Anda di halaman 1dari 134

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Manajemen

merupakan proses pelaksanaan kegiatan organisasi melalui

upaya orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Manajemen Keperawatan di


Indonesia di masa depan perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan
Keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan
global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara
profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan sebagai satu
metode perlakuan asuhan keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan
keduanya dapat saling menopang.
Sebagaimana proses keperawatan, dalam manajemen keperawatan terdiri
dari pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi hasil. Karena manajemen keperawatan mempunyai kekhususan terhadap
mayoritas tenaga daripada seorang pegawai, maka setiap tahapan didalam proses
manajemen lebih rumit dibandingkan proses keperawatan. Konsep yang harus
dikuasai adalah konsep tentang pengelolaan bahan, konsep manajemen keperawatan,
perencanaan, yang berupa rencana strategis melalui pendekatan: pengumpulan data,
analisis SWOT dan penyusunan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan secara
operasional, khususnya dalam pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan Profesional
(MAKP) dan melakukan pengawasan dan pengendalian (Nursalam, 2002).
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 19 - 20 April 2010 di Ruang
Bedah Aster

RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan bahwa Model Asuhan

Keperawatan Profesional (MAKP) yang dilaksanakan adalah MAKP moduler.


Pelaksanaan MAKP yaitu dilakukan dengan membagi tenaga keperawatan menjadi
3 tim , setiap tim terdiri dari 1 PP dan minimal 1 PA dengan kepala ruangan adalah
seorang DIII Keperawatan yang berpengalaman, CCM (Clinical Care Manager)
dengan pendidikan S 1 Keperawatan, Perawat Primer adalah DIII Keperawatan yang

mempunyai pengalaman klinik lebih dari 10 tahun, dan Perawat Associate adalah
DIII Keperawatan. Dari 18 perawat Ruang Bedah Aster, 6 orang sudah mengikuti
pelatihan MAKP (3 orang S1 Keperawatan dan 3 orang DIII Keperawatan).
Ruangan Bedah Aster merupakan ruangan yang sudah pernah digunakan sebagai
tempat praktek manajemen keperawatan oleh mahasiswa S1 Keperawatan.
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 19-20 April didapatkan 40 % perawat
berpendapat bahwa MAKP yang digunakan di ruangan adalah model MAKP primer,
sedangkan 20% berpendapat bahwa model yang diterapkan diruang Bedah Aster
adalah model tim, dan 20 % sisanya tidak mengetahui model keperawatan apa yang
dipakai oleh ruangan selama ini. .
Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus sebagai suatu
tuntutan bagi organisasi pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan keperawatan pada
saat ini melibatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku dari para praktisi, klien,
keluarga

dan

dokter.

diperhitungkan

Saat

nilai-nilai

mendefinisikan

dasar

keyakinan

kualitas
para

keperawatan,
perawat

serta

perlu
cara

mengorganisasikan asuhan keperawatan tersebut. Latar belakang dalam pemberian


tugas dalam mutu asuhan yang berorientasi teknik, mungkin akan didefinisikan
cukup berbeda dengan keperawatan yang lebih holistik dan ada kemungkinan bahwa
metode keperawatan hanya merupakan prosedur dan teknik bukannya interpersonal
dan kontekstual yang berkaitan dengan mutu asuhan. Model pemberian asuhan
keperawatan yang saat ini sedang menjadi trend dalam keperawatan Indonesia
adalah Model Praktek keperawatan Profesional dengan metode pemberian asuhan
keperawatan

Primer. Mengenai model keperawatan ini salah satu kritik yang

dikemukakan adalah bentuk yang terlalu komplek dan teoritis sehingga akan dapat
memotivasi perawat untuk memperjelas keyakinan dan pekerjaannya, dapat
meningkatkan kemampuan perawat dalam mendiskusikan masalah dengan lebih
terbuka untuk membantu para perawat lebih bertanggung gugat secara profesional
terhadap tindakan.
Berdasar atas fenomena diatas, maka kami mencoba menerapkan Model
Praktek keperawatan Profesional dengan metode pemberian asuhan keperawatan

Primary Nursing, dimana pelaksanaanya melibatkan 4 pasien kelas II dan 5 pasien


kelas III Ruang Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya bekerjasama dengan perawat
yang bertugas di ruang tersebut.
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan praktek manajemen keperawatan, mahasiswa
diharapkan dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen keperawatan dengan
menggunakan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primary
Nursing.
b. Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktek klinik manajemen keperawatan, mahasiswa mampu:
1.
2.
3.
4.

Melaksanakan pengkajian di Ruang Bedah Aster.


Melaksanakan analisis situasi beerdasarkan analisa SWOT
Menentukan rumusan masalah
Menyusun rencana strategi operasional ruangan berdasarkan

hasil

pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional : (1) Timbang Terima,


(2) Ronde Keperawatan, (3) Sentralisasi obat, (4) Supervisi Keperawatan,
(5) Discharge planning, (6) Dokumentasi Keperawatan.
5. Melaksanakan rencana strategi operasional ruangan berdasarkan hasil
pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional : (1) Timbang Terima,
(2) Ronde Keperawatan, (3) Sentralisasi Obat, (4) Supervisi Keperawatan,
(5) Discharge Planning (6) Dokumentasi Keperawatan.
6. Mengevaluasi pelaksanaan rencana strategi operasional ruangan berdasarkan
hasil pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional : (1) Timbang
Terima, (2) Ronde Keperawatan, (3) Sentralisasi Obat, (4) Supervisi
Keperawatan, (5) Discharge planning, (6) Dokumentasi Keperawatan.
3. Manfaat
1. Bagi pasien
Tercapainya kepuasan klien yang optimal.
2

Bagi perawat
a. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal.
b. Terbinanya hubungan antara perawat dengan perawat, perawat dengan tim
kesehatan yang lain, dan perawat dengan pasien serta keluarga.

c. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan disiplin diri perawat.


d. Meningkatkan profesionalisme keperawatan.
3

Bagi rumah sakit


Dapat menerapkan

model asuhan keperawatan profesional yang mencakup

timbang terima, ronde keperawatan, sentralisasi obat, supervisi keperawatan,


discharge planning, dan dokumentasi keperawatan.

BAB 2
PENGKAJIAN

Dalam bab ini akan disajikan tentang tahapan proses pengkajian yang meliputi
pengumpulan data, analisis SWOT, dan identifikasi masalah.

2.1 Visi, Misi, dan Motto


2.1.1

Visi RSUD Dr.Soetomo Surabaya


Menjadi rumah sakit yang terkemuka dalam pelayanan, pendidikan dan

penelitian di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan ciri keluaran AIEEMMM, yaitu
aman, informatif, efektif, efisien, mutu, manusiawi dan memuaskan.
2.1.2
1.

Misi RSUD Dr.Soetomo Surabaya


Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang prima, aman, informatif, efektif,
efisien dan manusiawi dengan tetap memperhatikan aspek sosial.

2.

Menyelenggarakan pelayanan rujukan yang berfungsi sebagai pusat rujukan


tertinggi dengan menggunakan teknologi terkini.

3.

Membangun sumber daya manusia (SDM) rumah sakit yang profesional,


akuntabel, yang berorientasi pada serta mempunyai integritas tinggi dalam
memberikan pelayanan.

4.

Melaksanakan proses pendidikan yang menunjang pelayanan kesehatan prima


berdasarkan standar nasional dan internasional.

5.

Melaksanakan penelitian yang mengarah pada pengembangan ilmu dan teknologi


di bidang kedokteran dan dan pelayanan perumahsakitan.

2.1.3

Motto RSUD Dr.Soetomo Surabaya


Motto RSUD Dr.Soetomo adalah Saya senantiasa mengutamakan kesehatan

penderita.
2.1.4

Visi Instalasi Rawat Inap Bedah


Menjadi IRNA Bedah yang mampu dan handal dalam mendukung dan

berperan aktif pada pelayanan, pendidikan, dan penelitian di Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Soetomo.
2.1.5
1.

Misi Instalasi Rawat Inap Bedah


Meningkatkan komunikasi dan koordinasi baik secara horizontal (antara staf,
pelaksana program, dokter, perawat, dan pelaksana kesehatan yang ada di
lingkungan IRNA Bedah dan lintas sektoral) maupun secara vertikal (corporate
dan

pengendali

program)

dalam

penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan,

pendidikan, dan penelitian.


2.
3.

Optimalisasi sarana yang ada sehingga efektif dan efisien


Membangun Sumber Daya Manusia IRNA Bedah yang profesional, akuntabel
yang berorientasi pada customer serta mempunyai integritas yang tinggi dalam
memberikan pelayanan dan tetap berpegang pada etika.

4.

Mendukung dan berperan aktif pada pelaksanaan proses pendidikan yang


menunjang pelayanan kesehatan prima berdasarkan standar nasional dan
internasional.

5.

Mendukung dan berperan aktif pada pelaksanaan penelitian yang mengarah pada
pengembangan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran dan pelayanan
perumahsakitan.

2.1.6
1.

Tujuan Khusus Unit Keperawatan: Ruang Bedah Aster


Menciptakan keluaran kerja : Aman, Informatif, Efektif, Efisien, Mutu,
dan Manusiawi

2.

Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang berbentuk


pelayanan : bio, psiko, sosio, spiritual pada kasus-kasus medis antara lain:
a.Bedah thorak kardiovaskular
b. Bedah kepala dan leher
c.Bedah tumor
d. Bedah perut
e.Bedah perkemihan
f. Bedah plastik
g. Bedah saraf
h. Bedah tulang

3.

Menyiapkan pasien dan keluarga dalam menghadapi operasi

4.

Mencegah komplikasi

5.

Menjamin kecukupan nutrisi

6.

Mencegah terjadinya infeksi nosokomial

7.

Mengurangi morbiditas dan mortalitas

8.

Menciptakan kerjasama yang baik antara petugas, pasien, dan keluarga

9.

Memberikan rasa aman dan nyaman

2.2

Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan tanggal 19-20 April 2010, meliputi ketenagaan,

sarana dan prasarana, MAKP, sumber keuangan, dan pemasaran (marketing). Data yang
didapat dianalisis menggunakan analisis SWOT sehingga diperoleh beberapa rumusan
masalah, kemudian dipilih satu sebagai prioritas masalah.
2.2.1

Tenaga dan Pasien (M1 - Man)


Analisis ketenagaan perawat mencakup jumlah tenaga keperawatan dan non

keperawatan, keunggulan dari Ruang Bedah Aster salah satunya adalah telah
menerapkan model keperawatan MAKP dalam pelaksanaan proses keperawatan. Bedah
Aster memiliki tenaga S1 Keperawatan 3 orang, jumlah tenaga DIII Keperawatan
sebanyak 15 orang. Selain itu, ruangan Bedah Aster memiliki beberapa tenaga

keperawatan yang telah mengikuti pelatihan di luar negeri dan sebagian besar memiliki
kemampuan di bidang critical care
1. Struktur Organisasi

KEPALA UNIT

Tata usaha

Wakil Kepala
Unit

Perawat
Primer

Perawat
Associated

Pakarya
Kesehatan

Pakarya Rumah
Tangga

Bagan 2.1 Bagan struktur organisasi Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Keterangan :
: Garis Komando

: Garis Koordinasi

2. Tenaga Keperawatan
Tabel 2.1 Tenaga Keperawatan di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya

No
1

Nama
Siti Hasanah

A A Ayu
Raka

Anik
Achmani

Sondang
Pardede
Adi Sukrisno

Djamilah

Jenis
PNS

PNS

PNS

PNS

PNS

PNS

Pendidi

Masa

kan
kerja
D3 Kep 33 tahun

D3 Kep 31 tahun

D3 Kep 20 tahun

D3 Kep 20 tahun

S1 Kep

14 tahun

D3 Kep 28 tahun

Pelatihan yang pernah

Jabatan

diikuti
PPGD, AT, CI, Dalin,
Tranfusi, UPI, Pra Tugas
Keperawatan Manajemen,
GKM, LKE, PKMRS,
Terminologi Medis, Rehab
Medis, Radiologi, PPRA,
Audit Keperawatan, LSH,
AIDS, PPORS, Laborat,
Paliatif
PPGD, AT, CI, DALIN,
Transfusi, UPI, PPORS, Pra
Tugas Keperawatan
Manajemen, PKMRS, LKE,
Terminologi Medis, Rehab
medis, Radiologi, Laborat,
LSH, AIDS, Flu Burung,
Audit Keperawatan
PPGD, ATLS, AT, CI,
Transfusi, UPI, PPORS, Pra
Tugas, Keperawatan
Manajemen, PKMRS, LKE,
Radiologi, DALIN, LSH,
AIDS, Flu Burung, Audit
Keperawatan, ISO, Paliatif,
Rehab. Medis, Terminologi
Medis, PPRA, Laborat
PPGD, ATLS, AT, DALIN,
Transfusi, UPI, PPORS, Pra
Tugas, PKMRS, LKE,
AIDS
PPGD, ATLS, AT, CI,
DALIN, UPI, PPORS, Pra
Tugas, PKMRS, LKE,
GKM, Manajemen

saat ini

PPGD, ATLS, AT, CI,


DALIN, Pra Tugas,
PKMRS, PPORS, LSH,
Paliatif, UPI, LKE, GKM

Choirul
Abidin

PNS

D3 Kep 6 bulan

PPGD, Pra Tugas, K3RS

Ni Made Sri

PNS

D3 Kep 13 tahun

PPGD, ATLS, AT, UPI, Pra


Tugas, PKMRS, Tranfusi,
LKE, PPORS, CI
PPGD, ATLS, Transfusi,
UPI, Pra Tugas, ECG, AT,
Flu Burung, PPORS
PPGD, ATLS, Transfusi,
UPI, Pra Tugas, PKMRS,
LKE, Flu Burung, AT, CI
PPGD, ATLS, DALIN, UPI,
Pra Tugas, PKMRS,
Transfusi, AT 08, LKE

Khusnul
Khotimah

PNS

D3 Kep 12 tahun

10

Hany
Fardyanti

PNS

D3 Kep 10 tahun

11

Ali Seno
Subroto

PNS

S1 Kep

5 tahun

Ka. Unit

WaKa Unit

Perawat
Pelaksana

Perawat
Pelaksana
Perawat
Pelaksana
lanjutan
Perawat
Pelaksana
lanjutan
Perawat
Pelaksana
Perawat
Pelaksana
Perawat
Pelaksana
Perawat
Pelaksana
Perawat
Pelaksana

12
13

Eva
Lindawati
Siregar
Siti Fatimah

PNS

D3 Kep 4 tahun

Kontrak

D3 Kep 8 bulan

14

Angelin
Kusuma P

Kontrak

S1 Kep

8 bulan

15

Eka Kristin
W

Kontrak

D3 Kep 8 bulan

ATLS, BLS, Pra tugas,


PKMRS, LKE, DALIN,
transfusi, AT 08, komputer
BLS, SCORP STREIN

Perawat
Pelaksana
Perawat

BLS, SCORP STREIN

Pelaksana
Perawat

BLS

Pelaksana
Perawat
Pelaksana

16

Siswoto

PNS

SMA

28 tahun

17

Sri Utami

PNS

SMP

28 tahun

18

Anggorowati

PNS

SMA

28 tahun

19

Wahyu Eko S PNS

SMA

17 tahun

20

Sulichah P.

PNS

SMA

17 tahun

21

Soehandoko

PNS

22

M. Malik

PNS

SMP

24 tahun

23

Sri Kensiwi

PNS

SD

32 tahun

24

Prawani

PNS

SMA

20 tahun

25

Sri
Koeswinda
Suryati
W.E. Suciati
Suhariani

PNS

SMA

31 tahun

26
27
28

SMP

25 tahun

P4, K3RS

Pek kes

P4

Pek Kes

Prajabatan

Pek Kes

Komputer, Prajabatan

Pek Kes

Komputer, K3RS,
Prajabatan

Pek Kes

Prajabatan, K3RS

Pek Kes

Kebakaran, Prajabatan

Pek Kes

P4

PRT

Prajabatan

PRT

Rekam Medis, INA-DRG

TU

PNS
PNS
PNS

Tenaga keperawatan yang ada sudah cukup memenuhi kualifikasi RSUD Dr.
Soetomo, dimana Hampir seluruh perawat Bedah Aster sudah mendapatkan pelatihanpelatihan, pelatihan yang diberikan seperti: Askep, PKMRS, Radiologi, AT, UP, C.I,
BLS, Dalin, Tranfusi, Kemoterapi, PPOSR, NLS, Paliatif, K3RS, Rehabilitasi,
Laboratorium, Narkoba, ATLS, Komputer, GKM, PKPT, Flu burung, Manajemen
kepala ruang bedah, training bedah plastik, manajemen keperawatan, LKE PSBH, LSH,
SPAIN, TOT, AA, dan Askep Bedah. Tapi untuk kualifikasi sebagai sebuah parameter
peningkatan pelayanan masih belum memadai, karena baru 3 orang yang mempunyai
jenjang pendidikan S1 Keperawatan. Kemampuan dalam bidang keperawatan maupun
kolaborasi dengan tenaga medis lain, pada umunya perawat di Bedah Aster mempunyai
kemampuan yang bagus. Karena kolaborasi yang terbangun dengan petugas medis lain

sangat baik. Dari segi kedisiplinan, keinginan untuk berubah, ketepatan dalam
melaksanakan tindakan keperawatan sesuai standar masih sudah cukup baik, tetapi
masih ada beberapa perawat yang datang terlambat saat dinas, begitu juga dengan waktu
pulang, ada yang pulang terlebih dahulu. Namun keinginan untuk berubah sudah ada.
Kegiatan dalam perawatan, seperti pemasangan infus dan mengambil darah, masih
sering perawat tidak menggunakan universal precaution.
3. Tenaga Non Keperawatan
Tabel 2.2 Tenaga Non Keperawatan di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo
Surabaya
No
Kualifikasi
1 Tata Usaha (Medical record)

Jumlah
1 orang

Jenis
PNS

Pekarya Kesehatan

7 orang

PNS

Pekarya RT

2 orang

PNS

Cleaning Service

2 orang

Out Sourcing

4.

Tenaga Medis
Tabel 2.3 Tenaga Medis di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya
No
1

Kualifikasi
Dokter PPDS Urologi *

Jumlah
1

Dokter PPDS Digestif *

Dokter PPDS Onkologi *

Dokter PPDS Plastik *

Dokter PPDS TKV *

Dokter PPDS Kepala Leher *

7
Dokter Jaga di Ruang UPI **
Keterangan :

Dokter yang bertanggung jawab setiap hari

** Dokter yang dihubungi untuk kasus darurat


5.

Rencana Pengembangan staf tahun 2010


Tabel 2.4 Rencana Pengembangan staff tahun 2010 di Ruang Bedah Aster RSUD
Dr. Soetomo Surabaya

NO

MATERI PELATIHAN

1.

PPRA

NAMA PERAWAT
Sondang Pardede, Jamilah, Ni made S,
Khusnul khotimah, Hany F, Ali Seno S, Eva
L, Choirul A.

2.

Clinical educator

3.

PPORS

Sondang Pardede, Ni Made S, Khusnul K.


Ali Seno, Eva Lindawati.
Sondang Pardede, Jamilah, Choirul Abidin,

4.

Manajemen Keperawatan

5.

GKM

6.

K3RS

7.

ECG

8.

AT

9.

Audit Keperawatan

10.

Transfusi

12.

Paliatif

13.

Rehab Medis

14.

Radiologi

15.

Flu Burung

16.

ATLS

17.

LSH

18.

Laboratorium

Ni Made S, Khusnul Khotimah, Hany F, Ali


Seno, Eva L.
AA Ayu Raka, Anik Achmani, Sondang
Pardede, Choirul A, Ni Made S, Khusnul K.
Siti Hasanah, AA Ayu Raka, Anik Achmani,
Adi Sukrisno, Jamilah, Choirul A, Ni Made
S, Khusnul K, Ali Seno, Eva L
Sondang Pardede, Jamilah, Choirul A, Ni
Made S, Hany F, Ali Seno, Eva L.
Choirul A, Ali Seno, Eva Lindawati.
Adi Sukrisno, Jamilah, Choirul A, Ni Made
S, Khusnul K, Ali Seno, Eva L.
Adi Sukrisno, Jamilah, Choirul A.
AA Ayu Raka, Sondang Pardede, Adi
Sukrisno, Choirul A, Ni Made S, Hany Feva
L, Ali Seno, Eva L.
Adi Sukrisno, Jamilah, Choirul A, Ni Made
S, Khusnul K, Hany F, Ali Seno, Eva L.
Adi Sukrisno, Jamilah, Choirul A, Ni Made
S, Khusnul K, Hany F, Ali Seno, Eva L.
Sondang Pardede, Adi Sukrisno, Jamilah,
Choirul A, Ni Made S.
Choirul A.
Sondang Pardede, Choirul A, Ni Made S,
Khusnul K, Hany F, Ali Seno, Eva L.
Sondang Pardede, Adi S, Jamilah, Choirul A,
Erna S, Khusnul K, Hany F, Ali Seno, Eva L.

5. Persentase Kasus Terbanyak Di Ruang Bedah Aster Bulan Maret 2010


Tabel 2.5 Persentase Kasus Terbanyak di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo
Surabaya

Jumlah
elektif Total
3
12

No

Klasifikasi Penyakit

Digestif

UPI
9

Persentase

Onkologi

17

20

38,5%

Urologi

10

19,2%

TKV

7,7%

Kepala Leher

9,6%

23%

6. Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat


Kebutuhan tenaga perawat di ruang Bedah Aster dari hasil pengkajian adalah
sebagai berikut:
a.

Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan tenaga keperawatan secara


keseluruhan di ruang Bedah Aster perhari tanggal 19 April 2010

Klasifikasi

Jumlah

pasien
Total care
Partial care
Minimal care
Total

pasien
4
5
6
15

Kebutuhan tenaga keperawatan


Pagi
Sore
Malam
4 x 0,36 = 1,44
4 x 0,36 = 1,44
4 x 0,20 = 0,8
5 x0,27= 1,35
5 x 0,15 = 0,75
5 x 0,10 = 0,5
6 x 0,17 = 1,02
6 x 0,14= 0,84
6 x 0,07 = 0,42
3,81
3,03
1,72

Total tenaga perawat :


Pagi

: 3,81

Sore

: 3,03

Malam : 1,72

Total : 8, 56 orang
Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari :
86 x 9

= 2,60 orang

297
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari: 2,60 +
8,56 + 1 = 12,16 Orang dibulatkan menjadi 12 orang
Ket: 2,60 dari jumlah tenaga yang lepas dinas
8,56 dari jumlah total tenaga perawat
1 dari perawat yang menjadi Kepala Ruangan

Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan tenaga keperawatan di ruang


elektif Bedah Aster kelolaan mahasiswa praktik manajemen keperawatan perhari
tanggal 19 April 2010
Klasifikasi

Jumlah

pasien
Total care
Partial care
Minimal care
Total

pasien
0
1
3
4

Kebutuhan tenaga keperawatan


Pagi

Sore

Malam

0 x 0,36 = 0
1 x 0,27 = 0,27
3 x 0,17 = 0,5
0,77

0 x 0,36 = 0
1 x 0,15 = 0,15
3 x 0,14= 0,42
0,57

0 x 0,20 = 0,4
1 x 0,10 = 0,10
3 x 0,07 = 0,21
0,31

Total tenaga perawat :


Pagi

: 0,77

Sore

: 0,57

Malam

: 0,31

Total

: 1, 85 perawat

Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari :


86 x 3 = 0,87 orang
297
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari: 1,85 + 0,87
+ 1 = 3,72 Orang dibulatkan menjadi 4 orang
Ket: 0,87 dari jumlah tenaga yang lepas dinas
1,85 dari jumlah total tenaga perawat
1 dari perawat yang menjadi Kepala Ruangan
8. Kepuasan pasien terhadap kinerja perawat
Pelaksanaan evaluasi yang kami lakukan dengan mempersiapkan kuesioner
yang berisi 20 soal pertanyaan berbentuk pilihan dengan jawaban iya, kadangkadang, dan tidak. Iya bernilai 3, kadang-kadang bernilai 2, dan tidak bernilai
1. Dari 6 pasien, 83,33% menyatakan puas terhadap pelayanan perawat. Ketidakpuasan
yang dirasakan oleh pasien karena perawat jarang memberikan penjelasan tentang
tujuan keperawatan dan kurang memberikan perhatian.

