Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Makna dan Kedudukan Hadits
2.1.1 Makna Hadits
Pengertian Hadits dapat diartikan menurut dua cara yakni menurut bahasa dan
menurut terminoligi. Hadits menurut bahasa terdiri dari beberapa arti, yaitu :
1. Jadid yang berarti baru
2. Qarid yang artinya dekat, dan
3. Khabar yang artinya berita
Sedangkan pengertian hadits secara terminologis adalah :
Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan,
perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sebagainya.
(Ilmu Tafsir dan Hadits IAIN Sunan Ampel, CV, Aneka Bahagia Surabaya 1993.
Hal : 41).
Seperti disebutkan di atas, bahwa definisi ini memuat empat elemen, yaitu perkataan,
perbuatan, pernyataan, dan sifat-sifat lain. Secara lebih jelas dari ke empat elemen
tersebut dapat penulis uraikan sebagai berikut :
1. Perkataan
Yang dimaksud dengan perkataan adalah segala perkataan yang pernah diucapkan oleh
Nabi Muhammad SAW dalam berbagai bidang, seperti bidang syariah, akhlaq, aqidah,
pendidikan dan sebagainya.
2. Perbuatan
Perbuatan adalah penjelasan-penjelasan praktis Nabi Muhammad SAW terhadap
peraturan-peraturan syara yang belum jelas teknis pelaksanaannya. Seperti halnya
jumlah rakaat, cara mengerjakan haji, cara berzakar dan lain-lain. Perbuatan nabi yang
merupakan penjelas tersbut haruslah diikuti dan dipertegas dengan sebuah sabdanya

3. Taqrir
Taqrir adalah keadaan beliau yang mendiamkan atau tidak mengadakan sanggahan dan
reaksi terhadap tindakan atau perilaku para sahabatnya serta menyetujui apa yang
dilakukan oleh para sahabatnya itu.
4. Sifat, Keadaan dan Himmah Rasululloh
Sifat-sifat, dan keadaan himmah Nabi Muhammad SAW adalah merupakan komponen
Hadits yang meliputi :
- Sifat-sifat Nabi yang digambarkan dan dituliskan oleh para sahabatnya dan dan para
ahli sejarah baik mengenai sifat jasmani ataupun moralnya
- Silsilah (nasab), nama-nama dan tahun kelahirannya yang ditetapkan oleh para
sejarawan
- Himmah (keinginan) Nabi untuk melaksanakan suatu hal, seperti keinginan beliau
untuk berpuasa setiap tanggal 9 Muharram.

2.1.2 Kedudukan Hadits

Seluruh umat Islam, telah sepakat bahwa hadits merupakan salah satu sumber ajaran
Islam. Ia mempati kedudukan kedua setelah Al-Qur`an. Keharusan mengikuti hadits bagi
umat Islam baik yang berupa perintah maupun larangannya, sama halnya dengan kewajiban
mengikuti Al-Qur`an.
Hal ini karena, hadis merupakan mubayyin bagi Al-Qur`an, yang karenanya
siapapun yang tidak bisa memahami Al-Qur`an tanpa dengan memahami dan menguasai
hadis. Begitu pula halnya menggunakan Hadist tanpa Al-Qur`an. Karena Al-qur`an
merupakan dasar hukum pertama, yang di dalamnya berisi garis besar syari`at. Dengan
demikian, antara Hadits dengan Al-Qur`an memiliki kaitan erat, yang untuk mengimami dan
mengamalkannya tidak bisa terpisahkan atau berjalan dengan sendiri.
Al-Quran itu menjadi sumber hukum yang pertama dan Al-Hadits menjadi asas
perundang-undan(gan setelah Al-Quran sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Yusuf AlQardhawi bahwa Hadits adalah sumber hukum syara setelah Al-Quran.
Al-Quran dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat
Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah

mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Quran mengatan bahwa :
Pokok-pokok ajaran Al-Quran begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di
dunia ini suatu kitab suci yang lebih dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya.
Menurut Ahmad hanafi Kedudukan Hadits sebagai sumber hukum sesudah Al-Quran
merupakan hukum yang berdiri sendiri.
Keberlakuan hadits sebagai sumber hukum diperkuat pula dengan kenyataan bahwa
Al-Qur`an hanya memberikan garis-garis besar dan petunjuk umum yang memerlukan
penjelasan dan rincian lebih lanjut untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan manusia.
Karena itu, keabsahan hadits sebagai sumber kedua secara logika dapat diterima.Di antara
ayat-ayat yang menjadi bukti bahwa Hadits merupakan sumber hukum dalam Islam adalah
firman Allah dalam Al-Quran surah An- Nisa: 80
(80)
Barangsiapa yang mentaati Rosul, maka sesungguhnya dia telah mentaati Alloh
Sejak masa sahabat sampai hari ini para ulama telah bersepakat dalam penetapan
hukum didasarkan juga kepada Hadits Nabi, terutama yang berkaitan dengan petunjuk
operasional.
Dalam ayat lain Allah berfirman QS. Al-Hasyr :: 7

