukan, langsung tangki bulk semen di isi udara
sekitar 4 bar, keran untuk pembongkaran sudah terbuka,
sekitar 5 menit, officer rig memberitahukan, bulk semen sama
sekali tidak menerima, bulk handling sistem distop buat
sementara, setelah dilakukan pengecekan ternyata tangki
semen kosong, tangki semen di cek dengan cara dipukul
dengan palu khusus yang terbuat dari kayu, ternyata tangki
semen

penuh,

karena

emergensi,

pihak

rig

sangat

membutuhkan bulk semen untuk kelancaran pengeboran


minyak,

setelah

40

menit

bejalan,

officer

rig

menginformasikan stop pemompaan, alasan bulk semen


bercampur barite, akhirnya kapal pun dikomplain oleh
pencharter, oleh karena itu sangat pentingnya menguasai
sistem pembongkaran dan pemuatan, dan ketelitian para
engineer.

f. Kurang maksimalnya blow line instalasi saluran pipa


tekan
Sewaktu pembongkaran bulk semen curah ke atas rig,
blow line sangat lah penting dilakukan untuk membersihkan
sisa semen yang lengket pada keran, selang yang terhubung
12

dari kapal keatas rig, sewaktu penggantian chief engineer


baru karena belum terbiasa dengan bulk handling sistem
yang pengoperasianya, karena penulis selaku 2nd engineer
waktu itu, memberikan saran supaya blow line dilakukan
selama 15 menit, karena didalam tangki bulk semen sudah 2
bulan lebih tersimpan, tetapi masukan dari bawahan tidak
didengarkan, pemompaan langsung dilakukan, tidak lama
kemudian tekanan naik sangat drastis sampai 50 kg/cm2, bulk
handling compressor dihentikan, dilakukan pengecekan,
ternyata adanya penyumbatan dekat keran purjing, pipapun
harus dibongkar sepanjang 10 meter yang diameter pipanya
4 inchi, membutuhkan tenaga exstra dan waktu yang cukup
lama, untuk membersihkannya. Oleh karena itu untuk
mengoperasikan bulk handling sistem, terutama untuk blow
line sewaktu pembongkaran bulk semen curah, perlu kita
garis

bawahi,

sikap

yang

egois,

otoriter,

tidak

mau

mendengarkan masukan dari bawahan, bahkan masukan itu


ada penting nya untuk kelancaran pemompaan bulk semen
curah ke atas rig.maupun ke tangki darat.

2. Masalah Utama

Untuk menentukan permasalahan utama yang akan dibahas


pada bab berikutnya, penulis memfokuskan pada :
1. Timbulnya Kondensasi di Dalam Tangki dan Pipa Tekan
pada lnstalasi Semen Curah
2. Buntu di Dalam lnstalansi Pipa

13

BAB III
PEMBAHASAN

A. Landasan Teori

Kapal supply adalah sebuah kapal yang khusus digunakan untuk


pengangkutan muatan dan perlengkapan barang dari pelabuhan
(shorebase) ke instalasi pengeboran minyak dan gas lepas

pantai

ataupun sebaliknya. Yang mana kapal supply tersebut terbagi dalam


dua kategori 1 type yaitu : Straight Supply Vessel I Platform Supply
Vessel dan Anchor Handling and Towing Supply Vessel. Kapal
supply yang masuk dalam kategori running cargo atau pengangkut
barang dan kelengkapan offshore adalah Straight Supply Vessel di
mana kapal tersebut harus dilengkapi dengan sebuah sistem yang
disebut bulk cargo handling system yaitu sistem yang digunakan
untuk mengangkut dan memindahkan product curah kering (cement,
barite, bentonite) dari dalam tangki kapal ke atas Rig. Dan biasanya
kapal

ini

lengkapi

juga

dengan

fasilitas

penunjang

lainnya,

diantaranya: Dinamic Position System, Anchor Handling and Towing


System, Fuel Oil Cargo System, Drill Water and Fresh Water Cargo
System, Liquid Mud System.
Sebelum melangkah lebih lanjut pada pokok pembahasan
analisa pemecahan masalah, terlebih dahulu diketahui tentang unitunit peralatan I perlengkapan yang harus selalu tersedia pada Bulk
Material Transfer System yang dipergunakan pada setiap aktifitas
pemindahan transfer semen curah atau produk lainnya, baik dari kapal
supply ke Rig maupun dari Shorebase ke kapal-kapal supply.
Sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi maka -dari
waktu ke waktu unit instalasi bulk material ini juga mengalami
perubahan perubahan atau perkembangan, baik perubahan yang
mengarah

