Anda di halaman 1dari 84

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kesehatan adalah penting bagi manusia setelah keimanan. Tanpa
Kesehatan, aktivitas tidak bisa dijalankan dengan sempurna. Berada dalam
kondisi sehat adalah rahmat yang patut disyukuri dan patut untu dipelihara.
Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak, tidak hanya
perorangan, tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Sehat
adalah suatu keadaan sejahtera sempurna fisik, mental, dan sosial yang
memungkinkan seseorang hidup produktif secara sosial dan ekonomi yang
tidak hanya terbatas pada bebas dari penyakit atau kelemahan saja UU N0.
23/1992 tentang kesehatan. (WHO, 1947 dan UU Pokok Kesehatan No. 23
tahun 1992). Dimana penyakit merupakan suatu keadaan adanya gangguan
terhadap bentuk dan fungsi tubuh sehingga berada dalam keadaan yang
tidak normal. Makanan memang sumber energi manusia, namun makanan
yang tidak seimbang dapat menyebabkan penyakit. Salah satu penyakit
tersebut adalah diabetes mellitus.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit
metabolisme

yang disebabkan

kronis ganguaan

oleh ketidakmampuan

tubuh untuk

meproduksi hormon insulin pada kelenjar pankreas, yang diakibatkan


kurang aktifnya enzim glukokinase pada metabolisme glikolisis. (Susilo
Yektri, 2011 : 24; Kopon, M.A, 2013:9).
faktor utamanya penyebab penyakit diabetes melitus yaitu pola makan
yang tidak sehat, mengandung tinggi gula yang menyebabkan kegemukan
dan didukung kurangnya aktivitas kerja fisik atau olahraga kurang sehingga

proses metabolisme glikoslis terhambat yang mengakibatkan penumpukan


gula darah normal
Berikut Patokan nilai kriteria kadar gula darah normal, pradiabetes dan
diabetes sebagai berikut :
Tabel 1.1 Kriteria kadar gula darah
Metode

Gula Darah

Pradiabetes

Diabetes

Pengukuran
Gula Darah Puasa

Normal
< 110 mg/dL

126 mg/dL

>126 mg/dL

(GDP)
Gula Darah 2 jam

<140 mg/dL

200 mg/dL

>200 mg/dL

Setelah Makan
(2-h Glucose)
(Sola, M.W.A, 2014:2)

Faktor penyebab lain terjadinya penyakit gula darah antara lain


terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat menyebabkan terjadinya
perubahan pola makan instant, serta kurang adanya olahraga atau kerja fisik
sehingga memicu terhambatnya proses metabolisme dalam tubuh terutama
metabolisme glikolisis terhambat mengakibatkan penumpukan gula darah
normal.
Berdasarkan data Diabetes Atlas IDF terbaru, menunjukan 285 juta
orang yang menderita diabetes yang ternyata lebih banyak kaum muda . pada
data tersebut Indonesia menduduki peringkat sepuluh dengan 7,6 juta dengan
india menempati peringkat pertama, kedua cina dan As ketiga. Ini berarti

bahwa 6 dari 100 penduduk indonesia menderita penyaki Diabetes Melitus


Kondisi itu bisa terus meningkat dan diperkirakan menjadi dua kali lipat pada
tahun 2030 (Susilo Yektri, 2011). Sekitar 12 20% penduduk dunia
diperkirakan mengidap penyakit ini. Setiap 10 detik 1 orang di dunia
meninggal akibat komplikasi yang ditimbulkannya. Diperkirakan, 1 dari 8
orang di Jakarta mengidap diabetes. Tingginya jumlah penderita di daerah
perkotaan antara lain disebabkan gaya hidup (Redaksi Agromedia, 2009 : 12).
Jumlah penderia Diabetes Mellitus di dunia berdasarkan WHO pada
tahun 2000 & proyeksi jumlah penderita Diabetes Mellitus pada tahun 2030,
Indonesia menduduki peringkat ke-4 terbesar dengan pertumbuhan 152% atau
dari 8.426.000 orang pada tahun 2000 menjadi 21.257.000 pada tahun
2030(http.indodibetes.com) . Sementara itu, riset peneletian yang dilakukan
DK pada tahun 2008 mendapakkan hasil 11,4% penduduk indonesia yang
mengalami pradiabetes.
Berikut ini merupakan data penderita penyakit Diabetes Mellitus yang
terdapat pada RS Umum W.Z Johannes dan RS Bhayangkara Kota Kupang :

Tabel 1.2 Data Penyakit Diabetes Mellitus 2013/2014

Sumber: RSUD Prof Dr. W. Z Yohanes Kupang, RS.Bhayangkara,


RSUD Kab.Kupang, Puskesmas Kota Kupang 28/04/2014
Data Tabel 1.2, dapat dibuat diagram batang sebagai berikut:
1600
1400
1200
1000

Jumlah Pasien Penderita Diabetes Mellitus Tahun 2013

800
600
400

Jumlah Pasien Penderita Diabetes Mellitus Tahun 2014

200
0
RSUD Prof Dr. W. Z Yohanes Kupang

RSUD Kab. Kupang

Gambar 1.1 Grafik pasien penyakit Diabetes Mellitus


Berdasarkan data Rumah sakit di atas, pasien penderita penyakit
Diabetes Mellitus di daerah perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan.
Berdasarkan profil statistik Depkes RI 2013:92 di tahun 2011 ada 9,33 %
dan di tahun 2012 ada 21 % pasien yang menderita hiperglikemia atau

Diabetes Mellitus, Sedangkan keluhan kesehatan lainnya seperti hipertensi,


jantung, stroke dan Diabetes Mellitus di tahun 2011 ada sebanyak 45,5 %
kasus penyakit metabolik, di tahun 2012 ada 63,6 % kasus penyakit
metabolik dan di tahun 2013 ada 81,6% kasus penyakit metabolik. Menurut
tipe daerah, persentase di perkotaan relatif lebih tinggi dibandingkan di
pedesaan (Bps:2013). Hal ini dipengaruhi gaya hidup di kota yang tidak
sehat karena hiruk pikuk di perkotaan yang lebih senang dengan pola makan
instant. Namun sesungguhnya banyak penderita gula darah jarang berobat
ke rumah sakit.
Pengobatan penyakit gula darah atau Diabetes Mellitus (DM) dapat
dilakukan dengan obat sintesis antara lain suntikan insulin, golongan
sulfonilurea dan biguanid dengan biaya yang sangat tinggi namun dapat
mengakibatkan efek samping negatif bagi kesehatan (Sutanto, 2013 : 77).
Selain obat sintetik, Alternatif pemanfaatan obat-obatan tradisional dari
tanaman bahan alam dapat dijadikan solusinya. Hal ini beralasan karena
biaya produksi dan pengadaannya cukup terjangkau atau mudah didapatkan,
didukung oleh Indonesia umumya dan NTT khususnya merupakan wilayah
yang kaya tanaman dan bahan alam sebagai sumbangan iklim tropis (Woge,
2012: 1). Dimana Obat herbal dapat dipakai untuk menyembuhkan penyakit
gula darah. Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan
digunakan untuk penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Tanaman
obat mempunyai efek yang mirip dengan struktur kimia obat-obatan
sintetik, sehingga sangat bermanfaat dalam proses pengobatan berbagai
penyakit termasuk penyakit Diabetes Mellitus.

Beberapa jenis tanaman obat

memiliki efek positif terhadap

penanganan diabetes melitus. Salah satu yang sering dikonsumsi yaitu biji
klabet. Biji klabet mempunyai kandungan Alkaloid trigonelina, steroida,
sapogenin, diosgenin, gitogenin, tigogenin, yamogenin, trilin, diosin,
flavonoid vitexin, dan enzim.
Fakta tradisional di masyarakat Manggarai NTT khususnya daerah
Cumbi desa Warlako, biji klabet memiliki khasiat untuk menyembuhkan
penyakit Diabetes Mellitus. Kandungan kimia orthosipon glikosida pada
Kumis Kucing dapat menyembuhkan luka pada penderita diabetes.
Fakta tradisional di Ruteng, Ketelan memiliki khasiat untuk
menyembuhkan penyakit Diabetes Mellitus. Ketelan memiliki kandungan
kimia fenol, alkaloid, triterpenoid, tanin,flavonoid (eupatorin) dan limonen.
Kandungan tanin yang terdapat dalam daun kirinyuh adalah 2,56%.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik dan terdorong untuk
melakukan

penelitian

dengan

judul

AKTIVITAS

EKSTRAK

KOMBINASI BIJI KLABET (Trigonella foenum- graecum L.) DAN


DAUN TEKELAN (Chromolaena odorataL.) TERHADAP PENYAKIT
GULA DARAH (Diabetes Mellitus).

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Komponen kimia apakah yang terkandung dalam ekstrak kombinasi biji
klabet(Trigonella foenum- graecum L.)

dan daun tekelan (Chromolaena

odorataL.) ?
2. Bagaimana sifat fisiko kimia ekstrak kombinasi biji klabet
foenum- graecum L.)

(Trigonella

dan daun tekelan(Choromolaena odorataL) ?


6

3. Bagaimana aktivitas ekstrak kombinasi biji klabet(Trigonella foenumgraecum L.)

dan daun tekelan (Choromolaena odoratal) terhadap pasien

penyakit gula darah


1.3.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengidentifikasi komponen

kelompok

senyawa

kimia

yang

terkandung dalam ekstrak kombinasi biji klabet (Trigonella foenum- graecum


L.) dan daun tekelan (Choromolaena odorataL).
2. Untuk mengetahui sifat fisikokimia dari ekstrak kombinasi biji klabet
(Trigonella foenum- graecum L.) dan daun takelan (Choromonolaena
odorataL) .
3. Untuk mengetahui aktivitas ekstrak kombinasi biji klabet(Trigonella foenumgraecum L.) dan daun takelan(Choromonolaena odorataL) terhadap Pasien
penyakit gula darah
1.4.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan informasi manfaat tanaman biji klabet dan daun tekelan bagi
masyarakat luas.
2. Sebagai salah satu obat alternatif untuk menyembuhkan penyakit gula darah.
1.5. Ruang Lingkup
Penelitian ini dibatasi pada :
1. Sifat fisiko-kimia ekstrak kombinasi biji klabet (Trigonella foenum- graecum
L.) dengan daun tekelan (Choromonolaena odorataL) terhadap penyakit
gula darah.

2. Kandungan kimia ekstrak kombinasi biji klabet (Trigonella foenum- graecum


L.) dengan daun tekelan (Choromonolaena odorataL) terhadap penyakit gula
darah.
3. Aktivitas ekstrak kombinasi biji klabet (Trigonella foenum- graecum L.)
dengan daun tekelan (Choromonolaena odorataL) terhadap pasien penyakit
gula darah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Biji Klabet (Trigonella foenum- graecum L.)

Gambar 2.1 Tumbuhan klabet

( Sertin:2015 )
2.1.1 Penyebaran Tanaman Klabet
(Trigonella foenum- graecum L.) atau dikenal dengan klabettermasuk
tanaman dari

Fabaceae.

Tanaman

ini

merupakan

salah

satu

tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang
cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.
Klabet merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang tumbuh
tegak, tinggi. Tanaman klabet berasal dari wilayah mediterania, India,
kemudian menyebar ke wilayah afrika selatan, India dan Asia. Di India,
varietas kerdil ditanam untuk bumbu dapur, dan yang tumbuh tinggi
digunakan sebagai makanan. Bijinya berwarna kuning dan rasanya pahit.
(Widowati dan dzulkarnain, 1989).
2.1.2 Taksonomi Tanaman Kumis Kucing
Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Dicotyledonae Asterids

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceace

Genus

: Trigonella

Spesies

: T. foenum-graecum

2.1.3

Penamaan
Nama ilmiah : (Trigonella foenum- graecum L.)
Tabel 2.1 Penamaan
No

Klabet di berbagai Negara dan daerah

Daerah/Negara

Nama

.
1.

Indonesia

Klabet,

2.

Inggris

Fe nugreek

4.

India

Methi

5.

Kanada

Mentya

6.

Tamil

Vendayam

10

2.1.4 Morfologi Tanaman Kumis kucing (Orthosiphon aristatus)


a. Akar
bentuk akar tunggal.

Gambar Akar Kumis Kucing


(Sertin: 2014)

b. Batang
Tingginya mencapai 30-60 cm dan Batang bersegi empat agak beralur
berbulu pendek dan tumbuh tegak

Gambar Batang Klabet


(Sertin: 2015)
c. Daun
Daun berbentuk bundar telur terbalik sampai bentuk baja.

11

Gambar Daun klabet


(Sertin: 2015)
d. Bunga
Bunga tunggal atau sepasang, keluar di ketiak daun, mahkota berwarna
kuning terang

Gambar Bunga klabet


(Sertin: 2015)
e. Buah
Buah polong gundul, memanjang atau berbentuk lanset. Buah berisi 10
sampai 20 biji

12

Gambar Buah klabet


(Sertin: 2015)

Kandungan Kimia Tanaman klabet


Tanaman klabet Mengandung minyak atsiri 0,02-0,06% terdiri dari :
Alkaloid trigonelina, steroida, sapogenin, diosgenin, gitogenin, tigogenin,
yamogenin, trilin, diosin, nikotinamida, kolin, flavonoid vitexin, dan enzim.