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah
Dalam Q.S AnNisa 59, Allah berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembali
kanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)
Dari beberapa ayat di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak cukup hanya
berpedoman pada Al-Quran dalam melaksanakan ajaran Islam, tapi juga wajib berpedoman
kepada Hadits Rasulullah Saw.

2.2 Perbedaan Al-Quran dan Hadits


Adapun perbedaan hadits dengan Al-Qur'an adalah:
1. Al-Qur'an merupakan mukjizat Rasulullah Muhammad saw, sedangkan hadits bukanlah
merupakan mukjizat.
2. Al-Qur'an terpelihara dari berbagai kekurangan dan pendistorsian tangan-tangan jahil dan
kuffar (Qs.15:9), sedangkan hadits tidaklah terpelihara sebagaimana layaknya Al-Qur'an.
3. Al-Qur'an seluruhnya diriwayatkan secara mutawatir, sehingga memakainya tidak
dibutuhkan khawatir, sedangkan hadits tidak semuanya diriwayatkan secara mutawatir,
sehingga ada hadits yang da'if.
4. Kebenaran ayat-ayat Al-Qur'an bersifat qath'i al-wurud (mutlak kebenarannya) dan kafir
meragukannya, sedangkan hadits bersifat zhanni al-wurud (relatif kebenarannya) kecuali
yang diriwayatkan secara mutawatir.
5. Al-Qur'an redaksi dan maknanya dari Allah. Hadits qudsi maknanya dari Allah dan
redaksinya dari Nabi sendiri sesuai dengan maknanya. Sedangkan hadits nabawi merupakan
ijtihad Nabi sesuai dengan wahyu Allah.
6. Proses penyampaian Al-Qur'an lewat wahyu Allah dengan perantara Malaikat Jibril, yang
langsung bertemu dengan Rasul, sedangkan hadits qudsi lewat ilham yang Allah sampaikan
dengan bisikan, mimpi dan isyarat alam, dan hadits nabawi merupakan penjabaran Nabi
terhadap wahyu yang diterimanya berdasarkan hidayah yang Allah anugerahkan.
7. Kewahyuan Al-Qur'an merupakan wahyu masluw (wahyu yang dibacakan oleh jibril
kepada Muhammad saw), sedangkan hadits merupakan wahyu ghoirul masluw (wahyu yang
tidak dibacakan) tetapi terlintas dalam hati secara jelas dan haqqul yaqin, kemudian
disampaikan oleh Nabi Muhammad saw dengan redaksinya sendiri.
8. Membaca Al-Qur'an dinilai sebagai ibadah, setiap satu huruf pahalanya sebanding dengan
10 kebajikan, sedangkan membaca hadits tidak dinilai ibadah kecuali disertai dengan niat

yang baru.
9. Diantara surat Al-Qur'an wajib dibaca dalam sholat, seperti Surat Al-Fatihah yang dibaca
setiap raka'at. Sedangkan hadits tidaklah dibaca dalam sholat, namun hadits merupakan
petunjuk Rasul yang mengajarkan tata cara mendirikan sholat sesuai dengan contoh yang
telah Rasul kerjakan.
10. Mushab Al-Qur'an diharamkan disentuh oleh orang-orang yang sedang berhadats dan
bernajis, sedangkan hadits tidaklah sedemikian.
11. Imam Ahmad berkata haram Mushab Al-Qur'an diperjual belikan dan Imam Syafi'i
berkata Mushab Al-Qur'an makruh diperjual belikan, sedangkan hadits tidaklah ada ketetapan
hukum dari para ulama tentang keharaman diperjual belikan.
2.3 Fungsi Hadits Terhadap Al-Quran
Secara universal, fungsi hadits terhadap Al-Qur'an adalah merupakan penjabaran
makna tersurat dan tersirat dari isi kandungan Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah:
Artinya:
"Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al
Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka dan supaya mereka memikirkan." (Q.S. 16. An-Nahl, A. 44).
Fungsi hadits terhadap Al-Qur'an secara detail ada 4, yaitu:
1. Sebagai Bayanul Taqrir
Dalam hal ini posisi hadits sebagai taqrir (penguat) yaitu memperkuat keterangan
dari ayat-ayat Al-Qur'an, dimana hadits menjelaskan secara rinci apa yang telah
dijelaskan oleh Al-Qur'an, seperti hadits tentang sholat, zakat, puasa dan haji,
merupakan penjelasan dari ayat sholat, ayat zakat, ayat puasa dan ayat haji
yang tertulis dalam Al-Qur'an.
2. Sebagai Bayanul Tafsir
Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai tafsir Al-Qur'an. Hadits sebagai tafsir
terhadap Al-Qur'an terbagi setidaknya menjadi 3 macam fungsi, yaitu:

2.1. Sebagai Tafshilul Mujmal


Dalam hal ini hadits memberikan penjelasan terperinci terhadap ayat-ayat AlQur'an yang bersifat universal, sering dikenal dengan istilah sebagai bayanul
tafshil atau bayanul tafsir. Contoh: ayat-ayat Al-Qur'an tentang sholat, zakat,
puasa dan haji diterangkan secara garis besar saja, maka dalam hal ini hadits
merincikan tata cara mengamalkan sholat, zakat, puasa dan haji agat umat
Muhammad dapat melaksanakannya seperti yang dilaksanakan oleh Nabi.
2.2. Sebagai Takhshishul 'Amm
Dalam hal ini hadits memperkhusus ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat umum,
dalam ilmu hadits sering dikenal dengan istilah bayanul takhshish. Contohnya:
Dalam Q. S. 4. An-Nisa', A. 11 Allah berfirman tentang haq waris secara umum
saja, maka di sisi lain hadits menjabarkan ayat ini secara lebih khusus lagi tanpa
mengurangi haq-haq waris yang telah bersifat umum dalam ayat tersebut.
2.3. Sebagai Bayanul Muthlaq
Hukum yang ada dalam Al-Qur'an bersifat mutlak amm (mutlak umum), maka
dalam hal ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam Al-Qur'an. Contoh:
Dalam Q. S. 5. Al-Maidah, A. 38 difirmankan Allah tentang hukuman bagi pencuri
adalah potong tangan, tanpa membatasi batas tangan yang harus dipotong,
maka hadits memberi batasan batas tangan yang harus dipotong.
3. Sebagai Bayanul Naskhi
Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai pendelete (penghapus) hukum yang
diterangkan dalam Al-Qur'an. Contoh: Dalam Q. S. 2. Al-Baqarah, A. 180 Allah
mewajibkan kepada orang yang akan wafat memberi wasiat, kemudian hadits
menjelaskan bahwa tidak wajib wasiat bagi waris.
4. Sebagai Bayanul Tasyri'
Dalam hal ini hadits menciptakan hukum syari'at yang belum dijelaskan secara
rinci dalam Al-Qur'an. Contoh: Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan tentang
kedudukan hukum makan daging keledai, binatang berbelalai dan menikahi
wanita bersama bibinya, maka hadits menciptakan kedudukan hukumnya dengan
tegas.

2.4 Macam-Macam dan Tingkatan Hadits Beserta Contohnya

2.4.1 Macam-Macam Hadits


a. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi
o Hadits Mutawatir
o Hadits Ahad

Hadits Shahih

Hadits Hasan

Hadits Dha'if

b. Menurut Macam Periwayatannya


o Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul)
o Hadits yang terputus sanadnya

Hadits Mu'allaq

Hadits Mursal

Hadits Mudallas

Hadits Munqathi

Hadits Mu'dhol

c. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi


o Hadits Maudhu'
o Hadits Matruk
o Hadits Mungkar
o Hadits Mu'allal

o Hadits Mudhthorib
o Hadits Maqlub
o Hadits Munqalib
o Hadits Mudraj
o Hadits Syadz
d. Beberapa pengertian dalam ilmu hadits
e. Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer

I.A. Hadits Mutawatir


Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak
mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca
indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu,
maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits
Mutawatir:
1. Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.
2. Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan,
tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath'iy.
3. Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.