kepada

sistem

yang

memudahkan

operator

untuk
14

mengoperasikan peralatan tersebut guna memindahkan semen dari


kapal ke Rig atau dengan menambah unit bulk compressor yang
kesemuanya itu akan mempercepat pekerjaan I kegiatan operator
dalam melaksanakan tugasnya sehingga bisa tercapainya hasil yang
sangat maksimal.
Untuk mendapatkan suatu penyelesaian masalah yang baik
maka sebaiknya kita perlu mengetahui terlebih dahulu prosedur
pengoperasian pengisian dan pembongkaran material bulk handling
system secara benar menurut instruction manual book diatas kapal,
karena ini merupakan pekerjaan yang penting maka diperlukan
koordinasi dan kerjasama yang bagus yang akan menghasilkan
pekerjaan yang sempurna. Pengaturan kerjasama antara crew kapal
yang bertugas diatas kapal dan para pekerja diatas Rig maupun shore
base harus pasti, kemudian diadakan cek kembali apa saja yang
sudah dilaksanakan karena tanpa adanya kerjasama yang baik,
mustahil pekerjaan itu dapat dilaksanakan dengan sempurna.

B. Analisis Penyebab Masalah

1. Timbulnya Kondensasi di Dalam Tangki dan Pipa Tekan Pada


lnstalasi Semen Curah

Penyebabnya adalah :

a. Adanya sisa udara yang berada di dalam instalasi pipa


dan tangki semen

Persiapan pemindahan product curah ke Rig pada kapal


supply MV. SEA CHEROKEE adalah hal yang sangat
penting guna menunjang kelancaran pengoperasian kapal
supply

tersebut

tetapi

dalam

pelaksanaannya

banyak
15

mengalami kendala-kendala yang menghambat kelancaran


pembongkaran product curah kering ke Rig yang setelah
dianalisa, penyebab aliran semen dalam tangki keluar pipa
tekan dari pipa transfer tidak normal adalah ditemukan
banyaknya

semen yang mengeras/membatu di ujung pipa

tekan (elephant foot) dan dasar tangki menutup slide kanvas.


Mengerasnya

semen

yang

perlahan-lahan

akan

menimbulkan kebuntuan pada saluran tekan, keadaan seperti


ini secara tidak langsung disebabkan oleh faktor manusianya
yaitu kurangnya perawatan pada instalasi tersebut. Kurangnya
perawatan ini salah satunya disebabkan karena kurangnya
pengetahuan

dan

keterampilan

awak

kapal

terhadap

perawatan tangki semen curah dan peralatan pendukungnya,


juga kurangnya koordinasi kerja, pengawasan yang lemah dan
kurangnya komunikasi dalam perawatan peralatan-peralatan
tersebut diatas. Juga karena kurang pahamnya para Masinis
(Engineer)

akan

prinsip

kerja

dari

peralatan-peralatan

tersebut.
Menurut pengalaman dan penggamatan penulis selama
bekerja di kapal supply perusahaan Singapura, hal-hal yang
dapat

menyebabkan

mengerasnya

atau

mambatunya

sebagian semen di dalam tangki maupun di pipa-pipa tekan


adalah kondensasi karena dengan timbulnya kondensasi
tersebut, maka sebagian semen akan tercampur dengan air
dari kondensasi tersebut sehingga semen akan secara
perlahan

mengeras/membatu

yang

dapat

menyebabkan

kebuntuan pada saluran tekan. Jadi setelah dianalisa, kenapa


sampai terjadi kondensasi didalam tangki adalah kurang
pahamnya para Masinis (Engineer) dengan prinsip kerja yang
harus dilakukan pada saat pengoperasian mulai dari pengisian
sampai pemompaan.
16

b. Gangguan atau Kerusakan pada Dryer-Bulk Compressor

Dryer adalah suatu alat yang dipakai sebagai pengering


udara pengisian yang dihasilkan oleh Bulk Compressor
sebelum sampai pada tangki atau bulk system. Udara
dikeringkan maksudnya agar butir-butir air yang ada pada
udara yang dihasilkan oleh Bulk Compressor betul-betul
kering, alat ini dilewati oleh udara sehingga udara yang
mengandung titik air didinginkan oleh media pendingin sejenis
Freon di mana Freon ini di dinginkan oleh air laut, jadi kalau
tekanan air laut ini kurang, maka Dryer akan Trip dan tidak
berfungsi, sehingga udara lewat begitu saja dan tidak ada
proses pendinginan udara pengisian sehingga mengakibatkan
adanya butiran air yang ikut terbawa kedalam system.

