Anda di halaman 1dari 18

PENGAPLIKASIAN TRIGONOMETRI UNTUK

MENENTUKAN ARAH KIBLAT


Makalah ini Dibuat sebagai tugas Mata Kuliah PAI
Dosen Pengampuh : Elin Erlina, DRA, M.Hum

Disusun Oleh :
Ahmad Lutfi

113130141

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2013/2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan inayah-Nya
penulis masih diberi kesehatan, shalawat serta salam tak lepas penulis panjatkan kepada
nabi besar Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyusun Makalah tentang
Pengaplikasian Trigonometri untuk menentukan Arah Kiblat.
Tentunya dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa tak lepas dari
bantuan refrensi dari berbagai pihak.
Semoga dengan adanya makalah ini bisa menambah pengetahuan dan wawasan
yang belum penulis pahami serta bermanfaat bagi pembaca.
Pemulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna jadi penulis
meminta kritik dan sarannya.

Cirebon, Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................

DAFTAR ISI................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................

1.1. Latar belakang.............................................................................

1.2. Rumusan Masalah........................................................................

1.3. Tujuan..........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................

2.1. Kabah ........................................................................................

2.1.1. Pengertian Kabah........................................................

2.1.2. Sejarah Perkembangan Kabah ....................................

2.1.3. Pembangunan Kabah ..................................................

2.2. Kiblat............................................................................................

2.2.1. Pengertian Kabah.........................................................

2.2.2. Hukum Arah Kiblat.......................................................

2.3. Trigonometri.................................................................................

2.3.1. Pengertian Trigonometri.................................................

2.3.2. Penentuan Besar Sudut Trigonomeri...............................

11

2.4. Penentuan Arah Kiblat..................................................................

11

2.4.1. Konsep Penentuan Arah Kiblat......................................

11

2.4.2. Perhitungan Arah Kiblat.................................................

12

BAB III PENUTUP........................................................................................

14

3.1. Kesimpulan....................................................................................

14

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................

15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Selama ini matematika dianggap sebagai ilmu yang abstrak, teoretis dan hanya berisi
rumus-rumus, seolah berada jauh dan tidak bersinggungan dengan realitas kehidupan.Namun
sebenarnya matematika merupakan ilmu dasar dari pengembangan sains (basic of science) dan
sangat berguna dalam kehidupan.Dalam perdagangan kecil-kecilan saja, orang dituntut untuk
mengerti aritmetika minimal penjumlahan dan pengurangan.
Dalam hal ibadah matematika mempunyai peran misalnya dalam hal sholat yang tak
lepas dari bilangan rakaat ataupun penentuan waktu sholat, dalam hal puasa bilangan hari
ditentukan dalam puasa wajib maupun sunah, dalam hal batas minimal zakat (nisab) serta
pembagiaannya.Peran matematika yang berkaitan dengan sholat adalah penentuan awal waktu
sholat dan menentukan arah kiblat. Dan yang kali ini akan dibahas yaitu tentang penentuan arah
kiblat.
Sebagian besar masyarakat Indonesia terdiri dari Umat Islam.Tentu saja dalam hal
sholat arah kiblat menjadi hal terpenting yang tidak dapat dikesampingkan karena menghadap
kiblat dalam sholat merupakan syarat sahnya sholat. Seorang mislim yang menetap di suatu
tempat tentu tidak kesulitan dalam menentukan arah kiblat, namun ketika ia bepergian jauh
memungkinkan kesulitan dalam menentukan arah kiblat ketika akan melakukan sholat. Islam
adalah agama ilmiah yang mempunyai dasar dari setiap amal yang dilakukan, termasuk dalam
menentuakan arah kiblat dalam sholat, tidak sekedar intuisi dalm menentukan arah kiblat.

1.2

Rumusan Masalah
1. Mengapa diperlukan arah kiblat yang benar sebagai sarana penyempurna ibadah?
2. Bagaimana aplikasi Trigonometri dalam menentukan arah kiblat disuatu tempat
berdasarkan perhitugan matematis?

