Anda di halaman 1dari 1

Value Stream Mapping (VSM) merupakan salah satu dari lean tools yang

terbukti ampuh untuk waste (non-added value), memetaan aliran material dan
informasi dalam sistem produksi. Value Stream Mapping diperkenalkan pertama kali
oleh Moki Rother dan John Shook dlam bukunya Learning To See yang
menjelaskan cara menggunakan pemetaan aliran proses value added dan non
value added di lantai produksi untuk mencapai kondisi lean manufacturing. Value
Stream Mapping lahir dari konsep Toyota Production Sistem (TPS), dimana pada
TPS dikenal dengan Material and Information Flow Mapping (MIFC). Value
Stream Mapping didefinisakan sebagai pemetaan semua aktivitas baik bernilai
tambah (value added) maupun tidak bernilai tambah (non value added) yang
diperlukan untuk menyelesaikan suatu produk dari raw material sampai produk
jadi (Rother and Shook, 1999). Value stream mapping tidak hanya
mengvisualisasikan aliran material dalam sistem produksi, namun juga
mengvisualisasikan aliran informasi perintah produksi pada supplay chain secara
keseluruhan. Pokok tujuan dari Value Stream Mapping adalah mengidentifikasi
semua waste pada aliran produksi dan berusaha untuk mengeliminasi waste
tersebut (Rother and Shook, 1999). Sudut pandang dari value stream tidak hanya
melihat dari satu sisi proses produksi, namun melihat sebagai keseluruhan sistem
produksi secara utuh. Penggunaan value stream mapping sangatlah berguna
dalam improvement sistem yang sedang berjalan (McDonald et al,2002). Dimana
sistem yang sudah berjalan akan dievaluasi dan diidentifikasi waste yang ada pada
sistem tersebut serta berusaha untuk mengeliminasi waste tersebut agar
produktivitas perusahaan bisa meningkat.