9. Indikator klinik mutu pelayanan


Angka kejadian Patient Safety sebagai indikator klinik mutu pelayanan di
Ruang Bedah Aster belum terdokumentasikan secara terperinci. Patient Safety meliputi,
kejadian dekubitus saat pasien dirawat di ruangan, phlebitis, kejadian pasien jatuh,
cedera akibat resrain, pemberian obat tidak sesuai 5T), pengetahuan pasien, kecemasan.
Pendokumentasian patient safety di ruang bedah Aster tercatat pada buku dalin
yang terdiri dari pemasangan drain dan infeksi luka operasi. Di ruang bedah Aster tidak
terdapat penghalang tempat tidur, ruangan tidak menjadwalkan PKRS, pasien sebagian
besar pasien elektif merupakan pasien yang mempunyai ketergantungan parsial sampai
minimal sehingga angka kejadian dekubitus jarang terjadi dan tidak tercatat.

2.2.2

Sarana dan Prasarana (M2/ Material)


Penerapan proses praktika profesi manajemen keperawatan mahasiswa

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Univeristas Airlangga,


mengambil tempat di ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Pengkajian data
awal dilakukan pada tanggal 19-20 April 2010. Adapun data yang didapat adalah
sebagai berikut :
1. Lokasi dan Denah Ruangan
Lokasi penerapan proses profesi manajemen yang digunakan dalam kegiatan
profesi

keperawatan

mahasiswa

Program

Studi

Ilmu

Keperawatan

Fakultas

Keperawatan Universitas Airlangga di ruang Bedah Aster RSUD Dr.Soetomo yang


terletak dengan uraian sebagai berikut:
1) Sebelah timur berbatasan dengan ruang Seruni A
2) Sebelah barat berbatasan dengan ruang Anastesi
3) Sebelah utara berbatasan dengan ruang IIU (Instalasi Invasive Urogenital)
4) Sebelah selatan berbatasan dengan ruang Bedah Bugenvil
2. Data Tempat Tidur Pasien
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 19-20 April 2010, didapatkan
gambaran kapasitas tempat tidur ruang Bedah Aster adalah 37 tempat tidur dengan
rincian sebagai berikut:

a. Gambaran umum jumlah tempat tidur di ruang Bedah Aster


Kelas II

: 6 bed

Kelas III

: 12 bed

UPI

: 19 bed

Total jumlah bed di Ruang Bedah Aster = 37 bed


b. Gambaran berdasarkan jumlah pasien
Tanggal : 19 April 2010
Kelas II

: 2 bed (bed kosong 0)

Kelas III

: 5 bed (bed kosong 9 )

UPI TKV

: 2 bed ( bed kosong 5)

UPI

: 6 bed (bed kosong 7)

Dengan BOR

: 15/37 x 100%= 40,54 %

Jadi BOR pada tanggal 19 April 2010 adalah 40,54%.


Tanggal : 20 April 2010
Kelas II

: 2 bed (bed kosong 0)

Kelas III

: 11 bed (bed kosong 3 )

UPI TKV

: 2 bed ( bed kosong 5)

UPI

: 3 bed (bed kosong 10)

Dengan BOR

: 18/37 x 100%= 48,65 %

Jadi BOR pada tanggal 20 April 2010 naik menjadi 48,65%


c. Gambaran jumlah tempat tidur pasien kelolaan mahasiswa Praktik manajemen
keperawatan sejumlah 9 bed kelolaan
Tanggal 19 April 2010
Kelas II

: 2 bed (Kosong 0)

Kelas III

: 2 bed (kosong 5)

BOR

: 4/9 x 100% = 44,44%

Jadi BOR pasien kelolaan mahasiswa Praktik manajemen keperawatan tanggal


19 April 2010 adalah 44,44 %.
Tanggal 20 April 2010
Kelas II

: 2 bed (Kosong 0)

Kelas III

: 5 bed (kosong 2)

BOR

: 7/9 x 100% = 77,78%

Jadi BOR pasien kelolaan mahasiswa Praktik manajemen keperawatan tanggal


20 April 2010 naik menjadi 77,78%.
3. Peralatan dan Fasilitas
a. Peralatan
Tabel 2.8 Peralatan di ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya
No.
1
2

Nama barang
Tempat tidur dewasa

Jumlah
36 Bed

Kondisi
Rusak ringan

Keterangan

Tempat tidur anak (boks)

1 Buah

Rusak ringan

Lampu belum
diperbaiki

Meja pasien

38 Buah

Baik

Kipas angin

4 Buah

Baik

Kursi roda

1 Buah

Baik + rusak

Kursi bertangan

10 Buah

Baik

Kursi Bar

2 buah

Baik

Bangku panjang

1 buah

Baik

Kursi kayu

5 Buah

Baik

10

Branchart

1 Buah

Baik

11

Jam dinding

4 Buah

Rusak 2

12

Timbangan bayi

1 Buah

Rusak

13

Timbangan dewasa

1 buah

Baik

14

Kamar mandi dan WC

7 Buah

Baik

15

Dapur pasien

1 Buah

Baik

16

Dapur perawat

1 buah

Baik

17

Blower

5 Buah

Baik

18

Kursi lipat

8 Buah

Baik

19

Lemari kayu

5 Buah

Baik

20

Meja kayu

6 buah

Baik

21

Wastafel

3 Buah

Baik

22

AC

7 Buah

Baik

b. Fasilitas untuk petugas kesehatan


1) Ruang kepala ruangan jadi satu dengan ruang pertemuan perawat
2) Kamar mandi dan WC bagian belakang ruangan
3) Ruang konsultasi dokter jadi satu di ruang kepala ruangan

Belum
diperbaiki

4) Ruang ganti di belakang sebelah timur


5) Nurse station bagian tengah ruangan
6) Depo farmasi di samping nurse station
7) Gudang di sebelah barat depan dan barat ruangan
8) Ruangan TU di bagian tengah ruangan karu jadi 1 dengan KARU
9) Ruangan alat steril di sebelah ruang UPI
10) Musholla di bagian belakang timur ruangan
11) Tempat pertemuan mahasiswa di bagian belakang-timur ruangan
c.

Fasilitas untuk pasien


1) Ruang rawat inap yang terdiri dari ruang UPI, UPI Bedah Toraks, kelas II
dan kelas III.
2) Kamar mandi, WC dan tempat cucian untuk pasien ada

di

belakang

ruangan.
d. Fasilitas dan Sarana Kesehatan Yang Ada di Bedah Aster (Depkes, 2001)
Tabel 2.9 Fasilitas dan Sarana di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo
Surabaya
No
1
2
3
4

Nama Barang
Standar/rasio
Ambu Bag Anak Blue Cross
1 ruangan 1
Ambu Bag dewasa blue
1 ruangan 1
Bag and Mask dewasa rusch
1 ruangan 1

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Dresing card
Gunting Aj besar smic
Gunting verban
Korentang
Pinset besar
Pinset anatomi smic
Pinset chirrurghi smic
Pinset chirrurghi kecil
Regulator O2 tabung
Standar infus
Stetoskop
Waskom
Vena seksi set
Zuig aparat
Tempat korentang
Tensimeter portabel
Termometer biasa safety
Desinfeksi kom
Masker O2 trakeostomi

Bengkok

1:5
1 ruangan 1
Minimal 1
Minimal 2
1/pasien
1/pasien
1 :1
1 ruangan 2
1
1 ruangan 2
1:5
3
-

Jumlah
2
2
2
20
4
10
2
5
3
15
15
2
7
3
5
10
2
3
4
3
3
4

Kondisi
Baik
Baik
Baik
10 Baik,
10 rusak
Baik
Baik
Baik

Kebutuhan

Baik
Baik
Baik
2 Rusak
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Disposibel
(sekali pakai

dibuang)
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

Mayo tube dewasa rusch


Mayo tube anak
Nasal kanul
Laringoskop reister
Bak injeksi
Bak injeksi kecil
Bak instrumen
Cucing
Nasopharingeal tube
Sterilizer kering
Tromol besar
Tromol sedang
Tromol kecil
Tromol kassa besar
Tromol kassa sedang
Komputer, printer
O2 tabung kecil
O2 transpotasi
O2 sentral
Strecher
Kursi roda
Nebulizer
Pispot
Urinal
ECG
Syringe Pump

51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77

Tongue spatel
Bulleau drainage
Humidifier tembok
Lampu pemeriksaan
Waterpass
Kereta obat
Kereta injeksi
Kereta cucian
Kocker klem
Arteri klem
Arteri klem pen besar
Timbangan darah
Selimut garis
Selimut tebal
Laken putih
Laken biru
Laken hijau
Stick laken putih
Stick laken biru
Stick laken kuning
Taplak meja pasien
Baju pasien
Sarung bantal putih
Sarung bantal biru
Sarung bantal hijau
Handuk besar
Mitela

Lampu baca foto

1 /pasien
Minimal 2
Minimal 2
1: 5
1
1 ruangan 1
Minimal 1
Minimal 1
1
Minimal 1
1 ruangan 1
1:1
1: 4
1 ruangan 1
1:5
1:3
1:3
1:6
1:3
-

2
2

Baik
Baik
Disposibel

1
2
2
2
20
1
1
4
3
6
4
3
1
1
1
13
1
3
1
5
4
1
1
2
2
16
7
2
1
3
1
1
3
3
3
1
36
15
51
80
8
126
103
20
66
114
115
110
150
35
15

Baik
Baik
2 rusak
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
1 Baik,
1 Rusak
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97

Duk lubang
47
Baik
Topi/tutup kepala
1/pasien
13
Baik
Sarung pasien putih
1/pasien
150
Baik
Piring makan
1:1
10
Baik
Sendok/garpu
1:3
100
Baik
Gelas
1:1
46
Baik
Baki makan
2:5
12
Baik
Panci
1 ruangan 4
4
Baik
Sendok makan
Minimal 5
12
Baik
Waskom stainles
Minimal 4
8
Baik
Tabung elpiji
1 ruangan 1
1
Baik
Tabung PMK
1 ruangan 2
2
Baik
White board
1 ruangan 2
5
Baik
Lampu emergency
1 ruangan 4
5
Baik
Almari kayu
1 ruangan 2
6
Baik
Almari besi
3
Baik
TV
1 ruangan 1
1
Baik
Sketsel
1 ruangan 2
2
Baik
Kulkas
1 ruangan 1
2
Baik
Komputer
1 ruangan 1
1
Baik
Sumber : Standard kebutuhan alat RSUD Dr Soetomo Surabaya
Keterangan : Rasio = alat : pasien

4. Administrasi Penunjang:
1) Buku injeksi
2) Lembar observasi
3) Buku observasi suhu dan nadi
4) Buku timbang terima
5) SOP
6) SAK
7) Buku visite
8) Buku Dalin
9) Buku makanan pasien
Berdasarkan data dari pengkajian di atas, sebagian besar peralatan di Ruang
Bedah Aster sudah memenuhi jumlah standar yang ditetapkan oleh RSUD Dr. Soetomo.
Tidak semua peralatan ada standar jumlahnya dan tidak semua alat yang ada standar
jumlahnya tersedia di ruangan sehingga peralatan di ruangan masih perlu ditambah
sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit. Alat-alat yang sudah
terpenuhi sesuai standar telah dimanfaatkan oleh ruangan sesuai kebutuhan klien. Untuk
peralatan yang tidak ada standar jumlahnya selama ini untuk mengevaluasinya adalah

berdasarkan kriteria kecukupan penggunaan dalam kegiatan sehari-hari. Berdasarkan


informasi dari Kepala Ruangan, pengadaan alat-alat kesehatan di Ruangan Bedah Aster
dikoordinasi oleh Kepala ruangan.
2.2.3

Metode Pemberian Asuhan Keperawatan (M3 / Metode)

1. Penerapan Pemberian Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)


Dari hasil pengamatan dan kuesioner yang disebar tanggal 19-20 April 2010
kepada perawat ruang Bedah Aster, Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) di
ruang Bedah Aster sejak 2 tahun yang lalu, saat ini Menggunakan MPKP moduler : timprimer dengan kepala ruangan adalah seorang D III Keperawatan yang berpengalaman,
CCM (Clinical Care Manager) dengan pendidikan S1 Keperawatan, perawat Primer
adalah D III Keperawatan yang mempunyai pengalaman klinik minimal 5 tahun, dan
Perawat Associate adalah

D III Keperawatan. MPKP moduler diterapkan dengan

adanya 3 tim, dimana masing-masing tim terdiri dari 1 perawat primer dan beberapa
perawat associate. Perawat primer hanya dinas pada shift pagi sedangkan untuk shift
sore dan malam yang bertugas adalah perawat associate. Pada MPKP moduler terdapat
pembagian tugas jelas antara Perawat primer dengan perawat associate. Dari 15 perawat
Ruang Bedah Aster, hanya 6 orang yang sudah mengikuti pelatihan MPKP, yaitu 3 D
III dan 3 S1. Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 19-20 April 2010 didapatkan
20 % perawat berpendapat bahwa MPKP yang digunakan di ruangan adalah model
MPKP tim, sedangkan 40 % berpendapat bahwa model yang diterapkan diruang Bedah
Aster adalah model primer, sedangkan yang lain berpendapat tidak tahu. Berdasarkan
kuesioner yang diajukan, didapatkan bahwa 100 % perawat berpendapat bahwa
komunikasi antara sesama perawat dan tenaga kesehatan lain sudah berjalan dengan
baik.
2. Timbang Terima
Setiap timbang terima dihadiri oleh perawat yang bertugas dan juga kepala
rungan kecuali untuk shift sore ke malam tanpa kepala ruangan.Timbang terima
dilakukan setiap pergantian shift di ruang kepala ruangan. Timbang terima dimulai
dengan pembukaan oleh kepala ruangan kemudian di pimpin berdoa oleh kepala

ruangan dan perawat primer dipersilahkan mengoperkan pasiennya kepada perawat


associate. Pengoperan timbang terima berupa identitas pasien, nomor bed pasien,
diagnosa medis, keadaan umum atau keluhan utama, data objektif, data subjektif,
masalah keperawatan, intervensi baik mandiri maupun kolaborasi dan catatan.
Pelaksanaan timbang terima ini dilakukan oleh 3 perawat primer kepada masing-masing
perawat associate. Setelah itu melakukan validasi ke pasien dengan secara bersamasama. Pelaksanaan timbang terima terdokumentasikan di buku timbang terima yang
sudah disediakan oleh ruangan. Tanda tangan yang tercantum dalam buku tanda tangan
perawat yang bertugas, tanpa tanda tangan dari perawat jaga selanjutnya. Berdasarkan
hasil kuesioner, perawat mengatakan timbang terima dilakukan pada fokus masalah
medis dan keperawatan dan selalu dilakukan tiap pergantian shift.
3. Ronde Keperawatan
Berdasarkan hasil kuesioner 40% perawat mengatakan tidak pernah melakukan
ronde tetapi mengenal ronde keperawatan, 40% perawat mengatakan dilakukan ronde
keperawatan tetapi tidak sesuai kriteria ronde, dan yang lainnya mengatakan tidak
mengerti ronde keperawatan. Ronde keperawatan dilakukan secara informal perawat
ruang Bedah Aster melakukan diskusi dan kolaborasi mengenai masalah pasien.
Terkadang ronde keperawatan dilaksanakan oleh mahasiswa praktik dari fakultas
keperawatan Universitas Airlangga. Salah satu kendala pelaksanaan ronde keperawatan
jarang dilakukan karena jumlah ketenagaan dari perawat yang terbatas dan perawat
mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan yang bervariasi.
4. Supervisi Keperawatan
Berdasarkan pengkajian yang kami lakukan pada tanggal 19 sampai 20 April
2010

supervisi yang dilakukan di ruang Bedah Aster itu meliputi supervisi yang

terjadwal dan yang tidak terjadwal, supervisi yang terjadwal dilakukan secara periodik
sesuai dengan kebutuhan dan dilakukan oleh kepala irna bedah, supervisor untuk
menilai kinerja perawat secara umum. Supervisi yang yang dilakukan oleh kepala
ruangan tidak terjadwal untuk menilai kinerja perawat Bedah Aster saat melakukan
tindakan keperawatan apakah sudah sesuai dengan protab yang ada. Supervisi dilakukan
secara lebih detail pada masing-masing perawat. Tidak terdapat format penilaian yang

baku, terstruktur, dan dokumentasi supervisi, hasil supervisi di kemukakan pada saat
timbang terima dan dapat digunakan sebagai pedoman untuk penyusunan DP3 (Daftar
Penilaian Prestasi Pegawai).
Berdasarkan kuesioner yang diberikan kepada 5 perawat ruang Bedah Aster,
80% perawat mengatakan supervisi dilakukan secara rutin namun belum terstruktur dan
belum ada pendokumentasian, 20 % mengatakan supervisi tidak dilakukan.
5. Discharge Planning
Discharge planning di Ruang Bedah Aster sudah dilakukan hampir pada semua
pasien yang akan pulang dengan menggunakan kartu Discharge Planning (DP) . Proses
pelaksanaan DP dilakukan di ruang kepala ruangan atau di nurse station dengan cara
memanggil keluarga dan pasien. Kartu Discharge Planning sudah ada dengan isi sesuai
dengan standart: Identitas pasien, tanggal kontrol, aturan diet, obat, perawatan luka di
rumah, aktifitas dan istirahat, perawatan umum, dan hasil pemeriksaan yang dibawa
pulang. Dalam DP tidak ada leaflet dan penjelasan terkait perawatan lanjutan selama
pasien dirumah. Discharge Planning dilakukan oleh PP tepat saat saat pasien dinyatakan
boleh pulang oleh dokter. Beberapa kendala ini disebabkan oleh kurangnya ketenagaan
di ruangan terutama pada pasien yang pulang pada saat shift sore dan sift malam dimana
tenaga perawat lebih sedikit yang bertugas. Berdasarkan hasil kuesioner dari 5 orang
perawat didapatkan 60 % perawat menyatakan discharge planning telah dilakukan
namun ada format perencanaan pulang tetapi tidak dijalankan, 40% lainnya mengatakan
tidak pernah melakukan discharge planning. Terdapat buku DP yang digunakan untuk
mencatat DP.

6. Pengelolaan Sentralisasi Obat


Sentralisasi obat di ruang Bedah Aster sudah dilakukan dengan modifikasi,
untuk pasien askes maskin, askes PNS, askes swasta, ASTEK dan PKS. Baik obat oral
maupun obat injeksi telah dilakukan sistem sentralisasi dengan program yang disebut
UDD (unit dose dispensing) namun pada prakteknya masih menggunakan ODD (one
day dose). Sedangkan pasien biaya sendiri (umum) sentralisasi obat dilaksanakan

berdasarkan persetujuan pasien, bila pasien tidak setuju maka obat dikelola oleh pasien.
Alur sentralisasi obat adalah obat diresepkan oleh dokter kemudian diserahkan oleh
keluarga untuk mengambil resep ke depo farmasi. Setelah itu berdasarkan resep obat
diserahkan depo ke perawat dalam kemasan perdosis pemberian dengan tanda bukti
lembar serah terima obat namun belum ada informed concent tentang sentralisasi obat
dari depo ke pasien. Terdapat format pencatatan jenis obat dan jadwal pemberiannya ke
pasien serta nama perawat yang bertugas memberikan obat sehingga obat apa saja yang
sesudah diberikan dapat terdokumentasikan. Jumlah obat oral dan injeksi yang
diserahkan adalah dosis obat untuk 2 atau 3 kali pemberian dalam waktu 24 jam
berdasarkan kebutuhan pasien. Berdasarkan hasil observasi dengan bagian farmasi
didapatkan data bahwa depo farmasi Ruang Bedah Aster telah terdapat buku yang
berisikan daftar obat untuk injeksi dan oral sedangkan di ruangan tersedia buku injeksi
dan format obat yang di dapat tiap pasien. Berdasarkan hasil kuesioner 100% perawat
mengatakan farmasi menyediakan obat setiap pasien sesuai dengan advis dokter,
sedangkan dalam pengelolaan maupun pendistribusian dilakukan oleh perawat, untuk
pelaksanaan penerimaan obat dari depo farmasi sampai ke pasien juga sudah
terdokumentasikan.
7. Dokumentasi Keperawatan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada medical record (status)
didapatkan pendokumentasian yang berlaku di ruang Bedah Aster adalah sistem SOR
(Sources Oriented Record) yaitu suatu sistem pendokumentasian yang berorientasi dari
berbagai sumber tenaga kesehatan, misalnya dari dokter, perawat, ahli gizi dan lain-lain.
Berdasarkan hasil observasi terhadap seluruh status pasien yang ada, didapatkan:
1) Pendokumentasian dilakukan satu kali pada setiap shift dan pendokumentasian
mencakup asuhan keperawatan mulai dari keluhan utama, data objektif, data
objektif dan tindakan keperawatan.
2)

Rekam Medik disusun sesuai urutan berdasarkan nomor register dan identitas
pasien tidak dicantumkan, jam pendokumentasian belum ada dan keluhan pasien
tidak disebutkan.

3) Pendokumentasian perawat terdapat pada daftar tersendiri yang terdiri dari lembar
penerimaan pasien baru, pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi dan
implementasi serta format pembagian obat.
4) SOP tentang cuci tangan ditempel di dekat tempat cuci tangan,
5) Beberapa pendokumentasian yang dilaksanakan berdasarkan syarat LARB
(Langsung, Aktual, Relevan, dan Baru)
Adapun bagan uraian lembar dokumentasi yang ada di ruang Bedah Aster, antara lain
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

URAIAN BAGAN
Lembar penerimaan pasien baru, lembar pernyataan persetujuan

SUMBER

TU
atau penolakan (RM 1)
Merupakan lembar masuk dan keluar rumah sakit (RM 1a)
Dokter
Merupakan lembar sebab kematian (RM 2)
Dokter
Lembar penempelan surat (MRS,rujukan dll) (RM 3)
Perawat
Daftar masalah (RM 4)
Dokter
Lembar Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik (RM 5)
Dokter
Lembar catatan kemajuan (perjalanan penyakit) (RM 6)
Dokter
Lembar instruksi dokter dan laporan perawat (RM 7)
Perawat/ Dokter
Lembar penempelan hasil pemeriksaan penunjang (RM 8)
Perawat/ Dokter
Lembar konsultasi (RM 9)
Perawat/ Dokter
Lembar daftar pengamatan intensif (RM 10)
Perawat
Lembar grafik suhu, tensi dan nadi (RM 11)
Perawat
Lembar discharge summary (ringkasan penyakit) (RM 12)
Dokter
Lembar penolakan tindakan (RM 14)
Perawat/ Dokter
Selama ini pendokumentasian asuhan keperawatan sudah dilaksanakan pada
lembar rekam medis dan format asuhan keperawatan. Catatan tindakan keperawatan
pada rekam medis terkait advice dari dokter, sedangkan pada format pencatatan askep
meliputi diagnosa dan intervensi serta evaluasi keperawatan. Lembar observasi pasien
belum tertempel pada bed pasien masing-masing pada ruang elektif.
Berdasarkan angket yang disebarkan kepada 5 perawat Ruang Bedah Aster
50% perawat menyatakan tidak melakukan pendokumentasian segera setelah melakukan
tindakan, 25 % menyatakan melakukan pendokumentasian sebagian dan 25%
menyatakan melakukan pendokumentasian lengkap.
8. Penerimaan Pasien Baru
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, proses penerimaan pasien
yang datang di ruangan ini, dilakukan kegiatan PPB (penerimaan pasien baru). Bila ada
pasien datang, perawat akan menyiapkan tempat tidur pasien, memperkenalkan diri,

memperkenalkan aturan rumah sakit dan memberikan petunjuk untuk pengambilan obat
dan pengambilan hasil laboratorium. Pasien baru yang datang diorientasikan secara
lisan berdasarkan format penerimaan pasien baru yang berisi identitas pasien, dokter
yang bertanggung jawab, perawat yang bertanggung jawab. Untuk pasien akan dirawat
disini berapa hari tidak diberitahukan pada pasien dan.