13

Struktur Flavanoid
Struktur Alkaloid

Struktur Saponin
(Sumber : http://www.google.co.id/alkaloid-image)
Gambar 2.2 Struktur Kandungan Kimia Klabet
2.1.5

Manfaat Tanaman Klabet


Kegunaan atau manfaat dari klabet adalah untuk mengobati :
1. Asma.
14

2. Batuk.
3. Haid tidak teratur.
4. Membangkitkan nafsu makan.
5. Pencernaan tidak baik.
6. Radang lambung.
7. Sakit kerongkongan.
8. Wasir.
9. Bisul (obat luar).
10. Rambut rontok (obat luar).
11. Rematik nyeri otot (obat luar).
12. Pelembut kulit (kosmetika).
2.2 Tanman Tekelan

Gambar 2.3 Tanaman Tekelan


( Sertin:2015)

2.2.1 Penyebaran Tanaman Tekelan


Tekelan (Choromonolaena odorataL)

adalah tanaman liar yang

banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah.


Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara,
termasuk Indonesia, India, Cina, dan Australia

kemudian menyebar ke

berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini
selain tekelan adalah

kirinyuh. Sejak zaman dahulu, ketelan telah

digunakan

obat

untuk

kulit,

(http://id.wikipedia.org/wiki/Ketelan).

15

gangguan

rematik

2.2.2 Taksonomi Tanaman tekelan

2.2.3

Kerajaan

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Chromolaena

Spesies

: Chromolaena odorata (L.) King & H.E. Robins

Penamaan
Nama Ilmiah : Chromolaena odorata (L.)
Tabel 2.2 Penamaan ketelan di berbagai Negara dan daerah
No

Daerah/ Negara

Nama

Indonesa

Ketelan/kirinyuh

2.2.4. Morfologi Tanaman Tekelan


a. Akar

16

Pada tumbuhan chormolaena odorata (L) memiliki sususnan akar


berupa akar tunggang, besar dan dalam. Akar tunggang tersebut adalah
akar tunggang bercabang. Akar ini berbentuk kerucut panjang, tumbuh
lurus kebawah, dan bercabang. Ber Warna akar kekuning-kuningan.
Dimana bagian-bagian akar
(collum

),ujung

akar

memiliki Leher akar / pangkal akar

(apex

radicis),

radicis), Cabang-cabang akar (radix lateralis),

Batang

akar

(corpus

Serabut akar (fibrilla

radicalis), Rambut / bulu akar (pilus radicalis) ,Tudung akar (calyptra)


b. Batang
Pada tumbuhan Chromolaena odorata memiliki struktur batang
yaitu : Batang berbentuk bulat (teres), arah tumbuh batang tegak lurus
(erectus), pada permukaan batang terdapat rambut (pilosus), percabangan
pada batang merupakan cara percabangan monopodial, dimana batang
pokok tampak lebih jelas karena lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat
pertumbuhannya) dari pada cabang-cabangnya, bentuk percabangan pada
tumbuhan ini adalah tegak (fastigiatus), yaitu sudut antara batang dan
cabang amat kecil, sehingga arah tumbuh cabang hanya pada pangkalnya
sedikitserong keatas, tetapi selanjutnya hampir sejajar dengan batang
pokoknya, batang kurinyuh memiliki permukaan berbulu atau berambut,
Jenis tumbuhan ini merupakan tumbuhan tahunan
C. Daun
Pada tumbuhan Chromolaena odorata memiliki struktur daun tidak
lengkap . Karna hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja. Adapun

17

struktur-struktur daun adalah sebagai berikut : Tangkai daun (Chromolaena


odorata) ini

adalah setengah lingkatan. Helaian daun kirinyuh

(Chromolaena odorata) memiliki bagian bawah yang terlebar sehingga


bentuk daun ini yaitu bangun segitiga. Pada Susunan tulang daun
terdapat : Ibu tulang (Costa), Tulang-tulang cabang (nervus letaralis), dan
urat-urat daun (vena)
d. Bunga
ketelan memiliki tangkai bunga yang sangat pendek, keluar dari ketia
daun,

tersusun dalam karangan seperti payung, berwarna putih. atau

merah muda, agak kekuningan bulat, cekung dan ukuran tadak terlalu
kecil.

2.2.4

Kandungan Kimia Tanaman Tekelan


Chromolaena odorata adalah salah satu tumbuhan yang dapat digunakan
sebagai larvasida alami. Tumbuhan ini mengandung senyawa fenol,
alkaloid, triterpenoid, tanin,flavonoid (eupatorin) dan limonen. Kandungan
tanin yang terdapat dalam daun kirinyuh adalah 2,56%.

18

OH
OH

HO

O
OH
OH
OH
OH

HO

OH
OH
OH
OH

HO

OH
OH

Struktur Tanin

Gambar Tepenoid

(Sumber : Harborne, 1987 : 48)

19

Struktur flavanoid
alkaloid
(Sumber : http://www.google.co.id/ Alkaloid-image)

20

Struktur

Gambar 2.4 Struktur Kandungan Kimia Ketelan

2.2.5

Manfaat Tanaman Tekelan


Manfaat Tekelan yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan
kaki, mencegah varises dan salah urat. Rematik, dan asam urat.

2.3 Senyawa-Senyawa Metabolit Sekunder


2.3.1 Alkaloid
2.3.1.1 Sumber dan Klasifikasi Alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa organik yang banyak terdapat dalam
tumbuhan, bersifat basa, yang struktur kimianya mempunyai sistem
lingkar heterosiklik dengan nitrogen sebagai hetero atomnya dan secara
khas memiliki beberapa racun, stimulan, memiliki efek penghilang rasa
sakit (Robinson, 1991:47). Senyawa organik bahan alam ini tidak
mempunyai tata nama yang sistematik. Tata nama senyawa alkaloida
dinyatakan dengan nama trivial berakhiran ina (sama seperti karbohidrat
dengan akhiran osa), misalnya morfina, kuinina, atrpina. Sampai saat ini
alkaloida telah diklasifikasikan atas beberapa cara.
Cara untuk mengklasifikasikan alkaloid didasarkan pada jenis cincin
heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari struktur molekul.
Menurut klasifikasi tersebut, alkaloid dapat dibedakan atas beberapa jenis,
seperti alkaloid pirolidin, alkaloid piperidin, alkaloid isokuinolin, alkaloid
21

indol, alkaloid kuinolin dan sebagainya. Berikut merupakan contoh


gambar struktur dari kelompok senyawa alkaloid :

H
N

H
N
N
N

Pirolidin

Piperidin

Isokuinolin

Kuinolin

Indol

Gambar 2.5 Struktur kelompok senyawa alkaloid


2.3.1.2 Sifat Fisikokimia Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang paling
banyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloid ditemukan
pada tumbuhan yang tersebar luas di alam. Semua alkaloid mengandung
paling sedikit sebuah atom Nitrogen, biasanya bersifat basa dan dalam
sebagian besarnya atom nitrogen merupakan bagian dari cincin
heterosiklik, sehingga kelompok senyawa alkaloid sebagian besar bersifat
basa.
Alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks,
spesies aromatik Kebanyakan berwarna contoh berberin berwarna kuning
dan betanin berwarna merah. Pada umumnya basa bebas alkaloid hanya
larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudo dan protoalkaloid
larut dalam air. Garam alkaloid quartener sangat larut dalam air.

22

N
H

Kebanyakan alkaloid bersifat basa, sifat tergantung pada adanya


pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan
dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai gugus alkil maka
ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa bersifat basa.
Pada temperatur kamar, kebanyakan alkaloid berupa padatan,
beberapa diantaranya berupa cairan namun tidak banyak jumlahnya.
Kebanyakan alkaloid adalah amina tersier dan memiliki satu atau lebih
atom karbon asimetris sehingga dalam larutan dapat menunjukan kerja
optis. Garam-garam alkaloida banyak digunakan sebagai obat (Sumardjo,
2004: 438).

Gambar 2.6 Struktur Dasar Alkaloid


(Achmad, 1986: 48)
Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan, seperti
biji, daun, ranting dan kulit kayu. Sering kali kadar alkaloid dalam jaringan
tumbuhan kurang dari 1%, akan tetapi kulit kayu dari tumbuhan tahunan
kadang-kadang mengandung 10-15% alkaloid (Achmad, 1986:47). Hampir
seluruh alkaloid yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan fisiologis
tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna
dalam pengobatan.
Alkaloid, seperti golongan senyawa organik bahan alam lainnya,
tidak mempunyai tatanama sistematik. Oleh karena itu, suatu alkaloid
dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin, dan striknin.
Hampir semua nama trivial ini diberi akhiran in yang mencirikan
alkaloid.
23

2.3.1.3 Manfaat Alkaloid


Alkaloid berfungsi sebagai hasil buangan nitrogen seperti urea dan
asam urat dalam hewan. Alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari
serangan parasit atau pemangsa tumbuhan. Alkaloid sebagai pengatur
tumbuh karena dari segi struktur, beberapa alkaloid merangsang
perkecambahan.
(Robinson,1995 : 281)
2.3.2 Flavonoid
2.3.2.1 Sumber dan Klasifikasi Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang ditemukan
di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat berwarna merah, ungu dan
biru, dan sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh
tumbuhan.
Istilah flavonoid yang diberikan pada senyawa-senyawa fenol,
berasal dari kata flavon, yakni nama dari salah satu jenis flavonoid yang
terbanyak jumlahnya dan juga lazim ditemukan. Senyawa-senyawa
flavonoid terdiri atas beberapa jenis, bergantung pada tingkat oksidasi dari
rantai propana sistem 1,3 diaril propana.
Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15
atom karbon. Struktur dasar flavonoid sebagai berikut :

Gambar 2.7 Struktur Dasar Flavonoid


(Robinson, 1991: 191)
Flavonoid terdiri dari dua cincin benzena (C 6) terikat pada suatu
rantai propana (C3), sehingga membentuk suatu susunan C6 C3 C6.

24

Senyawa-senyawa flavonoid terdapat dalam suatu bagian tumbuhan tinggi,


seperti bunga, daun, ranting, buah, kayu, kulit kayu, biji dan akar. Senyawa
flavonoid tertentu sering kali terkonsentrasi dalam suatu jaringan tertentu.
Contohnya antosianidin merupakan zat warna bunga, buah dan daun.
Sedikit saja catatan adanya flavonoid pada hewan, misalnya dalam
kelenjar bau berang-berang, propolis (sekresi lebah), dan didalam sayap
kupu-kupu. Flavonoid tersebut berasal dari tumbuhan yang menjadi
makanan hewan tersebut dan tidak dibiosintesis di dalam tubuh hewan
(Harborne, 1987:10).
2.3.2.2 Sifat Fisikokimia Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia
senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena
merupakan senyawa polihidroksi (gugus hidroksil) maka juga bersifat
polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti metanol, etanol,
aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Di samping itu
dengan adanya gugus glikosida yang terikat pada gugus flavonoid
sehingga cenderung menyebabkan flavonoid mudah larut dalam air.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan sebagai
zat

berwarna

kuning

yang

ditemukan

dalam

tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan pengetahuan menunjukkan bahwa flavonoid termasuk salah


satu kelompok senyawa aromatik yang termasuk polifenol dan
mengandung antioksidan.
Flavonoid merupakan senyawa polar, sehingga flavonoid juga
dapat melarutkan senyawa lain yang bersifat polar seperti etanol, metanol,
butanol, aseton, dimetilsulfoksida, air dan lain-lain. Sebaliknya, aglikon

25

yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, serta flavonol cenderung


lebih larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Markham, 1988:15).
2.3.2.3 Manfaat Flavonoid
Untuk tumbuhan digunakan untuk pengaturan tumbuh,pengaturan
fotosintesis. Untuk kerja antimikroba dan antivirus. Flavonoid dapat
bekerja sebagai inhibitor pernapasan.
Efek dari flavonoid terhadap macam-macam organisme banyak
macamnya dan dapat dijelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung
flavonoid banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Beberapa
flavonoid dapat menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase, protein kinase
dan DNA polimerase. Aktivitas antioksidan flavonoid menjelaskan
flavonoid merupakan komponen aktif tumbuhan yang dapat mengobati
gangguan fungsi hati, antihipertensi, antimutagen, menurunkan agregasi
keping darah (lempengelet) sehinnga dapat mengurangi pembekuan darah
dan dapat menghambat pendarahan (Robinson, 1991:191-192).
2.3.3 Tanin
2.3.3.1 Sumber dan Klasifikasi Tanin
Tanin (atau tanin nabati, sebagai lawan tanin sintetik) adalah suatu
senyawa polifenol yang berasal dari tumbuhan, berasa pahit dan kelat,
yang bereaksi dengan dan menggumpalkan protein, atau berbagai senyawa
organik lainnya termasuk asam amino dan alkaloid.
Tanin (dari bahasa Inggris tannin; dari bahasa Jerman hulu kuno
tanna, yang berarti pohon ek atau pohon berangan) pada mulanya
merujuk pada penggunaan bahan tanin nabati dari pohon ek untuk
menyamak belulang (kulit mentah) hewan agar menjadi kulit masak yang
awet dan lentur. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam
angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya,