1.3
1.

Tujuan Penulisan

Mengetahui pentingnya arah kiblat yang benar sebagai sarana penyempurna ibadah.
2. Mengetahui aplikasi Matematika dalam menentukan arah kiblat disuatu tempat

berdasarkan perhitugan matematis

BAB II

PEMBAHASAN
2.1.1

2.1 Kabah
Pengertian Kabah
Kakbah (bahasa Arab: , transliterasi: Ka'bah) adalah sebuah bangunan

mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan
ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam). Merupakan bangunan yang
dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi
umat Islam di seluruh dunia seperti salat.Selain itu, merupakan bangunan yang wajib
dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.
Sejarahwan, narator dan lainnya memiliki pendapat berbeda tentang siapa yang
telah

membangun

Kabah.

Beberapa

pendapat

itu

ada

yang

mengatakan Malaikat, Adam dan Syits. Dimensi struktur bangunan kakbah lebih kurang
berukuran 13,10m tinggi dengan sisi 11,03m kali 12,62m. Juga disebut dengan
nama Baitullah.

2.1.2

Sejarah Perkembangan Kabah


Kakbah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq (Arab: , Rumah Tua)

adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi
Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, surah 14:37
tersirat bahwa situs suci Kakbah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar
dan bayi Ismail di lokasi tersebut.
Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan
belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat
banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan
antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar
Aswad pada salah satu sudut Kakbah, namun berkat penyelesaian Muhammad SAW
perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang
dirugikan.
Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai
kepindahannya ke kota Madinah, bangunan Kakbah yang semula rumah ibadah agama
monotheisme (Tauhid) ajaran Nabi Ibrahim telah berubah menjadi kuil pemujaan

bangsa Arab yang di dalamnya diletakkan sekitar 360berhala/patung yang merupakan


perwujudan tuhan-tuhan politheisme bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran
(jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang
bangsa Arab dan

bangsa Yahudi serta

ajaran

Nabi Musa terhadap

kaum Yahudi, Allah Sang Maha Pencipta tidak boleh dipersekutukan dan disembah
bersamaan dengan benda atau makhluk apapun jua dan tidak memiliki perantara untuk
menyembahNya serta tunggal tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan
tidak diperanakkan (Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur'an). Kakbah akhirnya dibersihkan
dari patung-patung agama politheisme ketika Nabi Muhammad membebaskan kota
Mekkah tanpa pertumpahan darah dan dikembalikan sebagai rumah ibadah agama
Tauhid (Islam).
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya'ibah sebagai
pemegang kunci kakbah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan
baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, DinastiUmmayyah, Dinasti Abbasiyyah,
Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang
bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

2.1.3

Bangunan Kabah
Pada awalnya bangunan Kakbah terdiri atas dua pintu serta letak pintu

Kakbah terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi.
Pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul,
dilakukan renovasi pada Kakbah akibat bencana banjir. Pada saat itu terjadi kekurangan
biaya, maka bangunan Kakbah dibuat hanya satu pintu.Adapula bagiannya yang tidak
dimasukkan ke dalam bangunan Kakbah, yang dinamakan Hijir Ismail, yang diberi
tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Kakbah.Saat itu pintunya dibuat tinggi
letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya, karena suku
Quraisy merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan oleh bangsa Arab saat itu.
Nabi Muhammad SAW pernah mengurungkan niatnya untuk merenovasi
kembali Kakbah karena kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman tertulis dalam
sebuah hadits perkataannya: "Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan

kekafiran, akan aku turunkan pintu Kakbah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan
Hijir Ismail ke dalam Kakbah", sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.

Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan


itu dibangun kembali menurut perkataan Nabi Muhammad SAW, yaitu diatas
pondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin
Marwan penguasa

daerah

Syam

(Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang)

dan Palestina, terjadi kebakaran pada Kakbah akibat tembakan peluru pelontar
(onager) yang dimiliki pasukan Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian
menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Kakbah berdasarkan bangunan di
masa Nabi Muhammad SAW dan bukan berdasarkan pondasi Nabi Ibrahim.
Kakbah dalam sejarah selanjutnya beberapa kali mengalami kerusakan sebagai
akibat dari peperangan dan karena umur bangunan.
Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa
kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali kakbah
sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW.namun
segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena
dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para
penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Kakbah tetap sesuai masa renovasi
khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.

Gambar ruang bangun disertai rincian ukuran Kakbah.

2.2
2.2.1

Kiblat
Pengertian Kiblat
Kiblat berasal dari bahasa Arab ( ) adalah arah yang merujuk ke suatu

tempat dimana bangunan Kabah di Masjidil Haram , Makkah, Arab Saudi. Kabah juga
sering disebut dengan Baitullah (Rumah Allah). Menghadap arah Kiblat merupakan
suatu masalah yang penting dalam syariat Islam.Menurut hukum syariat, menghadap ke
arah kiblat diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang menghadap ke arah
Ka'bah yang terletak di Makkah yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi
menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu.
Pada awalnya, kiblat mengarah ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa
Jerusalem di Palestina, namun pada tahun 624 M ketika Nabi Muhammad SAW hijrah
ke Madinah, arah Kiblat berpindah ke arah Kabah di Makkah hingga kini atas petunjuk

wahyu dari Allah SWT. Beberapa ulama berpendapat bahwa turunnya wahyu
perpindahan kiblat ini karena perselisihan Rasulullah SAW di Madinah.
Menghadap ke arah kiblat menjadi syarat sah bagi umat Islam yang hendak
menunaikan shalat baik shalat fardhu lima waktu sehari semalam atau shalat-shalat
sunat yang lain. Kaidah dalam menentukan arah kiblat memerlukan suatu ilmu khusus
yang harus dipelajari atau sekurang-kurangnya meyakini arah yang dibenarkan agar
sesuai dengan syariat.
2.2.2

Hukum Arah Kiblat


Kiblat sebagai pusat tumpuan umat Islam dalam mengerjakan ibadah dalam

konsep arah terdapat beberapa hukum yang berkaitan yang telah ditentukan secara
syariat yaitu:
a.

Hukum Wajib

1. Ketika shalat fardhu ataupun shalat sunat menghadap kiblat merupakan syarat
sahnya shalat
2. Ketika melakukan tawaf di Baitullah.
3. Ketika menguburkan jenazah maka harus diletakkan miring bahu kanan
menyentuh liang lahat dan muka menghadap kiblat.
b. Hukum Sunat
Bagi yang ingin membaca Al-Quran, berdoa, berzikir, tidur (bahu kanan
dibawah) dan lain-lain yang berkaitan.
c. Hukum Haram
Ketika membuang air besar atau kecil di tanah lapang tanpa ada dinding
penghalang.
d. Hukum Makruh
Membelakangi arah kiblat dalam setiap perbuatan seperti membuang air
besar atau kecil dalam keadaan berdinding, tidur menelentang sedang kaki selunjur
ke arah kiblat dan sebagainya.
Dalil Al-Quran Berkaitan Arah Kiblat

Surah Al-Baqarah ayat 149 :


Artinya :"Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat)
hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah). Sesunggunya perintah
berkiblat ke Ka'bah itu benar dari Allah (tuhanmu) dan ingatlah Allah tidak sekalikali lalai akan segala apa yang kamu lakukan".