2.1.4 Pembiayaan (M4/Money)


Sebagian besar pembiayaan ruangan berasal dari rumah sakit yang diperoleh
dari APBD propinsi Jawa Timur dan dari IRNA Bedah. Selain itu adanya depo farmasi
diruangan memungkinkan menyimpan stok peralatan medis yang diperlukan.
Sedangkan pembiayaan pasien sebagian besar dari Askes Maskin sedangkan yang lain
dari: Askes PNS, Askes Swasta, Jamsostek/Astek, PKS (Perjanjian Kerja Sama) dan
biaya sendiri. Biaya Perawatan yang berlaku saat ini sesuai kelas perawatan. Di Ruang
Bedah Aster hanya ada kelas II dan III.
Tabel 2.10 Biaya Perawatan di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Kelas

Tarif ruangan

HR Dokter

HR Perawat

Jumlah

II

Rp. 45.000,-

Disesuaikan

III

Rp. 18.000,-

Disesuaikan

2.2.4

Pemasaran (M5/Marketing)

1. Keadaan Pasien
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada hari Senin tanggal 19 April 2010
didapatkan BOR pada serangkaian data sesuai kapasitas tempat tidur pasien di ruang
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya yaitu 80%
Pasien yang dirawat di ruang Bedah Aster ini berasal dari daerah yang berbeda
dari seluruh Indonesia. Sumber keuangan dari pasien yang dirawat ada yang berasal dari
askes maskin, askes PNS, askes swasta, ASTEK, PKS, Jamsostek, maupun pembiayaan
umum (oleh diri sendiri). Tetapi sebagian besar pasien yang di rawat bersumber
keuangan dari askes maskin. Tingkat pendidikan pasien yang dirawat pun bermacammacam, ada yang sama sekali tidak pernah sekolah, sampai yang sudah berjenjang

perguruan tinggi. Hal ini mempengaruhi pelayanan yang akan diberikan.

Alur Pasien Masuk


ALUR PASIEN MRS ke IRNA BEDAH

IRD

F
(TRAUMA)

IRJ POLI
BEDAH

ALIH RAWAT
KONSULTASI
ANTAR SMF

KAMAR TERIMA
&
TINDAKAN BEDAH

PRAKTEK
DOKTER /
LIMPAHAN GRIU

A ELEKTIF
B
C

G
(NON TRAUMA)
TETANUS
COMBUTIO

ICU A /
ICU THORAKS
ELEKTIF

MATA

THT
Keterangan:
Pasien setelah jam kerja (sore, malam, hari libur) bisa langsung masuk ke ruang Bedah Aster dengan persetujuan dokter Chief.

3. Gambaran LOS perkasus di Ruang Bedah Aster


Gambaran LOS Bulan April 2010
No

LOS

1
2
3
4
5

Digestif
Onkologi
Urologi
TKV
Kepala Leher
Total

ELEKTIF
Jumlah
Presentase
3
9,69%
17
54,89%
8
25,89%
3
9,69%
31
100%

Jumlah
9
3
2
4
2
20

UPI
Presentase
45%
15%
10%
20%
10%
100%

4. Produk
Ruang Bedah Aster sebagai ruang perawatan yang diperuntukan bagi penderita post operasi yang
memerlukan perawatan intensive, dilengkapi dengan fasilitas peralatan emergency dan pemberian TPN
(Total Parenteral Nutrition)
Ruang ini juga dipergunakan sebagai Tempat praktik mahasiswa kesehatan seperti Fakultas
Keperawatan, Akper, Akademi gizi, DM, PPDS.
2.3 Analisis SWOT
Identifikasi Situasi Ruangan Berdasarkan Pendekatan Analisis SWOT.
Dari hasil pengkajian dilakukan analisis SWOT berdasarkan sub sistem dalam MPKP yang
meliputi : 1) Penerapan MPKP, 2) Sentralisasi obat, 3) Supervisi, 4) Timbang terima, 5) Dokumentasi, 6)
Discharge Planning, 7) Ronde Keperawatan, 8) Penerimaan Pasien Baru.
NO
1.

ANALISIS SWOT
Sumber Daya Manusia (Man)

BOBOT

RATING

0,2

BOBOT x RATING

a. Internal Faktor (IFAS)


STRENGHT
1. Adanya sistem pengembangan

0,8

staf berupa pelatihan dan hampir

3,4-3 = 0,4

semua perawat telah mengikuti


pelatihan bedah dan non bedah
2. Sudah diterapkan model MAKP

0,2

0,2

0,2

0,8

moduler atau MAKP primer


pemula
3. Jenis ketenagaan :
- S 1 Kep : 3 orang
- D3 kep : 15 orang
- Pekarya kesehatan : 7 orang

S-W

- PRT : 3 orang
- TU : 1 orang
- Cleaning Service: 2 orang
4.

Masa kerja > 15 tahun

0,2

0,8

0,2

0,8

sebanyak 5 orang, 5-15 tahun


sebanyak 6 orang sedangkan < 5
tahun sebanyak 4 orang.
5.

Adanya pelatihan perawat

TOTAL

WEAKNESS
1. Adanya konflik peran perawat

0,2

0,6

2. Sebagian

0,2

0,6

0,6

1,8

0,6

perawat

belum

mengikuti pelatihan MAKP


3. Kurangnya

kesejahteraan

perawat.
TOTAL
1
b.

Ekternal Faktor (EFAS)

OPPORTUNITY
1. Adanya program pelatihan /
seminar khusus tentang

0,2

manajemen keperawatan dari

2,8 2 = 0,8

diklat
2. Adanya kesempatan
melanjutkan pendidikan ke

0.2

0,6

0.2

0.6

0,2

0,4

0,2

0,6

jenjang yang lebih tinggi


3. Adanya kerjasama yang baik
antar mahasiswa Fakultas
Keperawatan dengan perawat
klinik
4. Adanya kebijakan pemerintah
tentang profesionalisasi
perawat
5. Adanya program akreditasi RS
dari pemerintah dimana
MAKP merupakan salah satu
penilaian

O-T =

TOTAL
1
THREATENED
1. Ada tuntutan tinggi dari
masyarakat untuk pelayanan

0,3

0,6

0,15

0,3

0,15

0,3

0,2

0,4

0,2

0,4

1,2

yang lebih profesional


2. Makin tingginya kesadaran
masyarakat akan hukum
3. Makin tinggi kesadaran
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
4. Persaingan antar RS yang
semakin kuat
5. Terbatasnya kuota tenaga
keperawatan yang
melanjutkan pendidikan tiap
tahun
TOTAL

Sarana dan Prasarana (M2)


a.

Internal Faktor (IFAS)

STRENGHT
1. Mempunyai sarana dan

0,3

prasarana yang memadai

2,85 2

untuk pasien, tenaga

= 0,85

kesehatan, dan keluarga


pasien termsuk sarana
prasarana Universal
Precaution untuk perawat.
2. RS pemerintah tipe A

0,15

0,3

0,15

0,3

0,15

0,3

4. Tersedianya Nurse Station

0,15

0,45

5. Pemeliharaan dan perawatan

0,10

0,3

sekaligus sebagai RS
pendidikan dan rujukan
3. Terdapat administrasi
penunjang (misal: buku
injeksi, buku TT, buku visite,

SW

SOP, dll) yang memadai

dari sarana dan prasarana


penunjang kesehatan sudah
ada
TOTAL

1. Sarana administrasi penunjang

WEAKNESS
2

1,2

untuk dokumentasi belum


dimanfaatkan
TOTAL

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Adanya pengadaan sarana dan

0,4

OT

prasarana yang rusak dari

3,0 2,15 =

bagian pengadaan barang

0.85

(AC, syringe pump)


2. Adanya program pelatihan/

0,6

1,8

0,2

0,4

0,25

0,75

0,4

0,6

seminar khusus tentang


pengoperasian alat
TOTAL

THREATENED
1. Ada tuntutan tinggi dari
masyarakat untuk pelayanan
keperawatan yang lebih
profesional
2. Makin tingginya kesadaran
masyarakat akan hukum
3. Makin tinggi kesadaran

0,2

masyarakat akan pentingnya


kesehatan
4. Tingginya persaingan dari RS

0,3

swasta yang memiliki fasilitas


kesehatan lengkap
TOTAL

3.

METHODE (M3)
1. MAKP
a.

Internal Faktor (IFAS)

STRENGTH
1.

RS memiliki visi, misi dan

0,15

0,6

motto sebagai acuan

3,1 3= 0,1

melaksanakan kegiatan
pelayanan
2.

Sudah ada Model MPKP

0,15

0,15

yang digunakan Model MPKP


moduler
3.

Ada dokumentasi SOR

0,05

0,15

4.

Supervisi sudah dilakukan

0,15

0,45

0,05

0,1

0,15

0,3

0,2

0,8

0,1

0,4

0,15

0,15

0,7

2,1

0,3

0.9

karu
5.

Ada kemauan perawat


untuk berubah

6.

Mempunyai Standar
Asuhan Keperawatan

7.

Mempunyai Protap setiap


tindakan

8.

Terlaksananya komunikasi
yang adekuat : Perawat dan
tim kesehatan lain

9.

Ketenagaan keperawatan
sudah memenuhi syarat untuk
MAKP (S1 Keperawatan 3
orang)

1
TOTAL
WEAKNESS
1. Pelaksanaan model MPKP
sudah dilaksanakan tetapi
sosialisasi kepada semua tim
masih kurang
2. Ada perawat yang tidak puas
dengan penerapan MAKP

S W

TOTAL

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Adanya

OT

mahasiswa

keperawatan

S1

0,6

1,8

0,2

0,4

0,2

0,8

0,6

praktik

manajemen keperawatan
2. Ada

kebijakan

tentang

pemerintah

profesionalisasi

perawat
3. Adanya kebijakan RS tentang
pelaksanaan MAKP
TOTAL

THREATENED
1. Persaingan dengan Rumah

0,2

Sakit swasta yang semakin


ketat

0,25

0,75

2. Adanya tuntutan masyarakat


yang semakin tinggi terhadap
peningkatan pelayanan

keperawatan yang lebih


profesional

0,15

0,3

3. Makin tinggi kesadaran


masyarakat akan hukum

0,2

0,6

4. Makin tinggi kesadaran


masyarakat akan pentingnya
kesehatan

0,1

0,2

0,1

0,3

5. Persaingan dengan masuknya


perawat asing
6. Bebasnya pers yang dapat
langsung menyebarkan
informasi dengan cepat.
TOTAL
3

3 2,75 = 0,25

Sentralisasi Obat
a.

Internal Faktor (IFAS)

SW

STRENGTH

3,3 - 3 = 0,3

1. Tersedianya sarana dan

0,3

1,2

0,15

0,6

0,2

0,6

0,1

0,3

0,1

0,3

0,15

0,3

prasarana untuk pengelolaan


sentralisasi obat
2. Kepala ruangan mendukung
kegiatan sentralisasi obat
3. Sudah dilaksanakan kegiatan
sentralisasi obat oleh perawat
berkolaborasi dengan depo
farmasi
4. Adanya kemauan perawat
untuk melakukan sentralisasi
obat
5. Adanya buku injeksi dan obat
oral bekerja sama dengan
depo farmasi
6. Ada lembar
pendokumentasian obat yang
diterima di setiap status
pasien
TOTAL

WEAKNESS
1. Pelaksanaan sentralisasi obat

di Bedah Aster menggunakan


sistem UDD (unit dose

OT

disfention) namun pada

2,0 1,55 =

prakteknya masih

0,45

menggunakan ODD (one day


dose).
TOTAL

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Adanya mahasiswa S1

0,6

1,2

0,4

0,8

keperawatan yang Praktik


managemen keperawatan

2. Kerjasama yang baik antara


perawat dan mahasiswa S1
keperawatan
TOTAL

TREATHENED
1. Adanya tuntutan pasien untuk

0,55

1,1

0,45

0,45

mendapatkan pelayanan yang


profesional
2. Makin tinggi kesadaran
masyarakat akan hukum
TOTAL
5.

Supervisi
a. Internal Faktor (IFAS)

SW

STRENGTH

3,4 3,7 =

1. Supervisi telah dilaksanakan

0,25

0,75

0,35

1,05

0,4

1,6

0,35

1,4

0,3

0,9

0,35

1,4

0,6

- 0,3

secara rutin
2. Telah ada program pelatihan
dan

sosialisasi

tentang

supervisi
3. Kepala ruangan mendukung
dan melaksanakan supervisi
TOTAL

WEAKNESS
1. Belum

mempunyai

format

yang baku dalam pelaksanaan


supervisi.
2. Supervisi belum terstruktur
dan tidak ada form penilaian
yang tetap
3. Belum adanya dokumentasi
supervisi yang jelas
TOTAL

b. Eksternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Adanya

mahasiswa

keperawatan

yang

S1

0,20

praktik

manajemen keperawatan.

OT

2. Adanya reward dalam bentuk

0,30

0,90

0,15

0,45

0,35

1,4

3,35-3= 0,35

pelatihan, sekolah, maupun


jasa bagi yang melaksanakan
pekerjaan dengan baik
3. Adanya teguran dari kepala
ruangan bagi perawat yang
tidak

melaksanakan

tugas

dengan baik
4. Hasil

supervisi

dapat

dilakukan sebagai pedoman


untuk DP3 (Daftar Penilaian
Prestasi Pegawai)
TOT
AL

THREATENED
1. Tuntutan pasien sebagai

konsumen untuk mendapatkan


pelayanan yang profesional
6.

TOTAL
Timbang Terima

a. Internal Faktor (IFAS)

SW

STRENGHT

3,10 3,00=

1. Kepala ruangan memimpin

0,2

0,6

0,2

0,6

0,1

0,4

0,25

0,75

0,25

0,75

0,9

kegiatan timbang terima setiap


pagi
2. Adanya laporan jaga setiap
shift
3. Timbang terima sudah
merupakan kegiatan rutin
yang telah dilaksanakan
4. Adanya kemauan perawat
untuk melakukan timbang
terima
5. Adanya buku khusus untuk
pelaporan timbang terima
TOTAL

WEAKNESS
1. Belum ada protap timbang

0,3

0,10

terima di ruangan
2. Timbang terima sudah

0,15

0,45

0,25

0,75

0,3

0,9

dilakukan dengan baik (PP


melaporkan identitas klien,
keluhan utama, DS, DO, MK,
dan intervensi) tetapi
intervensi masih bersifat
umum tidak berdasarkan MK
dan tidak ada evaluasi
3. Format timbang terima belum
mencakup nama dan paraf
perawat pada kedua shift
4. Pelaksanaan timbang terima
masih belum optimal,
khususnya dari shift sore ke
malam
TOTAL

O-T
3,4 2.4 = 1

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Adanya mahasiswa S1

0,4

1,6

0,4

1,2

0,2

0,6

0,4

1,2

0,6

1,2

Keperawatan yang praktik


manajemen keperawatan
2. Adanya kerjasama yang baik
antara mahasiswa S1
keperawatan yang praktik
dengan perawat ruangan
3. Kebijakan RS (Bid.
keperawatan) tentang timbang
terima
TOTAL

THREATENED
1. Adanya tuntutan yang lebih
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
keperawatan yang profesional
2. Meningkatnya kesadaran

masyarakat tentang tanggung


jawab dan tanggung gugat
perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatan
TOTAL
7.

Discharge Planning
a. Internal Faktor (IFAS)

S-W

STRENGHT

1,7 2.70 =

1. Tersedianya sarana dan

0,3

0.6

0,3

0,9

0.1

0.2

0,4

0,8

0,2

0,6

0,3

1,2

0,1

0,1

1,5

-1

prasarana discharge planning


di ruangan untuk pasien pulang
(format atau kartu DP)
2. Adanya kartu kontrol berobat
3. Perawat memberikan pendkes
secara informal kepada
pasien /keluarga selama
dirawat atau pulang
TOTAL

WEAKNESS
1.

Keterbatasan waktu dan


tenaga perawat

2.

Kurangnya kemauan untuk


memberikan pendidikan
kesehatan kepada
pasien/keluarga

3.

Tidak tersedianya leaflet


pasien pulang

4.

Pendidikan kesehatan belum


terdokumentasi
TOTAL

OPPORTUNITY
1. Adanya mahasiswa S1

0,5

O-T

Keperawatan yang melakukan

3,5 3,3 =

praktik manajemen

0,2

keperawatan
2. Adanya kerjasama yang baik

0,5

2,0

antara mahasiswa S1
keperawatan dengan perawat
klinik
TOTAL

TREATHENED
1. Adanya tuntutan masyarakat

0,5

1,5

0,2

0,6

0,3

1,2

untuk mendapatkan pelayanan


keperawatan yang profesional
2. Makin tingginya kesadaran
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
3. Persaingan antar Rumah Sakit
yang semakin ketat
TOTAL

8.

Ronde Keperawatan
a. Internal Faktor (IFAS)

SW

STRENGTH

2,10 3,10

1. Bidang perawatan dan

0,3

0,6

0,3

0,9

0,2

0,4

0,2

0,2

0,4

1,6

0,3

0,9

ruangan mendukung adanya


kegiatan ronde keperawatan
2. Banyaknya kasus bedah yang
memerlukan perhatian khusus
3. SDM banyak mempunyai
pengalaman dalam bidang
keperawatan medikal bedah.
4. Sertifikasi perawat bedah
sesuai keahliannya.
TOTAL

WEAKNESS
1. Ronde keperawatan adalah
kegiatan yang belum
dilaksanakan secara tratur di
ruang Bedah Aster
2. Karakteristik tenaga yang
memenuhi kualifikasi belum

= - 1,00

merata
3. Jumlah tenaga yang tidak

0,3

0,6

2,4

seimbang dengan jumlah


tingkat ketergantungan pasien
TOTAL

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Adanya pelatihan dan seminar

0,6

tentang managemen

O-T

keperawatan

4 2,4

2. Adanya kesempatan dari Karu

0,4

1,6

0,4

1,2

0,6

1,2

= 1,6

untuk mengadakan ronde


keperawatan pada perawat dan
mahasiswa Praktik
TOTAL

TREATHENED
1. Adanya tuntutan yang lebih
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan yang
profesional
2. Persaingan antar ruang bedah
semakin kuat dalam
pemberian pelayanan
9.

TOTAL
Dokumentasi Keperawatan

a. Internal Faktor (IFAS)

S-W

STRENGTH

3.3 2,1 = 1,2

1. Tersedianya sarana dan

0,3

1,2

0,2

0,6

0,2

0,6

0,3

0,9

prasarana dokumentasi untuk


tenaga kesehatan (sarana
administrasi penunjang)
2. Sudah ada system
pendokumentasian SOR
3. Format asuhan keperawatan
sudah ada
4. Adanya kesadaran perawat
tentang tanggung jawab dan
tanggung gugat
TOTAL

WEAKNESS
1. Dari observasi status pasien,

0,3

0,6

0,3

0,9

0,2

0.6

pengisian dokumentasi tidak


lengkap:waktu, nama dan jam
belum dicantumkan, respon
pasien pasca tindakan kurang
terpantau.
2. SAK dan SOP belum
maksimal digunakan
3. Pengawasan terhadap
sistematika pendokumentasian
belum dilaksanakan secara
optimal
TOTAL

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY

O-T

1. Adanya program pelatihan

0,2

0,6

2. Peluang perawat untuk

0,25

0,5

0,2

0,6

0,2

0,6

0,15

0,3

0,5

1.5

0,5

1,5

meningkatkan pendidikan
(pengembangan SDM)
3. Mahasiswa S 1 Keperawatan
Praktik managemen untuk
mengembangkan system
dokumentasi PIE
4. Kerjasama yang baik antara
perawat dan mahasiswa
5. Sistem MPKP yang diterapkan
mahasiswa S 1 Keperawatan
TOTAL

TREATHENED
1. Tingkat kesadaran masyarakat
(pasien dan keluarga) akan
tanggung jawab dan tanggung
gugat
2. Persaingan RS dalam
memberikan pelayanan

2,6 3,0
= - 0,4

keperawatan
TOTAL
10.

M4 (MONEY)
c. Internal Faktor (IFAS)

SW

STRENGTH

32

1. Dana operasional ruangan

0,5

1,5

0,25

0,75

0,25

0,75

0,25

0,5

0,75

1,5

= 1,00

diperoleh dari rumah sakit


2. Dana fasilitas kesehatan
diperoleh dari rumah sakit
3. Dana kesejahteran pegawai
diperoleh dari rumah sakit dan
irna bedah
TOTAL

WEAKNESS
1. Jasa intenif untuk pelayanan
dan jasa medik yang diberikan
sama untuk semua perawat.
2. Sistem administrasi belum
terpusat
TOTAL

d. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY

O-T

1. Adanya depo farmasi.

1
TOTAL

3 2,5
= 0,5

TREATHENED
1. Adanya tuntutan dari

0,5

0,5

1,5

masyarakat untuk pelayanan


yang lebih professional dengan
harga terjangkau
2. Alokasi dana untuk penunjang
fasilitas kesehatan belum
optimal
TOTAL
11.

M5 (Marketing)
a. Internal Faktor (IFAS)

S-W

STRENGTH
1. Kepuasan pasien terhadap
pelayanan kesehatan di rumah

2,6 2 = 0,6
0,3

1,2

sakit
2. Rata-rata BOR cukup baik

0,25

0,5

3. Adanya variasi karakteristik

0,25

0,5

0,2

0,4

0,5

1,5

0,5

dari paien (JPS, umum,


ASKES, ASTEK)
4. Sebagai tempat paktik
mahasiswa keperawatan D3
maupun S1
TOTAL

WEAKNESS
LOS yang memanjang karena

jadwal operasi yang lama (di


ruang Elektif)
TOTAL

b. Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1. Mahasiswa S 1 Keperawatan
Praktik managemen
2. Kerjasama yang baik antara

3,5 3

perawat dan mahasiswa


TOTAL

= 0,5

TREATHENED
1.

Adanya peningkatan standart

0,75

2,25

0,25

0,75

masyarakat yang harus


dipenuhi
2.

Persaingan RS dalam
memberikan pelayanan
keperawatan
TOTAL

O-T

DIAGRAM LAYANG
ANALISIS SWOT PENGKAJIAN
TANGGAL 19 s/d 20 APRIL 2010
DI RUANG BEDAH ASTER RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

0
DP (-1 ; 1,6)
RK (-0,45 ; 1,6)

TT (0,10 ; 1)

M4 (0,5; 1)

M1 (0,4; 0,8)

M2 (0,85; 0,85)

SO (0,3;0,45)

M5 (0,6; 0,5)
SP (-0,3; 0,35)
MAKP (0,1; 0,25)

0,6

1,2

DK (1,2 ; -0,4)

0,3

0,6

T
Diagram Layang Analisis SWOT pada MAKP
Keterangan :
(M1)

= Man

(M2)

= Material

(M3)

= Methode

(M4)

= Money

(M5)

= Marketing

(DK)

= Dokumentasi Keperawatan

(SO)

= Sentralisasi Obat

(TT)

= Timbang Terima

(DP)

= Discharge Planning

(RK)

= Ronde Keperawatan

(SP)

= Supervisi

2.4 Identifikasi Masalah


Setelah dilakukan analisis situasi dengan menggunakan pendekatan SWOT maka kelompok dapat
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Ronde keperawatan belum terlaksana sesuai dengan prosedur baku ronde keperawatan dan perlu
diagendakan secara berkala. Penyebab
-

Ronde kep belum terlaksana scr optmal atau secara rutn krn kesempatan perawat yang
terbatas

pelathan dan diskusi yg berkaitan dgn masalah yg terjadi di ruangan telah dilaksanakanny
tetapi hanya diikuti oleh sebagian dari perawat

2. Discharge planning sudah dilakukan, sudah terdapat kartu discharge planning tetapi belum ada
leaflet.
3. Supervisi sudah berjalan tetapi belum terdokumentasi dan belum ada format supervisi.
4. Sistem pendokumentasian sudah dilakukan memakai model SOR tetapi masih ada pendokumentasian
yang belum lengkap.
5. MAKP yang diterapkan merupakan MAKP model moduler atau MAKP primer pemula. Sosialisasinya
kepada anggota tim masih kurang.
6. Sentralisasi obat sudah dilaksanakan dengan baik.
7. Jumlah sumber daya manusia yang memiliki jenjang pendidikan S1 masih kurang.
8. Timbang terima sudah dilakukan dan sudah terfokus pada masalah keperawatan.
9. Pembiayaan ruangan diperoleh dari APBD propinsi Jawa Timur
10. Pasien merasa puas terhadap pelayanan kesehatan
11. Sarana dan prasarana untuk tindakan perawatan sudah tersedia

Keuangan?
Mutu
a.