26

tanin dapat bereaksi dengan proteina membentuk kopolimer mantap yang


tak larut dalam air. Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari
tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit
siap

pakai

karena

kemampuannya

menyambung

silang

proteina(Harborne,1987:102).
2.3.3.2 Sifat Fisikokimia Tanin
1. Dalam air membentuk larutan koloid yang bersifat asam dan sepat.
2. Mengendapkan larutan alkaloid.
3. Larutan alkali tanin mampu mengoksidasi oksigen.
4. Mengendapkam protein dari larutannya dan bersenyawa dengan
protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik.
5. Merupakan senyawa kompelks dalam bentuk campuran polifenol yang
sukar dipisahkan sehingga sukar mengkristal.
6. Tanin dapat diidentifikasikan dengan kromotografi.
7. Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptik dan
pemberi warna.
2.3.3.3 Manfaat Tanin
Tanin digunakan Sebagai pelindung pada tumbuhan pada saat
masa pertumbuhan bagian tertentu pada tanaman, misalnya buah yang
belum matang, pada saat matang taninnya hilang. Digunakan dalam proses
metabolisme pada bagian tertentu

27

tanaman, Efek terapinya sebagai

adstrigensia jaringan hidup misalnya pada gastrointestinal

kulit. Efek

terapi yang lain sebagai anti septic pada jaringan luka, misalnya luka
bakar, dengan cara mengendapkan protein, Sebagai pengawet dan
penyamak kulit. Sebagai antidotum (keracunan alkaloid) dengan cara
mengeluarkan asam tamak yang tidak larut.
OH
OH

HO

O
OH
OH
OH
OH

HO

OH
OH
OH
OH

HO

OH
OH

Gambar 2.8 Satuan Struktur Tanin/Flavolan


(Sumber : Harborne, 1987 : 48)

2.3.4

Saponin

2.3.4.1 Sumber dan Klasifikasi Saponin


Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang
menyerupai sabun (bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin adalah
senyawa aktif permukaan kuat yang menimbulkan busa jika dikocok
dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan
hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin
sangat beracun untuk ikan dan tumbuhan yang mengandung saponin telah
beratus-ratus tahun digunakan sebagai racun ikan. Pada beberapa tahun
terakhir ini saponin tertentu menjadi penting karena digunakan sebagai

28

bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang digunakan dalam bidang
kesehatan (Robinson, 1995 :157).
Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol dan telah terdeteksi
dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif
permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan
kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah. Pencarian
saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber
sapogenin yang mudah diperoleh dan dapat diubah di laboratorium
menjadi sterol hewan yang berkhasiat penting (Harborne, 1987 : 151).

2.3.4.2 Sifat Fisikokimia Saponin


a. Mempunyai rasa pahit
b. Dalam larutan air membentuk busa stabil
c. Menghemolisa eritrosit
d. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
e. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksiteroid lainya
f. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
g. Berat molekul relative tinggi dan analisi hanya menghasilkan formula
empiris yang mendekati.
h. Struktur Kimiawi, Berdasarkan struktur aglikonnya (sapogeninnya),
saponin dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu tipe steroid dan tipe

29

triterpenoid. Kedua senyawa ini memiliki hubungan glikosidik pada


atom C-3 dan memiliki asal usul biogenetika yang sama lewat asam
mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid.
2.3.4.3 Manfaat saponin
Saponin umumnya digunakan untuk Mengusir kolesterol di usus
besar sebelum terserap kedalam aliran darah karena mampu mengikat
kolesterol.

Berfungsi

sebagai

antiseptik,

(http://gunakhasiat.com/Anonim2011/09/guna-khasiat-dari-saponin-ini
sungguh.html).
Saat ini, saponin menjadi penting karena dapat diperoleh dari
beberapa tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis
hormon steroid yang digunakan dalam bidang kesehatan (Robinson,
1995:157).

Gambar 2.9 Bagan pembagian saponin


(Sumber : http://www.google.co.id/imagers_saponin.jpg.html)
2.3.5

Triterpenoid dan Steroid

2.3.5.1 Sumber dan Klasifikasi Triterpenoid dan Steroid


Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari
enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon
30

C30 asiklik, yaitu skualena. Senyawa ini kebanyakan berupa alkohol,


aldehida dan asam karboksilat. Uji yang banyak digunakan untuk
mengidentifikasi triterpenoid dan steroid adalah reaksi LiebermanBurchard (anhidrida asetat-H2SO4 pekat), dimana uji positif ditandai
dengan warna hijau-biru. Triterpenoid digolongkan ke dalam empat
golongan senyawa yaitu triterpena sebenarnya, steroid, saponin, dan
glikosida jantung (Harborne, 1987 : 147).
Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa, mulai dari
komponen minyak atsiri, yaitu monoterpena dan sesquiterepena yang
mudah menguap (C10 dan C15), diterpena menguap, yaitu triterpenoid dan
sterol (C30), serta pigmen karotenoid (C40). Masing-masing golongan
terpenoid itu penting, baik dalam pertumbuhan dan metabolisme maupun
pada ekologi tumbuhan. Terpenoid merupakan unit isoprena (C 5H8).
Triterpenoid berupa senyawa tanwarna, berbentuk kristal, seringkali
bertitik leleh tinggi dan aktif optik, yang umumnya sukar dicirikan karena
tak ada kereaktifan kimianya. Triterpenoid tersebar luas dalam damar,
gabus, dan kutin tumbuhan. Uji yang banyak digunakan ialah reaksi
Lieberman-Burchard
kebanyakan

(anhidrat

triterpena

dan

asetat-H2SO4
sterol

pekat)

memberikan

yang

warna

dengan

hijau-biru.

Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang-kurangnya empat golongan


senyawa: triterpena sebenarnya, steroid, saponin, dan glikosida jantung
(Harborne, 1987 : 147).

31

Gambar 2.10 Struktur Skulena

Steroid merupakan kelompok senyawa organik turunan dari


tetrasiklik triterpen yang memiliki kerangka dasar dengan 4 cincin yang
terdiri dari 3 cincin sikloheksana dan 1 cincin siklopentana.
H

H
H

Gambar 2.11 Struktur Siklopentana Perhidrofenantrena

Menurut asalnya senyawa steroid dibagi atas :


1. Zoosterol, yaitu steroid yang berasal dari hewan misalnya kolesterol
2. Fitosterol, yaitu steroid yang berasal dari tumbuhan misalnya sitosterol
dan stigmasterol ( Harborne, 1987 : 148-149)
CH3

CH3

HO

Gambar 2.12 Struktur Kolesterol


Triterpenoid merupakan komponen aktif dalam tumbuhan obat
yang telah digunakan untuk penyakit diabetes, gangguan menstruasi,

32

patukan ular, gangguan kulit, kerusakan hati, dan malaria (Robinson, 1995:
154).

Gambar 2.13 Struktur Dasar Steroid


2.3.5.2 Sifat fisikokimia Terpenoid dan Steroid
Sifat umum Terpenoid dan steroid
Sifat fisika meliputi :
1. Dalam keadaan segar merupakan cairan tidak berwarna, tetapi jika
2.
3.
4.
5.
6.

teroksidasi warna akan berubah menjadi gelap


Mempunyai bau yang khas
Indeks bias tinggi
Kebanyakan optik aktif
Kerapatan lebih kecil dari air
Larut dalam pelarut organik: eter dan alkohol

Sifat Kimia meliputi :


1. Senyawa tidak jenuh (rantai terbuka ataupun siklik)
2. Isoprenoid kebanyakan bentuknya khiral dan terjadi dalam dua bentuk
enantiomer (Sirait, 2007:213).
2.3.5.3 Manfaat Steroid/Terpenoid
Berbagai macam aktivitas fisiologi yang menarik ditunjukan oleh
beberapa triterpenoid, dan senyawa ini memiliki komponen aktif dalam
tumbuhan obat yang telah digunakan untuk penyakit diabetes, gangguan
mensturasi, patukan ular, gangguan kulit, kerusakan hati dan malaria
karena mengandung senyawa triterpenoid (Robinson, 1995:154-155).
Sebagai pengatur pertumbuhan (seskuiterpenoid absisin dan diterpenoid

33

giberellin). Sebagai antiseptic, ekspektoran, spasmolitik, anestetik dan


sedative,

sebagai

bahan

pemberi

aroma

makan

dan

parfum

(monoterpenoid). Sebagai hormon pertumbuhan tanaman, podolakton


inhibitor pertumbuhan tanaman, antifeedant serangga, inhibitor tumor,
senyawa pemanis, anti fouling dan anti karsinogen (diterpenoid). Sebagai
anti feedant, hormon, antimikroba, antibiotik dan toksin serta regulator
pertumbuhan tanaman dan pemanis (seskuiterpenoid) serta Penghasil karet
(politerpenoid).
2.4
Analisis Fitokimia
2.4.1 Uji Alkaloid
2.4.1.1 Reagen Meyer
Pada pembuatan reagen meyer digunakan KI dan HgCl2,
dilarutkan dalam aquades. Hasil menunjukkan positif

mengandung

kelompok senyawa alkaloid apabila terdapat endapan putih dalam


suasana sedikit asam (Mulyono 2005 : 71). Reaksi kimia reagen meyer
sebagai berikut :
4 KI(aq) + HgCl2(aq)
K2HgI4(aq)

2K

+
(s)

K2[HgI4](aq)
+ HgI4-2(s)

2KCl(s)

Ketika reagen Meyer bereaksi dengan kelompok senyawa


alkaloid Hg yang memiliki nomor atom yang paling besar dibandingkan
dengan K, I dan Cl, akan berikatan dengan kelompok senyawa alkaloid
menghasilkan endapan putih.
2.4.1.2 Reagen Wagner
Pada pembuatan reagen Wagner digunakan KI dan I2 dilarutkan
dalam aquades. Hasil menunjukkan positif mengandung kelompok

34

senyawa alkaloid apabila terjadi perubahan warna menjadi warna coklat


(httpsi.uns.ac.idprofiluploadpublikasijurnalbio_ farmasi_ pdf). Reaksi
kimia reagen wagner sebagai berikut :
I2(aq) + I-(aq) I3- (aq)
KI(s) + I2(s) K+(aq) + I3-(aq)
Reagen Wagner ketika bereaksi dengan kelompok senyawa
alkaloid akan bereaksi dengan iodium yang memiliki nomor atom yang
lebih besar dibandingkan dengan kalium menghasilkan warna coklat.
2.5 Uji Flavonoid
Pada pengujian kelompok senyawa flavonoid dilakukan dengan
uji Shinoda test atau metode Wilstater sianidin yakni menggunakan
beberapa potongan pita Mg ditambah HCl 37%. Hasil positif ekstrak
mengandung

kelompok

senyawa

flavonoid

ditandai

dengan

menghasilkan perubahan warna menjadi warna merah, kuning atau


orange

(httplib.uin-Malang.ac.idthesischapter_iv04530006-

Fatima.ps.pdf). Reaksi kimia uji flavonoid sebagai berikut :


Reaksi HCl dalam air :
HCl(l)

H+(l) +

Cl-(l)

Reaksi pita magnesium dengan HCl :


Mg(s) + 2H+(l)

Mg2+(l) + H2(g)

Reaksi flavonoid dengan reagen Wilstater Sianidin sebagai berikut:


C15H12O5(aq) + Mg(aq)2+
C15H9MgO5+(aq)
35

Pengujian shinoda test ketika HCl dan Mg direaksikan dengan


kelompok senyawa flavonoid menghasilkan warna merah, orange atau
kuning ketika kelompok senyawa flavonoid akan berikatan dengan Mg.

2.6 Uji Tanin


Pada pengujian kelompok senyawa tanin dilakukan dengan uji
yang menggunakan FeCl3. Hasil positif ekstrak mengandung kelompok
senyawa tanin ditandai dengan menghasilkan perubahan warna menjadi
warna hijau dan menggumpalkan ekstrak membentuk protein. Reaksi
yang terjadi adalah sebagai berikut:
Fe 3+( s) + tanin Fe 2+( s)
Fe 2+ (aq) + K3Fe(CN)6(aq) 3KFe[Fe(CN)6] (aq)
Kompleks yang terbentuk berwarna biru tinta Atau hijau kehitaman.
2.7 Uji Saponin
Uji Saponin dilakukan dengan metode Forth yaitu dengan cara
memasukkan sampel kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan
akuades lalu dikocok selama 30 detik, diamati perubahan yang terjadi.
Apabila terbentuk busa yang mantap (tidak hilang selama 30 detik) maka
identifikasi menunjukkan adanya saponin (Robinson, 1995:157).
Pada uji saponin Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya
busa pada ekstrak yang sudah ditambahkan dengan air kemudian
dikocok. Hal ini dikarenakan saponin memiliki glikosil yang berfungsi
sebagai gugus polar dan gugus steroid dan triterpenoid sebagai gugus
nonpolar.
2.8 Uji Triterpenoid/Steroid
36

Pada uji Triterpenoid digunakan Reagen Liebermann-Buchard


merupakan suatu pereaksi yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi
adanya kandungan kolesterol dari suatu bahan. Oleh karena kolesterol
merupakan suatu steroid, sehingga reagen ini juga dapat dipakai untuk
mengidentifikasi steroid/triterpenoid dari suatu bahan alam. Reagen
Liebermann-Buchard terdiri dari asam asetat anhidrat dan asam sulfat
pekat. Reaksi positif steroid/triterpenoid apabila menunjukkan warna
merah, hijau/biru.
2.9 Analisis sifat fisiko kimia
1. Massa Jenis
Massa jenis atau Density () didefinisikan sebagai massa persatuan
volume. Massa jenis merupakan sifat khas dari suatu zat murni. Secara
matematis adalah sebagai berikut :

m
V

Dimana,

: massa jenis
m : massa
V : volume (Douglas, 1998 : 325)
Massa jenis pada setiap bahan tidaklah sama pada setiap bagiannya,
karena

tergantung pada faktor lingkungan, seperti suhu dan tekanan.