Surah Al-Baqarah ayat 150:


Artinya: "Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan solat) maka
hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah) dan dimana sahaja kamu
berada maka hadapkanlah muka kamu ke arahnya, supaya tidak ada lagi
sembarang alasan bagi orang yang menyalahi kamu, kecuali orang yang zalim
diantara mereka (ada saja yang mereka jadikan alasannya). Maka janganlah kamu
takut kepada cacat cela mereka dan takutlah kamu kepada-Ku semata-mata dan
supaya Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kamu, dan juga supaya kamu beroleh
petunjuk hidayah (mengenai perkara yang benar)".
Hadits Berkaitan Arah Kiblat

Dari Abu Hurairah r.a.


" Dari Abu Hurairah ra katanya : Sabda Rasulullah saw. Di antara Timur dan Barat
terletaknya kiblat (Ka'bah) ".

Dari Anas bin Malik r.a.


"Bahwasanya Rasullullah s.a.w (pada suatu hari) sedang mendirikan solat dengan
menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turunlah ayat Al-Quran: "Sesungguhnya
kami selalu melihat mukamu menengadah ke langit (berdoa mengadap kelangit).
Maka turunlah wahyu memerintahkan Baginda mengadap ke Baitullah
(Ka'bah).Sesungguhnya kamu palingkanlah mukamu ke kiblat yang kamu
sukai.Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.Kemudian seorang lelaki Bani
Salamah lalu, ketika itu orang ramai sedang ruku' pada rakaat kedua shalat
fajar.Beliau menyeru, sesungguhnya kiblat telah berubah.Lalu mereka berpaling ke
arah kiblat". ( Diriwayatkan Oleh Muslim )
Berdasarkan ayat Al Qur'an dan hadits yang telah dinyatakan maka jelaslah bahwa
menghadap arah kiblat itu merupakan satu kewajipan yang telah ditetapkan dalam
hukum atau syariat. Maka tiadalah kiblat yang lain bagi umat Islam melainkan
Ka'bah di Baitullah di Masjidil Haram.
2.3 Trigonometri
2.3.1 Pengertian Trigonometri
Al

Battani (sekitar 850 - 923)

adalah

seorang

ahli

astronomi

dan

matematikawan dari Arab. Al Battani (Bahasa Arab


; nama lengkap: Ab Abdullh Muh ammad ibn Jbir ibn Sinn ar-Raqq
al-arrani a-S
abi al-Battn), lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya
yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46
menit dan 24 detik. Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri:

Ia juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus:

dan

menggunakan

gagasan al-Marwazi tentang

tangen

dalam

mengembangkan

persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel


perhitungan tangen. Al Battani bekerja di Suriah, tepatnya di ar-Raqqah dan
di Damaskus, yang juga merupakan tempat wafatnya. Trigonometri memiliki hubungan
dengan geometri, meskipun ada ketidaksetujuan tentang apa hubungannya; bagi
beberapa orang, trigonometri adalah bagian dari geometri.
Awal trigonometri dapat dilacak hingga zaman Mesir Kuno dan Babilonia dan
peradaban Lembah Indus, lebih dari 3000 tahun yang lalu. Matematikawan India adalah
perintis penghitungan variabelaljabar yang digunakan untuk menghitung astronomi dan
juga trigonometri. Lagadha adalah matematikawan yang dikenal sampai sekarang yang
menggunakan geometri dan trigonometri untuk penghitungan astronomi dalam
bukunya Vedanga, Jyotisha, yang sebagian besar hasil kerjanya hancur oleh penjajah
India.
Dasar dari Trigonometri adalah Konsep kesebangunan segitiga siku-siku.
Sisi-sisi yang bersesuaian pada dua bangun datar yang sebangun memiliki perbandingan
yang sama. Pada geometri Euclid, jika masing-masing sudut pada dua segitiga memiliki
besar yang sama, maka kedua segitiga itu pasti sebangun. Hal ini adalah dasar untuk
perbandingan trigonometri sudut lancip.Konsep ini lalu dikembangkan lagi untuk sudutsudut non lancip (lebih dari 90 derajat dan kurang dari nol derajat).
Salah satui cabang ilmu matematika yaitu trigonometri yang mampu di
aplikasikan dalam berbagai ilmu maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bidang
astronomi aplikasi trigonometri dapat menghitung jarak ke bintang-bintang yang lebih
dekat. Dalam ilmu falak aplikasi trigonometri dapat membantu meningkatkan akurasi
penentuan posisi atau arah kiblat secara tepat dari berbagai penjuru bagi umat Islam
yang tinggal jauh dari Mekah, dapat menghitung awal waktu sholat dan dapat
membantu dalam penentuan penganggalan kalender Hijriah. Dalam hal ini aplikasi
matematika khususnya trigonometri dalam membantu meningkatkan akurasi penentuan
posisi atau arah kiblat yang benar.
Sebelum membahas perhitungan matematis dalam menentukan arah kiblat,
ada satu metode untuk mengetahui arah kiblat yang benar dengan bantuan cahaya
matahari. Kesempatan yang sangat tepat untuk mengetahui secara persis arah kiblat