Pasien safety (pasien jatuh, kesalahan medikasi, flebitis, infeksi nosokomial, restrain, dekubitus)

b.

kepuasan pasien

c.

kecemasan pasien

d.

kenyamanan (nyeri)

e.

perawatan diri

f.

pengetahuan pasien

2.5 Prioritas Masalah


Masalah
Ronde Keperawatan
Discharge Planning

Skor Analisis Swot


IFAS
EFAS
-0,45
1,6

Prioritas
1

-1

1,6

Supervisi

-0,3

0,35

Dokumentasi keperawatan

1,2

-0,4

MAKP

0,1

0,25

Sentralisasi obat

0,3

0,,45

Sumber daya manusia

0,4

0,8

Timbang terima

0,1

Money

0,5

Marketing

0,6

0,5

10

Sarana dan prasarana


0,85
0,85
11
Berdasarkan rumusan masalah diatas 3 masalah teratas ; ronde keperawatan, supervisi dan
discharge planning. Maka kelompok mengangkat prioritas masalah yang akan diselesaikan yaitu Ronde
Keperawatan dengan alasan:
1. Ronde keperawatan belum terlaksana di ruang Bedah Aster.
2. Pemahaman perawat ruangan Bedah Aster mengenai prosedur baku ronde keperawatan masih
kurang.

3. Pemahaman perawat ruangan mengenai masalah yang di rondekan adalah masalah yang
berfokus pada medis, bukan masalah keperawatan.
BAB 3
PERENCANAAN

3.1 PENGORGANISASIAN
Untuk efektifitas pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan Profesional dalam menentukan
kebijakan-kebijakan internal yang sifatnya umum kelompok menyusun struktur organisasi sebagai
berikut:
Ketua

: Eko Prasetya W, Skep

Wakil Ketua

: Khikmatul M, S.Kep.

Sekretaris 1

: Sholihatul M, S. Kep.

Sekretaris 2

: Galia Wardha, S.Kep.

Bendahara

: Catur Puji Lestari, S. Kep.

Seksi Humas

: Frestanty Silvitasari, S.Kep

Seksi Perlengkapan

: Yevi Dwi Lestari, S.Kep.


Diana Rahmania, S.Kep.
Putri Pandu Pertiwi, S. Kep.

Seksi Dokumentasi

: Cory Castela, S.Kep.

Adapun dalam pengelolaan ruang rawat maka diselenggarakan pengorganisasian dalam


pembagian peran sebagai berikut :
1. Kepala Ruangan
2. Perawat Primer
3. Perawat Associate
Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan, setelah pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan
Profesional di ruangan.
3.2 STRATEGI KEGIATAN
3.2.1 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)

Setelah dilakukan analisis dengan metode SWOT maka kelompok praktik klinik manajemen
keperawatan di Ruang Bedah Aster menerapkan Model Asuhan Keperawatan Profesional Primary
Nursing.
Model perawatan Primary Nursing

merupakan salah satu Model Asuhan Keperawatan

Profesional dimana perawat bertanggung jawab penuh terhadap asuhan keperawatan yang diberikan
kepada pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar Rumah Sakit. Model ini mendorong kemandirian
perawat, ada kejelasan antara pembuat rencana asuhan keperawatan dan pelaksanaan asuhan keperawatan
selama pasien dirawat. Model ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara
pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi asuhan keperawatan
selama pasien di rawat. Konsep dasar dan model ini adalah tanggung jawab dan tanggung gugat. Berikut
sistem pemberian asuhan keperawatan Primary Nursing.
TIM MEDIS DAN
TIM LAIN

PERAWAT
PRIMER
KLIEN

KEPALA
RUANGAN

PERAWAT
ASSOCIATE

PERAWAT
ASSOCIATE

SARANA RS

PERAWAT
PRIMER
KLIEN

Gambar : Diagram Sistem Asuhan Keperawatan "Primary Nursing"

Dalam penerapan MAKP model Primary Nursing terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan :
1. Bersifat kontinuitas dan komprehensif
2. Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan
pengembangan diri
3. Pasien merasa diperlakukan sewajarnya karena terpenuhinya kebutuhan secara individu

4. Tercapainya pelayanan kesehatan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan proteksi, informasi
dan advokasi (Gillies, 1989)
Kelemahan :
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai
dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan pengambilan keputusan yang tepat, menguasai
keperawatan klinik, accountable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin profesi.
Tugas Kepala Ruangan
A.

Perencanaan
1.

Menunjuk perawat primer (PP) dan mendeskripsikan tugasnya masing-masing

2.

Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya

3.

Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien yang dibantu perawat primer

4.

Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktivitas dan tingkat


ketergantungan pasien dibantu oleh perawat primer

5.

Merencanakan strategi pelaksanaan perawat

6.

Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiolois, tindakan medis yang
dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap klen

7.

Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan


a.

Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan

b.

Membimbing penerapan proses keperawatan

c.

Menilai asuhan keperawatan

d.

Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah

e.

Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk

8.

Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri

9.

Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan

10.

Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit

B.

Pengorganisasian
1.

Merumuskan metode penugasan yang digunakan

2.

Merumuskan tujuan metode penugasan

3.

Membuat rincian tugas perawat primer dan perawat ascociate secara jelas

4.

Membuat rencana kendali kepala ruangan yang membawahi dua perawat


primer dan perawat primer yang membawahi dua perawat ascociate

5.

Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses dinas,


mengatur tenaga yang ada setiap hari, dan lain-lain

6.

Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan

7.

Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik

8.

Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak ada di tempat kepala perawat
primer

9.

Mengetahui kondisi klien dan menilai tingkat kebutuhan pasien.

10.

Mengambangkan kemampuan anggota

11.

Menyelenggarakan konferensi

C.

Pengarahan
1.

Memberi pengarahan tentang penugasan kepada perawat primer

2.

Memberikan pujian kepada perawat yang mengerjakan tugas dengan baik

3.

Memberi motivasi dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan


sikap

4.

Menginformamsikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan


dengan askep klien

5.

Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan


tugasnya

6.
D.

Meningkatkan kolaborasi
Pengawasan

1.

Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat primer mengenai asuhan keperawatan
yang diberikan kepada klien

2.

Melalui supervisi

a.

Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau


melalui lapora langsung secara lisan dan memperbaiki/mengawasi kelemahan-kelemahan yang
ada saat ini

b.

Pegawasan secara langsung, yaitu mengecek daftar hadir, membaca


dan memeriksa rencana keperawatan, serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses
keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar laporan dari perawat primer

3.

Evaluasi
a.

Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan


rencana keperawatan yang telah disusun bersama

b.

Audit keperawatan

Tugas Perawat Primer


1.

Menerima klien dan mengkaji kebutuhan klien secara komprehensif

2.

Membuat tujuan dan rencana keperawatan

3.

Membuat rencana yang telah dibuat selama praktik

4.

Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun
perawat lain

5.

Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai

6.

Menerima dan menyesuaikan rencana

7.

Melakukan rujukan kepada pekarya sosial dan kontak dengan lembaga soisal di masyarakat

8.

Membuat jadwal perjanjian klinik

9.

Mengadakan kunjungan rumah

Tugas Perawat Pelaksana (PP)


1. Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan dan kasih
sayang:
a.

Menyusun rencana perawatan sesuai dengan masalah klien

b.

Melaksanakan tindakan perawatan sesuai dengan rencana

c.

Mengevaluasi tindakan perawatan yang telah diberikan

d.

Mencatat atau melaporkan semua tindakan perawatan dan respon klien pada catatan
perawatan

2. Melaksanakan program medis dengan penuh tanggung jawab


a.

Pemberian obat

b.

Pemeriksaan laboratorium

c.

Persiapan klien yang akan operasi

3.

Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual


a.

Memelihara kebersihan klien dan lingkungan

b.

Mengurangi penderitaan klien dengan memberi rasa aman, nyaman dan ketenangan

c.

Pendekatan dan komunikasi terapiutik

4.

Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan keperawatan dan
pengobatan atau diagnosis

5.

Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan kemampuannya

6.

Memberikan pertolongan segera pada klien gawat atau sakaratul maut

7.

Membantu kepala ruangan dalam penatalaksanakan ruangan secara admnistratif


a.

Menyiapkan data klien baru, pulang atau meninggal

b.

Sensus harian atau formulir

c.

Rujukan harian atau formulir

8.

Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada di ruangan menurut fungsinya supaya siap pakai

9.

Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan keindahan ruangan

10.

Melaksanakan tugas dinas pagi, sore, malam, atau hari libur secaa berganti sesuai jadwal tugas

11.

Memberi penyuluhan kesehatan sehubungan dengan penyakitnya (PKMRS)

12.

Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik secara lisan maupun tulisan

13.

Membuat laporan harian klien

Penerapan Model Praktik Keperawatan Professional (MAKP)


a. Penanggung Jawab : Sholihatul Maghfirah, S. Kep
Catur Puji Lestari,S.Kep
b. Tujuan

1. Diharapkan setelah melakukan praktik manajemen, mahasiswa mampu menerapkan

MAKP

primary nursing dengan benar sesuai dengan job discription.


2. Diharapkan setelah dilakukan praktik manajemen oleh mahasiswa PSIK, Ruang Bedah Aster
mampu menerapkan MAKP primary nursing dengan benar.
3. Waktu

: Minggu II Minggu V

4. Rencana Strategi :
a. Mendiskusikan bentuk dan penerapan Model Asuhan Keperawatan Professional (MAKP) yang
dilaksanakan yaitu model Primary Nursing.
b. Merencanakan kebutuhan tenaga perawat.
c. Melakukan pembagian peran perawat.
d. Menentukan diskripsi tugas dan tanggung jawab perawat
e. Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga perawat
f. Menerapkan model MAKP yang direncanakan
5. Kriteria Evaluasi :
1. Struktur :

Menentukan penanggung jawab MAKP

Mendiskusikan bentuk dan penerapan MAKP yaitu primary nursing

Merencanakan kebutuhan tenaga perawat

Melakukan pembagian peran perawat

Menetukan diskripsi tugas dan tanggung jawab perawat.

Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga perawat.

2. Proses :
Menerapkan MAKP :

Tahap uji coba pada tanggal 22-25 April 2010

Tahap Aplikasi pada tanggal 26 April 12 Mei 2010

3. Hasil :
Mahasiswa mampu menerapkan MAKP primary nursing sesuai dengan job discription.
3.2.2 Ronde Keperawatan

Ronde keperawatan merupakan suatu kegiatan dalam mengatasi masalah keperawatan klien yang
dilaksanakan disamping klien, membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan pada kasus tertentu
yang dilakukan oleh perawat primer, kepala ruangan, perawat associate serta melibatkan seluruh anggota
tim.
a. Kriteria klien yang dilakukan ronde :
1. Klien dengan masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan tindakan
keperawatan
2. Klien dengan kasus baru atau langka
b. Karakteristik :
1. Klien dilibatkan secara langsung.
2. Klien merupakan fokus kegiatan.
3. PA, PP dan konselor melakukan diskusi bersama.
4. Konselor memfasilitasi kreatifitas.
5. Konselor membantu mengembangkan kemampuan PA, PP untuk meningkatkan kemampuan
mengatasi masalah.
c.

Prosedur pelaksanaan Ronde Keperawatan


1. Persiapan
Penetapan kasus dan topik minimal 2 hari sebelumnya waktu pelaksanaan ronde.
Pemberian informed consent kepada klien / keluarga.
2. Pelaksanaan ronde
Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada
masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih
prioritas yang perlu didiskusikan.
Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
Pemberian justifikasi oleh PP atau konselor / kepala ruangan tentang masalah klien serta
rencana tindakan yang akan dilakukan.
Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan akan yang akan ditetapkan.
3. Pasca ronde

Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan tindakan yang
perlu dilakukan.
d. Alur Ronde Keperawatan
Perawat Primer
TAHAP PRA
RONDE

Penetapan Pasien

Persiapan Pasien :
Inform Concernt
Hasil Pengkajian/
Validasi data

Penyajian
Masalah

TAHAP
PELAKSANAAN
RONDE

Apa diagnosis keperawatan?


Apa data yang mendukung?
Bagaimana intervensi yang
dilakukan?
Apa hambatan yang ditemukan?

sudah

validasi data
Diskusi PP-PP, Konselor,KARU
Lanjutan-diskusi di Nurse Station

TAHAP PASCA
RONDE

Kesimpulan dan rekomendasi


solusi masalah

Penerapan Ronde Keperawatan


a. Penanggung jawab
b.

Tujuan

: Putri Pandu Pertiwi., S. Kep

1. Setelah melaksanakan praktik manajemen keperawatan, diharapkan mahasiswa mampu


melaksanakan ronde keperawatan dengan benar.
2. Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,diharapkan Ruang Bedah Aster mampu
melaksanakan ronde keperawatan dengan benar.
c. Waktu

: Minggu II- Minggu V


Pelaksanaan role play tanggal 14 Mei 2010

d. Rencana Strategi :
1. Menentukan klien yang akan dijadikan subyek dalam ronde keperawatan.
2. Menentukan strategi ronde keperawatan yang akan dilakukan.
3. Menentukan materi dalam pelaksanaan ronde keperawatan.
4. Menyiapkan petunjuk teknis pelaksanaan ronde keperawatan.
5. Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama kepala ruangan dan staf keperawatan.
e. Kriteria Evaluasi :
1. Struktur :
Menetukan penanggungjawab ronde keperawatan.
Menetapkan kasus yang akan di rondekan.
Memberikan informed consent kepada klien dan keluarga.
2. Proses :
Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama Kepala ruangan dan staf keperawatan.
Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah
keperawatan dan intervensi yang telah dilaksanakan tetapi belum mampu mengatasi masalah
pasien.
Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
Pemberian masukan solusi tindakan yang lain yang mampu mengatasi masalah klien tersebut.
3. Hasil
Dapat dirumuskan tindakan keperawatan untuk menyelesaikan masalah pasien.
Hasil diskusi yang disampaikan dapat ditindak lanjuti dan dilaksanakan.

3.2.3 Discharge Planning


Discharge planning adalah suatu proses yang dipakai sebagai pengambilan keputusan dalam hal
memenuhi kebutuhan pasien untuk kesempurnaan kepindahan pasien dari suatu tempat ke tempat lainnya.
1. Langkah-langkah dalam perencanaan pulang
Pra Discharge Planning :

Perawat primer mengidentifikasikan pasien yang direncanakan untuk pulang.

Perawat primer melakukan identifikasi kebutuhan pasien yang akan pulang.

Perawat primer membuat perencanaan pasien pulang.

Melakukan kontrak waktu dengan pasien dan keluarga.

2. Tahap pelaksanaan Discharge Planning :

Menyiapkan pasien dan keluarga, peralatan, status, kartu dan lingkungan.

Perawat primer dibantu perawat associate melakukan pemeriksaan fisik sesuai kondisi
pasien.

Perawat primer memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan pasien dan keluarga
untuk perawatan di rumah tentang : aturan diet, obat yang harus diminum di rumah,
aktivitas dan istirahat, yang harus di bawa pulang, tempat dan tanggal kontrol, yang perlu
di bawa saat kontrol, prosedur kontrol, jadwal pesan khusus.

Perawat primer memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk mencoba
mendemonstrasikan pendidikan kesehatan yang telah diajarkan.

Perawat primer memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya bila
belum mengerti.

3. Tahap post pelaksanaan Discharge Planning :

Karu melakukan evaluasi terhadap perencanaan pulang

Karu memberikan reinforcement atau reward kepada pasien dan keluarga jika dapat
melakukan dengan benar apa yang sudah dilaksanakan.

Follow up.

Alur Discharge Planning

Pasien
masuk RS

Pasien
selama
dirawat

Pasien KRS

Penyelesaian
administrasi

Menyambut kedatangan pasien.


Orientasi ruangan, jenis pasien, peraturan
& denah ruangan.
Memperkenalkan pasien pada teman
sekamar, perawat, dokter & tenaga
kesehatan yang lain.
Melakukan pengkajian keperawatan.

Pemeriksaan klinis & pemeriksaan


penunjang yang lain.
Melakukan asuhan keperawatan.
Penyuluhan kesehatan : penyakit,
perawatan, pengobatan, diet, aktivitas,
kontrol.

Perawat
Dokter
Tim kesehatan
lain

Perencanaan pulang

Program HE :
Pengobatan / kontrol.
Kebutuhan nutrisi
Aktivitas & istirahat
Perawatan di rumah

Monitoring oleh petugas


kesehatan & keluarga

Lain - lain

Penerapan Discharge Planning


a. Penanggung jawab
b. Tujuan

: Khikmatul Mujizah, S.Kep


:

1. Setelah melaksanakan praktik manajemen keperawatan, diharapkan mahasiswa mampu


melaksanakan ronde keperawatan dengan benar.
2. Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,diharapkan Ruang Bedah Aster mampu
melaksanakan ronde keperawatan dengan benar.
c. Waktu

: Minggu II - Minggu V

Pelaksanaan role play hari Jumat tanggal 7 Mei 2010

d. Rencana Strategi
1. Menentukan penanggung jawab discharge planning.
2. Menentukan materi discharge planning.
3. Menentukan klien yang akan dijadikan subjek discharge planning.
4. Menentukan jadwal pelaksanaan discharge planning
5. Melaksanakan discharge planning
6. Mengevaluasi pelaksanaan discharge planning
e. Kriteria evaluasi
1. Evaluasi struktur

Persiapan pasien, peralatan, status, kartu, leaflet dan lingkungan.

Penyusunan struktur pelaksanaan Discharge Planning

2. Evaluasi proses

Discharge Planning dilaksanakan pada semua pasien pulang.

Materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan klien.

3. Evaluasi hasil

Terdokumentasinya pelaksanaan pasien pulang

Pasien dan keluarga dapat mengetahui perawatan di rumah tentang : aturan diet, obat
diminum di rumah, aktivitas dan istirahat, yang harus di bawa pulang, tempat dan tanggal
kontrol, yang perlu di bawa saat kontrol, prosedur kontrol, jadwal pesan khusus.

3.2.4 Supervisi Keperawatan


Secara teori, supervisi keperawatan adalah salah satu fungsi pokok manager berupa proses
pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan perawat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya untuk
pencapaian tujuan, meliputi: 1) Langkah-langkah supervisi, 2) Prinsip supervisi, 3) Peran dan fungsi
supervisi, 4) Tugas supervisi, dan 5) Teknik supervisi.
1. Langkah-langkah Supervisi :
1. Pra supervisi
a) Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi.
b) Supervisor menetapkan tujuan
2. Supervisi
a) Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrumen yang telah
disiapkan.
b) Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan
3.

Post supervisi
a) Supervisor memanggil Perawat Primer dan Perawat Associate untuk mengadakan
pembinaan dan klarifikasi permasalahan.
b) Supervisor mengklarifikasi permasalahan yang ada.
c) Supervisor melakukan tanya jawab dengan Perawat Primer dan Perawat Associate
d) Supervisor memberikan masukan dan solusi (Feedback dan Followup) pada Perawat
Primer dan Perawat Associate
e) Supervisor memberikan reinforcement pada Perawat Primer dan Perawat Associate.

2. Prinsip Supervisi
a. Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi.

b. Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan hubungan antar manusia dan
kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.
c. Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisir dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan,
uraian tugas dan standar.
d. Supervisi merupakan proses kerja sama yang demokrasi antara supervisor dan perawat pelaksana.
e. Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik.
f. Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif, kreatifitas dan motivasi.
g. Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdaya guna dalam pelayanan keperawatan yang
memberi kepuasan klien, perawat dan manajer.
3. Fungsi dan peran supervisor
Fungsi dan peran supervisor dalam supervisi adalah mempertahankan keseimbangan
pelayanan keperawatan dan manajemen sumber daya yang tersedia.
1. Manajemen pelayanan keperawatan.
Tanggung jawab supervisor adalah :
a) Menetapkan dan mempertahankan standar praktek keperawatan.
b) Menilai kualitas asuhan keperawatan dan pelayanan yang diberikan.
c) Mengembangkan peraturan dan prosedur yang mengatur pelayanan keperawatan,
kerjasama dengan tenaga kesehatan lain yang terkait.
2. Manajemen anggaran
Manajemen keperawatan berperan aktif dalam membantu perencanaan, dan pengembangan.
Supervisor berperan dalam :
a) Membantu menilai rencana keseluruhan dikaitkan dengan dana tahunan yg tersedia,
mengembangkan tujuan unit yang dapat dicapai sesuai tujuan RS.
b) Membantu mendapatkan informasi statistik untuk perencanaan anggaran keperawatan.
c) Memberi justifikasi proyeksi anggaran unit yang dikelola.
Supervisi yang berhasil guna dan berdaya guna tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi memerlukan
praktek dan evaluasi penampilan agar dapat dijalankan dengan tepat. Kegagalan supervisi dapat
menimbulkan kesenjangan dalam pelayanan keperawatan.
4. Teknik Supervisi

1. Proses supervisi keperawatan terdiri dari 3 elemen kelompok, yaitu :


a) Mengacu pada standar asuhan keperawatan.
b) Fakta pelaksanaan praktek keperawatan sebagai pembanding untuk menetapkan
pencapaian.
c) Tindak lanjut dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kualitas asuhan.
2. Area Supervisi.
a) Pengetahuan dan pengertian tentang klien.
b) Ketrampilan yang dilakukan disesuaikan dengan standar.
c) Sikap penghargaan terhadap pekerjaan misalnya kejujuran, empati
3. Cara Supervisi
Supervisi dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu:
a) Langsung.
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang berlangsung, dimana
supervisor dapat terlibat dalam kegiatan, feed back dan perbaikan.
Adapun prosesnya adalah:
1) Perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu tindakan keperawatan didampingi
oleh supervisor.
2) Selama proses, supervisor dapat memberi dukungan, reinforcement dan petunjuk.
3) Setelah selesai, supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi yang bertujuan
untuk menguatkan yang telah sesuai dan memperbaiki yang masih kurang.
Reinforcement pada aspek yang positif sangat penting dilakukan oleh supervisor.
b) Supervisi secara tidak langsung :

Ka. Per IRNA

Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Supervisor tidak melihat
langsung apa yang terjadi di lapangan sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan
Ka Ru
balik dapat diberikan secara tertulis.

5. Alur Supervisi

Ka. Bid Perawatan


PP 1

PA

Kasi Perawatan

Pre Supervisi
Menetapkan kegiatan dan tujuan
serta instrument / alat ukur

Supervisi
Menilai kinerja
Perawat

Pasca Supervisi

PP 2

Fair
Feed Back
Follow Up

PA

Kualitas Pelayanan
Meningkat

Keterangan :

Kegiatan supervisi
Delegasi dan supervisi

Penerapan Supervisi
a. Penanggung jawab : Galia Wardha A., S. Kep
b. Tujuan

1. Setelah melaksanakan praktik manajemen keperawatan, diharapkan mahasiswa mampu


melaksanakan ronde keperawatan dengan benar.
2. Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,diharapkan Ruang Bedah Aster mampu
melaksanakan ronde keperawatan dengan benar.
c.