Satuan internasional untuk massa jenis adalah

37

Kg
m3

. Kadang-kadang massa

jenis dinyatakan dalam

1 kg
1000 g
10 3 g

m3
(100 cm) 3
cm 3

g
cm 3

. Diketahui bahwa

g
cm 3

, Maka massa jenis yang dinyatakan dalam

untuk memberi hasil dalam

kg
m3

harus dikalikan 1000

Cara mencari massa jenis dalam sistem MKS (Meter, Kilogram,


Sekon atau detik) dan cgs (sentimeter, gram, sekon atau detik) yang
merupakan sistem satuan internasional yaitu :

Dalam MKS:

m
v

m
v

kg
)
m3

g
)
cm 3

dengan satuan

dengan satuan

Dalam cgs:

Massa jenis suatu zat tidak ditentukan oleh massa, volume, dan

bentuk benda, melainkan ditentukan oleh jenis zat. Untuk itu, maka faktor

38

yang menentukan massa jenis suatu zat adalah jenis zat itu sendiri. Dengan
.
demikian, massa jenis merupakan ciri suatu zat

2. Kelarutan
Larutan merupakan suatu campuran homogen antara 2 zat atau lebih dari
molekul.Larutan terdiri atas pelarut dan zat terlarut (Oxtoby, 2001: 153).
Pelarut dan zat terlarut dapat berupa zat cair, padat maupun gas. Kelarutan
adalah konsentrasi bahan terlarut dalam suatu larutan jenuh pada suatu suhu
tertentu (Chang, 2005: 5).
3. Titik didih
Titik didih suatu zat merupakan suhu yang tekanan uap jenuhnya sama
dengan tekanan diatas permukaan zat cair. Titik didih suatu zat cair
dipengaruhi oleh tekanan udara. Makin besar tekanan udara makin besar
pula titik didih zat cair.
Pelarut murni akan mendidih bila tekanan uap jenuh pada permukaan
cairan sama dengan tekanan udara luar. Pada sistem terbuka tekanan udara
luar adalah 760 mmHg atau tekanan udara pada permukaan larutan dan suhu
pada tekanan udara luar 250C disebut titik didih normal. Titik didih suatu
cairan adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan
tekanan luar atau tekanan yang diberikan pada permukaan cairan. Titik didih
cairan bergantung pada tekanan udara(Kanginan, 2005: 280).
4. Polarimeter

39

Polarimetermerupakanmetode

yang

digunakan

untuk mengukur

besaran yang terjadi akibat interaksi suatu senyawa organik dengan


cahaya terpolarisasi.
Pada Polarimeter terdapat polarisator dan analisator. Polarimeter
adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan anlisator
adalah Polaroid yang dapat menganalisa/mempolarisasikan cahaya.
Cara kerja polarimeter yaitu jika lampu dinyalakan dan tabung kosong
prisma analisis diputar sehingga berkas cahaya terhalang semua. Sumbu
prisma dari prisma polarisator dan prisma analisis tegak lurus satu sama
lain. Prinsipnya, jika senyawa bersifat optikal tak aktif tidak akan terjadi
yaitu pandangan akan tetap gelap. Jika yang dianalisis b ersifat optikal aktif,
akan memutar bidang polarisasi dan sebagian cahaya dapat dilewatkan
kepada pengamat, dengan memutar prisma analisis searah jarum jam atau
sebaliknya. Jika prisma analisis diputar ke kanan atau searah jarum jam,
senyawa optikal disebut dekstrorotatory. Sebaliknya jika prisma analisis
diputar ke kiri atau berlawanan jarum jam, senyawa ini dinamakan
levorotatory. Secara konvensional senyawa dekstrorotatory diberi lambang
(+) dan senyawa levorotatory dilambangkan(-) (Sastrohamidjoyo, 2005: 5).
Rotasi pengamatan suatu contoh yang optikal aktif tergantung pada
beberapa faktor, yaitu struktur molekul, panjang tabung contoh, konsentrasi
larutan senyawa, suhu, panjang gelombang dan pelarut. Semua faktor-faktor
tersebut umumnya dibakukan apabila menginginkan perbandingan keaktifoptikan senyawa-senyawa yang berbeda. Rotasi spesifik () dari senyawa
optikal aktif dapat didefinisikan sebagai rotasi pengamatan yang disebabkan

40

oleh 1 gram larutan per mililiter larutan yang dimasukkan dalam tabung
contoh sepanjang 1 dm (10 cm). Secara matematik dapat ditulis sebagai
berikut:
Rotasi spesifik

x c

( pelarut )

f.

(Sastrohamidjoyo, 2005: 7)
Dimana adalah panjang tabung contoh dalam dm,

adalah sudut

putaran yang diamati, c adalah konsentrasi dalam gram per mil, t adalah
suhu larutan dan panjang gelombang cahaya. Pelarut yang digunakan
dinyatakan dalam tanda kurung. Pengukuran umumnya dilakukan pada suhu
kamar. Sumbu cahaya yang dapat digunakan adalah lampu uap natrium ( =
589,3 nm).
2.10

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi Lapis Tipis merupakan jenis kromatografi sederhana
dan membutuhkan waktu yang paling singkat dengan memberikan
pemisahan-pemisahanlebih

baik.

Adapun

beberapa

keuntungan

penggunaan kromatografi lapis tipis, yaitu :


1

KLT memberikan fleksibilitas yang lebih besar, dalam hal

memilih fase gerak.


Berbagai macam teknik untuk optimasi pemisahan seperti
pengembangan 2 dimensi, pengembangan bertingkat dan

pembaceman penjerap dapat dilakukan pada KLT.


Proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat
dihentikan kapan saja.

41

Semua komponen di dalam sampel dapat dideteksi. (Rohman,


2011 : 3-4)

Teknik pemisahan pada kromatografi lapis tipis didasarkan pada


perbedaan kecepatan migrasi masing-masing komponen pada fase diam
dibawah pengaruh fase gerak. Kromatografi lapis tipis dipakai dengan
tujuan untuk mencapai hasil kualitatif dan kuantitatif, serta untuk
menjajaki sistem pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai dalam
kromatografi.
Fase diam yang digunakan dalam KLT adalah silika gel, alumina,
dan selulosa. Fase diam tersebut dilapiskan pada kaca, atau lembaran
aluminium, maupun plastik dengan ketebalan 200-1500 m. Sedangkan
fase gerak yang sering digunakan pada kromatografi lapis tipis selalu cair.
Penggunaan fase gerak ditentukan berdasarkan senyawa kimia yang akan
diungkap dalam kromatografi lapis tipis.
Ekstrak yang telah disiapkan harus ditotolkan pada fase diam
dengan menggunakan pipa kapiler dengan ukuran yang kecil, semakin
kecil totolan yang dihasilkan pada fase diam maka semakin baik dalam
proses analisis. Setelah ditotolkan maka fase diam tersebut harus
dipadukan dengan fase gerak dalam kondisi tertutup yang akan membawa
noda ekstrak pada fase diam sehingga noda tersebut dapat dianalisis.
Penentuan eluen suatu senyawa harus memiliki kelarutan yang
lebih tinggi dalam fase diam dari pada fase gerak. Fase gerak dapat
membawa senyawa yang akan dianalisis. Setelah plat kromatografi
dikeringkan, untuk noda tampak diamati langusng sedangkan untuk noda

42

tak tampak diamati menggunakan lampu UV dengan panjang gelombang


lampu UV pendek 254 nm dan panjang 366 nm.
Noda tampak tersebut dikembangkan dengan perhitungan harga Rf
yang dinyatakan sebagai rasio jarak noda terhadap titik awal dibagi jarak
eluen terhadap titik awal. Secara matematis adalah sebagai berikut :

Rf

Jarak yang di tempuh oleh senyawa terlarut


Jarak yang ditempuh pelarut
(Rohman, 2009:5)

Nilai maksimum Rf adalah 1, dicapai ketika solut mempunyai


perbandingan distribusi (D) dan faktor retensi (k) sama dengan 0 yang
berarti solut berpindah dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan
fase gerak. Nilai minimum Rf adalah 0, teramati jika solut tertahan pada
posisi titik awal dipermukaan fase diam atau tidak bergerak sama sekali
dari titik awal penotolan.
2.11 Spektrofotometer Fourier Infra Red (FTIR)
Spektrometri inframerah merupakan metode yang mengamati
interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah
panjang gelombang 0.75 1.000 m atau pada bilangan gelombang
13.000 10 cm-1. Metode spektrometri inframerah merupakan metode
yang meliputi teknik serapan (absorption), teknik emisi (emission), teknik
fluoresensi (fluorescence). Komponen medan listrik banyak berperan
dalam spektrometri umumnya hanya komponen medan listrik seperti
dalam fenomena transmisi, pemantulan, pembiasan, dan penyerapan.
Penyerapan gelombang elektromagnetik dapat menyebabkan terjadinya
43

eksitasi tingkat-tingkat energi dalam molekul, dapat berupa eksitasi


elektronik, vibrasi, atau rotasi (Ningsih, 2010: 1)
Berdasarkan

pembagian

daerah

panjang

gelombang,

sinar

inframerah dibagi atas tiga daerah yaitu:

Tabel 2.4. Daerah Spektrum Infra Merah

Jenis
Inframerah dekat
Inframerah
pertengahan
Inframerah jauh

Panjang
Gelombang
0,75 - 2,5 m
2,5 - 50 m

Bilangan
Gelombang
13.000 - 4.000
cm-1
4.000 - 200 cm-1

50 - 1.000 m

200 - 10 cm-1

Frekuensi
(Hz)
3,8 x 1014
-1.2x1014
1.2x1014
12
6,0x10
6,0x1012
11
3,0x10

Senyawa kimia tertentu hasil sintesa maupun alami mempunyai


kemampuan menyerap radiasi elektromagnetik dalam daerah spektrum
inframerah. Absorpsi radiasi IR pada material tertentu berkaitan dengan
fenomena bergetarnya

molekul atau atom. Metode Spektrometri

inframerah ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa


yang belum diketahui, karena spektrum yang dihasilkan spesifik untuk
senyawa tersebut. Metode ini banyak digunakan karena:
1. Cepat dan relatif murah
2. Dapat digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsional dalam molekul
3. Spektrum inframerah yang dihasilkan oleh suatu senyawa adalah khas dan
oleh karena itu dapat menyajikan sebuah fingerprint (sidik jari) untuk
senyawa tersebut.
Tabel 2.5. Serapan Khas Beberapa Gugus Fungsi

44

Gugus

Jenis Senyawa

Daerah Serapan (cm-1)

C-H
C-H
C-H
C-H
C=C
C=C
C-O

Alkana
Alkena
Aromatik
Alkuna
Alkena
Aromatik (cincin)
Alkohol, eter, asam karboksilat,

2850-2960, 1350-1470
3020-3080, 675-870
3000-3100, 675-870
3300
1640-1680
1500-1600
1080-1300

C=O

ester
Aldehida,

1690-1760

keton,

karboksilat, ester
O-H
Alkohol, fenol(monomer)
O-H
Alkohol, fenol (ikatan H)
O-H
Asam karboksilat
N-H
Amina
C-N
Amina
NO2
Nitro
(Nurkomarasari, 2010: 5)

asam

3610-3640
2000-3600 (lebar)
3000-3600 (lebar)
3310-3500
1180-1360
1515-1560, 1345-1385

Bila radiasi infra merah dilewatkan melalui suatu cuplikan, maka


molekul-molekulnya dapat menyerap (mengabsorpsi) energi terjadilah
transisi antara tingkat vibrasi dasar (ground state) dan tingkat vibrasi
tereksitasi (exited state). Pengabsorpsian energi pada berbagai frekuensi
dapat dideteksi oleh spektrofotometer inframerah, yang memplot jumlah
radiasi infra merah yang diteruskan melalui suatu cuplikan sebagai fungsi
frekuensi (atau panjang gelombang) radiasi. Plot tersebut disebut spektrum
inframerah yang akan memberikan informasi penting tentang gugus
fungsional suatu molekul.
Vibrasi molekul hanya akan terjadi bila suatu molekul terdiri dari
dua atom atau lebih. Untuk dapat menyerap radiasi infra merah (aktif
inframerah), vibrasi molekul harus menghasilkan perubahan momen dwi
kutub..
45

2.12 Gas Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS)


GCMS
merupakan
metode
pemisahan

senyawa

organikmenggunakan dua metode analisis senyawa yaitu kromatografi gas


(GC) untuk menganalisis jumlah senyawa secara kuantitatif dan
spektrometri massa (MS) untuk menganalisis struktur molekul senyawa
analit.
Kromatografi gas merupakan salah satu teknik spektrometri yang
menggunakan prinsip pemisahan campuran berdasarkan perbedaan
kecepatan migrasi komponen-komponen penyusunnya. Kromatografi
gasbiasa digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa yang terdapat
pada campuran gas dan juga menentukan konsentrasi suatu senyawa dalam
fase gas.
Spektrometri massa adalah suatu metode untuk mendapatkan berat
molekul dengan cara mencari perbandingan massa terhadap muatan dari
ion yang muatannya diketahui dengan mengukur jari-jari orbit
melingkarnya dalam medan magnetik seragam.Penggunaan kromatografi
gas dapat dipadukan dengan spektrometri massa. Paduan keduanya dapat
menghasilkan data yang lebih akurat dalam pengidentifikasian senyawa
yang dilengkapi dengan struktur molekulnya.(Nurkomarasari, 2010:4)
2.12.1
Instrumen GCMS
2.12.1.1 Kromatografi Gas
1. Gas Pembawa
Gas pembawa (carrier gas) pada kromatografi gas sangatlah penting.
Gas yang dapat digunakan pada dasarnya haruslahkeringdan bebas
oksigen. Kondisi seperti ini dibutuhkan karena gas pembawa ini dapat
saja bereaksi dan dapat mempengaruhi gas yang akan dipelajari atau
diidentifikasi.

