Anda di halaman 1dari 23
Oleh: KEPALA BIDANG URAIS & BINSYAR LYNN eu TUS Ne USWA Ides VIED LU KANWIL KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI! DK! JAKARTA 2015 Kiblat berasal dari bahasa Arab (48) artinya Arah Secara harfiah pengertian “kiblat” adalah arah orang menghadap. Oleh karena itu Ka’bah disebut sebagai kiblat karena ia menjadi arah menghadap bagi orang yang hendak melaksanakan shalat terutama yang berada di Masjidil Haram. Dengan begitu ada tiga pengertian dari kata “kiblat”, yaitu: 1. Ka’bah 2. Arah menghadap Ka’bah ketika menunaikan shalat 3. Arah terdekat menghadap menuju ka’bah Reece enters ¥ Bahwa dahulu orang yang memeluk islam di Paramaribo Suriname, pada saat melaksanakan shalat ada yang menghadap ke Barat serong ke Utara dan ada pula yang menghadap ke Timur serong ke Utara. Hal ini terjadi karena orang-orang di Negara tersebut yang berasal dari tanah jawa (keturunan jawa) berkeyakinan bahwa shalat itu mesti menghadap ke barat serong ke utara, sebagaimana sewaktu mereka masih di pulau jawa. (Ka’bah) Namun, yang semestinya adalah menghadap ke guia arah Timur serong ke Utara Penduduk Paramaribo Pernah datang kepada Nabi Muhammad Saw dua orang sahabat yang berbeda ijtihadnya tentang arah kiblat. Kisah itu diawali ketika dua orang sahabat sedang bepergian jauh dari kota mekah, di perjalanan tiba waktunya bagi kedua orang tersebut untuk melaksanakan shalat. Akan tetapi mereka kehilangan Arah, masing-masing menghadap ke arah yang berlainan, maka mereka pun menunaikan shalat dengan ijtihadnya masing-masing. Akhirnya mereka tahu bahwa mereka telah sholat tidak menghadap kiblat yang semestinya. Salah satu dari mereka mencukupkan diri dengan sholat tersebut sedangkan yang satunya mengulangi sholatnya. Sesampainya di tanah haram mereka pun datang menjumpai Nabi Saw dan menanyakannya kepada Nabi. Nabi Muhammad Saw menjawab kepada orang pertama tadi bahwa: 4! sual “kamu telah benar (menetapi) sunnah” dan mengatakan kepada orang kedua: o#)4 »3¥) 4! “kamu mendapatkan pahala dua kali”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan). Semoga dari kisah tersebut kita bisa mengambil hikmah. Dari kutayyib yang berjudul Adabul Ikhtilaf (Dar Ibn Hazm: 1414/1993, hal. 25-27) karya Syaikh ‘Aqil bin Muhammad al-Muathiri 1. Adanya Pemberitaan baik di media cetak maupun elektronik tentang Isu Pergeseran Arah Kiblat; 2. Dampak Isu Pergeseran Arah Kiblat Tempat Ibadah Terhadap Kehidupan beragama di DKI Jakarta, banyak masyarakat mengajukan verifikasi Arah Kiblat; 3. Hasil Verifikasi Arah Kiblat: masih banyak yang belum tepat arah kiblatnya; 4. Adanya pengertian Arah Kiblat ke Barat serong sedikit ke Utara “sekedar kira-kira”; Perlunya dilaksanakan kegiatan Sosialisasi, Verifikasi dan Sertifikasi Arah Kiblat untuk menjawab Persoalan dan Tantangan Kehidupan Beragama Intern Umat di Provinsi DKI Jakarta. Di Provinsi DKI Jakarta terdapat 3148 Masjid, 5648 Musholla, Serta #132 TPU. Namun yang sudah disertifikasi Arah Kiblatnya berjumlah 75 Lokasi, terdiri dari 19 masjid dan 56 musholla. (Sumber: Badan Hisab Rukyat (BHR) DK] Jakarta) Jumlah Total yang belum disertifikasi sebanyak 8853 lokasi yang terdiri dari masjid, musholla, dan TPU (Sumber: Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) DKI Jakarta) 95% Belum Akurat Kiblatnya : selisih 5 — 30 derajat Yang telah diverifikasi Arah Kiblatnya oleh Tim BHR Kanwil Kementerian Agama DK! Jakarta sebanyak 75 Lokasi: Masjid = 19 Lokasi Musholla = 56 Lokasi Hasilnya: Dinyatakan Tepat 2 _Lokasi Menyimpang 0-5°/eraiat = 26 Lokasi Menyimpang 5-10°/4eraiat =15 Lokasi Menyimpang 10-15°/eraiat =9 _Lokasi Menyimpang 15-20°/eraiat =10 Lokasi Menyimpang >20°4eraiat 13 Lokasi 1. Problem Pemahaman dan Perbedaan Persepsi. 2. Problem Pendekatan Hisab yang digunakan. a. pan Faktor Data i. Data Kordinat Tempat ii. Data Matahari & Bulan Faktor Metode Faktor Alat Faktor Koreksi Faktor Hasib Beberapa Tehnik Penentuan Arah Kiblat dilapangan: 1. Dengan Bayang-bayang Matahari 2. Dengan Kompas 9 3. Dengan Theodolite at Bayang-bayang Arah Kiblat: Lokasi we Pengukuran er | Arah Kiblat & Bayang-bayang Arah Kiblat saat Matahari di Zenith Ka’bah Waktu Matahari Tepat di Zenith KA"'BAH 27 MEI (Tahun Basithah) 28 MEI (Tahun Kabisat) wiB WITA wit wis WITA Wit 16.17.50 | 17.17.50 | 18.17.50 | 16.17.57 | 17.17.57 | 18.17.57 16.17.54 | 17.17.54 | 18.17.54 | 16.18.01 | 17.18.01 | 18.18.01 16.17.52 | 17.17 .52 | 18.17.52 16.18.00 17.18.00 18.18.00 16.17.50 | 17.17.50 | 18.17.50 | 16.17.58 | 17.17.58 | 18.17.58 16.17.49 | 17.17 .49 | 18.17.49 16.17.57 17.17.57 18.17.57 16.17.55 | 17.17 .55 | 18.17.55 16.18.03 17.18.03 18.18.03 45 JULI (Tahun Basithah) 46 JULI (Tahun Kabisat) wis WITA wit WIB WITA WIT 16.26.39 | 17.26.39 | 18.26.39 | 16.25.45 | 17.25.45 | 18.25.45 16.26.43 | 17.26.43 | 18.26.43 | 16.26.49 | 17.26.49 | 18.26.49 16.26.41 | 17.26.41 | 18.26.41 | 16.26.47 | 17.26.47 | 18.26.47 16.26.41 | 17.26.41 | 18.26.41 | 16.26.47 | 17.26.47 | 18.26.47 16.26.40 17.26.40 | 18.26.40 16.26.46 17.26.46 18.26.46 16.26.44 | 17.26.44 | 18.26.44 | 16.26.49 | 17.26.49 | 18.26.49 Pcie cc cn ntcce tien heaters “ a by . ae ; ; Deklinasi Kompas/ Variasi Magnetik amare t oe KAKLLANGIL Arahkan theodolit untuk membidik matahari, perkirakan dari indikator arah Set 0 setelah posisi matahari diperoleh. Kunci ux kt uF AK LANGITEL — oe PEMBENAHAN RS RS ty LS 4 PENGATURAN SHAF e ARAH KIBLAT WILAYAH KECAMATAN MAKASAR Cotan B = Sina x Cotan b: Sin C-Cos a x Cotan C 9 ‘\ oe — Ket: a adalah jarak dari kutub utara ke lokasi pengukuran, b adalah jarak dari kutub utara ke Ka’bah, dan C adalah jarak selisih bujur Kabah dengan bujur Lokasi. (Jarak diukur dalam satuan derajat, menit busur, dan detik busur) BUJUR MEKAH Cocca f Arah Kiblat adalah arah menuju Masjidil Haram, untuk wilayah DK! Jakarta di ukur dari titk Barat serong Ke Utara yang dinotasikan yy 4 Putaran dalam busur mata angin: 25° (BU) rapa wean) Masui 2 vanans C 20,8: 70| Pa eo Azimuth Kiblat adalah putaran arah mata angin pada bidang horison yang diukur dari titik utara ke arah timur searah jarum jam, untuk wilayah DKI Jakarta dinotasikan dalam busur mata angin: 295° (UTSB) 180°