adalah saat posisi matahari berada tepat di atas kabah. Dalam satu tahun akan
ditemukan dua kali posisi matahari di atas kabah . Kesempatan tersebut datang pada
setiap tanggal 27 Mei pukul 11.57 LMT dan tanggal 15 Juli atau 16 Juli pukul 12.06
LMT. Bila waktu Mekah dikonversi menjadi waktu Indonesia bagian barat(WIB) maka
harus ditambah 4 jam 21 menit sama dengan pukul 16.18 WIB dan 16.27 WIB. Oleh
karena itu, setiap tanggal 27 Mei atau 28 Mei pukul 16.18 WIB dapat mengecek arah
kiblat dengan mengandalkan bayangan matahari yang tengah berada di atas kabah.
Begitu pula setiap tanggal 15 juli atau 16 Juli juga dapat dilakukan pengecekan arah
kiblat dengan metode tersebut. Dalam Prakteknya tidak perlu langkah yang rumit untuk
menentukan arah kiblat berdasar jatuhnya bayangan benda yang disinari matahari.
Pengamat (observer) cukup menggunakan tongkat atau benda lain sejenis untuk
diletakkan di tempat yang memperoleh cahaya matahari. Cahaya matahari yang
menyinari benda tersebut akan menghasilkan bayangan. Arah bayangan ini merupakan
arah kiblat (Susiknan Azhari, 2007:53-54).
Dengan mengandalkan bayangan matahari yang berada di atas kabah untuk
menentukan arah kiblat tentu tidak rumit. Hal ini dapat dilakukan di seluruh tempat di
bumi, namun waktunya disuaikan saat mataharari di atas kabah. Tentu setiap tempat
dipermukaan bumi memiliki waktu yang berbeda dengan waktu di Mekah.
Untuk melakukan perhitungan arah kiblat diperlukan alat hitung yang berupa
daftar logaritma atau kalkulator. Karena rumus-rumus yang dipergunakan memakai
kaidah-kaidah ilmu ukur bola, maka dengan mempergunakan scientific kalkulator,
proses perhitungan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus mempergunakan daftar
logaritma. Jenis kalkulator yang dipergunakan setidak tidaknya mempunyai fungsi
sebagai berikut :
1.

Mempunyai mode derajat(DEG) dan satuan derajat (0 )

2.

Mempunyai fungsi sinus, cos dan tanbeserta perubahannya.

3.

Mempunyai fungsi pembalikan pembilang dan penyebut biasanya dengan tanda


1/x. Fungsi ini sangat penting untuk mendapatkan nilai cotan (1/tan), sec(1/cos)
dan cosec(1/sin).

4.

Mempunyai fungsi memori, biasanya bertanda Min dan MR

5.