46

2. Injeksi Sampel
Sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis diinjeksikan pada mesin
menggunakan semprit kecil. Jarum semprit menembus lempengan karet
tebal (Lempengan karet ini disebut septum) yang mana akan mengubah
bentuknya kembali secara otomatis ketika semprit ditarik keluar dari
lempengan karet tersebut.
3. Kolom
Ada dua tipe utama kolom dalam kromatografi gas-cair. Tipe
pertama, tube panjang dan tipis berisi material padatan; Tipe kedua,
lebih tipis dan memiliki fase diam yang berikatan dengan pada bagian
terdalam permukaannya. Ada tiga hal yang dapat berlangsung pada
molekul tertentu dalam campuran yang diinjeksikan pada kolom:
1. Molekul dapat berkondensasi pada fase diam.
2. Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan fase diam
3. Molekul dapat tetap pada fase gas
2.12.1.2
Spektrometri Massa
1. Sumber Ion
Setelah melewati rangkaian gas kromatografi, sampel gas yang
akan diuji dilanjutkan melalui rangkaian spektrometri massa. Molekulmolekul yang melewati sumber ion ini diserang oleh elektron, dan
dipecah menjadi ionion positifnya. Tahap ini sangatlah penting karena
untuk melewati filter, partikel-partikel sampel haruslah bermuatan.

2. Filter

47

Selama ion melui rangkaian spektrometri massa, ion-ion ini


melalui rangkaian elektromagnetik yang menyaring ion berdasarkan
perbedaan masa. Para ilmuwan memisahkan komponen-komponen
massa untuk kemudian dipilih yang mana yang boleh melanjutkan yang
mana yang tidak (prinsip penyaringan). Filter ini terus menyaring ionion yang berasal dari sumber ion untuk kemudian diteruskan ke
detektor.
3. Detektor
Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan. Detektor
ionisasi nyala dijelaskan pada bagian bawah penjelasan ini, merupakan
detektor yang umum dan lebih mudah untuk dijelaskan daripada
detektor alternatif lainnya.
Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik
merupakan hal yang sangat kompleks. Selama proses, sejumlah ion-ion
dan elektron-elektron dihasilkan dalam nyala. Kehadiran ion dan
elektron dapat dideteksi. Seluruh detektor ditutup dalam oven yang
lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu menghentikan
kondensasi dalam detektor.
Hasil detektor akan direkam sebagai urutan puncak-puncak;
setiap puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui
detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati kondisi dalam
kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu
mengidentifikasi senyawa yang tampak-tentu saja anda atau seseorang

48

lain telah menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada


kondisi yang sama. (Nurkomarasari, 2010:4)
2.12.2
Prinsip Kerja GCMS
2.12.2.1.
Kromatografi Gas
Kromatografi gas (GC) merupakan jenis kromatografi yang
digunakan dalam kimia organik untuk pemisahan dan analisis. GC
dapat digunakan untuk menguji kemurnian dari bahan tertentu, atau
memisahkan berbagai komponen dari campuran. Dalam beberapa
situasi, GC dapat membantu dalam mengidentifikasi sebuah senyawa
kompleks.
Dalam kromatografi gas, fase yang bergerak adalah sebuah
operator gas, yang biasanya gas murni seperti helium atau yang tidak
reaktif seperti gas nitrogen. Stationary atau fasa diam merupakan tahap
mikroskopis lapisan cair atau polimer yang mendukung gas murni, di
dalam bagian dari sistem pipa-pipa kaca atau logam yang disebut
kolom. Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas
disebut gas kromatograf (gas pemisah).
2.12.2.2

Spektrometri Massa
Umumnya spektrum massa diperoleh dengan mengubah senyawa
suatu sample menjadi ion-ion yang bergerak cepat yang dipisahkan
berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan.
Spektrometri massa mampu menghasilkan berkas ion dari suatu zat
uji, memilah ion tersebut menjadi spektum yang sesuai dengan
perbandingan massa terhadap muatan dan merekam kelimpahan relatif
tiap jenis ion yang ada. Biasanya hanya ion positif yang dipelajari

49

karena ion negativeyang dihasilkan dari sumber tumbukan umumnya


sedikit.
2.12.2.3

Kombinasi GCMS
Saat GC dikombinasikan dengan MS, akan didapatkan sebuah
metode analisis yang sangat bagus. Peneliti dapat menganalisis larutan
organik, memasukkannya ke dalam instrumen, memisahkannya menjadi
komponen tinggal dan langsung mengidentifikasi larutan tersebut.
Selanjutnya, peneliti dapat menghitung secara kuantitatif masingmasing komponen.

2.12.3

Metode Analisis GCMS


Pada metode analisis GCMS adalah dengan membaca spektra yang
terdapat pada kedua metode yang digabung. Pada spektra GC jika
terdapat bahwa dari sampel mengandung banyak senyawa, yaitu terlihat
dari banyaknya puncak (peak) dalam spektra GC tersebut. Berdasarkan
data waktu retensi yang sudah diketahui dari literatur, bisa diketahui
senyawa apa saja yang ada dalam sampel.
Selanjutnya adalah memasukkan senyawa yang diduga tersebut
ke dalam instrumen spektrometri massa. Hal ini dapat dilakukan
karena salah satu kegunaan dari kromatografi gas adalah untuk
memisahkan senyawa-senyawa dari suatu sampel. Setelah itu, didapat
hasil dari spektra spektrometri massa pada grafik yang berbeda.
Informasi yang diperoleh dari kedua teknik digabung dalam
instrumen GCMS adalah hasil dari masing-masing spektra. Untuk
spektra GC, informasi terpenting yang didapat adalah waktu retensi

50

untuk tiap-tiap senyawa dalam sampel. Sedangkan untuk spektra MS,


bisa diperoleh informasi massa molekul relatif dari senyawa sampel
tersebut (Nurkomarasari, 2010: 6).
2.13
2.13.1

Penyakit Gula Darah (Diabetes mellitus)


Konsep Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) (dari kata Yunani diabaine in, tembus
atau pancuran air, dan kata Latin mellitus, rasa manis) yang umum
dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan
hiperglikemia (peningkatan gula darah) yang terus menerus dan
bervariasi, terutama setelah makan. Diabetes mellitus adalah suatu
penyakit dimana terdapat glukosa dengan kadar yang cukup tinggi (kadar
gula darah setelah puasa > 126 mg/dL dan pada saat 2 jam setelah makan
> 200 mg/dL) dalam darah yaitu sebagai akibat dari terganggunya
hormon insulin yang berperan dalam metabolisme glukosa dalam darah.
Insulin menghambat fosforilase hati, yang merupakan enzim utama yang
menyebabkan terpecahnya glikogen dalam hati menjadi glukosa.
Penurunan kerja insulin akan menyebabkan peningkatan produksi
glukosa yang juga akan menurunkan aktivitas enzim glukokinase, yang
merupakan salah satu enzim yang menyebabkan timbulnya fosforilasi
awal dari glukosa sesudah glukosa berdifusi ke dalam sel-sel hati
(Dewanti, 2010:54).
Pada orang normal, segera setelah makan, tubuh akan
melakukan metabolisme karbohidrat, metabolisme lemak, metabolisme

51

protein dengan masing-masing rangkaiannya yang begitu rumit. Hasil


metabolisme tubuh tersebut adalah glukosa yang nantinya akan diubah
lagi menjadi energi, seperti energi gerak, energi panas, dan lain-lain.
Hormon insulin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pankreas,
yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang
normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa
menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Jika jumlah
insulin kurang banyak, atau kualitas insulin kurang baik, maka kadar gula
darah tetap tinggi meskipun sudah beberapa jam setelah makan. Untuk
itu, pada penderita DM diharuskan mengatur makanannya supaya kadar
gula darahnya tidak meningkat dalam satu waktu tertentu.
Kelenjar pankreas merupakan tempat dimana dihasilkannya
hormon insulin. Jika kelenjar pankreas terganggu, maka fungsinya
sebagai penghasil insulin akan berkurang. Hal ini dapat dikarenakan
pankreas kelelahan sehingga sel beta Langerhanz menjadi berkurang,
karena pankreas sedang sakit karena ada bakteri/virus atau tumor yang
merusak sel Beta Langerhanz. Kurangnya insulin menyebabkan kadar
glukosa menjadi tinggi karena menumpuk di dalam darah, tidak dapat
dimanfaatkan oleh tubuh dan akhirnya dibuang melalui air seni.
Gangguan metabolisme karbohidrat ini menyebabkan tubuh kekurangan
energi. Keadaan ini nantinya dapat memberikan efek samping yang
bersifat negatif atau merugikan (Padmiarso, 2011:12).
2.13.2 Metabolisme Glukosa

52

Glukosa merupakan pusat dari semua metabolisme. Glukosa


adalah bahan bakar universal bagi sel manusia dan merupakan sumber
karbon untuk sintesis sebagian besar senyawa lainnya. Semua jenis sel
manusia menggunakan glukosa untuk memperoleh energi. Gula lain
dalam makanan terutama fruktosa dan galaktosa akan diubah menjadi
glukosa dalam metabolisme glukosa (Petrucci, 1987:320).
Glikolisis diawali dengan reaksi pembentukan senyawa glukosa
6-fosfat dari glukosa. Reaksi ini membutuhkan energi yang diambil dari
pemutusan ikatan fosfat pada ATP menjadi ADP dan dikatalisis oleh
enzim glukokinase. Pada reaksi berikutnya glukosa 6-fosfat dikatalisis
oleh enzim fosfoglukoisomerase membentuk isomernya, fruktosa 6fosfat. Dengan bantuan enzim fosfofruktokinase dan energi ATP menjadi
ADP. Fruktosa 6 fosfat dikatalisis membentuk fruktosa-1,6-bisfosfat.
Fruktosa-1,6-bisfosfat kemudian dipecah menjadi 2 senyawa triosa fosfat
yaitu gliseraldehid 3 fosfat dan dihidroksi aseton fosfat, reaksi ini
dikatalisis oleh enzim aldolase (fruktosa 1,6 bifosfatase). Gliseraldehid 3
fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan sebaliknya
(reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator
enzim fosfotriosa isomerase.
Gliseraldehida 3 fosfat dengan penambahan NAD+ yang telah
bereaksi dengan Pi dengan bantuan enzim gliseraldehida 3 fosfat
dehidrogenase akan membentuk 1,3 difosfogliserat dan hasil samping
NADH. 1,3 difosfogliserat dikatalisis oleh enzim fosfogliserat kinase
akan memutuskan satu gugus fosfat membentuk 3 fosfogliserat dan dan
gugus fosfat yang telah putus akan berikatan dengan ADP membentuk

53

ATP. 3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan dikatalisis


oleh enzim fosfogliserat mutase. 2-fosfogliserat dengan bantuan enzim
enolase akan mengalami dehidrasi membentuk fosfoenolpiruvat.
Fosfoenolpiruvat dengan bantuan enzim piruvat kinase akan memutuskan
gugus fosfat didalam fosfoenolpiruvat yang akan mengikat ADP
membentuk ATP dan enolpiruvat. Enol piruvat yang terbentuk dalam
reaksi ini mengalami konversi spontan menjadi keto piruvat. Pada
kondisi aerob ketopiruvat akan berubah menjadi asetil-CoA yang akan
berlanjut pada siklus asam sitrat. Sedangkan pada kondisi anaerob
ketopiruvat dikatalisis enzim laktat dehidrogenase akan mengoksidasi
NADH menjadi NAD+ dan menghasilkan laktat (Harper, 2003:148).