2. Buntu di Dalam lnstalansi Pipa

Penyebabnya adalah :
a. Perubahan Tekanan Yang Terlalu Cepat di Dalam Tangki

Kebanyakan para Masinis (Engineer) yang kurang rasa


tanggung jawab akan mengalami hal demikian, karena ingin
cepat-cepat selesai dan istirahat setelah proses pemindahan
tersebut dilakukan tanpa mau memikirkan akibat-akibat yang
terjadi. Seperti prinsip kerja mesin pendingin, perubahan
tekanan dari pipa kapiler kecil ke evaporator akan mengambil
panas dari luar dengan cepat sehingga cepat menimbulkan
embun, hal ini yang terjadi pada saat selesai pemompaan
semen karena ingin cepat selesai maka para Masinis
(Engineer) lupa dengan prinsip pengambilan panas tersebut.
17

Setelah product di dalam tangki habis, maka yang


tertinggal di dalam tangki sebagian besar adalah udara yang
bertekanan karena Masinis (Engineer) yang tidak sabar
menunggu turunnya tekanan secara perlahan, maka dia akan
membuang sisa tekanan dengan cepat agar tidak ada lagi
perbedaaan

tekanan

tangki. Karena
drastis

di dalam

tangki

perubahan tekanan

dengan

diluar

yang terjadi secara

dari tangki yang bertekanan melewati pipa ventilasi

dari pipa tekan, dan karena gesekan udara itu maka udara
yang bergerak cepat di dalam pipa akan menyerap panas
diluar pipa, hal ini menyebabkan timbulnya kondensasi/titiktitik embun di dalam pipa, karena terlalu banyak maka air-air
embun ini akan jatuh ke dasar tangki, dimana di dasar tangki
masih ada sisa semen yang menempel di slide canvas maka
terjadilah pencampuran air dengan semen sehingga menjadi
batu semen. Demikian pula yang ada di dalam pipa-pipa tadi
apalagi kalau setelah selesai pemompaan, tidak dilakukan
pembersihan tangki / pengeringan tangki, dimana dalam
pengerjaan ini Main Hole harus dibuka (hal ini berlaku khusus
pada pemompaan semen sampai habis).
Tapi kalau semen yang dibutuhkan oleh Rig hanya
sebagian dari isi tangki, sehingga masih ada tersisa semen di
dalam tangki, maka pembersihan tangki tidak dapat dilakukan,
presentase

mengerasnya

semen

menjadi

lebih

besar

dibandingkan tangki yang dibersihkan, karena sisa-sisa


semen tadi masih akan mengendap beberapa hari di dalam
tangki. Dan yang sering terjadi setelah itu di isi lagi (ditambahi
atau ditumpuk dengan semen baru).

18

b. Purging valve terlalu dekat dengan discharge valve

Pada sebuah instalasi pipa udara dalam hal ini tangki


semen, telah dirancang dan dibuat sedemikian rupa dengan
melalui perhitungan yang akurat dan dengan pengujian yang
ketahanannya telah teruji dan terbukti,namun masih ada
kesalahan dalam intalasi tersebut,dimana penyambungan pipa
purging pada sistem kurang tepat sehingga pada waktu
pemompaan semen terjadi kondensasi pada sambungan pipa
pengisian dengan pipa purging sehingga tekanan dalam
sistem naik dan bahan pada pipa terjadi keausan sehigga
terjadi kebocoran pada instalasi pipa udara tekan tangki
semen, dengan demikian instalasi harus dijaga agar dapat
beroperasi dan berfungsi dengan kemampuan yang baik dan
dapat diandalkan selama mungkin, tentunya dengan adanya
perawatan yang teratur, tanpa adanya gangguan ataupun
kerusakan-kerusakan yang berarti yang dapat mempengaruhi
kelancaran operasional kapal.

C. Analisis Pemecahan Masalah

Berdasarkan

paparan

penyebab

permasalahan

diatas

penulis

mencoba untuk membahas solusi dari permasalahan yang dapat


menggangu kelancaran proses pembongkaran product curah kering,
dengan diatasi sebagai berikut :

1. Timbulnya kondensasi di dalam tangki dan pipa tekan pada


instalasi semen curah

19

Pemecahannya adalah :
a. Mengoptimalkan kinerja pada pengering udara

Sudah dijelaskan bahwa terjadinyanya pencampuran


semen dengan cairan adalah karena adanya udara lembab
yang masuk ke dalam tangki semen karena adanya tekanan
daripada

kompresor

pada

saat

memompa/membongkar

muatan ke Rig dalam jangka waktu yang lama. Seiring dengan


pengisian udara yang dikompresikan melalui kompresor
sebelum masuk ke tangki semen di keringkan terlebih dahulu
oleh sebuah alat yang disebut dryer. alat ini bekerja secara
automatic dan juga melalui
berada

pada

bagian

keran cerat (drain valve) yang

bawah

dari

tabungnya.