Waktu

: Minggu ke III-Minggu IV
Pelaksanaan role play tanggal 03 Mei 2010

d. Rencana Kegiatan :
1. Merevisi konsep supervisi keperawatan
2. Menentukan materi supervisi keperawatan
3. Merevisi format supervisi
4. Melaksanakan supervisi keperawatan bersama-sama perawat ruangan.
5. Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan.
e. Kriteria Evaluasi :
1. Struktur :
Menentukan penanggungjawab supervisi keperawatan.
Menyusun konsep supervisi keperawatan.
Menentukan materi supervisi.
2. Proses :
Melaksanakan supervisi keperawatan bersama perawat ruangan dan supervisor.
Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan.
3. Hasil :
Mahasiswa mampu melaksanakan supervisi secara optimal.
Supervisor mengevaluasi hasil supervisi.
Supervisor memberikan reward/feed back pada PP dan PA.

3.2.5 Dokumentasi Keperawatan


Dokumentasi adalah catatan otentik yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan
hukum. Komponen dari dokumentasi mencakup aspek komunikasi, proses keperawatan, standar
keperawatan.
1. Tujuan Utama Pendokumentasian
a. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien, merencanakan,
melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi tindakan.
b. Dokumentasi untuk penelitian, hukum dan etika.

2. Manfaat dan Pentingnya Dokumentasi Keperawatan


a. Hukum
Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum, oleh
karena itu data harus diidentifikasi secara lengkap, jelas, objektif dan ditandatangani oleh tenaga
kesehatan atau perawat. Dalam hal ini perlu dicantumkan waktu dan sebaiknya dihindari adanya
penulisan yang dapat menimbulkan interpretasi yang salah.
b. Jaminan Mutu (kualitas pelayanan)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat akan memberi kemudahan perawat untuk
menyelesaikan masalah klien serta untuk mengetahui sejauh mana masalah dapat teratasi. Hal ini
juga memungkinkan perawat untuk mengetahui adanya masalah baru secara dini.
c. Komunikasi
Dokumentasi merupakan alat perekam masalah yang berkaitan dengan klien sehingga dapat
dijadikan sebagai alat komunikasi antar tenaga kesehatan
b. Keuangan
Semua tindakan keperawatan yang belum, sedang dan telah diberikan dicatat dengan lengkap
sebagai acuan dalam menentukan biaya perawatan klien.
c. Pendidikan
Dokumentasi berisi kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat digunakan sebagai
bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.
d. Penelitian
Data yang terdapat dalam dokumentasi keperawatan mengandung informasi yang dapat digunakan
sebagai bahan riset untuk pengembangan ilmu keperawatan.
e. Akreditasi
Dokumentasi keperawatan dapat digunakan untuk melihat sejauh mana peran dan fungsi perawat
dalam melaksanakan asuhan keperawatan.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendokumentasian (Potter dan Perry, 1984)

a. Jangan menghapus dengan tipe x atau menghapus tulisan yang salah. Cara yang benar adalah
dengan mencoret tulisan yang salah dengan 2 garis kemudian dituliskan kata salah dan diberi
paraf, setelah itu dituliskan catatan yang benar.
b. Jangan mengkritik klien atau tenaga kesehatan yang lain yang dapat digunakan sebagai bukti
terhadap asuhan keperawatan yang tidak professional.
c. Jangan tergesa-gesa melengkapi catatan, pastikan dulu bahwa datanya akurat.
d. Catat hanya fakta, akurat, reliable.
e. Jangan biarkan pada akhir catatan perawat kosong. Coret bagian sisa yang kosong dan bubuhkan
tanda tangan.
f. Semua catatan ditulis dengan tinta dan bahasa yang lugas.
g. Jika mempertanyakan suatu instruksi catat bahwa anda sedang mengklarifikasi.
h. Tulis hanya untuk diri sendiri.
i.

Hindari penulisan yang kurang spesifik.

j.

Catatlah dokumentasi dengan waktu dan diakhiri dengan tanada tangan. Pastikan urutan kejadian
dicatat dengan benar dan ditanda tangani.
Kelompok mencoba membuat suatu model pendokumentasian yang mengacu pada model PIE.

Teknik pengisian lembar dokumentasi keperawatan:


a. Pengkajian pada waktu klien masuk diikuti pengkajian persistem.
b. Pengkajian dilakukan secara komprehensif.
c. Lembar dokumentasi asuhan keperawatan:

Pengisian nama, umur, jenis kelamin, tanggal, dan nomor register klien.

Tiap lembar data diisi problem, intervensi dan evaluasi.

d. Pada kolom problem ditambahkan data subjektif dan objektif.


e. Pada kolom intervensi, intervensi langsung terhadap penyelesaian masalah ditandai dengan I
(intervensi), nomor masalah dicatat dan dibuat oleh PP.
f. Pada kolom evaluasi dicatat keadaan klien sebagai pengaruh dari intervensi diidentifikasi dengan
tanda E (evaluasi) dan nomor masalah, berisi tentang jam dan paraf perawat.
g. Setiap masalah yang diidentifikasi dievaluasi minimal tiap 8 jam (setiap pergantian jaga).

4. Keuntungan Pelaksanaan Dokumentasi Keperawatan:


a. Memungkinkan pengguanaan proses keperawatan.
b. Rencana tindakan dan catatan perkembangan dapat dihubungkan.
c. Memungkinkan pemberian asuhan keperwatan secara kontinyu.
d. Perkembangan klien dapat dengan mudah digambarkan.
5. Kerugian Pelaksanaan Dokumentasi Keperawatan:
a. Tidak dapat digunakan untuk pencatatan semua disiplin ilmu.
b. Pembatasan rencana tindakan keperawatan yang tidak aplikatif uuntuk beberapa situasi
keperawatan.
6. Bagian dari Dokumentasi Keperawatan:
Format pengkajian dengan menggunakan format pengkajian persistem. Lembar dokumentasi
keperawatan dengan sistem PIE berisi tentang:
a. Nama klien
b. Umur
c. No register
d. Diagnosis medis
e. Diagnosis keperawatan
f. Kolom tanggal dan jam
g. Kolom problem
h. Kolom intervensi
i.

Evaluasi

j.

Kolom tanda tangan

7. Dokumentasi Asuhan Keperawatan


1) Dokumentasi Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan adalah fase pengumpulan data dari proses keperawatan untuk
mengumpulkan data yang sistematis. Tujuan dari pangkajian adalah untuk mengumpulkan,
mengorganisis dan mencatat data yang menjelaskan respon manusia terhadap masalah-masalah
kesehatan.

Tujuan dari pencatatan data pengkajian keperawatan adalah :


a. Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan respon pasien yang dinyatakan dalam diagnosa
keperawatan yang mempengaruhi tindakan keperawatan yang diperlukan
b. Menggabungkan dan mengorganisir informasi yang dikumpulkan dari beberapa sumber
menjadi satu sumber umum, sehingga pola-pola kesehatan pasien dapat dianalisa dan masalahmasalah dapat diidentifikasi
c. Meyakinkan garis dasar informasi yang ada dan untuk bertindak sebagai poin referensi untuk
mengukur perubahan pada kondisi pasien.
d. Mensuplai data yang cukup untuk memberikan alasan akan kebutuhan pasien terhadap
pelayanan keperawatan
e. Memberikan dasar guna penulisan rencana keperawatan yang efektif.
2) Dokumentasi Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah tahap proses keperawatan yang meliputi: mengidentifikasi masalah
pasien yang dapat dipecahkan (ditangani, dikurangi atau dirubah) melalui intervensi keperawatan.
Diagnosa keperawatan menggunakan pengkajian data sampai respon pasien pada masalah
keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah sebuah pernyataan singkat dalam pertimbangan perawat
menggambarkan respon paisen pada masalah keperawatan yang aktual dan resiko.
Tujuan diagnosa keperawatan :
a. Menyampaikan masalah pasien dalam istilah yang dimengerti oleh semua perawat
b. Mengenali masalah-masalah pasien yang utama pada pengkajian data
c. Mengenali perkembangan tindakan keperawatan
Kategori diagnosa keperawaran :
a.

Aktual : Menunjukkan masalah yang ada pada pengkajian data

b. Resiko/resiko tinggi: Merupakan masalah potensial dari pengkajian data yang apabila tidak
dilakukan tindakan keperawatan dapat menjadi masalah aktual
c. Kemungkinan: Menunjukkan situasi kemungkinan yang ditekankan pada pengamatan dan
pengawasan.
Komponen diagnosa keperawatan:
a.

Pernyataan masalah

b. Penyebab masalah
c. Tanda dan gejala
3) Dokumentasi Rencana Tindakan Keperawatan
Perencanaan adalah salah satu tahap dari proses keperawatan termasuk menentukan prioritas ,dan
menentukan metode yang digunakan untuk penyelesaian masalah. Tujuan dari perencanaan ,
menyusun rencana keperawatan yang dapat digunakan dalam masalah aktual, resiko atau
kemungkinan reaksi manusia terhadap masalah kesehatan.
Fokus dari perencanaan adalah untuk menyususn rencana tindakan dengan pendekatan
penyelesaian masalah. Melalui proses ini,perawat memprioritaskan dan membuat daftar masalah klien
yang memerlukan intervensi keperawatan.
Komponen yang mendasari rencana tindakan keperawatan terdiri dari 3 komponen:
a.

Diagnosa keperawatan

b. Hasil yang diharapkan/ criteria hasil


c. Instruksi perawat/ intervensi keperawatan
4) Dokumentasi Intervensi Keperawatan
Tujuan dokumentasi intervensi keperawatan:
a. Mengkomunikasikan secara tepat apa yang telah dilakukan pada pasien (mencegah duplikasi
terhadap pengobatan)
b. Sebagai klaim malpraktek
c. Sebagai justifikasi staffing
d. Efektif dan efisiensi dana
Jenis intervensi:
a. Intervensi terapeutik
Tindakan terapeutik adalah tindakan yang langsung sesuai dengan keadaan pasien.
Intervensi terapeutik meliputi tindakan keperawatan dan tindakan medis.
b. Intervensi pemantapan/ observasi
Observasi dan penilaian yang benar tentang kemajuan kondisi kesehatan pasien yang serta
yang mempengaruhi hambatan-hambatan dalam kesehatan klien.

Dokumentasi intervensi mengidentifikasi mengapa suatu tindakan dilakukan pada pasien, apa
yang terjadi, kapan, bagaimana dan siapa yang melakukan intervensi. Komponen dokumentasi
intervensi keperawatan meliputi:

WHY : Alasan tindakan

WHAT : Penjelasan tentang apa yang dilakukan secara lengkap dan rinci

WHO : Siapa yang melaksanakan intervensi

WHEN : Waktu pelaksanaan

HOW : Tindakan dilakukan dengan prinsip alamiah dan rasional.

5) Dokumentasi Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah langkah akhir dari proses keperawatan.Tugas selama tahap ini termasuk
pencatatan pernyataan evaluasi dan revisi rencana tindakan keperawatan dan intervensi keparawatan
jika perlu. Tujuan evaluasi keperawatan adalah untuk menentukan seberapa efektifnya tindakan
keperawatan itu untuk mencegah atau mengobati respon manusia terhadap prosedur kesehatan.
Tujuan dokumentasi evaluasi:
a. Merupakan faktor penentu terhadap keefektifan keputusan pencegahan, pengobatan dan
pengobatan terhadap respon pasien akan masalah keperawatan
b. Menilai pencapaian tujuan keperawatan
c. Menilai efektifitas rencana keperawatan atau strategi asuhan keperawatan
Komponen evaluasi:
a. Mencatat rumusan evaluasi
b. Merevisi/memodifikasi rencana keperawatan
c. Intervensi jika diperlukan
d. Mencatat secara berkesinambungan informasi tentang pasien
e. Pengkajian ulang
Tipe pernyataan evaluasi:
a. Evaluasi formatif
Pernyataan formatif langsung merefleksikan observasi perawat dan analisis terhadap respon
pasien langsung setelah intervensi keperawatan

b.

Evaluasi sumatif
Pernyataan sumatif merefleksikan rekapitulasi dan synopsis observasi serta analisis mengenai
status kesehatan klien terhadap waktu.

Penerapan Dokumentasi keperawatan


a. Penanggung jawab

: Frestanty S., S.Kep

b. Tujuan

: Setelah dilakukan praktek manajemen keperawatan, diharapkan semua


perawat di Bedah Aster dan mahasiswa PSIK mampu menerapkan
pendokumentasian keperawatan secara baik dan benar.

c. Waktu

: Minggu ke II Minggu ke V

d. Rencana strategi :
1. Mendiskusikan format pengkajian dan pendokumentasian sesuai dengan kasus di ruang bedah
Aster
2. Merevisi format pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
3. Menyiapkan format / pendokumentasian keperawatan.
4. Melaksanakan pendokumentasian bersama dengan perawat ruangan.
e. Kriteria Evaluasi :
1.

Struktur :
Menentukan penanggungjawab kegiatan.
Mendiskusikan format pengkajian dan pendokumentasian sesuai dengan kasus di ruang
bedah Aster.
Menyiapkan format pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
Menyiapkan format/pendokumnetasian keperawatan.

2.

Proses :
Penggunaan standar terminologi (pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi).
Data yang relevan dan bermanfaat dikumpulkan kemudian di catat sesuai dengan prosedur
dalam catatan yang permanen.

Diagnosis keperawatan disusun berdasarkan klasifikasi dan analisa data yang akurat.
Rencana tindakan keperawatan ditulis dan dicatat sebagai bagian dari catatan yang
permanen.
Observasi dicatat secara akurat, lengkap dan sesuai urutan waktu.
Evaluasi dicatat sesuai dengan urutan waktu meliputi selama dirawat, dirujuk, pulang
ataupun perubahan status klien, respon klien terhadap tindakan.
Rencana tindakan yang direvisi, berdasarkan hasil yang diharapkan klien.

3.

Hasil :
Mahasiswa mampu menerapkan pendokumentasian secara baik dan benar.

3.2.6 Sentralisasi Obat


Kontroling atau pengawasan terhadap penggunaan dan konsumsi obat merupakan salah satu peran
perawat sehingga perlu dilakukan dalam suatu pola yang sistematis sehingga penggunaan obat benarbenar dapat dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian secara materiil maupun non materiil dapat
dieliminir. Upaya sistematik meliputi uraian terinci tentang pengelolaan obat secara tepat oleh perawat
diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab perawat dalam menyelenggarakan kegiatan keperawatan.
Sentralisasi obat (tehnik pengelolaan obat penuh) adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat
yang akan diberikan kepada pasien diserahkan sepenuhnya kepada perawat, pengeluaran dan pembagian
obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat.
A. Teknik Pegelolaan Sentralisasi Obat:
1. Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara optimal dapat
didelegasikan kepada staf yang ditunjuk.
2. Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta dalam mengontrol penggunaan obat.
3. Penerimaan obat :
a. Keluarga menyerahkan resep dan persyaratan yang diperlukan kepada depo farmasi
b. Perawat menerima obat dari depo farmasi setiap hari untuk dosis sehari (ODD) dalam kemasan
1 kali pemberian (UDD).

c. Perawat menuliskan nama pasien, registrasi, jenis obat, dan jumlah (sediaan) dalam format
pemberian obat dan meminta tanda tangan petugas farmasi.
d. Obat yang telah diterima dari farmasi selanjutnya disimpan oleh perawat dalam kotak obat.
e. Keluarga/ klien selanjutnya mendapatkan informasi bila mana obat tersebut akan habis.
4. Pembagian obat :
a. Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam lembar daftar pemberian obat.
b. Obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memperhatikan
alur yang tercantum dalam buku daftar pemberian obat, dengan terlebih dahulu di cocokkan
dengan terapi di dalam advis dokter.
c. Pada saat pemberian obat perawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat, efek
samping obat. Pantau adanya efek samping pada pasien.
d. Sediaan obat yang ada selanjutnya dicek setiap pagi oleh kepala ruangan/ petugas yang
ditunjuk dan didokumentasikan dalam format pemberian obat pada kolom sisa.
5. Penambahan obat baru :
Bila ada penambahan/ perubahan jenis, dosis atau perubahan rute pemberian obat, maka
informasi ini akan dimasukkan dalam format pemberian obat pada kolom terima.
6. Obat khusus.
a. Obat disebut khusus apabila sediaan memiliki harga yang cukup mahal, menggunakan rute
pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar atau hanya diberikan
pada waktu tertentu.
b. Pemberian obat khusus didokumentasikan di format pemberian obat khusus.
c. Informasi yang diberikan pada klien/ keluarga yaitu nama obat, kegunaan obat, waktu
pemberian, efek samping, penanggung jawab pemberian dan tempat obat sebaiknya diserahkan/
ditunjukkan pada keluarga setelah pemberian. Usahakan terdapat saksi dari keluarga saat
pemberian obat.

B. Alur Pelaksanaan Sentralisasi Obat


Dokter
Pendekatan
perawat

Perawat
Primer

PASIEN/ KELUARGA

Surat
persetujuan
sentralisasi
obat

FARMASI/ APOTIK

PENGATURAN DAN
PENGELOLAAN OLEH
PETUGAS FARMASI
PENERIMAAN,
PENDISTRIBUSIAN,
PENYIMPANAN OLEH
PERAWAT
PASIEN /
KELUARGA

Lembar serah
terima obat,
buku serah
terima obat

OBAT HABIS
Keterangan :
: Garis Komando
- - -> : Garis Koordinasi

Penerapan Sentralisasi Obat


a. Penanggung jawab

: Yevi Dwi Lestari, S. Kep

b. Tujuan

: Setelah dilakukan praktik manajemen keperawatan,


diharapkan mahasiswa PSIK dan perawat Ruang Bedah Aster mampu
menerapkan sentralisasi obat yang benar.

c. Waktu

: Minggu I - Minggu V

Pelaksanaan role play pada tanggal 30 April 2010 dan diperbaiki pada
tanggal 10 Mei 2010

d. Rencana strategi :
1. Melaksanakan sentralisasi obat klien bekerja sama dengan perawat, dokter dan bagian
farmasi.
2. Mendokumentasikan hasil pelaksanaaan pengelolaan sentralisasi obat.
e. Kriteria Evaluasi :
1. Struktur :

Pelaksanaan sentralisasi obat dilaksanakan di ruang Bedah Aster.

Persiapan pelaksanaan sentralisasi obat : persetujuan sentralisasi obat, lembar serah terima
obat, catatan obat atau alat kesehatan masuk dan keluar

Perawat yang bertugas pelaksanaan sentralisasi obat adalah perawat primer didampingi
perawat associate dengan sepengetahuan kepala ruangan.

2. Proses :

Pelaksanaan sentralisasi obat dilakukan sesuai dengan ruangan yang telah di tentukan dan
pasien telah menyetujui inform consent untuk dilakukan sentralisasi obat.

Pelaksanaan sentralisasi obat sesuai dengan rencana dan alur yang telah ditentukan.

Perawat yang bertugas sesuai perannya

3. Hasil :

Klien puas dan percaya dengan hasil pelaksanaan sentralisasi obat

Obat dapat diberikan secara tepat dan benar sesuai 6T dan 1W

Perawat mudah mengontrol pemberian obat.

Pendokumentasian pemberian obat dapat dilakukan dengan benar.

3.2.7 Timbang Terima


Timbang terima (operan) merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan laporan yang
berkenaan dengan keadaan pasien.

1. Metode Pelaporan
1) Perawat yang bertanggung jawab terhadap klien melaporkan langsung kepada perawat
penanggung jawab berikutnya dengan membawa laporan timbang terima
2) Pelaksanaan timbang terima dapat dilakukan di ruang perawat, kemudian dilanjutkan dengan
mengunjungi klien satu-persatu terutama pada klien-klien yang memiliki masalah khusus serta
memerlukan observasi lebih lanjut.
2. Mekanisme timbang terima
Klien
Diagnosis medis
Masalah kolaboratif

Diagnosis
keperawatan
Rencana
Tindakan

Yang telah dilakukan

Yang akan dilakukan

Perkembangan
keadaan klien

Perencanaan teratasi seluruhnya, sebagian, belum teratasi dan terdapat


masalah baru

3. Prosedur Pelaksanaan
1) Kedua kelompok siap.
2) Shift yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal-hal apa yang akan
disampaikan.
3) Prinsip timbang terima: tidak semua pasien dilakukan timbang terima, khusus pada klien yang
memiliki permasalahan yang belum teratasi serta yang membutuhkan observasi lebih lanjut.
4) Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji secara penuh terhadap masalah, kebutuhan
dan tindakan yang telah dilaksanakan serta hal-hal yang penting lainnya selama masa perawatan.
5) Hal-hal yang sifatnya khusus diserahterimakan kepada perawat berikutnya.

6) Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :


Identitas klien dan diagnosis medis
Data (keluhan obyektif dan subyektif)
Masalah keperawatan yang masih muncul
Intervensi keperawatan yang sudah dilakukan
Intervensi keperawatan yang belum/akan dilakukan
Intervensi kolaboratif
Pesan khusus terhadap pasien
Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi, tanya jawab dan
melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah ditimbangterimakan atau terhadap hal-hal yang
kurang jelas
Mengupayakan penyampaian yang jelas, singkat, dan padat
Lama timbang terima untuk tiap klien tidak lebih dari 5 menit, kecuali dalam kondisi khusus
dan memerlukan keterangan yang rumit
Penerapan Timbang Terima
a. Penanggung jawab
b.

Tujuan

: Cory Castela, S. Kep


: Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan, diharapkan mahasiswa
dan perawat Ruang Bedah Aster mampu melaksanakan timbang terima
dengan benar.

c. Waktu

: Minggu III
Pelaksanaan role play tanggal 10 April 2010
( dari pergantian shift pagi ke shift siang)

d. Rencana Strategi
1

Merevisi teknik timbang terima bersama-sama dengan staf perawatan di Ruang Bedah Aster RSU
Dr. Soetomo Surabaya.

Timbang terima dapat dilakukan secara lisan atau tertulis.

Merevisi materi timbang terima dengan berfokus pada masalah keperawatan.

Melaksanakan timbang terima bersama dengan kepala ruangan dan staf keperawatan di Ruang
Bedah Aster.

Dilaksanakan pada setiap pergantian shift.

Dipimpin oleh kepala ruangan.

Diikuti perawat, mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas.

Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat sistematis atau menggambarkan kondisi saat ini
dengan tetap menjaga kerahasiaan klien.

Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan keperawatan, rencana keperawatan,


tindakan dan perkembangan kesehatan klien.

10 Mendokumentasikan hasil timbang terima klien.


e. Kriteria Evaluasi :
1. Struktur (Input):
Menentukan penanggungjawab timbang terima.
Menyusun teknik timbang terima bersama-sama dengan staf keperawatan.
Menentukan materi timbang terima.
Mempersiapkan status pasien.
2. Proses:
Melaksanakan timbang terima bersama dengan Karu dan staf keperawatan pada pergantian
shift.
Timbang terima dipimpin oleh Kepala ruangan
Timbang terima diikuti oleh perawat, mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas.
3. Hasil
Perawat mampu melaporkan timbang terima yang berisi (identitas, diagnosis medis, masalah
keperawatan, intervensi yang sudah dan belum dilaksanakan, intervensi kolaboratif, pesan
khusus dan rencana umum pasien).
Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
Dapat meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
Menjalin hubungan kerja sama yang bertanggungjawab antar perawat.

Pelaksanaan asuhan keperawatan dapat berjalan berkesinambungan.