54

55

CH2OH
H

O
H
OH

O
HO P OH
O
H2C
O H
H
H
H
OH
OH
OH
H
OH

ADP

ATP

glukoki
nase

H
OH

OH
H

OH

Glukosa

O
HO P OH
O
CH2 O
fosfogluko
isomerase

OH

Fruktosa-6-fosfat

Fosfo
fruktokinase

OH
O

OH

HO

HO CH2

CH2 O

NADH, NAD+, Pi

HO P OH
O

1,3-Difosfogliserat

HO

HC O
HC OH
H2C
O
HO P OH
O

Gliseraldehida-3-fosfat

Fosfo
gliserat
mutase

P OH
O

O
C O O
HC O P OH
CH2 OH

O
endase

C O O
C O P OH
CH2

OH
2-Fosfogliserat

3-Fosfogliserat

OH

Fosfoenolpiruvat
ADP
piruvat
kinase
ATP

O
C O
HC OH
CH3
Laktat (anaerob)

Gambar 2.14 Bagan Siklus Glikolisis


(Sumber : Kopon, 2011 : 6)

56

Fruktosa-1,6-fosfat

Fosfo
gliserat
kinase

O
OH
O

CH2 OH

HO P OH

O
C
HC
H2C
HO

OH

H HO

H2 C

OH

Dihidroksiasetonfosfat

O C O
HC OH

CH2OH

HO

HC O P O
O C

HHO

Glukosa-6-fosfat

OH

piruvat
dehidro
kinase

O
C O
C O
CH3
Piruvat (aerob)

P
OH

2.13.3 Jenis-Jenis Diabetes Mellitus


Organisai Kesehatan Dunia (WHO) mengakui tiga bentuk
diabetes mellitus, yaitu tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional (Lanywati,
2010:59).
a) Diabetes Mellitus Tipe 1
Diabetes mellitus tipe 1, insulin-dependent diabetes (IDDM,
diabetes yang bergantung pada insulin), atau diabetes anak-anak,
dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulaupulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada
tubuh (Dewanti, 2010:59).
Diabetes tipe 1 adalah penyakit diabetes yang terjadi karena
adanya gangguan pada pankreas, menyebabkan pankreas tidak
mampu memproduksi insulin dengan optimal. Pada diabetes tipe 1,
pankreas memproduksi insulin dengan kadar yang sedikit sehingga
tidak mencukup kebutuhan untuk mengatur kadar gula darah dengan
tepat. Akibanya, penderita diabetes tipe 1 harus mendapatkan injeksi
dari luar. Glukosa yang tidak bisa dipakai oleh sel sel tubuh akan
menumpuk dalam aliran darah, Hal ini kemudian menyebabkan rasa
kelaparan yang tinggi pada penderita karena sel sel tidak mendapat
energi dari glukosa. Selain itu, tingginya tingkat glukosa dalam
darah menyebabkan penderita sering buang air kecil, yang pada
gilirannya juga menyebabkan rasa haus berlebihan (Sutanto 2013:
24).

57

Gambar 2.15 Mekanisme Siklus Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus
Tipe 1
(Sumber:http://www.google.co.id/obat+herbal+penyakit+diabetes+kering/)
b) Diabetes Melllitus Tipe 2
Diabetes mellitus tipe 2, non-insulin-dependent diabetes
mellitus (NIDDM, diabetes yang tidak bergantung pada insulin)
terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam produksi insulin
dan resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas
terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin
di dalam darah (Dewanti, 2010:61).
Diabetes tipe 2 adalah penyakit yang disebabkan karena sel sel
tubuh tidak menggunakan insulin sebagai sumber energi atau sel
sel tubuh tidak merespon insulin yang dilepaskan pankreas, inilah
yang disebut dengan resistensi insulin (Sutanto, 2013:25).
Secara umum ada dua penyebab utama terjadinya penyakit
diabetes tipe 2 ini, yaitu faktor genetik (keturunan) dan
hiperglikemia (tingginya kadar gula darah). Faktor keturunan sangat
berpengaruh dalam diabetes tipe 2. Jika orang tua menderita
diabetes, maka kemungkinan besar anaknya juga menderita diabetes.
Hal ini dipicu dengan rendahnya tingkat aktifitas sehari hari,
kurang olahraga, gaya hidup yang kurang sehat dan kelebihan berat

58

badan terutama disekitar pinggang. Saat ini, diabetes tipe 2


merupakan jenis diabetes yang paling banyak diderita dan
menyerang orang dari segala usia. Jumlah penderitanya jauh lebih
banyak dari diabetes tipe 1(Sutanto, 2013 :26).

Gambar 2.16 Mekanisme Siklus Gula Darah pada Penderita


Diabetes Mellitus Tipe 2
(Sumber: http://google.co.id/DM_2.jpg/)
c) Gestational Diabetes Mellitus
Diabetes gestasional adalah diabetes yang disebabkan karena
kondisi kehamilan. Pada diabetes gestasional, pankreas penderita
tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup untuk mengontrol gula
darah pada tingkat yang aman bagi ibu dan si janin (Sutanto, 2013:
27).
Gestational Diabetes Mellitus (GDM) melibatkan kombinasi
dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak
cukup. GDM terjadi selama kehamilan dan berkemungkinan
merusak kesehatan janin atau ibu. GDM dapat sembuh setelah
melahirkan, GDM kemungkinan dapat merusak kesehatan janin atau

59

kesehatan ibu, dan sekitar 2050% dari wanita penderita GDM


bertahan hidup (Dewanti, 2010:63).
GDM terjadi di sekitar 2-5% semua kehamilan. GDM bersifat
temporer dan bisa menyebabkan permasalahan dengan kehamilan,
termasuk macrosomia (berat bayi yang tinggi/diatas normal), janin
mengalami kecacatan dan menderita penyakit jantung sejak lahir.
Penderita

memerlukan

pengawasan

secara

medis

sepanjang

kehamilan.
2.13.4 Gejala-Gejala Diabetes Mellitus
Gejala awal biasanya tidak begitu dirasakan, kadang-kadang berat
badan penderita diabetes naik. Penyebabnya, kadar gula tinggi dalam
tubuh. Baru diketahui sesudah adanya pemeriksaan laboratorium. Pada
tahap lanjut, gejala yang muncul antara lain : rasa haus, banyak kencing,
berat badan turun, rasa lapar, badan lemas, gatal-gatal, kesemutan, mata
kabur, kulit kering dan gairah sex melemah. Gejala lainnya adalah
pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olahraga.
Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi
(Dewanti, 2010:54-55).
2.13.5 Diagnosis Diabetes Mellitus
Seseorang dikatakan menderita diabetes atau tidak, dapat
ditentukan melalui diagnosa tingkat glukosa darah. Tabel berikut
menunjukkan kriteria diabetes atau bukan
Tabel 2.3 Diagnosa Diabetes Mellitus
Tabel : Kadar glukosa darah Bukan DM
sewaktu dan puasa dengan metode

60

DM

enzimatik

sebagai

patokan
Belum

penyaring

dan

diagnosis

DM
pasti DM

(mg/dl).
Kadar gula darah sewaktu :
Plasma vena

<110

110-199

>200

Darah kapiler

<90

90-199

>200

Plasma vena

<110

110-125

>126

Darah kapiler

<90

90-109

>110

Kadar gula darah puasa :

(Susilo Yektri, 2011 : 20)


Kriteria diagnosis Diabetes Mellitus berdasarkan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) kadar glukosa yakni dengan atau melampaui
11,1 mmol/l dalam plasma darah vena yang sampelnya diambil secara acak
atau kadar gula puasa dengan atau yang melampaui 7,8 mmol/l dalam
plasma darah vena.
Untuk mengetahui seseorang menderita penyakit Diabetes Mellitus
atau tidak dapat dilakukan dengan beberapa tes berikut:
1. TTGO
TTGO atau tes toleransi glukosa oral dilakukan dengan cara:
a. Puasa 10 jam, misalnya dari jam 21.00 sampai 06.00
b. Pagi hari pengambilan darah
c. Minum larutan glukosa 75 gram dengan syarat tidak diperbolehkan
makan atau minum apa-apa
d. Tunggu selama dua jam kemudian pengambilan darah yang kedua

61

Sementara hasilnya dapat berupa : kadar gula darah sesudah puasa


selama 8-10 jam lebih dari 126 mg/dl dan kadar gula darah 2 jam
setelah minum 75 gram glukosa lebih dari 200 mg/dl.
2. IFG
IFG (Impaired Fasing Glucose) merupakan kadar gula puasa yang
terganggu yakni gula darah setelah puasa 8-10 jam antara 100 mg/dl
sampai kurang dari 126 mg/dl.
3. IGT
IGT (Impaired Glucose Tolerance) merupakan toleransi glukosa
terganggu yakni apabila TTGO, 2 jam setelah minum 75 gram
glukosa, kadar gula darah berada antara 140 mg/dl sampai kurang dari
200 mg/dL (Dalimartha, 2012 : 9-12).
2.13.6 Riwayat penderita penyakit Diabetes Mellitus
Penderita penyakit Diabetes Mellitus Bapak BA mengalami gejala
Diabetes Mellitus sejak awal Tahun 2013 seperti merasa kesemutan di kaki
dan cepat lelah ketika bekerja namun tidak melakukan pemeriksaan karena
merasa tidak ada gejala akut yang dialami pasien. Pada Tanggal MEI 2015
pasien masuk RSUD Bayangkara karena badan terasa lemah dan
berkeringat berlebihan. Pemeriksaan oleh Dokter menyatakan pasien
menderita Diabetes Mellitus tipe 1 dengan kadar darah 793 mg/dL karena
pankreas tidak berfungsi memproduksi hormon insulin sehingga diberikan
suntikan insulin dengan dosis 1 x 24 jam. Pasien tidak diberikan obat
generik karena lebih bergantung pada insulin sehingga kadar darah dapat
menurun pada 200 mg/dL.
2.14
Penelitian Relevan
Elvi Nurlaili, 2010. Fakultas Sains dan Biologi, UIN
Telah melakukan penelitian pengaruh biji klabet terhadap pkadar GPT
dan Got

yang terpapar Streptozotoan. Dari hasil penelitian tersebut

62

menunjukan bahwa pemberian ekstrak biji klabet dapat memberikan


pengaruh terhadap penurunan kadar GPT maupun GOT hepar mencit
diabetes
2.15 Kerangka konseptual
Diabetes melitus adalah suatu jenis penyakit yang disebabkan
menurunnya hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar

pankreas.

Penurunan hormon ini mengakibatkan seluruh gula (glukosa) yang


dikonsumsi tubuh tidak dapat diproses sempurna, sehingga kadar glukosa
di dalam tubuh akan meningkat.
Pengobatan Diabetes Mellitus dapat dilakukan secara nonverbal
seperti obat sintetik maupun secara verbal (alami) seperti obat alternatif
dari tumbuhan (tanaman obat), tanaman obat yang dapat dijadikan obat
alternatif antara lain biji klabet dan daun ketelan
Diantara ragam tanaman obat yang ada di sekitar kita, beberapa
jenisnya memiliki efek positif terhadap penanganan diabetes. Salah satu
yang sering dikonsumsi yaitu biji klabet. biji klabet mempunyai
kandungan kimia yaitu Alkaloid trigonelina, steroida, sapogenin,
diosgenin, gitogenin, tigogenin, yamogenin, trilin, diosin, flavonoid
vitexin, dan enzim
Fakta tradisional di Ruteng, TeKelan memiliki khasiat untuk
menyembuhkan penyakit Diabetes Mellitus. Ketelan memiliki kandungan
kimia fenol, alkaloid, triterpenoid, tanin,flavonoid (eupatorin) dan limonen.
Kandungan tanin yang terdapat dalam daun kirinyuh adalah 2,56%.

63

Kandungan kimia yang terdapat pada tumbuhan dapat dianalisis


dengan menggunakan uji fitokimia, kromatografi lapis tipis, spektroskopi
infra merah, kromatografi gas-spektroskopi massa dan sebagainya.
Kromatografi lapis tipis, spektroskopi infra merah dan kromatografi gasspektroskopi

massa

merupakan

alat

yang

menggunakan

metode

kromatografi dalam menganalisis kandungan kimia. Kromatografi lapis


tipis merupakan jenis kromatografi yang paling sederhana dan mudah
digunakan yang memberikan hasil yang cukup memuaskan, spektroskopi
infra merah merupakan teknik analisis yang sangat populer untuk analisis
berbagai jenis sampel, baik sampel produk farmasetik, makanan, cairan
biologis, maupun sampel lingkungan dan kromatografi gas-spektometer
massa dengan tekhnik, eluen yang keluar dari kolom GC selanjutnya akan
masuk ke MS untuk menghasilkan profil spektrum massa untuk tiap
komponen. Teknik ini memberikan keuntungan diperolehnya berat
molekul komponen yang keluar. Dan juga perlu dilakukan uji fisiko-kimia,
seperti massa jenis, uji kelarutan, penetapan titik didih, penetapan putaran
optik, uji aktivitas ekstrak kombinasi

Tanaman klabet dan Tanaman

ketelan (In Vitro) dan pada pasien Diabetes Mellitus (In Vivo).
Data-data peningkatan jumlah pasien penyakit gula darah tidak
seimbang dengan peningkatan obat-obatan baik sintetik maupun obat
herbal untuk mengatasi penyembuhan penyakit gula darah. Secara
tradisional, pengobatan Diabetes Mellitus sudah dilakukan dengan
menggunakan ekstrak biji klabet dan daun tekelan.