Untuk

menghindari adanya udara lembab yang masuk ke dalam


tangki semen maka perawatan dryer dan instalasinya sangat
di perlukan sekali pemahaman oleh setiap masinis dalam
pengoperasianya.

Perlu

diketahui

sebelum

aktivitas

pemompaan muatan semen dilakukan maka yang harus


diperhatikan adalah keran cerat (drain valve) dan harus di
periksa secara seksama, apakah ada bekerja dengan baik
auto sistemnya maupun manualnya. Dan pada saat sedang
berlangsungnya kegiatan pemompaan/mentransfer semen ke
Rig, Masinis (Engineer) jaga betul-betul mengawasi keran
ceratnya

(drain

valve)

karena

sewaktu-waktu

sistem

automatic tidak bekerja dengan baik, dan juga harus sering


dilakukan penceratan (drain) secara manual. Dalam kasus ini
dimana penulis pernah mengalami hal yang demikian, maka
untuk menangani masalah tersebut tidak ada jalan lain yang
menguntungkan, hanya bisa di buang kelaut dengan cara di
isap memakai inductor yang isapannya diambil dari aliran
buang pompa balas dengan memakai selang yang ujungnya
20

dimasukan kedalam tangki semen dan ujung yang lainnya


disambungkan

ke

pipa

buang

yang

sudah

dibuatkan

manifoldnya, untuk pengisapan dengan mamakai sistem


inductor ini hanya boleh di lakukan pada semen yang masih
berupa curah / bubuk saja dan bagian yang sudah
mengeras/membatu

hanya

boleh

diambil

dengan

cara

memecahkan dan diangkat sedikit demi sedikit dan dikeluar


dari tangki semen. Dari terjadinya pencampuran tersebut
diatas mengakibatkan pada sistem yaitu:

1) Menyempitnya pipa pembongkaran (discharge pipe line)


Persiapan pemompaan/pembongkaran semen curah
ke Rig dari kapal supply MV. SEA CHEROKEE adalah
hal

yang

sangat

penting

sekali

guna

menunjang

kelancaran pengoperasian kapal supply tersebut, akan


tetapi dalam pelaksanaanya banyak mengalami kendalakendala yang tak terduga dan dapat menghambat
kelancaran pemompaan semen ke Rig, dan hal ini dapat
di lihat dari pada sambungan selang (hose) ke Rig yang
berada di main deck tidak adanya sentakan-sentakan dan
juga dapat dilihat pada tekanan di manometer gauge yang
selalu menunjukan grafik naik bukan turun, padahal
seluruh

keran

(valves)

yang

berhubungan

dengan

pembongkaran semuanya dalam keadaan terbuka. Dan


setelah dianalisa penyebab aliran semen dari dalam
tangki keluar pipa tidak normal, karena ditemukan
banyaknya semen yang mengeras di bagian dalam
dinding pipa pengeluaran (discharge pipe) tersebut,
mengerasnya semen pada pipa yang perlahan-lahan akan
menimbulkan kebuntuan atau mengecilnya pada pipa
pengeluaran

(discharge

pipe).

Penyebab

terjadinya
21

kebuntuan ini karena bercampurnya uap air dengan


semen di dalam tangki semen saat terjadi pengisian udara
dari kompresor dan menjadikan semen jadi lembab dan
melekat pada bagian dalam pipa-pipa pengeluaran
(discharge

pipes)

oleh

karena

kelalaian

para

Masinis/Operator jaga yang tidak ketat mengontrol alatalat untuk menunjang

jalannya pengeringan udara (air

dryer) sebelum masuk ke tangki semen, dan juga karena


selalu menghandalkan keran cerat (drain valve) dan
automatic system saja, namun ternyata alat ini tidak
bekerja secara sempurna serta mengakibatkan terjadinya
pengembunan dan semen menjadi lembab dan berat serta
bisa mengeras akibatnya terjadi kelambatan dalam
pemompaan semen, dan hal ini juga secara tidak
langsung diakibatkan oleh faktor manusia yang kurang
memperhatikan faktor perawatan pada instalasi pipa-pipa
tersebut, kurangnya perawatan ini salah satunya di
sebabkan

karena

kurangnya

pengetahuan

dan

keterampilan dari pada awak kapal terhadap perawatan


mulai dari tangki semen curah, dan juga peralatan
pendukungnya seperti pipa-pipa pengeluaran (discharge
pipes) dan lainnya, juga

kurangnya

koordinasi

kerja,

pengawasan yang lemah dan kurangnya komunikasi


antara Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) dengan para
anak buah kapal dalam hal perawatan tangki semen (bulk
tank) dan instalasi pipa udara yang ada di pipa
pengeluaran (discharge pipe). Pengkoordinasian
melaksanakan