3.2.8 Penerimaan Pasien Baru


Protap Penerimaan Pasien Baru
I. Tahap pra penerimaan pasien baru
1. Menyiapkan kelengkapan administrasi
2. Menyiapkan kelengkapan kamar sesuai pesanan
3. Menyiapkan format penerimaan pasien baru
4. Menyiapkan buku status pasien dan format pengkajian keperawatan
5. Menyiapkan informed concent sentralisasi obat.
6. Menyiapkan nursing kit
7. Menyiapkan lembar tata tertib pasien, keluarga dan pengunjung ruangan
II. Tahap pelaksanaan penerimaan pasien baru
1. Pasien datang di ruangan diterima oleh kepala ruangan/ perawat primer/ perawat yang diberi
delegasi.
2. Perawat memperkenalkan diri kepada klien dan keluarganya.
3. Perawat bersama karyawan lain memindahkan pasien ke tempat tidur (apabila pasien datang
dengan branchard/ kursi roda) dan berikan posisi yang nyaman.
4. Perkenalkan pasien baru dengan pasien baru yang sekamar.
5. Setelah pasien tenang dan situasi sudah memungkinkan perawat memberikan informasi
kepada klien dan keluarga tentang orientasi ruangan, perawatan (termasuk perawat yang
bertanggung jawab dan sentralisasi obat), medis (dokter yang bertanggung jawab dan jadwal
visite), dan tata tertib ruangan.
6. Perawat menanyakan kembali tentang kejelasan informasi yang telah disampaikan.
7. Perawat melakukan pengkajian terhadap pasien sesuai dengan format.
8. Perawat menunjukkan kamar/ tempat tidur klien dan mengantar ke tempat yang telah
ditetapkan.
a.

Apabila pasien atau keluarga sudah jelas, maka diminta untuk menandatangani informed
concent sentralisasi obat.

b.

Perawat menyerahkan kepada pasien lembar kuesioner tingkat kepuasan pasien.

Alur Penerimaan Pasien Baru


Pra

Karu memberitahu PP akan ada pasien baru

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Pelaksanaan

PP menyiapkan:
Lembar pasien masuk
RS
Buku status dan lembar format
pengkajian pasien
Nursing kit
Informed concent sentralisasi obat
Lembar tata-tertib pasien dan
pengunjung
Lembar tingkat kepuasan pasien
Tempat tidur pasien baru

KARU, PP dan PA menyambut pasien baru

PP menjelaskan segala sesuatu yang


tercantum dalam lembar penerimaan pasien
baru
Anamnesa pasien baru oleh PP dan PA

Post

Terminasi

Evaluasi
Penerapan Penerimaan pasien baru
a. Penanggung jawab

: Diana Rachmania., S. Kep

b. Tujuan

: Setelah

dilakukan

praktik

manajemen

keperawatan,

diharapkan semua perawat di Ruang Bedah A dan mahasiswa PSIK FKp


mampu melaksanakan penerimaan pasien baru dengan benar.
c. Waktu

: Minggu II - Minggu V.
Pelaksanaan role play tanggal 26 April 2010

d. Rencana Strategi:
1. Menentukan penanggung jawab penerimaan pasien baru.
2. Menentukan klien yang akan dijadikan subjek penerimaan pasien baru.
3. Menentukan jadwal pelaksanaan penerimaan pasien baru
4. Melaksanakan penerimaan pasien baru.
e. Kriteria Evaluasi
a) Evaluasi struktur
1. Sarana dan prasarana yang menunjang antara lain lembar penerimaan pasien baru, informed
consent sentralisasi obat, format pengkajian, nursing kit, status, lembar kuesioner tingkat
kepuasan pasien dan lembar tata tertib pasien dan pengunjung
2. Penerimaan pasien baru pada shift pagi dilakukan oleh KARU, PP, dan PA. Sedangkan pada
shift sore dilakukan oleh PP dan PA
b) Evaluasi proses
1. Pasien baru disambut oleh KARU, PP, dan PA.
2. PP melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik dengan dibantu oleh PA.
3. Pasien baru diberi penjelasan tentang orientasi ruangan, perawatan (termasuk Sentralisasi
obat), medis, serta tata tertib ruangan.
4. Perawat melakukan komunikasi terapeutik dengan klien dan keluarga
c) Evaluasi hasil
1. Hasil penerimaan pasien baru didokumentasikan dengan benar.
2. Pasien mengetahui tentang fasilitas ruangan, perawatan, medis, serta tata tertib ruangan
3. Pasien sudah menandatangani persetujuan sentralisasi obat

3.3 Plan Of Action / Rencana Tindakan


No
1.

Problem
Ronde

Data
1.

Keperawatan
2.

3.

Ronde keperawatan adalah

Tujuan

Kegiatan

Ronde

1. Menentukan klien yang

Indikator

Minggu

Jawab
Putri Pandu

III-IV

Pertiwi, S.

keperawatan

akan dijadikan subyek

dan kasus yang sudah

di ruang Bedah Aster

terlaksana

dalam ronde keperawatan.

dilakukan tindakan

dengan benar.

2. Menentukan strategi
ronde keperawatan yang

ada kemajuan telah

Bedah Aster.

akan dilakukan.

dilakukan ronde

3. Menentukan materi dalam

dokumentasi ronde keperawatan

Kep

keperawatan tetapi tidak

secara informal oleh perawat ruang


Belum ada format dan

Penanggung

Keberhasilan
Setiap kasus luar biasa

kegiatan yang belum dilaksanakan


Ronde Keperawatan dilakukan

Waktu

keperawatan. Ronde

pelaksanaan ronde

minimal dilakukan 1x

keperawatan.

dalam 1 bulan.

4. Menyiapkan petunjuk
teknis pelaksanaan ronde
keperawatan.
5. Melaksanakan ronde
keperawatan bersamasama kepala ruangan dan
3. Discharge
2.

planning

1. Keterbatasan waktu dan tenaga


perawat
2. Tidak tersedianya leaflet pasien
pulang
3. Pendidikan kesehatan belum

Discharge

i.

staf keperawatan.
Menentukan penanggung

Setiap klien mulai dari

Minggu

Khikmatul M,
S.Kep

planning

jawab discharge

masuk sampai pulang

II, III,

dilaksanakan

planning.

sudah mendapatkan

dan IV

dengan benar ii.


dan

Menentukan materi
discharge planning.

discharge planning
dengan menyertakan

terdokumentasi

terdokumentasiiii.

kartu discharge planning.

dengan benar. Menentukan klien yang akan


dijadikan subjek
discharge planning.
iv.

Menentukan jadwal
pelaksanaan discharge
planning

v.

Melaksanakan discharge
planning

vi.

Mengevaluasi
pelaksanaan discharge

3.

Supervisi

1. Belum mempunyai format yang


baku dalam pelaksanaan supervisi.

Mampu
menerapkan
supervisi
keperawatan

2. Kurangnya program pelatihan dan


sosialisasi tentang supervisi

dengan benar.

planning
1. Merevisi konsep
supervisi keperawatan
2. Menentukan materi
supervisi keperawatan
3. Merevisi format
supervisi
4. Melaksanakan supervisi
keperawatan bersama-

3. Supervisi belum struktur, belum


terdapat form penilaian yang tetap,
belum terdokumentasikan

sama perawat ruangan.


5. Mendokumentasikan
hasil pelaksanaan
supervisi keperawatan.

1. Supervisi dilakukan
sesuai dengan jadwal,
minimal 2x dalam 1
bulan.
2. Supervisi dilaksanakan
sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi.

Minggu

Galia Wardha,

III-IV

S. Kep

Dokumentasi

4. Dari observasi status pasien,

Mampu

Keperawatan

pengisian dokumentasi tidak

menerapkan

lengkap:waktu, nama dan jam

dokumentasi

pengkajian dan

didokumentasikan sesuai

belum dicantumkan, respon pasien

keperawatan

pendokumentasian sesuai

dengan aturan

pasca tindakan kurang terpantau.

dengan benar

dengan kasus di ruang

1. Mendiskusikan format

Semua proses

Minggu

Frestanty S,

keperawatan

I-V

S.Kep

Minggu

Mahasiswa

bedah Aster

5. SAK dan SOP belum maksimal

2. Merevisi format

digunakan

pengkajian, diagnosis

6. Pengawasan terhadap sistematika


pendokumentasian belum

keperawatan,

dilaksanakan secara optimal

perencanaan,
pelaksanaan dan
evaluasi.
3. Menyiapkan format /
pendokumentasian
keperawatan.
4. Melaksanakan
pendokumentasian
bersama dengan perawat

5.

MAKP

1. Sudah ada Model MAKP yang


digunakan MAKP moduler

Mampu

ruangan.
1. Mendiskusikan setiap

MAKP primary Nursing

melaksanakan

hambatan yang ada dalam

diterapkan secara baik

MAKP primary

penerapan model primary

dengan peningkatan

2. Sosialisasi MAKP masih kurang

Nursing dengan

nursing.

kepuasan pasien 100%,

3. Kurangnya tenaga profesional

benar.

keperawatan

2. Sosialisasi dan
mendiskusikan hasil

ALOS turun 30%.

II-V

PSIK A5 Kel.
1

desiminasi.
3. Merencanakan kebutuhan
tenaga perawat.
4. Melakukan pembagian
peran perawat.
5. Menentukan diskripsi
tugas dan tanggung jawab
perawat.
6. Melakukan pembagian
jadwal serta pembagian
tenaga perawat.
7. Membantu penerapan
model MAKP yang sudah
5.

Sentralisasi

Pelaksanaan sentralisasi obat

Sentralisasi obat 1.

Obat

menggunakan sistem UDD (unit

dilaksanakan

dose disfention) namun pada

dengan benar.

2.

prakteknya masih menggunakan


ODD (one day dose).

3.

4.

ada.
Menentukan penanggung 1.
jawab Sentralisasi obat.
Melaksanakan sentralisasi
obat klien bekerja sama
2.
dengan perawat, dokter
dan bagian farmasi.
Mendokumentasikan hasil
pelaksanaaan pengelolaan
3.
sentralisasi obat.
Membuat format
pencatatan sentralisasi
obat.

Seluruh obat pasien

Minggu

Yevi Dwi

sudah tersentralisasi

II, III,

Lestari, S.Kep

dengan baik.

dan IV

Ada format
pemberian obat dan
serah terima obat.
Adanya informed
consent.

6.

M1-Man
Kurangnya
kualitas dan
kuantitas SDM

1. Keterbatasan jumlah perawat di

1. Terjalin kerjasama

Minggu

Mahasiswa

perawat ruangan dalam

yang baik antara

I-V

PSIK A5

perawat perawat pada

memberikan asuhan

mahasiswa dan

perawat pasien

keperawatan pada pasien

perawat ruangan

associated masih ada kesamaan

di ruang Bedah Aster

dan meningkatnya

tugas)

(khususnya ruang elektif

kepuasan pasien

ruang Bedah Aster dengan rasio 1:4


2. Adanya
(perawat

konflik
primer

peran
dan

Meningkatkan
kualitas kinerja

3. Sebagian perawat belum pernah

1. Berkolaborasi dengan

kelas II dan III)

mengikuti pelatihan MAKP

2. Meningkatkan kerja sama


dengan keluarga
penunggu pasien dalam
pelaksanaan intervensi
keperawatan.
3. Meningkatkan

Kel. 1

terhadap pelayanan
keperawatan
di ruang elektif Bedah
Aster
2. Berkurangnya beban
kerja perawat.
3. Perawat mengtahui

pengetahuan dan

model MAKP yang

pengalaman perawat

seharusnya ada.

dengan praktik MAKP


yang mahasiswa lakukan.
7.

Timbang
Terima

5. Belum ada protap timbang terima di


ruangan

Timbang terima

1 Merevisi teknik timbang

1. Timbang terima

dilakukan

terima bersama-sama

dilakukan di nurse

dengan benar

dengan staf perawatan di

station dan di pasien.

dengan baik (PP melaporkan

dan

Ruang Bedah Aster RSU

identitas klien, keluhan utama, DS,

terdokumentasi.

Dr. Soetomo Surabaya.

6. Timbang terima sudah dilakukan

2. Isi timbang terima


tentang masalah

Minggu

Cory Castela,

III-IV

S.Kep

DO, MK, dan intervensi) tetapi


intervensi masih bersifat umum

keperawatan yang
2 Timbang terima dapat

tidak berdasarkan MK dan tidak

dilakukan secara lisan

ada evaluasi

atau tertulis.

7. Format timbang terima belum

3 Merevisi materi timbang

mencakup nama dan paraf perawat

terima dengan berfokus

pada kedua shift

pada masalah

8. Pelaksanaan timbang terima kurang


maksimal shift sore ke malam

keperawatan.
4 Melaksanakan timbang
terima bersama dengan
kepala ruangan dan staf
keperawatan di Ruang
Bedah Aster.
5 Dilaksanakan pada setiap
pergantian shift.
6 Dipimpin oleh kepala
ruangan.
7 Diikuti perawat,
mahasiswa yang berdinas
atau akan berdinas.
8 Informasi yang
disampaikan harus
akurat, singkat sistematis
atau menggambarkan

sudah dan belum


teratasi.
3. Timbang terima
terdokumentasi
dengan baik.

kondisi saat ini dengan


tetap menjaga
kerahasiaan klien.
9 Timbang terima harus
berorientasi pada
permasalahan
keperawatan, rencana
keperawatan, tindakan
dan perkembangan
kesehatan klien.
10 .Mendokumentasikan
hasil timbang terima
8.

M4-Money
Pembiayaan

9.

M5-Market
Pemasaran

1. Pembiayaan

ruangan

klien.
Menginformasikan

Pasien membayar sesuai

Minggu

administrasi

pendanaan yang dibutuhkan

dengan tarif yang telah

I-V

(keuangan).
-BOR ruangan

pada perawatan pasien


Mengusulkan peningkatan

ditetapkan.
1. Kepuasan pasien

Minggu

Kel. 1
Mahasiswa

meningkat

mutu pelayanan terus

terpenuhi dan

I-V

PSIK A5

-ALOS ruangan

menerus sehingga memberi

meningkat menjadi 90-

menurun

kesan yang baik pada klien.

100%.

dari dana Keteraturan

APBD Jawa Timur


2. Adanya depo farmasi
LOS yang memanjang karena jadwal
operasi yang lama (di ruang Elektif)

-Post Operative

2. BOR mencapai 75-85%

Infection Rate

3. ALOS menurun 30%

menurun
-Angka Infeksi

pada pasien post op.


4. Tidak adanya infeksi

Mahasiswa
PSIK A5

Kel. 1

Nosokomial

luka operasi

ruangan
10.

M2-Material

1. Pemeliharaan dan perawatan dari


sarana dan prasarana penunjang

prasarana

kesehatan sudah ada

ruangan Bedah

2. Sarana administrasi penunjang


untuk dokumentasi sudah ada

11.

menurun
Sarana dan

1.

Melengkapi fasilitas
yang ada di ruangan.

2.

Merawat sarana dan

Aster terawat

prasarana secara berkala

dengan baik dan

dan lebih intensif.

1. Tersedianya fasilitas
primer dan

baik (tidak ada

kebutuhan

Yang rusak )

Mutu

pasien
Meningkatkan

Pelayanan

Mutu pelayanan

perawatan luka dengan

luka pasca operasi,

Keperawatan

keperawatan

prinsip steril untuk

kesalahan medis,

mencegah infeksi luka

plebhitis, pasien jatuh

pasca operasi

menurun

3. Mengganti infus jika


sudah lebih dari 3 hari
pemasangan untuk
mengurangi kejadian
plebhitis
4. Menjadwalkan PKRS dan

PSIK A5 Kel.
1

prasarana

memfasilitasi

medis

Mahasiswa

2. Sarana dan
terawat dengan

2. Meminimalkan kesalahan

I-V

pendukung

mampu

1. Melakukan teknik

Minggu

Angka kejadian infeksi

Minggu

mahasiswa

I-V

PSIK A5
Kel. 1

melakukan discharge
planning
5. Mengusulkan untuk
menggunakan tempat
tidur yang ada
penghalang tempat tidur
dan memperhatikan
pasien untuk
meminimalkan kejadian
pasien jatuh
6. Membantu pasien dalam
memenuhi kebutuhan
perawatan diri
7. Memperhatikan dan
meningkatkan
kenyamanan pasien
selama dirawat di
ruangan

BAB 4
PELAKSANAAN

Pada bab ini akan diuraikan aplikasi Model Asuhan Keperawatan Profesional (MPKP) yang
dilaksanakan dalam Praktik Profesi Manajemen Keperawatan di Ruang Bedah Aster RSUD Dr
Soetomo Surabaya pada tanggal 19 April 2010 sampai dengan 22 Mei 2010. Pelaksanaan MPKP
ditekankan pada komponen utama yaitu: (1) Penetapan Tenaga Keperawatan (2) Sistem MPKP (3)
Dokumentasi Asuhan Keperawatan (4) Penerimaan Pasien Baru (5) Sentralisasi Obat (6) Timbang
Terima (7) Supervisi Keperawatan dan (8) Discharge Planning.

4.1 Penetapan Tenaga Keperawatan


A. Persiapan
Pada tahap persiapan yang dilakukan kelompok adalah sebagai berikut :
a. Menyiapkan

catatan

harian

mengenai

jumlah

pasien

setiap

hari

serta

tingkat

ketergantungannya.
b. Menyiapkan format klasifikasi dan kriteria tingkat ketergantungan penderita berdasarkan
teori Douglas.
c. Menyiapkan

konsep perhitungan

kebutuhan

tenaga

perawat

berdasarkan tingkat

ketergantungan pasien.
B. Pelaksanaan
a. Mengumpulkan data mengenai jumlah pasien serta tingkat ketergantungannya pada pagi,
siang, malam mulai minggu pertama sampai minggu keempat.
b. Melakukan tabulasi data dan melaksanakan perhitungan jumlah kebutuhan tenaga
berdasarkan tingkat ketergantungan pasien (terlampir)

c. Melakukan penghitungan jumlah tenaga yang bertugas di ruang bedah Aster dalam sehari
pada shift pagi, siang dan malam mulai tgl 3-16 Mei 2010: shift pagi 3 orang, shift sore 2
orang, shift malam 2 orang, libur 2 orang, kepala ruangan 1 orang. Jumlah total perawat 8
orang dengan rata-rata jumlah pasien 7 orang setiap harinya. Rata-rata pasien dengan
ketergantungan minimal adalah 4 orang, rata-rata pasien dengan ketergantungan parsial 2
orang dan rata-rata pasien dengan ketergantungan total 2 orang.

C. Hambatan
Kelompok tidak menemui hambatan dalam pelaksanaan perhitungan tenaga selama
Praktik Profesi Manajemen Keperawatan berlangsung.
D. Dukungan
Kepala ruangan, pembimbing ruangan dan perawat memfasilitasi kebutuhan yang
diperlukan serta memberikan masukan, saran yang bersifat positif saat mahasiswa melakukan
Praktik Profesi Manajemen Keperawatan dan pemberian asuhan keperawatan pada klien.

4.2 Model Pemberian Asuhan Keperawatan


A. Persiapan
Berdasarkan hasil pengkajian, kelompok menerapkan MPKP Primer. Adapun bagan
model asuhan keperawatan adalah sebagai berikut:

TIM MEDIS DAN


TIM LAIN

PERAWAT
PRIMER
KLIEN

KEPALA
RUANGAN

PERAWAT
ASSOCIATE

PERAWAT
ASSOCIATE

SARANA RS

PERAWAT
PRIMER
KLIEN

Keterangan:
: Garis Komando
: Garis Koordinasi

Bagan 4.1 Bagan Pengembangan MPKP Primer


B. Pelaksanaan
Uji coba penerapan MPKP Primer dilaksanakan pada minggu pertama pada tanggal 22
April 2010 sampai dengan 25 April 2010. Dalam uji coba masing-masing anggota kelompok
berperan sebagai kepala ruangan, perawat primer dan perawat associate dengan jadwal dinas
pagi semua.
Minggu ke-2 masing-masing anggota kelompok menjalankan peran sesuai dengan
tugasnya. Pada minggu ke 3 dan ke 4 pembagian peran sudah diikuti dengan pembagian jadwal
dinas pagi, sore dan malam. Pada minggu ke 4 dilakukan evaluasi terhadap pelayanan MPKP
Primer dengan merekap lembar kepuasan pasien, hasil pasien kelolaan menyatakan puas
terhadap pelayanan yang diberikan.

C. Hambatan
Pelaksanaan MPKP Primer di Ruang Bedah Aster menemui beberapa hambatan :

a. Adanya pergantian peran setiap 1-2 hari pada mahasiswa menyebabkan kurang
maksimalnya peran yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memberikan asuhan
keperawatan.
b. Kasus pasien kelolaan yang bervariasi, seperti digestif, onkologi, nefro dan kepala leher
serta komplikasinya.
c. Jumlah mahasiswa kurang mencukupi, terutama pada shif pagi terdiri dari 4 mahasiswa (1
kepala ruangan, 2 perawat primer dan 1 perawat associate)
Namun hambatan tersebut dapat diminimalkan oleh kelompok dengan bantuan kepala
ruangan, pembimbing klinik dan perawat ruangan.
D. Dukungan
Perawat ruangan dan perawat bedah Aster memberikan kesempatan dan dukungan
kepada mahasiswa Praktik Profesi Manajemen Keperawatan dalam mengaplikasikan peran pada
penerapan MPKP Primer.

4.3 Ronde Keperawatan


A. Persiapan
1. Menentukan penanggung jawab ronde keperawatan.
2. Menentukan Tim Ronde
3. Menyusun proposal kegiatan ronde keperawatan dengan menetapkan pasien yang akan
dirondekan.
4. Menyiapkan resume keperawatan pasien selama dirawat.
5. Meminta informed consent kepada keluarga pasien untuk dilakukan ronde Keperawatan.
B. Pelaksanaan
Ronde keperawatan dilaksanakan dan dihadiri para supervisor pada hari Jumat tanggal
14 Mei 2010 pukul 09.00 WIB. Ronde keperawatan dilaksanakan pada pasien Ny. Saamah

dengan Diagnosa medis Ca Mammae Sinistra Pro kemoterapi dengan masalah keperawatan
yang belum dapat diatasi adalah Kerusakan integritas kulit, Kerusakan mobilitas dan Perubahan:
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Ronde keperawatan menghadirkan PP1, PP2, PA1, ahli
gizi, fisioterapis, konselor keperawatan. Dari hasil ronde dapat disimpulkan intervensi untuk
mengatasi masalah pasien adalah dengan :

a)

Dari perawat konselor Bedah Aster memberikan saran :


-

Pada lukadi mammae sebelum ditutup kasa sebaiknya dikasih supratule supaya tidak
bleeding

Pada luka di ketiak sebaiknya dirawat dengan menggunakan spuit yang ada NaCl nya dan
ditutup dengan kasa basah

Prinsip merawat luka adalah lembab.

Kolaborasi untuk dilakukan kultur luka dulu baru usul untuk dilakukan skin graft.

Kolaborasi koreksi elektrolit

b)

Dari fisioterapis memberikan saran :


-

Lakukan mobilisasi supaya tidak terjadi kontraktur yang berlebihan minimal 5 10 kali per
hari

Memberikan elastis bandage untuk mencegah edema

Observasi ekstremitas lain.

c)

Dari ahli gizi memberikan saran :


-

Kolaborasi dengan dokter untuk penggantian cairan sesuai dengan kebutuhan kalorinya
(D5).

d)

Dari PP2 memberikan saran :


1. Berikan metronidazole dan nebacytin

2. melakukan perawatan luka 2-3 hari sekali.


e) Kegiatan berjalan dengan lancar, dan tujuan mahasiswa dapat tercapai.
f) Acara dimulai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
g) Mahasiswa bekerja sesuai dengan peran masing-masing.
C. Hambatan
1. Pelaksanaan ronde keperawatan sudah cukup baik karena seluruh masalah keperawatan dapat
ditampilkan dan diklarifikasi, namun tidak bisa menghadirkan dokter.
2. Pelaksana ronde belum berpengalaman dalam melakukan ronde keperawatan sehingga
mahasiswa belum dapat menerapkan peran secara optimal dalam ronde.
D. Dukungan
1. Pengorganisasian acara ronde keperawatan yang terstruktur.
2. Proses bimbingan pelaksanaan ronde oleh pembimbing akademik dan ruangan.
3. Adanya kerjasama dan kesempatan yang seluas-luasnya antara pihak perawat ruangan
dengan mahasiswa sebagai pelaksana.
4. Tersedianya fasilitas pendukung untuk kelancaran proses ronde yang baik di ruang
bedah Aster.