64

2.16

Skema Kerangka Konseptual


Penyakit diabetes melitus
Tanaman klabet

2.

Uji aktivitas
ekstrak

Tanaman tekelan

Kandungan kimia
Analisis

Komponen
Kimia
Kelompok
Senyawa,
gugus fungsi
dan ion
molekul

Fisikokimia
Massa
Jenis

Kelarutan

Fitokimia
Titik
didih

Putar
optik

Alkaloid,
Flavonoid,
Saponin dan
Monoterpenoid

Hipotesis

Gambar 2.16. Bagan Kerangka Konseptual


2.17. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka konseptual maka hipotesis
penelitian dirumuskan sebagai berikut :
1

Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan memiliki kandungan kimia
kelompok senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan monoterpenoid.

Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan memiliki sifat fisiko kimia
antara lain massa jenis, kelarutan, titik didih dan putar optik.

Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan memiliki aktivitas terhadap
penyakit gula darah

65

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.

Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental desain laboratorium.

3.2.

Waktu dan Tempat Penelitian

3.2.1. Waktu Penelitian

66

Penelitian ini dilaksanakan mulai dari tanggal 13 Mei sampai 2015 .


3.2.2. Tempat Penelitian
3.2.2.1. Laboratorium kimia UNWIRA Kupang
Pembuatan ekstrak, pengujian KLT, uji kelarutan, penentuan
titik didih, penentuan putaran optik, penentuan uji alkaloid, flavonoid,
saponin dan monoterpenoid.
3.2.2.2. Laboratorium Mikrobiologi UNWIRA Kupang
Penentuan massa jenis.
3.2.2.3. Laboratorium Kimia Analitik Universitas Airlangga Surabaya
Analisis instrumen FTIR dan GC-MS.

3.2.2.4. UPTD Laboratorium Kesehatan Pemerintah Propinsi NTT dan


Rumah Pasien
Uji aktivitas ekstrak kombinasi biji klabet dan tekelan
3.3.

Populasi dan sampel

3.3.1.

Populasi

3.3.1.1. Tanaman Klabet

67

Seluruh bagian tanaman klabet yang terdiri dari akar, batang, daun,
bunga, buah dan biji yang terdapat di Kota Kupang.
3.3.1.2. Tanaman Tekelan
Seluruh bagian tanaman tekelan yang terdiri dari akar, batang, daun,
bunga, buah dan biji yang terdapat di Kota Kupang.
3.3.1.3. Pasien Positif batu ginjal
Seluruh pasien yang positif terkena penyakit diabets melitus
3.3.2.

Sampel

3.3.2.1. Biji Klabet


Biji klabet yang digunakan pada penelitian adalah dari tanaman klabet
yang

terdapat di Cumbi desa Warloka kecematan Komodo Labuan Bajo

3.3.2.2. Daun Tekelan


Daun tekelan angsana yang digunakan pada penelitian adalah dari
tanaman ketelan

yang terdapat di RT 024/RW 009 Kelurahan Maulafa

Kota Kupang.
3.3.2.3. Pasien Positif Diabetes Melitus
Pasien Diabetes Melitus yang menjadi mitra dalam penelitian ini
adalah pasien yang telah diperiksa di rumah sakit Bayangkara kota kupang
yang memiliki penyakit daibetes sebagai berikut :

68

Nama

: BA

Jenis kelamin: Laki-laki


Umur

: 45Tahun

Alamat

: Jln. Uyelewun RT 024/009 Tofa kupang.

3.4. Variabel Penelitian


3.4.1. Variabel Bebas
Variabel bebas dari penelitian ini adalah :
1

Ekstrak kombinasi biji ketelan dan daun Tekelan.

Pelarut metanol.

3.4.2. Variabel Terikat


Variabel terikat pada penelitian ini adalah :
1

Kandungan kimia yang terkandung dalam ekstrak kombinasi biji klabet dan
daun tekelan

Sifat fisiko kimia ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan.

Aktifitas ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan terhadap penyakit
gula darah
Hal yang perlu diperhatikan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian :

69

1. Subyek penelitian tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan atau


minuman yang memicu penyakit gula darah
2. Subyek penelitian tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat-obatan atau
produk lain selama penelitian.
3.5. Alat dan bahan
3.5.1. Alat
3.5.1.1. Persiapan Sampel
Jergen, kapas, lumpang + alu, pisau, neraca analitik, corong, gelas kimia
250 mL,

baskom, senduk, peniti, aluminium foil, karet gelang, kertas

saring, kapas wajah, panci aluminium, labu elenmeyer 250 mL,


termometer 1100C, pembakar spritus, kaki tiga, kawat kasa.
3.5.1.2.

Uji Pelarut Etanol


Gelaskimia 50 mL, gelasukur 50 mL, kaca arloji dan pipet tetes.
3.5.1.3.
Massa jenis
Gelas kimia 50 mL, neraca analitik, oven pemanas, pipet ukur, labu
erlemeyer 250 mL.
Kelarutan

3.5.1.4.

Pipet tetes, tabung reaksi, rak tabung reaksi, gelas kimia 500 mL.
3.5.1.5.

Titik didih
Gelas kimia 300 mL, labu erlemeyer150 mL, pembakar spiritus, kaki
tiga, kawat kasa, plat tetes, gelas ukur 50 mL, penyumbat gabus ,

termometer 1100C.
3.5.1.6.
Putaran optik
Labu erlemeyer150 mL, gelas kimia 250 mL, gelas ukur 50 mL,
polarimeter, lampu merkuri, corong.

70

3.5.1.7.
Alkaloid
2
3

Uji Fitokimia
Rak dan tabung reaksi, gelas ukur 10 mL, pipet tetes.
Flavonoid
Rak dan tabung reaksi, gelas ukur 10 mL, pipet tetes.
Saponin
Gelas kimia Herma 100 mL, gelas ukur 10 mL, pipet tetes, rak dan
tabung reaksi ,

gelas kimia pirex 250 mL.

Monoterpenoid
Tabung reaksi, pipet tetes.

3.5.1.8 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Plat KLT, pipa kapiler, pipet tetes, gelas kimia 250 mL, penggaris 30
cm, pensil, gunting, lampu UV 254 nm, silinder ukur, botol chamber,
kaca arloji.
3.5.1.9 Spektrometri Inframerah (IR)
Spektrometer infra merah Jasco FT-IR-5300 pada bilangan gelombang
400-4000 cm-1.
Radiasi inframerah : dihasilkan oleh pemijar Nernst dan Globar. Globar
merupakan

batangan silikon karbida yang

dipanasi sekitar 1.200C, memancarkan radiasi


continue pada daerah 1 40 m. Pijar Nernst
merupakan batang cekung dari sirkonum dan
yttrium oksida yang dipanasi sekitar 1500C
memancarkan radiasi antara 0,4 20 m.
Monokromator

: Prisma natrium klorida paling banyak digunakan


untuk

monokromator

inframerah

dispersinya tinggi antara 5,0 16 m.

71

karena

Detektor

Detektor

panas

untuk

mendeteksi

sinar

inframerah, yaitu termokopel, bolometer dan sel


golay. Ketiga detektor ini bekerja berdasarkan efek
pemanasan

yang

ditimbulkan

oleh

sinar

inframerah.

3.5.1.10

Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (GC-MS)


GC-MS merek Shimadzu tipe QP2010S, suhu injektor 280 oC, suhu

kolom 40 270 oC, jenis kolom Rtx-5MS, panjang kolom 30.00 m,


ketebalan 0.25 m, diameter 0,25 mm, dan jenis pengion EI (Electron
Impact) 70 eV.
3.5.1.11 Uji aktivitas
3.5.1.11.1 In vitro
Tabung reaksi pyrex, silinder ukur 10 mL, gelas kimia pyrex 250 mL,
pembakar spiritus, kaki tiga, kawat kasa.
3.5.1.11.2 In vivo
Silinder ukur 10 mL, senduk, gelas.
3.5.2
Bahan
3.5.2.1

Persiapan Sampel
Biji klabet dan daun ketelan, air bersih.

3.5.2.2

Ekstraksi
Metanol 96 % p.a, sampel Biji klabet dan daun tekelan

3.5.2.3

Uji Pelarut Metanol


Minyak goreng dan asam sulfat pekat.

3.5.2.4

Analisis Fisiko-kimia

3.5.2.4.1

Uji Kelarutan
72

Ekstrak kombinasi Biji klabet dan daun ketelan aquades, dietil eter
95% p.a , kloroform 95% p.a dan metanol 96 % p.a.
3.5.2.4.2

Penentuan Titik Didih


Ekstrak kombinasi Biji klabet dan daun tekelan

3.5.2.4.3

Penetapan Massa Jenis


Ekstrak kombinasi Biji klabet dan daun tekelan

3.5.2.4.4

Penentuan Putaran Optik


Ekstrak kombinasi Biji klabet dan daun tekelan

3.5.2.5
Analisis Fitokimia
3.5.2.5.1 Uji Alkaloid
Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan, reagen mayer dan
reagen wagner.
3.5.2.5.2

3.5.2.5.3

Uji Flavonoid
Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan HCl pekat 37% dan
serbuk magnesium.
Uji Tanin
Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan dan pereaksi besi (III)

klorida.
3.5.2.5.4 Uji Saponin
Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan, FeCl3 dan aquades.
3.5.2.5.5 Uji Triterpenoid
Ekstrak kombinasi Biji klabet dan daun tekelan , asam asetat anhidrat
95% p.a dan H2SO4 pekat 96% p.a.
3.5.2.6 Analisis Komponen Kimia
3.5.2.6.1

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Ekstrak kombinasi Biji klabet dan daun tekelan

73

3.5.2.7

Spektrometri Inframerah (IR)


Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan

3.5.2.8 Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (GC-MS)


Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
3.5.2.9 Uji Aktivitas
3.5.2.9.1

In vitro
Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan, glukosa, pereaksi

fehling, aquadest.
3.5.2.9.2 In vivo
Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan, air minum.
3.6
3.6.1
1.
2.
3.
4.
5.

Prosedur Kerja
Persiapan sampel
Ambil biji klabet dan daun tekelan yang masih muda.
Cuci daun-daun tersebut dengan air bersih.
Keringkan biji klabet dan daun tekelan dengan cara diangin-anginkan.
Mol daun dan biji tekelan tersebut dengan alat gilingan.
Simpan dalam baskom untuk proses ekstraksi.

3.6.2 Ekstraksi
1. Timbang 200 gram biji klabet dan 200 gram daun tekelan
2. Campurkan biji klabet dan daun tekelan yang telah halus ke dalam
labu Erlenmeyer 2000 mL.
3. Tambahkan 1000 mL metanol 96% p.a, campur hingga merata.
4. Tutup Labu erlenmeyer dengan menggunakan aluminium foil, dan
diberi sedikit lubang dengan menggunakan peniti,
5. Biarkan selama 3 x 24 jam untuk proses maserasi.
6. Saring ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan hasil maserasi
dengan menggunakan kapas wajah .
7. Saring ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan dengan kertas
saring wogmen 41 untuk mendapatkan filtrat yang jernih dan
residunya.
8. Tempatkan ke dalam baskom dan ditutup dengan aluminum foil,
dilubangi permukaannya.
74

9. Uapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan hasil maserasi
selama 2 minggu.
10. Panaskan ekstrak biji klabet dan daun tekelan dengan menggunakan
penangas selama 30 menit, uapkan selama 1 hari.
11. Simpan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan murni tanpa
pelarut untuk uji fisiko-kimia, uji fitokimia, IR, GC-MS, dan uji
aktivitas.
3.6.3
1.
2.
3.
4.
5.

Uji pelarut metanol


Siapkan ekstrak biji klabet dan daun tekelan hasil penguapan.
Masukkan 1 mL minyak goreng pada kaca arloji.
Tambahkan 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
Teteskan beberapa tetes H2SO4 pekat 96% p.a.
Amati hasil yang diperoleh. Ada tidaknya kandungan metanol ditandai
pada gejala aroma yang ditimbulkan. Jika aromanya harum maka
ekstrak masih mengandung metanol. Jika tidak ada aroma harum

maka ekstrak tidak mengandung metanol.