perawatan

tangki

semen

dan

dalam
alat

pendukungnya diatas kapal supply seperti pipa-pipa


pengeluaran/discharge pipe pada tangki semen adalah hal
yang

sangat

mutlak

diperhatikan,

terutama

dalam
22

pembagian tugas kerja yang melibatkan yang sebagian


besar anak buah kapal bagian mesin diatas kapal.
Perawatan terhadap pipa pengeluaran/discharge pipe
tangki semen ini dapat berjalan dengan baik apabila
masing-masing

personil

dalam

melaksanakan

pekerjaannya mengetahui tugas dan tanggung jawab


masing-masing

dan

laksanakan secara

perawatan

tersebut

perlu

terencana sehingga efisiensi

di

kerja

perawatan instalasi pipa pengeluran (discharge pipe) dan


pipa udara dapat memuaskan, selain itu hasil dari
perawatan yang dilakukan terhadap tangki semen

dan

juga peralatan pendukungnya yang sempurna dapat


mengatasi

terjadinya

penyumbatan

penyempitan

terhadap pipa pengeluaran dan udara tekan dan kapal


dapat beroperasi dengan lancar.

2) Dengan cara menekan balik (back pressure system)

Pemberian tekanan balik (back pressure) hanya


dapat dilakukan pada volume semen yang mengeras
disepanjang pipa-pipa dan selang pengisian (filling line)
serta bongkar (discharge line) dan sering juga terjadi di
dasar tangki semen dengan jumlah yang tidak banyak.
Adapun caranya sebagai berikut: kompresor harus
matikan terlebih dahulu, kemudian buang semua tekanan
yang

ada

melalui

drain

valve

untuk

membuka

(disconnects) selang/hose yang telah tersambung dengan


Rig. Pada bagian ujung pipa buang (discharge pipeline)
yang ada coupling dipasang selang (hose) yang diarahkan
ke air laut di lambung kapal, diikat kuat - kuat pada railling
tetapi ujungnya digantung pada sisi lambung kapal.
23

Kemudian kompresor mulai dijalankan kembali, isi


tangki semen (pressurized tank) dengan angin sampai
tekanan

maksimum

kg/cm2,

tutup

keran

buang

(discharge valve) digeladak utama dan buka keran buang


(disharge valve) pada tangki semen dan buka purging
valve sampai 100%.
Dengan adanya tekanan dari kompresor yang masuk
melalui purging valve, udara yang bertekanan tersebut
berusaha masuk ke tangki melalui keran buang (discharge
valve), dan sesaat kemudian tekanan didalam tangki akan
sama dengan tekanan yang ada didalam pipa buang
(discharge pipe), selanjutnya buka kembali keran buang
(discharge valve) yang ada di main deck dan di selang
(hose) terlihat adanya

sentakan-sentakan, berarti telah

terjadi pembuangan sisa-sisa semen yang berada dalam


pipa-pipa sudah mulai keluar, kemudian dilanjutkan
dengan melakukan buka dan tutup keran (valve) dengan
berulang-ulang sampai di ujung selang (hose) tidak ada
lagi sisa semen yang keluar, dan bila perlu di ketokketok pipanya dengan menggunakan palu kayu pada
sepanjang alirannya, dan proses ini dapat menggetarkan
pipa buang (discharge pipe) yang ada di dalam tangki
semen

karena

adanya

perbedaan

tekanan

secara

mendadak, dan juga adanya getaran-getaran yang


diharapkan dapat memecahkan/ melepaskan

semen

yang menempel di dalam pipa-pipa buang (discharge


pipes). Akhirnya sedikit demi sedikit gumpalan semen
akan keluar dengan sendirinya dan kemungkinan semen
dapat keluar dengan Iancar.
Apabila semen sudah lancar keluar, kompresor
dimatikan, dan tunggu sampai tekanan disistem sudah
24

menunjukan angka nol kosong maka selang (hose) yang


dari

Rig

dapat

disambung

kembali

dan

proses

pemompaan semen dapat dilanjutkan kembali seperti


semula.
Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa kadangkadang pecahan semen yang membatu tadi tersangkut di
keran buang (dischang valve) dan dapat mengakibatkan
saluran tersumbat lagi dan akibatnya semen tidak bisa
keluar lagi. Akan tetapi hal ini dapat di deteksi dengan
cara memukul pipa buang sesudah dan sebelum keran
buang (discharge valve). Apabila pipa sebelum keran
diketok bunyinya tidak nyaring, sedangkan pipa setelah
kerannya berbunyi nyaring itu menandakan batuan
pecahan

semen nyangkut

di keran, dan hal ini bisa

diatasi dengan cara mengerakan handle kerannya dengan


cara

menggerakkannya buka dan tutup berulangulang

kali, tetapi bila tetap tidak mau juga keluar sisa-sisa


semennya
dibuka

maka satu-satunya jalan yaitu tekanan harus

untuk mengeluarkan batuan-batuan semen yang

tersangkut.

b. Adanya penceratan terhadap tangki semen.