4.4 Discharge Planning


A. Persiapan yang dilakukan antara lain:
a. Menunjuk penangung jawab Discharge Planning
b. Menyiapkan status, kartu discharge planning, format discharge planning, resume
keperawatan dan leaflet
c. Menyiapkan leaflet sesuai dengan kasus pasien (diagnosa medis) dan kebutuhan saat
pulang.
d. Mengadakan pendekatan dengan pasien dan keluarga mengenai discharge planning.

e. Mengadakan pendekatan dengan tim kesehatan lain untuk pelaksanaan discharge


planning.
B. Pelaksanaan
Pelaksanaan discharge planning dimulai dari minggu ke-2 sampai minggu ke- 4
yang dilakukan oleh PP dan PA, antara lain:
a. PP memperkenalkan diri, perawat-perawat lain yang akan merawat, dokter,
mengorientasikan ruangan, dan memberikan HE (Health Education) pada pasien baru,
PP juga memberikan HE pada pasien yang akan pulang atau yang direncanakan pulang
meliputi : minum obat, aktivitas dan istirahat dirumah, diet, jadwal dan tempat kontrol,
apa saja yang akan dibawa pulang dan yang dibawa kontrol serta hal-hal yang harus
diperhatikan.
b. Selain memberikan penjelasan secara lisan keluarga juga diberikan kartu perencanaan
pulang dan leaflet sesuai dengan diagnosa penyakit pasien dan kebutuhan atau
perawatan saat dirumah.
c. Setelah pasien mendapatkan discharge planning, maka keluarga pasien menandatangani
format discharge planning.
C. Hambatan
Hambatan selama pelaksanaan discharge planning tidak ada, karena kerjasama antara
kelompok dengan pasien sangat baik.Tetapi ada sedikit kekurangan, yaitu belum adanya alat
peraga (misal, food model, rawat luka, dll) saat memberikan pendidikan kesehatan.
D. Dukungan
Discharge planning mendapatkan dukungan dari perawat dan pembimbing ruangan karena
di ruang Bedah Aster RSU Dr. Soetomo Surabaya sudah ada kartu perencanaan pulang.

4.5 Supervisi Keperawatan

A. Persiapan
1. Menentukan penanggung jawab supervisi keperawatan
2. Menentukan kegiatan yang akan dilakukan supervisi.
3. Menetapkan waktu untuk pelaksanaan kegiatan supervisi.
4. Menyusun instrumen penilaian supervisi pemberian obat tetes mata dan format lainnya
yang berhubungan dengan supervisi keperawatan.
B. Pelaksanaan
Kegiatan Supervisi keperawatan dilaksanakan dua kali dalam sebulan, yang pertama pada
hari Senin tanggal 03 Mei 2010 jam 09.00 WIB dengan fokus kegiatan memberikan rawat luka
pada Ny. Saamah dengan diagnosa medis Ca Mammae sinistra. Supervisi yang kedua
dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2010 jam 09.00 dengan fokus sebagai tindak lanjut supervisi
yang pertama yaitu memberikan rawat luka pada Ny. Saamah. Kegiatan supervisi dilaksanakan
oleh kepala ruangan kepada PP, dan dibantu PA.
C. Hambatan
Selama dalam pelaksanaan supervisi tidak ada hambatan baik supervisi yang pertama
maupun yang kedua karena PP menguasai standar operasional pelaksanaan rawat luka, ada
kerja sama yang baik dengan pasien. Dan evaluasi beberapa hari setelahnya, pasien merasa
senang dibantu untuk merawat lukanya, dan PP telah memperbaiki sedikit kekurangan dalam
rawat luka.
D. Dukungan
Dukungan pembimbing selama kegiatan supervisi sangat baik dengan memberikan
saran dan masukan untuk kegiatan supervisi.

4.6 Dokumentasi Asuhan Keperawatan

A. Persiapan
Persiapan pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 19 -21 April 2010,
kemudian dilakukan penambahan dan perbaikan format dokumentasi asuhan keperawatan pada
tanggal 25 - 26 April 2010. Format asuhan keperawatan yang dipersiapkan terdiri dari pengkajian
dengan pendekatan (ROS) Review of System, Rencana asuhan keperawatan dan catatan keperawatan
dengan model PIE (Problem, Implementasi, Evaluasi) serta persiapan format mulai dari DMK 1
hingga DMK 18.
B. Pelaksanaan
Proses pelaksanaan pengisian dokumen mulai tahap pengisian format lembar penerimaan
pasien baru (DMK 1), lembar serah terima pasien baru (DMK 2), format pengkajian dan patologi
(DMK 3), surat persetujuan sentralisasi obat (DMK 4), surat persetujuan tindakan medis (DMK 5),
instruksi dokter dan tindakan keperawatan (DMK 6), lembar SAK dan intervensi keperawatan
(DMK 7), evaluasi keperawatan (DMK 8), lembar konsultasi (DMK 9), lembar observasi/redblue
(DMK 10), daftar pemberian obat (DMK 11), daftar pemberian obat khusus (DMK 12), daftar
pemberian alat kesehatan (DMK 13), format serah terima obat (DMK 14), lembar discharge
planning (DMK 15), resume keperawatan (DMK 16), serah terima pasien pindah ruangan (DMK
17), format phlebitis dan infeksi luka operasi (ILO) (DMK 18).
PP dalam pengisian dokumentasi juga mendelegasikan pada PA terutama jika PP sedang
melaksanakan tugas lain. Jumlah dokumentasi yang berhasil kami lengkapi sebanyak 9 pasien mulai
tanggal 22 April 2010 sampai dengan 22 Mei 2010 dengan rata-rata menjalankan rawat inap kurang
lebih selama 6 hari.
C. Hambatan
Hambatan yang dialami dalam pelaksanaan adalah sebagai berikut :

a. Pada awal pelaksanaan MPKP terjadi perubahan dokumentasi baik penambahan format atau
modifikasi formulir serta usulan untuk melakukan uji coba format dokumentasi keperawatan
PIE modifikasi.
b. Kurang pemahaman anggota kelompok terhadap cara pengisian format pada awal
pelaksanaan manajemen.
c. Pasien kelolaan terbanyak merupakan pasien onkologi dengan pro khemoterapi, sehingga
mobilitas pasien sangat tinggi. Hal ini menyebabkan asuhan keperawatan terputus.
d. Tidak adanya petunjuk teknis pengisian format dokumentasi keperawatan.
e. Kurangnya tenaga perawat khususnya PP pada shift sore dan malam.
D. Dukungan
Kepala ruangan dan tenaga keperawatan ruangan memberikan dukungan terhadap
pelaksanaan praktik profesi manajemen keperawatan dengan memberikan masukan dan saran
tentang dokumentasi keperawatan.

4.7 Sentralisasi Obat


A. Persiapan
1) Menyiapkan sarana sentralisasi obat : format informed consent, format pemberian obat
dan lembar serah terima obat.
2) Menyampaikan kepada petugas depo farmasi tentang pelaksanaan sentralisasi obat.
3) Mengadakan pendekatan dengan keluarga tentang pelaksanaan sentralisasi obat dan
meminta persetujuan dalam informed consent.
B. Pelaksanaan
Pelaksanaan sentralisasi obat dilaksanakan mulai minggu ke 3 sampai ke 4. Pada
minggu ke 1, 2 dan ke-5 kelompok memberikan obat hanya pada shift pagi saja sedangkan sore

dan malam hari di timbang terimakan kepada perawat ruangan. Minggu ke-3 dan ke-4
dilaksanakan sepenuhnya oleh kelompok.
C. Hambatan
Tidak ada hambatan dalam pelaksanaan sentralisasi obat karena sudah ada sistem ODD
modifikasi UDD yang dijalankan depo farmasi di ruangan. Perawat menerima obat dari farmasi
dan melakukan pengelolaan obat untuk dosis sehari serta mengontrol pemberian obat sesuai
jadwal.
D. Dukungan
Kerjasama antara kelompok dengan keluarga pasien, perawat dan petugas depo farmasi
berjalan dengan baik.

4.8 Timbang Terima Keperawatan


A. Persiapan
Persiapan timbang terima mulai dilaksanakan pada minggu pertama. Persiapan yang
dilakukan antara lain :
a. Menunjuk penanggung jawab timbang terima.
b. Menyusun format timbang terima pasien serta petunjuk teknis pengisiannya.
c. Menyiapkan kasus kelolaan yang akan dilakukan timbang terima keperawatan.
d. Menyiapkan pelaksanaan timbang terima.
B. Pelaksanaan
Pelaksanaan secara penuh dilaksanakan pada minggu ke-2 sampai dengan ke5.
Timbang terima dilaksanakan jam 07.30 dinas malam ke dinas pagi, jam 13.30 dari dinas pagi
ke dinas sore dan jam 20.30 dari dinas sore ke dinas malam. Timbang terima dilaksanakan di
ruang perawat. Timbang terima dilakukan dengan menyampaikan jumlah pasien, nomor tempat
tidur, identitas pasien (nama dan usia klien), diagnosa medis, data subyektif dan obyektif,

masalah keperawatan pasien, intervensi yang sudah dan belum dilaksanakan, keadaan pasien
terakhir (evaluasi) dan pesan khusus. Setelah semua pasien ditimbang terimakan, perawat
melakukan validasi data dengan mendatangi pasien satu persatu kemudian kembali ke ruang
perawat untuk mengklarifikasi data pasien, hal-hal yang perlu didiskusikan serta perawat primer
shift pagi, shift malam dan kepala ruangan menandatangani lembar timbang terima.
C. Hambatan
Pelaksanaan timbang terima keperawatan belum optimal karena kurangnya koordinasi
dari PP maupun PA dalam melakukan validasi data kepada pasien
D. Dukungan
Perawat dan pembimbing ruangan bekerja sama dalam kegiatan timbang terima pasien
sehari-hari.

4.9 Penerimaan Pasien baru


A. Persiapan
Penerimaan pasien baru merupakan bagian dari discharge planning, penerimaan pasien
baru ini merupakan kegiatan tambahan. Persiapan penerimaan pasien baru meliputi :
1. Menunjuk penanggung jawab kegiatan penerimaan pasien baru.
2. Menyusuun format penerimaan pasien masuk, lembar serah terima pasien baru, format
pengkajian, informed consent tentang sentralisasi obat serta menyusun proposal peneriman
pasien baru.
3. Mengidentifikasi pasien baru setiap pergantian shift jaga.
B. Pelaksanaan
Penerimaan pasien baru dilaksanakan setiap ada pasien baru pada tanggal 26 April 2010
sampai dengan 22 Mei 2010 dan dilaksanakan pada pasien yang masuk kelolaan kelompok,
yaitu ruang elektif kelas 2 dan kelas 3 (kamar no. 1-9). Penerimaan pasien baru dilaksanakan

oleh PP setelah diberi infomasi oleh kepala ruangan, PP bekerjasama dengan PA untuk
melakukan pemeriksaan fisik pada pasien (TTV). Kepala ruangan, PP dan PA kemudian menuju
ke kamar pasien dan memperkenalkan diri. PP memberikan penjelasan tentang:
a. Perkenalan kepala ruangan, perawat primer (yang bertanggung jawab), dan perawat
associate.
b. Letak ruang kepala ruangan, nurse station, dokter, kamar mandi/WC, mushola pasien,
tempat menjemur pakaian, depo farmasi dan ruang administrasi.
c. Jam berkunjung : Senin s/d minggu pukul 16.00-17.00 WIB
Minggu dan hari libur pukul 10.30 11.30 WIB
d. Peraturan atau tata tertib pasien dan penunggu pasien di ruangan
e. Persyaratan menunggu apabila diperlukan : penunggu adalah keluarga yang terdekat dan
masing-masing pasien hanya boleh satu penunggu.
f. Prosedur di ruangan yang perlu diketahui :

Sentralisasi obat

Tata tertib ruangan, dokter dan tenaga non keperawatan yang ada di ruangan.

Tunjukkan peralatan yang ada dan operasional pemakaian alat yang dapat digunakan
pasien (tempat tidur, lampu, kipas angin, almari)

C. Hambatan
Pasien baru bisa datang pada pagi dan sore hari. Pada saat dinas sore, jumlah mahasiswa
hanya berjumlah 2 orang terdiri dari 1 PP dan 1 PA. Sehingga saat ada pasien baru, yang
melakukan prosedur penerimaan pasien baru terkadang hanya PP tanpa didampingi PA.
D. Dukungan
Perawat ruangan Bedah Aster segera memberikan informasi saat akan ada pasien baru.
Selain itu, pasien baru belum tentu datang saat itu juga. Biasanya keluarga yang terlebih dahulu

mendaftar ke ruang administrasi. Sehingga ada persiapan dari PP dan PA dalam mempersiapkan
segala format yang dibutuuhkan dalam penerimaan pasien baru.

BAB 5
EVALUASI

5.1 Penataan Ketenagaan Keperawatan


a. Evaluasi struktur penataan ketenagaan keperawatan
Dalam penataan ketenagaan kelompok mempersiapkan catatan harian yang di isi oleh
kepala ruangan yang berisi tentang jumlah penderita hari ini, tingkat ketergantungan pasien,
konsep penghitungan kebutuhan tenaga perawat hari itu pada Ruang Bedah Aster secara
keseluruhan dan pada pasien kelolaan.
b. Evaluasi proses penataan ketenagaan keperawatan
Pada pelaksanaan penataan ketenagaan, kelompok tidak mengalami hambatan yang
berarti karena semua format sudah dipersiapkan sebelum pelaksanaannya dan adanya acuan
untuk penghitungan tenaga.
c. Evaluasi hasil penataan ketenagaan keperawatan
Kebutuhan tenaga rata-rata per hari selama pelaksanaan praktik manajemen
keperawatan telah dapat terpenuhi sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien.

5.2 Sistem MPKP


a. Evaluasi struktur sistem MPKP
Dalam penerapan MPKP telah terbentuk struktur organisasi kelompok, Gannt Chart
kegiatan, jadwal dinas dan daftar peran, daftar uraian tugas kepala ruangan (KARU),
perawat primer (PP), perawat asociate (PA) serta mekanisme/ alur kegiatan MPKP.
Dari setiap kegiatan tersebut telah ditentukan penanggung jawab yang bertangung
jawab dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, mulai dari tahap persiapan serta melakukan
evaluasi atas kegiatan tersebut.

b. Evaluasi Proses Sistem MPKP


Selama proses pelaksanaan sistem MPKP, setiap mahasiswa telah menjalankan
tugasnya sesuai peran masing-masing seperti pada petunjuk uraian tugas dan jadwal dinas
serta peran yang ada. Namun ada beberapa hambatan yang mengakibatkan peran yang
dijalankan tidak maksimal. Adanya pergantian peran setiap 1-2 hari pada mahasiswa
menyebabkan kurang maksimalnya peran yang dilakukan oleh mahasiswa dalam
memberikan asuhan keperawatan.

c. Evaluasi Hasil Sistem MPKP


Pelaksanaan MPKP pada pasien di Ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo sudah
dilaksanakan sesuai dengan peran masing-masing. Hal ini tidak lepas dari dukungan
perawat di ruangan, bimbingan dari para pembimbing dan supervisor serta adanya
kerjasama dan komunikasi yang baik antar anggota kelompok.

5.3 Ronde Keperawatan


a. Evaluasi struktur
Untuk menunjang terlaksananya ronde keperawatan diperlukan sarana dan prasarana
yaitu antara lain persiapan pasien dengan masalah keperawatan yang belum teratasi, lembar
informed consent, resume keperawatan pasien dan penyusunan tim ronde keperawatan. Tim
ronde keperawatan terdiri dari Kepala ruangan, PP1, PP2, PA1, 2 Perawat konselor, 1
fisioterapis dan 1 Ahli Gizi. Persiapan dilaksanakan 1 minggu sebelum acara dimulai dari
penentuan kasus ronde, pembuatan proposal, undangan, dan berlatih role play sesuai dengan
perannya masing-masing.
b. Evaluasi Proses

Kegiatan ronde keperawatan pada pasien dengan Ca Mammae Sinistra Pro


kemoterapi dengan masalah keperawatan yang perlu dirondekan yaitu kerusakan integritas
kulit, kerusakan mobilitas fisk dan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Ronde
Keperawatan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 14 Mei 2010 dapat berjalan dengan
cukup lancar. Kegiatan ronde keperawatan dilakukan oleh Sholihatul M, S.Kep. (Karu),
Khikmatul Mujizah, S.Kep. (PP1), Yevi Dwi Lestari, S.Kep. (PP2), Catur Puji Lestari,
S.Kep. (PA1), AAA. Raka, Amd.Kep. ( Konselor), Suci Purwati, S. Tp (ahli gizi) dan Kajad,
SST., ft (fisioterapis), sedangkan anggota kelompok yang lain tidak terlibat, melakukan
tugas sesuai perannya dalam MPKP.
Kegiatan ronde keperawatan dimulai dengan pembukaan yang dilakukan oleh kepala
ruangan di Ruang Kepala Ruangan, kemudian PP1 yang bertanggung jawab terhadap pasien
yang dilakukan ronde keperawatan menjelaskan datadata pasien serta masalahmasalah
yang sudah dan belum terselesaikan disertai evaluasi terakhir sebelum ronde, kemudian
ditanggapi oleh PP2, perawat konselor, fisioterapis dan ahli gizi. Setelah itu Kepala ruangan,
PP1, PP2, PA, Konselor, Ahli Gizi dan Fisioterapis ke bed pasien. PP2, Konselor, ahli gizi
dan fisioterapis melakukan validasi data yang telah disampaikan PP1, setelah cukup semua
tim ronde kembali ke Ruang Kepala Ruangan untuk berdiskusi dan membahas permasalahan
yang belum terselesaikan dan langsung dilakukan tindak lanjut.
c. Evaluasi hasil
1. Kegiatan dihadiri undangan sebanyak 2 orang supervisor, 1 orang

pembimbing

pendidikan, 1 orang pembimbing ruangan, 1 orang perawat konselor , 1 orang ahli gizi
RSUD Dr Soetomo Surabaya dan 1 orang fisioterapis RSUD Dr Soetomo Surabaya.
2. Dari hasil ronde keperawatan dapat disimpulkan intervensi untuk klien adalah :
a) Dari perawat konselor Bedah Aster memberikan saran :

Pada lukadi

mammae sebelum ditutup kasa sebaiknya dikasih

supratule supaya tidak bleeding


-

Pada luka di ketiak sebaiknya dirawat dengan menggunakan spuit


yang ada NaCl nya dan ditutup dengan kasa basah

Prinsip merawat luka adalah lembab.

Kolaborasi untuk dilakukan kultur luka dulu baru usul untuk


dilakukan skin graft.

Kolaborasi koreksi elektrolit

b) Dari fisioterapis memberikan saran :


-

Lakukan mobilisasi supaya tidak terjadi kontraktur yang berlebihan


minimal 5 10 kali per hari

Memberikan elastis bandage untuk mencegah edema

Observasi ekstremitas lain.

c) Dari ahli gizi memberikan saran :


-

Kolaborasi dengan dokter untuk penggantian cairan sesuai dengan


kebutuhan kalorinya (D5).

d) Dari PP2 memberikan saran :


-

Berikan metronidazole dan nebacytin

melakukan perawatan luka 2-3 hari sekali.

3.

Kegiatan berjalan dengan cukup lancar, dan tujuan mahasiswa dapat tercapai.

4.

Acara dimulai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

5.

Mahasiswa bekerja sesuai dengan peran masing-masing.

5.4 Discharge Planning


a. Evaluasi Struktur Discharge Planning

Proses discharge planning dapat berjalan dengan baik dengan tersedianya format
discharge planning, resume keperawatan, kartu discharge planning, leaflet. Pengisian
resume keperawatan, discharge planning dan kartu rencana pulang, penjelasan leaflet
dilakukan oleh PP, sedangkan kartu discharge planning diberikan pada pasien saat pulang
disesuaikan dengan kondisi pasien saat pulang.
b. Evaluasi Proses Discharge Planning
Pelaksanaan discharge planning melibatkan PP, PA, Karu dan pasien serta keluarga.
Discharge planning dilakukan mahasiswa setiap ada pasien masuk (PPB), selama, dan saat
pasien pulang atau direncanakan pulang, dengan memberikan leaflet, kartu dan format
discharge planning, pendidikan kesehatan dan buku tanda tangan discharge planning.
Discharge Planning dilakukan oleh PP, dengan memulai penjelasan tentang tempat dan
tanggal kontrol, diet, obat, aktivitas dan istirahat serta hal-hal yang harus diperhatikan
selama di rumah dengan dibantu oleh PA.
c. Evaluasi Hasil Discharge Planning
Pada pelaksanaannya, terdapat kartu Discharge Planning yang berguna bagi pasien
dan keluarga untuk mengingat apa saja yang sudah dijelaskan oleh PP. Informasi yang
disampaikan dapat diterima dan difahami oleh pasien dan keluarga. Dimana pasien dan
keluarga bisa menyebutkan kembali apa saja yang perlu di perhatikan terutama tentang
nutrisi bagi penderita kanker dan apa saja yang boleh di makan oleh pasien, kapan waktu
dan tempat kontrol.

5.5 Supervisi Keperawatan


a. Evaluasi Struktur Supervisi Keperawatan
Untuk pelaksanaan supervisi, kelompok telah melakukan beberapa persiapan yaitu persiapan
instrumen penilaian supervisi, format pendokumentasian hasil supervisi, jenis kegiatan yang

akan disupervisi, menetapkan supervisor, pembagian peran sebagai Karu, PP dan PA mekanisme
yang harus dilakukan saat supervisi, serta melakukan evaluasi kegiatan saat itu. Pasien yang
dilakukan perlakuan adalah pasien Ruang Elektif Kelas III di Ruang Bedah A yang mendapat
rawat luka pada tanggal 03 Mei 2010 dan 15 Mei 2009 jam 09.00 WIB.
b. Evaluasi Proses Supervisi Keperawatan
Supervisi keperawatan yang pertama dilaksanakan hari Senin tanggal 03 Mei 2010 jam
09.00 WIB dengan fokus kegiatan memberikan rawat luka pada Ny Saamah dengan diagnosa
medis Ca mammae sinistra. Kegiatan supervisi dilaksanakan oleh supervisor (Galia Wardha A,
S.Kep sebagai Karu) terhadap PP (Catur Puji L, S.Kep), dan dibantu PA (Putri Pandu Pertiwi,
S.Kep). Masing-masing telah melaksanakan tugas sesuai dengan perannya. Supervisi yang
kedua dilaksanakan hari Sabtu Mei 2010 jam 09.00 WIB dengan fokus sebagai tindak lanjut
supervisi yang pertama yaitu memberikan rawat luka pada Ny. Saamah. Kegiatan supervisi
dilaksanakan oleh kepala ruangan kepada PP, dan dibantu PA
c.

Evaluasi Hasil Supervisi Keperawatan.


1. Selama kegiatan, masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugas dan peran masingmasing.
2. Acara dimulai sesuai dengan jadwal dan rencana
3. Terdapat peningkatan nilai hasil supervisi dari supervisi yang pertama dengan supervisi
yang kedua
4. Kegiatan berjalan lancar dan tujuan mahasiswa tercapai dengan baik.

