Anda di halaman 1dari 4

TUGAS AGAMA ISLAM

BAYI TABUNG MENURUT HUKUM ISLAM

DISUSUN OLEH:

NAMA

: RIZKY ENDAH WIJAYANTI

NIM

: 25010112120033

KELAS

: A 2012

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012

1. Pengertian
Pelayanan terhadap bayi tabung dalam dunia kedokteran sering dikenal
dengan istilah fertilisasi-in-vintro yang merupakan pembuahan sel telur oleh sel
sperma di dalam tabung petri yang dilakukan oleh petugas medis. Bayi tabung
merupakan suatu teknologi reproduksi berupa teknik pembuahan sel telur (ovum) di
luar tubuh wanita. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara
hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam
sebuah medium cair. Namun kemudian mulai ada perkembangan dimana kemudian
program ini diterapkan pada yang memiliki penyakit atau kelainan lainnya yang
menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan.
2. Macam
a. Pembuahan Dipisahkan dari Hubungan Suami-Isteri.
Teknik bayi tabung memisahkan persetubuhan suami istri dari pembuahan
bakal anak. Dengan teknik tersebut, pembuahan dapat dilakukan tanpa persetubuhan.
Keterarahan perkawinan kepada kelahiran baru sebagaimana diajarkan oleh Gereja
tidak berlaku lagi. Dengan demikian teknik kedokteran telah mengatur dan menguasai
hukum alam yang terdapat dalam tubuh manusia pria dan wanita. Dengan pemisahan
antara persetubuhan dan pembuahan ini, maka bisa muncul banyak kemungkinan lain
yang menjadi akibat dari kemajuan ilmu kedokteran di bidang pro-kreasi manusia.
b. Wanita Sewaan untuk Mengandung Anak.
Ada kemungkinan bahwa benih dari suami istri tidak bisa dipindahkan ke
dalam rahim sang istri, oleh karena ada gangguan kesehatan atau alasan alasan lain.
Dalam kasus ini, maka diperlukan seorang wanita lain yang disewa untuk
mengandung anak bagi pasangan tadi. Dalam perjanjian sewa rahim ini ditentukan
banyak persyaratan untuk melindungi kepentingan semua pihak yang terkait. Wanita
yang rahimnya disewa biasanya meminta imbalan uang yang sangat besar. Suami
istri bisa memilih wanita sewaan yang masih muda, sehat dan punya kebiasaan hidup
yang sehat dan baik. praktik seperti ini biasanya belum ada ketentuan hukumnya,

sehingga kalau muncul kasus bahwa wanita sewaan ingin mempertahankan bayi itu
dan menolak uang pembayaran, maka pastilah sulit dipecahkan.
c. Sel Telur atau Sperma dari Seorang Donor.
Masalah ini dihadapi kalau salah satu dari suami atau istri mandul; dalam arti
bahwa sel telur istri atau sperma suami tidak mengandung benih untuk pembuahan.
Itu berarti bahwa benih yang mandul itu harus dicarikan penggantinya melalui
seorang donor.
Masalah ini akan menjadi lebih sulit karena sudah masuk unsur baru, yaitu
benih dari orang lain. Pertama, apakah pembuahan yang dilakukan antara sel telur
istri dan sel sperma dari orang lain sebagai pendonor itu perlu diketahui atau
disembunyikan identitasnya. Kalau wanita tahu orangnya, mungkin ada bahaya untuk
mencari hubungan pribadi dengan orang itu. Ketiga, apakah pria pendonor itu perlu
tahu kepada siapa benihnya telah didonorkan. Masih banyak masalah lain lagi yang
bisa muncul.
d. Munculnya Bank Sperma
Praktik bayi tabung membuka peluang pula bagi didirikannya bank bank
sperma. Pasangan yang mandul bisa mencari benih yang subur dari bank bank
tersebut. Bahkan orang bisa menjual belikan benih benih itu dengan harga yang
sangat mahal misalnya karena benih dari seorang pemenang Nobel di bidang
kedokteran, matematika, dan lain-lain. Praktek bank sperma adalah akibat lebih jauh
dari

teknik

bayi

tabung.

Kini

bank

sperma

malah

menyimpannya

dan

memperdagangkannya seolah olah benih manusia itu suatu benda ekonomis.


Tahun 1980 di Amerika sudah ada 9 bank sperma non komersial. Sementara
itu bank bank sperma yang komersil bertumbuh dengan cepat. Wanita yang
menginginkan pembuahan artifisial bisa memilih sperma itu dari banyak
kemungkinan yang tersedia lengkap dengan data mutu intelektual dari pemiliknya.
Identitas donor dirahasiakan dengan rapi dan tidak diberitahukan kepada wanita yang
mengambilnya, kepada penguasa atau siapapun.
3. Menurut pandangan Islam

Apabila mengkaji tentang bayi tabung dari hukum islam,maka harus dikaji
dengan memakai metode ijtihad yang lazim dipakai oleh para ahli ijtihad agar hukum
ijtihadnya sesuai dengan prinsip-prinsip dan jiwa al-Quran dan sunnah menjadi
pasangan umat. Seperti yang tercuntum pada Surat Al-Tin ayat 4 :Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Inseminasi
dengan donor itu berarti manusia telah merendahkan harkatnya.
Hadist Nabi:
Tidak halal bagi seseorang yang beriman pada Allah dan hari Akhir menyiramkan
airnya (sperma) pada tanaman orang lain(vagina istri orang lain).Hadist Riwayat Abu
Daud,Al-Tirmizi dan hadist ini dipandang sahih oleh Ibnu Hibban.
Dengan

hadist

ini

para

ulama

sepakat

mengharamkan

seseorang

mengawini/melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari orang lain yang
mempunyai ikatan perkawinan yang sah.
Pada zaman dulu masalah bayi tabung/inseminasi buatan belum timbul,sehingga kita
tidak memperoleh fatwa hukumnya dari mereka.Kita dapat menyadari bahwa
inseminasi buatan / bayi tabung dengan donor sperma atau ovum lebih mendatangkan
madaratnya daripada maslahahnya.
a.

4. Kesimpulan
Inseminasi buatan dengan sel sperma dan ovum dari suami istri sendiri dan tidak
ditransfer embrionya kedalam rahim wanita lain(ibu titipan) DIPERBOLEHKAN
oleh islam,jika keadaan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar

b.

memerlukan.Dan status anak hasil inseminasi macam ini sah menurut Islam.
Inseminasi buatan dengan sperma dan ovum donor DIHARAMKAN oleh
Islam.Hukumnya sama dengan Zina dan anak yang lahir dari hasil inseminasi
macam ini statusnya sama dengan anak yang lahir diluar perkawinan yang sah.