Sesuai dengan perhitungan diatas maka jelaslah bahwa
saat kompresor bekerja menekan udara masuk kedalam
tangki semen untuk mengadakan suatu proses kompressasi,
pada saat sebagaimana yang telah kita ketahui untuk muatan
jenis curah pada kapal-kapal supply untuk memompa/ transfer
muatannya mengunakan sistem tekanan. udara dan untuk itu
dipergunakan suatu alat yang dinamakan kompresor, yang
pergerakannya dihubungkan dengan elektro motor dengan
kapasitas 20 m3/menit, dengan tekanan 5,5 kg/cm2, dan
25

udara luar dengan tekanan 1 atm dianggap 1kg/m2 pada


temperature normal 32 derajat Celcius mengandung uap
air kurang lebih 0,035 kg setiap m3 udara, maka jumlah
kandungan air yang dihisap kompresor setiap menit menjadi
20 x 5,5 x 0,035 = 3,85 kg/menit.

2. Buntu di dalam instalansi pipa

Pemecahannya adalah
a. Melaksanakan Perawatan berkala terhadap bagian tangki
dan pipa tekan.

Bersamaan uap air ikut serta masuk kedalam tangki


semen dan menyatu dengan semen yang ada di dalam tangki
tersebut maka terjadilah percampuran dengan uap air, dan
untuk menjaga hal ini jangan sampai terjadi maka penceratan
terhadap kompresor dan separator mutlak untuk dilakukan.
Pada saat semen dipompa/transfer ke Rig
sisa-sisa semen

yang tertinggal

masih saja ada

didalam tangki untuk

beberapa lama, maka dengan jumlah air sebagaimana


disebut diatas berpotensi bercampur dengan semen dan
dapat

melembabkan sisa semen tersebut diikuti terjadinya

pengerasan didasar tangki dan dapat menutup mulut pipa


buang (discharge pipe) sehingga semen tidak dapat keluar
sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu disaat
melakukan aktifitas pemompaan/mentransfer semen ke Rig
sedang berlangsung hendaknya para Masinis/Operator betulbetul mengadakan pengontrolan dan pengecekan yang
maksimal terhadap jalannya pemompaan dan juga melakukan
penceratan terhadap kompresor dan tabung udara. Dan juga
setelah selesai melakukan aktifitas pemompaan/mentransfer
26

semen ke Rig hendaklah dilakukan pemeriksaan dan


dilanjutkan dengan pembersihan daripada tangki semen
karena dengan lamanya sisa semen berada dalam tangki
menyebabkan tangki beserta sisa semen merijadi satu dan
mengeras.
Waktu satu bulan kegiatan bongkar muat muatan curah
kering bisa lebih dari 2 kali. Kalau sampai terlambat
menangani alat-alat ini akan terjadi kemungkinan sisa-sisa
semen mengeras karena tercampur air hasil kondensasi, jadi
lebih baik fokus perawatan dan tempo perawatan pada alat
ini diutamakan. Ada juga perlakuan lain

terhadap pneumatic

valves agar sistem siap digunakan pada saat dibutuhkan yaitu


dengan mengetes buka tutup untuk meyakinkan bahwa alatalat ini bekerja dengan baik. Kembali kepada perawatan alatalat atau drainage system dan auto drain traps. Alat ini
bernama

Water

Separator,

adapun

langkah-langkahnya

adalah sebagai berikut:

1. Lepas dulu automatic drain trap dengan cara membuka


hexagon shoulder nipple.
2. Kemudian automatic drain trap tadi dibuka (ada 7 buah
baut yang dibuka dengan kunci).
3. Setelah

terbuka

bersihkan

bagian

dalam

dan

pelampungya, bersihkan juga pipa aliran buang (drain)


dan pipa aliran dari tabung, kemudian keringkan.
4. Test pelampung, dan pastikan bekerja normal.
5. Setelah dirasa cukup, pasang kembali automatic drain
trap tersebut pada tabung water separator.
Perlakuan pada kran cerat manual lebih mudah di
laksanakan, buka keran dan pastikan tidak ada penyumbatan
di dalam valve maupun pipa alirannya, pastikan juga tidak ada
27