5.6 Dokumentasi Keperawatan


a. Evaluasi struktur
Sistem pendokumentasian dapat berjalan baik dengan tersedianya format askep
antara lain lembar serah terima pasien baru, lembar format pengkajian menggunakan ROS

(Review Of Siystem) dan lembar pemeriksaan patologi, surat persetujuan sentralisasi


obat,lembar persetujuan tindakan medis, lembar isnstruksi dokter dan jenis tindakan,
lembar catatan keperawatan model PIE modifikasi, lembar konsultasi, lembar
observasi/redblue, lembar pemberian obat, lembar pemberian obat khusus, lembar daftar
alat kesehatan, lembar serah terima obat, lembar discharge planning, lembar resume
keperawatan, lembar serah terima pasien pindah ruangan, lembar observasi infeksi luka
operasi (ILO) dan phlebitis.
b. Evaluasi proses
Pelaksanaan proses pendokumentasian menggunakan model PIE modifikasi yang
melibatkan seluruh perawat baik PP maupun PA. PP melakukan pengkajian, menentukan
problem, dan intervensi sesuai SAK. PP mendelegasikan implementasi kepada PA. PP
mempunyai tugas melakukan evaluasi keadaan pasien sesuai intervensi yang telah dilakukan
tiap shift.
c. Evaluasi hasil
Dokumentasi keperawatan dapat berjalan dengan lancar. Hal ini didukung oleh
kelengkapan format dokumentasi, job description yang jelas antara PP dan PA, serta
kemampuan kelompok dalam menguasai kasus dan melakukan dokumentasi askep.
5.7 Sentralisasi Obat Model ODD Modifikasi UDD
a. Evaluasi Struktur Sentralisasi Obat Model ODD
Sebelum pelaksanaan sentralisasi obat model ODD dilakukan pengisian informed
consent. Yang bertanggung jawab dalam sentralisasi obat model ODD adalah kepala
ruangan, dan didelegasikan kepada PP yang bertugas setiap shif, selanjutnya pemberian obat
kepada pasien didelegasikan kepada PA.
b. Evaluasi Proses Sentralisasi Obat

Pelaksanaan sentralisasi obat selama praktik managemen melibatkan Karu, PP, PA


dan petugas depo farmasi. Model yang diterapkan adalah ODD (One day dose) modifikasi
UDD, dimana obat dikelola oleh farmasi yang kemudian diserahkan ke perawat dalam
bentuk 1 kali pemberian untuk di berikan kepada pasien. Adapun kegiatannya adalah
penjelasan tentang sentralisasi obat, cara dan tempat penyimpanan, penandatanganan
informed consent tentang sentralisasi obat, serah terima obat dari farmasi kepada perawat,
pemberian obat oleh perawat kepada pasien sesuai jadwal serta pendokumentasiannya selalu
dilakukan setiap hari.
c. Evaluasi Hasil Sentralisasi Obat

Terdapat informed consent sentralisasi obat.

Perawat mampu melaksanakan sentralisasi obat sesuai mekanisme yang ada dan
perawat mampu mengelola obat dengan prinsip 6 T + 1 W.

Mendokumentasikan hasil sentralisasi obat.

Sentralisasi obat dapat berjalan lancar, hal ini ditandai dengan respon pasien dan keluarga
yang merasa senang karena mendapat penjelasan tentang obat yang akan diberikan serta
pemakaian obat dapat terkontrol dengan baik.

5.8 Timbang Terima


a. Evaluasi Struktur Timbang Terima
Pada kegiatan timbang terima masing-masing mahasiswa telah melakasanakan tugas
sesuai dengan peran masing-masing yang telah ditentukan.
Pada timbang terima sarana dan prasana yang menunjang telah tersedia antara lain:
status pasien dan lembar timbang terima. Kelompok shift timbang terima sesuai dengan jaga
shift antara shift pagi ke shift siang, shift siang ke shift malam dan antara shift malam ke

shift pagi. Kepala ruangan memimpin kegiatan timbang terima yang dilaksanakan pada
pergantian shift malam ke shift pagi dan antara shift pagi ke shift siang.
b. Evaluasi Proses Timbang Terima Keperawatan
Pada proses pelaksanaan timbang terima telah sesuai dengan teori dan konsep.
Kepala Ruang membuka dalam pelaksanaan timbang terima, PP1 dan PP2dibantu oleh PA1
dan PA2 melaporkan tentang keadaan pasien kelolaan, sedangkan PP dan PA shift
selanjutnya melakukan menvalidasi dan mengklarifikasi dari laporan PP1 dan PP2.
c. Evaluasi Hasil Timbang Terima Keperawatan
Evaluasi dari supervisor adalah secara proses timbang terima yang telah dilakukan
sudah sangat baik. Dalam timbang terima telah dijelaskan nomor tempat tidur, identitas
pasien (nama dan usia klien), diagnosa medis, masalah keperawatan pasien, intervensi yang
sudah dan belum dilaksanakan, dan pesan khusus, perawat shift selanjutnya diharapkan
lebih aktif saat dilakukan validasi data kepada pasien. Pelaksanaan timbang terima telah
dilaksanakan pada setiap pergantian shift dengan baik, hal ini tidak lepas dari kerjasama
yang baik antar mahasiswa dengan perawat Bedah Aster RSU Dr. Soetomo dan bimbingan
dari para pembimbing.

5.9 Penerimaan Pasien Baru


a. Evaluasi struktur
Penerimaan pasien baru dilakukan oleh Karu, PP dan PA. Persiapan yang harus ada
selama penerimaan pasian baru antara lain lembar penerimaan pasien baru, lembar
pengkajian, inform consent pelaksanaan sentralisasi obat, lembar tata tertib, dan kuesioner
penerimaan pasien baru.
b. Evaluasi proses

Kegiatan penerimaan pasien baru dilaksanakan setiap ada pasien yang baru masuk ke
ruang Bedah Sater dan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Sebelum dilakukan penerimaan
pasien baru, KARU memberitahu PP

bahwa akan ada pasien baru. PP menyiapkan hal-hal

yang diperlukan dalam penerimaan pasien baru, diantaranya lembar pasien masuk RS, lembar
pengkajian, lembar informed consent, status pasien, nursing kit, lembar tata-tertib pasien,
lembar kepuasan pasien. PP meminta bantuan PA untuk mempersiapkan tempat tidur pasien
baru. KARU menanyakan kembali pada PP tentang kelengkapan untuk penerimaan pasien baru
dan memeriksa kelengkapan dokumen yang telah disiapkan. PP menyebutkan hal-hal yang
telah dipersiapkan. KARU dan PP menyambut pasien dan keluarga dengan memberi salam
serta memperkenalkan diri, PP, dan PA pada klien/keluarga. PP mengisi lembar pasien masuk
serta menjelaskan mengenai beberapa hal yang tercantum dalam lembar penerimaan pasien
baru. PP menjelaskan tentang penyakit yang diderita pasien, terapi yang akan dijalani,
menjelaskan dokter yang menangani pasien dan jadwal visite, menjelaskan fasilitas yang ada,
aturan yang ada di rumah sakit. Mengorientasikan pasien pada ruangan/lingkungan rumah
sakit. PP dibantu PA untuk melakukan pengkajian keperawatan dan pemeriksaan fisik pada
klien. PP menanyakan kembali pada pasien dan keluarga mengenai hal-hal yang belum
dimengerti. PP, pasien

dan keluarga

menandatangani lembar penerimaan pasien baru.

KARU,PP dan PA kembali ke Nurse Station. KARU memeriksa kembali kelengkapan


pengisian dokumen penerimaan pasien baru. KARU memberikan reward pada PP dan PA. PP
merencanakan intervensi keperawatan.
c. Evaluasi hasil
a.

Selama penerimaan pasien baru di ruang Bedah Aster, masing-masing mahasiswa

bekerja sesuai dengan peran masing-masing.


b.

Kegiatan berjalan lancar dan setiap pasien telah diterima dengan baik

5.10 Evaluasi Kasus Pasien Kelolaan

Gambar 5.1 Diagram batang Kasus Pasien Kelolaan di Ruang Elektif Bedah Aster RSUD Dr.
Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.
Berdasarkan pada diagram diatas dapat diketahui bahwa dari 28 pasien yang dirawat di
Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 22 April
sampai 15 Mei 2010, sebanyak 13 pasien dirawat dengan kasus bedah onkologi, 5 pasien dirawat
dengan kasus bedah kepala leher, 5 pasien yang dirawat dengan kasus digestif dan 5 pasien kasus
urologi.
5.11

Evaluasi Indikator Klinik Penilaian Mutu Pelayanan Keperawatan

5.11.1 Angka Kejadian Dekubitus

Gambar 5.2 Diagram batang Angka Kejadian Dekubitus di Ruang Elektif Bedah Aster RSUD
Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan diagram diatas dapat diketahui bahwa dari 29 pasien yang beresiko dekubitus,
tidak ditemukan pasien yang mengalami dekubitus di Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei 2009.
5.11.2 Angka Kejadian Kesalahan Pemberian Obat

Gambar 5.3 Diagram batang Angka Kejadian Kesalahan Pemberian Obat di Ruang Elektif
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan diagram di atas dapat diketahui bahwa angka kejadian kesalahan pemberian
obat dari 29 pasien terdapat 2 kali kesalahan yaitu satu kali kesalahan waktu pemberian dan satu
kali kesalahan dosis pemberian di Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo
Surabaya pada tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei 2009.

5.11.3 Angka Kejadian Pasien Jatuh

Gambar 5.4 Diagram batang angka kejadian pasien jatuh pada pasien kelolaan di Ruang Elektif
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Diagram batang diatas menunjukkan pasien yang dirawat mahasiswa di ruang Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo selama periode 22 April s/d 15 Mei, sebanyak 29 pasien beresiko untuk jatuh
dan tidak ada kejadian pasien jatuh selama perawatan. ( Data catatan harian kepala ruangan pasien
selama dirawat di ruang elektif bedah Aster tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010).
Angka kejadian pasien jatuh dinilai berdasarkan pengamatan kepala ruangan setiap hari
terhadap kejadian pasien jatuh dan pasien yang beresiko jatuh selama dalam masa perawatan.
Kejadian pasien jatuh tidak terjadi karena sebagian besar pasien kelolaan mahasiswa merupakan
pasien dengan minimal care dan parsial care, sedangkan untuk pasien dengan total care kejadian
pasien jatuh dapat dicegah dengan menggunakan tempat tidur berpenghalang atau dengan
meningkatkan pengawasan keluarga terhadap pasien.

5.11.4 Angka Kejadian Cidera Akibat Restrain

Gambar 5.5 Diagram batang Angka Kejadian Cidera Akibat Restrain di Ruang Elektif Bedah
Aster RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan diagram diatas dapat diketahui bahwa tidak ditemukan pasien yang terpasang
restrain maupun mengalami cidera akibat restrain di Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei 2009.

5.11.5 Angka Kejadian Phlebitis

Gambar 5.6 Diagram batang Angka Kejadian Plebitis di Ruang Elektif Bedah Aster RSUD Dr.
Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan pada diagram diatas dapat diketahui bahwa dari 18 pasien yang dirawat dengan
menggunakan infus di Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya
pada tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei 2009, sebanyak 4 pasien mengalami plebitis dan 14
pasien lainnya tidak mengalami plebitis selama perawatan.

5.11.6 Angka Keterbatasan Perawatan Diri

Gambar 5.7 Diagram Batang Klasifikasi Ketergantungan Pasien di Ruang Elektif Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo tanggal tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan diagram diatas dapat diketahui bahwa dari total pasien kelolaan di Ruang
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo yang mengalami ketergantungan minimal (minimal care) pada
tanggal 22 April sampai 15 Mei 2010 sebanyak 100 pasien, ketergantungan partial (partial care)
sebanyak 56 pasien, ketergantungan total (total care) sebanyak 25 pasien.

Gambar 5.8 Diagram Batang Tidak terpenuhinya kebutuhan perawatan diri di Ruang Elektif
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo tanggal tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010

Berdasarkan diagram diatas dapat diketahui bahwa dari total pasien kelolaan di Ruang
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo yang tidak terpenuhi kebutuhan perawatan diri pada tanggal 22
April sampai 15 Mei 2010 sebanyak 1 pasien. Sedangkan untuk kebutuhan berpakaian dan eliminasi
telah terpenuhi pada semua pasien.

5.11.7 Angka Kepuasan


Tingkat keberhasilan pelaksanaan penerapan metode MPKP Primer di ruang Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo diketahui dari hasil kuesioner tingkat kepuasan pasien (Lampiran) selama
dilakukan praktik profesi manajemen keperawatan.
Kriteria pasien yang diberikan kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Lama perawatan lebih dari 24 jam
2. Pasien yang dirawat tanggal 22 April s/d 15 Mei 2009

Pelaksanaan evaluasi yang kami lakukan dengan mempersiapkan kuesioner yang berisi 20
soal pertanyaan berbentuk pilihan dengan rentang ya bernilai 3, kadang-kadang bernilai 2, dan tidak
bernilai 1.
Kuesioner diberikan ketika pasien akan pulang. Setelah pasien mengisi kuesioner
kemudian dilakukan penghitunganan sesuai dengan nilai skor jawaban yang diberikan oleh pasien.
Kemudian nilai skor tersebut dijumlahkan dan hasilnya dijadikan patokan untuk menentukan
kategori kepuasan pasien. Kategori kepuasan pasien terdiri dari kategori puas dengan persentase
>75%, kurang puas dengan persentase 56-74,5%, dan kategori tidak puas dengan persentase <56%.
Dari pengkajian awal sebelum dilakukan praktik manajemen, kami menyebar kuesioner
yang sama tanggal 19-20 April 2010, di dapatkan gambaran sebagai berikut:

Gambar 5.9 Diagram batang tingkat kepuasan pasien Pengkajian di Ruang Elektif Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo tanggal 20-21 April 2009.

Jumlah pasien yang kami rawat dari tanggal 22 April sampai 15 Mei 2010 sebanyak 28
pasien, dengan jumlah pasien pulang sebanyak 19 orang. Jadi ada 10 responden yang mengisi
kuesioner tingkat kepuasan pasien, dengan gambaran hasil sebagai berikut:

Gambar 5.10 Diagram batang tingkat kepuasan pasien di Ruang Elektif Bedah Aster RSUD Dr.
Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan pada diagram batang diatas menunjukkan pasien yang dirawat mahasiswa di
ruang Bedah A RSUD Dr. Soetomo sebanyak 10 responden (100 %) menyatakan puas terhadap
pelayanan yang telah diberikan selama pasien dirawat di ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo
Surabaya (kuesioner tingkat kepuasan diberikan pada tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei
2010).
Tingkat kepuasan pasien tidak hanya dinilai dari pertanyaan pilihan tapi juga dari jawaban
pertanyaan wawancara saat klien akan pulang. Setiap pasein akan pulang mahasiswa selalu
menanyakan, Bagaimana komentar tentang pelayanan kami?. Semua pasien mengatakan lebih
diperhatikan dan lebih dilayani. Dengan adanya pernyataan tersebut, menunjukkan bahwa pasien
puas dengan pelayanan yang diberikan oleh mahasiswa setelah penerapan MPKP primer.

5.11.8 Angka Kejadian Cemas

Gambar 5.11 Diagram batang Angka Kejadian Cemas di Ruang Elektif Bedah Aster RSUD Dr.
Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan pada diagram diatas dapat diketahui bahwa terdapat 12 pasien mengalami
cemas dan pasien yang tidak mengalami cemas sebanyak 170 orang pasien yang dirawat di
Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 22 April
sampai dengan 15 Mei 2010, dari total jumlah pasien selama 24 hari perawatan.

5.11.9 Angka Kenyamanan

Gambar 5.12 Diagram batang Angka Kejadian Kenyamanan di Ruang Elektif Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan pada diagram diatas dapat diketahui bahwa terdapat 42 pasien mengalami
cemas dan pasien yang tidak mengalami cemas sebanyak 170 orang pasien yang dirawat di Ruang
elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 22 April sampai
dengan 15 Mei 2010, dari total jumlah pasien selama 24 hari perawatan.

5.11.10 Angka Tatalaksana Nyeri

Gambar 5.13 Diagram batang Angka pengukuran angka tata laksana nyeri di Ruang Elektif
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan pada diagram diatas dapat diketahui bahwa terdapat jumlah total 43 jumlah
tindakan keperawatan sebagai respon nyeri sedangkan sebanyak 41 pasien dengan skla nyeri
4 dirawat di Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada
tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei 2010, dari total jumlah pasien selama 24 hari perawatan.

5.11.11 Angka Kurang Pengetahuan

Gambar 5.14 Diagram batang angka pengetahuan klien kelolaan di Ruang Bedah Aster RSUD
Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Diagram batang diatas menunjukkan pasien yang dirawat mahasiswa di ruang Bedah Aster
RSUD Dr. Soetomo selama periode 22 April s/d 15 Mei sebanyak 182 pasien, sebanyak 15 pasien
mempunyai pengetahuan yang kurang tentang penyakit dan perawatan dan 167 pasien tahu tentang
penyakit dan perawatannya selama di rumah sakit. (Data pengkajian pasien selama dirawat di ruang
elektif bedah Aster tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010).
Angka pengetahuan pasien dinilai berdasarkan pengkajian terhadap pasien selama dirawat
di ruang bedah elektif pasien kelolaan mahasiswa. Pada awal MRS terdapat beberapa pasien yang
kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya, setelah diberikan intervensi keperawatan
berupa health education tentang penyakit dan perawatanya pasien mempunyai pengetahuan yang
cukup tentang penyakit yang di derita dan perawatannya

5.12 Evaluasi Angka Kejadian ILO (Infeksi Luka Operasi)

Gambar 5.15 Diagram batang Angka Kejadian Infeksi Luka Operasi (ILO) di Ruang Elektif
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 April s/d 15 Mei 2010.

Berdasarkan pada diagram diatas dapat diketahui bahwa dari 10 pasien yang dirawat dengan
luka post operasi di Ruang elektif kelas II dan III Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada
tanggal 22 April sampai dengan 15 Mei 2009, tidak ditemukan pasien yang mengalami infeksi pada
luka post operasi.

BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan
1. Selama praktik manajemen di Ruang Elektif Bedah Aster, mahasiswa menggunakan MPKP
Primer sedangkan di ruangan menggunakan MPKP moduler. Setelah praktik manajemen
berakhir di dapatkan hasil kepuasan pasien yang meningkat. Saat dilakukan pengkajian
kepuasan pasien di awal praktik, dari 6 orang pasien, di dapatkan 5 orang mengatakan puas
dan 1 orang mengatakan kurang puas. Setelah dikelola oleh mahasiswa, dari 10 orang pasien
didapatkan 10 orang tersebut mengatakan puas.
2. Berdasarkan perhitungan ketenagaan mahasiswa, jumlah tenaga yang bertugas di Ruang
Elektif I Bedah Aster dalam sehari pada shift pagi, siang dan malam mulai tgl 3-16 Mei
2010: shift pagi 3 orang, shift sore 2 orang, shift malam 2 orang, libur 2 orang, kepala
ruangan 1 orang. Jumlah total perawat 8 orang dengan rata-rata jumlah pasien 7 orang setiap
harinya. Rata-rata pasien dengan ketergantungan minimal adalah 4 orang, rata-rata pasien
dengan ketergantungan parsial 2 orang dan rata-rata pasien dengan ketergantungan total 2
orang.
3. Ronde keperawatan sudah dilaksanakan mahasiswa dengan lancar. Selama proses
pelaksanaan inti dari ronde keperawatan sudah berjalan, seperti adanya proses menganalisa
data sampai pemecahan masalah keperawatan klien yang belum terselesaikan. Sedangkan di
ruangan belum dilaksanakan ronde keperawatan yang terstruktur.
4. Discharge planning dilakukan mahasiswa setiap ada pasien masuk (PPB), selama, dan saat
pasien pulang atau direncanakan pulang, dengan memberikan leaflet, kartu dan format
discharge planning, pendidikan kesehatan dan buku tanda tangan discharge planning. Di

ruang Bedah Aster, sudah dilakukan penerimaan pasien baru juga pelaksanaan pasien pulang
dengan memberikan kartu discharge planning pada pasien. Tetapi, karena kurangnya
ketenagaan terkadang menjadi kendala terutama pada shift sore dan malam.
5. Supervisi yang dilaksanakan mahasiswa dilakukan secara informal maupun secara formal.
Supervisi secara informal dilakukan saat terdapat situasi yang membutuhkan adanya
pembinaan atau perbaikan (misalnya rawat luka), supervisi secara formal dilakukan pada
tanggal 03 Mei 2010 saat ada role play, supervisi informal dilakukan pada tanggal 15 Mei
2010. Di ruangan lebih sering dilaksanakan supervisi secara informal.
6. Dokumentasi

asuhan

keperawatan

bertujuan

untuk

komunikasi,

mekanisme

pertanggungjawaban, metode pengumpulan data, sarana pelayanan keperawatan secara


individu, sarana untuk evaluasi, sarana untuk meningkatkan kerjasama antar disiplin dalam
tim kesehatan, sarana pendidikan lanjutan, dan memantau kualitas asuhan keperawatan yang
diterima dan kompetensi yang berhubungan untuk asuhan keperawatan.
7. Pengelolahan obat di ruang bedah Aster selama praktik managemen sudah berjalan dengan
baik, model yang diterapkan adalah ODD (One day dose) modifikasi UDD, dimana obat
dikelola oleh farmasi yang kemudian diserahkan ke perawat dalam bentuk 1 kali pemberian
untuk di berikan kepada pasien. Sedangkan di ruangan, sudah terlaksana sentralisasi obat
dengan baik, hanya belum terdokumentasikan dengan baik.
8. Timbang terima dilaksanakan oleh mahasiswa setiap hari sesuai dengan pergantian shift,
sedangkan untuk di ruangan pelaksanaan timbang terima hanya dilaksanakan saat shift pagi
dan shift sore. Timbang terima di ruangan pada hari sabtu dan minggu dilaksanakan hanya
antara perawat primer yang bertugas.
9. Penerimaan Pasien baru dilaksanakan mahasiswa dengan baik sesuai dengan format dan
tahapan yang ada dalam penerimaan pasien baru. Selama ini penerimaan pasien baru di
ruangan juga terlaksana dengan baik.

6.2 Saran
1. Penerapan MPKP moduler yang diterapkan di Ruang Bedah Aster perlu dimaksimalkan.
Untuk itu perlu ditingkatkan pendidikan atau pelatihan tenaga keperawatan yang telah ada di
ruang Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
2. Penerapan ronde keperawatan di ruang bedah Aster perlu didokumentasikan didalam status
pasien sebagai bukti peran aktif perawat dalam menyelesaikan masalah kesehatan pasien dan
dalam pelaksanaan bisa melibatkan mahasiswa sebagai proses pembelajaran.
3. Pelaksanaan discharge planning perlu dilaksanakan mulai pasien datang sampai pasien
direncanakan untuk pulang

dan dilakukan oleh perawat primer dengan dilengkapi

dokumentasi, pemberian leaflet dan kartu discharge planning. Apabila memungkinkan,


penjelasan pendidikan kesehatan bisa dilengkapi dengan alat peraga, seperti food model,
manekin (phantom) rawat luka, dll
4. Untuk Karu diharapkan selalu melaksanakan Supervisi pada PP maupun PA dalam
pelaksanaan tugas di ruang bedah Aster dengan lengkap sesuai dengan yang tercantum pada
lembar alur supervisi.
5. Dokumentasi

sebagai

media

yang

penting

dalam

pertanggungjawaban

dan

pertanggunggugatan dalam pelayanan keperawatan, oleh karena itu sebagai tenaga medis
(perawat, dokter, ahli gizi) diharapkan menuliskan secara lengkap dan akurat setiap kegiatan
yang dilakukan kepada klien dan menuliskan respon klien.
6. Sentralisasi obat :
1. Pada pelaksanaan sentralisasi obat, perawat harus memastikan bahwa obatnya
diminum oleh pasien.

2. Saat pelaksanaan pemberian obat sebaiknya dilakukan secara tepat dan benar sesuai
dengan Prinsip 6 T + 1 W (tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu, tepat
cara pemberian, tepat dokumentasi dan waspada efek samping obat).
3. Apabila obat hampir habis, perawat hendaknya segera memintakan resep baru
kepada dokter agar pengobatan pasien tidak terhenti karena obatnya habis.
4. Dalam pelaksanaan sentralisasi obat, hendaknya disesuaikan dengan alur yang ada.
7. Pelaksanaan timbang terima perlu dioptimalkan terutama dari perawat shift sore kepada
perawat shift malam serta timbang terima yang dilakukan pada semua shift di hari-hari libur.
8. Penerimaan pasien baru hendaknya selalu dilaksanakan pada pasien yang baru datang oleh
PP dan PA dengan segala persiapan yang dibutuhkan dalam penerimaan pasien baru.