3.6.4 Analisis Fisiko-Kimia
3.6.4.1 Uji kelarutan
1. Masukkan 1 mL aqudes ke dalam tabung reaksi.
2. Tambahkan 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dalam tabung reaksi.
3. Aduk campuran dalam tabung reaksi hingga tercampur secara merata.
4. Amati hasil yang diperoleh.
5. Ulangi langkah 1 - 4 aquades diganti dengan metanol 96% p.a,
dietil- eter 95% p.a dan kloroform 95% p.a.
3.6.4.2 Penentuan titik didih
1 Siapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan.
2 Masukkan 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan ke
3

dalam tabung reaksi.


Tutup tabung reaksi menggunakan penyumbat gabus, yang sudah
dirangkai dengan termometer.

75

Masukkan tabung reaksi ke dalam penangas air hingga mencapai


suhu tertinggi yang dicapai ekstrak kombinasi biji klabet dan akar

daun daun tekelan.


Catat hasil suhu tertinggi yang sudah konstan.

3.6.4.3 Penetapan massa jenis


1 Siapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan.
2 Timbang gelas kimia 50 mL dengan menggunakan neraca analitik.
3 Panaskan gelas kimia pada suhu 1100C selama 15 menit.
4 Timbang gelas kimia.
5 Ulangi lagi langkah 2-4, untuk memperoleh berat konstan gelas kimia.
6 Ukur 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan masukan ke
7

dalam gelas kimia 50 mL.


Timbang berat gelas kimia dan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun

3.6.4.4
1
2
3

tekelan Hitung nilai massa jenis.


Penentuan putaran optik
Siapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
Masukkan 20 mL metanol ke dalam gelas kimia 250 mL.
Tambahkan 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan,

campur hingga merata.


Masukkan campuran ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan

dengan metanol 96% p.a ke dalam tabung polarimeter.


Masukkan tabung polarimeter ke dalam analisator.
Putar analiser sambil memperhatikan melalui teleskop sampai

7
8
9

intensitas sinar sama dengan penerangnya.


Baca nilai derajat menit dan catat hasilnya.
Kembalikan analiser ke angka nol.
Ulangi langkah 1 8 dengan perbandingan konsentrasi ekstrak,

sebagai berikut :25 mL metanol dan 1 mL ekstrak kombinasi biji


klabet dan daun tekelan 30 mL metanol
3.6.5 Analisis Fitokimia
3.6.5.1 Persiapan Reagen
3.6.5.1.1 Pembuatan reagen Meyer
1 Timbang KI sebanyak 6 gram.
2 Larutkan KI dengan aquades sebanyak 10 mL.
3 Timbang HgCl2 sebanyak 1,358 gram.
4 Larutkan HgCl2 dalam 60 mL aquades.
5 Campurkan larutan KI dan HgCl2.
6 Tambahkan air sampai volume 100 mL, dicampur hingga homogen.

76

3.6.5.1.2 Pembuatan reagen Wagner


1 Timbang KI sebanyak 2 gram.
2 Timbang serbuk I2 sebanyak 4 gram.
3 Campur KI dan I2.
4 Tambahkan sedikit air dan larutkan KI dan I2.
5 Masukkan larutan ke dalam labu Volumetrik.
6 Tambahkan aquades hingga mencapai 100 mL.
7 Campur hingga homogen, simpan dalam botol reagen dan diberi label.
3.6.5.2 Uji Alkaloid
1 Siapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan, reagen Meyer
2

dan reagen Wagner.


Masukkan 2 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan ke

dalam tabung reaksi.


Tambahkan 0,5 mL larutan HCL 25%, campur hingga merata.
Bagi larutan tersebut menjadi dua bagian dengan jumlah yang sama.
Tabung pertama dimasukkan 2 - 3 tetes reagen Meyer.
Amati perubahan yang terjadi.
Tabung ke dua, masukkan 2 - 3 tetes reagen Wagner.
Amati perubahan yang terjadi.
3.6.5.3
Uji Flavonoid
1 Siapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan.
2 Buat larutan HCl 37%.
3 Potong pita magnesium menjadi beberapa bagian kecil.
4 Ukur 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
masukkan ke dalam tabung reaksi.
5 Teteskan 5 tetes larutan HCl 37% ke dalam tabung reaksi, kocok
3
4
5
6
7
8

sampai homogen.
Tambahkan serbuk Mg dan amati perubahan yang terjadi.

Uji Tanin
Ukur 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan masukkan

3.6.5.4

ke dalam tabung reaksi.


2 Teteskan 5 tetes pereaksi besi (III) klorida.
3 Amati perubahan yang terjadi.
3.6.5.5 Uji Saponin
1. Ukur 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan masukkan
ke dalam tabung reaksi.
2. Tambahkan 2 mL air.
3. Panaskan dalam penangas air.
4. Kocok dan amati perubahan yang terjadi.
3.6.5.6 Uji Steroid/Triterpenoid
1. Siapkan sebuah tabung reaksi.

77

2. Ukur 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan masukkan


ke dalam tabung reaksi.
3. Teteskan 2 tetes asam asetat anhidrat ke dalam tabung reaksi yang
berisi ekstrak hingga semua ekstrak terendam.
4. Teteskan 5 tetes H2SO4 pekat dalam tabung reaksi.
5. Amati perubahan yang terjadi.
3.6.5.7 Analisis Komponen Kimia
3.6.5.7.1

KLT

1. Potong kertas KLT dengan panjang 5 cm dan lebar 2 cm.


2. Garis pembatas pada kertas KLT dengan batas bawah 1 cm dan batas
3.
4.
5.
6.
7.
8.

atas 0,5 cm.


Siapkan ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan.
Masukkan 4,5 mL metanol 96% p.a ke dalam botol chamber.
Tambahkan 0,5 mL aquades ke dalam botol chamber.
Tutup botol chamber, kocok hingga tercampur merata
Biarkan selama 10-15 menit.
Campurkan 0,1 mL ekstrak dan 1 mL metanol 96% p.a pada kaca

arloji hingga merata.


9. Dengan menggunakan pipa kapiler, totolkan ekstrak yang telah
dicampur dengan metanol 96% p.a pada kertas KLT pada batas bawah.
10. Biarkan beberapa menit.
11. Masukkan kertas KLT yang telah ditotol dengan ekstrak ke dalam
botol chamber yang telah berisi campuran air dan metanol (4,5 : 0,5)
mL.
12. Biarkan beberapa menit.
13. Amati fase gerak (air dan metanol) pada botol chamber mendekati
batas atas kertas KLT pada tanda batas.
14. Angkat kertas KLT, biarkan beberapa menit hingga mengering.
15. Amati noda yang tampak pada kertas KLT menggunakan lampu UV
254 nm.
16. Beri lingkaran pada noda yang tampak.
17. Ulang langkah 1-16 tetapi mengganti eluen dengan berbagai variasi
yakni metanol 96% p.a : kloroform 95% p.a dengan perbandingan

78

4,5:0,5 dan metanol 96% p.a : kloroform 95% p.a : aquadest dengan
perbandingan 2:6:2.
18. Hitung nilai Rf.

3.6.6

Spektrometri Inframerah (IR)


Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan dianalisis gugus fungsi
dengan IR di Laboratorium Farmasi Airlangga Surabaya.

3.6.7

Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (GC-MS)


Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan dianalisis fragmen ion
molekul dengan GCMS di

Laboratorium Farmasi Airlangga

Surabaya.
3.6.8 Uji Aktivitas
3.6.8.1 In Vitro
1. Ukur 10 mL aquades, timbang 10 gr glukosa, larutkan glukosa
tersebut dalam aquades.
2. Masukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 2 mL larutan glukosa
3.
4.
5.
6.

tersebut.
Tambahkan 1 mL larutan fehling.
Panaskan dengan menggunakan penangas air.
Amatilah perubahan yang terjadi.
Masukkan larutan glukosa sebanyak 2 mL ke dalam tabung reaksi

pyrex.
7. Tambahkan 1 mL ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan.
8. Panaskan dengan menggunakan penangas air.
9. Amatilah perubahan yang terjadi.

3.6.8.2 Uji aktivitas In Vivo


1. Periksa kadar gula darah pasien di Laboratorium Klinik Kartini Kota
Kupang.
2. Hasilnya menunjukkan kadar gula pasien > 200 mg/dL.

79

3. Pasien diberi minum ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan:
air, (2:3) sebanyak 5 mL
4. Dosis 2 kali sehari, 5 mL selama 3 minggu.
5. Periksa kembali kadar gula darah pasien di Laboratorium klinik yang
sama.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
3.7.1 Parameter Lab
Parameter lab dalam penelitian untuk memperoleh data sifat fisika
kimia antara lain: kelarutan, massa jenis, titik didih, putaran optik,
alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid metode KLT, Spektro

3.7.2

IR,GC-MS, aktivitas ekstrak kombinasi


biji klabet dan daun tekelan
Wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh keterangan awal dari
seorang pasien yang memiliki keluhan khusus. Keluhan ini diharapkan
agar pasien tersebut mengalami gejala Diabetes Mellitus sehingga dapat
dijadikan sebagai subyek penelitian.

3.8 Teknik Analisis Data


3.8.1
Ekstraksi
Data hasil ekstraksi biji klabet dan daun tekelan dianalisis
menggunakan rumus:
berat ak hir ekstrak
rendemen ekstrak=
x 100
berat awal ekstrak
3.8.2

3.8.3
1

Uji Pelarut Metanol


Data hasil uji metanol ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis menggunakan data perbandingan aroma ester yang terbentuk.
Analisis Sifat Fisiko-kimia
Uji Kelarutan
Data hasil uji kelarutan biji klabet dan daun tekelan dianalisis
menggunakan jumlah volume pelarut.

80

Penentuan Titik didih


Data hasil penentuan titik didih ekstrak kombinasi biji klabet dan daun
tekelan dianalisis dengan titik didih tertinggi.
Penetapan Massa jenis

m
V

Data hasil penetapan massa jenis, ekstrak kombinasi biji

klabet dan daun tekelan dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut:

dimana :

: massa jenis ekstrak (gram/mL)

: massa ekstrak (gram)

: volume ekstrak (mL)

Penentuan Putar Optik


Data hasil penentuan putar optik, biji klabet dan daun tekelan dianalisis
menggunakan rumus sebagai beikut :

31D

l. C

Keterangan :

81

31D

3.8.4

: Sudut putar jenis garis D Merkuri pada suhu 310 C

: Sudut putar teramati pada suhu 310 C

: Panjang tabung

: Konsentrasi larutan

Analisis Fitokimia
1. Uji Alkaloid
Data hasil uji alkaloid ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis menggunakan perbandingan data teoritis reagen Wagner dan
reagen Mayer.
2. Uji Flavonoid
Data hasil uji flavonoid ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis mengunakan perbandingan data teoritis hasil positif reagen
wilstaler sianidin (HCl + Mg).
3. Uji Tanin
Data hasil uji tanin ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis menggunakan perbandingan data teoritis pereaksi besi (III)
klorida hasil positif warna hijau kehitaman.
4. Uji Saponin
Data hasil uji saponin ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis menggunakan perbandingan data teoritis hasil positif

5.

terbentuknya busa seperti sabun.


Uji Triterpenoid
Data hasil uji triterpenoid ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis menggunakan perbandingan data teoritis hasil positif
terbentuknya warna hijau biru dengan pereaksi asam asetat anhidrat dan

82

asam sulfat pekat.


3.8.5

KLT
Data hasil KLT ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis menggunakan rumus sebagai beikut :

Rf

Jarak yang di tempuh senyawa terlarut


Jarak yang ditempuh pelarut

(Rohman, 2009:5)

3.8.6

Spektroskopi Infra Merah (IR)


Data hasil spektroskopi IR ekstrak kombinasi biji klabet dan daun
tekelan dianalisis dengan membandingkan data teoritis gugus fungsi.

3.8.7

Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (GC-MS)


Data hasil GC-MS ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan
dianalisis dengan membandingkan data teoritis ion molekul

3.8.8

Aktivitas
1. Data hasil uji aktifitas secara in vitro dianalisis menggunakan
perbandingan data teoritis glukosa dengan reagen fehling.
2. Data hasil uji aktifitas secara in vivo dianalisis menggunakan data
teoritis laboratorium kadar gula darah normal, dan data klinik pasien
sebelum dan sesudah terapi.

83

3.9

Skema Kerja

biji klabet, dikeringkan,


dihaluskan , timbang s
ebanyak 200 gram

daun ketelan,
dianginkan,
dihaluskan , timbang
sebanyak 200 gram

campur

campuran biji klabet dan daun tekelan

sebanyak 400 gram

Maserasi dengan menggunakan 1 L


Metanol 96% Pa

Saring menggunakan kapas wajah dan kertas saring


uapkan

Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun tekelan


Uji ada tidaknya metanol
menggunakan H2SO4 pekat dan

minyak goreng

Ekstrak kombinasi biji klabet dan daun


tekelan murni
analisis

fitokimi
a
Flavonoid,
alkaloid,
tanin,
saponin,
steroid/trite
rpenoid

komponen
kimia

fisiko

Kelarutan,t
itik
didih,massa
jenis,dan
putar optik
(Polarisasi)

84

Kelompok
senyawa,
gugus
fungsi, ion
molekul

akttivitas

In vitro :
pada glukosa
menggunaka
n pereaksi
fehling

Invivo :
pada pasien
penyakit
Diabetes
Mellitus