I.B. Hadits Ahad


Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat
mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah "zhonniy". Sebelumnya para ulama membagi
hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha'if. Namun Imam At
Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu:

I.B.1. Hadits Shahih


Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan
oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak
bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi
hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.
2. Harus bersambung sanadnya
3. Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.
4. Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)
5. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
6. Tidak cacat walaupun tersembunyi.

I.B.2. Hadits Hasan


Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang
disangka dusta dan tidak syadz.
I.B.3. Hadits Dha'if
Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil
dan tidak dhobit, syadz dan cacat.
II. Menurut Macam Periwayatannya
II.A. Hadits yang bersambung sanadnya
Hadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits
ini disebut hadits Marfu' atau Maushul.
II.B. Hadits yang terputus sanadnya

II.B.1. Hadits Mu'allaq


Hadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya
dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha'if.
II.B.2. Hadits Mursal
Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'in dari Nabi
Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.
II.B.3. Hadits Mudallas
Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad
yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam
sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi
kelemahan sanadnya.

II.B.4. Hadits Munqathi


Disebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang
perawi selain sahabat dan tabi'in.

II.B.5. Hadits Mu'dhol


Disebut juga hadits yang terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'it
dan tabi'in dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi'in yang
menjadi sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas adalah
termasuk hadits-hadits dha'if.
III. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi
III.A. Hadits Maudhu'
Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau
dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut
hadits.

III.B. Hadits Matruk


Yang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang
perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.
III.C. Hadits Mungkar
Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan
dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.
III.D. Hadits Mu'allal
Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang
tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang
nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga
dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat).

III.E. Hadits Mudhthorib


Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa
sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang
dikompromikan.
III.F. Hadits Maqlub
Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya
tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah)
maupun matan (isi).
III.G. Hadits Munqalib
Yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.
III.H. Hadits Mudraj
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan
yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.

III.I. Hadits Syadz


Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang
bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat /
pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits
syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga
hadits Mahfudz.
IV. Beberapa pengertian (istilah) dalam ilmu hadits
IV.A. Muttafaq 'Alaih
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat
yang sama, atau dikenal juga dengan Hadits Bukhari - Muslim.

IV.B. As Sab'ah
As Sab'ah berarti tujuh perawi, yaitu:
1. Imam Ahmad
2. Imam Bukhari
3. Imam Muslim
4. Imam Abu Daud
5. Imam Tirmidzi
6. Imam Nasa'i
7. Imam Ibnu Majah
IV.C. As Sittah
Yaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal.

IV.D. Al Khamsah
Yaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim.
IV.E. Al Arba'ah
Yaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari dan
Imam Muslim.
IV.F. Ats tsalatsah
Yaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam
Muslim dan Ibnu Majah.
IV.G. Perawi
Yaitu orang yang meriwayatkan hadits.
IV.H. Sanad
Sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada orang
yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang yang menghimpun atau
membukukan) hadits. Sanad biasa disebut juga dengan Isnad berarti penyandaran. Pada
dasarnya orang atau ulama yang menjadi sanad hadits itu adalah perawi juga.

IV.I. Matan
Matan ialah isi hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan
Nabi

Muhammad

SAW yang

diceritakan

oleh

V. Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer


1. Shahih Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Riyadhus Shalihin

sahabat

atau

berupa

taqrirnya.

2.4.2 Tingkatan Hadits


Berdasarkan tingkat keaslian hadits.
Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan
merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.
Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, daif dan
maudu.
1. Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Sanadnya bersambung;
Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak
fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab
tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits.
2. Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil
namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
3. Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal,
muallaq, mudallas, munqati atau mudal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau
tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
4. Hadits Maudu, bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai
penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya
ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi,
Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
2.4.3 Contoh Hadits
Adapun contoh hadits yang shahih adalah sebagai berikut;







(")
" Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan
kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math'ami dari ayahnya ia
berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur"
(HR. Bukhari, Kitab Adzan).
Contoh hadits hasan adalah sebagai berikut:

.....


:









"
Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu jafar bin
sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asyari ia berkata: aku
mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya
pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang( HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil
jihadi).

Contoh hadits dhoif adalah sebagai berikut ;

"

"










" :





"







Apa yang diriwayatkan oleh tirmidzi dari jalur hakim al-atsrami dari abi tamimah alHujaimi dari abi hurairah dari nabi saw ia berkata : barang siapa yang menggauli wanita haid

atau seorang perempuan pada duburnya atau seperti ini maka sungguh ia telah mengingkari
dari apa yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad saw