kebocoran pada air cooler di dalam

unit compressor. Pada

saat pembersihan tubing di dalam air cooler akan ketahuan


ada tidaknya kebocoran yang te adi, sementara ini dikapal
MV. SEA CHEROKEE belum pernah ditemukan kasus
kebocoran dari air cooler tersebut walaupun media pendingin
adalah air laut, yang perlu diperhatikan adalah sebelum dan
sesudah pengoperasian bulk compressor cooler tersebut
harus dibilas (flushing) dengan air tawar. Selanjutnya adalah
pembersihan bagian dalam tangki dan pipa-pipa instalasi
bagian dalam. Setelah tangki semen dinyatakan kosong perlu
diadakan pembersihan bagian

dalam tangki, dan pipa di

dalamnya agar tidak terjadi penumpukan product lama oleh


product baru pada saat
untuk pengecekan

pengisian kembali, selain itu juga

bagian dalam tangki, yang perlu

diperhatikan adalah faktor keselamatan di dalam pekerjaan ini.


Sebelum pembersihan tangki dilakukan terlebih dahulu
diadakan pre-job safety meeting yang dipimpin langsung oleh
Nahkoda (Captain) atau Safety Officer yang ditunjuk diatas
kapal,
Masinis (Engineer) juga harus menyiapkan alat-alat
keselamatan (PPE = Personal Protective Equipment) di
antaranya: respirator, kaca mata kerja (safety glass), sarung
tangan (hand glove), helmet, pakaian kerja khusus (coverall),
penutup telinga (ear plug) dan alat pendukung lainnya antara
lain lampu kerja. Sebelum masuk kedalam tangki perlu juga
dilakukan pengecekan terhadap

gas-gas

dari sisa-sisa

product semen yang mengandung bahan bahan kimia,


dengan menggunakan alat yang disebut gas detector,
pekerjaan ini harus dilakukan oleh Perwira (Safety Officer)
yaitu Mualim I (Chief

Mate) yang telah ditunjuk dalam

pelaksanaannya. Cara pengetesan yang benar adalah mulai


28

dari dasar tangki, kemudian pada pertengahan tangki dan


terakhir pada permukaan

atas tangki. Selama pengetesan

semua ventilasi harus dihentikan dan setelah dinyatakan


aman Mualim I (Chief Mate) akan menerbitkan safety check
list untuk masuk tangki dan pekerjaan di dalam tangki yang
diketahui oleh Nakhoda (Captain) dan

jangan

masuk kedalam tangki, kalau belum dinyatakan


Pekerjaan

pembersihan

tangki

dilakukan

sekali-kali
aman.
minimal

oleh 3 orang, 2 orang di dalam tangki dan satu orang diluar


tangki sebagai pengawas dan juga untuk menerima ember
ember yang berisi sisa-sisa product yang dikeluarkan dari
dalam tangki. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

1) Lubang lalu orang (Man Hole) dibuka.


2) Tunggu beberapa saat sampai tidak ada debu semen
yang beterbangan.
3) Masukan lampu kerja yang kedap (safety work lamp), bisa
juga dengan menggunakan senter penerangan (flash
light).
4) Masukan gas detector dengan cara disambung dengan
sepotong kayu panjang.
5) Sisa dinyatakan aman, maka satu orang akan masuk
kedalam tangki namun

pastikan bahwa tangki harus

dalam kondisi terang.


6) Masukan alat-alat kerja (vacum mucking ejector, ember,
sapu)

b. Adakan pengaturan pembuangan sisa tekanan udara

Pembuangan sisa tekanan udara dari dalam tangki tidak


boleh dilakukan secara mendadak seperti sudah diterangkan
29

pada proses pemompaan.


Di atas tentang penurunan tekanan yang bertahap pada
saat proses pemompaan mendekati selesai (isi tangki sudah
dibawah 16 %) kita tidak memerlukan lagi penggunaan udara
tekanan tinggi dari purging valve untuk pengoperasian jadi
hanya menggunakan katup tekan. Pada saat pembersihan
tangki dengan pemompaan habis isi tangki (blow line),
tekanan di dalam tangki akan
dengan

berkurangnya

menurun

bertahap seiring

isi tangki, dan untuk mendapatkan

tekanan tinggi (tekanan kerja) cukup dengan

menutup

keran tekan (discharging valve) saja setelah tekanan kerja


didapat (5 kg/cm2). Keran tekan dibuka mendadak tanpa
membuka purging valve lagi, dan rasakan ada getaran di
dalam pipa tanda sisa product dan udara melewati pipa-pipa
tekan (discharge pipe) tersebut. Hal yang biasa digunakan
sebagai indicator mengalirnya product tersebut dengan lancar
adalah selang yang bergerak-gerak dan pressure yang turun
dengan cepat. Yang jadi pertanyaan kenapa harus di buka
mendadak. Cara ini akan membuat berpindahan tekanan yang
tiba-tiba atau cepat dari dalam tangki ke pipa tekan yang
akan membawa campur angin.
Contohnya