Mempunyai fungsi minus,biasanya bertanda + / -

2.3.2

Penentuan Besar Sudut Trigonometri

a. Teorema Pythagoras

Dalam Segitiga siku-siku berlaku (teorema phytagoras):


Kuadrat sisi miring = jumlah kuadrat kedua sisi siku-siku

Rumus untuk mencari siku-siku adalah:

2.4

Penentuan Arah Kiblat


2.4.1 Konsep Penentuan Arah Kiblat

2.4.2

Perhitungan arah kiblat


Data geografis Kabah di Makkah :
= 21 25 LU dan = 39 50 BT (diringkas)

Dalam ilmu segitiga bola terdapat banyak sekali rumus yang dapat
digunakan untuk menghitung arah kiblat serta menghitung jarak dari kabah ke
lokasi tertentu.
Contoh : Menghitung Arah Kiblat Cirebon
Data Koordinat Geografis : t = 0,6 45' (LS) dan

t = 108 33' (BT)

ail Perhitungan :
sin ( 108 22 - 39 50)
tg K = --------------------------------------------------------------------------cos 0,6 45 . tg 21 25 - sin 0,6 45 . cos ( 108 33 - 39 50)

0,999985061
tg K = --------------------------------------------------------------------------------0,9936702658 . 0,3888787319 - 0,1123361158 . (-0,3144895309)

0,999985061
tg K = ------------------------------------------- -->
0,3864172329 - (-0,03532853173)

tg K = 2,3710613

-->

0,999985061
tg K = ------------------0,4217457646

K = 2 22 15,82

Jadi Arah Kiblat Cirebon 2 22 15,82 dihitung dari titik Utara


Sejati ke Arah Barat atau jika dihitung dari arah Barat ke Utara sebesar
2 22 15,82. Dalam prakteknya angka arah kiblat ini diwakilkan dalam

angka skala kompas dengan pandual nol derajat di titik Utara sehingga
angka arah kiblat menurut kompas.
Dari hasil perhitungan dengan rumus tersebut di atas, kota-kota
yang sudah diketahui lintang dan bujurnya akan dapat diketahui pula
arah kiblatnya secara tepat menggunakan rumus segitiga bola tersebut.
Data koordinat geografis beberapa kota besar di Indonesia dan Kota
Cirebon terdapat dalam lampiran.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari makalah pengaplikasian trigonomeri untuk


menentukan arah kiblat diantaranya menghadap ke arah kiblat menjadi syarat sah bagi
umat Islam yang hendak menunaikan shalat baik shalat fardhu lima waktu sehari
semalam atau shalat-shalat sunat yang lain. Kaidah dalam menentukan arah kiblat
memerlukan suatu ilmu khusus yang harus dipelajari atau sekurang-kurangnya meyakini
arah yang dibenarkan agar sesuai dengan syariat. Serta untuk melakukan perhitungan
arah kiblat diperlukan alat hitung yang berupa daftar logaritma atau kalkulator. Karena
rumus-rumus yang dipergunakan memakai kaidah-kaidah ilmu ukur bola, maka dengan
mempergunakan scientific kalkulator, proses perhitungan dapat dilakukan dengan
mudah tanpa harus mempergunakan daftar logaritma. Jenis kalkulator yang
dipergunakan setidak tidaknya mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Mempunyai mode derajat(DEG) dan satuan derajat (0 )
2. Mempunyai fungsi sinus, cos dan tanbeserta perubahannya.
3. Mempunyai fungsi pembalikan pembilang dan penyebut biasanya dengan tanda
1/x. Fungsi ini sangat penting untuk mendapatkan nilai cotan (1/tan), sec(1/cos)
dan cosec(1/sin).
4. Mempunyai fungsi memori, biasanya bertanda Min dan MR
5. Mempunyai fungsi minus,biasanya bertanda + / -

DAFTAR PUSTAKA

http://rukyatulhilal.org/arah-kiblat/

Umar, Nasaruddin. 2009. Kabah Rahasia Kiblat Dunia. Jakarta. Penerbit Hikmah
(PT.
Mizan Publika)