sebuah

balon

yang

ditiup

sampai

mengelembung besar, kemudian ujungnya kita buka dengan


perlahan, maka angin yang keluar dari balon tersebut
kecepatannya lebih lambat jika dibandingkan dengan ujung
yang di buka cepat.
Hal seperti ini berlaku juga pada tangki semen ini yang
disebut dengan blow the line, langkah ini dikerjakan 3-5 kali
sampai dirasakan isi tangki benar-benar bersih, pada saat
pengisian udara ke dalam tangki akan menggetarkan slide
canvas, secara langsung akan terjadi pergerakan udara
30

dalam tangki yang akan membuat sisa-sisa product yang


menempel pada dinding tangki bagian dalam akan jatuh dan
mengumpul dibawah elephant foot, setelah tekanan kerja
tercapai dan discharge valve dibuka secara tiba-tiba maka
sisa product akan berkumpul dibawah elephant foot akan
keluar terdorong tekanan udara dalam tangki melewati
elephant foot menuju pipa tekan kemudian menuju Rig.
Setelah selesai proses blow line yang dilakukan 3-5 kali,
biarkan keran tekan terbuka sampai tekanan tadi turun
dibawah 1,0 kg/cm2 sebaiknya bulk compressor tetap

jalan,

setelah tekanan turun buka keran ventilasi perlahan-lahan.


Dan dilanjutkan dengan menutup keran tekan, jadi sisa
udara akan keluar melewati ventilasi, kemudian matikan bulk
compressor. Biarkan keran ventilasi ini tetap terbuka sampai
sisasisa udara tekanan benar-benar habis, kalau pemompaan
product sampai habis, tunggu beberapa saat sampai tidak ada
kabut lagi di dalam tangki, kemudian man hole dibuka untuk
langkah pemeriksaan dengan catatan: sambungan selang
sudah dilepas, bulk compressor mati, keran pengisian angin
tertutup, keran masuk boleh ditutup) biarkan man hole terbuka
sampai ada ijin dari Safety Officer atau Kepala Kamar Mesin
(Chief Engineer) untuk masuk kedalam tangki lakukan langkah
pembersihan dalam tangki dengan menggunakan PPE yang
diperlukan untuk pengerjaan tersebut. Untuk itu para Masinis
(Engineer) dituntut untuk cepat mempelajari dan menguasai
cara pengoperasian dan teknik yang diperlukan karena hal ini
cara blow line tidak terdapat dalam buku instruction manual.

31

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada pembahasan bab-bab sebelumnya tentang


kondensasi pada Dry Bulk Handling System, maka penulis
mendapatkan beberapa kesimpulan, antara lain:

1. Kondensasi dapat menyebabkan pada pengerasan muatan


semen atau membatu di dalam tangki dan pipa tekan.
2. Adanya gangguan atau kerusakan pada dryer-bulk compressor
dapat menyebabkan terjadinya kondensasi.
3. Perubahan tekanan yang terlalu cepat didalam tangki dapat
menyebabkan kondensasi dan kebuntuan dalam instalasi pipa.
4. Purging valve terlalu dekat dengan discharge valve sehingga
dapat menimbulkan kondensasi dan kebuntuan instalasi pipa.

B.

Saran

1. Sebaiknya Masinis II (Second Enginer) melakukan perawatan


tangki semen dan pipa tekan, serta perawatan berkala terhadap
peralatan

sistem

semen

sehingga

siap

digunakan

untuk

pemompaan semen.
2. Sebaiknya

Masinis

Dua (Second

Engineer),

memperhatikan
32

perubahan tekanan dari pipa kapiler kecil ke evaporator sehingga


tidak menimbulkan embun yang terjadi pada saat selesai
pemompaan semen.

3. Sebaiknya Masinis II (Second Enginer) melakukan perawatan pada


water trapper secara berkala untuk menghindari penumpukan
kerak- kerak yang melapisi pelampung dan saluran drain pada alat
tersebut yaitu dengan membersihkan bagian pelampungnya,
bersihkan juga saluran pembuangan.
4. Sebaiknya Masinis II (Second Enginer) melakukan perawatan
berkala terhadap bagian tangki dan pipa tekan.

33

DAFTAR PUSTAKA

___________(2005), Bulk Handling System Manual Book, Chuan Hup


Offshore Pte. Ltd Singapore.

___________ (2003), Modul Manajemen Keselamatan Internasional


edisi ke-3, Cetakan ketiga.
___________ (2007), Airman Bulk Compressor Manual Book, Japan Ltd,
Japan.

34